ANALISIS MANFAAT FINANSIAL DAN FAKTOR PENENTU
(PENDORONG DAN PENGHAMBAT) PEMBESARAN PEDET
SAPI PERAH SEBAGAI CALON INDUK
ANALYSIS OF THE FINANCIAL BENEFITS AND DETERMINANT
FACTORS (DRIVE AND HINDER) OF REARING DAIRY CALF
AS A REPLACEMENT COW
(Kasus) pada Peternakan Sapi Perah Rakyat di TPK Sukamenak Wilayah
Kerja KPBS Pangalengan)
(Case on a Dairy Farm in TPK Sukamenak Working Area KPBS
Pangalengan)
Santi Amelia¹
Cecep Firmansyah²; Sondi Kuswaryan³
Universitas Padjadjaran
¹Alumni Fakultas Peternakan Unpad Tahun 2015
e-mail : [email protected]
² Dosen Fakultas Peternakan Unpad ³ Dosen Fakultas Peternakan Unpad
ABSTRAK
Salah satu pola pergantian induk yang dilakukan peternak adalah dengan pembesaran sendiri, yaitu peternak memelihara atau membesarkan pedet lepas sapih (3 bulan) sampai dengan dara bunting. Pola pergantian ini dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal yang dapat menjadi faktor pendorong atau penghambat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui manfaat finansial bagi peternak dengan melakukan pembesaran sendiri dan faktor penentu peternak melakukan pembesaran pedet betina sebagai calon induk. Metode yang digunakan untuk menganalisis manfaat finansial adalah dengan menggunakan analisis anggaran parsial dan untuk menentukan faktor penentu adalah dengan menggunakan partisipatory sistem analisis. Hasil penelitian menyatakan bahwa pembesaran pedet betina sapi perah sebagai calon induk memberikan manfaat finansial bagi peternak, sebesar nilai net
income change sebesar Rp.3.115.448 untuk pembesaran sampai dengan umur 10 bulan,
Rp.2.090.305 untuk pembesaran sampai dengan umur 12 bulan, dan Rp.9.213.003 untuk pembesaran sampai dengan umur 24 bulan. Kebutuhan ternak untuk pengganti induk dan kebutuhan uang menjadi faktor pendorong dan penghambat, keduanya tidak tergolong faktor penentu, kebutuhan ternak termasuk faktor yang sangat harus diperhatikan oleh peternak dan pembesaran pedet betina merupakan penyangga untuk memenuhi kebutuhan uang peternak. Kata kunci : pembesaran pedet betina, manfaat finansial, faktor penentu
ABSTRACT
A pattern of cow replacement by tradisional farmer was a calf rearing, where farmer maintains or raises a 3-months-old calf to a pregnant heifer. It was influenced by (driving or hindering) internal and external factors. The purpose of this research is to know farmer’s financial benefit of calf rearing and their determinant factors of rearing dairy calf as a
replacement cow. The methodology used to analyze financial benefits is a partial budget analysis and to determine the decisive factor is the participatory system analysis. Results of the study implied that rearing dairy calf as replacement cow generates financial benefit for farmer, where the value of net income change is IDR 3.115.448 for rearing up to the age of 10 months old, IDR 2.090.305 for rearing until the age of 12 months, and IDR 9.213.003 for rearing up to the age of 12 months. The needs of replacement cow and money become driving and hindering factor, where both were not classified as determining factors, farmers need is included on the factor that should be taken care of and calf rearing is an alternative source of income for dairy farmers.
Keywords: rearing dairy calf, financial benefits, determinan PENDAHULUAN
Eksistensi induk dalam usaha sapi perah sangat penting, selain sebagai asset juga sebagai faktor produksi utama dalam proses produksi. Setelah masa produktif selesai, seekor induk sapi perah harus diafkir, dan diganti dengan induk baru yang berasal dari pembesaran pedet. Proses penggantian induk yang dilakukan peternak, dapat dilakukan melalui pembesaran (rearing) atau dengan membeli langsung induk pengganti. Peternak dihadapkan pada beberapa pertimbangan dalam proses pergantian induk yang dilakukan, sebagian peternak melakukan penggantian induk dengan membesarkan sendiri calon induknya, dengan alasan bahwa dengan memelihara sendiri calon induk, kualitas calon induk lebih terjamin artinya ada harapan besar induk yang dihasilkannya nanti akan lebih produktif. Alasan lain yang dikemukakan peternak adalah tidak perlu menyediakan dana cash dalam jumlah besar untuk membeli dara bunting yang relatif mahal. Peternak yang melakukan penggantian induk dengan langsung membeli dara bunting, beralasan bahwa memelihara pedet membutuhkan waktu lama, artinya membutuhkan susu, pakan, dan korbanan lainnya dalam waktu panjang sampai dengan anaknya lahir, sedangkan hasilnya baru dapat dinikmati bila pedet tersebut sudah masuk pada fase produktif atau sudah dapat menghasilkan susu sebagai output. Alasan lainnya adalah terdesaknya kebutuhan keluarga, lalu menjual pedet betina yang tadinya untuk induk pengganti.
Kondisi pergantian induk sapi perah yang telah diuraikan di atas, terjadi pula pada peternakan sapi perah di wilayah kerja KPBS Pangalengan, salah satunya di TPK Sukamenak. Sebagian peternak melakukan penggantian induk dengan membeli sapi dara/sapi produktif dari peternak lain atau dari bandar. Sebagian peternak lainnya memelihara sendiri calon induk mulai dari pedet, dara bunting sampai melahirkan anak pertamanya (induk pengganti).
Dua pola penggantian induk sapi perah sampai saat ini banyak ditempuh oleh peternak, namun informasi yang jelas khususnya dalam pertimbangan finansial usaha belum banyak
diungkap. Demikian pula berbagai variabel baik teknis, sosial dan ekonomi yang terkait dengan kemauan dan keengganan peternak memelihara pedet betina sebagai induk pengganti belum banyak digali dan menjadi informasi yang baik bagi berbagai pihak terkait. Dengan pertimbangan tersebut penelitian ini dilakukan.
OBJEK DAN METODE
1. Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah peternak sapi perah anggota KPBS Pangalengan yang berada diTPK Sukamenak Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung.
2. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey, yaitu penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat yang pokok (Singarimbun, 1995).
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Umur Responden
Umur responden berkisar antara 23 sampai dengan 79 tahun, dimana pada umur 15-55 tahun merupakan kelompok umur produktif, pada umur tersebut tenaga kerja cukup tersedia dengan produktifitas tinggi, sedangkan umur >55 tahun merupakan kelompok umur tidak produktif. Umur <15 merupakan kisaran umur muda, pada umur ini termasuk kelompok yang belum produktif, artinya orang yang berada pada kisaran umur ini masih menjadi tanggung jawab orang dewasa (Adiwilaga, 1974).
Tabel 1. Umur Responden
No Umur (Tahun) Peternak yang Melakukan Pembesaran Pedet Betina
Peternak yang Tidak Melakukan Pembesaran Pedet Betina
Orang % Orang %
1 15-55 57 78,08 50 80,65
2 >55 16 21,92 12 19,35
Total 73 100 62 100
Responden yang berada pada umur produktif dianggap telah memiliki kemampuan berwirausaha dalam bidang peternakan, sehingga peternak diharapkan dapat menentukan pola pergantian induk yang cocok dengan usaha peternakan sapi perah miliknya, dengan pertimbangan berbagai resiko yang akan dihadapi, karena kelompok umur produktif merupakan sumber tenaga yang produktif sehingga diharapkan mampu mengembangkan
usahanya, serta dalam umur produktif responden dianggap mampu menyelesaikan masalah serta resiko yang dihadapi berdasarkan pola pikir serta kematangan berpikir (Herlawati, 2007). 2. Pendidikan Responden
Tingkat pendidikan responden sebagian besar adalah sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, hal tersebut sesuai dengan pekerjaan responden yaitu sebagai peternak, dan disamping beternak responden juga sebagai petani atau buruh, ilmu yang digunakan biasanya didapatkan dari turun menurun atau berasal dari pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain, sehingga pendidikan dianggap tidak terlalu penting bagi responden (Dwijatmiko, 2001). Tabel 2. Tingkat Pendidikan Responden
No Pendidikan Peternak yang Melakukan Pembesaran Pedet Betina
Peternak yang Tidak Melakukan Pembesaran Pedet Betina
Orang % Orang % 1 Tidak Tamat SD 6 8,2 6 9,7 2 SD 31 42,5 28 45,2 3 SMP 23 31,5 16 25,8 4 SMA 13 17,8 9 14,5 5 PT 0 0 3 4,8 Total 73 100 62 100 3. Pengalaman Beternak
Pengalaman beternak sangat penting, karena peternak yang memiliki pengalaman beternak yang lama dianggap mempunyai ketekunan bekerja, dimana ketekunan merupakan hal yang mutlak dalam beternak sapi perah, karena beternak sapi perah merupakan pekerjaan yang membutuhkan perhatian intensif, serta usaha peternakan sapi perah tidak selalu berhasil, dan kegagalan merupakan pelajaran bagi usaha-usaha yang akan datang. Peternak yang berpengalaman akan cepat bangun dari kegagalan dan akan belajar dari pengalaman kegagalan, sehingga tidak akan mengalami kegagalan yang sama (Herry, 2006).
Tabel 3. Pengalaman Beternak Responden No Pengalaman
Beternak (Tahun)
Peternak yang Melakukan Pembesaran Pedet Betina
Peternak yang Tidak Melakukan Pembesaran Pedet Betina
Orang % Orang %
1 <5 2 2,74 2 3
2 5 < 10 15 20,55 15 24
3 >10 56 76,71 45 73
Total 73 100 62 100
Tabel 3 menunjukan bahwa pengalaman beternak responden lebih dari 10 tahun. Responden dianggap memiliki banyak pengetahuan serta keterampilan dalam usaha peternakan, karena pengalaman yang lama akan menunjang keterampilan beternak seorang
peternak dan dari pengalaman yang diperoleh akan tercipta suatu pengetahuan (Notoadmojo, 2010).
4. Mata Pencaharian Responden
Sebagian responden bermata pencaharian utamanya sebagai peternak. Sebagian lain responden menjadikan beternak sebagai mata pencaharian sampingan, disamping responden bertani atau buruh, beternak dilakukan hanya untuk menambah pendapatan atau sebagai tabungan apabila suatu hari memerlukan uang dalam jumlah yang besar.
Tabel 4. Mata Pencaharian Responden
No Mata Pencaharian Peternak yang Melakukan Pembesaran Pedet Betina
Peternak yang Tidak Melakukan Pembesaran Pedet Betina
Orang % Orang %
1 Peternak 59 80,8 46 74,2
2 Tani ternak 11 15,1 9 14,5
3 Peternak & Buruh 3 4,1 2 3,2
4 Lain-lain 0 0 5 8,1
Total 73 100 62 100
Responden yang bermata pencaharian utama sebagai peternak diharapkan akan dapat menjalankan usahanya dengan sungguh-sungguh dan berusaha mengembangkan usahanya karena beternak merupakan sistem perekonomian responden, dapat diartikan bahwa beternak merupakan satu-satunya pemenuhan kebutuhan jasmaniah responden (Raharjo, 2004).
5. Minat Responden Membesarkan Pedet Betina Sapi perah
Minat merupakan salah satu aspek psikis yang dapat mendorong manusia mencapai tujuan (Sri, 2012), minat membesarkan pedet betina sapi betina perah adalah merupakan keinginan responden untuk melakukan pembesaran pedet betina sapi perah yaitu dari mulai sapi tersebut disapih sampai dengan siap menjadi induk pengganti. Responden yang membesarkan sendiri atau yang tidak membesarkan, semuanya berminat untuk membesarkan sendiri sapi yang akan menjadi induk pengganti, namun responden yang tidak melakukan pembesaran dihadapkan pada beberapa faktor penghambat, seperti adanya kebutuhan mendadak yang menyebabkan responden harus menjual pedet miliknya serta tidak cukupnya induk produktif yang membiayai biaya pembesaran.
6. Anggaran Parsial Pembesaran Pedet Betina Sapi Perah
Anggaran parsial dilakukan untuk mengevaluasi akibat-akibat yang disebabkan oleh perubahan usahatani (Soekarwati, dkk., 1986). Perubahan yang terjadi pada usaha sapi perah
yang memelihara sendiri pedet betina sebagai calon induk secara umum adalah pakan, tenaga kerja, obat-obatan, vitamin dan mineral. Partial budget analysis adalah tabulasi dari tambahan nilai yang diharapkan dan kerugian dari tambahan nilai yang diharapkan dan kerugian yang ditimbulkan akibat suatu perubahan dalam sistem usaha (Priyanti, dkk., 2009), untuk mengetahui keuntungan atau kerugian yang timbul akibat perubahan-perubahan yang timbul karena peternak membesarkan pedet betina sebagai calon induk dapat dilihat pada Tabel 6, 7, dan 8.
Tabel 6. Anggaran Parsial Usaha Sapi Perah dalam Pembesaran Pedet Betina (A) Penurunan Pendapatan Rp (B) Peningkatan
Pendapatan
Rp 1. Biaya Tambahan 2. Tambahan pendapatan
Hijauan 5.700.683 Penjualan dara umur 10 bulan
8.489.474
Konsentrat 2.480.454
Pakan tambahan 584.834 Tenaga kerja 1.608.055
3. Penghasilan yang hilang 4. Pengurangan Biaya Penjualan pedet umur 3
bulan
4.000.000 Pembelian dara umur 10 bulan
9.000.000
Total (A) Rp.14.374.026 Total (B) Rp. 17.489.474
Net income change (B-A) Rp. 3.115.448
Keterangan : Anggaran parsial peternak yang tidak melakukan pembesaran menjadi melakukan pembesaran sampai umur 10 bulan Tabel 6 menunjukan nilai net income change bernilai positif, yaitu sebesar Rp.3.115.448 untuk pembesaran sampai dengan umur 10 bulan.
Tabel 7. Anggaran Parsial Usaha Sapi Perah dalam Pembesaran Pedet Betina (C) Penurunan Pendapatan Rp (D) Peningkatan
Pendapatan
Rp 5. Biaya Tambahan 6. Tambahan pendapatan
Hijauan 6.718.947 Penjualan dara umur 12 bulan
8.950.000
Konsentrat 2.940.931
Pakan tambahan 689.747,9 Tenaga kerja 2.010.069
7. Penghasilan yang hilang 8. Pengurangan Biaya Penjualan pedet umur 3
bulan
4.000.000 Pembelian dara umur 12 bulan
9.500.000
Total (A) Rp.16.359.695 Total (B) Rp. 18.450.000
Net income change (B-A) Rp. 2.090.305
Keterangan : Anggaran parsial peternak yang tidak melakukan pembesaran menjadi melakukan pembesaran sampai umur 12 bulan Tabel 7 menunjukan nilai net income change bernilai positif, yaitu sebesar Rp.2.090.305 untuk pembesaran sampai dengan umur 12 bulan.
Tabel 8. Anggaran Parsial Usaha Sapi Perah dalam Pembesaran Pedet Betina (E) Penurunan Pendapatan Rp (F) Peningkatan
Pendapatan
Rp 9. Biaya Tambahan 10. Tambahan pendapatan
Hijauan 10.837.396 Penjualan dara umur 24 bulan
15.518.182
Konsentrat 4.976.597
Pakan tambahan 1.069.034 Tenaga kerja 4.422.152,1
11. Penghasilan yang hilang 12. Pengurangan Biaya Penjualan pedet umur 3
bulan
4.000.000 Pembelian dara umur 24 bulan
19.000.000
Total (A) Rp.25.305.179 Total (B) Rp. 34.518.182
Net income change (B-A) Rp.9.213.003
Keterangan : Anggaran parsial peternak yang tidak melakukan pembesaran menjadi melakukan pembesaran sampai umur 12 bulan
Tabel 8 menunjukan nilai net income change bernilai positif Rp.9.213.003 untuk pembesaran sampai dengan umur 24 bulan, artinya bahwa pembesaran pedet betina secara mandiri sampai dengan umur berapapun untuk calon induk dapat memberikan manfaat atau dapat meningkatkan pendapatan bagi usaha peternakan sapi perah. Hasil penelitian Pakpahan (2013), adopsi rearing pada usaha sapi perah di Desa Cihanjuang Rahayu, yang dianalisis dengan anggaran parsial memberikan tambahan keuntungan sebesar Rp. 3.115.448 persatu ekor pedet yang dibesarkan sampai umur empat bulan, artinya pembesaran pedet sapi perah dapat memberikan keuntungan finansial atau tambahan pendapatan untuk peternak.
7. Partisipatori Sistem Analisis (1). Eliminasi Faktor
Sembilan belas faktor pendorong dan penghambat yang telah diidentifikasi kemudian dieliminasi dengan menggunakan uji Cochran dengan tujuan ditentukannya faktor dominan pendorong dan penghambat pembesaran pedet betina sapi perah. Frekuensi jawaban peternak untuk ke 19 faktor pendorong dan penghambat yang telah teridentifikasi terdapat pada Tabel 9.
Tabel 9. Frekuensi Kesesuaian Jawaban Peternak Faktor Pendorong dan Penghambat Pembesaran Pedet Betina
YA TIDAK
Umur Peternak 50 85
Tenaga Pekerja Keluarga 59 76
Tingkat Pendidikan 12 123
Pengalaman Beternak 55 80
Pengetahuan Peternak 35 100
Asumsi Pembesaran Pedet Lama Menghasilkan Keuntungan 42 93
Ternak 112 23
Hijauan 37 98
Lahan 26 109
Modal 81 54
Biaya Pembesaran 56 79
Kebutuhan Peternak Akan Uang 110 25
Inseminasi Buatan 18 117 Pakan Konsentrat 55 80 Kebijakan Koperasi 31 104 Kebijakan Dinas 24 111 Kebijakan Pemerintah 21 114 Bandar 33 102 Permintaan Susu 13 112
Jawaban responden terhadap faktor tersebut selanjutnya difalidasi dengan uji Cochran, dengan menggunakan program SPSS™. Hasil dari empat kali perhitungan menghasilkan 2 faktor pendorong dan penghambat yang valid, yaitu ternak dan kebutuhan peternak akan uang merupakan faktor pendorong dan penghambat pemelirahaan pedet betina sapi perah sebagai calon induk. Kedua faktor pendorong dan penghambat yang telah valid merupakan faktor penentu atau bukan akan diketahui dengan analisis PSA.
(2). Analisis Faktor Penentu
Dua faktor pendorong dan penghambat yang terdiri dari kebutuhan ternak untuk
Replacement stock dan kebutuhan akan uang dianlisis untuk mengetahui apakah menjadi faktor
penentu atau bukan. Faktor-faktor tersebut dianalisis lebih lanjut untuk menentukan klasifikasi faktor-faktor tersebut masuk dalam kategori : sympotom, critical element, buffer atau
motor/laver. Kedua faktor dinilai tingkat pengaruh antar faktor.
Tabel 10. Nilai Pengaruh Antar Faktor
Faktor Kebutuhan akan ternak Kebutuhan akan uang AS DI (AS-PS)
Kebutuhan akan ternak 2 2 1
Kebutuhan akan uang 1 1 -1
PS 1 2
AR(AS/PS) 2 0,5
Keterangan : AS : Active Sum, PS : Pasive Sum, AR: Activaty Ratio, DI : Degree of Interrelatio
Faktor kebutuhan akan ternak terletak pada kuadran dua yaitu kuadran Critical
Element. Faktor yang berada pada kuadran critical element merupakan faktor yang harus
Kebutuhan peternak akan uang berada pada kuadran tiga yaitu buffer. Faktor yang berada pada kuadran buffer merupakan faktor yang tidak dipengaruhi atau mempengaruhi faktor lainnya (Herweg, dkk., 2002). Kategori kedua faktor tersebut menurut hasil PSA dapat dilihat pada Ilustrasi 1.
Ilustrasi1.Faktor penentu pembesaran pedet betina sapi perah 1) Kebutuhan akan ternak (untuk Replacement Stock)
Kebutuhan akan ternak (untuk Replacement Stock) terdapat pada kuadran critical element karena kebutuhan akan ternak untuk pengganti induk merupakan hal yang harus diperhatikan oleh peternak untuk meneruskan generasi dan meningkatkan populasi peternakan sapi perahnya, jika suatu peternakan sapi perah tidak memiliki sapi perah pengganti maka akan menghambat peningkatan populasi peternakan serta produksi usaha akan terganggu yang mengakibatkan penurunan pendapatan, artinya penyediaan sapi pengganti induk harus sangat diperhatikan karena dampak yang ditimbulkan jika tidak memiliki induk pengganti sangat merugikan peternak. Lazimnya induk pengganti dibutuhkan sekitar 30% setiap tahun dari seluruh induk yang dipelihara (Santosa, 1999).
Peternak harus pandai memilih pedet untuk dijadikan calon induk mengingat pentingnya penyediaan induk pengganti. Pedet sebagai calon induk harus berasal dari induk yang menghasilkan susu yang tinggi, memiliki berat badan yang normal (30 kg keatas) (Atmadilaga, 1976), namun hal tersebut harus ditunjang dengan feeding dan manajemen pemeliharaan yang baik.
Kebutuhan akan ternak berada di kuadran critical element mengharuskan peternak untuk benar-benar memperhatikan dan mengelola pembesaran pedet betina untuk pengganti induk dengan baik, artinya peternak harus banyak membekali diri dengan pengetahuan dan
Kebutuhan uang
Kebutuhan akan Ternak Symptom Critical Element
keterampilan dalam pembesaran pedet betina untuk pengganti induk, karena keberhasilan pembangunan peternakan akan sangat ditentukan oleh sumberdaya manusia peternak sebagai pelaku utama dari kegiatan peternakan itu sendiri. Pengetahuan dan keterampilan peternak dapat diperoleh dengan mengikuti pelatihan serta penyuluhan, karena kegiatan pendidikan non formal akan memberikan penguatan kepada peternak, karena peternak akan memungkinkan untuk berubah perilakunya kearah yang diharapkan, sehingga pengetahuannya akan lebih meningkat, sikapnya akan lebih positif terhadap perubahan dan penerimaan inovasi, dan akan lebih terampil di dalam melaksanakan usaha ternaknya (Yunasaf, dkk., 2011).
2) Kebutuhan akan uang
Buffer dalam bahasa indonesia dapat diartikan sebagai penyangga. Pembesaran pedet betina
merupakan penyangga kebutuhan peternak akan uang, artinya pembesaran pedet betina sapi perah dilakukan peternak untuk memenuhi kebutuhan peternak akan uang. Hasil penelitian Pakpahan (2013), dari 20 orang peternak di Desa Cihanjuang Rahayu, 80% peternak memelihara pedet betina sapi perah memiliki motivasi sebagai tambahan pendapatan, peternak dapat menjual ternaknya apabila membutuhkan biaya mendadak.
Hasil penelitian Pakpahan (2013), 27,3% dari 11 orang peternak tidak memelihara pedet betina karena terdesak kebutuhan ekonomi, peternak menjual pedetnya untuk mencukupi kebutuhan sehari-seharinya dari hasil usahaternak sehingga tidak punya pendapatan lain untuk menyediakan tabungan untuk keperluan sehari-hari. Hasil penelitian Tia, dkk (2014) menunjukan bahwa pendapatan peternak di KPBS Pangalengan rata-rata Rp.8.873.849,56/usaha ternak /tahun atau Rp.2.681.422,59 /satuan ternak /tahun atau Rp.739. 487,463 /usaha ternak /bulan atau Rp.223.451,882 /satuan ternak /bulan, sedangkan hasil penelitian Sugiarti, dkk (1999) di Kabupaten Bandung yaitu lembang dan pangalengan menunjukan bahwa pendapatan rata-rata agribisnis sapi perah sebesar Rp. 633.903/bulan dengan rata-rata kepemilikan ternak 3 ekor. Pendapatan peternak dibawah Upah Minimum Kabupaten Bandung (UMK) yaitu Rp. 2.001.195/bulan, artinya peternak tidak dapat memenuhi kebutuhannya hanya dengan mengandalkan dari hasil penjualan susu yang dibawah UMK, karena penetapan UMK adalah dengan melakukan sebuah penelitian dimana komponen UMK merupakan harga barang konsumsi sehari-hari, untuk itu peternak banyak menjual sapi pedetnya untuk memenuhi kebutuhannya akan uang (Nur, 2013).
Pembesaran pedet betina sapi perah harus selalu dilakukan peternak, karena selain mengahasilkan calon induk, juga menghasilkan tambahan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan akan uang peternak.
KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan
1) Pembesaran pedet betina sapi perah sebagai calon induk memberikan manfaat finansial bagi peternak, sebesar nilai net income change sebesar Rp.3.115.448 untuk pembesaran sampai dengan umur 10 bulan, Rp.2.090.305 untuk pembesaran sampai dengan umur 12 bulan, dan Rp.9.213.003 untuk pembesaran sampai dengan umur 24 bulan.
2) Kebutuhan ternak untuk pengganti induk dan kebutuhan uang menjadi faktor pendorong dan penghambat, keduanya tidak tergolong faktor penentu, kebutuhan ternak termasuk faktor yang sangat harus diperhatikan oleh peternak dan pembesaran pedet betina merupakan penyangga untuk memenuhi kebutuhan uang peternak.
2. Saran
Membesarkan pedet betina sapi perah sendiri untuk calon induk mempunyai banyak manfaat, yaitu mengetahui latar belakang sapi (riwayat penyakit, keturunan) serta dapat memberikan tambahan pendapatan, untuk itu sangat disarankan untuk peternak agar selalu melaksanakan pembesaran sendiri pedet betina untuk calon induk, serta selalu memperhatikan kualitas serta kuantitas pakan yang diberikan untuk pembesaran pedet betina, agar calon induk yang dihasilkan kualitasnya baik.
DAFTAR PUSTAKA
Adiwilaga, Anwas. 1974. Ilmu Usaha Tani. Alumni, Bandung. 92, 114-115.
Atmadilaga, D., Soeharsono., Soedono, A., S, Jajan. D., Usri, T., Atmamihardja, S., P, Maman. R., D, Udju. R. 1976. Mari Beternak Sapi Perah.Unpad, Bandung. 19.
Dwijatmiko, Sriyanto. 2001. Pencurahan Waktu Tenaga Kerja Keluarga Anggota Kelompok
Tani Ternak Sapi Perah di Desa Butuh Kecamatan Mojosongo Kabupaten Boyolali.
Undip, Semarang. 17.
Herlawati, S. 2007. Analisis Saluran Pemasaran dan Margin Tataniaga Telur Itik. Jurnal Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, Sumedang.
Herry, Eko. P. 2006. Analisis KeuntunganUsaha Peternakan Sapi Perah Rakyat Di Jawa
Tengah ( Kabupaten Boyolali, Kabupaten Semarang Dan Kota Semarang ). Tesis.
UNDIP. Semarang.
Herweg, K., Steiner, K. 2002. Impact Monitoring and Assessment: Instrument for Use in Rural
Development Projects with a Focus on Sustainable Land Management. World Bank.
Notoadmojo. 2010. Pendidikan dan Perilaku. Rineka Cipta, Jakarta. 13.
Nur, M Wahyudi. 2013. Dampak Positif dan Negatif dari Kenaikan UMR (Upah Minimum
Regional). Universitas Trunojoyo. Madura.
Pakpahan, S.A. 2013. Keragaan Finansial Pembesaran Pedet Sapi Perah (Survey pada Usaha
Sapi Perah Rakyat di Desa Cihanjuang Rahayu). Jurnal Fakultas Peternakan Unpad,
Sumedang.
Priyanti, A., Mahendri, I. G. A. P. 2009. Dampak Penurunan Harga Susu Terhadap Agribisnis
Sapi Perah Rakyat. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Bogor.
Raharjo. 2004. Pengantar Sosiologi Pedesaan dan Pertanian. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Santosa, Undang. 1999. Prospek Agribisnis Penggemukan Pedet. Penebar Swadaya, Bogor. 4, 90.
Singarimbun, Masri., Effendi, Sofian. 1995. Metode Penelitian Survai. PT Pustaka LP3ES Indonesia, Jakarta. 3.
Soekarwati, A., Suharjo, J. L. D., J, B. Hardaker. 1986. Ilmu Usahatani dan penelitian untuk
Pengembangan Petani Kecil. UI Press, Jakarta.
Sri, W. 2012. Pengertian Minat. http://eprints.uny.ac.id/9511/3/bab%202-06209241010.pdf. Diunduh pada tanggal 18 Juni 2015 pukul 14.02 WIB
Sugiarti. 1999. Dampak Pelaksanaan Inseminasi Buatan (IB) Terhadap Peningkatan
Pendapatan Peternak Sapi Perah di Daerah Jawa Barat. Ilmu Ternak dan Veteriner,
Vol. 4. No 1-6.
Tia, Quen M. A., Aring, Dyah H. L., Situmorang, Suriaty. 2014. Analisis Pendapatan Dan Tingkat Kesejahteraan Rumah TanggaPeternak Sapi Perah Anggota Koperasi Peternakan Bandung Selatan (Kpbs) Pangalengan. JIIA, Volume 2 No.2.
Van, Pham Loung. 2005. Assessment of Self-Reliant Village Extension Networks. University of Queensland. Brisbane.
Yunasaf, U., S, Didin. T., 2011. Peran Penyuluh dalam Proses Pembelajaran Peternak Sapi
Perah di KSU Tandangsari Sumedang. Jurnal Vol. 11 No. 2. Fakulats Peternakan Unpad.