• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGAJARAN DAN PEMBELAJARAN SASTRA DI IN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGAJARAN DAN PEMBELAJARAN SASTRA DI IN"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PENGAJARAN DAN PEMBELAJARAN SASTRA DI INDONESIA: KENYATAAN, PERKEMBANGAN, DAN HARAPAN

Ibnu Wahyudi

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

/1/

Akhir-akhir ini, istimewanya pada tahun 2004 ini, ada kenyataan cukup unik berkenaan dengan penyebutan kelas atau tingkat pada buku-buku pelajaran yang diterbitkan di Indonesia. Sekadar sebagai contoh, buku teks yang berjudul Bahasa dan Sastra Indonesia susunan Dawud dan kawan-kawannya1 dari Universitas Negeri

Malang, diberi embel-embel atau label “untuk SMA Kelas X”. Dikatakan “cukup unik” dalam tulisan ini mengingat bahwa penyebutan yang sedemikian itu dapat dikatakan sebagai tidak lazim dan tentu “mengingkari” realitas yang ada, sebab SMA (Sekolah Menengah Atas) di Indonesia selama ini hanya mengenal tingkatan “kelas 1”, “kelas 2”, atau “kelas 3”. Demikian pula dengan penyebutan kelas untuk SMP (Sekolah Menengah Pertama), halnya tidak berbeda dengan SMA. Sedangkan SD (Sekolah Dasar) akan menyebutkan penjenjangannya dari “kelas 1” sampai dengan “kelas 6”.2 Sudah barang tentu, hadirnya gejala seperti itu akan memungkinkan

timbulnya semacam pertanyaan, misalnya, mengapa pada buku-buku pelajaran atau buku-buku teks sekarang ini—sekurang-kurangnya untuk terbitan tahun 2004—ada penyebutan “kelas X”, atau “kelas VIII” yang mengikuti kata SMP atau SMA?

Dicantumkannya kelas-kelas yang seperti ini tidak lain berhubungan erat dan merupakan konsekuensi logis dari suatu dinamika atau perkembangan dalam

permasalahan kurikulum di Indonesia. Tahun 2004 ini, di Indonesia, merupakan tahun penting karena menjadi awal diterapkannya suatu kurikulum baru dalam dunia

pendidikan, yang namanya sudah mulai akrab di telinga khalayak sebagai “Kurikulum

1 Penyusun buku Bahasa dan Sastra Indonesia yang diterbitkan oleh Penerbit Erlangga (Jakarta, 2004) ini adalah Dr. Dawud, Dr. Nurhadi, Dra. Yuni Pratiwi, M.Pd., dan Drs. Abdul Rani, M.Pd., yang kesemuanya adalah dosen Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang.

(2)

Berbasis Kompetensi” (KBK)—a competency-based curriculum.3 Berbeda dari

kurikulum-kurikulum sebelumnya, pada kurikulum terbaru ini4—sebagaimana tersirat

dari namanya—secara garis besar dapat dikatakan bahwa orientasi pembelajaran lebih berfokus pada siswa, pada kompetensi siswa, dengan mempertimbangkan kerelevanan atau kekontekstualan materi ajar serta mengarah pada upaya pengembangan sikap dan wawasan yang kaya dan bermartabat. Dengan orientasi semacam ini tidak berarti bahwa guru atau pensyarah tidak lagi mempunyai posisi penting; guru tetap sangat memiliki peran sentral, hanya tidak lagi sebagai satu-satunya “sumber ilmu atau pengetahuan” tetapi menjadi sebagai semacam fasilitator. Selain itu, karakteristik kurikulum ini harus dimaknai sebagai tidak lagi parsial, yang membedakan tingkat “dasar”, “menengah”, dan “atas” secara tajam, melainkan lebih berketerusan atau berkesinambungan dari kelas I (SD) hingga kelas XII (SMA). Dengan demikian, pencantuman “SMA kelas X” seperti telah disebutkan, tentu harus dibaca sebagai “kelas 1 SMA”. Kendati begitu, tetap banyak orang yang tentu akan bertanya-tanya mengenai ketepatan penyebutan “SMA kelas X” itu; sebab bagaimana mungkin ada SMA sampai kelas X, sementara di SMA hanya ada tiga tingkatan yang dijalani pembelajar selama 3 tahun?

Penyebutan “SMA kelas X” ini jelas adalah sebuah bentuk kompromi yang mencerminkan situasi “transisi” yang terjadi di Indonesia kini. Inilah suatu masa atau tahap yang “terpaksa” harus ditempuh di Indonesia; suatu langkah peralihan yang memang harus dimulai. Oleh karena itu, jika buku pelajaran yang dimaksudkan “untuk SMA kelas I” itu langsung disebut secara tepat sebagai “untuk Kelas X”— tanpa embel-embel SMA—dikhawatirkan akan lebih menimbulkan kebingungan di dalam masyarakat dibandingkan dengan penyebutan “untuk SMA Kelas X” yang jelas juga kurang tepat itu. Kekhawatiran semacam ini, bagaimanapun, selalu ada. Terlebih

3 Kniep menyatakan bahwa a competency-based curriculum starts with identification of the competencies each learner is expected to master, states clearly the criteria and conditions by which performance will be assessed, and defines the learning activities that will lead to the learner to mastery of targeted competency. Pernyataan Kniep ini dapat dibaca pada makalah Suyono, “Kurikulum Berbasis Kompetensi dan Kondisi Penerapannya di Sekolah,” yang dipresentasikan pada Simposium Nasional Pembelajaran Bahasa, diselenggarakan oleh UNNES, 14 Oktober 2002, h. 28.

(3)

lagi dengan telah terbentuknya semacam opini dalam masyarakat bahwa setiap tahun ajaran baru, selalu saja para orangtua direpotkan secara ekonomis dengan pengeluaran biaya yang tidak sedikit untuk membeli sejumlah buku baru yang banyak diduga hanya kulitnya saja yang baru. Begitupun dengan masalah penulisan tadi, sangat boleh jadi dipahami hanya sebagai semacam siasat dagang saja yang akan meresahkan konsumen, dalam hal ini adalah orangtua siswa. Pertanyaan yang tentu saja dapat muncul atau mengemuka sehubungan dengan bentuk kompromi ini adalah, sampai kapan masa transisi ini harus dijalani?

Persoalan lain yang tidak kalah pentingnya adalah bertautan dengan pelaku dunia pendidikan itu sendiri, yaitu bersangkut paut dengan guru sebagai aktor utamanya. Masa transisi atau perubahan akan tidak mempunyai arti sama sekali sekiranya pelaku yang terlibat di dalamnya—yaitu guru—tidak menyadari atau enggan mentransformasi serta memposisikan dirinya dalam arus perubahan itu. Dari sejumlah pelatihan yang secara langsung melibatkan diri saya sebagai instruktur atau pemberi materi “Apresiasi Sastra”5 maupun “Pembelajaran Apresiasi Sastra”,6 nada

pesimis dari para peserta yang notabene adalah para guru bahasa dan sastra Indonesia untuk tingkat SMP maupun SMA hampir selalu mengemuka ketika perihal Kurikulum Berbasis Kompetensi ini disebut-sebut. Kepesimisan nada itu teristimewa berpangkal dari “pengalaman” yang selama bertahun-tahun telah mereka alami yang memberikan “pelajaran” berharga kepada para guru itu bahwa ternyata pada akhir pembelajaran, yang tetap terpenting adalah materi-materi yang bersifat hafalan, pemaknaan tunggal, maupun sekadar memilih sebuah jawaban dari sekian kemungkinan jawaban yang disediakan. Sebagai akibatnya, apapun pelatihan, strategi pembelajaran, maupun paradigma baru yang ditawarkan, pada awalnya akan selalu saja dicurigai sebagai tidak terlalu bermanfaat atau tidak signifikan untuk mereka. Namun demikian, secara konkret meski perlahan-lahan, perubahan sungguh sudah terjadi: sudah ada semacam kesadaran baru pada para guru yang telah mengikuti berbagai pelatihan itu bahwa paradigma pengajaran sastra yang lebih menempatkan sastra sebagaimana seharusnya

5 Misalnya dalam kegiatan TOT (Training of Trainers) untuk para guru SMA maupun SMP yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Penataran Guru Bahasa (PPPG Bahasa), Srengseng Sawah, Jakarta, sejak tahun 2001.

(4)

sastra, sudah dimulai dan secara pasti mewarnai dinamika pengajaran maupun pembelajaran sastra di Indonesia.

/2/

Istilah “pengajaran” yang mempunyai makna ‘proses, cara, perbuatan mengajar atau mengajarkan; perihal mengajar; segala sesuatu mengenai mengajar’7 belakangan

ini sudah tidak populer lagi dalam dunia pendidikan di Indonesia. Yang kini lebih populer dan biasa diucapkan adalah istilah “pembelajaran” sejalan dengan semangat perubahan yang terjadi. “Pengajaran” banyak dianggap sebagai kurang tepat karena di dalamnya terkesan mengandung pengertian bahwa hanya pihak guru yang berperan aktif, sementara siswa atau peserta didik menerima saja apa-apa yang dicekokkan oleh sang guru. Sedangkan “pembelajaran” lebih dipilih dan dipergunakan secara formal karena di dalam kata ini aktivitas yang terjadi adalah seimbang antara pihak guru dan anak didiknya; mereka sama-sama aktif dan—diharapkan—juga sama-sama kreatif.8

Perihal pergeseran keaktifan dari yang semula lebih “dikuasai” oleh para guru dan pada gilirannya kini “dibebankan” kepada para siswa, tidak terlepas dari

kebijakan, ancangan, maupun arah kurikulum yang dalam jangka waktu tertentu mengalami perubahan, diversifikasi, maupun modifikasi seiring dengan berbagai kemajuan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Pada intinya, seperti dinyatakan oleh Sarwidji Suwandi, penyempurnaan atau pembaruan kurikulum dilakukan dalam rangka mengantisipasi berbagai perubahan dan tuntutan masa depan yang niscaya akan dihadapi oleh para siswa sehingga mereka akan mampu berpikir global dan bertingkah laku sesuai dengan karakteristik maupun potensi tempatan atau lokal.9

Dalam kaitannya dengan upaya memahami perubahan-perubahan yang pernah terjadi dalam dunia pendidikan di Indonesia, khususnya lagi yang berhubungan dengan pengajaran dan pembelajaran sastra, perlu sedikit ada semacam tinjauan terhadap “perjalanan” yang sudah dilalui.

/3/

7 Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi III, cetakan pertama, Jakarta: Balai Pustaka, 2001, h. 17

8 Lihat, B. Rahmanto, “Reaktualisasi Pembelajaran Sastra: Siswa sebagai Pembelajar Aktif,”

Horison, XXXV (7), Juli 2002, h. 12.

(5)

Kurikulum di Indonesia sudah berganti beberapa kali semenjak pertama kali dicanangkan pada tahun 1950.10 Pergantian atau perubahan kurikulum merupakan hal

yang wajar sebagai bentuk aktualisasi maupun responsi dari perkembangan yang terjadi di dalam kehidupan. Akan tetapi, setiap ada modifikasi dalam kurikulum, masyarakat pada umumnya selalu memberikan tanggapan yang pada intinya kurang menggembirakan; bukan karena masyarakat itu anti-perubahan mengenai kandungan kurikulum atau anti-kemajuan, melainkan karena berdampak pada buku-buku teks yang juga berganti. Dengan bergantinya buku-buku teks atau buku-buku pelajaran itu berarti para orangtua murid harus menyediakan tambahan dana untuk membeli buku-buku tersebut, sebagaimana sudah disebutkan di awal tulisan.

Sementara itu, menurut Suyanto, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta, kurikulum memang harus sering diganti sesuai dengan dinamika atau perubahan dalam masyarakat. Secara periodik kurikulum memang harus diubah.11 Perubahan

kurikulum itu, menurut Tarno, dosen Universitas Nusa Cendana,12 merupakan suatu

peristiwa yang wajar dan memang perlu terjadi atau perlu dilakukan karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi juga selalu muncul. Tanpa mengikuti perkembangan atau kemajuan yang ada, pendidikan akan jauh tertinggal. Bahwa ada semacam trauma yang melanda masyarakat luas dengan berubahnya kurikulum, hal itu tidak dapat dipungkiri. Bahkan bagi para guru sendiri, perubahan kurikulum pun tidak selamanya disambut dengan gembira. Arif Budi Christianto misalnya, seorang guru di sekolah swasta di Jakarta, menyatakan bahwa implementasi KBK masih lebih sering membingungkan para guru.13

Kembali pada “perjalanan” sastra (dan bahasa) Indonesia dalam kurikulum, dapat diberikan gambaran bahwa semenjak tahun 1950 itu kurikulum telah mengalami perubahan pada tahun-tahun 1958, 1964, 1968, 1975/1976, dan 1984 untuk SMA, sementara pada tahun 1987 perubahan terjadi pada kurikulum untuk SMP. Sejak awal, bidang studi sastra Indonesia terintegrasi dalam bidang studi bahasa Indonesia, sampai kurikulum 1975/1976. Baru pada kurikulum 1984—khususnya untuk SMA—nama

10 Versi menurut Kompas, kurikulum yang pertama adalah tahun 1947. Lihat, Imam Prihadiyoko dan Kenedi Nurhan, “Selamat Datang Kurikulum Berbasis Kompetensi,” Kompas, 17 Desember 2003.

11 Suyanto, “Persoalan Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi,” Kompas, 6 Oktober 2003.

12 Tarno, “Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Daerah-daerah Pinggiran.” Makalah untuk Kongres Bahasa Indonesia V, 1988.

(6)

bidang studi ini berubah menjadi Bahasa dan Sastra Indonesia dalam program inti, serta Sastra Indonesia dikhususkan untuk program pilihan Pengetahuan Budaya. Namun dalam kenyataannya, menurut Tarno14 lagi, pengajaran sastra di SMP maupun

SMA bukan berupa program pengetahuan budaya. Sastra Indonesia hanya semata-mata menumpang pada pengajaran bahasa Indonesia dan diberikan hanya selama 2-3 jam per minggu. Lebih lanjut Tarno menegaskan seperti di bawah ini.

Pengajaran sastra di sini lebih banyak kegiatannya untuk mempelajari ragam bahasa, di sisi-sisi ragam bahasa lainnya. Hal ini terlihat bahwa pembobotan beban materinya hanya seperenam dari seluruh materi bidang studi/mata pelajaran Bahasa Indonesia, dengan nama pokok bahasan Apresiasi Bahasa dan Sastra Indonesia. Dengan pemberian nama ini sudah terlihat terjadinya penyempitan kedudukan sastra.15

Sementara itu, meskipun pada kurikulum 1994 masih juga terasa adanya upaya mengintegralkan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, kurikulum 1994 memberi penekanan akan pentingnya membaca secara langsung karya-karya sastra, dan bukan sekadar membaca ringkasan atau sinosipnya.16 Namun demikian, di dalam praktiknya,

pembelajaran sastra ibarat anak tiri yang hampir-hampir tidak mendapat perhatian yang selayaknya dari para guru. Para guru yang mengajar sastra hampir selalu merupakan juga guru yang mengajar bahasa. Hal semacam ini sebenarnya tidak menjadi masalah sekiranya para guru itu juga mempunyai perhatian yang sama besarnya; namun kenyataan cenderung mampu membuktikan bahwa umumnya para guru itu sekadar menyambi saja tugas sebagai pengajar sastra. Kendati demikian, jika diamati secara saksama, realitas yang semacam ini bukan sepenuhnya kesalahan para guru melainkan kesalahan paradigma pengajaran maupun pembelajaran bahasa dan sastra yang pernah diterima oleh para guru itu ketika mereka masih dalam pendidikan.

/4/

14 Tarno, loc.cit. 15 Ibid.

16 Dalam hubungannya dengan persoalan ringkasan atau sinopsis ini, Wilson Nadeak dalam artikel berjudul “Sastra Kita: Masalah Pengajaran dan Apresiasi,” Suara Karya, 31 Oktober 1993, menyatakan bahwa “sebenarnya penulis ikhtisar itu berniat baik. Sekadar untuk “mengingatkan” kembali apa yang sudah dibaca. Upaya ini sangat menolong bagi seorang pengajar sastra yang suka membaca buku sastra sehingga waktu ia mengajarkan kembali contoh-contoh karya sastra, ia menggunakan buku itu sebagai pengingat dan bahan perumusan struktur sebuah karya sastra.

(7)

Kenyataan yang cukup memprihatinkan mengenai pengajaran sastra di sekolah, bukan karena porsinya yang hanya seperenam dari seluruh materi bidang studi/mata pelajaran Bahasa Indonesia atau alokasi waktu yang sangat minimal itu, melainkan juga karena strategi pengajarannya yang mengkhianati jatidiri sastra itu sendiri. Metode menghafal misalnya, yang dapat saja berupa menghafal nama-nama para sastrawan, menghafal peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan kegiatan sastra atau peristiwa sastra, maupun menghafal contoh-contoh soal terdahulu dengan jawaban yang tersedia,17 yang semata-mata hanya untuk memperoleh nilai bagus pada

ujian akhir maupun pada kuis-kuis yang diadakan, sungguh-sungguh telah mengingkari dan sekaligus mengkhianati hakikat sastra.

Dikatakan sebagai “telah mengingkari dan sekaligus mengkhianati hakikat sastra” karena sastra, bagaimanapun, adalah sebuah karya seni yang berbeda dengan ilmu alam maupun ilmu-ilmu lain yang serba dapat diukur, dihitung, maupun diduga secara tetap dan pasti. Sastra, seperti halnya karya-karya seni yang lain, harus ditempatkan dan diperlakukan sebagaimana karya fiktif, imajinatif, kreatif, serta berdimensi makna yang tidak tetap. Dengan jatidiri yang sedemikian itu, maka jika sastra juga diperlakukan sama dengan bidang ilmu lainnya, yang terjadi kemudian tentu adalah “seolah-olah” pembelajar telah memahami atau mengkaji sastra tetapi sesungguhnya bukan mengapresiasinya. Kenyataan seperti ini tentu merupakan hal yang tidak semestinya terjadi dan memang tidak boleh terjadi.

Menanggapi realitas semacam itu, banyak pengamat pendidikan maupun pengamat sastra pada khususnya, yang telah melemparkan pendapat dan kritik tajam yang pada intinya menghendaki dikeluarkannya sastra dari “bagian” bahasa

Indonesia.18 Kalau bukan suatu keinginan untuk sampai “mengeluarkan” sastra dari

kurikulum, banyak pihak menghendaki agar ada pemisahan yang tegas antara guru bahasa Indonesia dengan guru khusus sastra.19 Bahkan menjelang diberlakukannya

kurikulum 1994, banyak isu yang beredar, yang antara lain menyebutkan bahwa pada

17 Kecenderungan seperti ini sudah merupakan hal jamak, agaknya. Geko Kriswanto dalam tulisannya “Logika dalam Pelajaran Bahasa Indonesia,” Kompas, 31 Mei 2004 menyatakan

“kecenderungan lama masih saja muncul dengan mengajarkan bahan-bahan pelajaran yang kira-kira akan keluar pada waktu ujian akhir.”

18 Pendapat-pendapat “keras” seperti ini, sejauh pengamatan, memang belum ada yang memformulasikannya dalam bentuk suatu tulisan—barangkali karena kekontroversialannya—tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa hal itu sering menjadi topik pembicaraan yang bersifat nonformal, atau di luar forum-forum pertemuan.

(8)

kurikulum ini tidak akan lagi ada komponen sastra di dalam bidang studi bahasa Indonesia. Konon, bidang studi sastra akan dipisahkan dari pelajaran bahasa Indonesia, seperti ditulis oleh HD Haryo Sasongko20 dan disinggung pula oleh

Pamusuk Eneste dalam artikelnya.21 Meskipun kenyataan yang banyak dibayangkan

dan (mungkin) memang diharapkan oleh banyak peminat sastra itu tidak terwujud— karena ternyata Kurikulum 1994 masih memasukkan sastra sebagai bagian bidang ajar bahasa Indonesia—isu-isu seperti itu secara tidak langsung telah mempunyai

pengaruh positif dalam memandang dan memposisikan pengajaran maupun pembelajaran sastra.

Faktor yang ikut memperparah tidak signifikannya atau bahkan gagalnya pengajaran maupun pembelajaran sastra di sekolah adalah pada guru itu sendiri. Bukan suatu rahasia lagi bahwa sebagian besar guru sastra adalah guru bahasa yang lebih memberikan perhatian kepada permasalahan bahasa, utamanya pada masalah-masalah teknis. Bahkan, seperti dikemukakan oleh I Wayan Artika, banyak guru sastra yang “tidak menyukai sastra”.22 Maka, dengan “pengakuan” semacam ini, apa yang

dapat diharapkan? Oleh karena itu, jika pengajaran sastra berada dalam posisi

terpuruk, bukan sesuatu yang perlu diherankan. Namun permasalahannya tentu bukan hanya pada “keheranan” atau tidaknya, melainkan pada apa upaya atau langkah-langkah yang dapat dijalankan untuk memperbaiki kenyataan yang sedemikian itu.

/5/

Sejumlah gagasan, ide, rencana, tindakan nyata, serta sumbang saran melalui tulisan di pelbagai media dan kesempatan, maupun pemikiran-pemikiran positif lain yang dikemukakan oleh berbagai kalangan, telah merebak dan membawa angin perubahan dalam pengelolaan maupun praktik pengajaran dan pembelajaran sastra. Hasanuddin WS dalam tulisannya yang telah disebut di depan, mengatakan, “Apapun kondisinya, semua perbincangan yang berkaitan dengan masalah sastra dan

pengajaran sastra semestinya disyukuri dan dicermati karena fenomena tersebut merupakan indikator kepedulian banyak pihak terhadap keberlangsungan kehidupan

20 HD Haryo Sasongko, “Tentang Pelajaran Sastra di sekolah: Dari Indoktrinasi ke Apresiasi,”

Mutiara, Minggu III-Oktober 1993.

(9)

kesastraan sebagai bagian kebudayaan republik ini. Fenomena ini tampak dengan jelas menempatkan posisi sastra sebagai hal yang penting dan tidak boleh diabaikan.”23

Sehubungan dengan langkah nyata yang sudah dan masih dilakukan, tidak dapat diketepikan sejumlah kegiatan. Pertama, yang segera harus disebut dalam hal

pemikiran serta kontribusi konkretnya adalah pihak majalah sastra Horison—di bawah “komando” Taufiq Ismail—dalam mewujudkan rencana aksinya. Ada 6 kegiatan yang pernah dan masih dilaksanakan, yaitu (1) penerbitan sisipan Kakilangit

[sejak November 1996] dalam majalah Horison yang dimaksudkan sebagai wahana apresiasi sastra yang terfokus maupun sarana penampung tulisan kreatif dan opini para siswa serta guru, (2) pelatihan MMAS [Membaca, Menulis, Apreasiasi Sastra] sejak Februari 1999 yang ditujukan untuk menyadarkan maupun meningkatkan pemahaman para guru akan hakikat maupun dinamika sastra, (3) kegiatan SBSB [Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya] yang dilaksanakan sejak tahun 2000 dan disponsori oleh The Ford Foundation bagi suatu kegiatan interaktif antara para sastrawan dengan para siswa dari sejumlah sekolah di Indonesia, (4) kegiatan SBMM [Sastrawan Bicara Mahasiswa Membaca] yang dilaksanakan sejak tahun 2000

dimaksudkan sebagai tempat berdialog atau berdiskusi antara para mahasiswa yang sebagian telah membaca karya-karya seorang sastrawan atau lebih dengan para sastrawan itu, (5) kegiatan sayembara LMKS [Lomba Mengulas Karya Sastra] dan LMCP [Lomba Menulis Cerita Pendek] untuk para guru yang dimaksudkan sebagai sarana meningkatkan kemampuan mengapresiasi dan menulis ulasan maupun fiksi, dan (7) kegiatan SSSI [Sanggar Sastra Siswa Indonesia] yang merupakan bengkel kerja bagi upaya meningkatkan kebiasaan membaca, menulis, dan mengapresiasi sastra dengan bimbingan para alumni kegiatan MMAS.24

Selain Horison, tidak dapat diabaikan juga adalah strategi lembaga PPPG yang terus-menerus giat mengadakan pelatihan TOT maupun penataran lain bagi para calon instruktur maupun para guru umumnya dengan melibatkan tenaga-tenaga terlatih dari Universitas Indonesia, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Pendidikan Indonesia, maupun dari lembaga lain. Meskipun dari segi jumlah masih sedikit, dibandingkan dengan jumlah guru se-Indonesia, pelatihan atau penataran semacam ini sangat efektif dalam kaitan membuka cakrawala berpikir atau bersikap mengenai dunia sastra. Dari

23 Hasanuddin WS, loc.cit., h. 1.

(10)

beberapa kali pelatihan yang melibatkan saya sebagai salah seorang instruktur, sangat terlihat adanya perubahan yang signifikan pada diri para guru itu akan apa yang seharusnya mereka lakukan ketika mereka kembali ke sekolah masing-masing sebagai guru bahasa dan sastra Indonesia. Hanya sayangnya, kegiatan yang dilaksanakan oleh PPPG ini kurang ditunjang pendanaannya oleh Departemen Pendidikan Nasional Indonesia. Bukan hanya aspek honorarium yang sangat kecil bagi para pelatih, tetapi juga keberlangsungannya tidak dapat terlalu diharapkan terus-menerus, sementara jumlah guru yang “harus” mengikuti pelatihan ini jumlahnya ribuan. Satu-satunya harapan adalah, para instruktur yang sudah mengikuti TOT, dapat dan mampu

menularkan pengetahuan atau ilmunya kepada kolega di daerahnya. Hanya saja, hasil dari kegiatan yang terakhir ini belum saya peroleh.

Lembaga lain yang harus disebut meskipun sumbangan nyatanya dalam mengubah paradigma pembelajaran sastra tidak terlalu kelihatan akibat dari belum terencananya kegiatan, adalah HISKI (Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia) dan HPBI (Himpunan Pembina Bahasa Indonesia) yang kadangkala mengadakan semacam pelatihan, penataran, lokakarya, seminar, atau konferensi yang berhubungan dengan masalah bahasa dan sastra. Kedua himpunan ini dinyatakan sebagai belum mempunyai rencana kegiatan yang jelas dan langsung, dalam kaitannya dengan peningkatan pembelajaran bahasa dan sastra, karena kedua lembaga ini adalah lembaga profesi yang lebih sering berkutat dengan permasalahan internalnya saja, selain memang bahwa kedua himpunan ini tidak mempunyai sumber dana yang pasti.

(11)

untuk orang banyak, dan mampu meninggikan martabat guru itu sendiri maupun khazanah sastra Indonesia sendiri.

/6/

Akhirnya memang hanya sebuah harapan. Mudah-mudahan, dengan berbagai upaya, rencana, strategi, ancangan, maupun kehendak untuk selalu mengaktualisasi diri dan menerapkan prinsip-prinsip demokratisasi dalam pembelajaran sastra, kehidupan akademis maupun kehidupan sastra itu sendiri dapat berjalan beriringan dan saling memanfaatkan. Untuk saat ini, di Indonesia, dapat dikatakan sebagai masa gemilang dalam hal dunia penciptaan sastra. Para pengarang baru bermunculan, menawarkan berbagai gaya dan tema, serta diam-diam telah mampu memposisikan diri sebagai sebuah ranah yang tidak lagi seperti orang tua yang terbungkuk-bungkuk sambil sesekali batuk-batuk, tetapi telah menjelma diri sebagai gadis manis yang selalu diimpi-impikan dan dirindui banyak orang. Di Indonesia sekarang, orang cenderung tidak malu-malu lagi membawa atau membaca novel mutakhir di keramaian atau di tempat-tempat umum. Malahan, karya-karya fiksi Indonesia sekarang sudah menjadi benda hadiah untuk berbagai perhelatan dan acara.

Dan “hanya” inilah hadiah saya untuk acara seminar ini. Semoga bermanfaat.

Referensi

Dokumen terkait

Dapat diartikan bahwa karya sastra disajikan dengan tulisan yang di dapat dari sebuah imajinasi seorang pengarang sehingga menghasilkan sebuah karya yang bagus

Bahasa Yogyakarta yang sesuai dengan pusat apresiasi sastra adalah. meningkatkan kualitas sastra, meningkatkan sikap positif masyarakat

Pusat Apresiasi Sastra adalah tempat yang berfungsi untuk mengarahkan atau mengumpulkan berbagai aktivitas yang dilakukan dalam mengakrabi, menafsirkan kualitas, dan

Pola Tata Massa Bangunan dan Tata Ruang pada Pusat Apresiasi Sastra Sumber: analisis

Hasil penelitian ini adalah deskripsi tentang: (1) perencanaan pembelajaran apresiasi sastra di SMK Negeri 9 Surakarta telah disusun dengan baik oleh guru mata

(3) bagaimanakah aspek sosial politik Kepundan dimanfaatkan sebagai alternatif materi pembelajaran apresiasi sastra di SMA? Berdasarkan permasalah yang ada, maka

Beberapa persolan khusus yang dimaksud adalah berkaitan dengan hambatan dan kesulitan siswa tertentu dalam ketuntasan kompetensi pembelajaran apresiasi sastra dalam

Hal tersebut sangat relevan dengan dunia pendidikan bahasa dan sastra Indonesia terutama dalam mewujudkan pembelajaran yang kreatif di era digital seperti sekarang ini.. Di dalam