ANALISIS BEBERAPA FAKTOR PENYEBAB KELELAHAN KERJA PADA
TENAGA KERJA BONGKAR MUAT DI PELABUHAN SAMUDERA BITUNG
Lidia Gaghiwu*, Johan Josephus**, Rizald M. Rompas***Program Pascasarjana Universitas Sam Ratulangi
**Fakultas Kesehatan Masyarakar Universitas Sam Ratulangi
ABSTRAK
Kelelahan merupakan penurunan kekuatan otot yang disebabkan karena kehabisan tenaga dan
peningkatan sisa metabolisme, misalnya asam laktat, karbon dioksida. Kelelahan dalam bekerja
dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain: umur, masa kerja, status gizi, asupan nutrisi,
status perkawinan, gangguan muskulosketal, olahraga, kebiasaan merokok, kebiasaan minum
alkohol dan penyalahgunaan obat. Tingkat kelelahan akibat kerja yang dialami pekerja dapat
menyebabkan ketidaknyamanan, ketidakpuasan dan penurunan produktivitas yang ditunjukkan
dengan berkurangnya kecepatan performansi, menurunnya mutu produk, meningkatnya kesalahan
dan kerusakan, kecelakaan yang sering terjadi, kendornya perhatian serta ketidaktepatan dalam
melaksanakan pekerjaan. Tenaga kerja baik dari sektor formal maupun informal perlu mendapat
perhatian khusus, mengingat tenaga kerja sangat rentan mengalami kelelahan kerja. Tenaga kerja
bongkar muat pelabuhan merupakan bagian dari pekerja informal yang juga perlu mendapat
perhatian. Riset ini bertujuan untuk menganalisis beberapa faktor penyebab kelelahan kerja pada
tenaga kerja bongkar muat di Pelabuhan Samudera Bitung.
Jenis Penelitian ini ialah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional.
Jumlah sampel sebanyak 100 orang. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dan alat ukur
kelelahan kerja yaitu waktu reaksi. Data riset dianalisis menggunakan uji T, korelasi Pearson dan
uji regresi linier berganda.
Hasil uji statistik menunjukkan faktor - faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja
pada tenaga kerja bongkar muat di Pelabuhan Samudera Bitung ialah umur, masa kerja dan status
perkawinan dengan kelelahan kerja (p < 0,05). sedangkan faktor-faktor yang tidak berhubungan
ialah asupan energi, asupan protein, kebiasaan merokok dan kebiasaan mengkonsumsi alkohol (p >
0,05). Secara multivariat, faktor yang paling berhubungan dengan kelelahan kerja ialah masa kerja
(p < 0,05 dan beta = 0,492).
Masa kerja merupakan faktor yang paling dominan penyebab kelelahan kerja. Masa kerja
yang terlalu lama merupakan salah satu faktor penyebab yang dapat meningkatkan kelelahan,
sehingga dianjurkan untuk memberikan atau memperpanjang waktu istirahat atau libur dan
mengurangi waktu kerja.
ABSTRACT
Fatigue is a decrease in muscle strength caused by exhaustion and increased metabolic waste,
such as lactic acid and carbon dioxide. Fatigue in the work can be influenced by various factors
including: age, work period, nutritional status, nutrition intake, marital status, musculoskeletal
disorders, exercise, smoking, alcohol consumption and drug abuse. Levels of work fatigue
experienced by workers can cause discomfort, dissatisfaction and decreased productivity as
indicated with reduced speed performance, reduced product quality, increased errors and
damage, accidents often occur, reduced attention and inaccuracy in carrying out the work. Labor
from the formal and informal sector needs special attention, considering the labor is very
susceptible to fatigue. Stevedoring workers in port is part of the informal labors who also need
attention. This research aims to analyze several factors causing work fatigue at stevedoring
workers in the Ocean Port of Bitung.
The method of research is an analytic observational with cross sectional approach. Total
sample of this research are 100 people. Instrument used in this research are questionnaires and
the reaction timer to measure work fatigue. Research data were analyzed by using T-test, Pearson
correlation and Multiple linear regression.
Statistical analysis showed factors associated with work fatigue at stevedoring workers in
the port of Bitung Ocean are age, years of employment and marital status (p < 0.05). Meanwhile
factors that are not associated with work fatigue are energy intake, protein intake, smoking habits
and alcohol consumption habits (p > 0.05). In multivariate analysis, the most dominant factor
associated with work fatigue is work period (p < 0.05 and beta = 0.492).
Work period is the most dominant factor associated with work fatigue. Long work period
is one of the factors that can increase work fatigue, so it is advisable to provide or extend a break
or holiday and reduced working time.
PENDAHULUAN
Kelelahan kerja merupakan bagian
dari permasalahan umum yang sering
dijumpai pada tenaga kerja (Suma’mur, 2014). Data dari International Labour
Organization (ILO) menyebutkan bahwa
setiap tahun sebanyak dua juta pekerja
meninggal dunia karena kecelakaan kerja
yang disebabkan oleh faktor kelelahan
(Markanen, 2004). Kelelahan kerja di
Indonesia termasuk masalah kesehatan
nasional. Hasil penelitian di PT. Indofood
Sukses Makmur Tbk Surabaya tahun 2011
menunjukkan bahwa dari 47 tenaga kerja
sebagian besar mengalami tingkat kelelahan
sedang yaitu 27 orang (57,4%) dan 20 orang
(42,6%) mengalami tingkat kelelahan ringan
(Andrias, 2011), juga penelitian yang
dilakukan oleh Tyas (2010) pada sebagian
besar pekerja di wilayah Medan, Samarinda,
Maluku dan Surabaya yang terpajan panas,
ternyata mengalami kelelahan ringan.
Demikian pula hasil penelitian Eraliesa
(2009), menunjukkan sebagian besar buruh
pada bagian stevedoring dan receiving
pelabuhan Tapaktuan Aceh mengalami
kelelahan.
Kelelahan dalam bekerja dapat
dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain:
umur, masa kerja, status gizi, asupan nutrisi,
status perkawinan, gangguan muskulosketal,
olahraga, kebiasaan merokok, kebiasaan
minum alkohol dan penyalahgunaan obat.
Sedangkan faktor dari luar yang dapat
mempengaruhi kelelahan meliputi tinggi
meja, iklim kerja, pencahayaan, tingkat
pendapatan, kesempatan merubah sikap atau
posisi bekerja, pakaian sepatu, kondisi lantai
dan shift kerja (Atiqoh, Wahyuni dan
Lestantyo, 2014). Tingkat kelelahan akibat
kerja yang dialami pekerja dapat
menyebabkan ketidaknyamanan,
ketidakpuasan dan penurunan produktivitas
yang ditunjukkan dengan berkurangnya
kecepatan performansi, menurunnya mutu
produk, meningkatnya kesalahan dan
kerusakan, kecelakaan yang sering terjadi,
kendornya perhatian serta ketidaktepatan
dalam melaksanakan pekerjaan (Tarwaka,
2010).
Tenaga kerja baik dari sektor
formal maupun informal perlu mendapat
perhatian khusus, mengingat tenaga kerja
sangat rentan mengalami kelelahan
(Anonim, 2015). Tenaga kerja bongkar muat
pelabuhan merupakan bagian dari pekerja
informal. Peraturan Menteri No 61 tahun
2009 tentang kepelabuhanan, mengatur
kegiatan bongkar muat barang di pelabuhan
terbagi dalam tiga bagian terdiri dari
stevedoring, corgodoring dan receiving atau
delivery serta melakukan berbagai aktivitas
fisik manual material handling seperti
mengangkat, menahan dan memindahkan
barang (Anonim, 2009). Dalam prariset yang
dilakukan peneliti, ternyata kegiatan
bongkar muat di Pelabuhan Samudera
Bitung dilakukan oleh tenaga kerja bongkar
muat sebanyak 934 orang yang sebagian
besar berusia antara 19 - 55 tahun. Tenaga
kerja bongkar muat di Pelabuhan Samudera
Bitung terbagi dalam beberapa regu kerja
dengan tugas masing-masing dan cara kerja
yang berbeda. Hasil wawancara dengan
beberapa tenaga kerja bongkar muat, didapat
bahwa sebagian besar mengatakan merasa
lelah karena masih bekerja dengan cara
berlebihan seperti semen, beras, karnel dan
kopra dari dan ke kapal hingga berulang kali
menggunakan kekuatan sendiri tanpa alat
bantu.
METODE PENELITIAN
Desain penelitian ini ialah
observasional analitik menggunakan
rancangan studi cross sectional. penelitian
dilaksanakan di Pelabuhan Samudera
Bitung. Waktu pelaksanaan mulai bulan
Desember 2015 hingga bulan April 2016.
Populasi dalam penelitian ini yakni
semua tenaga kerja bongkar muat
konvensional yang terdaftar di koperasi
TKBM pelabuhan Samudera Bitung. Teknik
pengambilan sampel menggunakan teknik
purposive sampling yaitu teknik
pengambilan sampel berdasarkan
pertimbangan tertentu yang telah dibuat oleh
peneliti, yakni berdasarkan kriteria inklusi
dan eksklusi. Sehingga diperoleh 100
responden.
Variabel bebas dalam penelitian ini
ialah umur, masa kerja, asupan energi,
asupan protein, kebiasaan merokok,
kebiasaan mengkonsumsi alkohol dan status
perkawinan sedangkan peubah terikat ialah
kelelahan kerja. Sumber data dalam
penelitian ini yaitu data primer diperoleh
melalui wawancaraa menggunakan
kuesioner dan pengukuran kelelahan kerja
menggunakan waktu reaksi sedangkan data
sekunder diperoleh dari koperasi tenaga
kerja bongkar muat pelabuhan Samudera
Bitung mengenai jumlah anggota TKBM
yang terdaftar. Instrumen penelitian yang
digunakan yakni pengukuran kelelahan kerja
menggunakan metode uji psikomotor
(psychomotor test) dengan menggunakan
reaction timer dan lembaran isian mengenai
umur, masa kerja, form food recall 24 jam,
daftar bahan penukar makanan dalam ukuran
rumah tangga dan gram, kebiasaan merokok,
kebiasaan mengkonsumsi alkohol dan status
perkawinan responden.
Analisis univariat digunakan untuk
melihat deskripsi dan distribusi
frekuensi
masing-masing variabel baik terikat maupun
bebas. Analisis bivariat berfungsi untuk
mengetahui hubungan antara variabel terikat
dengan variabel bebas. Uji statistik yang
digunakan dalam penelitian ini disesuaikan
dengan skala dan distribusi data, oleh karena
data dalam penelitian ini berdistribusi
normal dilihat dari nilai skewness dibagi
standard error menghasilkan angka ≤ 2 dan nilai Kolmogorov Smirnov diperoleh nilai p
> 0,05, maka digunakan uji statistik
parametrik (Hastono dan Sabri, 2011).
Variabel bebas dan terikat yang berskala
interval atau rasio atau berbentuk data
numerik (umur, masa kerja, asupan energi,
asupan protein dan kelelahan kerja)
digunakan uji korelasi ‘Pearson’ dengan tingkat kemaknaan 95% (α 0,05), apabila korelasi positif berarti kenaikan satu variabel
diikuti dengan kenaikan variabel lainnya
Sedangkan untuk variabel bebas yang
berskala nominal atau berbentuk kategorik
(kebiasaan merokok, kebiasaan
mengkonsumsi alkohol dan status
perkawinan) dengan variabel terikat yang
berbentuk numerik (kelelahan kerja)
digunakan uji T independen, untuk
menentukan satu kelompok lebih tinggi dari
lainnya, maka dapat dilihat pada nilai mean
multivariate menggunakan uji regresi linier
berganda atau multiple regression linear.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Karakteristik Responden
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa sebagian besar responden yang
bekerja memiliki tingkat pendidikan SMA
atau sederajat. Tenaga kerja bongkar muat
yang menjadi responden melakukan
kegiatan bongkar muat beras, sawit, semen
dan kopra dari kapal ke jaring pengangkut
dan dari jaring dimuat ke mobil pengangkut.
Pekerjaan dilakukan per regu kerja yang
terdiri dari 4 - 5 orang diatur secara bergilir.
Masing-masing pekerjaan bongkar muat
diawasi oleh seorang mandor. Sebagian
besar responden sudah menikah, 71
responden berumur <45 tahun dan 29
responden berumur ≥ 45 tahun. Masa kerja
< 5 tahun sebanyak 22 responden
sedangkan yang sudah bekerja ≥ 5 tahun
sebanyak 78 responden.
2. Analisis Univariat
Distribusi responden berdasarkan
umur, masa kerja, asupan energi, asupan
protein dan kelelahan kerja dapat dilihat
pada Tabel 1.
Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Umur, Masa Kerja, Asupan Energi, Asupan Protein dan Kelelahan kerja
Variabel Mean SD Minimum–Maksimum
Umur 38 12,48 19-67
Masa kerja 13 12,05 1-51
Asupan energi 67,00 16,32 35-128
Asupan protein 100,57 32,31 34-205
Kelelahan kerja 441,35 142,97 162-775
Tabel 1 menunjukkan bahwa rata-rata umur
TKBM 38 tahun standar deviasi 12,48, umur
paling termuda 19 tahun dan yang paling
tua 67 tahun. Rata-rata masa kerja responden
13 tahun, standar deviasi 12,05, masa kerja
minimal 1 tahun dan maksimal 51 tahun.
Rata-rata asupan energi per hari TKBM
sebesar 67% per hari, standar deviasi 16,32,
asupan paling rendah 35% per hari dan
pengukuran kelelahan, rata-rata kelelahan
pada pekerja sebesar 441,35 milidetik,
standar deviasi 142,972, waktu reaksi
tercepat yaitu 162 milidetik dan waktu
reaksi paling lama yaitu 775 milidetik.
Distribusi responden berdasarkan
kebiasaan merokok, kebiasaan
mengkonsumsi alkohol dan status
perkawinan dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Kebiasaan Merokok, Kebiasaan Mengkonsumsi Alkohol Dan Status Perkawinan
Tabel 2 menunjukkan bahwa sebagian besar
TKBM merokok (92,0%), mengkonsumsi
alkohol (53,0%) dan sebagian besar TKBM
sudah menikah (78,0%)
3. Hasil Analisis Bivariat
Hasil analisis menggunakan uji
korelasi ‘Pearson’. Hasil analisis bivariat
data berbentuk numerik dapat dilihat pada
Tabel 3.
Tabel 3. Hasil Analisis Korelasi Umur, Masa Kerja, Konsumsi Energi dan Protein dengan Kelelahan Kerja
Variabel Koefisien korelasi (r) p-value
Umur 0,309 0,001
Masa kerja 0,492 0,002
Asupan energi 0,015 0,882
Asupan protein 0,086 0,394
Nilai p dan nilai koefisien korelasi antara
umur dengan kelelahan kerja beradasarkan
Tabel 3, didapat nilai p = 0,002, r = 0,309
artinya ada hubungan yang signifikan antara
umur dengan kelelahan kerja. Menurut
Nidya, Ekawati dan Lestyanto (2013),
terdapat hubungan antara umur dengan
kelelahan kerja, pada umur yang meningkat
akan diikuti dengan proses degenerasi dari
organ sehingga kemampuan organ akan
menurun. Hasil penelitina ini berbeda
dengan hasil riset Watuseke (2009), yakni
tidak terdapat hubungan yang signifikan
antara umur dengan kelelahan kerja, hal ini
dikarenakan tingkat pengalaman dan emosi
yang dimiliki oleh pekerja yang lebih tua
lebih stabil dibandingkan pekerja yang lebih
muda sehingga umur yang lebih tua dapat
bekerja dengan baik dan teratur, lancar dan
mantap.
Nilai p dan nilai koefisien korelasi
antara masa kerja dengan kelelahan kerja
nilai p = 0,001, r = 0,492 artinya terdapat
hubungan yang signifikan antara umur dan
masa kerja dengan kelelahan kerja. Hasil
penelitian ini sejalan dengan hasil riset
Atiqoh, Wahyuni dan Lestyanto (2014),
lamanya masa kerja akan mempengaruhi
stamina tubuh pekerja, sehingga akan
menurunkan ketahanan tubuh. Hasil
penelitian ini berbeda dengan hasil
penelitian Sinta, Yuantari dan Aswafi (2013)
yakni tidak ada hubungan antara masa kerja
dengan kelelahan kerja, hal ini terjadi karena
masa kerja hanya menggambarkan lama
kerja yang telah dilewati selama
bertahun-tahun, berbeda dengan waktu kerja yang
menggambarkan lama kerja seseorang pada
hari kerja, misalnya lembur dalam bekerja
yang beresiko terhadap terjadinya kelelahan
kerja.
Hubungan antara asupan energi
dengan kelelahan kerja diperoleh nilai p =
0,882, nilai r = 0,015 artinya tidak ada
korelasi atau hubungan antara asupan energi
dengan kelelahan kerja. Hasil penelitian ini
sejalan dengan hasil penelitian Langgar dan
Setyawati (2014), yakni asupan energi,
asupan protein, asupan lemak dan asupan
karbohidrat tidak ada hubungan dengan
kelelahan kerja. Asupan makanan yang
seimbang ialah makanan yang memenuhi
semua zat gizi yang dianjurkan, namun
kelebihan salah satu dari zat gizi tersebut
maka fungsi dari zat gizi bukan saling
melengkapi tetapi akan saling menggantikan
karena tiap zat gizi mempunyai fungsi dan
peran masing-masing. Tidak adanya
hubungan antara asupan energi dengan
kelelahan juga disebabkan karena asupan
energi bukan merupakan satu-satunya faktor
yang mempengaruhi kelelahan, kurangnya
relaksasi atau peregangan otot saat bekerja
juga dapat menyebabkan penimbunan asam
laktat pada otot yang memicu timbulnya
kelelahan (Tarwaka, 2010). Berbeda dengan
hasil penelitian yang diperoleh Purnamasari
dan Ulfah (2012), yakni faktor yang paling
berpengaruh terhadap terjadinya kelelahan
ialah tingkat konsumsi energi. Menurut
Lestari (2011), pekerja yang mempunyai
tingkat konsumsi energi defisit akan
meningkatkan peluang terjadinya kelelahan.
Nilai p dan koefisien korelasi untuk
asupan protein dengan kelelahan nilai p =
0,394, r = 0,086 artinya tidak ada korelasi
atau hubungan yang signifikan antara asupan
protein dengan kelelahan kerja. Peneliti
berasumsi bahwa tinggi atau rendahnya
asupan energi dan protein, karena makanan
yang dikonsumsi kurang lengkap atau salah
satu bahan makanan mendominasi bahan
makanan yang lain sehingga saling
menggantikan bukan melengkapi zat gizi
masing-masing bahan makanan. Sayogo
(2006) berpendapat, apabila asupan energi
terbatas atau kurang, protein akan digunakan
sebagai sumber energi alternatif. Oleh sebab
itu, dibutuhkan konsumsi karbohidrat dan
lemak yang cukup, sehingga protein dapat
digunakan sesuai fungsi utamanya, yaitu
pembentukan sel tubuh atau mengganti
jaringan yang rusak. Menurut Guyton dan
Hall (2008), terkait dengan tingkat
kecukupan konsumsi protein maka protein
akan berfungsi sebagai energi alternatif yang
menunjukan dominasi protein sebagai
sumber energi akan dilakukan sebagai
kompensasi apabila terjadi defisit energi.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil
penelitian Langgar dan Setyawati (2014)
yang menunjukkan tidak ada hubungan
asupan protein dengan kelelahan kerja.
Hasil analisis dapat perbedaan
antara kebiasaan merokok, kebiasaan
mengkonsumsi alkohol dengan kelelahan
kerja menggunakan uji T, dapat dilihat pada
Tabel 4.
Tabel 4. Hasil Analisis Perbedaan Kebiasaan Merokok, Alkohol, Status perkawinan dengan Kelelahan Kerja
Variabel p-value
Kebiasaan merokok dengan kelelahan kerja 0,089 Kebiasaan mengkonsumsi alkohol dengan kelelahan
kerja
0,492
Status perkawinan dengan kelelahan kerja 0,006
Tabel 4 menunjukkan, tidak ada perbedaan
signifikan kelelahan kerja berdasarkan
kebiasaan merokok (nilai p = 0,089 atau >
0,05). Hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian Marif (2013) yang menunjukkan
tidak terdapat hubungan antara merokok
dengan kelelahan karena baik perokok
mengalami kelelahan. Sebagian besar
TKBM berpendapat bahwa rokok
menjadikan stimulasi penyemangat dalam
bekerja, apabila merasa lelah atau bosan,
maka mereka akan menyempatkan waktu
untuk merokok. Hasil penelitian Budiasih
(2011) juga berbanding terbalik, yakni
terdapat hubungan yang bermakna antara
kebiasaan merokok dengan kelelahan dilihat
dari tingkat kebugaran jasmani. Hasil ini
sesuai dengan teori Tarwaka (2010) yang
menyatakan bahwa kebiasaan merokok akan
dapat menurunkan kapasitas paru-paru,
sehingga kemampuan untuk mengkonsumsi
O2 menurun, akibatnya tingkat kesegaran
juga menurun, sehinggga mudah mengalami
kelelahan.
Hasil analisis bivariat menunjukkan
tidak ada perbedaan signifikan kelelahan
kerja berdasarkan konsumsi alkohol (nilai p
= 0,492 atau > 0,05). Hasil penelitian ini
didukung oleh hasil penelitian Firdaus,
Sujoso dan Hartanti (2015), yang
menunjukkan bahwa tidak terdapat
hubungan bermakna antara kebiasaan
minum alkohol dengan kelelahan kerja. Hal
ini dikarenakan tidak semua responden
mengkonsumsi minuman beralkohol dan
responden yang mengkonsumsi minuman
beralkohol, tidak mengkonsumsi minuman
beralkohol secara terus-menerus setiap hari,
responden memiliki alasan tersendiri bahwa
mereka mengkonsumsi alkohol hanya saat
suka minum tidak setiap hari, responden
juga mengatakan bahwa alkohol dapat
menambah semangat saat bekerja, sehingga
hal ini menyebabkan uji hubungan antara
kebiasaan mengkonsumsi minuman
beralkohol dengan kelelahan kerja pada
TKBM di pelabuhan Samudera Bitung tidak
memiliki perbedaan bermakna secara
statistik. Hasil penelitian ini bertolak
belakang dengan teori yang mengatakan
bahwa konsumsi alkohol juga
mempengaruhi performa seseorang dalam
bekerja. Penelitian yang dilakukan oleh
mahasiswa di Universitas Helsinki Finlandia
pada pengemudi komersil membuktikan
bahwa konsumsi alkohol menimbulkan
kelelahan (Summala and Mikkola, 2015).
Hal ini terjadi karena jenis responden yang
berbeda, dalam riset ini yang menjadi
responden ialah tenaga kerja bongkar muat
sehingga hasil yang diperoleh juga berbeda.
Hasil analisis bivariat menunjukkan
ada perbedaan signifikan kelelahan kerja
berdasarkan status perkawinan (nilai p =
0,006 atau < 0,05) pada tenaga kerja
bongkar muat di pelabuhan Samudera
Bitung. Penelitian yang dilakukan oleh
Eraliesa tahun 2009 juga menemukan bahwa
terdapat hubungan yang bermakna antara
status perkawinan dengan tingkat kelelahan
yakni tenaga kerja dengan status kawin
mengalami kelelahan yang lebih tinggi
dibandingkan yang belum kawin. Sejalan
dengan pendapat Hestya yang disitasi oleh
Nisa dan Martiana (2013), bahwa seseorang
dengan status sudah menikah merupakan
suatu beban tersendiri, karena tanggung
jawab yang dipegang lebih besar daripada
seseorang yang belum menikah. Tenaga
kerja yang sudah berkeluarga dituntut untuk
memenuhi tanggung jawab tidak hanya
dalam hal pekerjaan melainkan juga dalam
hal urusan rumah tangganya untuk itu
dengan bertambahnya tanggung jawab maka
kerja. Suma’mur (2009) juga berpendapat bahwa tekanan hidup yang besar akan
mempengaruhi tingkat kelelahan.
4. Hasil Analisis Multivariat
Analisis multivariat dalam riset ini
menggunakan analisis multiple regression
linear atau disebut juga regresi linier ganda.
Model terakhir analisis multivariat dapat
dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Hasil Pemodelan Multivariat Akhir
Variabel R² Beta Sig
Masa kerja 0,243 0,492 0,001
Tabel 5 merupakan hasil pemodelan terakhir
setelah semua peubah yang memiliki nilai
signifikan > 0,05 dikeluarkan dari model
sehingga tersisa peubah bebas yakni masa
kerja. Hubungan masa kerja dengan
kelelahan kerja didapat nilai R² = 0,243 nilai
beta sebesar 0,492 dan nilai signifikan atau
nilai p = 0,001, sehingga dapat disimpulkan
bahwa faktor yang paling dominan
berhubungan dengan kelelahan kerja ialah
masa kerja. Masa kerja erat kaitannya
dengan kemampuan beradaptasi antara
seorang pekerja dengan pekerjaan dan
lingkungan kerjanya. Proses adaptasi dapat
memberikan efek positif yaitu dapat
menurunkan ketegangan dan peningkatan
aktivitas atau performasi kerja, sedangkan
efek negatifnya ialah batas ketahanan tubuh
yang berlebihan akibat tekanan yang
didapatkan pada proses kerja. Hal tersebut
yang menjadi sebab timbulnya kelelahan dan
membawa pada penurunan fungsi psikologi
dan fisiologi (Atiqoh, Wahyuni dan
Lestantyo, 2014).
Lama masa kerja masuk kedalam
faktor yang mempengaruhi kelelahan kerja.
Dalam hal ini kelelahan terjadi karena
lamanya bekerja akan berpengaruh terhadap
mekanisme dalam tubuh. Tekanan melalui
fisik pada suatu waktu tertentu
mengakibatkan berkurangnya kinerja otot,
gejala yang ditunjukkan juga berupa pada
makin rendahnya gerakan. Tekanan– tekanan yang terakumulasi setiap harinya
pada suatu masa yang panjang akan
menyebabkan kelelahan (Melati, Umboh dan
Ratag, 2013). Hal ini tidak sejalan dengan
hasil penelitian Pangemanan, Josephus dan
Rattu (2014) yakni tidak ada hubungan
antara masa kerja dengan kelelahan kerja,
menurut Soekidjo (2003), masa kerja yang
lama akan cenderung membuat seseorang
karyawan merasa betah dalam suatu
organisasi, hal ini disebabkan diantaranya
karena telah beradaptasi cukup lama dengan
lingkungan sehingga karyawan akan merasa
nyaman dengan pekerjaan
KESIMPULAN
1. Semakin tua umur, maka semakin tinggi
kelelahan kerja yang dirasakan oleh
tenaga kerja bongkar muat di pelabuhan
Samudera Bitung.
2. Semakin lama masa kerja, maka
semakin tinggi kelelahan kerja yang
dirasakan oleh tenaga kerja bongkar
muat di pelabuhan Samudera Bitung.
3. Asupan energi yang dikonsumsi tidak
dirasakan oleh tenaga kerja bongkar
muat di pelabuhan Samudera Bitung.
4. Asupan protein yang dikonsumsi tidak
signifikan dengan kelelahan kerja yang
dirasakan oleh tenaga kerja bongkar
muat di pelabuhan Samudera Bitung.
5. Tenaga kerja bongkar muat pelabuhan
Samudera Bitung yang merokok dan
tidak merokok, sama-sama merasakan
kelelahan kerja.
6. Tenaga kerja bongkar muat yang
mengkonsumsi alkohol dan tidak
mengkonsumsi alkohol, sama-sama
merasakan kelelahan kerja.
7. Tenaga kerja bongkar muat yang sudah
kawin memiliki tingkat kelelahan yang
lebih tinggi dibandingkan yang belum
kawin
8. Faktor yang paling dominan
mempengaruhi kelelahan kerja pada
TKBM di pelabuhan Samudera Bitung
ialah masa kerja.
SARAN
1. Bagi Pengelola Koperasi TKBM
Pelabuhan Samudera Bitung
a. Perlu adanya tim kesehatan dan
keselamatan kerja (K3) untuk
mengawasi TKBM selama bekerja
dan lingkungan kerja agar berbagai
faktor yang dapat meningkatkan
kelelahan, dapat dicegah
b. Masa kerja yang terlalu lama
merupakan salah satu faktor
penyebab yang dapat memperberat
kelelahan, sehingga dianjurkan
untuk memberikan waktu istirahat
atau libur atau cuti.
2. Bagi Tenaga Kerja Bongkar Muat
a. Sebaiknya mengurangi aktivitas
tambahan sesudah bekerja agar
tidak terlalu lelah
b. Sebaiknya tenaga kerja bongkar
muat mengkonsumsi makanan
yang seimbang agar jumlah energi
dan protein yang akan digunakan
untuk bekerja tercukupi
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
a. Pengukuran food recall 24 jam
sebaiknya dilakukan berulang pada
hari yang tidak berurutan, agar
hasil yang diperoleh lebih
representatif.
b. Perlu dilakukan riset lebih lanjut
mengenai gizi kerja pada tenaga
kerja bongkar muat di pelabuhan
Samudera Bitung
DAFTAR PUSTAKA
1. Andrias D. 2011. Hubungan Faktor
Individu Dengan Tingkat Kelelahan
Kerja Subyektif Pada Tenaga Kerja
Bagian Pengepakkan Di PT Indofood
Sukses Makmur tbk. Bogasari
Flourmilss Surabaya. Diakses melalui
laman :
file:///H:/JURNAL/jurnal/gdl.php.htmdi
akses
2. Anonim. 2009. Peraturan Pemerintah RI
Nomor 61 Tahun 2009 Tentang
Kepelabuhanan. Novindo Pustaka
Mandiri. Jakarta
3. Anonim. 2014. Penduduk Bekerja
Bertambah 6,2 Juta Orang,
Pengangguran Terbuka Turun 5,81%.
Artikel Humas BPS. Diakses melalui
http://setkab.go.id/bps-
penduduk-bekerja-bertambah-62-juta-orang-pengangguran-terbuka-turun-581/
4. Atiqoh J., I. Wahyuni dan Lestantyo.
2014. Faktor-Faktor Yang Berhubungan
Dengan Kelelahan Kerja Pada Pekerja
Konveksi Bagian Penjahitan Di CV
Aneka Garment Gunungpati Semarang.
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 2 No
2. Universitas Diponegoro. Diakses
melalui laman :
http://repository.unej.ac.id/bitstream/ha
ndle/123456789/73104/Novita
Firdaus.pdf?sequence=1
5. Eraliesa F. 2009. Hubungan Faktor
Individu Dengan Kelelahan Kerja Pada
Tenaga Kerja Bongkar Muat Di
Pelabuhan Tapaktuan. Skripsi. FKM
Universitas Sumatera Utara. Diakses
melalui laman :
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123
456789/14721/1/09E01076.pdf
6. Firdaus N., A D. Sujosa dan R I.
Hartanti. 2015. Hubungan Karakteristik
Responden Dan Kadar Timbal Dalam
Darah Dengan Kelelahan Kerja Pada
Operator SPBU. Artikel Ilmiah FKM
Universitas Jember. Diakses melalui
laman
:http://repository.unej.ac.id/bitstream/ha
ndle/123456789/73104/Novita%20Firda
us.pdf?sequence=1
7. Guyton and Hall. 2008. Bahan Ajar
Fisiologi Kedokteran. EGC. Jakarta
8. Hastono S.P dan L. Sabri. 2011.
Statistik Kesehatan. Rajawali Pers.
Jakarta
9. Langgar D.P dan V A. Setyawati. 2014.
Hubungan Antara Asupan Gizi Dan
Status Gizi Dengan Kelelahan Kerja
Pada Karyawan Perusahaan Tahu Baxo.
Fakultas Kesehatan Universitas Dian
Nuswantoro Semarang. Diakses melalui
laman:
http://eprints.dinus.ac.id/7935/1/jurnal_
13677.pdf.
10. Lestari R.D. 2011 Hubungan Antara
Konsumsi Kalori Dengan Kelelahan
Pada Tenaga Kerja Wanita Konfeksi
Pakaian Di Desa Loram Wetan
Kecamatan Jati Kabupaten Kudus.
Diakses melalui laman:
http://www.fkm.undip.ac.id
11. Markkanen P. 2004. Keselamatan Dan
Kesehatan Kerja Di Indonesia (Kertas
Kerja 9 April 2004). ILO Jakarta
12. Melati S., J. Umboh dan B. Ratag.
2013. Hubungan Antara Umur, Masa
Kerja Dan Status Gizi Dengan
Kelelahan Kerja. Jurnal FKM
UNSRAT. Diakses melalui:
http://fkm.unsrat.ac.id/wp-
content/uploads/2013/08/Jurnal-Srini-Melati-091511186-KESKER.pdf.
13. Nidya T., Ekawati dan D. Lestyanto.
2013. Hubungan Beban Kerja Fisik,
Kebisingan Dan Faktor Individu
Dengan Kelelahan Pekerja Bagian
Weaving. Jurnal Kesehatan Masyarakat
Universitas Diponegoro. Diakses
melalui laman :
http://download.portalgaruda.org/article
.php?article=73859&val=4700.
14. Nisa Z.A dan T. Martiana. 2013. Faktor
Yang Mempengaruhi Keluhan
Kelelahan Pada Teknisi Gigi Di
Laboratorium Gigi Surabaya. The
Indonesian Journal of Occupational
2013. Diakses melalui laman :
http://www.journal.unair.ac.id/filerPDF/
k372e5127c68full.pdf
15. Pangemanan B., J. Josephus dan J A.M.
Rattu. 2014. Hubungan Antara Stress
Dan Masa Kerja Dengan Kelelahan
Kerja Pada Pekerja Di Bagian Produksi
PT. Putra Karangetang Popontolen.
Jurnal FKM UNSRAT. Diakses melalui
laman :
http://fkm.unsrat.ac.id/wp-
content/uploads/2015/02/Bill-Pangemanan-101511134.pdf
16. Purnamasari D.U dan N. Ulfah. 2012.
Pengaruh Konsumsi Energi Dan Protein
Terhadap Kelelahan Pada Pekerja
Wanita Di Industri Bulu Mata Palsu PT.
Hyu Sung Purbalingga. FKIK. Diakses
melalui laman :
http://kesmas.unsoed.ac.id/content/peng
aruh-konsumsi-energi-dan-protein-
terhadap-kelelahan-pada-pekerja-wanita-di-industri-bulu
17. Riyanto A. 2011. Aplikasi Metodologi
Penelitian Kesehatan. Nuha Medika.
Yogyakarta
18. Sayogo S. 2006. Gizi Remaja Putri. FK
Universitas Indonesia. Jakarta
19. Sinta D.A.K dan N. Yuantari. 2013.
Hubungan Antara Faktor Individu
Dengan Kelelahan Pada Pekerja
Pembuat Tahu Di Pabrik Tahu
Kelurahan Jomblang Kecamatan
Candisari Semarang. Diakses melalui
laman :
http://eprints.dinus.ac.id/6489/2/abstrak
_12314.pdf.
20. Summala H and T. Mikkola. 2015. Fatal
Accidents among Car and Truck
Drivers: Effects of Fatigue, Age, and
Alcohol Consumption. The Journal of
The Human Factors and Ergonomics.
University of Helsinki Finlandia.
Available on :
http://hfs.sagepub.com/content/36/2/315
.short
21. Suma’mur P.K. 2009. Higiene Perusahaan Dan Kesehatan Kerja Edisi
1. Sagung Seto. Jakarta
22. Suma’mur P.K. 2014. Higiene Perusahaan Dan Kesehatan Kerja Edisi
2. Sagung Seto. Jakarta
23. Tarwaka. 2010. Ergonomi Industri:
Dasar–Dasar Pengetahuan Ergonomi Dan Aplikasi Di Tempat Kerja. Harapan
Press. Surakarta-Indonesia
24. Tyas G.L. 2010. Hubungan Tekanan
Panas Dan Beban Kerja Dengan
Kelelahan Kerja. FKM Universitas
Indonesia.
25. Watuseke A. 2011. Hubungan Antara
Umur Dan Masa Kerja Dengan
Kelelahan Kerja Pada Pekerja Bagian
Produksi Di CV.Piramid Kairagi Kota
Manado. E-journal FKM UNSRAT