PENERAPAN SUPERVISI KUNJUNGAN KELAS DALAM UPAYA MENINGKATKAN KINERJA GURU KELAS III SEKOLAH SD NEGERI ROWOSARI SALATIGA
Eni Mariani
Program Pascasarjana Magister Manajemen Pendidikan
FKIP-Universitas Kristen Satya Wacana
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengadakan penerapan supervisi kunjungan kelas dalam upaya meningkatkan kinerja guru kelas III SD Negeri Rowosari Salatiga untuk peningkatan kualitas pendidikan pada aspek pembelajaran dilembaga sekolah. Metode yang digunakan dalam penerapan supervisi ini ialah menggunakan teknik observasi dan wawancara. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan terdapat guru yang masih mengalami kesulitan dalam proses pembelajaran saat mengajar, maka dari penerapan supervisi ini peneliti dapat memberikan kontribusi yang sangat berarti dalam meningkatkan keterampilan guru saat mengajar untuk meningkatkan prestasi akademik siswa
Kata kunci: Supervisi, Kunjungan Kelas, Kinerja Guru.
I. PENDAHULUAN
Namun, pada kenyataan yang muncul dengan pertanyaan mengapa upaya perbaikan kualitas pendidikan selama ini kurang berhasil ?. Hal ini disebabkan oleh strategi pembangunan pendidikan selama ini lebih bersifat input oriented. Strategi yang demikian lebih bersandar kepada asumsi bahwa bilamana semua input pendidikan telah dipenuhi, seperti penyediaan buku-buku (materi ajar) dan alat belajar lainnya, penyediaan sarana pendidikan, pelatihan guru dan tenaga kependidikan lainnya, maka secara otomatis lembaga pendidikan (sekolah) akan dapat menghasilkan output (keluaran) yang bermutu sebagaimana yang diharapkan. Ternyata strategi input-output yang diperkenalkan oleh teori education production function (McMahon, 1999) tidak berfungsi sepenuhnya dilembaga pendidikan (sekolah), serta banyak keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki guru menyebabkan kualitas layanan menjasi rendah. Latar belakang pendidikan, tidak bisa dipungkiri ada banyak kasus disekolah guru mengampu suatu mata pelajaran yang bukan haknya, keterbatasan fisik, kondisi psikologis guru, pengalaman/ pemahaman tentang lembaga, pengalaman bekerja, kekurang mampuan melakukan adaptasi dengan adanya perubahan (metode, kebijakan teknologi) menyebabkan kualitas layanan menjadi rendah (Suharsimi dan Lia: 2012).
Melihat hal ini, maka dalam lembaga pendidikan perlu diadakan supervisi. Supervisi merupakan istilah baru yang menunjuk pada suatu pengawasan tetapi lebih manusiawi. Dalam kegiatan supervisi pelaksana bukan mencari kesalahan akan tetapi lebih banyak mengandung unsur pembinaan agar pekerjaan yang diawasi diketahui kekurangannya, bukan semata-mata kesalahannya, untuk dapat diberi tahu bagaimana cara meningkatkannya (Suharsimi dan Lia; 2012). Melalui supervisi, diharapkan seorang guru dapat: (1) bekerja keras dan demokratis, (2) ramah dan suka mendengarkan orang lain, (3) sabar, (4) luas pandangan dan menaruh perhatian kepada orang lain, (5) penampilan pribadi yang menyenangkan dan sopan santun, (6) jujur, (7) suka humor, (8) kemampuan kerja yang baik dan konsisten, (9) menaruh perhatian pada problem siswa, (10) fleksibel dalam cara mengajar, (11) bisa menggunakan pujian dan mau memperbaiki, (12) pandai dalam mengajar pada bidang studi (Sahertian, 1994).
Berdasarkan pembahasan diatas, maka penulis bertujuan untuk melakukan penelitian dengan judul “Penerapan Supervisi Kunjungan Kelas Dalam Upaya Meningkatkan Kinerja Guru Kelas III Sekolah SD Negeri Rowosari Salatiga”.
II. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Supervisi
jabatan guru-guru, menyeleksi dan merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan pengajaran, dan metode-metode mengajar serta evaluasi pengajaran. Sementara dalam Petunjuk Pelaksanaan Supervisi Pendidikan di Sekolah, supervisi diartikan sebagai bantuan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik (Depdikbud, 1994). Dalam kegiatan supervisi pelaksana bukan mencari kesalahan akan tetapi lebih banyak mengandung unsur pembinaan agar pekerjaan diawasi diketahui kekurangannya, bukan semata-mata kesalahannya, untuk dapat diberitahu bagaimana cara meningkatkannya (Suharsimi dan Lia: 2012).
Berdasarkan hasil uraian dari para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa supervisi adalah segala usaha dari bentuk pengawasan yang dilakukan dengan kegiatan mengamati, megidentifikasi mana hal-hal yang sudah benar, mana yang belum benar, dan mana pula yang tidak benar, dengan maksud agar dapat dengan tepat mencapai tujuan kegiatan yang dimaksud oleh atasan kepada bawahan seperti kepala sekolah kepada staf atau guru-guru disekolah untuk memperbaiki pengajaran (pembinaan), menstimulasi agar diketahui kekurangannya, dalam hal ini bukan hanya mencari kesalahan semata, tujuan dari supervisi untuk meningkatkan proses pembelajaran agar kualitas sekolah menjadi lebih baik. Dalam pelaksanaannya supervisi dapat dilakukan secara supervisi dalam individu maupun supervisi dalam kelompok.
Tujuan dan prinsip-prinsip supervisi
Tujuan supervisi adalah mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik melalui pembinaan dan peningkatan profesi belajar.
Sesuai tujuan diatas maka dalam tataran praktis, supervisi dilakukan untuk:
1. Menginternalisasikan tujuan pendidikan yang diselenggarakan
2. Mengintroduksi permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan siswa 3. Peningkatan etos, produktivitas, dan efisiensi kerja
4. Peningkatan profesionalisme, dan 5. Demokratisasi
Menilik dari tujuannya, maka kegiatan ini dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Ilmiah (scientific) yaitu:
a. Sistematis, artinya dilakukan secara teratur, berencana dan kontinyu.
b. Objektif, artinya bukan didasarkan atas prasangka tetapi didasarkan atas data-data objektif/ formasi.
c. Menggunakan instrument yang baik untuk mengumpulkan data atau informasi yang diteliti atau cermat.
2. Demokratis, yaitu berdasarkan atas dasar musyawarah, mengandung ju=iwa kekeluargaan yang kuat serta sanggup menerima pendapat orang lain.
3. Kooperatif, yaitu dilakukan dalam situasi kerjasama, bertujuan mengembangkan usaha bersama untuk menciptakan situasi belajar mengajar yang lebih baik.
5. Terbuka yaitu bahwa kegiatan supervisi dilakukan tanpa mengandung unsur “sembunyi -sembunyi” tetapi di lakukan dengan terbuka dan terus terang dengan pemberitahuan terlebih dahulu.
6. Komprehensif, yaitu sarana yang lengkap mulai dari kepala sekolah, guru-guru, tata-usaha, (ditinjau dari pelaksanaannya) dan meliputi aspek yaitu kurikulum, sarana, ketatalaksanaan, keuangan, kesiswaan, dan humas.
Teknik-teknik Supervisi
Teknik-teknik dalam supervisi yang dilaksanakan adalah sebagai berikut:
1. Kunjungan kelas (classroom visitation), di bedakan atas;
a. Kunjungan yang dilakukan dengan terlebih dahulu memberitahukan kepada guru yang akan disupervisi.
b. Kunjungan incidental yang dilakukan tanpa memberitahukan terlebih dahulu.
c. Kunjungan yangdilakukan dengan memberikan undangan dari guru yang bersangkutan.
2. Observasi kelas (classroom observation) yaitu kegiatan supervisi dilakukan dengan cara menunggu guru (calon guru) yang sedang mengajar dikelas mulai dari awal hingga akhir pelajaran. Observasi kelas inilah kegiatan supervisi paling sistematis dan teliti karena semua gerak-gerik guru sedabg mengajar tidak ada yang terlewat untuk diamati.
3. Percakapan pribadi (individual conference) yaitu diskusi yang dilakukan oleh sekelompok guru (pada umumnya guru yang memegang bidang studi yang sama), baik yang diatur terlebih dahulu maupun incidental. Manfaat yang dapat dipetik dari diskusi ini antara lain: a. Tukar menukar pengalaman tentang cara-cara mengatasi kesulitan dalam mengajar. b. Tukar menukar informasi tentang cara-cara baru yang mereka peroleh agar pengajaran
dapat berlangsung lebih efektif.
c. Saling melengkapi sumber bahan mengajar, alat pelajaran atau sarana lain. d. Mengurangi keraguan-keraguan guru dalam menghadapi kelasnya.
e. Mempercepat korps guru.
f. Menyamakan pengertian mereka tentang kebijaksanaan yang dikeluarkan oleh pemerintah.
4. Saling berkunjung mengunjungi (intervisitation)
a. Calon guru atau guru baru menunggui guru yang sedang memberikan pelajaran contoh (model les)
b. Seseorang guru sedang menemui kawannya yang sedang mengajar untuk menambah pengalaman mengajarnya.
5. Musyawarah atau pertemuan
a. Adanya keikutsertaan secara stimulasi antara guru, kepala sekolah dan penilik sekolah dalam penataan atau dalam penyampaian informasi tentang kebijakan pemerintah sehingga semua komponen tersebut memiliki pemahaman yang sama.
6. Supervisi yang dilakukan dengan media, dengan tujuan pengalaman mereka khususnya menyangkut hal-hal yang berhubungan denga pelajaran.
7. Pusat sumber beajar (learning resource center) suatu lembaga yang menangani persediaan, pelayanan semua jenis pelajaran bukan hanya meminjamkan tetapi juga membuatkan, memberi bimbingan dalam mempelajari cara mengajar, membuat persiapan tertulis, perekaman dan sebagainya.
8. Validasi taman sejawat, satu jenis kegiatan supervisi yang telah dicobakan di Indonesia sejak tahun 1979 dan saat ini telah dilaksanakan disekolah pendidikan guru.
Langkah-langkah supervisi
Untuk dapat memperoleh hasil yang maksimal maka dilalui langkah-langkah sebagai berikut :
1. Pertemuan pendahuluan
Pertama pendahuluan ini merupakan satu langkah awal yang sangat penting dan menentukan keberhasilan supervisi. Yang dilakukan dalam pertemuan pendahuluan ini adalah:
a. Menciptakan suasana kekeluargaan yang intim antara guru dengan supervisor (establish rapport) agar komunikasi selama kegiatan dapat berjalan secara efektif. b. Membuat kesepakatan (contract) antara guru dengan supervisor tentang aspek proses
belajar mengajar yang akan dikembangkan dan ditingkatkan misalnya: khusus keterampilan bertanya, cara memotivasi siswa dan sebagainya. Jadi dengan singkat dalam penemuan pendahuluan ini disepakati bersama mengenai:
1. Sasaran atau keterampilan mengajar yang akan diamati secara cermat oleh supervisor.
2. Strategi observasi yang akan dilaksanakan.
3. Panduan atau instrument observasi yang akan di gunakan.
4. Kriteria atau tolak ukur yang akan digunakan dalam pengisian observasi. 2. Perencanaan oleh guru dan supervisor
Jika pada pertemuan pendahuluan baru disepakati sasaran, instrument dan kriteria yang digunakan, maka dalam langkah kedua ini di buat bersama perencanaan pelaksanaan observasi. Dalam perencanaan ini dirundingkan:
a. Persiapan mengajar tertulis yang sudah dibuat terlebih dahulu untuk di bicarakan kekurangan-kekurangan yang mungkin masih perlu dibenahi, serta membicarakan bagian dari persiapan tertulis tersebut yang akan mendapat perhatian khusus. b. Persiapan media atau alat-alat pelajaran yang akan digunakan sekaligus strategi
penggunaannya.
c. Cara-cara mencatat atau perekaman data yang akan digunakan oleh supervisor serta arah pengambilan data. Hal ini perlu dibicarakan agar guru tidak merasa terganggu pada waktu sedang beraksi.
3. Pelaksanaan latihan mengajar dan observasi.
a. Pengamatan dilakukan secara terus menerus selama guru mengajar, tetapi hanya menekankan dan mencatat bagian yang menjadi sasaran saja, sedangkan kegiatan lain dicatat kesan umumnya saja.
b. Pengamatan intensif dilakukan setiap selang beberapa menit dan dalam jangka waktu tertentu. Beberapa alternative yang biasa dilakukan adalah:
1. Periode 5 menit, yaitu mengamati 5 menit, berhenti 5 menit, mengamati lagi 5 menit, berhenti lagi 5 menit dan seterusnya.
2. Periode 10-5, yaitu mengamati 10, berhenti 5 menit, mengamati 10 menit lagi, berhenti 5 menit dan seterusnya.
3. Periode 15-5 yaitu mengamati 15 menit, berhenti 5 menit, mengamati lagi 15 menit, lalu berhenti 5 menit dan seterusnya.
4. Mengamati terus mnerus tetapi pencatatan dilakukan setiap 2 menit atau 4 menit.
Catatan: dalam menggunakan periodisasi ini apabila ada aspek yang ditekankan, harus dimuati secara trus menerus agar tidak kehilangan jejak. 4. Mengadakan analisis data
Hal-hal yang perlu didiskusikan adalah:
a. Kesenjangan antara apa yang telah direncanakan dengan pelaksanaannya.
b. Hasil rekaman baik yang dituliskan dalam instrumen observasi maupun dalam kaset (apabila rekaman dilakukan dengan foto atau film tentu saja belum dapat diikutkan untuk didikusikan saat ini).
c. Cara atau strategi yang digunakan dalam penyampaian umpan balik. Apabila disepakati bahwa umpan balik di sampaikan secara tertulis agar terdokumentasikan dengan baik maka setelah selesai diskusi analisis data rekaman, supervisor menuliskan kesimpulan akhir umpan balik kepada guru. Jika umpan balik dilakukan secara lisan, perlu diatur waktu penyampaian serta siapa saja yang akan diundang.
5. Diskusi memberikan umpan balik
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan umpan balik dilakukan oleh supervisor kepada guru yang sedang berlatih mengajar meningkatkan keterampilannya. Pemberian umpan balik harus dilakukan dengan segera dan objektif mengenai sasaran yang telah di bicarakan dalam pertemuan pendahuluan.
Tujuan kegiatan supervisi adalah memberikan bimbingan agar guru yang di supervisi mendapatkan peningkatan dalam hal keterampilan mengajarnya. Sehubungan dengan pemberian umpan balik ada rambu-rambu sebagai berikut:
a. Sesudah latihan selesai, (calon) guru diminta mengungkapkan persepsi (kesan)-nya mengenai kegiatan mengajar yang dia lakukan.
b. Supervisor bersama-sama dengan guru menganalisis kegiatan tersebut langkah demi langkah di lengkapi dengan data hasil pengamatan supervisor. Yang penting dalam langkah ini aalah melatih guru agar dapat melakukan penilaian terhadap diri sendiri.
hakim) tetapi melalui pertanyaan-pertanyaan yang bersifat menggali dan mengorek kelemahan sendiri sehingga akhirnya guru menyadari kekurangannya. d. Hal yang perlu diingat bahwa dalam langkah ini supervisor tidak boleh lupa harus
sekali-kali memberikan ulasan positif, pujian, penguatan, penghargaan terhadap guru agar ada perasaan puas dan bangga selanjutnya tumbuh kemauan keras untuk memperbaiki dirinya.
e. Pada akhir diskusi supervisor bersama guru menarik kesimpulan dari latihan yang baru saja di lakukan yaitu hal-hal yang sudah berhasil dan hal-hal yang masih harus diperbaiki pada lain kesempatan.
III.METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dimana penelitian ini berusaha untuk memahami sebuah peristiwa dan kaitannya dengan objek penelitian. Data penelitian ini didapat dari peristiwa-peristiwa secara langsung dari keadaan sesungguhnya dilapangan dan dilakukan secara wajar tanpa dipengaruhi oleh peneliti. Penelitian ini bertujuan untuk mendapat gambaran nyata mengenai kinerja guru dalam proses pembelajaran dikelas III SD Negeri Rowosari Salatiga.
Data dari penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder:
1. Data primer adalah data yang merupakan informasi utama dalam penelitian kualitatif ini. Data primer didapat melalui kegiatan observasi dan wawancara, yang menjadi data dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan hasil observasi dari kinerja guru dalam proses pembelajaran di kelas.
2. Data sekunder adalah data yang didapat dari buku-buku referensi berupa pengertian-pengertian dan teori-teori yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.
Adapun pengambilan data dalam penelitian kualitatif ini menggunakan teknik observasi dan wawancara. Penjelasan mengenai observasi dan wawancara dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Obeservasi
Observasi merupakan langkah awal dalam melakukan penelitian kualitatif. Observasi dilakukan untuk mengetahui keadaan dan kondisi sekolah, baik dari guru, siswa, lingkungan sekolah dan lain sebagainya.
2. Wawancara
Wawancara merupakan alat yang digunakan untuk mengetahui pendapat, harapan, keinginan, keyakinan dan proses belajar yang berlangsung di Sekolah. Kegiatan wawancara dilakukan melalui tanya jawab dengan kepala sekolah. Inastrumen yang gunakan dalam wawancara dibuat secara terstruktur untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan.
IV.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Pada hasil penelitian ini akan disajikan lembar pengamatan, lembar pengisian, pelaksanaan pelajaran di kelas, dan hasil wawancara (Suharsimi Arikunto: 2012) sebagai berikut:
LEMBAR PENGAMATAN PROSES BELAJAR MENGAJAR
IDENTITAS DATA
Nama Sekolah : SDN ROWOSARI
Kelas : III
Nama Guru : Hesti Wahyu Amaliya, S.Pd
Bidang Studi : PKN, MTK, IPA, IPS, MATEMATIKA, Bhs.Indonesia, Bhs.Inggris
Sub Bidang Studi : IPS
Pokok Bahasan : Memperkenalkan Struktur Walikota dan Bupati
Hari/ Tanggal : Kamis/ 17 November 2016
Waktu Pengamatan : 07.00-09.00
Mulai Pukul : 07.00
Berakhir Pukul : 09.00
Nama Pengamat : Eni Mariani
PETUNJUK PENGISIAN
Berilah tanda check ( √ ) pada kolom B(Baik), S(Sedang), K(Kurang), sesuai dengan keadaannya.
PERSIAPAN TERTULIS
B S K
Rumusan Tujuan Instruksional Khusus a. Ditinjau dari bentuk tingkah laku b. Ditinjau dari kekhususannya c. Ditinjau dari sasaran
d. Ditinjau dari ukuran keberhasilan
Imbangan aspek ingatan, pemahaman, pemahaman aplikasi dan aspek-aspek lain dalam tujuan istruksional khusus kesesuaian antara tujuan dengan materi pelajaran kesesuaian antara dengan Metode/ pendekatan, kesesuaian antara:
a. Alat pelajaran dengan tujuan b. Alat pelajaran dengan materi c. Alat pelajaran dengan usia siswa
Ketetapan pemilihan sumber bahan keragaman sumber bahan
√ √ √
√ √
√
Evaluasi
a. Frekuensi pemberian dan ketetapan waktu b. Kualitas butir-butir soal
c. Kesesuaian dengan tujuan instruksional khusus d. Cara memberikan skor
√
PELAKSANAAN PELAJARAN DI KELAS
B S K
I. PENDAHULUAN
1. Cara memasuki ruangan kelas
2. Perhatian terhadap hal-hal yang sekiranya menganggu jalannya pelajaran
3. Kontak awal dengan siswa-siswi dalam kelas (mengucapkan salam, absensi, menyuruh menyipakan alat yang diperlukan, dsb) 4. Perhatian kepada seluruh kelas
√
√
√
√ II. KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR
1. Cara menghubungkan pelajaran yang lalu dengan pelajaran yang akan diberikan
2. Penjelasan tentang tujuan instruksional khusus 3. Penyampaian pokok materi pelajaran
4. Penggunaan alat pelajaran/ media
5. Cara mengikutsertakan siswa dalam kegiatan 6. Penuh tidaknya keterlibatan siswa
7. Banyaknya siswa yang dapat terlibat dalam kegiatan 8. Cara menyampaikan informasi
9. Cara memberikan informasi tentang materi baru 10.Cara mengajukan pertanyaan (bahasa, rumusan)
11.Banyaknya siswa yang mendapat kesempatan menjawab pertanyaan
12.Hubungan pertanyaan dengan cara memotivasi siswa 13.Cara memotivasi siswa pada umumnya
14.Cara memberikan jawaban terhadap pertanyaan siswa 15.Hubungan antara guru dengan siswa (akrab)
16.Hubungan antara siswa dengan satu dengan yang lain 17.Keseluruhan interaksi belajar mengajar
18.Suasana kelas (hidup, terlalu tenang dan mati) 19.Cara guru menolong siswa yang tidak tertib 20.Menolong siswa yang mengalami kesulitan belajar 21.Menangani siswa yang lebih cepat dari yang lain 22.Menggunakan kalimat dengan jelas dan sederhana
23.Melaksanakan kegiatan belajar dengan logis dan berurutan 24.Pemberian contoh untuk menerangkan pelajaran
25.Kesesuaian antara contoh dengan taraf berfikir dan lingkungan siswa
26.Variasi pertanyaan yang diajukan
27.Efektivitas penggunaan waktu yang tersedia
28.Perhatian tertuju hanya kepada pelajaran yang sedang diajarkan √
√
III.AKHIR PELAJARAN
1. Membuat kesimpulan pelajaran (oleh guru, guru bersama siswa atau siswa sendiri)
2. Mengadakan penilaian perseorangan 3. Mengadakan evaluasi terhadap kelas
4. Cara memberikan motivasi kepada siswa agar belajar lebih lanjut 5. Hasil (prestasi) siswa yang diajarkan
6. Catatan yang dibuat oleh siswa
√
NO INDIKATOR KISI-KISI
INSTRUMEN
HASIL WAWANCARA SUBYEK
WAWANCARA kelas menjadi kelas yang menyenangkan, saya kemarin sedikit mudah dan tidak terlalu mengalami kesulitan karena siswa tahun kemarin penalarannya cepat dalam menjawab pertanyaan yang diberikan guru, akan tetapi untuk tahun ini guru mengalami kesulitan dalam menangani siswa kelas III yang memiliki karakter atau sifat sedikit bandel, terkadang sukanya bermain pada saat proses pembelajaran dikelas, serta pada saat dikelas guru memberikan
soal, pada tingkat penalarannya siswa masih mengalami kesulitan yaitu dalam menjawab soal yang diberikan oleh guru, maka saya mengatakan kesannya dalam menghadapi siswa pada tahun ini lebih sulit dibanding siswa tahun kemarin.
1. Saya selalu berusaha dan selalu mengutamakan 2. Apa kendala yang
di alami oleh guru ?
1. Iya, pada saat mengendalikan kelas terhadap siswa yang masih mengalami banyak kesulitan dalam segala hal, saya merasa masih mengalami banyak sekali kendala, belum lagi ditambah terkadang asyik bermain sendiri dan dengan teman-temannya,
kekurangan alat peraga
yang harusnya
disediakan oleh sekolah untuk mengajar, untuk RPP terkadang masih
ada yang belum terselesaikan sesuai dengan target indikator karena keterbatasan siswanya yang masih lambat menangkap apa yang dijelaskan oleh guru, motivasi siswa juga masih kurang untuk sekolah sehingga menjadi tantangan bagi saya dalam mengajar, sedangkan keterbatasan waktu juga.
4. Menarik kesimpulan dari hasil mengajar, alat peraga, tapi jika ada alat peraga yang bisa siswa yang terkadang selalu asyik bermain sendiri dan teman-teman, maka saya tidak menerapkan model tersebut.
2. Masih kekurangannya alat peraga yang disediakan oleh sekolah.
Guru Kelas III
Hasil Pembahasan
Tahap awal yang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah pertemuan pendahuluan terhadap guru kelas III yang akan disupervisi, dimana langkah dari pertemuan pendahuluan merupakan satu langkah awal yang sangat penting dan menentukan keberhasilan supervisi. Dalam kegiatan ini peneliti dan guru menentukan jadwal yang telah disepakati secara bersama tentang supervisi yang akan dilakukan, kemudian membuat kesepakatan mengenai keterampilan mengajar yang akan diamati, panduan atau instrument observasi yang akan digunakan. Instrument pengamatan disusun dengan penilaian berskala yaitu B(Baik), S(Sedang), K(Kurang).
berada didalam ruang kelas. Hal ini perlu dibicarakan agar guru tidak merasa terganggu pada waktu sedang mengajar.
Tahap ketiga yaitu dilakukan pelaksanaan proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru pada kelas III dan di supervisi oleh peneliti yang bertindak langsung sebagai supervisor. Dalam hal ini peneliti mengobservasi sesuai dengan instrument yang telah disepakati bersama.
Tahap keempat peneliti mengajak guru kelas untuk mendiskusikan apa yang telah dilaksanakan oleh guru pada saat mengajar. Dalam hal ini peneliti mewawancarai dengan menanyakan bagaimana kesan guru dalam mengajar dan apa saja kesulitan yang dialami oleh guru pada saat menyampaikan materi pelajaran kepada siswa, serta menanyakan apakah boleh jika dalam hal ini peneliti ingin memberikan umpan balik atau kerjasama dalam proses mengajar untuk memperbaiki kesulitan yang dialami oleh guru.
Tahap kelima peneliti memberikan umpan balik setelah mendengar bagaimana kesan guru dan apa saja yang menjadi kesulitan yang di alami oleh guru pada saat mengajar. Dalam hal ini peneliti memberikan umpan balik untuk meningkatkan keterampilan guru dalam mengajar melalui rekomendasi, karena proses yang dilakukan harus secara bertahap yaitu berhubungan dengan kecerdasan siswa dan keterbatasan waktu.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penerapan supervisi kunjungan kelas di atas, peneliti dapat memberikan kontribusi yang sangat berarti dalam meningkatkan keterampilan guru saat mengajar untuk meningkatkan prestasi akademik siswa. Supervisi yang telah dilakukan oleh supervisor yaitu peneliti sendiri dapat disimpulkan bahwa masih ada beberapa hal yang harus di tingkatkan. Dalam hal ini guru masih mengalami kesulitan dalam proses pembelajaran saat mengajar, karena keterbatasan dari tingkat kognitif siswa yang rata-rata masih rendah, kurangnya motivasi siswa untuk sekolah dengan sungguh-sungguh, kekurangan bahan ajar yang seharusnya disediakan oleh sekolah, guru masih mengalami kesulitan dalam strategi mengendalikan siswa yang suka bermain sendiri maupun bersama teman sekelasnya pada saat jam pelajaran.
REKOMENDASI
Berdasarkan kesimpulan di atas, sebagai umpan balik dari supervisor (peneliti) merekomendasikan untuk kegiatan tersebut dapat dilaksanakan untuk melatih keterampilan guru dalam mengajar. Rekomendasi ini dapat dilakukan oleh guru secara bertahap yaitu sebagai berikut:
1. Siswa cepat mengerti jika proses pembelajaran dilakukan dengan praktek langsung, contohnya jika dalam pelajaran IPA, maka guru dapat menggunakan alam sekitar dalam mengenalkan secara langsung hal-hal yang berkaitan dengan pembelajaran.
2. Cara guru memotivasi siswa yaitu ciptakanlah sehari-hari kegiatan pembelajaran yang menarik minat belajar siswa, tanamkan juga rasa percaya kepada mereka bahwa mereka pasti bisa, guru bisa lebih mendekatkan diri terhadap siswa, disaat seperti ini siswa akan suka terhadap suasana belajar disekolah.
juga guru dapat berusaha membuat peralatan mengajar dari bahan seadanya atau memanfaatkan barang-barang bekas (mengembangkan imajinasi dan kreativitas).
4. Jika melihat basic nya siswa lebih suka ke arah bermain, maka pada saat mengajar guru tidak hanya menggunakan model ceramah, tapi guru dapat beralih ke model pembelajaran mind mapping (guru harus bisa secara efektif dalam menyediakan alat pembelajaran).
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto Suharsimi dan Yuliana Lia. 2012. Manajemen Pendidikan. Yogyakarta. Aditya Media
Setiyono Imam. 2005. Jurnal: Supervisi Pendidikan Sekolah Dasar. Surabaya. Vol. 6