TANTANGAN PDAM TIRTANADI DI ERA GLOBALISASI DAN AFTA 2003 Oleh : Syapri Chan, S.H., M.Hum. Pendahuluan
Air merupakan sumber daya alam karunia Allah SWT. yang sangat diperlukan oleh manusia sepanjang masa dan menjadi bagian dari kebutuhan dasar manusia yang sangat penting. Semua kegiatan kehidupan manusia dari kebutuhan pangan
hingga pertumbuhan industri memerlukan air dengan jumlah yang cukup dan dengan kualitas sesuai dengan kebutuhannya. Dengan demikian air tidak hanya diperlukan
sebagai bahan kebutuhan pokok untuk kehidupan tetapi juga dipergunakan sebagai komoditi ekonomi.1
Air adalah unsur dasar kehidupan yang menyerap semua aktifitas manusia.
Sebagai sumber kehidupan, air menentukan di mana kita tinggal, apa yang kita makan, bagaimana kita bepergian dan lain-lain. Air minum sangat dibutuhkan oleh
manusia untuk kelangsungan hidupnya dan tidak dapat digantikan oleh zat lain. Setiap manusia membutuhkan kira-kira 5 liter per hari. Hal ini hampir sama dengan 30 juta m3 setiap hari di seluruh dunia.2
Di negara-negara Barat yang kapitalistik, air dipandang sebagai barang ekonomi (economic goods) bahkan sebagai commercial commodity yang diperdagangkan.
Namun tidak boleh dilupakan bahwa air mempunyai fungsi sosial yang sangat penting karena air menyangkut hajat hidup.3
1 Isnugroho, Sistem Pengelolaan Sumber Daya Air Dalam Suatu Wilayah, dalam Robert J. Kodoatie,
et. al, Pengelolaan Sumber Daya Air Dalam Otonomi Daerah, Penerbit ANDI Yogyakarta, 2002, hal. 89.
2 3rd International Conference on Water Pipeline Systems, Held in The Haque, The Netherland on
13-15 May 1997, dalam Azzam Rizal, Water Reuse System di Water Treatment Plant (WTP) Deli Tua
(Suatu Cara Untuk Mengurangi Air Terbuang/Losses), Buletin Tirtanadi, Edisi 3 Tahun 2 Februari
Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo menegaskan: “Dalam keadaan tertentu air merupakan barang bebas, yaitu bila air sudah bisa diminum dan tersedia dalam
jumlah tidak terbatas. Namun, ada keadaan lain di mana air sangat kekurangan sehingga dalam hal ini air sudah merupakan barang ekonomi”.
Karena itu perlu dijaga dan dipertahankan adanya hak setiap orang untuk
mendapatkan air secara adil dan dengan biaya yang terjangkau.
Berdasarkan daur hidrologi, volume air di bumi ini jumlahnya relatif konstan.
Namun demikian, dalam satuan ruang dan waktu, ketersediaannya di dunia ini kadang-kadang tidak sesuai dengan kebutuhan kita. Untuk menghindari hal tersebut, diperlukan sistem pengelolaan sumber daya air terutama pada perlindungan dan
pelestarian sumber air dan merobah opini masyarakat yang menganggap air merupakan sumber daya alam yang tidak terbatas. Upaya pengelolaan dan pelestarian
sumber daya air harus dilakukan sebaik-baiknya guna menjamin tersedianya sumber daya air bagi kebutuhan berbagai sektor termasuk kebutuhan masyarakat banyak sesuai dengan amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945.
Memasuki millenium ketiga, sejalan dengan makin meningkatnya pembangunan pada berbagai bidang, maka kegiatan makin merebak, pusat-pusat permukiman
semakin padat. Dengan demikian kebutuhan untuk mendapatkan sumber daya air juga meningkat, baik dalam kuantitas maupun kualitasnya. Di lain pihak, fasilitas pelayanan prasarana dasar penyediaan air belum mampu mengejar peningkatan
kebutuhan tersebut.
Persoalan yang banyak timbul pada umumnya diakibatkan oleh ketidak
terhadap penyediaan air meningkat, di sisi lain semakin berkurangnya tingkat ketersediaan air yang memenuhi syarat dan prasarananya.
Air merupakan kebutuhan mutlak manusia. Jika air tersedia cukup, baik kuantitas maupun kualitasnya, tentu tidak ada masalah. Namun, saat ini muncul masalah ketersediaan air yang tidak hanya berdampak pada kuantitas maupun kualitas air.
Untuk mengejar kualitas dan kuantitas, sebagian masyarakat yang mampu memilih mengeluarkan sejumlah uang untuk menebusnya.
Namun bagi yang tidak punya banyak pilihan, orang akan mengesampingkan kualitas asalkan kuantitas terpenuhi. Lebih lanjut, baik kualitas maupun kualitas dikesampingkan bila air bersih semakin langka.4
Kita tentu prihatin membaca berita “Ratusan Pelanggan PDAM Bekasi Terpaksa Minum Air Asin” (Kompas 21/8), dimana ratusan pelanggan PDAM Bekasi di
beberapa desa di Kecamatan Cabangbungin, Kabupaten Bekasi, sudah sebulan belakangan ini terpaksa minum air asin. Warga yang kebanyakan petani itu terpaksa tetap menggunakan air yang asin tersebut untuk memasak dan minum karena tidak
punya pilihan lain. Ini disebabkan sumur-sumur air bawah tanah kualitas airnya tidak bagus atau sudah kering. Persoalan tersebut hingga kini belum ditanggapi PDAM
setempat.
Kejadian yang menimpa PDAM Bekasi mungkin saja suatu hari dapat menimpa PDAM Tirtanadi sebagai Perusahaan Daerah yang mengelola dan menyediakan air
bersih dan sehat untuk kebutuhan masyarakat Kota Medan dan sekitarnya. Di samping itu, timbul tantangan bagi PDAM Tirtanadi dalam penyediaan air bersih (air
Bagaimana upaya dan strategi yang harus dilakukan PDAM Tirtanadi dalam mengatasi ketidak seimbangan antara pasokan dan permintaan air serta kuantitas dan
kualitas air agar layak diminum?. Upaya dan strategi yang dilakukan PDAM Tirtanadi menurut penulis adalah merupakan suatu cara untuk menyikapi dan menyiasati tantangan di era Globalisasi dan AFTA 2003 ini.
Tantangan Dalam Penyediaan Air Minum
Maraknya industri air minum dalam kemasan (AMDK) yang ada di masyarakat saat ini patut menjadi perhatian bagi PDAM Tirtanadi. Pangsa pasar industri air minum dalam kemasan (AMDK) tersebut bukan hanya di kota-kota besar melainkan
sudah menjalar ke setiap desa, konsumennya bukan lagi perorangan melainkan sudah merambah ke rumah tangga, perkantoran, hotel, restoran/rumah makan, toko-toko
dan lain-lain.
Bahan baku air untuk industri air minum dalam kemasan (AMDK) tetap melimpah. Menurut catatan Asosiasi Perusahaan AMDK Indonesia (ASPADIN),
kebutuhan bahan baku AMDK setiap tahun mencapai sekitar 11,5 miliar liter air dan jadi AMDK sebanyak 7,5 miliar liter per tahun. Sisanya, sebanyak 4 miliar liter,
terbuang untuk proses pencucian dan pemurnian air. Hal itu diakui Wakil Ketua Umum ASPADIN Willy Sidharta di Jakarta, Rabu (10/9). Menurut dia, sampai saat ini sama sekali tidak ada masalah berarti menyangkut ketersediaan bahan baku bagi
AMDK. “Kekeringan sekarang ini, kan, hanya terjadi untuk air permukaan. Air yang kami gunakan adalah underground water yang sama sekali tidak terpengaruh oleh
kemarau,” kata Willy. (Kompas, 11/9).
swasta tidak mungkin mendirikan perusahaan air minum seperti halnya PDAM, mengingat Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) memiliki hak monopoli
sebagaimana ditentukan dalam Pasal 51 Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, namun hal itu tidak menyurutkan langkah investor swasta untuk berekspansi dalam bisnis air minum
dalam kemasan (AMDK).
Meskipun Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi adalah perusahaan
milik Pemerintah Daerah, maka dalam era Globalisasi dan AFTA 2003 ini tidak tertutup kemungkinan PDAM Tirtanadi akan dilakukan privatisasi. Dengan privatisasi terbuka kesempatan dan peluang bagi investor swasta untuk ikut memiliki
dan mengelola manajemen PDAM Tirtanadi.
Wijanto Hadipuro mengkhawatirkan,5 maraknya sejumlah pemerintah kabupaten
yang mendirikan pabrik air minum kemasan. “Mereka jadi cenderung mengalirkan air untuk pabrik ketimbang ke saluran Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Sebab, harga jualnya lebih tinggi.” (Kompas, 15/9)
Seiring dengan maraknya industri air minum dalam kemasan (AMDK), saat ini menjamur pula usaha air minum isi ulang ukuran galon dengan harga yang sangat
terjangkau bagi konsumennya, terlepas apakah air minum isi ulang tersebut telah memenuhi standar kesehatan atau tidak, layak untuk diminum atau tidak. Namun kenyataannya di masyarakat depot air minum isi ulang kian hari kian bertambah dan
tampak sudah menjadi “alternatif” bagi konsumennya dalam memenuhi kebutuhan air minum.
Bahkan sebagian besar masyarakat yang mampu di Kota Medan lebih cenderung mengkonsumsi air minum dalam kemasan (AMDK) dan air minum isi ulang
(umumnya ukuran galon) untuk kebutuhan air minum keluarga. Menjadi pertanyaan bagi kita, “Apa alasan mereka mengkonsumsi air minum dalam kemasan (AMDK)
dan air minum isi ulang” ? Mungkin mereka beranggapan, air “bersih” yang didistribusikan oleh PDAM Tirtanadi ke rumah-rumah mereka dikhawatirkan kualitasnya tidak layak untuk diminum. Benar atau tidak anggapan tersebut, perlu
dibuktikan lebih lanjut dengan suatu penelitian yang mendalam.
Upaya dan strategi yang harus dilakukan
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sebagai perusahaan milik Pemerintah Daerah mempunyai 2 (dua) misi utama yaitu social oriented dan profit oriented.
PDAM diharapkan dapat memberdayakan perekonomian daerah, memberikan pelayanan kepada masyarakat, memberdayakan sumber daya manusia, meningkatkan
keuangan daerah melalui kontribusi PAD serta meningkatkan profesionalisme pengelolaan pelayanan umum kepada masyarakat.6
PDAM yang ada di Indonesia saat ini berjumlah 306 buah. Namun cakupan
pelayanan kepada masyarakat secara nasional baru mencapai +/- 19% dari jumlah seluruh penduduk Indonesia.
Dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat dan meningkatkan profesionalisme pengelolaan pelayanan umum kepada masyarakat dalam menghadapi tantangan di era Globalisasi dan AFTA 2003, maka menurut hemat
penulis upaya dan strategi yang harus dilakukan PDAM Tirtanadi adalah :
a. Menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan
6 Subahri Ritonga, Model “KSO” Tirtanadi, Satu Opsi Kerjasama PDAM-PDAM Indonesia Dalam
Menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan adalah dua hal yang saling berkaitan dan tidak terlepas dari penguasaan teknologi guna mendukung ketersediaan
air bersih (air minum). Apabila persediaan air telah mencukupi tentunya permintaan air dapat teratasi dengan baik. Oleh karena itu dituntut pengetahuan dan wawasan yang luas dari SDM PDAM Tirtanadi.
Kita sebagai warga Kota Medan dan sekitarnya patut bangga atas prestasi yang telah diraih oleh PDAM Tirtanadi dengan memperolah Sertifikat ISO 9001-2000
dalam bidang Desain, Pengembangan, Produk, Instalasi, Pemantauan Akhir dan Pengujian untuk Drinking Water Treatment Up Grading dari ISO 9002-1994 yang berakhir tanggal 15 Desember 2003 di Instalasi Pengolahan Air Deli Tua oleh KEMA
Registered Quality Belanda (Waspada, Medan).
Prestasi yang telah diraih oleh PDAM Tirtanadi tersebut seharusnya tidak
membuat PDAM Tirtanadi “berpuas diri” bahkan mungkin lupa akan fungsi dan tugasnya, melainkan harus lebih meningkatkan penguasaan teknologi dalam pengelolaan air bersih.
b. Menjaga kuantitas dan kualitas
Dalam beberapa bulan terakhir ini, di Kota Medan dan sekitarnya terdapat kuantitas air yang tidak mencukupi kebutuhan disebabkan seringnya air “mati”. Di samping itu, kualitas air yang tidak layak untuk di minum disebabkan air berubah
warna dan mengandung pasir hitam, namun itupun dipergunakan pelanggan hanya untuk mandi dan cuci.
Penyediaan air bersih (public water supply) pada dasarnya memerlukan air yang langsung dapat diminum (potable water). Air yang dimaksud harus aman (sehat) dan
bagus untuk diminum, tidak berwarna, tidak berbau, dengan rasa yang segar. Air yang aman (sehat) tidak sama dengan air murni. Air murni, misalnya air suling, adalah tidak berasa. Rasa air berasal dari terlarutnya garam-garam mineral atau
bahan campuran lain.
Air bersih harus mempunyai kualitas tinggi secara fisik, kimiawi maupun biologi
untuk mencegah timbulnya penyakit.7
c. Memberikan pelayanan yang prima
Keluhan sebagian warga masyarakat Kota Medan dan sekitarnya yang sering penulis dengar adalah sulitnya proses permohonan untuk berlangganan air bersih
melalui PDAM Tirtanadi, terutama warga masyarakat yang lokasi rumahnya di dalam gang atau tidak dipinggir jalan umum.
Warga masyarakat tersebut sering dibebani prosedur yang neko-neko, dimana
permohonan sambungan air harus dilakukan secara kollektif atau harus membayar uang pipa (sambungan) air dari rumah calon pelanggan yang dihubungkan dengan
pipa induk yang ada dipinggir jalan umum.
Pelayanan yang demikian tentunya dapat mengabaikan hak setiap orang untuk mendapatkan air secara adil dan dengan biaya yang terjangkau.
d. Menyesuaikan tarif air minum
PDAM Tirtanadi akhir-akhir ini telah melakukan perubahan golongan tarif air minum berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Sumatera Utara No. 539/1023/K/Tahun 2002.
Perubahan golongan tarif air minum tersebut seharusnya memperhatikan kondisi perekonomian masyarakat yang belum stabil saat ini. Memang air merupakan
kebutuhan yang vital, namun masih banyak lagi kebutuhan yang harus ditanggung para pelanggan untuk mempertahankan hidup, seperti kebutuhan rumah tangga, anak sekolah dan lain-lain sebagainya.
Meskipun air dipandang sebagai barang ekonomi (economic goods) bahkan sebagai commercial commodity yang diperdagangkan. Namun tidak boleh dilupakan
bahwa air mempunyai fungsi sosial yang sangat penting karena air menyangkut hajat hidup, dengan demikian perubahan tarif air minum dilakukan secara proporsional.
e. Mengubah sistem pembayaran rekening air
Sistem pembayaran rekening air PDAM Tirtanadi yang berlaku sekarang ini
sangat ketinggalan sekali dengan sistem pembayaran rekening telepon maupun listrik yang serba on-line bahkan telah menggunakan layanan perbankan, seperti dengan pendebetan tabungan, kartu debit dan kartu kredit.
Penagihan rekening air yang masih memakai cara penagihan door to door di samping tidak efisien, kemungkinan akan dapat menimbulkan resiko bagi si penagih,
seperti dikejar-kejar anjing si pemilik rumah, bahkan tidak tertutup kemungkinan si penagih bertengkar dengan pelanggan atau terjadi penganiayaan terhadap si penagih.
Penutup
Mengingat fungsi dan tugas PDAM Tirtanadi sebagai penyedia air bersih untuk
kesimbangan antara pasokan dan permintaan, menjaga kuantitas dan kualitas air, memberikan pelayanan yang prima kepada para pelanggan, menyesuaikan tarif air
minum dan mengubah sistem pembayaran rekening.
Apabila PDAM Tirtanadi tidak melakukan upaya dan strategi seperti diuraikan di atas tentunya PDAM Tirtanadi tidak mampu menyikapi dan menyiasati tantangan di
dalam era Globalisasi dan AFTA 2003, dimana akhirnya PDAM Tirtanadi akan “ditinggalkan” pelanggannya dan mereka tetap mencari “alternatif” untuk kebutuhan
air minum.
Daftar Pustaka
1. Isnugroho, Sistem Pengelolaan Sumber Daya Air Dalam Suatu Wilayah, dalam Robert J. Kodoatie, et.al, Pengelolaan Sumber Daya Air Dalam Otonomi Daerah, Penerbit ANDI Yogyakarta, 2002.
2. 3rd International Conference on Water Pipeline Systems, Held in The Haque, The
Netherland on 13-15 May 1997, dalam Azzam Rizal, Water Reuse System di Water Treatment Plant (WTP) Deli Tua (Suatu Cara Untuk Mengurangi Air Terbuang/Losses), Buletin Tirtanadi, Edisi 3 Tahun 2 Februari 2000.
3. Soenarno, Pengelolaan Sumber Daya Air dan Otonomi Daerah, dalam Robert J. Kodoatie, et. al, Pengelolaan Sumber Daya air Dalam Otonomi Daerah, Penerbit ANDI Yogyakarta.
4. Anies, “Kalau Air Bersih Semakin Langkah”. Kompas, tanggal 25 Agustus 2003. 5. Subahri Ritonga, Model “KSO” Tirtanadi, Satu Opsi Kerjasama PDAM-PDAM
Indonesia Dalam Lokakarya “BOGOR dan MAKASAR”, dalam Buletin Tirtanadi, Edisi 3 Tahun 2 Februari 2000.
6. Suripin, Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air, Penerbit ANDI Yogyakarta, 2002.