POLICY BRIEF
Meneguhkan Sistem Ekonomi Kerakyatan Guna Mewujudkan Kesejahteraan Umum di
Indoniesia
JURUSAN MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK
FISIPOL UGM 2015
Kondisi Perekonomian Indonesia
dibawah Sistem Ekonomi
Neoliberalisme
Indonesia saat ini merupakan negara yang
dikategorikan sebagai negara
berkembang. Pasalnya, Indonesia
termasuk dalam negara dengan rata-rata pendapatan yang rendah, infrastruktur yang relatif terbelakang, dan indeks perkembangan manusia yang kurang. Untuk itu, agar supaya Indonesia menjadi negara yang maju diperlukan perbaikan dalam sistem perekonomiannya.
Jika melihat konteks Indonesia sekarang,
sistem perekonomian Indonesia
cenderung mengarah pada sistem
perekonomian global yakni sistem ekonomi neo-liberal. Peran negara dalam neoliberalisme menurut Stiglitz sendiri ditekankan untuk melakukan empat hal sebagai berikut:
(1) pelaksanaan kebijakan anggaran ketat, termasuk penghapusan subsidi;
(2) Penentuan harga yang mengacu pada mekanisme pasar;
(3) liberalisasi perdagangan; dan (4) pelaksanaan privatisasi BUMN.1
Beberapa contoh kebijakan yang
berlandasan neoliberal diantaranya, Pada tahun 1967 pemerintahan orde baru mengesahkan Undang-Undang Nomor 1
tentang Penanaman Modal Asing.
Dampaknya terjadi privatisasi aset vital negara, semisal lepasnya tambang emas
di Timika ke Freeport, sumur minyak di Kalimantan dan Sumatera dikuasai Chevron, tambang tembaga di NTT dieksploitasi Newmont, satelit Indosat yang dijual ke Singapura. Selain itu penyerahan harga BBM ke mekanisme pasar baru-baru ini merupakan bukti lain betapa sistem ekonomi neoliberal sudah
menjadi pedoman ekonomi bagi
pemerintah2.
International Monitary Found (IMF) percaya sistem ekonomi neoliberal akan mampu membuat Indonesia menjadi negara yang akan merajai perekonomian Asia. Akan tetapi, alih-alih membuat Indonesia berhasil maju dalam sektor perekonomiannya, sektor perekonomian Indonesia malah semakin terpuruk. Hal ini ditandai dengan semakin menumpuknya utang luar negeri, Bank Indonesia (BI) mencatat, utang luar negeri Indonesia per Januari 2015 mencapai 298,6 miliar dollar AS atau Rp. 3.300 Triliyun. Hal ini
diperparah dengan data BPS
menyebutkan terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi di Indonesia3. Tercatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I tahun 2015 sebesar 4,7 persen, melambat dari pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2014 sebesar 5,1 persen (BPS, 2015)4.
Saat ini Indonesia juga menghadapi persoalan kemiskinan yang cukup serius.
BPS (dalam Kemenkokesra, 2013)
menyebutkan penduduk miskin di
Indonesia berjumlah 28,55 juta jiwa atau 16,58% dari total penduduk. Data tersebut
belum ditambahkan dengan jumlah
penduduk yang dikualifikasikan sebagai penduduk hampir miskin yang mencapai 8 juta jiwa5.
Kondisi perekonomian Indonesia saat ini sedang berada dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Ideologi Neoliberal yang dianut pemerintah terbukti tidak memberikan dampak yang besar bagi kesejahteraan umum. Alih-alih
POLICY BRIEF
Meneguhkan Sistem Ekonomi Kerakyatan Guna Mewujudkan Kesejahteraan Umum di
Indoniesia
JURUSAN MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK
FISIPOL UGM 2015
Grafik.1. Tingkat Kemiskinan , pengangguran dan pertumbuhan
GDP.
Disamping itu BPS pada tahun 2013 juga mencatatat Indeks Gini di Indonesia mencapai 0,426.
Grafik.2. Indeks Gini di Indonesia.
Dapat diartikan bahwa selama ini di Indonesia terjadi kesenjangan pendapatan penduduknya yang cukup lebar, atau dengan kata lain distribusi pendapatan antara si miskin dan sikaya di Indonesia tidak merata.
Berdasarkan data yang tergambar diatas
mencerminkan bahwa perekonomian
Indonesia sedang berada dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Ideologi Neoliberal yang dianut pemerintah terbukti tidak memberikan dampak yang besar bagi kesejahteraan umum. Disamping itu ideologi Neoliberal dianggap gagal menjalankan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sebagai mana yang telah
diamanatkan dalam amanat sila ke V Pancasila. Pasalnya ideologi neoliberal yang dianut pemerintah saat ini menghasilkan gap pendapatan yang tinggi antara rakyat atas dan rakyat kecil. Oleh karena itu, diperlukan tindakan serius dari pemerintah untuk mengatasi buruknya kondisi perekonomian bangsa.
Geneologi Ekonomi Kerakyatan
Kondisi perekonomian Indonesia yang mengalami keterpurukan akibat kebijakan ekonomi kita yang cenderung berkiblat
pada ideologi neoliberal sudah
seharusnya dievaluasi oleh pemerintah.
Diperlukan ‘jalan lain’ untuk membawa
perekonomian Indonesia ke arah yang
lebih baik. ‘Jalan lain’ yang ingin penulis
usulkan adalah mengelola perekonomian negara dengan mengacu pada konsep ekonomi kerakyatan. Apa itu ekonomi kerakyatan?. Istilah ekonomi kerakyatan mungkin sering kita dengar ketika momen mendekati Pemilihan Presiden. Di momen tersebut biasanya para capres yang
bersaing sama-sama menggunakan
terminologi ‘ekonomi kerakyatan’ sebagai
janji-janji politisnya.
Ekonomi kerakyatan sendiri tak boleh dipandang sebagai sesuatu yang sempit sebagai ekonomi yang berpihak pada
wong cilik. Lebih dari itu Ekonomi kerakyatan mempunyai makna yang luas.
Bung Hatta menyebutkan ekonomi
kerakyatan sebagai sistem ekonomi yang
sepenuhnya dikelola bersama oleh rakyat berlandaskan kekeluargaan, berbudaya gotong royong, tidak menganut sistem kapitalistis yang bersumber pada individualitas seseorang, dan cendering sistem sosialistis yang mengangungkan kolektivitas bersama di atas hak individu7. Lebih dari itu menurut Prof. Dr. Mubyarto, sistem ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang berasas kekeluargaan, berkedaulatan rakyat, dan menunjukkan
pemihakan sungguh-sungguh pada
ekonomi rakyat dalam praktiknya8.
POLICY BRIEF
Meneguhkan Sistem Ekonomi Kerakyatan Guna Mewujudkan Kesejahteraan Umum di
Indoniesia
JURUSAN MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK
FISIPOL UGM 2015
Baswir, ia menyebut ekonomi kerakyatan sebagai antitesis ekonomi kapitalis dan
neoliberal. Makna kerakyatan di sini, menempatkan rakyat sebagai konsepsi politis, bukan konsep aritmatis statistik belaka, yang bisa berarti siapa saja dapat dikategorikan sebagai rakyat. Sistem ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang berlandaskan demokrasi, yaitu roda perekonomian nasional dikelola dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Ekonomi Kerakyatan juga memungkinkan suatu struktur dan proses ekonomi yang
berupaya memindahkan kedaulatan
ekonomi (power to control) dari oligarki para pemilik modal ke tangan seluruh anggota masyarakat. Rakyat di sini, mempunyai kedaulatan penuh dalam-mengendalikan perekonomian negara, rakyat bisa kapan saja mengganti penentuan kepala perusahan jika tidak sesuai dengan cita-cita negara. Yang
perlu ditekankan disini Rakyat
mengandung arti kolektivitas dari kepentingan orang banyak (public needs), bukan kepentingan orang per orang dan bukan akumulasi dari preferensi atau kepentingan individu-individu, melainkan preferensi sosial yang relevan dengan hajat hidup orang banyak. Singkatnya
ekonomi kerakyatan bertujuan
mewujudkan ‘Keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia’9.
Peran Negara dalam Sistem Ekonomi Kerakyatan
Peran yang harus dilakukan negara sebetulkan sudah diamanatkan dalam konstitusi, akan tetapi semenjak Indonesia masuk kedalam cengkraman neoliberal, amanat konstitusi tersebut pelan-pelan mulai ditinggalkan dan sudah tidak
dijadikan sebagai rujukan dalam
melakukan pembangunan ekonomi di Indonesia.
Secara umum Prof. Revrisond Baswir menyebutkan peran yang harus dilakukan
oleh Negara dalam sistem ekonomi kerakyatan antara lain.
Menyusun perekonomian berdasar atas azas kekeluargaan (tolong menolong/gotong
royong/kolektivisme), yaitu
dengan menjadikan koperasi
sebagai model makro dan mikro perekonomian Indonesia;
Menguasai cabang-cabang
produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak, yaitu dengan mengembangkan BUMN sebagai motor penggerak perekonomian nasional;
Menguasai dan memastikan
pemanfaatan bumi, air, dan segala
kekayaan yang terkandung
didalamnya bagi sebesar besarnya kemakmuran rakyat;
Memenuhi hak setiap warga
negara untuk mendapatkan
pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan;
Memelihara fakir miskin dan anak-anak terlantar.10
Tujuan dan Sasaran Sistem Ekonomi Kerakyatan
Bertolak dari uraian tersebut, dapat
ditegaskan bahwa tujuan utama
penyelenggaraan sistem ekonomi
kerakyatan pada dasarnya adalah untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia melalui peningkatan
kemampuan masyarakat dalam
mengendalikan jalannya roda
perekonomian. Bila tujuan utama ekonomi kerakyatan itu dijabarkan lebih lanjut, maka sasaran pokoK ekonomi kerakyatan dalam garis besarnya meliputi lima hal berikut:
1. Tersedianya peluang kerja dan penghidupan yang layak bagi seluruh anggota masyarakat.
POLICY BRIEF
Meneguhkan Sistem Ekonomi Kerakyatan Guna Mewujudkan Kesejahteraan Umum di
Indoniesia
JURUSAN MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK
FISIPOL UGM 2015
3. Terdistribusikannya kepemilikan modal material secara relatif merata di antara anggota masyarakat.
4. Terselenggaranya pendidikan nasional secara cuma-cuma bagi setiap anggota masyarakat.
5. Terjaminnya kemerdekaan setiap anggota masyarakat untuk mendirikan dan
menjadi anggota serikat-serikat
ekonomi11.
Rekomendasi
Berikut penulis paparkan solusi praktis apa yang harus dilakukan kedepannya oleh Negara
1. Evaluasi secara menyeluruh kebijakan-kebijakan ekonomi yang berlandaskan sistem ekonomi neoiberal. Karena sudah tidak
terbukti dalam memajukan
kesejahteraan nasional.
2. Nasionalisasi Asset strategis negara yang telah di direbut oleh pelaku swasta sebagai wujud
pelaksanaan Pasal 33 (2)
UUD’1945.
3. Aplikasikan Koperasi sebagai sokoguru perekonomian, mengingat
Koperasi merupakan sistem
pengelolaan perusahaan yang berlandaskan kekeluargaan dan hasil produksinya terdistribusi secara adil ke anggotanya. Kebijakan ini sebagai wujud dari Pasal 33 (1) UUD’45.
4. Penguasaan penuh pemerintah terhadap segala bentuk aset yang menyangkut kepentingan rakyat banyak (public goods. Kebijakan ini sebagai wujud dari Pasal 33 (3)
UUD’45
5. Pemberian bantuan modal serta Kredit murah terhadap pelaku Usaha Kecil dan Menengah. Agar terciptanya iklim usaha yang sehat dan mandiri.
6. Program empowerment terhadap
wong cilik. Agar mereka
mempunyai ‘pengetahuan’ untuk
dapat merubah nasibnya.
7. Pemberlakukan Pajak Proggresif kepada para pengusaha kaya. Agar suapaya uang hasil pajak dialihkan untuk menyediakan jaminan sosial kepada rakyat kecil.
Endnotes.
1
Stiglitz, Joseph E. Making Globalization Work. Newyork : WW Norton & Company, Inc. 2006.
2
Jurnal Indoprogress. Jejak Neoliberal di Indonesia. Jakarta.2011
3
http://www.bi.go.id/en/statistik/utang-luar-negeri/Default.aspx (diakses pada 22 Juni 2015)
4
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/05/05/1
35327526/Pertumbuhan.Ekonomi.Kuartal.I-2015.Melambat.Ini.Penyebabnya (diakses pada 22 Juni 2015)
5
http://bps.go.id/idata-statictic/kemiskinan-2013/
diakses pada 22 Juni 2015)
6
http://bps.go.id/idata-statictic/Index-Gini-Indonesia-2013/ diakses pada 22 Juni 2015)
7
Hatta, Mohammad. Membangun Ekonomi Indonesia. Jakarta: Inti Idayu Press.1985
8
Mubyarto. Ekonomi Kerakyatan dalam Era Globalisasi. Yogyakarta; Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM. UGM. 2008.
9
Baswir, Revisond. Tiada Ekonomi Kerakyatan Tanpa Kedaulatan Rakyat. Yogyakarta; Pustaka Pelajar. 1995.
10
Baswir , Revisond. Agenda Ekonomi Kerakyatan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1997.
11
Ibid.10.
Policy brief ini ditulis guna memenuhi tugas UAS Mata Kuliah Advokasi Kebijakan. Policy
brief ini ditulis oleh Badrul Arifin. 13/353999/SP/26025. JMKP FISIPOL UGM. 2015 Judul Tema diangkat dari Bab 2 Jaring Asmara
hasil publikasi PSKK UGM yang berjudul Dampak Minimarket terhadap Ekonomi