• Tidak ada hasil yang ditemukan

289046537 Makalah Ekonomi Dan Politik Pembangunan Kel 7

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "289046537 Makalah Ekonomi Dan Politik Pembangunan Kel 7"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

DAN DAMPAK EKONOMINYA

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Otonomi Daerah (otda) menjadi bahasan menarik di masyarakat pasca reformasi Tahun 1998. Sebagian besar penduduk Indonesia mulai mengenal istilah otonomi daerah ini setelah diundangkan oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1999 yang berkenaan dengan pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia. Undang-undang tersebut kemudian direvisi pada tahun 2004 dengan tidak mengubah nama, yakni Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Selanjutnya Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah mengalami perubahan menjadi Undang-undang Nomor 12 Tahun 2008.

Dengan hadirnya regulasi ini maka tercipta pendelegasian wewenang yang lebih besar bagi daerah, terutama daerah kabupaten dan kota yang bertujuan untuk memberdayakan dan meningkatkan kemampuan perekonomian daerah, menciptakan sistem pembiayaan daerah yang adil, proporsional, dan transparan, meningkatkan partisipasi dan mengurangi kesenjangan antardaerah. Sementara bagi pemerintah pusat, dengan otonomi daerah akan membuat pemerintah pusat lebih fokus menangani hal-hal yang bersifat makro dan berorientasi mempersiapkan Indonesia menghadapi dunia globalisasi.

(2)

DAN DAMPAK EKONOMINYA Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Secara Nasional Tahun 2011. Penghargaan ini diberikan kepada pemerintah daerah baik kabupaten maupun kota di Indonesia yang menurut penilaian Kementerian Dalam Negeri masuk dalam kategori berprestasi sangat tinggi. Untuk peringkat dan status kinerja 10 (sepuluh) besar penyelenggaraan pemerintahan kota yang berprestasi paling tinggi secara nasional diberikan kepada: Kota Tangerang; Kota Madiun; Kota Yogyakarta; Kota Depok; Kota Medan; Kota Cimahi; Kota Surakarta; Kota Mojokerto; Kota Tegal; dan Kota Sawahlunto. Kesepuluh Kota ini dianggap oleh Kementerian Dalam Negeri sudah mampu melaksanakan otonomi daerahnya dengan sangat baik yang tentunya didukung dengan regulasi daerahnya masing-masing yang menjadi salah satu kewenangan bagi daerah otonom, salah satunya adalah regulasi ekonominya.

Dari kesepuluh kota di atas, kami tertarik untuk mempelajari lebih jauh tentang pelaksanaan otonomi daerah di Kota Yogyakarta terutama tentang kebijakan ekonomi pemerintahannya. Salah satunya adalah tentang kebijakan pembatasan usaha waralaba minimarket di Kota Yogyakarta.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Sekretariat Jenderal DPR RI diketahui bahwa persentase pertumbuhan bisnis waralaba dan kesempatan bisnis lokal pada tahun 2011-2012 mengalami peningkatan sebesar 11,7%. Pada tahun yang sama, persentase peningkatan waralaba asing di Indonesia mencapai 6,25%. Total peningkatan waralaba dalam negeri maupun luar negeri tahun tersebut mencapai 10,9%, dengan 47,9% merupakan kegiatan waralaba berupa restoran. Contoh toko modern adalah minimarket. Jumlah minimarket pada tahun 2010 mencapai 16.922 atau meningkat sekitar 42% dibandingkan tahun 2009 yang hanya berjumlah 11.927. Pada tahun 2005, total minimarket mencapai 6.465 outlet, tahun 2006 menjadi 7.356 outlet, dan tahun 2007 mencapai 8.889 outlet.1

(3)

DAN DAMPAK EKONOMINYA Melihat fakta bahwa pertumbuhan minimarket yang sangat pesat di Indonesia karena didukung oleh ketergantungan masyarakat yang juga besar pada minimarket ini, kami tertarik untuk mengetahui apa sebenarnya yang mendorong Pemerintah Kota Yogyakarta membatasi jumlah usaha waralaba minimarket di Kota Yogyakarta yang kemudian regulasinya ditetapkan dalam Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 79 Tahun 2010 tentang Pembatasan Usaha Waralaba Minimarket di Kota Yogyakarta pada tanggal 22 Nopember 2010. Selain itu, kami juga tertarik untuk mengetahui apa dampak ekonomi yang timbul atas kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta tersebut yang kami coba bahas dalam makalah dengan judul “Kebijakan Pembatasan Waralaba Minimarket di Kota Yogyakarta dan Dampak Ekonominya Bagi Masyarakat”.

B. Identifikasi Masalah

Sesuai dengan judul makalah ini yakni “Kebijakan Pembatasan Waralaba Minimarket di Kota Yogyakarta dan Dampak Ekonominya”, maka permasalahannya dapat diidentifikasi sebagai berikut:

1. Apa dasar hukum pembatasan usaha waralaba minimarket di Kota Yogyakarta?

2. Pertimbangan apa yang mendasari dikeluarkannya kebijakan pembatasan usaha waralaba minimarket di Kota Yogyakarta? 3. Bagaimana pelaksanaan kebijakan tersebut?

4. Apa dampak ekonomi yang ditimbulkan?

C. Pembatasan Masalah

Untuk memperjelas ruang lingkup pembahasan, maka masalah yang dibahas dibatasi pada:

1. Kebijakan pembatasan usaha waralaba minimarket di Kota Yogyakarta; dan,

(4)

DAN DAMPAK EKONOMINYA D. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah tersebut, masalah-masalah yang dibahas dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Bagaimana deskripsi kebijakan pembatasan waralaba minimarket di Kota Yogyakarta;

2. Apa dampak dari kebijakan pembatasan waralaba minimarket bagi masyarakat Kota Yogyakarta.

E. TUJUAN

Tujuan penulisan makalah ini selain untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Politik Pembangunan pada Program Sekolah Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada Tahun 2013, adalah untuk: 1. Mengetahui kebijakan pembatasan usaha waralaba

minimarket di Kota Yogyakarta;

2. Mengetahui dampak dari kebijakan pembatasan usaha waralaba minimarket bagi masyarakat Kota Yogyakarta.

F. MANFAAT PENULISAN

Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada semua pihak, khususnya yang berkaitan dengan kajian kebijakan politik yang berdampak pada ekonomi masyarakat.

G. METODE PENGUMPULAN DATA

(5)

DAN DAMPAK EKONOMINYA

BAB II

LANDASAN TEORI

A. REGULASI EKONOMI

(6)

DAN DAMPAK EKONOMINYA Teori regulasi ekonomi menekankan pada siapa yang mendapatkan manfaat dan siapa yang menanggung beban akibat adanya suatu regulasi atau aturan ekonomi. Regulasi ekonomi dikeluarkan oleh pemerintah sebagai suatu kebijakan dengan tujuan tertentu. Tetapi dalam kenyataannya manfaat yang diharapkan sering datang bersamaan dengan dampak negatif atau kerugian yang ditimbulkan oleh adanya regulasi tersebut. Teori regulasi ekonomi menganalisa dan membahas masalah regulasi yang menimbulkan implikasi ganda tersebut.

Jika manfaat dan kerugian yang terjadi akibat adanya regulasi yang menyebabkan perubahan alokasi sumberdaya telah diketahui sejak awal, maka kebijakan ekonomi melalui regulasi-regulasi pemerintah akan dilakukan dengan menekan sejauh mungkin akibat-akibat yang merugikan tersebut. Tetapi jika regulasi lebih banyak menimbulkan manfaat, maka regulasi tersebut diusahakan untuk diperluas agar manfaatnya tersebar seluas mungkin.

Secara lebih luas teori regulasi ditujukan untuk melihat manfaat dan kerugian individu di dalam suatu kelompok, yang bisa dikaitkan dengan teori optimal pareto. Arti teori optimal pareto ini adalah suatu proposisi tentang adanya perbaikan ekonomi, yang terjadi didalam masyarakat karena proses alokasi sumber-sumber ekonomi, tetapi tanpa mengakibatkan kerugian pada individu lainnya. Teori regulasi ekonomi tidak lepas dari proposisi tersebut karena regulasi harus diinstitusikan dengan manfaat sebanyak mungkin pada publik atau konstituen yang dikenai regulasi tersebut dengan dampak negatif kerugian yang minimal atau bila perlu tanpa harus menyebabkan yang lainnya merugi.

(7)

DAN DAMPAK EKONOMINYA Dalam perspektif pilihan publik, suatu peraturan bisa dipandang sebagai komoditas publik bagi yang mendapatkan manfaatnya. Masalah peraturan ini berada dalam domain peran negara. Peran negara dianggap mesin atau power, yang dianggap potensial menjadi sumberdaya ekonomi atau sebaliknya sebagai ancaman yang merugikan perusahaan-perusahaan atau industri.

Jadi posisi negara sangat jelas sebagai pemegang otoritas kekuasaan, tidak saja atas bidang politik tetapi juga untuk bidang ekonomi. Dalam bidang ekonomi, negara bisa mengeluarkan peraturan ekonomi, seperti proteksi, lisensi, pencadangan usaha, dan sebagainya.

Seperti pada pareto, suatu peraturan berdampak positif pada satu pihak tetapi dapat berdampak negatif pada pihak lain. Inilah yang menjadi pokok bahasan utama dari teori regulasi ekonomi karena adanya suatu peraturan yang diberlakukan oleh pemerintah. (Rachbini, 2004:13).

B. EKONOMI POLITIK

Menurut Stigler (Rachbini, 2006:89), ada dua alternatif pandangan tentang bagaimana peraturan diberlakukan. Pertama, peraturan dilembagakan terutama untuk memberlakukan proteksi dan kemanfaatan tertentu untuk publik atau sebagian sub-kelas dari publik tersebut. Tujuan adanya regulasi ekonomi adalah manfaat ekonomi yang diberikan oleh negara atau pemerintah kepada masyarakat. Kedua, suatu tipe analisa dimana proses politik dianggap sebagai suatu proses politik biasa dimana di dalam pasar politik ada permintaan dan penawaran barang publik berupa regulasi ekonomi. Jika konstituen tertentu merasa telah mendukung pemerintah dalam suatu kontrak politik seperti pemilihan umum, maka wajar jika konstituen tersebut meminta adanya regulasi ekonomi yang melindungi kepentingan ekonomi dan memberi manfaat kesejahteraan.

(8)

DAN DAMPAK EKONOMINYA 1. Rational choice

Asumsi dasar dari pendekatan rasional ini bahwa manusia pada dasarnya egois, rasional dan selalu berupaya untuk memaksimumkan utilitasdan keuntungan untuk dirinya. Dalam pandangan ini, individu sebagai aktor diasumsikan mempunyai serangkaian hak milik khusus (set of properties) termasuk seperangkat selera atau preferensi tertentu. Karena hak milik tersebut, maka manusia menjadi pelaku ekonomi yang mempunyai kapasitas untuk memutuskan secara rasional dalam memilih berbagai alternatif pilihan ekonomi. Pendekatan ini juga dapat digunakan untuk mempelajari sikap pemerintah dalam proses pengambilan keputusan bagi kebijakan publik.

2. Public choice

Public choice memusatkan kajiannya pada aspek fungsi pilihan sosial (social choice function) atau eksplorasi terhadap pencapaian kesejahteraan sosial (properties of social welfare). Penekanan dalam menilai keputusan-keputusan yang rasional oleh pemerintah.

C. KEBIJAKAN PUBLIK

Studi kebijakan publik dapat menempatkan kebijakan publik sebagai independent variable sehingga berusaha mengidentifikasi apa dampak dari suatu kebijakan publik.

Kebijakan publik menurut Thomas Dye dalam Subarsono (2009:2) adalah apapun pilihan pemerintah untuk melakukan atau tidak melakukan (public policy is whatever goverment choose to do or not to do). Konsep tersebut sangat luas karena kebijakan publik mencakup sesuatu yang tidak dilakukan oleh pemerintah di samping yang dilakukan oleh pemerintah ketika pemerintah menghadapi sesuatu masalah publik.

Definisi kebijakan publik dari Thomas Dye tersebut mengandung makna bahwa :

(9)

DAN DAMPAK EKONOMINYA 2. Kebijakan publik menyangkut pilihan yang harus dilakukan atau tidak dilakukan oleh badan pemerintah. Kebijakan pemerintah untuk tidak membuat program baru atau tetap pada status quo, misalnya adalah sebuah kebijakan publik.

James E. Anderson (ibid:2) mendefinisikan kebijakan publik sebagai kebijakan yang yang ditetapkan oleh badan-badan dan aparat pemerintah. Walaupun disadari bahwa kebijakan publik dapat dipengaruhi oleh para aktor dan faktor dari luar pemerintah. Lingkup kebijakan publik sangat luas karena mencakup berbagai sektor atau bidang pembangunan, seperti kebijakan publik di bidang pendidikan, pertanian, kesehatan, transportasi, pertahanan dan sebagainya. Namun yang akan kami bahas di sini adalah kebijakan Pemerintah Kota Yogyakarta di bidang ekonomi dan bagaimana kebijakan tersebut mampu mendistribusikan nilai kepada masyarakat.

BAB III PEMBAHASAN

A. PROFIL KOTA YOGYAKARTA

(10)

DAN DAMPAK EKONOMINYA memiliki 14 Kecamatan, dengan batas wilayah sebelah utara Kabupaten Sleman, sebelah timur Kabupaten Bantul dan Sleman, sebelah selatan Kabupaten Bantul, sebelah barat Kabupaten Bantul dan Sleman.

Jarak terjauh dari utara ke selatan kurang lebih 7.5 Km dan dari barat ke timur kurang lebih 5.6 Km. Kota Yogyakarta yang terletak di daerah dataran lereng aliran Gunung Merapi memiliki kemiringan lahan yang relatif datar (antara 0-2%) dan berada pada ketinggian rata-rata 114 meter dari permukaan air laut. Sebagian wilayah dengan luas 1.657 hektar terletak pada ketinggian kurang dari 100 meter dan sisanya (1.593 hektar) berada pada ketinggian antara 100-199 meter. Sebagian besar jenis tanahnya adalah regosol. Terdapat tiga sungai yang mengalir dari arah utara ke selatan, yaitu Sungai Gajah Wong yang mengalir di bagian timur Kota Yogyakarta, Sungai Code di bagian tengah Kota Yogyakarta dan Sungai Winongo di bagian barat Kota Yogyakarta.

Kota Yogyakarta memiliki satu bandara, yaitu Bandara Adi Sutjipto dan memiliki satu kawasan industri, yaitu Kawasan Pengembangan Pasar Seni dan Kerajinan Kecamatan Umbulharjo. Walikota Yogyakarta saat ini adalah Hayadi Suyuti dan Wakil Walikota, Imam Priyono.

Pendapatan Domestik Regional Bruto Daerah (PDRBD) Kota Yogyakarta meliputi sektor Pertanian, Pertambangan, Industri Pengolahan, Listrik dan Air Bersih, Perdagangan, Hotel, Restoran, Angkutan/Komunikasi, Bank/Keuangan/Perumahan, dan Jasa. Untuk bisnis waralaba minimarket termasuk dalam sektor perdagangan. Berdasarkan Data BPS Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang di-update tanggal 10 Agustus 2012 diketahui bahwa Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran menjadi penyumbang pendapatan daerah terbesar dalam kurun dua tahun terakhir seperti yang dapat dilihat pada tabel berikut:

(11)

DAN DAMPAK EKONOMINYA

Listrik dan Air Bersih 201.243 0,9

Sumber: BPS Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2012

B. KEBIJAKAN PEMBATASAN WARALABA MINIMARKET

(12)

DAN DAMPAK EKONOMINYA Faktanya, Pemerintah Kota Yogyakarta serius menanggapi hal ini. Terbukti dengan diterbitkannya Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 79 Tahun 2010 tentang Pembatasan Usaha Waralaba Minimarket di Kota Yogyakarta yang ditetapkan sejak tanggal 22 Nopember 2010. Peraturan Walikota ini diterbitkan berdasarkan hasil evaluasi terhadap Pelaksanaan Peraturan Walikota Nomor 89 Tahun 2008 tentang Pembatasan Usaha Waralaba Minimarket Di Kota Yogyakarta. Selain itu, melalui peraturan ini diharapkan dapat memberdayakan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah serta mencegah terjadinya penguasaan pasar dan pemusatan usaha oleh orang-perseorangan atau kelompok tertentu yang telah mempunyai jaringan usaha secara nasional yang merugikan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah di wilayah Kota Yogyakarta.

Pembatasan yang dimaksudkan dalam Peraturan Walikota tersebut menyebutkan bahwa usaha waralaba minimarket harus berjarak paling dekat 400 (empat ratus) meter dari pasar tradisional. Selain pengaturan jarak, Peraturan Walikota tersebut juga membatasi lokasi yang dibolehkan untuk usaha waralaba minimarket seperti dalam tabel berikut:

Tabel 2. Jalan-jalan di Kota Yogyakarta yang Diperbolehkan untuk Usaha Waralaba Minimarket

N

o Nama Jalan

N

o Nama Jalan

1 Jalan Abu Bakar Ali 22 Jalan Ngeksigondo 2 Jalan Adi Sucipto 23 Jalan Parangtritis 3 Jalan AM Sangaji 24 Jalan Perintis

Kemerdekaan 4 Jalan Bantul 25 Jalan Piere Tendean 5 Jalan Bhayangkara 26 Jalan Pramuka

6 Jalan Brigjen Katamso 27 Jalan RE Martadinata 7 Jalan Dr. Sutomo 28 Jalan Suryopranoto 8 Jalan Gajah Mada 29 Jalan Tamansiswa 9 Jalan Gayam 30 Jalan Urip Sumoharjo 10 Jalan Gandekan Lor 31 Jalan Veteran

11 Jalan Gedong Kuning 32 Jalan Jend. Sudirman 12 Jalan HOS Cokroaminoto 33 Jalan Prof. Yohanes 13 Jalan Ipda Tut

Harsono/Timoho

34 Jalan Hayam wuruk

(13)

DAN DAMPAK EKONOMINYA N

o Nama Jalan

N

o Nama Jalan

15 Jalan KH Wakhid Hasyim 36 Jalan DI. Panjaitan 16 Jalan Kusumanegara 37 Jalan Sisingamangaraja 17 Jalan Kyai Mojo 38 Jalan Sorogenen

18 Jalan Magelang 39 Jalan Tegalturi 19 Jalan Malioboro 40 Jalan Glagahsari 20 Jalan Mataram 41 Jalan Dagen 21 Jalan Menteri Supeno

Sumber: Lampiran II Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 79 Tahun 2010

Jumlah usaha waralaba minimarket juga menjadi hal yang dibatasi dan tertuang dalam Peraturan Walikota tersebut yang dibagi berdasarkan jumlah kecamatan yang ada di Kota Yogyakarta dengan ketentuan jumlah sebagai berikut:

Tabel 3. Jumlah Maksimal Usaha Waralaba Minimarket di Tiap Kecamatan

Sumber: Lampiran II Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 79 Tahun 2010

Dari tabel di atas diketahui bahwa jumlah usaha waralaba minimarket yang sesuai ketentuan Peraturan Walikota tidak akan lebih dari 52 gerai.

C. PELAKSANAAN KEBIJAKAN

(14)

DAN DAMPAK EKONOMINYA Selama ini pendirian toko modern seperti minimarket diatur oleh pemerintah daerah dan banyak menjamur dengan alasan guna meningkatkan pendapatan asli daerah. Oleh karena itu, harus dihindari implementasi peraturan di tingkat pusat terdistorsi di lapangan akibat pemerintah daerah menerbitkan aturan sendiri yang bertentangan dengan peraturan di atasnya. Pemerintah Kota Yogyakarta menerbitkan kebijakan pembatasan usaha waralaba lebih cepat dua tahun dibandingkan pemerintah pusat. Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 79 Tahun 2010 tentang Pembatasan Usaha Waralaba Minimarket di Kota Yogyakarta ditetapkan sejak tanggal 22 Nopember 2010, dan Pemerintah Pusat baru mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia dengan Nomor 68/M-DAG/PER/10/2012 tentang Waralaba untuk Jenis Usaha Toko Modern yang membatasi jumlah gerai/outlet waralaba minimarket di tiap daerah tidak boleh lebih dari 150 gerai yang ditetapkan sejak tanggal 29 Oktober 2012. Pada pelaksanaannya Peraturan Menteri Perdagangan tersebut sudah terakomodir dalam Peraturan Walikota. Karena pada dasarnya, Pemerintah Kota Yogyakarta sepertinya sudah lebih dulu memahami bahwa pengaturan mengenai toko modern seperti minimarket merupakan bagian dari pengelolaan perekonomian nasional. Pasal 33 ayat (1) dan ayat (4) dalam UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 memberikan pedoman mengenai dasar dan penyelenggaraan perekonomian nasional. Pasal 33 ayat (4) menyatakan, perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi-berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.

(15)

DAN DAMPAK EKONOMINYA serta keteraturan dalam berbagai kegiatan seperti perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan penilaian, yang akan menghasilkan kesejahteraan.

Asshiddiqie (2010:...) menyatakan, kegiatan ekonomi digerakkan oleh mekanisme pasar yang dikendalikan oleh pemerintah menuju ekonomi pasar yang efisien, tetapi berkeadilan. Peran pemerintah, tidak terbatas hanya sebagai regulator, tetapi juga melakukan tindakan yang diperlukan dan bahkan menjadi pelaku langsung apabila timbul eksternalitas negatif, kegagalan dalam mekanisme pasar, ketimpangan ekonomi, atau kesenjangan sosial.

Dalam perkembangannya, penetrasi pembangunan pasar modern jauh melambung tinggi dibanding pasar tradisional yang pertumbuhannya cederung negatif. Dalam survei AC Nielson, pasar modern telah tumbuh sebesar 31,4%. Bersamaan dengan itu, pasar tradisional telah tumbuh secara negatif sebesar 8%. Berdasarkan data tersebut, para ekonom kemudian memprediksi bahwa dalam kurun waktu 12 tahun lagi, pasar tradisional akan habis tersapu oleh ekspansi pasar modern.

Secara umum terdesaknya pedagang pasar tradisional atau pebisnis retail lokal, di antaranya dalam bentuk menurunnya omset penjualan. Salah satu penelitan yang dilakukan di daerah Yogyakarta menemukan, penurunan rata-rata sebesar –5,9%, di mana penurunan yang lebih besar dialami oleh kelompok pedagang dengan aset antara Rp 5-15 juta, Rp 15-25 juta, dan di atas Rp 25 juta, yang masing-masing mengalami penurunan sebesar –14,6%, –11%, dan – 20,5%. Berdasarkan kewilayahan, penurunan omset tertinggi dialami oleh pedagang di kota Yogyakarta dan kabupaten Sleman, masing-masing sebesar – 25,5% dan – 22,9% (sumber : www.pasardana.com dalam artikel yang berjudul “12 Tahun Lagi Pasar Tradisional Bakal Tutup”).

(16)

DAN DAMPAK EKONOMINYA kebanyakan berkembang secara alamiah saja. Dari segi kelengkapan barang, pasar tradisional lebih mampu menghadirkan aneka macam barang yang diinginkan pelanggan karena memiliki divisi khusus marketing yang memang bertugas untuk mengembangkan penjualan. Dari sisi harga, pasar modern sangat mungkin memberikan harga yang relatif murah oleh karena peritel besar biasanya menjadi rantai distribusi paling pertama dari sebuah produk, yang memungkinkan peritel tersebut mendapatkan harga khusus. Di samping itu juga, peritel besar telah memproduksi sendiri beberap produk hingga harga jualnya pun semakin bisa bersaing dengan pasar tradisional.

Bila harga dan keanekaragaman barang yang dimiliki pasar modern ternyata sebanding dengan pasar tradisional, maka sudah bisa dipastikan para pembeli atau masyarakat akan lebih memilih berbelanja di pasar modern oleh karena dari sisi kenyamanan dan pelayanan serta keamanan, sudah jelas jauh lebih baik dibanding pasar tradisional.

Terancamnya kelangsungan pasar tradisional juga bisa berimbas kepada perkembangan industri kecil lainnya yang baru bisa memasarkan produknya di pasar tradisional. Oleh karena peritel besar cenderung memiliki standarisasi produk yang lebih tinggi, yang mungkin saja belum bisa dipenuhi oleh industri kecil.

Mencermati kondisi yang tidak seimbang ini, pasar modern tidak seharusnya dibiarkan bersaing secara bebas dengan pasar tradisional. Karena hal ini justu bisa bermuara pada praktek monopoli dan oligopoli. Untuk itu diperlukan regulasi dari pemerintah untuk melindungi pasar tradisional agar bisa terus hidup dan berkembang.

(17)

DAN DAMPAK EKONOMINYA a. Memperjualbelikan barang/jasa kebutuhan sehari-hari

secara eceran;

b. Melibatkan banyak pedagang eceran berskala kecil; c. Bangunan dan fasilitas pasarnya relatif sederhana;

d. Pemilikan dan pengelolaannya umumnya oleh pemerintah daerah.

Ketika toko modern milik asing menjamur dan membuat pasar tradisional sulit berkembang, maka pemerintah melakukan penataan melalui peraturan menteri dalam negeri, termasuk kewajiban melakukan kemitraan dengan usaha melakukannya. Pemerintah Kota Yogyakarta sudah melakukan pembatasan jumlah usaha waralaba minimarket, yakni hanya mengizinkan sebanyak 52 (lima puluh dua) saja di wilayah Kota Yogyakarta dengan mempertimbangkan jumlah pasar tradisional yang sudah lebih dulu ada dan berkembang di Kota Yogyakarta. Berikut daftar pasar tradisional di Kota Yogyakarta:

Tabel 4. Pasar Tradisional di Kota Yogyakarta N

o

Pasar

Tradisional Alamat

1 Bringharjo Jalan Pabringan Nomor 1 2 Pathuk Jalan Bhayangkara

3 Kranggan Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 20

4 Pingit Jalan Kyai Mojo 5 Kembang Jalan Pasar Kembang 6 Karangwaru Jalan Magelang

7 Demangan Jalan Gejayan Nomor 28

8 Reksonegaran Jalan Urip Sumoharjo Nomor 22 9 Terban Jalan C. Simanjuntak

10 Gendeng Jalan Tri Dharma 11 Sanggarahan Jalan Mawar

(18)

DAN DAMPAK EKONOMINYA

15 Ledog Gm Lobaninggratan – Prawirodirjan 16 Paco Kusumanegara

17 Kotagede Mondorakan Nomor 172 18 Gedongkuning Kebun Raya

19 Tunjungsari Menteri Supeno Nomor 46 20 Giwangan Imogiri Nomor 212

21 Sarangan R.E. Martadinata 22 Legi Bugisan Nomor 12

23 Sonen Kampung Pathuk RT 33/RW 07 24 Suryobranten K.H. Ahmad Dahlan Nomor 134 25 Ngasem Polowijo Nomor 11

Sumber: Dinas Pengelolaan Pasar Kota Yogyakarta Tahun 2009

2. Analisa Ekonomi Politik a. Aspek Ekonomi

(19)

DAN DAMPAK EKONOMINYA 1) Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 79 Tahun 2010 tentang Pembatasan Usaha Waralaba Minimarket di Kota Yogyakarta yang ditetapkan sejak tanggal 22 Nopember 2010 dikeluarkan pada masa kepemimpinan Herry Zudianto.

2) Latar belakang profesi Sang Walikota, Herry Zudianto adalah pengusaha. Beliau memang memiliki usaha retail tetapi dalam bidang dan jenis yang berbeda. Herry Zudianto memiliki Toko Batik Margaria, Toko Busana Muslim Al Fath, Karita, Annisa, dan Arrahma yang keseluruhannya tergabung dalam Margaria Group dan Al Fath Group, dan ini bukan termasuk jenis usaha waralaba minimarket. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada kepentingan ekonomi pribadi Sang Walikota dalam hal pembatasan usaha waralaba minimarket di Kota Yogyakarta ini;

3) Kebijakan pembatasan usaha waralaba minimarket ini lebih pada usaha menyelamatkan para pelaku usaha mikro, khususnya para pedagang tradisional agar tidak tergerus dengan keberadaan waralaba minimarket yang semakin menjamur;

(20)

DAN DAMPAK EKONOMINYA Pendapatan yang rutin setiap bulan dan harinya ini jauh lebih memberikan keuntungan bagi Pemerintah Kota Yogyakarta dibandingkan dengan pendapatan dari retribusi izin usaha waralaba minimarket. Kalaupun ada biaya tambahan lain adalah kemungkinan perpanjangan izin usaha dan ini tidak rutin setiap harinya. Pemasukan rutinnya dari usaha waralaba minmarket yang diperoleh Pemerintah Kota Yogyakarta hanya dari retribusi pelayanan kebersihan/persampahan mengingat lokasi dan tempat usaha waralaba minimarket dimiliki secara pribadi bukan milik pemerintah.

b. Aspek Politik

Herry Zudianto mengeluarkan Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 79 Tahun 2010 tentang Pembatasan Usaha Waralaba Minimarket di Kota Yogyakarta ini di masa-masa akhir kepemimpinannya. Peraturan ini dikeluarkan satu tahun menjelang masa kepemimpinan periode keduanya berakhir. Jika melihat kondisi seperti ini tidak tampak adanya kepentingan politik pribadi Sang Walikota pada masa itu. Kebijakan pembatasan usaha waralaba minmarket di Kota Yogyakarta ini murni sebagai bentuk kebijaksanaan Sang Walikota untuk menyelamatkan perekonomian warga masyarakatnya.

D. DAMPAK EKONOMINYA BAGI MASYARAKAT KOTA YOGYAKARTA

1. Dampak Positif

Diberlakukannya Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 79 Tahun 2010 tentang Pembatasan Usaha Waralaba Minimarket di Kota Yogyakarta tentu memiliki tujuan yang berdampak langsung pada aspek ekonomi masyarakatnya yang antara lain untuk:

(21)

DAN DAMPAK EKONOMINYA b. Mencegah pembentukan struktur pasar yang dapat melahirkan persaingan yang tidak wajar dalam bentuk monopoli, oligopoli dan monopsoni yang merugikan usaha mikro, kecil dan menengah;

c. Mencegah terjadinya penguasaan pasar dan pemusatan usaha oleh orang-perseorangan atau kelompok orang atau badan tertentu yang dapat merugikan usaha mikro, kecil dan menengah;

d. Menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan usaha mikro, kecil dan menengah menjadi usaha yang tangguh dan mandiri;

e. Meningkatkan peran usaha mikro, kecil dan menengah dalam perluasan kesempatan kerja dan berusaha serta peningkatan dan pemerataan pendapatan yang seimbang, berkembang dan berkeadilan.

f. Mengurangi perilaku konsumtif masyarakat Kota Yogyakarta;

g. Menjaga nilai tradisi/orisinalitas kebiasaan masyarakat Kota Yogyakarta, contoh: bersosialisasi di angkringan;

h. Kebijakan pembatasan usaha waralaba minimarket di Kota Yogyakarta menjadi manifestasi perlindungan dan pengembangan pasar tradisional.

2. Dampak Negatif

a. Membatasi peluang berusaha atau peluang atas datangnya investor-investor khususnya yang akan bergerak di bidang waralaba minimarket.

b. Mengurangi kesempatan kerja bagi penduduk lokal;

(22)

DAN DAMPAK EKONOMINYA

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Langkah Pemerintah Kota Yogyakarta telah menunjukkan keberpihakan pemerintah terhadap sektor ekonomi informal, khususnya dalam hal perlindungan dan pengembangan pasar tradisional;

2. Persaingan ketat antara pasar modern dan pasar tradisional nampak dari perkembangan pasar modern yang menawarkan berbagai kelebihan secara tidak terbendung. Keberadaan pasar ini membawa dua dampak baik positif maupun negatif. Perkembangan yang tidak dikendalikan dan diarahkan akan mengancam pasar tradisional sebagai pemain lama dengan segala image yang melekat kepadanya. Namun di sisi lain pasar modern juga berperan sebagai pesaing yang menstimulus pasar tradisional untuk melakukan perbaikan dan meningkatkan daya saingnya. Kondisi ini merupakan tantangan bagi pemerintah untuk dapat mengatur dan memberi ruang gerak yang adil dan seimbang bagi perkembangan dua pasar tersebut untuk menciptakan kepuasan bagi semua pihak termasuk masyarakat sebagai konsumen;

(23)

DAN DAMPAK EKONOMINYA pemerintah di era otonomi daerah ini menjadi lebih leluasa untuk menciptakan produk hukum yang lebih berkeadilan dan tepat sasaran.

B. Saran

1. Perlindungan dan pengembangan pasar tradisional maupun sektor ekonomi informal lainnya (misalnya, toko kelontong) melalui upaya pembatasan waralaba minimarket saja belum cukup. Untuk itu, harus diikuti dengan upaya yang komprehensif dan integral untuk mengangkat usaha para pedagang kecil, antara lain :

a. Melindungi eksistensi pasar tradisional melalui revitalisasi pasar tradisional;

b. Mengangkat usaha pedagang dengan menyediakan akses permodalan yang lebih mudah;

c. Memastikan kebijakan dalam bentuk Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 79 Tahun 2010 tentang Pembatasan Usaha Waralaba Minimarket di Kota Yogyakarta dapat dilaksanakan dengan baik dengan memberikan sanksi tegas atas setiap pelanggaran yang dilakukan.

2. Dengan adanya usaha waralaba minmarket di Kota Yogyakarta dan agar tercipta kondisi yang harmonis maka dapat dibangun hubungan mitra kerja dengan pelaku usaha ekonomi mikro lokal di Kota Yogyakarta sehingga tercipta kondisi persaingan yang lebih baik;

(24)

DAN DAMPAK EKONOMINYA

DAFTAR PUSTAKA

Buku:

Asshiddiqie, J. 2010. Konstitusi Ekonomi. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Nasution, M. 2007. Mewujudkan Demokrasi Ekonomi dengan Koperasi.

Jakarta: Penerbit PIP Publishing.

Rachbini, Didik J. 2004. Ekonomi Politik Kebijakan dan Strategi Pembangunan. Jakarta: Penerbit Granit.

_________________. 2006. Ekonomi Politik dan Teori Pilihan Publik. Bogor: Ghalia Indonesia.

Subarsono, AG. 2009. Analisis Kebijakan Publik Konsep, Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Jurnal:

Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Publik: “Kebijakan Pembatasan Waralaba Restoran dan Toko Modern”. Vol. V, No. 04/II/P3DI/Februari/2013. Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Sekretariat Jenderal DPR RI;

Jurnal Bisnis dan Ekonomi (JBE): “Analisis Industri Ritel di Indonesia”. Vol. 15, No. 2, September 2008. Universitas Stikubank Semarang.

Website:

(25)

DAN DAMPAK EKONOMINYA http://pasardana.com/tag/omzet, diakses pada tanggal 29 Oktober 2013

Gambar

Tabel 2. Jalan-jalan di Kota Yogyakarta yang Diperbolehkan untuk Usaha Waralaba Minimarket
Tabel 3. Jumlah Maksimal Usaha Waralaba Minimarket di Tiap

Referensi

Dokumen terkait

dokumen kualifikasi yang ASLI dan Hard copy dokumen penawaran sesuai file yang.. telah diupload (diunggah) pada aplikasi SPSE Pemerintah

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan kultur teknis yang diterapkan secara terpadu seperti penggunaan media cocopeat , pupuk NPK hidrokompleks dan M-phospat,

Kantor Akuntan Publik (KAP) akan melakukan prosedur review dan kontrol kualitas ini dengan baik karena dapat mencegah adanya penyimpangan yang dilakukan oleh auditor

Skripsi dengan judul “Tingkat Pengetahuan Pegawai Negeri Sipil Kabupaten Pamekasan mengenai Program “ Smart City – E-Government ” oleh Pemerintahan Daerah

Dari kegiatan advokasi untuk perbaikan tata kelola hutan dan lahan di Sumatera Selatan yang dilaksanakan LBH Palembang pada tahun 2018, ditemukan ada 2 (dua) kasus

Sehubungan dengan penawaran yang masuk kurang dari 3 (tiga), dan telah dilakukannya evaluasi administrasi, evaluasi teknis, evaluasi harga untuk penawaran paket

daerah memiliki peran yang signifikan dalam implementasi standar sarana & prasarana.. • Standar sarpras

Utility secara bahasa berarti berguna (usefulness), membantu (helpfulness) atau menguntungkan (advantage). Dalam konteks ekonomi, utilitas dimaknai sebagai kegunaan