• Tidak ada hasil yang ditemukan

KLIPING EKSEKUSI PIDANA TUGAS MATA KULIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KLIPING EKSEKUSI PIDANA TUGAS MATA KULIA"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

KLIPING

“EKSEKUSI PIDANA”

TUGAS MATA KULIAH

HUKUM EKSEKUSI DAN PELELANGAN

DI BUAT OLEH

RICKY ANGRIAWAN

B1A010244

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

BANJARMASIN

▸ Baca selengkapnya: tugas kliping renang

(2)

Eksekusi Pidana: Tanggungjawab Pengadilan atau

kejaksaan ?

Beberapa waktu terakhir, pelaksanaan atau eksekusi putusan pidana mengundang kontroversi yang cukup riuh, karena adanya putusan-putusan pengadilan terkait perkara tidak pidana korupsi yang tidak (segera) dilaksanakan. Protes keras terhadap hal ini antara lain datang dari ICW.

Menanggapi adanya protes tersebut, pihak kejaksaan cenderung untuk menghindar, serta mengemukakan bahwa keterlambatan eksekusi putusan terjadi, karena pihak pengadilan tidak segera mengirimkan salinan putusan ke kejaksaan. Jaksa Agung mengutip ketentuan dalam Pasal 270 KUHAP yang menentukan bahwa eksekusi dilakukan oleh jaksa, setelah panitera mengirimkan sailnan surat putusan kepadanya. Dalam prakteknya, tambah Jaksa Agung, eksekusi putusan tanpa menunjukkan salinan putusan itu seringkali mengundang perlawanan dari pihak terpidana. Pada intinya, Jaksa Agung hendak menyatakan bahwa protes keras ICW seharusnya diarahkan kepada pengadilan.

Pasal 270 KUHAP

“Pelaksanaan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dilakukan oleh jaksa, yang untuk itu panitera mengirimkan salinan surat putusan kepadanya.”

Pernyataan Jaksa Agung tersebut, dalam pandangan saya, mengandung beberapa kejanggalan.

Waktu pengiriman salinan putusan

Permasalahan waktu pengiriman ini, bukan hal baru. Namun demikian, perdebatan yang selama ini muncul sebenarnya tidak terkait pelaksanaan putusan, melainkan terkait dengan pengajuan memori oleh jaksa – meskipun pada kenyataannya, entah mengapa, perdebatan tersebut tetap berada dalam kerangka Pasal 270 KUHAH (padahal ruang lingkup Pasal 270 KUHAP adalah putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap).

Tugas dan tanggungjawab jaksa selaku eksekutor

Bahwa pelaksanaan putusan adalah tanggungjawab kejaksaan, sebenarnya telah diakui oleh pihak kejaksaan sendiri. Pada tahun 1995, satu tahun setelah keluarnya surat edaran pelaksanaan putusan pengadilan yang mengikuti batas waktu penyelesaian salinan putusan yang ditetapkan Mahkamah Agung, kejaksaan mengeluarkan surat edaran lagi.

Sumber : hukumonline.com

Analisis :

(3)

benturan kepentingan antara pengacara (terpidana) dengan jaksa (penegakan hukum) dalam skenario proses hukum di “negara hukum” yang ideal, tidak akan sampai ke institusi pengadilan, melainkan telah diselesaikan oleh jaksa yang tidak hanya berperan sebagai jaksa, namun juga sebagai hakim, dengan sendirinya, hal ini membuat kejaksaan, ketika terkena tekanan politik dari aktivis pemantau peradilan dan/atau berhadapan dengan pengadilan, seperti mewakili dua kepentingan sekaligus. Bukan hanya penegakan hukum, tetapi juga hak-hak terpidana.

Kondisi ini, kalau dilihat sekilas, tentu akan menempatkan lembaga tersebut dalam posisi “korup”, dalam arti menyimpang dari tugas idealnya menegakkan hukum. Kepentingan jaksa dan kepentingan terpidana yang dalam skenario proses hukum di “negara hukum” yang ideal akan berbenturan dan harus diselesaikan di muka hakim, ternyata tidak selalu seperti itu adanya. Bagaimanapun, dari sudut pandang institusional ini, fenomena korupsi sebenarnya lebih menarik untuk dikaji. Dan diperdebatkan lebih lanjut.

Eksekusi Putusan Batal Demi Hukum di Mata Ahli Pidana

Ahli hukum pidana, Yahya Harahap berpendapat putusan pemidanaan yang tidak memuat ketentuan Pasal 197 ayat (1) huruf k KUHAP dalam amar putusan pengadilan adalah batal yang bersifat absolut/mutlak. “Putusan itu sejak semula tidak sah karena bertentangan dengan undang-undang,” kata Yahya Harahap saat menjadi ahli dalam pengujian pasal itu di Gedung MK, Rabu (5/9).

Ketentuan Pasal 197 ayat (1) KUHAP memuat 12 poin yang harus dimuat dalam putusan pemidanaan. Apabila salah satu poin tidak termuat dalam putusan, maka mengakibatkan putusan batal demi hukum sebagaimana ditegaskan Pasal 197 ayat (2) KUHAP. Selengkapnya, Pasal 197 ayat (1) huruf k berbunyi, “Surat putusan pemidanaan memuat : k. Perintah supaya terdakwa ditahan atau tetap dalam tahanan atau dibebaskan.”

Yahya menegaskan kebatalan putusan pengadilan yang bersifat mutlak ini tidak melihat apakah itu putusan tingkat pertama, banding, atau kasasi. Putusan itu tetap dianggap sebagai putusan yang tidak sah dan tidak pernah ada, sehingga tidak memiliki kekuatan daya hukum mengikat (eksekutorial) kepada terpidana.

(4)

negara hukum karena melanggar Pasal 1 ayat (3), Pasal 28D ayat (1), Pasal 28J ayat (1) UUD 1945,” tutur Yahya.

Karena itu, ia menilai putusan PK No. 157 PK/Pid.Sus/2011 yang tidak mengoreksi/meluruskan putusan kasasi No. 1444/Pid.Sus/2010 yang tidak memuat perintah penahanan merupakan putusan yang batal secara mutlak, sehingga tidak melekat kekuatan eksekutorial. “Seharusnya putusan PK memperbaiki putusan kasasi dengan menyatakan ‘mengadili sendiri’ dengan dan ‘membatalkan’ putusan kasasi No. 1444. Ini sesuai yurisprudensi putusan MA No. 169 K/Pid/1988,” ujar mantan hakim agung ini.

Ahli pemohon lainnya, Mudzakkir menilai norma Pasal 197 ayat (1) huruf k KUHAP bersifat imperatif yang harus ditaati pengadilan pada semua tingkatan termasuk MA dalam membuat putusan yang berisi pemidanaan. “Apabila putusan pemidanaan itu tidak memuat materi Pasal 197 ayat (1) huruf k ini, maka putusan pemidanaan itu batal demi hukum dan tidak dapat dieksekusi, jika tetap mengeksekusi bentuk pelanggaran hukum,” katanya. Dosen Fakultas Hukum UII Yogyakarta ini berpendapat konstitusionalitas Pasal 197 ayat (1)

Menurutnya, putusan pemidanaan yang tidak memuat “perintah supaya terdakwa ditahan atau tetap dalam tahanan atau dibebaskan” seharusnya batal demi hukum. Putusan itu sejak semula dianggap tidak pernah ada, sehingga tidak mempunyai kekuatan eksekutorial yang tidak dapat dieksekusi jaksa.

Sebelumnya, Parlin divonis tiga tahun penjara dalam kasus perambahan hutan di Kalimantan Selatan lewat putusan PK No. 157 PK/Pid.Sus/2011 tertanggal 16 September 2011 yang sebelumnya di tingkat pertama dinyatakan bebas. Yusril yang juga menjadi kuasa hukum Parlin menolak eksekusi dengan dalih tidak memenuhi syarat formal Pasal 197 ayat (1) huruf k KUHAP yakni tidak memuat perintah penahanan dalam putusan PK itu.

Sumber : hukumonline.com

Analisis :

(5)

sebagai balas dendam atas kejahatan si terpidana. Hukuman sebagai balas dendam atas kejahatan telah ditinggalkan sebagai bagian peradaban hukum masa lalu. Ajaran hukum terkini yang dianut Indonesia adalah bahwa pelaksanaan hukum merupakan satu rehabilitasi dan reintegrasi bagi terpidana agar kembali hidup normal ke dalam peradaban masyarakat umum. Dengan ajaran yang diyakini itu, maka yang dulunya penjara telah diganti nama jadi lembaga pemasyarakatan (LP). Nuansa substansi dalam konsep LP menjadi sebentuk klinik penyembuhan penyakit masyarakat dalam bentuk kejahatan yang diidap oelh si terpidana. Jumlah dan lama hukumannya menjadi sebentuk resep obat dengan kadar kualitas tertentu, yang jika resep itu telah dipenuhi, maka seharusnya orang yang bersangkutan sudah akan sehat, normal, kembali ke masyarakat setelah keluar dari LP.

Dengan adanya ketentuan tentang pengawasan hakim terhadap pelaksanaan putusan maka kesenjangan (gap) yang ada antara apa yang diputuskan hakim dan kenyataan pelaksanaan pidana di lembaga pemasyarakatan dan di luar lembaga pemasyarakatan jika terpidana dipekerjakan di situ dapat dijembatani. Hakim dapat mengikuti perkembangan terpidana sebagai narapidana dan juga perlakuan para petugas lembaga pemasyarakatan yang bersangkutan.

PELAKSANAAN PUTUSAN HAKIM

(EKSEKUSI)”

Sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan sebuah interaksi dengan sesamanya. Dan proses interaksi itu tidak selamanya berjalan dengan baik, namun ada kalanya dihiasi dengan konflik horizontal sehingga dalam kasus ini diperlukan adanya suatu institusi yang menjadi pemutus konflik tersebut. Dalam kehidupan bernegara, institusi ini menjelma dalam bentuk Lembaga-lembaga peradilan.

Di dalam dunia pengadilan, sebenarnya hanya ada satu hal pokok yang dicari para justiabalance (pencari keadilan) yaitu Putusan Hakim.Setelah putusan tersebut sudah final dan berkekuatan hokum sacara tetap maka akan dilaksanakan eksekusi(akibat dari putusan tersebut).

(6)

pemulihan tersebut akan tercapai apabila putusan dapat dilaksanakan.Dan dalam makalah singkat ini akan mengemukakan sedikit pembahasan mengenai pelaksanaan putusan/eksekusi

Pelaksanaan putusan /eksekusi adalah putusan pengadilan yang dapat dilaksanakan. Dan putusan pengadilan yang dapat dilaksanakan adalah putusan yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap (in kracht van gewijsde) . Putusan yang sudah berkekuatan tetap adalah putusan yang sudah tidak mungkin lagi dilawan dengan upaya hukum verzet, banding, dan kasasi.

Pengadilan Agama sebagai salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman dapat melaksanakan segala putusan yang dijatuhkannya secara mandiri tanpa harus melalui bantuan Pengadilan Negeri. Hal ini berlaku setelah ditetapkannya UU No. 7/1989. Dan sebagai akibat dari ketentuan UU Peradilan Agama diatas adalah:

1. Ketentuan tentang eksekutoir verklaring dan pengukuhan oleh Pengadilan Negeri dihapuskan

2. Pada setiap Pengadilan Agama diadakan Juru Sita untuk dapat melaksanakan putusan-putusannya

Pelaksanaan putusan hakim dapat Secara sukarela,atau Secara paksa dengan menggunakan alat Negara,apabila pihak terhukum tidak mau melaksanakan secara sukarela.Semua keputusan pengadilan mempunyai kekuatan eksekutorial, yaitu kekuatan untuk dilaksanakan secara paksa oleh alat-alat Negara .Keputusan pengadilan bersifat eksekutorial adalah karena pada bagian kepala keputusannya berbunyi “ Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa ”.

Sumber : hukumonline.com

Analisis :

(7)

Adapun mengenai cara melakukan penjualan barang-barang yang disita dalam hal pelaksanaan eksekusi riil dalam bentuk penjualan lelang diatur dalam pasal 200 HIR. Ketentuan pokoknya antaralain berisi:

 Penjualan dilakukan dengan pertolongan Kantor Lelang;

 Urutan-urutan barang yang akan dilelang ditunjuk oleh yang terkena lelang jika ia mau

 Jika jumlah yang harus dibayar menurut putusan da biaya pelaksanaan putusan dianggap telah tercapai, maka pelelangan segera dihentikan. Baran-barang selebihnya segera dikembalikan kepada yang terkena lelang;

 Sebelum pelelangan, terlebih dahulu harus diumumkan menurut kebiasaan setempat dan baru dapat dilaksanakan 8 hari setelah penyitaan;

 Jika yang dilelang terasuk benda yang tidak berberak maka harus diumumkan dalam dua kali dengan selang waktu 15 hari;

 Jika yang dilelang menyangkut benda tidak bergerak lebih dari Rp.1000.- harus diumumkan satu kali dalam surat kabar yang terbit di kota itu paling lambat 14 hari sebelum pelelangan;

 Jika harga lelang telah dibayar, kepada pembeli diberikan kwitansi tanda lunas dan selain itu pula hak atas barang tidak bergerak tersebut beralih kepada pembeli;

 Orang yang terkena lelang dan keluarganya serta sanak saudaranya harus menyerahkan barang tidak bergerak itu secara kosong kepada pembeli.

EKSEKUSI PUTUSAN PIDANA UANG PENGGANTI

DALAM PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI

(8)

Pelaksanaan isi putusan oleh jaksa, selaku eksekutor pada dasarnya tidak terlepas dari apa yang telah dituntutkan olehnya pada saat proses pemeriksaan perkara.tersebut didasarkan pada adanya alat bukti dan fakta hukum yang terungkap dalam persidangan, namun tidak jarang pula apa yang telah dituntutkan oleh Penuntut Umum3mengalami kesulitan pada saat akan dilakukan eksekusi, baik itu menyangkut eksekusi terhadap terpidana, eksekusi terhadap barang, serta eksekusi pidana tambahan berupa pembayaran uang pengganti dalam perkara tindak pidana korupsi.

(9)

yang dinyatakan bahwa Pelaksanaan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatanBelum maksimalnya Jaksa melaksanakan eksekusi uang penganti dalam tindak pidana

korupsi, pada dasarnya bukan sesuatu yang dikehendaki atau disengaja, tetapi adanya hambatan yuridis terhadap putusan pengadilan tersebut. Hambatan yuridis sebagaimana dimaksud adalah tidak jelasnya tentang kapan eksekusi putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan tetap tersebut dilaksanakan hukum tetap dilakukan oleh jaksa, setelah panitera mengirimkan salinan surat putusan kepadanya, ketentuan ini mengharuskan eksekusi baru dapat dilakukan dan dilaksanakan oleh jaksa, setelah panitera mengirimkan salinan surat putusan kepadanya, sehingga terakwa menolak untuk dieksekusi berdasarkan kutipan putusanyang sudah tetap tersebut disamping putusan pengadilan tersebut tidak memberikan landasan hukum bagaimana terhadapbarang-barang milik terdakwa yang sudah disita, Perhitungan jaksa itu seharusnya diajukan dalam tuntutannya (requisitoir). Dalam tuntutan itu, jaksa (penuntut umum) menuntut agar terpidana dipidana pula membayar biaya perkara dengan jumlah tertentu, sesuai Pasal 197 ayat (1) KUHAP dan Pasal 275 KUHAP.

PRO KONTRA KETIDAK PASTIAN EKSEKUSI “PIDANA”

Pidana mati merupakan hukuman terberat dari jenis-jenis ancaman hukuman yang tercantum dalam KUHP bab 2 pasal 10. Karena pidana mati merupakan pidana terberat, yaitu: pelaksanaannya berupa perampasan terhadap kehidupan manusia, maka tidaklah heran apabila dalam menentukan pidana mati terdapat banyak pendapat yang pro dan kontra dikalangan ahli hukum ataupun masyarakat itu sendiri, pidana mati tercantum di dalam KUHP diwarisi dari pemerintan kolonial dan tetap demikian ketika dinasionalisasikan dengan undang-undang Nomor 1 Tahun 1946. Bahkan sesudah Indonesia merdeka, beberapa undang-undang yang dikeluarkan kemudian, ternyata tercantum juga pidana mati didalamnya, dengan demikian, alasan bahwa pidana mati itu tercantum dalam W.v.S (KUHP) pada waktu diberlakukan oleh pemerintahan kolonial didasarkan pada alasan faktor rasial.

(10)

dari pidana pokok dan pidana tambahan. Dan pidana mati termasuk jenis pidana pokok yang menempati urutan yang pertama, peraturan perundang-undang yang lain yang ada di Indonesia, juga banyak yang mencantumkan ancaman pemidanaan berupa pidana mati., misalkan Undang-undang No. 20 tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi, Undang-undang No. 26 tahun 2000 tentang Tindak Pidana Terhadap Hak Asasi Manusia, Perpu Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang telah disahkan menjadi Undang-undang.

Namun perdebatan muncul ketika banyak orang yang mulai menanyakan apakah pidana mati masih relevan atau layak diterapkan sebagai suatu hukuman di Indonesia. Pertanyaan tersebut dilontarkan bukan tanpa alasan, namun kebanyakan dari mereka menganggap pidana mati melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) yaitu hak untuk hidup. Hak itu terdapat dalam UUD 1945 pasal 28A yang mengatakan “setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya” Mengenai upaya hukum yang dilakukan oleh pihak terpidana adalah suatu ketentuan-ketentuan yang telah diatur di dalam perundang-undangan berdasarkan tingkat pengajuan upaya hukum dari yang paling awal hingga yang paling akhir, dimana upaya hukum tersebut adalah merupakan suatu tindakan dari kerabat, kuasa hukum, maupun keluarga terpidana didalam memperjuangkan suatu pidana yang telah atau dijatuhkan kepada seorang terpidana berdasarkan kesalahan atau tindak pidana yang telah dilakukannya, namun jika teliti lagi, dalam penjelasan pasal ini menyatakan setiap orang berhak atas kehidupan, mempertahankan hidup, dan meningkatkan taraf kehidupannya. Hak atas kehidupan ini bahkan melekat pada bayi yang baru lahir atau orang yang terpidana mati. Dalam hal atau keadaan yang sangat luar biasa yaitu demi kepentingan hidup ibunya dalam kasus aborsi atau berdasarkan putusan pengadilan dalam kasus pidana mati, maka tindakan aborsi atau pidana mati dalam hal atau kondisi tersebut, masih dapat diizinkan. Hanya pada dua hal tersebut itulah hak untuk hidup dibatasi.

Sumber : hukumonline.com

Analisis :

Dalam pembahasan terhadap upaya hukum adalah dengan melihat sejauh apa upaya tersebut dilakukan dan bagaimana lembaga yang bersangkutan dalam menilai upaya tersebutKasus-kasus berikut ini menggambarkan peradilan terhadap mereka yang menghadapituntutan pidana mati di Indonesia, yang tidak selalu sesuai dengan standar internasional dalam mendapatkan proses peradilan yang adil, hukum Pidana objektif berisi tentang berbagai macam perbuatan yang dilarang yang terhadap perbuatan-perbuatan itu telah ditetapkan ancaman pidana kepada barangsiapa yang melakukannya, sanksi pidana yang telah ditetapkan dalam UU tersebut kemudian oleh negara dijatuhkan dan dijalankan kepada pelaku perbuatan. Hak dan kekuasaan negara yang demikian merupakan suatu kekuasaan yang sangat besar, yang harus dicari dan diterangkan dasar-dasar pijaknnya.

(11)

Referensi

Dokumen terkait

Pidana pembayaran uang pengganti menjadi berfungsi sangat penting, karena diatur dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 yang menyesuaikan dengan uang negara yang dikorupsi

upaya perlawanan terhadap eksekusi pembayaran uang dalam perkara perdata. Dalam penelitian ini penulis akan menggunakan metode penelitian sebagai.

PELAKSANAAN PIDANA TAMBAHAN PEMBAYARAN UANG PENGGANTI DALAM PERKARA

Bambang Santoso, 2001, Kebijakan Legislatif mengenai Pelaksanaan Sanksi Pidana Tambahan Pembayaran Uang Pengganti dalam Perkara Korupsi, Universitas

penelitian skripsi dengan judul : “ UPAYA PERLAWANAN HUKUM TERHADAP EKSEKUSI PEMBAYARAN UANG DALAM PERKARA. PERDATA”.

“Jaksa telah memprediksi dari tiga terpidana hanya 2 dapat membayar uang pengganti dan 1 Perkara diatas tidak bisa dilakukan eksekusi karna form pernyataan

Rumusan masalah Penegakan Hukum oleh Hakim Terhadap Barang Bukti Tindak Pidana Narkotika pada Putusan Hakim Pengadilan Negeri Balige, Bagaimana Pelaksanaan Eksekusi Barang

Pelaksanaan eksekusi putusan pengadilan terhadap barang rampasan negara dari tindak pidana dibidang kehutanan, yang amar putusannya menyatakan barang dirampas untuk negara