• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keanekaragaman Fosil Anggota Ordo Forami

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Keanekaragaman Fosil Anggota Ordo Forami"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

26

KEANEKARAGAMAN FOSIL ANGGOTA ORDO FORAMINIFERA

PADA FORMASI PUCANGAN

DI DESA BUKURAN DAN KRIKILAN, KECAMATAN KALIJAMBE,

AREA SITUS MANUSIA PURBA SANGIRAN

Donan Satria Yudha1*, Moch. Indra Novian2 Adhitya Dani Prasetyo3, dan Roesma Narulita3

INTISARI

Yudha, D.S., M.I. Novian., A.D. Prasetyo, dan R. Narulita. 2013. Keanekaragaman Fosil Anggota Ordo Foraminifera pada Formasi Pucangan di Desa Bukuran dan Krikilan, Kecamatan Kalijambe Area Situs Manusia Purba Sangiran. Berlaka Ilmiah Biologi (12) 2: 26-33

Situs prasejarah Sangiran terletak di Jawa Tengah di antara Sragen dan Karanganyar. Situs tersebut telah mengungkap banyak fosil makhluk hidup dan telah banyak dilakukan penelitian terutama mengenai fosil manusia purba dan hewan vertebrata. Penelitian mengenai keanekaragaman hewan avertebrata di situs Sangiran masih belum banyak diketahui terutama mengenai keanekaragaman fauna foraminifera. Fosil foraminifera dapat digunakan dalam berbagai hal, yaitu penentuan umur batuan, paleobatimetri, lingkungan pengendapan, dan paleoekologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman fosil anggota Ordo Foraminifera di Formasi Pucangan wilayah Kecamatan Kalijambe Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran (BPSMPS), Sragen, Jawa Tengah. Informasi tersebut berguna untuk melengkapi basis data fosil anggota Ordo Foraminifera yang telah ada dan dapat dijadikan acuan bagi penelitian selanjutnya. Sampel batuan yang mengandung fosil foraminifera diambil dari dua dusun dan desa yang berbeda, yaitu Dusun Ngampon, Desa Krikilan dan Dusun Cengklik, Desa Bukuran wilayah Kecamatan Kalijambe. Hasil identifikasi sampel didapatkan dua kelompok foraminifera, yaitu planktonik dan bentik. Kelompok foraminifera planktonik berhasil diidentifikasi sebanyak 12 spesies sedangkan fora-minifera bentik 9 spesies.

Kata kunci: fosil, keanekaragaman, foraminifera, Sangiran.

ABSTRACT

Yudha, D.S., M.I. Novian., A.D. Prasetyo, and R. Narulita. 2013. The Diversity of the Fossil of Fora-minifera in the Pucangan Formation at the Village of Bukuran and Krikilan, Sub-District of Kalijambe, Sangiran Earrly Man Site. Berkala Ilmiah Biologi (12) 2: 26-33

Sangiran prehistoric site is located in Central Java between Sragen and Karanganyar Regency. This site has yielded many fossils of living organisms. There are many researchers conducted on the fossils of human and vertebrate animals from Sangiran. However, researches about the diversity of invertebrate fauna in Sangiran site are not well-known especially about the diversity of foraminifera fossils. Foraminifera fossils could be used in many ways, such as deter-mining the age of rocks, paleobathymetry, environmental deposition, and paleoecology. The aim of this research was to know the diversity of fossil member of the Order Foraminifera in the Pucangan Formation, sub-district Kalijambe, Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran (BPSMPS), Sragen, Central Java. This information could be used as addition of the existing database and also as a reference for the future research. Rocks samples containing fossil of forams were taken from the two different hamlets and villages inside the sub-district of Kalijambe, which were Ngampon in Krikilan village and Cengklik in Bukuran village. The result of samples identification shows two groups of foraminifera, which are planktonic and benthic group. There are 12 species of planktonic foraminifera could be identified and 9 species of benthic foramin-ifera.

Keywords: fossils, diversity, foraminifera, Sangiran.

1Laboratorium Sistematika Hewan, Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada 2Laboratorium Paleontologi, Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik,

(5)

27 PENDAHULUAN

Situs prasejarah Sangiran secara geografis terletak di wilayah Jawa Tengah, lebih tepatnya berada sekitar 3 km timur Kalioso dan 10 km utara Kota Solo. Sangiran merupakan lembah yang dikelilingi oleh pegunungan. Secara administratif, situs Sangiran terletak pada dua wilayah Kabupaten, yaitu Karanganyar dan Sragen. Wilayah Kabupaten Karanganyar yang masuk dalam situs prasejarah Sangiran adalah Kecamatan Gondangrejo, sedangkan wilayah Sragen yaitu Kecamatan Kalijambe, Gemolong, dan Plupuh. Wilayah Sangiran sangat terkenal karena banyak dijumpai temuan arkeologis berupa alat batu, sisa budaya lain, dan fosil makhluk hidup terutama manusia purba Homo erectus. Situs Sangiran merupakan salah satu situs purbakala di Indonesia yang telah banyak menyumbangkan fosil makhluk hidup. Temuan fosil tersebut umumnya secara tidak sengaja karena erosi atau penggarapan sawah sehingga kurang diketahui secara pasti posisi stratigrafinya. Saat ini situs purbakala sangiran telah berganti nama menjadi Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran (BPSMPS) di bawah perlindungan Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata bagian Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala (Simanjuntak, 1998; Bouteaux et al., 2007; Prasetyo, 2011; Narulita, 2011).

Sangiran mempunyai karakteristik wilayah yang khas berupa susunan/konformasi stratigrafi yang unik. Susunan tanahnya terdiri atas struktur batuan yang berbeda yang dikenal dengan istilah formasi. Stratigrafi Sangiran dari yang paling tua hingga muda, membentang mulai dari Pliosen Akhir hingga Pleistosen Tengah. Setidaknya terdapat lima jenis formasi yang menyusun daerah Sangiran, yakni, Formasi Kalibeng, Formasi Pucangan, Formasi Kabuh, dan Formasi Notopuro. Setiap formasi tersebut tersusun oleh jenis batuan yang berbeda dan mengandung beragam fosil makhluk hidup. Fosil yang telah ditemukan umumnya terdapat pada lapisan dari Formasi Kabuh (fosil Vertebrata dan Hominidae). Sedangkan fosil yang terdapat pada lapisan dari

formasi yang lebih tua (Pucangan dan Kalibeng) umumnya berupa fosil – fosil kerang dan hewan laut yang termasuk dalam kelompok Foraminifera dan Moluska.

Foraminifera dapat dibedakan berdasarkan habitatnya menjadi dua golongan, yaitu foraminifera bentik dan planktonik. Fora-minifera planktonik adalah foraFora-minifera yang hidupnya mengapung di permukaan atau sedikit di bawah permukaan air laut. Foramin-ifera bentik adalah foraminForamin-ifera yang hidupnya di dasar laut, ada yang menambat (sessile) dan ada yang merambat (vagile). Foraminifera besar hidup secara bentik, sedangkan foramin-ifera kecil ada yang hidup secara planktonik dan ada pula yang hidup secara bentik baik sessile maupun vagile. Foraminifera planktonik selama hidupnya mempunyai distribusi dan penyebaran yang luas di lautan. Selain itu, fora-minifera planktonik tidak resisten terhadap perubahan lingkungan. Adanya perubahan lingkungan yang ekstrim yang terjadi selama waktu tersebut akan terekam oleh foraminifera planktonik di dalam sedimen. Fosil foramin-ifera dapat digunakan dalam bidang penelitian paleontologi, misal dalam penentuan umur batuan (biostratigrafi), paleobatimeri dan lingkungan pengendapan, dan paleoekologi laut (Jones, 1956; Wilson, 2008; Barianto, et al., 2010).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman fosil anggota Ordo Foraminifera di Formasi Pucangan wilayah Kecamatan Kalijambe Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran (BPSMPS), Sragen, Jawa Tengah. Informasi tersebut berguna untuk melengkapi basis data fosil anggota Ordo Foraminifera yang telah ada, dan dapat dijadikan acuan bagi penelitian selanjutnya.

BAHAN DAN CARA KERJA

Sampel foraminifera diambil dari tanah Formasi Pucangan, pada dua dukuh di Kecamatan Kalijambe, Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran (BPSMPS), Sragen, Jawa Tengah. Sampel pertama diambil pada bulan Maret 2011 di wilayah Dusun Ngampon,

(6)

28

Desa Krikilan dan sampel kedua diambil pada bulan Juli 2011 di wilayah Dukuh Cengklik, Desa Bukuran.

Pada setiap dukuh, diambil tiga sampel contoh batuan, pengambilan sampel dilakukan pada waktu hari terang (bisa pagi atau siang). Pemilihan lokasi penelitian didasarkan pada dugaan bahwa daerah tersebut merupakan lingkungan pengendapan air tawar, laut, dan transisi pada masanya, hal ini berdasarkan pengamatan langsung di lapangan. Lokasi tersebut banyak dijumpai fragmen cangkang-cangkang Moluska dan foraminifera besar (Watanabe & Kadar, 1985 ; Raharjo, 2004). Sampel batuan yang diambil dibersihkan dahulu dari kontaminan dengan jalan mengambil batuan yang masih segar atau membuang bagian lapuk batuan yang diambil. Setelah itu, sampel batuan dimasukan ke dalam kantong plastik. Sampel batuan yang diambil diberi nomor sampelnya. Setelah itu, sampel batuan dipreparasi dan diamati di Laboratorium Paleontologi, Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik UGM.

Penelitian menyeluruh berupa pengamatan struktur dan komposisi dinding test/cangkang, bentuk kamar dan susunan kamar, apertura beserta ornamentasinya, Loeblich and Tappan (1964) cit. Brasier (1980). Pustaka yang digunakan untuk mendeterminasi antara lain Plankton Stratigraphy karangan H.M. Bolli, J.B. Saunders, Perch - K. Nielsen; Foraminifera The Classification and Economic Use karangan Cushman; Taxonomic Notes on the Spesies karangan R. Wright Barker; dan Manual of Planktonic Foraminifera karangan J.A. Postuma.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil identifikasi dari dua kelompok pengambilan sampel/sampling (Maret dan Juli 2011) didapatkan dua kelompok foraminifera, yaitu foraminifera planktonik dan bentik. Pada kelompok sampel Maret 2011 didapatkan 4 spesies foraminifera planktonik saja, sedangkan pada kelompok sampel Juli 2011 didapatkan 10 spesies foraminifera planktonik dan 9 spesies foraminifera bentik (Tabel 1., 2., dan 3.). Pada sampel yang didapat, masih cukup banyak fosil cangkang tidak dapat diidentifikasi karena hancur atau pecah, terutama bagi spesies dalam satu genus yang sama. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi permukaan cangkang foraminifera planktonik yang kasar dan tipis. Cangkang yang kasar menyebabkan ornamen mudah mengalami erosi akibat aktifitas lingkungan pada kondisi post morterm foraminifera (thanatocoenosis) sehingga ornamen tidak nampak begitu jelas. Sedangkan kondisi cangkang yang tipis dapat menyebabkan cangkang lebih rapuh. Kondisi cangkang yang tipis ini dipengaruhi kondisi lingkungan yang minim CaCO3 sehingga menyebabkan lingkungan bersifat reduktif. Hal ini menunjukan daerah pengendapan pada masanya merupakan laguna atau rawa.

Fosil cangkang foraminifera bentik yang didapat relatif utuh, karena foraminifera bentik umumnya memiliki cangkang yang lebih tebal daripada cangkang planktonik, meskipun tidak semua cangkang lebih kompak daripada planktonik, misalnya dari Genus Amphistegina, Robulus, dan Nodosaria. Dari hasil pemisahan sampel, walaupun terdapat fosil bentik yang tidak utuh, fosil tersebut masih dapat diidentifikasi hingga spesies karena masing-masing memiliki ciri khas tersendiri.

(7)

29 Tabel 2. Daftar fosil anggota Ordo Foraminifera Planktonik dari Formasi Pucangan,Dukuh Cengklik,

Desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe hasil sampling Juli 2011 yang berhasil diidentifikasi

Tabel 3. Daftar fosil anggota Ordo Foraminifera Bentik dari Formasi Pucangan, Dukuh Cengklik, Desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe hasil sampling Juli 2011 yang berhasil diidentifikasi.

Tabel 4. Daftar fosil anggota Ordo Foraminifera Planktonik dari Formasi Pucangan, Dukuh Ngampon, Desa Krikilan dan Dukuh Ngampon, Desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe yang berhasil diidentifikasi.

(8)

30

Fosil anggota foraminifera planktonik pada dua kali sampling (Maret dan Juli 2011), total didapatkan 12 spesies yang berasal dari dua famili, yaitu Famili Globigeriniidae dan Globorotaliidae (Tabel 4.). Terdapat dua spesies yang dijumpai pada dua kali sampling, yaitu: Orbulina universa dan Globigerina bulloides. Karakter Orbulina universa memiliki komposisi test hialin, tidak memiliki hiasan,

test terputar trochospiral dan kamar terakhir menelan seluruh kamar sebelumnya. Karakter Gobigerina bulloides memiliki test berbentuk dasar globular. Apertura berbentuk celah dan memiliki tekstur permukaan halus, tanpa hiasan. Komponen dinding test hialin, berkamar ganda yang terputar secara trochospiral (Gambar 1. dan 2.).

Gambar 1. Foraminifera planktonik Orbulina universa: A. foto fosil yang dijumpai di Sangiran (Prasetyo, 2011); B. foto pembanding (Hayes, 2000)

Gambar 2. Foraminifera planktonik Globigerina bulloides: foto fosil yang dijumpai di Sangiran (Prasetyo, 2011); B. sisi ventral; C. sisi dorsal, foto B & C adalah pembanding (Hayes, 2000)

Spesies anggota foraminifera planktonik merupakan indikator arus laut/ samudera dan iklim, kelompok ini hanya menunjukkan lingkungan laut terbuka (open marine). Zona hidup (life horizon) foraminifera planktonik hanya pada zona permukaan/bagian atas laut, hal tersebut menunjukkan kedalaman terhadap permukaan air laut, yaitu pada 0 meter dari permukaan air laut hingga kedalaman tertentu tetapi tidak sampai dasar laut. Spesies foraminifera planktonik yang siklus hidupnya dekat dengan permukaan air laut akan mudah tertransportasi apabila ada air laut masuk ke lingkungan tertutup seperti laguna atau rawa-rawa. Biasanya ini terjadi jika ada pasang

(9)

31

dapat diketahui bahwa wilayah Sangiran Purba pada lokasi yang dilakukan pengambilan sampel merupakan zona laut dangkal/rawa/la-guna yang masih terpengaruh oleh transgresi laut (Sartono, 1970; Sémah et al., 1998; Huffman, 1998; Sémah et al., 2000).

Fosil anggota foraminifera bentik didapatkan 9 spesies yang berasal dari enam famili, yaitu Famili Aphisteginidae, Cibicidae, Numulitidae, Nonionidae, Anomalinidae, dan Glandulinidae (Tabel 3.). Terdapat satu spesies

dengan karakter unik, yaitu: Nodosaria sp. Karakter Nodosaria sp. Memiliki bentuk menyerupai tabung, susunan kamar polythalamus, dipisahkan oleh sutur yang tegak lurus. Memiliki sutur dinding test bersifat cal-careous perforate. Memiliki apertur sentral dan terminal (Gambar 3.). Foraminifera bentik hidup diberbagai tipe lingkungan, mulai dari rawa-rawa hingga laut dalam, kelompok ini menunjukkan lingkungan laut terbuka dan merupakan indikator kedalaman laut.

Gambar 3. Foraminifera bentik Nodosaria sp: foto fosil yang dijumpai di Sangiran

(Narulita, 2011).

Fosil foraminifera bentik dapat digunakan untuk menentukan lingkungan pengendapan dan paleobatimetri. Setiap spesies Foraminifera bentik mempunyai penyebaran batimetri yang berbeda sesuai dengan kemampuan tiap spesies bertahan terhadap kondisi lingkungannya, sehingga setiap kedalaman tertentu akan dihuni oleh kelompok atau asosiasi foraminifera bentik yang khas pula. Melalui analisa asosiasi penyebaran foraminifera tersebut, dapat ditentukan paleobatimetri dan lingkungan purba dari lapisan yang kita pilih untuk di sam-pling.

KESIMPULAN

Fosil anggota Ordo Foraminifera di wilayah Sangiran berupa foraminifera planktonik dan bentik. Fosil foraminifera planktonik lebih banyak dijumpai, yaitu terdapat 12 spesies dan foraminifera bentik dengan 9 spesies. Beberapa fosil cangkang tidak dapat diidentifikasi karena kondisi fosil yang tidak utuh.

UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih disampaikan kepada Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, Kepala Dukuh dan Desa di wilayah Kecamatan Kalijambe yang telah memberikan ijin pengambilan sampel di lapangan. Pimpinan Fakultas Biologi UGM yang telah memberikan pengantar ijin pengambilan sampel di lapangan. Kepala Laboratorium Paleontologi, Jurusan Geologi, Fakultas Teknik UGM yang telah memberikan ijin kerja di Laboratorium.

DAFTAR PUSTAKA

Baltovkoy, E. and R. Wright. 1976. Recent Fora-minifera. Dr. W. Junk, bv. Publisher, The Hague. pp. 95-157.

Barianto, D. H., P. Kuncoro, and K. Watanabe. 2010. The Use of Foraminifera Fos-sils for Reconstructing the Yogyakarta Graben, Yogyakarta, Indonesia. J. SE Asian Appl. Geol., 2(2): 138–143. Bé, A. W. H. 1967. Foraminifera, Families:

Globigerinidae and Globorotaliidae.

(10)

32

Zooplankton, Sheet 108. Conseil Per-manent International Pour l’Exploration de la Mer. Lamont Geo-logical Observatory of Columbia Uni-versity, Palisades, New York. Contr. No. 982. This study received support from National Science Foundation, Grant GB-42 19.

Bé, A. W. H. 1969. Planktonic Foraminifera. Reproduced from, “Distribution of Selected Groups of Marine Inverte-brates in Waters South of 350 S Lati-tude,” pp.9-12 in Folio 11, ANTARC-TIC MAP FOLIO SERIES, American Geographical Society, 1969

Bemmelen, Van R.W. 1949. The Geology of In-donesia, General Geology. The Hague. Brasier, M.D. 1980. Microfossis. George Allen & Unwin Publisher, London. Pp. 96-100, 104-110.

Boersma, A. 1984. Foraminifera In: Introduction to marine micropaleontology (Boersma A & M.A. Kaminski eds.): Elssvier Biomedical, New York. Bouteaux, A., A-M. Moigne, F. Semah, and T.

Jacob. 2007. Les assemblages fauniques associes aux sites a Homo Erectus du dome de Sangiran (Pleis-tocene moyen, Java, Indonesie). P a l e o n t o l o g i e g e n e r a l e (bi ost rat i graphi e).El sevi er-Sciencedirect.

Bolli, H.M., J.B. Saunders, and K. Perch-Nielsen. 1989. Plankton Stratigraphy, Volume 1. Cambridge University Press, Cam-bridge, p 599.

Cushman, J.A. 1959. Foraminifera The Classifi-cation and Economic Use. Harvard University Printing Office. Cambridge, Massachustts. USA. pp. 1-24.

Hayes, A. 2000. Citing Computer References. Fossils. http://www.soes.soton.ac.uk/re sources/collection/fossils/Forams/ Eelco/Mediterranean/index.htm. (akses 29 Juni 2011).

Hidayat, R.T. 2007. Situs Cagar Budaya S a n g i r a n : P o t e n s i d a n Permasalahannya. Makalah Situs Peninggalan Sejarah dan Purbakala (SPSP) Jawa Tengah.

Huffman, F.O. 1998. Plio-Pleistocene Environ-mental Variety in Eastern Java and Early Homo erectus Paleoecology – A Geological Perspective. Proceedings of the International Colloquium on Sangiran Solo – Indonesia, 21st-24th

September 1998. The National Re-search Center of Archaeology; Ecole Francaise d’Extreme-Orient and Yayasan Obor Indonesia. pp. 231 – 256.

Jones, D.J. 1956. Introduction to Microfosils, Harper & Brithers Publishers, New York.

Narulita, R. 2011. Keanekaragaman Fosil Anggota Ordo Foraminifera pada Formasi Pucangan di Dukuh Cengklik, Desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe, Area Situs Manusia Purba Sangiran. Naskah Seminar. Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Neil, H., P. Cooke, and L. Northcote. 2005. The life and death of planktonic foramin-ifera. Use present-day biology to re-construct oceanic and climate change of the past. Ocean Geology. Water & Atmosphere 13(1).

(11)

33

Formasi Pucangan di Dukuh Ngampon, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Area Situs Manusia Purba Sangiran. Naskah Seminar. Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Rahardjo, W.A., Setyaningsih, dan M.I. Novian, 2009. Buku Paduan Praktikum Mikropaleontologi. Laboratorium Paleontologi Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Rao, K.K., K. V. Jayalakshmy, and M.K. Kutty. 1991. Ecology & distribution of Recent planktonic Foraminifera in eastern part of Arabian Sea. Indian Journal of Ma-rine Sciences, Vol. 20, pp. 25-35. Raup, D.M. and Stanley. 1971. Principle of

Pa-leontology. W.H. Freeman and Co. San Fransisco.pp 317-351.

Sartono, S. 1970. On the Stratigraphic Position of Pithecanthropus Mandible – C. Pro-ceedings. Institut Teknologi Bandung. Vol. 4, No. 4.

Sémah, F., A-M. Sémah, and T. Djubiantono. 1998. From the Shoreline to the Slopes of the Volcanoes: the Long Pithecan-thropus trek. Proceedings of the Inter-national Colloquium on Sangiran Solo – Indonesia, 21st-24th September 1998.

The National Research Center of Ar-chaeology; Ecole Francaise d’Extreme-Orient and Yayasan Obor Indonesia. Pp. 195 – 218.

Sémah, F., H. Saleki, C. Falguères, G. Féraud, and T. Djubiantono. 2000. Did Early Man reach Java during the Late Pliocene? Journal of Archaeological Science, 27: 763–769.

Shorck, G. and W.H. Twenhofel. 1953. Relation-ship of Surface Sediments and Benthic

Foraminiferal Distribution Patterns in The Norwegian Channel (Northen North Sea). Marine Mikropaleontology, Vol 9. Elsever Science Publisher B.V., Amsterdam. pp. 469-488.

Simanjuntak, T. 1998. Sangiran Site: Problems and the Balance of Research. In Sangiran : Man, Culture and Environ-ment in Pleistocene Times. Proceedings of the International Colloquium on Sangiran Solo – Indonesia, 21st-24th

Sep-tember 1998. The National Research Center of Archaeology; Ecole Francaise d’Extreme-Orient and Yayasan Obor Indonesia. Pp. 3 – 15.

Widianto, H. dan T. Simanjuntak. 1995. Laporan Penelitian Manusia Purba, Budaya dan Lingkungan Sangiran. LPA Puslit Arkeologi. Jakarta.

Wilson, B. 2008. Benthonic Foraminiferal Paleo-ecology Indicates an Oxygen Minimum Zone and an Allochthonous, Inner Ner-itic Assemblage in the Brasso Forma-tion (Middle Miocene) at St. Fabien Quarry, Trinidad, West Indies. Carib-bean Journal of Science, 44(2): 228-235.

(12)
(13)

Gambar

Tabel 1. Daftar fosil anggota Ordo Foraminifera Planktonik dari Formasi Pucangan,Dukuh Ngampon, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, hasil sampling Maret 2011 yang berhasil diidentifikasi
Tabel 2. Daftar fosil anggota Ordo Foraminifera Planktonik dari Formasi Pucangan,Dukuh Cengklik,  Desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe hasil sampling Juli 2011 yang berhasil diidentifikasi
Gambar 2. Foraminifera planktonik Globigerina bulloides: foto fosil yang dijumpai di Sangiran         (Prasetyo, 2011); B
Gambar 3. Foraminifera bentik Nodosaria sp: foto fosil yang dijumpai di Sangiran                                   (Narulita, 2011).

Referensi

Dokumen terkait

Menilai budaya dalam penilaian pupose budaya adalah mengevaluasi faktor yang mungkin dipengaruhi oleh organisasi cocok , untuk memahami masa depan budaya dinamika

Masalah fluktuasi harga yang besar dalam jangka pendek. • Dalam jangka pendek

Analisis Tingkat Berpikir Kreatif Siswa Dalam Mata Pelajaran Matematika Materi Faktorisasi Suku Aljabar Pada Siswa Kelas VIII B MTs Negeri Bandung.. Tulungagung: Skripsi

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu yang memiliki bayi tentang imunisasi dasar di Kelurahan Purbayan Kecamatan Kotagede Kota Yogyakarta!. Metode

Populasi dalam penelitian ini adalah pelanggan First Media di komplek perumahan Taman Janur Indah, Kelapa Gading yang berjumlah 63 orang 1 , dalam penelitian

Sedangkan data- data yang terkait dengan karakteristik pemilik tanah, yang terdiri dari : jenis pekerjaan, usia dan domisili serta yang terkait dengan karakteristik

Tambahan defisit anggaran dalam hal realisasi anggaran pendapatan negara dan hibah sebagaimana dimaksud pada Pasal 2 ayat (5), tidak sepenuhnya memenuhi sasaran yang

Oleh karena itu pada penelitian ini penulis membuat video profil PNPM Mandiri Perkotaan Kabupaten Karanganyar sebagai media informasi, promosi dan dokumentasi agar