• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUPATI PAKPAK BHARAT TENTANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BUPATI PAKPAK BHARAT TENTANG"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

BUPATI

PAKPAK BHARAT

PERATURAN BUPATI PAKPAK BHARAT

NOMOR

lg

, TAHUN 2011

TENTANG

TATA CARA PERGESERAN ANGGARAN ANTAR UNIT ORGANISASI, ANTAR KEGIATAN

DAN ANTAR JENIS BELANJA PADA AilIGGARA}I PE}IDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (APBD) KABUPATEN PAKPAK BHARAT TAHUN ANGGARAN 2011

Menimbang

'.

a.

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PAKPAK BHARAT,

bahwa untuk kelancaran pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan

dan pembangunan

di

Kabupaten Pakpak Bharat Tahun Anggaran 2011

dipandang perlu diadakan pergeseran anggaran antar obyek belanja dan

rincian obyek belanja mendahului Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Pakpak Bharat Tahun Anggaran 2011;

bahwa sesuai Pasal 154 ayat (1) huruf b Peraturan Menteri Dalam Negeri

Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah

sebagaimana

telah

diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri

Nomor 11 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri

Dalam

Negeri

Nomor

13

Tahun 2006,

Pergeseran Anggaran dapat

dilakukan Antar Unit Organisasi, Antar Kegiatan dan Antar Jenis Belanja;

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a

dan

b

perlu ditetapkan Peraturan Bupati tentang Tata Cara Pergeseran

Anggaran

Antar

Unit,

Antar

Kegiatan,

dan Antar Jenis

Belanja Pada

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Pakpak Bharat Tahun Anggaran 2011.

Undang-Undang

Nomor

12

Tahun 1985 tentang Pajak Bumi

dan

Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 68,

Tambahan

Lembaran

Negara Republik lndonesia Nomor

3312)

sebagaimana

telah

diubah dengan Undang-Undang Nomor

12

Tahun

1994 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985

tentang Pajak Bumi dan Bangunan (Lembaran Negara Republik lndonesia

Tahun 1994 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 3569);

Undang-Undang Nomor

I

Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten

Nias

Selatan,

Kabupaten

Pakpak Bharat,

Kabupaten

Humbang

Hasundutan

di

Provinsi Sumatera Utara (Lembaran Negara Republik

lndonesia Tahun 2003 Nomor 29, Tambahan Lembaran Negara Republik

lndonesia Nomor 4272.

Undang-Undang

Nomor

17

Tahun

2003

tentang

Keuangan Negara

(Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 4286);

Mengingat

:

1.

b.

(2)

4.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2A04 tentang Perbendaharaan Negara

(Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor a355);

5.

Undang-Undang

Nomor

15

Tahun

2A04 tentang

Pemeriksaan

Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara

Republik lndonesia Tahun 20A4 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 4400);

Undang-Undang Nomor

25

Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan

Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun

2004

Nomor 104,

Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor M21);

Undang-Undang Nomor

32

Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah

(Lembaran

Negara

Republik lndonesia

Tahun 2A04 Nomor

125,

Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia

Nomor

4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang

Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang

Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara

Republik lndonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara

Republik lndonesia Nomor 484$;

Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2044 tentang Perimbangan Keuangan

Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara

Republik lndonesia

Tahun

20A4 Nomor

126,

Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor

A3il;

Undang-Undang Nomor

28

Tahun 2009 tentang Pajak

Daerah dan

Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 2009

Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 50ae);

Peraturan Pemerintah

Nomor

23

Tahun

2005

tentang

Pengelolaan

Keuangan Badan Layanan Umum (Lembaran Negara Republik lndonesia

Tahun 2005 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia

Nomor 4502);

Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah

(Lembaran

Negara

Republik lndonesia

Tahun

2005

Nomor

136,

Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 4574);

Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan

(Lembaran

Negara

Republik lndonesia

Tahun

2005

Nomor

137,

Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 4575);

Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem lnformasi

Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 2005

Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 4576);

Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2005 tentang Hibah (Lembaran

Negara

Republik lndonesia

Tahun

2005

Nomor

139,

Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 4577);

Peraturan Pemerintah

Nomor

58

Tahun

2005

tentang

Pengelolaan

Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 2005

Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 4578); 6. 7. 8.

L

10. 11. 12. 13. 14. 15.

2

(3)

16.

Peraturan

Pemerintah

Nomor

65

Tahun

2005

tentang

Pedoman

Penyusunan

dan

Penerapan Standar Pelayanan Minimal (Lembaran

Negara

Republik lndonesia

Tahun

2005

Nomor

150,

Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor4585);

17.

Peraturan

Pemerintah

Nomor

79

Tahun 2005 tentang

Pedoman

Pembinaan

dan

Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah

(Lembaran

Negara

Republik lndonesia

Tahun

2005

Nomor

165,

Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 4593);

Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan

dan Kinerja lnstansi Pemerintah (Lembaran Negara Republik lndonesia

tahun 2006 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia

Nomor 4614);

Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 2010 Nomor 123, Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 5164);

Peraturan Presiden

Nomor

54

Tahun

2010

tentang

Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah;

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman

Pengelolaan Keuangan

Daerah

sebagaimana

telah

diubah

dengan

Peraturan

Menteri

Dalam Negeri

Nomor

21

Tahun 2011

tentang

Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;

Peraturan Daerah Nomor

5

Tahun 2008 tentang Organisasi

dan

Tata

Kerja Dinas

Daerah

Kabupaten

Pakpak Bharat

(Lembaran Daerah

Kabupaten Pakpak Bharat Tahun 2008 Nomor 5, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Pakpak Bharat Nomor 58);

Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2011 tentang Anggaran Pendapatan

dan

Belania Daerah Kabupaten Pakpak Bharat Tahun Anggaran 2011

(Lembaran Daerah Kabupaten Pakpak Bharat Tahun

2009

Nomor 1,

Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Pakpak Bharat Nomor 96);

Peraturan Bupati Nomor

2

Tahun 2011 tentang Penjabaran Anggaran

Pendapatan

dan

Belanja Daerah

Kabupaten

Pakpak

Bharat Tahun

Anggaran 2011 (Berita Daerah Kabupaten Pakpak Bharat Tahun 2011 Nomor 2);

MEMUTUSKAN :

Menetapkan

:

PERATURAN

BUPATI PAKPAK BHARAT

TENTANG

TATA

CARA

PERGESERAN

ANGGARAN

ANTAR

UNIT

ORGANISASI,

ANTAR

KEGIATAN

DAN

ANTAR

JENIS

BELANJA

PADA

ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (APBD) KABUPATEN PAKPAK BHARAT TAHUN ANGGARAN 201 1.

18.

-'.i

19. 20. 21. 22. 23. 24. _t

v

(4)

BAB I

KETENTUAN UMUIII

Bagian Pertama Pengertian

Pasal 1

Dalam Peraturan Bupati ini yang dimaksud dengan:

(1)

Daerah adalah Kabupaten Pakpak Bharat;

(2)

Bupati adalah Bupati Pakpak Bharat;

(3)

Dewan

Perwakilan

Rakyat

Daerah

yang

selanjutnya

disebut DPRD adalah

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Pakpak Bharat;

(4)

Perangkat Daerah adalah orang/lembaga pada Pemerintah Daerah yang bertanggung jawab kepada Kepala Daerah bertugas membantu Kepala Daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan

yang terdiri

atas

Sekretariat, Dinas Daerah, Lembaga Teknis Daerah, Kecamatan dan Kelurahan/Desa sesuai dengan kebutuhan Daerah;

(5)

Kepala daerah adalah pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah dan mewakili pemerintah daerah dalam kepemilikan kekayaan daerah yang dipisahkan;

(6)

Sekretaris daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah bertugas membantu

kepala daerah menyusun kebijakan

dan

mengkoordinasikan penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah termasuk pengelolaan keuangan daerah;

(7)

Satuan

Kerja

Perangkat Daerah

yang

selanjutnya disingkat SKPD adalah perangkat daerah selaku pengguna anggaran/pengguna barang;

(8)

Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah yang selanjutnya disingkat SKPKD adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna angggaran/pengguna barang,

yang melaksanakan pengelolaan keuangan daerah;

(g)

Pejabat Pengelola Keuangan Daerah yang selanjutnya disingkat PPKD adalah kepala

satuan kerja pengelola keuangan daerah yang selanjutnya disebut kepala SKPKD yang

mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan APBD dan bertindak sebagai bendahara umum daerah;

(10) Bendahara Umum Daerah yang selanjutnya disingkat BUD adalah PPKD yang bertindak

kapasitas sebagai bendahara umum daerah;

(11) Pengguna Anggaran adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi SKPD yang dipimpinnya.

(12) Pengguna Barang adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan barang milik daerah;

(13) Kuasa Bendahara Umum Daerah yang selanjutnya disingkat Kuasa BUD adalah pejabat yang diberi kuasa untuk melaksanakan sebagian tugas BUD;

(14) Kuasa Penggunaan Anggaran adalah pejabat yang diberi kuasa untuk melaksanakan

sebagian kewenangan pengguna anggaran dalam melaksanakan sebagian tugas dan fungsi SKPD;

(15) Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD yang selanjutnya disingkat PPK-SKPD adalah

pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPD;

(16) Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan yang selanjutnya disingkat PPTK adalah pejabat pada

unit kerja SKPD yang melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari suatu program sesuai dengan bidang tugasnya;

(17) Bendahara Penerimaan adalah pejabat fungsional yang ditunjuk menerima, menyimpan, menyetorkan, menatausahakan

dan

mempertanggungjawabankan

uang

pendapatan daerah dalam rangka pelaksanaan APBD pada SKPD;

(18) Bendahara Pengeluaran adalah pejabat fungsional yang ditunjuk menerima, menyimpan,

membayarkan, menatausahakan, dan mempertanggungjawabkan uang untuk keperluan belanja daerah dalam rangka pelaksanaan APBD pada SKpD;

(19) Kas Daerah adalah tempat menyimpan uang daerah yang ditentukan oleh Bendahara

Umum Daerah;

(20) Pemegang Kas adalah orang yang ditunjuk dan diserahi tugas melaksanakan kegiatan

kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan APBD di setiap unit kerja Pengguna Anggaran;

(21) Pembantu Pemegang Kas adalah setiap orang yang ditunjuk dan diserahi melaksanakan kegiatan pada

fungsi

keuangan tertentu untuk melaksanakan kegiatan

pada

Satuan

-:

(5)

-t :

Pemegang Kas dalam rangka pelaksanaan APBD disetiap unit kerja Pengguna Anggaran;

(22) Satuan Pemegang Kas adalah unit yang dipimpin oleh Pemegang Kas yang terdiri dari beberapa Pembantu Pemegang

Kas yang

melaksanakan

masing

-

masing

fungsi keuangan daerah;

(23) Satuan Pemegang Kas Pembantu adalah unit pembantu Satuan Pemegang Kas yang

berfungsi menerima uang hasil Pendapatan Asli Daerah pada lembaga teknis daerah;

(241

Dana

Cadangan

adalah

dana yang

disisihkan

untuk

menampung kebutuhan yang

memerlukan dana relatif cukup besar yang tidak dapat dibebankan dalam satu Tahun Anggaran;

(25) Dana Depresiasi adalah dana yang disisihkan untuk penggantian aset pada akhir masa umur ekonomisnya;

(26) Penerimaan Daerah adalah semua peneriman Kas Daerah dalam periode Tahun Anggaran

tertentu;

(27) Pengeluaran Daerah adalah semua pengeluaran

Kas

Daerah

dalam

periode Tahun Anggaran tertentu;

(28) Pendapatan Daerah

adalah semua

penerimaan

Kas

Daerah

dalam

periode Tahun

Anggaran tertentu yang menjadi hak daerah;

(29) Belanja Daerah adalah semua pengeluaran Kas Daerah dalam periode Tahun Anggaran

tertentu yang menjadi beban daerah;

(30) Pembiayaan adalah transaksi keuangan daerah yang dimaksudkan untuk menutup selisih

Pendapatan Daerah dan Belanja Daerah;

(31)

Sisa

Lebih

Perhitungan APBD

Tahun Lalu

adalah selisih

lebih

realisasi pendapatan

terhadap realisasi Belanja Daerah dan merupakan komponen pembiayaan;

(32) Aset Daerah adalah semua harta kekayaan milik daerah baik barang benrvujud rnaupun barang tidak berwujud;

(33) Barang Daerah yang semua barang benvujud milik daerah yang berasal dari pembelian

dengan dana yang bersumber seluruhnya atau sebagian dari APBD dan atau berasal dari

perolehan lainnya yang sah;

(34) Utang Daerah adalah jumlah uang yang menjadi hak daerah atau kewajiban pihak lain

kepada daerah sebagai akibat penyerahan uang, barang dan atau jasa oleh daerah atau

akibat lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

(35) Piutang Daerah adalah jumlah uang yang menjadi hak daerah atau kewajiban pihak lain

kepada daerah sebagai akibat penyerahan uang, barang dan atau jasa oleh daerah atau akibat lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

(36) Pinjaman Daerah adalah semua transaksi yang mengakibatkan daerah menerima dari

pihak lain sejumlah uang atau manfaat bernilai uang sehingga daerah tersebut dibebani kewajiban pendek yang lazim terjadi dalam perdagangan.

Bagian Kedua Ruang Lingkup

Pasal 2 Ruang lingkup keuangan daerah meliputi:

a. Hak daerah untuk memungut pajak daerah dan retribusi daerah serta melakukan pinjaman;

b. Kewajiban daerah untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah

dan

membayar

tagihan pihak ketiga;

c.

Penerimaan daerah;

d. Pengeluaran daerah;

e. Kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau pihak lain berupa uang, surat berharga, piutang,

barang,

serta

hak-hak

lain

yang dapat

dinilai dengan uang, termasuk kekayaan yang

dipisahkan pada perusahaan daerah; dan

f.

Kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah daerah dalam rangka penyetenggaraan tugas dan/atau kepentingan umum.

(6)

.t

BAB II

KEKUASAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

Paeal 3

(1)

Kepala daerah adalah pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah dan mewakili pemerintah daerah dalam kepemilikan kekayaan daerah yang dipisahkan;

(2)

Sekretaris daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah bertugas membantu

kepala

daerah

menyusun kebijakan

dan

mengkoordinasikan penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah termasuk pengelolaan keuangan daerah;

(3)

Pejabat Pengelola Keuangan Daerah

yang

selanjutnya disingkat PPKD adalah kepala

satuan kerja pengelola keuangan daerah yang selanjutnya disebut dengan kepala SKPKD

yang

mempunyai

tugas

melaksanakan pengelolaan

APBD

dan

bertindak

sebagai bendahara umum daerah;

(4)

Kuasa Bendahara Umum Daerah yang selanjutnya disingkat Kuasa BUD adalah pejabat

yang diberi kuasa untuk melaksanakan sebagian tugas BUD;

(5)

Kuasa Penggunaan Anggaran adalah pejabat

yang

diberi kuasa untuk melaksanakan

sebagian kewenangan pengguna anggaran

dalam

melaksanakan sebagian

tugas

dan

'

fungsi SKPD;

(6)

Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD yang selanjutnya disingkat PPK-SKPD adalah peiabat yang rnelaksanakan fungsi trata usaha keuangan pada SKPD;

(7)

Bendahara Penerimaan adalah pejabat fungsional yang ditunjuk menerima, menyimpan,

menyetorkan, menatausahakan dan mempertanggungjawabankan uang pendapatan daerah

dalam rangka pelaksanaan APBD pada SKPD;

(8)

Bendahara Pengeluaran adalah pejabat fungsional yang ditunjuk menerima, menyimpan,

membayarkan, menatausahakan,

dan

mempertanggungjawabkan uang untuk keperluan belanja daerah dalam rangka pelaksanaan APBD pada SKPD;

BAB III

RUANG LINGKUP DAN AZAS UII']UIII

PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Pasal 4

(1)

Pengelolaan Keuangan Daerah meliputi keseluruhan proses perencanaan, pelaksanaan,

penatausahaan

dan

pertanggungjawaban

serta

pengawasan keuangan

daerah

yang berkaitan dengan APBD;

(2)

Pengelolaan keuangan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

a. Perencanaan

yang

mencakup proses penetapan

Arah

dan

Kebijakan Umum APBD,

penentuan Strategi

dan

Prioritas

APBD serta

penyusunan Program, Kegiatan dan Anggaran;

b. Pelaksanaan realisasi APBD;

c.

Penatausahaan dan atau pencatatan dan pengklarifikasian transaksi keuangan daerah

selama pelaksanaan APBD;

d. Pengawasan

dan

pengendalian

yang lebih

bersifat preventif

dan

represif

yang

ditunjukkan untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna anggaran;

e. Pertanggungjawaban dan atau pelaporan Pemerintah Daerah atas pelaksanaan APBD.

Pasal 5

Pengelolaan keuangan

daerah

dilakukan

secara tertib,

taat

pada

peraturan

perundang-undangan

yang

berlaku,

efisien, efektif,

transparan

dan

bertanggungjawab dengan memperhatikan asas keadilan dan kepatutan.

(7)

Paeal 6

(1)

APBD merupakan dasar pengelolaan Keuangan Daerah untuk Tahun Anggaran tertentu

yang disusun dengan pendekatan kinerja;

(2)

APBD yang disusun dengan pendekatan kinerja sebagaimana dimaksud pada

ayat

(1)

memuat :

a.

Sasaran yang diharapkan menurut fungsi belanja;

b.

Standar pelayanan yang diharapkan dan perkiraan biaya satuan yang bersangkutan;

komponen kegiatan

c. Bagian kegiatan APBD yang membiayai belanja administrasi umum, belanja operasi dan

pemeliharaan, serta belanja modal.

(3)

Untuk mengukur kinerja keuangan Pemerintah Daerah dikembangkan Standar Analisa Belanja, tolak ukur kinerja dan Standar Biaya;

(4)

Standar Analisa Belanja, tolak ukur kineria dan standar biaya sebagaimana dimaksud pada

ayat (3) ditetapkan lebih lanjut dengan Keputusan Bupati.

Pasal 7

Tahun fiskalAPBD sama dengan Tahun fiskalAnggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Pasal 8

Semua penerimaan dan pengeluaran daerah dalam rangka desentralisasi dicatat dan dikelola

dalam APBD.

Pasal

I

Semua pendapatan, belanja dan pembiayaan dianggarkan secara bruto dalam APBD Pasal 10

(1)

Jumlah pendapatan daerah yang dianggarkan dalarn APBD merupakan batas penerimaan minimal yang terukur secara rasional untuk setiap sumber pendapatan daerah;

(2)

Jumlah belanja yang dianggarkan dalam APBD merupakan batas tertinggi untuk setiap ienis belanja;

-

(3)

Pengguna anggaran dilarang melakukan pengeluaran atas beban anggaran daerah untuk

tuiuan selain yang ditetapkan dalam APBD;

(4)

Perkiraan sisa lebih perhitungan APBD tahun lalu dicatat sebagai saldo awal pada APBD

tahun

berikutnya sedangkan realisasi

sisa

lebih

perhitungan APBD

tahun

lalu

dicatat

sebagai saldo awal pada perubahan APBD.

Pasal

'll

Penerimaan dan pengeluaran kas daerah oleh Pemerintah Daerah dilaksanakan melalui kas daerah.

BAB III

KEWENAilIGAN, HAK DAN KEWAJIBAN BUPATI Pasal 12

(1)

Bupati menyelenggarakan kekuasan umum pengelolaan Keuangan Daerah berdasarkan

Peraturan Daerah dan peraturan perundangrundangan yang berlaku;

(2)

Bupati merupakan pemegang kekuasaan umum pengelolaan Keuangan Daerah dan dapat

mendelegasikan kewenangannya kepada Pejabat Pengelola Keuangan Daerah;

(3)

Pendelegasian kewenangan sebagaimana dimaksud

pada

ayat

(2') ditetapkan dalam Keputusan Bupati;

(8)

Pasal 13

Bupati sebagai pemegang kekuasaan umum pengelolaan keuangan

daerah

mempunyai

kewenangan untuk:

a. Bersama DPRD menetapkan Arah dan Kebijakan Umum APBD;

b. Menyusun rancangan APBD, Perubahan APBD, dan Perhitungan APBD;

c. Bersama DPRD menetapkan APBD, Perubahan APBD, dan Perhitungan APBD.

BAB IV

PERGESERAN APBD Pasal 14

(1)

Perubahan APBD dapat dilakukan apabila terjadi;

a.

Perkembangan yang tidak sesuaidengan asumsi KUA;

b.

Keadaan

yang

menyebabkan

harus

dilakukan

pergeseran

anggaran

antar

unit

organisasi, antar kegiatan, dan antar jenis belanja;

c.

Keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih tahun sebelumnya harus digunakan dalam tahun berjalan;

d.

Keadaan daurat; dan

e.

Keadaan luar biasa.

(2)

Pergeseran antar unit organisasi, antar kegiatan,

dan

antar

jenis

belanja sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) huruf "b" serta pergeseran antar obyek belanja dalam jenis belanja dan antar rincian obyek belanja diformulasikan dalam DPPA-SKPD;

(3)

Pergeseran antar rincian obyek belanja dalam obyek belanja berkenan dapat dilakukan atas

persetujuan PPKD;

(4)

Pergeseran antar rincian obyek belanja dalam jenis belanja berkenaan dapat dilakukan atas persetujuan Sekretaris Daerah;

(5)

Pergeseran anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) dilakukan dengan

cara

mengubah peraturan

kepala daerah tentang

penjabaran

APBD

sebagai dasar pelaksanaan, untuk selanjutnya dianggarkan dalam rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD.

(6)

Pergeseran anggaran antar unit organisasi, antar kegiatan, dan antar jenis belanja dapat

dilakukan dengan cara merubah peraturan daerah tentang APBD;

(7)

Anggaran yang mengalami perubahan baik berupa penambahan dan/atau pengurangdn

akibat pergeseran sebagaimana dimaksud pada ayat (2), harus dijelaskan dalam kolom keterangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran perubahan APBD.

BAB V

TATA CARA PERGE$ERAN ANGGARAN Pasal 15

(1)

Pergeseran anggaran dilakukan dengan cara mengubah peraturan kepala daerah tentang

penjabaran Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah sebagai dasar pelaksanaan, untuk

selanjutnya dianggarkan dalam rancangan peraturan daerah tentang perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah;

(2)

Pergeseran anggaran yang terjadi pada Dokumen Anggaran Satuan Kerja harus disertai pergeseran anggaran pada Lembaran Kerja;

(3)

Pergeseran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah diusulkan kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah Cq.Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah;

(4)

Usulan pergeseran anggaran disampaikan oteh tiap-tiap satuan kerja perangkat daerah

(SKPD) yang akan melakukan pergeseran anggaran sesuai dengan Format pada Lampiran

ldan

ll keputusan ini;

(5)

Usulan pergleseran anggaran belanja yang

telah

disetujui

akan

dituangkan

ke

dalam

(9)

Pasal 16

Pergeseran Anggaran dapat menambah

dan

mengurangi obyek belanja

dan

rincian obyek

Belanja akibat pergeseran yang tertuang di dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah lnduk

Tahun 2011 dengan rincian sebagaimana tercantum dalam lampiran Peraturan Bupati ini.

Pasal 17

Pergeseran anggaran dapat dilakukan selambat-lambatnya pada Triwulan

lll

(tiga).

Pasal 18

Segala perubahan baik penambahan maupun pengurangan obyek belanja dan rincian obyek

belanja sebagaimana dimaksud

dalam Pasal

16

akan

dituangkan

ke

dalam

Perubahan

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran

Aifi.

BAB VI

PENUTUP

Pasal 19

:.

Peraturan ini mulai berlaku pada tanggaldiundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Bupati ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kabupaten Pakpak Bharat.

Ditetapkan di Salak

Pada

tanggal

3

o6vr--

2A11

BUPATI PAKPAK BHARAT,

REMIGO YOLANDO BERUTU

Diundangkan di Salak

pada

tanggal

fl

ACtswet- 2011 PA

DAERAH

PAKPAK BHARAT,

SINAMO

A DAERAH KABUPATEN PAKPAK BHARAT TAHUN 20{1 NOMOR

,

n.LI

(10)

,t-: 900i t... :Penting

: 1 (satu) berkas

: Usulan pergeseran anggaran mendahului Selaku

Ketua TAPDpenetapan Perubahan APBD TA 20xx.

:

Peraturan Bupati Pakpak Bharat

:

,ljTahun2011

:

tt oLrob4r 2011

:

Pergeseran Anggaran Mendahului Perubahan Anggaran Pendapatan

dan Belanja Daerah (P-APBD) Kabupaten Pakpak Bharat Tahun Anggaran 20'11.

Kepada Yth :

Bapak Bupati Pakpak Bharat Cq. Sekretaris Daerah

Di-Salak Lampiran I Nomor Tanggal Tentang

format Surat usulan Kepala SKPD terhadap pergeseran anggaran mendahului penetapan perubahan APBD kepada Bupati melalui sekretaris Daerah seraku Ketua TApD

KOP SURAT

SKPD

Nomor Sifat Lampiran Perihal Dengan hormat,

Dengan memperhatikan ketentuan pergesaran anggaran yang tercantum Peraturan Bupati pakpak Bharat Nomor ... Tahun 20xx tentang Sistem dan Prosedur Pengeiolain Keuangan Daerah, dengan ini kami mengajukan usulan pergeseran anggaran mendahului penetapan perubahanApgO

fn.

20xx, deigan alasan dan pertimbangan sebagai berikut:

'1. Terdapat kebijakan dan program pemerintah pusaUprovinsi yang

bersifat strategis terkait dengan bidang tugas kami yakni xxxxxxxx xxxxxxxx xxxxxxxx xxxxxxxx xxxxxxxx (bila penu dibuat rincian yang lebih detildalam bentuk narasiatau matiks/daftar)

2. Terdapat kebijakan dan program pemerintah daerah yang bersifat strategis terkait dengan bidang tugas kami yakni xxxxxxxx xxxxxxxx xxxxxxxx xxxxxxxx xxxxxxxx (bila pertu dibuat i-ncian yang

le bih detil d al a m bentu k n a rasi ata u matiks/dafta r) 3. dst...

Menurut hasil evaluasi kami, untuk dapat melaksanakan kebijakan/program tersebut ternyata tidak tersedia anggarannya dalam APBD TA.2Oxx sementara pelaksanaannya akan dilakukan sebelum [enetapanperubahan APBD TA.20xx. Sehubungan dengan itu menurut pendapat kami perlu dilakukan pergeseran anggaran antar jenis belanja atau antar kegiatan mendahului penetapan Perubahan APBD Oengari rincian perubahan dan rancangan DPPA-SKpD sebagaimana terlampir.

Berdasarkan hal tersebut di atas, kami mohon pertimbangan Bapak untuk dapat kiranya usulan pergeseran anggaran mendahului penetapan perubahan APBD TA.20xx dimaksud dibahas oleh TApD, untuk selanjutnya diajukan kepada DPRD guna memperoleh persetujuan.

Demikian untuk dimaklumi dan atas pertimbangan Bapak diucapkan terima kasih.

KEPALA SKPD...,

Tembusan :

1 Yth Kepala Bappeda Kabupaten pakpak Bharat di Satak;

2

Yth Kepala DIPPEKADE Kabupaten pakpak Bharat di satak.

(11)

Lampiran

I

:

Peraturan Bupati pakpak Bharat

Nomor

:

l4lahun 2011

Tanggal : (ofhff2011

Tentang

:

Pergeseran Anggaran Mendahului Perubahan Anggaran pendapatan

dan Betanja Daerah (p-ApBD)

Kabupaten pakpak Bharat Tahun

Anggaran 2011.

DAFTAR RINCIAN

PERGESERAN ANGGARAN ANTAR JENIS BELANJA DALAM KEGIATAN BERKENAAN

TAHUN ANGGARAN 2OXX

No. Kegiatan dan Jenis Belanja Anggaran

(Rp) Semula Bertambah/ Berkurang Menjadi 1 Kegiatan... Belanja Pqgawai XXXXX xxxxx XXXXX

Digeser ke Belar]ja Barang dan Jasa XXXXX XXXXX XXXXX

Sehingga Belanja Pegawai Menjadi. XXXXX XXXXX XXXXX

Belanja Barang dan Jasa XXXXX XXXXX XXXXX

Pergeseran dari Belanja pegawai XXXXX XXXXX XXXXX

Sehingga Belanja Barang dan Jasa Mentad_ XXXXX XXXXX XXXXX

Dengan Pergeseran Anggaran tersebut Oi atas, rnata

Belanja Pegawai XXXXX XXXXX xxxxx

Belanja Barang dan Jasa XXXXX xxxxx XXXXX

Jumlah Anggaran KegLqtan XXXXX XXXXX XXXXX

2 Dst...

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, diperoleh simpulan bahwa pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write tidak efektif ditinjau dari kemampuan komunikasi

[r]

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2013 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol mengamanatkan kepada pemerintah daerah untuk melakukan

Demikian juga atas pemakaian alat-alat berat dan pelayanan atas jasa air bersih dan tarif bibit ikan dimana tarif yang selama ini telah diatur dalam Peraturan Daerah Nomor

Salah satu ketidaksempurnaan dari segi fisik yaitu ketidakmampuan dalam mendengar, yang biasa disebut dengan tunarungu.Tunarungu didefinisikan sebagai kondisi

Beberapa ketentuan dalam Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2016 tentang Tata Cara Pencalonan, Pemilihan, Pelantikan Dan Pemberhentian Kepala Desa (Lembaran Daerah

3 untuk mendeskripsikan Nilai-nilai Edukatif dalam Novel Sepatu Dahlan Karya Khrisna Pabichara.Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi dunia pendidikan,

secara tetap, tetapi tingkat deviden yang dibayar tergantung dari tingkat return dari sekuritas t-bill (treasury bill). saham preferen tipe baru ini cukup populer sebagai