• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI BANGSAL PENYAKIT DALAM PENYAKIT GA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "STUDI BANGSAL PENYAKIT DALAM PENYAKIT GA"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI BANGSAL PENYAKIT DALAM

PENYAKIT GAGAL GINJAL KRONIK (GGK)

Roy Oktavianus Bunga

Program Profesi Apoteker, Fakultas Farmasi, Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta E-mail: [email protected]

ABSTRAK

Penyakit ginjal kronik adalah suatu proses patofisiologis dengan etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif, dan pada umumnya berakhir dengan

gagal ginjal1. Pasien Tn. BM, umur 56 tahun, masuk RS PGI Cikini pada 04 februari 2014

dengan diagnosa nonfungsional ginjal kanan. Terapi pengobatan selama delapan hari yaitu Ceftriaxon, Kalnex (Asam traneksamat), Vitamin K, Vitamin C, Vomizole (Pantoprazole), Torasic (Ketorolak) dan Ca. Gluconas. Berdasarkan hasil praktek kepaniteraan klinik pada bangsal penyakit dalam di RS PGI Cikini maka dapat ditarik kesimpulan bahwa nilai LFG pasien Tn. BM adalah 50,09 ml/menit yang menandakan penyakit gagal ginjal derajat 3 dan

adanya DRP (Drug Related Problem) berupa adanya obat tanpa indikasi, dosis obat terlalu

tinggi dan interaksi obat.

Kata Kunci : Penyakit Gagal Ginjal Kronik (GGK), Penyakit Dalam, RS PGI Cikini

PENDAHULUAN

Gagal ginjal kronik (GGK) adalah suatu keadaan penurunan fungsi ginjal yang terus-menerus terjadi secara perlahan, bersifat ireversibel dengan akibat terjadinya penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG)2. Jika ginjal tidak dapat berfungsi dengan baik, akan terjadi

penumpukan zat-zat sisa metabolisme dalam tubuh sehingga menimbulkan efek-efek toksik. Penyakit ginjal kronik dapat berkembang secara cepat, dalam 2 – 3 bulan, ataupun secara

lambat, dalam kurun waktu lebih dari 30 – 40 tahun1.

Gagal ginjal tahap akhir (GGTA) adalah keadaan di mana faal ginjal pasien sudah menurun, yang diukur dengan klirens kreatinin (KK) tidak lebih dari 15 ml/menit. Pasien GGTA, apapun etiologi penyakit ginjalnya memerlukan pengobatan khusus yang disebut pengobatan atau terapi pengganti ginjal. Terapi pengganti ginjal terdiri dari hemodialisis, peritoneal dialisis dan transplantasi ginjal. Dari beberapa terapi pengganti di atas, pada umumnya terapi pengganti yang paling banyak dilakukan di Indonesia adalah Hemodialisis (HD)3.

Menurut data dari The United States Renal Data System (USRDS) tahun 2009 Gagal

(2)

18 juta orang4. Menurut data yang dikumpulkan oleh Indonesian Renal Registry (IRR) jumlah

pasien penyakit gagal ginjal tahap akhir (GGTA) yang menjalani hemodialisis di Indonesia

dari tahun 2007 sampai 2012 adalah 1885, 1936, 4707, 5184, 6951 dan 91615. Data dari

beberapa pusat penelitian yang tersebar di seluruh Indonesia melaporkan bahwa penyebab gagal ginjal tahap akhir yang menjalani dialisis adalah glomerulonefritis (36,4%), penyakit ginjal obstruksi dan infeksi (24,4%), penyakit ginjal diabetik (19,9%), hipertensi (9,1%), sebab lain (5,2%)6.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif evaluatif. Pengamatan dilakukan secara retrospektif terhadap data rekam medis pasien GGK di Bangsal K RS PGI Cikini Jakarta periode Februari-Maret 2014.

Data pasien yang tercatat di dalam rekam medis pasien di Bangsal K RS PGI Cikini yang memuat identitas pasien, profil subyektif, obyektif, observasi tanda vital, penilaian dan tatalaksana terapi oleh dokter selama periode penelitian.

Analisis data dilakukan dengan cara mengevaluasi ketepatan indikasi, penderita, dan dosis serta evaluasi penggunaan obat ginjal untuk pasien GGK dan evaluasi penggunaan obat ginjal pasien GGK yang menjalani hemodialisa

PERSENTASI KASUS1

Pasien Tn. BM, umur 56 tahun masuk RS PGI Cikini pada tanggal 04 februari 2014, dengan diagnosis nonfungsional ginjal kanan. Pasien datang dengan keluhan nyeri pinggang bagian kanan dan lemas. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan serum kreatinin pasien mengalami peningkatan, dan hasil perhitungan laju filtrasi glomerulus (LFG) dengan

menggunakan rumus Kockcroft Gault yaitu 50,09 ml/menit yang menandakan penyakit gagal

ginjal derajat 3.

EVALUASI KLINIK7,8,9

Pada kasus ini pasien diterapi dengan Ceftriaxon untuk penanganan infeksi saluran kemih yang ditandai dengan peningkatan nilai leukosit. Kalnex (Asam traneksamat) dan Vitamin K obat koagulan untuk mencegah dan mengatasi perdarahan. Vitamin C untuk mencegah dan mengobati devisiensi Vitamin C dan membantu memelihara daya tahan tubuh. Vomizole (Pantoprazole) untuk tukak lambung atau tukak duodenum. Torasic (Ketorolak) untuk mengobati nyeri akut sedang sampai berat. Sedangkan Ca. Gluconas untuk mengatur hipofosfatemia.

(3)

Selama delapan hari perawatan di RS PGI Cikini pasien Tn. BM mendapatkan tujuh jenis pengobatan. Hari pertama pasien mendapatkan Ceftriaxon injeksi dengan dosis 2 x 1 g sehari diberikan selama delapan hari. Hari kedua pasien mendapatkan Kalnex (Asam traneksamat) oral 3 x 500 mg sehari diberikan selama tujuh hari, Vitamin K injeksi 2 x 1 ampul diberikan selama tujuh hari, Vitamin C injeksi 1 x 400 mg sehari diberikan selama tujuh hari, Vomizole (Pantoprazole) injeksi 2 x 1 vial sehari diberikan selama tujuh hari, Torasic (Ketorolak) injeksi 3 x 30 mg sehari diberikan selama tujuh hari. Sedangkan hari ketiga pasien mendapatkan Ca. glukonas, injeksi 1 x 1 ampul sehari diberikan selama tiga hari.

HASIL PEMERIKSAAN LABORATORIUM11

Hasil pemeriksaan hematologi pada tanggal 3 februari 2014 menunjukan nilai laju endap darah (LED) yang tinggi yaitu 23 mm/jam (0-20 mm/jam) menandakan adanya peradangan atau infeksi, peningkatan nilai globulin yaitu 3,9 g/dL (1,3-3,7 g/dL) menandakan adanya gangguan pada hati atau infeksi, peningkatan nilai protein total yaitu 8,1 g/dL (6,0-8,0 g/dL) menandakan terjadinya inflamasi, penurunan nilai neutrofil yaitu 1% (2-6%) menandakan adanya infeksi, peningkatan limfosit yaitu 45% (20-40%) menandakan adanya infeksi, peningkatan nilai kreatinin yaitu 1,7 mg/dL (0,6-1,1 mg/dL) menandakan adanya penurunan fungsi ginjal, penurunan nilai kalium yaitu 3,3 mEq (3,5-5,0 mEq) menandakan terjadinya hiperkalemia, dan penurunan nilai fosfor yaitu 1,4 mg/dL (2,5-5,0 mg/dL) menandakan terjadinya hipofosfatemia. Hasil pemeriksaan urinalisis tanggal 5 februari 2014 menunjukkan peningkatan nilai leukosit yaitu 3/LPB (0-2/LPB). Dan pemeriksaan hematologi tanggal 6 februari 2014 menunjukkan penurunan nilai leukosit yaitu 13,2 10^3μL (5-10 10^3μL) yang menandakan adanya infeksi.

PEMBAHASAN2,7,8,9,10,11,12

Pasien Tn. BM masuk RS PGI Cikini pada tanggal 04 februari 2014 dengan diagnosis nonfungsional ginjal kanan. Pasien datang dengan keluhan nyeri pinggang bagian kanan dan lemas. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan serum kreatinin pasien mengalami peningkatan yaitu 1,7 mg/dL, dan nilai laju filtrasi glomerulus (LFG) didapatkan melalui

perhitungan Kockcroft Gault yaitu 50,09 ml/menit yang menandakan penyakit gagal ginjal

derajat 3.

(4)

mencegah dan mengobati devisiensi Vitamin C dan membantu memelihara daya tahan tubuh. Menurut Burns, A (Renal Drug Handbook, 2009) pemberian Vitamin C pada pasien gagal ginjal perlu menggunakan dosis yang rendah untuk mencegah pembentukan oksalat. Penggunaan Vomizole (Pantoprazole) untuk tukak lambung atau tukak duodenum. Penggunaan Torasic (Ketorolak) untuk penanganan jangka pendek nyeri sedang sampai berat. Menurut Burns, A (Renal Drug Handbook, 2009) Ketorolak bersifat nefrotoksik, dapat mengakibatkan penurunan fungsi ginjal dan pemberian untuk pasien gagal ginjal derajat 3 maksimum 60 mg/hari. Sedangkan penggunaan Ca Gluconas untuk penanganan hipofosfatemia.

DRUG RELATED PROBLEM7,8,9,10,12

1. Obat Tanpa Indikasi

Pasien menerima obat Kalnex dan Vitamin K. Menurut BNF, 2009 Kalnex diindikasikan untuk fibrinolisis lokal dan Vitamin K untuk produksi faktor pembeku darah. Namun tidak ada data yang menunjukkan adanya kasus perdarahan pada pasien.

2. Dosis Terlalu Tinggi

Dosis obat terlalu tinggi yaitu pada pemberian Torasic (Ketorolak) 3 x 30 mg selama tujuh hari. Menurut Renal Drug, 2009 nilai LFG antara 20-50 ml/menit maksimum pemberian Ketorolak adalah 60 mg/ hari selama dua hari.

3. Interaksi Obat

Interaksi obat yang terjadi yaitu penggunaan Ceftriaxone dengan Torasic (Ketorolak) dapat menyebabkan peningkatan efek dari Torasic (Ketorolak); penggunaan Ceftriaxone dengan Ca. Glukonas dapat meningkatkan peningkatan cairan partikulat di paru-paru dan ginjal; penggunaan Torasic (Ketorolak) dengan Vitamin K mengakibatkan efek koagulan Vitamin K menurun; penggunaan Vitamin C dengan Ceftriaxon dan Torasic (Ketorolak) menyebabkan peningkatan efek dari Ceftriaxone dan Torasic (Ketorolak) yang dapat memperparah kondisi ginjal pasien.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil praktek kepaniteraan klinik pada bangsal penyakit dalam di RS PGI Cikini maka di tarik kesimpulan bahwa nilai LFG pasien Tn. BM adalah 50,09 ml/menit yang

menandakan penyakit gagal ginjal derajat 3 dan adanya DRP (Drug Related Problem) yaitu

(5)

DAFTAR PUSTAKA

1. Suwitra, K. 2009. Penyakit Ginjal Kronik. Interna Publishing. Hal 1035-1036

2. Sekarwana N, dkk. 2011. Kompendium Nefrologi Anak. IDAI. Jakarta. Hal 281

3. Sharif, S. 2014. Asupan Protein, Status Gizi Pada Pasien Gagal Ginjal Tahap Akhir

yang Menjalani Hemodialisis Reguler. FK UNHAS. Hal 3

4. Suhardjono.2009. Penyakit Ginjal Kronik Adalah Suatu Wabah Baru (Global Epidemic)

Diseluruh Dunia. Annual Meeting Perhimpunan Nefrologi Indonesia. Hal 4

5. PERNEFRI. 2012. Report Of Indonesian Renal Registry5th. Perkumpulan Nefrologi

Indonesia. Hal 11

6. Prodjosudjadi, dkk. 2009. End-Stage Renal Disease In Indonesia. Treatment velopment.

Hal 33-36

7. BPOM. 2008. Informatorium Obat Nasional Indonesia (IONI). Jakarta : Sagung Seto.

Hal 159, 381, 672, 681, 686, 871, 1076, 1098

8. Burns, A. 2009. Renal Drug Handbook third edition. New York : Oxford. Hal 65, 111,

132, 410, 558, 584, 745

9. BNF. 2009, British National Formulary. BMJ Group. UK. Hal 13, 17-21, 24, 50, 138,

297, 543

10. Baxter, K. 2008. Stockley’s Drug Interactions eight edition. Pharmaceutical Press. London. Hal 158

11. Sutedjo, AY. 2007. Buku Saku Mengenal Penyakit Melalui Hasil Pemeriksaan

laboratorium. Amara Books. Yogyakarta. Hal 30-40, 69, 98-100

12. Priyanto. 2008. Farmakoterapi dan Terminologi Medis. Lembaga Studi dan Konsultasi

Referensi

Dokumen terkait

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas selesainya penulisan skripsi ini yang berjudul “Analisis dan Perancangan Sistem Pemesanan Tiket dan Paket

Form profil jurusan digunakan untuk memasukkan standar kriteria penilaian masing- masing jurusan. Pada Gambar 6 ditunjukkan tampilan profil jurusan yang dapat diisi

Berdasarkan hasil pre test dan post test diatas, maka dapat dinyatakan bahwa hipotesis statistik yang diajukan dalam penelitian yang berbunyi “Penerapan bimbingan

Pelaksanaan pembelajaran pada treatment pertama ini diawali dengan kegiatan pembukaan yang dilakukan dengan anak berdoa dan mendengaran guru menjelaskan kegiatan dan

Oleh karena itu, kegiatan ini sangat didukung sebagai upaya membantu pemerintah dalam meningkatkan kualitas sum- ber daya manusia (SDM) dalam penyediaan bibit rumput

Sintesis Protein Mikroba dan Krakteristik Kondisi Rumen Ternak Sapi Lokal yang diberi Ransum Jerami Padi Amoniasi Urea dan Konsentrat dengan Tingkat yang Berbeda.. Zain

Tsunami merupakan suatu siri ombak besar yang mempunyai jarak gelombang dan jangka masa yang agak panjang disebabkan oleh gangguan atau perubahan pada dasar laut

PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TIMUR DINAS PEKERJAAN UMUM Komplek Pusat Pemerintahan Kabupaten Aceh