BAB III METODE PENELITIAN
4.2 Struktur Naskah Drama Roh Karya Wisran Hadi
4.2.5 Tema
4.2.5.2 Tema Minor
78
salam lam malekum salam. malekum salam. bangunlah dari kubur, heir oh sekalian roh, hei arwah sekalian arwah. bangunlah, kini kubangunkan semua kalia kuundang, semua harus datang memberikan partisipasi! nmenunggu beberapa saat, tapi tidak terjadi apa-apa. (hlm 27)
79
malam ini ibu suri duduk bersimpuh menghadap kuburan. ditaburkannya kembang dan dia pun meratapi suri” (hlm 24)
“Ibu suri : melepaskan segala kesedihannya dengan dendang lagu tradisinya: simantuang di parik putuih, jarajak di tanah taban, ka mano punai ka inggok lai, tampek bagantuang nan lah putuih,tampek bapijak nan lah taban, ka mano denai manggapai lai
tapi sementara ibu suri berdendang sedih, manda beserta pemain yang menutup diri mereka dengan kain hitam masuk mengelilingi ‘pekuburan’ itu dengan membawa sesajian. mereka duduk menghadap kuburan itu, besebrangan dengan tempat ibu suri meratap. ibu suri tidak sempat memerhatikan kedatangan mereka karena asyik dengan kesedihannya. dan, manda beserta pemain melakukan ‘sembahan’ kubur dengan mengucapkan” (hlm 25)
4.2.4 Amanat
Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada penonton.
Amanat drama atau pesan disampaikan melalui peran para tokoh dalam cerita drama. Amanat adalah pesan yang disampaikan pengarang kepada penonton. Amanat dapat terlihat secara eksplisit maupun implisit dalam pementasan. Amanat juga berkaitan dengan penafsiran para penonton terhadap pementasan drama tersebut. Karena, amanat dan tema selalu saling berkaitan dalam drama. Amanat juga merupakan pesan moral atau nasihat yang disampaikan oleh seseorang kepada orang lain, baik secara langsung maupun melalui suatu karya. Secara umum, pengertian amanat adalah sebuah kata yang memiliki arti pesan, nasihat atau keterangan.
(Waluyo, 2002:25).
Amanat yang diangkat dalam naskah drama “Roh” karya Wisran Hadi adalah Hanya kepada Tuhanlah kita meminta pertolongan. Menyembah selain Tuhan, merupakan kegiatan yang syirik dan tercela, dengan perbuatan yang dilakukan menduakan Tuhan, mempercayai selain Tuhan, meminta pertolongan selain Tuhan, mempercayai perantara, roh maupun arwah,
80
merupakan perbuatan tercela dan tidak terpuji yang akan mengakibatkan syirik dan masuk neraka karena perbuatan yang telah dilakukan.
1. Hanya kepada Tuhanlah kita meminta pertolongan, menyembah selain Tuhan dan mempercayai medium (dukun) merupakan perbuatan tercela dan syirik.
“Manda: ibu suri termasuk orang beriman, jangan berteman dengan setan. syirik hukumnya., syirik” (hlm 15)
“ibu suri; syirik atau syarak. dosa atau dasi, desa atau dasa, manda peduli apa!? suri pasti ada. suri tidak boleh disangsikan! ayo manda, pergi! aku akan meletakkan sesajian. bagi roh dan arwah yang akan diundang”.(hlm 16)
“manda : berkali-kali kukatakan. bila kau berteman dengan setan, neraka jahanam ancamannya. hentikanlah. biarkan aku sendiri saja yang terlanjur.
karena tidak mampu menolak tradisi”. (17)
“ibu suri : selamat datang para roh dan arwah-arwah nenek moyang. suri ku kini sedang terancam. suri ada, dikatakan tidak ada. suri hidup, dikatakan telah mati. suri bergerak dikatakan diam, bicaralah para undangan malam ini malam kebebasan bagi roh dan arwah nenek moyang untuk bicara langsung dan blak-blakan! namun begitu, bicaralah sebatas suri. soal suri itu apa, suri itu siapa, tak perlu lagi diperdebatkan! yang penting adalah suri. dimana suri kini.
jika merantau, bagaimana suri di rantau”. (hlm 18)
“manda :ibu suri. kau sudah gila. bagaimana mugkin roh-roh itu bekerja.
mereka roh, bukan buruh. mereka angina, ibu suri. menggali sebuah kuburan berat hukumannya bagi yang beriman. aku sudah banyak berdosa dan takkan menambahkannya lagi.”
“ibu suri: pergilah manda. sebentar lagi akan terbukti. tempat ini bukan kubur keramat, tapi pasti kuburan suri.”
“manda: memang sulit mencegah perempuan yang tergila-gila dengan impiannya (keluar)”
“ibu suri: soalnya, kau ragu pada keyakinanmu. kau hanya mampu menjadi perantara. bukan jadi pemain utama!”
“manda: (datang lagi dan bergabung dengan para roh),kau akan kukutuki, kau akan menyesal. aku tidak akan bekerjasama dengan orang gila! ibu suri peduli apa! hei roh! gali kubur ini, gali. para roh apa yang harus kami gali?”
81
“ibu suri: menggali keyakinan! ayo kerjakan! penggalian mulai dilakukan. para pemain mengelilingi kuburan. kembang berhamburan ke mana-mana. sementara panggalian berlangsung, ibu suri memandang jauh, meratapi kehilangan suri”.(hlm 31)
“proses penyusupan roh ke dalam tubuh manda mulai berlangsung, manda menggigil, kain hitam yang menyelimutinya bergoyang-goyang. kemudian, manda berdiri dan berputar-putar seperti gasing. makin lama makin cepat. kain hitamnya mengembang di udara, para pemain yang tadi duduk pada maing-masing sajiannya berdiri dan ikut berputar-putar pla. kain-ian hitam lebar yang memenuhi pentas, mengembang dan kemudian bergabung dengan manda. manda seakan hilang dalam putaran. tempatnya digantikan oleh seorang pemain, roh yang dipanggil. selama putaran berlangsung, mereka bersuara seperti suara telapak kuda yang berlari dari jauh dan semakin lama samkin dekat. pemain yang menggantikan manda tadi berputar-putar mengelilingi ibu suri. sedangkan yang lain perlahan kembali kepada sesajian.” (hlm 03)
4.2.7 Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah teknik pengolahan bahasa oleh pengarang dalam upaya menghasilkan karya sastra yang hidup dan indah. Pengolahan bahasa harus didukung oleh diksi (pemilihan kata) yang tepat. Namun, diksi bukanlah satu-satunya hal yang membentuk gaya bahasa. (Waluyo, 2002:28). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ditemukan gaya bahasa sebagai berikut;
1. Majas Perbandingan yang terdiri dari personifikasi, metafora dan dispersonifikasi
2. Majas Pertentangan yang terdiri dari oksimoron
Fungsi majas atau gaya bahasa dalam naskah drama “Roh” karya Wisran Hadi antara lain; mengkongkretkan, menegaskan, dan mempuitiskan. Makna majas atau gaya bahasa dalam naskah drama ini antara lain; makna leksikal, makna gramatikal, makna referensial, makna non referensial, makna konotatif, makna denotatif, dan makna kias.
82 1. Majas Personifikasi
“Proses penyusupan roh ke dalam tubuh manda mulai berlangsung, manda menggigil, kain hitam yang menyelimutinya bergoyang-goyang. kemudian, manda berdiri dan berputar-putar seperti gasing. makin lama makin cepat. kain hitamnya mengembang di udara”.(hlm 03)
2. Majas Metafora
“lam malekum salam. salam malekum, mendaratlah roh sejagat.
merapatlah arwah nenek moyang yang terkatung di kapal-kapal. bangun.
bangunlah dari kuburmu!bicaralah tanpa perantara, bersuaralah tanpa antara.
kebebasan roh dan arwah diberikan malam ini juga” (hlm 18)
3. Majas Dispersonifikasi
“tokoh I : (menurunkan kain hitam penutup tubuhnya. wajahnya putih sekali dan kaku. ibu suri takut melihatnya, tapi ditahannya ketakutan itu sekuat tenaga)” (hlm 04)
4. Majas Oksimoron
“tokoh vi : aku bukan suri, tapi tahu tentang suri. suri bernasib baik, semua orang mengikutinya, karena dijadikan panutan, setiap saat suri diingat, setiap waktu suri disebut, setiap orang menyembah suri”
“ibu suri :baik. baik. e…. roh wayang. kalau kau tahu suri, kenapa suri tidak pulang?
“tokoh vi: suri tidak akan pulang sebelum ada panggilang (hlm 20)
“tokoh vi: perkawinan bukan untuk pemuas nafsu. karena itu tidak perlu terburu-buru. begitu suri ditulis di buku-buku.”
“ibu suri : jika suri ditulis di buku, kenapa suri tidak berkirim surat padaku?”
“tokoh vi: surat dan buku jauh berbeda. buku meninggalkan pesan. surat pembawa pesan.” (hlm 21)