• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

4.2 Struktur Naskah Drama Roh Karya Wisran Hadi

4.2.5 Tema

4.2.5.1 Tema Mayor

Telaah tema tidak dapat menghindarkan diri dari interpretasi, dapat dikatakan telaah tema adalah ambang dari interpretasi. Tema dalam analisis ini diperoleh dari bacaan yang mendalam dari keseluruhan teks dan berdasarkan motif-motif cerita dan persoalan-persoalan yang menonjol dalam cerita. Tema mayor dalam terminologi sastra adalah tema utama atau sentral yang dibicarakan dalam karya tersebut. Dalam naskah drama “Roh” karya Wisran Hadi tema yang dibicarakan dan menjadi pemacu jalannya cerita dengan menarik ialah persekutun seorang hamba dengan roh-roh yang tak terlihat jelas wujud dan keberadaannya, sehingga menjadikan si

75

tokoh utama yaitu Ibu Suri berada dititik manusia yang menduakan Tuhan dengan mempercayai adanya kekuatan selain Tuhan yang mampu memberikan kehidupan kepada anaknya.

Ibu Suri percaya kepada seorang medium yang beranama Manda untuk melakukan pencarian kepada anaknya yang telah lama hilang, Ibu Suri tak mempercayai kematian dari anaknya Suri karena tak melihat jasad anaknya tersebut, sehingga dengan sengaja dan secara sadar, Ibu Suri meminta bantuan kepada seorang medium atau dukun, untuk memanggil roh-roh yang diduga anaknya Suri, namun kegiatan yang dilakukan oleh ibu Suri dan mediumnya ini adalah sebuah kegiatan Terkutuk dan musyrik menduakan Tuhan, dengan mempercayai adanya pertolongan selain dari Tuhan. Memanggil Roh dengan menggunakan perantara atau medium telah menjadi tradisi yang dipercaya, padahal roh yang datang sebenarnya bukanlah orang yang dicari melainkan hanya mahluk gaib/roh yang menyerupai untuk mengklabui manusia-manusia.

Tema mayor ini dinuktikan dengan beberapa kutipan dialog dalam naskah drama Roh karya Wisran Hadi sebagai berikut :

“Seorang medium bukanlah dukun atau tabib, tetapi perantara. dia dikenal dalam masyarakat tradisi sebagai seorang yang lebih daripada dukun biasa. dia dapat membuat hubungan antara manusia yang masih hidup dengan roh atau arwah (menurut kepercayaan tradisi) dari orang yang telah lama meninggal, konon, roh-roh itu menyusup ke dalam diri si perantara setelah memenuhi segala persayaratan berupa sesajian, kembang dan kemenyan, serta mantra-mantra yang dinyanyikan dengan irama yang spesifik dan magis. setelah roh masuk ke dalam tubuh si perantara, dia tidak lagi sebagai dirinya sendiri sehingga tingkah laku, suara dan irama bicaranya jauh berbeda dengan tingkah lakunya sehari-hari”.(hlm 01)

“Ibu suri terpaksa melakukannya karena secara tradisi dia diyakinkan akan peranan roh-roh atau arwah nenek moyang dalam kehidupan manusia. dia mau mengikuti tradisi itu karena yakin tidak akan dapat menemui suri. oleh karena itu, ibu suri tidak menganggap apa yang dilakukannya sebagai pekerjaan benar atau tidak, logis atau tidak. soalnya, ibu suri terdesak oleh keadaan yang tidak dapat diatasinya sendiri dan mau tidak mau dia harus mengikuti tradisinya, walaupun sudah hidup di zaman modern seperti sekarang ini. berarti, ibu suri tetap punya kecendrungan tradisi walau bertentangan dengan ajaran agama, logika dan perkembangan zaman” (hlm 02)

76

“Manda : Siap melakukan ritual pemanggilan Roh. Pada tampah-tampah besar diletakkan buah semangka sedemikian rupa di antara bunga-bunga dan dedaunan, sepiring bara panas dan sekam pembakar kemenyan, pisau, dua gelas air, lampu minyak tanah yang menyala dan sepiring beras. sesajian ini dibawa oleh para pemain yang menutup diri mereka masing-masing dengan selembar kain hitam yang lebar dan meletakkannya di pinggir dan sudut-sudut pentas.

setelah sesajian diletakkan, mereka duduk dan diam membeku”.(hlm 03)

“Manda: (menutup dirinya kembali dengan kain hitam dan menyanyi sambil membaca mantra seperti semula)

( Mantra pemanggil Roh)

malekum malekum malekum salam.

lam malekum malekum salam malekum salam..

sesaat lagi kupinjamkan jasadku padamu. kepada roh-roh para tokoh tak berbentuk. arwah nenek moyang yang hilang tubuh, aku tak akan jadi aku karena kau wujud dalam aku ku. malekum malekum malekum salam, lam malekum salam.

salam malekum. sesaat lagi aku pinjamkan jasadku. aku penanggung akibat, kau pencari sebab. aku ingin selamat, kau tak usah bertanggung jawab”. (hlm 04)

“Manda : medium yang terkenal itu datang menyandang barang bawaan berupa sebuah tongkat panjang, dan bungkusan kain hitam besar berisi berbagai keperluan pengobatan. setelah barang-barangnya diletakkan, didekatinya ibu suri yang masih tergeletak di lantai. segera diambilnya tujuh helai lidi dan dupa.

dibakarnya kemenyan. dia mengelilingi tubuh ibu suri dan melecut-lecutkan lidi ke tubuh yang tak berdaya itu, sambil mengucapkan kata-kata keramatnya.

malekum malekum malekum salam lam malekum salam, salam malekum salam malekum

manda berhenti berucap dan berkeliling saat ibu suri mulai bergerak, bangkit dengan lemah dan perlahan-lahan berdiri” (hlm 10)

“Manda : tokoh yang akan tampil itu menghilang dalam lingkaran dan digantikan oleh orangan sawah yang lain, lebih lengkap. kepala orang-orang itu dari kelapa bolong, diberi baret dan kacamata hitam. berkaos oblong dengan tulisan di dada. aku cinta suri. dan celana jins dan sepatu karet anak-anak muda. orang-orangan itu digerak-gerakan sebagaimana gerakan tarian, berjingkrak-jingkark dan diiringi pulaoleh nyanyian para pemain dengan irama yang sesuai untuk itu. namun, ucapan mereka tetap saja seperti ucapan membaca mantra. Pemanggil roh yang baru” malekum maleku malekum salam, lam malekum salam. salam malekum (hlm 15)

77

“ibu suri : tidak puas atas keterangan roh dan arwah tentang suri.

apalagi manda sendiri menyangsikan adanya suri. ibu suri harus bertindak dan memastikan suri hingga dapat meyakinkan dirinya. bungkusan-bungkusan barang bawaan manda dirampasnya. manda tidak dapat berbuat apa-apa, selain berusaha membujuk agar barang-barangnya diserahkan. tapi ibu suri tetap pada pendiriannya. dengan penuh keyakinan dan suara lantang, manda disuruhnya pergi”. (hlm 16)

“ibu suri: ternyata roh yang manda undang bukan roh para tokoh atau arwah nenek moyang! tapi roh para bandit dan penipu. suri dikaburkannya, suri disangsikannya. aku harus mertas jalan pintas untuk melakukan terobosan. aku akan bicara langsung tanpa perantara dusta atau medium mesum! pergi kau.

pergi! aku akan memanggil arwah yang jujur dan arwah nenek moyang yang budiman”.(hlm 18)

“manda : berkali-kali kukatakan. bila kau berteman dengan setan, neraka jahanam ancamannya. hentikanlah. biarkan aku sendiri saja yang terlanjur.

karena tidak mampu menolak tradisi.(hlm 19)

“ibu suri :(mangacuhkan manda dan terus menyusun sesaji) manda tidak akan berhasil menakut-nakutiku dengan setan atau saten atau sutan sekalipun!

suri ku tetap ada! merantau pipit atau merantau cina. suri ku adalah suri.

pergilah manda, pergi.(hlm 19)

“manda ; ibu suri, mereka tidak akan datang, percayalah. setiap panggilan punya aturan.(hlm 19)

“ibu suri : semua kuundang dan ahrus datang! aku akan membuat perhitungan! sekarang bukan urusan perantara lagi, bukan urusan medium seperti manda. tapi, urusanku dengan suri ku. pergi kataku! atau, piring-piring ini akan mengusirmu! (hlm 20)

manda (sambil keluar) perempuan ini benar-benar keras kepala.

ibu suri (setelah sesajian selsai disusunnya, dia segera duduk di tengah-tengah. lilin dinyalakan, lalu dia membaca mantra) (hlm19)

“ibu suri: selamat datang para roh dan arwah-arwah nenek moyang. suri ku kini sedang terancam. suri ada, dikatakan tidak ada. suri hidup, dikatakan telah mati. suri bergerak dikatakan diam, bicaralah para undangan malam ini malam kebebasan bagi roh dan arwah nenek moyang untuk bicara langsung dan blak-blakan! namun begitu, bicaralah sebatas suri. soal suri itu apa, suri itu siapa, tak perlu lagi diperdebatkan! yang penting adalah suri. dimana suri kini.

jika merantau, bagaimana suri di rantau.”(hlm 19)

“ ibu suri : (memanggil roh sebagaimana yang pernah dilakukannya ) malekum malekum malekum salam.lam malekum salam. malekum salam, mendaratlah roh-roh sejagat, merapatlah arwah dari kaki langit, yang terkatung-katung di kapal tanpa juru mudi dan juru batu, malekum malekum malekum

78

salam lam malekum salam. malekum salam. bangunlah dari kubur, heir oh sekalian roh, hei arwah sekalian arwah. bangunlah, kini kubangunkan semua kalia kuundang, semua harus datang memberikan partisipasi! nmenunggu beberapa saat, tapi tidak terjadi apa-apa. (hlm 27)

Dokumen terkait