PENGGUNAAN SUMBER DAYA ALAM DALAM PENINGGALAN ARKEOLOGIS
DI TROWULAN PADA MASA MAJAPAHIT ABAD 14 MASEHI UTS Arkeologi Ekologi
Prita Permatadinata (1406612451)
Penggunaan sumber daya alam untuk menunjang kehidupan manusia dilakukan dari mula manusia hidup. Manusia tidak bisa melangsungkan hidupnya tanpa peran dari alam, karena alam menyediakan kebutuhan-kebutuhan manusia. Baik itu dalam masa prasejarah ataupun masa modern. Di tulisan ini, akan dibahas bagaimana kelangsungan hidup masyarakat Majapahit dengan ketergantungannya pada alam. Majapahit adalah kerajaan yang besar, kekuasaannya pada abad 14 Masehi mencakup wilayan yang kini jadi Asia Tenggara. Peradaban dari kerajaan sebesar itu beribukota di Trowulan, daerah yang dikelilingi gunung dan sungai. Tulisan ini akan menjelaskan seberapa besar faktor alam Trowulan terhadap kebesaran kerajaan Majapahit.
Majapahit adalah kerajaan yang berasal dari Jawa Timur, jaya pada abad 13-16. Kerajaan ini sangat besar wilayah kekuasaannya, mencakup 98 kerajaan tributary yang mencakup wilayah ASEAN sekarang. Pusat kerajaan Majapahit terletak pada dataran bergelombang dengan ketinggian 30-40 mdpl, merupakan daerah dengan punggung-punggung bukit serta lembah-lembah yang lebar dan umumnya membujur ke arah utara. Lembah-lembah ini biasa digunakan untuk bersawah, ada sungai-sungai kecil. Pada beberapa cekungan alam di daerah ini terdapat sisa-sisa bangunan air1.
Kerajaan ini sangat berjaya pada masa pemerintahan Hayam Wuruk. Hal ini terekam dalam naskah yang ditulis oleh Prapanca, berjudul Nagarakrtagama. Nagarakrtagama adalah syair pujian yang ditulis untuk menghormati Raja Hayam Wuruk dari Majapahit, sehubungan dengan perjalanannya di ranah dalam upaya dan sejarah dari nenek moyangnya untuk
mengenali negerinya lebih dekat, dan untuk memahami permasalahan negri itu secara langsung. 2
Naskah Nagarakretagama ini memberikan kesaksian atas pemerintahan seorang raja di abad keempatbelas di Indonesia yang mana menggambarkan pengetahuan modern mengenai keadilan sosial, kebebasan beragama, dan keamanan dan kesejahteraan individu, yang dijunjung tinggi. juga memberikan kesaksian terhadap perilaku demokratis dan wewenang yang terbuka sebelum orang-orang di era tersebut tetap menaati kekuasaan absolut raja.3
Naskah Nagarakrtagama ini diberi komentar oleh Theodore G. Th. Pigeaud, Ph. D. Ia menuliskan komentarnya dalam buku Java in The Fourteenth Century volume IV. Buku itu membahas sistem sosial, tata kota, religi, ekonomi, material culture, seni dan bahasa, dan sebagainya. Termasuk pula, soal tata kelola lingkungan. Dalam sini pula Prapanca menyebutkan terakota dalam deskripsinya tentang bagunan di Majapahit dengan ornamennya (Muller, 1978).
Pigeaud memberi komentar bahwa dalam Nagarakrtagama juga dijelaskan bahwa beberapa bahan baku produk keseharian diperoleh dari alam sekitar. Dan ini menggambarkan hubungan erat antara masyarakat Majapahit pada saat itu dengan alam sekitar mereka. Misalnya, dalam salah satu bab di Java in The Fourteenth Century volume IV diceritakan bahwa bahan pakaiannya adalah katun asli dan tenunan, dengan teknologi celup ikat. Bahan pakaian ini didapat dari kulit kayu dan serat dari sayuran yang ada di sekitar mereka. Ada pula komoditas-komoditas tertentu yang menjadi andalan bagi perdagangan Majapahit, yaitu beras, sayuran, dan katun. Ketiga komoditas ini mudah ditemukan dan dibudidayakan di pusat Majapahit dan sekitarnya, karena keadaan tanahnya yang mengandung material vulkanik mendukung kesuburan tanaman.
Lokasi Kerajaan Majapahit diperkirakan berada di Trowulan, sebuah kecamatan dalam Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Di Trowulan ditemukan pecahan tembikar dalam jumlah besar. Pecahan gerabah terlihat hampir di semua bekas pemukiman, berjumlah puluhan ribu. Ada yang berbentuk kendi, tempayan, periuk, pasu, ppiring, kekep, pot bunga, dan buyung. Ada yang memperlihatkan pengaruh Cina (Muller, dalam Arifin: 1983), karena Cina memang banyak melakukan perdagangan di sana. Kualitas bervariasi, dari pecahan hingga
2 —, 2012. Memory of World Register: Nagarakretagama or Description of the Country (1365 AD). UNESCO
utuh, rapuh hingga kuat, berwarna kekuningan hingga coklat kehitaman. Gambaran Majapahit oleh Ma-Huan adalah wilayah yang terletak di tepian sungai, sesuai dengan informasi data geologi dan geomorfologi Trowulan kini. Sebuah situs arkeologi dapat didefinisikan sebagai catatan dari tempat aktivitas manusia masa lalu. Situs dapat bervariasi, dari pengolahan tunggal ke pemukiman yang lebih kompleks. Dimensi ruang menyediakan referensi untuk kegiatan manusia4.
Situs Trowulan ini adalah satu-satunya situs Hindu-Budha di Indonesia yang masih dapat ditemukan. Situs ini meliputi area seluas 11 km x 9 km, meliputi Kecamatan Trowulan dan Sooko dalam Kabupaten Mojokerto, dan Kecamatan Mojoagung dan Mojowarno di bawah Kabupaten Jombang. Lokasi bekas ibukota Kerajaan Majapahit ini dibangun di atas dataran di kaki tiga gunung, yaitu Penanggungan, Welirang, dan Anjasmara. Tinggi pegunungan ini 2000-3000 mdpl. Secara geografis, wilayah Trowulan cocok untuk pemukiman manusia karena didukung oleh topografi yang datar dengan air tanah yang relatif dangkal. Ratusan ribu peninggalan arkeologi dari kota tua di situs Trowulan ditemukan terkubur di bawah tanah serta pada permukaan. Peninggalan itu antara lain artefak, ekofak, dan fitur5. Namun, peninggalan didominasi oleh artefak berbahan baku tanah liat.
Tanah yang membentuk pusat wilayah kerajaan Majapahit umumnya terdiri dari pasir halus yang bersifat lepas, dan hanya kadang-kadang tersemen. Sering mengandung sisipan, kerikil tipis. Pada permukaannya pasir ini melapuk menjadi tanah laterit kecoklatan dengan ketebalan sekitar 0,5-1 meter.
Tidak jauh dari permukaan tanah, pada kedalaman 2-3 meter, sudah dapat dijumpai air tanah. Penduduk yang ingin memperoleh air tanah dengan demikian tidak usah menggali terlalu dalam. Tanaman tumbuh dengan subur karena tanah mengandung material vulkanik yang baik sekali untuk pertumbuhan tanaman. Iklim hujan tropis dengan musim panas yang kering. Keadaan alam dan iklim ini menyebabkan daerah ini sering kebanjiran pada musim hujan dan kekurangan air pada musim kering. Wilayah ini juga dikelilingi beberapa gunung api, di antaranya: Anjasmoro, Welirang, Arjuho, Penanggungan, dan Kelud.
Di barat pusat kerajaan Majapahit mengalir Kali Gunting, yang bermuara di Kali Brantas. Dan ada pula kali-kali lain di sekitar itu. Aliran Kali Brantas dengan cabang dan anak sungainya juga berpengaruh terhadap kesuburan tanah dan kesejahteraan masyarakat
4 Butzer, Karl. W. (1982). Archaeology as Human Ecology.Cambridge: Cambridge University Press
sekitar. Akses terhadap air yang mudah menjadikan budidaya tanaman didukung pengairan yang mudah, dan mudahnya masyarakat memenuhi kebutuhan mereka akan air. Namun, Kali Brantas hari ini tidak bisa dijadikan acuan bagaimana keadaan Kali Brantas pada masa Majapahit, sebab pemajuan garis pantai Delta Brantas setiap tahunnya sangat besar sehingga tidak diketahui dimana lokasi Kali Brantas bermuara pada zaman Majapahit. Daerah sekitar aliran Kali Brantas ini merupakan hamparan dataran banjir. Sering terjadi banjir sejak dulu, terlihat dari Prasasti Kelagen (1037 M) oleh Airlangga yang menunjukkan bagaimana Airlangga berusaha mengatasi banjir Brantas.6
Karena banjir itu, maka Majapahit membangun kanal-kanal di kotanya. Selain untuk memenuhi kebutuhan air penduduk, kanal ini juga merupakan tata kelola air dan pencegah banjir. Dikatakan dalam Prasasti Biluluk bahwa kanal-kanal ini adalah salah satu strategi Airlangga dalam mencegah banjir.
Sumber daya alam yang pernah diserap oleh masyarakat Trowulan diketahui berasal dari berbagai sumber, antaranya sumber daya tanah, sumber daya hutan dan sumber daya mineral. Pemanfaatan berbagai sumber daya alam sekeliling Trowulan mencerminkan bahwa kearifan lingkungan yang dimiliki masyarakat saat itu telah menjalin interaksi antara manusia dan lingkungannya. Ini merupakan hasil pengalaman masyarakat di dalam proses interaksi yang terus menerus dengan lingkungan yang ada di sekitarnya. Melalui strategi adaptif yang mereka miliki, pengelolaan sumber daya alam ini diwujudkan dalam berbagai bentuk di antaranya adalah pengembangan teknologi di berbagai bidang7.
Eksploitasi sumber daya alam oleh masyarakat Majapahit yang masih dapat dilihat jejaknya hingga kini adalah benda-benda berbahan dasar tanah liat. Benda-benda ini bermacam-macam, mulai dari dekorasi bangunan hingga wadah air.
Hingga kini, tanah liat masih diberdayakan oleh penduduk Trowulan, terutama dalam produksi bata. Banyak penduduk Trowulan yang mendapat penghasilan dari produksi bata. Sayangnya, usaha ini menimbulkan kerusakan lingkungan seperti yang dipaparkan Daryono (1989). Ia menyebutkan ada sekitar 68% dari pembuat bata yang berorientasi keuntungan mengakibatkan kerusakan lingkungan termasuk pada peninggalan purbakala. Dan 32%
6 Arifin, Karina, Op. Cit.
lainnya melakukan usaha pembuatan bata untuk menjadikan lahan kering sebagai sawah, sehingga mereka menggali tanah hingga cukup rendah untuk jadi sawah8.
Prasasti Biluluk II, 1391, menyebutkan beberapa profesi yang disayangi raja sehingga dibebaskan dari pajak. Profesi yang dimaksud adalah lima arik purih, yaitu patatar,
pasadran, palalandep, padadah, dan pabata9. Patatar adalah tangga tumpukan kayu. Pasadran adalah orang yang membiayai upacara kematian. Palalandep adalah berhubungan dengan mempertajam sesuatu yang akan digunakan di aktivitas selanjutnya. Padadah adalah pemijat bayi yang baru lahir. Sementara yang terakhir, pabata, adalah pembuat bata. Dispensasi yang diterima oleh para pekerja, termasuk pembuat bata, memperlihatkan bahwa upaya mereka sangat penting, bahkan tidak mustahil merupakan salah satu tiang pembangunan negara di saat itu.
Bila berpijak pada profesi pabata, dapat diidentifikasikan bahwa beberapa produk yang dihasilkan para pengrajin berupa karya arsitektur yang baik. Beberapa menunjukkan penggunaan bahan baku bata sebagai satu-satunya bahan yang dipakai untuk pembangunan sarana peribadatan ini. bahkan pemakaian materi semacam ini digunakan secara meluas di area kekuasaan kerajaan Majaphait lainnya. Tercatat dari 17 cndi yang tersebar di kerajaan ini, 9 candi hanya menggunakan bata, 3 memakai batu, sisanya 5 memanfaatkan campuran bata dan batu. Pemilihan bahan mengacu pada kitab Silpasastra
Bertolak pada keadaan sekarang, tidak sedikit penduduk di Trowulan bermata pencaharian membuat bata. Bahan baku yang diperoleh dari lahan pertanian sekeliling tempat tinggal. Lahan itu digali, kemudian dihimpun dalam suatu tempat, lalu dicampur dengan pasir dan air sehingga menjadi aonan tanah liat yang siap bentuk menjadi bata. Meski tanah di lahan ini selalu diabmil, tapi tetap bisa ditanami berbagai tanaman. Usaha bata sangat menguntungkan, lebih banyak untungnya daripada budidaya tanaman. Resikonya juga lebih kecil dibanding budidaya tanaman.
Dengan ini tergambar bahwa interaksi antara manusia dan lingkungannya menyebabkan naiknya nilai tambah dari sumber daya tanah tersebut. Selain itu, sumber daya tanah menyebabkan perkembangan inovasi dalam pembuatan peralatan barang tanah liat. Terbukti
8 Pojoh, Ingrid H. E., dkk (1995). Terakota dari Situs Trowulan sebagai Wujud Pemanfaatan Sumber Daya Alam. Depok: Laporan Penelitian
dari ditemukannya keramik terbuat dari tanah liat dan diberi glasir. Teknologi pengglasiran ini dianggap sebagai suatu perkembangan penting
Teknologi pembuatan, baik itu terakota maupun keramik, dibuat dengan cara tergantung pada bentuk yang diinginkan oleh perajin. Sifat bahan yang plastis memungkinkan perajin memanipulasi bahan tersebut sesuai bentuk yang diinginkannya. Teknologi seperti ini disebut additive technology, akan menghasilkan benda yang bentuknya sesuai dengan mental template sehingga jenis-jenis benda tersebut benar-benar merupakan natural type (Sharer dan Ashmore 1980).
Urutan pengerjaan tanah liat, sekurang-kurangnya terdiri dari10:
1. Perolehan bahan
2. Pengolahan bahan
3. Pembentukan
4. Penggarapan permukaan
5. Pembakaran
Tahapan ini bisa lebih banyak lagi, sesuai kerumitan benda yang akan dibuat. Setiap tahap ada tekniknya tergantung jenis tanah dan bentuk yang akan dibuat. Pengetahuan membuat suatu wadah dari tanah liat kemungkinan merupakan akibat langsung dari pengenalan manusia akan api (F. H. Norton, 1956: dalam Kusen 1981:70).
Artefak berbahan baku tanah liat di Trowulan juga bermacam-macam bentuknya. Menurut Demettawatti (2014), benda-benda itu terbagi menjadi 4 kategori:
Peralatan rumah tangga. Seperti periuk, pasu, mangkok, celengan.
Unsur bangunan. Seperti bata, genteng, pipa air, miniatur candi.
Permainan anak-anak. Seperti gacuk, kelereng.
Alat produksi. Seperti kowi.
Sementara persebaran temuan Trowulan menurut Ingrid H. E. Pojoh ada tujuh kelompok, mengacu pada fungsinya masing-masing, yaitu:
Struktur bangunan
Barang keperluan rumah tangga
Hiasan
Alat permainan
Celengan
Pelita
Alat produksi
Kedua pendapat itu merupakan pengkategorian atau tipologi masing-masing atas fungsi benda yang ditemukan. Beberapa dari poin-poin di atas akan dijelaskan lebih lanjut.
Contohnya, arca terakota. Arca terakota yang ditemukan ada yang berukuran besar dan ada pula yang kecil, di antaranya sangat kecil dan tingginya hanya 5 cm, arca-arca ini menggambarkan manusia dan hewan. Arca-arca kecil umumnya berongga dengan dinding setebal 1 cm, sementara arca yang lebih besar hanya ditemukan kepala atau badannya saja. Arca menggabarkan berbagai macam dandanan rambut dan anting, banyak juga yang menggambarkan orang cina. Arca binatang digambarkan secara realistis, umunya merupakan celengan atau hiasan bangunan. Dibuat dengan tangan, sebagian dibuat dengan cetakan yang kemudian penggarapan bagian kecil dengan tangan11.
Masyarakat Trowulan memanfaatkan tanah untuk memperoleh hasil secara langsung, misalnya untuk membuat peralatan yang menggunakan tanah sebagai bahan baku. Tanah dianggap sebagai sumber bahan mentah yang diperlukan guna menunjang kegiatan tersebut. Dalam hal ini, banyak bukti di lapangan maupun pustaka yang menunjukkan aktivitas tersebut. Mereka mengolah tanah secara langsung dan tidak langsung. Pengolahan langsung adalah membentuk bahan mentah langsung dengan tangan, hasilnya kasar, banyak detail. Pengolahan tidak langsung adalah bagaimana mereka mengolah tanah untuk memperoleh
suatu hasil secara tidak langsung. Tanah sebagai media suatu aktivitas, misalnya kegiatan budidaya tanaman12.
Manusia adalah bagian dari ekosistem sebagaimana organisme hidup lainnya, dan iklim, lingkungan, dan sumber makanan membatasi populasi manusia dan cara hidup mereka13. Maka budaya yang berkembang dalam peradaban manusia juga merupakan
pengaruh dari alam. Apa yang tersedia di alam akan mendukung kelangsungan hidup manusia, dan apa yang dibatasi oleh alam akan menghambat kelangsungan hidup manusia. Seperti yang sebelumnya sudah dijabarkan. Majapahit, berdasarkan Nagarakrtagama, adalah kerajaan besar yang sangat berjaya pada abad 14 Masehi. Dari sisa budaya di Trowulan, bisa direkonstruksi bagaimana hubungan masyarakat Majapahit masa lalu dengan alamnya. Beberapa contoh sudah dijabarkan tadi. Produksi benda berbahan baku tanah liat di Trowulan merupakan bentuk dukungan keadaan tanah yang berkualitas bagus untuk dijadikan tembikar. Keadaan Trowulan yang dikelilingi sungai-sungainya dan iklim hujan disikapi oleh masyarakat dengan membangun kanal sebagai pencegahan banjir.
Daftar Pustaka
—, 2012. Memory of World Register: Nagarakretagama or Description of the Country (1365 AD). UNESCO
—, 2009. Memory of World Register: Trowulan, Former Capital City of Majapahit Kingdom. UNESCO
Arifin, Karina (1983). Waduk dan Kanal di Pusat Kerajaan Majapahit, Trowulan, Jawa Timur. Skripsi UI
Butzer, Karl. W. (1982). Archaeology as Human Ecology.Cambridge: Cambridge University Press
Demettawatti, Missa F. A. (2014). Manajemen Koleksi Terakota:Studi Kasus di Museum Majapahit Trowulan. Tesis UI
Fleming, Neil, dkk. (2008). The Archaeology Coursebook Third Edition. London: Routledge
12Ibid.
Pigeaud, Theodore G. Thomas (1962). Java in the Fourteenth Century. The Hague