• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS SIKAP KONSUMEN TERHADAP ATRIBUT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS SIKAP KONSUMEN TERHADAP ATRIBUT"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS SIKAP KONSUMEN TERHADAP ATRIBUT BUAH PISANG KEPOK (STUDI KASUS KONSUMEN DI TIGA KOTA KUALA PEMBUANG, SAMPIT, DAN

PALANGKARAYA)

(Attitude Consumer Analysis Toward The Attributes Of Bananas Kepok

Case Studies Of Consumers In Three Cities Kuala Pembuang, Sampit and Palangkaraya)

Rokhman Permadidan Lili Winarti

Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Darwan Ali Jl. A. Yani No 1 Kuala Pembuang Kabupaten Seruyan Kalimantan Tengah

ABSTRACT

The objectives of the research were to analyze the characteristics and attitudes of consumers towards the attributes of bananas Kepok in Kuala Pembuang, Sampit and Palangkaraya. The research method used is descriptive qualitative method and the sampling technique with accidental sampling of the 150 respondents were divided in Kuala Pembuang, Sampit and Palangkaraya each 50 respondents. Variable that will be analyzed include: attributes of price, taste, freshness, ripeness, size, shape, color, and skin hygiene using Fishbein multi-attribute model. Based on the results of a study of the characteristics of the respondents in the city of Kuala Pembuang, Sampit and Palangkaraya in the range of ages is relatively uniform and still relatively productive age of 20-50 years of age. Different when viewed in terms of the education level of respondents in the city of Sampit and Palangkaraya more respondents who have been through higher education compared to respondents in the city of Kuala Pembuang. Moreover, if it is seen by the income level of the respondents in Kuala Pembuang inclined relatively lower income compared to respondents in the city of Sampit and Palangkaraya. The score Ao each city shows the attitude of respondents to attribute banana Kepok neutral (normal) to the value of Ao in each city is 106.5428 (Kuala Pembuang), 104.6452 (Sampit) and 110.8460 (Palangkaraya ). Consumer attitudes in the city of Sampit and Palangkaraya more to quality than consumers in Kuala Pembuang more to the price.

Keywords: Consumers, Kepok bananas, Attitudes, Multi Attribute Fishbein

PENDAHULUAN

Salah satu daerah penghasil pisang kepok adalah Kabupaten Seruyan yang merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah. Produksi buah pisang kepok Kabupaten Seruyan pada Tahun 2013 mencapai 13606,6 ton yang tersebar dari beberapa Kecamatan (BPS, 2014). Secara keseluruhan di tingkat propinsi, berdasarkan data Statistik Hortikultura Kalimantan Tengah Tahun 2013, Kabupaten Seruyan merupakan Kabupaten terbesar kelima penghasil buah pisang setelah Kabupaten Pulang Pisau (17300 kuintal), Kotawaringin

Barat (34526 kuintal), Kotawaringin Timur (47644 kuintal), dan Kapuas (67009 kuintal).

Kegiatan usaha pertanian tidak hanya menitik beratkan pada kegiatan subsistem produksi saja, tetapi melibatkan subsistem lainnya agar tujuan dari kegiatan pertanian

dapat tercapai yaitu mendapatkan

(2)

usaha yang mereka lakukan.

Dalam sebuah strategi pemasaran, pemasar tidak terlepas dari segmen pasar yang melibatkan konsumen sebagai objek pasar. Sebuah organisasi dapat mencapai tujuannya kalau memahami kebutuhan dan

keinginan konsumen dan mampu

memenuhinya. Seorang pemasar harus memahami betul siapa konsumennya termasuk sikap dan perilakunya. Menurut prasetijo (2005) Sikap merupakan factor yang sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan beli konsumen. Oleh karena itu, pemasar sangat berkepentingan dalam hal

pengetahuan tentang bagaimana

terbentuknya sikap konsumen. Pelaku usaha perlu mempelajari dengan cermat tentang siapa dan bagaimana sikap konsumen.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik konsumen buah pisang kepok di Kota Kuala Pembuang, Sampit dan Palangkaraya dan mengetahui sikap konsumen di kota Kuala Pembuang, Sampit, dan Palangkaraya terhadap atribut pisang kepok.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian

deskriptif kualitatif, dimana akan

menggunakan data-data kualitatif yang berupa sikap konsumen untuk menggali sejauh mana tanggapan konsumen terhadap buah pisang kepok. Metode pengambilan

sampel menggunakan accidental sampling

terhadap 150 responden yang terbagi di kota Kuala Pembuang, Sampit, dan Palangkaraya masing-masing 50 responden. Responden adalah konsumen yang kebetulan berbelanja buah pisang kepok atau konsumen yang pernah mengkonsumsi buah pisang kepok yang diproduksi dari Desa Bangun Harja Kecamatan Seruyan Hilir Timur Kabupaten Seruyan. Metode ini dipilih karena tidak

terdapat data-data pendukung yang

menunjukkan besaran jumlah populasi konsumen yang mengkonsumsi pisang kepok.

Variabel yang akan dianalisis

meliputi : atribut harga, rasa, kesegaran, kematangan, ukuran, bentuk, warna kulit, dan kebersihan kulit. Selain itu juga diperlukan data karakteristik responden seperti umur, pendidikan, dan pendapatan. Data yang dikumpulkan akan diuji menggunakan analisis sikap multi atribut yang dievaluasi dengan menggunakan Model Multi Atribut Sikap Fishbein digambarkan oleh rumus sebagai berikut :

suatu objek (dalam hal ini buah pisang kepok).

bi = Kekuatan kepercayaan

konsumen bahwa objek (pisang kepok) tersebut memiliki atribut i

ei = Evaluasi kepentingan

konsumen terhadap

atribut i

n = Jumlah atribut yang

dimiliki objek

Skala interval diperlukan untuk menginterprestasikan hasil analisis. Adapun rumus skala interval (rentang skala) yaitu :

=

Dimana :

RS = Rentang skala

m = Skor tertinggi yang

mungkin terjadi

n = Skor terendah yang

mungkin terjadi

b = Jumlah skala penilaian

yang ingin dibentuk

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden

Beradasarkan hasil penelitian

(3)

tahun. Pada kisaran umur tersebut responden sudah dianggap mampu berfikir logis dan dapat memilih dan menilai buah pisang yang sesuai dengan keinginan. Berbeda jika dilihat dari segi tingkat pendidikan respoden di Kota Sampit dan Palangkaraya lebih banyak responden yang telah menempuh Pendidikan

Tinggi dibandingkan dengan responden di kota Kuala Pembuang. Selain itu, jika dilihat berdasarkan tingkat pendapatan responden di

Kota Kuala Pembuang cenderung

berpendapatan relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan responden di Kota Sampit dan Palangkaraya.

Tabel 1. Karakteristik Responden di Kota Kuala Pembuang, Sampit, dan Palangkaraya

Karakteristik

Kuala Pembuang Sampit Palangkaraya

Jumlah

Sumber : Pengolahan data primer 2015

Evaluasi Kepentingan (ei) Terhadap

Atribut Buah Pisang Kepok

Responden di Kota Kuala Pembuang, Sampit, dan Palangkaraya memiliki kesamaan dalam menganggap bahwa atribut rasa, ukuran, dan bentuk merupakan atribut yang dianggap penting. Berbeda dengan atribut harga dianggap penting bagi responden di Kota Kuala Pembuang dan Palngkaraya, sedangkan responden di Kota Sampit tidak menganggap penting atribut harga tersebut. Atribut kematangan buah dianggap penting oleh responden di Kota Kuala Pembuang, namun atribut tersebut tidak dianggap penting oleh responden di

Kota Sampit dan Palangkaraya.

Berdasarkan tingkat prioritas

kepentingan atribut, harga merupakan atribut yang paling penting bagi responden di Kota Kuala Pembuang, hal ini berbeda dengan responden di Kota Sampit dan Palangkaraya yang menempatkan atribut rasa merupakan atribut pada tingkat kepentingan pertama. Hal tersebut menunjukkan bahwa responden di kedua kota tersebut lebih mengutamakan pada faktor kualitas produk dibandingkan pada faktor harga. Hasil analisis tingkat evaluasi kepentingan (ei) disajikan pada

(4)

Tabel 2 Hasil analisis evaluasi tingkat kepentingan (ei) responden terhadap atribut buah pisang

kepok di Kota Kuala Pembuang, Sampit, dan Palangkaraya.

No Atribut Skor Evaluasi Kepentingan (ei)

Kuala Pembuang Sampit Palangkaraya

1 Rasa 4.18P 4.12P 4.74SP

2 Warna Kulit 3.04N 3.04N 3.22N

3 Ukuran 4.14P 4.02P 3.98P

4 Bentuk 4.00P 3.92P 3.92P

5 Kesegaran 3.30N 3.30N 3.28N

6 Kematangan 3.68P 3.50N 3.42N

7 Kebersihan Kulit 3.14N 3.32N 3.22N

8 Harga 4.32P 3.48N 4.14P

Sumber : Pengolahan data primer 2015

Keterangan : STP : Sangat Tidak Penting; TP : Tidak Penting; N : Netral; P : Penting; SP : Sangat Penting

Kepercayaan (bi) Terhadap Atribut Buah

Pisang Kepok

Penilaian responden terhadap atribut buah pisang kepok dapat dilihat pada Tabel 3 dimana responden di ketiga kota percaya bahwa atribut rasa, ukuran, bentuk, dan harga dinilai sudah baik. Terdapat perbedaan penilaian terhadap atribut kebersihan kulit antara responden Kota Kuala Pembuang dan

Palangkaraya yang menilai atribut tesebut sudah baik, sedangkan responden di Kota Sampit menilai atribut kebersihan kulit biasa saja (netral). Hal yang berbeda dengan atribut kematangan, yang mana responden di Kota Palangkaraya menilai atribut tersebut sudah baik sedangkan responden di kota lainnya menilai biasa saja (netral).

Tabel 3 Hasil analisis kepercayaan (bi) responden terhadap atribut buah pisang kepok di Kota Kuala

Pembuang, Sampit, dan Palangkaraya.

No Atribut Skor Kepercayaan (bi)

Kuala Pembuang Sampit Palangkaraya

1 Rasa 3.82B 3.94B 4.18B

2 Warna Kulit 3.18N 3.26N 3.04N

3 Ukuran 3.78B 3.82B 4.14B

4 Bentuk 3.72B 3.80B 4.00B

5 Kesegaran 3.34N 3.48N 3.30N

6 Kematangan 3.48N 3.52N 3.68B

7 Kebersihan Kulit 3.20N 3.38B 3.14N

8 Harga 3.82B 3.80B 3.76B

Sumber : Pengolahan data primer 2015

Keterangan : STB : Sangat Tidak Baik; TB : Tidak Baik; N : Netral; B : Baik; SB : Sangat Baik

Sikap (A0) Terhadap Atribut Buah Pisang

Kepok

Analisis sikap diperoleh dengan skor kepercayaan (bi) dikalikan dengan skor evaluasi kepentingan (ei) yang sesuai menurut masing-masing atribut. Nilai sikap secara keseluruhan akan didapat dengan

menjumlahkan nilai sikap pada masing-masing atribut. Berdasarkan hasil analisis sikap dengan model multiatribut fishbein, skor Ao masing-masing kota menunjukkan

(5)

Pembuang), 104,6452 (Sampit), dan 110,8460 (Palangkaraya). Skala interval untuk analisis sikap yaitu 8-46,4 (Sangat Tidak Suka), 46,5-84,9 (Tidak Suka), 85-123,4 (Netral/Biasa saja), 123,5-161,9 (Suka), 162-200,4 (Sangat suka).

Responden di Kota Sampit dan Palangkaraya berdasarkan urutan nilai sikap tertinggi lebih kepada factor kualitas produk yaitu yang pertama yaitu atribut rasa kemudian ukuran dan selanjutnya bentuk buah. Sedangkan responden di Kota Kuala Pembuang yang menjadi urutan pertama yaitu atribut harga, kemudian rasa dan

selanjutnya ukuran buah. Perbedaan sikap ini terjadi karena, jika dilihat pada tingkat pendidikan dan pendapatan responden di Kota Sampit dan Palangkaraya dapat dikatakan lebih baik dibandingkan dengan responden di Kota Kuala Pembuang. Pendidikan dan pendapatan yang lebih tinggi

mendorong konsumen untuk lebih

memikirkan dan mengedepankan kualitas dibanding faktor harga, karena secara ekonomi mereka dianggap masih mampu untuk membeli pada kisaran harga yang berlaku.

Tabel 4 Hasil analisis sikap konsumen (A0) terhadap atribut buah pisang kepok di Kota Kuala

Pembuang, Sampit, dan Palangkaraya.

No Atribut Skor Sikap (Ao = ei x bi)

Kuala Pembuang Sampit Palangkaraya

1 Rasa 15.96762 16.23281 19.81321

7 Kebersihan Kulit 10.04807 11.22167 10.11087

8 Harga 16.50241 13.22404 15.56644

Σ AO 106.5428 104.6452 110.8460

Sumber : Pengolahan data primer 2015

Keterangan : 1,2,3,4,5,6,7,8 urutan sikap mulai dari 1 tertinggi sampai 8 terendah.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Terdapat kesamaan karakteristik

responden buah pisang kepok di tiga kota berdasarkan umur responden. Reponden di Kota Sampit dan Palangkaraya lebih banyak yang telah menempuh Pendidikan Tinggi dibandingkan dengan responden di kota Kuala Pembuang. Selain itu, responden di Kota Kuala Pembuang cenderung berpendapatan relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan responden di Kota Sampit dan Palangkaraya.

2. Berdasarkan hasil analisis sikap dengan model multiatribut fishbein, skor Ao

responden di masing-masing kota menunjukkan sikap netral (biasa saja) terhadap atribut buah pisang kepok dengan nilai Ao pada masing-masing kota

yaitu 106,5428 (Kuala Pembuang), 104,6452 (Sampit), dan 110,8460 (Palangkaraya)

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik dan Badan Perencanaan

Pembangunan Dearah. 2014. Seruyan

(6)

Badan Pusat Statistik Propinsi Kalimantan Tengah. 2014. Statistik Hortikultura 2013. Palangkaraya

Engel, James F, Roger D. Blackwell, Paul W. Miniard. 1995. Perilaku Konsumen : Jilid 1 dan 2. Binarupa Aksara. Jakarta Barat.

Kotler. 2000. Marketing Management: Analysis, Planning, Implementation and Control. Prentice Hall Int, Inc., Millenium Edition, Englewood Cliffs, New Jersey.

Prasetijo R, Ihalauw J.O.I J. 2005. Perilaku Konsumen. Andi Offset. Yogyakarta

Republik Indonesia. 1999. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. Sekertariat Negara. Jakarta

Rangkuti, F. 2006. Measuring Customer Satisfaction. Cetakan Ketiga. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Simamora B. 2008. Panduan Riset Perilaku

Konsumen. PT Gamedia Pustaka Umum. Jakarta

Sumarwan. 2011. Riset Pemasaran dan

Gambar

Tabel 1. Karakteristik Responden di Kota Kuala Pembuang, Sampit, dan Palangkaraya
Tabel 2 Hasil analisis evaluasi tingkat kepentingan (ei) responden terhadap atribut buah pisang kepok di Kota Kuala Pembuang, Sampit, dan Palangkaraya
Tabel 4 Hasil analisis sikap konsumen (A0) terhadap atribut buah pisang kepok di Kota Kuala Pembuang, Sampit, dan Palangkaraya

Referensi

Dokumen terkait

(4) Pola Dagang Umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf c merupakan hubungan kemitraan antara kelompok mitra dengan perusahaan mitra, yang didalamnya

Rapat Kerja Kesehatan Nasional Kementerian Kesehatan merupakan forum tertinggi sosialisasi, pembahasan dan perumusan Prioritas Kebijakan Program Pembangunan Kesehatan

Biasanya petani akan menanam ikan sebagai palawija setelah dua kali masa tanam padi. Lamanya pemeliharaan berkisar 80-90 hari. 3) Budidaya ikan bersama padi (mina padi)

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dalam penelitian tindakan kelas dengan pokok bahasan penjumlahan dan pengurangan bilangan desimal dengan metode

Teknologi M-Tamzis merupakan sebuah layanan terbaru yang dimiliki oleh KSPPS Tamzis Bina Utama yang akan diterapkan dalam kehidupan para anggota Tamzis untuk

Hal ini diduga menjadi penyebab peubah panjang dan jumlah cabang tidak dipengaruhi secara nyata oleh aplikasi stimulan karena penelitian dilakukan sampai setek pucuk

Febriani et.al (2016), mengemukakan bahwa akuntabilitas mempunyai hubungan yang positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan, hasil penelitian menunjukkan bahwa

Kegiatan operasional meliputi: (1) Penyuluhan dan koordinasi pada anggota dan pengurus subak jatiluwih; (2) Penguatan kelembagaan subak dalam penerapan pertanian padi