1
STRUKTUR NASKAH DRAMA “ROH” KARYA WISRAN HADI
TESIS
OLEH :
DEMYLIA LADY AMARA NIM P2A321007
MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI JANUARI, 2023
2
STRUKTUR NASKAH DRAMA “ROH” KARYA WISRAN HADI
TESIS
Diajukan kepada Universitas Jambi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Pendidikan (M.Pd) Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
OLEH :
DEMYLIA LADY AMARA NIM P2A321007
MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI JANUARI, 2023
3 MOTTO
“Bekerjalah bagaikan tak butuh uang. Mencintailah bagaikan tak pernah disakiti.
Menarilah bagaikan tak seorang pun sedang menonton.”
Kupersembahkan Tesis ini untuk kedua orangtua ku tercinta dan terkasih, yang selalu ada dalam suka dan duka, selalu mencintai dan menyayangi tanpa lelah, tanpa letih
selalu mendukungku dalam setiap keadaan apapun dan tanpa keluh, selalu memberikan segalanya untuk kebahagiaanku.
4
PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini, Nama : Demylia Lady Amara NIM : P2A321007
Program Studi : Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Dengan ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis ini benar-benar karya sendiri dan bukan merupakan jiplakan dari hasil penelitian pihak lain. Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat di buktikan bahwa tesis ini merupakan jiplakan atau plagiat, saya bersedia menerima sanksi dicabut gelar dan ditarik ijazah.
Demikianlah pernyataan ini dibuat dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.
Jambi, 06 Januari 2023 Yang Membuat Pernyataan
Demylia Lady Amara NIM. P2A321007
5 ABSTRAK
Amara, Demylia Lady. 2023. Struktur Naskah Drama “Roh” Karya Wisran Hadi, Tesis, Program Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi : Pembimbing (I) Prof. Dr. Dra. Nazurty, M.Pd (II) Dr.
Drs. Maizar Karim., M.Hum.
Kata kunci : struktur, naskah drama,
Tujuan penelitian ini, untuk mengetahui dan mendeskripsikan struktur naskah drama
“Roh” karya Wisran Hadi dan hubungan antar unsur yang ada dalam naskah drama
“Roh” karya Wisran Hadi. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Metode penelitian ini, menggunakan metode deskriptif. Metode deskriptif dilakukan semata-mata hanya berdasarkan fakta atau fenomena empiris. Sehingga pada penelitian ini peneliti akan mencatat, mendeskripsikan, menjelaskan serta memaparkan bagaimana struktur naskah drama “Roh” karya Wisran Hadi dan bagaimana hubungan antar unsur dalam naskah drama “Roh” karya Wisran Hadi.Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan objektif. Data dalam penelitian ini berupa satuan kalimat sekuen-sekuen peristiwa yang berkaitan dengan struktur yang terkandung dalam naskah drama “Roh” karya Wisran Hadi. Sumber penelitian ini adalah naskah drama “Roh” karya Wisran Hadi yang ditulis pada Juni 1998 di Pagaruyung, Sumatera Barat. Hasil penelitian ini berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui dan mendeskripsikan struktur naskah drama
“Roh” karya Wisran Hadi dan hubungan antar unsur yang ada dalam naskah drama
“Roh” karya Wisran Hadi. Struktur naskah drama “Roh” Karya Wisran Hadi, ditemukan tujuh unsur instrinsik meliputi, alur, latar, tokoh, sudut pandang, tema, amanat dan gaya bahasa. Simpulan setelah menemukan struktur unsur-unsur instrinsik dalam naskah drama “Roh” karya Wisran Hadi, peneliti juga menemukan hubungan antar unsur diantaranya meliputi; hubungan alur dan tema, hubungan latar dengan alur, hubungan tokoh dengan tema, hubungan latar dengan tokoh, hubungan latar, alur, tokoh, dan tema, dan hubungan tema dengan amanat. Hubungan antar unsur yang membangun dalam naskah drama “Roh” karya Wisran Hadi ini fungsional dalam menciptakan estetika, sehingga struktur karya menjadi bulat dan utuh.
Hubungan antar unsur ini juga mampu membangun totalitas makna teks. Dari ketujuh unsur intrinsik naskah drama “Roh” karya Wisran Hadi, peneliti belum menemukan hubungan antar unsur dengan gaya bahasa dan sudut pandang dalam naskah drama “Roh” karya Wisran Hadi. Hubungan atau keterkaitan antar unsur- unsur yang terdapat di dalam tujuh unsur intrinsik naskah drama “Roh” karya Wisran Hadi layak untuk diaplikasikan sebagai pedoman untuk menganalisis naskah drama dan dapat dijadikan sebagai bahan ajar bagi pendidik.
6 ABSTRACK
Amara, Demylia Lady. 2023. Struktur Naskah Drama “Roh” Karya Wisran Hadi, Tesis, Program Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi : Pembimbing (I) Prof. Dr. Dra. Nazurty, M.Pd (II) Dr.
Drs. Maizar Karim., M.Hum.
Keywords: structure, drama script,
The purpose of this research is to find out and describe the structure of Wisran Hadi's play "Spirit" and the relationship between the elements in the play "Spirit" by Wisran Hadi. The type of research used in this study is qualitative by using descriptive methods. The approach used in this study is an objective approach. Objective approach or often called the structural approach, in this case the researcher will describe the basic understanding of all the components that build the structure of a literary work or its intrinsic elements. The data in this study are in the form of sentence units of event sequences related to the structure contained in the drama script "Spirit" by Wisran Hadi. The source of this research is the drama script "Spirit"
by Wisran Hadi which was written in June 1998 in Pagaruyung, West Sumatra. The script for this play has four acts and twenty-nine pages. The drama script "Spirit" by Wisran Hadi was published in Sobrat's collection of drama scripts. This research method, using descriptive method. The descriptive method is carried out solely based on empirical facts or phenomena. So that in this study the researcher will record, describe, explain and explain how the structure of the play "Spirit" by Wisran Hadi and how the relationships between elements in the play "Spirit" by Wisran Hadi.The results of this study are based on the formulation of the problem and the research objectives, namely to find out and describe the structure of the drama script "Spirit"
by Wisran Hadi and the relationship between the elements in the play "Spirit" by Wisran Hadi. The structure of the drama script "Spirit" by Wisran Hadi, found seven intrinsic elements including, plot, setting, character, point of view, theme, message and style of language. .Conclusion after finding the structure of the intrinsic elements in the drama script "Spirit" by Wisran Hadi, researchers also found relationships between elements including; relationship between plot and theme, background relationship with plot, character relationship with theme, background relationship with character, background relationship, plot, character, and theme, and theme relationship with message. The relationship between these elements is also able to build the totality of the meaning of the text. From the seven intrinsic elements of Wisran Hadi's play "Spirit", researchers have not found a relationship between the elements with style of language and point of view in the play "Spirit" by Wisran Hadi. The relationship or linkage between the elements contained in the seven intrinsic elements of Wisran Hadi's drama script "Spirit" is appropriate to be applied as a guide for analyzing drama scripts and can be used as teaching material for educators.
7
KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa penulis sampaikan kepada Allah Swt. yang telah memberikan limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tesis berjudul “ Struktur Naskah Drama “Roh” Karya Wisran Hadi
”. Tesis ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Pendidikan pada Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi.
Selesainya Penyusunan Tesis ini tidak akan dapat diraih tanpa bantuan dari Allah Swt dan semua pihak yang telah membantu. Dalam Kesempatan ini, penulis sampaikan terima kasih, kepada ibu Prof. Dr. Dra. Nazurty, M.Pd dan bapak Dr.
Maizar Karim, M.Hum yang bersedia meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk membimbing penulis dalam menyelesaikan tesis ini.
Rasa terima kasih juga penulis sampaikan kepada dewan penguji bapak Prof.
H. Yundi Fitra, M.Hum., Ph.D, bapak Dr. Drs. Hary Soedarto Harjono, M.Pd, bapak Dr. Drs. Andiopenta Purba, M.Hum, dan ibu Dr. Dra Irma Suryani, M.Pd atas kritik dan saran yang diberikan dalam seminar proposal tesis, seminar hasil tesis, dan sidang tesis sehingga menjadikan tesis ini menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Secara khusus penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada orang tua dan seluruh keluarga besar, karena atas doa, dukungan, motivasi, dan kasih sayangnya penulis mampu menyelesaikan Tesis ini dengan baik. Teruntuk sahabat dan rekan-
8
rekan seperjuangan, terima kasih karena telah ikut serta hadir semasa perkuliahan ini, senantiasa memberikan doa, motivasi, dan dukungan secara ikhlas kepada penulis, semoga penulis bisa menjadi seseorang yang membanggakan dan berguna. Terus berjuang dan jangan putus asa, kesuksesan telah menunggu didepan mata, salam hangat penuh cinta untuk semua yang terkasih dan tersayang.
Jambi, 06 Januari 2023
Penulis
9 DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ………i
HALAMAN PERSETUJUAN……….ii
HALAMAN PENGESAHAN………..iii
KATA PENGANTAR………..…iv
DAFTAR ISI ………..…..v
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ……….………1
1.2 Rumusan Masalah……….14
1.3 Tujuan Penelitian ……… ………….………….15
1.4 Manfaat Penelitian ……….……...15
BAB II KAJIAN TEORETIK 2.1 Pengertian Naskah Drama..………16
2.2 Hakikat Naskah Drama Sebagai Karya Sastra ………...20
2.3 Kajian Struktural Naskah Drama ……….………...…...22
2.4 Kerangka Berpikir ………..44
2.5 Penelitian Relevan ……….…….45
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode, Pendekatan dan Jenis Penelitian …….……...………...….46
3.2 Data dan Sumber Data ………..…...……46
3.3.1 Data ………..……….46
3.3.2 Sumber Data …………...……….…..47
3.3 Teknik Pengumpulan Data ………...47
3.4 Instrumen Penelitian ……….48
3.5 Uji Validitas Data ……….50
3.6 Teknik Analisis Data ……….………...50 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
10
4.1 Hasil Penelitian ………..……….……..52
4.2 Struktur Naskah Drama Roh Karya Wisran Hadi…………..……...52
4.2.1 Alur……….…………...52
4.2.2 Penoko………...55
4.2.3 Latar………...………58
4.2.4 Sudut Pandang……….………..60
4.2.5 Tema ……….………....62
4.2.5.1 Tema Mayor ………..…63
4.2.5.2 Tema Minor ………...66
4.2.6 Amanat………..68
4.2.7 Gaya Bahasa………...…..70
4.3 Pembahasan……….71
4.3.1 Hubungan antar unsur naskah drama Roh …………...72
4.3.1.1 Hubungan Alur dan Tema ………74
4.3.1.2 Hubungan Latar dan Alur………...74
4.3.1.3 Hubungan Tokoh dan Tema………..…………75
4.3.1.4 Hubungan Latar dan Tokoh …………...…………...76
4.3.1.5 Hubungan Latar, Alur, Tokoh, dan Tema…………..76
4.3.1.6 Hubungan Tema dan Amanat…..………..77
BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan……….………....79
5.2 saran……….………...80
DAFTAR RUJUKAN ……….…………...…81
11 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
Karya sastra adalah ciptaan yang disampaikan dengan komunikatif tentang maksud penulis untuk tujuan estetika. Karya-karya ini sering menceritakan sebuah kisah, dalam sudut pandang orang ketiga maupun orang pertama, dengan plot dan melalui penggunaan berbagai perangkat sastra yang terkait dengan waktu mereka. Karya sastra dikenal dalam dua bentuk, yaitu fiksi dan nonfiksi. Jenis karya sastra fiksi adalah prosa, puisi, dan drama. Sedangkan contoh karya sastra nonfiksi adalah biografi, autobiografi, esai, dan kritik sastra. .
Karya sastra digunakan untuk memenuhi kepuasan rohani penulis dan para pembacanya. Bentuk kepuasan ini dapat diwakilkan melalui penggunaan bahasa yang bermakna kesenangan, kesedihan, kekecewaan, maupun ungkapan lain yang memiliki nilai keindahan. Karya sastra merupakan bentuk fisik dari sastra yang ditulis oleh sastrawan. Ciri khas yang mutlak ada di dalam karya sastra adalah keindahan, keaslian dan nilai artistik dalam isi dan ungkapannya.
Suatu karya tidak dapat dikatakan sebagai karya sastra jika salah satu unsur tersebut tidak terpenuhi. Syarat keindahan di dalam sastra yaitu jika ada prinsip keutuhan, keselarasan, keseimbangan dan fokus dalam penulisannya. Secara umum karya sastra di bagi menjadi tiga genre, yaitu prosa, puisi, dan drama. Menurut
12
Sudjiman (Prawesti, 2013:8), Drama sebagai karya sastra bertujuan menggambarkan kehidupan dengan mengemukakan tikaian dari emosi lawan lakuan dan dialog dan drama lazimnya dipentaskan. Dengan membaca naskah drama, diharapkan pembaca dapat memperkaya batin dan mendapatkan kesenangan positif untuk menemukan nilai-nilai kehidupan dalam pesan atau makna yang terkandung dalam drama.
Ciri lain yang membedakan karya sastra dengan karya lainnya adalah penggunaan bahasa yang khas dengan daya khayal dan bernilai seni. Bahasa digunakan sebagai sistem tanda yang memberikan arti dan makna bagi pembacanya.
Bahasa yang digunakan di dalam karya sastra mengikuti paham strukturalisme atau paham formalisme. Paham strukturalisme memandang karya sastra dari unsur-unsur pembangunnya atau strukturnya.
Bahasa yang digunakan dalam karya sastra merupakan sistem tanda yang berupa bahasa teks dengan kandungan pemahaman dan saling berhubungan satu sama lain. Sedangkan paham formalisme memandang bahwa bahasa sastra merupakan bahasa yang khas dan menyimpang dari bahasa sehari-hari.Bahasan utama dalam karya sastra yaitu tentang permasalahan di sekitar kehidupan manusia. Adanya keinginan manusia untuk mengungkapkan tujuan keberadaan dirinya membuat terciptanya karya sastra. Karya sastra menjadi lembaga sosial yang bertindak sebagai perantara manusia dalam menciptakan lingkungan sosial.
Karya sastra menyerupakan antar gambaran kehidupan dan kehidupan itu sendiri sebagai realitas sosial. Bahasan di dalam karya sastra berkaitan dengan manusia dengan manusia lainnya atau perasaan pribadi dari manusia. Selain itu, karya
13
sastra juga membahas tentang hubungan timbal-balik antarindividu atau antara individu dengan masyarakat. Bahasan karya sastra berkaitan dengan kajian ilmu sastra. Penggunaan ilmu sastra diterapkkan dalam memahami karya sastra, menikmati, menganalisis, menginterpertasi, dan menciptakan karya sastra.
Ilmu yang diperlukan dalam karya sastra yaitu sejarah sastra, kritik sastra, dan teori sastra.
Fungsi karya sastra yaitu untuk mengkomunikasikan ide dan menyalurkan pikiran serta perasaan estetis manusia pembuatnya.Ide itu disampaikan lewat amanat yang pada umumnya ada dalam sastra. Selain ide, dalam sastra terdapat juga deskripsi berbagai peristiwa, gambaran psikologis, dan berbagai dinamika penyelesaian masalah. Hal ini dapat menjadi sumber pemikiran dan inspirasi bagi pembacanya. Konflik-konflik dan tragedi yang digambarkan dalam karya sastra memberikan kesadaran pada pembaca bahwa hal itu dapat terjadi dalam kehidupan nyata dan dialami langsung oleh pembaca. Kesadarannya itu membentuk semacam kesiapan dalam diri untuk menghadapi kondisi sosial yang terjadi di masyarakat, sastra juga berguna bagi para pembacanya sebagai media hiburan.
Karya sastra digunaaan untuk memberikan hiburan sekaligus kenikmatan dalam penyajian yang bernilai seni dan mengandung keindahan. Penulisan karya sastra yang mengandung literatur akan memperjelas, memperdalam, dan memperluas wawasan serta penghayatan manusia tentang hakikat kehidupan. Karya sastra menggunakan bahasa sebagai media dalam memberikan gambaran tentang kehidupan
14
dengan segala kerumitannya. Pesan yang disampaikan dalam bahasa sastra berupa cita-cita, keinginan, harapan, dan kekuasaan. Selain itu, karya sastra juga menjelaskan tentang pengabdian, makna dan tujuan hidup, perjuangan, eksistensi dan ambisi manusia. Perasaan yang ingin disampaikan di dalam karya sastra dapat berbentuk cinta, benci dan iri hati, tragedi dan kematian, serta hal-hal yang bersifat transedental dalam kehidupan manusia. Pengarang karya sastra menyampaikan hakikat, nilai kehidupan, dan eksistensi manusia melalui nilai kemanusiaan, sosial, kebudayaan, moral, politik, gender, pendidikan maupun ketuhanan atau keagamaan. Karya sastra merupakan ekspresi sastrawan yang didasarkan kepada pengamatannya terhadap kondisi masyarakat.
Dalam masyarakat, karya sastra dapat menggugah perasaan orang untuk berpikir dan merenungi kehidupan. Pengkajian dan pembacaan karya sastra merupakan sumber moral dan ilmu kemanusiaan yang menjadi penyebab tindakan dalam masyarakat. Karya sastra juga dapat membahayakan keberlangsungan suatu pemerintahan, sehingga lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif pada suatu negara dapat melarang penerbitan suatu karya sastra tertentu
Karya sastra di tuliskan dengan menggunakan tanda-tanda yang penuh makna, seorang pengarang menuangkan gagasan yang dimiliki biasanya dikemas dengan bahasa yang apik dan artistik. Tetap menimbulkan kesan estetik disetiap kata demi kata, membubuhkan kode, lambang, dan simbol kebahasaan yang berbeda dari bahasa biasanya. Dengan penggunaan bahasa yang estetik, memungkinkan seorang pembaca akan mengalami kesulitan dalam memahami makna yang terkandung di
15
dalam naskah drama tersebut. Karena kesulitan yang mungkin akan ditemui oleh pembaca, maka analisis semiotik sangat diperlukan.
Karya sastra yang menggunakan bahasa sebagai media penyampaian pesan kepada pembaca, sama halnya dengan bangunan tanda yang menarik untuk dianalisis. Naskah drama “Roh” karya Wisran Hadi dikaji dengan menempatkan drama ke dimensi sastra, bukan sebagai dimensi seni pertunjukan, sehingga masalah yang di selesaikan dalam pengkajian ini seputar naskah, teks, dan unsur cerita.
Naskah merupakan teks tertulis, sedangkan drama adalah cerita yang dilukiskan dalam gerak yang berisi dialog-dialog antar tokoh. Menurut Wijayanto (Kartika, 2012:17), naskah drama adalah karangan yang berisi cerita atau lakon.
Bentuk naskah drama dan susunannya berbeda dengan naskah cerita pendek atau novel. Naskah drama tidak mengisahkan cerita secara langsung. Penuturan ceritanya diganti dengan dialog para tokoh. Jadi naskah drama itu ucapan-ucapan atau pembicaraan para tokoh. Dari pembicaraan para tokoh itu penonton dapat menangkap dan dan mengerti seluruh ceritanya.
Naskah Drama memiliki unsur pembangun yakni unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik merupakan unsur pembangun karya sastra yang berasal dari dalam karya itu sendiri. Komponen yang termasuk sebagai unsur intrinsik antara lain ialah, tema, latar/setting, alur, tokoh dan penokohan, dialog, bahasa, konflik dan amanat. Unsur ekstinsik adalah unsur-unsur pembentuk drama yang berasal dari luar.
16
Komponen unsur ekstinsik ialah, latar belakang pengarang, nilai agama dan kepercayaan, kondisi politik Negara, psikologis pengarang, dan situasi sosial budaya.
Unsur intrinsik dan ekstrinsik tersebut harus kita perhatikan, pahami, dan hubungkan antara unsur satu dengan lainnya, sebab sebuah unsur tidak akan memiliki arti dalam dirinya sendiri dan akan bermakna serta mudah dipahami jika saling berhubungan dan berkaitan. Oleh sebab itu, dibutuhkan adanya sebuah analisis yang mampu membantu kita untuk mengkaji sebuah naskah drama.
Naskah drama juga dapat disebut sebagai bahan dasar dari sebuah cerita. Baik cerita yang akan ditampilkan di dalam film, maupun cerita yang akan ditampilkan dalam sebuah pementasan drama atau teater. Umumnya, naskah drama akan dibuat sangat dramatis, di dalamnya akan ditampilkan beberapa hal. Seperti tempat, setting, kondisi atau keadaan, dialog para tokoh dan lain sebagainya. Hal-hal seperti itu tentu harus ada di dalam sebuah naskah drama, supaya menjadi naskah yang utuh. Sebuah naskah drama dapat dikatakan sebagai naskah drama apabila memiliki beberapa unsur.
Unsur-unsur naskah drama di antaranya adalah sebagai berikut: (1) memiliki tema khusus, (2) memiliki latar. Seperti latar waktu, latar tempat dan latar suasana, (3) terdapat tokoh dan penokohannya, (4) memiliki alur cerita di dalamnya, (5) memiliki pesan dan kesan yang akan disampaikan kepada pembacanya. Ada beberapa ciri-ciri naskah drama yang harus dipenuhi. Adapun ciri-cirinya adalah sebagai
17
berikut: berbentuk dialog, semua dialog tidak menggunakan tanda petik, memiliki petunjuk aksi di dalam naskah drama yang ditulis di dalam tanda kurung.
Penulisan naskah drama bisa berasal dari ide atau imajinasi penulis, dari karya lain seperti, legenda, cerpen, novel, atau sebagainya, atau dari kejadian- kejadian/keadaan sosial masyarakat. Waluyo ( Kartika, 2012:18), menyatakan dasar teks naskah drama adalah konflik manusia yang digali dari kehidupan. Dalam menulis naskah drama diperlukan pengetahuan yang luas tentang berbagai tema yang terjadi. Penulisan naskah drama bisa atas dasar pengalaman pribadi atau peristiwa yang terjadi di lingkungannya.
Menulis naskah drama, perlu memperhatikan hal-hal yang menjadi karakterisrik drama. Pengungkapan tokoh, penyampaian gagasan dengan alur yang logis, dan penggambaran setting yang jelas akan menciptakan naskah benar-benar hidup. Penulis harus bisa mengolah suatu konflik menjadi permainan yang menarik, dengan mengekspresikannya melalui jalinan peristiwa dan susunan kata yang mewakili gerak.
Teknik penulisan naskah drama memiliki kekhususan jika dibandingkan dengan teknik penulisan puisi dan prosa. Karena memiliki kemungkinan untuk dipentaskan, naskah drama memiliki teks samping (nebentext) dan teks utama (hauptext). Teks samping berguna untuk menyatakan latar, laku tokoh, suasana berlangsungnya kisah, dan petunjuk teknis. Sutradara-sutradara drama biasanya
18
mengacu pada teks samping (nebentext) untuk mendekorasi pentas drama, Nurhadi (Endraswara, 2011:3).
Penulisan naskah drama biasanya diangkat dari konflik yang terdapat dalam kehidupan manusia. Konflik yang terjadi terbangun oleh pertentangan- pertentangan para tokohnya. Penuangan kehidupan itu digali dan diolah sedemikian rupa oleh penulisnya sehingga mampu menampilkan suatu cerita yang menarik.
Kreatifitas seorang pengarang terlihat dari kemahiran pengarang menjalin konflik, menjawab konflik dengan surprise, dan memberikan pembaruan dalam jawaban itu (Waluyo, 2003:8).
Penulis memilih naskah drama karena merupakan salah satu bentuk karya sastra yang membutuhkan penangan kompleks. rama adalah bentuk karya sastra yang nantinya lebih ditekankan pada aksi atau gerakan. Berbeda dengan bentuk karya sastra yang lain seperti puisi ataupun prosa yang dapat dinikmati dengan cara membacanya saja, naskah drama belum dianggap selesai kalau belum dipentaskan.
Dikatakan membutuhkan penanganan yang kompleks disebabkan karena karya sastra berupa drama tidak hanya menampilkan percakapan baik itu monolog maupun dialog. Lebih dari itu, menampilkan bentuk karya sastra ini juga tidak lepas dari unsur-unsur lain yang membuat pementasan bentuk karya sastra ini lebih menarik. Adapun karya sastra drama memerlukan unsur-unsur lain seperti: seni musik, tata lampu, artistik, pentas, seni tari, olah vokal dan sebagainya.
19
Berikut beberapa naskah drama karya Wisran Hadi : (1)Sumur Tua(1972), (2) Dua Buah Segitiga(1972), (3) Gaung(1975), (4) Putri Cendana (Drama anak- anak,1975), (5) Putri Mawar(1975), (6) Ehm(1975), (7) Memuara Ketelaga(1976), (8) Tetangga(1977), (9) Payung Kuning(1977), (10) Anggun Nan Tongga(1977), (11) Cindua Mato(1977), (12) Malin Kundang (1978), (13) Malin Deman(1978), (14) Imam Bonjol(1980), (15) Terminal(Operet,1980), (16) Kemerdekaan(1980), (17)Nyonya-Nyonya(1982), (18) Sabai Nan Aluih(1982), (19) Paimbai Dunia(naskah randai,1982), (20) Dara Jingga(1984), (21) Penyeberangan(1984), (22) Senandung Semenanjung(1985), (23) Jalan Lurus(1985), (24) Kebun Tuan(1985), (25) Matri Lini(1988), (26) Salonsong(1988), (27) Mandi Angin(1999), (28) Empat Sandiwara Orang Melayu(2000), (29) Orang-orang Blanti(2000), (30) Liem Kon Doang(2002), (31) Roh(2003), (32) Singa Podium(2003), (33) Perantau Pulau Puti(2004), (34) Titian(2004), (35) Presiden(2005).
Dari sekian banyak naskah drama karya Wisran Hadi, ada beberapa alasan yang melatar belakangi pemilihan naskah drama Roh dalam penelitian ini. Pertama, peneliti menggunakan analisis strutural untuk mengtahui unsur-unsur instrinsik yang terkandung dalam naskah drama ini, setelah menemukan unsur instrinsik naskah drama ini, peneliti melanjutkan dengan mencari hubungan antar unsur yang terkandung dalam naskah drama “Roh” ini. Naskah drama “Roh” karya Wisran Hadi merupakan naskah drama yang surealis dimana tokoh-tokoh yang ada di dalamnya belum jelas atau tidak nyata/real.
20
Naskah drama ini menceritakan mengenai medium yang ternyata tokoh medium itu adalah Suri yang merupakan tokoh yang diperbincangkan dari awal sampai akhir tetapi tidak memiliki peran nyata dalam permainan. Banyak keambiguan pada naskah drama ini yang membuatnya sulit untuk di pahami secara logika.
Penokohan tokoh-tokoh yang tidak jelas dalam naskah ini menggambarkan berdasarkan judul yang dipakai dalam naskah drama ini (Roh) yang tidak jelas apa dan seperti apa bentuk sebenarnya. Untuk itu mengkaji struktur naskah drama Roh karya Wisran Hadi ini, sangat penting dilakukan untuk dapat dipahami dengan baik.
Analisis struktural dan mencari hubungan antar unsur sangat dibutuhkan dalam penelitian ini. Kedua, naskah ini termasuk kedalam naskah terkenal hingga saat ini, begitu sering naskah drama ini dipentaskan dari berbagai komunitas teater baik dari kalangan pelajar maupun umum, dikarenakan naskah ini memiliki daya tarik tersendiri, unik dan aura mistis yang terpancar pada naskah ini. Naskah ini memiliki banyak perlambangan yang membutuhkan analisis untuk mengkaji serta memiliki nilai kebudayaan yang sangat menarik. Ketiga naskah drama roh merupakan salah satu naskah drama terbaik karya Wisran Hadi yang mendapatkan penghargaan juara II sayembara DKJ tahun 2003.Naskah drama ini kemudian diterbitkan dalam kumpulan naskah drama Sobrat pada tahun 2003 oleh PT. Grasindo Jakarta.
Menggunakan analisis struktur merupakan keutamaan dan pokok dalam mengkaji suatu kajian dibanding teori-teori lain. Pendekatan struktur merupakan suatu pendekatan awal dalam sebuah penelitian sastra. Di samping itu, pendekatan struktural juga sangat penting bagi sebuah analisis karya sastra. Strukturalisme sastra
21
adalah pendekatan yang menekankan unsur intrinsik yang membangun karya. Oleh sebab itu, dengan tidak adanya analisis melalui struktural, makna intrinsik dalam suatu karya sastra tidak dapat tergali secara dalam. Selain itu, analisis struktural memiliki tujuan adalah memahami secara teliti, menyuguhkan, membongkar secara tepat, detail, dan sekuat mungkin melalui analisis struktural berupa suatu isi dengan hasil makna yang baik dalam suatu karya (Teeuw, 1984: 135). Struktural memiliki tiga sifat yaitu total, transformasi, dan pengaturan diri. Total yang dimaksud adalah struktur terbentuk secara menyeluruh (totalitas) dengan rangkaian unsur yang tetap memiliki kaidah. Demikian daripada itu, susunan rangkaian tersebut menjadikan satu kesatuan yang akan menjadi konsep sempurna. Selanjutnya transformasi, pada dasarnya, transformasi dimaksudkan bahwa adanya perubahan yang terjadi pada sebuah unsur struktur yang akan merubah atau menjadikan perbedaan antar unsur lainnya.
Pengaturan diri dimaksudkan adalah struktur tersebut dibentuk oleh adanya kaidah intrinsik dari hubungan antar struktur yang dapat mengatur dirinya sendiri kalau ada satu unsur hilang (Piaget dalam Sangidu, 2004: 16). Adapun langkah-langkah analisis struktural adalah sebagai berikut: a.dapat mengidentifikasikan unsur-unsur intrinsik dengan membangun suatu karya sastra secara lengkap dan jelas, dapat membedakan antara tema dan tokoh b. dapat mengkaji sebuah unsur yang telah diindentifikasikan sehingga dapat dideskripsikan perbedaan tema, alur, penokohan, dan latar dalam sebuah karya sastra, dan c. dapat
22
menghubungkan unsur masing-masing sehingga mendapatkan kepaduan makna secara totalitas dari suatu karya sastra (Nurgiyantoro, 20013: 36).
Stanton (dalam Jabrohim, 1965: 12), menyatakan bahwa dapat mendiskripsikan suatu unsur pembangun struktur yang terdiri atas tema, fakta cerita dan karya sastra. Dalam hal ini, Tema adalah dasar cerita, sebuah gagasan atau ide pokok yang mendasari kayra sastra. Fakta cerita terdiri dari cerita, alur, dan latar.
Selain itu, unsur intrinsik akan menjadi sarana analisis karya sastra terdiri dari simbol-simbol, sudut pandang, gaya bahasa, imajinasi selain itu juga mengetahui cara memilih judul dalam suatu karya sastra.
Menurut Riswandi dan Titin Kusmini (2018: 84) yang dimaksud dengan pendekatan dapat diartikan sebagai asumsi-asumsi dasar yang dijadikan pegangan dalam memandang suatu objek, apabila kajian suatu karya sastra menggunakan struktural berarti ia menyelidiki makna karya sastra dengan mempelajari unsur-unsur strukturnya dan hubungannya satu sama lain, kemudian setelah makna dipahami, dapat dibuat berbagai interpretasi. Kajian struktural di dalam penelitian sastra merupakan suatu cara pendekatan yang menekankan pada suatu pandangan bahwa karya sastra itu merupakan sesuatu yang mandiri yang terlepas dari unsur-unsur lain.
Kelebihan Pendekatan Struktural antara lain ialah,(1) memberikan peluang untuk melakukan telaah sastra lebih rinci dan dalam. (2) mencoba melihat sastra sebagai sebuah karya sastra dengan hanya mempersoalkan apa yang ada di dalam
23
dirinya, (3) analisis yang objektif dan analitik banyak memberi umpan balik kepada penulis, dan mendorong penulis untuk berhati-hati dan teliti dalam menulis.
Semi (Abidin, 2003: 27) mengemukakan beberapa langkah kerja yang harus dilalui ketika peneliti menggunakan pendekatan struktural, yaitu sebagai berikut: (1)Peneliti harus betul-betul menguasai konsep-konsep dasar mengenai semua unsur (unsur instrinsik) yang membangun struktur karya sastra, (2)Pembicaraan tentang tema harus didahulukan, sebab tema merupakan komponen pusat yang mengikat komponen lainnya, (3) Penggalian tema harus selalu dikaitkan dengan dasar pemikiran atau falsafah yang terkandung di dalam karya sastra tersebut, (4) Setelah menganalisis tema, peneliti menganalisis alur, (5) Peneliti harus memerhatikan konflik yang terjadi dalam sebuah karya, (6) Selanjutnya analisis mengenai perwatakan atau penokohan dimulai dengan memperkenalkan perwatakan hingga kepada kedudukan dan fungsi perwatakan tersebut dalam karya sastra, (7) Kajian gaya penulisan (stilistika) dilakukan dengan maksud untuk melihat peranannya dalam membangun estetika, (8) Analisis selanjutnya mengenai sudut pandang yang merupakan analisis terhadap penempatan penulis dalam cerita, (9) Analisis terhadap latar juga harus mendapat perhatian, (10) Penafsiran terhadap komponen pembangun karya sastra akan mendapat makna bila komponen berada dalam satu kesatuan yang utuh, sebaliknya makna keseluruhan akan didapat atas dasar makna komponennya, (11) Kegiatan penafsiran dilakukan dengan sadar bahwa teks yang dihadapi mempunyai kesatuan, keseluruhan, dan kebulatan makna serta mempunyai koherensi intrinsik.
24
Pembelajaran sastra adalah pembelajaran yang mencoba untuk mengembangkan kompetensi apresiasi sastra, kritik sastra, dan proses kreatif sastra.
Kompetensi apresiasi sastra yang diasah dalam pendidikan ini adalah kemampuan menikmati dan menghargai karya sastra. Melalui pendidikan seperti ini, peserta didik diajak untuk langsung membaca, memahami, dan menganalisis karya sastra secara langsung. Mereka diajak berkenalan dengan sastra, tidak melalui hapalan nama-nama judul karya sastra atau sinopsisnya saja, tetapi langsung berhadapan dengan karya sastranya. Menurut M. Atar Semi pelajaran sastra di sekolah bertujuan agar siswa memiliki kepekaan terhadap karya sastra sehingga merasa termotivasi dan tertarik untuk membacanya.
Dengan membaca karya sastra diharapkan peserta didik memperoleh pengertian yang baik tentang manusia dan kemanusiaan, mengenal nilai-nilai dan mendapatkan ide-ide baru sebagai salah satu bentuk karya sastra, drama merupakan bagian dari bahan ajar dalam pelajaran Bahasa dan sastra Indonesia di Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Keberadaan naskah drama Roh karya Wisran Hadi sebagai bacaan fiksi menjadi salah satu bacaan yang memberikan peserta didik pemahaman dan pengenalan terhadap nilai-nilai sosial yang terkandung dalam sastra sesuai dengan KD 5.1 Menganlisis pementasan naskah drama kelas VIII, mata pelajaran Bahasa Indonesia semester genap.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
25
1. Bagaimanakah struktur dalam naskah drama “Roh” karya Wisran Hadi ? 2. Bagaimana hubungan antar unsur dalam naskah drama “Roh” karya Wisran
Hadi?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini ialah untuk mendeskripsikan unsur-unsur struktur dan mendeskripsikan hubungan antar unsur apa saja yang ada dalam naskah drama
“Roh” karya Wisran Hadi.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoretis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi konkret demi bertambahnya sumber informasi dan sebagai referensi keilmuan di bidang sastra terutama drama pada pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP.
1.4.2 Manfaat Praktis.
a) Menambah wawasan lebih luas mengenai karya sastra, sehingga bisa menjadi salah satu rujukan dalam bidang pendidikan sesuai KD 5.1 menganalisis pementasan drama untuk SMP kelas VIII mata pelajaran Bahasa Indonesia.
26
b) Pemahaman yang mendalam dan tepat terhadap naskah drama Roh karya Wisran Hadi, sehingga bisa membantu para pembaca terutama peserta didik pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, agar tidak salah mengartikan tanda yang terdapat di dalam naskah Drama, sehingga mempermudah pemahaman terhadap naskah ini.
27 BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Pengertian Naskah Drama
Naskah adalah teks tertulis, sedangkan drama adalah cerita yang dilukiskan dalam gerak yang berisi dialog-dialog antar tokoh. Suryaman (Kartika, 2012:17) menyatakan drama adalah karya sastra yang berupa dialog-dialog dan memungkinkan untuk dipertunjukan sebagai tontonan. Naskah drama atau teks-teks drama ialah semua teks yang bersifat dialog dan isinya membentangkan sebuah alur, Luxemburg (Kartika, 2012:17).
Sedangkan menurut Wiyanto (Kartika, 2012:17), naskah drama adalah karangan yang berisi cerita atau lakon. Bentuk naskah drama dan susunannya berbeda dengan naskah cerita pendek atau novel. Naskah drama tidak mengisahkan cerita secara langsung. Penuturan ceritanya diganti dengan dialog para tokoh. Jadi, naskah drama itu mengutamakan ucapan-ucapan atau pembicaraan para tokoh. Dari pembicaraan para tokoh itu penonton dapat menangkap dan mengerti seluruh ceritanya.
Sumber penulisan naskah drama bisa berasal dari ide atau imajinasi penulis, dari karya lain seperti, legenda, cerpen, novel dan sebagainya, atau dari kejadian-kejadian sosial masyarakat. Waluyo (Kartika, 2012:18) menyatakan dasar teks drama adalah konflik manusia yang digali dari kehidupan. Naskah drama juga dapat disebut sebagai bahan dasar dari sebuah cerita. Baik cerita yang akan ditampilkan di dalam film, maupun cerita yang akan ditampilkan dalam sebuah pementasan drama atau teater. Umumnya, naskah drama akan dibuat sangat dramatis, di dalamnya akan ditampilkan beberapa hal. Seperti tempat, setting, kondisi atau keadaan, dialog para tokoh dan lain sebagainya. Hal-hal seperti itu tentu harus ada di dalam
28
sebuah naskah drama, supaya menjadi naskah yang utuh. Sebuah naskah drama dapat dikatakan sebagai naskah drama apabila memiliki beberapa unsur. Unsur-unsur naskah drama di antaranya adalah sebagai berikut: (1) memiliki tema khusus, (2) memiliki latar. Seperti latar waktu, latar tempat dan latar suasana, (3) terdapat tokoh dan penokohannya, (4) memiliki alur cerita di dalamnya, (5) memiliki pesan dan kesan yang akan disampaikan kepada pembacanya. Ada beberapa ciri-ciri naskah drama yang harus dipenuhi. Adapun ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
berbentuk dialog, semua dialog tidak menggunakan tanda petik, memiliki petunjuk aksi di dalam naskah drama yang ditulis di dalam tanda kurung.
Penulisan naskah drama bisa berasal dari ide atau imajinasi penulis, dari karya lain seperti, legenda, cerpen, novel, atau sebagainya, atau dari kejadian-kejadian/keadaan sosial masyarakat. Waluyo ( Kartika, 2012:18), menyatakan dasar teks naskah drama adalah konflik manusia yang digali dari kehidupan. Dalam menulis naskah drama diperlukan pengetahuan yang luas tentang berbagai tema yang terjadi.
Penulisan naskah drama bisa atas dasar pengalaman pribadi atau peristiwa yang terjadi di lingkungannya. Menulis naskah drama, perlu memperhatikan hal-hal yang menjadi karakterisrik drama. Pengungkapan tokoh, penyampaian gagasan dengan alur yang logis, dan penggambaran setting yang jelas akan menciptakan naskah benar-benar hidup. Penulis harus bisa mengolah suatu konflik menjadi permainan yang menarik, dengan mengekspresikannya melalui jalinan peristiwa dan susunan kata yang mewakili gerak.
Naskah Drama memiliki unsur pembangun yakni unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik.
Unsur intrinsik merupakan unsur pembangun karya sastra yang berasal dari dalam karya itu
29
sendiri. Komponen yang termasuk sebagai unsur intrinsik antara lain ialah, tema, latar/setting, alur, tokoh dan penokohan, dialog, bahasa, konflik dan amanat. Unsur ekstinsik adalah unsur- unsur pembentuk drama yang berasal dari luar. Komponen unsur ekstinsik ialah, latar belakang pengarang, nilai agama dan kepercayaan, kondisi politik Negara, psikologis pengarang, dan situasi sosial budaya. Unsur intrinsik dan ekstrinsik tersebut harus kita perhatikan, pahami, dan hubungkan antara unsur satu dengan lainnya, sebab sebuah unsur tidak akan memiliki arti dalam dirinya sendiri dan akan bermakna serta mudah dipahami jika saling berhubungan dan berkaitan.
Oleh sebab itu, dibutuhkan adanya sebuah analisis yang mampu membantu kita untuk mengkaji sebuah naskah drama.
Dalam menulis naskah drama diperlukan pengetahuan yang luas tentang berbagai tema yang terjadi. Penulisan naskah drama bisa atas dasar pengalaman pribadi atau peristiwa yang terjadi dilingkungsnnys. Menulis naskah drama, perlu memperhatikan hal-hal yang menjadi karakteristik drama. Pengungkapan tokoh, penyampaian gagasan dengan alur yang logis, dan penggambaran setting yang jelas akan menciptakan naskah benar-benar hidup. Penulis harus bisa mengolah suatu konflik menjadi permainan yang menarik, dengan mengekpresikannya melalui jalinan peristiwa dan susunan kata yang yang mewakili gerak.
Drama merupakan karya sastra yang memiliki dua dimensi, yakni dimensi sastra dan dimensi seni pertunjukan. Drama merupakan suatu genre sastra yang ditulis dalam bentuk dialog-dialog dengan tujuan untuk dipentaskan sebagai suatu seni pertunjukan, Hasanuddin (Avhisa, 2014:11). Hal ini sependapat dengan Waluyo (Avhisa, 2014:11), yaitu naskah drama dapat diberi batasan sebagai salah satu jenis karya sastra yang ditulis dalam bentuk dialog yang
30
didasarkan pada konflik batin dan mempunyai kemungkinan dipentaskan. Fungsi dialog menurut Hasanuddin (Avhisa, 2014:12) yaitu:
1) Secara universal, dialog sebagai sarana primer di dalam drama berfungsi sebagai wadah bagi pengarang untuk menyampaikan informasi, menjelaskan fakta atau ide- ide utama.
2) Dialog memberikan tuntunan alur sehingga mengetahui apa dan bagaimana peristiwa bergulir.
3) Dialog memberikan kejelasan watak dan perasaan tokoh.
4) Menciptakan serta melukiskan suasana merupakan fungsi dari dialog di dalam drama.
Dialog dalam naskah drama juga memiliki fungsi yang sangat penting menurut Semi ( Prawesti, 2013:8), sebagai berikut :
1) Merupakan wadah penyampaian informasi kepada penonton.
2) Menjelaskan watak dan perasaan pemain.
3) Memberika tuntunan alur kepada penonton
4) Menggambarkan tema dan gagasan pengarang sebab hakikat drama itu sendiri adalah dialog itu sendiri.
5) Mengatur suasana dan tempo permainan
Dialog adalah pergantian percakapan antara dua orang atau lebih, secara singkat untuk mengembangkan alur dan karakter. Dialog dalam suatu drama sangat penting peranannya karena dialog akan membangun karakter para tokohnya. Fungsi dialog juga untuk memunculkan konflik yang membangun keseluruhan isi cerita dalam drama. Dasar dari cerita sebuah drama adalah konflik manusia. Konflik tersebut biasanya lebih bersifat batin daripada fisik.
31
Konflik yang dimunculkan dalam sebuah drama harus mempunyai motif. Konflik dan motif tersebut akan memunculkan kejadian-kejadian yang membangun suatu alur cerita dalam drama. Konflik di dalam drama dapat terjadi dalam tindakan antara manusia, yang di dalamnya terdapat dua keinginan yang saling berlawanan, atau tindakan dalam diri manusia itu sendiri, yang kepribadiannya mengalami keterbelahan dalam sebuah hasrat, (konflik antara kewajiban dan keinginan antara tekad yang bermoral dan naluri alamiah), Krell dan Fiedler (Avhisa, 2014:13).
2.2 Hakikat Naskah Drama Sebagai Karya Sastra
Sebuah pementasan drama tidak akan lepas dari seluk beluk sebuah naskah drama.
Endraswara (2011: 37) mengemukakan bahwa naskah drama adalah kesatuan teks yang membuat kisah. Naskah drama adalah karangan yang berisi cerita atau lakon. Dalam naskah tersebut termuat nama-nama tokoh dalam cerita, dialog yang diucapkan para tokoh, dan keadaan panggung yang diperlukan. Bahkan kadang juga dilengkapi dengan penjelasan tentang tata busana, tata lampu( lighting), dan tata suara.
Kisah kehidupan manusia dalam naskah drama dikembangkan dalam wujud dialog.
Dialog dalam naskah drama menggambarkan nasib, watak, dan konflik antar tokoh. Dialog adakalanya disertai petunjuk lakuan (Kramagung). Kramagung memberi gambaran tingkah laku dan ekspresi khusus yang dilakukan tokoh. Kramagung merupakan ciri khas naskah drama yang tidak ditemukan pada naskah sastra lain (Pratiwi dan Siswiyanti, 2014: 14).
Waluyo (2002:7-8) juga memaparkan bahwa penuangan kehidupan itu digali dan diolah sedemikian rupa oleh penulisnya sehingga mampu menampilkan suatu cerita yang menarik. Sisi dominan dari sebuah lakon ditentukan oleh penulisnya, bergantung bagaimana
32
pengarang memandang kehidupan. Kreativitas seorang pengarang terlihat dari kemahiran pengarang menjalin konflik, menjawab konflik dengan surprise, dan memberikan kebaruan dalam jawaban itu. Keunggulan naskah drama adalah pada konflik yang dibangun. Konflik menentukan penanjakan-penanjakan ke arah klimaks. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa naskah drama merupakan kegiatan mengekspresikan drama secara tertulis. Yang membedakan sastra drama dengan sastra yang lainnya adalah sastra drama ditulis dan dikembangkan dalam dialog. Adapun dialog para tokoh dan petunjuk pementasan drama digunakan sebagai panduan dalam bermain drama atau teater. Kreativitas seorang penulis naskah drama ditentukan oleh keterampilan dalam membangun konflik. Kreativitas tersebut dapat dikembangkan sesuai daya imajinasi masing-masing penulis.
Karya sastra merupakan bentuk fisik dari sastra yang ditulis oleh sastrawan. Ciri khas yang mutlak ada di dalam karya sastra adalah keindahan, keaslian dan nilai artistik dalam isi dan ungkapannya. Suatu karya tidak dapat dikatakan sebagai karya sastra jika salah satu unsur tersebut tidak terpenuhi. Syarat keindahan di dalam sastra yaitu jika ada prinsip keutuhan, keselarasan, keseimbangan dan fokus dalam penulisannya.
Secara umum karya sastra di bagi menjadi tiga genre, yaitu prosa, puisi, dan drama.
Menurut Sudjiman (Prawesti, 2013:8), Drama sebagai karya sastra bertujuan menggambarkan kehidupan dengan mengemukakan tikaian dari emosi lawan lakuan dan dialog dan drama lazimnya dipentaskan. Dengan membaca naskah drama, diharapkan pembaca dapat memperkaya batin dan mendapatkan kesenangan positif untuk menemukan nilai-nilai kehidupan dalam pesan atau makna yang terkandung dalam drama.
Karya sastra merupakan karya yang sebagian besar memiliki sifat imajinatif dan kreatif.
Karya-karya sastra yang masih menggunakan fakta dalam penceritaan ditemukan pada sastra
33
Inggris dan sastra Prancis. Karya sastra yang memiliki pengetahuan tentang sesuatu yang hanya imajinasi dianggap lebih bernilai dibanding dengan karya sastra yang memberitahukan tentang kenyataan-kenyataan yang sungguh terjadi di dalam kehidupan.
2.3 Kajian Struktural Naskah Drama
Strukturalisme dipandang sebagai salah satu penelitian kesastraan yang menekankan pada kajian hubungan antar unsur pembangun karya sastra yang bersangkutan. Strukturalisme Levi Strauss secara implisit menganggap teks naratif, seperti mitos, sejajar atau mirip dengan kalimat berdasarkan dua hal. Pertama, teks merupakan kesatuan yang bermakna (meaningful Whole), yang dapat dianggap mewujudkan atau mengekspresikan, pemikiran pengarang, seperti kalimat yang mengejawantahkan pemikiran seseorang pembicara.
Apa yang diekspresikan atau ditampilkan oleh sebuah teks adalah lebih dari yang diekspresikan oleh kalimat-kalimat yang membentuk teks tersebut, seperti halnya makna sebuah kalimat adalah lebih dari sekedar makna diekspresikan kata-kata membentuk kalimat tersebut.
Kedua, sebuah teks adalah kumpulan peristiwa-peristiwa atau bagian-bagian yang bersama-sama membentuk sebuah cerita serta menampilkan berbagai tokoh dalam gerak.
Strukturalisme Levi Strauss sangat berkaitan erat dengan masalah antropologi budaya yang digunakan untuk memahami dan menjelaskan fenomena-fenomena dalam kebudayaan.
Pada analisis structural, struktur dibedakan menjadi dua macam yaitu struktur lahir atau struktur luar (surface structure) dan struktur batin atau struktur dalam (deep structure). Struktur luar adalah relasi-relasi antar unsur yang dapat dibuat atau bangun berdasarkan ciri empiris dari relasi-relasi tersebut, sedang struktur dalam adalah susunan tertentu yang dibangun berdasarkan atas struktur luar yang telah berhasil dibuat serta dipelajari.
34
Struktur dalam ini dapat disusun dengan menganalisis dan membandingkan berbagai struktur luar yang berhasil diketemukan atau dibangun. Struktur dalam inilah yang digunakan sebagai model untuk memahami fenomena yang diteliti karena melalui struktur inilah peneliti kemudian dapat memahami fenomena kebudayaan yang dipelajari. Struktur luar misalnya saja mitos, sistem kekerabatan, kostum, tata cara memasak dan sebagainya. Berbeda dengan struktur dalam yang merupakan struktur dari struktur permukaan. Struktur permukaan mungkin dapat disadari, tetapi struktur dalam berada dalam tataran tidak disadari.
Secara defenitif strukturalisme berarti paham mengenai unsur-unsur, yaitu struktur itu sendiri, dengan mekanisme antar hubungannya. Disatu pihak antar hubungan unsur yang satu dengan unsur lainnya, dipihak yang lain hubungan antara unsur dengan totalitasnya. Hubungan tersebut tidak semata-mata bersifat positif, seperti keselarasn, kesesuaian dan kesepahaman, tetapi juga negatif, sepertikonflik dan pertentangan. Penelitian sastra terhadap naskah drama
“Roh” ini juga menggunakan strukturalisme menurut Levi Strauss.
Menurutnya defenisi dan ciri-ciri struktur sering dinamakan dengan defenisi dan cir- ciri sistem. Secara etimologis struktur berasal dari kata structura (latin), berarti bentuk, bangunan sedangkan sistem berasal dari kata systema (latin) berarti cara. Pengertian-pengertian struktur yang telah digunakan untuk menunjuk unsur-unsur yang membentuk totalitas, pada dasarnya telah mengimplisitkan keterlibatan sistem, artinya cara kerja sebagaimana ditunjukkan oleh mekanisme antarhubungan sehingga terbentuk totalitas adalah sistem. Dengan kalimat lain, tanpa keterlibatan sistem maka unsur-unsur hanyalah agregasi.
Analisis struktural bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat, teliti, semenditel dan sedalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua unsur dan aspek karya
35
sastra yang bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh, (Teeuw, 1985:135). Kajian struktural dipandang lebih objektif karena hanya memandang karya sastra itu sendiri. Penelitian penelitian ini berpusat pada teks sastra itu sendiri, (Endaswara, 2001:51). Dari beberapa pendapat secara umum menyatakan bahwa struktural adalah kajian struktur otonom karya sastra.
Struktur otonom karya sastra merupakan unsur pembangun karya sastra yaitu unsur-unsur instrinsik.
Kajian struktural mengkaji hubungan antar unsur instrinsik karya sastra dalam membentuk sebuah totalitas yang padu. Struktural memiliki tiga sifat yaitu total, transformasi, dan pengaturan diri. Total yang dimaksud adalah struktur terbentuk secara menyeluruh (totalitas) dengan rangkaian unsur yang tetap memiliki kaidah. Demikian daripada itu, susunan rangkaian tersebut menjadikan satu kesatuan yang akan menjadi konsep sempurna. Selanjutnya transformasi, pada dasarnya, transformasi dimaksudkan bahwa adanya perubahan yang terjadi pada sebuah unsur struktur yang akan merubah atau menjadikan perbedaan antar unsur lainnya.
Pengaturan diri dimaksudkan adalah struktur tersebut dibentuk oleh adanya kaidah intrinsik dari hubungan antarstruktur yang dapat mengatur dirinya sendiri kalau ada satu unsur hilang (Piaget dalam Sangidu, 2004: 16).
Adapun langkah-langkah analisis struktural adalah sebagai berikut: a. dapat mengidentifikasikan unsur-unsur intrinsik dengan membangun suatu karya sastra secara lengkap dan jelas, dapat membedakan antara tema dan tokoh b. dapat mengkaji sebuah unsur yang telah diindentifikasikan sehingga dapat dideskripsikan perbedaan tema, alur, penokohan, dan latar dalam sebuah karya sastra, dan c. dapat menghubungkan unsur masing-masing sehingga mendapatkan kepaduan makna secara totalitas dari suatu karya sastra (Nurgiyantoro, 20013: 36).
Di samping itu, Stanton (dalam Jabrohim, 1965: 12), menyatakan bahwa dapat mendiskripsikan
36
suatu unsur pembangun struktur yang terdiri atas tema, fakta cerita dan karya sastra. Dalam hal ini, Tema adalah dasar cerita, sebuah gagasan atau ide pokok yang mendasari kayra sastra. Fakta cerita terdiri dari cerita, alur, dan latar.
Selain itu, unsur intrinsik akan menjadi sarana analisis karya sastra terdiri dari simbol-simbol, sudut pandang, gaya bahasa, imajinasi selain itu juga mengetahui cara memilih judul dalam suatu karya sastra. Menurut Riswandi dan Titin Kusmini (2018: 84) yang dimaksud dengan pendekatan dapat diartikan sebagai asumsi-asumsi dasar yang dijadikan pegangan dalam memandang suatu objek, apabila kajian suatu karya sastra menggunakan struktural berarti ia menyelidiki makna karya sastra dengan mempelajari unsur-unsur strukturnya dan hhubungannya satu sama lain, kemudian setelah makna dipahami, dapat dibuat berbagai interpretasi.
Kajian struktural di dalam penelitian sastra merupakan suatu cara pendekatan yang menekankan pada suatu pandangan bahwa karya sastra itu merupakan sesuatu yang mandiri yang terlepas dari unsur-unsur lain. Kelebihan Pendekatan Struktural antara lain ialah,(1) memberikan peluang untuk melakukan telaah sastra lebih rinci dan dalam. (2) mencoba melihat sastra sebagai sebuah karya sastra dengan hanya mempersoalkan apa yang ada di dalam dirinya, (3) analisis yang objektif dan analitik banyak memberi umpan balik kepada penulis, dan mendorong penulis untuk berhati-hati dan teliti dalam menulis.Semi (Abidin, 2003: 27) mengemukakan beberapa langkah kerja yang harus dilalui ketika peneliti menggunakan pendekatan struktural, yaitu sebagai berikut: (1)Peneliti harus betul-betul menguasai konsep-konsep dasar mengenai semua unsur (unsur instrinsik) yang membangun struktur karya sastra, (2)Pembicaraan tentang tema harus didahulukan, sebab tema merupakan komponen pusat yang mengikat komponen lainnya, (3) Penggalian tema harus selalu dikaitkan dengan dasar pemikiran atau falsafah yang terkandung di dalam karya sastra tersebut, (4) Setelah menganalisis tema, peneliti menganalisis
37
alur, (5) Peneliti harus memerhatikan konflik yang terjadi dalam sebuah karya, (6) Selanjutnya analisis mengenai perwatakan atau penokohan dimulai dengan memperkenalkan perwatakan hingga kepada kedudukan dan fungsi perwatakan tersebut dalam karya sastra, (7) Kajian gaya penulisan (stilistika) dilakukan dengan maksud untuk melihat peranannya dalam membangun estetika, (8) Analisis selanjutnya mengenai sudut pandang yang merupakan analisis terhadap penempatan penulis dalam cerita, (9) Analisis terhadap latar juga harus mendapat perhatian, (10) Penafsiran terhadap komponen pembangun karya sastra akan mendapat makna bila komponen berada dalam satu kesatuan yang utuh, sebaliknya makna keseluruhan akan didapat atas dasar makna komponennya, (11) Kegiatan penafsiran dilakukan dengan sadar bahwa teks yang dihadapi mempunyai kesatuan, keseluruhan, dan kebulatan makna serta mempunyai koherensi intrinsik.
Unsur intrinsik merupakan unsur yang membangun karya sastra itu sendiri dari dalam, unsur yang secara faktual akan dijumpai jika seseorang membaca karya sastra, Sayuti (Avhisa, 2014:24). Unsur-unsur tersebut ialah sebagai berikut :
1. Alur/ plot
Alur adalah rangkaian peristiwa atau sekelompok peristiwa yang saling berhubungan secara kuasalitas menunjunkkan keterkaitan antara sebab dan akibat, Hasanuddin (Prawesti, 2013: 20). Pendapat ini sejalan dengan pendapat Suhariyanto (Ahvisa, 2014:28), alur merupakan rangkaian peristiwa pada suatu cerita yang terjalin secara beruntun dengan memperhatikan hubungan sebab akibat sehingga merupakan satu kesatuan yang padu, bulat, dan utuh.ama dalam menelaah alur, akan dipilah-pilah berdasarkan urutan isi cerita, untuk mempermudah pembacaan.
38
Dengan menelaah unsur alur akan dapat ditemukan tiga hal : (1) bagaimana peristiwa dalam cerita, (2) bagaimana hubungan antar peristiwa dari segi kronologisnya, (3) dan bagaimana hubungan logis antar peristiwa cerita. Dengan menelaah alur ini, perlu dikemukakan dahulu satuan-satuan isi cerita secara berurutan. Informasi yang sama akan berubah artinya apabila urutannya dalam ujaran diubah. Oleh karena itu, langkah pertMenurut Wiyanto (Kartika, 2012:19), secara rinci, perkembangan plot drama ada enam tahap, yaitu eksposisi, konflik, konflik, komplikasi, krisis, resolusi, dan keputusan.
1) Eksposisi
Tahap ini disebut pula tahap perkenalan, karena penonton mulai diperkenalkan dengan lakon drama yang akan ditontonnya meskipun hanya dengan gambaran selintas. Wujud perkenalan ini berupa penjelasan untuk mengantarkan penonton pada situasi awal lakon drama. Wiyanto (Kartika, 2012: 19).
2) Konflik
Pemain drama sudah terlibat dalam persoalan pokok. Dalam tahap ini mulai ada insiden (kejadian). Insiden pertama inilah yang memulai plot sebenarnya, karena insiden merupakan konflik yang menjadi dasar sebuah drama, Wiyanto (Kartika, 2012: 19).
3) Komplikasi
Insiden kemudian berkembang dan menimbulkan konflik-konflik yang semakin banyak dan ruwet. Banyak persoalan yang kait-mengait, tetapi semuanya masih menimbulkan tanda Tanya, Wiyanto (Kartika,2012: 20).
4) Krisis
Dalam tahap ini berbagai konflik sampai pada puncaknya (klimaks). Bila dilihat dari sudut penonton, bagian ini merupakan puncak ketegangan. Namun, bila dilihat dari sudut
39
konflik, klimaks berarti titik pertikaian paling ujung yang dicapai pemain protagonis (pemeran kebaikan) dan pemain antagonis (pemeran kejahatan). Wiyanto (kartika, 2012:
20).
5) Resolusi
Dalam tahap ini dilakukan tahap penyelesaian konflik. Jalan keluar penyelesaian konflik- konflik yang terjadi sudah mulai tampak jelas, Wiyanto (Kartika, 2012: 20).
6) Keputusan
Dalam tahap terakhir ini semua konflik berakhir dan sebentar lagi cerita selesai. Dengan selesainya cerita, maka tontonan drama sudah usai (bubar) Wiyanto (Kartika, 2012: 20).
Plot dalam drama berfungsi (1) untuk mengungkapkan buah pikiran penulis teks, (2) menangkap, membimbing dan mengarahkan perhatian pembaca atau penonton, (3) mengungkapkan dan mengembangkan watak tokoh-tokoh cerita. Untuk menyusun gambaran peristiwa tersebut sehingga membentuk sebuah plot, pembaca mungkin akan menggarapnya berdasarkan urutan waktu maupun urutan sebab akibat.
Plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain (Stanton “dalam Nurgiyantoro”). Menurut William Arrowsmith (Prawesti, 2013:21), struktur plot memiliki tiga bagian, yaitu : exposition, conflict, dan denoement (resolution). Jadi, menurut pendapat diatas, elemen plot didasarkan pada paparan mulainya peristiwa, berkembangnya peristiwa yang mengarah pada konflik yang memuncak, dan sampai pada penyelesaian konflik.
Menurut Crane (Prawesti, 2013:21), berdasarkan fungsi plot untuk membangun isi cerita, dibagi kedalam tiga prinsip utama analisis plot, yaitu :
40
1) Plots of action, yaitu analisis proses perubahan peristiwa secara lengkap, baik yang muncul secara bertahap maupun tiba-tiba pada situasi yang dihadapi tokoh utama, dan sejauh mana urutan peristiwa yang dianggap sudah tertulis (determinisme) itu, berpengaruh terhadap perilaku dan pemikiran tokoh bersangkutan dalam menghadapi situasi tersebut.
2) Plots of character, yaitu proses perubahan perilaku atau moralitas secara lengkap dari tokoh utama kaitannya dengan tindakan emosi dan perasaan.
3) Plots og thought, yaitu proses perubahan secara lengkap kaitannya dengan perubahan pemikiran tokoh utama dengan segala konsekuensinya berdasarkan kondisi yang secara langsung dihadapi.
Unsur-unsur plot yang terdapat dalam drama klasik dibagi menjadi lima menurut Gustaf Freytag (Avhisa, 2014:8), yaitu :
1) Babak pertama, penonton mendapatkan latar belakang informasi yang dibutuhkan(eksposisi).
2) Babak kedua, alur dibawa berjalan ke arah konflik dan peristiwa berkembang ke arah yang jelas.
3) Babak ketiga, konflik mencapai puncaknya dan tiba dalam sebuah titik balik dramatik yang bisa berakhir baik atau buruk.
4) Babak keempat, alur berjalan menuju akhir dengan ketegangan.
5) Babak kelima, konflik berakhir dengan kesedihan (tragedi) atau kebahagiaan (komedi).
Alur terbagi menjadi dua jenis menurut Marqua (Avhisa, 2014:27), yaitu :
41 1. Alur Dinamis.
Situasi berubah dengan cepat. Banyak detail alur yang mengantar hasil yang mengakibatkan tahapan alur berikutnya. Pemberitahuan hasil terjadi dengan sangat cepat.
Tokoh-tokoh dibawah tekanan waktu dan keputusan. Alur ini adalah yang biasa digunakan pada drama abad ke-18 dan 19.
2. Alur Statis.
Situasi berubah dengan lambat atau tidak sama sekali. Di antara pemberitahuan sebuah peristiwa dan realisasinya membutuhkan banyak waktu. Tokoh-tokohnya mempunyai waktu, tindakan mereka seringkali tidak bermakna dan pada akhirnya para tokoh itu berada dalam situasi problematik seperti pada bagian awal. Cara seperti ini terdapat pada drama abad ke-20 (terutama pada teater absurd).
Mengamati sebuah drama, kita harus mampu membedakan antara perististiwa luar dan peristiwa dalam para tokoh, oleh karena itu, Marqua membedakan peristiwa menjadi dua :
1) Alur Dalam, ialah perkembangan jiwa, mental, dan moral para tokoh.
2) Alur Luar, ialah urutan jalannya kejadian yang langsung jelas terlihat.
Kedua alur ini, dapat dilihat dari dialog yang dilakukan oleh para tokoh, sedangkan aksi dan reaksi akan memunculkan adanya hasil atau akibat yang akan memunculkan situasi baru. Hal ini lah yang akan menyebabkan menjadi tolak ukur untuk alur selan jutnya. Dari uraian tersebut, dapat kita simpulkan bahwa alur ialah rangkaian peristiwa yang terjadi di dalam suatu cerita.
Pada drama klasik terdapat 5 tahapan alur yang mencakup peristiwa dari awal sampai akhir, kemudian alur tersebut dapat diklasifikasikan menjadi alur dinamis dan alur statis, kemudian dapat diklasifikasikan lagi kedalam alur luar dan alur dalam.
42 2. Latar/ setting
Latar/setting dalam karya sastra merupakan satu elemen pembentuk cerita yang sangat penting, karena elemen tersebut dapat menentukan situasi umum sebuah karya (Abram, 1981:201). Dalam pentas drama, latar tersebut akan divisualisasikan di atas pentas dengan tampilan dan dekorasi yang menunjukkan situasi tertentu.
Memahami latar/setting pada naskah drama, maka seorang pembaca naskah drama, juga para aktor dan pekerja teater yang akan mementaskannya harus memperhatikan keterangan tempat, waktu, dan suasana yang terdapat pada teks samping samping atau teks nondialog menurut Wiyatmi (Kartika, 2012:25).
Menurut Marqua (Avhisa, 2014:28), membedakan unsur latar dan menjadi dua unsur, yaitu :
1. Latar Tempat
Latar tempat merujuk pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya sastra, latar tempat menunjukkan lokasi terjadinya suatu peristiwa. Sama halnya seperti latar waktu, latar tempat juga dibagi atau bisa dijelaskan di dalam sebuah cerita dengan dua cara, yakni latar tempat eksplisit dan latar tempat implisit : (1) Latar Eksplis di dalam latar tempat biasanya dijelaskan secara detail dan jelas. Misalnya: Ayah sudah sampai di Bandara Adi Sucipto. (2) Latar Implisit, Sementara itu, latar implisit di dalam latar tempat tidak dijelaskan dan tidak dituliskan dengan jelas, melainkan hanya menuliskan gambaran tempat saja.
Misalnya: Orang itu tinggal di sebuah gubuk tak berjendela. Ada dua jenis latar tempat yang terdapat dalam sebuah naskah drama, yaitu :
43 a. Konsep latar visual
Gambaran punggung harus tampak asli dan detail, gambaran tempat pertunjukan yang asli semakin terlihat jelas.
b. Konsep latar verbal
Ide tempat pementasan yang konkret terbentuk dari fantasi penonton dan diperoleh melalui penampilan luar tokoh-tokohnya.
Hal-hal yang perlu diperhatikan saat menganalisis latar naskah drama menurut Marqua (Avhisa, 2014:29), yaitu :
a) Penataan tempat pertunjukan ditetapkan dalam teks samping (petunjuk pementasan).
b) Latar digambarkan melalui dialog dan monolog.
Latar/setting dalam drama memiliki empat fungsi menurut Marqua (Prawesti, 2013:26), yaitu :
a) Sebagai tempat beraksinya para tokoh, latar juga memungkinkan suatu kejadian.
b) Menggambarkan watak tokoh secara tidak langsung.
c) Menggambarkan cerminan suasana hati atau perasaan tokoh.
d) Dapat memperjelas makna atau pernyataan.
2. Latar Waktu
Latar waktu merupakan titik waktu terjadinya peristiwa-peristiwa di dalam sebuah karya sastra. Sesuai dengan namanya yakni latar waktu, maka di latar ini menggambarkan waktu di mana peristiwa di dalam cerita tersebut berlangsung. Latar waktu juga kembali dibagi menjadi dua jenis yakni latar eksplisit dan latar implisit, (1) Latar Eksplisit di dalam jenis pengertian latar cerita adalah latar waktu yang dijabarkan secara jelas di dalam sebuah cerita pada karya sastra.
44
Biasanya, latar waktu eksplisit dituliskan dengan menyebutkan tanggal dan jam terjadinya peristiwa tersebut. Misalnya: Lina sudah berusaha menghubungi Dinda pada 7 Oktober 2020 pada pukul 18.00 WIB. (2) Latar Implisit Sementara itu, latar implisit merupakan latar waktu yang tidak disebutkan secara langsung dan terperinci di dalam cerita tersebut dan juga tidak dituliskan kapan kejadian tepatnya. Biasanya, latar waktu implisit ini ditulis dengan kalimat: pada suatu hari, ketika itu, saat matahari terbit, saat matahari terbenam, dan lain sebagainya.Marqua (Prawesti, 2013:27), berpendapat ada dua hal yang harus diperhatikan dalam menganalisis latar waktu suatu naskah drama, yaitu :
1) Kejadian dan peristiwa bersejarah yang dialami oleh tokoh dan alur.
2) Makna apa yang terkandung dalam sebuah peristiwa yang terjadi pada waktu tertentu untuk tokoh tertentu.
Latar waktu harus dipandang dari beberapa aspek menurut Marqua ( Prawesti, 2013:27), ialah sebagai berikut :
1) Pada masa apa peristiwa itu terjadi?. Apa latar belakang politik, sosial, dan ideologinya ? 2) Dalam hubungan apa waktu tersebut dengan penonton kontemporer dan penonton
modern.
3) Pada bagian hidup yang mana tokoh tersebut berada?
4) Apakah musim – atau lebih tepat dikatakan waktu keseharian itu memiliki sebuah makna?
5) Apakah tokoh-tokoh tersebut terdesak oleh waktu atau mereka mempunyai banyak waktu?