BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Sebelum melakukan kegiatan pembelajaran, guru harus memikirkan segala hal yang akan dilakukan di dalam kelas. Hal penting yang harus dipikirkan adalah pendekatan dan metode apa yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan sifat materi yang akan menjadi objek pembelajaran. Dalam beberapa pembahasan kata “pendekatan” sekalingkali dirangkai dengan kata “metode” sebab kedua kata tersebut memang berhubungan erat satu sama lain. Pendekatan dan metode, keduanya membahas tentang strategi untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran. Namun, demikian diantara keduanya juga terdapat perbedaan. Pendekatan (approach) lebih menekankan pada strategi dalam tahap perencanaan, sedangkan metode (method) lebih menekankan pada teknik operasional pelaksanaannya.
Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan dalam pembelajaran IPA di SD, misalnya pendekatan konsep, pendekatan lingkungan, pendekatan inkuiri dan pendekatan keterampilan proses. KTSP menjelaskan bahwa pendekatan pembelajaran yang digunakan untuk membelajarkan sains adalah pendekatan yang berorientasi pada siswa. Sekalipun tidak menyebutkan pendekatan tertentu yang dapat digunakan guru untuk membelajarkan suatu topik. Namun ada sejumlah pendekatan yang dianjurkan yaitu pendekatan inkuiri sains, pendekatan berbasis konstruktivisme, pendekatan sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat (salingtemas) dan pendekatan pemecahan masalah.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa saja strategi pembelajaran IPA di SD ?
2. Bagaimana strategi pada pembelajaran IPA di SD ?
3. Bagaimanakah implementasi dalam strategi pembelajaran IPA di SD ? 4. Apa saja kekurangan dan kelebihan strategi pembelajaran IPA di SD ?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Mengetahui macam-macam strategi pembelajaran IPA di SD.
2. Mengetahui teknik pelaksanaan pada setiap strategi pembelajaran IPA di SD.
3. Dapat menjelaskan strategi yang dapat digunakan dalam menjelaskan konsep-konsep IPA di SD.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Strategi Pembelajaran IPA
Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru dengan tujuan proses pembelajaran yang berlangsung di kelas dapat mencapai tujuannya secara efektif dan efisien. Strategi juga dapat dikatakan sebagai cara untuk mencapai tujuan yang berupa rencana. Dengan kata lain , strategi merupakan “a plan for achieving goals”. Menurut margono (1995), strategi belajar mengajar adalah kegiatan guru dalam proses belajar mengajar dapat memberikan kemudahan atau fasilitas kepada peserta didik agar dapat mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan.
Dari gambaran tersebut terlihat bahwa pembelajaran itu tidak sederhana, tetapi kompleks dan terdiri dari beberapa kompenen pembelajaran yang berkaitan dan saling bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kompenen-kompenen tersebut adalah tujuan, materi, strategi pembelajaran, dan evaluasi dapat dilihat pada gambar diatas. Dari gambar dijelaskan bahwa dalam mencapai tujuan pembelajaran IPA yang telah ditentukan oleh pemerintah, mulai dari SKL (Standar Kompetensib Lulusan) yang diuraikan menjadi KI (Kompetensi Inti) atau KD (Kompetensi Dasar) dilakukan dengan cara memilih materi IPA yang mendukung tujuan pembelajaran. Selanjutnya, ditentukan strategi pembelajaran yang sesuai untuk materi tersebut dengan memilih metode dan teknik mengajar yang disesuaikan dengan ketersediaan media dan sumber belajar. Dalam memilih strategi pembelajaran juga harus memperhitungkan situasi dan kondisi guru dan peserta didik. Kondisi guru dan peserta didik sekarang sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan masyarakat. Pada akhirnya, untuk mengetahui tercapainya tujuan pembelajaran adalah dengan asesmen yang hasilnya akan digunakan untuk meninjau kembali semua komponen dari sistem pembelajaran IPA. Secara garis besar, macam- macam strategi pembelajaran ditentukan oleh 4 hal sebagai berikut.
a. Sumber Materi : Siapa yang menyusun materi atau bahan belajar? Guru, dalam arti sempit atau dalam arti luas (dengan hubungannya sumber lain), atau merupakan teks terprogram seperti modul atau bahkan oleh peserta didik sendiri.
b. Pembawa Materi : Siapa yang membawakan materi? Perorangan, berkelompok, atau dipelajari sendiri.
c. Pendekatannya : Bagaimana cara Materi itu disajikan dengan pendekatan deduktif dan induktif atau yang lain?
Kombinasi empat factor tersebut menimbulkan berbagai macam strategi. Yang akan dibahas dalam makalah ini adalah strategi pembelajaran dilihat dari cara penyampaian materi IPA, yaitu strategi pembelajaran induktif dan deduktif. Pemilihan strategi penyampaian materi IPA tersebut berdasarkan objek proses pembelajaran IPA yang terdiri dari :
1. Produk IPA yang berupa fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori 2. Nilai dan / atau sikap ilmiah IPA
3. Kerja dan / atau proses ilmiah IPA
4. Aplikasi IPA dalam kehidupan sehari- hari 5. Kreativitas dalam mempelajari IPA
Definisi strategi adalah cara untuk mencapai tujuan jangka panjang. Strategi bisnis bisa berupa perluasan geografis, diversifikasi, akusisi, pengembangan produk, penetrasi pasar, rasionalisasi karyawan, divestasi, likuidasi dan joint venture (David, 2004).
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun. Strategi pembelajaran merupakan salah satu komponen penting yang harus dikuasai oleh guru dan siswa dalam melaksanakan pembelajaran. Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai rencana dan cara-cara membawakan pengajaran agar segala prinsip dasar dapat terlaksana dan segala tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif (Gulo, 2008:3). Cara-cara membawakan pengajaran itu merupakan pola dan urutan umum perbuatan guru dan murid dalam perwujudan kegiatan pembelajaran.
pembelajaran kadang-kadang secara implisit dimiliki oleh seseorang tanpa pernah belajar secara formal tentang ilmu strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran digunakan untuk mempermudah proses pembelajaran sehingga dapat mencapai hasil yang optimal. Dalam Strategi Pembelajaran (2006:124), Sanjaya mengartikan strategi pembelajaran sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dari pengertian tersebut, strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan dalam pembelajaran, selain itu strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Oleh karena itu, sebelum menentukan strategi, perlu merumuskan tujuan yang jelas dan dapat diukur keberhasilannya. sebelum menentukan strategi, perlu merumuskan tujuan yang jelas dan dapat diukur keberhasilannya.
Dari definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan atau penyusunan suatu strategi baru sampai pada proses penyusunan rencana kerja belum sampai pada tindakan. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu exposition-discovery learning atau strategi penyampaian penemuan dan group-individual learning atau strategi pembelajaran group-individual (Rowntree dalam Wina Sanjaya, 2006:126).
2.2 Macam-macam Strategi Pembelajaran IPA
1. Strategi Pembelajaran Kooperatif
seseorang yang sangat ahli, namun tidak bisa bekerja sama dengan anggota tim lainnya. Dia mungkin akan berjalan sendiri tanpa menghiraukan timnya. Akibatnya bukan keberhasilan yang diperoleh tetapi kegagalan. Perlukah kemampuan bekerja sama dilatihkan? Sekalipun gotong-royong merupakan budaya bangsa Indonesia, tidak berarti bahwa setiap orang Indonesia secara otomatis memiliki kemampuan untuk bekerja sama. Kemampuan bekerja sama menuntut lebih dari sekerdar niat untuk bekerja sama, namun juga keterampilan-keterampilan untuk bekerja sama, misalnya keterampilan-keterampilan mendengarkan, keterampilan mengungkapkan pendapat, keterampilan menyelesaikan konflik. Oleh karena itu, perlu usaha yang sungguh-sungguh untuk dapat mengembangkan keterampilan bekerja sama siswa.
Seringkali kita mengidentikkan kerja kelompok dengan pembelajaran kooperatif. Walaupun pembelajaran kooperatif dilakukan dalam bentuk kelompok, namun kerja kelompok tidak selalu bersifat kooperatif. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kerja kelompok bisa menjadi pembelajaran yang kooperatif. Model pembelajaran kelompok adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Ada empat unsur penting dalam Strategi pembelajaran koopratif, yaitu :
adanya peserta dalam kelompok; adanya aturan kelompok;
adanya upaya belajar setiap anggota kelompok; dan adanya tujuan yang harus dicapai.
terlibat, baik siswa sebagai peserta didik, maupun siswa sebagai anggota kelompok. Misalnya, aturan tentang pembagian tugas setiap anggota kelompok, waktu dan tempat pelaksanaan, dan lain sebagainya. Upaya belajar adalah segala aktivitas siswa untuk meningkatkan kemampuannya yang telah dimiliki maupun meningkatkan kemampuan baru, baik kemampuan dalam aspek pengetahuan, sikap, maupun keterampilan. Aktivitas pembelajaran tersebut dilakukan dalam kegiatan kelompok, sehingga antar peserta dapat saling belajar melalui tukar pikiran, pengalaman, maupun gagasan-gagasan. Aspek tujuan dimaksudkan untuk memberikan arah perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Melalui tujuan yang jelas, setiap anggota kelompok dapat memahami sasaran setiap kegiatan belajar. Salah satu strategi dari model pembelajaran kelompok adalah strategi pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Strategi pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran kelompok yang akhir-akhir ini menjadi perhatian dan dianjurkan para ahli pendidikan untuk digunakan. Slavin (1995) mengemukakan dua alasan :
Beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan pretasi belajar siswa sekaligus dapat meningkatkan kemampuan hubungan sosial, menumbuhkan sikap, menerima kekurangan diri dan orang lain, serta dapat meningkatkan harga diri.
Pembelajaran kooperatif dapat merealisasikan kebutuhan siswa dalam belajar berpikir, memecahkan masalah, dan mengintregasikan pengetahuan dengan keterampilan.
jika kelompok mampu menunjukkan prestasi yang dipersyaratkan. Dengan demikian, setiap anggota kelompok akan mempunyai ketergantungan positif. Ketergantungan semacam itulah yang selanjutkan akan memunculkan tanggung jawab individu terhadap kelompok dan keterampilan interpersonal dari setiap anggota kelompok. Setiap individu akan saling membantu, mereka akan mempunyai motivasi untuk keberhasilan kelompok, sehingga setiap individu akan memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan kontribusi demi keberhasilan kelompok.
Strategi Pembelajaran Kooperatif mempunyai dua komponen utama, yaitu komponen tugas kooperatif (cooperative task) dan komponen struktur insentif kooperatif (cooperative incentive structure). Tugas kooperatif berkaitan dengan hal yang menyebabkan anggota bekerja sama dalam menyelesaikan tugas kelompok; sedangkan struktur insentif kooperatif merupakan sesuatu yang membangkitkan motivasi individu untuk bekerja sama mencapai tujuan kelompok. Struktur insentif dianggap sebagai keunikan dari pembelajaran kooperatif, karena melalui struktur insentif setiap anggota kelompok bekerja keras untuk belajar, mendorong dan memotivasi anggota lain menguasai materi pelajaran, sehingga mencapai tujuan kelompok.
Jadi, hal yang menarik dari strategi pembelajaran kooperatif adalah adanya harapan selain memiliki dampak pembelajaran, yaitu berupa peningkatan prestasi belajar peserta didik (student achievement) juga mempunyai dampak pengiring seperti relasi sosial, penerimaan terhadap peserta didik yang dianggap lemah, harga diri, norma akademik, penghargaan terhadap waktu, dan suka memberi pertolongan pada yang lain.
Strategi pembelajaran ini bisa digunakan manakala :
Guru menekankan usaha kolektif disamping usaha individual dalam belajar.
Jika guru menghendaki seluruh siswa (bukan hanya siswa yang pintar saja) untuk memperoleh keberhasilan dalam belajar.
Jika guru menghendaki untuk mengembangkan kemampuan komunikasi siswa sebagai dari bagian isi kurikulum.
Jika guru menghendaki meningkatkan motivasi siswa dan menambah tingkat partisipasi mereka.
Jika guru menghendaki berkembangnya kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dan menemukan berbagai solusi pemecahan.
Adanya saling ketergantungan yang positif diantara anggota kelompok. Setiap anggota kelompok mempunyai kedudukan yang sama dalam tim walaupun peran mereka bisa berbeda-beda. Adanya tanggung jawab setiap anggota. Sebagian dari kelompok, setiap kelompok mungkin mempunyai peran yang berbeda. Keberhasilan tim akan sangat ditentukan oleh kinerja individu-individu anggota kelompok. Oleh karena itu, setiap anggota mempunyai tanggung jawab perorangan yang pada akhirnya akan menentukan keberhasilan/kegagalan tim. Adanya komunikasi antar anggota. Sebuah tim tentu perlu berkomunikasi satu sama lain. Sebuah kelompok yang anggotanya tidak saling berkomunikasi bukanlah tim yang kooperatif.
Ada beberapa model pembelajaran kooperatif yang bisa dipilih guru dalam pembelajaran IPA di sekolah. Misalnya model think-pair-square (berpikir-berpasangan-berempat), model to stay to stray (dua tinggal dua pergi), jigsaw, dan beberapa model belajar kooperatif yang lain. Sebagai contoh disini disajikan contoh pelaksanaan model think-pair-square (berpikir-berpasangan-berempat).
a. Kelas dibagi dalam kelompok-kelompok, masing-masing kelompok jumlah anggotanya 4 orang.
b. Setiap siswa mendapatkan tugas yang harus dipikirkan dan dikerjakan secara sendiri-sendiri.
A. Karakteristik Strategi Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif berbeda dengan strategi pembelajaran yang lain. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari proses pembelajaran yang lebih menekankan kepada proses kerja sama dalam kelompok. Tujuan yang ingin dicapai tidak hanya kemampuan akademik dalam pengertian penguasaan bahan pelajaran, tetapi juga adanya unsur kerja sama untuk penguasaan materi tersebut. Adanya kerja sama inilah yang menjadi ciri khas dari pembelajaran kooperatif.
Slavin, Abrani, dan Chambers (1996) berpendapat bahwa pembelajaran melalui kooperatif dapat dijelaskan dari beberapa perspektif, yaitu perspektif motivasi, perspektif sosial, perspektif perkembangan kognitif, dan perspektif elaborasi kognitif. Perspektif motivasi artinya bahwa penghargaan yang diberikan kepada kelompok memungkinkan setiap anggota kelompok akan saling membantu. Dengan demikian, keberhasilan setiap individu pada dasarnya adalah keberhasilan kelompok. Hal semacam ini akan mendorong setiap anggota kelompok untuk memperjuangkan keberhasilan kelompoknya.
Perspektif sosial artinya bahwa melalui kooperatif setiap siswa akan saling membantu dalam belajar karena mereka menginginkan semua anggota kelompok memperoleh keberhasilan. Bekerja secara tim dengan mengevaluasi keberhasilan sendiri oleh kelompok, merupakan iklim yang bagus, dimana setiap anggota kelompok menginginkan semuanya memperoleh keberhasilan.
Perspektif perkembangan kognitif artinya bahwa dengan adanya interaksi antara anggota kelompok dapat mengembangkan prestasi siswa untuk berpikir mengolah berbagai informasi. Elaborasi kognitif, artinya bahwa setiap siswa akan berusaha untuk memahami dan menimba informasi untuk menambah pengetahuan kognitifnya. Dengan demikian, karakteristik strategi pembelajaran kooperatif dijelaskan dibawah ini.
a. Pembelajaran Secara Tim
Artinya, kelompok terdiri atas anggota yang memiliki kemampuan anggota akademik, jenis kelamin, dan latar belakang sosial yang berbeda. Hal ini dimaksudkan agar setiap anggota kelompok akan saling memberikan pengalaman, saling memberi dan menerima, sehingga diharapkan setiap anggota dapat memberikan kontribusi terhadap keberhasilan kelompok.
b. Didasarkan pada Manajemen Kooperatif
Sebagaimana pada umumnya, manajemen mempunyai empat fungsi pokok, yaitu fungsi perencanaan, fungsi organisasi, fungsi pelaksanaan, dan fungsi kontrol. Demikian juga dalam pembelajaran kooperatif. Fungsi perencanaan menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memerlukan perencanaan yang matang agar proses pembelajaran berjalan secara efektif misalnya tujuan apa yang harus dicapai, bagaimana cara mencapainya, apa yang harus digunakan untuk mencapai tujuan itu, dan lain sebagainya. Fungsi pelaksanaan menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif harus dilaksanakan sesuai dengan perencanaan, melalui langkah-langkah pembelajaran yang sudah ditentukan termasuk ketentuan-ketentuan yang sudah disepakati bersama. Fungsi organisasi menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pekerjaan bersama antar setiap anggota kelompok, oleh sebab itu perlu diatur tugas dan tanggung jawab setiap anggota kelompok. Fungsi control menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif perlu ditentukan kriteria keberhasilan baik melalui tes maupun non tes.
c. Kemauan untuk Bekerja Sama
Keberhasilan pembelajaran kooperatif ditentukan oleh keberhasilan secara kelompok. Oleh sebab itu, prinsip bekerja sama perlu ditekankan dalam proses pembelajaran kooperatif. Setiap anggota kelompok bukan saja harus diatur tugas dan tanggung jawab masing-masing, akan tetapi juga ditanamkan perlunya saling membantu. Misalnya, yang pintar perlu membantu yang kurang pintar.
d. Keterampilan Bekerja Sama
hambatan dalam berinteraksi dan berkomunikasi, sehingga siswa dapat menyampaikan ide, mengemukakan pendapat, dan memberikan kontribusi kepada keberhasilan kelompok.
B. Prinsip-prinsip Pembelajaran Kooperatif
Terdapat empat prinsip dasar pembelajaran kooperatif seperti dijelaskan dibawah ini.
Prinsip Ketergantungan Positif (Positive Interdependence)
Dalam pembelajaran kelompok, keberhasilan suatu penyelesaian tugas sangat tergantung kepada usaha yang dilakukan setiap anggota kelompoknya. Oleh sebab itu, perlu didasari oleh setiap anggota kelompoknya keberhasilan penyelesaian tugas kelompok akan ditentukan oleh kinerja masing-masing anggota. Dengan demikian, semua anggota dalam kelompok akan merasa saling ketergantungan. Untuk terciptanya kelompok kinerja yang efektif setiap anggota kelompok masing-masing perlu membagi tugas sesuai dengan tujuan kelompoknya. Tugas tersebut tentu saja disesuaikan dengan kemampuan setiap anggota kelompok. Inilah hakikat ketergantuangan positif, atrinya tugas kelompok tidak mungkin bisa diselesakan manakala ada anggota yang tidak bisa menyelesaikan tugasnya, dan semua ini memerlukan kerja sama yang baik dari masing-masing anggota kelompok. Anggota kelompok yang mempunyai kemampuan lebih, diharapkan mau dan mampu membantu temannya untuk menyelesaikan tugasnya.
Tanggung Jawab Perseorangan (Individual Accountability)
Interaksi Tatap Muka (Face to Face Promotion Interaction)
Pembelajaran kooperatif memberi ruang dan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka saling memberikan informasi dan saling memberlajarkan. Interaksi tatap muka akan memberikan pengalaman yang berharga kepada setiap anggota kelompok untuk bekerja sama, menghargai setiap perbedaan, memanfaatkan kelebihan masing-masing anggota, dan mengisi kekurangan masing-masing. Kelompok belajar kooperatif dibentuk secara heterogen, yang berasal dari budaya, latar belakang sosial, dan kemampuan akademik yang berbeda. Perbedaan semacam ini akan menjadi modal utama dalam proses saling memperkaya antar anggota kelompok.
Partisipasi dan Komunikasi (Participation Communication)
Pembelajaran kooperatif melatih siswa untuk dapat mampu berpartisipasi aktif dan berkomunikasi. Kemampuan ini sangat penting sebagai bekal mereka dalam kehidupan dimasyarakat kelak. Oleh sebab itu, sebelum melakukan kooperatif, guru perlu membekali siswa dengan kemampuan berkomunikasi. Tidak setiap siswa mempunyai kemampuan berkomunikasi, misalnya kemampuan mendengarkan dan kemampuan berbicara, padahal keberhasilan kelompok ditentukan oleh partisipasi setiap anggotanya. Untuk dapat melakukan partisipasi dan komunikasi, siswa perlu dibekali dengan kemampuan-kemampuan berkomunikasi. Misalnya, cara menyatakan ketidaksetujuan atau cara menyanggah pendapat orang lain secara santun, tidak memojokkan; cara menyampaikan gagasan dan ide-ide yang dianggapnya baik dan berguna. Keterampilan berkomunikasi memang memerlukan waktu. Siswa tidak mungkin dapat menguasainya dalam waktu sekejap. Oleh sebab itu, guru perlu terus melatih dan melatih, sampai pada akhirnya setiap siswa memiliki kemampuan untuk menjadi komunikator yang baik.
C. Prosedur Pembelajaran Kooperatif
Prosedur pembelajaran kooperatif pada prinsipnya terdiri atas empat tahap, yaitu: 1) Penjelasan Materi
tahap ini adalah pemahaman siswa terhadap pokok materi pelajaran. Pada tahap ini guru memberikan gambaran umum tentang materi pelajaran yang harus dikuasai yang selanjutnya siswa akan memperdalam materi dalam pembelajaran kelompok (tim). Pada tahap ini guru dapat menggunakan metode ceramah, curah pendapat, dan tanya jawab, bahkan kalau perlu guru dapat menggunakan demonstrasi. Disamping itu, guru juga dapat menggunakan berbagai media pembelajaran agar proses penyampaian dapat lebih menarik siswa.
2) Belajar dalam Kelompok
Setelah guru menjelaskan gambaran umum tentang pokok-pokok materi pelajaran, selanjutnya siswa diminta untuk belajar pada kelompoknya masing-masing yang telah dibentuk sebelumnya. Pengelompokkan dalam strategi pembelajaran kooperatif bersifat heterogen, artinya kelompok dibentuk berdasarkan perbedaan-perbedaan setiap anggotanya, baik perbedaan gender, latar belakang, sosial-ekonomi, dan etnik, serta perbedaan kemampuan akademik. Dalam hal kemampuan akademis, kelompok pembelajaran biasanya terdiri dari satu orang berkemampuan akademis tinggi, dua orang dengan kemampuan sedang, dan satu lainnya dari kelompok kemampuan akademis kurang (Anita Lie, 2005). Selanjutnya, Lie menjelaskan beberapa alasan lebih disukainya pengelompokkan heterogen. Pertama, kelompo heterogen memberikan kesempatan untuk saling mengajar (peertutoring) dan saling mendukung. Kedua, kelompok ini meningkatkan relasi dan interaksi antarras, agama, etnis, dan gender. Terakhir, kelompok heterogen memudahkan pengelolaan kelas karena dengan adanya satu orang yang berkemampuan akademis tinggi, guru mendapatkan satu asisten untuk setiap tiga orang. Melalui pembelajaran dalam tim siswa didorong untuk melakukan tukar menukar (sharing) informasi dan pendapat, mendiskusikan permasalahan secara bersama, membandingkan jawaban mereka, dan mengoreksi hal-hal yang kurang tepat.
3) Penilaian
kelompok. Hasil akhir setiap siswa adalah penggabungan keduanya dan dibagi dua. Nilai setiap kelompok memiliki nilai sama dalam kelompoknya. Hal ini disebabkan nilai kelompok adalah nilai bersama dalam kelompoknya yang merupakan hasil kerja sama setiap anggota kelompok.
4) Pengakuan Tim
Pengakuan tim (team recognition) adalah penetapan tim yang dianggap paling menonjol atau tim paling berprestasi untuk kemudian diberikan penghargaan atau hadiah. Pengakuan dan pemberian penghargaan tersebut diharapkan dapat memotivasi tim untuk terus berpretasi dan juga membangkitkan motivasi tim lain untuk lebih mampu meningkatkan prestasi mereka.
D. Keunggulan dan Kelemahan Strategi Pembelajaran Kooperatif
Keunggulan Strategi Pembelajaran Kooperatif
Keunggulan pembelajaran kooperatif sebagai suatu strategi pembelajaran di antaranya:
Melalui strategi pembelajaran kooperatif siswa tidak terlalu menguntungkan pada guru, akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa yang lain.
Strategi pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
Strategi pembelajaran kooperatif dapat membantu anak untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.
Strategi pembelajaran kooperatif dapat membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
Melalui strategi pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri, menerima umpan balik. Siswa dapat berpraktik memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan, karna keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab kelompoknya.
Strategi pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata (riil).
Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan untuk berpikir. Hal ini berguna untuk proses pendidikan jangka panjang.
Kelemahan Strategi Pembelajaran Kooperatif
Disamping keunggulan, strategi pembelajaran kooperatif juga memiliki kelemahan diantaranya :
Untuk memahami dan mengerti filosofis strategi pembelajaran kooperatif memang butuh waktu. Sangat tidak rasional kalau kita mengharapkan secara otomatis siswa dapat mengerti dan memahami filsafat cooperative learning. Untuk siswa yang dianggap memiliki kelebihan, contohnya, mereka akan terhambat oleh siswa yang dianggap kurang memiliki kemampuan. Akibatnya, keadaan semacam ini dapat mengganggu iklim kerja sama dalam kelompok.
Ciri utama dari strategi pembelajaran kooperatif adalah bahwa siswa saling belajar. Oleh karena itu, jika dibandingkan dengan pengajaran langsung dari guru, strategi pembelajaran kooperatif tanpa dibarengin peer teaching yang efektif maka siswa tidak akan mencapai apa yang seharusnya dipelajari dan dipahami oleh siswa.
Keberhasilan strategi pembelajaran kooperatif dalam upaya mengembangkan kesadaran kelompok memerlukan periode waktu yang cukup panjang, dan hal ini tidak mungkin dapat tercapai hanya dengan satu kali atau sekali-sekali penerapan strategi ini.
Walaupun kemampuan bekerja sama merupakan kemampuan yang sangat penting untuk siswa akan tetapi banyak aktivitas dalam kehidupan yang hanya didasarkan kepada kemampuan secara individual. Oleh karena itu idealnya melalui strategi pembelajaran kooperatif selain siswa belajar bekerja sama, siswa juga harus belajar bagaimana membangun kepercayaan diri. Untuk mencapai kedua hal itu dalam strategi pembelajaran kooperatif memang bukan pekerjaan yang mudah.
2. Strategi Pembelajaran Inkuiri Pengertian Inkuiri
Inkuiri berasal dari bahasa Inggris inquiry yang dapat diartikan sebagai proses bertanya dan mencari tahu jawaban terhadap pertanyaan ilmiah yang diajukannya. Pertanyaan ilmiah adalah pertanyaan yang dapat mengarahkan pada kegiatan penyelidikan terhadap objek pertanyaan. Dengan kata lain, inkuiri adalah suatu proses untuk memperoleh dan mendapatkan informasi dengan melakukan observasi dan atau eksperimen untuk mencari jawaban atau memecahkan masalah terhadap pertanyaan atau rumusan masalah.
Secara umum, inkuiri merupakan proses yang bervariasi dan meliputi kegiatan-kegiatan mengobservasi, merumuskan pertanyaan yang relevan, meng-evaluasi buku dan sumber-sumber informasi lain secara kritis, merencanakan penyelidikan atau investigasi, mereview apa yang telah diketahui, melaksanakan percobaan atau eksperimen dengan menggunakan alat untuk memperoleh data, menganalisis dan menginterpretasi data, serta membuat prediksi dan mengkomunikasikan hasilnya. (Depdikbud, 1997).
prinsip bertanya (guru sebagai penanya), prinsip belajar untuk berfikir (learning how to think), prinsip keterbukaan (menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukan). Ada beberapa hal yang menjadi ciri utama Strategi Pembelajaran Inkuiri:
Strategi inkuiri menekankan pada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya peserta didik jadikan subyek belajar. Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan
menemukan jawaban sendiri dari suatu yang dipertanyakan. Strategi inkuiri ini menempatkan guru sebagai fasilitator dan motivator, bukan sebagai sumber belajar yang menjelaskan saja.
Tujuan dari penggunaan strategi inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan kritis atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian proses mental.
Strategi Pembelajaran Inkuri efektif apabila :
Guru mengharapkan siswa dapat menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang ingin dipecahkan
Jika bahan pelajaran yang akan diajarkan tidak berbentuk fakta atau konsep yang sudah jadi, akan tetapi sebuah kesimpulan yang perlu pembuktian.
Jika proses pembelajaran berangkat dari ingin tahu siswa terhadap sesuatu. Jika akan mengajar pada sekelompok siswa yang rata-rata memiliki
kemampuan dan kemampuan berpikir.
Jika siswa yang belajar tak terlalu banyak sehingga bisa dikendalikan oleh guru.
Variasi pengembangan strategi pembelajaran di antaranya adalah sebagai berikut: Kelompok Pro-Kontra.
Pendidik membagi peserta didik dalam dua kelompok. Misalnya kelompok pro dan kontra. Untuk menentukan dia berada di kelompok pro atau kontra, maka pendidik memberikan pertanyaan yang ditujukan kepada mereka. Bagi yang memiliki jawaban “setuju”, maka ia masuk dalam kelompok yang “pro”, begitu juga dengan yang “tidak setuju”, maka ia akan masuk pada kelompok “kontra”. Jumlah anggota dalam kelompok tidak harus sama, karena disesuaikan dengan jawaban masing-masing anak.
Lempar Bola Kertas Buta.
Pendidik membagi peserta didik dalam dua kelompok. Misalnya kelompok A dan kelompok B. Untuk menentukan dia berada di kelompok A atau B adalah dengan menghitung secara acak, baik melalui absen ataupun berhitung langsung dari urutan tempat duduk. Setelah pendidik memberikan stimulus-stimulus berupa materi yang akan dibahas, kemudian ia memerintah kepada masing-masing peserta didik untuk membuat pertanyaan. Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut nanti yang akan membuat diskusi semakin berwarna, karena yang akan menjawab adalah teman dari kelompok yang seberang. Caranya yaitu: melempar bola kertas kepada kelompok seberang dengan posisi badan menghadap ke belakang. Bagi yang terkena bola kertas tersebut, maka dialah yang harus menjawab pertanyaan dari yang melempar. Begitu seterusnya secara estafet.
Bertamu ke Kelompok Tetangga.
Pendidik membagi peserta didik menjadi lima atau enam kelompok. Dari masing-masing kelompok berdiskusi dari selembar materi yang diberikan. Setelah itu, anggota kelompok 7 singgah ke kelompok yang lain, hanya satu orang yang masih tetap di kelompoknya. Satu orang tersebut bertanggung jawab menjelaskan materi yang telah didiskusikan kepada anggota pendatang. Begitu seterusnya secara bergantian, sampai semuanya mendapatkan bagian untuk menjelaskan materinya.
Bola Musik Asyik.
pertanyaan dari materi yang telah diberikan. Bahan yang perlu dipersiapkan adalah bola kertas dan musik/ringtone. Kemudian pendidik meletakkan bola kertas tersebut dari arah start. Setelah itu ia menghidupkan musik. Bola kertas tersebut terus berputar dari satu siswa ke siswa yang lain. Ketika musik tersebut mati, bola kertas pun berhenti. Siswa yang mendapat bola kertas terakhir maka dialah (siswa) yang harus menjawab pertanyaan dari siswa yang menjadi start bola kertas. Begitu seterusnya, secara memutar.
Prinsip Penggunaan Strategi Pembelajaran Inkuiri
Berorientasi pada Pengembangan Intelektual
Tujuan utama dari strategi inkuiri adalah pengembangan kemampuan berpikir. Dengan demikian, strategi pembelajaran inkuiri ini selain berorientasi pada hasil belajar juga berorientasi pada proses belajar. Oleh karena itu, keberhaasilan dari proses pembelajaran dengan menggunakan strategi inkuiri bukan ditentukan oleh sejauh mana siswa dapat menguasai materi pembelajaran, akan tetapi sejauh mana beraktifitas mencari dan menemukan sesuatu.
Prinsip Interaksi
Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi antara siswa maupun interaksi siswa dengan guru, bahkan interaksi antara siswa dengan lingkungan. Pembelajaran sebagai proses interaksi, artinya menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai pengatur lingkungan atau pengatur interaksi itu sendiri. Guru perlu mengarahkan (directing) agar siswa bisa mengembangkan kemampuan berpikirnya melalui interaksi mereka.
Prinsip Bertanya
Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunakan strategi pembelajaran inkuiri adalah guru sebagai penanya. Dengan demikian, kemampuan siswa untuk menjawab setiap 8 pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan sebagian dari proses berpikir. Oleh sebab itu, kemampuan guru untuk bertanya dalam setiap langkah inkuiri sangat diperlukan.
Prinsip Belajar untuk Berpikir
maupun otak kanan. Pembelajaran berpikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal. Belajar yang hanya cenderung menggunakan otak kiri dengan memaksa anak untuk berpikir logis dan rasional, akan membuat anak dalam posisi “kering dan hampa”. Oleh karena itu, belajar berpikir logis dan rasional perlu didukung oleh pergerakan otak kanan.
Prinsip Keterbukaan
Belajar merupakan suatu proses mencoba berbagai kemungkinan. Segala sesuatu mungkin saja terjadi. Oleh sebab itu, anak perlu diberikan kebebasan untuk mencoba sesuai dengan perkembangan kemampuan logika dan nalarnya. Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya. Tugas guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukan.
Langkah Pelaksanaan Strategi Pembelajaran Inkuiri
Orientasi
Orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif. Pada langkah ini guru mengondisikan agar siswa siap melaksanakan proses pembelajaran. Pada langkah orientasi dalam Strategi Pembelajaran Inkuiri, guru merangsang dan mengajak siswa berpikir memecahkan masalah. Keberhasilan orientasi tergantung pada kemauan siswa untuk beraktivitas menggunakan kemampuannya dalam memecahkan masalah tanpa kemauan dan kemampuan itu tidak akan mungkin proses pembelajran akan beralan dengan lancar.
Merumuskan Masalah
Mengajukan Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Kemampuan atau potensi individu untuk berpikir pada dasarnya sudah dimiliki sejak individu itu lahir. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji.
Mengumpulkan Data
Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring infirmasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajuakan. Dalam strategi pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengmbangan intelektual. Oleh sebab itu tugas dan peran guru tahapan ini adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan.
Menguji Hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Yang terpenting dalam menguji hipotesis adalah mencari tingkat keyakinan siswa atas jawaban yang diberikan. Artinya kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Merumuskan Kesimpulan
Kesulitan – Kesulitan Implementasi Strategi Pembelajaran Inkuiri
Strategi Pembelajaran Inkuiri merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dianggap baru khususnya di Indonesia. Sebagai suatu strategi baru, dalam penerapannya terdapat beberapa kesulitan :
Strategi Pembelajaran Inkuiri merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses berpikir yang bersandarkan kepada dua sayap yang sama pentingnya, yaitu proses belajar dan hasil belajar.
Sejak lama tertanam dalam budaya belajar siswa bahwa belajar pada dasarnya adalah menerima materi pelajaran dari guru, dengan demikian bagi mereka guru adalah sumber belajar yang utama.
Berhubungan dengan sistem pendidikan kita yang dianggap tidak konsisten.
Keunggulan Dan Kelemahan Strategi Pembelajaran Inkuiri
Keunggulan Strategi Pembelajaran Inkuiri
Strategi Pembelajaran Inkuiri merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih bermakna.
Strategi Pembelajaran Inkuiri dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
Strategi Pembelajaran Inkuiri merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang mengaggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
Strategi pembelajaran ini dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Artinya, siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
Kelemahan Strategi Pembelajaran Inkuiri
Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.
Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka Strategi Pembelajaran Inkuiri akan sulit diimplementasikan oleh setiap guru.
Strategi Pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Dalam sistem belajar ini guru menyajikan bahan pelajaran tidak dalam bentuk yang final, tetapi anak didik diberi peluang untuk mencapai dan menemukan sendiri dengan menggunakan teknik pendekatan pemecahan masalah. Hasil belajar dengan cara ini lebih mudah dihapal dan diingat, mudah ditransfer untuk memecahkan masalah. Pendekatan belajar mengajar ini sangat cocok untuk materi pelajaran yang bersifat kognitif. Sedangkan beberapa kelemahannya adalah akan memakan waktu yang cukup banyak, dan kalau kurang terpimpin/terarah dapat menjurus kepada kekacauan dan keakaburan atas materi yang dipelajari.
3. Strategi Pembelajaran Tematik
Mengapa di pelajaran IPA di SMA harus dibagi menjadi biologi, fisika, kimia atau bahkan di perguruan tinggi biologi mesti dibagi menjadi bermacam-macam ilmu? Seperti yang telah dikemukakan ilmu sangatlah luas dan tidak mungkin manusia menguasai semuanya. Manusia hanya bisa menguasai beberapa saja oleh karena itu, dibuat cabang-cabang / bagian-bagian. Semakin kecil cabang ilmu berarti semakin sempit dan khusus ilmu tersebut.
Kemampuan anak usia SD untuk menguasai ilmu masih sangatlah terbatas. Tentu tidak mungkin apabila anak SD harus belajar genetika, kimia organic, atau fisika nuklir. Anak usia sekolah dasar baru mampu belajar hal yang sifatnya umum. Karena itu, kurang tepat apabila pelajaran disajikan secara terpisah-pisah. Ilmu/pengetahuan pada dasarnya berasal dari satu dan barulah mulai terbentuk cabang-cabang. Oleh karena itu, sangat wajar apabila aristoteles, misalnya namanya dikaitkan pada berbagai cabang ilmu, baik ilmu-ilmu sosial maupun ilmu-ilmu alam. Pada saat dia hidup tentunya dia tidak menyatakan bahwa ini ilmu biologi, ini filsafat dan sebagainya. Orang-orang yang mempelajari belakangan, menempatkan pemikiran dan temuan aristoteles dalam cabang-cabang ilmu yang berbeda.
Orang dewasa mengenal bermacam-macam ilmu, misalnya ilmu sosial, ilmu alam, ilmu bahasa dan ilmu agama. Ilmu pada dasarnya hanyalah satu, namun ketidakmampuan manusia untuk menguasai ilmu menyebabkan manusia berusaha memisah-misahkan ilmu agar bisa dikuasai. Disekolah dasar dan sekolah menengah pertama dikenal pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA) atau sains. Disekolah menengah atas tidak ada lagi pembelajaran IPA, yang ada ialah pelajaran biologi, fisika, dan kimia, apabila kita kuliah dijurusan biologi, pelajaran biologi tidak ada sebab yang ada ialah eklogi, embriologi, fisiologi, genetika. morfologi, taksonomi, dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa semakin kita mendalami suatu ilmu maka akan muncul cabang-cabang ilmu baru.
saja oleh karena itu, dibuat cabang-cabang / bagian-bagian. Semakin kecil cabang ilmu berarti semakin sempit dan khusus ilmu tersebut.
Kemampuan anak usia SD untuk menguasai ilmu masih sangatlah terbatas. Tentu tidak mungkin apabila anak SD harus belajar genetika, kimia organic, atau fisika nuklir. Anak usia sekolah dasar baru mampu belajar hal yang sifatnya umum. Karena itu, kurang tepat apabila pelajaran disajikan secara terpisah-pisah. Ilmu/pengetahuan pada dasarnya berasal dari satu dan barulah mulai terbentuk cabang-cabang. Oleh karena itu, sangat wajar apabila aristoteles, misalnya namanya dikaitkan pada berbagai cabang ilmu, baik ilmu-ilmu sosial maupun ilmu-ilmu alam. Pada saat dia hidup tentunya dia tidak menyatakan bahwa ini ilmu biologi, ini filsafat dan sebagainya. Orang-orang yang mempelajari belakangan, menempatkan pemikiran dan temuan aristoteles dalam cabang-cabang ilmu yang berbeda.
Paparan diatas mengindikasikan bahwa pelajaran di SD, terutama kelas-kelas awal hendaknya bersifat satu kesatuan dan tidak dipisah-pisahkan. Pada saat kita belajar membaca, apakah kita berpikir ini pelajaran membaca IPA, ini pelajaran membaca IPS, ini pelajaran membaca bahasa, dan sebagainya? Tentu tidak. Pada saat kita belajar membaca, apapun isinya, pada saat itu pula kita belajar tentang isi. Mungkin tujuan utamanya adalah membaca, namun pada saat itu pula kita mempelajari isi. Karena itulah penyajian pelajaran secara tematik merupakan alternatif yang tepat untuk kelas-kelas awal di SD.
Pengertian Pembelajaran Tematik
Dalam aspek perkembangan kognitif (berdasarkan teori/tahap perkembangan kognitif Piaget), anak usia ini berada pada tahap transisi dari tahap pra operasi ke tahap operasi konkrit. Piaget, dalam hal ini, menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya. Menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata, yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap berbagai objek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman tentang obyek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi (menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikirannya) dan akomodasi (proses memanfaatkan konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek).
pemikiran yang kreatif dengan menggunakan tema. Poerwadarminta (1984: 1.040) Tema adalah pokok pikiran; dasar cerita (yang dipercakapkan, dipakai sebagai dasar mengarang, mengarang sajak, dsb). Pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang dirancang berdasarkan tema-tema tertentu. Dalam pembahasannya tema itu ditinjau dari berbagai mata pelajaran. Sebagai contoh, tema “Air” dapat ditinjau dari mata pelajaran IPA dan Matematika. Lebih luas lagi, tema itu dapat ditinjau dari bidang studi lain, seperti IPS, Bahasa Indonesia, Penjasorkes, dan SBK. Pembelajaran tematik menyediakan keluasan dan kedalaman implementasi kurikulum, menawarkan kesempatan yang sangat banyak pada siswa untuk memunculkan dinamika dalam pendidikan. Unit yang tematik adalah epitome dari seluruh bahasa pembelajaran yang memfasilitasi siswa untuk secara produktif menjawab pertanyaan yang dimunculkan sendiri dan memuaskan rasa ingin tahu dengan penghayatan secara alamiah tentang dunia di sekitar mereka.
Proses belajar anak tidak sekedar menghafal konsep-konsep dan fakta-fakta, tetapi merupakan kegiatan menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang lebih utuh. Belajar dimaknai sebagai proses interaksi dari anak dengan lingkungannya. Anak belajar dari halhal yang konkrit, yakni yang dapat dilihat, didengar, diraba dan dibaui. Hal ini sejalan dengan falsafah konstruksivisme yang menyatakan bahwa manusia mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan obyek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya. Pengetahuan ini tidak dapat ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada anak. Sejalan dengan tahapan perkembangan dan karakteristik cara anak belajar tersebut, maka pendekatan pembelajaran siswa SD kelas-kelas awal adalah pembelajaran tematik.
persiapan yang tinggi dari guru, dalam hal waktu, sumber, bahan ajar, serta perangkat pendukung lainnya. Oleh karena itu penelitian tentang implementasi model pembelajaran tematik di kelas rendah Sekolah Dasar beserta faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilannya, terutama untuk meningkatkan kemampuan dasar siswa SD dalam membaca, menulis dan berhitung, sangat diperlukan.
Penetapan pendekatan tematik dalam pembelajaran di kelas rendah oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) ini tidak lepas dari perkembangan akan konsep pembelajaran terpadu. Menilik perkembangan konsep pendekatan terpadu di Indonesia, pada saat ini model pembelajaran yang dipelajari dan berkembang adalah model pembelajaran terpadu yang dikemukakan oleh Fogarty (1990). Model pembelajaran terpadu yang dikemukakan oleh Fogarty ini berawal dari konsep pendekatan interdisipliner yang dikembangkan oleh Jacob (1989). Jacob (1989) dan Fogarty (1991) berpendapat bahwa wujud penerapan pendekatan integratif itu bersifat rentangan (continuum).
Bertolak dari konsep pendekatan integratif yang dianut Jacob tersebut, Fogarty (1991) menyatakan bahwa ada 10 model integrasi pembelajaran, yaitu model fragmented, connected, nested, sequenced, shared, webbed, threaded, integrated, immersed, dan networked. Model-model itu merentang dari yang paling sederhana hingga yang paling rumit, mulai dari separated-subject sampai eksplorasi keterpaduan antar aspek dalam satu bidang studi (model fragmented, connected, nested), model yang menerpadukan antar berbagai bidang studi (model sequenced, shared, webbed, threaded, integrated), hingga menerpadukan dalam diri pembelajar sendiri dan lintas pembelajar (model immersed dan networked).
pembelajaran tematik dikembangkan dengan berdasar kepada pendekatan diskoveri inkuiri dimana siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga proses evaluasi.
Psikologi Gestalt sebagai Landasan Pengembangan Pembelajaran Tematik
Berhasilnya suatu proses pendidikan, bergantung pada proses pembelajaran yang terjadi di sekolah. Kemampuan guru yang berhubungan dengan pemahaman guru akan hakekat belajar akan sangat mempengaruhi proses pembelajaran yang berlangsung. Guru yang memiliki pemahaman hakekat belajar sebagai proses mengakumulasi pengetahuan maka proses pembelajaran yang terjadi hanyalah sekedar pemberian sejumlah informasi yang harus dihapal siswa. Sebaliknya, apabila pemahaman guru tentang belajar adalah proses memperoleh perilaku secara keseluruhan, proses pembelajaran yang terjadi mencerminkan suatu kesatuan yang mengandung berbagai persoalan untuk dipahami oleh anak secara keseluruhan dan terpadu. Seperti yang diungkapkan oleh Surya (2002:84) bahwa belajar adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungannya.
Dari definisi akan hakikat belajar di atas dapat diketahui bahwa landasan pengembangan pembelajaran tematik secara psikologis adalah merunut pada teori belajar gestalt. Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang berarti ’whole configuration’ atau bentuk yang utuh, pola, kesatuan dan keseluruhan. Teori ini memandang kejiwaan manusia terikat pada pengamatan yang berwujud pada bentuk menyeluruh. Menurut teori belajar ini seorang belajar jika ia mendapat ”insight”. Insight itu diperoleh bila ia melihat hubungan tertentu antara berbagai unsur dalam situasi itu, sehingga hubungan itu menjadi jelas baginya dan demikian memecahkan masalah itu (Nasution, 2004; Slameto, 2003).
pengetahuan, keterampilan, nilai, atau sikap pembelajaran, serta pemikiran yang kreatif dengan menggunakan tema. Dari pernyataan tersebut dapat ditegaskan bahwa pembelajaran tematik dilakukan dengan maksud sebagai upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan, terutama untuk mengimbangi padatnya materi kurikulum. Disamping itu pembelajaran tematik akan memberi peluang pembelajaran terpadu yang lebih menekankan pada partisipasi/keterlibatan siswa dalam belajar. Keterpaduan dalam pembelajaran ini dapat dilihat dari aspek proses atau waktu, aspek kurikulum, dan aspek belajar mengajar.
Dalam menerapkan dan melaksanakan pembelajaran tematik, ada beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan yaitu 1) bersifat terintegrasi dengan lingkungan, 2) bentuk belajar dirancang agar siswa menemukan tema, dan 3) efisiensi. Agar diperoleh gambaran yang lebih jelas berikut ini akan diurakan ketiga prinsip tersebut, berikut ini. Bersifat kontekstual atau terintegrasi dengan lingkungan. Pembelajaran yang dilakukan perlu dikemas dalam suatu format keterkaitan, maksudnya pembahasan suatu topik dikaitkan dengan kondisi yang dihadapi siswa atau ketika siswa menemukan masalah dan memecahkan masalah yang nyata dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari dikaitkan dengan topik yang dibahas. Bentuk belajar harus dirancang agar siswa bekerja secara sungguh-sungguh untuk menemukan tema pembelajaran yang riil sekaligus mengaplikasikannya. Dalam melakukan pembelajaran tematik siswa didorong untuk mampu menemukan tema-tema yang benar-benar sesuai dengan kondisi siswa, bahkan dialami siswa. Efisiensi. Pembelajaran tematik memiliki nilai efisiensi antara lain dalam segi waktu, beban materi, metode, penggunaan sumber belajar yang otentik sehingga dapat mencapai ketuntasan kompetensi secara tepat.
Karakteristik Pembelajaran Tematik
jelas tentang karakteristik tersebut dapat diuraikan sebagai berikut. Berpusat pada siswa. Proses pembelajaran yang dilakukan harus menempatkan siswa sebagai pusat aktivitas dan harus mampu memperkaya pengalaman belajar. Pengalaman belajar tersebut dituangkan dalam kegiatan belajar yang menggali dan mengembangkan fenomena alam di sekitar siswa. Memberikan pengalaman langsung kepada siswa. Agar pembelajaran lebih bermakna maka siswa perlu belajar secara langsung dan mengalami sendiri. Atas dasar ini maka guru perlu menciptakan kondisi yang kondusif dan memfasilitasi tumbuhnya pengalaman yang bermakna. Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas. Mengingat tema dikaji dari berbagai mata pelajaran dan saling keterkaitan maka batas mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Bersifat fleksibel. Pelaksanaan pembelajaran tematik tidak terjadwal secara ketat antar mata pelajaran. Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat, dan kebutuhan siswa. Sehubungan dengan hal tersebut diungkapkan pula bahwa karakteristik pembelajaran terpadu/tematik sebagai berikut: 1) pembelajaran berpusat pada anak, 2) menekankan pembentukan pemahaman dan kebermaknaan, 3) belajar melalui pengalaman langsung, 4) lebih memperhatikan proses daripada hasil semata, 5) sarat dengan muatan keterkaitan.
Landasan Pembelajaran Tematik
Yang dijadikan landasan operasional dalam pembelajaran tematik di sekolah dasar adalah sebagai berikut.
tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing siswa. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus menerus. Keaktifan siswa yang diwujudkan oleh rasa ingin tahunya sangat berperan dalam perkembangan pengetahuannya, c) Aliran humanisme yang melihat siswa dari segi keunikan/ kekhasannya, potensinya, dan motivasi yang dimilikinya. Landasan psikologis Dalam pembelajaran tematik terutama berkaitan dengan psikologi perkembangan peserta didik dan psikologi belajar. Psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam menentukan isi/materi pembelajaran tematik yang diberikan kepada siswa agar tingkat keluasan dan kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik. Psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana isi/materi pembelajaran tematik tersebut disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus mempelajarinya. Landasan yuridis Dalam pembelajaran tematik berkaitan dengan berbagai kebijakan atau peraturan yang mendukung pelaksanaan pembelajaran tematik di sekolah dasar. Landasan yuridis tersebut adalah: a) UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya (pasal 9), dan b) UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya (Bab V Pasal 1-b).
Peran dan Pemilihan Tema dalam Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik dimaksudkan agar pelaksanaan kegiatan pembelajaran lebih bermakna dan utuh. Dalam pelaksanaan pembelajaran tematik perlu mempertimbangkan alokasi waktu untuk setiap topik, banyak sedikitnya bahan yang tersedia di lingkungan. Pilihlah tema yang terdekat dengan siswa. Lebih mengutamakan kompetensi dasar yang akan dicapai dari tema tersebut. Model pembelajaran terpadu yang dikemukakan oleh Fogarty ini berawal dari konsep pendekatan interdisipliner ini dalam pembelajaran tematik memiliki peran antara lain adalah sebagai berikut.
Siswa dapat mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi mata pelajaran dalam tema yang sama.
Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan Kompetensi berbahasa bisa dikembangkan lebih baik dengan mengaitkan
mata pelajaran lain dan pengalaman pribadi siswa.
Siswa lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas.
Siswa lebih bergairah belajar karena mereka bisa berkomunikasi dalam situasi yang nyata.
Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara terpadu dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam 2 atau 3 kali.
Pemilihan tema dalam pembelajaran tematik dapat berasal dari guru dan siswa. Pada umumnya guru memilih tema dasar dan siswa menentukan unit temanya. Tema juga dapat dipilih berdasarkan pertimbangan konsensus antar siswa. Dari pernyataan tersebut dapat ditegaskan bahwa pembelajaran tematik dilakukan dengan maksud sebagai upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan, terutama untuk mengimbangi padatnya materi kurikulum. Di samping itu pembelajaran tematik akan memberi peluang pembelajaran terpadu yang lebih menekankan pada partisipasi/keterlibatan siswa dalam belajar. Keterpaduan dalam pembelajaran ini dapat dilihat dari aspek proses atau waktu, aspek kurikulum, dan aspek belajar mengajar. Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu. Oleh karena itu, guru perlu mengemas atau merancang pengalaman belajar yang akan mempengaruhi kebermaknaan belajar siswa.
Prinsip-prinsip Pembelajaran Tematik
keterkaitan, maksudnya pembahasan suatu topik dikaitkan dengan kondisi yang dihadapi siswa atau ketika siswa menemukan masalah dan memecahkan masalah yang nyata dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari dikaitkan dengan topik yang dibahas. Bentuk belajar harus dirancang agar siswa bekerja secara sungguh-sungguh untuk menemukan tema pembelajaran yang riil sekaligus mengaplikasikannya. Dalam melakukan pembelajaran tematik siswa didorong untuk mampu menemukan tema-tema yang benar-benar sesuai dengan kondisi siswa, bahkan dialami siswa. Efisiensi. Pembelajaran tematik memiliki nilai efisiensi antara lain dalam segi waktu, beban materi, metode, penggunaan sumber belajar yang otentik sehingga dapat mencapai ketuntasan kompetensi secara tepat. Sedangkan beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan pembelajaran tematik, antara lain adalah sebagai berikut.
Pembelajaran tematik dimaksudkan agar pelaksanaan kegiatan pembelajaran lebih bermakna dan utuh.
Dalam pelaksanaan pembelajaran tematik perlu mempertimbangkan alokasi waktu untuk setiap topik, banyak sedikitnya bahan yang tersedia di lingkungan.
Pilihlah tema yang terdekat dengan siswa.
Lebih mengutamakan kompetensi dasar yang akan dicapai dari pada tema.
Keunggulan dan kekurangan Pembelajaran Tematik
Setiap pendekatan pembelajaran memiliki beberapa kelemahan dan kekuatan. tidak ada satupun pendekatan yang tidak memiliki kelemahan, begitu pula tidak ada satupun pendekatan yang tidak memiliki keunggulan. Pelaksanaan pembelajaran tematik memiliki beberapa keuntungan dan juga kelemahan yang diperolehnya. Keuntungan yang dimaksud yaitu:
Menyenangkan karena bertolak dari minat dan kebutuhan siswa
Pengalaman dan kegiatan belajar relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan siswa.
Menumbuhkan keterampilan sosial, seperti bekerja sama, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain.
Melengkapi pendapat tersebut di atas, menurut Kunandar (2007) pembelajaran tematik memiliki kelebihan yaitu sebagai berikut.
Menyenangkan karena berangkat dari minat dan kebutuhan peserta didik. Memberikan pengalaman dan kegiatan belajar mengajar yang relevan
dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik.
Hasil belajar dapat bertahan lama karena lebih berkesan dan bermakna. Mengembangkan keterampilan berfikir anak didik sesuai dengan persoalan
yang dihadapi.
Menumbuhkan keterampilan sosial melalui kerja sama.
Memiliki sikap toleransi komunikasi dan tanggap terhadap gagasan orang lain.
Menyajikan kegiatan yang bersifat nyata sesuai dengan persoalan yang dihadapi dalam lingkungan peserta didik
Pembelajaran tematik di samping memiliki beberapa keuntungan sebagaimana dipaparkan di atas, juga terdapat beberapa kekurangan yang diperolehnya. Kekurangan yang ditimbulkannya yaitu:
Guru dituntut memiliki keterampilan yang tinggi
Tidak setiap guru mampu mengintegrasikan kurikulum dengan konsep-konsep yang ada dalam mata pelajaran secara tepat.
Jenis-jenis Tema
Prinsip Pemilihan Tema
Berbagai tema yang dipilih dan disampaikan kepada siswa hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip pemilihan sebagai berikut.
- Kedekatan, artinya tema hendaknya dipilih mulai dari yang terdekat kepada tema yang semakin jauh dari kehidupan anak
- Kesederhanaan, tema hendaknya dipilih mulai dari yang mudah/sederhana sampai kepada yang lebih rumit bagi anak
- Kemenarikan, artinya tema hendaknya dipilih tema yang menarik minat anak
- Kekonkritan, artinya tema yang dipilih hendaknya bersifat konkrit. Sesuai dengan tingkat perkembangan anak
Alokasi Waktu Pembelajaran Tematik
Alokasi waktu yang tersedia untuk pembelajaran tematik adalah 27 jam pelajaran dalam satu minggu, dengan jatah waktu untuk masing-masing mata pelajaran adalah sebagai berikut: 15% untuk agama, 50% untuk membaca, menulis dan berhitung (calistung), 35% untuk Pendidikan Kewarganegaraan, IPS, Pengetahuan Alam, Kertakes dan Penjas. Perlu diketahui bahwa untuk kelas I, II dan III tidak dikenal penjadualan mata pelajaran. Jika terdapat indikator dalam berbagai matapelajaran yang tidak dapat dipadukan dalam tema maka guru dapat membuat tema khusus untuk indikator tersebut. Matapelajaran agama yang memiliki karaktristik khusus dapat diserahkan kepada guru agama, demikian pula mata pelajaran pendidikan jasmani.
Tahap Persiapan Pelaksanaan Pembelajaran Tematik
Persiapan yang harus dilaksanakan guru sebelum pelaksanaan pembelajaran tematik terdiri atas beberapa tahap, yaitu :
Pemetaan Kompetensi Dasar
Kegiatan pemetaan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh dan utuh semua standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator dari berbagai matapelajaran yang dipadukan dalam tema yang dipilih. Kegiatan yang dilakukan adalah:
kompetensi dasar dari setiap matapelajaran ke dalam indikator, dengan memperhatikan hal-hal berikut : 1) Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, 2) Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, dan 3) Dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diamati.
Penentuan tema, dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu : 1) Mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat dalam masing-masing mata pelajaran, dilanjutkan dengan menentukan tema yang sesuai dan 2) Menetapkan terlebih dahulu tema-tema pengikat keterpaduan, dilanjutkan dengan mengidentifikasi kompetensi dasar dari berbagai matapelajaran yang cocok dengan tema yang telah ada. Untuk menentukan tema tersebut guru dapat bekerjasama dengan siswa sehingga sesuai dengan minat siswa.
Identifikasi dan analisis standar kompetensi, kompetensi dasar dan indicator
Menetapkan Jaringan Tema
Pembuatan jaringan tema dilakukan dengan cara menghubungkan kompetensi dasar dan indikator dengan tema pemersatu. Dengan jaringan tema tersebut akan terlihat kaitan antara tema, kompetensi dasar dan indikator dari setiap matapelajaran. Jaringan tema ini dapat dikembangkan sesuai dengan alokasi waktu yang tersedia untuk setiap tema.
Penyusunan Silabus Pembelajaran Tematik
Hasil seluruh proses yang dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya dijadikan dasar dalam penyusunan silabus. Komponen silabus terdiri dari standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, pengalaman belajar, alat/sumber, dan penilaian.
Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Identitas Mata Pelajaran yaitu nama matapelajaran yang akan dipadukan, kelas, semester, dan waktu/banyaknya jam pelajaran yang dialokasikan
Kompetensi dasar dan indikator yang akan dilaksanakan
Materi pokok beserta uraiannya yang perlu dipelajari siswa dalam rangka mencapai kompetensi dasar dan indicator
Strategi pembelajaran (kegiatan pembelajaran secara konkrit yang harus dilakukan siswa dalam berinteraksi dengan materi pembelajaran dan sumber belajar untuk menguasai kompetensi dasar dan indikator, kegiatan ini terdiri atas kegiatan pembukaan, inti dan penutup
Alat dan media yang digunakan untuk memperlancar pencapaian kompetensi dasar serta sumber bahan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran tematik sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai.
Penilaian dan tindak lanjut (prosedur dan instrumen yang akan digunakan untuk menilai pencapaian hasil belajar peserta didik serta tindak lanjut hasil penilaian).
Implementasi Pembelajaran Tematik di Sekolah Dasar
Perencanaan Pembelajaran Tematik
Model pembelajaran tematik merupakan model pembelajaran yang pengembangannya dimulai dengan menentukan topik tertentu sebagai tema atau topik sentral, setelah tema ditetapkan maka selanjutnya tema itu dijadikan dasar untuk menentukan dasar sub-sub tema dari bidang studi lain yang terkait (Fogarty, 1991 : 54). Penentuan tema dapat dilakukan oleh guru melalui tema konseptual yang cukup umum tetapi produktif. Dapat pula ditetapkan dengan negosiasi antara guru dengan siswa, atau dengan cara diskusi sesama siswa. Alwasilah, dkk (1998:16) menyebutkan bahwa tema dapat diambil dari konsep atau pokok bahasan yang ada disekitar lingkungan siswa, karena itu tema dapat dikembangkan berdasarkan minat dan kebutuhan siswa yang bergerak dari lingkungan terdekat siswa dan selanjutnya beranjak ke lingkungan terjauh siswa. Berikut ini ilustrasi yang diberikan dalam penentuan tema.
Mengingat perencanaan sangat menentukan keberhasilan suatu pembelajaran tematik, maka perencanaan yang dibuat dalam rangka pelaksanaan pembelajaran tematik harus sebaik mungkin Oleh karena itu ada beberapa langkah yang perlu dilakukan dalam merancang pembelajan tematik ini yaitu: 1) Pelajari kompetensi dasar pada kelas dan semester yang sama dari setiap mata pelajaran, 2) Pilihlah tema yang dapat mempersatukan kompetensi-kompetensi untuk setiap kelas dan semester, 3) Buatlah ”matriks hubungan kompetensi dasar dengan tema”, 4) Buatlah pemetaan pembelajaran tematik. Pemetaan ini dapat dapat dibuat dalam bentuk matriks atau jareingan topik, 5) Susunlah silabus dan rencana pembelajaran berdasarkan matriks/jaringan topik pembelajaran tematik.
Pelaksanaan Pembelajaran Tematik
pembahasan terhadap tema dan subtema melalui berbagai kegiatan belajar dengan menggunakan multi metode dan media sehingga siswa mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna. Pada waktu penyajian dan pembahasan tema, guru dalam penyajiannya sehendaknya lebih berperan sebagai fasilitator (Alwasilah:1988); (3) Kegiatan akhir, dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mengakhiri pelajaran dengan maksud untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari siswa serta keterkaitannya dengan pengalaman sebelumnya, mengetahui tingkat keberhasilan siswa serta keberhasilan guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Pada tahap ini intinya guru melaksanakan rencana pembelajaran yang telah disusun sebelumnya. Pembelajaran tematik ini akan dapat diterapkan dan dilaksanakan dengan baik perlu didukung laboratorium yang memadai. Laboratorium yang memadai tentunya berisi berbagai sumber belajar yang dibutuhkan bagi pembelajaran di sekolah dasar. Dengan tersedianya laboratorium yang memadai tersebut maka guru ketika menyelenggarakan pembelajaran tematik akan dengan mudah memanfaatkan sumber belajar yang ada di laboratorium tersebut, baik dengan cara membawa sumber belajar ke dalam kelas maupun mengajak siswa ke ruang laboratorium yang terpisah dari ruang kelasnya.
Pengevaluasian Pembelajaran Tematik
pemahaman dan penyikapan siswa terhadap substansi materi dan manfaatnya bagi kehidupan siswa sehari-hari. Disamping itu evaluasi juga dapat berupa kumpulan karya siswa selama kegiatan pembelajaran yang bisa ditampilkan dalam suatu paparan/pameran karya siswa.
Instrumen yang dapat digunakan untuk mengungkap pemahaman siswa terhadap materi pelajaran dapat digunakan tes hasil belajar. dan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa melakukan suatu tugas dapat berupa tes perbuatan atau keterampilan dan untuk mengungkap sikap siswa terhadap materi pelajaran dapat berupa wawancara, atau dialog secara informal. Di samping itu instrumen yang dikembangkan dalam pembelajaran tematik dapat berupa: kuis, pertanyaan lisan, ulangan harian, ulangan blok, dan tugas individu atau kelompok, dan lembar observasi.
Implikasi Pembelajaran Tematik
Dalam implementasi pembelajaran tematik di sekolah dasar mempunyai berbagai implikasi yang mencakup beberapa hal sebagai berikut.
Implikasi bagi guru, Pembelajaran tematik memerlukan guru yang kreatif baik dalam menyiapkan kegiatan/pengalaman belajar bagi anak, juga dalam memilih kompetensi dari berbagai mata pelajaran dan mengaturnya agar pembelajaran menjadi lebih bermakna, menarik, menyenangkan dan utuh.
Implikasi bagi siswa: (a) Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang dalam pelaksanaannya; dimungkinkan untuk bekerja baik secara individual, pasangan, kelompok kecil ataupun klasikal, (b) Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang bervariasi secara aktif misalnya melakukan diskusi kelompok, mengadakan penelitian sederhana, dan pemecahan masalah.