PENGEMBANGAN BAHAN AJAR DALAM BENTUK JOB SHEET
FINISHING PRODUK KRIYA KAYU DENGAN POLITUR
DI SMK NEGERI 2 KAYUAGUNG
Oleh: Sudarto Guntoro*), Mulyadi Eko Purnomo**),Riswan Jaenuddin**)
ABSTRACT
This research is development of research which is aimed to: (1) produce the product such as teaching material in form Job sheet Finishing of Woodcraft product with accurate varnish or polish furniture; (2) produce the product teaching material in form Job sheet FinishingWoodcraft Product, (3) identify or know the potential effect of using of teaching material in form Job sheet Finishing of
Woodcraft product with practical varnish which has been developed for student of grade XI. Competence of Woodcraft skill in Vocational School Number 2 (SMK N 2) Kayu Agung. In this research student who used for one to one subject include three students from class XI.B Woodcarft, six students from class XI.B used for small group evaluation and 25 students from class XIA
Woodcarft kriya kayu for field test. The procedure and model of development in this research is modification of two development models. They are Instructional Development Model (2004), and Evaluated Development Model of Tessmer (1988). The point the model of development this model can be simplified into three steps they are problem of Identification, Instructional development, Evaluation and Revision. The material of teaching in for Job sheet Finishing Woodcraft product with varnish can be called valid if the expert of material, expert of design and practitioner said it was suited to free test. After fulfilling the requirement of expert review’s steps and then it is revised to the weaknesses and strangeness of teaching material in form Job sheet and the collected data of advice and critic of material expert, design expert, practitioner and students’ involvement in giving impression, advice and critic. Then It is done testing of the first product in evaluation steps one by one to revise the weaknesses and strangeness in prototype 1. Practice can be taken from result of interview, observation and impression questionnaire of students to the use of teaching material in form Job sheet Finishing of Woodcraft product with varnish for the evaluation step in small group. The observation result of students’ score average for learning activities in evaluation in evaluation step for one by one is 85.18 is categorized in good criteria and the observation result for small group is 81.48. is categorized in very good criteria. Meanwhile the questionnaire data for one to one step is
84 and the questionnaire result of small group evaluation is 82.67 is categorized in practice criteria. It is based on the interview result of students’. They conclude that teaching material in Job sheet finishing product of Woodcraft by using varnish is easy to be understood and done. Potential effect can be observe from two aspect of cognitive score reaching and phsycomotoric score of students’ success reaching of result of study who get score KKM for 75.38% in field test step. Students who pass in learning activities is 24 students (96%) and 1students have not passed (4%). From result of expert’s review, evaluation for one by one, small evaluation group and field test, researcher conclude that teaching material in form Job sheet finishing of Woodcraft product by using varnish can be used for alternative source study for students in understanding skill competence of finishing technique because it has been proved valid, practice and effective by some formative evaluation of step.
Key words: development research, teaching material in form Job sheet,finishing product of Woodcraft with varnish
*) Guru SMKN 2 Kayuagung
**) Dosen Teknologi Pendidikan Pascasarjana UNSRI
A. PENDAHULUAN
Secara umum, disiplin Kriya adalah disiplin yang banyak membutuhkan konsentrasi pada pengembangan sarana dan pengetahuan yang sifatnya praktis. Seni Kriya dihasilkan melalui keahlian manusia dalam mengolah bahan mentah. Seni Kriyadapat dikelompokan berdasarkan tujuan penciptaan atau penggunaannya, menjadi Kriya yang mempunyai fungsi praktis, estetis, dan simbolis (religius). Bahkan Kriya kontemporer/ contemporary craft masih memiliki rambu-rambu penilaian kualitas, mencakup kualitas dalam menangani material craftmanship atau skill. Skill adalah semacam pengetahuan yang digolongkan sebagai tacid knowledge (pengetahuan diam-diam), dipelajari melalui pengalaman. (Asmudjo,2005).
Dari hasil survey pendahuluan dan observasi peneliti di lapangan diperoleh data dari guru yang mengajar mata pelajaran produktif menunjukkan bahwa banyak peserta didik yang kurang kompeten/terampil pada penguasaan
kompetensi kejuruan finishing Kayuagung pada kelas XIA dengan jumlah peserta didik 25 orang, hanya 10 peserta didik yang nilainya telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), sementara kelas XI B dari jumlah peserta didik 24 orang, hanya 12 peserta didik yang mencapai nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Dari kedua data di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa nilai rata-rata mata pelajaran produktif masih tergolong rendah karena kurang dari 75% peserta didik yang mendapatkan nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) seperti terlihat pada tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1. Data Nilai Uji Kompetensi Kejuruan Program Keahlian Kriya Kayu dibawah nilai KKM yang telah ditetapkan, yaitu 70 dan persentase ketuntasan belum mencapai ketuntasan klasikal karena masih di bawah 75%.
Dari hasil wawancara dengan teman sejawat sesama guru produktif, yang berada di SMK Negeri 2, SMK Negeri 6 dan SMK Negeri 7, di Palembang, diperoleh informasi ada beberapa hal yang menyebabkan peserta didik kurang kompeten atau terampil di dalam penguasaan kompetensi kejuruan yaitu: 1) peserta didik kurang motivasi untuk belajar, 2) input peserta didik di sekolah rendah, 3), mudah bosan belajar, 4) kurang memperhatikan kesiapan, 5) kurang konsentrasi dalam belajar, 6) kurang memahami Job sheet yang diberikan oleh guru, 7) kurang menghargai waktu dan kurang disiplin, 8) hasil belajar rendah, dan pada akhirnya peserta didik tidak dapat mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal.
hasil belajar yang lebih baik. Dari 20 sampel, 8 peserta didik (40%) hasil belajar kategori sangat baik dan 12 peserta didik (60%) kategori baik.
Sedangkan hasil penelitian Adnyawati (2004), Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan ajar berbentuk Job sheet mempunyai potensial efek terhadap hasil belajar, dilihat dari (1) tingkat keterampilan proses mahasiswa setelah penerapan metode demonstrasi dan media Job sheet berada pada kategori terampil dengan rata-rata persentase adalah 71% (siklus I = 67,6% dan siklus II=74,4%)
sehingga memiliki peningkatan
keterampilan proses mahasiswa sebesar 6,8% ; (2) tingkat hasil belajar mahasiswa dengan rata-rata persentase adalah 71,69% (siklus I = 68,86 dan siklus II = 74,52) sehingga memiliki peningkatan hasil belajar mahasiswa sebesar 5,7%.
Dari hasil data penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode demonstrasi dan media Job sheet dapat meningkatkan keterampilan proses dan pembelajaran.
Pembelajaran dengan menggunakan Job sheet sebagai bahan ajar keterampilan mempunyai alasan: 1) mengurangi penjelasan yang tidak perlu sehingga menghemat waktu, 2) memungkinkan guru untuk mengajar suatu kelompok peserta didik yang mengerjakan tugas yang berbeda, 3) membangkitkan kepercayaan diri kepada peserta didik untuk membentuk kebiasaan bekerja (workship), 4) instruksi-instruksi pengajaran lebih banyak diberikan dalam bentuk tertulis dan gambar-gambar, 5) meningkatkan prestasi belajar.
Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana mengembangkan bahan ajar dalam bentuk Job sheet finishing produk Kriya Kayu dengan politur
yang valid di SMK Negeri 2 Kayuagung?
2. Bagaimana mengembangkan bahan ajar dalam bentuk Job sheetfinishing produk Kriya Kayu dengan politur yang praktis di SMK Negeri 2 Kayuagung?
3. Bagaimana efek potensial dari bahan ajar dalam bentuk Job sheetfinishing produk Kriya Kayu dengan politur yang telah dikembangkan terhadap peserta didik di SMK Negeri 2 Kayuagung?
Sesuai dengan rumusan masalah, tujuan penelitian ini adalah:
1. Menghasilkan bahan ajar dalam bentuk Job sheetfinishing produkKriya Kayu dengan politur yang valid (keabsahan dari hasil review ahli).
2. Menghasilkan bahan ajar dalam bentuk Job sheet yang praktis (mudah digunakan) pada kompetensi kejuruan finishing produkKriya Kayu dengan politur.
3. Untuk mengetahui efek potensial dari bahan ajar dalam bentuk Job sheet finishing produkKriya Kayu dengan politur yang telah dikembangkan.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Dapat memberikan solusi atas
permasalahan kurang
kompeten/terampilnya peserta didik didalam finishing produkKriya Kayu dengan politur.
2. Hasil penelitian ini dapat dijadikan alternatif sumber belajar yang dapat
digunakan pendidik dalam
penyampaian materi pembelajaran kepada peserta didik, pada kompetensi kejuruan finishing produk Kriya Kayu dengan politur dengan benar.
produktif kompetensi keahlian Kriya Kayu.
B. TINJAUAN PUSTAKA
Job sheet sering disebut pula dengan istilah lembar kerja adalah suatu bahan ajar cetak yang digunakan guru dalam pengajaran keterampilan, terutama di dalam laboratorium/bengkel (work shop), yang berisi pengarahan dan gambar-gambar tentang bagaimana cara untuk membuat atau menyelesaikan sesuatu job atau pekerjaan yang disusun secara sistematik dan disampaikan pada setiap kali pertemuan proses kegiatan belajar mengajar dalam waktu tertentu yang digunakan guru dalam menyelesaikan job/produk di bengkel/
laboratorium pada mata pelajaran praktek. (Team MPT TTUC Bandung, 1985).
Menurut Leighbody dan Kidd (1996:123), suatuJob sheet yang lengkap mempunyai komponen sebagai berikut :
1. Lay out dan nomor kode dari Job sheet tersebut
2. Tujuan atau obyektif dari pekerjaan yang akan dibuat
3. Tabel alat, perlengkapan
dan bahan-bahan yang digunakan
4. Langkah-langkah kerja
(steps of doing ) yang akan diikuti untuk menyelesaikan pekerjaan
5. Keselamatan kerja (safety) yang harus diperhatikan dalam bekerja
6. Evaluasi terhadap hasil
pekerjaan oleh peserta didik sendiri
7. Gambar kerja dari Job
sheet tersebut.
Sedangkan model Job sheet yang dikembangkan oleh Dit.PSMK Depdikbud (1998: 1-9), memuat:
1. Pendahuluan 2. Tujuan
3. Alat dan Bahan
4. Kesehatan dan Keselamatan Kerja 5. Langkah kerja yang meliputi:
a.Persiapan
b. Proses
c.Penyelesaian akhir 6. Gambar Kerja
Pada dasarnya komponen-komponen kedua model Job sheet di atas dapat disederhanakan menjadi urutan sebagai berikut:
1. Lay out dan nomor kode dari Job sheet tersebut.
2. Pendahuluan
3. Tujuan atau obyektif dari pekerjaan yang akan dibuat
4. Alat dan Bahan dilengkapi dengan gambar
5. Keselamatan kerja (safety) yang harus diperhatikan dalam bekerja
6. Gambar kerja lengkap dengan ukurannya
7. Langkah kerja (steps of doing ) yang meliputi:
- Persiapan
- Proses dilengkapi dengan gambar - Penyelesaian akhir dilengkapai
dengan gambar
8. Evaluasi terhadap hasil pekerjaan atau produk oleh guru dan peserta didik sendiri berupa tabel penilaian. (Juknis Uji Kompetensi Kejuruan, Depdiknas dan BSNP, 2011).
Ada beberapa keuntungan pembelajaran dengan menggunakan Job sheet sebagai alat bantu pengajaran ketrampilan yaitu: 1. Dapat mengurangi penjelasan yang
tidak perlu atau penjelasan yang berulang-ulang sehingga dapat menghemat waktu
2. Memungkinkan instruktur untuk mengajar suatu grup peserta didik yang mengerjakan tugas yang berbeda
3. Dapat membangkitkan
kepercayaan diri kepada peserta didik untuk membentuk kebiasaan bekerja (workship)
4. Karena instruksi-instruksi
5. Penggunaan Job sheet dalam
pengajaran praktek dapat
meningkatkan prestasi belajar.
Job sheet yang kurang baik dapat menimbulkan penafsiran yang salah, misalnya gambar alat kurang jelas dan sulit
bagi peserta didik untuk
menginterpretasikannya. Leighbody dan Kidd (1996:123), mengatakan bahwa ada 6 sequence yang perlu dipertimbangkan dalam membuat Job sheetyang baik yaitu : 1) From the simple to the complex 2) Interest sequencing
3) Logical sequencing 4) Skill sequencing
5) Frequency sequencing 6) Total job practice
Sebagai kesimpulan bahwa sequence yang dimaksudkan adalah sequence yang paling bermakna bagi peserta didik.
Leighbody dan Kidd (1996:123), mengemukakan bahwa di dalam pembuatan Job sheet yang baik, hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Objective.
2. List of equipment and tool. 3. List of Materials.
4. Safety
5. Steps of doing
6. Picture of work (gambar kerja).
Konsep finishing atau penyelesaian akhir yang disajikan kedalam Job sheet, disusun berdasarkan SK/KD yang ada pada Dokumen I KTSP untuk SMK dan Standar Isi yang diterbitkan oleh DitPSMK 2006. Kompetensi dasar yang diharapkan dikuasai oleh peserta didik adalah :
1.Menjelaskan bahan dan alat finishing kayu
2.Membuat campuran finishing kayu 3.Melakukan finishing dengan politur 4.Melakukan finishing dengan teknik
semprot (spray gun)
Luasnya bahan ajar yang dibahas di kelas XI semester genap kompetensi keahlian
Kriya Kayu, maka peneliti membatasi pengembangan bahan ajar pada Kompetensi Kejuruan Finishing produk Kriya Kayu dengan Politur dengan beberapa alasan:
1. Bahan dan alat mudah diperoleh, dan harganya terjangkau
2. Mudah digunakan 3. Hasilnya cukup baik 4. Ramah lingkungan 5. Tahan lama.
Proses yang terjadi dalam pembelajaran produktif melakukan Finishing Produk Kriya Kayu dengan Politur meliputi beberapa tahapan. Tahapan tersebut terdiri atas : 1) menerapkan kesehatan, keselamatan kerja dan lingkungan hidup, 2) memahami gambar kerja, 3) peralatan, bahan dan keteknikan, 4), perakitan komponen, 5) langkah kerja secara berurutan, 6) pengampelasan, 7) penutupan pori-pori menggunakan wood filler/proses pelapisan dasar benda kerja, 8) proses pewarnaan dengan wood stain, 9), proses pelapisan politur dengan kain perca, 10), proses pelapisan terakhir dengan glossy/melamine, 11), pengemasan produk.
Salah satu pendekatan pembelajaran yang diterapkan pada mata pelajaran produktif adalah pendekatan Program Teaching Factory (TEFA) yang merupakan perpaduan pembelajaran Competency Based Training (CBT) dan Production Based Training (PBT), dalam pengertian bahwa suatu proses keahlian atau keterampilan (life skill) dirancang dan dilaksanakan berdasarkan prosedur dan standar bekerja yang sesungguhnya untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan tuntutan pasar/ konsumen.
Dari segi pendidikan teaching factory mendidik peserta didik untuk belajar menerapkan apa yang mereka ketahui (learning to knowing), belajar menerapkan apa yang mereka lakukan (learning to do), dan belajar untuk mengaplikasikan apa yang mereka ketahui dan mereka lakukan
secara bersamaan (learning to be), untuk kemudian menjadi suatu skill bagi mereka yang bisa membawa mereka untuk dapat hidup bermasyarakat (learning to live together).
Teaching factorymenurut konstruktivisme adalah peserta didik memahami konsep-konsep produk yang akan dibuat,
menganalisa bagaimana proses
pengerjaannya, menganalisa faktor- faktor yang mempengaruhinya, serta bagaimana semua tahap yang dilalui dalam proses produksi dapat berjalan dengan baik tanpa kesalahan dan produk yang dihasilkan sesuai dengan standar mutu yang ada. Indikator keberhasilanteaching factory adalah produk yang baik sesuai standar mutu serta pengetahuan dan ketrampilan peserta didik yang meningkat.
Selanjutnya pada tahapan prosesFinishing untuk kayu (wood finish) menurut Derrick (1993:79), adalah suatu proses pelapisan akhir pada permukaan kayu/material lain yang berbahan dasar kayu dengan tujuan untuk :
1. Meningkatkan nilai estetika
2. Melindungi permukaan kayu dari kerusakan
3. Memberi lapisan yang mudah untuk pemeliharaan/perawatan.
Bahan Finishing menurutSunaryo
( 1997:93), dikategorikan kedalam beberapa jenis, yaitu:
a) Oil. Bahan ini meresap ke dalam pori-pori kayu untuk mencegah air keluar atau masuk dari pori-pori kayu.
b) Politur. Bahan dasar finishing ini adalah Shellac yang berwujud serpihan atau batangan kemudian dicairkan dengan alkohol.
c) NC Lacquer. Terbuat dari resin Nitrocellulose/alkyd yang dicampur dengan bahan 'solvent' dengan sebutan thinner.
d)Melamine. Mengandung bahan Formaldehydepaling tinggi di antara bahan finishingyang lain.
e) PU (Poly Urethane). Lapisan yang benar-benar menutup permukaan kayu seperti plastik.
f) UV Lacquer. Suatu metode aplikasi seperti air curahan 'curtain method'yang membentuk tirai.
g) Waterbased Lacquer. Menggunakan bahan pencair air murni (yang paling baik) dan resin.
Ada beberapa cara aplikasi finishing dengan menyesuaikan jenis bahan dan kualitas akhir yang diinginkan. (Derrick, 1993). Berikut ini beberapa cara aplikasi finishing, yaitu:
a. Dipping (celup).
b. Wiping (pemolesan dengan kain).
c. Brush (kuas).
d. Spray (semprot). e. Shower (curah). f. Rolling.
Adapun kelebihan yang terdapat pada Bahan Ajar dalam Bentuk Job sheet Finishing Produk Kriya Kayu dengan Politur yang dikembangkan adalah:
1. Bahan Ajar dalam Bentuk Job sheet Finishing Produk Kriya Kayu dengan Politur dilengkapi dengan gambar dan teks yang membantu peserta didik lebih mudah dan mengerti untuk memahami teknik finishing produk Kriya Kayu dengan benar.
2. Isi dari Bahan Ajar dalam Bentuk Job sheet Finishing Produk Kriya Kayu dengan Politur yang dikembangkan lengkap karena didalamnya terdapat: (1) nomor kode kompetensi, (2) standar kompetensi dan kompetnsi dasar,(3) indicator kunci,(4) benda pelatihan praktek, (5) petunjuk langkah kerja, (6) daftar bahan dan alat, (7) urutan (sequence) proses kerja, (8) lembar penilaian
4. Mudah dipahami,dimengerti dan dipraktekkan (praktis).
5. Dapat meningkatkan prestasi dan keterampilan peserta didik.
Adapun kekurangan Bahan Ajar dalam Bentuk Job sheet Finishing Produk Kriya Kayu dengan Politur disebabkan keterbatasan kemampuan peneliti dari segi isi dan teknisnya, yaitu;
a) Proses penyusunan bahan ajar dalam bentuk Job sheet memerlukan waktu dan proses yang cukup lama
b) Terbatas hanya pada satu kompetensi dasar saja
c) Perlu pengembangan lebih lanjut pada aspek desain gambar kerja dan KD d) Bahan ajar mudah rusak, dan sobek
jika terkena air
Beberapa kekurangan yang terdapat dalam Bahan Ajar dalam Bentuk Job sheet Finishing Produk Kriya Kayu dengan Politur ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan bagi pengembang lain agar lebih sempurna.
C. METODOLOGI PENELITIAN 1. Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk dalam penelitian pengembangan (development research). Dalam penelitian ini produk yang dikembangkan adalah bahan ajar dalam bentuk Job sheet pada Kompetensi Kejuruan Finishing Produk Kriya Kayu dengan Politur yang belum memenuhi standar validitas, kepraktisan dan keefektifan (Akker,1999).
2. Subyek Penelitian
Dalam penelitian ini yang dijadikan subyek evaluasi satu-satu (one-to-one evaluation) sebanyak tiga orang berasal dari kelas XIB Desain dan produksi Kriya Kayu. Enam orang untuk evaluasi kelompok kecil (small group) dari kelas XIB dan untuk uji lapangan (field test) berasal dari kelas XIA yang berjumlah 25 orang. Pemilihan subyek penelitian dilakukan secara acak.
3. Model Pengembangan
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan Model Pengembangan Instruksional (MPI). Pengembangan instruksional mengandung pengertian, yaitu: 1) tujuan atau hasil akhir pengembangan instruksional adalah satu set bahan dan strategi instruksional yang efektif dan efisien dalam mencapai tujuan instruksional, 2) Proses pengembangan
instruksional dimulai dengan
mengidentifikasi masalah, dilanjutkan dengan mengembangkan strategi dan bahan instruksional, kemudian diakhiri dengan mengevaluasi efektifitas dan efisiensi bahan yang sedang dikembangkan.
4. Prosedur Pengembangan
Secara garis besar model yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Model Pengembangan Instruksional (MPI). Secara sederhana prosedur penelitian pengembangan ini dapat dilihat pada gambar 1 berikut ini:
Tidak
Gambar 1. Bagan Sederhana Prosedur Penelitian (Modifikasi dari Suparman, 2004)
Identifikasi
Pengembangan
Evaluasi
Revisi
Produk
ya
Berdasarkan Model Pengembangan Instruksional, peneliti membuat rancangan prosedur pengembangan sebagai berikut:
Tahap identifikasi diuraikan menjadi tiga langkah sebagai berikut:
a. Identifikasi Kebutuhan Instruksional untuk Menetapkan SK dan KD
Pada langkah awal peneliti melakukan survey pendahuluan dan wawancara dengan teman sejawat untuk mengetahui masalah atau hambatan apa saja yang dihadapi dilapangan, menganalisa GBPP, Standar Isi, Standar Proses, dan Standar Kelulusan untuk menetapkan Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) bahan ajar yang akan dikembangkan.
2) Melakukan Analisis Instruksional
Pada tahap ini, peneliti mengidentifikasi kemampuan yang harus dimiliki peserta didik untuk mencapai kompetensi dasar yang telah ditetapkan sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
3) Identifikasi Perilaku dan Karakteristik Awal Peserta Didik
Penelitian diawali dengan melakukan observasi seluruh kelas XI Kompetensi Keahlian Kriya Kayu di SMKN 2 Kayuagung yang terdiri atas enam kelas. Tujuan observasi untuk melihat aktivitas dan tingkat kemampuan peserta didik pada saat melakukan praktek dalam proses KBM di bengkel dalam situasi yang sesungguhnya.
Tahap pengembangan diuraikan menjadi empat langkah sebagai berikut:
4) Merumuskan Tujuan Instruksional Khusus
TIK pada kompetensi dasar finishing produk Kriya Kayu dengan politur sebagai berikut:
- Melalui diskusi tentang definsi finishing diharapkan peserta didik
dapat menjelaskan pengertian
finishingproduk Kriya Kayu dengan politur dengan 100% benar.
- Melalui tanya jawab tentang hasil karya finishing dengan politur diharapkan peserta didik dapat memberikan 3 contoh karya hasil finishing dengan politur dengan tepat. - Melalui presentasi tentang bahan dan
alat finishing diharapkan peserta didik dapat membedakan bahan dan alat finishing dengan politur dan spray gun dengan benar.
- Melalui observasi tentang bahan dan alat finishing produk Kriya Kayu dengan politur peserta didik dapat mengelompokkan 3 bahan dan alat finishing dengan politur dengan tepat. - Melalui pemberian pertanyaan tentang
finishing produk Kriya Kayu dengan politur peserta didik dapat membuat campuran bahan finishing dengan benar.
- Melalui demonstrasi tentang langkah melakukan finishing peserta didik dapat melakukan proses kerjafinishing produk Kriya Kayu dengan politur secara benar.
5) Menyusun Tes Acuan Patokan
Untuk menilai keefektifan bahan ajar dalam bentuk Job sheet secara keseluruhan, peneliti menyusun butir-butir tes dan penskoran acuan patokan yang dapat mengukur hasil belajar peserta didik dalam memahami materi dengan menggunakan Job sheet. Tes ini akan digunakan sebagai tes awal dan tes akhir dalam uji coba bahan ajar dalam bentuk Job sheet yang telah dikembangkan. Hasil tes ini juga dapat dijadikan petunjuk tentang bagian mana dari bahan ajar yang disajikan sulit dipahami, dimengerti dan dipraktekkan oleh peserta didik.
6). Menyusun Strategi Instruksional
(media), serta waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran.
7) Mengembangkan Bahan
Instruksional
Langkah-langkah dalam pembuatan bahan ajar dalam bentuk Job sheet Finishing produk Kriya Kayu dengan Politur melalui tahapan sebagai berikut, yaitu: 1) pembuatan garis besar materi (GBM), 2) desain lay out /cover, 3) perancangan contens dan struktur Job sheet, 4) pengumpulan bahan ajar/materi, 5) pengolahan data dan 6) finishing (Susilana dan Riyana, 2007).
Tahap evaluasidan revisi (evaluasi formatif)
Desain bahan ajar dalam bentuk Job sheet tersebut di evaluasi dan di ujicobakan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari produk tersebut. Kekurangan-kekurangan yang ada direvisi untuk mendapatkan produk yang valid, praktis dan efektif agar dapat digunakan oleh pendidik dan peserta didik sebagai sumber belajar alternatif dalam pembelajaran produktif.
5. Teknik Pengumpulan Data 1). Kuesioner
a. Kuesioner untuk Expert Review Lembar validasi dalam bentuk kuesioner digunakan untuk mengetahui bahan ajar berbentuk Job sheet yang dirancang valid atau tidak.
b. Kuesioner untuk Peserta Didik
Kuesioner diberikan untuk menilai kepraktisan Job sheet yang diberikan padakegiatan evaluasi satu-satu, evaluasi kelompok kecil dan uji lapangan. Penelitian ini menggunakan kuesionerjenis check list berbentuk skala Likert untuk melihat penilaian dan pendapat peserta didik terhadap kepraktisan Job sheetFinishing produk Kriya Kayu dengan Politur. Pernyataan-pernyataan dinilai oleh
subyek penelitian dengan lima kategori penilaian yaitu, Sangat Setuju (SS), Setuju (S), tidak punya pendapat atau netral (N), Tidak Setuju (TS) dan Sangat Tidak Setuju (STS).
2). Observasi
Observasi yang dilakukan pada penelitian ini secara nonpartisipasi (nonparticipant observation) dimana peneliti tidak terlibat pada kegiatan observasi hanya sebagai pengamat independen. Observasi digunakan untuk mengumpulkan data tentang kevalidan dan kepraktisan bahan ajar dalam bentuk Job sheet yang telah dikembangkan dalam pembelajaran individual Kriya Kayu di kelas XI SMK Negeri 2 Kayuagung.
3). Tes
Bentuk tes yang digunakan pada mata pelajaran produktif menggunakan tes untuk mengukur ranah kognitif berupa soal pilihan ganda sebanyak 15 dengan skormaksimal 15 dan essay 5 soal dengan skor maksimal 25 serta unjuk kerja untuk ranah psikomotorik dengan menggunakan Job sheet sebagai tolak ukur pencapaian kompetensi kejuruan dengan kriteria penilaian pada setiap tahapan proses kerja yang dilakukan oleh peserta didik nilai perolehan minimal 0-105 dan maksimal 135-150 dengan predikat kompeten dan tidak kompeten.
6. Teknik Analisis Data 1). Analisis Data Kuesioner
Data kuesioner diperoleh dengan cara menghitung skor peserta didik yang menjawab seluruh item pertanyaan yang terdapat pada kuesioner. Data tersebut dianalisis dengan teknik persentase:
dimana: Jumlah skor ideal seluruh item = skor jawaban tertinggi x jumlah butir
instrumen x jumlah responden
Untuk mengetahui apakah bahan ajar berbentuk Job sheet ini praktis,data hasil analisis tersebut diinterpretasikan dengan menggunakan kriteria seperti pada tabel 3 berikut ini:
Tabel 3. Kriteria Kepraktisan Penggunaan Bahan Job Sheet
Skor Kepraktisan Penggunaan Bahan Ajar Berbentuk Job sheet
86 – 100 Sangat praktis
71 – 85 Praktis
56 – 70 Cukup Praktis 41 – 55 Tidak Praktis 20 – 40 Sangat tidak Praktis ( Modifikasi dari Djaali dan Muljono, 2008:9).
2). Analisis Data Observasi
Data yang diperoleh dari observasi aktivitas peserta didik dianalisis dengan cara menghitung persentase dari setiap deskriptor:
dimana:
Skor aktivitas = jumlah peserta didik yang melakukan aktivitas pada masing-masing deskriptor.
Skor total aktivitas = jumlah peserta didik yang melakukan semua deskriptor.
Hasil analisis tersebut diinterpretasikan dengan menggunakan kriteria seperti pada tabel berikut:
Tabel 4.Kriteria Kepraktisan Penggunaan Job sheet
untukObservasi
Pernyataan positif diberi skor 5, 4, 3, 2, dan 1 sedangkan bentuk pertanyaan negatif diberi skor 1, 2, 3, 4, dan 5.
3). Analisis Data Tes
Analisis data tes dilakukan dengan melihat persentase ketuntasan hasil belajar peserta didik dengan berpatokan pada Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada mata pelajaran produktif Kompetensi Kejuruan Finishing Kriya Kayu dengan Politur pada kegiatan tes akhir uji lapangan yaitu 70. Persentase Ketuntasan (PK) dapat dihitung dengan rumus:
Setelah dianalisis kemudian dibandingkan dengan melihat tabel berikut:
Tabel 5. Predikat Hasil Belajar untuk Kelompok Mata Pelajaran Produktif
Nilai Predikat
90 – 100 Amat Baik
75 – 89 Baik
60 -74 Cukup
0 – 59 Kurang
(Sumber: Peraturan Dirjen Mandikdasmen, 2006)
Bahan ajar dalam bentuk Job sheetdikatakan efektif terhadap hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran produktif kompetensi keahlian Kriya Kayu, jika 75% peserta didik mendapat nilai
.
Skor Kepraktisan Penggunaan BahanAjar dalam Bentuk Job sheet 81 – 100 Sangat Praktis atau Sangat Baik
61 – 80 Praktis atau Baik 41 – 60 Cukup Praktis atau Cukup Baik
21 – 40 Tidak Praktis atau Tidak Baik 0 – 20 Sangat tidak Praktis atau Sangat
D. HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi
Tahap mengidentifikasi diuraikan menjadi tiga langkah yaitu:
1. Identifikasi Kebutuhan Instruksional untuk Menetapkan SK dan KD
Berdasarkan data yang dihimpun oleh peneliti melalui wawancara tidak terstruktur ke beberapa pendidik, dudi, dan assessor mata pelajaran produktif Kriya Kayu pada kegiatan workshop penyusunan KTSP SMK, masalah atau hambatan yang dihadapi pendidik di lapangan, adalah terbatasnya bahan ajar, metode dan media yang dapat digunakan dalam pembelajaran.
a. Analisis Bahan ajar dalam bentuk
Job sheet
Berdasarkan hasil visitasi dan diskusi/wawancara dengan beberapa teman sejawat yang sama-sama mengajar mata pelajaran produktif di SMKtentang bahan ajar dalam bentuk Job sheet pada umumnya masalah yang dihadapi adalah bahan ajar yang digunakan cakupan materinya masih bersifat umum dan hanya sebatas teori untuk kelas klasikal bukan
untuk pembelajaran
mandiri.Sequencebahan ajar dalam bentuk Job sheet masing-masing sekolah berbeda-beda, namun pada intinya bahan ajar dalam bentuk Job sheet sama-sama digunakan pada pembelajaran produktif. Dari semua bentuk Job sheet yang peneliti analisis tidak ada kelengkapan gambar pada komponen alat dan bahan, serta langkah proses kerja sehingga menyulitkan peserta didik di dalam melakukan praktek di bengkel.
b. Analisis Buku Teks Kriya Kayu
Buku teks yang selama ini dijadikan referensi yaitu:
1) Judul: Reka Oles Mebel Kayu, Nama Pengarang: Agus Sunaryo, S.H., M.B.A. Penerbit: PIKA Semarang. Tahun: 2003.
2) Brosur dari Profan,
MelakukanFinishing, 2009, Jakarta: PT. Profan.
3) Diklat Kompetensi Guru Produktif SMK Tingkat Provinsi Sumatera Selatan. Pembuatan Meja ½ Biro dan Teknik Finishing pada Kayu. 2006. Palembang: BPLPT. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa materi finishing yang ada lebih banyak bersifat teoritis sehingga peserta didik tidak kompeten ketika melakukan finishing produk kriya kayu dengan menggunakan politur.
c. Wawancara dengan Teman Sejawat
Dari hasil wawancara data yang dapat dikumpulkan peneliti adalah:
1. Peserta didik kurang aktif, responsif dan interaktif saat PBM dimulai atau kurang motivasi belajar. 2. Intake peserta didik saat PSB masih
rendah.
3. Peserta didik mudah jenuh, bosan dan kurang bergairah.
4. Kurang konsentrasi dalam belajar. 5. Bahan ajar yang disampaikan
umumnya bersifat teori bukan praktek. 6. Pada saat pembelajaran praktek
materi tidak dilengkapi dengan Job sheet.
7. Kurang menghargai waktu dan kurang disiplin.
8. Hasil belajar masih rendah, tidak mencapai KKM.
9. Guru kurang kreatif dan inovatif dalam melakukan analisis bahan ajar dan strategi yang diterapkan dalam PBM.
2. Melakukan Analisis Instruksional
a.Menjelaskan bahan dan alat finishingproduk kriya kayu dengan politur
b.Menjelaskan perbandingan campuran bahan finishing dengan politur secara benar.
c.Menjelaskan perbedaan bahan dan alat yang digunakan pada finishing dengan politur dan spraygun.
d.Menjelaskan urutan proses kerja melakukan finishing dengan politur.
3. Identifikasi Perilaku dan Karakteristik Awal Peserta Didik
Secara umum ada banyak faktor yang mempengaruhi perbedaan karakteristik peserta didik di SMK Negeri 2 Kayuagung tempat peneliti mengajar, diantaranya adalah: dilihat pada tabel 6 berikut ini.
Tabel 6. Hasil Analisis Prilaku dan Karakteristik Awal Peserta didik
No Prilaku awal dimilikiBelum dimilikiSudah
a politur belum dapat dikuasai peserta didik. kerja finishing dengan politur secara benar
Dari analisis data awal, diketahui bahwa bahan ajar dalam bentuk Job sheet dapat dikembangkan dan dimanfaatkan untuk proses pembelajaran.
Pengembangan
Tahap pengembangan diuraikan menjadi empat langkah yaitu:
1. Merumuskan Tujuan Instruksional Khusus menjelaskan pengertian finishing produk Kriya Kayu dengan politur dengan 100% benar.
b.Melalui tanya jawab tentang hasil karya
finishing dengan politur diharapkan peserta didik dapat memberikan 3 contoh karya hasil finishing dengan politur dengan tepat. c. Melalui presentasi tentang bahan dan alat
finishing diharapkan peserta didik dapat membedakan bahan dan alat finishing
dengan politur dan spray gun dengan benar.
d.Melalui observasi tentang bahan dan alat
finishing produk Kriya Kayu dengan politur peserta didik dapat mengelompokkan 3 bahan dan alat
finishing dengan politur dengan tepat. e. Melalui pemberian pertanyaan tentang
finishing produk Kriya Kayu dengan politur peserta didik dapat membuat campuran bahan finishing dengan benar. f. Melalui demonstrasi tentang langkah
melakukan finishing peserta didik dapat melakukan proses kerja finishing produk Kriya Kayu dengan politur secara benar
2. Menyusun Tes Acuan Patokan
ranah kognitif, setiap butir tes hanya mempunyai skor 1 atau 0. Soal essay 5 soal dengan skor maksimal 25 serta unjuk kerja untuk ranah psikomotorik dengan kriteria penilaian pada setiap tahapan proses kerja yang dilakukan oleh peserta didik nilai perolehan minimal 0-105 dan maksimal 135-150 dengan predikat kompeten dan tidak kompeten dibobot sesuai dengan tingkat kesukaran soal. Skor akhir atau nilai (grade) berdasarkan acuan patokan (criterion referenced) atau standar mutlak dengan menggunakan rumus:
3. Pengembangan Strategi Instruksional
Secara garis besar penyusunan strategi instruksional di dalamnya terdiri dari empat komponen utama yaitu:
a. Urutan kegiatan instruksional yaitu pendahuluan, penyajian menerapkan model Eksplorasi, Elaborasi, dan Konfirmasi dan penutup.
b. Metode instruksional yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode belajar mandiridengan pendekatan strategi PAIKEM (pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan).
c. Media instruksional yang digunakan dalam pengembangan bahan ajar ini adalah Job sheet.
d. Waktu yang dibutuhkan dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran ini adalah 8 jam pelajaran untuk setiap pertemuan, dimana alokasi waktu satu jam pelajaran adalah 45 menit.
Strategi instruksional tersebut secara lengkap dibuat dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran atau lebih dikenal dengan nama RPP.
4. Mengembangkan Bahan
Instruksional
Langkah-langkah dalam pengembangan bahan belajar mandiri yaitu:
a.Memilih dan mengumpulkan bahan ajar dari lapangan, perpustakaan, du/di
(profan), P4TK Seni Budaya Yogyakarta, hasil Diklat Kompetensi, Hand Out, Modul, akses internet yang relevan dengan isi pelajaran yang tercantum di dalam Kompetensi Keahlian Kriya Kayu.
b. Mengadaptasi bahan ajar tersebut ke dalam bentuk bahan belajar mandiri dengan mengikuti strategi instruksional yang telah disusun sebelumnya.
c.Meneliti kembali konsistensi isi bahan belajar tersebut dengan strategi instruksional dengan melakukan analisis materi melalui penilaian oleh diri sendiri (self evaluation).
d. Meneliti kualitas teknis dari bahan tersebut, meliputi: bahasa yang digunakan mudah dipahami dan komunikatif.
e.Hasil pengembangan peneliti terhadap bahan ajar dalam bentuk Job sheet finishing produk Kriya Kayu dengan Politur pada tahap awal yang dilakukan adalah:
1) Mengumpulkan beberapa bentuk Job sheet dari SMK lain,
2) Mengumpulkan referensi dan hasil penelitian yang relevan dengan produk yang akan dikembangkan,
3) Membuat rancangan tahap awal (prototype 1) melalui diskusi, wawancara dengan du/di, Widyaiswara Seni, guru produktif dan beberapa dosen Teknologi Pendidikan UNSRI serta partisipasi dosen pembimbing untuk tahapan konsultasi.
Evaluasi dan Revisi (Evaluation and Revision)
1. Expert Review
pembelajaran (construct) sebesar 4,10
dengan kategori sangat baik Secara keseluruhan rerata hasil expert review sebesar 4,18 dengan kategori sangat baik. Kesimpulan, bahan ajar dalam bentuk Job sheetfinishing produk Kriya Kayu dengan politur yang peneliti kembangkan masuk kedalam kategori valid dan dapat digunakan pada tahap penelitian selanjutnya.
2. One-to-one Evaluation
Diperoleh data hasil rerata kuesioner pada tahap uji coba one-to-one terhadap penggunaan bahan ajar dalam bentuk Job sheet sebesar 84 termasuk ke dalam kategori praktis. Dari hasil wawancara dapat peneliti simpulkan bahwa mereka menyatakan setuju apabila dalam KBM guru harus membuat Job sheet terutama pada pembelajaran produktif di bengkel.Kesimpulannya bahwa bahan ajar dalam bentuk Job sheet finishing produk Kriya Kayu dengan Politur yang peneliti kembangkan sudah praktis untuk digunakan.Dari kritik dan saran peserta didik terhadap penggunaan bahan ajar dalam bentuk Job sheet menunjukkan bahwa prototype 1 yang peneliti kembangkan sudah valid dan praktis untuk digunakan pada tahap uji coba selanjutnya.
3. Tahap Small Group
Evaluation
Pada tahap ini bertujuan untuk melihat kepraktisan dari produk yang dikembangkan yaitu berupa bahan ajar dalam bentuk Job sheet finishing produk kriya kayu dengan politur.
Dari keseluruhan indikator kuesioner hasil rerata sebesar 82.67 dengan kategori praktis, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bahan ajar dalam bentuk Job sheet yang dikembangkan sudah praktis untuk digunakan pada tahap uji coba selanjutnya. Data yang diperoleh peneliti dari hasil observasi peneliti terhadap aktivitas peserta didik pada small group evaluation memperoleh rerata nilai sebesar 81.48 masuk kedalam kategori
praktis, dengan demikian produk yang sedang peneliti kembangkan dapat digunakan untuk tahap uji lapangan. Dari hasil wawancara dapat kesimpulan bahwa bahan ajar dalam bentuk Job sheet finishing kayu dengan politur sudah cukup baik.
4. Tahap Field Test
Pada tahap uji lapangan dengan menggunakan prototype 2 hasil revisi yang bertujuan untuk mengetahui efek potensial terhadap hasil belajar peserta didik pda prototype ketiga. Pelaksanaannya pada tanggal 23 Mei 2012 dengan alokasi waktu 8 jampel x 45 menit yang dibagi kedalam tiga tahapan, yaitu;
a) Tahap pertama pelaksanaan pretest untuk mengukur kemampuan awal aspek kognitif peserta didik selama 2jampel x @45 menit dengan soal sama seperti yang dilakukan di tahap small group sebanyak 15 soal pilihan ganda dan 5 soal essay dan praktek finishing. Diperoleh data hasil analisis pretest 20 peserta didik telah tuntas (80%) dan 5 peserta didik belum tuntas (20%). Kesimpulannya secara klasikal hasil prestasi belajar masih dibawah KKM yaitu hanya mencapai 72.93% dari target pencapaian yang ditetapkan > 75%.
b) Tahap kedua melakukan praktek terhadap 25 peserta didik selama 5jampelx@45menit untuk melakukan proses finishing kayu dengan politur sesuai dengan urutan proses kerja yang ada dalam Job sheet yang dibagi ke dalam dua kelompok dengan dibantu dua orang guru produktif sebagai observer. Berdasarkan hasil observasi observer 1 diperoleh data keaktifan peserta didik rata-rata sebesar 84.88 (sangat baik).
c) Tahap ketiga peserta didik melakukan
pretest. Dari analisis hasil posttest diperoleh data rata-rata 75.38 sebanyak 24 orang (96%) orang yang telah tuntas dan 1 orang (4%) yang belum tuntas, dengan kategori tinggi dengan rincian 11 orang dengan predikat amat baik, 6 orang predikat baik, dan 7 orang dengan predikat cukup. Jika dilihat dengan berdasarkan batas minimum KKM 70, maka hanya 1 orang yang belum mencapai KKM. Dilihat dari perbandingan hasil pretest sebesar
70.44 dan posttest 75.38 artinya terjadi peningkatan sebesar 4,97. Hal ini menunjukkan bahwa efek potensial dari bahan ajar dalam bentuk Job sheet finishing produk Kriya Kayu dengan Politur yang peneliti kembangkan termasuk kategori baik untuk peserta didik.
Adapun persentase kategori hasil belajar peserta didik dapat dilihat pada gambar 2 berikut.
Gambar 2.Diagram Batang Persentase Ketuntasan Belajar Peserta Didik pada Field Test
Berdasarkan data yang terkumpul dari 25 responden dari hasil observasiobserver 2 diperoleh nilai rata-rata aktivitas peserta didik sebesar 85.77 (kategori sangat baik) terdapat selisih 0,89. Dari kedua data observasi dapat disimpulkan bahwa hasil nilai rata-rata aktivitas peserta didik pada
saat melakukan ujian praktek sebesar 85.33
(kategori sangat baik).Dari hasil rata-rata kesan peserta didik terhadap bahan ajar dalam bentuk Job sheet sebesar 3.85
dengan kategori praktis. Kesimpulan secara umum dari semua tahapan pengembangan yang dilalui bahwa bahan ajar dalam bentuk Job sheet finishing dengan politur dapat dijadikan bahan ajar alternatif pembelajaran produktif di bengkel/laboratorium pada sekolah kejuruan.
E. KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan bahan ajar dalam bentuk Job sheet di SMK Negeri 2 Kayuagung dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Valid berdasarkan hasil review ahli yang dilakukan oleh ahli materi dan ahli desain serta praktisi untuk menilai desain fisik dari Bahan Ajar dalam Bentuk Job sheet yang dikembangkan sudah tepat dan sesuai dengan KTSP produktif Kriya Kayu untuk diujicoba setelah direvisi sesuai saran dan diskusi dengan para ahli tersebut. Dilihat dari hasil observasi peneliti terhadap aktivitas peserta didik pada one-to-one evaluation sebesar 85.18 masuk dalam kategori sangat baik. Kesimpulannya dari hasil evaluasi satu-satu Bahan Ajar dalam Bentuk Job dinyatakan sudah valid setelah direvisi sesuai saran dari ahli dan kesan serta saran dari peserta didik yang selanjutnya diujicobakan pada tahap berikutnya.
2. Praktis dilihat dari kemudahan pemakai (user), mudah dibaca, mudah dimengerti dan mudah di praktekkan dalam menggunakan Bahan Ajar dalam Bentuk Job sheet Finishing Produk Kriya Kayu dengan Politur pada tahap evaluasi kelompok kecil (small group evaluation) berdasarkan hasil observasi, kuesioner, dan wawancara. Dari hasil observasi aktivitas peserta didik diperoleh rerata nilai sebesar
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bahan ajar dalam bentuk Job sheet yang dikembangkan sudah praktis untuk digunakan pada tahap uji coba selanjutnya.
3. Efek potensial dilihat dari perbandingan hasil pretest sebesar
70.44 dan posttest 75.38 artinya terjadi peningkatan sebesar 4,97. Hal ini menunjukkan bahwa efek potensial dari bahan ajar dalam bentuk Job sheet finishing produk Kriya Kayu dengan Politur yang peneliti kembangkan termasuk kategori baik untuk peserta didik. Dari hasil observer 1 terhadap aktivitas peserta didik diperoleh data dengan rata-rata sebesar 84.88 (sangat baik), dan observer 2 nilai rata-rata sebesar 85.77 (sangat baik) terdapat selisih sebesar 0.89 dengan tingkat ketuntasan klasikal sebesar 96% (24 orang) dan 4% (1 orang) yang tidak tuntas dengan hasil rata-rata pada ujian kompetensi diperoleh nilai 85.33
(sangat baik). Dari kedua data diatas dapat disimpulkan bahwa efek potensial dari bahan ajar dalam bentuk Job sheet finishing produk Kriya Kayu dengan Politur dapat meningkatkan prestasi dan keterampilan peserta didik pada mata pelajaran produktif khususnya pada kompetensi kejuruan Finishing produk Kriya Kayu dengan Politur.
2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan di atas, maka peneliti menyarankan hal-hal sebagai berikut: 1. Peserta didik diharapkan agar
menggunakan bahan ajar dalam bentuk Job sheet Finishing Produk Kriya Kayu dengan Politur sebagai salah satu sumber belajar dalam memahami materi yang bersifat teoritis.
2. Pendidik diharapkan dalam
menyampaikan kompetensi dasar finishing produk kriya kayu dengan politur kepada peserta didik pada kompetensi keahlian Kriya Kayu di
SMK dengan menggunakan bahan ajar dalam bentuk Job sheet Finishing Produk Kriya Kayu dengan Politur yang telah dikembangkan ini sebagai media dalam penyampaian materi untuk memberikan perlakuan sesuai dengan kemampuan kecepatan belajar peserta didik secara individual.
3. Peneliti diharapkan dapat
mengembangkan bahan ajar pada kompetensi yang lain khususnya produktif Kriya Kayu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, dan,
DAFTAR PUSTAKA
Adnyawati, S. (2004).Peningkatan Keterampilan Proses dan Hasil Pembelajaran Dekorasi Kue melalui Metode Demonstrasi dan Media Job Sheet Mahasiswa Jurusan PKK IKIP Negeri Singaraja.Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 1 TH.XXXVII, Januari 2004.
Akker, J.V.D. (1999). Principles and Methods of Development Research. In J.V.D.Akker, R.M. Branch, K. Gustafson, N. Nieveen and T. Plomp (editor).Design approaches and tools ineducation and training (page 1-14). Dordrecht: Kluwer Academic Publisher.
Asmudjo, J.I. (2005). Dilema Pendidikan Kriya dalam Refleksi Seni Rupa Indonesia: dulu, kini dan esok. Jakarta: Balai Pustaka.
Awangga, D. (2009).Studi Komparatif Kompetensi Peserta Didik SMK dengan Menggunakan Job Sheet
Pemesinan Bubut Hasil
Pengembangan dengan Job sheet Pemesinan Bubut yang Digunakan Guru. Jakarta: UPI
Chaeruman, U.A. (2008). Field Test, (http://www.teknologipendidikan.n et/?p=8, diakses 20 februari 2012).
Derrick, C. (1993). The Complete Guide to Wood Finishes. Perth: Simon & Shuster.
Departemen Pendidikan Nasional.(2006). Bahan Bimbingan Teknis Penyusunan KTSP dan Silabus SMK. Jakarta: Depdiknas.
Dimyati Mudjiono.(2006). Belajar dan Pembelajaran-cetakan ke-3.Jakarta: Departemen pendidikan dan kebudayaan bekerjasama dengan Rineka Putra.
Dinas Pendidikan Nasional. (2006). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22 tahun 2006, tentang Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Menengah SMA/MA-SMK-MAK (Peraturan Mendiknas No. 22 dan 23 tahun 2006). Jakarta:BP. Cipta Jaya.
Dinas Pendidikan Nasional.(2007). Model Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan untuk Sekolah Menengah Atas. Jakarta: Depdiknas.
Direktorat Pembinaan SMA. (2010). Seri Petunjuk Teknis: Analisis Konteks di Sekolah Menengah Atas. Jakarta: Direktorat Pembinaan SMA.
Gredler, B. (1991). Belajar dan Membelajarkan. Jakarta: C.V. Rajawali dan PAU-UT.
http://masterrozi.wordpress.com/2008/07/3 1/teaching-factory/, diakses pada tanggal 24 Februari 2012.
Leighbody, G.B., Kidd, D.M. (1996). Methode of Teaching Shop and Technical Subject.p. 123. New York: Delmar Publisher.
Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi
Pendidikan.(2008). Metode
Penelitian Pengembangan.Jakarta:
Badan Penelitian dan
Pengembangan Departemen
Pribadi, B.A. (2011). Model Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: PT. Dian Rakyat.
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta.
Sunardjo.(2008). Pengembangan Bahan Ajar,
http://www.scribd.com/doc/570286 9/11-Pengembangan-Bahan-Ajar, diakses 19 Februari 2012).
Sunaryo, A. (1997). Politur Mebel Kayu. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Suparman, M. A. (2004). Desain Instruksional. Jakarta: Pusat penerbitan Universitas Terbuka.
Susilana, R dan C. Riyana. 2007. Media
Pembelajaran “Hakikat,
Pengembangan, Pemanfaatan dan Penilaian”. Bandung: Wacana Prima.
Tessmer, M. (1998).Planning and Conducting Formative Evaluations “Improving the quality of education and training”. London: Kogan Page, Philadelphia.
Tim Penyusun Pedoman Umum Format Penulisan Tesis/Disertasi PPs Unsri. (2009). Pedoman umum format penulisan tesis/disertasi program pascasarjana universitas sriwijaya. Palembang: PPs Unsri.
Warsita, B. (2008) .Teknologi
Pembelajaran Landasan dan Aplikasi. Jakarta: Rineka Cipta.