Teks penuh

(1)

Hasse J.

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

praktisi_99@yahoo.com

MEMBANGUN PENDIDIKAN

BERKEADABAN

Pesantren sebagai Basis dan

Pilar Pembinaan

INTISARI

Dunia pendidikan Indonesia sedang menghadapi masalah berat. Berbagai kekerasan di dunia pendidikan akhir- akhir ini menjadi bukti semakin beratnya tantangan yang sedang dihadapi. Salah satu tantangan terberat adalah pembentukan perilaku peserta didik yang mampu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Kebijakan mengenai pendidikan ternyata belum sepenuhnya mampu mengubah prilaku peserta didik yang cenderung menafikan keberadaan orang dan kelompok lain. Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam dianggap mampu memberikan wawasan luas yang tidak hanya terbatas pada bagaimana menciptakan kecerdasan bagi otak, tetapi juga bagaimana menanamkan nilai-nilai yang mencerdaskan watak peserta didik. Tulisan ini menunjukkan bahwa pesantren dapat menjadi pilihan utama untuk membentuk perilaku peserta didik yang mengakomodasi dua kecerdasan tadi dalam waktu bersamaan, dengan tetap memprioritaskan pemenuhan kualitas dan kaidah akademik sebagai pijakan pelaksanaannya. Kata Kunci: pesantren, pendidikan berkeadaban, kecerdasan.

ABSTRACT

Education in Indonesia is facing several problems. Various violence happening in educational sector lately become evidence of the severity of the challenges being faced. One of the toughest challenges is the establish- ment of the students’ behavior to uphold human values . The policy on education is not fully able to change the students’ behaviors that tend to deny the existence of other people and groups. Pesantren as Islamic educa- tional institutions is considered able to provide wide insight which is not only limited on how to create and/or establish intelligence for the otak, but also how to instill values educating students’ watak. This paper shows that pesantren can be the first choice to shape the behavior of students in order to accommodate two- intelligence at the same time, with priority for the fulfillment of quality and academic norms as a foothold implementation.

(2)

36

Jabal Hikmah Vol.3 No.1, Januari 2014

PENGANTAR

Pendidikan merupakan prasyarat bagi terbentuknya bangsa yang maju. Bangsa yang maju tidak hanya diukur dari pencapaian sektor ekonomi, tetapi juga pembentukan karakter anak bangsa yang memiliki ciri keindonesiaan. Ciri keindonesiaan salah satunya adalah penempatan agama sebagai pilar di atas cita- cita luhur bangsa. Sila pertama Pancasila yang menegaskan internalisasi nilai ketuhanan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi indikasi kuat bagaimana sistem keyakinan tidak bisa lepas dari bangsa Indone- sia. Sila ini pulalah yang menjadi jiwa bangsa khususnya bagi para pemeluk agama sehingga Pancasila dapat diterima sebagai salah satu pi- lar bangsa Indonesia. Pancasila, di samping itu, juga sebagai simbol pemersatu bangsa yang di dalamnya terdiri atas beragam suku dan agama. Dalam aspek pendidikan, Indonesia mengenal dua sistem pendidikan yang hingga saat ini masih dipertahankan yaitu pendidikan agama dan umum. Sistem ini pun didukung sepenuhnya oleh negara melalui keberadaan kementerian pendidikan dan kementerian agama. Pendidikan agama sangat identik dengan lembaga pendidikan pesantren. Adapun pendidikan umum lebih dekat dengan istilah sekolah. Meskipun demikian, kedua lembaga pendidikan tersebut mengajarkan baik pendidikan agama maupun pendidikan umum dengan proporsi yang beragam. Lembaga pendidikan (pesantren) dalam sejarahnya telah lama hadir dan bergelut dengan perjuangan bangsa Indonesia, bahkan terlibat dalam perjuangan melawan penjajah kala itu.

Dalam dekade ini, dunia pendidikan Indo- nesia dihadapkan pada kenyataan semakin tergerusnya sikap kemanusiaan peserta didiknya. Lembaga pendidikan sebagai wadah dan media penyebaran nilai-nilai kemanusiaan justru menjadi tempat pembantaian antar- sesama. Alur kekerasan yang terjadi pun relatif terstruktur, yaitu dilakukan oleh kakak kepada adik, senior terhadap yunior, siswa/mahasiswa

lama terhadap siswa/mahasiswa baru, dan seterusnya yang dipicu oleh urusan sepele,

seperti tidak memberikan „jajanan‟ kepada se- nior. Alasan yang dijadikan legitimasi dan justifikasi tindakan adalah penegakan sikap disiplin karena dianggap tidak patuh.

Pesantren yang sejak lama berdiri tegak telah terbukti mampu memberikan pelayanan terhadap pemenuhan kebutuhan khususnya pengetahuan agama dan kekeringan spiritual umat Islam. Lembaga pendidikan ini berdiri kokoh hampir di seluruh sudut negeri dengan berbagai karakter masing-masing. Pada masa (sebelum) kemerdekaan, pesantren telah terlibat dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Keberadaan pesantren yang memiliki akar kuat di tengah masyarakat desa khususnya, menjadi alat perekat masyarakat membangun kekuatan melawan penjajah. Setelah kemerdekaan, pesantren terus berkontribusi dan melahirkan beberapa tokoh terkemukan di negeri ini, meskipun beberapa pesantren memilih jalan lain yang cenderung melawan penguasa Orde Baru kala itu.

Pondok pesantren dengan segala karakteristiknya dipandang sebagai salah satu lembaga pendidikan yang mampu memperkuat identitas kesantrian. Kata “santri” dalam masyarakat Jawa misalnya merupakan sebutan yang dialamatkan kepada orang-orang yang memiliki kecenderungan lebih kuat pada ajaran-ajaran agamanya (Islam) (Sulaiman, 2010:155). Kalangan santri merupakan kalangan yang memiliki pengetahuan (agama) yang dianggap lebih dari yang lain khususnya kalangan abangan. Sebutan santri juga menyangkut dengan status sosial atau prestise di tengah masyarakat yang menyimpan beberapa keunggulan sehingga masyarakat tertentu cenderung untuk memelihara dan mempertahankan status santri ini. Bahkan di kalangan elite agama, istilah santri sangat lekat padanya sehingga cenderung mengalami pelembagaan.

(3)

37

Jabal Hikmah Vol.3 No.1, Januari 2014

intrumen pendidikan yang dapat dikembangkan semaksimal mungkin dalam rangka mencetak generasi bangsa yang memiliki mental yang tangguh dan berkarakter. Pesantren dibentuk bukan hanya sebagai lembaga untuk menuntut ilmu, tetapi juga lembaga yang sengaja didirikan dengan peran sebagai media pembentukan karakter seperti kemandirian, toleran, terbuka, dan memiliki nilai kompetisi. Tulisan ini melihat tingginya harapan dan tantangan pesantren dalam upaya memberikan pencerahan dan solusi terhadap kompleksitas kehidupan saat ini, khususnya menimimalisir tindakan menyimpang yang semakin marak akhir-akhir ini.

METODE PENELITIAN

Tulisan ini merupakan hasil penelitian kepustakaan dengan membandingkan beberapa studi terhadulu. Melalui pembacaan terhadap berbagai referensi, ditemukan isu penting yang tertuang dlaam tulisan singkat ini. Penulis juga melakukan penelusuran dokumen berupa pemberitaan pada media massa khususnya mencari isu kekerasan dalam dunia pendidikan yang banyak terjadi akhir-akhir ini. Pengamatan dan pembacaan literatur menjadi instrumen utama penulisan tulisan ini. Demikian pula, pengalaman hidup penulis yang pernah menimbah ilmu pada sebuah pesantren menjadi informasi pembanding terhadap pembacaan literatur yang dilakukan. Oleh karena itu, kajian kepustakaan yang dilakukan tidak hanya fokus pada persoalan dunia pendidikan, tetapi juga pada persoalan sosial keagamaan yang lebih luas.

Memori penulis sebagai alumni pondok pesantren juga dijadikan data yang berfungsi memberikan gambaran mengenai aktivitas pendidikan di lingkungan lembaga pendidikan Islam tertua ini. Bagi penulis, pondok pesantren sering dianggap sebagai lembaga pendidikan yang ketinggalan dengan melihat tingkat kompetensi alumni yang „tertinggal‟ jika dibandingkan dengan alumni sekolah umum

non-agama. Padahal, ada beberapa aspek yang tidak diperhatikan termasuk kemampuan alumni pesantren memposisikan diri pada kondisi dan situasi yang sulit. Alumni pesantren sangat dikenal dengan pola hidup sederhana dan „tahanbanting‟ terhadap berabagai kondisi. Kemampuan intelektual keagamaan dan pengetahuan agama tentu tidak bisa lagi ditawar-tawar, santri maupun alumni tentu memiliki pengetahuan yang luas mengenai agama. Pada aspek pembinaan akhlak, alumni pesantren juga menjadikan dalil al-Qur‟an dan sunnah sebagai dasar atau pijakan. Meskipun, harus pula diakui bahwa ada juga alumni pesantren yang terjebat pada tindakan-tindakan tidak terpuji seperti tindak kekerasan. Pembinaan akhlak tidak hanya dilakukan secara parsial, tetapi dilakukan secara integratif berkelanjutan. Pendidikan akhlak tidak bisa terhenti oleh kondisi apapun, pendidikan akhlak wajib dilakukan bahkan hingga akhir hayat.

KERANGKA KONSEPTUAL

Pesantren: Lembaga Pilar Pendidkan Islam

(4)

38

Jabal Hikmah Vol.3 No.1, Januari 2014

terdapat dalam kitab-kitab klasik yang ditulis pada berabad-abad yang lalu.

Pesantren (pondok pesantren) merupakan salah satu pilar penting pendidikan di Indone- sia. Pesantren didefinisikan bukan hanya sebagai sebuah lembaga pendidikan (tradisional), tetapi juga cerminan tatanan pendidikan yang telah terbukti mampu memberikan pencerahan dan „tameng‟ bagi pembangunan karakter umat. Keberadaan pesantren dengan segala tipenya, mampu mengungkap beberapa peristiwa yang penting khususnya pada saat penjajahan berlangsung di negeri ini. Dalam konteks ini, pesantren tidak hanya menjadi institusi yang berfungsi sebagai tempat melakukan transformasi keilmuan (Islam), tetapi juga sebagai lembaga yang berfungsi menggerakkan umat untuk berada di garda terdepan melawan penjajah.

Dalam perkembangannya, dikenal beberapa tipe mengenai pesantren selain tradisional. Beberapa ahli mengemukakan hasil analisisnya bahwa pesantren telah mengalami perkembangan yang sangat pesat yang ditandai oleh kiprah alumninya pada segala aspek kehidupan termasuk politik. Jumlah pesantren pun semakin meningkat diiringi oleh semakin tingginya animo masyarakat memilih pesantren sebagai lembaga pendidikan tempat generasinya menimbah ilmu. Selain pesantren tradisional, dikenal pula pesantren modern.

Secara kebahasaan, Pondok Pesantren berasal dari kata Pondok dan Pesantren. Ada yang menyatakan kata pondok berasal dari kata

funduk dalam bahasa Arab yang berarti rumah penginapan atau hotel. Di Indonesia, istilah ini mirip dengan pemondokan dalam lingkungan padepokan yaitu perumahan sederhanan yang dipetak-petak dalam bentuk kamar-kamar yang merupakan asrama santri (Nasir, 2010:80; Prasojo, dkk, 1975:11). Istilah pondok juga sering diartikan dengan asrama. Pondok juga sering diartikan sebagai tempat tinggal (Daulay, 2010:16). Di pondok, para santri terikat dengan beragam aturan yang harus ditaati

seperti jadual shalat, belajar, mengaji, olahraga, tidur dan jadwal istirahat telah diatur sedemikian rupa.

Haidar Putra Daulay (seperti yang dikutip dari Zamaksyari Dhofier), mengemukakan bahwa ada beberapa alasan mengapa pondok penting dalam suatu pesantren. Pertama, kenyataan adanya jumlah santri (banyak) berasal dari daerah yang jauh berniat menuntut ilmu di pesantren yang bersangkutan. Kedua, letak geografis pesantren yang umumnya terletak di desa-desa yang tidak memiliki tempat penginapan/perumahan untuk para santri. Ketiga, ada hubungan timbal- balik antara kiai dan santri, para santri menganggap kiai tidak ubahnya sebagai orang tuanya sendiri (Daulay, 2010:16). Adapun pesantren berasal dari akar kata pe-santri-an artinya tempat santri. Pesantren adalah tempat bagi santri untuk belajar ilmu-ilmu agama bagi para santri. Dengan demikian, pesantren merupakan lembaga keagamaan, yang memberikan pendidikan dan pengajaran serta mengembangkan dan menyebarkan ilmu agama Islam (Daulay, 2010:16).

Pendidikan Berkeadaban

Ada tiga istilah yang sering digunakan secara bergantian dalam menunjuk pendidikan dalam Islam, yaitu tarbiyah, ta’dib, dan ta’lim. Ketiga istilah tersebut memiliki kesamaan di samping perbedaan, namun ketiganya menunjukkan sebuah proses pembelajaran. Perbedaan terletak pada penekanan masing-masing yang diakibatkan penggunaan teks dan konteks yang berbeda. Istilah yang paling popular adalah

tarbiyah jika ingin merujuk pada lembaga pendidikan formal. Ini kemudian diterjemahkan lebih lanjut dalam bentuk pembagian fakultas atau jurusan pada perguruan tinggi Islam seperti adanya Fakultas Tarbiyah, Fakultas Syariah, dan lain-lain. Istilah

ta’dib masih jarang didengar dalam pergaulan sosial masyarakat Muslim khususnya di Indo-

nesia. Sementara itu, istilah ta‟lim tergolong

(5)

39

Jabal Hikmah Vol.3 No.1, Januari 2014

muncul istilah majelis taklim (ta’lim).

Kata at-tarbiyah merupakan bentuk masdar yang berasal dari bentuk lamapu rabba. Istilah

at-tarbiyah jika diidentikkan dengan ar-rabb,

beberapa ahli memberikan definisi. Menurut Fahrur Razi seperti yang dikutip oleh (Nasir, 2010:41), ar-rabb merupakan fonem yang seakar dengan at-tarbiyah yang berarti at-tanwiyah

(pertumbuhan dan perkembangan). Sementara itu, Al Jauhari seperti dikutip oleh Al-Atas (1988:66) mengatakan bahwa kata at- tarbiyah, rabban, dan ar-rabb bermakna mem- ber makan, memelihara, dan mengasuh.

Sebagaimana yang dikutip oleh Ridlwan Nasir (2010:45-53), at-tarbiyah menurut Abdul Fattah Jalal adalah proses persiapan dan pengasuhan pada fase pertama pertumbuhan manusia (bayi dan anak-anak) yang dilakukan di dalam lingkup keluarga. Adapun ta’lim

merupakan suatu proses yang terus-menerus diusahakan manusia semenjak dilahirkan. Bagi Rasid Ridla, ta’limmerupakan proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu. Jadi, jangkaun ta’lim lebih luas dibandingkan dengan at-tarbiyah.

Apabila pendidikan Islam diidentikkan dengan at-ta’dib, bagi Sayed Muhammad An- Naquib al-Attas (1988) merupakan terminologi yang cocok digunakan dalam pendidikan Islam. Konsep inilah, menurut al-Attas, yang diajarkan rasulullah pada umat Islam kala itu.

At-ta’dib adalah pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat yang tepat dari segala sesuatu tatanan penciptaan sedemikian rupa sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan Tuhan. Kata addaba yan berarti

mendidik diambil dari hadis nabi, “Tuhanku telah mendidikku, dan dengan demikian menjadikan pendidikanku yang terbaik”.

PEMBAHASAN

Ada dua hal pokok yang akan diuraikan dalam pembahasan ini. Pertama, harapan umat

Islam terhadap kemerosotan akhlak yang banyak ditemui saat ini. Perilaku menyimpang khususnya yang ditunjukkan oleh pelaksana negara (baik di daerah maupun pusat) menjadi salah satu tanda rapuhnya benteng keimanan dalam diri mereka. Hal ini, salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya kesadaran individu akibat kekeringan spiritual yang dialami. Kekeringan spiritual ini salah satu penyebabnya adalah minimnya pengetahuan dan pengamalan agama individu tersebut. Di sinilah kemudian agama menjadi penting dalam kehidupan khususnya ketika umat (Is- lam) menghadapi berbagai persoalan. Dalam agama, jawaban terhadap berbagai persoalan dapat ditemukan. Di dunia pendidikan, terjadinya kekerasan di lingkup sekolah dan kampus juga menjadi tanda betapa rendahnya rasa solidaritas individu (pelaku), yang kemungkinan besar diakibatkan oleh

kurangnya „agama‟ dalam dirinya. Di sinilah

pentingnya pelibatan agama dalam kehidupan, bahkan perlu upaya internalisasi agama ke dalam berbagai wujud aktivitas secara berkelanjutan dan maksimal.

(6)

40

Jabal Hikmah Vol.3 No.1, Januari 2014

pembinaan yang keliru. Pada kondisi seperti ini, pesantren setidaknya dapat menjadi alternatif bagi pada orangtua dalam menentukan tempat bagi anak-anaknya menuntut ilmu.

Ketiga, format pendidikan yang sebaiknya ditujukan pada pembentukan karakter peserta didik. Persoalan kecerdasan (otak) memang menjadi perioritas diadakannya pendidikan. Bahkan pendidikan dilakukan tidak hanya di level formal seperti sekolah (kelas), tetapi juga di lingkungan non-formal seperti keluarga dan masyarakat melalui berbagai kegiatan pewarisan nilai. Orientasi kurikulum yang selama ini monoton mengarah pada bagaimana membuat anak pintar dan pandai, tetapi cenderung mengabaikan bagaimana mereka supaya bisa menjadi orang bijak/cerdas dalam segala hal seperti pembinaan akhlak yang berkelanjutan dalam semua bentuk, baik formal maupun informal.

Pelibatan Agama dalam Kehidupan: Sebuah Solusi

Agama, oleh para penganutnya, selalu dituntut untuk memberikan solusi terbaik terhadap berbagai persoalan sosial yang dihadapi. Agama mampu memberikan rasa aman terhadap pemeluknya (Geertz, 1973; Durkheim, 1926). Oleh karena itu, Agama dianggap mampu mengeluarkan manusia dari segala bentuk penderitaan dan kondisi yang tidak menyenangkan pemeluknya. Ketika agama tidak lagi memberikan solusi terhadap persoalan umat, secara perlahan ia akan ditinggalkan oleh penganutnya. Penganut agama sangat yakin terhadap peran dan fungsi agama. Dengan beragama, berarti memiliki tempat pencurahan segala keluh-kesah kehidupan. Agama dianggap menyimpan kekuatan yang dahsyat menyelesaikan berbagai hal, baik yang sedang berlangsung maupun yang akan datang. Anggapan seperti ini kiranya yang menjadi alasan utama pemeluk mempertahankan agamanya.

Pemahaman atas agama yang minim, sering dijadikan alasan terhadap tindakan buruk yang

dilakukan oleh seseorang. Di sini, agama dianggap sebagai media pembenahan

„kemiskinanspiritual‟ masyarakat. Tidak hanya pada kasus sosial kemasyarakatan yang melibatkana agama dalam penyelesaiannya, dalam kasus lain seperti perusakan hutan juga mengundang pelibatan agama. Berbagai komentar tokoh agama terkait kerusakan hutan yang terjadi dewasa ini mencerminkan peliknya persoalan tersebut. Mereka tidak setuju dengan berbagai eksploitasi yang berlebihan terhadap hutan yang mengancam keselamatan dan kemaslahatan alam.

Pada perkembangan kehidupan manusia, berbagai persoalan sosial yang belum teratasi memungkinkan animo masyarakat memilih agama sebagai media solusi sangat besar. Persoalan ekonomi seperti harga sembako yang terus melonjat dibutuhkan sikap yang arif dan sabar menyikapinya. Di sinilah ajaran-ajaran agama dapat ditemukan. Nilai-nilai agama yang mengajarkan kesabaran dan hidup sederhana

akan muncul, meskipun „terpaksa‟. Manusia

merasa butuh dengan faktor lain selain usaha yang telah dilakukan untuk mengubah keadaan belum membuahkan hasil. Pada kelompok masyarakat kecil yang berprofesi sebagai pekerja berat namun penghasilan yang diperoleh tidak mencukupi kebutuhannya, faktor agama sering menjadi menjadi alternatif. Mereka mengembalikan semua yang dialami pada takdir yang menurutnya telah ditentukan oleh Tuhan, meskipun sikap pasrah dan ingat kepada Tuhan tidak jarang muncul ketika seseorang berada dalam kesulitan. Hal ini tidak berarti bahwa manusia harus pasrah dengan kondisinya tersebut, justru dengan kondisi yang sulit manusia dituntut untuk mencari solusi pemecahannya. Agama bukan untuk Tuhan, tetapi untuk manusia (Asy’arie,

2002: 33).

(7)

41

Jabal Hikmah Vol.3 No.1, Januari 2014

pengetahuan dan teknologi yang selama ini diagungkan tenyata hanya mampu menjawab persoalan yang bersifat sementara (Naisbitt, 1990) tanpa memberi kepuasan batin. Ilmu pengetahuan dan teknologi memang memberikan sebuah jaminan kesuksesan manusia. Hampir semua aspek kehidupan bertumpu pada kedua hal tersebut. Berbagai kemajuan telah diraih manusia berkat ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi yang digunakan. Namun, kepuasan belum serta- merta diraih sempurna. Terkadang, manusia justru mencari alternatif lain pemuasan diri. Hal tersebut adalah agama. Pada titik ini, manusia melihat agama tidak hanya sebagai ideologi, tetapi agama telah bekerja dalam kehidupannya (Mircea Eliade dalam Pals, 1996).

Pesantren: Lembaga Pilar

Pembentukan Karakter Beradab

Berbagai upaya dilakukan manusia untuk mencapai kepuasan batin. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui jalan spiritual. Dalam Islam, upaya seperti ini telah lama berlangsung. Di beberapa tempat khususnya institusi agama seperti pesantren telah mem- praktikkan-nya sejak lama. Pengamalan nilai spiritual dalam kehidupan dianggap sesuatu yang diperoleh melalui latihan. Pemupukan nilai spiritual tidak datang tiba-tiba. Ia harus melalui proses yang panjang (Upe, 2008). Pesantren yang selama ini tersebar di berbagai penjuru telah berjasa besar membentuk pribadi Muslim yang taat terhadap ajaran agama. Melalui proses yang panjang di pesantren, akan ditemukan sebauh pengalaman spiritual yang dapat dijadikan pedoman hidup untuk meraih kepuasan batin. Di pesantren, tidak hanya diajakarkan ilmu- ilmu pengetahuan tentang keduniawian, tetapi juga tentang bagaimana menata hidup ke depan.

Peran agama melalui media pesantren tidak hanya membentuk pribadi yang shaleh, tetapi juga membentuk pribadi yang mandiri, sabar, dan siap menghadapi berbagai tantangan ke

depan. Pesantren tidak lagi hanya berfungsi sebagai media transformasi ilmu pengetahuan agama, tetapi juga sebagai media penyaluran keterampilan. Di pesantren, santri dididik untuk hidup sederhana dan mandiri tanpa menggantungkan diri pada orang lain. Spirit seperti ini tentu juga menjadi perhatian dalam agama khususnya Islam yang mengajarkan penganutnya untuk hidup dalam suasana kerja keras untuk mencapai kemandirian. Di sini terlihat dengan jelas betapa besarnya peran agama dalam membentuk karakter umat yang memiliki visi kemandirian. Sebuah bentuk yang menuntut pelibatan semua kemampuan manusia mencapai kesuksesan dan kepuasan. Pesantren sebagai salah satu institusi pendidikan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat diharapkan mampu memberi-kan pendidikan yang bersifat aplikatif-solutif terhadap ragam masalah yang dihadapi umat Islam dalam konteks apapun.

Ketika melihat kembali peran Pesantren Darul Mukhlisin di Sulawesi Selatan misalnya, tampak peran praktis yang ditunjukkan pesantren. Di pesantren tersebut, mahasiswa dibina dan dididik untuk menjadi manusia yang berakhlak mulai. Pendidikan tidak hanya tertuju pada penguasaan pengetahuan agama tetapi lebih pada pembentukan pribadi yang berprilaku islami (Upe, 2008). Dampak pembinaan yang dihasilkan dari pesantren ini adalah perubahan sikap mahasiswa setelah mengikuti kegiatan pembinaan. Mereka menunjukkan perubahan yang signifikan. Pergaulan dan komunikasi antar-mahasiswa terjalin dengan baik.

Pesantren sebagai institusi pendidikan pernah mendapat kritikan oleh Presiden Soekarno. Pada saat itu, pesantren dianggap sebagai institusi yang ketinggalan zaman dan

menutup diri (Asy‟ari, 1996; Saridjo, 1983).

(8)

42

Jabal Hikmah Vol.3 No.1, Januari 2014

Beberapa oknum alumni pesantren terbukti menjadi pelaku tindakan teror di beberapa tempat di Indonesia. Belum lagi, pesantren menghadap tantangan berat yang datangnya dari pengaruh pasar dalam dunia pendidikan. Persoalan-persoalan ini menjadi tantangan bagi pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan ajaran cinta damai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Kemampuan pesantren sebagai institusi pendidikan agama menangkal semua persoalan tersebut dapat dilihat dari kesusksesan memberikan pelayanan kepada publik (umat Islam). Dengan demikian, pesantren juga harus melakukan adaptasi terhadap perkembangan yang terjadi (Anwar, 2008). Pesantren harus f leksibel terhadap perubahan dan responsif terhadap tuntutan umat Islam. Masyarakat Muslim menginginkan adanya pola baru yang ditawarkan pesantren yang tidak hanya monoton pada upaya pencerahan terhadap umat melalui misi pendidikannya, tetapi juga langkah nyata yang dapat dilihat di tengah masyarakat seperti keterlibatannya dalam pencegahan terorisme, radikalisme, dan lainnya dengan mengambil bagian sebagai lembaga yang bertanggunjawab dalam pembentukan karakter yang terbuka terhadap perbedaan dan keberadaan kelompok (agama) lain. Dalam hal ini, kemampuan pesantren memberikan sesuatu yang baru selain tranformasi ilmu-ilmu agama yang selama ini diembannya menjadi tuntutan utama yang harus direspons guna menjaga citra pesantren sebagai lembaga pendidikan yang mampu memberikan rasa aman baik secara sosial maupun spiritual. Ini dapat direspons melalui program-program yang bersifat terbuka seperti muatan khutbah yang tidak mengklaim kebenaran hanya ada pada kelompok dan agama sendiri, sehingga tidak mengakibatkan kebencian terhadap kelompok luar.

Kecenderungan sebagian masyarakat muslim mengembalikan segala persoalan yang dihadapi pada agama menegaskan pentingnya agama dalam kehidupan manusia. Fungsi

pelayanan dan integratif menjadikan agama akan tetap dianut oleh penganutnya (Johnstone, 1995). Pelayanan ini tidak hanya cukup di masjid-masjid tetapi juga harus dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan agama. Ketika agama mampu menegaskan eksistensinya dengan tawaran solusi terhadap berbagai persoalan, maka agama akan tetap menjadi primadona bagi penganutnya. Ia pun akan terus dianut dan dipertahankan. Sebaliknya, jika penganut merasa tidak puas terhadap tawaran solusi pemecahan masalah yang ditawarkan oleh agama, maka secara perlahan agama akan ditinggalkan. Manusia akan mencari alternatif lain untuk menyelesaikan masalahnya. Dengan demikian, peran agama yang diharapkan adalah peran yang bukan hanya bersifat doktrinal, tetapi peran yang solutif-aplikatif. Pesantren pun demikian, jika ia mampu melakukan transfer keilmuan dari tekstual menjadi kontekstual maka ia akan lebih berkontribusi terhadap penyelesaian berbagai persoalan umat. Dalam hal ini, ayat-ayat al-Qur‟an harus ditafsirkan

sehingga sesuai dengan konteks persoalan yang sedang dihadapi umat. Al-Qur‟an harus dibumikan sehingga mampu menyentuh aspek yang menjadi kebutuhan dasar manusia (umat Islam).

Orientasi Kurikulum: Transformasi Pembinaan dari Otak ke Watak

(9)

43

Jabal Hikmah Vol.3 No.1, Januari 2014

kurikulum yang ada mengarah pada

bagaimana peserta didik pintar secara „otak‟.

Kecenderungan seperti ini memiliki kelebihan, yaitu peserta didik mampu menguasai seluruh pelajaran yang diberikan meskipun hanya sebatas pemahaman terhadap mata pelajaran tertentu dan bersifat normatif. Desain seperti ini sesuai dengan tuntutan adanya standar nilai yang harus diraih oleh mereka kemudian dinyatakan lulus sehingga perserta didik hanya fokus pada bagaimana ia lulus dalam pelajaran tersebut.

Mata pelajaran pada sekolah-sekolah, baik sekolah umum maupun agama, menunjukkan adanya keinginan untuk mamacu peserta didik

untuk mengetahui „banyak hal‟ namum tidak

tuntas. Artinya, peserta didik mampu mengetahui beberapa disiplin ilmu tetapi mereka tidak ahli dan menguasai satupun dari pelajaran-pelajaran yang diberikan. Mereka disuguhi beragam pelajaran dengan waktu tertentu sehingga konsentrasinya pun tidak hanya pada satu pelajaran. Bahkan, hingga mereka lulus pun sangat sulit menentukan pilihan mengenai pada disiplin keilmuan seperti apa nantinya mereka menjadi ahlinya. Tentunya, hal ini tidak bisa dilepaskan dari banyaknya mata pelajaran yang diajarkan dalam satu level pendidikan akibata adanya tuntutan yang harus dipenuhi sebagaimana dijelaskan di atas tadi.

Salah satu faktor penting yang dapat dikembangkan adalah mengubah sistem pendidikan yang ada dengan melakukan perubahan-perubahan mendasar khususnya mengenai orientasi kurikulum. Kurikulum sebaiknya diarahkan pada bagaimana peserta didik tidak hanya menjadi pandai/pintar, tetapi juga cerdas karena mampu memahami secara mendalam pelajaran yang diberikan. Hanya saja, keinginan seperti ini sangat sulit terwujud jika mata pelajaran yang diberikan masih seperti sekarang ini, yaitu jumlahnya banyak. Sisi pengetahuan (otak) sebaiknya diiringi oleh upaya peningkatan kemampuan analasis peserta didik sehingga mereka tidak

hanya „mengetahui‟, tetapi juga mampu

„memahami‟ pelajaran.

Sisi lain yang terlupakan adalah pembangunan dan pengembangan watak peserta didik. Selama ini, pendidikan yang dipraktikkan lebih banyak diarahkan pada bagaimana membentuk otak peserta didik melalui serangkaian proses pembelajaran yang berlangsung. Kecerdasan yang dimiliki peserta

didik pun hanya kecerdasan „otak‟ yang dapat

dilihat dari prestasi (nilai) selama menempu pendidikan. Pencapaian nilai yang baik memang merupakan salah satu indikator keberhasilan seorang peserta didik karena menyangkut keberlanjutan pendidikannya kelak. Mereka pun yang meraih nilai tinggi akan dengan mudah memilih dan masuk ke dalam sekolah-sekolah unggulan/favorit karena salah satu ukuran yang diterapkan adalah standar berdasarkan nilai tertinggi. Sementara itu, bagi mereka yang memiliki nilai rendah dengan terpaksa akan memilih sekolah- sekolah non-unggulan yang dianggap kualitasnya rendah pula. Dari sinilah proses awal tindakan diskriminatif dipraktikkan di lingkungan pendidikan.

Terlepas dari semua seperti yang diuraikan di atas, satu lagi persoalan yang harus dipikirkan adalah bagaimana mengubah orientasi sistem pendidikan. Selama ini, yang fokus adalah pembentukan otak, bukan watak peserta didik. Dari segi kecerdasan (intelektual), peserta didik memiliki kemampuan yang bervariasi, tergantung pada keseriusan mereka selama menempuh pendidikan. Inilah kemudian yang

ditengarai oleh banyak pihak sebagai „pemicu‟

(10)

44

Jabal Hikmah Vol.3 No.1, Januari 2014

Kondisi ini setidaknya merupakan efek dari kurangnya penekanan pada pembinaan men- tal peserta didik di lembaga-lembaga pendidikan. Tidak heran kiranya, jika semangat sportivitas sangat sulit dilakukan oleh peserta didik. Bahkan, semangat menghargai dan mengakui keberadaan orang lain sangat sulit diwujudkan. Mereka pun akhirnya hanya menganggap diri dan kelompoknya yang pantas ada.

Kekerasan yang terjadi mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi (PT) menunjukkan rasa kepedulian terhadap orang lain sangat rendah. Ini terjadi karena rendahnya watak kemanusiaan yang ada pada pribadi dan suatu kelompok orang sangat minim. Tampaknya, mereka (pelaku kekerasan) tidak memiliki sensitivitas kemanusiaan sehingga cenderung bertindak anarkis dan mencelakakan orang lain. Di sinilah esensi pendidikan karakter itu penting dalam rangka menumbuhkan karakter kemanusiaan untuk tumbuh lebih baik dan meminimalkan karakter hewani yang terus melekat pada diri seseorang maupun kelompok. Dengan demikian, pembangunan watak peserta didik menjadi penting dilakukan dalam rangka menciptakan manusia-manusia yang memiliki kemampuan intelektual yang berdaya saing tinggi dan kepribadian yang berkeadaban dengan senantiasa mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dan keislaman.

Ketika melirik studi yang dilakukan oleh Djunaedi (2013) dalam penelitian disertasinya yang bertajuk revitalisasi lembaga pendidikan Islam di Sulawesi Selatan, akan ditemukan sebuah formulasi pendidikan yang lebih komprehensif-integratif. Dalam studi ini terlihat dengan jelas bagaimana pesantren difungsikan dalam berbagai bentuk yang diikuti oleh berbagai aktivitas pembinaan yang tidak hanya mngarah pada pencerdasan otak, tetapi juga pencerdasan watak para santri. Penyajian kurikukum tidak hanya pada bagaimana para santri pandai membaca kitab, memahami,

kemudian menyebarluaskannya tetapi juga bagaimana mereka membina diri melalui serangkaian kegiatan yang berorientasi pada pembinaan diri seperti hidup sederhana, menghargai orang lain, mengakui keberadaan, peran, dan fungsi orang lain. Singkatnya, bagaiamana bahasa kitab menjadi bahasa pergaulan. Bagaimana ajaran Islam dibumikan sehingga menyentuh aspek yang lebih rill. Pesantren pun kemudian tidak hanya dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yang mengarah pada penguasaan keilmuan, tetapi juga pembenahan akhlak kepribadian yang selalu mengedepankan semangat penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

SIMPULAN

Pendidikan yang banyak menekankan pada bagaimana mencerdaskan otak berdampak pada meningkatnya kecenderungan peserta didik yang hanya mengejar pemenuhan dan pencapaian nilai (baca: angka) yang disyaratkan di sekolah tanpa diimbangi oleh pembangunan perilaku yang humanis. Pengejaran nilai bagus di satu sisi membuat peserta didik lebih rajin, tekun, dan disiplin khususnya dalam mengikuti proses pembelajaran di sekolah. Akan tetapi, di sisi lain, sikap individualis justru mudah muncul khususnya ketika ia sedang menghadapi situasi dan kondisi tertentu seperti sedang menghadapi ujian. Orientasi pendidikan seperti ini tidak salah, tetapi harus dibarengi dengan upaya lain yang lebih menekankan pada pembentukan karakter peserta didik yang sadar akan posisinya sebagai bagian integral dari sebuah sistem kehidupan sosial yang di dalamnya juga ada orang lain.

(11)

45

Jabal Hikmah Vol.3 No.1, Januari 2014

Akan tetapi, realitasnya justru berada pada ruang yang sama. Perilaku anarkis (kekerasan) justru dipraktikkan di lembaga pendidikan (sekolah). Keberadaan lembaga pendidikan dengan segala ornamen di dalamnya sudah sepantasnya mengambil jalan yang tepat dalam rangka menciptakan pendidikan yang betul- betul mengepankan semangat kemanusiaan.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan (Is- lam) tertua di Indonesia memiliki dasar yang kuat dalam rangka membentuk perilaku peserta didik yang memanusiakan manusia.

Keterbatan khususnya infrasturktur dan finansial lembaga pendidikan (pesantren) bukan menjadi batu sandungan dalam meneruskan kiprah mulianya mencetak generasi yang beradab. Pendidikan Indonesia sepantasnya tidak lagi terdikotomi dan terperangkap dalam klaim agama dan umum, negeri dan swasta, dan lain sebagainya untuk bersama membangun pendidikan yang berkeadaban di tengah semakin kompleksnya persoalan kehidupan saat ini yang belum menemukan titik penyelesaiannya.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Irwan, et.al. 2008. Agama, Pendidikan Islam, dan Tanggungjawab Sosial Pesantren. Yogyakarta: Sekolah Pascasarjana UGM- Pustaka Pelajar. Al-Attas, Sayed Muhammad an-Naquib.

1988. Konsep Pendidikan dalam Islam.

Bandung: Mizan.

Anwar, Ali. 2008. “Eksistensi Pendidikan Tradisional di Tengah Arus Modernisasi Pendidikan: Studi

terhadap

Keberlangsungan Madrasah Hidayatul Mubtadiin di Pondok

Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur”,

dalam Irwan Abdullah (ed.). Agama, Pendidikan, dan Tanggung Jawab Sosial Pesantren. Yogyakarta: Sekolah Pascasarjana UGM-Pustaka Pelajar.

Asy‟ari, Zubaidi H. 1996. Moralitas pendidikan Pesantren. Yogyakarta: PT. Kurnia Alam Semesta.

Asy‟arie. Musa. 2002. Menggagas Revolusi Kebudayaan tanpa Kekerasan. Yogyakarta: LESFI.

Djunaedi. 2012. “Revitalisasi Lembaga Pendidikan Islam”, Laporan Penelitian.

Pare- Pare: STAIN Pare-pare. Tidak Dipublikasikan.

Durkheim, Emile. 1926. The Elementary Forms of Religious Life. New York: The Free Press.

Geertz, Clifford. 1973. The Interpretation of Cultures. New York: Basic.

Harian Kompas, Edisi 29 Mei 2013.

Johnstone, Ronald L. 1995. Religion in Society.New Jersey: Prentise-Hall, Inc.

Kung, Hans. 1991. Global Responsibility in Search of a New World Ethic. New York:

Crossroad.

Misrawi, Zuhairi. 2007. Al Quran Kitab Toleransi.

Jakarta: Fitrah.

Naisbitt, John dan Patricia Aburdene. 1990.

Megatren 2000. Jakarta: Binarupa Aksara. Nasir, M. Ridlwan. 2010. Mencari Tipologi For- mat Pendidikan Ideal: Pondok Pesantren di tengah Arus Perubahan.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Pals, Daniel L. 1996. Seven Theories of Religion. Diterjemahkan oleh Inyiak Ridwan Muzir, dkk. Konstruksi Kebenaran Kritik Tujuh Teori Agama.

Yogyakarta: IRCiSoD.

Pals, Daniel L. 1996. Seven Theories of

Religion.New York: Oxford University Press.

Putra Daulay, Haidar. 2001. Historitas dan Eksistensi Pesantren, Sekolah dan Madrasah. Yogyakarta: Tiara Wacana. Saridjo, Marwan. 1983. Sejarah Pondok

Pesantren di Indonesia. Jakarta: Darma Bhakti.

Upe, Ilyas. 2008. “Gerakan Neo Sufisme dalam Pesantren di Sulawesi Selatan”,

dalam Irwan Abdullah (ed.). Dialektika Teks Suci Agama. Yogyakarta: Sekolah Pascasarjana UGM- Pustaka Pelajar. van Bruinessen, Martin. 2012. Kitab

Kuning, Pesantren dan Tarekat.

(12)

46

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (12 Halaman)