• Tidak ada hasil yang ditemukan

Identifikasi Kebutuhan Kebutuhan Yang Me

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Identifikasi Kebutuhan Kebutuhan Yang Me"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Mempengaruhi Motivasi Berprestasi Karyawan CV. Tri Star Kencana

Bangkinang

ADI RAHMAT

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Riau (STIE-RIAU)

Jln. HR. Subrantas 57 Panam Pekanbaru 28293 Telp. (0761) 63237 E-mail : a_rahmat0786@yahoo.com

Abstract:This research is useful to know the identification of the needs that affect achieve-ment motivation employee CV. Tri Star Kencana Bangkinang. This motivation will encour-age individuals to behave actively in order to meet the needs of physiology, safety, social, esteem and self-actualization. Model Summary of the table can be seen the value of R Square indicates the variable needs of physiology, safety, social, esteem and self-actualization of the achievement motivation 88.4%, while the remaining 11.6% are influenced by variables / factors outside research. Where the value of R = 0.940 mean value of a strong contribution from variable practice needs physiology, safety, social, esteem and self-actualization of the

achievement motivation that is equal to 94%. And it also can be seen that the constant (α) of

-2.587, the coefficient β1 of 0.042, coefficient of 0.003 β2, β3 coefficient of 0.647, coefficient

of -0.091 β4, β5 coefficient of 0.522, so it can be displayed in the form of the equation: Y = - 2.587 + 0.042 + 0.003 X1 0.647 X2 + X3 - X4 + 0.091 X5 0.522. Variable physiology, safety, social, esteem and self-actualization in simultaneous achievement motivation showed

sig. 0.000 (<0.05) at level α = 5%. This shows that there is a significant relationship between

the variables physiology, safety, social, esteem and self-actualization in achievement motiva-tion variables

Keywords: Physiology, safety, social, esteem, self-actualization and achievement motivation

Motivasi merupakan proses untuk mencoba mempengaruhi seseorang agar melakukan sesuatu yang diinginkan. Menurut The Liang Gie dalam Manullang (2004:146)

“Motivasi merupakan suatu dorongan yang menjadi pangkal seseorang melakukan

sesuatu untuk bekerja”. Tanpa adanya motivasi karyawan maka tujuan perusahaan yang telah ditetapkan tidak akan tercapai.

Motivasi ini akan mendorong individu untuk berperilaku aktif dalam upaya memen-uhi kebutuhan fisik, rasa aman, sosial, pres-tasi dan aktualisasi diri, sebab berhasil tid-aknya suatu usaha selalu tergantung pada kinerjakaryawan yang produktif, berdedikasi yang tinggi, berpendidikan serta loyal ter-hadap tanggung jawab. Keterampilan keahl-ian serta kecakapan dalam pelaksanaan diberikan oleh pihak perusahaan. Pelaksa-naan motivasi kerja yang tinggi dan efektif oleh seorang pemimpin akan mampu me-numbuhkan motivasi kerja karyawan dalam melakukan tugas pekerjaannya karena ber-hasil tidaknya tujuan akan tergantung pada

kemampuan dan kesungguhan kerja karya-wan.

Karyawan yang mempunyai motivasi kerja rendah biasanya akan terjadi kesukaran dalam tugas dan pekerjaannya dan akan me-nyerah pada keadaan daripada berusaha un-tuk mengatasinya, sedang karyawan yang mempunyai motivasi kerja tinggi apabila terjadi kesukaran dalam menjalankan tugas dan pekerjaannya maka mereka akan be-rusaha untuk mengatasinya. Faktor lainyang perlu diperhatikan oleh perusahaan agar kinerja karyawan baik antara lain adalah mo-tivasi kerja yang mendukung semangat da-lam bekerja dan faktor promosi yang dapat ikut mempengaruhi kinerja karyawan.

(2)

motivasi akan membuat karyawan lebih bersemangat dalam bekerja, sehingga dapat meningkatkan kinerja karyawan menjadi baik.

Di Kabupaten Kampar ada beberapa perusahaan penjualan sepeda motor merek Yamaha. Dalam menjalankan aktivitasnya perusahaan-perusahaan akan menghadapi persaingan yang cukup ketat, hal ini terlihat dari banyaknya penggunaan sepeda motor merk Yamaha. Perusahaan-perusahaan tersebut yaitu CV. Tri Star Kencana Bangkinang (TSK) yang merupakan per-usahaan penjualan sepeda motor merk Yamaha tertua di Kota Bangkinang yang didirikan sejak tahun 1995, pada tahun 2008 muncul kompetitor lain yaitu CV. Gemilang Jaya Mandiri (GJM), dan PT. Alfa Scorpi yang menyusul pada tahun 2009. Dalam menjalankan aktivitasnya perusahaan-perusahaan tersebut menghadapi persaingan yang cukup ketat, hal ini terlihat dari banyaknya penggunaan sepeda motor merk Yamaha.

CV. Tri Star Kencana Bangkinang adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang penjualan sepeda motor merek Yamaha, perbengkelan serta penjualan suku cadang asli Yamaha. Dalam melakukan kegiatan usaha CV. Tri Star Kencana Bangkinang mendapat pasokan dari PT. Alfa Scorpii Medan sebagai main dealer untuk wilayah Sumatera Utara, NAD, Riau dan Kepulauan Riau. Di sini CV. Tri Star Kencana Bangkinang mendapat pasokan secara kredit dari PT. Alfa Scorpii Medan dengan pembayaran sesuai dengan kesepakatan yang telah ditetapkan. Kemudian perusahaan menjual barang-barang tersebut langsung kepada konsumen baik secara tunai maupun secara kredit.

Dibawah ini Tabel 1 adalah data penjualan 5 (lima) tahun terakhir pada CV. Tri Star Kencana Bangkinang.

Tabel 1: Data Penjualan Sepeda Motor Merek Yamaha

Tahun

Penjualan

Target Realisasi

Unit Rp Unit Rp

2008 2590 38.850.000.000 2443 37.866.500.000 2009 2650 39.750.000.000 1616 22.624.000.000 2010 2650 39.750.000.000 2294 33.263.000.000 2011 2700 40.500.000.000 2428 35.206.000.000 2012 2750 41.250.000.000 573 8.595.000.000

Sumber: Data CV. Tri Star Kencana Bangkinang, 2013

Dari tabel 1 dapat kita lihat bahwa penjualan sepeda motor merek Yamaha pada CV. Tri Star Kencana Bangkinang dari lima tahun terakhir ini mengalami penjualan yang berfluktuatif. Dapat dilihat penjualan tahun 2009 jauh mengalami penurunan dari tahun sebelumnya dan penjualan mengalami pen-ingkatan pada tahun 2010 dan 2011 sedangkan penjualan menurun pada tahun 2012.

Pengertian motivasi berprestasi menurut beberapa ahli, diantaranya :

a. Motivasi berprestasi menurut McClel-land dan Atkinson (Buck, 1988) adalah upaya untuk mencapai sukses dengan berkompetisi dengan suatu ukuran keunggulan. Standar keunggulan yang dimaksud adalah berupa prestasi orang lain atau prestasi sendiri yang pernah di-raih sebelumnya.

b. Heckhausen (1967) memberi pengertian motivasi berprestasi sebagai usaha keras idiividu untuk meningkatkan atau mempertahankan kecakapan diri setinggi mungkin dalam semua aktivitas dengan menggunakan standar keunggulan sebagai pembanding. Standar keunggu-lan dapat berupa tingkat kesempurnaan hasil pelaksanaan tugas (berkaitan dengan tugas), perbandingan dengan prestasi sendiri (berkaitan dengan diri sendiri) dan perbandingan dengan orang lain (berkaitan dengan orang lain). c. Martaniah (1979) memberi pengertian

tentang motivasi berprestasi sebagai motif yang mendorong individu untuk berpacu dengan ukuran keunggulan. Ukuran keunggulan ini dapat meng-gunakan dirinya sendiri, orang lain dan dapat pula kesempurnaan tugas.

(3)

moti-vasi berprestasi merupakan kecender-ungan seseorang dalam mengarahkan dan mempertahankan tingkah laku untuk mencapai suatu standar prestasi.

e. Selanjutnya Golleman (1963: 67) menyatakan bahwa orang yang mempu-nyai motivasi berprestasi tinggi akan sangat senang kalau ia berhasil me-menangkan suatu persaingan. Ia berani menanggung segala resiko sebagai konsekwensi dari usahanya untuk men-capai tujuan.

f. Komarudin (1994) menyebutkan bahwa motivasi berprestasi meliputi pertama kecenderungan atau upaya untuk berhasil atau mencapai tujuan yang dikehendaki; kedua keterlibatan ego individu dalam suatu tugas; ketiga harapan suatu tugas yang terlihat oleh tanggapnya subyek; keempat motif untuk mengatasi rintangan atau berupaya berbuat sesuatu dengan cepat dan baik.

Pengertian-pengertian tersebut mem-berikan pemahaman bahwa motivasi ber-prestasi merupakan suatu dorongan dari da-lam diri individu untuk mencapai suatu nilai kesuksesan. Di mana nilai kesuksesan terse-but mengacu pada perbedaannya dengan suatu keberhasilan atas penyelesaian masalah yang pernah diraih oleh individu maupun berupa keberhasilan individu lain yang di-anggap mengandung suatu nilai kehormatan. Menurut Malayu S.P Hasibuan (2008:100) model-model motivasi ada 3 (tiga) diataranya sebagai berikut:

1. Model Tradisional

Model ini mengemukakan bahwa untuk memotivasi staf/ karyawan agar gairah kerjanya meningkat dengan cara memberikan insentif berupa uang atau barang yang berharga.

2. Model Hubungan Manusia

Model ini mengemukakan bahwa untuk memotivasi staf/ karyawan agar gairah bekerjanya meningkat dengan cara memberikan kebutuhan sosialnya, dilibatkan dalam kegiatan yang dianggap penting (diakui), dihargai dan sebagainya.

3. Model Sumber Daya Manusia

Model ini menyatakan bahwa untuk meningkatkan gairah bekerja staf/ karyawan tidak hanya memberikan penghargaan materil, tetapi dengan memberikan kesempatan sebesar-besar-nya untuk memberi tanggung jawab dan membuktikan kemampuannya.

Menurut Mc Clelland (kutipan Veithzal Rivai, 2005:458), teori motivasi dikelompokkan atas 3 kelompok yaitu :

1. Kebutuhan dalam mencapai kesuk-sesan (Need for Achievement). Kemampuan untuk mencapai hub-ungan kepada standar sekolah yang telah ditentukan juga perjuangan kar-yawan menuju keberhasilan.

2. Kebutuhan dalam kekuasaan atau otoritas kerja (Need for Power). Kebutuhan untuk membuat orang berperilaku dalam keadaan yang wajar dan bijaksana di dalam tu-gasnya masing-masing.

3. Kebutuhan untuk berafiliasi (Needs for Affiliation). Hasrat untuk ber-sahabat dan mengenal lebih dekat rekan kerja atau karyawan dalam or-ganisasi.

Dalam teori motivasi berprestasi menurut Mc. Clelland, faktor motivator bagi manusia adalah:

a. Kebutuhan berprestasi b. Kebutuhan berafiliasi c. Kebutuhan berkuasa

Menurut Abraham Maslow (Malayu Hasibuan, 2008:106), teori motivasi dikelompokkan atas 5 kelompok yaitu : 1. Faal

Kebutuhan yang diperlukan untuk mempertahankan kelangsungan hidup seseorang, seperti makan, minum, pakaian dan fasilitas lainnya.

Keinginan untuk memenuhi kebutuhan fisik ini merangsang seseorang berprilaku dan bekerja giat. Kebutuhan fisik ini termasuk kebutuhan utama, tetapi merupakan tingkat kebutuhan yang bobotnya paling rendah.

2. Rasa aman

(4)

melakukan pekerjaan. Kebutuhan ini mengarah kepada dua bentuk, yaitu :

a. Kebutuhan akan keamanan dan keselamatan jiwa di tempat pekerjaan pada saat mengerjakan pekerjaan di waktu jam-jam kerja. b. Kebutuhan akan keamanan harta di

tempat pekerjaan pada waktu jam-jam kerja, misalnya motor yang disimpan jangan sampai hilang. 3. Sosial

Kebutuhan sosial, teman, dicintai dan mencintai serta diterima dalam pergaulan kelompok karyawan dan ling-kungannya. Manusia pada dasarnya selalu ingin hidup berkelompok dan tidak seorang pun manusia ingin hidup menyendiri di tempat terpencil.

4. Harga diri

Kebutuhan akan penghargaan diri, pengakuan serta penghargaan prestise dari karyawan dan masyarakat ling-kungannya. Seperti kebutuhan harga diri, kebutuhan dihormati dan dihargai orang lain.

5. Aktualisasi Diri

Kebutuhan akan aktualisasi diri dengan menggunakan kecakapan, kemampuan, keterampilan dan potensi optimal untuk mencapai prestasi kerja yang sangat memuaskan atau luar biasa yang sulit dicapai orang lain. seperti kebutuhan untuk menggunakan kemampuan, skill, potensi, kebutuhan untuk berpendapat dengan menggunakan ide-ide, mem-berikan penilaian dan kritik terhadap sesuatu.

METODE

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan populasi berjumlah 20 orang. Untuk menentukan ukuran sampel dari suatu populasi, terdapat bermacam-macam cara yang dikemukakan para ahli. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik sampel jenuh, hal ini dilakukan karena jumlah anggota populasi relatif kecil. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 20 orang sesuai dengan jumlah populasi.

Untuk memperoleh data dalam

penelitian ini dipergunakan teknik pengumpulan data yaitu :

a. Teknik pengumpulan data kepustakaan. Teknik ini digunakan untuk mengumpulkan data mengenai teori-teori, konsep-konsep yang behubungan dengan variabel penelitian dari buku-buku dan literature yang relevan.

b. Teknik Pengumpulan Data Lapangan. Teknik ini digunakan untuk menemukan data empirik dengan menggunakan angket/ kuesioner dengan Skala Likert. Menurut Kinnear (1988) yang dikutip dalam buku Metodologi Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis (Husein Umar, 2008:70-71), Skala Likert ini berhubu-ngan deberhubu-ngan pernyataan tentang sikap seseorang terhadap sesuatu. Responden diminta mengisi pernyataan dalam skala ordinal. Skala pengukuran adalah Skala Likert yang dibagi kedalam lima, pengukuran, dimana skala peng-ukurannya menggunakan skala 1 sampai dengan 5 (skala likert). Dimana angka 1 mewakili Sangat Tidak Setuju (STS) sampai dengan angka mewakili Sangat Setuju (SS). Alat analisa yang digunakan adalah dengan menggunakan analisis regresi linier berganda dengan pengolahan data dibantu software SPSS versi 19. Adapun rumus regresi linier berganda :

Y = α +β1X1+β2X2+β3X3+β4X4+β5X5 +ε

Keterangan : X1 : Faal

X2 : Rasa aman

X3 : Sosial

X4 : Harga diri

X5 : Aktualisasi diri

Y : Motivasi berprestasi

HASIL

Setelah data kuesioner terkumpul, maka dilakukan pengolahan data dengan bantuan komputer. Dan didapat outputnya sebagai berikut:

(5)

Sumber : Data primer, Olahan SPSS

Dari tabel Model Summary dapat di-lihat nilai R Square menunjukan variabel faal, rasa aman, sosial, harga diri dan aktualisasi berpengaruh terhadap motivasi berprestasisebesar 88,4%, sedangkan sisanya sebesar 11,6% dipengaruhi oleh variabel/ faktor di luar penelitian. Dimana nilai R=0,940 artinya merupakan nilai kontribusi yang kuat dari variabel faal, rasa aman, sosial, harga diri dan aktualisasi terhadap motivasi berprestasi yaitu sebesar 94%. Tabel 3. Output SPSS Anova Variabel faal, rasa aman, sosial, harga diri dan aktualisasi terhadap motivasi berprestasi.

Sumber : Data primer, Olahan SPSS

Uji F dilakukan untuk mengetahui hubungan secara serentak, dari hasil output SPSS pada tabel 3 dapat dilihat nilai signifikan variabel faal, rasa aman, sosial, harga diri dan aktualisasi terhadap motivasi berprestasi secara simultan menunjukan nilai

sig. 0,000 (< 0,05) pada tingkat α = 5%. Hal

ini menunjukan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel faal, rasa aman, sosial, harga diri dan aktualisasi terhadap motivasi berprestasi.

Tabel 4.Output SPSS Coefficients Variabel Psikologis, rasa aman, sosial, harga diri dan aktualisasi terhadap motivasi berprestasi.

Sumber : Data primer, Olahan SPSS

Pada tabel coefficients variabel faal, rasa aman, sosial, harga diri dan aktualisasi terhadap motivasi berprestasi, terlihat:

a. Variabel faal terhadap motivasi berprestasi dengan nilai signifikannya

adalah sig. 0,884. Nilai sig. 0,884< 0,05, di mana menunjukkan pengaruh yang signifikan antara faal terhadap motivasi berprestasi.

b. Variabel rasa aman terhadap motivasi berprestasi dengan nilai signifikannya adalah sig. 0,984. Nilai sig. 0,984< 0,05, di mana menunjukkan pengaruh yang signifikan antara rasa aman terhadap motivasi berprestasi.

c. Variabel sosial terhadap motivasi berprestasi dengan nilai signifikannya adalah sig. 0,00. Nilai sig. 0,00 < 0,05, di mana menunjukkan pengaruh yang signifikan antara sosial terhadap motivasi berprestasi.

d. Variabel harga diri terhadap motivasi berprestasi dengan nilai signifikannya adalah sig. 0,652. Nilai sig. 0,652< 0,05, di mana menunjukkan pengaruh yang signifikan antara harga diri terhadap motivasi berprestasi.

e. Variabel aktualisasi diri terhadap motivasi berprestasi dengan nilai signifikannya adalah sig. 0,031. Nilai sig. 0,031< 0,05, di mana menunjukkan pengaruh yang signifikan antara aktualisasi diri terhadap motivasi berprestasi

Dari tabel 4 dapat juga dilihat bahwa

konstanta (α) sebesar -2,857, koefisien β1

sebesar 0,042, koefisien β2 sebesar 0,03,

koefisien β3 sebesar 0,647, koefisien β4

sebesar -0,091, dan koefisien β5 sebesar

0,522sehingga dapat ditampilkan ke dalam bentuk persamaan :

Y = α +β1X1+β2X2+β3X3+β4X4+β5X5

Jika diasumsikan dapat ditulis persamaan sebagai berikut:

Y = -2,587 + 0,042X1 + 0,003X2 + 0,647X3 -

0,091X4+ 0,522X5

Dari persamaan di atas dapat diartikan bahwa:

1. Besarnya pengaruh faal (X1) terhadap

(6)

tetap, dan apabila variabel faal di-misalkan nol (tetap), maka variabel motivasi berprestasi tetap ada sebesar konstanta 0,042.

2. Besarnya pengaruh rasa aman (X2)

terhadap motivasi berprestasi sebesar 0,003, ini berarti apabila variabel rasa aman ditingkatkan sebesar satu satuan variabel, maka motivasi berprestasi akan meningkat sebesar 0,003 kali satuan variabel, dengan syarat variabel X1, X3

X4 dan X5 tetap, dan apabila variabel

rasa aman dimisalkan nol (tetap), maka variabel motivasi berprestasi tetap ada sebesar konstanta 0,003.

3. Besarnya pengaruh sosial (X3) terhadap

motivasi berprestasi sebesar 0,647 ini berarti apabila variabel sosial ditingkat-kan sebesar satu satuan variabel, maka motivasi berprestasi akan meningkat sebesar 0,647 kali satuan variabel, dengan syarat variabel X1, X2X4 dan X5

tetap, dan apabila variabel sosial dimisalkan nol (tetap), maka variabel motivasi berprestasi tetap ada sebesar konstanta 0,647.

4. Besarnya pengaruh harga diri (X4)

terhadap motivasi berprestasi sebesar -0,091, ini berarti apabila variabel harga diri ditingkatkan sebesar satu satuan variabel, maka motivasi berprestasi akan menurun sebesar 0,091 kali satuan variabel, dengan syarat variabel X1, X2,

X3 dan X5 tetap, dan apabila variabel

harga diri dimisalkan nol (tetap), maka variabel kinerja tetap ada sebesar konstanta -0,091.

5. Besarnya pengaruh aktualisasi diri(X5)

terhadap motivasi berprestasi sebesar 0,522, ini berarti apabila variabel aktualisasi diriditingkatkan sebesar satu satuan variabel, maka motivasi berprestasi akan meningkat sebesar 0,522 kali satuan variabel, dengan syarat variabel X1, X2, X3,dan X4 tetap, dan

apabila variabel aktualisasi diri dimisalkan nol (tetap), maka variabel motivasi berprestasi tetap ada sebesar konstanta 0,522.

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara variabel-variabel faal, rasa aman, sosial, harga diri dan aktualisasi terhadap motivasi berprestasi. Maka dapat dibuat pembahasan dari hasil penelitian tersebut, dimana Maslow menyusun teori motivasi manusia, dimana variasi kebutuhan manusia dipandang tersusun dalam bentuk hirarki atau berjenjang. Setiap jenjang kebutuhan dapat dipenuhi hanya jenjang sebelumnya telah (relatif) terpuaskan me-nyajikan secara ringkas empat jenjang basic need atau deviciency need, dan satu jenjang meta needs atau growth needs. Jenjang motivasi bersifat mengikat, maksudnya; kebutuhan pada tingkat yang lebih rendah harus relatif terpuaskan sebelum orang menyadarinya lebih tinggi. Jadi kebutuhan faal harus terpuaskan lebih dahulu sebelum muncul kebutuhan rasa aman. Sesudah kebutuhan faal harus terpuaskan lebih dahulu sebelum muncul kebutuhan rasa aman. Sesudah kebutuhan faal dan rasa aman terpuaskan, baru muncul kebutuhan kasih sayang, begitu seterusnya sampaikebutuhan dasar terpuaskan baru akan muncul kebu-tuhan meta.

Umumnya kebutuhan faal bersifat neostatik (usaha menjaga keseimbangan unsur-unsur fisik) seperti makan, minum, gula, garam, protein, serta kebutuhan istirahat dan seks. Kebutuhan faal ini sangat kuat, dalam keadaan absolut (kelaparan dan kehausan) semua kebutuhan lain ditinggalkan danorang mencurahkan semua kemam-puannya untuk memenuhi kebutuhan ini.

(7)

Sesudah kebutuhan faal dari keamanan relatif terpuaskan, kebutuhan dimiliki atau menjadi bagian dari kelompok sosial dancinta menjadi tujuan yang dominan. Orang sangat peka dengan kesendirian, pengasingan, ditolak lingkungan, dan kehilangan sahabat atau kehilangan cinta. Kebutuhan dimiliki ini terus penting sepanjang hidup.

Ada dua jenis cinta (dewasa) yakni Deficiency atau D-Love dan Being atau B-love. Kebutuhan cinta karena kekurangan, itulah DLove; orang yang mencintai sesuatu yang tidak dimilikinya, seperti harga diri, seks, atau seseorang yang membuat dirinya menjaditidak sendirian. Misalnya: hubungan pacaran, hidup bersama atau perkawinan yang membuat orang terpuaskan kenya-manan dan keakenya-manannya. D-love adalah cinta yang mementingkan diri sendiri, yang memperoleh daripada memberi. B-Love didasarkan pada penilaian mengenai orang lain apa adanya, tanpa keinginan mengubah atau memanfaatkan orang itu. Cinta yang tidak berniat memiliki, tidak mempengaruhi, dan terutama bertujuan memberi orang lain gambaran positif, penerimaan diri dan perasaan dicintai, yang membuka kesem-patan orang itu untuk berkembang. Ketika kebutuhan dimiliki dan mencintai sudah relatif terpuaskan,

kekuatan motivasinya melemah, diganti motivasi harga diri. Adadua jenis harga diri :

a. Menghargai diri sendiri (self respect): kebutuhan kekuatan, penguasaan, kom-petensi, prestasi, kepercayaan diri, ke-mandirian, dan kebebasan.

b. Mendapat penghargaan dari orang lain (respect from other): kebutuhan prestise, penghargaan dari orang lain, status, ketenaran, dominasi, menjadi orang penting, kehormatan, diterima dan apresiasi. Orang membutuhkan penge-tahuan bahwa dirinya dikenal dengan baik dan dinilai dengan baik oleh orang lain.

Akhirnya sesudah semua kebutuhan dasar terpenuhi, muncullah kebutuhan meta atau kebutuhan aktualisasi diri, kebutuhan menjadi sesuatu yang orang itu mampu

mewujudkannya secara maksimal seluruh bakat, kemampuan dan potensinya. Aktualisasi diri adalah keinginan untuk memperoleh kepuasan dengan dirinya sendiri (Self fullfilment), untuk menyadari semua potensi dirinya, untuk menjadi apa saja yang dia dapat melakukannya, dan untuk menjadi kreatif dan bebas mencapai puncak prestasi potensinya. Manusia yang dapat mencapai tingkat aktualisasi diri ini menjadi manusia yang utuh, memperoleh kepuasan dari kebutuhan-kebutuhan yang orang lain bahkan tidak menyadari ada kebutuhan semacam itu.

SIMPULAN

Dari tabel Model Summary dapat di-lihat nilai R Square menunjukan variabel faal, rasa aman, sosial, harga diri dan aktualisasi terhadap motivasi berprestasi sebesar 88,4%, sedangkan sisanya sebesar 11,6% dipengaruhi oleh variabel/faktor di luar penelitian. Dimana nilai R=0,940 artinya merupakan nilai kontribusi yang kuat dari variabel faal, rasa aman, sosial, harga diri dan aktualisasi terhadap motivasi berprestasi yaitu sebesar 94%.

Nilai signifikan variabel faal, rasa aman, sosial, harga diri dan aktualisasi terhadap motivasi berprestasi secara simultan menun-jukkan nilai sig. 0,000 (< 0,05) pada tingkat

α = 5%. Hal ini menunjukan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel faal, rasa aman, sosial, harga diri dan aktualisasi terhadap motivasi berprestasi

konstanta (α) sebesar -2,857, koefisien

β1 sebesar 0,042, koefisien β2 sebesar 0,03,

koefisien β3 sebesar 0,647, koefisien β4

sebesar -0,091, dan koefisien β5 sebesar

0,522 sehingga dapat ditampilkan ke dalam bentuk persamaan:

Y = α +β1X1+β2X2+β3X3+β4X4+β5X5

DAFTAR RUJUKAN

Ahmad, Komarudin, 1994, Dasar-dasar Manajemen, Rineka Cipta, Jakarta.

(8)

Golleman, 1995, Emotional Intelligence, Santon Books, New York.

Hasibuan, Malayu, 2008, Organisasi dan Motivasi, dasar Peningkatan Produk-tivitas, Bumi Aksara, Jakarta.

Heckhausen, 1967, The Anatomy of Achievement motivation, Academi press, New York.

Manullang, M, 2004, Dasar-Dasar Mana-jemen, Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Martaniah, 1979, Peningkatan Kepercayaan Diri Remaja, Pustaka Belajar, Yog-yakarta.

Mcclelland, 1953, The Achievity Society, D Van Dostond, New Jersey.

Priyatno, Dwi. 2008. Mandiri Belajar SPSS Untuk Analisa Data Dan Uji Statistik. Mediacom, Yogyakarta.

Rivai, Veithzal. 2005. Performance Appraisal. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Gambar

Tabel 1: Data Penjualan Sepeda Motor
Tabel 4.Output SPSS Coefficients Variabel Psikologis, rasa aman, sosial, harga diri dan aktualisasi terhadap motivasi berprestasi

Referensi

Dokumen terkait

Proses Pembentukan Nilai Karakter Siswa Melalui Ekstrakurikuler Pramuka Di MI Tasmirit Tarbiyah Sumbergayam Trenggalek Dalam pembentukan nilai karakter siswa melalui

Hal ini disebabkan bumi memilki ukuran massa yang lebih besar dari pada bulan, sehingga bumi memilki kekuatan untuk menarik benda dan memgang setiap benda yang beredar di atasnya,

Namun menentukan pilihan tersebut, tidak terlepas dari peranan ibu dan ayah, apabila pihak orang tua lebih berorientasi kepada nilai-nilai keduniaan dan mengabaikan nilai

Pada perusahaan perata laba, simpulan yang bisa diambil adalah: (1) Net earnings berpengaruh positif signifikan terhadap return saham perusahaan perata laba karena pada

Pendidikan Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Universitas. Muhammadiyah Jakarta, Jakarta tahun

Pengurus BAZDA Kota Blitar, Pertama, Lebih berorientasi pada program oriented, bukan formulir oriented, Kedua, Perlu membangun hubungan kerja yang sinergis dengan lembaga

Melalui penggabungan dan penambahan aspek nilai mengikut perspektif Islam dalam teknik psikoterapi, keperluan pesakit-pesakit Islam seperti dalam penyalahgunaan dadah dan masalah

Penelitian-penelitian terdahulu yang terkait dengan marketing mix dan syariah compliance menunjukan keterkaitan dalam mempengaruhi loyalitas dan keputusan pelanggan,