• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kajian Ergonomi pada Industri Bolu Kukus di Denpasar.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kajian Ergonomi pada Industri Bolu Kukus di Denpasar."

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i

SAMBUTAN KETUA PANITIA iii

SAMBUTAN KETUA PEI 2012-2015 iv

DAFTAR ISI vi

A. Agriculture Ergonomics

PENGEMBANGAN KESAN (KANSEI ENGINEERING-BASED SENSOR FOR AGRO-INDUSTRY) UNTUK LINGKUNGAN KERJA TERKENDALI

Mirwan Ushada,Tsuyoshi Okayama, Atris Suyantohadi, Nafis Khuriyati,

Dzikri Rahadian Fudholi A-1

B. Anthropometry

DRILLIS & CONTINI REVISITED USING STRUCTURAL EQUATION MODELING FOR ANTHROPOMETRIC DATA

Markus Hartono B-1

C. Communication & Networking

IDENTIFIKASI PERMASALAHAN KEMUDAHGUNAAN PERANGKAT SMARTPHONE DENGAN METODE THINK-ALOUD EVALUATION

Andrie Pasca Hendradewa, Yassierli C-1

D. Biomechanics

KAJIAN BIOMEKANIKA PADA TEKNIK PENGENDARAAN RACING WHEELCHAIR UNTUK ATLET PARAPLEGIA

Lobes Herdiman, Ilham Priadythama D-1

E. Cognitive Ergonomics

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PADA BUNDLING PRODUK YANG

MEMPENGARUHI ATENSI PEMBELANJA DENGAN METODE EYETRACKING Erlinda Muslim, Boy Nurtjahyo Moch., Maya Arlini, Faishal Muhammad, Shafira Karamina Alifah, Rina Puspita

E-1Proceeding Seminar Nasional dan Kongres PEI 2015 ISBN: 978-602-8817-72-1 Yogyakarta, 17-18 Nopember 2015

PENGARUH IN-STORE DAN OUT-STORE FACTORS TERHADAP ATENSI DAN EVALUASI PEMBELANJA PADA SUATU MERK PRODUK DISKON

Maya Arlini, Erlinda Muslim, Boy Nurtjahyo Moch., Putri Kusumawardhani,

Sarah Putri, Meilinda Dorris Shintana E-8

PERBANDINGAN KUESIONER SWEDISH OCCUPATIONAL FATIGUE INVENTORY (SOFI) DAN FATIGUE ASSESSMENT SCALE (FAS) SEBAGAI ALAT PENGUKURAN PERSEPSI KELELAHAN

Rida Zuraida, Hardianto Iridiastadi, Maya Arlini Puspasari E-15 KEBISINGAN BERPENGARUH TERHADAP KONSENTRASI PEKERJA PADA

INDUSTRI PENGOLAHAN KAYU

I Ketut Widana, I Gede Oka Pujihadi, Ni Wayan Sadiyani, I Ketut Sutapa E-22 PROGRAM MANAJEMEN STRES KERJA ERGO-JSI MENINGKATKAN WORK

ABILITY INDEX WAI KARYAWAN BANK “WA“TA NA“IONAL X DI DENPASAR BALI

Susy Purnawati E-29

(4)

PENERAPAN AUGMENTED REALITY SEBAGAI MEDIA EDUKASI PEMAKAIAN ALAT PEMADAM API

Arief Rahman, Pamungkas Dwi Admaja F-1

G. Cultural Ergonomics

PENGARUH PEMUTARAN MUSIK GAMELAN JAWA SEBAGAI MUSIK PENGIRING KERJA TERHADAP DENYUT JANTUNG MANUSIA DAN PERASAAN RILEKS

Lina Dianati Fathimahhayati, Rini Dharmastiti, Subagio G-1 ERGONOMI DAN TRI HITA KARANA PADA BANGUNAN RUMAH TINGGAL

TRADISONAL BALI

I Nyoman Artayasa G-6

H. Ergonomics in Small and Medium Scale Entreprise

STRATEGI INOVASI DESAIN INKLUSI ALAT PRODUKSI MEMBATIK HEMAT ENERJI

Paulus Bawole, Puspitasari Darsono, Eko A. Prawoto, Winta Guspara H-1 SUHU LINGKUNGAN KERJA PERAPEN YANG PANAS DAPAT

MENINGKATKAN BEBAN KERJA DAN MENURUNKAN PRODUKTIVITAS PERAJIN GAMELAN BALI

I Ketut Gde Juli Suarbawa

KAJIAN ERGONOMI PADA INDUSTRI BOLU KUKUS DI DENPASAR I Made Krisna Dinata, Luh Made Indah Sri Handari Adiputra, I Made

Muliarta H-14

ANALISIS BEBAN KERJA, TINGKAT KEBISINGAN DAN KELELAHAN KERJA PEKERJA MEUBEL DI KOTA KUPANG NUSA TENGGARA TIMUR

Soni Doke , Jacob M Ratu H-20

EVALUASI KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3) UKM BATIK PUTRA MADURA DENGAN BEHAVIOR BASED SAFETY(BBS)

Nachnul Ansori, Trisita Novianti, Fitri Agustina, Tri Ulfa Hasanah H-25 I. Ergonomics and Global warming

ESENSI GLOBAL WARMING TERHADAP KOGNISI MASYARAKAT INDONESIA (STUDI KASUS DI 8 KOTA DI INDONESIA)

Erwin Maulana Pribadi I-1

J. Healthcare Ergonomics

ANALISA DAN EVALUASI KONDISI LINGKUNGAN KERJA FISIK PADA PT. ABC

Khawarita Siregar, Ukurta Tarigan J-1

TINGKATAN NOISE INDUCED HEARING LOSS (NIHL) PADA PEKERJA DI PEMOTONGAN BATU PT. P “LEMAN

Lusy Ika Susanti, Yamtana, M. Mirza Fauzie J-7

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STATUS HIDRASI PEMECAH BATU YANG TERPAPAR PANAS MATAHARI DI ROWOSARI KOTA SEMARANG

Baju Widjasena, Bina Kurniawan, Siswi Jayanti J-13

K. Human Computer Interaction

(5)

I Wayan Sudiarsa K-1 ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT

KESALAHAN PADA PENGGUNAAN KOMPUTER

Fitri Agustina, Nachnul Anshori, Dwi Atika Meirina K-6

ANALISIS RISIKO PADA SAAT PRAKTIKUM KOMPUTER DI RUANG PRAKTIKUM KOMPUTER IN“TITUT “ DENPA“AR

I Made Muliarta, Made Krisna Dinata, L.M. Indah, Putu Adiartha G PENGARUH POSISI PENGGUNAAN KOMPUTER TABLET TERHADAP KETIDAKNYAMANAN TUBUH EKSTRIMITAS ATAS

Anita Juraida, Yassierli K-16

L. Manual Material Handling

PERBAIKAN POSTUR KERJA OPERATOR SORTASI DENGAN PENERAPAN TOJOK ERGONOMIS DI INDUSTRI KELAPA SAWIT

Anizar, Ukurta Tarigan L-1

KAJIAN ASPEK ERGONOMI SEBAGAI DASAR PERANCANGAN KONDISI KERJA PENYADAP LONTAR DI KUPANG NUSA TENGGARA TIMUR

Jacob M Ratu L-7

ANALISIS ERGONOMI AKTIVITAS PEMINDAHAN BAHAN AKIBAT PENGATURAN ULANG TATA LETAK FASILITAS

Marta Hayu Raras Sita Rukmika Sari, Luciana Triani Dewi, V. Ariyono L-12 M. Musculoskeletal Disorder

PENERAPAN ERGONOMI MENGURANGI KELUHAN MUSCULOSKELETAL DAN MENINGKATKAN KENYAMANAN SERTA PRODUKTIVITAS PADA WANITA PEMBUAT BANTEN DI GIANYAR-BALI

I Dewa Ayu-Inten D.P., Luh Made Indah S.H.A M-1

MUSCULOSCELETAL DISORDERS PADA PEKERJA BATU BATA MERAH DI KELURAHAN X KUTAI KARTANEGARA DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA

Nanik Haryanti, Iwan M. Ramdan M-6

KORELASI KELUHAN FISIK DAN LIMA DIMENSI KELELAHAN SWEDISH OCCUPATIONAL FATIGUE INDEX (SOFI) PADA KARYAWAN PEMASANGAN AKSESORIS MOBIL

Ardhika Surya Saputra, Tiara Anantha, Rida Zuraida M-11

ANALISIS POSTUR KERJA OPERATOR PADA STASIUN BOILER DENGAN MENGGUNAKAN METODE RULA DI PT. ABC

Farida Ariani, Syahrul Fauzi Siregar M-17

ANALISIS POSTUR KERJA OPERATOR DIVISI SPRING BED DENGAN

METODE SNQ (STANDARD NORDIC QUESTIONAIRE) DAN REBA PADA PT. CAKUP

Khalida Syahputri, Rahmi M. Sari M-22

USULAN PERBAIKAN METODE KERJA DI LINE PRODUKSI POTONG PIPA MESIN SAW BLADE MANUAL

Euis Nina Saparina Yuliani, Wahyudin, Hardianto Iridiastadi

(6)

SKELETAL PADA PRAMUGRAHA HOTEL PURI SARON

N.K. Dewi Irwanti, M. Yusuf, D.A. Aryadewi M-34

ANALISIS POSTURAL STRESS OPERATOR PACKING CV X

Herry Christian Palit, Debora Anne Yang Aysia M-39

USULAN ALOKASI ELEMEN KERJA DENGAN PENDEKATAN ERGONOMI

Dini Wahyuni , Poppy Wijaya , Rahmi M. Sari M-45

ANALISA POSTUR KERJA OPERATOR MESIN HONING MODEL ANR-275 MENGGUNAKAN METODE RAPID ENTIRE BODY ASSESSMENT (REBA)

Muhammad Kholil, Euis Nina Saparina Yuliani M-51

STUDI PERANCANGAN FASILITAS KERJA DI STASIUN PEMBERSIHAN DAN PEMBELAHAN IKAN (STUDI KASUS UKM PENGASINAN IKAN)

Benedikta Anna M-56

ANALISIS PEKERJA EGREK KELAPA SAWIT DI PTPN XY: PART 3. ANALISIS BIOMEKANIKA

Listiani Nurul Huda, Rahim Matondang, Rahmadan Syah Saragih M-63 PENILAIAN POSTUR KERJA BAGIAN TANGAN MENGGUNAKAN

ELEKTROMIOGRAFI

Indah Pratiwi, Purnomo, Rini Dharmastiti, Lientje Setyowati M-70 PENENTUAN ERGONOMIC ASSESSMENT METHOD UNTUK

MENGANALISIS ERGONOMIC HAZARDS DI PEKERJAAN YANG MENIMBULKAN MSDs

Boy Nurtjahyo, Erlinda Muslim, Maya Arlini, Primalia Atika Hardhiani,

Nicko Chandra, Anna Murti M-76

N. Office Ergonomics

ANALISIS BEBAN KERJA MAHASISWA PRAKTEK DI LABORATORIUM JURUSAN ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS UDAYANA

M. Yusuf, I Gede Suhartana, Wahyu Susihono N-1

O. Patient Safety

HUBUNGAN ANTARA KEPEMIMPINAN DAN BUDAYA KESELAMATAN PASIEN DI RUMAH SAKIT

Billy Richardo Sagala dan Ari Widyanti O-1

PERANAN MANAJEMEN KESEHATAN UNTUK MENINGKATKAN KESELAMATAN PASIEN DI RUMAH SAKIT

Triarti Saraswati

PENGUKURAN KELUHAN OTOT-RANGKA PADA PEKERJAAN PERAWAT DENGAN DUTCH MUSCULOSKELETAL QUESTIONNAIRE

Wyke Kusmasari, Yayan Harry Yadi, dan Ing Farid Wajdi O-15 PENGUKURAN IKLIM KESELAMATAN KERJA (STUDI KASUS RS X

MALANG)

Dian Palupi Restuputri O-21

ANALISIS AKTIVITAS KONSULTASI DOKTER SPESIALISTERHADAP KEPUA“AN PA“IEN PADA KLINIK UTAMA ABC BANDUNG

Oktri Mohammad Firdaus O-30

P. Product Design

(7)

KASUS: PASAR MODERN BSD)

Dino Caesaron, Ricky Cahyadi P-1

PERANCANGAN MEJA KERJA PENGELEMAN JOINT KARDUS UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS

Martinus Edy Sianto, Arya Dwi Jaka, dan Hadi Santosa P-7 PERANCANGAN ALAT PENJEMUR KEMPLANG PADA INDUSTRI

KEMPLANG ARHAN PALEMBANG

Yulianti, Theresia Sunarni P-13

DESAIN KURSI ERGONOMIS IBU MENYUSUI MENINGKATKAN MOTIVASI PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF

I Made Anom Santiana, M. Yusuf, dan I Nyoman Sutapa P-20 DESAIN TAMENG PERMANEN LADLE-KOWI MENINGKATKAN

KENYAMANAN PEKERJA MENUANG BAJA CAIR KE DALAM CETAKAN

Wahyu Susihono P-25

PERANCANGAN MESIN PEMOTONG BATU BATA DAN PARAS SESUAI ANTROPOMETRI PERAJIN DAPAT MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS

I Gede Santosa, dan AA. NB. Mulawarman P-30

PERANCANGAN ULANG FASILITAS KERJA PADA AKTIVITAS PEMBUATAN KERAJINAN PERAK DI ANGGRA SILVER

Frengki Nainggolan, Maria Chandra Dewi Kurnianingtyas P-36 PENGEMBANGAN METODE DESAIN PRODUK YANG BERORIENTASI PADA

KEPUASAN PENGGUNA DENGAN PENDEKATAN MULTIDISIPLIN

Agustinus Gatot Bintoro dan Valentinus Darsono P-41

PERANCANGAN ALAT BANTU UNTUK MENGURANGI KELUHAN PEKERJA PADA PROSES PENJEMURAN KAIN BATIK CABUT

Etika Muslimah, Ida Nursanti, Ahmad Ali Marzuki

PERANCANGAN ALAT BANTU KERJA PADA KERAJINAN COR ALUMINIUM DENGAN ERGONOMI PARTISIPATORI

Muhammad Anshari Fadhilah, Amarria Dila Sari, Hari Purnomo,

Muhammad Ragil Suryoputro, Ratih Dianingtyas Kurnia P-57 Q. School Ergonomics

MODEL EDUKASI ERGONOMI TOTAL DALAM PRAKTIK KEILMUAN TEKNIK INDUSTRI DI DAERAH

Heri Setiawan Q-1

DESAIN INTERIOR MICRO TEACHING BERBASIS ERGONOMI

Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi, I Dewa Ayu Sri Suasmini, dan Ni Luh Desi In

Diana Sari Q-7

R. Sports Ergonomics

ANALISIS SKOR CONSTANT SENDI BAHU DAN KORELASINYA TERHADAP LAMA LATIHAN PADA ATLET BASEBALL KOTA BANDUNG

Leonardo Lubis R-1

S. Usability and User Experience

(8)

Tubagus Raihar Maqdisi, dan Tri Budi Setyaningsih S-1 PERANCANGAN ULANG PRODUK DENGAN MEMPERTIMBANGKAN USER

EXPERIENCE MENGGUNAKAN METODE GENEVA EMOTION WHEEL Kristiana Asih Damayanti, Meity Martaleo, Christian Ebbyanto Gunawan,

dan Davin Manuel Sutanto S-9

PERANCANGAN APLIKASI WAYFINDING UNTUK KAMPUS IPB DENGAN MEMPERHATIKAN ASPEK USER EXPERIENCE

Thedy Yogasara dan Stephanie Angkawijaya S-15

T. Work Organization

APLIKASI ERGONOMI MIKRO UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KERJA MIKROBIOLOGI

Rohmana dan Hennie Husniah T-1

PERHITUNGAN WAKTU KERJA EFEKTIF UNTUK PEKERJAAN TAMAN Nuruddin Kamil, Maria Anityasari, dan Anny Maryani

U. Transport & Traffic Ergonomics

PENGARUH KEBISINGAN DAN BEBAN KERJA FISIK TERHADAP KELELAHAN KERJA PORTER APRON BANDARA AHMAD YANI

Novie susanto, Ratna Purwaningsih, Rizki Ridha Illahi U-1 Makalah Finalis PEI Student Paper Challenge 2015

ANALISIS HUBUNGAN ANTARA BODY MASS INDEX DAN WAKTU ISTIRAHAT PADA AKTIVITAS JOGGING USIA 19-21 TAHUN

Anugrah Nurhamid, Sakya Nabila Hapsari SP-1

PERANCANGAN TONG SAMPAH YANG EFISIEN DAN INOVATIF

Aditya Suprihadi Trijaya, Christian Oktavianus, Grace Natalia SP-6 PERANCANGAN POSTUR KERJA YANG ERGONOMIS PADA OPERATOR

JAHIT DALAM VIRTUAL ENVIRONMENT

Faesal Adam, Felix Pandan N. W., Sarsa Surya Rizkita SP-13 PENGARUH PENGGUNAAN SOFTWARE ORACLE DENGAN BEBAN KERJA

MENTAL PEKERJA ADMINISTRASI JNE

Mitasya Susilo, Helena Allaitsi Muzakiroh, Tasya Pradipta SP-18 INOVASI MEJA BANTAL (METAL) PRAKTIS

Rinawati, Adi Prianto, Yakobus Joko Prakosa

KAJIAN ERGONOMI PADA INDUSTRI BOLU KUKUS DI DENPASAR

I Made Krisna Dinata1; Luh Made Indah Sri Handari Adiputra2; I Made Muliarta3 Bagian Ilmu FAAL Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Jl. PB Sudirman Denpasar- Bali

Email: [email protected]; [email protected]@gmail.com3 ABSTRAK

Industri bolu kukus memiliki prospek yang baik di Bali khususnya di Denpasar. Selain

(9)

upacara Galungan yang berlangsung selama lebih dari tiga hari.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan wawancara terhadap salah satu produsen bolu kukus di denpasar.

Industri bolu kukus kebanyakan masih berskala industri rumah tangga yang belum memiliki modal yang besar dan dikelola dengan sederhana. Pada industri bolu kukus terdapat empat proses kerja yaitu proses mengadon, menuang adonan, mengukus, dan membungkus. Banyak potensi bahaya yang ditemukan pada industri bolu kukus seperti sikap kerja yang tidak ergonomis, tidak disediakan alat pelindung diri, paparan suhu tinggi, kelembaban tinggi, pencahayaan yang kurang, dan lain sebagainya.

Adanya potensi-potensi bahaya yang mengancam pekerja industri bolu kukus tentu memerlukan sebuah solusi sehingga kecelakaan kerja maupun penyakit akibat kerja dapat dicegah. Pendekatan Ergonomi Total dapat digunakan untuk memecahkan berbagai masalah yang ada pada industri bolu kukus. Dengan dilakukannya pendekatan Ergonomi Total diharapkan selain mampu memecahkan masalah yang ada, juga dapat mencegah timbulnya masalah baru yang mungkin muncul.

Kata Kunci: bolu kukus, kajian ergonomi, denpasar 1. PENDAHULUAN

Semakin tingginya tuntutan hidup masyarakat perkotaan akhir-akhir ini berimbas pada kesibukan dalam berkarir. Disamping itu, masyarakat khususnya masyarakat Bali juga dituntut tetap aktif dalam kegiatan-kegiatan upakara adat yang ikut menyita waktu serta tenaga. Sebagian besar masyarakat menyiasatinya dengan mengandalkan industri penyedia sarana upakara adat seperti industri pembuat canang, banten, serta makanan untuk persembahan. Makanan persembahan yang dibutuhkan meliputi jaje uli, jaje begina, bolu kukus, dan lain sebagainya. Industri bolu kukus memiliki prospek yang baik di Bali khususnya di Denpasar. Selain sebagai panganan sehari-hari, bolu kukus juga digunakan dalam sarana upakara. Peningkatan jumlah penduduk Bali yang cukup pesat tentu diikuti oleh peningkatan kebutuhan akan bolu kukus sebagai sarana upakara maupun panganan sehari-hari. Bahkan menurut Badan Pusat Statistik Provinsi Bali (2013), laju pertumbuhan penduduk bali sebesar 2,15% pertahun berada jauh di atas laju pertumbuhan penduduk nasional yang hanya sebesar 1,48%.

Bolu kukus sangat dibutuhkan terutama saat hari-hari suci agama hindu di Bali seperti Purnama, Tilem, Galungan, Kuningan, Pagerwesi, dan lain sebagainya. Wawancara pada satu pedagang bolu kukus di Pasar Badung didapatkan informasi permintaan bolu kukus pada saat Purnama sebanyak 400 hingga 600 bungkus. Saat hari suci yang lebih besar, permintaan akan bolu kukus akan semakin meningkat bahkan pada rentetan hari raya Galungan, permintaan bolu kukus melebihi kemampuan produksi para produsennya. Saat hari raya Galungan, satu pedagang Proceeding Seminar Nasional dan Kongres PEI 2015 ISBN: 978-602-8817-72-1

Yogyakarta, 17-18 Nopember 2015 H-15

kue di Pasar Badung mampu menjual 2000 hingga 4000 bolu kukus tiap harinya selama rentetan upacara Galungan yang berlangsung selama lebih dari tiga hari.

(10)

2. METODE

Penelitian ini menggunakan metode observasi dan wawancara. Observasi dilakukan pada salah satu industri bolu kukus di Denpasar terkait 3 aspek kajian ergonomi (task, organisasi, lingkungan). Wawancara dilakukan terhadap dua orang pekerja yang sedang bertugas memproduksi bolu kukus.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Proses produksi pada industri bolu kukus terdiri dari empat tahapan yaitu membuat adonan, menuang adonan ke dalam cetakan, mengukus, dan membungkus. Pembuatan adonan dilakukan dengan mencampur bahan-bahan seperti tepung, gula, telur, zat pengembang, serta perisa makanan. Bahan-bahan ini kemuadian diaduk dengan menggunakan alat pengaduk yang disebut dengan mixer selama kurang lebih satu jam. Mixer yang digunakan dapat mengaduk sekitar 20 kg bahan. Setelah bahan tercampur dengan baik, dilanjutkan dengan proses menuang adonan ke dalam cetakan. Cetakan disusun sedemikian rupa di atas loyang kemudian adonan dituang satu persatu menggunakan sendok khusus berulang-ulang hingga semua cetakan terisi penuh. Proses penuangan adonan ini dapat mencapai 2 jam untuk produksi 20 kg bahan. Loyang yang sudah diisi penuh selanjutnya dimasukkan ke dalam panci kukus yang sudah panas. Proses pengukusan berlangsung sekitar 20 menit. Setelah bolu kukus mengembang, selanjutnya loyang diangkat, bolu kukus dipindahkan ke nampan, dan didinginkan. Setelah bolu kukus dingin, dilanjutkan dengan proses pembungkusan menggunakan plastik OPP proses pembungkusan ini bisa memakan waktu hingga 2 jam. Selanjutnya bolu kukus sudah siap untuk dipasarkan.

Wawancara terhadap salah satu pekerja, produksi bolu kukus rutin dikerjakan tiap menjelang bulan purnama dan bulan baru sebanyak 20 kg. Hal ini berkaitan dengan hari suci budaya Bali yang membutuhkan bolu kukus sebagai salah satu sarana persembahan. Produksi juga rutin saat hari raya hindu lainnya. Saat hari raya Galungan mampu memproduksi maksimal 5000 bungkus bolu kukus dalam waktu satu hari dengan lama kerja selama 20 jam. Jumlah produksi tersebut ternyata belum dapat memenuhi jumlah permintaan pasar. Keterbatasan tenaga kerja serta sarana produksi menjadi alasan produsen tidak mampu memenuhi daya serap pasar. Keterbatasan

tenaga kerja diikuti oleh permintaan akan bolu kukus yang tinggi membuat pekerja terpaksa bekerja lebih dari 8 jam yang menjadi beban bagi pekerja. Beban kerja yang melampaui kemampuan dan keterbatasan manusia akan menimbulkan masalah yang berimplikasi pada pekerja maupun industri bolu kukus Grandjean (2000).

Pada kajian task, didapatkan sikap kerja yang tidak alamiah terutama pada proses

membungkus. Sikap kerja yang dilakukan adalah duduk menggunakan kursi pendek atau dingklik sehingga pekerja bekerja dengan sikap kerja membungkuk dalam waktu yang cukup lama (gambar 1). Proses membungkus cukup memakan waktu sehingga dapat menimbulkan keluhan

(11)

fisiologis (Takahashi, 2002).

Proses angkat-angkut saat memindahkan adonan dari mixer ke meja pencetakan tidak sempat diobservasi, namun dari wawancara didapatkan bahwa para pekerja belum mengetahui sikap kerja angkat-angkut yang ergonomis.Pengangkutan adonan ke stasiun kerja proses penuangan adonan Proceeding Seminar Nasional dan Kongres PEI 2015 ISBN: 978-602-8817-72-1

Yogyakarta, 17-18 Nopember 2015 H-16

juga dapat menimbulkan masalah karena pekerja belum dibekali dengan pengetahuan proses angkat angkut yang ergonomis. Masalah yang sering dihubungkan dengan sikap angkat angkut ini adalah keluhan muskuloskeletal.Keluhan pada sistem muskuloskeletal dapat terjadi karena beban berlebihan, gerakan tertentu yang berulang-ulang, sikap tubuh ketika duduk, berdiri dan melakukan aktivitas, dan tekanan kerja. (Gerr dan Letz, 2000).

Gambar 1. Sikap kerja saat memindahkan bolu untuk dibungkus

Gambar 2. Proses penuangan adonan ke cetakanProceeding Seminar Nasional dan Kongres PEI 2015 ISBN: 978-602-8817-72-1

Yogyakarta, 17-18 Nopember 2015 H-17

Pada proses mengukus, ketinggian kompor belum memperhitungkan antropometri pekerjanya. Hal ini akan menyebabkan pekerja melakukan sikap kerja yang tidak alamiah seperti menjinjit saat akan mengukus adonan maupun saat mengambil bolu yang sudah matang. Stasiun kerja yang tidak sesuai antropometri pekerja dapat menimbulkan sikap kerja yang tidak alamiah sehingga berpotensi menimbulkan penyakit akibat kerja (Manuaba, 2006).

Pada kajian organisasi, industri bolu kukus termasuk industri skala rumah tangga. Sistem organisasi industri ini masih sangat sederhana. Belum ada sistem yang baku dalam pembagian tugas maupun sistem pengupahan. Pekerja kadang harus melakukan pekerjaan lain diluar

kegiatan produksi bolu kukus seperti mencuci perabotan rumah tangga, menyapu, mengepel, dan kegiatan rumah tangga lainnya. Waktu kerja belum diatur dengan baik sehingga saat hari-hari raya di Bali, dimana jumlah produksi sangat tinggi, pekerja dapat bekerja lebih dari 8 jam.

Dari wawancara juga didapatkan bahwa waktu istirahat belum diatur dalam kegiatan produksi. Hal ini berpotensi terjadi istirahat curian dan menyebabkan kejenuhan pekerja dalam bekerja. Tidak disediakannya alat pelindung diri yang memadai juga berpotensi menumbulkan kecelakaan kerja khususnya pada proses mengukus. Pada proses mengukus, pekerja dihadapkan dengan bahaya berupa paparan panas dari kompor dan panci. Saat mengambil loyang dari panci kukus yang panas, pekerja hanya memanfaatkan kain lap untuk menghindari terjadinya luka bakar. Produksi dilakukan dengan tidak banyak melihat keterbatasan pekerja, sehingga industri

pembuatan bolu kukus menjadi terasa berat akibat beban-beban fisiologis yang diterima pekerja. Hal ini menyebabkan lebih sedikit pekerja yang bersedia terjun di industri bolu kukus.

Kajian aspek lingkungan pada industri bolu kukus juga ditemukan masalah ergonomi. Pencahayaan di beberapa titik masih kurang dengan rata-rata intensitas cahaya adalah 126 lux.Pencahayaan yang baik pada kegiatan industri minimal berkisar antara 250 -300 lux. Pencahayaan yang kurang dapat menimbulkan kesalahan-kesalahan dan dapat menurunkan produktivitas pekerja.

Suhu udara di lingkungan kerja selain di tempat proses mengukus didapatkan rata-rata sebesar 28

(12)

C dengan kelembaban relatif 72%. Suhu udara pada bagian mengukus didapatkan cukup tinggi yaitu 33

o

C dengan kelembaban relatif mencapai 86%. Pekerja berada pada tempat mengukus

hanya sekitar satu menit tiap kali menaruh adonan dan mengambil bolu yang sudah matang. Selain paparan suhu udara yang panas, pada proses mengukus, pekerja terpapar panas dari kompor secara radiasi dan panas dari uap air ketika membuka tutup panci. Disamping itu, bahaya dari suhu panci yang tinggi dapat berpotensi menyebabkan luka bakar jika tidak berhati-hati dalam bekerja. Tidak jarang pekerja mengalami luka bakar akibat tidak sengaja bersentuhan dengan panci yang panas saat kegiatan memasukkan adonan siap kukus ke dalam panci maupun saat mengeluarkan bolu kukus yang sudah matang.

Kebisingan didapatkan 72 dB di tempat menuang adonan dan di bagian mixer didapatkan 85dB. Tingkat kebisingan tersebut masih memenuhi standard bekerja selama 8 jam. Saat jumlah

produksi banyak, pekerja dapat bekerja lebih dari 8 jam dan ini berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan akibat bising disamping akibat jam kerja yang melebihi jam kerja yang

direkomendasikan. Kebisingan dapat meningkatkan tekanan darah, denyut jantung, kontriksi pembuluh darah pada kulit, metabolisme, tensi otot dan menurunkan aktivitas alat pencernaan. Berbeda dengan kebisingan yang dikehendaki seperti suara musik sebagai pelembut suasana, jelas bermanfaat bagi pekerja bila tidak mengganggu percakapan dan komunikasi agar kenyamanan bekerja meningkat (Manuaba, 1998).

Dari observasi dan wawancara, tidak didapatkan bahan-bahan kimia yang berbahaya di sekitar tempat produksi. Pewarna yang digunakan adalah pewarna makanan dengan merk yang sudah melalui pengawasan BPPOM.Tidak terlihat adanya lalat yang berkeliaran di sekitar tempat produksi.Di lingkungan tempat produksi terdapat hewan peliharaan namun sudah dikandangkan sehingga tidak mengganggu produksi bolu kukus. Proses kerja yang masih sederhana dan belum terlalu memikirkan kebersihan menjadi masalah ergonomi tersendiri. Walaupun tidak secara langsung menyebabkan bahaya bagi pekerja, namun hal tersebut dapat membahayakan

konsumen yang mengkonsumsi bolu yang tercemar. Proceeding Seminar Nasional dan Kongres PEI 2015 ISBN: 978-602-8817-72-1

Yogyakarta, 17-18 Nopember 2015 H-18

4. SIMPULAN

Dari penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil masih terdapat masalah ergonomi pada salah satu insustri bolu kukus di Denpasar. Dari tinjauan task, masih didapatkan alat-alat yang tidak sesuai antropometri penggunanya sehingga dapat menimbulkan keluhan yang berdampak penurunan produktivitas kerja. Hal ini terlihat dari adanya sikap kerja yang tidak alamiah berupa duduk membungkuk dalam waktu yang lama terutama pada proses membungkus. Selain itu, sikap kerja yang tidak alamiah juga didapatkan pada proses kerja menuang adonan yaitu sikap kerja berdiri statis dalam waktu lama dan juga gerakan repetitif saat menuang adonan. Pekerja belum mengetahui cara angkat-angkut yang ergonomis juga dapat menimbulkan potensi bahaya bagi kesehatan pekerja.

(13)

proses mengukus yang terpapar dengan bahaya luka bakar akibat panas.

Kajian aspek lingkungan pada industri bolu kukus juga ditemukan masalah ergonomi.

Pencahayaan di beberapa titik masih kurang dengan rata-rata intensitas cahaya adalah 126 lux. Pencahayaan yang baik pada kegiatan industri minimal berkisar antara 250-300 lux. Pencahayaan yang kurang dapat menimbulkan kesalahan-kesalahan dan dapat menurunkan produktivitas pekerja.

Pencahayaan di beberapa titik masih kurang dengan rata-rata intensitas cahaya adalah 126 lux. Suhu udara di lingkungan kerja selain di tempat proses mengukus didapatkan rata-rata sebesar 28

o

C dengan kelembaban relatif 72%. Suhu udara pada bagian mengukus didapatkan cukup tinggi yaitu 33

o

C dengan kelembaban relatif mencapai 86%. Masih didapatkan kecelakaan kerja berupa luka bakar akibat tidak sengaja bersentuhan dengan panci yang panas saat kegiatan mengukus. Kebisingan didapatkan 72 dB di tempat menuang adonan dan di bagian mixer didapatkan 85dB. Dari observasi dan wawancara, tidak didapatkan bahan-bahan kimia yang berbahaya di sekitar tempat produksi. Pewarna yang digunakan adalah pewarna makanan dengan merk yang sudah melalui pengawasan BPPOM. Tidak terlihat adanya lalat yang berkeliaran di sekitar tempat produksi. Di lingkungan tempat produksi terdapat hewan peliharaan namun sudah dikandangkan sehingga tidak mengganggu produksi bolu kukus. Proses kerja yang masih sederhana dan belum terlalu memikirkan kebersihan menjadi masalah ergonomi tersendiri. Walaupun tidak secara langsung menyebabkan bahaya bagi pekerja, namun hal tersebut dapat membahayakan konsumen yang mengkonsumsi bolu yang tercemar.

Produksi dilakukan dengan tidak banyak melihat keterbatasan pekerja, sehingga industri

pembuatan bolu kukus menjadi terasa berat akibat beban-beban fisiologis yang diterima pekerja. Hal ini menyebabkan lebih sedikit pekerja yang bersedia terjun di industri bolu kukus.Adanya potensi-potensi bahaya yang mengancam pekerja industri bolu kukus tentu memerlukan sebuah solusi sehingga kecelakaan kerja maupun penyakit akibat kerja dapat dicegah. Pendekatan Ergonomi Total dapat digunakan untuk memecahkan berbagai masalah yang ada pada industri bolu kukus. Dengan dilakukannya pendekatan Ergonomi Total diharapkan selain mampu memecahkan masalah yang ada, juga dapat mencegah timbulnya masalah baru yang mungkin muncul.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik Provinsi Bali. (2014). Laju Pertumbuhan Penduduk. Diakses dari:http://www.bali.bps.go.id[20 April 2015].

Gerr, F. dan Letz, R. (2000). Clinical Diaghnostic Tests for Carval Tunnel Syndrome. The Journal of Hand Surgery (AM). 25, 778-779.

Grandjean, E. (2000). Fitting the Task to The man. A Textbook of Occupational Ergonomics. London: Taylor & Francis Ltd. Proceeding Seminar Nasional dan Kongres PEI 2015 ISBN: 978-602-8817-72-1

Yogyakarta, 17-18 Nopember 2015

(14)

Manuaba, A. (2006). A Total Approach In Ergonomics is A Must To Attain Human, Competitive, and Sustainable Work System and Products. Dipresentasikan pada: Ergo Future 2006:

International Symposium On Past, Present and Future Ergonomics, Occupational Safety and Health. Denpasar 28-30thAugust

(15)

Referensi

Dokumen terkait