AKUNTANSI PERTANGGUNGJAWABAN SEBAGAI ALAT
PENGENDALIAN BIAYA PADA PT. SABURNAYA
Ella Puspita Nisa, Masyhad, Widya Susanty
Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi, Universitas Bhayangkara Surabaya
ABSTRAK
Akuntansi pertanggungjawaban merupakan sistem akuntansi yang mengakui adanya pusat-pusat pertanggungjawaban pada seluruh perusahaan. Akuntansi pertanggungjawaban timbul sebagai akibat adanya wewenang yang diberikan dan bagaimana mempertanggungjawabkan dalam bentuk laporan tertulis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, sedangkan pengumpulan data saat penelitian menggunakan studi pustaka dan wawancara dengan staf bagian anggaran dan akuntansi pada PT. Saburnaya untuk memperoleh data. Dari hasil penelitian PT. Saburnaya, perusahaan tersebut belum menerapkan akuntansi pertanggungjawaban dengan cukup baik.
Kata kunci : akuntansi pertanggungjawaban, pusat-pusat pertanggungjawaban, anggaran, dan pengendalian biaya.
ABSTRACT
Accounting is an accounting system that recognizes the existence of the centers of responsibility on the entire company. Accounting arise as a result of the authority granted and how the account in the form of a written report. This study used qualitative methods, whereas the observation while using the research literature and interviews with staff, the budget and accounting at PT. Saburnaya to obtain data. From the results of PT. Saburnaya, the company is yet to implement accounting well enough.
Keywords : accounting, responsibility centers, budget and cost control.
PENDAHULUAN
dengan efisien tanpa memantau secara langsung seluruh kegiatan perusahaan. Akuntansi pertanggungjawaban juga perlu dievaluasi agar berlangsung dengan baik sehingga
manajemen dapat dengan mudah menghubungkan biaya yang timbul dengan manajer pusat pertanggungjawaban yang bertanggung jawab. Penerapan akuntansi pertanggungjawaban yang memadai mampu mendorong perusahaan guna mencapai tujuan perusahaan. Permasalahan yang menjadi inti pembahasan dalam penelitian ini yaitu
“Bagaimana penerapan akuntasi pertanggungjawaban sebagai alat pengendalian biaya
pada PT. Saburnaya, Surabaya?.“
a. Akuntansi Pertanggungjawaban
“Akuntansi pertanggungjawaban merupakan suatu sistem akuntansi yang digunakan
untuk mengukur kinerja setiap pusat pertanggungjawaban sesuai dengan informasi yang dibutuhkan manajer untuk mengoperasikan pusat pertanggungjawaban mereka sebagai dari sistem pengendalian manajemen”(Samryn,2012 : 261).
b. Pusat-pusat Pertanggungjawaban
Menurut Anthony dan Govindrajan (2009:175), dalam suatu perusahaan pada umumnya terdapat empat kelompok pusat pertanggungjawaban, yaitu :
1. Pusat Biaya(Expense Center)
Pusat pertanggungjawaban yang manajernya hanya bertanggung jawab terhadap biaya, dan keberhasilan manajernya diukur atas dasar masukan atau biaya yang terjadi. Suatu unit organisasi dapat ditunjuk atau ditetapkan sebagai pusat biaya kalau manajer organisasi tersebut mempunyai kewenangan untuk mempengaruhi besar kecilnya biaya yang terjadi pada unit organisasi tersebut. Sebagai tolak ukur bagi pusat biaya adalah biaya standar atau anggaran biaya yang telah ditetapkan oleh manajer atasannya.
2. Pusat Penghasilan(Revenue Center)
Pusat pertanggungjawaban yang manajernya hanya bertanggung jawab terhadap penjualan atau penghasilan, dan prestasinya diukur atas dasar penghasilan yang diperoleh tanpa harus memperhatikan biaya atau masukan yang terjadi untuk membuat barang atau melaksanakan jasa yang dijualnya. Namun demikian, manajer pusat penghasilan tersebut masih tetap bertanggung jawab atas biaya yang terjadi di unitnya.
3. Pusat Laba(Profit Center)
Pusat pertanggungjawaban yang manajernya harus bertanggung jawab terhadap penghasilan dan biaya yang terjadi pada pusat laba tersebut, dan manajernya diukur prestasinya atas dasar laba yang diperoleh. Karena merupakan selisih antara penghasilan dan biaya, maka manajer pusat laba tersebut pada dasarnya dinilai prestasinya dari dua segi yaitu biaya atau masukan dari segi penghasilan atau keluaran. Oleh karena itu, suatu unit dalam suatu organisasi dapat ditetapkan sebagai pusat laba kalau manajer unit tersebut mempunyai wewenang untuk mempengaruhi atau menentukan besar kecilnya biaya dan penghasilan di unit tersebut.
Pusat pertanggungjawaban yang manajernya bertanggung jawab terhadap pendapatan, biaya dan investasi yang terjadi pada pusat pertanggungjawaban tersebut. Prestasi manajer pusat investasi diukur atas dasar laba yang dihasilkan dibandingkan dengan aktiva yang digunakan untuk menghasilkan laba tersebut. Unit dalam suatu organisasi dapat ditetapkan sebagai pusat investasi kalau manajer unit tersebut mempunyai wewenang untuk mengendalikan biaya, mengendalikan penghasilan dan menentukan besar kecilnya maupun jenis aktiva yang digunakan oleh unit organisasi tersebut.
c. Pengertian Anggaran
Menurut Anthony dan Govindrajan yang dialih bahasakan oleh Tjakrawala dan Krista (2005:73) anggaran di definisikan sebagai berikut :
“Anggaran adalah sebagai alat penting untuk perencanaan dan pengendalian jangka
pendek yang efektif dalam organisasi.”
d. Pengendalian Biaya
Pengendalian biaya adalah tindakan yang dilakukan untuk mengarahkan aktifitas agar tidak menyimpang dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Pengendalian biaya ini dapat dilakukan melalui anggaran biaya yang secara kontinyu diadakan pengawasan secara analisis terhadap penyimpangan yang terjadi sehingga dapat diketahui penyebab terjadinya penyimpangan atas selisih tersebut kemudian dilakukan tindak lanjut agar kerugian yang terjadi relatif kecil. Tanggung jawab atas pengendalian biaya terletak pada pihak yang bertanggung jawab atas penyusunan anggaran untuk biaya yang dikendalikannya. Walaupun sebenarnya tanggung jawab penuh dari suatu organisasi terletak pada manajer.
METODE PENELITIAN
Pada metode penelitian yang ada ini adalah terbagi dari beberapa unit yaitu diantaranya ada kerangka proses berpikir, pendekatan penelitian, jenis dan sumber data, batasan dan asumsi penelitian, unit analisis, teknik pengumpulan data serta unit analisis data, yang dimana metode penelitian ini akan digunakan untuk membantu peneliti
yang telah ada dengan data-data yang didapat dari studi kasus. Dalam analisis ini penulis perlu melakukan pemahaman akan kondisi-kondisi yang terjadi, dan
menentukan apakah perbedaan-perbedaan itu menyangkut hal-hal yang mendasar, dari analisis ini dapat disimpulkan tentang efisiensi penerapan sistem akuntansi pertanggungjawaban, serta memberikan saran-saran yang tepat mengenai penerapnnya di masa yang akan datang. Untuk menganalisis akuntansi pertanggungjawaban, maka kondisi-kondisi yang ada dalam perusahaan dibandingkan dengan teori-teori yang ada. Suatu penerapan akuntansi pertanggungjawaban dapat dikatakan memadai jika telah memenuhi syarat dan karakteristik akuntansi pertanggungjawaban. Sedangkan kinerja pusat pendapatan dapat dikatakan baik jika telah memenuhi kelayakan kinerja pusat pendapatan secara memadai dan efisien. Penelitian dilakukan di PT. Saburnaya dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. T Yang dimaksud sumber data dalam penelitian adalah subyek darimana data-data diperoleh. Adapun sumber data yang ditetapkan oleh peneliti dalam kajiannya, yaitu informan. Informan adalah tiap orang yang memberikan informasi tentang segala hal yang berkaitan dengan tema penelitian, seorang informan akan memberikan pengetahuan yang dimilikinya kepada seorang peneliti ketika ia diminta oleh peneliti. Tergantung dari kepandaian peneliti dalam melakukan pendekatan terhadap informan untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan.
Teknik pengumpulan data yaitu field research dan library research. Metode
library researchini dilakukan dengan cara interview, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini berupa teknik analisa deskriptif yaitu pencatatan data yang diperoleh dari lapangan menjadi hasil yang berupa pemecahan masalah dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Mengamati anggaran biaya produksi, 2. Mengamati biaya terkendali dan tidak terkendali, 3. Mengamati biaya sesungguhnya, 4. Mengamati biaya untuk mengetahui bagaimanakah penerapan akuntansi pertanggungjawaban sebagai alat pengendalian biaya produksi.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
dikerjakan seperti kontraktor pembangunan pondok pesantren, pembangunan jalan, jembatan, pendopo dan lain sebagainya. Perusahaan ini banyak sekali mengerjakan
proyek di luar kota Surabaya, seperti di Jombang, Boyolali, Tuban, Bojonegoro, Pacitan dan juga kota lainnya di wilayah Jawa Timur. Hal ini membuat PT. Saburnaya berkembang dan bertahan hingga saat ini di tengah persaingan yang semakin ketat. Menjamurnya perusahan di bidang yang sama tak menyurutkan tekad perusahaan ini untuk berhenti berkembang demi mencapai serta mewujudkan visi dan misi perusahaan, juga membuat bagaimana perusahaan agar tetap eksis di antara persaingan yang semakin ketat. Adapun struktur organisasi dari PT. Saburnaya, yaitu :
DIREKTUR
PROYEK
SITE MANAGER
TENAGA AHLI TENAGA AHLI SDA TENAGA AHLI TENAGA AHLI TENAGA AHLI
PELAKSANA PELAKSANA SDA PELAKSANA PELAKSANA PELAKSANA
SURVEYOR QUALITY DRAFTER LOGISTIK K3 OFFICER
ADMINISTRASI
Sumber : Data Intern PT. Saburnaya, (2015)
Gambar 1: STRUKTUR ORGANISASI PT. SABURNAYA
Proyek pembangunan peningkatan jalan yang dikerjakan oleh PT. Saburnaya dilakukan dengan jangka waktu penyelesaian dan dikerjakan sesuai dengan kesepakatan dalam kontrak yang sudah disepakati bersama antara PT. Saburnaya dengan pihak-pihak terkait dalam kontrak tersebut.
Tabel 1 PT. SABURNAYA
Tahun Anggaran (Rp.) Realisasi (Rp.) Selisih (Rp.) 2009 647.743.220 666.931.766 (19.188.546) 2010 678.449.637 698.642.081 (20.192.444) 2011 692.873.518 726.478.503 (33.604.985) 2012 707.378.718 786.610.168 (79.231.450) 2013 721.020.365 763.080.700 (42.060.335) Sumber : Peneliti, (Data Periode Tahun 2009–2013)
Data-data bahan baku yang telah diolah oleh peneliti di dalam hasil analisis, diperoleh melalui proses tender. Proses tender ini sendiri mempunyai berbagai tahap dalam prosesnya, diantaranya yaitu melalui proses : Undangan Tender, Aanwijzing, Pencarian Harga, Penawaran Tender, Piutang. Selisih tersebut bisa dilihat terus melonjak naik dari tahun ke tahun, yaitu di tahun 2009 mengalami selisih sebanyak Rp. 19.188.546 kemudian di tahun 2010 mengalami kenaikan lagi menjadi Rp. 20.192.444, kemudian di tahun 2011 mengalami kenaikan sebesar Rp. 33.604.985, setelah itu di tahun 2012 mengalami kenaikan yang begitu signifikan yaitu dengan selisih antara anggaran dan realisasi sebesar Rp. 79.231.450, lalu pada tahun 2013 mengalami penurunan selisih yang jumlahnya tidak sebesar tahun 2012, selisih antara anggaran dan realisasi itu hanya sebesar Rp. 42.060.335. Uraian diatas menunjukkan bahwa anggaran yang dibuat pada awal mula suatu pekerjaan proyek yang akan dilakukan, hanyalah sebagai tafsiran biaya yang nantinya akan diakumulasikan sebagai biaya yang dianggarkan agar bisa dilihat
perkiraan berapa biaya yang akan digunakan untuk pekerjaan proyek keseluruhan. Sedangkan biaya realisasi itu sebagai biaya yang dibuat karena memang sudah adanya
undangan tender, dengan mengikuti prosedur yang ada dan sudah ditetapkan oleh pihak penyelenggara pengadaan tender. Laporan hasil analisis dan pembahasan menghasilkan
banyak sekali kekurangan atau problem yang ada di PT. Saburnaya yang diantaranya adanya peningkatan selisih yang terjadi pada periode 2009–2013 disebabkan oleh kurang
efisiennya laporan pertanggungjawaban sebagai alat untuk pengendalian biaya. Penyebab lainnya adalah selisih yang tidak menguntungkan ini disebabkan karena adanya perubahan harga atau selisih harga beli bahan baku yang lebih tinggi dari yang dianggarkan. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengawasan pada divisi sipil selaku pihak yang bertanggung jawab dalam pengendalian proyek dan perkembangan proyek. Hal ini juga berarti kurangnya kerjasama dengan divisi lainnya dalam penyajian laporan pertanggungjawaban yang membuat kurang efektifnya laporan yang disajikan kepada pihak divisi sipil sebagai pengendali dan pengembang jalannya proyek yang ada. Untuk pemisahan biaya terkendali dan tidak terkendali sebenarnya dalam perusahaan hal ini sudah dilakukan hanya saja pada PT. Saburnaya pengadaan barang dan pengendalian biaya adalah wewenang dari direktur utama sedangkan divisi sipil hanya bertugas sebagai pengendali proyek dan pengembangan proyek, sehingga biaya dalam PT. Saburnaya memang sudah ada dan digolongkan sendiri tetapi masih kurang terperinci karena tugas dan wewenang dari board of directoratau direktur utama sangatlah besar yang mengharuskan seorang direktur utama memiliki kesibukan yang begitu padat akibat jadwal yang menumpuk. Sehingga pemisahan biaya yang terkendali dan tidak
terkendali hanya tersusun secara kurang rinci yang menjadikan laporan pada direktur utama kurang efektif dan efisien Jika sudah efisien pada bagian divisi sipil maka dapat
dilihat secara otomatis pihak-pihak divisi yang lain akan memberikan hasil yang juga memuaskan karena akuntansi pertanggungjawaban akan ditekankan sebagai salah satu materi dalam penyusunan anggaran yang akan dilaporkan kepada direktur utama atau
dapat mengetahui secara pasti tugas dan wewenang yang sudah diberikan sehingga dapat memberikan apresiasi terhadap pendelegasian tugas, wewenang, dan tanggung jawab sesuai dengan fungsi yang ada pada perusahaan tersebut sesuai dengan perintah yang sudah diberikan sehingga diharapkan bisa memberikan hasil kerja yang optimal dengan hasil yang memuaskan sehingga dapat dicapai visi dan misi perusahaan, juga dapat dijadikan sebagai contoh dan bahan evaluasi di masa yang akan datang.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Akuntansi pertanggungjawaban yng diterapkan pada PT. Saburnaya dalam mambantu pengendalian biaya ternyata belum memenuhi syarat dan karakteristik yang ada pada akuntansi pertanggungjawaban khususnya pada setiap pusat-pusat pertanggungjawaban yang ada pada PT. Saburnaya. Semua laporan keuangan itu masih berbentuk sederhana dan belum sesuai dengan standart yang sesuai karena masih belum terperinci dengan baik. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Bahwa PT. Saburnaya dapat menunjukkan dan memberi tanggung jawab sesuai dengan tugas dan wewenang sehingga tidak terjadi tumpang tindih. Jika biaya yang dilaporkan ini dapat dilaporkan dengan benar dan akurat maka biaya juga akan dapat dikendalikan dengan baik pula. Struktur organisasi yang dijalankan PT. Saburnaya telah menunjukkan dengan jelas tugas dan wewenang sesuai dengan fungsi yang ada dalam perusahaan, tetapi dalam pekerjaan masih terlihat kurangnya kerjasama dalam setiap pusat pertanggungjawaban.
2. Terdapat selisih dari tahun 2009 – 2013, hal ini disebabkan karena adanya
perubahan harga atau selisih harga beli bahan baku yang lebih tinggi dari yang dianggarkan.
baku yang ada di pasaran. Bahan baku ini merupakan hal vital yang jika terjadi suatu masalah mengenai bahan baku akan dapat berbahaya bagi proses
berlangsungnya proyek yang sedang berjalan.
Saran
Setiap penelitian yang ada pasti akan memunculkan suatu hasil yang dapat dijadikan bahan referensi bagi pembaca, kemudian para pembaca akan memberikan pendapat yang kemudian dijadikan sebagai saran oleh para peneliti sekarang maupun di masa yang akan datang yang juga mengangkat judul yang sama dalam penelitiannya. Untuk itu penelitian mengenai penerapan akuntansi pertanggungjawaban sebagai alat bantu pengendalian biaya pada PT. Saburnaya ini akan memberikan fokus saran, diantaranya saran dari penelitian ini adalah :
1. Perusahaan sebaiknya mempertahankan struktur organisasi yang sudah dijalankan. Perusahaan juga harus lebih meningkatkan pengawasan terhadap penggunaan bahan baku dan mengantisipasi adanya perubahan harga, untuk menanggulangi perubahan harga maka PT. Saburnaya terlebih dahulu mengadakan proyeksi yang bertujuan untuk antisipasi dalam masalah perubahan harga bahan baku tersebut.
2. sebaiknya dalam PT. Saburnaya dibuatkan pemisahan biaya antara biaya terkendali dan tidak terkendali yang lebih terperinci. Hal ini bertujuan agar biaya-biaya yang ada dapat digolongkan berdasarkan jenisnya masing-masing sehingga memudahkan penyusunan laporan akuntansi pertanggungjawaban dari setiap pusat-pusat pertanggungjawaban yang ada.
3. Sebaiknya perusahaan menyusun klasifikasi kode rekening sebagai bahan untuk pengkodean yang dibutuhkan oleh perusahaan dalam hal membuat klasifikasi kode
rekening pada perusahaan tersebut, sehingga keuangan dapat dikendalikan dengan baik dan bisa mencapai tingkat efisien..
Selanjutnya, pembagian biaya menurut jenisnya antara biaya yang terkewndali dan tidak terkendali, juga tidak boleh lupa adanya pengklasifikasian kode rekening.
Serta yang terakhir adalah dibuatkannya laporan pertanggungjawaban dari setiap pusat-pusat pertanggungjawaban yang ada pada perusahaan sehingga pengendalian biaya baru dikatakan sempurna dan efisien.
DAFTAR PUSTAKA
Anthony, Robert N, dan Vijay Govindrajan 2009, Management Control System, Salemba Empat, Jakarta.
Anthony, Robert N, dan Vijay Govindrajan 2005,Sistem Pengendalian Manajemen, Buku Pertama, Dialihbahasakan oleh Tjakrawala dan Krista, Salemba Empat, Jakarta. Samryn, L,M, 2012, Akuntansi Manajemen, Edisi Pertama, Kencana Prenada Media