• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sampah Plastik Artikel (1) docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Sampah Plastik Artikel (1) docx"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

Sampah Plastik: Antara BBM dan

Polusi Udara

Limbah plastik dan bahan bakar yang dihasilkan

Sampah plastik dapat diolah menjadi bahan bakar minyak?. Bagi orang-orang yang bergelut dalam dunia kimia dan penerapannya tentu telah lama mengetahuinya, sebab telah ada penelitian tentang ini sebelumnya. Bersama siswa-siswa saya, pada bulan Oktober 2012 yang lalu kami mengadakan percobaan pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM).

Lansiran VOA pada 31 Oktober 2012, Plastik Dapat Gantikan BBM di AS memaparkan tentang sebuah perusahan di AS yang mengolah limbah plastik menjadi bahan bakar, sehingga dapat mengurangi limbah plastik dan ketergantungan terhadap minyak impor. Ada hal yang baru yang diangkat dalam lansiran VOA tersebut yaitu tentang belum ditentukanya proses pengolahan plastik menjadi minyak apakah merupakan proses “daur ulang”. Hal ini juga telah menjadi pertanyaan setelah saya dan siswa-siswa saya melakukan percobaan pengolahan limbah plastik menjadi BBM. Apakah uap yang dihasilkan pengolahan sampah plastik bisa mengakibatkan polusi? Mari kita bahas tentang plastik dan pengolahan sampah plastik.

Plastik dan Komponen Penyusun Plastik

Kita semua sering menggunakan plastik. Bahkan saat ini bisa dikatakan sebagai era plastik ! Produk yang menggunakan sedikit atau seluruhnya bahan plastik telah menyentuh semua sisi keperluan hidup, mulai dari pembungkus plastik, sepatu plastik, hand phone, laptop, piring, gelas, kaca mata bahkan mungkin bisa rumah dari plastik. Kelemahan plastik adalah tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme sehingga tidak dapat membusuk, tidak teroksidasi sehingga tidak dapat berkarat. Beberapa keunggulan plastik dari bahan lainnya adalah tahan air, lebih ringan, tidak menghantarkan listrik dan bisa lebih murah jika dibandingkan untuk benda dengan manfaat yang sama. Seiring dengan terus bertambahnya kebutuhan akan plastik maka limbah plastikpun terus meningkat, sehingga proses daur ulang sampah atau limbah plastik menjadi suatu keharusan.

(2)

digunakan sebagai botol minuman, sedangkan LDPE banyak digunakan sebagai kantong plastik. Plastik dikatakan sebagai senyawa organik berarti komponen utama plastik adalah unsur karbon C dan unsur hidrogen H atau senyawa hidrokarbon dengan ikatan kovalen. Dalam plastik juga terkandung unsur yang lain seperti oksigen O, nitrogen N, Chlor Cl dan belerang S. Komponen utama yang menyusun BBM adalah juga senyawa hidrokarbon.

Perbandingan jumlah atom C antara plastik dan senyawa-senyawa dalam minyak bumi. Jumlah Atom C dalam

16-25 Cairan dengan viskositas tinggi (oli, gemuk)

25-30 Padat (paraffin, lilin)

1000-3000 Plastik (polistiren, polietilen, dll)

Pengolahan Sampah Plastik Dengan Teknik Pirolisis.

Karena komponen utama plastik berupa hidrokarbon maka plastik dapat diolah menjadi BBM, pengolahannya dengan cara pirolisis. Pirolisis atau destilasi kering adalah teknik pembakaran sampah (limbah plastik) tanpa gas oksigen dan dilakukan pada suhu tinggi. Pengolahan tersebut merupakan perekahan pada molekul polimer plastik menjadi potongan molekul yang lebih pendek melalui proses pemanasan plastik pada suhu tinggi.

Pada tulisan ini saya mengkaji publikasi dua penelitian pengolahan sampah plastik dan percobaan pengolahan sampah plastik yang saya lakukan bersama siswa-siswa.

Pertama adalah penelitian yang dimuat pada Jurnal Riset Industri Vol. V No. 3, 2011 dengan judul konversi limbah plastik sebagai sumber energi alternatif. Dari penelitian tersebut dipaparkan bahwa proses pengolahan limbah plastik menjadi minyak meliputi 3 tahap/proses yaitu pirolisis, hydrotreating/hydrocracking dan hidro-isomerasi. Pada proses pirolisis limbah plastik dibakar pada suhu 800 oC sampai 1000 oC. Teknik ini mampu menghasilkan gas pembakaran yang

berguna dan aman bagi lingkungan yaitu gas O2 dan CO2. Selain gas, pada proses pirolisis senyawa-senyawa hidrokarbon cair mulai dari senyawa dengan jumlah atom C satu hingga empat. Tahap kedua adalah hydrotreating yaitu proses penyulingan untuk memisahkan unsur-unsur yang dihasilkan pada proses pirolisis. Proses ketiga adalah hidro-isomerasi, pada proses ini digunakan katalis khusus yang berfungsi menjadikan molekul-molekul isomer mempunyai viskositas tinggi. Berdasarkan dasar teori yang digunakan pada penelitian tersebut dituliskan bahwa sifat kimia yang dimiliki senyawa hidrokarbon cair hasil proses pirolisis mirip dengan senyawa hidrokarbon yang terkandung dalam minyak mentah (minyak bumi), sehingga dapat menjadi energi alternatif. Banyaknya sampah plastik yang terurai menjadi minyak atau hidrokarbon cair adalah 60 %.

(3)

siklopentanon. Dari senyawa-senyawa tersebut yang memiliki sifat mudah terbakar adalah aseton dan siklopentanon.

Ketiga adalah percobaan yang saya lakukan bersama-sama siswa-siswa saya. Kami melakukan destilasi kering atau pembakaran plastik dengan menggunakan alat buatan sendiri. Pembuatan alat tersebut mengacu pada cara pembuatan alat sederhana pengubah sampah plastik yang diakses pada website klikedukasi.com. Sampah plastik yang dipanaskan berupa gelas dan botol plastik air mineral. Pada percobaan pertama sampah plastik di panaskan dengan sumber api dari kayu bakar. Selama proses pemanasan dihasilkan uap yang keluar melalui kondensor yang baunya sangat menyengat. Setelah setengah jam pemanasan didapatkan cairan kental berwarna kuning. Cairan tersebut dapat terbakar setelah dites dengan api.

Cairan kental berwarna kuning ini bukanlah orange juice tetapi hasil destilasi kering plastik: hasil percoaan pertama, cairan ini bersifat mudah terbakar.

(4)

Pada percobaan kedua, alat, bahan dan caranya tetap sama, tetapi sumber panasnya kami gunakan dari kompor gas elpiji. Setelah satu jam dihasilkan cairan bening dan uap yang keluar melalui kondensor tetapi baunya tidak menyengat. Cairan tersebut dites dengan api tetapi tidak menyala. Dari analisis kami, perbedaan kedua percobaan tersebut adalah pada suhu. Pada percobaan pertama, suhunya lebih tinggi dari percobaan kedua sehingga pada percobaan kedua polimer plastik belum terurai, yang dihasilkan adalah senyawa-senyawa yang tidak terbakar. Hal tersebut dibuktikan dengan masih adanya sisa-sisa plastik yang masih belum terbakar. Pada percobaan pertama tidak ada sisa plastik yang tidak terbakar.

Alat sederhana yang dibuat dari alat masak bekas dan pipa leding bekas sebagai kondensor

(5)

Percobaan kedua pengolahan sampah plastik menjadi BBM: cairan ini bersifat tidak terbakar

Berdasarkan tulisan diatas, saya sependapat dengan Allen Hershkowitz, ilmuan senior dari Dewan Pertahanan Sumber Daya Alam, yang mengatakan bahwa “Barangkali pemisahan karbon menjadi botol plastik yang dibuang di tempat sampah lebih baik daripada mengubahnya menjadi bahan bakar cair dan melepaskan serta menggerakkan banyak senyawa karbon,” seperti yang dilansir oleh voaindonesia.com . Pengolahan sampah plastik menjadi minyak menurut saya sepertinya bukanlah proses daur ulang. Tetapi tidak tertutup kemungkinan diadakan penelitian lebih lanjut agar tidak ada hasil samping yang berupa senyawa-senyawa yang dapat menjadi toksik dan mencemari udara.

Cara yang bijak adalah seperti anjuran pemerintah selama ini yaitu meminimalisasi penggunaan plastik dengan menumbuhkan kesadaran untuk menjaga lingungan agar tidak tercemar.

Sumber:

Asam Borat. Sentra Informasi Keracunan Nasional (SIKerNas) Pusat Informasi Obat dan Makanan, Badan POM RI. 2011

http://www.voaindonesia.com/content/plastik-dapat-gantikan-bbm-di-as/1536410.html http://www.plastic.web.id/plastic_chemistry

http://en.wikipedia.org/wiki/Plastic

http://id.wikipedia.org/wiki/Plastik

http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-polimer/klasifikasi-polimer/polimer-termoplastik-dan-termosetting/

(6)

http://indonesiaproud.wordpress.com/2011/12/01/tri-handoko-mengubah-limbah-plastik-jadi-bahan-bakar-minyak/

Rahyani Ermawati. Konversi Limbah Plastik Sebagai Sumber Energi Alternatif. Jurnal Riset Industri Vol. V. No. 3, 2011, Hal. 257-263

Tri Anggono., Erina Wahyu W., Handayani., Arini Rahmadani., Abdullah. Pirolisis Sampah Plastik Untuk Mendapatkan Asap Cair Dan Penentuan Komponen Kimia Penyusunnya Serta Uji

Kemampuannya sebagai Bahan Bakar Cair. Jurnal Ilmiah Berkala, Sains dan Terapan Kimia oleh Prodi Kimia FMIPA Unlam Vol. 3 No. 2, 2009

Minyak bumi atau dalam bahasa Inggrisnya disebut Petroleum, menurut bahasa Latin terdiri dari dua penggalan kata yaitu Petrus yang artinya karang dan Oleum yang artinya minyak. Oleh karena itu kimia minyak bumi (petroleum) merupakan ilmu yang mempelajari tentang kelanjutan dari tumbuhan setelah dipendam atau dikubur selama jutaan tahun. Senyawa yang terkandung dalam petroleum mempunyai variasi yang besar dari senyawa dengan kerapatan rendah (gas) sampai senyawa dengan kerapatan tinggi (padatan).

Minyak bumi atau petroleum dijuluki juga sebagai emas hitam, yaitu cairan yang kental, coklat gelap, atau kehijauan yang mudah terbakar, dan berada di lapisan atas dari beberapa area di kerak bumi. Minyak bumi terdiri dari campuran kompleks dari berbagai hidrokarbon, dimana sebagian besar terdiri dari seri alkana tetapi bervariasi dalam penampilan, komposisi, dan kemurniannya.

Asal minyak bumi adalah mahluk hidup (tumbuhan, hewan) yang terkubur selama jutaan tahun dengan melalui proses penguburan, proses diagenesis kemudian proses lebih lanjut pada masa katagenesis dan tidak dapat dimanfaatkan lagi pada masa metagenesis.

Tahapan penguburan bahan alam mengalami tiga masa perubahan kimiawi yaitu: a. Diagenesis

Masa ini merupakan zona tak matang dan terjadi perengkahan tak mencolok (10%), yang dibagi dalam tiga bagian yaitu :

(7)

petroleum yang tidak dapat larut dalam pelarut organik dan anorganik).

2) Diagenesis pertengahan, terjadi proses aromatisasi (senyawa rantai panjang membentuk senyawa aromatik, lingkar dan mempunyai ikatan rangkap dengan elektron terdelokalisasi).

3) Diagenesis akhir, adalah proses yang terjadi pengkhelatan logam oleh senyawa organik yang terbentuk pada masa sebelumnya.

Pembentukan minyak bumi terjadi pada diagenesis akhir dan dapat dikenal berdasar hasil eksplorasi.

b. Katagenesis

Katagenesis adalah zona minyak dan gas basah. Pada masa ini terjadi perengkahan mencolok, dimana terjadi perubahan senyawa kimia yang diakibatkan oleh suhu dan kedalaman pendaman (penguburan) sehingga menyebabkan penguraian termal kerogen.

c. Metagenesis

Pada tahap ini terjadi masa perusakan termal dari karakter senyawa (cairan) menjadi residu (padatan), sehingga mengakibatkan senyawa organik menjadi senyawa yang kekurangan hidrogen, dan material tak bernilai atau menjadi material bernilai dari senyawa karbon (grafit, intan).

Adapun proses pengendapan bahan organik dalam proses pembentukan minyak bumi ditunjukkan pada gambar 1. berikut.

(8)

Komposisi kimia dari minyak bumi dipisahkan dengan cara destilasi yang didasari oleh perbedaan titik didih, kemudian setelah diolah lagi lebih lanjut akan diperoleh minyak tanah, bensin, lilin dan lain-lain. Meskipun demikian pemisahan tidak dapat memberikan senyawa tunggal, melainkan kumpulan senyawa dengan isomernya.

Minyak bumi terdiri dari hidrokarbon, senyawa hydrogen dan karbon. Empat alkana teringan, yaitu � CH4 (metana), C2H6 (etana), C3H8 (propane), dan C4H10 (butana) semuanya adalah gas yang mendidih pada suhu -161.6�C, -88.6�C, -42�C, dan -0.5�C, berturut-turut (-258.9�, 127.5�, -43.6�, dan +31.1� F).

Rantai karbon dengan C5-7 semuanya ringan, dan mudah menguap, nafta jernih. Senyawaan tersebut digunakan sebagai pelarut, cairan pencuci kering (dry clean), dan produk cepat-kering lainnya. Rantai dari C6H14 sampai C12H26 dicampur bersama dan digunakan untuk bensin. Minyak tanah terbuat dari rantai C10 sampai C15, diikuti oleh minyak diesel (C10 hingga C20) dan bahan bakar minyak yang digunakan dalam mesin kapal. Senyawaan dari minyak bumi ini semuanya dalam bentuk cair dalam suhu ruangan. Minyak pelumas dan gemuk setengah-padat (termasuk Vaselin) berada di antara C16 sampai ke C20. Sedangkan rantai di atas C20 berwujud padat, dimulai dari "lilin, kemudian tar, dan bitumen aspal.

Titik pendidihan dalam tekanan atmosfer dari fraksi distilasi minyak bumi (oC) adalah sebagai berikut.

- Minyak eter: 40 - 70 oC (digunakan sebagai pelarut) - Minyak ringan: 60 - 100 oC (bahan bakar mobil) - Minyak berat: 100 - 150 oC (bahan bakar mobil)

- Minyak tanah ringan: 120 - 150 oC (pelarut dan bahan bakar untuk rumah tangga)

- Kerosene: 150 - 300 oC (bahan bakar mesin jet) - Minyak gas: 250 - 350 oC minyak diesel/pemanas) - Minyak pelumas > 300 oC (minyak mesin)

- Sisanya: ter, aspal, bahan bakar residu

(9)

volume gas. Tekanan tabung harus dijaga dan dipertahankan.

Proses perengkahan, pengubahan, alkilasi, atau polimerisasi merupakan tahap awal dari pemanfaatan senyawa (zat kimia) yang berasal dari minyak bumi. Minyak bumi mengandung banyak senyawa kimia dan hasil isolasi senyawa ini dapat dimanfaatkan oleh industri. Bahan kimia ini disebut sebagai bahan petrokimia. Pemanfaatan industri umumnya didasari oleh reaksi-reaksi polimerisasi (perpanjangan rantai), reaksi perengkahan (perpendekan rantai), reaksi pengubahan (paduan dengan senyawa lain), maupun pembentukan senyawa pendek dari senyawa panjang minyak bumi (pembentukan gas, alkilasi, perpendekan rantai atom karbon). Perpendekan rantai minyak bumi menghasilkan senyawa yang ekonomis dan bermanfaat.

Senyawa kimia lain dari tumbuhan atau hewan pembentuk minyak bumi adalah alkaloid, terpena, steroid, asam amino, dan lipid. Senyawa-senyawa ini terkubur bersama tumbuhan dan hewan. Senyawa kimia yang terkubur dan pada saat pengeboran minyak masih dapat dikenali dari strukturnya, maka senyawa ini dianggap dapat menjadi pengungkap sejarah pembentukan minyak bumi yang dikenal sebagai biomarker atau penanda hayati (contoh: porfirin dari klorofil, sekobikadinana dari isoprena atau terpena, skualena, sterana, bahkan steroid, dan kolesterol).

Minyak bumi dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar industri. Bahan dasar ini dipisahkan berdasar beberapa proses sebagai berikut.

a. Reaksi Perengkahan (cracking)

Cracking adalah pemecahan senyawa organik rantai panjang menjadi dua atau lebih senyawa organik rantai lebih pendek, terjadi secara alami maupun dari pemanasan langsung.

Contoh pemanasan

(10)

Proses cracking atau alkilasi penting untuk minyak bumi dalam mencari senyawa yang lebih dibutuhkan oleh konsumen, yaitu untuk mendapatkan bensin lebih banyak dari minyak pelumas. Contoh cracking adalah minyak diesel (C16-C24) dan minyak pelumas (C20-C30) yang dipecah menjadi bensin (C4-C10) dan senyawa lain yang lebih banyak digunakan.

b. Reaksi pengubahan (reforming)

Reaksi pengubahan adalah reaksi dari bahan petroleum menjadi bahan dasar industri dengan pemanfaatan bahan yang murah menjadi material yang dibutuhkan sehingga bernilai ekonomis (murah). Proses ini diperoleh pada polimerisasi (pembentukan plastik).

c. Reaksi alkilasi

Proses alkilasi dibagi dua yaitu proses perpanjangan atom karbon rantai lurus dan proses pemutusan ikatan rantai karbon (dealkilasi). Proses ini dapat dikelompokkan dalam polimerisasi, bila perpanjangannya memiliki gugus fungsi yang sama. Dealkilasi dapat dimasukkan ke dalam kelompok perengkahan.

d. Polimerisasi

Polimerisasi adalah proses pembentukan polimer. Polimer terdiri dari polimer alami dan polimer sintetik. Polimer adalah molekul besar yang terdiri atas pengulangan satuan kecil (monomer). Monomer adalah senyawa organik yang memiliki ikatan rangkap dua dan ikatan rangkap ini terbuka membentuk ikatan dengan monomer lain sampai jumlah yang diinginkan (polimer sintetik). Polimer alam membentuk senyawa secara alami, contoh polimer alam yaitu lateks (dari pohon karet), karbohidrat (singkong jagung), protein, selulosa, resin. Sedangkan Contoh polimer sintetik adalah nilon, dakron, teflon.

(11)

Minyak bumi merupakan bahan alam dengan berbagai jenis senyawa kimia, sehingga dapat digunakan dalam berbagai bahan baku industri.

a. Plastik (PE)

Plastik adalah bahan yang elastik, tahan panas, mudah dibentuk, lebih ringan dari kayu, dan tidak berkarat oleh adanya kelembapan. Plastik selain harganya murah, juga dapat digunakan sebagai isolator dan mudah diwarnai. Sedangkan kelemahan plastik adalah tidak dapat dihancurkan (degredasi). Contoh plastik adalah polietilena, polistirena, (Styron, Lustrex, Loalin), poliester (Mylar, Celanex, Ekonol), polipropilena (Poly- Pro, Pro-fax), polivinil asetat.

Polietilena atau PE (Poly � Eth, Tygothene, Pentothene) adalah polimer dari etilena (CH2 = CH2) dan merupakan plastik putih mirip lilin, dapat dibuat dari resin sintetik dan digolongkan dalam termoplastik (plastik tahan panas). Polietilena mempunyai sifat daya tekan baik, tahan bahan kimia, kekuatan mekanik rendah, tahan kelembapan, kelenturan tinggi, hantaran elektrik rendah. Berdasar kerapatannya PE dibagi dua yaitu PE dengan kerapatan rendah (digunakan sebagai pembungkus, alat rumah tangga dan isolator) dan yang berkerapatan tinggi (dimanfaatkan sebagai drum, pipa air, atau botol).

Plastik disamping mempunyai kelebihan dalam berbagai hal, ternyata limbahnya dapat menimbulkan masalah bagi lingkungan. Penyebabnya yaitu sifat plastik yang tidak dapat diuraikan dalam tanah. Untuk mengatasi masalah ini para pakar lingkungan dan ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu telah melakukan berbagai penelitian dan tindakan, diantaranya yaitu dengan cara mendaur ulang limbah plastik, Namun cara ini tidak terlalu efektif karena hanya sekitar 4% yang dapat didaur ulang. sisanya menggunung di tempat penampungan sampah. Sebagian besar plastik yang digunakan masyarakat merupakan jenis plastik polietilena. Ada dua jenis polietilena, yaitu high density polyethylene (HDPE) dan low density polyethylene (LDPE). HDPE banyak digunakan sebagai botol plastik minuman, sedangkan LDPE untuk kantong plastik.

(12)

pembahasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa minyak pelumas yang saat ini beredar di pasaran berasal dari pengolahan minyak bumi. Sifat kimia senyawa hidrokarbon cair dari hasil pemanasan limbah plastik mirip dengan senyawa hidrokarbon yang terkandung dalam minyak mentah sehingga dapat diolah menjadi minyak pelumas. Pengubahan hidrokarbon cair hasil pirolisis limbah plastik menjadi minyak pelumas menggunakan metode hidroisomerisasi. Minyak pelumas buatan ini diharapkan dapat digunakan untuk kendaraan bermotor dengan kualitas yang sama dengan minyak bumi hasil penyulingan minyak mentah, ramah lingkungan, sekaligus ekonomis.

b. Cat

Cat adalah produk dari industri pelapis permukaan, bertujuan untuk menjaga keawetan bahan yang dilapisi (kayu, logam atau tembok) dan untuk estetika (keindahan). Fungsi cat ini yaitu memberikan ikatan yang baik antara permukaan benda dan cat pelapis. Cat primer disediakan dalam kemasan yang lebih encer dari cat biasa dan dilarutkan dalam air atau minyak. Kemasan cat umumnya terdiri atas resin atau bahan pengikat (untuk mengikat pigmen warna di dalam cat, misal: minyak biji rami dan getah tumbuhan seperti gom arab, gom senegal), bahan pengisi (untuk memperbaiki sifat mekanis dan fisik cat agar tidak retak/terjadi goresan saat pengeringan, contohnya: bubuk kaca agar memantulkan cahaya matahari/lampu pada rambu lalu lintas), penstabil (digunakan sebagai penetral pengaruh sinar ultraviolet matahari), pengering pelarut, dan pigmen.

Pigmen bersifat ganda yaitu untuk menampilkan keindahan dan memberikan sifat mekanik pada selaput yang terbentuk. Pigmen menghalangi penyebaran uap air dan sinar matahari langsung pada bahan yang dilapisi. Warna yang dihasilkan pigmen bergantung pada banyaknya cahaya matahari yang diserap dan diserap dan dipantulkan. Pigmen harus tidak toksik dan merupakan senyawa anorganik yang tak larut dalam pelarut organik sehingga mengendap di dasar wadah. Pigmen seperti zink, aluminium, dan stainlessdigolongkan dalam pigmen metalik, banyak digunakan untuk dekorasi. Krom dalam bentuk polikrometik dipakai sebagai cat lapis akhir pada kendaraan bermotor.

c. Tekstil ( Nilon )

(13)

benang. Serat dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu serat alami dan serat sintetik. Serat alami (wol, sutera, katun, dan rami) pada umumnya pendek dengan panjang 1,3-20 cm. Serat alam berasal dari kapas akan menghasilkan kain yang lunak dan menyerap air sehingga baik untuk dibuat handuk, sprei, maupun pakaian. Serat rami dapat dibuat linen yang indah dan kuat sehingga dimanfaatkan untuk membuat taplak, sapu tangan dan serbet. Serat binatang (domba) dibentuk menjadi wol, sutera (kepompong ulat sutera) juga termasuk serat alami Serat alam yang berasal dari mineral adalah asbestos, mempunyai sifat tahan terhadap api dan digunakan pada pembungkus kabel.

Bahan baku serat sintetik adalah filamen yang bersambung/serat pendek, seragam dalam panjang, dan terpintal dalam benang. Poliester, nilon, akrilik, dan poliolefin merupakan contoh serat sintetik yang dibuat dari petrokimia. Perbedaan bahan tersebut terletak pada kekuatan tarik, elastisitas, kelembutan, daya serap terhadap air, ketahanan terhadap cahaya dan panas atau usia pemakaian. Bahan yang dihasilkan merupakan bahan yang kuat dan mudah disetrika. Serat sintetik yang terbuat dari bubur kayu, sampah kapas atau petrokimia yaitu rayon, asetat dan triasetat. Kain rayon menghasilkan bahan penghisap yang mudah kering, kain asetat tahan kerut dan tarikan, sedangkan triasetat merupakan bahan yang lebih tahan kusut.

Nilon adalah kelompok poliamida hasil polimerisasi heksametilena-diamina dan asam adipat. Nilon termasuk polimer paling ulet, kuat, dan kenyal, tidak rusak oleh minyak dan gemuk serta tak basah oleh air sehingga dapat dibentuk menjadi serat, sikat, lembaran, batang, pipa, maupun bahan penyalut. Nilon terdiri dari Nilon 6, Nilon 6,6 dan Nilon 8.. Nilon 6,6 dibuat dari reaksi polimerisasi asam adipat dan heksametilena diamina. Asam adipat dibuat dari sikloheksana, dan petroleum mengandung sikloheksana.

(14)

Gambar 2. Pembuatan Nilon 6 dari Benzena

Bagan pembuatan Nilon 6,6 dan Nilon 8 ditampilkan pada Gambar 3

Gambar 3. Proses Pembuatan Nilon 6,6 dan nilon 8

(15)

kaprolaktam.

d. PVC (Polivinil klorida)

Monomer dari PVC (poli vinil klorida) adalah etena yang satu atom hidrogen diganti (substitusi) dengan atom klorida. Vinil klorida dengan rumus kimia CH2=CHCl disebut kloroetilena atau kloroetena adalah gas tak berwarna, yang mencair pada suhu �13,9oC. PVC termasuk termoplastik yang paling banyak digunakan, bersifat kuat dan ulet. PVC dibagi dua yaitu PVC elastik dan PVC keras, atau kaku. Jenis PVC elastik dimanfaatkan untuk penutup lantai, bola mainan, sarung tangan, jas hujan.

PVC keras dimanfaatkan sebagai pipa listrik atau pipa air, kartu kredit. Kedua jenis PVC memiliki sifat sama yaitu tahan cuaca dan isolator. PVC dimodifikasi dengan bahan lain untuk meningkatkan pemakaiannya. PVC/akrilik tahan api dan bahan kimia, sedangkan PVC/ABS (akrilonitril-butadiena-stirena) mudah diproses pada rentangan api dan kuat terhadap tegangan tinggi. ABS adalah suatu bahan yang kuat, kaku, dan murah. PVC di Indonesia dijual dengan beberapa merk, dari yang tebal sampai yang tipis. Pabrik pembuat PVC menyebut dengan istilah paralon. Membakar PVC bekas menimbulkan asap yang diduga dapat menyebabkan kanker hati. PVC terbakar perlahan-lahan.

Plastik vinil dibuat dari gas alam, atau minyak bumi. Vinil dapat dibuat lemas, kaku, maupun bening. Sebagai bahan yang tidak mudah pecah atau sobek, vinil tidak dirusak oleh asam, minyak atau air. Sejak tahun 1927 PVC merupakan bahan plastik vinil yang telah diproduksi secara komersial. Pada pertengahan tahun 1970 vinil diteliti sebagai salah satu pencemar udara penyebab penyakit serius, seperti kanker hati. Plastik vinil dimanfaatkan secara luas sebagai barang yang murah dan tahan lama yang fleksibel (lantai, isolasi, kopor, tirai kamar mandi, pakaian mirip kulit, atau selang air). Jenis vinil yang tegar digunakan untuk mainan dan pipa air. Penyalutan dengan vinil dilakukan agar tidak lembek atau lembab, dan kertas dokumen maupun kertas dinding tidak terkena noda.

e. Perekat atau Adhesif

Perekat adalah bahan untuk menggabungkan dua benda pada permukaannya, contohnya semen, pelapisan tablet, lem, maupun getah. Mekanisme kerja perekat adalah perekatan mekanik atau fisika dan perekatan kimia.

(16)

pori-pori benda, sehingga terjadi penguncian secara mekanik. Pada perekatan kimia terjadi reaksi kimia (gaya tarik elektrik) antar molekul perekat dan permukaan benda. Umumnya perekatan terjadi secara bersamaan antara perekatan fisika dan kimia.

Perekat terdiri dari perekat yang mengering di udara, dilelehkan sebelum digunakan, dilakukan penekanan, atau yang aktif secara kimiawi. Benda yang direkatkan biasanya kertas, plastik, karet, kayu, logam, logam bukan logam, kaca, bahkan gigi. Plastik termoset memerlukan perekat untuk menggabungkan kedua bahan.

Powerglu adalah perekat yang bekerja berdasarkan reaksi polimerisasi pada saat pengeringan. Reaksi perekatan dibantu oleh uap air di udara/zat lain yang ditambahkan. Perekat untuk kayu dikenal sebagai perekat tahan-cuaca dan setengah tahan-cuaca. Perekat tahan cuaca umumnya memiliki kekuatan lebih besar dari kayunya. Bahan perekat jenis ini dibuat dari bahan polimer fenolik, epoksi, atau resorsinol. Perabot kayu yang tidak mengalami perubahan suhu yang drastis dan tidak kena air terlalu sering dapat memanfaatkan perekat dari bahan tulang atau perekat vinil. Perekat kayu setengah tahan-cuaca terbuat dari perekat urea dan kasein.

f. Polistirena (PS).

Polistirena adalah polimer yang mengandung monomer stirena C6H5CH=CH2. Polimer ini termasuk golongan termoplastik, merupakan plastik jernih dan keras. Polistirena diproduksi dalam bentuk busa plastik dengan nama komersial styrofoam, atau sebagai bahan isolasi (listrik, panas), komponen perabot, bahan pengemas, mainan, maupun benda toilet. Stirena dibuat dengan cara pirolisis-dehidrogenasi dari etilbenzena. Etilbenzena disintesis dari etilena dan benzena. Polimer ini bersifat tahan asam, basa, maupun garam. Penampilan PS lembut dan kecerahannya baik sehingga banyak digunakan untuk pipa, busa, pendingin, instrumen atau panel dalam otomotif.

(17)

Semakin langka dan tingginya harga minyak bumi serta masih minimnya penggunaan energi alternatif, seperti energi angin, tenaga surya, biomassa, dan panas bumi menyebabkan kita harus berpikir untuk mencari alternatif penggunaan BBM fosil yang lain. Alternatif yang sudah dilakukan selama ini yaitu penggunaan biodiesel (campuran solar dan minyak kelapa sawit) atau biofuel (campuran etanol dan bensin) yang bahan bakunya merupakan komoditas pasar siap pakai. Alternatif lain yang perlu dipertimbangkan adalah energi hijau terbarukan seperti pemanfaatan biji jarak pagar (Jatropha curcas). Sekurang-kurangnya, ada dua pilihan dalam proses produksi minyak jarak pagar diukur dari hasil olahan, investasi, dan biaya pengolahannya.

1. mengolah biji jarak pagar secara mekanik dengan memeras biji untuk mendapat straight jatropha oil (SJO). Minyak jenis SJO ini dengan biaya produksi di bawah Rp 2.000 per liter sudah dapat mengganti minyak tanah untuk menyalakan kompor dapur atau menggantikan minyak bakar untuk memanaskan ketel uap air yang menggerakkan turbin-turbin pembangkit listrik.

2. mengolah SJO melalui proses esterifikasi yang rumit dan karenanya mahal pada investasi maupun bahan tambahan serta katalis untuk memacu reaksi kimia. Hal ini menyebabkan biaya pokok produksi ester SJO dua kali lipat SJO. Pada dasarnya, dari sisi mutu, ester-SJO hanya berbeda pada titik nyala dan derajat kekentalan.

Salah satu pertimbangan penggunaan alternatif BBM fosil dengan menggunakan minyak jarak pagar (SJO), yaitu: tanaman jarak pagar bisa hidup dan tetap produktif meski ditanam di tanah kritis dan tandus, tumbuh baik di dataran rendah maupun pegunungan, tidak memiliki hama dan mulai berbuah pada usia lima bulan sesudah ditanam, serta dapat dipanen terus-menerus hingga usia 50 tahun. Pertimbangan lainnya yaitu dapat meningkatkan penghasilan petani, mampu menghemat devisa negara apabila produksinya melewati kebutuhan dalam negeri, dan dapat menurunkan kadar emisi NOx, SOx dan CO.

[Latihan]

(18)

Botol Plastik Bekas

Minggu, 22 April 2012

Minyak Pelumas dari Botol Plastik Bekas

Bagaimana caranya?

Sebagian besar penduduk di dunia memanfaatkan plastik dalam menjalankan aktivitasnya. Berdasarkan data Environmental Protection Agency (EPA) Amerika Serikat, pada tahun 2001, penduduk Amerika Serikat menggunakan sedikitnya 25 juta ton plastik setiap tahunnya. Belum ditambah pengguna plastik di negara lainnya. Bukan suatu yang mengherankan jika plastik banyak digunakan. Plastik memiliki banyak kelebihan dibandingkan bahan lainnya.

Secara umum, plastik memiliki densitas yang rendah, bersifat isolasi terhadap listrik, mempunyai kekuatan mekanik yang bervariasi, ketahanan suhu terbatas, serta ketahanan bahan kimia yang bervariasi. Selain itu, plastik juga ringan, mudah dalam perancangan, dan biaya pembuatan murah.

Sayangnya, di balik segala kelebihannya, limbah plastik menimbulkan masalah bagi lingkungan. Penyebabnya tak lain sifat plastik yang tidak dapat diuraikan dalam tanah. Untuk mengatasinya, para pakar lingkungan dan ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu telah melakukan berbagai penelitian dan tindakan. Salah satunya dengan cara mendaur ulang limbah plastik. Namun, cara ini tidaklah terlalu efektif. Hanya sekitar 4% yang dapat didaur ulang, sisanya menggunung di tempat penampungan sampah.

Mungkinkah tumpukan sampah plastik ini dapat diubah menjadi minyak pelumas? Masalah

itulah yang mendasari Miller dan rekan-rekannya melakukan

penelitian ini. Sebagian besar plastik yang digunakan masyarakat merupakan jenis plastik polietilena.

(19)

pengolahan minyak bumi. Minyak mentah (crude oil) hasil pengeboran minyak bumi di dasar bumi mengandung berbagai senyawa hidrokarbon dengan titik didih yang berbeda-beda. Kemudian, berbagai senyawa hidrokarbon yang terkandung dalam minyak mentah ini dipisahkan menggunakan teknik distilasi bertingkat (penyulingan) berdasarkan perbedaan titik didihnya. Selain bahan bakar, seperti bensin, solar, dan minyak tanah, penyulingan minyak mentah juga menghasilkan minyak pelumas.

Sifat kimia senyawa hidrokarbon cair dari hasil pemanasan limbah plastik mirip dengan senyawa hidrokarbon yang terkandung dalam minyak mentah, sehingga dapat diolah menjadi minyak pelumas. Pengubahan hidrokarbon cair hasil pirolisis limbah plastik menjadi minyak pelumas menggunakan metode hidroisomerisasi. Miller berharap minyak pelumas buatan ini dapat digunakan untuk kendaraan bermotor dengan kualitas yang sama dengan minyak bumi hasil penyulingan minyak mentah, ramah lingkungan, sekaligus ekonomis.

Sebenarnya, usaha pembuatan minyak sintetis dari senyawa hidrokarbon cair ini bukan suatu hal baru. Pada awal 1990-an, perusahaan Chevron telah mencoba mengubah senyawa hidrokarbon cair menjadi bahan bakar sintetis untuk tujuan komersial. Hanya saja bahan baku yang digunakan untuk menghasilkan senyawa hidrokarbon cair berasal dari gas alam (umumnya gas metana) melalui proses katalitik yang dikenal dengan nama proses Fischer-Tropsch.

Pada proses Fischer-Tropsch ini, gas metana diubah menjadi gas sintesis (syngas), yaitu campuran antara gas hidrogen dan karbon monoksida, dengan bantuan besi atau kobalt sebagai katalis. Selanjutnya, syngas ini diubah menjadi senyawa hidrokarbon cair, untuk kemudian diolah menggunakan proses hydrocracking menjadi bahan bakar dan produk minyak bumi lainnya, termasuk minyak pelumas. Senyawa hidrokarbon cair hasil pengubahan dari syngas mempunyai sifat kimia yang sama dengan polietilena.

(20)

Cara mengolahnya :

Sebagian besar penduduk di dunia memanfaatkan plastik dalam menjalankan aktivitasnya. Berdasarkan data Environmental Protection Agency (EPA) Amerika Serikat, pada tahun 2001, penduduk Amerika Serikat menggunakan sedikitnya 25 juta ton plastik setiap tahunnya. Belum ditambah pengguna plastik di negara lainnya. Bukan suatu yang mengherankan jika plastik banyak digunakan. Plastik memiliki banyak kelebihan dibandingkan bahan lainnya. Secara umum, plastik memiliki densitas yang rendah, bersifat isolasi terhadap listrik, mempunyai kekuatan mekanik yang

bervariasi, ketahanan suhu terbatas, serta ketahanan bahan kimia yang bervariasi. Selain itu, plastik juga ringan, mudah dalam perancangan, dan biaya pembuatan murah. Sayangnya, di balik segala kelebihannya, limbah plastik menimbulkan masalah bagi lingkungan. Penyebabnya tak lain sifat plastik yang tidak dapat diuraikan dalam tanah. Untuk mengatasinya, para pakar lingkungan dan ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu telah melakukan berbagai penelitian dan tindakan. Salah satunya dengan cara mendaur ulang limbah plastik. Namun, cara ini tidaklah terlalu efektif. Hanya sekitar 4% yang dapat didaur ulang, sisanya menggunung di tempat penampungan sampah.

Akhirnya para peneliti diseluruh dunia mencoba bagaimana caranya mengubah limbah-limbah plastik tersebut menjadi sesuatu yang lebih berguna dan bermanfaat untuk kelangsungan hidup masyarakat dunia yang lebih baik dimasa yang akan datang. Hasil dari pengolahan limbah plastik melalui proses penguraian adalah minyak pelumas mesin atau yang lebih dikenal dengan nama oli atau oli mesin.

Saat ini, sekitar 129 juta ton plastik setiap tahunnya diproduksi, dan 60% dari jumlah itu diproduksi dari bahan minyak bumi. Jika dari jumlah tersebut dapat diolah kembali maka akan diperoleh sebesar 69 juta minyak bumi yang dapat dimanfaatkan. Jepang sendiri telah menerapkan undang-undang pengolahan sampah sejak 1997 dan khususnya bagi sampah plastik sejak tahun 2000.

Sebagian besar plastik yang digunakan masyarakat merupakan jenis plastik polietilena. Ada dua jenis polietilena, yaitu high density polyethylene (HDPE)

dan low density polyethylene (LDPE). HDPE banyak digunakan sebagai botol plastik minuman, sedangkan LDPE untuk kantong plastik.

Penelitian dalam mengubah limbah plastik menjadi minyak pelumas telah terbukti berhasil dari penelitian yang dilakukan oleh Stephen J. Miller, Ph.D., seorang

(21)

Pusat penelitian Chevron Energy Technology Company, Richmond, California, Amerika Serikat dan University of Kentucky.

Dalam penelitiannya yang dipublikasikan dalam Jurnal American Chemical Society bagian Energi dan Bahan Bakar (Energy and Fuel) edisi 20 Juli 2005, Miller

memanaskan polietilena menggunakanmetode pirolisis, lalu menyelidiki zat hasil pemanasan tersebut.

Ternyata, ketika polietilena dipanaskan akan terbentuk suatu senyawa hidrokarbon cair. Senyawa ini mempunyai bentuk mirip lilin (wax). Banyaknya plastik yang terurai adalah sekitar 60%, suatu jumlah yang cukup banyak. Struktur kimia yang dimiliki senyawa hidrokarbon cair mirip lilin ini memungkinkannya untuk diolah menjadi minyak pelumas berkualitas tinggi. Sekadar informasi, minyak pelumas yang saat ini beredar di pasaran berasal dari pengolahan minyak bumi.

Sifat kimia senyawa hidrokarbon cair dari hasil pemanasan limbah plastik mirip dengan senyawa hidrokarbon yang terkandung dalam minyak mentah sehingga dapat diolah menjadi minyak pelumas. Pengubahan hidrokarbon cair hasil pirolisis limbah plastik menjadi minyak pelumas menggunakan metode hidroisomerisasi.

Miller berharap minyak pelumas buatan ini dapat digunakan untuk kendaraan bermotor dengan kualitas yang sama dengan minyak bumi hasil penyulingan minyak mentah, ramah lingkungan, sekaligus ekonomis.

Proses pengolahan limbah plastik menjadi minyak pelumas dasar ini meliputi beberapa tahapan / proses, yaitu :

1. Proses Pirolisis

Teknologi pirolisis ini adalah teknik pembakaran sampah (limbah plastik) tanpa O2 dan dilakukan pada suhu tinggi (800- 1000 oC). Teknik ini mampu menghasilkan

gas pembakaran yang berguna dan aman bagi lingkungan.

Teknik pirolisis adalah proses pemanasan dan penyulingan bahan organik dalam sampah (limbah plastik) menggunakan sedikit O2 atau tidak sama sekali.

Pembakaran plasik selalu menimbulkan bahaya yang dapat mengancam kesehatan.

Seperti kita ketahui, plastik memiliki tekstur yang kuat dan tidak mudah terdegradasi oleh mikroorganisme tanah. Jika sampah plastik dibakar dapat mendatangkan masalah tersendiri bagi kita. Plastik yang dibakar akan

mengeluarkan asap toksik yang apabila dihirup dapat menyebabkan sperma menjadi tidak subur dan terjadi gangguan kesuburan. Pembakaran PVC akan mengeluarkan DEHA yang dapat mengganggu keseimbangan hormon estrogen manusia. Selain itu juga dapat mengakibatkan kerusakan kromosom dan

(22)

CO2dan H2O, yang bukan merupakan gastoksik . Kadar dioksin yang dilepaskan dari teknologi pirolisis ini juga amat rendah. Pada proses pirolisis ini dapat

dihasilkan senyawa-senyawa hidrokarbon cair mulai dari C1 hingga C4, dan

diperoleh juga senyawa rantai panjang (oligomer) lainnya seperti parafin dan olefin.

2. Proses Hydrotreating/Hydrocracking

Pada proses ini hasil dari proses pirolisis dimasukkan ke dalam tungku penyulingan pada tekanan atmosfir dan kemudian di vakum untuk mepisahkan unsur-unsur yang dihasilkan dari proses awal.

Proses ini berguna dalam mengurangi/menghilangkan aromatik dan komponen polar yang dihasilkan dari proses pirolisis.

3. Proses Hidroisomerisasi

Pada proses Hidro-Isomerisasi digunakan katalis khusus yang berfungsi menjadikan molekul-molekul isomer mempunyai viskosistas yang tinggi, tingkat titik beku yang rendah dan menjadikan pelumas dasar yang Iso-Paraffinik. Pada proses ini indeks viskosistas mencapai 156-160 oC. Tingginya viskositas yang dihasilkan dari proses

hidroisomerisasi ini menandakan tingginya kualitas minyak pelumas yang dihasilkan dari limbah plastik. Kekentalan merupakan salah satu unsur kandungan minyak pelumas paling rawan karena berkaitan dengan ketebalan minyak pelumas itu sendiri atau seberapa besar resistensinya untuk mengalir. Kekentalan minyak pelumas langsung berkaitan dengan sejauh mana minyak tersebut berfungsi sebagai pelumas sekaligus pelindung benturan antar permukaanlogam. Tingginya kualitas minyak pelumas yang dihasilkan dari limbah plastik berdasarkan penelitian Stephen.J.Miller, menandakan bahwa penelitian ini cukup berhasil dan sangat

berguna bagi kelangsungan energi dan bahan bakar dunia di masa yang akan datang.

Gas alam yang digunakan berasal dari Amerika Serikat. Belakangan, daerah lepas laut Timur Tengah menjadi sumber gas alam karena di sana harga gas alam lebih murah. Minyak pelumas dari gas alam ini untuk sementara dapat menjadi alternatif minyak pelumas hasil pengolahan minyak bumi. Pada masa mendatang, cadangan gasalam di dunia diperkirakan akan segera menipis. Di lain pihak, kebutuhan akan minyak pelumas semakin tinggi. Kini, dengan adanya penemuan ini, pembuatan minyak pelumas nampaknya tidak lagi memerlukan gas alam. Cukup dengan memanfaatkan limbah botol plastik, jadilah minyak pelumas.

Diposkan oleh Rizqy Jamaludin di 01.45Tidak ada komentar:

(23)

KEBIJAKAN PEMERINATAH TENTANG LPG

Meski awalnya banyak yang menyangsikan akan berhasil, konversi Minyak Tanah ke

LPG menjadi fenomena penting program konversi energi di Indonesia. Apalagi,

keberhasilan mengubah kebiasaan masyarakat yang turun termurun dari generasi ke

generasi menggunakan Minyak Tanah beralih ke LPG bukan sekadar persoalan

teknis, namun juga sarat dengan aspek sosial dan budaya.

Sebenarnya, tujuan utama konversi Minyak Tanah ke LPG untuk mengurangi subsidi.

Maklum, Minyak Tanah, yang biaya produksinya setara dengan Avtur, selama ini

dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat berpenghasilan rendah yang

terkonsentrasi di perdesaan. Sehingga pemerintah memberikan subsidi harga.

Kebijakan yang sudah berlangsung bertahun-tahun ini cukup membebani keuangan

negara.

(24)

Melihat profil pengguna tersebut, sangat jelas bahwa pemberian subsidi Minyak

Tanah memang tidak seluruhnya tepat sasaran. Kelompok masyarakat menengah

maupun mampu masih banyak yang mengkonsumsi Minyak Tanah bersubsidi dengan

beragam alasan. Oleh sebab itu program konversi yang diikuti dengan pengurangan

volume Minyak Tanah bersubsidi ditujukan untuk memperbaiki distribusi agar lebih

tepat sasaran.

LPG menjadi pilihan pengganti Minyak Tanah. Alasan terpenting adalah biaya

produksi LPG lebih murah dibanding Minyak Tanah. Biaya produksi Minyak Tanah

tanpa subsidi adalah sekitar Rp 6.700/liter. Jika dengan subsidi adalah Rp 2.500/liter.

Untuk satu satuan setara Minyak Tanah, biaya produksi LPG tanpa subsidi adalah Rp

4.200/liter. Sedang LPG dengan subsidi adalah Rp 2.500/liter. Pemanfaatan LPG jelas

mengurangi konsumsi subsidi Minyak Tanah.

Selain biaya produksi lebih murah, untuk satu satuan yang sama kalori LPG juga lebih

tinggi dibanding Minyak Tanah. Sehingga biaya pemakaian LPG untuk keperluan

memasak, misalnya, lebih murah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh

Laboratorium Energi Universitas Trisakti menghasilkan biaya merebus air 5 liter

adalah Rp 11,6/menit untuk LPG dan Rp 13,8/menit untuk Minyak Tanah.

Program konversi Minyak Tanah ke LPG memiliki sasaran atau target sekitar 40 juta

Kepala Keluarga (KK) miskin yang tersebar di seluruh Indonesia. Untuk keperluan ini

dibutuhkan sebanyak 40 juta kompor LPG beserta asesorisnya serta 100 juta tabung

LPG 3 Kg. Pada pelaksanaan program, telah dibagikan sejumlah paket perdana secara

gratis kepada para keluarga miskin yang terdiri kompor LPG dan asesoris serta tabung

LPG 3 Kg.

Sejak mulai dilaksanakan tahun 2007 hingga menjelang akhir 2010 telah dibagikan

paket perdana sebanyak 44.675.000 ke seluruh wilayah Indonesia atau lebih dari 100

persen dari target. Sebanyak 3.793.000 Metrik Ton (MT) LPG telah dikonsumsi

masyarakat sasaran. Sedang Minyak Tanah yang ditarik mencapai 11.317.000 KL.

Penghematan yang berhasil dilakukan mencapai sebesar Rp 19,34 Triliun.

(25)

Tanah ke LPG juga membawa dampak bergulir dalam kegiatan ekonomi masyarakat.

Pengadaan lebih dari 44 juta kompor LPG telah mendorong bangkitnya industri

kompor LPG di dalam negeri. Saat ini sudah beroperasi sebanyak 34 pabrik kompor

LPG dengan kapasitas mencapai sekitar 55 juta unit setiap tahun.

Pabrikan asesoris juga berkembang seiring dengan kebutuhan pengoperasian kompor

LPG oleh konsumen. Saat ini serta 21 pabrik katub tabung (valve), selang dan

regulator dengan berbagai merek di berbagai wilayah di Indonesia. Produksi katub

tabung mencapai sekitar 25 juta setiap tahun, regulator mencapai sekitar 45 juta

setiap tahun dan selang karet mencapai sekitar 80 juta per tahun.

Kebutuhan sekitar 100 juta tabung LPG ukuran 3 Kg juga telah mendorong

bekembangnya pabrikan di dalam negeri. Saat ini setidaknya sudah beroperasi sekitar

73 pabrik tabung LPG dengan kapasitas mencapai sekitar 75 juta/tahun. Kebutuhan

akan tabung LPG juga mendorong berkembangnya produksi industri lembaran baja

sebagai bahan baku. Jumlah sebesar ini diprediksi masih akan bertambah guna

memenuhi kebutuhan stock dan rolling.

Tumbuhnya industri penunjang konversi Minyak Tanah ke LPG tersebut telah

menyerap sedikitnya sekitar 100 ribu tenaga kerja langsung. Diprediksi jumlah tenaga

kerja tidak langsung yang terserap lebih banyak lagi dengan berkembangnya industri

ini. Terlebih lagi, nilai investasi langsung yang telah ditanamkan untuk pengembangan

industri ini mencapai kisaran Rp 3 Triliun. Jika mempertimbangkan investasi tidak

langsung nilainya akan lebih besar lagi.

Dinamika berkembangnya kegiatan industri kompor LPG beserta asesoris maupun

tabung LPG diprediksi masih akan terus berlanjut diwaktu-waktu mendatang.

Kebiasaan masyarakat menggunakan LPG sebagai bahan bakar merupakan pasar

utama industri ini. Selain para pabrikan, berkembangan industri ini juga mendorong

tumbuhnya jasa perdagangan maupun usaha perbengkelan di bidang kompor LPG

beseta asesoris.

(26)

ini. Selain itu juga membuka ribuan kesempatan kerja, baik bagi para tenaga kerja

berketrampilan khusus maupun terciptanya usaha distributor atau penjualan produk

industri ini. Bahkan, juga terbuka peluang merambah pasar luar negeri apabila

kualitas produk dan harga bisa bersaing.

Aktivitas ekonomi juga terjadi dalam jalur distribusi LPG. Sejak dari lapangan produksi

ataupun impor hingga konsumen. Selain berupa pembangunan infrastruktur,

termasuk kapal pengangkut, juga memacu investasi bidang pengangkutan, stasiun

pengisian, penyaluran dan pemeliharaan (SPPBE/SPBE). Rantai distribusi juga

membuka peluang usaha berupa pembukaan Agen, Sub Agen dan

pangkalan/penyalur.

Bahkan saat ini, di jalur paling ujung sebelum konsumen juga berkembang usaha

penjualan LPG 3 Kg eceran. Baik oleh toko kelontong maupun pedagang dorongan

khusus LPG 3 Kg. Besar kemungkinan ini dilakukan oleh para pedagang dorongan

atau pedagang keliling yang sebelumnya menjajakan Minyak Tanah. Betapapun,

kegiatan ini telah menjadi nilai tambah ekonomi dalam rantai penyaluran LPG 3 Kg.

Kalori yang lebih tinggi dibanding Minyak Tanah, membuat para pedagang kecil yang

beralih menggunakan LPG juga mengaku lebih besar keuntungannya mencapai

sekitar 10 persen hingga 15 persen. Setidaknya, untuk jumlah biaya pengeluaran

pengadaan bahan bakar sebesar setara Minyak Tanah, penggunaan LPG memberikan

efisiensi produksi yang lebih tinggi. Penghematan serupa juga dirasakan oleh para

konsumen rumah tangga, berupa pengeluaran untuk biaya bahan bakar rumah

tangga.

Lintas Instansi

Program konversi Minyak Tanah ke LPG yang hingga kini telah menjangkau hampir

seluruh kawasan Indonesia merupakan program pemerintah yang melibatkan

beberapa intansi pemerintah. Selain itu juga secara langsung melibatkan PT

Pertamina serta para pengusaha, baik yang bergerak dalam industri maupun

(27)

penyalur LPG 3 Kg.

Di lingkungan intansi pemerintah saat awal pelaksanan program, Kementerian ESDM

bertindak sebagai Koordinator Program. Selain itu, juga bertugas melaksanakan

sosialisasi, pengawasan dan verifikasi atas penyediaan dan pendistribusian LPG 3 Kg.

Berdasarkan tugas inilah jajaran Kementerian ESDM sejak awal pelaksanaan program

ini terlibat langsung baik dari sisi kebijakan maupun pelaksaan di lapangan. Selain itu

juga melakukan tugas-tugas koordinasi dengan intansi pemerintah lain dalam

pelaksanaan atau menjalankan program konversi Minyak Tanah ke LPG.

Program konversi energi menugaskan Kementerian Perindustrian untuk menyiapkan

kebijakan ijin industri yang terkait dengan pelaksanaan konversi Minyak Tanah ke

LPG. Untuk itulah, selain bertanggungjawab terhadap keluarnya ijin industri,

Kementerian Perindustrian juga bertugas menyiapkan Spesifikasi Material maupun

Sertifikasi produk-produk seperti tabung LPG 3 Kg, kompor gas, regulator dan selang

sebagai pelengkap atau asesoris kompor gas.

Sedang sebagai pihak yang bertugas melakukan pengadaan komor gas beserta

asesoris adalah Kementerian UKM. Intansi ini pula yang juga bertanggungjawab

melakukan pendistribusian ke masyarakat pengguna. Sedang Kementerian Tenaga

Kerja dan Transmigrasi bertugas melakukan pengawasan terhadap peredaran tabung

gas dan kompor gas. Adapun Kementerian Perdagangan bertindak sebagai pihak yang

melakukan pengawasan terhadap barang-barang yang beredar dan impor.

Alokasi anggaran paket perdana konversi Minyak Tanah ke LPG serta penggantian

subsidi LPG 3 Kg menjadi tugas Kementerian Keuangan. Mengingat pengguna LPG 3

Kg pada umumnya adalah kalangan ibu rumah tangga maka Kementerian Negara

Pemberdayaan Perempuan mendapat tugas melakukan sosialisasi program

pengalihan Minyak Tanah ke LPG 3 Kg. Berbagai program baik demontrasi hingga

penyebaran brosur tentang pemakaian LPG 3 Kg telah dilakukan diberbagai tempat di

tanah air.

(28)

maupun pengadaan tabung LPG 3 Kg untuk paket perdana. Perusahaan negara ini

pula yang melakukan pendistribusian paket perdana kepada masyarakat yang

menjadi target atau sasaran program ini. Selain itu juga berperan dalam pengisian

ulang produk LPG 3 Kg serta mensupllai dan distribusi LPG 3 Kg hingga ke agen-agen

untuk selanjutnya diteruskan ke konsumen.

Tentu bukan pekerjaan yang ringan melakukan koordinasi yang melibatkan sejumlha

instansi. Namun, melalui berbagai rapat-rapat koordinasi nyaris semua hambatan

bisa diatasi. Selain itu semupau pihak yang terlibat saling menyadari bahwa program

konversi energi ini bertujuan untuk kepentingan masyarakat luas. Meski demikian,

harus diakui masih ada pula hal yang harus menjadi perhatian dan penyempurnaan

pelaksanaan yaitu terjadinya sejumlah kecelakaan penggunaan LPG oleh konsumen.

Pemerintah telah mengambil langkah cepat mengatasi kecelakaan tersebut. Di bawah

koordinasi Kementerian Koordinasi Kesejahteraan Rakyat yang juga melibatkan PT

Pertamina telah dilakukan sejumlah langkah. Antara lain memberikan santunan

terhadap korban. Selain itu, dilakukan pengecekan terhadap peralatan kompor gas

dan tabung LPG 3 Kg. Jika terdapat produk yang dinilai belum memenuhi sfesifikasi

yang telah ditetapkan ditarik. Selain itu sosialisasi tentang cara aman pemakaian

kompor dan tabung LPG 3 Kg dilakukan lebih intensif.(*)

< < > >

(

ADMINISTRATOR

)

Silang Sengkarut LPG Akibat Inkonsistensi

Pemerintah

(29)

Laporan: Ade Mulyana

RMOL. Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), Ali Masykur Musa, menyatakan silang sengkarut terkait kenaikan harga LPG 12 Kg akibat inkonsistensi kebijakan pemerintah dalam berbagai bentuk peraturan yang dibuatnya sendiri.

Mahkamah Konstitusi, sebut Ali Masykur Musa, sudah membatalkan Pasal 28 ayat (2) UU Migas No 22/2001 tentang liberalisasi harga BBM/BBG, namun kemudian diterbitkan Permen ESDM No 26/2009 tentang Penyedian dan

Pendistribusian LPG, yang

memberikan kewenangan kepada Badan Usaha untuk menetapkan harga LPG non-PSO sesuai harga patokan LPG.

"Karena aturan ini yang diikuti, Pertamina menggunakan CP Aramco, harga patokan yang berlaku di pasar Asia Pasifik. Dengan harga patokan ini, selisih biaya pengadaan yang kian tinggi dengan harga jual yang

konstan sejak 2009 menjadi kerugian yang harus ditanggung perusahaan sejak 2008 hingga 2013, dengan total kerugian selama 5 tahun mencapai Rp 21,8 triliun," papar dia dalam Diskusi Panel Ahli PP ISNU bertema LPG Naik, Salah Siapa? di kantor PBNU, Jakarta (Selasa, 14/1).

Inkonsistensi pemerintah, lanjut Cak

Ali demikian Ali Masykur disapa, juga terkadi terkait status dan orientasi kerja Pertamina. UU Migas No 22/2001 menyebutkan bahwa Pertamina merupakan BUMN berbentuk perseroan dan tunduk kepada UU No 1/1995 tantang Perseroan Terbatas dan UU No 19/2003 tentang BUMN dengan orientasi kegiatan dari perseroan adalah untuk mengejar keuntungan guna

(30)

"Menurut UU Migas, Pertamina tidak lagi mengemban fungsi tanggung jawab pelayanan publik (PSO) setelah masa transisi berakhir pada November 2005. Kalau pun Pertamina saat ini menjalankan PSO, itu diperoleh dengan mekanisme tender biasa dan Pertamina selalu memenangi tender karena infrastrukturnya yang paling siap," imbuhnya.

Inkonsistensi lainnya, pemerintah mencanangkan pengarusutamaan penggunaan gas dengan asumsi Indonesia defisit lifting minyak dan surplus produksi gas. Tetapi road map pemerintah tidak jelas sehingga tidak ada proyeksi tentang kesinambungan penyediaan bahan bakunya dalam jangka panjang. Akibatnya, meskipun negeri ini surplus produksi gas, tetapi karena 56 persen produksi gas telah terikat ekspor penjualan jangka panjang maka Indonesia harus mengimpor semakin banyak bahan baku untuk dikonversi menjadi produk turunan seperti LPG.

"Akibatnya, mengikuti tren kenaikan konsumsi elpiji, impor bahan baku ikut meningkat. Pada 2008, dari total penjualan LPG nonsubsidi sebesar 1,4 juta metric ton (MT), hanya 17 persen bahan bakunya diperoleh dari impor," katanya.

Memang sebagain besar bahan baku LPG masih diperoleh dari dalam negeri, baik dari kilang pertamina sebesar 40 persen maupun domestik lainnya sebesar 43%, namun menurut Cak Ali, terjadi peningkatan volume konsumsi, komposisi impor tahun 2013 mencapai 57 persen, sisanya dari kilang Pertamina sebesar 12 persen dan domestik lainnya 31 persen.

"Lonjakan impor berarti lonjakan biaya produksi, karena bahan baku diperoleh dengan harga pasar," tekannya.

Dari sejumlah inkonsistensi pemerintah tersebut, Cak Ali yang juga peserta konvensi Capres Partai Demokrat ini menyerukan semua pihak untuk kembali kepada konstitusi dan taat asas pada putusan MK yang meletakkan BBM/BBG bukan sebagai komoditas komersial biasa, tetapi komoditas strategis yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak. UU Migas yang menjadi tonggak liberalisasi industri migas nasional, menurutnya, harus dirombak total.

"Harga BBM/BBG harus ditetapkan oleh pemerintah dengan mempertimbangkan kemampuan daya beli masyarakat. Pertamina tidak boleh sepenuhnya berorientasi komersial seperti konsep UU Migas, karena BUMN ini istimewa berbeda dengan BUMN lain," imbuh anggota BPK RI ini.

(31)

Pemerintah melanggar UU Migas karena menganut rezim liberalisasi harga BBM/BBG yang terlarang menurut putusan MK. Pemerintah juga melanggar UU BUMN dan UU Perseroan Terbatas karena mematok rugi harga jual barang komersial Pertamina tanpa menetapkan selisihnya sebagai subsidi.

Di sisi lain, Pertamina juga melanggar UU BUMN dan UU Perseroan Terbatas karena menjual komoditas komersial di bawah biaya produksi yang merugikan perusahaan bertahun-bertahun. Padahal, sebagai perseroan, Pertamina harus untung. Dan jika rugi, kerugiannya tidak bisa langsung dipotong dengan pengurangan dividen ke pemerintah karena akan mengacaukan sistem akuntansi keuangan negara.

"Karena itu, silang sengkarut soal penetapan harga elpiji non-subsidi ini merefleksikan kekacauan tata kelola migas nasional yang harus dirombak total, dengan konsep yang lebih sejalan dan seiring dengan konstitusi," demikian Cak Ali.[dem]

Baca juga:

Paling Logis PGN Beli Pertagas

Mau Bangun Tower 99 Tingkat, Pertamina Tak Masuk Akal Merugi

RR1 Sarankan Presiden dan Menteri Kursus UUD 45

SP BUMN Tolak Kenaikan Harga Elpiji 12 Kg

KPK Harus Telusuri Indikasi Korupsi di Pertamina!

Mencontoh Kebijakan Pengolahan Sampah di

Jepang

OPINI | 01 August 2012 | 05:50 Dibaca: 1198 Komentar: 1 2

Banyak sudah para penggiat lingkungan selalu menyuarakan kritik maupun

himbauan terhadap persoalan klise pencemaran lingkungan akibat sampah

yang membludak disetiap tempat. Sampah-sampah itu ada yang bersifat

anorganik (tak dapat diurai) maupun organik (dapat diurai). Salah satu

sampah yang mengandung emisi karbon yang tinggi adalah plastik. Coba

perhatikan sampah-sampah yang berserakan baik di siku jalan raya,

(32)

dikemas dalam plastik. Dimulai dari jajanan kecil anak-anak atau kerupuk,

tempat belanja ibu-ibu, kemasan jajanan dipinggiran jalan, kemasan barang di

mol-mol, botol mineral dan kantong-kantong plastik kemasan makanan

instant. Belum lagi tingkat konsumsi barang tertinggi kedua yang berbahan

karet dan kaleng, tak kalah berbahayanya dari plastik.

Kecenderungan konsumsi masyarakat yang tinggi menjadi latar belakang

terintegrasinya sampah yang bertumpuk, berserakan dimana-mana hingga

menggunung, berbau menyengat dan mencemari lingkungan atau

mengurangi keindahan kota. Ditambah pula dengan sikap ketidaksadaran

pelaku terhadap kebersihan lingkungan semakin menyempurnakan persoalan

ini.

Seperti salah satu ibukota provinsi tempat saya berdomisili yaitu kota Medan,

sejak tahun 2009 kota ini menjadi pelanggan banjir. Setiap kali hujan pastinya

daerah-daerah yang berada pada topografi rendah akan mengalami banjir.

Hingga saat ini, malah banjir semakin menjadi-jadi meskipun intensitas

hujannya masih terbilang rendah. Menurut pengamatan saya hal ini terjadi

karena tersumbatnya parit atau selokan pembuangan air oleh

sampah-sampah plastik sehingga menghalangi air mengalir dan akhirnya merembes

keluar dari pembuangan dan menggenangi seluruh wilayah.

Pola kebiasaan membuang sampah disembarang tempat harus menjadi

perhatian yang khusus. Masih banyak masyarakat yang acuh tak acuh dan

menganggap sepele terhadap sampah. Coba bayangkan bila setiap jiwa

mengonsumsi sebungkus plastik dan membuangnya disembarang tempat.

Maka kebiasaan buruk itu akan menjadi awal petaka terhadap

keberlangsungan hidup kita. Tingkat komsumsi yang tinggi terhadap barang

yang berkemasan plastik bila dikalikan dengan seluruh jumlah penduduk

Indonesia sekitar ratusan juta jiwa itu maka hasilnya akan sangat luar biasa

dan lambat laun tamatlah riwayat bumi pertiwi. Bahaya yang dapat kita

rasakan secara kasat mata adalah polusi dan perusakan keindahan alam.

Kondisi ini tampaknya tidak lagi dapat ditolerir dan sudah menjadi persoalan

yang fundamental bagi kehidupan.

(33)

kemasan plastik dan membuangnya ke sungai, laut dan tanah sesungguhnya

mengancam produksi oksigen yang sehat dan meningkatkan emisi karbon

(CO2), punahnya ikan-ikan dilaut karena memakan bahan-bahan plastik yang

terbuang dan terendap dilaut serta banjir yang berasal dari sungai yang

dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah sehingga aliran sungai

menjadi terhambat dan merembes keluar.

Jepang dan Pengolahan Sampah Maishimanya

Harusnya masyarakat sudah menyadari bahwa sampah adalah ancaman

terhadap lingkungan. Sehingga persoalan lingkungan yang dialami Indonesia

seperti saat ini tidak akan pernah terjadi. Namun apa hendak dikata, kita

mungkin masih terlalu cuek dengan keberlangsungan kehidupan kita.

Sampah yang dibuang disembarang tempat tentunya sangat mencemari

lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan sebuah perhatian khusus termasuk

memberikan kesadaran lingkungan terhadap masyarakat terlebih dahulu.

Mungkin persoalan mendaur ulang kembali sampah masih jauh dari

pemikiran kita. Tapi hal ini harus kita pikirkan sekarang karena negara Jepang

yang jauh lebih kecil dibandingkan Indonesia telah menerapkan pengolahan

sampah kembali sehingga penataan kota dapat terjaga dengan baik,

minimnya tempat-tempat pembuangan sampah dan hampir tidak ditemukan

lagi sampah yang berserakan disana-sini. Segala jenis sampah ditampung

dan diangkut kedalam sebuah pabrik khusus pembakar sampah raksasa yang

bernama Maishima Incineration Plant atau Pabrik Pembakar Sampah

Maishima di Osaka.

Siapa sangka sampah yang dibakar dalam suhu mencapai 950 derajat celcius

tersebut mampu menghasilkan energi listrik yang difungsikan untuk dijual

kembali bagi perusahaan pembangkit listrik. Mungkin kita patut mencontoh

gerakan Jepang dalam memberdayakan kembali sampah yang

menguntungkan baik untuk mengurangi pencemaran lingkungan maupun

menghasilkan energi listrik.

(34)

baiknya kebijakan pemerintah dapat meminimalisasi tingkat konsumsi

masyarakat terhadap produk berbahan plastik serta memberi penyadaran

akan bahaya kandungan emisinya.

Pembudayaan kembali kebiasaan ibu rumah tangga dengan membawa

keranjang tempat belanjaannya ke pasar traditional dinilai sangat

berpengaruh besar. Paling tidak kita dapat meminimalisasi konsumsi

kantong-kantong plastik yang berbahaya itu.

Selain itu, penyediaan tong-tong sampah pun sangat membantu agar

masyarakat tau membuang sampah pada tempatnya. Pemerintah dalam hal

ini masih belum maksimal menerapkannya diseluruh wilayah. Paling tidak kita

hanya mendapati beberapa tempat yang sudah dilengkapi dengan hal itu.

Kesadaran Akan Sampah

Persoalan yang fundamental soal sampah ini sebenarnya sangat sederhana.

Kesadaran akan pentingnya Oksigen (O

2

) bagi kehidupan tentunya secara

langsung akan menggerakkan kita untuk tidak buang sampah sembarangan,

menjaga kebersihan sungai, aliran pembuangan dan mengurangi tingkat

konsumsi barang berbahan plastik.

Sampah mungkin dianggap racun bagi lingkungan, tetapi apabila sampah

dapat difungsikan kembali dengan cara pengolahan kembali tentunya akan

malah sangat menguntungkan dan bersinergis memberi daya guna yang

besar bagi kehidupan seperti apa yang dilakukan oleh pabrik pembakar

sampah Maishima.

Semakin tingginya dampak global warming atau pemanasan global, harusnya

menyadarkan kita untuk mengubah pola kehidupan yang sangat konsumtif

dan lebih menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan. Seperti pepatah

berkata “Bersih Pangkal Sehat“. Semoga kita benar-benar insaf dan memulai

hidup lebih sederhana dan sehat.***

Ditulis oleh: Lori MOra

(35)

Laporkan

Tanggapi

Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi

tanggung jawab Penulis.

Siapa yang menilai tulisan ini?

2

Jumat, 20 Mei 2011

Pengelolaan Sampah dan Kebijakan Pemerintah

dalam Penanggulangan Sampah Kota Tangerang

I. Pendahuluan

Globalisasi ekonomi, politik dan sosial membawa hubungan antar negara semakin dekat dan erat serta membawa dampak yang positif maupun negatif bagi suatu negara. Salah satu akibat yang paling nyata dari globalisasi adalah berkembangnya perusahaan-perusahaan multinasional didunia. Prospektif pangsa pasar dan kemudahan-kemudahan lainya yang mendorong perusahaan multinasional mencari negara-negara yang dapat dijadikan sasaran investasinya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Indonesia mempunyai jumlah penduduk yang sangat besar tidak lepas dari sasaran investasi perusahaan-perusahaan tersebut. Tetapi dengan masuknya perusahaan-perusahaan tersebut membawa akibat yang positif maupun negatif di indonesia.Salah satu akibat yang negatif hasil produksi dari perusahaan tersebut adalah banyaknya hasil produksi yang diproduksi tanpa memikirkan kendala yang akan dihadapi dikemudian hari.

Pada dasarnya semua usaha dan pembangunan menimbulkan dampak dikemudian hari. Perencananaan awal suatu usaha atau kegiatan pembangunan sudah harus memuat perkiraan dampaknya yang penting dikemudian hari, guna dijadikan pertimbangan apakah rencana tersebut perlu dibuat penanggulangan dikemudian hari atau tidak.

(36)

Secara umum Perkembangan jumlah penduduk yang semakin besar biasanya dibarengi dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat. Perkembangan-perkembangan tersebut membawa perubahan dalam kehidupan di dunia. Disamping itu perkembangan teknologi yang semakin pesat membawa manusia pada suatu masa dimana banyak barang dapat dibuat secara sintesis. Hidup menjadi lebih praktis dan mudah, seolah-olah manusia tidak bergantung lagi pada alam dan dapat memperlakukanya tanpa batas. Namun apa yang diperlakukan oleh manusia terhadap alam akan berbalik kepada dirinya karena manusia adalah bagian dari alam. Alam mempunyai hukumnya sendiri, segala sesuatu akan kembali kepada siklus alam walaupun bahan sintesis hasil rekayasa manusia seperti plastik, tetapi akan menimbulkan masalah yang sangat besar terhadap bahan tersebut dikemudian hari jika sudah tidak dimanfaatkan lagi.

Pertambahan jumlah penduduk, perubahan pola hidup masyarakat, kecepatan teknologi dalam menyediakan barang secara melimpah ternyata telah menimbulkan masalah-masalah baru yang sangat serius yaitu adanya barang yang sudah terpakai dan sudah tidak digunakan lagi oleh si empunya yang mengakibatkan timbulnya sampah.

Sampah sebagai barang yang masih mempunyai nilai tidak seharusnya diperlakukan sebagai barang yang menjijikan, melainkan harus dapat dimanfaatkan sebagai bahan mentah atau bahan yang berguna lainya. Prinsip asal buang tanpa memilah-milah dan mengolahnya terlebih dahulu selain akan menghabiskan lahan yang sangat luas sebagai tempat pembuangan ahir juga merupakan pemborosan energi dan bahan baku yang sangat terbatas tersedia di alam. sebaliknya mengolah sampah dan menggunakan sampah sebagai bahan baku skunder dalam proses produksi adalah suatu penghematan bahan baku, energi dan sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.

II. Pokok Permasalahan

1. Bagaimana Dampak Sampah terhadap Lingkungan dan masyarakat?

2. Bagaimana sistem pengelolaan dan kebijakan pemerintah terhadap sampah di Kota Tangerang?

III. Data dan Fakta

(37)

kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) saat ini sekitar 0,25 Ha sehingga untuk menampung volume sampah yang ada diperlukan penanganan khusus atau penanganan lainnya. Untuk mengantisipasi hal tersebut Subdin Kebersihan telah merencanakan TPA baru di daerah Jatiwaringin yang terletak di Kabupaten Tangerang, bersebelahan dengan TPA milik Kabupaten Tangerang dan merupakan lahan bekas galian tanah dengan luas 10 Ha, dimana pada saat ini baru 8 Ha yang telah dibebaskan.

Daerah pelayanan persampahan pada saat ini belum menyeluruh, dimana wilayah pelayanan tercakup meliputi daerah komersil pusat kota (Kecamatan Tangerang), daerah Perumnas (Kecamatan Jatiuwung), daerah Jalan Protokol Daan Mogot, daerah Jalan Ciledug Raya (Kecamatan Ciledug), dan pasar, serta pertokoan.

Pengelolaan Air Limbah

Sistem pengolahan air limbah yang dioperasikan, saat ini oleh Kota Tangerang meliputi sistem setempat (on-site) dan sistem terpusat (off-site). Sistem setempat berupa jamban pribadi atau jamban umum yang dilengkapi dengan tangki septik dengan bidang rembesan. Apabila tangki septik sudah penuh, lumpur disedot atau dikuras oleh Truk Tinja dan dibuang ke IPLT (Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja). Saat ini Pemerintah Kota Tangerang menyediakan 7 unit Truk Tinja dan I unit IPLT di Karawaci.

Pembuangan lumpur septik dengan sistem terpusat yaitu pengelolaan air limbah di lokasi IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) Tanah Tinggi yang melayani Kelurahan Sukasari dan Babakan sebanyak/sekitar 3.000 KK. IPAL ini dibangun oleh Pemerintah Pusat pada tahun 1981/1982 dengan panjang 22,7 Km dan pengelolaannya baru diserahkan oleh Pemerintah Kabupaten Tangerang kepada

Pemerintah Kota Tangerang pada tahun 2000.

Di samping lokasi IPAL Tanah Tinggi, lokasi lain Pengolahan Air Limbah secara terpusat yaitu di kawasan Perumnas Karawaci, dilayani dengan sistem pengolahan kolam oksidasi, (Oxidation Pond) sebanyak 2 lokasi (Jalan Pandan dan Jalan Karang) dan 6 lokasi lainnya masih berupa Laggon. Penyaluran air limbah dilakukan dengan menggunakan sistem perpipaan skala kawasan dengan kondisi baik dan penyaluran dilakukan secara gravitasi. Cakupan pelayanan dengan sistem perpipaan sekitar 10.000 KK.

Proses pengolahan pada lagoon terjadi secara biologis dengan melalui proses aerobik dan anaerobik dan pada saat ini kolam sudah mengalami pendangkalan sehingga pengolahan atau reduksi air limbah tidak optimal.

(38)

mengatasi hal ini Dinas Kebersihan telah melakukan kegiatan-kegiatan antara lain :

1.Menambah fasilitas Unit Pengolahan Limbah dan meningkatkan efisiensi pengolahan sehingga kualitas limbah memenuhi persyaratan untuk dibuang.

2.Meningkatkan/memperbaiki penanganan sampah sesuai dengan prosedur “sanitary landfill”.

3.Membantu masyarakat sekitar LPA dengan menyediakan air bersih, Puskesmas dan ambulance.

4.Mengatur para pemulung agar tidak mengganggu operasional LPA.

Besarnya beban sampah tidak terlepas dari minimnya pengelolaan sampah dari sumber penghasil dan di tempat pembuangan sementara (TPS) sampah. Baru sekitar 75 m3 yang didaur ulang atau dibuat kompos. Sementara itu, sisanya sekitar 60% dibuang begitu saja tanpa pengolahan ke tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Dan, 30% dibiarkan di TPS. Tak heran bila sampah akan menumpuk di TPA. Akibatnya, daya tampung TPA akan menjadi cepat terpenuhi. Besarnya volume sampah di TPA juga mempengaruhi biaya pengelolaan. Tahun 2005, sedikitnya dibutuhkan Rp 8 milyar untuk mengelola sampah. Tanpa adanya kebijakan penanganan sampah terpadu, sampah akan terus menjadi masalah.

IV. Analisis Masalah

1. Dampak Sampah terhadap Lingkungan dan masyarakat

Setiap orang mempunyai hak untuk mendapatkan lingkungan yang baik dan sehat. Sesuai dengan ketentuan tersebut bahwa setiap orang berhak menolak dengan adanya hal-hal yang dapat merugikan kesehatan baginya. Dalam hal ini, Tidak ada teknologi yang dapat mengolah sampah tanpa meninggalkan sisa. Oleh sebab itu, pengelolaan sampah selalu membutuhkan lahan sebagai tempat pembuangan ahir.

Dengan adanya tempat pembuangan sampah di suatu daerah, biasanya akan mempengaruhi kesehatan dan lingkungan bagi warga sekitarnya. Seperti contoh yang terjadi di TPA bantar gebang, dengan adanya TPA maka warga sekitarnya TPA menuai derita yang tiada berujung. Dampak, seperti Penyakit ISPA, Gastritis, Mialgia, Anemia, Infeksi kulit, Kulit alergi, Asma, Rheumatik, Hipertensi, dan lain-lain merupakan hasil penelitian di Bantar Gebang selama kawasaan tersebut dijadikan TPA.

Referensi

Dokumen terkait

Pada gambar 5 juga dapat dilihat, bahwa limbah cair kain jumputan yang telah diadsorpsi oleh karbon aktif dengan perlakuan aktivasi kimia dan perlakuan aktivasi kimia

Pada gambar 5 juga dapat dilihat, bahwa limbah cair kain jumputan yang telah diadsorpsi oleh karbon aktif dengan perlakuan aktivasi kimia dan perlakuan aktivasi kimia

Dari Gambar 1 dapat dilihat bahwa perolehan minyak tertinggi dari pirolisis sampah plastik PP diperoleh pada suhu 400 o C sebesar 50,08% berat sedangkan sampah plastik jenis

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui potensi minyak hidrokarbon hasil pirolisis sampah plastik sebagai pengawet kayu, diharapkan hasilnya dapat membantu

Hasil uji coba pengolahan limbah plastik menjadi bahan bakar minyak maka diperoleh kesimpulan bahwa: teknologi yang praktis digunakan adalah menggunakan metode pirolisis lambat

Berdasarkan analisa tersebut, maka disimpulkan bahwa Trichoderma memiliki indikasi dapat mengurai plastik dengan adanya perubahan senyawa kimia plastik dari ikatan

Kemampuan isolat bakteri dalam mendegradasi senyawa hidrokarbon yang terkandung dalam limbah minyak berat dilakukan untuk menyeleksi isolat yang akan digunakan untuk

Hasil uji coba pengolahan limbah plastik menjadi bahan bakar minyak maka diperoleh kesimpulan bahwa: teknologi yang praktis digunakan adalah menggunakan metode pirolisis lambat dengan