Studi Evaluatif Pembelajaran MatematikaBilingualpada Sekolah Nasional Berstandar Internasional di Kota Denpasar
I Wayan Agustiana
Program Studi Pendidikan Matematika Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha
ABSTRAK
Kata kunci: Studi Evaluatif, Pembelajaran Matematika, Pembelajaran Bilingual, Pembelajaran MatematikaBilingual.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengevaluasi pembelajaran matematika bilingual pada sekolah nasional berstandar internasional di Kota Denpasar dilihat dari variabel konteks, input, proses dan produk. Penelitian ini termasuk penelitian evaluatif kualitatif, yang menunjukkan prosedur dan proses pelaksanaan program. Dalam penelitian ini menganalisis dan mengevaluasi peran masing-masing faktor sesuai dengan model CIPP (Context, Input, Process, Product). Subjek/partisipan dalam penelitian ini adalah 20 guru matematika dan 294 siswa dari SMPN 1 Denpasar, SMAN 1 Denpasar dan SMAN 4 Denpasar. Data dianalisis dengan analisis deskriptif. Untuk menentukan kualitas pembelajaran matematika bilngual, skor mentah ditransformasikan ke dalam skor-T kemudian diverifikasi denganprototypeGlickman.
Hasil analisis menemukan bahwa kualitas pembelajaran matematikabilngualpada sekolah nasional berstandar internasional di Kota Denpasar tergolong baik dilihat dari variabel konteks, input, proses dan produk dengan hasil (+ + + −). Artinya, pada variabel konteks baik, variabel input baik, pada variabel proses sangat baik, dan pada variabel produk kurang baik. Penyebab utama yang mengakibatkan kurang baik pada variabel produk adalah sikap siswa.
ABSTRACT
Keywords: Evaluative Study, Mathematical Learning, Bilingual Learning, Bilingual Mathematical Learning.
The aim of this research was to analyze and evaluate bilingual mathematical learning on national schools having international standard in Denpasar through the variable of context, input, process, and product. This research was one of evaluative qualitative research that showed the procedure and process of program action. This research analyzed and evaluated the role of each factor according to the model of CIPP (Context, Input, Process, Product). The participants of research were 20 mathematics teachers and 294 students of SMPN 1 Denpasar, SMAN 1 Denpasar, and SMAN 4 Denpasar. The data were analyzed by using descriptive analysis to determine the quality of bilingual mathematical learning by converting the raw scores to T-score and then verified using Glickman’s prototype.
The research found that the quality of bilingual mathematical learning on national schools having international standard in Denpasar was good which compatible with the variables of context, input, process, and product (+ + + −). It means that the variable of context was good, input variable was good, process variable was very good and product variable was bad. The causes of the bad of the product variable was the way of behaving of students to bilingual of mathematical learning.
Based on the findings above, we concluded that bilingual mathematical learning on the national schools having international standard in Denpasar was categorized good. Afterwards, suggestion for those schools who conducted the bilingual education on mathematics were, (1) Improving and emphasizing the knowledge of teachers about programs, methods, and approaches that use in bilingual learning, (2) Improving the ability and skill of the teachers for the scientific English specially in mathematics, (3) Improving the ability of the teachers to design the adaptive curriculum, (4) Improving the ability the ability of the teachers in bilingual mathematical learning through based on the sections of the learning.
Pendahuluan
Kemajuan dalam bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) telah
membawa dampak kepada dunia pendidikan khususnya di Indonesia. Ruang belajar tidak
hanya berupa ruang yang berisi meja, kursi, dan papan tulis, dengan guru beserta siswanya
sebagai penghuninya, akan tetapi ruang yang juga berhias piranti TIK. Dalam konteks ini,
guru bukan lagi satu-satunya sumber belajar. Media belajar bukan lagi sekedar papan tulis
dan kapur. Begitu juga Bahasa pengantar, Bahasa Indonesia bukan satu-satunya lagi
paradigma pada proses pembelajaran. Perubahan paradigma tersebut adalah perubahan dari
pembelajaran yang cenderung teoritik dan berpusat pada guru (teachers centered) serta
adanya transfer materi satu arah (guru-siswa) ke pembelajaran yang dinamis, penuh dengan
kreativitas, menggugah penalaran, dan penalaran konstruktif dari
pengetahuan-pengetahuan sebelumnya sehingga pembelajaran berpusat pada siswa (students centered).
Hal ini didukung oleh pernyataan Sudiarta (2008) tentang proses pembelajaran bahwa
perubahan dari pembelajaran yang mekanistik, cenderung teoretik, dan berpusat pada guru
ke pembelajaran yang kreatif, berdasarkan masalah real yang dekat kehidupan siswa
(contextual) dan berorientasi pada pembelajaran siswa aktif (active learning) serta
mendorong siswa untuk menemukan kembali (reinvention) dan membangun (construction)
pengetahuan dan pengalaman secara mandiri.
Perubahan tersebut merupakan dampak positif dari perkembangan teknologi
informasi. Selain itu terdapat dampak negatif dari perkembangan teknologi informasi yang
tentunya harus diperhatikan dan disaring secara lebih arif dan bijaksana sehingga tidak
berpengaruh terhadap budaya kita. Suparta (2007) menyatakan bahwa diperlukan
pemahaman yang memadai untuk dapat menyaring informasi yang sering disajikan tanpa
harus takluk kepada batasan norma dimana sajian dapat dipirsa. Lebih lanjut, untuk
pemahaman itu diperlukan kemampuan menyimak, mengasimilasi dan mengakomodasikan
informasi. Untuk itulah diperlukan kemampuan Bahasa, khususnya dalam hal ini
penguasaan Bahasa Inggris. Menurut UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 33
ayat 3 bahwa bahasa asing dapat digunakan sebagai bahasa pengantar pada satuan
pendidikan tertentu untuk mendukung kemampuan bahasa asing peserta didik. Berdasarkan
hal tersebut, pemerintah sebenarnya telah mengantisipasi tantangan global dimana
penguasaan bahasa merupakan salah satu aspek yang harus dipertimbangkan.
Satuan pendidikan tertentu yang dimaksud adalah dicanangkannya beberapa
sekolah negeri menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang kemudian
dikembangkan menjadi Sekolah Nasional Berstandar Internasional (SNBI), dimana payung
hukumnya adalah UU SISDIKNAS nomor 20 th. 2003 pasal 50 ayat 2 dan 3.
Pembelajaran secara bilingual yang dikembangkan di Indonesia masih dilakukan
pada pelajaran matematika dan IPA (Math and Science as the world knowledge).
Penerapan dan penguasaan Bahasa Inggris yang akan digunakan dalam percapakan
sehari-hari bukan satu-satunya tujuan namun lebih jauh lagi adalah untuk penerapan dan
sedikit berbeda dengan Bahasa Inggris keseharian. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman
yang lebih mendalam agar penggunaannya dapat dimengerti.
Jan Dormer (dalam Sudiarta, 2007) berpendapat bahwa pemerintah Indonesia
(Depdiknas) gagal untuk mengenali dimana sebagian sekolah yang menerapkan pengajaran
bilingual di Indonesia banyak menghadapi tantangan yang cukup signifikan. Tantangan
tersebut antara lain sekolah-sekolah yang menerapkan pembelajaran bilingual tidak
memiliki guru yang native speaker, mereka juga tidak memiliki program jangka panjang
untuk pembelajaranbilingual. Tidak hanya itu, seperti program-program yang merupakan
instruksi dari pemerintah atau merupakan program top-down, program inipun mengalami
hal serupa dimana sekolah-sekolah yang menerapkan program ini memperlihatkan
ketidaksiapan. Ketidaksiapan tersebut seperti ketersediaan guru-guru yang mampu
berkomunikasi dalam Bahasa Inggris dengan katagori cukup baik. Biasanya
kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh guru terutama dalam bahasa pengantar (Inggris) sering
dikoreksi oleh siswa-siswinya. Tentunya hal ini membuat guru-guru menjadi malu untuk
meneruskan program ini.
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di SMAN 4 Denpasar, apabila
terjadi kesalahan dalam penyampaian pembelajaran dimana Bahasa Inggrisnya tidak sesuai
dengan pesan yang disampaikan, akan membuat siswa mengalami kebingungan dengan
konsep yang disampaikan dan bahkan terkesan dipaksakan. Hal ini oleh Jan Dormer
(dalam Sudiarta, 2007) disebut sebagai pendidikan bilingual yang highly damaging.
Dengan pemaksaan pembelajaran tentunya akan membuat tujuan pembelajaran tidak dapat
tercapai dan waktu yang telah digunakan menjadi sangatlah sia-sia.
Hal di atas merupakan salah satu tantangan dan kendala yang terjadi di setiap
sekolah yang menerapkan program pendidikanbilingual. Tantangan lainnya seperti sarana
prasarana yang mendukung kegiatan bilingual yang notabena merupakan persyaratan
sebagai rintisan sekolah bertaraf internasional, belum adanya model, metode, strategi atau
teknik yang memadai sebagai bentuk pendidikan bilingual yang akan diterapkan di
Indonesia. Disamping itu juga, belum jelasnya bentuk dari kurikulum yang digunakan di
sekolah-sekolah RSBI. Namun, yang menjadi masalah paling utama dalam pengembangan
pendidikanbilingualadalah sumber daya manusia (guru).
Kendala utama tersebut tercermin dari ketidakmampuan dari para guru untuk
menyampaikan dan berkomunikasi dalam proses pembelajaran dalam Bahasa Inggris
ilmiah. Dampaknya adalah guru terkesan dan bahkan kurang maksimal dalam melakukan
bahkan lebih dari bahasa pengantar yang digunakan. Namun, alangkah lebih baiknya
apabila ada keterpaduan dari penggunaan bahasa dengan strategi pembelajaran yang
digunakan. Untuk persoalan ini, pihak sekolah telah mengkursuskan para guru atau
melaksanakan programpeer coaching(pendampingan oleh guru Bahasa Inggris).
Disamping itu juga, kendala lainnya adalah dari kesiapan siswanya. Tidak semua
siswa mempunyai kemampuan Bahasa Inggris yang memadai bahkan walaupun mereka
mempunyai kemampuan Bahasa Inggris, namun mereka kurang memahami Bahasa Inggris
ilmiah yang digunakan dalam bidang matematika dan IPA.
Matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang menjadi objek pendidikan
bilingual,memilki dua hal yang harus diperhatikan, pertama isi kurikulumya (content) dan
pendekatan pembelajaran yang digunakan. Selama ini, pembelajaran matematika bilingual
mengalami banyak kendala seperti keterbatasan pengetahuan guru tentang istilah-istilah
matematika yang terkait dengan materi yang sampaikan. Disamping itu juga, minimnya
buku penunjang, lembar kerja ataupun modul yang dapat digunakan sebagai bahan acuan
yang memadai untuk mengembangkan proses pendidikan bilingual. Meskipun ada buku
penunjang, namun tidak seutuhnya mencerminkan tujuan pelajaran matematika.
Isi kurikulum yang digunakan terkait erat dengan tujuan matematika sekolah.
Depdiknas (2006) melalui Permendiknas no. 22 tahun 2006 tentang standar isi menyatakan
bahwa tujuan mata pelajaran matematika sekolah adalah agar peserta didik memiliki
kemampuan:
1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah
2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika,
3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh
4. Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah
5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat memperlajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Dari pendekatan yang digunakan selama ini masih banyak guru yang belum
pembelajaran yang tidak mengarahkan untuk berpikir kritis dan tidak menggunakan
pendekatan pemecahan masalah. Padahal dalam pembelajaran matematika modern,
pendekatan yang dapat mengembangkan kompetensi berpikir kritis siswa lebih ditonjolkan
daripada kegiatan pembelajaran behavioristik yang cenderung statik dan penuh teori.
Dalam hal ini, pembelajaran tidak hanya difokuskan kepada melatih keterampilan dasar
matematika saja, namun juga dikembangkan untuk yang lebih keterampilan yang lebih
dalam lagi. Lebih lanjut Sudiarta (2008:2-3) menyatakan bahwa pembelajaran matematika
yang harus dikembangkan adalah pembelajaran yang memberikan ruang yang cukup
kepada siswa untuk membangun dan mengembangkan pemahaman konsep matematika
secara mendalam (deep understanding), khususnya untuk mengembangkan kompetensi
matematika siswa dalam; (1) menginvestigasi dan memecahkan masalah (problem posing
& problem solving); (2) berargumentasi dan berkomunikasi secara matematis
(mathematical reasoning and communication), (3) melakukan penemuan kembali
(reinvention) dan membangun (construction) konsep matematika secara mandiri, (4)
berfikir kreatif dan inovatif, yang melibatkan imajinasi, intuisi, dalam mencoba-coba (trial
and error), penemuan (discovery), prediksi (prediction) dan generalisasi (generalization)
melalui pemikiran divergen, dan orisinal.
Terkait dengan pembelajaran matematika bilingual, nampaknya belum
terlaksana dengan baik. Guru masih berkutat dengan bagaimana menyampaikan materi
dalam Bahasa Inggris sehingga tujuan dari pembelajaran matematika tidak tercapai secara
maksimal. Untuk itu diperlukan suatu evaluasi secara komprehensip dari context (latar),
input (masukan), proses dan produk terhadap pengelolaan pembelajaran matematika
bilingual.
Metode
Penelitian ini adalah penelitian evaluasi program pembelajaran matematika
bilingual pada Sekolah Nasional Berstandar Nasional (SNBI) di Kota Denpasar,
Kotamadya Denpasar dengan tujuan untuk mengetahui kualitas pelaksanaan pembelajaran
matematikabilingualditinjau dari segi kualitas konteks, input, proses, dan produknya.
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan pendekatan objektivisme dan
subjektivisme. Pendekatan objektivisme merupakan pengumpulan data yang berpedoman
yang disusun secara sistematis dan ilmiah. Pendekatan subjektivitas merupakan
pengumpulan data dengan menggunakan kuisioner kepada subjek penelitian untuk
mencandra permasalahan dari setiap variabel yang diteliti serta menganalisis hasil evaluasi
internal yang telah dilaksanakan.
Metode dalam penelitian ini tergolong penelitian evaluatif karena analisisnya
menggunakan metode evaluasi program CIPP yang dikonfirmasikan dengan target sasaran
sebagai ukuran efektivitas suatu program. Dalam penelitian ini variabel konteks, input, dan
proses sebagai penjelasan ketercapaian produk.
Rancangan studi evaluatif ini akan dikaitkan dengan aspek yang akan dievaluasi
beserta indikator keberhasilannya, seperti pada tabel di bawah ini.
Tabel 1 Rancangan Penelitian Evaluatif matematika dan siswa yang memahami hakikat
2 Input Kualitas siswa Siswa mampu mengikuti proses pembelajaran matematika bilingual
Kualitas guru pengajar matematikabilingual
Guru matematika yang mampu mengajar matematikabilingual
matematikabilingual pembelajaran matematika bilingual
Evaluasi pembelajaran matematikabilingual
Guru melaksanakan evaluasi pembelajaran matematika bilingual
4 Produk Ketercapaian standar kompetensi (nilai ulangan harian, ulangan umum)
Ketercapaian standard kompetensi (nilai ulangan harian, ulangan umum)
Sikap siswa Sikap siswa terhadap pembelajaran matematika bilingual
Partisipan dalam penelitian ini adalah semua guru matematikabilingualdan siswa
yang melaksanankan pembelajaran matematika bilingual. Penetapan semua guru
matematika bilingual sebagai partisipan penelitian didasarkan pada jumlah populasinya
yang sangat kecil sehingga pertimbangan homogenitas dan reliabilitas sampel dapat
direduksi secara penuh. Sampel untuk guru dalam penelitian ini sebanyak 20 orang yang
berasal dari SMPN 1 Denpasar sebanyak 7 orang, SMAN 1 Denpasar sebanyak 7 orang
dan SMAN 4 Denpasar sebanyak 6 orang.
Sedangkan penentuan sampel untuk siswa yang melaksanakan pembelajaran
matematika bilingual digunakan teknik sampling. Teknik sampling digunakan, karena
memperhitungkan banyaknya siswa dari masing-masing sekolah. Hal ini dimaksudkan agar
karakteristik populasi terwakili secara optimal di dalam sampel. Dalam penelitian ini
teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah stratified proporsional random
sampling. Teknik penarikan stratified proporsional random sampling digunakan agar
dalam penelitian ini mendapatkan sampel yang memadai, atas dasar tujuan penelitian yang
ingin dicapai dan memperhatikan heterogenitas populasi ataupun karakteristik populasi
penelitian. Teknik ini digunakan mengingat populasi (situasi sosial) mempunyai
anggota/unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional, dalam hal ini adalah
situasi sosial di SMP dan SMA. Sedangkan penentuan proporsi besarnya sampel dari
tiap-tiap sekolah digunakan ukuran sampel yang memiliki taraf kesalahan 5%, atau mempunyai
taraf kepercayaan 95% terhadap populasi.
Selanjutnya dilakukan penentuan anggota sampel pada setiap sekolah sesuai
dengan perbandingan jumlah siswa masing-masing sekolah. Berdasarkan distribusi jumlah
siswa yang dijadikan sampel secara proporsional atau dengan memperhatikan
sesuai dengan populasi. Cara yang digunakan untuk penarikan sampel yang tersebar pada
ketiga sekolah tersebut, ditentukan dengan menggunakan perhitungan sebagai berikut.
ℎ ℎ
× ℎ ℎ = ℎ
Dengan menggunakan perhitungan seperti di atas, sampel setiap sekolah dapat
terwakili secara merata.
Jumlah populasi dalam penelitian ini sebanyak 1938 siswa yang terdiri dari 558
siswa di SMPN 1 Denpasar, sebanyak 916 siswa di SMAN 1 Denpasar, dan sebanyak 464
siswa di SMAN 4 Denpasar. Berdasarkan tabel Isaac dan Michael (Sugiyono,
2010:127-128) dengan tingkat kesalahan 5% diperoleh sampel sebanyak 294 orang. Sehingga dapat
ditentukan proporsi untuk masing-masing sampel di tiap sekolah yaitu sebanyak 70 siswa
di SMPN 1 Denpasar, 139 siswa di SMAN 1 Denpasar, dan sebanyak 85 siswa di SMAN 4
Denpasar.
Hasil
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 2 Rekapitulasi Hasil Perhitungan Variabel Konteks, Variabel Input, Variabel Proses dan Variabel Produk
Variabel Frekuensi Keterangan
f + f − Hasil
Konteks 158 156 + Positif
Input 11 9 + Positif
Proses 12 8 + Positif
Produk 125 169 − Negatif
Hasil + + + − Positif
Berdasarkan Tabel 2 di atas, tampak bahwa secara keseluruhan penelitian ini
menghasilkan kondisi variabel konteks, input, proses dan produk masing-masing
berkategori baik, baik, baik, dan ragu-ragu atau (+ + + −). Sehingga berdasarkan
prototipe kualitas pembelajaran matematika bilingual pada sekolah nasional berstandar
internasional di Kota Denpasar yang telah dibuat, dapat dikatakan bahwa hasil penelitian
Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis, hal ini disebabkan oleh 2 (dua) faktor yaitu input dan
proses. Pertama, mengingat ketiga sekolah ini merupakan sekolah unggulan, input siswa
pada ketiga sekolah tersebut sangat baik. Proses seleksi yang dilaksanakan di ketiga
sekolah tersebut mengacu kepada pedoman penerimaan siswa baru untuk sekolah
berstandar internasional, mulai dari seleksi administrasi sampai dengan dilaksanakannya
tes potensi akademik (TPA). Disamping itu juga, kualitas sarana prasarana dan sumber
belajar yang baik telah dimiliki oleh ketiga sekolah tersebut sebagai penunjang proses
belajar mengajar. Kedua, pembelajaran matematikabilingual yang dilaksanakan di ketiga
sekolah tersebut sudah baik. Hal ini terlihat dari mulai penyiapan ruangan termasuk
kebersihan ruangan kelas, alat pembelajaran (papan tulis dan spidol), dan media (misalnya
pasokan listrik, LCD dan kelengkapannya), serta memeriksa kesiapan siswa antara
mencakup kehadiran, kerapian, ketertiban, perlengkapan pembelajaran dan kesiapan
belajar. Dalam membuka pembelajaran, guru melakukan kegiatan apersepsi dalam rangka
memotivasi siswa dengan cara mengaitkan materi pembelajaran dengan pengalaman siswa
atau pembelajaran sebelumnya (termasuk kemampuan prasyarat), mengajukan pertanyaan
menantang, menyampaikan manfaat materi pembelajaran, mendemonstrasikan sesuatu
yang terkait dengan materi pembelajaran. Namun, agak jarang menyampaikan kompetensi
yang akan dicapai selama proses pembelajaran. Guru kurang jelas dalam menyampaikan
kemampuan yang akan dicapai dengan Bahasa siswa.
Guru-guru matematika di ketiga sekolah tersebut mempunyai kemampuan
penguasaan materi pembelajaran sangat baik. Hal ini terlihat dari tingkat kebenaran dan
keakuratan substansi (materi, isi) pembelajaran yang dibahas. Penguasaan materi yang
dimiliki oleh guru matematika dibarengi dengan penguasaan dalam strategi pembelajaran.
Dimana dapat dilihat dari pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang akan
dicapai dan pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan siswa, sesuai
dengan tingkat kognitif siswa yaitu dari mudah ke sukar, konkrit ke kompleks.
Disamping itu, pemanfaatan sumber/media pembelajaran oleh guru juga sangat
baik, ditunjukkan dengan keterampilan memanfaatkan lingkungan dan sumber belajar
lainnya secara efektif dan efesien (sesuai dengan alokasi waktu yang ditetapkan) dan
terampil mengoperasikan media pembelajaran, misalnya mengoperasikan dengan benar
perhatian siswa dimana pesan dapat ditangkap dengan jelas serta mampu menjaga dan
memfasilitasi terjadinya partisipasi aktif siswa melalui interaksi guru, siswa dan sumber
belajar.
Namun, proses yang baik tadi tidak selaras dengan sikap siswa terhadap
pembelajaran matematika bilingual, dimana siswa kurang mempunyai perasaan senang
apabila guru menyampaikan pembelajaran matematika dengan menggunakan Bahasa
Inggris. Hal ini perlu menjadi pertimbangan untuk perbaikan tentang kualitas pembelajaran
matematika yang disampaikan secara bilingual. Untuk dapat meningkatkan kualitas
pembelajaran matematika bilingual guru hendaknya meningkatkan kualitas penguasaan
Bahasa Inggris aktif dan meningkatkan kemampuan dalam menggunakan Bahasa Inggris
dalam menyampaikan pembelajaran matematika bilingual. Demikian juga, perlu
ditingkatkan penguasaan istilah-istilah matematika dalam Bahasa Inggris, mengingat
Bahasa Inggris ilmiah dalam matematika sangat berbeda dengan Bahasa Inggris dalam
percakapan sehari-hari.
Secara keseluruhan, proses pembelajaran matematika bilingual yang diterapkan
oleh guru pada SNBI di Kota Denpasar berdasarkan hasil penelitian ini belum mencangkup
proses pembelajaran yang mengembangkan sikap siswa bertaraf internasional seperti
pengembangan sikap jujur, percaya diri, dan bertanggungjawab terhadap perilaku yang
dilakukan. Sehingga hasil penelitian pada variabel proses ini merupakan keterbatasan
dalam penelitian ini.
Penutup
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan
sebagai berikut.
1. Pembelajaran matematika bilingual pada sekolah nasional berstandar internasional di
Kota Denpasar ditinjau dari segi kualitas konteks dapat dikatakan baik karena dari
dimensi landasan hukum dan pemahaman terhadap pembelajaran matematikabilingual
termasuk dalam kategoribaik.
2. Pembelajaran matematika bilingual pada sekolah nasional berstandar internasional di
Kota Denpasar ditinjau dari segi kualitas input dapat dikatakan baik karena dari
kategori baik. Sedangkan untuk dimensi buku dan sumber belajar termasuk dalam
kategorisangat baik.
3. Pembelajaran matematika bilingual pada sekolah nasional berstandar internasional di
Kota Denpasar ditinjau dari segi kualitas proses dapat dikatakan sangat baik karena
dari dimensi rencana pembelajaran matematikabilingual, dimensi persiapan guru dan
dimensi evaluasi pembelajaran matematikabilingualtermasuk dalam kategori sangat
baik. Sedangkan untuk dimensi pelaksanaan pembelajaran matematika bilingual
termasuk dalam kategoribaik.
4. Pembelajaran matematika bilingual pada sekolah nasional berstandar internasional di
Kota Denpasar ditinjau dari segi kualitas produk dapat dikatakan kurang baik karena
dari dimensi sikap siswa terhadap pembelajaran matematika bilingualtermasuk dalam
kategori kurang setuju (ragu-ragu), walaupun dari dimensi pencapaian ketuntasan
minimal dapat dikatakanbaik.
Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsimi. 2004.Evaluasi Program Pendidikan, Pedoman Teoritis Bagi Praktisi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
________________.2007.Dasar–Dasar Evaluasi Program. Jakarta: Bumi Aksara.
Budhi, WS. 2005.Langkah Awal Menuju ke Olimpiade Matematika. Jakarta: Ricardo.
Candiasa. 2004.Statistik Multivariat. Singaraja : Unit Penerbitan IKIP Negeri Singaraja
Cuevas, Gilberto J. 1984.Mathematics Learning in English as a Second Language. Journal for Research in Mathematics Education, Vol.15, No.2, Monorities and Mathematics. (Mar.,1984), pp.134-144.
Depdiknas. 2006. Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi Sekolah Menengah Atas. Jakarta: Depdiknas
Depdiknas, 2009. Panduan Penyelenggaraan Program Rintisan SMA Bertaraf Internasional (R-SMA-BI). Jakarta: Depdiknas
Diarsa, I Nyoman. 2008. Studi Evaluatif Pengelolaan Pembelajaran Matematika pada SMA Negeri 1 Kubu di Kabupaten Karangasem. Tesis (tidak dipublikasikan). Singaraja: Undiksha Singaraja.
Dixon, L.Quentin. 2005. The Bilingual Education Policy in Singapore: Implications for Second Language Acquisition. ISB4: Proceeding of the 4th International Symposium on Bilingualism. Somerville, MA: Cascadilla Press.
Gay, L.R, Mills, Geoffrey E, Airasian, Peter. 2009. Educational Research: Competencies for Analysis and Applications. Ninth Edition. New Jersey: Pearson Education International.
Harsono. 2004. Kearifan dalam transformasi pembelajaran: dari teacher-centered ke student-centered learning. Makalah (tidak dipublikasikan) disampaikan pada seminar Implementasi nilai kearifan dalam proses pembelajaran berorientasi student-centered learning, di Balai Senat UGM.
Hoffmann, Charlotte. 1991. An Introduction to Bilingualism. Malaysia: Longman Group UK.
Leslie P. Steffe and friends. 1996. Theories of Mathematical Learning. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Publishers.
Lim Chap Sam, et al. 2009.Language Used in Bilingual Primary Mathematics Classroom. Preceedings of the 5th Asian Mathematical Conference. Penang: School of Educational Studies, Universiti Sains Malaysia.
Marhaeni, A.A.I.N. 2007.Evaluasi Program Pendidikan. Singaraja: Undiksha Singaraja.
Mather, Jeanne Ramirez Corpus & Chiodo, Jhon J. 1994. A Mathematical Problem: How Do We Teach Mathematics to LEP Elementary Students?. The Journal of Educational Issues of Language Minority Students, v13 p.1-12: Spring.
Naisbitt, John. 2001. High Tech High Touch, Pencarian Makna di Tengah Perkembangan Pesat Teknologi.Mizan: Bandung
NCTM. 1991. Profesional Standard for Teaching Mathematics. The National Council of Teachers of Mathematics, Inc: United States of America.
...2000.Principles and Standards for School Mathematics. The National Council of Teachers of Mathematics, Inc: United States of America.
Norman Dray. 2007.The Relation of Expressed Vision and Instructional Supervision in A Selected School District. Dessertation. Department of Educational Administration of the College of Education, University of Saskatchewan.
NRC. 1989. Everybody Counts. A Report to Nation on the Future of Mathematics Education. Washington DC: National Academy Press
Rossi P.H dan William W. 1972. Evaluating Sosial Programs: Theory, Practice and Politics. New York: Seminar Press.
Santoso, Rudi Yohanes. 2007. Pengembangan Model Pembelajaran Matematika Untuk Mengaktifkan Otak Kanan. Desertasi tidak dipublikasikan. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.
Santyasa, I Wayan. 2009. Metode Penelitian Pengembangan dan Teori Pengembangan Modul. Makalah tidak dipublikasikan. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha.
Schiffman, Harold F. 2005. Bilingualism in South Asia: Friend or Foe?. ISB4: Proceedings of the 4th Internasional Symposium on Bilingualism. Somerville, MA: Cascadilla Press.
Spring and Summer Editions. 1993.Fokus on Learning Problems in Mathematics, vol 15, number 2 & 3. Center for Teaching/Learning Mathematics.
Stufflebeam, Daniel L & Shinkfield, Anthony J. 1986. Sistematic Evaluation. Boston: Kluwer-Nijhoff Publishing.
Sudiarta, I Gusti Putu. 2008.Membangun Kompetensi Berpikir Kritis melalui Pendekatan Open Ended.Singaraja: Undiksha Singaraja.
Sugiyono, Prof. Dr. 2010. Metode Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Suherman, Erman, Drs.M.Pd.1993. Evaluasi Proses dan Hasil Belajar Matematika. Jakarta: Universitas Terbuka.Depdikbud.
Suparta, I Nengah, dkk. 2007. Pengembangan Model Pembelajaran Bilingual Berbasis Kegiatan Pembelajaran dengan Latar Pengajuan Masalah. Laporan Research Community Development. Tidak dipublikasikan. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha.
Tara Fenwick. Ethical Dilemmas of Transformative Pedagogy In Critical Management Education. (makalah)