GERAKAN PADI TANAM SABATANG (PTS)
DI SUMATERA BARAT:
KONSEP DAN IMPLEMENTASINYA DI LAPANGAN
One Rice Seedling Per Hill Movement in West Sumatra:
Its Concept and Implementation by the Farmers
Zul IrfanBalai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat Jln. Raya Padang-Solok, Km. 40 Sukarami
E-mail: [email protected]
ABSTRACT
Lowland rice is a strategic commodity in Indonesia, including in West Sumatra province. While the Indonesian Ministry of Agriculture intensively develops the farmers’ field school program on the integrated rice crops management (IRCM), the provincial government of West Sumatra progressively develops the farmers’ field school on the “One Rice Seedling per Hill” (Padi Tanam Sabatang = PTS)” program. The movement of PTS for lowland rice in this province has been developed since 2006. This study used a survey method. Objective this study is reviewing the PTS program including its implementation in West Sumatra Province conducted in 2012. The respondents consist of decision makers, extension workers, and rice farmers in six rice producing regencies in West Sumatra. Data were collected through in-depth interviews and focused group discussions with the respondents. Research results showed that, conceptually, the PTS method implemented in West Sumatra province is likely the System of Rice Intensification (SRI) developed firstly in Madagascar. The main technological components introduced in PTS program consist of: (i) rice field should be permanently drained at field capacity level except one day before and during weeding; (ii) applying organic fertilizer without inorganic fertilizer; (iii) only one seedling is allowed to be planted; and (iv) the maximum age of seedlings in the PTS program is 12 days. Some technological components of PTS like straw composting technology, seeds selection, rice seedlings, variety selection, land cultivation and preparation, compost distribution, and planting method (except seedlings root position) were understood by the farmers. However, only two technological components (variety selection and land preparation) were adopted by the farmers. According to the farmers, almost all technological components of PTS were complicated, time consuming, high labor, and high cost.
Keywords: Lowland rice, PTS, one seedling per hill, West Sumatra.
ABSTRAK
Padi sawah merupakan komoditas strategis di Indonesia, termasuk di Provinsi Sumatra Barat. Sementara Kementerian Pertanian secara intensif mengembangkan program sekolah lapang (SL) petani melalui pengelolaan tanaman padi terpadu, Pemerintah Provinsi Sumatra Barat secara progresif mengembangkan program SL Petani Padi Tanam Sabatang (PTS). Gerakan PTS untuk padi sawah di provinsi ini sudah dilaksanakan sejak 2006. Penelitian ini dilakukan tahun 2012 menggunakan metode survei untuk mengetahui program PTS dan sejauh mana program ini dilaksanakan oleh petani. respondne penelitian
meliptui pembuata keputusan, penyuluh, dan petani padi di enam kabupaten penghasil padi di Provinsi Sumatra Barat. Data dikumpulkan melalui wawancara intensif dan diskusi kelompok (FGD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa metoda PTS yang dilaksanakan di Provinsi Sumatar Barat adalah System of Rice Intensification (SRI) yang pertama kali dikembangkan di Madagascar. Komponen teknologi yang diintroduksi program PTS adalah lahan padi harus dikeringkan secara permanen pada tingkat kapasitas lapang kecuali sehari sebelum dan sesudah penyiangan; menggunakan pupuk organik tanpa pupuk anorganik, hanya satu bibit per rumpun, umur maksimal bibit adalah 12 hari. Beberapa komponen teknologi PTS seperti teknologi pengomposan jerami, seleksi bibit, pembibitan padi, seleksi varietas, persiapan dna pengolahan lahan, distribusi kompos, dan metoda tanam (kecuali posisi akar bibit) dipahami oleh petani. Walaupun dmeikian hanya dua komponen teknologi (seleksi varietas dna persiapan lahan) yang diadopsi oleh petani. Menurut petani, hapir semua komponen teknologi PTS sangat ruwet, menyita waktu, perlu banyak tenaga kerja, dan biaya tinggi.
Kata kunci: padi sawah, PTS, satu bibit per rumpun, Sumatera Barat
PENDAHULUAN
Padi sawah merupakan komoditas strategis dalam pembangunan ekonomi dan menjadi tumpuan dalam perekonomian Sumatera Barat. Peranan padi sawah tidak terbatas untuk memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga petani produsen semata, tetapi juga menjadi sumber pangan utama masyarakat Sumatera Barat dan daerah sekitarnya. Sehubungan dengan itu, upaya peningkatan produksi dan pendapatan petani padi sawah di Sumatera Barat terus dilakukan. Pada tahun 2010, misalnya, ditargetkan produktivitas padi sawah 5 ton/ha dengan total produksi 2,129 juta ton. Untuk mencapai sasaran produksi tersebut diperlukan gerakan: (i) Optimalisasi potensi sumberdaya pertanian; (ii) Penerapan teknologi maju spesifik lokasi; (iii) Dukungan sarana produksi dan permodalan; (iv) Jaminan harga gabah yang memberikan insentif produksi; (v) Dukungan penyuluhan pertanian dan pendampingan; (vi) Peran aktif kepemimpinan formal dan informal; serta (vii) Peningkatan pengelolaan pascapanen. Ketujuh gerakan ini diimplementasikan melalui empat strategi utama, yaitu: (i) peningkatan produktivitas, (ii) peningkatan luas tanam, (iii) pengamanan produksi, dan (iv) gerakan kelembagaan dan SDM. Strategi ini dapat diimplementasikan secara simultan atau parsial sesuai dengan kondisi masing-masing daerah secara terintegrasi, mulai dari hulu sampai hilir.
Menurut Besli (2009), sasaran umum peningkatan produksi padi sawah di Sumatera Barat sampai saat ini masih lebih difokuskan pada peningkatan produktivitas, karena lahan yang tersedia tidak memungkinkan untuk penambahan luas tanam dan bahkan dari tahun ke tahun lahan produktif cenderung berkurang akibat alih fungsi penggunaan lahan pertanian produktif. Akan tetapi, peningkatan produktivitas padi di Sumatera Barat selama beberapa tahun terakhir tidak memperlihatkan kenaikan yang signifikan dan cenderung mendatar dengan rata-rata kenaikan hanya 44,8 kg/ha. Dalam periode tersebut total produksi beras Sumatera Barat belum mencapai 2 juta ton per tahun.
Peningkatan produksi padi sawah melalui peningkatan produktivitas memang lebih berpeluang. Secara nasional pun, menurut Sembiring (2009), keberhasilan peningkatan produksi padi dari 20,2 juta ton pada tahun 1971 menjadi lebih dari 54 juta ton pada tahun 2006 lebih banyak disumbang oleh peningkatan produktivitas dibandingkan peningkatan luas panen. Peningkatan produktivitas memberikan kontribusi sekitar 56,1 persen terhadap peningkatan produksi padi, sedangkan peningkatan luas panen dan interaksi keduanya memberikan kontribusi masing-masing hanya 26,3 persen dan 17,5 persen. Hal tersebut menunjukkan besarnya peran inovasi teknologi menunjang peningkatan produksi padi. Upaya perluasan areal sawah di samping membutuhkan waktu, juga memerlukan biaya yang relatif lebih besar. Dalam jangka pendek, upaya peningkatan produksi beras melalui inovasi teknologi lebih realistis dibandingkan upaya perluasan lahan baku sawah.
Mendukung upaya peningkatan produktivitas padi sawah, sejak tahun 2006 pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Sumatera Barat sangat gencar melakukan gerakan “padi tanam sabatang (PTS)”. Metode PTS pertama kali diperkenalkan di Sumatera Barat oleh Fakultas Pertanian Universitas Andalas, berpedoman kepada konsep SRI (The System of Rice Intensification) yang pertama kali diperkenalkan di Madagaskar pada tahun 1980 (Kasim dan Syarif, 2009). Di Sumatera Barat, konsep ini dipopulerkan dengan nama PTS.
Kasim dan Syarif (2009) selanjutnya menjelaskan bahwa penerapan metode PTS di Sumatera Barat telah mampu meningkatkan produktivitas padi sawah menjadi 7,8 ton/ha, sementara rata-rata produktivitas padi sawah Sumatera Barat baru mencapai 4,5 ton/ha. Peningkatan itu terjadi karena jumlah anakan produktif meningkat menjadi 40-80 batang/rumpun, sementara dengan sistem konvensional hanya 15-30 batang/rumpun. Namun demikian, pengembangan metode PTS masih perlu disesuaikan dengan agroekosistem dan sosial budaya setempat, di samping tetap memodifikasi sistem itu untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi padi di Sumatera Barat. Lebih lanjut dinyatakan bahwa metode PTS padi sawah di Sumatera Barat memberikan keuntungan lebih dari 5 kali lipat dibandingkan dengan sistem budidaya konvensional.
Tulisan ini memuat hasil penelitian dan analisis mengenai konsep dan gerakan pengembangan metode Padi Tanam Sabatang (PTS) yang menjadi program spesifik Provinsi Sumatera Barat serta implementasinya oleh petani di lapangan.
METODOLOGI PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada 6 (enam) kabupaten sentra produksi padi sawah di Provinsi Sumatera Barat yang memiliki lebih 150 unit pelaksanaan program SL-PTS padi sawah setiap tahun, yaitu: Kabupaten Padang Pariaman, Agam, Solok, Lima Puluh Kota, Pesisir Selatan, dan Tanah Datar. Pada masing-masing kabupaten tersebut, penelitian dilakukan pada 3 (tiga) kecamatan yang
pada daerahnya terdapat program SL-PTS lebih banyak dibanding kecamatan lainnya. Kegiatan penelitian dilaksanakan selama 10 bulan, mulai bulan Maret sampai Desember tahun 2012.
Metode Penelitian dan Pengumpulan Data
Penelitian menggunakan metode survai yang pelaksanaannya dilakukan secara bertahap sesuai dengan responden pengkajian. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam (in-depth interview), diskusi kelompok
(focus group discussion), atau dengan menggunakan kuesioner penelitian.
Responden penelitian terdiri dari pengambil kebijakan, penyuluh pertanian, serta petani dan pengurus kelompok tani. Penentuan responden dilakukan dengan berbagai cara, meliputi purposive dan stratified random sampling. Pengambil kebijakan yang dijadikan responden adalah mereka yang bertugas sebagai pejabat di bidang pengembangan tanaman pangan, khususnya padi sawah, pada dinas/instansi pertanian tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Penyuluh pertanian yang dijadikan responden adalah mereka yang pernah bertugas sebagai pendamping program SL-PTS, khususnya pada lokasi penelitian. Petani dan pengurus kelompok tani yang dijadikan responden adalah mereka yang pernah menjadi pelaksana program SL-PTS pada tahun-tahun sebelumnya, khususnya pada lokasi penelitian.
Khusus responden penelitian berupa penyuluh pertanian dan petani, penetapan responden dilakukan secara bertahap (stratified). Tahapan pertama adalah penetapan lokasi penelitian, yang terdiri dari: kabupaten, kecamatan, nagari, dan kelompok tani, sebagai berikut:
Penelitian dilaksanakan pada 6 kabupaten pelaksana SL-PTS tahun 2009-2011. Penetapan kabupaten survai berdasarkan pertimbangan jumlah kelompok tani pelaksana SL-PTS yang lebih 150 unit setiap tahun. Dalam hal ini dipilih Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Agam, Kabupaten Limapuluh Kota, Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Solok, dan Kabupaten Pesisir Selatan.
Pada setiap kabupaten ditentukan 3 kecamatan yang menjadi daerah pelaksana SL-PTS tahun 2010-2011. Tiga kecamatan pada masing-masing kabupaten adalah yang lebih banyak unit SL-PTSnya dibanding kecamatan lain.
Pada masing-masing kecamatan ditetapkan 3 nagari (desa) yang lebih banyak unit SL-PTSnya pada tahun 2010-2011 dibanding nagari (desa) lainnya pada kecamatan yang sama. Semua penyuluh pertanian yang pernah menjadi pendamping program SL-PTS pada nagari (desa) tersebut ditetapkan sebagai responden.
Pada masing-masing nagari (desa) ditetapkan 3 kelompok tani yang pengurus dan anggotanya akan dijadikan responden penelitian. Penetapan kelompok tani pada masing-masing nagari dilakukan secara acak (random).
Pada masing-masing kelompok tani ditetapkan 1-3 petani anggota kelompok tani yang tercatat sebagai peserta program SL-PTS tahun 2010 atau 2011 sebagai responden penelitian.
Pengumpulan data dari penyuluh pertanian dan petani responden dilakukan melalui tiga cara, yaitu: (1) melalui wawancara mendalam secara individual
(in-depth interview), (2) melalui diskusi kelompok (focus group discussion), dan (3)
melalui kuesioner. Cara mana yang dipilih disesuaikan dengan kondisi lapangan dan responden yang bersangkutan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Konsep ”Padi Tanam Sabatang”
Padi Tanam Sabatang (PTS) adalah metode atau cara budidaya tanaman padi yang intensif dan efisien melalui sistem perakaran dengan berbasis pada tiga aspek pengelolaan, yaitu: pengelolaan Tanah yang sehat, pengelolaan Tanaman yang efisien, dan pengelolaan Air yang hemat. Metode PTS adalah metode SRI yang telah diujicoba dan berhasil di beberapa lokasi di Sumatera Barat, seperti di Kabupaten Solok, Pasaman, Pesisir Selatan, Lima Puluh Kota, Sijunjung, dan Kota Padang (Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatera Barat, 2008).
Tabel 1. Kesamaan dan Sedikit Ketidaksamaan Antara PTS dan SRI pada Padi Sawah
No. Perlakuan PTS SRI
1. Varietas Varietas yang sesuai
kebiasaan petani
Varietas lokal atau varietas unggul baru
2. Seleksi benih Pemilahan benih bernas dengan telur dan air garam
Pemilahan benih bernas dengan telur dan air garam
3. Persemaian Persemaian memakai baki
atau wadah
Persemaian kering atau memakai wadah
4. Pemupukan Hanya memakai pupuk
organik, terutama kompos jerami padi
Pupuk organik 10 t/ha, pupuk N anorganik berdasarkan BWD 5. Penanaman :
• Umur bibit 8-12 hari < 15 hari
• Jumlah bibit 1 batang/rumpun 1-2 batang/rumpun
• Jarak tanam 30 x 30 cm atau lebih lebar 25 x 25 cm atau lebih lebar
6. Pertumbuhan gulma Sangat cepat Cepat
7. Pengelolaan gulma Penyiangan umur 10 dan 20 hari
Penyiangan mekanis/ landak 4 kali
8. Pengairan Sawah hanya diairi pada umur
9-10 hari, 19-20 hari, dan setelah masa berbunga
Sawah macak-macak sampai umur 10 hari, diairi 2,5 cm sampai inisiasi malai dan 5 cm setelah inisiasi malai
9. Pengendalian hama dan penyakit
Prinsip PHT: tabung parasit untuk penggerek batang, tabung bambu untuk tikus, dan perangkap untuk walang sangit
Prinsip PHT
Pestisida hayati dan nabati
10. Metode pendekatan Pemahaman Ekologi Tanah (PET)
Pemahaman Ekologi Tanah (PET)
11. Kelembagaan Pemberdayaan petani dan
kelompok
Pemberdayaan kelompok 12. Pendekatan diseminasi Individu, kelompok, demplot Kelompok Studi Pertanian (KSP),
Menurut pejabat terkait di Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Barat, metode PTS itu tidak ada bedanya dengan metode SRI. Hasil rekapitulasi komponen teknologi dalam program PTS dibandingkan dengan SRI dapat dilihat pada Tabel 1. Informasi pada tabel itu memperlihatkan bahwa metode PTS mirip dengan SRI, walaupun ada sedikit perbedaan-perbedaan.
Ada 12 komponen teknologi utama yang diintroduksikan dalam gerakan PTS di Sumatera Barat. Ke-12 komponen teknologi tersebut adalah: (1) Pembuatan kompos; (2) Pemilihan varietas; (3) Seleksi benih; (4) Teknis persemaian; (5) Teknis penyiapan lahan; (6) Penyiapan lahan; (7) Teknis penanaman; (8) Teknis pengairan; (9) Penyiangan; (10) Pemupukan; (11) Pengendalian hama dan penyakit; dan (12) Waktu panen yang tepat. Inti atau uraian ringkas dari masing-masing komponen teknologi dalam metode PTS tersebut disajikan pada Tabel 2.
Kasim dan Syarif (2009) menyatakan bahwa Fakultas Pertanian Universitas Andalas, telah melaksanakan beberapa penelitian mengenai PTS dengan berbagai aspek. Penelitian tersebut dilakukan oleh para staf pengajar dengan melibatkan mahasiswa S1, S2, dan S3 dari berbagai disiplin ilmu. Semua hasil penelitian tersebut menunjukkan beberapa keunggulan PTS, antara lain:
1. Jumlah benih yang dibutuhkan dapat dikurangi dari sekitar 30 kg/ha pada budidaya padi konvensional (non-PTS) menjadi 5-6 kg/ha pada sistem PTS. 2. Dengan satu bibit pertitik tanam dapat menghasilkan 50-80 anakan, sementara
dengan cara tanam non-PTS dengan jumlah bibit 5-10 batang pertitik tanam hanya menghasilkan sekitar 15-30 anakan.
3. Anakan produktif pada metode PTS meningkat 2 kali lipat dibandingkan dengan sistem tanam padi non-PTS.
4. Hasil gabah rata pada metode PTS adalah 6-11 ton/ha, sedangkan rata-rata nasional sekitar 4,56 ton/ha dan di Sumatera Barat sekitar 4,35 ton/ha.
Menurut Kasim dan Syarif (2009), peningkatan produksi padi dari 4,75 ton perhektar (BPS, 2003) menjadi 7 ton perhektar sesungguhnya dapat dicapai, karena potensi produksi padi dapat mencapai 10 ton perhektar. Melalui perbaikan kultur teknis, produktivitas dapat ditingkatkan. Penerapan sistem integrated crops
and resources management (ICM), misalnya, telah dapat meningkatkan
produktivitas padi sawah hingga mencapai 6,9 ton perhektar (Wardana et al., 2002). Dewasa ini, sistem budidaya SRI yang telah diuji coba di beberapa tempat di Indonesia menunjukkan produktivitas lebih tinggi. Di beberapa kabupaten di Sumatera Barat, penerapan SRI mencapai hasil rata-rata 7,8 ton perhektar (Kasim, 2004). Sementara, hasil penerapan SRI di beberapa tempat di Jawa Barat menunjukkan capaian hasil sebesar 8,5 ton perhektar (Kasim dan Syarif, 2009).
Menurut Kasim dan Syarif (2009), SRI atau PTS pertama kali diperkenalkan di Madagaskar oleh Fr. Hendri de Laulanie tahun 1980. PTS merupakan sistem budidaya tanaman padi dengan mengelola kondisi pertumbuhan tanaman yang lebih baik, terutama di zona perakaran. Pengelolaan kondisi pertumbuhan tanaman padi dengan sistem ini intinya menerapkan empat komponen utama, yaitu: (1) pemindahan bibit umur muda, (2) penanaman 1 bibit pertitik tanam, (3)
jarak tanam jarang, dan (4) air tidak tergenang terus menerus. Keempat komponen itu merupakan pengelolaan dasar sebagai pembeda antara budidaya padi PTS dengan sistem konvensional. Budidaya padi sistem konvensional menerapkan pemindahan bibit umur tua yaitu lebih 21 hari dengan jumlah bibit lebih 3 batang perrumpun, jarak tanam rapat yaitu 25 x 25 cm, 20 x 25 cm dan 20 x 20 cm, dan lahan sawah selalu dalam kondisi tergenang.
Tabel 2. Dua Belas Komponen Teknologi yang Diintroduksikan dalam Program SL-PTS Padi Sawah di Provinsi Sumatera Barat
No. Komponen Teknologi Inti Komponen Teknologi
1. Pembuatan Kompos Pembuatan kompos jerami padi dengan memakai
mikroorganisme lokal (MOL) atau Trichoderma sebagai mikroba perombak.
2. Pemilihan Varietas Pada program PTS, varietas yang dianjurkan adalah yang sesuai dengan keinginan dan kebiasaan petani.
3. Seleksi Benih Seleksi benih sebelum disemai menggunakan larutan garam dengan memakai telur sebagai indikator. Air larutan garam bisa dipakai untuk seleksi benih apabila telur ayam telah melayang apabila dimasukkan ke dalam larutan tersebut.
4. Persemaian Persemaian yang dianjurkan adalah memakai baki atau
wadah, tidak di lapangan. Benih disemaikan jarang-jarang. 5. Penyiapan Lahan Lahan diolah sempurna, harus datar atau rata, dan dibuat
selokan keliling dan di tengah petakan sawah untuk memudahkan pengaturan air sawah.
6. Penebaran Kompos Kompos jerami disebarkan di permukaan tanah sawah secara merata sebelum dilakukan pengolahan tanah terakhir. 7. Penanaman • Bibit dipindahkan dari persemaian ke sawah umur 8-12 hari.
• Jumlah bibit hanya 1 batang/rumpun.
• Posisi akar horizontal, membentuk sudut siku-siku dengan tanaman batang tanaman.
• Jarak tanam 30 x 30 cm atau lebih.
8. Pengairan Pada metode PTS, air sawah harus selalu dipertahankan dalam kondisi macak-macak, kecuali pada umur tanaman 9-10 HST dan 19-20 HST, yakni satu hari sebelum dan pada saat dilakukan penyiangan pertama tanaman.
9. Penyiangan Penyiangan harus dilakukan mulai tanaman berumur 10 hari, selanjutnya dilakukan secara periodik dengan interval 10 hari. 10. Pemupukan Tanaman hanya dipupuk dengan pupuk organik, tanpa pupuk
buatan. Pemberian pupuk organik dilakukan sebelum tanam. 11. Pengendalian Hama
dan Penyakit
Ada tiga jenis hama yang menjadi perhatian utama dalam PTS, yaitu: penggerek batang, tikus, dan walang sangit. Cara pengendalian sebagai berikut:
• Penggerek batang dikendalikan memakai tabung parasit. • Tikus dengan tabung bambu.
• Walang sangit dikendalikan dengan memakai perangkap sabut kelapa pakai umpan.
12. Panen Panen dilakukan lebih awal, yaitu pada saat matang fisiologis.
Penerapan keempat komponen PTS secara terpadu dapat memberikan hasil yang lebih baik daripada cara konvensional, karena semua komponen itu
bersifat sinergis satu sama lain. Sinergisitas itu terjadi karena semua paket PTS berinteraksi secara positif dan saling menunjang satu sama lain sehingga hasil interaksi antar semua paket itu lebih baik daripada yang diterapkan secara parsial (Berkelaar, 2001).
Kasim dan Syarif (2009) menyatakan bahwa penerapan metode PTS di Sumatera Barat telah mampu meningkatkan hasil padi menjadi 7,8 ton perhektar, sementara rata-rata produksi padi Sumatera Barat baru mencapai 4,5 ton perhektar. Peningkatan itu terjadi karena jumlah anakan produktif meningkat menjadi 40-80 batang perrumpun, sementara dengan sistem konvensional hanya 15-30 batang perrumpun (Kasim, 2004). Hasil analisis ekonomi padi dengan PTS di Sumatera Barat menunjukkan tingkat keuntungan lebih dari 5 kali lipat dibandingkan dengan sistem budidaya konvensional. Hal itu terjadi karena nilai produksi yang jauh lebih tinggi dibandingkan peningkatan pengeluaran yang diperlukan untuk penerapan sistem tersebut.
Gerakan Pengembangan PTS
Pengembangan metode PTS di Provinsi Sumatera Barat telah dilaksanakan sejak tahun 2006. Proses pengembangan PTS dilakukan secara berjenjang (Tabel 3). Dalam rangka pembekalan bagi petugas, Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Barat melakukan pelatihan petugas lapang 3-4 angkatan setiap tahun. Pelatihan petugas untuk masing-masing angkatan biasanya berlangsung selama satu musim tanam, meliputi 12-13 kali pertemuan. Waktu pelatihan disesuaikan dengan kondisi pertanaman contoh di lapangan. Peserta pelatihan ini terdiri dari Penyuluh Pertanian (PPL) dan Pengamat Hama dan Penyakit (PHP), utusan dari masing-masing kabupaten/kota masing-masing sebanyak 2-3 orang. Pertemuan atau pelatihan masing-masing berlangsung selama 2 hari penuh. Petugas yang telah mengikuti pelatihan tingkat provinsi ini yang diharapkan dapat menyebarluaskan pengetahuan mereka tentang metode PTS kepada para penyuluh pendamping melalui pelatihan di tingkat kecamatan (Balai Penyuluhan Pertanian=BPP).
Selanjutnya dijelaskan bahwa bagi peserta pelatihan tingkat provinsi yang menunjukkan dedikasi bagus diberikan penghargaan (reward) khusus berupa pelaksanaan 1 (satu) unit SL-PTS khusus dengan dana APBD provinsi. Pada tahun 2011 ada 8 unit SL-PTT Khusus di Provinsi Sumatera Barat dan pada tahun 2012 dilaksanakan sebanyak 40 unit SL-PTS Khusus. Untuk pelaksanaan SL-PTS Khusus, APBD provinsi tersedia dan dimanfaatkan untuk penyelenggaraan 11 kali sekolah lapang (SL-PTS) berupa transpor peserta SL, konsumsi, baju seragam PTS, topi, transpor petugas (2 orang/kali SL), penyiapan materi, serta satu kali Temu Lapang (field day). Pada tahun 2012 dilaksanakan 40 unit SL-PTS dengan sumber dana APBD provinsi. Biasanya juga ada dana penguatan dari APBD kabupaten/kota. Di samping mengikuti pelatihan khusus, para petugas pendamping khusus ini sekali-sekali diundang ke provinsi untuk mengikuti workshop khusus membicarakan masalah-masalah yang dihadapi di lapang dan menemukan solusinya.
Untuk mendukung upaya pengembangan metode PTS, Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Barat juga membekali petugas lapang dengan berbagai media komunikasi. Media-media yang sudah diproduksi dan dibagikan terdiri dari: Petunjuk Lapang, Leaflet, Brosur, dan CD, semuanya materinya mengenai metode PTS, melalui Dinas Pertanian Tanaman Pangan kabupaten/kota. Gerakan PTS diperkuat pula dengan dipopulerkannya mars dan yel-yel yang membangkitkan semangat.
Tabel 3. Langkah-Langkah dan Upaya Pengembangan Metode Padi Tanam Sabatang (PTS) yang Dilaksanakan di Provinsi Sumatera Barat
No. TINGKAT KEGIATAN URAIAN
1. Provinsi 1. Sosialisasi program
• Sosialisasi program PTS sekaligus rapat koordinasi awal dilaksanakan setiap awal tahun.
2. Pelatihan petugas lapang (PPL dan PHP)
• Pelatihan petugas lapang untuk PTS dilakukan 3-4 kali dalam setahun, diikuti oleh 2-3 orang petugas utusan masing-masing kabupaten dan kota.
3. Workshop petugas • Setiap tahun pemerintah provinsi menye-lenggarakan workshop petugas pendamping PTS.
4. Program SL-PTS khusus
• Pemerintah provinsi menyiapkan program SL-PTS khusus yang jumlahnya meningkat setiap tahun.
5. Penyiapan media penyuluhan
• Media penyuluhan yang disiapkan berupa petunjuk lapang, leaflet, brosur, CD, dan VCD.
6. Rapat-rapat evaluasi PTS
• Dilaksanakan lebih kurang 7 kali dalam setahun.
2. Kabupaten/ Kota
1. Melaksanakan CP/ CL PTS
• Penetapan kelompok tani peserta SL-PTS dilakukan di setiap awal tahun. 2. Sosialisasi
program PTS
• Dilakukan di awal tahun dengan menghadirkan Kepala BPK serta Koordinator Penyuluh kecamatan.
3. Pelatihan petugas • Pemerintah kabupaten/kota melaksanakan pelatihan (PL-3) bagi PPL
dan PHP. 4. Monitoring dan
Evaluasi
• Pemerintah kabupaten/kota melakukan monitoring dan evaluasi.
3. BPK/UPT Koordinasi dan pengawasan pelak-sanaan SL-PTS
• Kepala BPK beserta Koordinator Penyuluh melakukan pengawasan pelaksanaan SL-PTS secara terus menerus.
4. PPL & PHP Melaksanakan SL-PTS dan pendam-pingan petani
• PPL dan PHP adalah ujung tombak pelak-sanaan dan pendampingan petani dalam program PTS. 5. Kelompok tani dan petani Menerapkan metode PTS
• Melaksanakan dan mengadopsi komponen-komponen teknologi PTS dalam usahatani mereka.
Di Provinsi Sumatera Barat, sistem budidaya SRI dipopulerkan dengan nama “Padi Tanam Sabatang (PTS)”. Selama lebih lima tahun terakhir, populerisasi PTS di Sumatera Barat sangat gencar, malahan dapat dikatakan sudah bersifat gerakan. Wakil Walikota Padang, Mahyeldi Ansyarullah, pada momen panen raya PTS di salah satu lokasi di Kota Padang pada tanggal 5 November tahun 2009 mengatakan “sistem PTS merupakan sebuah metode baru dalam bentuk rekayasa teknologi yang digunakan dalam pertanian. Dengan sistem persawahan konvensional, satu hektar sawah hanya dapat menghasilkan 4-5 ton padi saja. Sementara dengan metode PTS bisa menghasilkan 7 ton. Jika dihitung dalam satu tahun, 21 ton padi akan diproduksi dalam tiga kali panen selama satu tahun.”
Di Kota Sawahlunto, Walikota Sawahlunto, Amran Nur mengatakan “sawah yang akan memanfaatkan teknologi PTS ditargetkan sampai 450 hektar pada tahun 2008. Tahun 2006, penanaman padi dengan metode PTS mencapai 175 hektar dan 280 hektar lagi pada tahun 2007. Kami memperkenalkan metode ini karena permintaan petani sebab tingkat produksinya mencapai 8-8,5 ton perhektar.” Gubernur serta Bupati dan Walikota di Sumatera Barat sudah banyak kali melakukan tanam perdana dan panen perdana pertanaman yang menggunakan metode PTS. Mantan Wakil Presiden Muhammad Yusuf Kalla dan bahkan Presiden Soesilo Bambang Yudoyono telah pernah melakukan tanam perdana atau panen perdana metode PTS di Sumatera Barat.
Adopsi dan Implementasi PTS oleh Petani
Rasanya menarik untuk diungkap sejauhmana adopsi inovasi metode PTS di Provinsi Sumatera Barat. Inovasi menurut Van den Ban dan Hawkins (1999) adalah suatu gagasan, metode, atau obyek yang dianggap sebagai sesuatu yang baru. Adopsi adalah proses perubahan perilaku, baik pengetahuan (cognitive), sikap (affective) maupun keterampilan (psychomotoric) pada seseorang setelah menerima inovasi yang disampaikan oleh penyuluh (Mardikanto, 1993). Menerima di sini artinya tidak sekedar tahu tetapi sampai benar-benar dapat melaksanakan atau menerapkannya dengan benar serta menghayatinya dalam kegiatan usahatani.
Pada dasarnya cepat atau lambatnya proses adopsi teknologi berkaitan dengan masalah waktu yang diperlukan dalam proses pengambilan keputusan dan dipengaruhi oleh banyak faktor (Roger 1983). Menurut Roger (1983), Hanafi (1985), Redjeki dan Herawati (1999), ada lima indikator yang berpengaruh pada cepat atau lambatnya proses pengambilan keputusan adopsi, yaitu: (i) sifat inovasi itu sendiri, (ii) jenis keputusan adopsi teknologi yang harus dilakukan, (iii) saluran komunikasi yang digunakan, (iv) sistem sosial khalayak sasaran, dan (v) upaya promosi/diseminasi yang dilaksanakan. Adjid (1985) menambahkan bahwa peranan aparatur pemerintah dan kepemimpinan dari Kepala Daerah sangat mempengaruhi kecepatan adopsi teknologi didalam wilayah kewenangannya.
Menurut Rogers (1983), sifat inovasi yang mempengaruhi keputusan adopsi inovasi adalah: (1) keuntungan relatif, yaitu tingkatan dimana suatu inovasi
dirasakan lebih memberikan keuntungan dibandingkan dengan inovasi sebelumnya; (2) kompatibilitas, adalah sejauh mana suatu inovasi dianggap konsisten dengan nilai-nilai yang ada, pengalaman masa lalu dan kebutuhan penerima; (3) kompleksitas, adalah tingkat dimana suatu inovasi dianggap relatif sulit untuk dimengerti dan digunakan; (4) triabilitas, adalah tingkat dimana suatu inovasi dapat dicoba dalam skala kecil; dan (5) observabilitas, adalah tingkat dimana hasil-hasil suatu inovasi dapat dilihat oleh orang lain. Suatu inovasi akan cepat diadopsi oleh petani bila sifat inovasi tersebut dinilai positif oleh petani, dengan kata lain inovasi tersebut menguntungkan, tidak rumit, mudah dicobakan, mudah diamati serta sesuai dengan kebiasaan, kebutuhan dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.
Tingkat pemahaman petani peserta SL-PTS tentang komponen-komponen teknologi yang dianjurkan dalam program PTS ternyata sangat bervariasi. Komponen-komponen teknologi dalam program PTS yang dipahami oleh cukup banyak petani responden adalah: pembuatan kompos jerami (65,92%), teknik seleksi benih (64,42%), teknik persemaian (53,56%), pemilihan varietas (64,42%), teknik penyiapan lahan (87,27%), penebaran kompos (68,16%), teknik penanaman (kecuali posisi akar) masing-masing lebih 60 persen (Tabel 4). Di lain pihak, komponen-komponen teknologi lainnya lebih banyak petani responden yang tidak paham dan bahkan tidak tahu.
Tabel 4. Distribusi Petani Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan dan Pemahamannya terhadap Komponen-Komponen Teknologi PTS Padi Sawah di Sumatera Barat
No. Komponen Teknologi
Tingkat Pengetahuan dan Pemahaman Petani Tahu dan paham Tahu, tidak paham Tidak tahu
Jumlah Persen Jumlah Persen Jumlah Persen 1. Pembuatan Kompos Jerami 176 65,92 54 20,22 37 13,86 2. Seleksi Benih 172 64,42 36 13,48 59 22,10 3. Teknik Persemaian 143 53,56 39 14,61 85 31,84 4. Pemilihan Varietas 172 64,42 38 14,23 57 21,35 5. Teknik Penyiapan Lahan 233 87,27 23 8,61 32 11,99 6. Penebaran Kompos 182 68,16 33 12,36 52 19,48 7. Teknik Penanaman:
a. Umur bibit dipindahkan 161 60,30 49 18,35 57 21,35 b. Jumlah bibit/rumpun 181 67,79 59 22,10 27 10,11 c. Posisi akar 106 39,70 41 15,36 120 44,94 d. Jarak tanam 177 66,29 40 14,98 50 18,73 8. Teknik Pengairan 130 48,69 44 16,48 93 34,83 9. Penyiangan 134 50,19 41 15,36 92 34,46 10. Pemupukan 65 24,34 94 35,21 108 40,45 11. Pengendalian Hama : a. Penggerek batang 20 7,49 25 9,36 222 83,15 b. Tikus 68 25,47 23 8,61 176 65,92 c. Walang sangit 35 13,11 39 14,61 193 72,28 12. Panen Tepat Waktu 100 37,45 47 17,60 120 44,94
Tingkat pemahaman petani peserta SL-PTS yang cukup tinggi untuk beberapa komponen teknologi dalam program PTS ternyata tidak berlanjut kepada tingkap adopsi atau penerapan komponen teknologi yang sama pada usahatani padi sawah mereka. Data pada Tabel 5 menggambarkan bahwa hanya dua komponen teknologi saja, yaitu pemilihan varietas dan teknik penyiapan lahan, yang diterapkan oleh lebih 50 persen petani yang pernah menjadi peserta SL-PTS. Tabel 5. Persentase Petani Responden yang Menerapkan Komponen-Komponen Teknologi PTS Pada Enam Kabupaten Sentra Produksi Padi Sawah di Sumatera Barat No Komponen Teknologi KABUPATEN Rata-Rata Agam Lima Puluh Kota Tanah Datar Solok Padang Pariaman Pesisir Selatan 1. Pembuatan Kompos Jerami 27,66 53,45 42,11 34,48 43,48 33,33 39,085 2. Seleksi Benih 32,65 51,72 33,33 51,72 39,13 26,67 39,203 3. Teknik Persemaian 19,15 31,03 28,07 13,79 8,70 20,00 20,123 4. Pemilihan Varietas 46,81 62,07 50,88 44,83 50,00 93,33 57,987 5. Teknik Penyiapan Lahan 59,57 62,07 59,65 58,62 58,70 56,67 59,213 6. Penebaran Kompos 31,91 43,10 45,61 48,28 50,00 33,33 42,038 7. Teknik Penanaman: a. Umur bibit dipindahkan 21,28 44,83 33,33 3,45 19,57 23,33 24,298 b. Jumlah bibit/rumpun 14,89 32,76 7,02 24,14 23,91 10,00 18,787 c. Posisi akar 19,15 20,69 24,56 24,14 10,87 16,67 19,347 d. Jarak tanam 61,70 62,07 61,40 27,59 41,30 3,33 42,898 8. Teknik Pengairan 27,66 29,31 45,61 31,03 32,61 26,67 32,148 9. Penyiangan 27,66 41,38 35,09 27,59 28,26 23,33 30,552 10. Pemupukan 2,13 6,90 1,75 0,00 2,17 0,00 2,158 11. Pengendalian Hama: a. Penggerek batang 0,00 0,00 14,04 0,00 0,00 13,33 4,562 b. Tikus 10,64 5,17 14,04 6,90 4,35 20,00 10,183 c. Walang sangit 10,64 1,72 12,28 0,00 4,35 16,67 7,610
12. Panen Tepat Waktu 23,40 48,28 28,07 34,48 26,09 26,67 31,165
Pada Tabel 5 terlihat bahwa tingkat adopsi atau penerapan masing-masing komponen teknologi dalam program PTS juga bervariasi antar kabupaten. Teknologi pembuatan kompos jerami diterapkan oleh lebih 50 persen petani responden di Kabupaten Lima Puluh Kota, rata-rata petani yang menerapkan pada keenam kabupaten lokasi survai hanya 39,09 persen saja. Selanjutnya, teknik seleksi benih diterapkan oleh lebih 50 persen petani responden di Kabupaten Lima Puluh Kota dan Solok (rata-rata keenam kabupaten hanya 39,20%). Teknologi pemilihan varietas diterapkan oleh lebih 50 persen petani responden di semua kabupaten yang disurvai, kecuali Kabupaten Agam dan Solok. Sedangkan teknik
penyiapan lahan yang baik dalam PTS diterapkan oleh lebih 50 persen petani responden di semua kabupaten yang disurvai. Komponen teknologi lain yang juga banyak diterapkan oleh petani responden, khususnya di Kabupaten Agam, Lima Puluh Kota, dan Tanah Datar adalah jarak tanam jarang (30 x 30 cm atau lebih). Komponen-komponen teknologi lainnya hanya diterapkan oleh sedikit petani peserta SL-PTS pada semua kabupaten. Bahkan ada beberapa komponen teknologi yang tidak ada petani yang menerapkannya.
Dari 12 komponen teknologi yang diintroduksikan pada program atau metode PTS, hanya dua komponen teknologi saja yang menarik bagi petani peserta SL-PTS untuk diterapkan pada lahan usahatani padi sawahnya masing-masing. Kedua komponen teknologi tersebut adalah pemilihan varietas berdasarkan kebiasaan dan kesukaan petani dan teknik penyiapan lahan dengan meratakan permukaan tanah dan membuat saluran keliling dan di tengah petakan sawah. Disukai dan diterapkannya komponen teknologi pemilihan varietas adalah karena petani di Provinsi Sumatera Barat secara umum kurang menyukai varietas BLBU yang biasanya rasa nasinya kurang enak menurut selera masyarakat Sumatera Barat. Selanjutnya, disukai dan diadopsinya komponen teknologi teknik penyiapan lahan adalah karena sangat membantu dalam mengendalikan hama keong mas yang tampaknya sudah menyebar ke seluruh wilayah Provinsi Sumatera Barat.
Komponen-komponen teknologi lainnya dalam program PTS sulit untuk diterapkan dan berkembang, terutama karena kurang aplikatif dan sangat menyulitkan petani. Menurut sebagian besar petani responden, penerapan komponen-komponen teknologi PTS menyita waktu karena tanaman PTS harus dikawal minimal selama satu bulan; menambah tenaga kerja terutama untuk penanaman dan penyiangan; meningkatkan biaya usahatani. Pengembangan metode PTS mungkin dianggap berhasil apabila dilihat dari semakin berkurangnya petani yang membakar jerami sesudah panen (masih diragukan) dan jumlah bibit ditanam yang sudah berkurang (lebih sedikit) dibanding di masa lalu. Akan tetapi, keberhasilan yang dinyatakan tersebut tentunya masih sangat jauh dari capaian yang diharapkan, mengingat program pengembangan metode PTS sudah berjalan lebih 6 tahun.
Menurut Rogers (1983), sifat inovasi yang mempengaruhi keputusan adopsi inovasi adalah: (1) keuntungan relatif, yaitu tingkatan dimana suatu inovasi dirasakan lebih memberikan keuntungan dibandingkan dengan inovasi sebelumnya; (2) kompatibilitas, adalah sejauh mana suatu inovasi dianggap konsisten dengan nilai-nilai yang ada, pengalaman masa lalu dan kebutuhan penerima; (3) kompleksitas, adalah tingkat dimana suatu inovasi dianggap relatif sulit untuk dimengerti dan digunakan; (4) triabilitas, adalah tingkat dimana suatu inovasi dapat dicoba dalam skala kecil; dan (5) observabilitas, adalah tingkat dimana hasil-hasil suatu inovasi dapat dilihat oleh orang lain. Suatu inovasi akan cepat diadopsi oleh petani bila sifat inovasi tersebut dinilai positif oleh petani, dengan kata lain inovasi tersebut menguntungkan, tidak rumit, mudah dicobakan, mudah diamati serta sesuai dengan kebiasaan, kebutuhan dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.
Menurut Buharman dan Irfan (2009), capaian hasil gabah kering panen dengan metode PTS tidak kosisten antar lokasi. Keragaan teknis di lapangan yang belum secara nyata memberikan keuntungan lebih menimbulkan kesan kurang baik bagi petani peserta SL-PTS ataupun petani lain di sekitarnya untuk mengadopsi metode PTS pada musim tanam berikutnya. Secara ekonomi, indikator tersebut bermuara kepada nilai net benefit cost ratio (NBCR) yang masih rendah (NBCR = 1,12 dan -0,57) yang berarti secara ekonomi metode PTS tidak nyata menguntungkan.
Gerakan PTS di Sumatera Barat diakui bukanlah tanpa hambatan. Informasi yang diperoleh dari pejabat di Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Barat menggambarkan bahwa ada enam hambatan yang ditemui, yaitu: (1) daya serap masyarakat petani terhadap inovasi rendah dan sulitnya mengubah perileku petani; (2) cepatnya tumbuh dan berkembangnya gulma sehingga menyulitkan penyiangan tanaman; (3) kepercayaan masyarakat petani terhadap PTS masih rendah; (4) kelemahan petugas lapang yang sering gonta ganti dan kemampuan petugas yang biasa-biasa saja; (5) aktivitas petugas lapang (penyuluh pertanian) yang terlalu banyak sehingga menjadi tidak focus; dan (6) keterbatasan jumlah petugas lapang, baik penyuluh maupun PHP.
KESIMPULAN
Dari uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Dinas Pertanian Tanaman Pangan bersama dengan pemerintah kabupaten dan kota telah berupaya keras melaksanakan gerakan “Padi Tanam Sabatang (PTS)” dalam rangka meningkatkan produktivitas padi sawah di daerah ini. Program pengembangan metode PTS ini telah berjalan lebih enam tahun (sejak tahun 2006), akan tetapi keberhasilannya masih jauh dibanding capaian yang diharapkan. Belum tercapainya target yang diharapkan disebabkan oleh banyak faktor, baik teknis maupun non teknis.
Secara konsep, gerakan PTS di Provinsi Sumatera Barat komponen-komponen teknologinya mirip dengan “The System of Rice Intensification (SRI)” yang dikembangkan pertama kali di Madagaskar, walaupun tidak identik 100 persen. Perbedaan antara keduanya terlihat pada komponen varietas, persemaian, pemupukan, penanaman, pertumbuhan dan pengelolaan gulma, pengairan, kelembagaan dan pendekatan diseminasi yang dipakai.
Komponen-komponen teknologi dalam PTS yang dipahami oleh cukup banyak petani adalah: pembuatan kompos jerami, teknik seleksi benih, teknik persemaian, pemilihan varietas, teknik penyiapan lahan, penebaran kompos, dan teknik penanaman (kecuali posisi akar). Akan tetapi, hanya dua komponen teknologi saja yang menarik bagi petani untuk diterapkan pada lahan usahatani mereka, yaitu komponen teknologi pemilihan varietas berdasarkan kebiasaan dan kesukaan petani dan teknik penyiapan lahan dengan meratakan permukaan tanah dan membuat saluran keliling dan di tengah petakan sawah.
DAFTAR PUSTAKA
Adjid, A.D. 1985. Pola Partisipasi Masyarakat Pedesaan Dalam Pembangunan Pertanian Berencana. Penerbit Orba Shakti Bandung.
Berkelaar, D. 2001. Sistem Intensifikasi Padi: Sedikit dapat Memberi Lebih Banyak. Buletin ECHO Development Notes : 1-6.
Besli. 2009. Kebijakan Peningkatan Produksi dan Pendapatan Usahatani Padi Sawah di Sumatera Barat. Prosiding Lokakarya Pengembangan Inovasi Teknologi Padi Sawah di Sumatera Barat. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat.
BPS. 2003. Statistik Indonesia 2003. Badan Pusat Statistik, Jakarta.
Buharman B dan Z. Irfan. 2009. Keragaan Teknis dan Sosial Ekonomi Teknologi Padi Tanam Sabatang di Kota Padang, Sumatera Barat. Prosiding Lokakarya Pengembangan Inovasi Teknologi Padi Sawah di Sumatera Barat. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat.
Dipertahor.2008. Optimalisasi Produksi dengan Metode Padi Tanam Sabatang. Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatera Barat, Padang. Hanafi, A. 1985. Memahami Komunikasi Antar Manusia. Penerbit Usaha Nasional,
Surabaya.
Irfan, Z., Aryunis, Yunasri, dan R. Herayitno. 2012. Kajian Komprehensif Pengembangan dan Adopsi metode “Padi Tanam Sabatang (PTS)” dalam rangka Meningkatkan Produktivitas Padi Sawah di Provinsi Sumatera Barat. Laporan Akhir Penelitian. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat.
Kasim, M. 2004. Percobaan Pot Tentang Penerapan SRI dan Cara Tradisional. Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Padang.
Kasim, M. dan A. Syarif. 2009. Implementasi dan pengembangan SRI mendukung P2BN di Sumatera Barat. Prosiding Lokakarya Pengembangan Inovasi Teknologi Padi Sawah di Sumatera Barat. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat.
Mardikanto T. 1993. Penyuluhan Pembangunan Pertanian. Surakarta: Sebelas Maret University Press.
Rogers, E. M. 1983. Diffusion of Innovations. Third Edition. The Free Press, New York. Sembiring, H. 2009. Kebijakan Riset dan Rangkuman Hasil Penelitian Balai Besar Penelitian
Padi mendukung peningkiatan produksi beras nasional. Prosiding Lokakarya Pengembangan Inovasi Teknologi Padi Sawah di Sumatera Barat. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat.
Sri Rejeki, N. dan A. Herawati. 1999. Dasar-Dasar Komunikasi untuk Penyuluhan. Universitas Atma Jaya. Yogyakarta.
Van den Ban dan Hawkins. 1999. Penyuluhan Pertanian. Agnes Dwina Herdiastuti, penerjemah. Jakarta: Kanisius. Terjemahan dari: Agricultural Extension (Second Edition).
Wardana, I.P., P.S. Bindraban, A. Gani, A.K. Makarim, and I. Las. 2002. Biophysical and economic implication of integrated crop and management for rice in Indopnesia. Proceeding of A Thematic Workshop on Water-Wise Rice Production, IRRI, Los Banos, Philippines, 8 Nov. 2002.