i SEMINAR INTERNASIONAL
Memperkokoh Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Internasional Melalui Diplomasi Bahasa, Sastra, dan Budaya
SEM I NAR I NT ERNASI ONAL
M emperkokoh Bahasa I ndonesia sebagai Bahasa
I nternasional M elalui Diplomasi
iii SEMINAR INTERNASIONAL
Memperkokoh Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Internasional Melalui Diplomasi Bahasa, Sastra, dan Budaya
Indonesia, Malaysia, Thailand, Jepang,
Korea Selatan, Amerika, Canada
Diselenggarakan Oleh:
Prodi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia
Universitas Islam Malang
2015
SEM I NAR I NT ERNASI ONAL
M emperkokoh Bahasa I ndonesia sebagai Bahasa
I nternasional M elalui Diplomasi
iv SEMINAR INTERNASIONAL
Memperkokoh Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Internasional Melalui Diplomasi Bahasa, Sastra, dan Budaya
SEMINAR INTERNASIONAL
Memperkokoh Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Internasional Melalui Diplomasi Bahasa, Sastra, dan Budaya
Editor
Cristopher Allen Woodrich Chief Coordinator Independent Riesearchear IIF Canada
Zukifli Osman dari Universitas Pendidikan Sultan Idris, Perak, Malaysia Tengsoe Tjahjono dari Hankuk University of Foreign Studies, Korea Selatan Suyoto dari Kanda University of International Studies, Jepang
Abdul Rani dari Unisma, Indonesia
Cover Design:
Yudhista
Setiyono Wahyudi, D.Ng.
Layout :
Dayat
Penerbit
Surya Pena Gemilang
Anggota IKAPI Jatim
Jln. Rajawali Tutut Arjowinangun 12 Malang - Jawa Timur
Tlp. 082140357082 Fax. (0341) 751205
e-mail: [email protected]
Jumlah: x + 572 hlm. Ukuran: 17 x 24 cm
September 2015
ISBN: 978-602-17923-8-4
Hak cipta dilindungi undang-undang.
v SEMINAR INTERNASIONAL
Memperkokoh Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Internasional Melalui Diplomasi Bahasa, Sastra, dan Budaya
Kata Pengantar
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya teknologi informasi telah membentuk kristalisasi kehidupan sosial budaya masyarakat yang dikenal dengan istilah liberalisasi dan arus globalisasi. Bahasa sebagai bagian dari pranata kehidupan sosial budaya suatu masyarakat tidak dapat menghindar dari pengaruh perkembangan tersebut. Proses kristalisasi ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, dalam jangka waktu yang relatif panjang telah dialami oleh bahasa Melayu, yang mula-mula hanya sebagai norma kebudayaan kelompok etnik Melayu yang mendiami daerah Riau dan kepulauan sekitarnya, kemudian menjadi norma supraetnik, yaitu sebagai bahasa nusantara. Titik kulminasi proses kristalisasi ini menjadikan bahasa Melayu bukan hanya sebagai lingua franca saja, tetapi lebih dari itu, sebagai bahasa resmi kedua di kawasan Asia Tenggara atau bahasa internasional, di samping bahasa Inggris, Belanda, Arab dan lain-lain.
Bahasa Indonesia dan bahasa rumpun Melayu lainnya tidak dapat menghindar dari arus globalisasi yang sedang melanda berbagai aspek kehidupan ini. Bahasa In-donesia dan bahasa rumpun Melayu lainnya telah mampu menjadi wadah pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, dan atau bahasa pergaulan pada tingkat nasional maupun internasional. Bahkan, bahasa Melayu dan bahasa Indone-sia sudah menjadi bahasa asing yang dipelajari di berbagai perguruan tinggi di luar negeri.
Upaya menginternasionalkan bahasa Indonesia memang perlu terus diupayakan, yang antara lain dapat dilakukan melalui diplomasi baik bahasa, sastra, dan budaya. Ide- ide kreatif dan hasil penelitian yang berkaitan dengan kajian memperkokoh bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional melalui diplomasi baik bahasa, sastra, dan budaya perlu didiskusikan dalam suatu forum ilmiah seperti kegiatan yang dirancang dalam seminar internasional ini.
Buku ini berisi makalah-makalah, baik pemateri utama maupun pemakalah pendamping yang berkaitan dengan tema besar seminar ini, yaitu “Memperkokoh Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Internasional melalui Diplomasi Bahasa, Sastra, dan Budaya”. Semoga bahan dan hasil diskusi dalam seminar yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Malang ini turut memperkukuh eksistensi Bahasa Indonesia sebagai bahasa Internasional.
Malang, 25 September 2015
vii SEMINAR INTERNASIONAL
Memperkokoh Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Internasional Melalui Diplomasi Bahasa, Sastra, dan Budaya
Daftar I si
Kata Pengantar ... v
Daftar Isi ... vii
Upaya Memperkokoh Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Internasional: Tinjauan dari Perspektif Pendidikan Bahasa Indonesia di Jepang
Kyoko Funada ... 1 Memperkokoh Peran Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Pergaulan Internasional1 Mahsun ... 12 Melestarikan Pendidikan Kesusasteraan Melayu di Sekolah pada
Abad Ke-21 di Persada Antarabangsa
Hajah Siti Khariah Mohd Zubir dan Mohd Efendi Rahimi... 26 Gerakan Sastra Lingkungan Menuju Pembangunan Peradaban Sastra
Masa Depan
Sony Sukmawan, Lestari Setyowati ... 40
Ukbi sebagai Upaya Memperkokoh Peran dan Kedudukan Bahasa Indonesia Menuju Bahasa Internasional
Suhartatik ... 51
Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Memperkuat Jati Diri
Bangsa dan Memperkokoh Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Internasional Sulaiman... ... 64
Model Pelatihan Keterampilan Menulis Jurnalistik pada Siswa SMK dan MA di Kabupaten Jombang dan Perspektif Global
Susi Darihastining, Fitri Resti Wahyuningarti, Rita Nurmilah ... 74
Analisis Sikap Bahasa Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) terhadap Bahasa Indonesia: Upaya Meneguhkan Peran Bahasa Indonesia Menuju Bahasa Internasional
Trisna Andarwulan ... 86
Sistem Penilaian Pembelajaran Bahasa Indonesia SMP di Kota Cimahi (Studi Pendahuluan dari Penelitian Pengembangan Instrumen
Penilaian Pembelajaran Bahasa Indonesia)
viii SEMINAR INTERNASIONAL
Memperkokoh Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Internasional Melalui Diplomasi Bahasa, Sastra, dan Budaya
Peran Bahasa Indonesia Baik, Benar, dan Santun Menuju Bahasa Internasional
Wiyono ... 105
Increasing Cross-Cultural Communication when Hosting International Students: Sharing Experiences
Yudi Setyaningsih... 118
Pola dan Kadar Kualitas Argumen Bagian Pembahasan Artikel-artikel Jurnal Terakreditasi
Yuliana Setyaningsih, Kunjana Rahardi. ... 127
Penguasaan Bahasa Melayu dalam Kalangan Pelajar Thai Kursus Bahasa Melayu Elektif
Kusom Yamirudeng, Zulkifli Osman... 148
Pengembangan Buku Ajar Mku Bahasa Indonesia Berbasis Karakter dengan Mengoptimalkan Kemampuan Menulis Ilmiah bagi Mahasiswa IKIP PGRI Madiun
Agus Budi Santoso, Dwi Rohman Soleh, Eni Winarsih... 160
Pengintegrasian Budaya Jawa dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing di Universitas Sebelas Maret1
Kundharu Saddhono, Muhammad Rohmadi, dan Chafit Ulya ... 173
Dimensi Asrè Tuturan Kèjhung sebagai Ekspresi Pendidikan Karakter Warisan Madura—Melayu
Moh. Badrih ... 190
Representasi Hegemoni pada Pembelajaran Bahasa Indonesia SMP Negeri 1 Pangkep Kabupaten Pangkep
Munirah dan Kusnadi Idris ... 205
Model Buku Cerita Bergambar untuk Pembelajaran BIPA Anak-anak Prasekolah
Ari Ambarwati ... 224 Peneguhan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Toleran dalam
Pergaulan Dunia
Arief Rijadi ... 237
Model Rancangan Kuesioner Analisis Kebutuhan Target Bahasa Indonesia Iptek
ix SEMINAR INTERNASIONAL
Memperkokoh Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Internasional Melalui Diplomasi Bahasa, Sastra, dan Budaya
Telaah Nilai-nilai Edukatif dalam Komunikasi Keluarga dan Strategi Penanamannya
Daroe Iswatiningsih ... 276 Mengenalkan Kearifan Lokal Madura dalam Percaturan Internasional
Melalui Pembelajaran BIPA
Hani’ah ... 291 Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Model Konstruktivisme
Berpendekatan Inkuiri
Ida Bagus Putrayasa ... 303
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Keterampilan Membaca dan Menulis Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Atas Berbasis
Multiple Intelegensi Berpendekatan Observation Based Learning
Iwan Setiawan ... 317
Pendekatan Komunikatif dalam Pembelajaran Bahasa
Purwantiningsih,. ... 328
Melongok Kembali Reduplikasi pada Bahasa Indonesia
Abdul Rani ... 338 Harmonisasi Sastra, Agama, dan Negara: antara Bayangan dan Kenyataan
Wadji... ... 347
Pembelajaran BIPA dalam Perspektif Politik Membangun Indonesia
Gatut Susanto ... 361
Pemeliharaan Keaksaraan Masyarakat “Mandiri”: Suatu Upaya Memperkokoh Bahasa Indonesia di Era Globalisasi
Sri Wahyuni, Mustangin, Afifudin... 373
Proses Kreatif dan Apresiasi Kreatif sebagai Upaya Refleksi dan Transformasi Sastra Indonesia
Gatot Sarmidi ... 391
Internalisasi Nilai-nilai Kearifan dalam Pembelajaran Bipa Berbasis Budaya dengan Pemanfaatan Tik
Dyah Werdiningsih ... 398
Linguistik Terapan dan Metode Pembelajaran Bahasa: Metode Langsung
x SEMINAR INTERNASIONAL
Memperkokoh Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Internasional Melalui Diplomasi Bahasa, Sastra, dan Budaya
Kajian Psikopragmatik Judul-judul Berita Rubrik Hukum dan Kriminalitas Koran Joglosemar sebagai Wujud Bahasa sebagai Alat Komunikasi Tekstual dan Kontekstual dalam Kehidupan
Muhammad Rohmadi. ... 429
Unsur Humor dalam Buku Kisah 1001 Malam: Abu Nawas Sang
Penggeli Hati (Kajian Semantik Humor)
Iwan Marwan ... 437
Permasalahan Gender dalam Karya Sastra Indonesia sebagai Bagian dari Permasalahan Dunia
Iswadi Bahardur ... 449
Model Pembelajaran Keterampilan Menulis Laporan Ilmiah Berbasis Masalah dengan Menggunakan Teknik Siklus Belajar sebagai Media Pembentukan Karakter Siswa
Teti Sobari ... 464
Wacana Gerakan Demo Mahasiswa dalam Kajian Pragmatik
Mochtar Data ... 472
Internasionalisasi Bahasa Indonesia: Best Practice dari Pembelajaran
Cooperative Learning pada pelajaran Bahasa Inggris di SMK*
Muhammad Yunus1, Hamiddin2... 490 Mengatasi Kesukaran Pelajar Mengenalpasti Tema dan Persoalan dalam Novel
“Dari Lembah Ke Puncak”
Ani Binti Haji Omar ... 503 Penerapan Metode Global Berbasis Potensi Daerah dalam Pembelajaran
Keaksaraan Perempuan di Kabupaten Pamekasan
Hasan Busri, Sri Wahyuni, Mustangin ... 519 Penyumbang Kekuatan Bahasa Indonesia: Bahasa dan Sastra Daerah
Subardi Agan ... 533 Ancangan Kesemestaan Sosiolinguistik Dalam Pembelajaran Bahasa
Era Globalisasi IT
437 SEMINAR INTERNASIONAL
Memperkokoh Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Internasional Melalui Diplomasi Bahasa, Sastra, dan Budaya
UNSUR HUM OR DALAM BUKU KI SAH 1001
M ALAM : ABU NAWAS SANG PENGGELI HAT I
(KAJI AN SEM ANT I K HUM OR)
Iwan Marwan STAIN Kediri
Abstrak: Tindakan lucu atau humor merupakan tindak komunikasi yang rekreatif
untuk menyampaikan pesan berupa ide, ekspresi, dan perasaan. Tindakan lucu ini tercipta atas unsur-unsur yang membangun cerita atau kisah. Dalam buku Kisah
1001 Malam: Abu Nawas Sang Penggeli Hati terdapat unsur tindakan lucu yang
menarik untuk dikaji. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji unsur humor yang terdapat dalam buku Kisah 1001 Malam: Abu Nawas Sang Penggeli Hati. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengamati dan membaca seksama dan berulang-ulang. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan referensi keilmuan semantik humor yang berpijak pada teori Brunvand dan teori Raskin. Hasil analisis menunjukkan bahwa unsur tindakan lucu yang terkandung dalam Kisah
1001 Malam: Abu Nawas Sang Penggeli Hati adalah pertama, motivasi yang meliputi
menyadarkan orang lain dan menyadarkan diri sendiri, dan kedua topik meliputi agama, politik dan sosial. Berdasarkan temuan di atas dapat dikatakan bahwa setiap tindakan lucu atau humor memiliki motivasi humor dan topik humor. Motivasi humor berwujud kesadaran diri dan kesadaran orang lain. Motivasi inilah yang mampu menggugah senyum dan menarik pikiran pembaca atau pendengar humor.
PENDAHULUAN
Tindakan lucu atau humor menurut Flugel (dalam Dananjaja, 2001:14) berarti cairan. Cairan tersebut sangat berkaitan dengan temperamen seseorang. Oleh karena itu tepat sekali apabila Soebadiyo berpendapat bahwa bangsa Indonesia secara umum disebut bangsa yang pandai menutupi rasa marah dengan tertawa (Dananjaja, 2001:7).
438 SEMINAR INTERNASIONAL
Memperkokoh Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Internasional Melalui Diplomasi Bahasa, Sastra, dan Budaya
oleh penutur dan lawan tutur.
Humor tidak sekadar penyebab timbulnya reaksi tersenyum dan/atau tertawa, tetapi dapat pula menghibur, baik melalui tulisan maupun lisan atau ujaran. Selain itu, humor dapat pula berupa kemampuan untuk merasakan, menilai, menyadari, mengerti, dan mengungkapkan sesuatu yang lucu, ganjil, jenaka, atau menggelikan (Yuniawan, 2007).
Dalam buku Kisah 1001 Malam:
Abu Nawas Sang Penggeli Hati
terdapat unsur humor dalam membangun cerita dan mengupas kisah-kisah teladan. Unsur humor tersebut melingkupi mo tivasi dan t opik. Mo tivasi menyadarkan orang lain dan menyadarkan diri sendiri, sedangkan topik mencakup topik agama, sosial dan politik.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan metode deskriptif. Sifat kualitatif penelitian ini
mengarah pada pembahasan
permasalahan tentang unsur tindakan lucu dalam buku Kisah 1001 Malam: Abu
Nawas Sang Penggeli Hati. Kemudian,
dalam upaya memecahkan masalah penelitian ini, ada tiga tahapan yang dilakukan, yaitu: (1) penyediaan data, (2) penganalisisan data, dan (3) penyajian hasil analisis data (Sudaryanto 1993:5).
Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengamati dan membaca seksama dan berulang-ulang. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui dua prosedur, yaitu (1) analisis selama proses pengumpulan data, dan (2) analisis setelah pengumpulan data (Miles dan Huberman 1984: 21-25; Muhadjir 1996:105). Penganalisisan data dilakukan dengan mengacu pada keilmuan semantik humor Brunvand dan Raskin.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Motivasi Humor
a. Menyadarkan orang lain
Teks 1
“Hai Abu Nawas benarkah Kau telah memukuli penjaga pintu gerbang kota ini sebanyak 25 kali pukulan”
439 SEMINAR INTERNASIONAL
Memperkokoh Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Internasional Melalui Diplomasi Bahasa, Sastra, dan Budaya
merusak rumah Tuan Kadi. Baginda berkata, “Hai Abu Nawas bolehkah karena sebuah mimpi sebuah perint ah dilakukan? Hukum negeri mana yang kau pakai itu? Dengan tenang Abu Nawas menjawab, Hamba juga memakai hukum Tuan Kadi yang baru ini Tuanku, “Hai Kadi benarkah kau mempunyai hukum seperti itu,
Tuan Kadi tiada menjawab wajahnya nampak pucat tubuhnya gemetaran karena takut. Abu Nawas menjelaskan bahwa beberapa hari lalu pemuda mesir datang ke Bagdad sambil membawa harta yang banyak. Tuan Kadi memperlakukan pemuda itu berdasarkan mimpinya dengan merampas semua harta benda milik pemuda itu.
Teks 1 menceritakan seorang Abu Nawas yang dipanggil Baginda Raja karena telah memukuli penjaga pintu. Abu Nawas menceritakan perihal sebab musababnya bahwa ia telah melakukan perjanjian jika ia medapat hadiah dari Baginda maka hadiah tersebut akan dibagi dua dengan penjaga pint u. Akhirnya Baginda Raja memecat penjaga pintu itu karena telah saya menerima dua puluh lima kali
pukulan. Maka saya berikan dua puluh lima kali pukulan kepadanya. Jelas Abu Nawas.
“Hahaha….dasar tukang peras”! Sekarang kena batunya”. Abu Nawas tidak bersalah”, sahut Baginda, dan “sekarang aku tahu penjaga pintu tukang memeras”.
Teks 2
Pada suatu hari Abu Nawas menyuruh murid-muridnya untuk pulang dan datang kembali dengan membawa cangkul, penggali, kapak, dan batu. Malam harinya mereka datang bergerak ke rumah Kadi lalu merusak dan menghancurkan rumah Tuan Kadi. Banyak orang berlari karena tidak ada yang berani mencegah. Tuan Kadi hanya bisa marah dan melapo rkan Abu Nawas ke Baginda Raja.
440 SEMINAR INTERNASIONAL
Memperkokoh Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Internasional Melalui Diplomasi Bahasa, Sastra, dan Budaya
melakukan pemerasan, sementara Abu Nawas diberi hadiah oleh raja.
Teks 2 menceritakan Abu Nawas menyuruh murid-muridnya mem-bawa alat-alat untuk merusak rumah Tuan Kadi. Tuan Kadi mengadu kepada Baginda Raja. Kemudian Baginda memanggil Abu
Nawas unt uk
mempe r t a ngg ung ja w abka n perbuatannya. Namun Abu Nawas dengan santai menjawab bahwa perbuatannya adalah benar dan sesuai dengan mimpinya sebagaimana Tuan Kadi memutuskan hukum berdasarkan mimpi. Seketika wajah Tuan Kadi pucat dan tubuhnya gemetar, karena ia telah memperlakukan pemuda mesir berdasarkan mimpinya.
Kedua teks di atas mengandung motivasi humor dengan tujuan untuk menyadarkan orang lain, yaitu penjaga pintu dan Tuan Kadi. Penjaga pintu diingatkan agar tidak melakukan pemerasan kepada siapa pun. Sementara itu, Tuan Kadi disadarkan agar memutuskan hukum berdasarkan aturan-aturan hukum dan bukan merujuk pada mimpi yang jauh dari kebenaran dan kepastian hukum.
Humor ini sengaja muncul dengan
motivasi menyadarkan orang lain agar tidak semena-mena dengan jabatan dan kedudukannya di masyarakat. Tindakan lucu tersebut merupakan tindakan kesengajaan yang dilakukan agar lawan tutur tidak merasa tersinggung dengan langsung. Tindakan lucu ini termasuk dalam
wit (istilah Freud), yaitu tindakan
lucu yang dilakuakan dengan motivasi yang intelek. Sementara itu menurut Raskin tindakan lucu in termasuk humor intended (hu-mor yang dilakukan sengaja agar bisa menyadarkan orang lain.
b. Menyadarkan diri sendiri
Teks 1
Syahdan, Khalifah Harun Al-Rasyid marah besar pada sahibnya yang karib dan setia, yaitu Abu Nawas. Ia ingin menghukum mati Abu Nawas setelah menerima laporan bahwa Abu Nawas mengeluarkan fatwa tidak mau rukuk dan sujud dalam salat.
441 SEMINAR INTERNASIONAL
Memperkokoh Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Internasional Melalui Diplomasi Bahasa, Sastra, dan Budaya
Khalifah mulai terpancing. Tapi untung ada seorang pembantunya yang memberi saran, hendaknya Khalifah melakukan tabayun (konfirmasi). Abu Nawas pun digeret menghadap Khalifah. Kini, ia menjadi pesakitan.
“Hai Abu Nawas, benar kamu berpendapat tidak rukuk dan sujud dalam salat?” tanya Khalifah ketus.
Abu Nawas menjawab dengan tenang, “Benar, Saudaraku.”
Khalifah kembali bertanya dengan nada suara yang lebih tinggi, “Benar kamu berkata kepada masyarakat bahwa aku, Harun Al-Rasyid, adalah seorang khalifah yang suka fitnah?”
Abu Nawas menjawab, “Benar, Saudaraku.”
Khalifah berteriak dengan suara menggelegar, “Kamu memang pantas dihukum mati, karena melanggar syariat Islam dan menebarkan fitnah t entang khalifah!”
Abu Nawas tersenyum seraya berkata, “Saudaraku, memang aku tidak menolak bahwa aku telah mengeluarkan dua pendapat tadi, tapi sepertinya kabar yang sampai padamu tidak lengkap. Kata-kataku dipelintir, dijagal,
seolah-olah aku berkata salah.”
Khalifah berkata dengan ketus, “Apa maksudmu? Jangan mem-bela diri, kau telah mengaku dan mengatakan kabar itu benar adanya.”
Abu Nawas beranjak dari duduknya dan menjelaskan dengan tenang, “Saudaraku, aku memang berkata rukuk dan sujud tidak perlu dalam shalat, tapi dalam salat apa? Waktu itu aku menjelaskan tata cara shalat jenazah yang memang tidak perlu rukuk dan sujud.”
“Bagaimana soal aku yang suka fitnah?” tanya Khalifah.
Abu Nawas menjawab dengan senyum, “Kalau itu, aku sedang menjelaskan tafsir ayat 28 surat Al-Anfal, yang berbunyi ketahuilah bahwa kekayaan dan anak-anakmu hanyalah ujian bagimu. Sebagai seorang khalifah dan seo rang ayah, anda sangat menyukai kekayaan dan anak-anak, berarti anda suka ’fitnah’ (ujian) itu.”
Teks 2
442 SEMINAR INTERNASIONAL
Memperkokoh Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Internasional Melalui Diplomasi Bahasa, Sastra, dan Budaya
menterinya .
“Apa pendapat kalian mengenai Abu Nawas yang hendak kuang-kat sebagai Kadi?
“Wazir atau perdana menteri berkata, “melihat keadaan Abu Nawas yang semakin parah otaknya hendaknya Tuanku menganggkat orang lain saja sebagai Kadi,”
Menteri-menteri lain pun mengutarakan pendapat yang sama. “Baiklah kita tunggu sampai dua puluh sat u hari karena bapaknya baru saja mati, jika tidak sembuh-sembuh juga, bolehlah kita mencari kadi yang lain saja. Setelah sebulan penuh Abu Nawas masih dianggap gila, akhirnya Sul-tan Harun Arrasyid mengangkat orang lain untuk menjadi Kadi atau penghulu kerajaan Bagdhad.
menmenjawab, terkait dengan pemilihan Kadi (Hakim).
Konon Abu Nawas berpura-pura menjadi gila karena dirinya tidak ingin diangkat menjadi Kadi. Ia masih teringat perkataan bapaknya sebelum meninggal.
Teks 1 mengisahkan Abu Nawas yang akan dipancung karena dianggap telah menyimpang syariat
Islam dan menebar fitnah. Diketahui Abu Nawas telah mengatakan jika dalam shalat tidak ada rukuk dan sujud. Kemudian ia berpendapat bahwa istri, keluarga dan anak-anak akan menjadi fitnah. Ia tersenyum bahwa pendapatnya telah dipelintir dan perkataannya dipotong karena sebetulnya shalat yang tidak ada rukuk dan sujud adalah shalat jenazah, serta perkataan fitnah merujuk pada surat Al Anfaal ayat 28 bahwa kekayaan itu bia jadi fitnah.
Teks kedua mengisahkan Abu Nawas yang berpura-pura gila karena tidak ingin diangkat sebagai Kadi (Hakim). Setelah Baginda Raja mengetahui Abu Nawas masih gila, maka Ia mengangkat orang lain untuk dijadikan sebagai Kadi. Abu Nawas melakuakan perbuatan aneh dan gila karena teringat pesan ayahnya tentang resiko dan konsekuesni seorang kadi.
443 SEMINAR INTERNASIONAL
Memperkokoh Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Internasional Melalui Diplomasi Bahasa, Sastra, dan Budaya
diri sendiri agar tidak ambisius memperoleh jabatan terutama menjadi seorang Kadi. Motivasi humor ini sebenarnya menasehati dirinya sendiri bahwa tugas dan tanggung jawab seorang sungguh berat, sebagai wakil Tuhan di dunia.
Sikap pura-pura gila menunjukkan bahwa Abu Nawas benar tidak layak diangkat sebagai Kadi. Hu-mor ini sengaja muncul dengan motivasi menyadarkan diri sendiri agar menyadari betapa berat tugas dan tanggung jawab seorang Kadi dan memahami serta mengamalkan ayat Al Quran. Tindakan lucu tersebut merupakan tindakan kesengajaan yang dilakukan pencipta humor agar lawan tutur tidak merasa tersinggung secara langsung. Dalam teori humor tindakan lucu ini termasuk dalam
wit (istilah Freud), yaitu tindakan
lucu yang dilakuakan dengan motivasi yang intelek. Sementara itu menurut Raskin tindakan lucu ini termasuk humor intended (hu-mor yang dilakukan sengaja agar bisa menyadarkan dan menasehati diri sendiri, yaitu memahami dan mengamalkan ayat Al Quran dan serta tidak ambisius mengejar jabatan.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Rohmadi
(2009:281) bahwa secara kontekstual humor berbahasa In-donesia dapat berfungsi sebagai alat memotivasi diri. Hidup harus dihadapi dengan senyum, begitu kata orang bijak, sebagai ilustrasi dapat diambil contoh humor cerita lisan Si Kabayan.
Topik Humor
Berdasarkan hasil analisis pesan cerita Abu Nawas dalam Kisah 1001
Malam: Abu Nawas Sang Penggeli Hati.ditemukan humor dengan topik
agama, humor dengan topik politik, dan humor dengan topik social.
a. Humor dengan Topik Agama
Tidak seperti biasa, hari itu baginda ingin menyamar menjadi rakyat biasa. Beliau ingin menyaksikan kehidupan di luar istana tanpa sepengetahuan siapa-siapa agar lebih leluasa bergerak.
444 SEMINAR INTERNASIONAL
Memperkokoh Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Internasional Melalui Diplomasi Bahasa, Sastra, dan Budaya
hamba ajukan”. “Sebutkan syarat itu? Kata Baginda raja. “hamba mohon Baginda menyediakan pintunya agar hamba bisa memasukinya,” “Pintu apa? Tanya baginda belum mengerti. “Pintu alam akhirat,” jawab Abu Nawas, “Apa itu?” Tanya Baginda Raja, “Kiamat, Baginda yang mulia, masing-masing alam memiliki pintu, pintu alam dunia peranakan ibu. Pintu alam barzah adalah kematian. Pintu alam akhirat adalah kiamat.surga berada di dalam alam akhirat. Bila Baginda masih menginginkan sebuah mahkota dunia maka dunia harus terjadi terlebih dahulu.
Teks di atas menceritakan Baginda Raja yang meminta Abu Nawas untuk membawakan mahkota surga yang terbuat dari cahaya. Abu Nawas menyanggupinya dengan syarat Baginda Raja menyediakan pintu masuk alam akhirat sebagaimana manusia lahir melewati pintu rahim sang ibu dan pintu alam barzah adalah kematian Baginda.
Kandungan teks ini berkaitan dengan cabang ilmu akidah sebagai pokok ajaran dalam agama Islam. Teks ini membahas keyakinan dan kepercayaan terhadap hal-hal ghaib termasuk kematian dan kiamat. Dalam agama Islam, akidah merupakan fondasi utama dan pertama sebelum melakukan aktivitas kewajiban lainnya yaitu ibadah dan muamalah. Akidah adalah ikatan (janji) seorang individu dengan sang khaliq (pencipta) yang akan
dimanifestasikan dalam ucapan hati, lisan tindakan atau perbuatan. Dengan pemahaman akidah yang kuat dan mendalam manusia akan selamat menjalani kehidupan dunia dan akhirat.
Topik humor terkait agama ini senada dengan hasil penelitian Abbas (2002) dan (Yuniarsih 2011) yang menjelaskan bahwa topik humor tentang agama paling dominan ditemukan dalam teks yang memiliki latar belakang agama, khususnya agama Islam. Topik-topik yang diangkat dari jenis humor ini tidak bertentangan dengan syariat-syariat Is-lam.
b. Humor dengan Topik Politik
Tadi pagi beberapa pekerja kerajaan atas titah raja dating dan membongkar rumah Abu Nawas untuk menggali emas dan permata yang tak ternilai harganya. Setelah digali ternyata tidak ditemukan emas tersebut. Konon raja melakukan hal tersebut karena ia bermimpi, namun setelah kejadian itu raja tidak meminta maaf kepada Abu Nawas, sehingga Abu Nawas marah dan memeras otak bagaimana membalas perbuatan raja.
Dengan muka berseri-seri Abu Nawas berangkat menuju istana. Setiba di istana Abu Nawas membungkuk hormat dan berkata
tamu-445 SEMINAR INTERNASIONAL
Memperkokoh Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Internasional Melalui Diplomasi Bahasa, Sastra, dan Budaya
tamu yang tidak diundang. Mereka masuk rumah hamba tanpa izin dan berani memakan makanan hamba.”
“Siapakah tamu yang tidak diundang itu wahai Abu Nawas?” sergap baginda kasar.
“Lalat-lalat ini Tuan” kata Abu Nawas sambil membuka penutup piringnya. “Kepada siapa lagi hamba harus mengadu perlakuan yang tidak adil ini.”
“Lalu keadilan yang bagaimana yang engkau inginkan dariku?”
“Hamba inngin iszin tertulis dari baginda sendiri agar hamab bisa leluasa menghukum lalat-lalat itu.” Baginda raja tidak bisa menolak permintaan Abu Nawas karena pada saaat itu para menteri sedang berkumpul di istana. Maka dengan terpakasa baginda membuat surat izin yang isinya memperkenankan Abu Nawas memukul lalat-lalat itu dimanapun ia hinggap.
Tanpa menunggu perintah Abu Nawas mulai memukul lalat-lalat itu dimanapun ia hinggap. Dengan tongkat besi yang dibawa dari rumah Abu Nawas memukul lalat yang hinggap di kaca, vas, dan perabotan lain hingga seluruh barang-barang kerajaan remuk dan hancur. Setelah merasa puas Abu Nawas mohon diri untuk pulang, sementara barang-barang kerajaan banyak yang hancur.
Teks di atas menjelaskan Abu Nawas yang merasa kesal dan marah atas perbuatan raja dan pengawalnya. Mereka
telah merusak rumah Abu Nawas karena diduga di dalam rumahnya tersimpan emas permata yang sangat berharga. Kemudian Abu Nawas mencari cara membalas perbuatan raja yang semena-mena. Dengan dalih meminta keadilan Abu Nawas memohon keadilan agar raja membuatkan surat agar ia bisa memukul tamu atau lalat dimanapun lalat tersebut hinggap. Akhirnya raja membuat surat dan Abu Nawas leluasa memukul lalat-lalat tadi dimanapun mereka hingap hingga barang-barang kerajaan rusak dan hancur.
Kandungan teks di atas me-ngungkap topik humor yang berkaitan dengan politik, yaitu bagaimana seseorang mencari cara agar dapat membalas perbuatan orang lain yang telah merugikan dirinya, kawan ataupun lawan politiknya. Dengan siasat mencari keadilan, Abu Nawas menyimpan dendam pada sang raja. Menipu dan mengecoh lawan atau kawan dalam do-main politik adalah hal yang biasa terjadi. Tindakan tersebut sering dilakukan baik secara terang-terangan di depan umum dan via media massa media sosial maupun secara tersembunyi, baik antarindividu mapun antarkelompok.
446 SEMINAR INTERNASIONAL
Memperkokoh Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Internasional Melalui Diplomasi Bahasa, Sastra, dan Budaya
tercipta dengan konteks lingkungan kerajaan at au hubungan anat ara pemimpin dan rakyatnya. Hasil penelitian lain yang relevan sebagaimana telah dilakukan oleh Endahwarni (1994) yang membahas kosa kata dan ungkapan hu-mor Srimulat.
c. Humor dengan Topik Sosial
Abu Nawas pernah bekerja pada seorang yang sangat kaya, tetapi seperti biasanya ia mendapatkan kesulitan dalam pekerjaannya. Pada suatu hari orang kaya itu memanggilnya, katanya, “Abu Nawas kemarilah kau. Kau ini baik, tetapi lamban sekali. Kau ini tidak pernah mengerjakan satu pekerjaan selesai sekaligus. Kalau kau kusuruh beli tiga butir telur, kau tidak membelinya sekaligus. Kau pergi ke warung, kemudian kembali membawa satu telur, kemudian pergi lagi, balik lagi membawa satu telur lagi, dan seterusnya, sehingga untuk beli tiga telur kamu pergi tiga kali ke warung.”
Abu Nawas menjawab, “Maaf, Tuan, saya memang salah. Saya tidak akan mengerjakan hal serupa itu sekali lagi. Saya akan mengerjakan sekaligus saja nanti supaya cepat beres.”
Beberapa wakt u kemudian majikan Abu Nawas itu jatuh sakit dan ia pun menyuruh Abu Nawas pergi memanggil dokter.Tak lama kemudian Abu Nawas pun kembali, ternyata ia tidak hanya membawa dokter, tetapi juga
beberapa orang lain.
Ia masuk ke kamar orang kaya itu yang sedang berbaring di ranjang, katanya, “Dokter sudah datang, Tuan, dan yang lain-lain sudah datang juga.” “Yang lain-lain? Tanya orang kaya itu. “Aku tadi hanya minta kamu memanggil dokter, yang lain-lain itu siapa?”
“Begini Tuan!” jawab Abu Nawas, “Dokter biasanya menyuruh kita minum obat. Jadi saya membawa tukang obat sekalian. Dan tukang obat itu tentunya membuat obatnya dari bahan yang bermacam-macam dan saya juga membawa orang yang berjualan bahan obat-obatan bermacam-macam. Saya juga membawa penjual arang, karena biasanya obat itu direbus dahulu, jadi kita memerlukan tukang arang. Dan mungkin juga Tuan tidak sembuh dan malah mati. Jadi saya bawa sekalian tukang gali kuburan.”
447 SEMINAR INTERNASIONAL
Memperkokoh Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Internasional Melalui Diplomasi Bahasa, Sastra, dan Budaya
orang tersebut berkumpul di rumahnya. Kandungan teks humor di atas mengungkap topik yang berhubungan sosial kemasyrakatan, yaitu menjaga hubungan antara majikan dan bawahan. Interaksi yang baik antara pembantu dan majikannya. Pembantu atau bawahan selayaknya melakukan tugas dan kewajiban dengan baik atas semua perintah dan keinginan majikan. Demikian majikan memberikan hak bawahan sesuai dengan auran dan norma kemanusian yang baik dan benar.
Topik sosial kemasyarakatan ini menunjukkan bagaimana seseorang memahami peran dirinya baik sebagai individu ataupun sebagai bagian dari masyarakat. Strata sosial menegaskan perilaku seseorang berinteraksi dan berkomunikasi dengan baik terhadap orang lain, misalnya relasi sosial pemerintah dan rakyat, atasan dan bawahan, dan orang tua dan anak.
Topik humor terkait sosial sangat berkaitan dengan pendapat Sujoko (1982) bahwa humor dapat berfungsi mengemukakan bahwa di Indonesia kalangan mahasiswa gemar menggunakan humor sebagai sarana kritik sosial. Kegemaran itu menunjukkan bahwa mahasiswa adalah personal yang sedang dididik untuk menjadi manusia yang kritis, serta harus bersikap skeptis sehingga jalan pikirannya akan menjadi ilmiah, tidak begitu saja menerima semua yang dihidangkan.
SIMPULAN
Hasil analisis menunjukkan bahwa unsur tindakan lucu yang terkandung dalam Kisah 1001 Malam: Abu Nawas
Sang Penggeli Hati adalah pertama,
motivasi yang meliputi menyadarkan or-ang lain dan menyadarkan diri sendiri, dan
kedua topik meliputi agama, politik dan
sosial. Berdasarkan temuan di atas dapat dikatakan bahwa setiap tindakan lucu atau humor memiliki motivasi humor dan topik humor. Motivasi humor berwujud kesadaran diri dan kesadaran orang lain. Motivasi inilah yang mampu menggugah senyum dan menarik pikiran pembaca atau pendengar humor
448 SEMINAR INTERNASIONAL
Memperkokoh Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Internasional Melalui Diplomasi Bahasa, Sastra, dan Budaya
memunculkan kelucuan, dan tujuan atau orientasi humor yang berpijak pada interdisipliner keilmuan.
DAFTAR PUSTAKA
Abbas, A. (2002). Unsur Humor dalam
Si Kabayan Manusia Lucu Karya
Achdiyat K. Mihardja. Tesis tidak
diterbitkan. Surabayar: FPS UNESA.
Endahwarni, S. (1994). Kosakata dan
Ungkapan Humor Srimulat.
Jakarta:
Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Miles, Matthew B. dan A. Michael
Huberman. 1984. Qualitative
Data
Analysis. Terjemahan Tjetjep Rohendi
R. 1992. Analisis Data
Kualitatif. Jakarta: UI.
Muhadjir, Noeng. 1996. Metodologi
Penelitian Kualitatif.
Yogyakarta: Rakesarasin
Rahimsyah, M.B. 2008. Kisah 1001
Malam: Abu Nawas Sang Penggeli Hati.
Jombang:Lintas Media
Raskin, V. 1994. Semantics Mechanism
of Humor. Holland: D. Reidel
Publishing Company
Rohmadi, Muhammad. 2009. Wacana
Humor dalam Bahasa Indone-sia:
Analisis Tekstual dan Kontekstual.
Disertasi tidak diterbitkan. Yogyakarta: PPS Universitas Gadjah Mada
Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka
Teknik Analisis Bahasa, Pengantar
Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistis. Yogyakarta:
Duta Wacana University Press. Sujoko. 1982. Perilaku Manusia dalam
Humor. Jakarta: Karya Pustaka.
Yuniawan, Tommy. Fungsi Asosiasi
Pornografi dalam Wacana Hu-mor.
Jurnal Linguistika. Vol. 14, No. 27, Sep-tember 2007 SK Akreditasi Nomor: 39/Dikti/Kep. 2004 Yuniarsih, Yuyun. 2011. Unsur Humor
dalam Buku Ibtasim karya “Aidh Al
Qarni. Skripsi tidak diterbitkan. Jakarta: