• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI HUBUNGAN ANTARA KEBISINGAN DAN STR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "STUDI HUBUNGAN ANTARA KEBISINGAN DAN STR"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI HUBUNGAN ANTARA KEBISINGAN DAN STRESS

AKIBAT AKTIVITAS PESAWAT TERBANG DI BANDARA

Mita Riani Rezki (H1E113053) Jurusan Teknik Lingkungan,Fakultas Teknik

Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru,70714,Indonesia e-mail : [email protected]

Abstrak

Pesawat terbang adalah alat transportasi yang cukup digemari oleh semua kalangan.pesawat terbang menyumbangkan kebisingan yang berdampak langsung bagi manusia dan kesehatanya. Nilai ambang batas kebisingan untuk jasa termasuk jasa transportasi di bandara adalah 70 dB, tetapi dari berbagai penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa kegiatan di bandara termasuk aktivitas pesawat terbang didapa nilai ambang batas kebisingannya berkisar 80-90 dB ke atas. Jauh melebihinilai mabnag batas yang telah ditetapkan. Dampak dari kebisingan ini, yaitu tergangguanya sistem pendengaran juga dapat menggangu psikologis (menimbulkan stress). Studi ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kebisingan dengan stress. Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa benar bahwa kebisingan yang dihasilkan oleh pesawat di bandara berhubungan dengan gangguan kesehatan terutama stress.

Kata Kunci : Pesawat terbang, kebisingan, bandara, stress

PENDAHULUAN

Transportasi adalah

memindahkan sesuatu ketempat yang diinginkan. Sedangkan alat transportasi

(2)

manusia akan transportasi membuat alat ini semakin banyak dan berkembang. Mulai dari alat tranportasi tanpa mesin dan menggunakan mesin – mesin yang canggih. (Susanti,2010)

Dibalik penggunaan mesin – mesin canggih pada alat transportasi, ada beberapa permasalahan yang muncul, diantaranya kebisingan yang ditimbulkan oleh suara mesin. Menurut Keputusan Menteri Lingkungan Hidup RI no. 48/1996 Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan dan kenyamanan lingkungan. Dalam hal ini dapat diakatakan bahwa kebisingan adalah bunyi atau suara yang dapat mengganggu kegiatan dan kesehatan makhluk hidup beserta dengan lingkungannya ( Setijani dalam Feidihal, 2007 )

Faktor- faktor yang

mempengaruhi kebisingan adalah faktor-faktor yang juga mempengaruhi kualitas dan kuantitas suara. Faktor-faktor tersebut adalah intensitas (loudness), frekuensi, periodesitas (kontinu atau terputus), dan durasinya. (Mansyur dalam Ikron, 2007)

Jika intensitas kebisingan tinggi, maka dampaknya terhadap kesehatan juga akan semakin tinggi. Pemerintah Indonesia menetapkan peraturan kebisingan lingkungan melalui Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 48/MENLH/11/1996 tahun 1996 yang mengatur tentang batas baku kebisingan pada area pemukiman ataupun fasilitas umum masyarakat lainnya. Telah ditetapkan bahwa tingkat kebisingan pada area pemukiman penduduk tidak melebihi 55 dbA sedangkan ambang batas kebisingan yang ditetapkan oleh pemerintah pada area kerja sesuai Keputusan Menteri

Tenaga Kerja Nomor

KEP.55/MEN/1999, menyatakan bahwa nilai ambang batas kebisingan di area kerja maksimal 85 dBA dengan waktu pemajanan 8 jam. (Syarief, 2012).

(3)

.tetapi dampak kesehatan non pendengaran ini, pada umumnya terjadi bukan karena intensitas kebisingan yang tinggi, tetapi karena respon dari setiap individu yang menganggap bahwa suatu kebisingan itu mengganggu padahal belum tentu mengganggu bagi individu yang lain. (Erwin, 2007)

Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa kebisingan menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan manusia. Dari laporan WHO tahun 1988 sebagaimana yang disampaikan oleh Ditjen PPM & PLP, Depkes RI (1995), menyatakan bahwa 8 – 12% penduduk dunia telah menderita dampak kebisingan dalam bermacam-macam bentuk dan diperkirakan angka tersebut terus akan meningkat seiring dengan bertambahnya teknologi dan alat transportasi yang hanya mementingkan kebutuhan ekonomi dan tidak memperhatikan aspek seperti kebisingan yang sebenarnya berdampak buruk bagi kesehatan manusia serta lingkungan.( Ikron, 2007)

Kebisingan yang terus menerus diterima oleh makhluk hidup terutama manusia dengan kurun waktu yang panjang menyebabkan permasalahan yang banyak dan juga cukup serius dan perlu untuk mendapatkan penanganan,

pencegahan serta pengendalian yang sesuai. Kebisingan dengan kisaran 70 dB dapat menimbulkan kegelisahan, kurang enak badan, masalah pendengaran, dan penyempitan pembuluh darah. Sedangkan juga menyebabkan kemunduran yang cukup serius terhadap kesehatan seseorang (stress) bahkan kehilangan pendengaran sementara jika terpapar kebisingan dalam kisaran 80 dB atau lebih dalam jangka waktu yang lama. (Doelle dalam Margareta, 2007)

PEMBAHASAN

Kebutuhan manusia terhadap transportasi semakin lama semakin meningkat, terutama kebutuhan akan transportasi udara atau dalam bahasan ini berkaitan dengan pesawat terbang. Pesawat merupakan alat transportasi yang dirasa paling efisien dijadikan sebagai alat transportasi jarak jauh dibandingkan dengan alat transportasi darat dan laut, karena pesawat terbang merupakan alat transportasi yang cepat dan juga terjangkau.

(4)

ini merupakan penyumbang kebisingan terbesar bagi makhluk hidup yang ada disekitarnya termasuk manusia.

Telah dibahas sebelumnya bahwa kebisingan sangat bedampak buruk bagi makhluk hidup, termasuk didalamnya manusia dan kesehatannya. Artinya jika manusia berada dekat dengan pesawat atau bandara maka intensitas terpapar kebisingan pun akan semakin besar.

Karena intensitas kebisingan yang tinggi menyebabkan dampak buruk bagi kesehatan, terutama kepada individu yang terpapar kebisingan tersebut. Maka, ditetapkan baku mutu untuk kebisingan. Baku mutu untuk tingkat kebisingan diartikan sebagai batas maksimal kebisingan yang diperbolehkan dan tidak menimbulkan dampak negatif bagi manusia, yaitu gangguan kesehatan serta kenyamanan lingkungan.

Nilai ambang batas kebisingan adalah batas atau kemampuan tertinggi paparan yang dapat diterima oleh sekelompok maupun individu. Artinya, selama masih dalam nilai tersebut, walaupun terpapar kebisingan tidak menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan maupun psikologis sekelompok atau individu tersebut.

Untuk selanjutnya ditulis oleh Kepmen LH No. 48/MEN LH/II/1996 sebagai NAB sesuai dengan tabel berikut : Tabel 1.1 Nilai ambang batas

Perdagangan dan jasa 70 Perkantoran dan

Perdagangan

65

Ruang Terbuka Hijau 50

Industri 70

Dari beberapa penelitian diketahui bahwa kebisingan terutama kebisingan di Bandara terjadi pada kisaran 80-90 dB keatas. Artinya, nilai ini telah melampaui baku mutu nilai ambang batasnya. Sehingga dibandara memiliki intensitas kebisingan yang tinggi dan tentu membawa dampak negatif bagi sekelompok atau individu yang berada disekitarnya.

(5)

compressor yang kemudian diteruskan kedepan mesin dan bising yang ada sudut turbin diteruskan kebelakang. Kebisingan yang ditimbulkan oleh pesawat terbang dapat mencapai kisaran 95-105 dB bahkan mencapai 100-110 dB pada flightdeck. Kebisingan pesawat udara ini bergantung kepada jenis pesawat yang digunakan, fase penerbangan, cuaca, juga ketinggian. Intensitas kebisingan pesawat udara tertinggi yakni terdapat pada saat pesawat terbang lepas landas. (Leancy, 2013)

Gangguan kesehatan yang umum terjadi yaitu kepada para penumpang atau individu maupun kelompok yang menggunakan jasa pesawat di bandara. Gejala awal yaitu peningkatan emosional, terganggunya pendengaran, kegelisahan yang berujung pada stress. Sedangkan, gangguan secara psikologis berkurang terutama kepada pekerja bandara. Hal ini didasari karena budaya lingkungan atau dengan kata lain karyawan bandara telah terbiasa terpapar oleh kebisingan atau kegiatan lain di bandara. Akibatnya, sudah tidak nampak kegelisahan maupun gejala stress, tetapi lebih kepada resiko kesehatan lain seperti terganggunya pendengaran dan

kehilangan pendengaran, karena intensitas terpapar kebisingan dalam kurun waktu yang cukup lama.

Stress merupakan suatu tanggapan dalam menyesuaikan diri yang dipengaruhi oleh perbedaan individu dan proses psikologis. Stress dapat timbul akibat tekanan pekerjaan atau dalam kasus ini stress dapat ditimbulkan akibat gangguan psikologis karena kebisingan. Akibat adanya gangguan stress dapat menganggu pelaksaan kerja seperti ; mudah marah dan agresif, tidak dapat relaks, emosi memberikan tekanan secara fisiologis dan psikologis mempengaruhi tingkat stress. Lingkungan kerja yang bising

merupakan gangguan yang

mempengaruhi kenyamanan.

Kebisingan juga merupakan stressor yang dapat menyebabkan perubahan fisik, psikis, dan tingkah laku manusia.

Banyak faktor yang

(6)

1. Lingkungan fisik, misalnya udara yang terlalu dingin atau terlalu panas, tempat yang kotor, dan juga kebisingan

2. Rasa kurang memiliki pengenalan 3. Hubungan antar manusia, misalnya

kebisingan dapat mengganggu komunikasi dan hubungan antar manusia karena kurang mengerti dan menangkap apa yang dibicarakan oleh orang lain

Karena kebisingan menimbulkan dampak negatif terutama bagi kesehatan manusia dan lingkungan, maka perlu dilakukan pengendalian kebisingan. Berdasarkan data dari Safetyline Institute ada beberapa cara yang dilakukan untuk pengendalian kebisingan, antara lain :

1. Eliminasi, artinya

menghilangkan kebisingan dengan mengubah salah satu atau lebih suatu sistem operasi sumber kebisingan.

2. Substitusi, artinya mengganti alat atau sistem dengan alat atau

sistem yang tingkat

kebisingannya lebih rendah. 3. Isolasi, artinya memisahkan atau

memindahkan posisi orang – orang yang terlibat atau dekat dengan sumber kebisingan

4. Menggunakan alat pelindung diri, seperti earlug atau earmuff. (Retno, 2011).

KESIMPULAN

Dari banyak penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa pewasat terbang menimbulkan kebisingan yang cukup tinggi, yakni berkisar diantara 80-90 dB. Dimana angka tersebut telah melampaui nilai ambang batas yang telah ditetapkan yaitu sebesar 70 dB. Oleh karena kebisingan oleh pesawat ini menimbulkan efek terhadap kesehatan manusia yaitu mengganggu sistem pendengaran dan menimbulkan stress. Sehingga stress dan kebisingan mempunyai hubungan yang perlu ditangani lebih lanjut. Kebisingan dapat dikendalikan dengan cara eliminasi, substitusi,isolasi, dan penggunaan alat pelindung.

SARAN

(7)

DAFTAR PUSTAKA

Djalante, Susanti. 2010: Analisis Tingkat Kebisingan Di Jalan Raya Yang Menggunakan Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (Apil) (Studi Kasus: Simpang Ade Swalayan). Vol. 8 No. 4. Universitas Halu Uleo, Kendari Feidihai, 2007. Tingkat Kebisingan dan

Pengaruhnya Terhadap Mahasiswa Di Bengkel Teknik Mesin Politeknik Negeri

Padang. Vol. 4 No. 1. Politeknik Negeri Padang

Hartono. Endi Eko Wibowo , 2010 Studi Tentang General Reaction Score pada Wanita yang

Mengalami Stres Bising Pesawat Udara di Sekitar Bandara Adi Sumarmo Boyolali A study on General Reaction Score in Women With Aircraft Noise Stress In The Area Of Adi Sumarmo Airport Of

Boyolali.Vol II No. 2.

Universitas Sebelas Maret; Solo Hidayat, S.,Purwanto.,Hardiman,G.,

2012. Kajian Kebisingan Dan Pesepsi Ketergangguan Masyarakat Akibat

Penambangan Batu Andesit Di

Desa Jeladri, Kecamatan Wonongan, Kabupaten

Pasuruan, Jawa Timur, Vol 10 (2): 95-9.

Http://Ejournal.Undip.Ac.Id/Ind ex.Php/Ilmulingkungan

Ikron,Dkk.2007. Pengaruh Kebisingan Lalulintas Jalan Terhadap Gangguan Kesehatan Psikologis Anak SDN Cipinang Muara Kecamatan Jatinegara, Kota Jakarta Timur, Propinsi DKI Jakarta, 2005 Vol. II No.1. Universitas Indonesia,:Depok Martelens Ch. Liu. 2011 Kondisi

Peredam Bising Akibat Lalulintas Pesawat Udara di Bandar Udara Sultan

Hasanuddin Terhadap Aktivitas Masyarakat Di Kawasan Permukiman Sudiang. Vol. 11 No. 3 . Universitas

Hasanuddin :Makassar

Martini, Neli Dan Dadan Ahmad. 2010. Pengaruh Stress Kerja Terhadap Motivasi Kerja Karyawan Struktral Universitas

Singaperbangsa Karawang. Vol 9. No 17. Universitas

Singaperbangsa Karawang Mulyono, Leancy Ferdiana Kandou,

(8)

Dengan Peningkatan Ambang Pendengaran Penerbang Di Balai Kesehatan Penerbangan Jakarta Universitas Airlangga Vol. 2, No. 1. Universita Airlangga

Nawawinetu.Erwin Dyah. 2007 Stress Akibat Kerja Pada Tenaga Kerja Yang Terpapar Bising Vol. 4, No. 2 Universitas Airlangga” Surabaya

Sintorini, Margareta Maria, dkk. 2007. Hubungan Tingkat Kebisingan Pesawat Udara Terhadap Kesehatan Pekerja Di Sekitar Landas Pacu 1 Dan 2 Bandar Udara Internasional Soekarno– Hatta, Banten Volume 4 No. 1. Universitas Trisakti : Jakarta Barat

Gambar

Tabel  1.1  Nilai  ambang  batas

Referensi

Dokumen terkait

Rumusan masalah pada penelitian ini yaitu apakah ada hubungan antara umur dan lama paparan dengan penurunan daya dengar pada pekerja terpapar kebisingan impulsif

kebisingan, penurunan kecepatan, dan dimensi tinggi speed bump di

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kebisingan, dan beban kerja dengan stres kerja pada pekerja bagian Perbaikan PT KAI DAOP VI Yogyakarta di DIPO

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kebisingan, dan beban kerja dengan stres kerja pada pekerja bagian Perbaikan PT KAI DAOP

Tidak dikehendaki karena terutama dalam jangka panjang bunyi tersebut dapat mengganggu ketenangan kerja (Sritomo Wignjosoebroto, 2003), kebisingan dapat bersumber

Berdasarkan penelitian tentang “Hubungan antara Beban Kerja dan Intensitas Kebisingan dengan Kelelahan pada Tenaga Kerja Pemeliharaan Jalan Cisalak Kotabima CV

Rekapitulasi Hasil Persamaan Regresi Antara Penurunan Kecepatan dan Peningkatan Kebisingan dengan Lebar Speed Bumps pada

Dari hasil analisi dapat disimpulkan bahwa hubungan peningkatan kebisingan terhadap kecepatan dan dimensi lebar speed bumps pada jalan perkerasan aspal di area permukiman