Regulasi dan Motivasi Politik:
Relevansi Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 55 Tahun 2012 Tentang Pembinaan Kegiatan Keagamaan dan Pengawasan Aliran Sesat di Jawa Timur Dalam Upaya
Pemenangan Calon Gubernur Incumbent di Sampang Madura
Siti Badriatus Sa’adah, S.IP1
Dr. Sholih Muadi2 dan Faza Dhora Nailufar3
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik – Universitas Brawijaya
Abstract
Pengantar
Sebagai bangsa yang multikultur, sewajarnya Indonesia hidup dengan damai saling menghargai perbedaan serta menjunjung tinggi kerukunan antar umat beragama. Tetapi akhir-akhir ini banyak terjadi konflik yang berlatar belakang horisontal yang semakin berlarut-larut. Konflik horisontal ini telah terjadi berulang kali di berbagai daerah di Indonesia. Salah satunya konflik Sampang yang berakhir dengan kekerasan dan hingga saat ini konflik tersebut belum menemukan titik temu, terlebih di pihak korban yang sampai saat ini masih berada di pengungsian yang tidak jelas kapan mereka bisa pulang dan bagaimana kondisi harta benda mereka dikampung halamannya. Madura merupakan salah satu daerah di Jawa Timur, selama
1 Alumni Program Studi Ilmu Politik Universitas Brawijaya
2 Staff Pengajar Program studi Ilmu Politik Universitas Brawijaya 3 Staff Pengajar Program studi Ilmu Politik Universitas Brawijaya
Program Studi Ilmu Politik
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya
Konflik yang terjadi di Sampang beberapa waktu yang lalu merupakan hasil dari politisasi para elit lokal untuk mempertahankan pengaruh di wilayahnya. Keterlibatan pemerintah baik pusat maupun daerah sangat mempengaruhi bagaimana konflik ini berjalan. Salah satunya dengan dikeluarkannya Peraturan Gubernur Nomor 55 Tahun 2012 Tentang Pembinaan Kegiatan Keagamaan dan Pengawasan Aliran Sesat di Jawa Timur.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan strategi eksploratori. Metode eksploratori ini sangat tepat digunakan untuk meneliti masalah ini lebih jelas. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan Indepth Interview, observasi, dan studi literatur.
Dalam penelitian ini, konflik yang terjadi di Sampang Madura murni bukan masalah aliran agama maupun masalah keluarga yang banyak diberitakan di media massa. Namun, ada muatan politik didalamnya. Pada saat terjadinya konflik bertepatan dengan akan diadakannya Pemilihan Bupati Sampang (12 Desember 2012) dan Pemilihan Gubernur Jawa Timur (29 Agustus 2013)
ini Jawa Timur dinilai sebagai wilayah yang paling kondusif diantara provinsi lain di Indonesia.4 Konflik etnis merupakan akibat dari hubungan sosial yang intensif antara
kelompok etnis yang berbeda yang hidup bersama.5
Konflik merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Sebuah konflik sering berawal dari persoalan kecil dan sederhana. Perbedaan pendapat dan sikap ketidakinginan untuk menerima orang lain dapat menyebabkan konflik antar seorang dan yang lainnya. Berbagai macam keinginan seseorang dan tidak terpenuhinya keinginan tersebut dapat juga berakhir dengan konflik. Perbedaan pandangan antar perorangan juga dapat mengakibatkan konflik. Jika konflik antar perorangan tidak dapat diatasi secara adil dan proposional maka dapat berakhir dengan konflik antar kelompok dalam masyarakat.6
Salah satunya konflik agama yang sering terjadi di Indonesia, posisi agama dalam kecamuk konflik sering kali terbebani oleh kepentingan kelompok, agama lebih diperlihatkan sebagai sistem simbol dan makna untuk melegitimasi kepentingan yang spesifik.7
Banyaknya konflik yang berakhir dengan kasus kekerasan marak dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat berbasis keagamaan terhadap kaum minoritas merupakan salah satu bukti rendahnya peran pemerintah dalam melindungi setiap warga negaranya.8
Kelompok-kelompok ini umumnya menargetkan perlawanan terhadap aktivitas-aktivitas publik yang bertentangan dengan pemahaman kolektif mereka.9 Unjuk rasa besar-besaran
dari tiga kecamatan, yaitu: Omben, Karang Gayam, Robatal yang terjadi pada tahun 2006 ketika warga syiah melakukan acara peringatan Maulid Nabi massa menyerang rumah salah
4 Kementerian Agama Jawa Timur, “Silaturahim Ulama dan Umara Menyikapi Masalah Syiah”, April 2012,
http://jatim.kemenag.go.id/file/file/mimbar307/pyca1336000319.pdf (diakses: 22 Oktober 2014 pukul 23.00 WIB)
5 Amri Marzali, 2003, “Perbedaan Etnis Dalam Konflik: Sebuah Analisis Sosio-Ekonomi Terhadap
Kekerasan di Kalimantan”, hlm. 15 (dalam buku Konflik Komunal di Indonesia saat ini. Penerbit :
Indonesian-Netherland Cooperation in Islamic Studies (INIS) Universiteit Leiden)
6 William Chang, 2003, “Berkaitan Dengan Konflik Etnis-Agama”, hlm. 27 (dalam buku Konflik Komunal di Indonesia saat ini, Penerbit : Indonesian-Netherland Cooperation in Islamic Studies (INIS) Universiteit Leiden)
7 Thesis M. Fikri, AR, MA, “Konflik Agama dan Konstruksi New Media (Kajian Kritis Pemberitaan Konflik
Cikeusik)”, hlm. 7
8 Seperti yang diungkapkan Yenni dalam Kompas (23 November 2012) Setiap warga negara Indonesia,
sebagaimana diatur dalam konstitusi, berhak untuk mendapatkan rasa aman. Jika pemerintah tidak melaksanakan amanat konstitusi, maka ia menilai pemerintah gagal melaksanakan undang-undang dengan baik. Pemerintah seharusnya menjamin rekonsiliasi dan rehabilitasi. Rekonsiliasi berguna pada tataran mengembalikan ketentraman warga syiah seperti sedia kala sebelum ada konflik.
Http://regional.kompas.com/read/2012/09/07/19511216/Yenny.Wahid.Warga.Syiah.Dipindah.Apa.Gunanya. Kostitusi
9 Seperti dalam konflik Sampang Madura ini merusak Pondok Pesantren milik warga syiah. Serta
satu pimpinan warga syiah (Tajul Muluk) dengan membawa berbagai macam senjata. Mereka memaksa agar acara peringatan Maulid yang sedang dilakukan oleh Tajul Muluk dibubarkan, dan menuntut agar Tajul Muluk kembali kemazhab yang dianut oleh warga mayoritas di Madura. Jika tidak massa mengancam akan membakar habis rumah dan membantai Tajul Muluk, keluarga, serta jamaahnya.10
Berdasarkan Keputusan Fatwa MUI Propinsi Jatim Tentang Kesesatan Aliran Syiah (21 Januari 2012)11 yang sebelumnya telah terjadi penyerangan terhadap warga Syiah di
Sampang (21 Desember 2011) disusul dengan dikeluarkannya Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 55 Tahun 2012 Tentang Pembinaan Kegiatan Keagamaan dan Pengawasan Aliran Sesat di Jawa Timur (Pergub Jatim No. 55 Tahun 2012) yang keluar pada tanggal 23 Juli 201212 yang menguatkan Fatwa MUI Jatim yang telah dikeluarkan sebelumnya. Hal ini
membuktikan bahwa kebebasan beragama di Indonesia masih sangat kurang.
Terlebih setelah Pergub No. 55 Tahun 2012 dikeluarkan terjadi lagi penyerangan dengan skala lebih besar yang mengakibatkan sembilan rumah terbakar, dua orang meninggal, lima lainnya orang terluka, selain korban dari warga Kapolsek Omben juga terluka parah. Menurut Radar Madura, ada dua versi tentang bentrokan tersebut. Versi pertama, insiden itu berawal dari rencana keluarga membesuk Tajul Muluk di lapas. Diperjalanan, mobil yang dikendarai keluarga Tajul Muluk dicegat kelompok lain. Mereka mengolok-olok keluarga Tajul uluk sebagai penganut ajaran sesat. Untuk menghindari bentrokan, keluarga Tajul Muluk mengurungkan niat pergi ke lapas. Namun, kelompok penghadang terus membuntuti akhirnya bentrokan pun tak terhindarkan. Versi kedua, bentrokan ini berawal dari keberangkatan 20 santri kelompok syiah yang hendak balik ke pondok di Bangil, Pasuruan dan Pekalongan. Mereka kemudian dihadang kelompok anti syiah, warga syiah diminta kembali ke rumah mereka dengan turun dari mobil. Lalu mereka diarak. Setiba dikampung warga syiah suasana bertambah panas. Bentrokan diantara kedua kelompok pun pecah.13
Kebebasan beragama merupakan prinsip yang mendukung kebebasan individu atau masyarakat, untuk menerapkan agama atau kepercayaan dalam ruang pribadi atau umum. Dalam negara yang mengamalkan kebebasan beragama, selayaknya masyarakatnya saling
10 Tajul Muluk, “Quod Relevatum Pledoi Ust. Tajul Muluk Demi Mengungkap Kebohongan Fakta”, Surabaya: Cmars, hlm. 28
11 Lihat Juga Fatwa MUI Jawa Timur Tentang Kesesatan Ajaran Syiah No. Kep-01/Skf-MUI/JTM/I2012
ditandatangangi pada tanggal 21 Januari 2012 oleh Ketua Umum KH. Abdusshomad Buchori dan Sekretaris Umum Drs. H. Imam Tabroni MM
12 Lihat Juga Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 55 Tahun 2012 Tentang Pembinaan Kegiatan
Keagamaan Dan Pengawasan Aliran Sesat Di Jawa Timur ditandatangani pada tanggal 23 Juli 2012 Oleh Gubernur Jawa Timur Dr. H. Soekarwo
menghormati terhadap agama-agama lain di luar agama atau kepercayaannya.14 Hal ini
mengindikasikan bahwa adanya pengambilan kebijakan yang bersifat politis, suara kaum mayoritas lebih diutamakan daripada kaum minoritas.
Berdasarkan keterlibatan negara baik, pemerintah pusat maupun daerah yang membiarkan terjadi peristiwa kekerasan dan secara aktif mengeluarkan peraturan-peraturan daerah yang mengindikasikan adanya pelanggaran Hak Asasi Manusia. Beberapa peraturan menerapkan beberapa larangan pada jenis-jenis kegiatan agama tertentu, khususnya pada agama-agama yang tidak diakui dan aliran yang dianggap ‘menyimpang’ dari agama yang diakui.
Pemerintah tidak menggunakan kewenangan konstitusionalnya untuk meninjau atau mencabut peraturan daerah yang melanggar kebebasan agama.15 Hal ini bisa menempatkan
pejabat-pejabat pemerintah dalam kerangka sistematis yang memproduksi lahirnya kejahatan terhadap kemanusiaan karena membiarkan tindakan-tindakan intoleransi terus terjadi, selain itu regulasi terkait agama di berbagai daerah menunjukan bahwa trend formalisasi syariat Islam di Indonesia kembali menguat setelah meredup beberapa tahun sebelumnya. Trend ini tidak hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa tetapi juga diluar jawa seperti sulawesi dan kalimantan. Trend formalisasi agama dapat mengancam hak sipil dan politik warga negara. 16
Pergub No. 55 Tahun 2012 merupakan ide-ide formalisasi syariat Islam yang sangat mengancam hak-hak sipil warga negara terutama hak beragama. Apabila regulasi terkait agama dibiarkan berkembang tidak menutup kemungkinan regulasi tersebut digunakan percontohan oleh daerah lain untuk mengambil kebijakan dalam hal menekan kelompok yang dianggap menyimpang.17
konflik yang belakangan ini sering terjadi salah satunya konflik agama seharusnya tidak boleh terjadi dinegara hukum, karena fungsi pemerintah melindungi setiap warga negara melakukan hak mereka18 termasuk dalam menjalankan agama masing-masing sesuai
keyakinannya. Pemerintah harus melindungi hak-hak segenap warga negara untuk berekspresi dan beragama/berkeyakinan sesuai dengan pasal 28 (e) ayat 1 dan 2 UUD 1945 hasil amandemen.
14 Direktorat Jenderal HAM, 2012, “Tentang Kebebasan Beragama Dan Berkeyakinan”. Makalah ini dipresentasikan dalam Focus Group Discusion, Jakarta
15 Embassy of the United States Jakarta, 2010, “Laporan Kebebasan Agama Internasional”, indonesian.jakarta.usembassy.gov/id/news/key-reports/laporan-kebebasan-beragama.html (18 Mei 2014 pukul 16.42 WIB)
16 The Wahid Institute, 2012, op.cit., hlm xxi
17 Wawancara penulis dengan Kepala Bidang Pendidikan & Publikasi CMARs (Center for Marginalized
Communities Studies) Akhol Firdaus, di Surabaya, 19 Agustus 2014 18 Janty Jie, 2014, “Ersten Mai, Nazi Frei! Satu Mei tanpa Nazi!”,
Pada tahun 2004, Dewan Perwakilan Rakyat mengesahkan Undang-Undang Pemerintahan Daerah, yang mendesentralisasi banyak aspek dalam pemerintahan Indonesia. Ia mendorong kekuatan pada kelompok-kelompok baru secara lokal, Islamis dan lainnya, serta menguasakan para pejabat daerah bekerja dengan mengurangi apa yang disebut “sentralisme kekuasaan” pejabat dan hakim. Namun, dalam undang-undang itu agama tidak didesentralisasi. Ia salah satu dari enam bidang di mana pemerintah daerah tak diberi mandat mengaturnya: politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional, dan agama.19 Dalam PP No 38 Tahun 2007 Tentang pembagian Urusan Pemerintahan Antara
Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Pemerintah Daerah yang mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang diskriminatif dapat melanggar prinsip non diskriminasi yang dianut konstitusi.20
Praktik diskriminasi yang dilakukan pemerintah lewat peraturan daerah (perda) dapat melanggengkan praktik diskriminasi dalam kehidupan masyarakat yang berdampak pada pembatasan kebebasan setiap warga negara untuk meyakini dan menjalankan ibadah menurut keyakinannya dan mengakibatkan terpinggirkan kelompok minoritas. Maraknya peraturan-peraturan yang bersifat diskriminatif membuat sejumlah oknum dapat leluasa melakukan tindakan intoleransi terhadap penganut aliran minoritas di suatu wilayah.
Salah satunya konflik Sampang yang telah terjadi di desa Karang Gayam, kecamatan Omben Sampang Madura. Konflik ini berdampak pembakaran rumah warga syiah dan relokasi terhadap kelompok syiah ke Sidoarjo. Konflik ini berdampak besar pada warga syiah yang harus rela meninggalkan kampung halamannya dan harta bendanya secara paksa tanpa ada jaminan dan perlindungan terhadap harta bendanya di kampung halaman.21
Tidak hanya itu pemaksaan untuk “bertobat” pun dilakukan oleh pejabat pemerintah daerah dan ulama setempat. Seperti yang telah penulis kutip dari hasil wawancara Fitri
19 Human Right Watch, 2013, op.cit., hlm. 26
20 Aditya Revianur, Yenny Wahid: Warga Syiah Dipindah, Apa Gunanya Konstitusi?, Kompas, 7 September
2012,
http://nasional.kompas.com/read/2012/09/07/09330267/Din.Muhammadiyah.Keberatan.Fatwa.Sesat.Syiah (diakses: 6 Maret 2014 pukul 13.43 WIB)
Mohan dari JoyoNews dengan Hertasning Ichlas22, Direktur eksekutif Yayasan Lembaga
Bantuan Hukum Universalia (YLBHU). Berikut petikan wawancanya:
“Warga syiah yang tidak mengungsi dan tetap tinggal dikampung telah dipaksa untuk menandatangani ikrar penobatan yang intinya mengakui bahwa ajaran syah sesat dan kembali ke ajaran lama. Kalau tidak menandatangani ikrar ini, rumah mereka akan dibakar dan keselamatan mereka tidak akan dijamin. Tiga puluh lima warga syiah dengan terpaksa sudah menandatangani ikrar tersebut. Mereka dijemput oleh kepala dusun dan polisi lalu dibawa kerumah kyai bernama Saifudin Gersempal di Omben. Pada 6 Agustus, menurut kesaksian Kholis, salah seorang warga yang menolak tandatangan, dia melihat bahwa dirumah kyai itu ada Bupati Sampang, Kepala Kesatuan Kebangsaan dan Politik (Kesbangpol) Sampang Rudi Setiadi, Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Omben dan Komando Rayon Militer (Koramil). Karena Kholis menolak ikrar tersebut, dia diusir dari Madura. Dia dibawa polisi ke terminal Sampang untuk keluar dari Madura. Dia juga mengancam akan dibakar rumahnya. Saat ini Kholis ada di kantor kami di Jakarta. Apa yang terjadi ini jelas menunjukan bahwa pemerintah daerah Sampang, polisi dan kyai, telah menjadi aktor utama penghalang rekonsiliasi yang diinginkan Presiden SBY dan Prof Abdul A’la, sebagai ketua rekonsiliasi yang juga rektor IAIN Sunan Ampel”.23
Sosialisasi kesesatan syiah juga dilakukan dimana-mana, misalnya saja di kabupaten Sampang (29 September 2013) syiah dianggap aliran berbahaya yang masuk ke Indonesia, karena aliran ini di dukung oleh negara kaya yaitu Iran.24 Syiar kebencian terhadap syiah
terus dilakukan untuk mengucilkan kelompok syiah hingga terusirnya dari kampung halamannya.
Motivasi Politik Calon Gubernur Incumbent
Politik demokrasi dan keberagaman sosiokultural Indonesia memberi kontribusi yang besar bagi tumbuh dan berkembangnya demokrasi yang berbasis pada pluralitas politik
22 Hertasning Ichlas merupakan pendamping dan pengacara pengungsi syiah sejak 2011
23 Fitri Mohan, “Hertasning Ichlas: Kasus Syiah Sampang Adalah Bagian Dari Transaksi Politik”, Harian Indoprogress, 16 Agustus 2013, http://indoprogress.com/2013/08/hertasning-ichlas-kasus-syiah-sampang-adalah-bagian-dari-transaksi-politik/ (diakses: 19 September 2014 pukul 15.00 WIB)
24 Zamachsari, 2013, “Front Anti Aliran Sesat Jatim Sosialisasi ke Sampang”, Berita Jatim,
dan multikultural.25 Implementasi dari politik demokrasi antara lain adalah pemilihan kepala
daerah (Pilkada). Keseluruhan proses Pilkada merupakan suatu arena unjuk pluralitas politik pada daerah otonom. Dalam era pembaharuan politik, format Pilkada adalah untuk menghasilkan demokrasi yang mendekati substansi. Pilkada sebagai salah satu bagian integral dari proses demokratisasi di indonesia.26
Format baru pelaksanaan otonomi daerah setelah UU No. 22 Tahun 1999 diperbaiki menjadi UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menunjukkan perubahan yang signifikan dalam politik lokal. Pemilihan kepala daerah secara langsung dimuat dalam pasal 24 ayat 55 Undang-Undang Pemerintahan daerah berbunyi, “kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat di daerah bersangkutan”, mengindikasikan Pilkada sebagai wujud perubahan mendasar bagi proses demokrasi di daerah yang ditandai dengan partisipasi dan penguatan aspirasi rakyat dalam menentukan pilihan pemimpin daerah secara langsung.27
Pilkada secara langsung merupakan hal yang menarik untuk diamati, pilkada merupakan salah satu proses politik yang melibatkan partisipasi masyarakat secara luas. Masyarakat dapat memilih pemimpin yang tepat sesuai dengan aspirasi yang mereka bawa. Berbagai strategi pun dilakukan para kandidat dan partai pendukungnya dalam menarik massa yang didukung oleh partai-partai tersebut. Kandidat dan juga partai pendukungnya pun harus memiliki pengetahuan tentang strategi yang harus disusun karena masing-masing daerah memiliki aspek lokalistik dalam hal dinamika proses, karakter pemilih, dan cara penyelesaian masalah. Dalam kaitan ini, cara-cara menggalang dukungan juga berbeda-beda disetiap daerah.28
Misalnya pemilihan Gubernur/ Wakil Gubernur Jawa Timur tahun 2013 yang diadakan pada tanggal 29 Agustus 2013, salah satu calon merupakan gubernur yang sedang menjabat saat itu, Soekarwo-Saifullah Yusuf. Jabatan tersebut sangat dimanfaatkan oleh calon incumbent dalam menarik massa di daerah. Misalnya Sampang Madura.
Berdasarkan hasil rekapitulasi KPU Jatim, pasangan KarSa yang diusung oleh Partai Demokrat dan didukung 31 partai politik parlemen dan non parlemen memperoleh 8.195.816 atau 47,25%. Karsa berhasil unggul di 26 dari 38 Kabupaten/Kota di Jatim. Masing-masing
25 Di Indonesia, masing-masing daerah memiliki ke khususan (aspek lokalistik) dalam hal dinamika proses,
karakter pemilih dan cara penyelesaian masalah. Lebih lengkap: Siti Aminah, 2014, “Kuasa Negara Pada Ranah Politik Lokal”, Jakarta: Kencana Prenada media Group, hlm. 232
26 Siti Aminah, 2014, “Kuasa Negara Pada Ranah Politik Lokal”, Jakarta: Kencana Prenada media Group, hlm. 225
daerah tersebut antara lain: Bojonegoro, Kota Mojokerto, Bangkalan, Sampang, Nganjuk, Jombang, Ngawi, Surabaya, Kabupaten Pasuruan, Kota Pasuruan, Magetan, Kota Probolinggo, Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Kabupaten Kediri, Kota Kediri, Kota Blitar, Batu, Bondowoso, Situbondo, Kabupaten Madiun, Kota Madiun, Tulungagung, Kota Malang, dan Lumajang.29
Pada peringkat kedua, diraih oleh Berkah yang diusung oleh PKB dan didukung beberapa parpol non parlemen dengan suara mencapai 6.525.015 atau 37,62% dengan unggul di 12 daerah, masing-masing Gresik, Pamekasan, Tuban, Lamongan, Kabupaten Mojokerto, Sumenep, Sidoarjo, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Blitar, Kabupaten Malang, Jember dan Banyuwangi. Pasangan Bambang DH-Said Abdullah diusung PDIP, berada di peringkat ketiga dengan mengumpulkan 2.200.069 suara atau 12,69%. Sedangkan Beres yang merupakan calon independent mendapat 422.932 suara atau 2,44%.30
Berdasarkan hasil suara yang diperoleh KarSa dengan kemenangan 47,25% dengan didukung oleh beberapa daerah khususnya Sampang dengan perolehan 279.670 suara dibanding pasangan Berkah yang memperoleh 138. 171 suara dengan selisih 141.499 suara. Dengan Daftar Pemilih Tetap (DPT) Jatim 30.019.300 pemilih31. Sedangkan DPT dari seluruh
Madura mencapai 3.007.526 atau lebih dari 10% dari jumlah keseluruhan DPT Jatim. Angka tersebut tersebar di Bangkalan (756.541), Sampang (711.260), Pamekasan (656.281) dan Sumenep (883.444)32.
Belum lagi yang warga Madura yang tersebar diluar Madura, misalnya: Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, Jember, Probolinggo, hingga Pasuruan. Bila digabung dengan pemilih di dalam Madura, maka jumlahnya sangat mungkin bisa menembus angka 18-20%. Sehingga Madura merupakan salah satu lumbung suara yang potensial bagi kandidat peserta pilgub salah satu faktornya adalah Madura masih dipengaruhi oleh pengaruh ulama. Menurut Prof. Dr. Solichin Abdul Wahab, kyai dan klebun (kepala desa) merupakan sumber patronase paling kuat dibanding elite sosial lainnya.33 Oleh karenanya, pada saat elit non
29 Rahardi Soekarno J, “KarSa Vs Khofifah 2-0!”, Beritajatim.com, 12 Desember 2013, http://m.beritajatim.com/politik_pemerintahan/192363/karsa_vs_khofifah_2-0!.html#.VHFH8fmUfXs (diakses: 23 November 2014 pukul 10.37 WIB)
30 Loc.cit.,
31 KPU Tetapkan DPT Pemilukada Jatim Sebanyak 30.019.300 Orang, 2013,
http://www.jatimprov.go.id/site/kpu-tetapkan-dpt-pemilukada-jatim-sebanyak-30-019-300-orang/ (diases: 23 November 2014 pukul 19.00WIB)
32 Redi Panuju, 2013, Pilgub Jatim Ditetukan Orang Madura, Koran Sindo, 21 Agustus 2013,
http://rumahopini.com/pilgub-jatim-ditentukan-orang-madura/#ixzz3JtsAYRQa (diakses: 23 November 3014, pukul 19.08 WIB)
politik lokal maupun elit lokal menjadi penentu perilaku pemilih yang bersifat mengarahkan, maka pemilih akan memilih sesuai arahan para elit lokal.
Dengan begitu KarSa sangat diuntungkan di Madura. Kegiatan Safarinya Gus Ipul ke pesantren-pesantren selama Ramadhan menguatkan calon pemilih dari kalangan santri. Sementara Pakde Karwo meraih dukungan melalui aparat desa34 dan melakukan lobby politik
dengan para elit non politik lokal maupun elit politik lokal, posisi ini didukung dengan adanya konflik yang terjadi di Sampang, sejumlah ulama setempat mempunyai kepentingan politik untuk mengusir warga syiah dari Sampang dan mempertahankan otoritas di daerahnya.
Dibandingkan dengan saingan Berkah, KarSa lebih unggul dengan posisi KarSa masih menjabat gubernur dan wakil gubernur pada saat itu, sehingga KarSa memanfaatkan status quo nya dan mengeluarkan Pergub No. 55 Tahun 2012 untuk meraih simpati ulama dan dukungan dengan tujuan untuk memobilisasi masyarakat Madura dan daerah lain.
Pilkada merupakan representasi demokrasi lokal yang merupakan effect dari demokratisasi pasca runtuhnya rezim orde baru. Pada pelaksanaannya tidak dapat terlepas dari partisipasi di seluruh elemen lapisan masyarakat dan juga para elit politik. Elit politik selalu perperan aktif pada kegiatan politik untuk mencapai satu tujuan, yaitu kekuasaan. Menurut Schonwalder (1997)35: “Kaum elite daerah, pemerintah daerah dan para pelaku
lainnya yang bekerja didaerah itu serigkali mengkooptasi gerakan dengan tujuan memajukan agenda kepentigan mereka sendiri”.
Keterlibatan elit politik menjadi suatu hal yang wajar dalam pemenangan suatu calon, khususnya para elit politik lokal. Para elit politik lokal mempunyai peran penting di daerah, khususnya di daerah Sampang. Selain elit politik lokal, elit non politik lokal juga mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam lingkup masyarakat hingga dapat memobilisasi partisipasi politik masyarakat. Seperti para ulama. Di Madura khususnya Sampang, ulama mempunyai peran sentral dalam pengambilan keputusan ditengah-tengah masyarakat.
Satu hal penting dalam pilkada adalah dari segi konflik, sedikit apapun konflik yang terjadi dalam Pilkada, hal tersebut menunjukan bahwa Pilkada memiliki dinamika internal demokrasi. Kecenderungan muncul dan menguatnya sentimen-sentimen aliran kepercayaan
34Loc.cit.,
dalam konteks beragama. Hal ini bisa menjadi stimulus bentrokan, karena sebagian pemilih memandang sentimen ini sebagai cara untuk memenangkan calon yang didukungnya.36
Salah satu strategi serta program yang ditawarkan oleh Soekarwo-Saifullah Yusuf lebih mengarah pada penyelesaian konflik yang terjadi di sejumlah daerah. Salah satunya di Sampang. Telah dibahas sebelumnya, konflik yang berkepanjangan di Sampang Madura telah menemukan jalan (walau menurut beberapa pihak hanya menguntungkan kelompok-kelompok tertentu) dengan mengeluarkan Pergub Jatim No. 55 Tahun 2012 yang mengamini fatwa MUI Jatim yang telah dikeluarkan lebih dulu. Peraturan ini lahir pada tahun 2012 saat Soekarwo memerintah pada saat itu. Berdasarkan penjelasan sebelumnya analisis strategi Soekarwo yang merupakan calon gubernur incumbent dalam meraih simpati masyarakat Sampang dapat dijelaskan dengan menggunakan konsep rational choice.
Konsep rational choice memiliki asumsi rasionalitas, yakni pilihan yang diambil atas dasar motivasi oleh tujuan yang ditunjukan melalui preferensinya, seseorang/individu beraksi berdasarkan atas informasi yang mereka punya tentang keadaan yang sedang mereka hadapi, hal yang tidak mungkin bagi individu untuk mendapatkan semua hal yang diinginkannya. Ada beberapa asumsi utama dari rational choice. Pertama, aktor yang rasional akan menjatuhkan pilihan pada alternatif yang paling maksimal mendekati keinginan/hasratnya. Kedua, aktor harus membuat pilihan-pilihan yang berhubungan dengan tujuannya dan cara untuk merealisasikan tujuan tersebut. Ketiga, dalam pengambilan keputusan aktor harus mempunyai alternative sebagai tindakan antisipasi dan perhitungan hasil yang terbaik untuknya. 37
Dalam konteks pengambilan keputusan yang dilakukan oleh Gubernur Jawa Timur dalam rangka meraih simpati warga Sampang jenis game yang paling relevan untuk menjelaskan fenomena yang terjadi adalah Stag Hunt Game. Inti dari model permainan ini adalah kerjasama (cooperation) lebih diinginkan daripada bekerja sendiri-sendiri (non cooperation) karena dengan bekerjasama value yang didapat lebih besar.
Dengan bekerjasama antara gubernur dan elit lokal kalkulasi untung-rugi Gubernur Jawa Timur dalam rangka meraih simpati warga Sampang tersebut jelas lebih menguntungkan daripada merugikan. Fenomena yang demikian dapat dijelaskan dengan Stag Hunt yaitu bahwa pilihan untuk bekerjasama menjadi prioritas utama bagi kedua pemain yaitu gubernur dan para elit lokal di daerah. Gubernur memiliki pilihan rasional untuk
36 Siti Aminah, 2014, op.cit., hlm.233
mengambil keputusan mengeluarkan Pergub Jatim No. 55 Tahun 2012 dalam meraih simpati masyarakat, khususnya masyarakat Sampang.
Pergub Jatim No. 55 Tahun 2012 dikeluarkan pada saat terjadinya konflik Sampang dan bertepatan dengan Pemilihan Gubernur Jawa Timur Tahun 2013. Momen itu sangat dimanfaatkan oleh gubernur untuk tercapai kepentingan politiknya, yaitu pemanfaatan para ulama di Sampang dan juga di daerah-daerah lain dengan mengeluarkan Pergub. Secara kultural, mayoritas warga Sampang masih dibawah kontrol para ulama dan para elit politik lokalnya. Peran ulama sangat besar pengaruhnya di masyarakat sehingga memudahkan untuk memobilisasi masyarakat Sampang dalam pemilihan gubernur.
Perlu diingat, bahwa Madura khususnya Sampang masih memegang teguh bhuppa’-bhabhu, ghuru, rato sebagai landasan filosofinya. Walaupun beberapa tahun belakangan mulai memudar, seperti dalam survey yang dilakukan oleh Suprimasi tentang Perilaku Politik Warga NU Jatim. Hasilnya, secara kumulatif sebanyak 51% responden masih patuh terhadap fatwa politik ulama, dan sisanya sebanyak 49% responden mengaku tidak lagi mematuhi fatwa politik yang diberikan ulama.38
Meskipun demikian strategi calon gubernur incumbent dalam meraih simpati massa melalui para ulama masih cukup efektif. Dengan menggunakan dukungan dari beberapa tokoh masyarakat atau tokoh agama yang seringkali merepresentasikan dukungan masyarakat dibawahnya, disebut juga sebagai politik patron. Politik patron adalah politik yang didasarkan pada hubungan keteladanan. Dalam pandangan Keith. R. Legg (1983)39 Hubungan patron
klien secara umum berkaitan dengan tiga hal, yaitu sumber daya yang timpang, hubungan yang bersifat pribadi (particularistic) dan hubungan mutualisme.
Hubungan yang terbangun di atas penguasaan sumber daya yang timpang di sini bisa mencakup kekayaan, kedudukan ataupun pengaruh. Sedangkan hubungan pribadi dapat dimaknai sebagai hubungan timbal balik yang muncul atas perhatian yang diberikan oleh patron dan kapatuhan yang diberikan oleh klien. Selanjutnya, hubungan mutualisme dapat diartikan sebagai hubungan yang didasari oleh pertukaran antara patron dan klien yang saling menguntungkan.
Dalam hal ini dapat berupa adanya dukungan atau kepatuhan klien karena adanya transfer pengetahuan dari patron. Dalam kultur masyarakat santri, ulama diposisikan menjadi patron, sedangkan masyarakat sebagai klien. Proses pertukaran yang terjadi dapat berupa pengetahuan agama, tuntunan dan perlindungan yang diberikan oleh ulama pada masyarakat.
38 Faza Dhora Nailufar, 2013, “Pudarnya Politik Patron Kyai di Jawa Timur”, Harian Sindo, 2 April 2013 39 Keith R. Legg dalam Faza Dhora Nailufar, 2013,“Pudarnya Politik Patron Kyai di Jawa Timur”, Harian
Hal ini kemudian akan dibalas dengan kepercayaan, kepatuhan, kesetiaan dan dukungan. Tuntunan hidup yang diberikan ulama pun bersifat universal, mulai dari petunjuk menjalankan agama sesuai dengan ajaran yang diyakini kebenarannya sampai pada hubungan sosial dan politik. 40
Dalam konteks lobby politik dengan para elit politik lokal dan elit non politik lokal (ulama), pilihan yang menjadi prioritas gubernur untuk mengeluarkan Pergub Jatim No. 55 Tahun 2012 dapat dijelaskan dalam sekema sebagai berikut:
Stag Hunt:
Berkoalisi meraih simpati masyarakat Sampang vs. Kepentingan Elite Lokal
Gubernur
Elit Lokal
Bekerjasama (Pergub Jatim No 55
Tahun 2012
Tidak Bekerjasama (Tanpa Pergub)
Bekerjasama
(dukungan) 4 vs 4 1 vs 1
Tidak bekerjasama
(tidak mendukung) 3 vs 1 1 vs 3
Keterangan:
1. Gubernur (C) vs Elit lokal (C) = 4 vs 4 2. Gubernur (C) vs Elit lokal (NC) = 3 vs 1 3. Gubernur (NC) vs Elit lokal (C) = 1 vs 1 4. Gubernur (NC) vs Elit lokal (NC) = 1 vs 3
Terdapat empat kemungkinan ketika gubernur mengambil sebuah keputusan, yaitu: Pertama, dikeluarkannya Pergub Jatim No. 55 Tahun 2012 maka gubernur mendapatkan simpati dan dukungan dari ulama Jawa Timur karena disejumlah daerah di Jawa Timur khususnya Sampang kultur patron klien masih berlaku (C). Perlu diingat, yang mendesak dikeluarkannya Pergub bukan hanya dari elit lokal di Sampang. Sejumlah daerah para ulama (MUI) juga mendesak dikeluarkannya pergub tersebut, antara lain: Surabaya, Besuki, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Malang dan Madura itu sendiri. Dengan bekerjasama (C)
maka elite politik lokal maupun elit non politik lokal pasti terfasilitasi kepentigannya dengan kesepakatan dalam bentuk Pergub No. 55 Tahun 2012 maka keduanya akan mendapatkan keuntungan maksimal (4 vs 4). Keuntungan yang didapat seimbang antara calon gubernur incumbent dengan elit politik lokal. Dalam hal ini calon gubernur incumbent mendapatkan suara mayoritas dan para elite pilitik lokal maupun elit non politik lokal mendapatkan legalitas bahwa warga syiah memang sesat dan direlokasi keluar daerah.
Kedua, ketika gubernur memutuskan untuk bekerjasama (C) maka akan mendapatkan simpati dan dukungan dari ulama didaerah lain, karena kultur patron klien yang ada didaerahnya. Elite lokal Sampang lebih memilih tidak mendukung (C) maka kepentingan yang dimiliki pasti tidak akan terfasilitasi jika calon gubernur incumbent (saat itu masih menjabat gubernur) jadi dan belum tentu terfasilitasi jika kandidat lain yang jadi. Posisi ini jelas masih menguntngkan gubernur karena dukungan masih bisa didapat dari luar daerah dan merupakan kerugian bagi elit lokal Sampang karena kepentingan untuk merelokasi warga syiah bisa saja terhambat bahkan tidak bisa sama sekali (3 vs 1).
Ketiga, jika gubernur lebih memilih tidak bekerjasama (NC) maka akan kehilangan dukungan dari masyarakat Sampang dan sebagian besar masyarakat Jatim yang masih dibawah kontrol ulama. Begitu juga dengan elit lokal yang memutuskan mendukung (C) tidak akan terfasilitasi kepentingannya dan akan sulit membuat kesepakatan baru jika kandidat lain yang memenangkan Pilihan Gubernur (Pilgub). Dengan kemungkinan terburuk calon gubernur incumbent tidak mendapatkan suara secara maksimal dan kepentingan elit lokal untuk merelokasi warga syiah keluar Madura tidak terealisasikan. Kedua belah pihak akan sangat rugi karena kepentingan masing-masing tidak terakomodir dengan baik (1 vs 1).
Keempat, jika gubernur memilih (NC) maka bisa dipastikan gubernur akan kehilangan dukungan dari masyarakat Sampang dan sebagian besear masyarakat Jatim yang masih dibawah kontrol ulama. Jika elit lokal memilih tidak mendukungan gubernur (NC) masih bisa membuat kesepakatan jika kandidat lain yang memenangkan pilgub. Maka nilai yang didapat (1 vs 3) nilai ini sangat merugikan dipihak gubernur karena gubernur akan kehilangan simpati dan dukungan dari masyarakat dengan kultur patron klien.
Pilihan rasional gubernur dengan mendekati dan menjalin komunikasi dengan para ulama untuk mencari basis massa yang tentunya di beberapa daerah di Jawa Timur masih mempunyai kultur patron klien dianggap lebih efektif. Cara ini lebih efektif dan efisien dibanding dengan calon gubernur incumbent berhadapan langsung dengan masyarakat disana yang tentunya cost yang akan dikeluarkan menjadi lebih banyak. Pilihan yang diambil calon gubernur incumbent dengan mengeluarkan Pergub Jatim No. 55 Tahun 2012 berdasarkan atas perkiraan kalkulasi untung-rugi yang diperoleh gubernur, antara lain: Keuntungan yang mungkin didapat calon gubernur incumbent diantaranya:
1. Mendapatkan akses untuk memobilisasi massa secara besar-besaran dengan memanfaatan jaringan para ulama di Sampang dan di daerah lainnya di Jawa Timur; 2. Mendapat dukungan suara dari masyarakat Jawa timur khususnya masyarakat Sampang; 3. Memiliki kesempatan lebih besar dalam pemenangan pemilihan calon gubernur.
Sedangkan kerugian yang mungkin harus ditanggung calon gubernur incumbent diantaranya: 1. Mendapat respon negatif dari kalangan masyarakat karena peraturan yang dikeluarkan
dianggap inskonstitusi;
2. Menambah tugas pemerintah dalam menangani kelanjutan konflik yang ada dengan merelokasi warga syiah di pengungsian.
3. Penambahan anggaran yang dikeluarkan pemerintah untuk biaya hidup pengungsi.
Penutup
Dari uraian dan analisis sebelumnya, konflik yang terjadi di Sampang merupakan
konflik antar elit politik lokal Sampang yang berkolaborasi dengan elit lokal tingkatan
provinsi. Konflik yang terjadi tidaklah lahir dari ruang tanpa kepentingan. Konflik ini lahir
karena ada beberapa faktor yang berpengaruh, seperti faktor ekonomi, politik, sosial, maupun
agama. Konflik yang sebenarnya terjadi di Sampang bukan konflik grassroot tetapi konflik
antar elit lokal yang mempertahankan pengaruh diwilayahnya. Dengan kondisi daerah dengan
tingkat patronase yang masih tinggi pengaruh merupakan salah satu hal yang krusial bagi
Dilihat dari konsep rational choice, keputusan calon gubernur incumbent dengan
mengeluarkan Pergub Jatim No. 55 Tahun 2012 merupakan sebuah pilihan yang rasional. Hal
ini dapat dibuktikan melalui kalkulasi untung rugi dan faktor-faktor lain yang mendorong
terjadinya sebuah lobby politik. Dari kalkulasi untung rugi untuk memenuhi kepentingan
jangka pendeknya jelas hal ini menguntungkan calon gubernur incumbent untuk mendapatkan
akses yang lebih besar untuk memobilisasi massa secara besar-besaran dengan memanfaakan
jaringan para ulama di Sampang dan di daerah lainnya di Jawa Timur, mendapat dukungan
suara dari masyarakat Jawa timur khususnya masyarakat Sampang, dan memiliki kesempatan
lebih besar dalam pemenangan pemilihan calon gubernur.
Pengambilan kebijakan dengan keluarnya Pergub Jatim No. 55 Tahun 2012
menggunakan pendekatan demokratis yaitu kebaikan bagi sebagian besar orang. Arah
kebijakan yang diputuskan adalah kebijakan yang memberikan manfaat bagi mayoritas publik
daripada sebagian kecil publik. Namun kebijakan ini bias elit, bagaimanapun juga
pengambilan keputusan adalah elit. Kebijakan publik yang diambil pada akhirnya
menguntungkan kelompok elit daripada publik itu sendiri. Dikeluarkannya Pergub pada
awalnya adalah untuk kepentingan publik yaitu untuk menjaga ketertiban, ketentraman dan
kedamaian bagi masyarakat Jawa Timur. Namun akhirnya kepentingan publik menjadi
kepentingan elit lokal untuk mengusir warga syiah di Sampang dan kepentingan politik calon
Daftar Pustaka
Sumber Buku
Aminah, Siti, 2014, Kuasa Negara Pada Ranah Politik Lokal, Jakarta: Kencana Predana Media Group.
Azizah, Nurul, 3013, Artikulasi Politik Santri Dari Kyai Menjadi Bupati, Yogjakarta:Pustaka Pelajar
Budiarjo, Miriam, 1988, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta: PT Gramedia.
Effendi, A.Mansyur, 1994, Dimensi/Dinamika Hak Asasi Manusia Dalam Hukum Nasional dan Internasional, Jakarta: Ghalia Indonesia
Jim Schiller (ed), 2003, Jalan Terjal Reformasi Lokal Dinamika Politik di Indonesia, Yogyakarta: CV. Jogja Global Media.
Marzali, Amri, 2003, Perbedaan Etnis Dalam Konflik: Sebuah Analisis Sosio-Ekonomi Terhadap Kekerasan di Kalimantan (Konflik Komunal di Indonesia saat ini), Indonesian-Netherland Cooperation in Islamic Studies (INIS) Universiteit Leiden Gahral Adian, Donny, 2011, Teori Militansi Esai-Esai Politik Radikal, Depok: Koekoesan Muluk, Tajul, Quod Relevatum Pledoi Ust. Tajul Muluk Demi Mengungkap Kebohongan
Fakta, Surabaya: CMARS
Nugroho, Riant, 2009, Public Policy, Jakarta: PT Elex Media Komputindo. Nugroho, Riant, 2014, Public Policy, Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Nurhasim, Moch., 2005, Konflik Antar Elit Politik Lokal Dalam Pemilihan Kepala Daerah, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
SD, Soenarko, 2000, Public Policy Pengertian Pokok Untuk Memahami dan Analisa Kebijaksanaan Pemerintah, Surabaya: Airlangga University Press.
Soekanto, Soerjono, 2005, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Suyanto, Bagong, 2005, Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan,
Jakarta: Predana Media
Varma, SP., 2007, Teori Politik Modern, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Wibawa, Samodra, 1994, Kebijakan Publik Proses dan Analisis, Jakarta: Intermedia. William Chang, 2003, Berkaitan Dengan Konflik Etnis-Agama, (Konflik Komunal di
Sumber E-Book
Brian Skyrms, U.C. Irvine, 2001, The Stag Hunt, Pasific Division of the American Philosophical Association
Sumber Presentasi
Janty Jie, 2012, Stag Hunt Game Theory, Dipresentasikan dalam mata kuliah Rekayasa Politik, Malang, Indonesia
Makalah/Jurnal
Direktorat Jenderal HAM, 2012, Tentang Kebebasan Beragama Dan Berkeyakinan. Makalah ini dipresentasikan dalam Focus Group Discusion, Jakarta
Abdur Rozaki, 2009, Sosial Origin dan Politik Kuasa Blater di Madura, Universitas Islam Negeri sunan Kalijaga Yogjakarta, Kyoto Review of Southeast Asia Issue
Haryanto, 2009, Elit Politik Lokal dalam Perubahan Sistem Demokrasi, Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JSP), Vol. 13, No. 2
Laporan
Laporan Human Right Watch, Atas Nama Agama: Pelanggaran Terhadap Minoritas Agama di Indonesia, Printed in the United States of America
Laporan KontraS, 2012, Investigasi dan Pemantauan Kasus Syi’ah Sampang, KontraS Surabaya
Laporan The Wahid Institute, 2008, Menapaki Bangsa yang Kian Retak, Jakarta Laporan The Wahid Institute, 2011, Lampu Merah Kebebasan Beragama, Jakarta
Laporan The Wahid Institute, 2012, Laporan Akhir Tahun Kebebasan Beragama dan Intoleransi, Jakarta
Laporan The Wahid Institute, 2013, Laporan Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan, Jakarta
Laporan Solidaritas Perempuan dan KontraS, 2014, Laporan Hak Asasi Manusia: Pelanggaran HAM dan HAM Berat Dalam Kasus-Kasus Kebebasan Beragama, Berkeyakinan dan Beribadah di Indonesia, Jakarta
Sumber Peraturan Gubernur
Peratura Gubernur Nomor 55 Tahun 2012 Tentang Pembinaan Kegiatan Keagamaan dan Pengawasan Aliran Sesat di Jawa Timur
Sumber Fatwa
Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur No. Kep-01/SKF-MUI/JTM/I/2012
Sumber Artikel Koran, Majalah dan Media Online
Abdul Azis, 2011, Kapolres Sampang: Kasus Syiah Karena Faktor Sentimen, Diakses: http://www.antarajatim.com/lihat/berita/69112/kapolres-sampang-kasus-syiah-karena-faktor-sentimen
Aditya Revianur, 2012, Yenny Wahid: Warga Syiah Dipindah, Apa Guna Konstitusi?, Diakses:Http://regional.kompas.com/read/2012/09/07/19511216/Yenny.Wahid.Warg a.Syiah.Dipindah.Apa.Gunanya.Kostitusi
Aditya Revianur, 2012, Din: Muhammadiyah Keberatan Fatwa Sesat Syiah,
Diakses:http://nasional.kompas.com/read/2012/09/07/09330267/Din.Muhammadiya h.Keberatan.Fatwa.Sesat.Syiah
Agus Supriyanto, Mustofa Bisri, Sony Wignya Wibawa, Terkurung Di Kampung Sendiri, Tempo, 23 Desember 2012
Agus Supriyanto, Musthofa Bisri, Arief Rizqi Hidayat, Yang Terbuang Ke Jemundo, Tempo, 2013
Aries Setiawan, 2011, MUI Jatim: Syiah di Madura Seperti Bom Waktu. Diakses:http://nasional.news.viva.co.id/news/read/275832-mui-jatim--syiah-di-madura-sebagai-bom-waktu
Brian Padden dan Dewi Sitopul, 2011, Tidak Adanya Toleransi Keagamaan Ancam Pembangunan Demokrasi di Indonesia,
Diakses: http://www.voaindonesia.com/content/tak-adanya-toleransi-keagamaan-ancam-pembangunan-demokrasi-di-indonesia 116263554/89867.html
Eko Prasetya, 2013, Sudah 9 bulan, 42 anak pengungsi Syiah tidak dapat pendidikan, Diakses: www.merdeka.com/peristiwa/sudah-9-bulan-42-anak-pengungsi-syiah-tidak-dapat-pendidikan.html
Feri Ferdiansyah, Lantaran si Adik Gagal Menikahi Gadis Pujaan, Jawa Pos, 30 Agustus 2012
Jimhur Saros, 2012, Ditempat Pengungsian, Penganut Aliran Syiah Terus Diteror, Diakses: http://maduracorner.com/ditempat-pengungsian-penganut-aliran-syiah-terusditeror/pangungsi/
Indra Harsaputra and Wahyoe Boediwardana, 2012, Sampang court rejects Shiite cleric’s objection,
Diakses: http://www.thejakartapost.com/news/2012/05/23/sampang-court-rejects-shiite-cleric-s-objection.html
Jeremy Manchik, 2011, The Origins of Intolerance to Ward Ahmadiyah, Diakses: http://www.thejakartapost.com/news/2012/02/10/the-origins-intolerance-ward-ahmadiyah.html
Rahardi Soekarno J, 2013, KarSa Vs Khofifah 2-0!,
Diakses:http://m.beritajatim.com/politik_pemerintahan/192363/karsa_vs_khofifah_2 -0!.html#.VHFH8fmUfXs
Redi Panuju, 2013, Pilgub Jatim Ditetukan Orang Madura, Koran Sindo, 21 Agustus 2013, Diakses:
http://rumahopini.com/pilgub-jatim-ditentukan-orang-madura/#ixzz3JtsAYRQa
Rosdiansyah, 2012, Diakui Konferensi Internasional Ulama Islam di Mekkah Ketua MUI Pusat: Syiah Bukan Ajaran Sesat,
Diakses:http://www.lensaindonesia.com/2012/01/01/ketua-mui-pusat-syiah-bukan-ajaran-sesat.html
Sabrina Asril, 2012, Nasib Pengungsi Syiah Sampang, Kemana Pemerintah?,
Diakses:http://nasional.kompas.com/read/2012/11/23/10495393/Nasib.Pengungsi.Sy iah.Sampang..ke.Mana.Pemerintah
Zamachsari, 2013, Front Anti Aliran Sesat Jatim Sosialisasi ke Sampang. http://beritajatim.com/politik_pemerintahan/185218/front_anti_aliran_sesat_jatim_s osialisasi_ke_sampang.html#.Un3mF_nbQqd
Musibah Nodai Sampang, Jawa Pos, 27 Agustus 2012
_______2012, PWNU Jatim Dukung Fatwa MUI Sampang Soal Syiah Tajul Muluk, Diakses: http://www.bersamadakwah.com/2012/01/pwnu-jatim-dukung-fatwa-mui-sampang.html
_______2012, Menag Tegaskan Syiah Bertentangan dengan Islam,
_______ 2012, Persecution: From Lombok to Sampang,
Diakses: http://www.thejakartapost.com/news/2012/09/04/persecution-from-lombok-sampang.html
_______ 2013, Karsa Unggul 141.499 Suara di Sampang Madura, Diakses:
http://indonesiarayanews.com/read/2013/08/30/80889/news-nusantara-08-30-2013-
02-56-pilgub-jatim-karsa-menang-tipis-atas-berkah-di-pamekasan-madura#ixzz3JtsLuuxb
Sumber Internet
Embassy of the United States Jakarta, 2010, Laporan Kebebasan Agama Internasional, indonesian.jakarta.usembassy.gov/id/news/key-reports/
laporan-kebebasan-beragama.html
Fitri Mohan, 2013, Hertasning Ichlas: Kasus Syiah Sampang Adalah Bagian Dari Transaksi Politik,
Diakses: http://indoprogress.com/2013/08/hertasning-ichlas-kasus-syiah-sampang-adalah-bagian-dari-transaksi-politik/
Janty Jie, 2014, Ersten Mai, Nazi Frei! Satu Mei tanpa Nazi!,
Diakses:http://www.siperubahan.com/read/441/Ersten-Mai-Nazi-Frei--Satu-Mei-
tanpa-Nazi-Kementerian Agama Jawa Timur, 2012, Silaturahim Ulama dan Umara Menyikapi Masalah Syiah,
Diakses:http://jatim.kemenag.go.id/file/file/mimbar307/pyca133600031. Pdf
Pemprov Jatim, 2013, KPU Tetapkan Dpt Pemilukada Jatim Sebanyak 30.019.300 Orang, Diakses: http://www.jatimprov.go.id/site/kpu-tetapkan-dpt-pemilukada-jatim-sebanyak-30-019-300-orang/
Iga Lombok, Konflik Sampang Syiah-Sunni atau Konflik Kepentingan?, Diakses: https://jurnalsrigunting.com/tag/atau/
Thesis