• Tidak ada hasil yang ditemukan

Muh Natsir, Implementasi Kebijakan Publik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Muh Natsir, Implementasi Kebijakan Publik"

Copied!
86
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN

PUBLIK

(2)

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN

PUBLIK

(3)

Ketentuan Pidana Pasal 72:

1. Barang siapa dengan sengaja atau tanpa hak melakukan perbuatan ,sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau hak terkait sebagaimana dimaksud..pada ayat 1 (satu), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

PERHATIAN

KECELAKAAN BAGI ORANG-ORANG YANG CURANG (QS Al-Muthaffifin Ayat 1)

Para pembajak, penyalur, penjual, pengedar, dan PEMBELI BUKU BAJAKAN adalah bersekongkol dalam alam perbuatan CURANG. Kelompok genk ini saling membantu memberi peluang hancurnya citra bangsa, "merampas" dan "memakan" hak orang lain dengan cara yang bathil dan kotor. Kelompok "makhluk" ini semua ikut berdosa, hidup dan kehidupannya tidak akan diridhoi dan dipersempit rizkinya oleh ALLAH SWT.

(4)

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN

PUBLIK

DR. MUH. NATSIR, M.Si.

PENERBIT

HASNAWATI

MONCONGLOE

DR. Muh. Natsir, M.Si. Lahir di Maccope Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan pada tanggal 5 Oktober 1958. Lulus di SMA Negeri 1 Watampone Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 1979.

Lulus pendidikan Diploma I / Akta I Jurusan Hukum / PMP (Pendidikan Moral Pancasila) pada Fakultas Keguruan Ilmu Sosial di Insitut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Ujung Pandang (IKIP Ujung Pandang) Tahun 1980. Lulus Ujian Sarjana Muda Jurusan Administrasi Negara di Universitas Veteran Republik Indonesia (UVRI) Ujung Pandang Tahun 1984. Lulus Ujian Negara Sarjana Jurusan Administrasi Negara di Universitas Veteran Republik Indonesia (UVRI) Ujung Pandang Tahun 1986. Lulus Pascasarjana Program Magister Sains (M.Si) Administrasi Pembangunan/Ilmu Sosial di Universitas Hasanuddin (UNHAS) Tahun 1997. Lulus Pascasarjana Program Doktor (Dr) Program Studi Ilmu Administrasi Publik di Universitas Negeri Makassar (UNM) Tahun 2013.

Tahun 1981 diangkat menjadi calon pegawai negeri sipil di SMP Negeri Bontocani Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan. Tahun 1982 diangkat menjadi pegawai negeri sipil di SMP Negeri Bontocani Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan. Tahun 1983 Guru SMP Negeri 17 Ujung Pandang. Tahun 1997 wakil Kepala SMP Negeri 17 Ujung Pandang. Tahun 2001 sampai sekarang Dosen Kopertis Wilayah IX Sulawesi di pekerjakan pada Universitas Islam Makassar, Jabatan Lektor Kepala Golongan IVb.

Penerbit

HASNAWATI

Jl. Dusun Pamanjengan, Desa Moncongloe, Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros Provinsi Sulawesi Selatan

(5)

---, 1997. Evaluasi Kebijakan Publik. Malang: FIA UNIBRAW dan IKIP Malang.

---, 2001. Analisis Kebijakan dari Formulasi ke Implementasi Kebijakan Negara. Jakarta: Bumi aksara. ---, 1991. Analisis Kebijakan dari Formulasi ke

Implementasi Kebijakan. Jakarta: Bumi Aksara. Waldo, D. 1971. Pengantar Studi: Public Administration.

Terjemahan Slamet W. Admosoedarmo. Jakarta: Tjemerlang.

Weber, Max. 1987. Bureaucracy. Dalam Shafritz, Jay M. & Ott, J. Steven. Classics of Organization Theory. (2nd ed.). hlm. 81 – 86. USA ; The Dorsey Press.

Weber, Max. 2004. www.sage publication.com/ Weber Theory (diakses Mei 2004).

Wilson, Woodrow.1987. The Study Of Administration. Dalam Shafritz, Jay M. & Hyde, Albert C. 1987. Classic of Public Administration. (2nd Edition). USA ; The Dorsey Press.

Wibawa, Samodra. 1994. Kebijakan Publik: Proses dan Analisis. Jakarta: C.V. Intermedia.

Wibawa, Samodra (et all). 1994. Evaluasi Kebijaksanaan Publik. Jakarta: Raka Grafindo Persada.

Winarno, Budi. 2002. Teori dan Proses Kebijakan Publik. Yogyakarta: Media Pressindo.

---, 2005. Teori & Proses Kebijakan Publik. Yogyakarta: Media Pressindo.

---, 2007. Kebijakan Publik: Teori dan Proses. Yogyakarta: Med Press.

---, 2008. Kebijakan Publik Teori dan Proses. Jakarta, Indonesia: Media Pressindo.

Zeithaml, V.A.,A. Parasuraman dan L.LLeonard, Berry. 1990. Delivering Quality Service: Balancing Customer Perceptions and Expectation. NewYork: The Free Press. Htt:/www.jstor.org/about/terms.html

Undang–Undang Dasar tahun 1945.

Peraturan Presiden RI No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah.

Hak cipta dilindungi undang-undang

Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa ijin tertulis dari penerbit.

©2016, Penerbit HASNAWATI, Moncongloe

Ukuran : 16X24

Tebal : 158 Halaman

Judul Buku : IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PUBLIK

Penulis : DR. MUH. NATSIR, M.Si.

Editor : DR. Zulkarnain Umar, M.Si.

Penyunting : DR. Hj. Sudarmi Tajibu, M.Si.

Desain sampul dan Tata letak: Hj.Hasnawati

Penerbit : Hasnawati

Redaksi : Jl. Dusun Pamanjengan, Desa Moncongloe, Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros Provinsi Sulawesi Selatan.

Tel +6282394992009

Email : [email protected]

Distributor Tunggal :

CV. Sinar Pagi

Dusun Pamanjengan, Desa Moncongloe, Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros Provinsi Sulawesi Selatan. Tel +6281355561297

Email : [email protected]

(6)

- Ali bin Abi Thalib -

"Ilmu lebih utama daripada harta. Sebab ilmu warisan para nabi adapun harta adalah warisan Qorun, Firaun dan lainnya. Ilmu lebih utama dari harta karena ilmu itu menjaga kamu, kalau harta kamulah yang menjaganya."

- Confucius -

"Ciri orang yang beradab ialah dia sangat rajin dan suka belajar, dia tidak malu belajar daripada orang yang berkedudukan lebih rendah darinya."

Sherlock, Stephen, “Combating Corruption in Indonesia ? The Ombudsman and the Assets Auditing Commission”, Bulletin of Indonesian Economic Studies, Vol. 38, No.3, 2002, pp.376-383.

Simon, Herbert, A. 1957. Administrative Behaviour, New York: Free Press.

Simons, Robert, Control in an Age of Empowerments, Harvard Business Review, March-April, 1995.

Subarsono, AG. 2005. Analisis Kebijakan Publik, Konsep, Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Subarsono, AG. 2006. Analisis Kebijakan Publik. Konsep, Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Subarsono, AG. (2011) Analisis Kebijakan Publik. Yogyakarta:

Pustaka Pelajar.

Suharto Edi. 2005. Analisis kebijakan Publik (Panduan Praktis) Mengkaji Masalah dan Kebijakan Sosial.

Tachjan. (2006). Implementasi Kebijakan Publik. Bandung: Lemlit Unpad.

Tachjan, 2008. Implementasi Kebijakan Publik. Bandung: Lemlit Unpad.

Tahir, Arifin. 2010. Kebijakan Publik & Transparansi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Jakarta: Pustaka Press Indonesia.

Tjokrowinoto, M. 1996. Pembangunan: Dilema dan Tantangan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Van Meter. D. S and Vanhorn C. E. 1975. The Policy Implementation Process.Departement of Political Science, Ohio, USA.

Van meter dan Van Horn. 1978. Developing Performance Monitoring in public sector Organization, new York. Van Meter, D. & Van Horn, C. 2004. The policy

implementation process: A conceptual framework. Administration & Society.

Wahab, Sholichin, Abdul. 2005. Analisis Kebijakasanaan: Dari formulasi ke Implementasi. Kebijaksanaan Negara. Jakarta: Bumi aksara.

(7)

---,1984. Analysis For Public Decisions. New York: Elsevier Science Publishers.

Riggs, Fred W. (ed). 1971. Frontiers of Developing Administration. Durhan, North Carolina: Duke University Press.

Ripley, Randal B. dan Grace A. Franklin. 1986. Policy Implementation and Bureaucracy. 2nd Ed. Chicago: Dorsey Press.

Robert V. Presthus. 1958. Toward a Theory of Organization Behavior, Administrative Science Quarterly, Vol. 13, June, 1958.

Robbin, Stepen, P. 1994. Teori Organisasi: Struktur, Desain, & Aplikasi. Terjemahan Yusup Udaya. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

---, 1996. Perilaku Organisasi: Konsep – Kontropersi Aplikasi. Terjemahan Hadyana Pujaatmaka. Jakarta: PT. Prenhallindo.

---, 2001. Perilaku Organisasi. Jakarta: PT Prenhalindo. Rondinelli, Dennis A. 1990. Proyek Pembangunan Sebagai

Manajemen Terpadu. Jakarta: Bumi Aksara.

Rosenbloom and Kravchuk. 2002. Public Administration : Understanding Management, Politics, and Law in the Public Sector, Boston: McGraw-Hill,.

Said, Mas’ud. 2007. Birokrasi di Negara Birokratis. Malang: UMM Press.

Samodra Wibawa. 1994. Evaluasi Kebijakan Publik. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Saefullah, A. D. 1996. Etika Jabatan Publik. Bandung: LAN. ---, 1999. Konsep dan Metode Pemberian PelayananYang

Baik. Bandung: Dirjen PUOD Depdagri dan FISIP Unpad.

Sabatier, P.A., and Mazmanian, D. 1979. “The Conditiong of effective Implementation” dalam policy Analysis. 5,481-504.

Sabatier, Paul. 1986. “Top down and Bottom up Approaches to Implementation Research” Journal of Public Policy 6, (Jan), h. 21-48.

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan Alhamdulillahi Rabbil Alamin, segala kemuliaan, ilmu pengetahuan dan kebenaran berpikir serta bertindak hanyalah milik Allah Subhanahu Wata’ala, sedangkan milik penulis hanyalah kekeliruan dan kesalahan. Oleh sebab itu perkenankanlah permohonan maaf saya, sebagai penulis apabila terdapat kekurangan dan kesalahan dalam buku referensi ini dengan judul “IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PUBLIK”.

Kebijakan Publik merupakan salahsatu pokok bahasan yang paling banyak dibicarakan, baik dikalangan akademisi, praktisi, maupun masyarakat awam. Masingmasing memiliki persepsi yang berbeda. Kaum akademisi mengkaji kebijakan publik sebagai produk politik, produk hukum, bahkan sebagai media untuk memecahkan masalah (problem solver). Kalangan praktisi memandang kebijakan publik sebagai rangkaian peraturan perundang-undangan yang menjadi acuan dalam bertindak. Sementara masyarakat umum mengidentikkan kebijakan publik dengan keberpihakan pemerintah terhadap suatu isu. Berbagai perspektif inilah yang mendorong berkembangnya studi kebijakan publik, termasuk studi tentang implementasi kebujakan publik. Sebaik apapun substansi suatu kebijakan publik, akan berfaedah jika diimplementasikan. Implementasi kebijakan publik pada hakikatnya merupakan jembatan antara visi dan realitas.

(8)

kritik dan saran yang konstruktif sangat diharapkan untuk memperkaya materi buku referensi ini.

Buku referensi ini dapat diselesaikan, bukanlah semata-mata hasil renungan atau kemampuan menalar murni penulis, akan tetapi dipahami dari berbagai literatur, sebagaimana yang telah penulis cantumkan dalam daftar pustaka. Penulis hanyalah sosok manusia yang tidak memiliki apa-apa, termasuk ilmu implementasi kebijakan publik. Penulis hanya mencari dan berupaya mempelajari ilmu pengetahuan dibidang implementasi kebijakan publik. Oleh sebab itu sewajarnyalah penulis menghaturkan banyak terima kasih apabila diantara pembaca buku referensi ini ada memberikan masukan untuk penyempurnaan selanjutnya.

Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada seluruh rekan civitas akademika Universitas Islam Makassar yang turut membantu menyelesaikan buku referensi ini. Selanjutnya teristimewa kepada istri tercinta Hj. Hasnawati., anak-anakku yang tersayang: Saharudin, S.Pdi, Aminuddin, S.Pd.,M.Pd., Habibie, S.Sos., M.I.Kom., Muhammad Ridwan, S.E., Siti Hardiyanti Natsir, dan Melda Ramadhania Natsir, yang dengan tulus memberikan semangat kepada penulis untuk menyelesaikan buku referensi ini.

Bagi penulis, terbitnya buku referensi ini memiliki arti penting sebagai catatan pemikiran penulis. Besar harapan penulis untuk dapat berbagi butir-butir pemikiran dengan masyarakat yang memperluas khazanah literature dan menambah Referensi tentang studi implementasi kebijakan publik.

Semoga buku Referensi ini dapat berpungsi sebagai sarana untuk mencapai kebenaran ilmu pengetahuan terutama di bidang kebenaran ilmu implementasi kebijakan publik. Amin.

Moncongloe, Desember 2016 Penulis

DR. Muh. Natsir, M.Si

---, 2003. Kebijakan Publik: Formulasi, Implementasi, dan Evaluasi. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo. ---, 2004. Kebijakan Publik (Foarmulasi, Implementasi,

dan Evaluasi). Jakarta: PT. Elex Media Komputindo. ---, 2008. Kebijakan Publik Formulasi, Implementasi, dan

Evaluasi. Jakarta: Elex Media Komputindo.

---, 2008. Public Policy. Jakarta: Elex Media Komputindo. Osborne, David dan Ted Gaebler. 1992. Reinventing

Government: How The Entrepreneurial Spirit is Transforming The Public Sector, New York: A Plume Book.

Osborne, David and Peter Plastrik. 1997. Banishing Bureaucracy The Five Strategies for Reinventing Government, California-New York, USA: Addison-Wesley Publishing Company Inc. Massachusets.

---, 2000. Memangkas Birokrasi: Lima Strategi Menuju Pemerintahan Wirausaha, Jakarta: Victor Jaya Abadi. Parenti, Michael. 1994. Democracy for The Few (fifth edition).

New York: St. Martin’s Press.

Parsons, D.W. 1997. Public Policy : An Introduction to the Theory and Practice of Policy Analysis. London: University Cambridge.

Parson, W. 1997. Public Policy, An Introduction to the Theory and Practice of Policy Analysis. U.K, Aldershot Edward Elgar Publishing.

Parsons Wayne. 2005. Public Policy : Pengatar Teori &Praktik Analisis Kebijakan. 2001 Edward Elgar Publishing, Ltd, Edisi Pertama, Cetakan Ke-1.

Parasuraman,A,Valeri Zeithamal dan Leonard Berry. 1988. SERVQUAL: A Multiple Item Scale for Measuring Consumer Perception of Service Quality.Journal of retailing,64:12-40.

Poerwadarminta. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

(9)

Mc. Andrew, Colin, dan Ichlasul Amal. 1995. Hubungan Pusat Daerah dalam Pembangunan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Mas’oed Muchtar. 1997. Politik Birokrasi dan Pembangunan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Mazmanian, D.A., dan Sabatier, P. A. 2003. Implementation and Public Policy. London: Scott, Forestman and Company.

Mazmanian, Daniel A and Paul A. Sabatier. 1983. Implementation and Public Policy. USA (United States of America): Scott Foresman and Company.

Miles, Matthew B., A. Michael Huberman, dan Johnny Saldaña,(eds). 2014. Qualitative data analysis: a methods sourcebook (3th ed) Thousand Oaks, CA: Sage Publications.

Miles, M.B dan Huberman, A.M. 1992. Analisa Data Kualitatif. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Myers, Michele Tolela and Gail E. Myers .1988. Managing By Communication, New York, New Newsey, London, Mc. Graw Hill Int. Book. Co.

Mertins, Herman, Jr, Frances Burke, Robert W. Kweit, and Gerald M. Pops. 1998. Applying Standards and Ethics in The 21st Century, Washington D.C. : ASPA,.

Moleong, Lexy J. 2005. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Montgomery, John D dan William J. Siffin. 1966. Approaches to Development : Politics, Administration and Chang, New York: McGraw-Hill Book Company, Inc.

Moekijat. 1985. Analisa Kebijakan Publik. Bandung: Mandar Maju.

Natsir, Muh. 2013. Implementasi Kebijakan Kepemilikan Sertifikat Hak Atas Tanah di Kabupaten Gowa. Disertasi. Program Pascasarjana Univeritas Negeri Makassar.

Nugroho, Riant D. 2004. Kebijakan Publik Formulasi, Implementasi dan Evaluasi. Jakarta, Indonesia: Elex Media Komputindo.

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ... vii

Daftar isi ... ix

BAGIAN 1 KONSEP KEBIJAKAN PUBLIK ... 1

1.1Konsep “Kebijakan” Dan “Publik” ... 1

1.2Pengertian Kebijakan Publik ... 23

1.3Kebijakan Pemerintah ... 29

BAGIAN 2 PROSES IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PUBLIK ... 32

2.1Proses Implementasi ... 32

2.2Determinan Implementasi Kebijakan... 35

2.3Model Implementasi Kebijakan ... 37

BAGIAN 3. PENDEKATAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN ... 85

3.1 Pengertian Implementasi Kebijakan ... 85

3.2 Pendekatan Implementasi Kebijakan ... 93

3.3 Penilaian Kebijakan ... 100

BAGIAN 4 IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PUBLIK ... 102

4.1 Implementasi Kebijakan ... 102

4.2 Implementasi Kebijakan Dalam Kebijakan Publik... 104

4.3 Keberhasilan Implementasi Kebijakan Publik ... 107

BAGIAN 5 IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PERSPEKTIF ADMINISTRASI PUBLIK... 114

5.1 Paradigma Administrasi Publik ... 114

5.2 Konsep Pelayanan Publik ... 131

5.3 Kepemimpinan Birokrasi ... 148

(10)

Jabbra, JG. And Dwivedi, OP. 1989. Public Accountability. Connectiont Kumarian Press, Inc

Jones, C. O. 2004. Pengantar kebijakan Publik (terjemahan). Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Jones, C. O. 1984. An Introduction to the Study of Public Policy. Third Edition. California: Wadsworth, Inc. ---, 1994. Pengantar Kebijakan Publik (Public Policy).

Terjemahan Ricky Istanto. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.

John M. Pfiffner & Frank P. Sherwood. 1960. Administration Organization. New Jersey: Prentice-Hall, Inc., Englewood Cliffs.

Kasim, Azhar. 2001. “Perubahan Pendekatan Ilmu Administrasi Publik dan Implikasinya Terhadap Studi Kebijakan”, Jurnal Bisnis & Birokrasi, September, 2001.

Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. 63 Tahun 2003 tentang Pelayanan Publik.

Keputusan Menteri pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63 Tahun 2003 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan.

Keban Yeremias T. 2004. Enam Dimensi Strategi Administrasi Publik; Konsep, Teori dan Isu (Edisi Pertama). Yogyakarta: Gava Media.

Keban, Yeremias T. 2008. Enam Dimensi Strategis Administrasi Publik. Edisi Kedua Cetakan Pertama. Yogyakarta: Gava Media.

Kingley, G. Thomas. 1996. Perspective on Devolution, APA Journal, Auttumn.

Komorotomo, Wahyudi. 1999. Etika Administrasi Negara, Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Lane, Jan Erick. 1995. The Public Sector. Concept, Models and Approaches. London: Sage Publications.

Lineberry, Robert L. 1978. American Public Policy. New York: North Western University Harper & Row, Publiser. Luthans, Fred. 2006. Perilaku Organisasi, Edisi Sepuluh,

(11)

Grindle, Merilee S and Thomes, John W. 19991. Public Choices and Policy Change: Political Economy of Review in Developing Courntries Baltimore and London: The John Hopkins University Press.

Grindle. 1972. Pelaksanaan Kebijakan Publik. Jakarta: Bumi Aksara.

Harold D. Laswell, Abraham Kaplan. 1970. Power and Society. New Haven: Yale University Press.

Henry, Nicholas. 1989. Public Administration and Public Affairs, fouth edition, Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey.

Hill Horn, C. & Michael. 1993. The Policy Process in the Modern Capitalist State. New York: Harvester Wheatsheap.

Hill, M. (ed.). 1997. The Policy Process : A Reader. London: Harwester Wheatsheap.

Hogwood, B.W. & Lewis A. Gunn. 1984. Policy Analysis for TheReal World. New York: Oxford University Press. Hogwood, Brian W., and Lewis A. Gunn. 1986. Policy Analysis

for the Real World. Oxford: Basil Black Well.

Hogwood, Brian W., and Gunn, Lewis A. 1986. Policy Analysis For the Real World. Oxford University Press.

Howlet, Michael and Rames, M. 1995. Studying Public Policy : Policy Cycles and Policy Subsystems. Oxford University Press, Toronto, Cahapter 1.

Howlett, Michael and M. Ramesh. 1995. Stuying Public Policy: Policy Cycles and Policy Subsystem. Oxford University Press. Toronto-Newyork-Oxford.

Hogwood, B. W., and Gunn, L. A. 2004. Policy Analysis for The Real World. New York: Oxford University Press. Islamy, M. Irfan. 2000. Prinsip-Prinsip Perumusan

Kebijaksanaan Negara. Jakarta: Bumi Aksara.

---, 2001. Prinsip-prinsip Kebijakan Negara. Jakarta: Bumi Aksara.

---, 2003. Prinsip prinsip Perumusan Kebijakan Negara. Jakarta: Bumi Aksara.

BAGIAN 1 KONSEP KEBIJAKAN PUBLIK

1.1Konsep “Kebijakan” Dan “Publik”

Mengawali diskusi kebijakan publik seharusnya mempertimbangkan apa makna ide mengenai publik untuk menjelaskan perkembangan konsepnya dalam teori dan praktik. Hal ini merupakan masalah yang penting dalam melihat fakta berubahnya secara serius ide publik yang terjadi pada tahun-tahun belakangan ini di negara Anglo Saxon di manapun.

Dalam hal ini marilah kita mulai dengan istilah-istilah yang umum digunakan :

 Kepentingan publik;  Pesanan publik;  Sektor publik;  Barang publik;  Akuntabilitas publik;  Akuntabilitas publik;  Transportasi publik;  Terminal Publik;  Opini publik;  Hukum publik;  Kesehatan publik;  Pendidikan publik;

 Penyiraman pelayanan publik;  Toilet publik;

 Akuntabilitas publik..

Dapat kita menyatakan bahwa ‘kebijakan publik’ harus bekerja dalam bidang tersebut yang dirancang sebagai ‘publik’, sebagai lawan dari ide mengenai ‘privat’. Ide mengenai kebijakan publik mensyaratkan adanya bidang atau ranah kehidupan yang bukan privat atau individual murni, melainkan umum. Publik berdiri atas dimensi aktivitas manusia yang dipandang membutuhkan perintah dan regulasi atau intervensi sosial, atau paling tidak tindakan umum.

(12)

setiap mahasiswa politik modern pertanyaan ini amat akrab, tetapi hubungan antara ‘publik dan privat’ merupakan tema yang tetap bertahan yang dapat kita lacak kembali pada awal kesadaran masyarakat sipil. Pada bagian ini kita akan memberikan kerangka secara ringkas tentang sisi utama perkembangan konsep-konsep ini pada masyarakat Barat dan berupaya dengan sungguh-sungguh memperlihatkan bagaimana pengetahuan mengenai sejarah ide-ide yang melatar belakanginya bagi mahasiswa kebijakan publik pada akhir abad ke-20. Sebagaimana akan kita lihat nanti, terdapat ketegangan atau konflik antara apa yang disebut ‘publik’ dan ‘privat’, dan itu penting untuk mempelajari kebijakan ‘publik’ seperti yang disampaikan pada argumen dalam kontek historis yang lebih luas.

Titik awalnya adalah dari Yunani Kuno dan Romawi. Konsep-konsep mengenai publik dan privat berawal dari negara-negara romawi, mereka mendefinisikan dua dunia dalam istilah res publica dan res priva. Ide mengenai publik dan privat Yunani mungkin diekspresikan dalam istilah-istilah Koinion (secara sederhana, publik) dan Idion (kurang lebih, privat). Analisis Hannath Arendt mengenai dikotonomi publik dan privat Yunani dapat diringkaskan dalam seperangkat hal yang berlawanan berikut ini dalam Saxonhouse, (1983).

 Negara  rumah tangga  Publik  privat

 Terbuka  tertutup  Laki-laki  perempuan  Datang >< berangkat  Kebebasan  kepentingan  Persamaan  ketidaksamaan  Keabadian  kematian

Sebagaimana ditulis Saxonhouse, hal ini merupakan suatu karakteristik lingkup atau garis demarkasi antara dua dunia yang selalu disederhanakan. Dalam teori dan praktik, yang “tragis” antara dua bidang. Sesungguhnya, Saxonhouse menyatakan bahwa tidak ada konsepsi tunggal relasi antara dua, dan suatu studi literatur dari Yunani Kuno menyatakan bahwa

Denhardt, Robert B. dan Janet V. Denhardt. 2000. “The New Public Service: Service Rather than Steering”. Public Administration Review 60 (6).

Denhardt, Robert B. dan Janet V. Denhardt. 2003. “The New Public Service: An Approach to Reform”. International Review of Public Administration 8 (1). Dunn, William, N. 2000. Pengantar Analisis Kebijakan Publik

Edisi Kedua. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. ---, 2003. Pengantar Analisis Kebijakan Publik Edisi

kedua. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. ---, 2003. Analisis Kebijakan Publik. Yogyakarta: PT

Hanindita Graya Widya.

Edward III, George. C. 1980. Implementation Public Policy, Congressional Quarterly Press, Washington DC. USA: New Jersey.

Edward III, George C (edited). 1984. Public Policy Implementing. London-England: Jai Press Inc.

Frederickson, H. George. 1984. Administrasi Negara Baru. Terjemahan Al-Ghozi Usman. Jakarta: LP3ES.

---, 1997. The Spirit of Public Administration. San Francisco: Jossey – Bass Publishers.

Giddens, Anthony . 1986. Capitalism and Social Modern Theory : An Analysis of Writing of Mark, Durkheim and Max Weber, atau Kapitalisme dan Teori Sosial Klasik dan Modern : Suatu Karya Tulis Marx, Durkheim dan Max Weber, terjemahan Soeheba K., Jakarta : UI Press.

Grindle, Merilee S. 1980. Political Theory and Policy Implementation in the Third World, NJ. Princeton University Press.

Grindle, M. S. & John W. Thomas. 1980. Public Choices and Policy Change: The Political Economy of Reform in Developing Countries. London: John Hopkins University Press.

(13)

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Syukur. 1991. Budya Birokrasi di Indonesia, dalam Alfian dan Nazaruddin Syamsudin (eds), Profil Budaya Politik Indonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafitti. Abdul Wahab, Sholichin. 2005. Analisis Kebijakan dari

Formulasi ke Implementasi Kebijakan Negara. Jakarta: Bumi Aksara.

---, 1997. Evaluasi Kebijakan public. IKIP Malang: penerbit FIA Unibraw.

Anderson, James E. 1969. Public Policy Making. 2nd Edition. New York: Holt, Rinehart and Winston.

---,2010. Public Policy Making. Chicago: Holt, Rinehart and Winston.

---,1978. Public Policy Making. Chicago: Holt, Rinehart and Winston.

---, 1979. Public Policy Making. NewYork: Holt, Rinehart and Winston. Chapetr 1, 2, 3.

---,1975. Public policy making. Great Britain: Thomas Nelson and sons Ltd.

Agustino, Leo. 2006. Politik dan Kebijakan Publik. Bandung: AIPI

---, 2008. Dasar-Dasar Kebijakan Publik. Bandung: Alfabeta.

Bardach, Eugene. 1977. The Implementation Game. Cambridge: MIT Press.

Bridgman, J. & Davis G, 2000, Australian Policy Handbook, Allen & Unwin, NSW

Buse, K., Mays. N., Walt, G. 2005. Making Health Policy. Maidenhead: Open University Press.

Denhardt, RB. 1991. Public Administration, An Action Orientation, California : Pacific Grove, Brooks/Cole Publishing Company.

Denhardt, Janet V. dan Robert B. Denhardt. 2003. The New Public Service: Serving, not Steering. Armonk, New York: M.E Sharpe.

paling tidak ada tujuh konseptualisasi permasalahan yang benar-benar berbeda yang dapat dilihat antara konflik permintaan publik dan privat. Hal tersebut terdapat dalam karya Aristoteles yang ditemukan paling awal dalam upaya menemukan beberapa macam pemecahan konflik antara publik dan privat pada ide mengenai ‘polis’ sebagai bentuk tertinggi dari perkumpulan manusia.

Pencarian terhadap beberapa rencana dengan jalan mana persoalan antara publik dan privat ini dapat dipecahkan atau dilakukan mediasi yang telah menggemakan sejarah pemikiran politik dimasa sekarang. Pada abad ke-19 pemecahan masalah antara bidang publik dan privat ditemukan formulasinya yang paling kuat dari ide para ahli ekonom politik. Itulah formulasi ‘masalah’ tentang relasi antara bidang publik dan privat yang terus mendominasi argumentasi konteporer tentang peranan kebijakan ‘publik’.

Para ahli ekonomi politik, kita mengatasi ketegangan antara publik dan privat seperti dalam istilah ‘kepentingan’ adalah didalam penyebaran, ide mereka mengenai pasar. Seperti yang diungkapkan Habermas pada awal abad ke-19, ‘bidang publik’ berkembang di Inggris di luar garis perbatasan yang jelas antara kekuasaan publik dan lingkungan ‘privat’. Melalui tekanan pasar maksimisasi kepentingan individual dapat menjadi promosi yang terbaik ‘kepentingan publik’.

(14)

Peraturan merupakan hasil yang bersifat spontan dan esensial dari pilihan-pilihan privat. Intervensi publik yang pertama dikehendaki sehingga mengamankan kerangka kerja hukum, hal dan peraturan, daripada melakukan campur tangan dengan keseimbangan alamiah yang merupakan hasil dari kepentingan diri. Dalam kepentingan privat merupakan bagian dari kepentingan publik. Pernyataan inti dari pandangan ini dapat ditemukan di dalam tulisan Adam Smith Wealth of Nations (1976) dan James Mill, Torrens, Mc Culloch dan orang-orang yang mempopulerkannya Parsons, (1989).

Penjelasan mengenai publik sebagai ruang yang esensial yang tidak melibatkan campur tangan dalam aktivitas ekonomi dan bisnis dan dalam mana terdapat batas yang didefinisikan dengan baik antara bidang publik dan privat ini adalah berlawanan dengan tradisi Eropa kontinental yang menyatakan publik mencakup bisnis dan perdagangan dan kehidupan ‘privat’ yang jauh lebih luas daripada yang berkembang di Amerika Serikat dan Inggris. Ide liberal dari suatu perbedaan yang jelas antara publik dan privat mulai sejak akhir abad ke-19 hingga kini. Penetrasi kebijakan publik masuk ke dalam apa yang oleh para ekonomi politik dinyatakan bahwa privat mengambil tempat dihampir semua medan dalam ‘kehidupan sosial’. Pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, perumahan, perencanaan kota, semua merupakan hal yang menjadi subyek regulasi dan/atau campur tangan negara Heidenheimer et. Al, (1990). Proses kolektivisasi ini dalam bidang publik mengambil tempat pada waktu yang berbeda diberbagai negara industri, tetapi selalu demi alasan berbagai persoalan tertentu dan tidak lagi dilihat sebagai ‘privat’ murni.

Pertengahan abad ke-19, J.S. Mill telah memberikan kriteria inti untuk pergeseran perbatasan, yaitu ‘jahat dan rusak’. Privat merupakan bidang yang tidak jahat atau merusak terhadap lainnya Mill, (1968). Masalahnya adalah, bahwa penjelasan mengenai ‘jahat’ telah berubah dan meluas seiring makin bertambahnya informasi mengenai masalah-masalah sosial dan lainnya yang memperkuat perhatian terhadap tanggung jawab publik dari tindakan-tindakan privat dan

Jika kepemimpinan birokrasi pemerintahan dilakukan dengan merujuk kepada pengertian ideal tentang kepemimpinan, maka hubungan antara pemerintah dengan rakyat dapat berjalan dengan baik, karena didalamnya tidak ada perilaku kursif/miring dari aparat pemerintah. Paul Hersey dan Kenneth Blanchard (dalam Myers & Myers,1998), intinya menyatakan bahwa, pemimpin yang berhasil adalah mereka yang selain memiliki kemampuan peribadi tertentu, juga mampu membaca keadaan anak buah dan lingkungannya. Model ini bertitik tolak dari pendekatan situasional yang berpedoman pada tidak ada gaya kepemimpinan yang selalu efektif untuk diterapkan dalam setiap situasi, gaya kepemimpinan akan efektif jika disesuaikan dengan tingkat kematangan atau kemampuan anak buah.

Dalam perspektif organisasional yang menekankan aspek sosial, kepemimpinan birokrasi berlindung dibalik peraturan dan tidak menempatkan rakyat dalam kesetaraan. Mengutip pendapat William J. Reddin, dari The 3-D Management Style Theory, “gaya kepemimpinan birokrasi pada umumnya memiliki orientasi tugas ringan, hubungan lemah, menaruh perhatian pada aturan ataupun prosedur demi kepentingan mereka sendiri, dan karena ingin menjaga serta mengawasi situasi dengan menggunanakan aturan serta prosedur, mereka sering terlihat amat berhati – hati”. Jika model kepemimpinan birokrasi, dalam konotasi negatif tersebut dipertahankan, alangkah mengkhawatirkannya bagi upaya memperbaiki kinerja pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada publik lebih baik.

(15)

Menurut Winarno (2007) Meter dan Horn mengidentifikasi enam variabel yang harus dimiliki organisasi pelaksana. Variabel-variabel tersebut harus dicermati dalam rangka evaluasi. Keenam variabel itu secara garis besarnya adalah: 1) Kompetensi dan jumlah staf. 2) Rentang dan derajat pengendalian. 3) Dukungan politik yang dimiliki . 4) Kekuatan organisasi . 5) Derajat komunikasi dan kebebasan komunikasi. 6) Keterkaitan dengan kebijakan.

5.3 Kepemimpinan Birokrasi

Upaya meningkatkan pelayanan kepada publik dan menciptakan kekuatan masyarakat madani, diperlukan kepemimpinan birokrasi yang mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan seluruh lapisan masyarakat. Kepemimpinan dalam perspektif komunikasi adalah suatu kegiatan komunikasi untuk mempengaruhi orang-orang supaya dapat bekerjasama dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Sejalan dengan itu, Haiman (dalam Bass, 1974) menyatakan, “kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi dalam proses interaksi melalui pembicaran ataupun melalui perilaku orang lain”.

Menurut Keith Davis (1972), “ kepimimpinan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi orang lain melalui komunikasi dan aktivitas lainnya secara bersemangat dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan”. Senada dengan Rogers dan Svenning (1969), menegaskan, “kepemimpinan merupakan kemampuan bertindak dan berkomunikasi untuk mempengaruhi orang lain sesuai dengan jalan yang diinginkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan”.

Esensinya, unsur-unsur yang menonjol dalam kepemimpinan adalah, kemampuan berkomunikasi untuk mempengaruhi seseorang atau kelompok dengan cara yang tidak memaksakan kehendak. Tetapi kegiatan mempengaruhi sebagai satu hal yang tidak mudah dilakukan, karena berbagai macam kendala yang dipunyai pemimpin maupun pengikut. Sehingga pada pemimpin dalam lembaga pemerintah seringkali menggunakan aspek kekuasaan legal formal untuk memaksa agar masyarakat mengikuti apa kemauannya.

mendukung pendapat mengenai perlunya dilakukan reformasi. Utilitarianisme dari Mill dan Bentham juga memberikan ujian penting lainnya bagi penentuan kebijakan publik, yakni kebahagiaan terbesar untuk jumlah terbesar.

Menjelang awal abad ke-20, konsepsi liberal mengenai ‘publik’ dan ‘privat’ telah mengalami perubahan yang amat besar. ‘liberalisme baru’ seperti yang diungkapkan oleh Dewey di Amerika, dan Hobhouse dan Keynes di Inggris melemparkan pokok perbandingan tentang ide bahwa pasar dapat diberlakukan didalam kepentingan ‘publik’ dan ‘privat’ atau membiarkannya menjadi aturan yang spontan. Menurut Dewey maupun Keynes hal tersebut merupakan pengetahuan menurut istilah Dewey, intelegensi yang pengorganisasi kini dapat memberikan alat untuk menyeimbangkan dan menyempurnakan bidang dan kepentingan publik dan privat, yaitu laissez faire yang telah mendapatkan tempat tersendiri. Dari titik tumpu liberalisme baru ini, bentuk governance yang dapat diketahui lagi adalah kunci dalam memecahkan konflik antara tuntutan publik dan privat. Tentu saja ini bukan ide baru Plato telah sejak lama juga memberikan kesimpulan bahwa para filosof mencetak raja terbaik.

Hal ini dalam konteks ‘liberalisme baru’ seperti yang disampaikan oleh Dewey dan perjanjian Baru Roosevelt dan administrasi dan reformasi zaman perang, bahwa ‘kebijakan publik’ telah berkembang. Seperti halnya yang dicatat Lasswell, ilmu-ilmu kebijakan seperti yang berkembang setelah perang dunia ke dua merupakan ‘suatu adaptasi dari pendekatan umum untuk kebijakan publik yang merupakan saran dari Dewey dan kolega-koleganya’ Lasswell, (1971).

(16)

lebih banyak menggunakan pengetahuan daripada dilakukan di masa lalu.

Liberalisme ‘lama’ tidak berarti mati, tetapi masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan sampai 1970-an. Tuntutan, bahwa governance yang banyak diketahui dapat ‘mengatasi’ atau melakukan mediasi hubungan antara kepentingan publik dengan kepentingan privat dengan lebih baik mulai mendapat tanggapan yang kurang baik di era stagfalasi. ‘Keynesian’ memberikan inspirasi kepada menejemen ekonomi dan reformasi kesejahteraan yang liberal tampaknya justru lebih banyak menciptakan masalah daripada memecahkannya. Dalam hal ini konsep invisible hand dari Adam Smith kembali menunjukkan kekuatannya.

Pendekar-pendekar dari ‘kanan baru (sic)’ adalah Hayek dan Friedman. Mereka menyatakan, bahwa usaha menggunakan kebijakan publik untuk mempromosikan ‘kepentingan publik’ ini agar pengaruhnya kuat kurang sempurna. Seperti dinyatakan para ahli ekonomi politik abad ke-19, kepentingan publik yang hanya dapat disempuranakan melalui pemberian keleluasaan kepentingan privat. Jawaban dari para anggota kelompok ‘kanan baru’ adalah mengontrakkan ‘sektor publik’ dan memperluas penggunaan mekanisme pasar untuk memberikan jaminan lebih kuat bahwa sektor publik akan berfungsi kalau pasar, ‘sektor privat’, prinsip-prinsip ‘manajemen’ juga berfungsi baik. Salah satu konsekuensi berkembangnya negara sebagai alat rujuk antara kepentingan publik dan kepetingan privat adalah berkembangnya birokrasi sebagai bentuk organisasi yang lebih rasional Weber, (1991). ‘Administrasi Publik’ yang melalui sekelompok pelayanan masyarakat mengemban tugas yang dikehendaki masyarakat pemilih.

Karena itu, birokrasi publik berbeda dengan yang ada di sektor privat (bisnis, perdagangan dan industri) karena ia lebih banyak dimotivasi oleh kepentingan nasional dibandingkan sektor privat. Bagi para ahli ekonomi, politik (dan kanan baru) hanya pasar yang dapat memberikan keseimbangan antara kepentingan privat dan kepentingan publik, 'liberalisme baru’ didasarkan pada suatu kepercayaan bahwa Administrasi Publik

oleh pengalaman, pendidikan, kelas sosial, usia, dan tempat tinggal (asal desa/perkotaan).

Kinerja Layanan benar-benar membutuhkan waktu. Kehilangan pelanggan tidak hanya menunjukkan ketidak mampuan untuk memenuhi harapan tetapi juga menunjukkan kinerja yang tidak memenuhi standar. Mengacu pada kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara, standar pelayanan publik organisasi penyelenggara pelayanan publik sekurang-kurangnya meliputi:

1. Prosedur Pelayanan yang dibakukan bagi pemberi dan

penerima pelayanan termasuk pengaduan.

2. Waktu Penyelesaian yang ditetapkan sejak saat pengajuan

permohonan sampai dengan penyelesaian pelayanan termasuk pengaduan.

3. Biaya pelayanan atau tarif termasuk rinciannya yang

ditetapkan dalam proses pemberian pelayanan.

4. Produk Layanan, yaitu hasil pelayanan yang akan diterima

sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

5. Sarana dan Prasarana, yaitu penyediaan sarana dan prasarana

pendukung pelayanan yang memadai oleh penyelenggara pelayanan publik

6. Kompetensi Petugas Pemberi Pelayanan yang harus

ditetapkan dengan tepat berdasarkan pengetahuan, keahlian, keterampilan, sikap, dan perilaku yang dibutuhkan.

(17)

seperti yang dirasakan pelanggan. Ada kepedulian dengan penuh perhatian secara individual terhadap pelanggan. Hubungan antar manusia (personal relation) berkaitan dengan interaksi antara petugas pelayanan merupakan dimensi penting. Hubungan antar manusia yang baik adalah menanamkan kepercayaan dan kredibilitas dengan cara menghargai, menjaga rahasia, menghormati hak dan memberikan cukup perhatian serta mendengarkan keluhan dan berkomunikasi secara efektif juga penting.

Berdasarkan dimensi-dimensi kualitas pelayanan yang telah diuraikan di atas akan digunakan untuk menilai apakah kualitas jasa pelayanan yang disediakan provider (penyedia) telah memenuhi sifat-sifat pelayanan yang berkualitas atau sesuai dengan harapan pelanggan. Hal ini berarti bahwa pelangganlah yang memberikan penilaian menyeluruh atas keunggulan jasa yang disediakan pemerintah. Sebagaimana dikemukakan Jasfar (2005) mengatakan bahwa "citra kualitas yang baik bukanlah berdasarkan sudut pandang atau persepsi pihak penyedia jasa, melainkan berdasarkan sudut pandang atau persepsi konsumen. Konsumenlah yang berhak menilai, karena mereka yang menikmati layanan". Hal senada juga diungkapkan Lovelock.at.al. (2005) mengatakan bahwa: Setelah pelanggan membeli atau menggunakan jasa layanan, maka pelangganlah yang membandingkan kualitas yang diharapkan dengan apa yang benar-benar mereka terima. Pelanggan akan senang apabila pelayanan yang diterima di atas tingkat yang mereka inginkan. Jika pelayanan yang diterima dalam batas toleransi, pelanggan menilai jasa yang diterima memadai. Apabila pelayanan yang diterima berada dibawah batas toleransi pelanggan tidak puas atau tidak sesuai dengan harapannya.

Dengan demikian agar harapan pelanggan senang terhadap layanan yang diterima, maka dimensi-dimensi di atas selalu diperbaiki oleh penyedia layanan jasa agar sesuai dengan harapan klien. Lovelock. at.al. (2005) mengatakan bahwa "harapan adalah standar internal yang digunakan pelanggan untuk menilai kualitas suatu pengalaman jasa". Harapan pelanggan terhadap jasa yang diterima umumnya dipengaruhi

merupakan alat yang lebih rasional untuk mempromosikan kepentingan publik.

Beberapa Ciri utama Birokrasi:

1. Adanya pembagian kerja yang jelas: Setiap tugas yang dilaksanakan oleh pekerja secara formal di buat dan dikenal sebagai tugas pokok (Milikmu dan bukan milik orang lain): Spesialisasi

2. Adanya hirarki Posisi: setiap posisi bawahan di kontrol dan di awasi oleh atasan. Rantai Perintah

3. Aturan Formal dan Regulasi: mengatur perilaku pekerja secara samarata. Menjamin kelangsungan dan stabilitas lingkungan kerja. Mengurangi ketidak pastian dari Performance kerja.

4. Hubungan yang Impersonal: Para manejer tidak berkepentingan urusan personal karyawan. Tidak ada ikatan emotional antara atasan dan bawahan. Menjamin kejelasan posisi.

5. Sepenuhnya memperkerjakan karyawan berdasar kompetensi tehnikal: kamu memperoleh kerjaan karena memang kau bisa mengerjakan pekerjaan itu, bukan karena orang yang kau tahu. Kriteria seleksi ketat. Tak ada pengangkatan dan pemberhentian secara suka-suka.

Dalam analisis Weber, organisasi “tipe ideal” yang dapat menjamin efisiensi yang tinggi harus mendasarkan pada otoritas legal-rasional. Karakteristik birokrasi tipe ideal sebagaimana dimaksud Weber adalah meliputi:

1. Adanya pembagian kerja yang jelas. 2. Adanya hierarki jabatan.

3. Adanya pengaturan sistem yang konsisten. 4. Prinsip formalistic impersonality.

5. Penempatan berdasarkan karier.

(18)

menurut Weber (dalam Giddens, 1986), secara substantif mencakup : (a) Spesialisasi yang memungkinkan produktivitas, (b) Struktur yang memberikan bentuk pada organisasi (c) Predictability (keadaan yang dapat diramalkan) dan stabilitas yang dapat dikerjakan (d) Rasionalitas yang dapat diuji dan diunggulkan dalam tindakan menciptakan sinergi untuk memaksimalkan keuntungan.

Kendati birokrasi memiliki keunggulan dalam menjalankan roda organisasi, tetapi tidak bebas dari kelemahan yang faktual. Kritik Warren Bennis (dalam Myers and Myers, 1988) terhadap birokrasi, pada intinya adalah, walaupun birokrasi selalu dikaitkan dengan keteraturan dalam penyelenggaraan organisasi, tetapi tidak sepenuhnya bisa membuat efektivitas birokrasi. Beberapa faktor yang menghambat, antara lain, birokrasi tidak cukup memberikan peluang untuk pertumbuhan pribadi dan pengembangan kepribadian yang matang karena terlalu banyak prosedur dan kekakuan struktur. Lebih banyak mengembangkan kompromi (conformity) dan pemikiran kelompok dengan berbagai macam keharusan yang sulit untuk dilakukan.

Dalam dinamika perubahan, birokrasi seringkali tidak mampu memperhitungkan organisasi informal dan masalah yang timbul tidak terduga dalam pelaksanaan kegiatan. Dengan kata lain, birokrasi bersifat sangat konvensional tidak mampu mengantisipasi perubahan. Karena itu, pola komunikasi dalam institusi pemerintah yang bersifat top – down, juga tetap berjalan tanpa hambatan berarti.

Birokrasi juga sering dikaitkan dengan, sistem pengawasan dan wewenangnya sangat ketinggalan jaman. Ini dapat terjadi karena pola penyimpangan berjalan sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi, di lain pihak birokrasi menetapkan prosedur pengawasan selalu membutuhkan waktu yang sangat panjang. Selain itu menurut Bennis (Myers dan Myers, 1988), birokrasi tidak mempunyai proses peradilan, dalam arti birokrasi hanya mampu memberikan sanksi administratif terhadap penyimpangan dan penyalahgunaan kekuasaan, tidak memiliki alat – alat yang cukup untuk menyelesaikan perbedaan – perbedaan dan konflik – konflik antara berbagai tingkatan (rank). Pola penyelesaian yang merujuk pada pedoman sentral yang seragam sering tidak mampu untuk menyelesaikan konflik dengan baik.

dari pemerintah, pelayanan yang disediakan pemerintah membuat masyarakat merasa aman dan tidak was-was atau ragu-ragu ketika mereka menerima layanan tersebut. Dengan adanya layanan yang diterima masyarakat akan merasa dirinya terlindungi dalam melaksanakan aktivitasnya. Karena itu, petugas memberikan pelayanan harus berpengetahuan luas, terlatih, terpercaya sehingga tidak ada keragu-raguan timbulnya kesalahan dalam pemberian layanan. Petugas pelayanan tentu harus memiliki pengetahuan atau wawasan dalam memberi layanan agar dapat menimbulkan keyakinan pengguna jasa pelayanan. Adanya kepastian keamanan seperti kepastian petugas, kepastian/kejelasan informasi pelayanan dan kepastian/ketepatan waktu pelayanan, akan dapat meningkatkan kualitas pelayanan. Petugas pemberi layanan yang kompeten sehingga pelanggan akan terhindar dan calo, dan petugas layanan yang memiliki indentitas sebagai petugas pelayanan, akan membuat pelanggan lebih percaya diri.

(19)

kualitas jasa, kehandalan telah terbukti terus-menerus menjadi faktor yang terpenting dalam penilaian kualitas jasa oleh pelanggan, karena jasa yang tidak dapat diandalkan adalah jasa yang buruk walaupun ada atribut lainnya. Jika jasa tidak dikerjakan dengan handal, pelanggan akan menganggap penyedia jasa tidak kompeten dan akan berpindah ke penyedia jasa lain.

3. Responsiveness adalah kesanggupan untuk membantu dengan keihkhlasan memberikan layanan atau memiliki kepekaan yang tinggi terhadap konsumen yang diikuti dengan bertindak yang tepat sesuai dengan kebutuhan. Responsiveness juga adanya keinginan para petugas pemberi layanan bahwa mereka senang untuk membantu dan mampu memberikan jasa yang cepat kepada para konsumennya. Petugas front terdepan yang cepat memberikan pelayanan akan membuat masyarakat merasa senang. Pelayanan yang kurang efektif atau pelayanan yang salah urus (berbelit-belit) harus dikurangi dan segera dihilangkan. Dengan keikhlasan memberikan layanan yang mudah dan diikuti dengan petugas pelayanan yang bertindak tepat dan cepat akan dapat meningkatkan kualitas pelayanan. Dimensi responsiveness merupakan hal yang sangat penting karena akan mempengaruhi hasil pelayanan, terutama sumber daya petugas pelayanan yang paling terdepan/dekat kepada masyarakat. Pelayanan yang berbelit-belit dan sulit dihadapi masyarakat membuat mereka tidak puas. Pelayanan yang kurang baik, disamping menyebabkan risiko yang tidak perlu terjadi dan kurang nyamannya masyarakat, serta melelahkan tentu saja akan membuat masyarakat kecewa.

4. Assurance, yaitu kemampuan dalam memberikan jaminan keamanan dalam mendapatkan pelayanan sehingga tidak ada keragu-raguan timbulnya kesalahan dalam pemberian layanan. Bahwa petugas pemberi layanan adalah orang yang kompeten, dapat dipercaya, dan memiliki identitas sebagai petugas pelayanan, dan sebagai petugas memiliki kemampuan untuk menjaga kepercayaan dan kerahasiaan. Adanya rasa keamanan ketika masyarakat menerima layanan

Kelemahan lain dalam birokrasi adalah, sumber daya manusia tidak dimanfaatkan sepenuhnya karena kecurigaan, ketakutan akan pembalasan, tersaing dsb; yang disokong adalah perilaku cari selamat. Selain itu, aspek faktual dalam penggunaan teknologi, birokrasi tidak dapat membaurkan teknologi baru, dalam konteks ini bisa teknologi komunikasi, dengan pekerjaan yang dihadapi. Kalaupun mengadopsi teknologi, diperlukan perundingan yang sangat berteletele dan persetujuan tetap didasarkan pada struktur organiasasi, tanpa menghiraukan kebutuhan yang mendesak.

Birokrasi sebagai organisasi dengan ciri-ciri khusus, menjadi pusat perhatian para ahli berbagai disiplin ilmu sosial karena jasa Max Weber. Dalam karyanya The Theory of Economy and Social Organization, Weber mengemukakan konsepnya tentang the ideal type of bureaucracy dengan merumuskan ciri-ciri pokok organisasi birokrasi yang lebih sesuai dengan masyarakat modern.

Pembagian negara ke dalam suatu dunia politik dan suatu dunia ‘rasional’ atau birokrasi sejalan dengan pemilahan bidang publik dan bidang privat. Seperti halnya pembagian publik dan privat yang mulai makin tak jelas, negara menyandarkan diri pada keabsahan berdasarkan kapasitasnya untuk memperbaiki tumbuhnya persoalan yang disebut ‘publik’. Dalam periode ini sekitar 1950-an sampai 1970-an kebijakan publik benar-benar mulai berkembang, dan Administrasi Publik mulai bergerak menurun pada tahun 1980-an.

Pusat dari perubahan ini adalah penjelasan yang rasional. Weber telah menunjukkan bahwa tumbuhnya birokrasi berkaitan dengan proses ‘rasionalisasi’ yang berlangsung di masyarakat industri. Birokrat merupakan suatu fungsi rasional yang melayani kepentingan publik. Argumen kepentingan publik yang rasional itu mulai muncul dari akhir 1940-an hingga sesudahnya. Argumen itu disebabkan oleh 3 (tiga) alasan:

(20)

ukuran ‘ketidak rasionalan’ yang besar atau paling tidak rasionalitas yang ‘terbatas’ Simon, (1945); Lindblom, (1959);

2. Studi yang dilakukan menyatakan bahwa di dalam kenyataan birokrasi tidak berfungsi dalam menangani ‘kepentingan publik’, tetapi memperlihatkan terdapat perbedaan tujuan di dalam dirinya sendiri;

3. Riset yang dilakukan untuk mencari jawaban mengenai perbedaan antara kebijakan dan administrasi Appleby, (1949).

Menjelang akhir abad 1970-an garis batas antara publik dan privat dan kebijakan dan administrasi tampak kurang didefinisikan dengan baik. Jadi suatu studi perbandingan mengenai birokrasi yang baik adalah mengamati : ‘seperempat abad terakhir dari abad ke-19 menyaksikan kehilangan sesungguhnya pembedaan oleh para pendukung Weber mengenai peranan politisi dengan birokrat yang menghasilkan apa yang mungkin dapat disebut sebagai ‘cangkokan murni’ (pure hybrid) Aberbach et al., (1981). ‘Solusi’ dari kaum liberal ‘baru’ untuk menangani hubungan antara kepentingan publik dan privat lewat negara tampaknya kurang dapat bertahan pada saat ‘kegagalan’ dari ‘kebijakan publik’ sedang terjadi di banyak tempat.

Dua ide mengenai ‘publik’ dipertanyakan : motivasi para birokrat dan profesional kepentingan ‘publik’ dalam melayani publik, dan hubungan antara bidang publik (qua state) dengan bidang privat (qua market). Tidak diragukan lagi ‘kanan baru’ (atau kaum liberal lama) yang melahirkan banyak agenda untuk perdebatan ini. Kembali pada posisi seperti yang dirancang oleh Adam Smith dan para ahli ekonomi politik dari abad ke-19, Hayek, Friedman dan lainnya menegaskan bahwa hubungan antara publik dengan privat merupakan sesuatu yang merupakan didefinisikan paling baik melalui pasar dan kebebasan memilih dari pada bekerjanya negara dalam mengelola ‘kepentingan publik’.

Selama 1980-an dan 1990-an terdapat argumen yang mendapatkan tempat yakni yang menyatakan bahwa garis batas

reliability, responsiveness, assurance, empathy. Valarie A. Zeithaml et. al.(1990) membagi kedalam lima dimensi yaitu reliability (kehandalan), responsiveness (ketanggapan), assurance (jaminan), empathy (empati) dan tangibles (bukti fisik). Sedangkan Griffin (2004) membuat 8 dimensi yaitu kinerja, fitur, keandalan, konforma, durabilitas, kemudahan servis, estetika, kualitas yang dirasakan.

Lebih jelasnya kelima dimensi-dimensi kualitas pelayanan/service quality (servqual) yang dikemukakan Parasuraman dkk (1988) yang terdiri dari indikator tangibility, reliability, responsiveness, assurance dan emphaty. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan skala Likert five point dimulai dari “sangat setuju”, “setuju”, “kurang setuju”. “tidak setuju:” dan “sangat tidak setuju”. Zeithaml, et. al. (1990) akan diuraikan lebih lanjut, yaitu:

1. Tangible , yaitu kualitas pelayanan terlihat dari faktor yang tampak dengan mata. Tampak secara fisik atau sesuatu yang kelihatan dan terbukti langsung tampak seperti tampilan kantor (fasilitas fisik) yang terlihat mulai dari lokasi gedung, tempat parkir, kenyamanan ruang pelayanan, bahan komunikasi penyedia jasa, dan penampilan petugas serta alat-alat untuk menunjang pelaksanaan pelayanan.

(21)

2. Reliability : ability to perform the promised service dependably and accurately.

3. Responsiveness : willingness to help customers and provide prompt service.

4. Assurance : knowledge and courtesy of employees and their ability to convey trust and confidence.

5. Empathy : caring, individualized attention the firm provides its customer

Penyederhanaan kesepuluh dimensi menjadi lima dimensi dijelaskan dalam table 5.2 sebagai berikut :

Correspondence Between SERVQUAL Dimensions and Original Ten Dimensions for Evaluating Service Quality

Tabel 5.2 Original Ten Dimensions for

Evaluating Service

Tangibles Reliability esponsiveness Assurance Empathy

Tangibles Reliability Responsiveness Competence, Courtesy, Credibility, Security Access, Communication, Understanding the Customer

Sumber : Zeithaml, Parasuraman & Berry, (1990)

Adapun faktor-faktor yang menentukan kualitas pelayanan menurut pendapat Denhardt and Denhardt (2003) mengatakan terdapat 8 delapan faktor yang menentukan kualitas pelayanan yaitu convenience (kemudahan), security (keamanan), reliability (kehandalan), personal attention (perhatian pada orang), problem-solving (pemecahan masalah), fairness (keadilan), fiscal resposibility (tanggungjawab keuangan), citizen influence (pengaruh masyarakat). Rosenbloom (1992) membagi kedalam tiga dimensi yaitu efficiency (timeliness), competence dan fairness. Mc Kevit David (1998) menetapkan empat dimensi yaitu tangibles,

antara bidang publik dan privat seharusnya membiarkan pasar membentuk kerangka kerja di dalam teori dan praktik kebijakan publik. Pergeseran dari liberalisme ‘baru’ ke ‘kanan baru’ ini dalam kebijakan publik barangkali merupakan tinjauan paling tajam pada saat timbulnya pendekatan ‘manajemen sektor publik’ dan kematian ‘Administrasi Publik’.

Liberalisme baru dan dunia-dunia publik dan privat

Beberapa buku pokok yang memberikan latar belakang pemahaman pendekatan baru mengenai peranan negara dalam meninjau masalah-masalah publik dan kepentingan publik adalah : J.M. Keyness, The End of Laissez-faire dalam Essays in persuasion, 192, dan The General Theory of Employment, 1936; J.Dewey, The Public and Its Problems, 1927, W.H. Beveridge, Full Employment in a Free Society, 1944.

Esay Keynes pada The End of Laissez-faire mungkin merupakan ungkapan paling ringkas mengenai tinjauan negara dibekali oleh pengetahuan dan ‘kebijaksanaan’ baru mestinya memerlukan peran para intervensionis dalam masalah-masalah sosial dan ekonomi. Dalam esainya ia meneliti perkembangan liberalisme dari abad ke-17 dan sesudahnya dapat menyatakan bahwa para ekonom yang memberikan teks ilmiah pendahuluan dapat dipakai oleh para praktisi untuk menangani kontradiksi antara egoisme dan sosialisme yang muncul dari pemikiran filosofi abad ke-18 Keynes, (1926).

(22)

melakukan hal-hal yang siap dilakukan individu, melainkan mewujudkan seluruh aspek masyarakat dan aspek ekonomi yang secara teknis tidak dapat dikerjakan oleh individu.

Benih analisis kebijakan modern ditemukan dalam penjelasan bahwa masyarakat bertujuan untuk meningkatkan ‘teknik’ menjalankan pemerintahan sistem Demokrasi, sehingga ‘lebih efisien’ melalui ‘manajemen yang bijaksana’. Sedangkan Dewey (1927) menyatakan bahwa ujicoba dapat memberikan jalan penemuan teknik-teknis baru, Keynes percaya bahwa hal itu datang melalui ‘pemikiran’, atau ‘pengungkapan perasaan- perasaan kita’, suatu ‘pendayagunaan perasaan yang dalam dari diri kita dalam kaitannya dengan fakta-fakta yang ada di luar Keynes, (1926).

 Apakah perbedaan antara sektor publik dengan sektor

privat ?

Apakah terdapat garis pemisah yang jelas diantara kedua bidang itu: Menurut W.F. Baber (dikutip di Massey, 1993) menyatakan bahwa faktor publik mempunyai 10 perbedaan kunci dibandingkan sektor privat :

1. Sektor publik menghadapi tugas yang lebih kompleks dan

ambigu;

2. Ia berkecimpung dalam aktivitas dengan makna simbolis

yang lebih besar;

3. Ia mempekerjakan lebih banyak orang dengan tingkat

motivasi yang berbeda-beda;

4. Ia lebih menekankan pada pengambilalihan peran terhadap

kegagalan mekanisme pasar;

5. Ia lebih banyak menghadapi masalah dalam menerapkan

keputusan;

6. Ia lebih menekankan kepada mengamankan kesempatan

atau kapasitas;

7. Ia lebih keras dalam melaksanakan standar-standar

komitmen dan legalitas;

8. Ia harus tetap menjaga tingkat minimal dukungan publik di

atas yang dipersyaratkan di industri sektor privat;

9. Ia lebih banya mempunyai kesempatan untuk merespon

hal-hal yang berkaitan dengan kejujuran;

reliability (handal), responsiveness (tanggap), competence (kompeten), courtesy (ramah), credibility (dapat dipercaya), security (aman), access (akses), communication (komunikasi), understanding the customer (memahami pelanggan). Expected service (pelayanan yang diharapkan) dipengaruhi oleh word of mouth (kata yang diucapkan), personal needs (kebutuhan personal), pastexperience (pengalaman di masa lalu), dan external communication (komunikasi ekstemal). Untuk lebih jelasnya kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat dapat dilihat pada gambar 5.1 berikut:

Gambar 5.1

Penilaian Pelanggan (Masyarakat) Terhadap Kualitas Pelayanan

Sumber : Zeithaml, Parasuraman & Berry, (1990)

Kesepuluh dimensi kualitas pelayanan, kemudian Zeithaml, et. al, (1990) menyederhanakannya menjadi 5 (lima) dimensi yang dinyatakan dengan SERVQUAL (service quality) dimensions, yaitu:

(23)

2. Menganalisa data dan informasi dan lapangan dengan

seksama untuk memahami bagaimana keadaan masyarakat yang menjadi sasaran.

3. Merencanakan langkah-langkah secara sistematis, termasuk

menentukan tenaga dan sarana yang dianggap tepat.

4. Melaksanakan pemberian pelayanan dengan memperhatikan

etika dan norma serta budaya masyarakat.

5. Menghilangkan jarak antara aparat pemberi pelayanan

dengan individu yang diberi pelayanan.

6. Menghindarkan perilaku yang membuat segan apalagi takut

bagi pihak yang diberi pelayanan.

7. Mengintegrasikan dengan suasana kehidupan masyarakat

yang dilayani.

8. Menghormati perbedaan-perbedaan yang ada di lapangan,

baik secara kelompok maupun individual.

9. Menghargai individu yang diberi pelayanan dengan prinsip human relations.

10.Memberi kesempatan untuk bertanya atau menyampaikan

keluhan dari pihak yang diberi pelayanan, bahkau diupayakan agar mereka berani memberikan penilaian terhadap pihak yang memberikan pelayanan.

11.Melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan pelayanan untuk

perencanaan dan pemberian pelayanan yang akan datang. Dengan demikian, disadari bahwa organisasi pemerintah masa kini harus bertumpu pada misi yang didalamnya terdapat peluang untuk terus menerus memperbaiki kinerja birokrasi, supaya lebih efisien dan dapat memberi kepuasan kepada masyarakat sebagai pelanggan jasa publik. Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah memperbaiki perilaku aparat birokrasi secara umum dan terutama sekali aparat yang langsung terlibat dalam pemberian pelayanan kepada masyarakat.

Selanjutnya, Zeithaml, et al. (1990) menyatakan bahwa kualitas pelayanan ditentukan oleh dua hal yaitu expected service dan preceived service. Expected service dan perceived service ditentukan oleh dimension of service quality yang terdiri dari 10 (sepuluh) dimensi, yaitu tangibles (berwujud),

10. Ia harus melakukan pekerjaannya untuk melayani

kepentingan publik.

Pada sektor publik fokus yang berciri ‘profit’ dan sektor ‘non-profit’ seperti sekolah, universitas, organisasi sukarela, rumah sakit dan sebagainya, dinyatakan oleh Anthony dan Herzlinger bahwa garis batasnya adalah: Dalam organisasi non-profit keputusan dibuat oleh manajemen dengan maksud menghasilkan pelayanan yang mempunyai kemungkinan terbaik dengan sumber daya yang tersedia; dan keberhasilan diukur terutama oleh bagaimana organisasi menyediakan pelayanan dan seberapa baik pelayanan diberikan Anthony dan Herzlinger, (1980). Sektor non-profit diukur lebih banyak dengan kriteria kesejahteraan sosial dari pada keunguntan keuangan. Penulis menyatakan bahwa sektor non-profit mungkin ditandai dengan ciri-ciri :

1. Tidak adanya suatu ukuran keuntungan;

2. Ketergantungan yang lebih besar kepada para klien dalam

sumber daya keuangan;

3. Akuntabilitas organisasi sektor publik ditujukan kepada para

pemilih dan proses politik;

4. Dominasi yang lebih besar oleh para profesional; 5. Kecenderungan menjadi organisasi pelayanan;

6. Hambatan-hambatan yang lebih besar dalam

mengembangkan tujuan dan strategi;

7. Akuntabilitas mereka yang membedakannya dengan

organisasi privat/profit;

8. Top manajemen tidak mempunyai tanggung jawab atau

menerima ganjaran keuangan yang sama;

9. Kurangnya tradisi pengawasan manajemen.

Apakah Sesungguhnya Sektor Publik Itu ?

(24)

Barang publik adalah suatu ‘barang’ atau pelayaann yang tersedia untuk semua. Samuelson (1954) menyatakan bahwa ciri utama barang publik adalah tak dapat dibagi, yaitu mereka ada untuk semua, dan tidak dapat dimiliki, tidak seperti barang privat yang ditentukan secara eksklusif. Barang publik dibayar dengan pajak peminjaman, dan harganya dicerminkan dengan tingkat pajak yang dipersyaratkan dari biaya finansial produksinya. Barang privat dibayar melalui sistem harga yang berlaku pasar.

Dalam istilah yang lebih luas dapat dikatakan bahwa pilihan-pilihan publik berjalan dengan sungguh-sungguh melibatkan keputusan tentang ‘barang publik’ atau ‘barang privat’. Contohnya, di beberapa negara kebijakan kesehatan diambil dalam suatu bidang publik secara luas, dimana perawatan tersedia untuk semua warga negara; dan di negara lainnya hal itu didominasi oleh pihak privat dan asuransi kesehatan perseorangan. Di beberapa negara transportasi publik subsidi besar sekali; di tempat lainnya subsidi praktis tidak ada, atau pengguna harus membayar mahal untuk membeli tiketnya. Sehingga, dikotomi barang publik/privat tertanggung pada beberapa kegunaannya dalam menjawab pertanyaan apakah sektor publik itu.

Tetapi apa yang disebut barang publik telah menjadi bahan perdebatan (sejak 1960-an) di antara para ekonom. Buchanan (1968), contohnya, menanyakan kemurnian barang publik sebagaimana dikemukakan oleh Samuelson pada 1954, dan menyarankan bahwa terdapat banyak barang yang tidak dapat dikelompokkan. Beberapa barang publik mempunyai keuntungan ‘dapat dimiliki’. Buchanan menyatakan bahwa ‘clubs’ mungkin ada yang melarang masuh anggota publik melalui suatu mekanisme yang melarang masuh anggota publik melalui suatu mekanisme seperti toll atau biaya masuk untuk menjadi anggota. Teori Club lahir sebagai aspek penting dari perdebatan publik–privat, yang menunjuk pada fakta bahwa baik dalam teori maupun praktik, barang publik ‘murni’ untuk pada ketidak murnian.

pelayanan dapat dilakukan dengan cara mengevaluasi dimensi-dimensi pelayanan publik itu sendiri, yaitu dengan cara melihat kesenjangan antara pelayanan yang diberikan atau diharapkan pelanggan (expected service) dengan pelayanan yang dirasakan oleh penerima layanan (percieved service).

Van Looy (dalam Jasfar, 2005) mengatakan bahwa, suatu model dimensi kualitas jasa yang ideal baru memenuhi beberapa syarat, apabila:

1. Dimensi harus bersifat satuan yang komprehensif, artinya dapat menjelaskan karakteristik secara menyeluruh mengenai persepsi terhadap kualitas karena adanya perbedaan dan masing-masing dimensi yang diusulkan. 2. Model juga harus bersifat universal, artinya masing-masing

dimensi harus bersifat umum dan valid untuk berbagai spektrum bidang jasa.

3. Masing-masing dimensi dalam model yang diajukan haruslah bersifat bebas.

4. Sebaiknya jumlah dimensi dibatasi (limited).

Berdasarkan pengalaman dan para praktisi yang terjadi di lapangan, strategi pemberian pelayanan yang baik sebenarnya ditentukan oleh sejauh mana ketepatan pelayanan yang diberikan dengan keadaan nyata pada lingkungan masyarakat yang diberi pelayanan. Lingkungan yang dimaksud, menyangkut lingkungan fisik maupun lingkngan sosial yang mempengaruhi sikap dan perilaku masyarakat. Hal tersebut dapat dikatakan sebagai suatu pendekatan yang sifatnya kontekstual, karena pelayanan yang baik pada suatu masyarakat belum tentu diterima bilamana diberikan pada lingkungan masyarakat lainnya.

Beranjak dan pendekatan kontekstual tersebut, metode yang kiranya dapat menghasilkan pelayanan yang baik, menurut Saefullah (1999) dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut :

1. Melakukan pengamatan secara mendalam tentang

Gambar

Tabel 5.2 merupakan ungkapan paling ringkas mengenai tinjauan negara
Gambar 5.1
Tabel 5.1. Diferensiasi OPA, NPM dan NPS
gambar di bawah ini:

Referensi

Dokumen terkait

Tugas yang harus dilakukan sebelum pemerintahan mulai terlibat dalam pengambilan kebijakan publik adalah memilih salah satu instrumen atau kombinasi dari instrumen-instrumen yang

Hambatan dalam implementasi kebijakan (terutama dalam kasus perdagangan wanita ) juga datang dari budaya kerja para implementor baik laki-laki maupun wanita yang

berbagai program aksi untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan dalam suatu kebijakan. Oleh karena itu, implementasi berkaitan dengan pe ciptaa ”policy delivery syste ”

Selanjutnya oleh Agus dan Ratih ( 2012:200 ) pandangan Pressman dan Wildvasky mengenai implementasi dimaknai dengan beberapa kata kunci, yaitu untuk menjalankan kebijakan ( to

Dari pernyataan tersebut dapat dipahami bahwa implementasi kebijakan sebenarnya tidak hanya menyangkut perilaku badan- badan atau lembaga yang bertanggung jawab untuk

Pada dasarnya komunikasi yang di- laksanakan oleh pemerintah dan masyarakat sesuai dengan program kerja yang diarah- kan sepenuhnya dalam proses implementasi kebijakan

parlemen karena anggaran harus dibawa ke parlemen  Implementasi kebijakan Pusdiklat Spimnas Bidang Kepemimpinan.. Perda-2

 Mereka harus merancang solusi kebijakan dengan mempertimbangkan: o Tujuan kebijakan o Dampak terhadap masyarakat o Tantangan dalam implementasi o Pihak yang terlibat dalam