• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CONNECTING, ORGANIZING, REFLECTING, EXTENDING (CORE) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIS DAN SELF-EFFICACY SISWA

S K R I P S I

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Matematika

Oleh : IIS SUGIARTI

G1A.18.0510

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SUBANG 2022

(2)

ii

\

(3)

iii

(4)

iv

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa skripsi ini yang berjudul PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CONNECTING, ORGANIZING, REFLECTING, EXTENDING (CORE) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIS DAN SELF-EFFICACY SISWA ini sepenuhnya karya saya sendiri. Tidak ada bagian di dalamnya yang merupakan plagiat dari karya orang lain dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung resiko/sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau ada klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.

Subang, Juni 2022 Yang membuat pernyataan

IIS SUGIARTI

(5)

v

MOTTO

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,

dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

(AL INSYIROH 6-8)

(6)

vi

PERSEMBAHAN

Alhamdulillahirobbil’alaamiin.

Segala puji bagi Allah SWT, Dzat Yang Maha Sempurna Sholawat serta salam selalu tercurah kepada

Rasullulah Muhammad SAW

Dengan kerendahan hati, rasa syukur, dan hormat, Ku persembahkan karya ini sebagai tanda cinta dan

Sayangku kepada:

Ayahku tercinta (Ade Kurniawan) dan Ibuku tercinta (Siti Jubaedah) Yang telah membesarkan dan mendidikku dengan penuh

Kasih sayang, semangat, do’a, serta pengorbanan untuk Kebahagiaan dan kesuksesan putrimu ini.

Semoga karya ini bisa menjadi salah satu sekian alasan untuk membuat Ayah dan Ibu tersenyum bangga.

Serta seluruh keluarga besar yang terus memberikan Dukungan dan do’anya kepadaku, terimakasih.

Semua sahabat yang begitu tulus menyayangiku saat bahagia maupun sedihku dari kalian aku belajar memahami arti kebersamaan.

Almamater Universitas Subang tercinta

(7)

vii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, penulis memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya penulis bisa menyelesaikan penelitian ini.

Shalawat serta salam semoga tercurah limpah kepada junjungan alam Nabi Muhamad SAW, kepada keluarga, sahabat serta kita selaku umatnya.

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis mengambil judul “Penerapan Model Pembelajaran Connecting, Organizing, Reflecting, Extending (CORE) untuk Meningkatkan Kemampuan Koneksi Matematis dan Self-Efficacy Siswa”.

Penyusunan skripsi ini, diajukan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Subang.

Penulis menyadari akan keterbatasan pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan penulis yang jauh dari sempurna, maka penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan penelitian selanjutnya. Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat menambah pengetahuan bagi kita semua.

Subang, Juni 2022

Penulis

(8)

viii

UCAPAN TERIMAKASIH

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan segala nikmat yang sangat sempurna, nikmat iman, nikmat islam, nikmat kehidupan yang disertai kemajuan ilmu pengetahuan. Sholawat dan salam selalu tercurah limpahkan kepada baginda kita, Nabi Muhammad SAW, sang pembawa risalah dan penyempurna akhlak bagi umat akhir zaman.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini dengan judul

“Penerapan Model Pembelajaran Connecting, Organizing, Reflecting, Extending (CORE) untuk Meningkatkan Kemampuan Koneksi Matematis dan Self-Efficacy Siswatidak sedikit hambatan dan rintangan serta kesulitan yang dihadapi. Namun, berkat bantuan dan motivasi serta bimbingan yang tidak ternilai dari berbagai pihak akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Oleh karena ini, penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada:

1. Ibu Dr. Nita Delima, S.Si., M.Pd., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Subang sekaligus Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan bantuan yang sangat berharga kepada penulis sampai terselesaikannya penyusunan skripsi ini.

2. Ibu Vara Nina Yulian, M.Pd., selaku Dosen wali sekaligus pembimbing II yang senantiasa meluangkan waktunya, memberikan bimbingan, motivasi dan saran dengan penuh kesabaran kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

3. Ibu Yanry Budianingsih, M.Pd., selaku Kaprodi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Subang yang telah memberikan izin penyusunan skripsi dan memberikan pengarahan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

(9)

ix

4. Bapak/Ibu Dosen dan Staf Karyawan FKIP Universitas Subang yang telah membantu kelancaran penulis dalam penyusunan skripsi ini.

5. Bapak Drs. H. Uya Mulyana, M.M.Pd., selaku Kepala SMP Negeri 5 Purwakarta beserta dewan guru dan staf yang telah memberikan izin dan bantuannya ketika penulis mengadakan penelitian.

6. Bapak Anton Effendi S.Pd., selaku Guru Bidang Studi Matematika yang telah memberikan motivasi dan bantuan yang dangat besar kepada penulis.

7. Secara khusus Ayahanda Ade dan Ibunda Siti Jubaedah tercinta, terimakasih yang tak terhingga atas do’a, kasih sayang, motivasi, pengorbanan dan ketulusannya dalam mendampingi penulis. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan ridho-Nya kepada keduanya.

8. Secara khusus teruntuk adikku tersayang Titi Herawati, terimakasih atas segala kasih sayang yang selalu memberikan dukungan dan juga do’a sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

9. Rekan dan sahabat seperjuangan, Prodi Pendidikan Matematika angkatan 2018, terutama teh Nita Natasya, yang selalu menemani dengan do’a, motivasi dan bantuannya untuk penulis.

10. Sahabat tercinta, alumni MAS-Al-Husna Cisalak yang selalu memberikan motivasi dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

11. Kepada Siswa-siswi kelas VIII B dan VIII E SMP Negeri 5 Purwakarta, terimakasih atas bantuannya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini.

(10)

x

12. Serta masih banyak lagi pihak-pihak yang sangat berpengaruh dalam proses penyelesaian skripsi ini, yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.

Penulis pun menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna.

Meskipun demikian, semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi peneliti umumnya kepada pembaca. Semoga semua kebaikan semua pihak yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini mendapat balasan dari Allah SWT. Aamiin Yaa Rabbala’alamiin.

Subang, Juni 2022

Penulis

(11)

xi ABSTRAK

Iis Sugiarti. (2022). Penerapan Model Pembelajaran Connecting, Organizing, Reflecting, Extending (CORE) untuk Meningkatkan Kemampuan Koneksi Matematis Dan Self-Efficacy Siswa.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya kemampuan koneksi matematis dan self-efficacy siswa sekolah menengah pertama. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan koneksi matematis dan self-efficacy siswa masih rendah. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui apakah peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa yang menggunakan model pembelajaran CORE lebih baik daripada siswa yang mengunakan pembelajaran ekpositori. (2) Untuk mengetahui self-efficacy siswa terhadap pembelajaran matematika yang menggunakan model pembelajaran CORE. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi eksperimen. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII di SMP Negeri 5 Purwakarta. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Sampelnya adalah kelas VIII B sebagai kelas eksperimen dengan model pembelajaran CORE dan kelas VIII E sebagai kelas kontrol dengan pembelajaran ekpositori. Instrumen tes terdiri atas tes kemampuan koneksi matematis dan angket self-efficacy siswa.

Pokok bahasan yang dijadikan sebagai bahan ajar dalam penelitian ini adalah bangun ruang sisi datar. Berdasarkan nilai rerata N-gain kelas eksperimen adalah sebesar 0,72 yang termasuk pada kriteria tinggi dan nilai rerata kontrol adalah sebesar 0,62yang termasuk pada kriteria sedang. Dengan demikian, berdasarkan hasil penelitian menunjukkan peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa yang menggunakan model pembelajaran CORE lebih baik daripada siswa yang menggunakan pembelajaran ekspositori. Selain itu, kelas yang menggunakan model pembelajaran CORE, hampir seluruh siswanya memiliki self-efficacy yang baik dalam pembelajaran matematika. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan agar memperhatikan kendala-kendala yang dialami dalam pelaksanaan model pembelajaran CORE, diantaranya dalam penerapan model pembelajaran CORE ini perlu memperhatikan materi pembelajaran yang akan disampaikan, alokasi waktu serta kondisi siswa. Karena model CORE ini pembelajaran dengan metode diskusi sehingga menghabiskan waktu yang cukup lama. Guru harus menggunakan waktu secara optimal dan dapat mengondisikan siswa dengan baik ketika proses pembelajaran,

Kata Kunci: Model Pembelajaran CORE, Kemampuan Koneksi Matematis, Self- Efficacy

(12)

xii DAFTAR ISI

COVER ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... Error! Bookmark not defined. LEMBAR PERSETUJUAN... Error! Bookmark not defined. PERNYATAAN ... iv

MOTTO ... v

PERSEMBAHAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

UCAPAN TERIMAKASIH ... viii

ABSTRAK ... xi

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR DIAGRAM ... xvii

DAFTAR LAMPIRAN ... xviii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. LATAR BELAKANG MASALAH ... 1

B. RUMUSAN MASALAH ... 8

C. TUJUAN PENELITIAN... 8

D. MANFAAT PENELITIAN ... 8

(13)

xiii

E. DEFINISI OPERASIONAL ... 9

BAB II KAJIAN TEORITIS ... 12

A. KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIS ... 12

B. SELF-EFFICACY ... 17

C. MODEL PEMBELAJARAN CORE ... 19

D. PEMBELAJARAN EKPOSITORI ... 24

E. KERANGKA BERPIKIR ... 25

F. PENELITIAN YANG RELEVAN ... 27

G. HIPOTESIS ... 28

BAB III METODE PENELITIAN ... 30

A. METODE DAN DESAIN PENELITIAN ... 30

B. VARIABEL PENELITIAN ... 31

C. POPULASI DAN SAMPEL ... 32

D. INSTRUMEN ... 32

E. PENGEMBANGAN INSTRUMEN ... 35

1. Validitas Tes ... 35

2. Reliabilitas Tes ... 37

3. Daya Pembeda ... 38

4. Indeks Kesukaran ... 39

F. PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN ... 41

(14)

xiv

G. TEKNIK ANALISIS DATA ... 42

1. Analisis Data Pretest dan Posttest ... 42

2. Analisis Data Angket ... 45

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 47

A. HASIL PENELITIAN ... 47

1. Hasil Analisis Data Tes Awal (pretest) ... 47

2. Hasil Analisis Data Tes Akhir (posttest) ... 50

3. Analisis Data N-Gain ... 53

4. Analisis Data Skala Self-Efficacy ... 57

B. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN ... 66

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 78

A. KESIMPULAN ... 78

B. SARAN ... 78

DAFTAR PUSTAKA ... 80

LAMPIRAN ... 85

RIWAYAT HIDUP ... 268

(15)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel 3. 1 Pedoman Penskoran Tes Kemampuan Koneksi Matematis ... 33

Tabel 3. 2 Klasfikasi Interprestasi Koefisien Validitas ... 36

Tabel 3. 3 Hasil Validasi Tiap Butir Soal ... 36

Tabel 3. 4 Interprestasi Reliabilitas ... 37

Tabel 3. 5 Kriteria Indeks Daya Pembeda Instrumen ... 39

Tabel 3. 6 Daya Pembeda Instrumen Tiap Butir Soal ... 39

Tabel 3. 7 Kriteria Indeks Kesukaran Instrumen ... 40

Tabel 3. 8 Indeks Kesukaran Instrumen Tiap Butir Soal ... 40

Tabel 3. 9 Rekapitulasi Analisis Tiap Butir Soal ... 40

Tabel 3. 10 Kriteria Uji N-Gain ... 45

Tabel 3. 11 Kriteria Penafsiran Persentase Jawaban Angket ... 46

Tabel 4. 1 Analisis Deskriptif Data Hasil Tes Awal (pretest) ... 48

Tabel 4. 2 Hasil Uji Normalitas Tes Awal (pretest) ... 49

Tabel 4. 3 Hasil Uji Non Parametrik Tes Awal ... 50

Tabel 4. 4 Analisis Deskriptif Data Hasil Tes Akhir (posttest) ... 50

Tabel 4. 5 Hasil Uji Normalitas Tes Akhir (posttest) ... 52

Tabel 4. 6 Hasil Uji Non Parametrik Tes Akhir... 53

Tabel 4. 7 Analisis Deskriptif Data Hasil N-Gain ... 54

Tabel 4. 8 Uji Normalitas N-Gain ... 55

Tabel 4. 9 Hasil Uji Non Parametrik N-Gain ... 56

Tabel 4. 10 Data Hasil Skala Self-efficacy Siswa ... 58

Tabel 4. 11 Distribusi Skor Rata-rata Keseluruhan Angket Self-Efficacy Siswa .. 65

(16)

xvi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4. 1 Jawaban Siswa Indikator 1 ... 68

Gambar 4. 2 Jawaban Siswa Indikator 2 ... 69

Gambar 4. 3 Jawaban Siswa Indikator 3 Kelas Eksperimen ... 70

Gambar 4. 4 Proses Pembelajaran di kelas Eksperimen ... 75

(17)

xvii

DAFTAR DIAGRAM

Diagram 2. 1 Dua tipe koneksi ... 15 Diagram 2. 2 Kerangka berpikir ... 27

(18)

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN A

1. Silabus ... 85

2. RPP Kelas Eksperimen ... 88

3. RPP Kelas Kontrol ... 120

4. Bahan Ajar ... 146

5. LKPD ... 183

6. Kunci Jawaban Bahan Ajar dan LKPD ... 207

LAMPIRAN B 1. Kisi-Kisi Instrumen Tes Kemampuan Koneksi Matematis ... 224

2. Pedoman Penskoran Tes Kemampuan Koneksi Matematis ... 229

3. Soal Tes Kemampuan Koneksi Matematis ... 230

4. Kunci Jawaban Tes Kemampuan Koneksi Matematis ... 231

LAMPIRAN C 1. Data Skor Hasil Uji Coba Instrumen ... 234

2. Hasil Uji Coba Instrumen ... 235

LAMPIRAN D 1. Daftar Nilai Tes Kelas Eksperimen ... 238

2. Daftar Nilai Tes Kelas Kontrol ... 239

3. Analisis Data Pretest ... 240

(19)

xix

4. Analisis Data Posttest ... 241

5. Analisis Data N-Gain... 242

LAMPIRAN E 1. Kisi-Kisi Angket Skala Self-Efficacy ... 243

2. Angket Skala Sikap Self-Efficacy ... 244

3. Data Hasil Skala Self-Efficay ... 246

LAMPIRAN F 1. Sampel Lembar Jawaban Pretest ... 249

2. Sampel Lembar Jawaban Posttest ... 253

3. Sampel Lembar Angket Skala Self-Efficacy ... 257

LAMPIRAN G 1. Dokumentasi ... 261

LAMPIRAN H 1. Surat Keputusan Dekan Pengangkatan Dosen Pembimbing ... 262

2. Surat Izin Uji Instrumen ... 265

3. Surat Permohonan Izin Penelitian ... 266

4. Surat Keterangan Selesai Melakukan Penelitian ... 267

(20)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Pendidikan merupakan salah satu disiplin ilmu yang erat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari diantaranya matematika, Hal ini dikarenakan, kegiatan yang dilakukan sehari-hari memerlukan perhitungan yang matang.

Pembelajaran matematika telah dipelajari siswa sejak dari tingkat sekolah dasar, sekolah menengah, hingga perguruan tinggi. Sesuai yang dijelaskan dalam dalam UU No. 20 Tahun 2003 (Depdiknas, 2003) tentang sistem pendidikan nasional,

“Bahwa salah satu mata pelajaran yang diajarkan dari Sekolah Dasar (SD) sampai perguruan Tinggi adalah matematika”. Tujuan dari pembelajaran matematika yaitu agar siswa mampu berpikir kritis, logis, kreatif serta mampu mengaitkan masalah- masalah matematika yang sedang dihadapinya.

Dalam pembelajaran matematika, koneksi matematis merupakan suatu kemampuan yang penting yang harus dimiliki siswa karena kemampuan ini memandang matematika sebagai suatu kesatuan bukan sebagai materi yang berdiri sendiri, yang berarti topik-topik dalam matematika dapat dihubungkan satu sama lain. Masing-masing topik tersebut dapat dilibatkan dengan topik lainnya. Menurut NCTM (National council of teacher of mathematics) pada tahun 2000 (Fatimah, 2019) bahwa apabila siswa dapat menghubungkan gagasan-gagasan matematis, maka pemahaman mereka akan lebih bertahan lama. Pengetahuan sebelumnya sebagai konsep prasyarat untuk mempelajari konsep selanjutnya, sehingga antara

(21)

2

konsep yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan. Pendapat di atas memberikan gambaran bahwa mempelajari matematika harus dilaksanakan secara berkesinambungan dari konsep yang paling mendasar ke konsep yang lebih tinggi.

Dengan kata lain, seseorang sulit untuk belajar suatu konsep dalam matematika apabila konsep yang menjadi prasyarat tidak dikuasai. Agar siswa dapat menguasai materi matematika, maka kemampuan koneksi matematis diperlukan dalam proses pembelajaran matematika.

Menurut NCTM 2000 dalam (Ulya et al. 2016) menyatakan bahwa ada lima standar proses dalam pembelajaran matematika harus mengembangkan beberapa keterampilan, yakni kemampuan pemecahan masalah matematika (mathematical problem solving), kemampuan penalaran dan pembuktian matematika (mathematical reasoning and proof), kemampuan komunikasi matematika (mathematical communication), kemampuan koneksi matematika (mathematical connection), dan kemampuan representasi matematika (mathematical representation). Kemampuan koneksi matematika yang dikemukakan oleh NCTM tersebut perlu dicermati lebih lanjut dalam pembelajaran matematika di sekolah.

Hasil studi PISA (Programe for International Student Assesment) tahun 2018 menunjukkan bahwa kemampuan literasi matematika Indonesia menduduki peringkat 73 dari 79 negara dengan perolehan skor 379 di bawah rata-rata skor yaitu 489 (OECD, 2019). Berdasarkan hasil tersebut, menurut (Bidasari, 2017) masalah matematika yang menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa Indonesia jauh di bawah rata-rata internasional. Kemampuan pemecahan masalah, kemampuan koneksi, kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa di Indonesia masih rendah

(22)

3

sehingga siswa lemah dalam menyelesaikan soal-soal tidak rutin yang berkaitan dengan membuktikan, menalar, menggeneralisasi, membuat koneksi dan menentukan hubungan antara fakta-fakta yang diberikan. Berdasarkan hasil studi PISA 2018, terlihat bahwa kemampuan koneksi matematis siswa di Indonesia masih tergolong rendah.

Tinggi rendahnya kemampuan siswa mengoneksikan masalah-masalah matematika menjadi salah satu indikator penting bagi pembelajaran matematika di sekolah. Untuk mencermati kemampuan koneksi matematis siswa di sekolah banyak faktor yang mempengaruhinya, baik itu faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dalam diri siswa, misalnya kemampuan intelektual. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri siswa, misalnya pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan materi pada pembelajaran matematika di sekolah.

Salah satu aspek kognitif dalam pembelajaran matematika yang masih dianggap rendah adalah kemampuan koneksi matematis (Prasetyo et al. 2018).

Rendahnya kemampuan koneksi matematis pada siswa disebabkan karena kurangnya minat siswa dalam mempelajari matematika. Ruspiani (Isfayani & Johar, 2018) dalam penelitiannya yang menunjukkan nilai rata-rata kemampuan koneksi matematis siswa sekolah menengah masih rendah yaitu kurang dari 60 pada skor 100 (22,2% untuk koneksi matematika pada pokok bahasan lain, 44% untuk koneksi bidang studi lain, dan 67,3% untuk koneksi matematika pada kehidupan sehari-hari), menunjukkan bahwa masih rendahnya kemampuan koneksi matematis yang dimiliki siswa. Dengan mengelompokan siswa menjadi tiga kategori rendah,

(23)

4

sedang dan tinggi untuk setiap indikator koneksi matematis, menunjukkan bahwa jumlah siswa yang memiliki kemampuan koneksi matematis tinggi masih sedikit untuk masing-masing indikator.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti kemampuan koneksi matematis siswa perlu ditingkatkan karena siswa kurang mampu mengaitkan materi sebelumnya dengan materi yang sedang dipelajari terutama materi prasyarat untuk mempelajari materi selanjutnya, siswa tidak mampu mengidentifikasi unsur-unsur yang diketahui dan ditanyakan dan siswa menganggap bahwa rumus matematika yang ada hanya untuk dihapal tanpa harus melihat adanya keterkaitan antar materi atau konsep matematika. Sejalan dengan penelitian Ulya et al. (2016) bahwa berdasarkan hasil observasi yang dilakukan terlihat bahwa kemampuan siswa dalam mengoneksikan ide-ide antar topik matematika masih kurang, dikarenakan masih adanya anggapan bahwa matematika merupakan pelajaran yang sulit, menakutkan dan hanya sebatas hapalan yang cukup dihapal saja tanpa memandang adanya kaitan dari materi tersebut dengan materi lainnya. Hal ini menggambarkan bahwa yang menjadi masalah adalah kemampuan koneksi matematis siswa yang masih rendah.

Selain aspek kognitif yang penting harus dimiliki siswa, aspek afektif juga penting untuk dimiliki , karena aspek afektif merupakan penunjang agar pendidikan di Indonesia dapat lebih baik. Aspek afektif tersebut adalah self-efficacy. Arifin (2018) mengemukakan bahwa self-efficacy adalah percaya akan kemampuan untuk memperoleh performa yang diinginkan, dimana self-efficacy matematika merupakan suatu keadaan atau masalah yang spesifik dari kepercayaan diri siswa

(24)

5

tentang kemampuannya untuk dapat berhasil menyelesaikan tugas atau menyelesaikan masalah. Sejalan dengan hal itu, menurut Jatisunda (Masri et al.

2018) self-efficacy merupakan aspek psikologis yang memberikan pengaruh signifikan terhadap keberhasilan siswa dalam menyelesaikan tugas dan pertanyaan penyelesaian masalah dengan baik. Self-efficacy mempengaruhi pilihan tindakan yang akan dilakukan dan besarnya usaha ketika menemui kesulitan dan hambatan.

Individu yang memiliki self-efficacy yang tinggi memilih untuk melakukan usaha lebih besar dan tidak mudah putus asa.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran matematika di sekolah bahwa self-efficacy siswa pada pelajaran matematika masih rendah ditunjukkan oleh banyak dari mereka yang tidak ingin mencoba menyelesaikan soal. Mereka cenderung menyerah ketika menghadapi tugas-tugas yang sulit terbukti ketika guru meminta siswa mengerjakan soal latihan di papan tulis, terlihat siswa tidak mau untuk mengerjakan dan tidak percaya diri apakah pekerjaannya benar. Sejalan dengan hal tersebut menurut Arifin (2018) keyakinan self-efficacy juga membantu menentukan sejauh mana usaha yang akan dikerahkan siswa dalam suatu aktivitas, seberapa lama mereka akan gigih ketika menghadapi rintangan,dan seberapa ulet mereka akan menghadapi situasi yang tidak cocok. Selain itu Ferdyansyah et al. (2020) juga mengatakan bahwa jika siswa yang memiliki self- efficacy rendah maka akan sulit untuk menuntaskan pembelajaran disekolah.

Berdasarkan pernyataan di atas, dapat diketahui siswa yang mempunyai kemampuan koneksi matematis yang baik dipengaruhi oleh faktor internal yang baik pula, salah satunya adalah self-efficacy. Menurut Bandura (1997) menyatakan

(25)

6

self-efficacy merupakan salah satu alat yang kuat digunakan untuk memprediksi kemampuan siswa dalam pemecahan masalah matematis. Sehingga siswa dengan self-efficacy yang baik pada pembelajaran matematika dapat menumbuhkan keyakinan terhadap kemampuan di dalam diri siswa yang berguna untuk menganalisis, memahami, dan memecahkan permasalahan dengan logis dan sesuai sehingga dapat meningkatkan kemampuan koneksi matematisnya.

Strategi pembelajaran yang dapat membuat siswa aktif, tidak cemas, menarik minat siswa, menyenangkan selama pembelajaran terjadi interaksi baik sesama siswa maupun dengan guru serta dapat membangun pengetahuan yang didapatnya dengan pengetahuan yang baru dalam menyelesaikan permasalahan matematis. Salah satunya dengan menerapkan model pembelajaran CORE (conecting, organizing, reflecting, dan extending). Menurut Prasetyo et al. (2018) model pembelajaran CORE dapat meningkatkan kemampuan koneksi matematis siswa yang di dalamnya terdapat aktivitas menghubungkan, mengorganisasikan, memikirkan, kembali dan mempeluas wawasan. Berdasarkan hasil penelitian Agustianti & Amelia (2018) menyatakan bahwa hasil analisis data diperoleh kesimpulan bahwa kemampuan koneksi matematis siswa dengan model pembelajaran CORE memiliki kategori tingggi dengan taraf signifikansi 5%

dibandingkan dengan pembelajaran konvensional dan sebagian besar siswa menunjukkan sikap yang positif terhadap pembelajaran matematika.

Calfee (2010) mengungkapkan bahwa model pembelajaran CORE adalah model pembelajaran menggunakan metode diskusi yang dapat mempengaruhi perkembangan pengetahuan dan berpikir reflektif dengan melibatkan siswa yang

(26)

7

memiliki empat tahapan yaitu connecting, organizing, reflecting, dan extending.

Calfee (2010) juga berpendapat bahwa, dalam model pembelajaran CORE, terdapat empat aspek kegiatan, yaitu yang pertama connecting merupakan kegiatan mengoneksikan informasi lama dan informasi baru dan antar konsep. Kedua adalah organizing, merupakan kegiatan mengorganisasikan ide-ide untuk memahami materi. Ketiga adalah reflecting, merupakan kegiatan memikirkan kembali, mendalami, dan menggali informasi yang sudah didapat. Lalu yang terakhir adalah extending, merupakan kegiatan untuk mengembangkan, memperluas, menggunakan, dan menemukan. Di dalam pembelajaran matematika menghubungkan konsep lama dengan konsep baru merupakan salah satu unsur yang sangat penting, oleh karena itu koneksi yang baik sangat dibutuhkan dalam menghubungkan pengetahuan tersebut.

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka kemampuan koneksi matematis dan self-efficacy siswa perlu dioptimalkan. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan judul

“Penerapan Model Pembelajaran connecting, organizing, reflecting, extending (CORE) untuk Meningkatkan Kemampuan Koneksi Matematis dan Self-efficacy Siswa”.

(27)

8

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas maka dapat diperoleh rumusan masalah sebagai berikut:

1. Apakah peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa yang menggunakan model pembelajaran CORE lebih baik daripada siswa yang menggunakan pembelajaran ekspositori?

2. Bagaimana self-efficacy siswa yang memperoleh model pembelajaran CORE?

C. TUJUAN PENELITIAN

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian adalah:

1. Untuk mengetahui peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa yang menggunakan model pembelajaran CORE lebih baik daripada siswa yang mengunakan pembelajaran ekpositori.

2. Untuk mengetahui self-efficacy siswa terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran CORE.

D. MANFAAT PENELITIAN

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan banyak manfaat, bukan saja kepada peneliti akan tetapi juga kepada siswa serta para pendidik, diantaranya yaitu:

(28)

9

1. Dapat memberikan informasi mengenai model pembelajaran connecting, organizing, reflecting, extending (CORE) sebagai alternatif pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran matematika di sekolah.

2. Menambah pengetahuan dan pengalaman langsung yang berhubungan dengan penerapan model pembelajaran connecting, organizing, reflecting, extending (CORE) terhadap pembelajaran matematika.

3. Diharapkan dapat menjadi solusi pemecahan masalah rendahnya kemampuan koneksi matematis dan self-efficacy siswa.

E. DEFINISI OPERASIONAL

Batasan pengertian terhadap bebarapa istilah pokok yang terdapat dalam judul penelitian ini perlu diberikan guna menghindari supaya tidak terjadi kesalahan pemahaman dalam memahami istilah-istilah yang terdapat dalam judul, maka penulis menjelaskan istilah-istilah tersebut antara lain:

1. Kemampuan Koneksi Matematis

Koneksi matematis sebagai hubungan ide-ide matematika. Koneksi yaitu suatu kemampuan yang harus dicapai dalam pembelajaran matematika, dimana siswa dapat menghubungkan suatu konsep matematika yang didapatkan dengan konsep matematika lainnya, dengan bidang ilmu lain dan dengan kehidupan sehari- hari (NCTM, 2000).

(29)

10

2. Self-Efficacy

Self-efficacy diartikan penilaian terhadap diri sendiri, dalam hal ini meliputi keyakinan yang dimiliki individu dalam sikap dan pola pikir serta cara belajar untuk mengerjakan maupun memecahkan permasalahan matematis. Terdapat aspek-aspek yang mempengaruhi self-efficacy seseorang, seperti pengalaman diri langsung seseorang, pengalaman dari orang lain, model pembelajaran yang digunakan, dan kondisi psikologis seseorang. Indikator self-efficacy menurut Bandura (Hendriana et al. 2017) ada tiga dimensi yaitu: Magnitude, Strengh, dan Generality, yang kemudian dirinci ke dalam enam indikator self-efficacy dalam penelitian ini diantaranya: (1) bepandangan optimis dalam mengerjakan pelajaran; (2) seberapa besar minat terhadap pelajaran dan tugas; (3) usaha yang dilakukan untuk meningkatkan prestasi; (4) komitmen dalam menyelesaikan tugas; (5) menyikapi situasi secara baik dan berpikir positif; (6) menjadikan pengalaman sebagai jalan mencapai kesuksesan.

3. Model Pembelajaran CORE

Model pembelajaran connecting, organizing, reflecting, extending (CORE) adalah suatu model pembelajaran yang memiliki desain mengonstruksi kemampuan siswa dengan cara menghubungkan dan mengorganisasikan pengetahuan, kemudian memikirkan kembali konsep yang sedang dipelajari.

4. Pembelajaran Ekpositori

Pembelajaran ekpositori adalah pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok

(30)

11

siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pembelajaran secara optimal (Sanjaya, 2014).

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian di Desa Suwaan, Pengelolaan Alokasi Dana Desa dalam Bidang Penyelenggaraan Pemerintah Desa, Pelaksanaan Pembangunan, Pembinaan Kemasyarakatan,

Aset keuangan dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif diklasifikasi sebagai pinjaman yang diberikan dan piutang, yang diukur pada

Hasil penelitian yang dilakukan penulis juga dapat digunakan sebagai rekomendasi untuk pengawas sekolah bidang bimbingan dan konseling pada Dinas Kabupaten/ Kota

Di dalam perjanjian ini juga terdapat kemungkinan adanya wanprestasi karena kelalaian atau kegagalan pengusaha atau pemborong dalam melaksanakan kewajiban atau kontrak

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran peraihan konsep adalah model pembelajaran yang menggunakan data untuk mengajarkan konsep

Anda mungkin memiliki keterampilan atau keahlian untuk melaksanakan tugas- tugas yang dituntut oleh pekerjaan yang ditawarkan, tetapi pimpinan perusahaan juga ingin mengetahui

1) Analisis univariat menunjukkan Dari 66 responden (100%) terdapat 39 balita (59,1%) yang tidak mengalami kejadian diare dan 27 balita (40,9%) mengalami kejadian diare. 2)

Penyakit jamur upas biasanya berjangkit pada musim hujan atau pada keadaan yang sangat lembab atau berkabut (Semangun, 2000).. 1.4 Resistensi