• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mini Skripsi Pengaruh Etika Pergaulan te

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Mini Skripsi Pengaruh Etika Pergaulan te"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Mini Skripsi Bahasa Indonesia

Pengaruh Etika Pergaulan terhadap Motivasi Belajar Remaja

OLEH :

1. ELIZABETH STYVANI MAIRUHU (00000004580)

PROGRAM PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN – TEACHERS COLLEGE

(2)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...i

BAB I PENDAHULUAN...1

1.1 Latar Belakang...1

1.2 Rumusan Masalah...3

1.3 Tujuan...3

BAB II...4

LANDASAN TEORI...4

2.1 Defenisi Motivasi...4

2.2 Jenis Motivasi...6

2.3 Fungsi Motivasi dalam belajar...6

2.4 Etika Pergaulan...7

2.5 Manfaat Etika dalam pergaulan...7

BAB III...9

PEMBAHASAN...9

BAB IV...13

SIMPULAN...13

(3)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Buku adalah jendela dunia. Kalimat tersebut merupakan kalimat kiasan yang bertujuan

untuk menumbuhkan minat dan motivasi orang yang membacanya. Sangatlah banyak

pengetahuan yang diperoleh dari buku-buku yang ada sekarang ini. Kebiasaan membaca

haruslah ditanamkan sejak masih anak-anak. Anak-anak haruslah diberikan stimulus untuk

mengembangkan kemampuan membaca serta pemahamannya terhadap apa yang dibaca sampai

mereka tumbuh remaja dan dewasa. Hal tersebut dilakukan agar membaca menjadi kebiasaan

dan kesukaan bagi mereka. Namun hal tersebut tidaklah akan tercapai jika tidak ada minat

maupun motivasi dari diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Minat dapat diartikan sebagai

kemauan karena adanya motivasi. Sedangkan motivasi merupakan dorongan yang berasal dari

dalam maupun luar diri seseorang yang menjadi alasan bagi seseorang untuk melakukan sesuatu.

Menurut pengertian lain, “motivasi adalah perilaku yang dibuat guna memenuhi kebutuhan

tertentu yang dirasakan” (soekahar,1987,h.47). Minat dan motivasi sangatlah dibutuhkan dan

sangatlah penting bagi para remaja dalam menempuh jenjang pendidikan mereka. Mengapa

demikian? Pada masa kanak-kanak, ketergantungan seluruhnya berpusat pada orangtua dan guru.

Beranjak ke remaja, ketergantungan tersebut semakin memudar. Masa remaja tidaklah sama

(4)

muncul dari teman sepergaulan, maupun berasarkan pertimbangan pribadi. Sosok teman-teman

disekitar juga mempengaruhi pola pikir para remaja. Seorang remaja akan sangat dekat dengan

teman-temannya daripada dengan orangtuanya jikalau ia merasa tidak mendapatkan apa yang ia

inginkan dari orangtuanya. Banyak orangtua yang terlalu sibuk akan pekerjaannya sehingga

hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan finansial anak dan mengesampingkan kebutuhan

jiwa sang anak. Kebutuhan jiwa yang dimaksud seperti kasih sayang, perhatian maupun

pengertian dari orangtua yang sangatlah dibutuhkan oleh anak-anak. Jikalau mereka tidak

menerimanya maka ketika beranjak remaja, mereka mulai mencari teman sepergaulan yang dapat

membuat mereka merasa nyaman dan mendapatkan kasih sayang, perhatian dan pengertian

tersebut. Dalam 1 Korintus 15:33 dikatakan “Janganlah kamu sesat! Pergaulan yang buruk

merusak kebiasaan yang baik”. Ayat tersebut menjelaskan bahwa dengan siapa kita bergaul

menentukan dan mencerminkan diri kita kedepannya. Para remaja yang saling memotivasi satu

dengan yang lainnya untuk giat belajar dan melakukan hal-hal positif sangatlah baik bagi diri

mereka sendiri. Manfaat dari teman sepergaulan yang saling memotivasi untuk terus belajar akan

membuat remaja-remaja tersebut menjadi terbiasa untuk belajar dan menjadi pribadi yang mau

belajar. Jikalau pada awalnya para remaja tersebut mengalami kesulitan dalam pembelajaran

secara personal maka secara group akan membantu mereka dalam memecahkan setiap kesulitan

dalam pembelajaran.

Faktanya jelaslah berbeda dengan apa yang diharapkan. Remaja sekarang ini tidaklah terlalu

tertarik untuk membaca buku. Games, media sosial dan lain sebagainya yang menjadi

penghalang bagi mereka. Selain itu pergaulan dengan teman sekitar pastinya ikut mempegaruhi.

Kutu buku merupakan ejekan bagi setiap orang yang gemar membaca buku. Perasaan ingin

(5)

dan membuat ia mulai menuruti kemauan teman-temannya yang tidak suka atau tidak

mempunyai minat maupun motivasi untuk belajar. Untuk itulah etika pergaulan perlu

diperhatikan setiap remaja. Didikan orangtua juga ikut berpengaruh terhadap perkembangan para

remaja. Secara tidak langsung, setiap dari kita ikut mempengaruhi kepribadian seseorang.

Pergaulan yang baik mendatangkan manfaat yang baik bagi teman sepergaulannya juga.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah etika pergaulan mempengaruhi motivasi belajar para siswa?

2. Bagaimana penerapan etika pergaulan dalam mempengaruhi motivasi belajar para siswa?

1.3 Tujuan

1. Menjelaskan ada tidaknya peningkatan motivasi belajar berdasarkan etika pergaulan. 2. Menjelaskan langkah-langkah penerapan untuk meningkatkan motivasi belajar

(6)

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Defenisi Motivasi

Perkembangan Kognitif remaja berada pada tahap operasional formal menurut tahapan

kognitif Piaget. Pola pikir para remaja jelas berbeda dengan kanak-kanak. “Pikirannya sudah

dapat melampaui waktu dan tempat, tidak hanya terikat pada hal yang sudah dialami, tetapi juga

dapat berpikir mengenai sesuatu yang akan datang karena dapat berpikir secara hipotesis”

(suparno,2007,h.88 ). Manusia adalah ciptaan yang mempunyai rasa tanggung jawab karena

itulah kewajiban manusia. Untuk dapat melakukan tanggung jawab tersebut maka diperlukan

adanya motivasi dari setiap pribadi. “Motivasi (motivation) sebenarnya berasal dari kata dasar

bahasa inggris motion, yang berasal dari kata latin movere, yang berarti bergerak”

(soekahar,1987,h.46).

Pada buku Motivasi Daya Penggerak Tingkah Laku terdapat teori tentang motivasi, di antaranya:

1. Teori kognitif

Menurut teori ini, tingkah laku tidak digerakkan oleh apa yang disebut motivasi,

melainkan oleh rasio. 2. Teori Hedonitis

Teori ini mengatakan bahwa segala perbuatan manusia, entah itu disadari ataupun tidak

disadari, entah itu timbul dari kekuatan luar ataupun kekuatan dalam, pada dasarnya

mempunyai tujuan yang satu, yaitu mencari hal-hal yang menyenangkan dan

(7)

Menurut teori ini, setiap orang telah membawa “kekuatan biologis” sejak lahirnya.

Kekuatan biologis inilah yang membuat seseorang bertindak menurut cara tertentu. 4. Teori Psikoanalitis

Freud mengatakan bahwa tingkah laku manusia ditentukan oleh dua kekuatan dasar,

yaitu: insting kehidupan dan insing kematian. 5. Teori Keseimbangan

Teori ini mengatakan bahwa tingkah laku manusia terjadi karena adanya

ketidakseimbangan di dalam diri manusia. 6. Teori Dorongan

Teori ini memberikan tekanan hal yang mendorong terjadinya tingkah laku.

(handoko,1992,h.10-18). Teori-teori tersebut menjelaskan tentang penyebab terjadinya tingkah

laku manusia. Tingkah laku tersebut merupakan respon dari motivasi yang diberikan oleh orang

lain atau yang muncul dari dalam diri. “Motivasi adalah kekuatan dari dalam yang mendorong

manusia pada prestasi yang lebih besar” (soekahar,1987,h.47). Bukan hanya kekuatan dari dalam

melainkan kekuatan dari luar pun mempengaruhi motivasi seseorang. Kekuatan dari luar tersebut

dapat berupa tekanan sosial, ajakan yang menarik dari orang sekitar dan lain sebagainya.

Berdasarkan berbagai teori mengenai motivasi, maka motivasi dapat diartikan sebagai

dorongan dari dalam maupun luar setiap manusia untuk melakukan hal-hal tertentu. Dorongan

tersebut yang memunculkan pertimbangan-pertimbangan dalam diri manusia untuk menentukan

sikap.

(8)

Paul Meyer dari “Success Motivation institute” di Amerika Serikat megklasifikasikan motivasi

dalam tiga jenis :

1. Motivasi Ketakutan

Motivasi ini berhubungan dengan ketakutan terhadap akibat yang ditanggung jika tidak

melaksanakannya. 2. Motivasi Insentif

Motivasi ini berkaitan dengan keuntungan yang diperoleh jika ia mau melakukan suatu

hal.

3. Motivasi Sikap

Motivasi sikap sama dengan motivasi diri. Tujuan maupun target yang ditetapkan oleh

diri sendiri lebih penting daripada pengaruh pemikiran orang lain. (soekahar,1987,h.54)

“Motivasi sangat mempengaruhi, bahkan menentukan tingkah laku manusia: belajar,

mengamati, berpikir, berfantasi, mengingat dan lain sebagainya (handoko,1992,h.49)”. Motivasi

dapat dikatakan sebagai faktor penentu dari tingkah laku manusia. Seberapa besar motivasi

menentukan seberapa banyak tanggung jawab yang mau dipikul seseorang.

2.3 Fungsi Motivasi dalam belajar

Buku adalah sahabat anak yang pandai dan musuh bagi anak yang malas. Malas belajar dapat

terjadi karena tidak adanya motivasi. Motivasi dalam belajar diperlukan karena memiliki fungsi,

(9)

“ Istilah etika berasal dari kata Yunani etos yang berarti tempat tinggal (baik dari manusia,

maupun dari binatang). Selain dari tempat tinggal etos juga berarti kebiasaan

(abineno.2003.h.2)”. Masa remaja sering disebut sebagai masa mencari jati diri. Pada tahap ini,

remaja mulai mencoba-coba hal yang ia ingin ketahui. Teman maupun sahabat sangat

mempengaruhi pola pikirnya. Kebebasan mulai ingin diraihnya untuk mencari kesenangan

pribadi. “Manusia dikatakan bebas mengandung dua pengertian, yaitu ia mampu untuk

menentukan diri sendiri, dan ia tidak dibatasi oleh orang lain atau masyarakat dalam

kemungkinannya untuk menetukan diri itu” (suseno,dkk.1993.h.18). Kebebasan yang dijalani

haruslah yang terkontrol. Pola pikir yang benar haruslah dipunyai setiap remaja agar ia tidak

goyah akan pendiriannya dan dapat mengendalikan setiap keputusan dari kemauannya.

2.5 Manfaat Etika dalam pergaulan

Bumi ini diciptakan teratur karena mencerminkan penciptanya yang adalah teratur. Relasi

yang dibangun oleh sesama kita pun haruslah diatur agar dapat berjalan dengan baik dan

mendatangkan manfaat bagi tiap-tiap orang. Karena itulah diperlukan etika dalam bergaul,

terutama bagi kalangan remaja pelajar. “Etika berarti ilmu tentang apa yang bisa dilakukan atau

ilmu tentang adat kebiasaan” (Bertens.1994.h.4). Etika diperlukan agar adanya batasan-batasan

tertentu dalam melakukan sesuatu. Selain itu juga agar adanya aturan dalam melakukan hal yang

melahirkan keteraturan. “Menurut Algernon D. Black, etika adalah ilmu yang mempelajari cara

manusia memperlakukan sesamanya dan apa arti hidup yang baik” (wibowo,2005.h.7). Etika

pasti berhubungan dengan hal yang baik dalam membangun hubungan dengan orang lain. Jadi

(10)

“Etika tidak langsung membuat kita menjadi manusia yang lebih baik, itu tugas ajaran moral,

melainkan etika merupakan sarana untuk memperoleh orientasi kritis berhadapan dengan

pelbagai moralitas yang membingungkan” (suseno,dkk.1993.h.4). Siswa-siswi remaja perlu

mengetahui dan mengenal etika agar mereka dapat membedakan ajakan atau ajaran mana yang

harus atau tidak mereka ikuti maupun teladani. “Etika sosial mau membuat kita menjadi sadar

akan tanggung jawab kita sebagai manusia dalam kehidupan bersama menurut semua

dimensinya.” (suseno,dkk.1993.h.8). Memahami dan mau memikul tanggung jawab merupakan

respon kehidupan seseorang. Seorang siswa bertanggung jawab tehadap pergaulaan yang

berdampak pada perkembangan pendidikannya. Etika perlu diterapkan dalam kehidupaan

sosialnya. Terutaman dalam hal relasinya dengan sesama agar sadar akan tanggung jawab yang

dipikul dan terlabih dampak apa yang diperoleh jika tanggung jawab tersebut tidak terselesaikan

(11)

BAB III

PEMBAHASAN

Motivasi belajar dalam diri remaja merupakan hal terpenting untuk mau memahami dan

mempelajari setiap pelajaran di sekolah. Motivasi belajar para remaja dipengaruhi oleh berbagai

faktor. Salah satu faktornya adalah lingkungan. Faktor eksternal merupakan semua faktor di

lingkungan sekitar yang mendukung aktivitas belajar remaja. Faktor lingkungan ini diantaranya:

1. Lingkungan Keluarga 2. Lingkungan Sekolah

3. Lingkungan Perkampungan/masyarakat, contohnya; wilayah perkampungan kumuh dan

teman sepermainan (peer group) yang nakal. (djamarah,2002,h.202)

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa teman sepeermainan juga

mempengaruhi motivasi belajar anak. Terutama jika teman sepermainannya anak yang nakal.

“Tugas utama di dalam pergaulan dengan manusia yang lain, mereka dapat hidup dengan tenang,

adalah bahwa ia harus memiliki pribadi yang baik (sujanto.dkk,1997,h.157)”. Pribadi yang baik

tidak hanya ditentukan oleh keinginan pribadi sendiri, tetapi pola asuh orangtua, peran

pendidikan dan lingkungan sekitar juga ikut berpengaruh. Pemahaman awal seorang anak

tentang perilaku yang baik dan buruk yang disampaikan oleh orang-orang terdekatnya lah yang

akan ia anggap benar.

(12)

Di dalam buku Tantangan Membina Kepribadian, dilampirkan bagan berupa langkah-langkah

yang membantu perkembangan kepribadian, seperti :

(caraka,2002.h.44)

Langkah-langkah tersebut harus dilakukan dengan bimbingan orangtua maupun guru.

Remaja atau anak masih berpikir abstrak tentang hal diatas. Mengapa? Pada saat remaja, anak

masih berada di bawah pengawasan orangtua. Rasa aman dan nyaman ketika berada di dekat

orangtua membuat mereka tidak ingin menjadi mandiri. Ketika mereka bergaul dengan

(13)

teman, maka sangatlah tidak mungkin orangtua dapat mengontrol secara penuh. Ada dua

kemungkinan dari setiap keputusan yang di ambil oleh seorang remaja. Kemungkinan pertama

berasal dari pengaruh orangtua yang selalu dekat dan memberikan nasihat serta kepedulian

maupun kasih sayang. Kemungkinan kedua berasal dari lingkungan sekitar. Lingkungan sekitar

dapat berupa guru atau teman sebaya. Guru maupun teman sebaya berpengaruh terhadap setiap

keputusan remaja jika tidak ada atau hanya sedikit saja peran orangtua dalam perkembangan para

remaja.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat dikatakan setiap remaja haruslah mengembangkan

kepribadiannya berdasarkan lagkah-langkah di atas. Hal tersebut sangat berguna bagi dirinya dan

bagi teman-temannya. Jikalau setiap remaja melaksanakan langkah-langkah tersebut maka dapat

dipastikan bahwa motivasi setiap remaja akan bertumbuh. Hal tersebut dikarenakan kebanyakan

remaja berpaut pada perkataan teman sebayanya. Rasa ingin diterima yang besarlah yang

membuat remaja begitu dekat dengan teman-temannya. Perkataan teman-temannya bisa jadi

adalah juru kemudi kehidupannya. Dimanakah peran orangtgua dan guru? Orangtua dan guru

juga memainkan peran yang sangat penting. Namun jika orangtua dan guru tidak memainkan

peran dengan sebaik mungkin, maka peran tersebut akan dimainkan oleh teman sebayanya.

Salah satu dampak buruk dari peran orangtua dan guru yang dimainkan oleh teman sebaya

seperti contoh kasus para remaja yang terjaring razia karena bolos saat jam belajar.

(14)

"Terhadap siswa yang terkena razia tidak akan kita berikan sanksi, kita hanya akan panggil kepala sekolah atau gurunya, supaya mereka bisa memberi pembinaan kepada anak didiknya, dengan harapan mereka bisa berubah menjadi lebih baik," katanya. Satu di antara siswa yang terjaring razia mengatakan, dia sengaja bolos sekolah untuk bermain game di warnet. Siswa lainnya juga mengatakan hal serupa. Dia memang sudah merencanakan tidak masuk sekolah dan main ke warnet. Kedua orang tuanya berada di Kalteng, sementara dia tinggal di rumah kos. (anshori,2014)

Berdasarkan kasus tersebut, para remaja bolos karena mereka lebih tertarik untuk bermain games

daripada belajar di kelas. Selain itu juga karena ajakan teman-teman. Kurangnya pengawasan

sekolah, cara mengajar guru maupun teman sebaya juga ikut mempengaruhi perkembangan

moral setiap anak. Bagaimana mungkin seorang remaja terkhususnya akan memiliki moral yang

baik, jika belajar saja ia tidak mau. Bagaimana mungkin remaja mau belajar jika motivasi untuk

(15)

BAB IV

SIMPULAN

Berdasarkan uraian dari bab satu sampai bab tiga, dapat disimpulkan bahwa etika pergaulan

mempengaruhi motivasi belajar anak-anak terkhususnya para remaja. Tatkala etika pergaulan

tersebut bukanlah salah satu faktor penentu timbulnya motivsi belajar remaja, namun etika

merupakan salah satu faktor timbulnya motivasi belajar remaja. Pengawasan dan didikan

orangtua merupakan hal penting dalam membangun etika pergaulan anak. Lingkungan memang

jahat tetapi remaja harus mempunyai pola pikir yang kokoh yang ditanamkan oleh orangtuanya.

hal tersebut supaya remaja tidak mudah goyah akan pola pikir teman sebayanya yang berbeda.

Lingkungan ikut mempengaruhi pola pikir, sikap maupun motivasi remaja jika kurangnya

(16)

REFERENSI

 Buku

Abineno.(2003).Sekitar Etika dan Soal-Soal Etis.Jakarta: BPK Gunung Mulia

Bertens,K.(1994).Etika.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Caraka,Loka.(2002).Pedoman untuk Mengenal dan Membina diri: Tantangan Membina Kepribadian.Jakara: Yayasan Cipta Loka Caraka

Djamarah,Syaiful.(2002).Psikologi Belajar.Jakarta: Rineka Cipta

Handoko,Martin.(1992).Motivasi Daya Penggerak Tingkah Laku.Yogyakarta: Kanisius

Soekahar,Herman.(1987).Bagaimana Memotivasi Jemaat Melayani.Malang: Gandum Mas

Sujanto,A.,Lubis,H.& Hadi,T (1997).Psikologi Kepribadian.Jakarta: Bumi Aksara

Suparno,Paul.(2007).Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget.Yogyakarta: Kanisius

Suseno,dkk.(1993).Etika Sosial: Buku Panduan Mahasiswa PB I- PB VI.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Wibowo,Eddy.(2005).Mengajar di Peguruan Tinggi: Etika dan Moral dalam Pembelajaran

 Sumber Online

Anshori.A.(20014).Sebelas Siswa Bolos Saat Belajar Terjaring Razia.Diakses

Referensi

Dokumen terkait

Beberapa hal yang dihasilkan dari penelitian ini adalah teridentifikasinya aspek-aspek yang berpengaruh dalam penentuan lokasi kampung budaya, yaitu keberadaan adat

ubudiyahnya kepada Allah subhanahu.. wa ta’ala membebaskannya dari kufur dan syirik. Inilah amal yang utama dan selainnya berada di bawahnya dalam keutamaan di sisi Allah

Selain alam, Kabupaten Buleleng juga memiliki banyak potensi budaya berupa pura-pura bersejarah yang sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda yang tersebar di desa-desa seperti

Gunakan bahan yang tidak mudah terbakar seperti vermikulit, pasir atau tanah untuk menyerap produk ini dan.. tempatkan dalam kontainer untuk

Tanaman dan sistem produksi yang menghasilkan residu lebih lanjut tentang permukaan tanah dapat mengurangi suhu tanah pada siang hari dan meningkatkan kadar air tanah,

 Identifikasi entitas data yang dibutuhkan  Membuat entitas data baru berdasarkan kebutuhan  Melakukan integrasi aplikasi untuk penggunaan data  Melakukan penambahan modul

Ketentuan mengenai RUPS sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam sebuah perseroan terbatas telah dihilangkan didalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 kedudukan RUPS sebagai