1
Vol.XX/No.7/Okt-Des/2012
PENGATURAN PENGGUNAAN PROPERTI / TEMPAT TINGGAL BAGI ORANG ASING DI INDONESIA1
(REGULATION OF USING PROPERTY/ RESIDENCE TO FOREIGNERS IN INDONESIAN)
Oleh : Yurisal Deviton Aesong2 [email protected]
ABSTRACT
Property/residence is also the right of foreigners according international law, but the rule in Indonesia has not been enough comprehensive in its regulation, which caused the markets of foreign property have not shown the results according with expectations, even, indeed it often happens the smuggling law This research uses the method of normative legal research, by basing it on the secondary data include primary legal materials, secondary, and tertiary obtained from the library research. The results showed as that the rights of every person, including a foreigner to occupy the dwelling/residence, so, a foreigner can use the properties of house in Indonesia, with the Use Rights or Lease Rights. The use of property by foreigners in Indonesia, based on the provisions of Article 42 and Article 45 letter b of Act No.5 Year of 1960 concerning The Basic Regulation of Agrarian Law.
Kata kunci : properti asing, hak pakai atau hak sewa, orang asing, tempat tinggal/hunian bagi orang asing.
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Land is a fundamental resource of the nation state. Without land, without
territory, there can be no nation state. Housing, agriculture, natural resource use,
and national security concerns are all based upon land management and use.3 Menurut Maria S.W. Sumardjono, karena sifatnya yang langka dan terbatas, serta merupakan kebutuhan dasar setiap manusia inilah maka pada hakekatnya masalah tanah merupakan masalah yang sangat menyentuh keadilan.4
1
Artikel Tesis, Pembimbing Tesis : Prof. Dr. Madjid Abdullah, SH,MH, Dr. Devy Sondakh, SH,MH, dan Dr. J. Ronald Mawuntu, SH,MH.
2
NIM : 1023208003, Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Sam Ratulangi, Manado, 2012.
3
Hodgson, S. C. Cullinan, C. & Campbell, K. 1999. Land Ownership And Foreigners : A Comparative Analysis Of Regulatory Approaches To The Acquisition And Use Of Land By Foreigners, FAO Legal Papers Online, page 1.
4
2
Kebutuhan dasar tersebut salah satunya yaitu tempat tinggal atau hunian yang merupakan hak setiap orang, sebagaimana juga ditegaskan dalam Undang-undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) bahwa “setiap orang
bebas memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak
kembali”5, ditentukan juga bahwa “setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan
batin, serta bertempat tinggal”.6
Hak atas perumahan juga diatur dalam Kovenan tentang Hak-hak Ekonomi,Sosial, dan Budaya (Kovenan Ekosob) bahwa “setiap orang mempunyai hak atas perumahan, dan Negara harus menjamin bahwa hak ini dilaksanakan tanpa diskriminasi apa pun”.7
Properti dianggap sebagai bisnis yang tak akan pernah lekang selama bumi masih ada. Populasi manusia senantiasa meningkat dan manusia selalu membutuhkan tempat tinggal, dan tempat tinggal merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi manusia.8 Ketika industri properti mengalami masa-masa keemasannya tahun 1990-an, ada gagasan untuk memasarkan properti kepada orang asing, oleh karena itu pada tahun 1996 diterbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 40 Tahun 1996 tentang Hak Guna Usaha (HGU), Hak Guna Bangunan (HGB), dan Hak Pakai (HP) bersamaan dengan PP Nomor 41 tahun 1996 tentang Pemilikan Rumah Tempat Tinggal atau Hunian oleh Orang Asing yang Berkedudukan di Indonesia, serta menerbitkan peraturan pelaksanaannya.9
Indonesia merupakan tujuan tempat tinggal yang sangat menarik dan menyenangkan bagi orang asing, namun aturan saat ini belum cukup komprehensif mengatur hak atas tempat tinggal bagi orang asing yang menyebabkan pasar properti asing di Indonesia belum menunjukkan hasil yang sesuai dengan harapan, bahkan dalam kenyataannya sering terjadi penyelundupan hukum oleh WNA, serta umumnya, kalangan pengusaha/ pengembang properti berpendapat bahwa Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1996 terlalu singkat, jadi tidak dapat mengakomodasi
5
Indonesia, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945, Pasal 28E ayat (1).
6
Ibid, Pasal 28 H ayat (1).
7
PBB, Konvensi tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, Pasal 11 ayat (1).
8
Anditya dan Nasution, T.F. 2010. Trik Suskses menjadi Pengusahan Properti, Penerbit C.V Andi Offset, Yogyakarta, hlm 2.
9
3
kepentingan orang asing akan tempat tinggal10. Tata kelola untuk menempati/ menghuni tempat tinggal juga merupakan hal yang harus diperhatikan oleh pemerintah saat ini terutama dalam hal pengawasan dan pengendalian terhadap sistem kelembagaan perumahan di tanah air, sampai saat ini belum ada lembaga yang bisa mengendalikan berapa banyak unit apartemen yang dapat dibeli oleh orang asing, di lokasi-lokasi mana saja, sampai kapan saja semua masa pakai dan masa sewa itu habis, dan bagaimana mengelola tata cara perpanjangannya dengan baik, menyebabkan segala sesuatu tidak terkendali dan terencana.11 Pemerintah saat ini tengah menyusun berbagai inisiatif yang terkait dengan sektor properti asing, di antaranya terkait dengan penggunaan, pemanfaatan tanah, pembelian serta pembiayaan properti., pemerintah juga berencana merevisi PP No. 41 Tahun 1996, serta menetapakan batas minimal harga properti yang bisa dibeli oleh WNA.12
2. Perumusan Masalah
Adapun permasalahan pokok dalam penulisan ini, yaitu :
1. Apakah orang asing berhak atas properti/tempat tinggal di Indonesia berdasarkan hukum internasional?
2. Bagaimana penggunaan properti/tempat tinggal bagi orang asing di Indonesia? 3. Apa alternatif pengaturan jika pemilikan properti/tempat tinggal bagi orang asing
dibuka/ diizinkan? 3. Tujuan Penulisan
Berdasarkan perumusan masalah yang tersebut di atas, maka yang menjadi tujuan penulisan ini, yaitu :
1. Mempelajari serta menganalisa hak atas properti/ tempat tinggal bagi orang asing di Indonesia berdasarkan hukum internasional.
2. Mengkaji, serta mempelajari penggunaan tempat tinggal bagi orang asing di Indonesia.
3. Mengkaji, menganalisis serta menentukan alternatif pengaturan apabila pemilikan properti/ tempat tinggal bagi orang asing dibuka/ diizinkan.
10
Ibid, hlm 14.
11
Http : // www.bisnis.com/ infrastruktur/ properti/ 13316 - pengelolaan–pertumbuhan– kawasan–hunian-lemah, Diakses pada tanggal 10 Januari 2012.
12
4 B. TINJAUAN TEORI
1. Tinjauan Tentang Properti/Tempat Tinggal
Properti ialah semua bangunan yang ada diatas permukaan bumi yang menjulang ke angkasa yang melekat secara permanen baik secara alamiah maupun dengan campur tangan manusia. Properti perumahan termasuk tempat tinggal pribadi.13 Sebuah tempat tinggal biasanya berwujud bangunan rumah, tempat berteduh, atau struktur lainnya yang digunakan sebagai tempat manusia tinggal.14 Istilah rumah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai
“bangunan untuk tempat tinggal, atau bangunan pada umumnya seperti gedung”. Rumah diartikan juga sebagai bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga.15
Pasal 1 angka (2) Undang-undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan
dan Kawasan Permukiman disebutkan bahwa “perumahan yaitu kumpulan rumah
sebagai bagian dari permukiman, baik perkotaan maupun perdesaan, yang dilengkapi dengan prasarana, sarana, dan utilitas umum sebagai hasil upaya pemenuhan rumah
yang layak huni”. Rumah susun adalah bangunan gedung bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan yang terbagi dalam bagian-bagian yang distrukturkan secara fungsional dalam arah horizontal ataupun vertikal dan merupakan satuan-satuan yang digunakan secara terpisah, terutama untuk tempat hunian, yang dilengkapi dengan bagian bersama, benda bersama, dengan atau tanpa tanah bersama.16 Kondominium atau kondo merupakan bentuk hak guna perumahan dimana bagian tertentu dari real estate (umumnya kamar apartemen) dimiliki secara pribadi. Sebutan “kondominium” ini sering digunakan untuk merujuk pada unit itu sendiri menggantikan kata
“apartemen”.17
2. Persyaratan Menempati Atau Menghuni Tempat Tinggal Bagi Orang Asing Di Indonesia
13
Kyle, Robert.C. and Baird, Floyd.M, 1991, Property Management, Fourth Edition, Real Estate Education Company, hlm 4.
14
Http://id.wikipedia.org/wiki/Tempat_tinggal, Diakses pada tanggal 12 Januari 2012.
15
Musthofa, B. 2008. Kamus Kependudukan, Panji Pustaka, Yogyakarta, hlm 64.
16
Indonesia, Undang–undang No. 16 Tahun 1985 jo Undang–undang No.20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun, Pasal 1 angka (1).
17
5
Berdasarkan PP 41 Tahun 1996, bahwa orang asing yang berkedudukan di Indonesia dapat menempati atau menghuni sebuah rumah untuk tempat tinggal atau hunian dengan hak atas tanah tertentu. Orang asing yang dimaksud ialah orang asing yang kehadirannya di Indonesia memberikan manfaat bagi pembangunan nasional (pasal 1). Penjelasan pasal 1 diuraikan bahwa kepemilikan tersebut tetap dibatasi pada satu buah rumah. Tujuan pembatasan diatas yaitu untuk menjaga agar kesempatan kepemilikan tersebut tidak menyimpang dari tujuannya.
Pemilikan rumah dengan cara perolehan hak atas tanah untuk orang asing dapat dilakukan dengan membeli atau membangun rumah diatas tanah hak pakai atas tanah negara atau tanah hak pakai di atas tanah hak milik. Rumah yang dibangun atau dibeli dan satuan rumah susun yang dapat dibeli oleh orang asing itu yaitu rumah atau satuan rumah susun yang tidak termasuk klasifikasi rumah sederhana atau sangat sederhana.
3. Tinjauan Tentang Orang Asing
Orang asing dalam kamus terjemahan Indonesia–Inggris diartikan juga sebagai stranger, foreigner and alien, dalam kamus hukum, alien atau orang asing di definisikan sebagai orang dalam suatu negara yang bukan warga negara dari negara tersebut, alien is derived from the latin alienus, meaning stranger, alien, foreign. In law, an alien is a person in a country who is not a citizen of that country, one who is
not a citizen, national, or subject of a particular country, one who is not a citizen,
national, or subject of the country in which he resides, or one who is born in or owes
his allegiance to a foreign country.18 Undang–undang No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan menjelaskan bahwa “setiap orang yang bukan Warga Negara Indonesia diperlakukan sebagai orang asing”.
Orang asing yang sudah menetap di Indonesia “tak dapat dipergunakan di sini
pengertian domisili belaka dari Burgerlijk Wetboek, karena hanya mempunyai makna
“hoofdverblijf”, atau “berada” saja di Indonesia, tak cukup istilah “diam” atau “bertempat tinggal” serta “berkedudukan” semata, nyatalah tak dapat ditafsirkan
sebagai semata–mata “berada” dengan “diam”, atau “berada” dengan “bertempat
tinggal” ini harus diartikan yaitu “bertempat tinggal secara menetap”, jadi haruslah
18
6
ada sesuatu kenyataan menetap sebelum seorang asing dapat dipandang sebagai penduduk negara ini.19
C. METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif. Materi yang digunakan diperoleh melalui studi kepustakaan20, dengan mendasarkan pada data sekunder/ sumber sekunder21 yang mencakup bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier, dan untuk memperjelas analisis ilmiah terhadap bahan hukum di atas, penelitian ini menggunakan pendekatan perundang– undangan.22
Teknik pengumpulan data yaitu dengan penelitian kepustakaan (library research) untuk mendapatkan konsepsi teori atau doktrin, pendapat maupun pemikiran konseptual dan penelitian pendahulu yang berhubungan dengan telaah penelitian ini. Teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik analisis data secara kualitatif23 dari data sekunder kemudian ditarik kesimpulan dengan menggunakan cara deduktif24. Dari data yang dianalisis diharapkan dapat menjawab permasalahan yang ditetapkan seperti disarankan oleh data25, dan diolah secara sistematis dengan mencari hubungan antara pemikiran penulis dengan teori-teori yang diteliti serta dengan dikaitkan pada ketentuan-ketentuan yang berlaku sesuai dengan pembahasan dalam penelitian ini
D. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Hasil Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagai hak setiap, maka orang asing dapat menggunakan properti rumah di Indonesia, namun dibatasi dengan status hak pakai atau hak sewa, dalam Hukum Internasional diatur dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, Konvensi Internasional Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya,
19
Gautama, S. 1987. Warga Negara dan Orang Asing, Alumni, Bandung, hlm 79.
20
Soekanto, S. 1982. Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta, hlm 21.
21
Cohen, M.L. 1995. Sinopsis Penelitian Ilmu Hukum, Cet.1, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, hlm 3.
22
Ibrahim, J. 2008. Teori dan Metodelogi Penelitian Hukum Normatif, Cet. IV, Banyumedia, Malang, hlm 299.
23
Ashofa, B. Metode Penelitian Hukum, Rineka Cipta, Jakarta, hlm 61. Lihat juga dalam, Sugiyono. 2005. Memahami Penelitian Kualitatif, Penerbit CV. Alvabeta, Bandung, hlm 83.
24
Amiq, B. 2010. Aspek Hukum Pengawasan Pengelolaan Keuangan Daerah, Laksbang Pressindo, Yogyakarta, hlm16-17.
25
7
serta Konvensi Internasional Hak Sosial dan Politik. Penggunaan properti oleh orang asing di Indonesia, didasarkan pada ketentuan pasal 42 dan pasal 45 huruf b Undang–undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok–pokok Agraria (UUPA). Berdasarkan Pasal ini, Orang asing yang berkedudukan di Indonesia dapat menempati atau menghuni sebuah rumah untuk tempat tinggal atau hunian dengan hak atas tanah tertentu (hak pakai atau hak sewa).
2. Pembahasan
a. Hak Atas Tempat Tinggal Berdasarkan Hukum Internasional.
Hak untuk menempati hunian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari hak asasi setiap manusia, baik warga negara Indonesia maupun orang asing, dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) ditegaskan bahwa :
Article 13 :
1) Everyone has the right to freedom of movement and residence within the
borders of each state.
Article 17 :
1) Everyone has the right to own property alone as well as in association
with others.
2) No one shall be arbitrarily deprived of his property.
Article 25 :
1) Everyone has the right to a standard of living adequate for the health and
well - being of himself and of his family, including food, clothing, housing
and medical care and necessary social services.
Beberapa pasal dalam DUHAM di atas secara jelas mengatur tentang hak atas tempat tinggal atau hunian bagi setiap orang, baik warga negara dalam negara tersebut maupun orang asing. Hak menempati hunian sebagai salah satu hak asasi bagi setiap orang, termasuk orang asing, diatur juga dalam Konvensi tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (Kovenan Ekosob), hal tersebut diatur dalam Pasal
11 ayat (1) yang menentukan bawa “Negara Pihak pada Kovenan ini mengakui hak
8
menjamin perwujudan hak ini dengan mengakui arti penting kerjasama internasional
yang berdasarkan kesepakatan sukarela”.26
Konvensi Internasional tentang Hak-hak Sosial dan Politik (Kovenan Sipol), pada Pasal 12 ayat (1) menentukan bahwa “setiap orang yang secara sah berada dalam wilayah suatu Negara, berhak atas kebebasan untuk bergerak dan kebebasan untuk memilih dan bertempat tinggal dalam wilayah tersebut”.27 Penjelasan Pasal 12 ayat (1) Kovenan Sipol di atas bahwa ketika seseorang berada secara sah dalam suatu Negara, maka pembatasan apa pun atas hak-haknya yang dijamin oleh pasal 12 serta perlakuan apa pun yang berbeda dari apa yang diberikan kepada warga negara, harus dapat dijustifikasi berdasarkan aturan-aturan yang tersedia di pasal 1228
b. Penggunaan Properti/Tempat Tinggal Bagi Orang Asing di Indonesia. Penggunaan properti oleh orang asing di Indonesia, didasarkan pada ketentuan pasal 42 dan pasal 45 huruf b Undang–undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok–pokok Agraria (UUPA), kemudian dalam Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996 tentang Hak Guna Usaha (HGU), Hak Guna Bangunan (HGB), dan Hak Pakai atas Tanah (HP). Berdasarkan Pasal tersebut di atas, orang asing yang berkedudukan di Indonesia dapat menempati atau menghuni sebuah rumah untuk tempat tinggal atau hunian dengan hak atas tanah tertentu (hak pakai atau hak sewa).29 Rumah tempat tinggal atau hunian yang dapat dimiliki oleh orang asing sebagaimana dimaksud tersebut, yaitu rumah yang berdiri sendiri yang dibangun di atas bidang tanah Hak Pakai atas tanah Negara, atau yang dikuasai berdasarkan perjanjian dengan pemegang hak atas tanah Hak Milik, serta satuan rumah susun yang dibangun di atas bidang tanah Hak Pakai atas tanah Negara.30 Undang-undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman
26
Perserikatan Bangsa–Bangsa (PBB), Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, Pasal 11 ayat (1).
27
Perserikatan Bangsa-Bangsa, Kovenan Internasional tentang Hak–hak Sosial dan Politik (Kovenan Sipol), Pasal 12 ayat (1).
28
PBB, Komentar Umum Nomor 27 Tentang Kebebasan Bergerak dan Bertempat Tinggal, Pasal 12.
29
Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1996 Tentang Pemilikan Rumah Tempat Tinggal atau Hunian Oleh Orang Asing Yang Berkedudukan di Indonesia, Pasal 1 ayat (1).
30
9
juga menegaskan bahwa “orang asing dapat menghuni atau menempati rumah dengan cara hak sewa atau hak pakai”.31
c. Alternatif Pengaturan Jika Pemilikan Properti/Tempat Tinggal Bagi Orang Asing di Indonesia dibuka/ diizinkan.
Beberapa alternatif dalam pemilikan rumah susun bagi WNA yaitu sebagai berikut :
1) Sewa menyewa jangka panjang (Long term lease).
Konsep sewa menyewa jangka panjang (long term lease) yang dipraktekkan oleh beberapa pemilik rumah susun (pengembang) maupun pemilik tanah dengan status hak milik atas bangunan, pada dasarnya tidak mengalihkan kepemilikan hak atas tanah.
2) Sewa menyewa konversi (Convertible Lease).
Maksudnya yaitu, pemilikan rumah susun yang dilakukan oleh WNA dengan cara sewa menyewa untuk jangka waktu panjang dengan hak mengkonversikan menjadi pemilik pada saat memungkinkannya orang asing memiliki kebendaan dengan status hak guna bangunan, yang apabila dikemudian hari diterbitkan peraturan pemerintah bahwa orang asing dapat membeli apartemen di Indonesia yang didirikan di atas tanah berstatus selain hak pakai.
3) Nominee trustee.
Konsep nominee trustee mekanismenya bahwa pemilik SRS (diluar tanah hak pakai), yaitu tetap seorang WNI atau badan hukum Indonesia.32Nominee Trustee terjadi karena adanya hubungan peminjaman uang oleh orang asing kepada orang Indonesia, dasar dari peminjaman uang tersebut digunakan untuk melakukan pembelian SRS.
Apabila kepemilikan properti bagi orang asing dibuka, juga perlu revisi Undang-Undang yang berkaitan dengan tempat tinggal di Indonesia. Harus ada batasan melalui peraturan bagi asing yang membeli properti di Indonesia, dan
31
Indonesia, Undang-undang Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, Pasal 52.
32
10
sebaiknya program ini dapat berjalan dulu karena dibanding negara tetangga, Indonesia jauh tertinggal untuk kepemilikan properi bagi asing. Apabila aturan dibuka, selain potensi pajak, juga akan menggairahkan ekonomi dan perputaran uang akan semakin besar.33
Peraturan mengenai status kepemilikan properti dapat dipecah menjadi dua, Hak Guna Bangunan sampai dengan 80 tahun dan Hak Pakai 70 tahun,namun kekurangan dalam peraturan kepemilikan properti bagi orang asing di Indonesia, karena sudah tidak mengikuti perubahan ekonomi yang semakin terbuka, kalau saja peraturan tersebut bisa lebih fleksibel hasilnya bisa menambah pendapatan negara. Kemudian berkenaan dengan pejabat atau instansi yang mengawasi pemilikan properti asing dan sanksi terhadap pelanggaran peraturan.34
Alternatif lain dalam penyempurnaan UUPA yang juga dapat diperhatikan misalnya menyempurnakan aturan–aturan yang bersifat teknis yuridis, seperti jenis– jenis hak dan masa berlakunya, tetapi substansi atau jiwa UUPA harus tetap dipertahankan, karena itu merupakan cita–cita bangsa Indonesia. Adapun jenis–jenis haknya hanya ada dua saja. Pertama, Hak Milik yang tak terbatas masa berlakunya dan diperuntukkan hanya kepada WNI saja. Kedua, HGB yang dapat dimiliki oleh orang asing yang terbatas masa berlakunya, dan HP dan HGU mungkin dapat dihapus.35
Pembatasan luas dan jumlah pembelian sebaiknya diatur untuk memberikan keseimbangan antara pasar asing dan pasar lokal nasional, jadi dengan demikian properti berdampak pada berbagai sektor usaha. dengan dasar pemikiran ini, terasa cukup bijak untuk membuka izin pada warga asing dengan persyaratan, baik bagi warga asing sebagai pembeli juga pada pengembang sebagai pemasok, dan saat terbaik untuk membuka arus masuknya warga asing sebagai pemilik properti di Indonesia tidaklah saja melihat dari unsur properti atau apartemen yang dibangun
33
Http://www.berita2.com/ekbis/bisnis/3527-seputar-kepemilikan-apartemen-untuk-orang-asing-harus-ada-batas-untuk-hindari-konflik-jakarta-be.html.
34
Sumardjono, Maria.S.W. 2008. Op–Cit, hlm 64.
35
11
para pengembang, namun yang terbaik ialah jika keseluruhan jajaran khususnya sektor infrastruktur dan legal pun siap.36
E. PENUTUP
Hak atas properti/tempat tinggal sebagai salah satu lembaga fundamental, dan diakui bahwa hak tersebut sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi, serta untuk kebaikan pemerintahan dan stabilitas sosial,ekonomi maupun budaya suatu. Orang asing yang berkedudukan di Indonesia hanya diperkenankan menggunakan properti dengan diberikan hak pakai atau hak sewa dengan jangka waktu 25 tahun dan dapat diperbaharui selama jangka waktu 20 tahun. Apabila pemilikan properti/tempat tinggal bagi orang asing dibuka/diizinkan di Indonesia, pemilikannya didasarkan pada asas pemisahan horizontal yaitu hanya terbatas pada bangunan tempat tinggal saja, dan tidak termasuk hak atas tanah.
DAFTAR PUSTAKA
Anditya dan Nasution, T.F. 2010. Trik Suskses menjadi Pengusahan Properti, Penerbit C.V Andi Offset, Yogyakarta.
Amiq, B. 2010. Aspek Hukum Pengawasan Pengelolaan Keuangan Daerah, Laksbang Pressindo, Yogyakarta.
Ashofa, B. 2001. Metode Penelitian Hukum, Rineka Cipta, Jakarta.
Badrulzaman, Mariam.D. 1993. Beberapa Masalah Pokok Dalam Undang-Undang
Perumahan dan Pemukiman”, Seminar tentang Perumahan dan Pemukiman,
di Sumba Room, Borobudur Hotel, Jakarta.
Cohen, Moris.L. 1995. Sinopsis Penelitian Ilmu Hukum, Cetakan Pertama, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Gautama, S. 1987. Warga Negara dan Orang Asing, Alumni, Bandung.
Http : // www.bisnis.com/ infrastruktur/ properti/ 13316 - pengelolaan– pertumbuhan–kawasan–hunian-lemah, Diakses Pada tanggal 10 Januari 2012.
Http://id.wikipedia.org/wiki/Tempat_tinggal, Diakses pada tanggal 12 Januari 2012.
Http://www.vibiznews.com/column/property_others/2012/05/08/kebijakan-baru-sebagai-awal-kebijakan-kepemilikan-warga-asing-di-indonesia/>, Diakses pada tanggal 20 Januari 2012.
Http://law.yourdictionary.com/alien, Diakses pada tanggal 12 Januari 2012.
Http://www.berita2.com/ekbis/bisnis/3527-seputar-kepemilikan-apartemen-untuk-orang-asing-harus-ada-batas-untuk-hindari-konflik-jakarta-be.html, Diakses pada tanggal 10 Januari 2012.
Http://vibiznews.com/1new/kontributor/t_property_othersview.php?id=4448, Diakses pada tanggal 12 Juni 2012.
36
12
Hodgson, S. C. Cullinan, C. & Campbell, K. 1999. Land Ownership And Foreigners : A Comparative Analysis Of Regulatory Approaches To The Acquisition And Use Of Land By Foreigners, FAO Legal Papers Online.
Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1996 Tentang Pemilikan Rumah Tempat Tinggal atau Hunian Oleh Orang Asing Yang Berkedudukan di Indonesia.
Indonesia, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945.
Indonesia, Undang–undang No. 16 Tahun 1985 jo Undang–undang No.20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun.
Indonesia, Undang-undang Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman.
Ibrahim, J. 2008. Teori dan Metodelogi Penelitian Hukum Normatif, Cet. IV, Banyumedia, Malang.
Kallo, E. 2008. Perspektif Hukum Dalam Dunia Properti, Minerva Athena Pressindo, Jakarta.
Kyle, Robert.C. and Baird, Floyd.M. 1991. Property Management, Fourth Edition, Real Estate Education Company.
Musthofa, B. 2008. Kamus Kependudukan, Panji Pustaka, Yogyakarta.
Perserikatan Bangsa–Bangsa (PBB), Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya.
Perserikatan Bangsa-Bangsa, Kovenan Internasional tentang Hak–hak Sosial dan Politik (Kovenan Sipol).
Perserikatan Bangsa-Bangsa, Komentar Umum Nomor 27 Tentang Kebebasan Bergerak dan Bertempat Tinggal.
Purnomo, R.S.D. Hariyani, I. dan Serfiyani, C.Y. 2011. Kitab Hukum Bisnis Properti, Pustaka Yustisia, Yogyakarta.
Sumardjono, Maria.S.W. 2005. Kebijakan Pertanahan Antara Regulasi dan Implementasi, Buku Kompas, Jakarta.