A. PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan salah satu hak penting dan mendasar yang harus dimiliki oleh setiap warga negara Indonesia, oleh karena itu pendidikan harus dapat diupayakan sebaik mungkin. Sebagaimana telah ditegaskan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 31 alinea ke-4, bahwa pendidikan bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa untuk meningkatkan peradaban manusia demi kesejahteraan masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Pendidikan bukanlah suatu hal yang dapat ditawar-tawar lagi, karena pendidikan merupakan salah satu tujuan negara yang akan menunjukan eksistensi negara.
Pendidikan adalah ujung tombak suatu negara, maju dan tertinggalnya suatu negara sangat tergantung pada kondisi pendidikannya, karena semakin berkembangnya pendidikan suatu negara maka semakin besar dan majulah negara tersebut, artinya pendidikan menjadi kunci akan maju dan berkembangnya suatu negara. Namun yang menjadi pertanyaan besar adalah pendidikan yang bagaimana yang akan menjadi kunci akan berkembangnya suatu negara?
Apa yang kita lihat dan saksikan pada kondisi sekarang ini, bahwa mayoritas masyarakat memilki pemahaman bahwa mutu pendidikan itu hanya diukur sebatas nilai UN dan US, artinya apabila si anak memiliki nilai UN dan US yang tinggi, dan sekolah meluluskan siswanya 100 persen dengan nilai rata-rata yang tinggi maka pendidikan di sekolah tersebut telah berhasil. Apakah yang demikian hakikat dan tujuan dari pendidikan?. Hakikat dan tujuan pendidikan tidak hanya berorientasi pada hasil yang dicapai siswa melalui US dan UN, melainkan hakikat keberhasilan pendidikan sebenarnya apa yang sudah menjadi cita-cita dan fungsi pendidikan nasional yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.1
Namun realita yang ada, bahwa sistem pendidikan nasional masih menyisakan keterpurukan di sektor pendidikan, membentuk Sumber Daya Manusia yang sarat dengan ilmu pengetahuan, kaya ilmu, intelektual, berwawasan, dan menciptakan manusia superior. Dengan kata lain sistem pendidikan kita selama ini lebih menitikberatkan dan menjejalkan pada penguasaan kognitif akademis, sementara afektif dan psikomotorik seolah-olah dinomorduakan. Apa yang terjadi? Terbentuknya pribadi
yang miskin tata krama, sopan santun, dan etika moral. Maka dari itu pada makalah ini penulis mencoba menyajikan makalah dengan tema pendidikan karakter, yang mana pendidikan karakter merupakan salah satu upaya untuk membantu perkembangan jiwa anak-anak baik lahir maupun batin, dari sifat kodratinya menuju kearah peradaban yang manusiawi dan lebih baik. Sebagai contoh anak dianjurkan untuk bersih badan dan pakaian, hormat terhadap orang tua, menolong teman, menghormati yang lebih muda, dan masih banyak contoh yang lain yang itu merupakan proses dari pendidikan karakter. Sehubungan dengan itu Dewantara (1967), dalam Mulyasa pernah mengemukakan beberapa hal yang harus dilaksanakan dalam pendidikan karakter, yakni ngerti-ngeroso-ngelakoni (menyadari, menginsyafi, dan melakukan).2
Pendidikan karakter merupakan proses yang berkelanjutan dan tidak pernah berakhir (never ending process), sehingga menghasilkan perbaikan kualitas yang berkesinambungan yang ditujukan pada terwujudnya sosok manusia masa depan, dan berakar pada nilai-nilai budaya bangsa.
B. PEMBAHASAN
1. Definisi Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter terdiri dari dua kata, yaitu pendidikan dan karakter. Istilah pendidikan berasal dari kata “didik” dengan memberikan awalan “pe” dan akhiran “an” yang mengandung arti “perbuatan”, hal cara dan sebagainya.3 Istilah pendidikan semula
berasal dari bahasa Yunani, yaitu “paedagogie” yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak, yang kemudian istilah ini diterjemahkan ke dalam bahasa inggris dengan
“education” yang berarti pengembangan atau bimbingan. Dalam bahasa Arab istilah ini sering diterjemahkan dengan “tarbiyah” yang berarti pendidikan.4
Dalam perkembangannya, istilah pendidikan berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja terhadap anak didik oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa atau bisa diartikan usaha yang dijalankan oleh seorang atau sekelompok orang yang mempengaruhi seseorang atau sekelompok orang agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup dan penghidupan yang lebih tinggi. Dengan demikian pendidikan berarti segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohani kearah dewasaan yang mana dalam
2 Mulyasa, Manajemen Pendidikan Karakter, (Jakarta: Bumi Aksara, cet ke-4, 2012), h. 1 3 Sudirman. N, et.al. Ilmu Pendidikan, (Bandung: Remaja Karya, 1987), h. 4
konteks ini orang dewasa yang dimaksud bukan berarti pada kedewasaan pisik belaka, akan tetapi bisa pula dipahami pada kedewasaan psikis.5
Adapun istilah pendidikan dalam konteks Islam pada umumnya mengacu kepada term al-tarbiyah, dan al-tadib, dan al-ta’lim, yang mana dari ketika istilah tersebut yang lebih populer digunakan dalam praktek pendidikan Islam ialah al-tarbiyah.6
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 bab 1 ayat 1 dinyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri, kepribadian kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat, bangsa, dan negara.7Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa
pendidikan adalah suatu proses mendidik, mengajar, membimbing dan melatih yang dilakukan secara sadar serta terencana dalam rangka mempengaruhi peserta didik supaya mampu untuk mengembangkan potensi diri baik dari segi koqnitif (intelektual), afektif (sikap), dan psikomotorik (prilaku yang baik atau akhlaqul karimah).
Adapun karakter dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994: 445) berarti sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan satu dengan yang lain.8
Menurut Simon Philips (2008) karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap, dan perilaku yang ditampilkan.9 Bila
disimpulkan karakter adalah sikap mental yang telah menjadi watak, tabiat dan bawaan seseorang yang menjadi dasar dari tindakan ataupun perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari.
Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 pada pasal 3 tentang sistem pendidikan dinyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang bertujuan untuk berkembangnya potensi anak didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.10
Terminologi pendidikan karakter mulai ramai dibicarakan sejak tahun 1990-an. Thomas Lickona adalah orang yang dianggap sebagai pengusungnya melalui karyanya
5 Ibid, h. 83 6 Ibid, h. 84
7 qoqoazroqu.blogspot.com/2013/01/undang-undang-republik-indonesia-nomor-html, (diambil, 18/10/2013, 17.05)
8 Zainal Aqib, & Sujak, Panduan dan Aplikasi Pendidikan Karakter, (Bandung: Yrama Widya, 2011), h. 2
9 Mu’in, Fatchul, Pendidikan Karakter : Konstruksi Teoritik dan Praktik, (Jogyakarta : Ar-Ruzz Media, Cet. I, 2011, h. 160
“The Retrun of Character Education” yang begitu memukau yang menyadarkan dunia barat secara khusus dimana temapt Licona hidup dan seluruh dunia pendidikan secara umum, bahwa pendidikan karakter adalah sebuah keharusan, dan inilah awal kebangkitan pendidikan karakter.11 Pendidikan karakter memiliki makna yang lebih
tinggi daripada pendidikan moral, karena bukan sekedar mengajarkan mana yang baik dan mana yang buruk melainkan pendidikan karakter menanamkan kebiasaan (habituation) tentang yang baik sehingga siswa didik menjadi faham, mampu merasakan, dan mau melakukan dengan baik.
Menurut Ratna Megawangi moral adalah pengetahuan seseorang tentang hal yang baik dan buruk, sedangkan karakter adalah tabiat seseorang yang langsung di drive oleh otak. Dari sudut pandang lain bisa dikatakan bahwa tawaran istilah pendidikan karakter datang sebagai kritik dan kekecewaan terhadap praktek pendidikan moral selama ini, itulah karenanya terminologi yang ramai dibicarakan sekarang adalah pendidikan karakter (charakter education) bukan pendidikan moral (moral education),
walau secara subtansialnya keduanya tidak memiliki perbedaan yang prinsipial.12
Daniel Goleman yang terkenal dengan bukunya Multiple Intelligences, dan Emosional Intelligence (1999), menyebutkan bahwa pendidikan karakter merupakan pendidikan nilai yang mencakup sembilan nilai dasar yang saling terkait, yaitu:
responsibility (tanggung jawab) ,respect (rasa hormat), fairness (keadilan), courage
(keberanian), honesty (kejujuran), citizenship (rasa kebangsaan), selp-discipline (disiplin diri), caring (peduli), dan perseverance (ketekunan).13
Melalui uraian panjang diatas, disimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan yang menekankan pada pembentukan nilai-nilai karakter pada anak didik, yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
2.
A. Peran Pendidikan Karakter di Sekolah
Sekolah adalah salah satu lembaga yang bertanggung jawab terhadap pembentukan karakter pribadi anak (caracter builing), oleh karena itu peran dan kontribusi guru sangat dominan. Sebagai suatu lembaga, sekolah memiliki tanggung
11 htpp://www.marfu78.com/antara-karakter-moral-dan-akhlak.html, (diambil, 18/10/2013, 18.35) 12 ibid
jawab moral untuk menjadikan anak didik menjadi pintar dan cerdas sesuai dengan yang diharapkan oleh para orang tua anak didik.
Guru beperan sebagai pemberi ilmu pengetahuan (resaurse knowledge), tentunya kemampuan yang dimiliki oleh guru harus disampaikan sebaik mungkin kepada anak didik. Keberhasilan anak didik dalam memperoleh prestasi merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi seorang guru, hal ini menunjukan akan keberhasilan metodologi dan keterampilan mengajar seorang guru yang patut dihargai, karena telah mampu membawa anak didiknya menjadi manusia cerdas, pintar, dan berwawasan luas. Dengan demikian, sekolah sudah menjalankan perannya sebagai institusi yang memiliki amanah dari orang tua atau wali murid dalam mendidik anaknya. Akan tetapi terkadang guru terlupakan akan unsur mendidik, guru hanya berperan sebagai pengajar bukan sebagai pendidik, alhasil seorang anak didik mejadi cerdas dan pintar namun tidak memiliki hati nurani, angkuh, sombong, dan tidak memiliki akhlakul karimah.
Realita yang ada, sumber Litbang Kompas telah mengemukakan bahwa, pada periode (1999-2004), 30 anggota DPR terlibat kasus suap pemilihan DGS BI, pada kurun waktu (2008-2011), 42 anggota DPR terseret korupsi, sepanjang (2004-2011), 158 kepala daerah tersangkut korupsi, belum lagi kasus korupsi yang terjadi diberbagai lembaga seperti KPU, KY, KPPU, Dirjen Pajak, BI dan BKPM14, bahkan yang lebih
menghebokan lagi baru-baru ini bangsa Indonesia dikagetkan dengan prilaku yang tidak bermoral yang dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi (MK).
Dari data diatas, menggambarkan betapa sangat buruknya pendidikan karakter di Indonesia ini. Bisakah kita bayangkan bagaimana kondisi bangsa Indonesia 5 tahun kedepan bahkan 10 tahun kedepan, jika peserta didik kita tidak kita didik dengan pendidikan karakternya sedini mungkin?. Oleh karena itu, peran pendidikan karakter untuk anak didik sangatlah penting untuk membentuk karakter mereka agar menjadi peserta didik yang tidak hanya berintelektual tinggi namun juga mempunyai kepribadian dengan karakter yang baik. Teringat akan kata-kata hikmah yang pernah disampai oleh almarhum KH. Zainudin, MZ dalam satu ceramahnya yang mengatakan “kita memang butuh orang yang pintar, tapi kita lebih butuh orang yang benar”, artinya, bangsa Indonesia memang sangat membutuhkan orang-orang yang memiliki intelektual tinggi, namun bangsa Indonesia lebih membutuhkan orang-orang yang benar yang memiliki akhlakul karimah, karena begitu banyak orang-orang yang memiliki intelektual yang tinggi namun dengan kepintarannya hanya digunakan untuk hal-hal yang akan merugikan bangsa, seperti korupsi dan lain-lain.
Pendidikan karakter untuk sekarang ini sangat mutlak diperlukan. Tidak hanya sekolah saja tapi dirumah dan dilingkungan sosial, bahkan sekarang ini peserta pendidikan karakter bukan lagi untuk anak pada usia dini hingga remaja, tetapi juga untuk usia remaja demi untuk kelangsungan hidup bangsa ini. Coba kita bayangkan bagaimana persaingan yang akan muncul pada 10 tahun kedepan?, yang jelas itu akan menjadi tugas dan tanggung jawab kita sebagai seorang pendidik sekaligus sebagai orang tua dalam membentuk karakter anak dalam mengahadapi persaingan dimasa mendatang.
Karakter adalah kunci keberhasilan individu, sebagaimana sebuah penelitian di Amerika yang menyatakan bahwa 90% kasus pemecatan disebabkan oleh perilaku buruk seperti tidak bertanggung jawab, tidak jujur, dan hubungan interpersonal yang buruk. Selain itu terdapat juga penelitian yang mengindikasikan bahwa 80% keberhasilan seseorang dimasyarakat ditentukan oleh emotional quotient,15 lantas
bagaimana dengan bangsa kita, dan apakah orang-orang yang sekarang yang sedang duduk manis dikursi penting pemerintahan yang mengelola perekonomian negara ini sudah menunjukan kualitas karakter yang baik dan melegakan hati kita?.
Karaktek merupakan nilai-nilai perilaku yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap perasaan, perkataan, dan perbuatan yang berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat. Bagi Indonesia sekarang ini, pendidikan karakter harus dilakukan secara sungguh-sungguh, sitematik, dan berkelanjutan untuk membangkitkan dan menguatkan kesadaran serta keyakinan bangsa Indonesia, bahwa tidak akan ada masa depan yang lebih baik tanpa membangun dan menguatkan karakter bangsa Indonesia. Artinya tidak akan ada masa depan yang lebih baik yang bisa diwujudkan tanpa kejujuran, tanpa disiplin diri, kegigihan, semangat belajar yang tinggi, tanggung jawab, tanpa memupuk persatuan di tengah-tengah kebinekaan, semangat berkontribusi bagi kemajuan bersama, serta rasa percaya diri dan optimisme. Sebagaimana dikatakan Theodore Roosevelt “mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara bahaya kepada masyarakat”.
Pendidikan karakter di sekolah memerlukan prinsip-prinsip dasar yang mudah dimengerti dan difahami oleh siswa dan individu yang bekerja dalam lingkup pendidikan itu sendiri. Adapun prinsip-prinsip tersebut sebagaimana yang dikemukakan Koesoema (2010:218-220), sebagai berikut:
1. Karaktermu ditentukan oleh apa yang kamu lakukan, bukan apa yang kamu katakan atau kamu yakini.
2. Setiap keputusan yang kamu ambil menentukan akan menjadi orang macam apa dirimu.
3. Karakter yang baik itu dilakukan dengan cara yang baik, bahkan seandainya pun kamu harus membayarnya secara mahal dan mengandung resiko.
4. Jangan mengambil prilaku buruk yang dilakukan orang lain sebagai patokan bagi dirimu, kamu dapat memilih patokan yang lebih baik dari mereka.
5. Apa yang kamu lakukan itu memiliki makna dan transformatif.
6. Bayaran bagi mereka yang memiliki karakter baik adalah menjadi pribadi yang lebih baik.16
B. Mewujudkan Pendidikan Karakter yang Berkualitas
Dalam tataran teori, pendidikan karakter sangatlah menjanjikan dalam menjawab persoalan di Indonesia, namun dalam praktiknya seringkali bias dalam penerapannya. Sebagai sebuah upaya pendidikan karakter haruslah terprogram yang terukur pencapaiannya yaitu observasi atau pengamatan yang disertai dengan indikator perilaku yang dikehendaki. Misalnya, mengamati seorang siswa di kelas selama pelajaran tertentu. Membentuk siswa yang berkarakter bukan suatu upaya mudah dan cepat. Hal tersebut memerlukan upaya terus menerus dan refleksi mendalam untuk membuat rentetan Moral Choice (keputusan moral) yang harus ditindaklanjuti dengan aksi nyata, sehingga menjadi hal yang praktis dan reflektif, serta diperlukan sejumlah waktu untuk membuat semua itu menjadi custom (kebiasaan) dan membentuk watak atau tabiat seseorang.
Selain itu pencanangan pendidikan karakter tentunya dimaksudkan untuk menjadi salah satu jawaban terhadap beragam persoalan bangsa yang saat ini banyak dilihat, didengar dan dirasakan, yang mana banyak persoalan muncul yang di indentifikasi bersumber dari gagalnya pendidikan dalam menyuntikkan nilai-nilai moral terhadap peserta didiknya. Hal ini tentunya sangat tepat, karena tujuan pendidikan bukan hanya melahirkan insan yang cerdas, namun juga menciptakan insan yang berkarakter kuat. Seperti yang dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni “intelligence plus character that is the goal of true education” (kecerdasan yang berkarakter adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).
16 Koesoema, Doni A, Pendidikan Karakter : Strategi Mendidik Anak di Zaman Globa,
Banyak hal yang dapat dilakukan untuk merealisasikan pendidikan karakter di sekolah, karena konsep karakter tidak cukup dijadikan sebagai suatu poin dalam silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran di sekolah, namun harus lebih dari itu, dijalankan dan dipraktekan. Mulailah dengan belajar taat dengan peraturan sekolah, dan tegakkan itu secara disiplin. Sekolah harus menjadikan pendidikan karakter sebagai sebuah tatanan nilai yang berkembang dengan baik di sekolah yang diwujudkan dalam contoh dan seruan nyata yang dipertontonkan oleh tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah dalam keseharian kegiatan di sekolah.
Apabila dilihat dari standar nasional pendidikan yang menjadi acuan pengembangan kurikulum (KTSP), dan implementasi pembelajaran dan penilaian di sekolah sebenarnya tujuannya dapat dicapai dengan baik, terlepas dari berbagai kekurangan dalam praktik pendidikan di Indonesia. Pembinaan karakter juga termasuk dalam materi yang harus diajarkan dan dikuasai serta direalisasikan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahnya adalah dikarenakan pendidikan karakter di sekolah selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai, dan belum pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter, Kementerian Pendidikan Nasional mengembangkan grand design pendidikan karakter untuk setiap jalur, jenjang dan jenis satuan pendidikan. Undang-undang no 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 13 ayat 1 menyebutkan bahwa pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal, yang mana semuanya ini saling melengkapi dan memperkaya. Pendidikan informal sesungguhnya memiliki peran dan kontribusi yang sangat besar dalam keberhasilan pendidikan dalam hal ini yaitu pendidikan keluarga dan lingkungan, karena pendidikan formal (sekolah) hanya 7 jam perhari atau kurang dari 30%, sedangkan 70% nya berada dalam keluarga dan lingkungan, artinya pendidikan disekolah hanya berkontribusi sebesar 30% terhadap keberhasilan pendidikan peserta didik sedangkan selebihnya ditentukan oleh keluarga dan lingkungannya.
pendidikan karakter terpadu, yaitu memadukan dan mengoptimalkan kegiatan pendidikan informal lingkungan keluarga dengan pendidikan formal di sekolah.
Pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua pemangku kepentingan dalam pendidikan, baik pihak keluarga, sekolah dan lingkungan sekolah dan juga masyarakat luas. Oleh karena itu, langkah awal yang perlu dilakukan adalah membangun kembali kemitraan dan jejaring pendidikan yang kelihatannya mulai terputus diantara ketiga stakeholders terdekat dalam lingkungan sekolah yaitu guru, keluarga dan masyarakat. Pembentukan dan pendidikan karakter tidak akan berhasil selama antara stakeholder lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan. Dengan demikian, rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan
pembentukan dan pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih diberdayakan yang kemudian didukung oleh lingkungan dan kondisi pembelajaran di sekolah yang memperkuat siklus pembentukan tersebut. Di samping itu tidak kalah pentingnya pendidikan di masyarakat, karena lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi terhadap karakter dan watak seseorang. Lingkungan masyarakat luas sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai etika, estetika untuk
pembentukan karakter. Menurut Qurais Shihab (1996; 321), situasi kemasyarakatan dengan sistemnilai yang dianutnya, mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat secara keseluruhan, jika sistem nilai dan pandangan mereka terbatas pada kini dan disini, maka upaya dan ambisinya terbatas pada hal yang sama.
Melalui paparan panjang diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam mewujudkan pendidikan karakter yang berkualitas, maka kuncinya adalah, harus memiliki alat ukur yang benar sehingga ada evaluasi dan tahu apa yang harus diperbaiki, serta adanya tiga komponen penting (guru, keluarga dan masyarakat) dalam upaya merelaisasikan pendidikan karakter berlangsung secara nyata bukan hanya wacana saja tanpa aksi. Pendidikan karakter melalui sekolah, tidak semata-mata pembelajaran pengetahuan semata, tetapi lebih dari itu, yaitu penanaman moral, nilai-nilai etika, estetika, budi pekerti yang luhur, dan yang terpenting adalah praktekan setelah informasi tersebut di berikan dan lakukan dengan disiplin oleh setiap elemen sekolah.
C. Pendidikan Karakter Untuk Membangun Keberadaban Bangsa
sendi-sendi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan norma-norma sosial di masyarakat yang telah menjadi kesepakatan bersama.
Sejarah banyak memberikan pelajaran yang amat berharga, betapa perbedaan, pertentangan dan pertukaran pikiran itulah sesungguhnya yang mengantarkan kita ke gerbang kemerdekaan. Melalui perdebatan tersebut kita banyak belajar bagaimana toleransi dan keterbukaan para pendiri republik ini dalam menerima pendapat. Melalui pertukaran pikiran itu juga kita bisa mencermati betapa kuat keinginan para pemimpin bangsa untuk bersatu di dalam satu identitas kebangsaan, sehingga perbedaan-perbedaan tidak menjadi persoalan bagi mereka, karena itu pendidikan karakter harus digali dari landasan idiologi pancasila dan landasan konstitusional UUD 1945. Nilai-nilai karakter bangsa mulai diajarkan dari pendidikan informal, dan secara pararel berlanjut pada pendidikan formal dan nonformal. Tantangan saat ini dan kedepannya adalah bagaimana kita mampu menempatkan pendidikan karakter sebagai suat kekuatan bangsa, oleh karena itu kebijakan dan implementasi pendidikan yang berbasis karakter menjadi sangat penting dan stategis dalam rangka membangun bangsa ini, hal ini tentunya tidak terlepas dari dukungan yang kondusif dari pranata politik, sosial, dan budaya bangsa.
Pendidikan karakter untuk membangun keberadaban bangsa adalah kearifan dari keaneragaman nilai dan budaya kehidupan bermasyarakat. Kearifan ini segera muncul jika serorang membka diri untuk menjalani kehidupan bersama dengan melihat realitas plural yang terjadi. Oleh karena itu pendidikan harus diletakkan pada posisi yang tepat, apalagi ketika menghadapi konflik yang berbasis pada ras, suku dan keagamaan. Pendidikan karakter bukanlah sekedar wacana tetapi realitas implementasinya bukan hanya sekedar kata-kata tetapi tindakan bukan slogan atau simbol tetapi keberpihak yang cerdas untuk membangun keberadaban bangsa Indonesia. Menurut Muktiono Waspodo pembiasaan berprilaku santun dan damai adalah refleksi dan tekad kita sekali merdeka tetap merdeka.
D. Pendidikan Karakter yang Berhasil
Keberhasilan program pendidikan karakter dapat diketahui melalui pencapaian indikator oleh peserta didik sebagaimana tercantum dalam standar kompetensi kelulusan yang antaralain meliputi:
1. Mengamalkan ajaran agama yang dianut
2. Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri 3. Menunjukan sikap percaya diri
5. Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras dan golongan sosial ekonomi
6. Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara logis, kritis dan kreatif
7. Menunjukan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif dan inovatif
8. Menunjukan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimiliki
9. Mampu menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari 10. Mendeskripsikan gejala alam dan sosial
11. Memanfaatkan lingkungan secara tanggung jawab 12. Menerapkan nilai-nilai kebersamaan
13. Menghargai karya seni dan budaya 14. Memiliki kemampuan untuk berkarya
15. Menerapkan hidup bersih dan sehat, bugar, dan aman 16. Berkomunikasi secara efektif dan santun
17. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain 18. Menunjukan kegemaran membaca dan menulis
19. Terampil dalam menyimak, berbicara, membaca dan menulis 20. Menguasai pengetahuan
21. Memiliki jiwa kewirausahaan17
Adapun pada tataran sekolah, kriteria pencapaian pendidikan karakter di sekolah dapat diketahui dari berbagai perilaku sehari-hari yang tampak dalam setiap aktivitas sebagai berikut:
1. Kesadaran 2. Kejujuran 3. Keikhlasan 4. Kesederhanaan 5. Kemandirian 6. Kepedulian
7. Kebebasan dalam bertindak 8. Kecermatan/ketelitian, dan 9. Komitmen18
BAB III KESIMPULAN
Pendidikan karakter adalah pendidikan yang menekankan pada pembentukan nilai-nilai karakter pada anak didik, yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua pemangku kepentingan dalam pendidikan, baik pihak keluarga, sekolah dan lingkungan sekolah dan juga masyarakat luas. Oleh karena itu, langkah awal yang perlu dilakukan adalah membangun kembali kemitraan dan jejaring pendidikan yang kelihatannya mulai terputus diantara ketiga stakeholders terdekat dalam lingkungan sekolah yaitu guru, keluarga dan masyarakat. Pembentukan dan pendidikan karakter tidak akan berhasil selama antara stakeholder lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan. Dengan demikian, rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan
pembentukan dan pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih diberdayakan yang kemudian didukung oleh lingkungan dan kondisi pembelajaran di sekolah yang memperkuat siklus pembentukan tersebut. Di samping itu tidak kalah pentingnya pendidikan di masyarakat, karena lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi terhadap karakter dan watak seseorang. Lingkungan masyarakat luas sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai etika, estetika untuk
pembentukan karakter.