BAB II
LANDASAN TEORI A. Konsep Strategi Pengembangan Usaha
1. Pengertian Strategi
Strategi adalah pola fundamental dari tujuan sekarang dan yang direncanakan, pengerahan sumber daya, dan interaksi dari organisasi dengan pasar, pesaing dan faktor-faktor lingkungan yang lain.
1Strategi
2berasal dari bahasa Yunani strategeos, yang berarti jendral, oleh karena itu secara harfiah “seni para jendral”, kata ini mengacu pada apa yang merupakan perhatian utama puncak organisasi, sedangkan secara khusus strategi adalah penemuan misi perusahaan, penetapan sasaran organisasi dengan mengingat kekuatan eksternal dan internal untuk mencapai tujuan organisasi.
Menurut Alfred Chandler sebagaimana dikutip oleh James C. Craig dan Robert M. Grant, strategi adalah
3penetapan sasaran dan tujuan jangka panjang sebuah perusahaan dan arah tindakan serta alokasi sumber daya yang diperlukan untuk mencapai sasaran dan tujuan tertentu.
Menurut chandler strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan perusahaan dalam kaitannya dengan tujuan jangka panjang, program tindak lanjut, serta prioritas alokasi sumber daya.
Sedangkan menurut porter, strategi adalah alat yang sangat penting untuk mencapai keunggulan bersaing.
Jadi dapat disimpulkan strategi merupakan cara untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan, dengan menjelaskan apa yang harus dicapai, kemana akan berfokus, dan bagaimana sumber daya dan kegiatan mana yang akan dialokasikan untuk setiap produk pasar dalam memenuhi peluang dan tantangan lingkungan serta untuk meraih keunggulan kompetitif.
1
Boyd, Walker dan Larreche,Manajemen Pemasaran Suatu Pendekatan Strategis Dengan Orientasi Global, Edisi Keduan Jilid Satu, (Jakrta: Erlangga, 2000), 29.
2
George A. Steiner, Jhon B. Miner, Kebijakan dan Strategi Manajemen, (Jakarta: Erlangga, 1997), 18.
3
James C. Craig dan Robert M. Grant, Strategic Management, (Jakarta: Elex Media Cumputindo, 2002), 4.
Konsep-konsep strategi sebagai berikut:
a. Distinctive Competence
Suatu perusahaan yang memiliki kekuatan yang tidak mudah ditiru oleh perusahaan pesaing dipandang sebagai perusahaan yang memiliki
“Distinctive Competence”. Konsep ini menjelaskan kemampuan spesifik suatu organisasi. Menurut Day dan Wensley, identifikasi distinctive competence dalam suatu organisasi meliput: keahlian tenaga kerja dan kemampuan sember daya. Dua factor itu menyebabkan perusahaan dapat lebih unggul dibandingkan dengan pesaingnya. Keahlian sumber daya manusia yang tinggi muncul dari kemampuan membentuk fungsi khusus yang lebih efektif dibandingkan dengan pesaing. Misalnya, menghasilkan produk yang kualitasnya lebih baik dibandingkan dengan produk pesaing dengan cara memahami secara detail keinginan konsumen, serta membuat program pemasaran yang lebih baik daripada program pesaing.
b. Competitive Advantage
Keunggulan bersaing disebabkan oleh pilihan strategi yang dilakukan
perusahaan untuk merebut peluang besar. Menurut Porter, ada tiga strategi
yang dapat dilakukan perusahaan untuk memperoleh keunggulan bersaing,
yaitu: cost leadership, diferensiasi dan focus. Perusahaan dapat
memperoleh keunggulan bersaing yang lebih tinggi dibandingkan dengan
pesaingnya jika dia dapat memberikan harga jual yang lebih murah
daripada harga yang diberikan oleh pesaingnya dengan nilai atau kualitas
produkyang sama. Harga jual lebih rendah dapat dicapai oleh perusahaan
tersebut karena dia memanfaatkan skala ekonomi, efesiensi produksi,
penggunaan teknologi, kemudahan akses dengan bahan baku, dan
sebagainya. perusahaan juga dapat melakukan strategi diferensiasi dengan
menciptakan persepsi terhadap nilai tertentu pada konsumennya. Misalnya,
persepsi terhadap keunggulan kinerja produk, inovasi produk, pelayanan
yang lebih baik, dan brand image yang lebih unggul. Selain itu, strategi
focus juga dapat diterapkan untuk memperoleh keunggulan bersaing sesuai
dengan segmentasi dan pasar sasaran yang diharapkan.
Tipe-tipe strategi, sebagai berikut:
a. Strategi Manajemen
Strategi manajemen meliputi strategi yang dapat dilakukan oleh manajemen dengan orientasi pengembangan strategi secara makro. Misalnya, strategi pengembangan produk, strategi penerapan harga, straregi pengembangan pasar, dan sebagainya.
b. Strategi Investasi
Strategi ini merupakan kegiatan yang berorientasi pada investasi.
c. Strategi Bisnis
Strategi ini sering juga disebut strateg bisnis secara fungsional karena strategi ini berorientasi pada fungsi-fungsi kegiatan manajemen. Misalnya, strategi pemesaran, strategi produksi atau operasional, strategi distribusi, dan strategi-strategi yang berhubungan dengan keuangan.
4Adapun tahapan-tahapan manajemen strategis adalah sebagai berikut:
a. Perumusan atau Perencanaan strategi (strategic planning)
Perencanaan ini mengidentifikasi bahwa dalam pengelolaan perlu ada perencanaan yang cermat untuk dapat mencapai target yang ditentukan, aktivitas utama yang dilakukan adalah merumuskan pernyataan visi dan misi, menganalisis lingkungan eksternal dan internal, menetapkan tujuan jangka pendek maupun jangka panjang, menciptakan atau memilih strategi melalui program-program kegiatan serta sarana-sarana yang diperlukan termasuk keterkaitannya dengan pihak ketiga.
Tahapan pertama ini adalah proses pembuatan perencanaan atau perumusan strategi dalam suatu perusahaan merupakan tahap awal yang tidak mudah.
Dalam hal ini menentukan kegiatan yang meliputi upaya melihat kekuatan (strength) yang dimiliki perusahaan bukan hanya dan yang tersedia, melainkan juga kualitas SDM dan teknologi yang dimiliki perusahaan.
Dengan menganalisis secara strategi atas kekuatan dan kelemahan yang ada, selanjutnya dilihat dari peluang (opportunity) yang ada dan harus
4
Frenddy Rangkuti, Analisis SWOT, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1997), 3-7.
diraih. Perencanaan strategi disusun oleh pemimpin atas yang dibantu oleh para ahli perencanaan strategi.
b. Pelaksanaan Strategi (Strategic Actuating)
Suatu gagasan atau konsep, meskipun telah tersedia wadah yang berupa organisasi dengan uraian-uraian tugas dan hierarkinya belum akan berjalan aktif tanpa dicetuskan atau dikeluarkan intruksi-intruksi atau ketatapan/pedoman mengenai pelaksanaan dari tugas-tugas dalam organisasi tersebut. Setelah direncanakan selanjutnya adalah melaksanakan dari perencanaan tersebut. Sebelum dilaksanakan harus membuat kegiatan untuk mengarah atau memobilisasi seluruh sumber daya yang dimiliki perusahaan, mulai dari dana, sumber daya manusia, teknologi, dan lain- lain. Khususnya sumber daya manusia ang ditugaskan secara strategi dalam fungsinya masing-masing. Semua sumber daya yang diperlukan dialokasikan tepat waktu dan tepat guna. Dalam hal ini juga diperlukan skill atau keterampilan para karyawan dengan kualitas operasional yang baik karena akan mendukung pelaksanaan dari perencanaan strategi agar berhasil optimum. Motivasi juga diperlukan untuk karyawan berprestasi dan merupakan salah satu kunci keberhasilan pelaksanaan manajemen strategi.
c. Pengawasan dan Evaluasi Strategi (Strategic Controlling/Evaluating) Evaluasi merupakan tahap akhir dari rangkaian kegiatan manajemen strategi. Evaluasi atau pengawasan atau pengemdalian berate menilai setiap aktivitas agar seluruh kegiatan strategi itu sesuai dengan yang telah direncanakan.
Hal-hal penting dalam evaluasi strategi meliputi:
1) Menilai hasil kerja secara keseluruhan, agar diperoleh hasil kerja yang sesuai dengan rencana strategi.
2) Menilai seluruh variable internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi rencana strategi yang sedang dilaksanakan.
3) Evaluasi tersebut termasuk membuat koreksi yang terjadi agar sesuai
dengan rencana strategi.
Keseluruhan hasil evaluasi termasuk factor lain yang mungkin akan timbul menjadi input (masukan) untuk membuat perrumusan strategi baru dimasa yang akan datang. Perumusan strategi harus dilakukan secara dinamis agar hasil kerja berkembang ke arah yang lebih maju.
5Di dalam buku karangan Mudrajad Kuncoro, para pakar manajemen stratejik mengajukan tiga alternatif model untuk dapat mendapatkan keunggulan kompetitif : a. Model Organisasi-Industri (Industrial-Organization, atau I/O)
Model ini memfokuskan pada struktur industri atau daya tarik lingkungan eksternal, dan bukan karakteristik internal perusahaan.
b. Model berbasis sumber daya (Resource-Based View, atau RBV)
Menurut model Resource-Based View, (RBV), above-average returns bagi suatu perusahaan amat ditentukan oleh karakteristik di dalam perusahaan. Model ini memfokuskan pada pengembangan atau perolehan sumber daya (resources) dan (capabilities) yang berharga, yang sulit atau tak mungkin ditiru oleh para pesaing.
c. Pendekatan Gerilya
Dasar pemikiran dari pendekatan gerilya adalah keunggulan kompetitif perusahaan hanyalah sementara. Karena lingkungan selalu diwarnai dengan perubahan yang terus-menerus, radikal, dan sering kali revolusioner. Singkatnya, berbagai macam gangguan baik itu dalam hal teknologi, ketidakstabilan pasar, dan berbagai jenis perubahan yang signifikan dan tidak diperkirakan sebelumnya dapat menghambat perusahaan dalam mencapai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Oleh karena itu, sebuah organisasi yang berhasil harus pandai dalam menyesuaikan dengan setiap perubahan yang terjadi.
65
Nadiya Awalia, “Strategi Koperasi Jatara PT. Telkom Area Cirebon Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Anggota.” (Skripsi, Fakultas Syari’ah dan Ekonomi Islam IAIN Syekh Nurjati Cirebon, 2016), 27-29.
6
Mudrajad Kuncoro, Ph.D, Strategi, (Jakarta: Erlangga, 2005), 15-18.
2. Pengertian Pengembangan
Pengembangan dalam pengertian umum berarti pertumbuhan, perubahan secara perlahan (evolusi) dan perubahan secara bertahap.
7Dalam kamus umum Bahasa Indonesia karya Wjs Peorwadarminta dalam buku Pengembangan Media Pembelajaran karya Sukiman, pengembangan adalah perbuatan menjadikan bertambah, berubah sempurna. Kegiatan pengembangan meliputi tiga tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi yang diikuti dengan kegiatan penyempurnaan sehingga diperoleh bentuk yang dianggap memadai.
8Jadi dapat diartikan bahwa pengembangan adalah suatu proses atau usaha untuk melakukan suatu perubahan baik secara perlahan maupun secara bertahap dengan memperdalam dan memperluas pengetahuan yang telah ada melalui proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
Menurut Undang-undang Rapublik Indonesia Nomor 18 Tahun 2002, pengembangan adalah kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bertujuan memanfaatkan kaidah dan teori ilmu pengetahuan yang telah terbukti kebenarannya untuk meningkatkan fungsi, manfaat dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada, atau mengahsilkan teknologi baru.
93. Pengertian Pengembangan Usaha
Pengembangan suatu usaha adalah tanggung jawab dari setiap pengusaha atau wirausaha yang membutuhkan pandangan ke depan, motivasi dan kreativitas. Jika hal ini dapat dilakukan oleh setiap pengusaha, maka besarlah harapan untuk dapat menjadikan usaha yang semula kecil menjadi skala menengah bahkan menjadi sebuah usaha besar.
10Menurut Mulyadi Nitisusantro, pengembangan usaha adalah upaya yang dilakukan oleh pemerintah pemerintah daerah, masyarakat, dan stakeholder lainnya untuk memberdayakan suatu usaha melalui pemberian fasilitas, bimbingan
7
Punaji Setyosari, Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan, (Jakarta: Kencana, 2012), 218-219.
8
Sukiman, Pengembangan Media Pembeajaran, (Yogyakarta: Pedagogia, 2012), 53.
9
Lihat Undang-undang Rapublik Indonesia Nomor 18 Tahun 2002 Tentang Sistem Nasional, Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
http://www.dpr.go.id/dokjdih/document/uu/UU_2002_18.pdf (diakses pada hari Jum’at, 23-12-2016 pukul 14.00 WIB)
10
Pandji Anoraga, Pengantar Bisnis: Pengelolaan Bisnis Dalam Era-Globalisasi, (Jakarta: Rineka Cipta,
2011), 66.
pendampingan dan bantuan perkuatan untuk menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan dan daya saing sebuah usaha.
11Dari penjelasan di atas, pengembangan usaha adalah upaya yang dilakukan berbagai pihak yang terkait dalam usaha tersebut, baik pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat dan terutama pengusaha itu sendiri untuk mengembangkan usahanya menjadi usaha yang lebih besar dengan daya saing tinggi melalui pemberian fasilitas dan bimbingan pendampingan yang disertai dengan motivasi dan kreativitas.
B. Pengembangan UMKM dan SDM UMKM
Berdasarkan Pasal 16 UU No. 20 Tahun 2008 tentang UMKM, yang berperan sebagai pengembang UMKM adalah :
1. Pemerintah dan Pemerintah Daerah sebagai pihak yang memfasilitasi usaha dalam bidang:
a. Produksi dan pengelolaan.
b. Pemasaran.
c. Sumber daya manusia, dan d. Desain dan teknologi.
2. Dunia usaha dan masyarakat berperan serta secara aktif melakukan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
Berdasarkan pasal 17 UU No. 20 Tahun 2008 tentang UMKM, pengembangan dalam bidang produksi dan pengelolaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 16 ayat (1) huruf a dilakukan dengan cara:
1. Meningkatkan teknik produksi dan pengelolaan serta kemampuan manajemen bagi UMKM.
2. Memberikan kemudahan dalam pengadaan sarana dan prasarana produksi dan pengolahan, bahan baku, dan kemasan bagi produk UMKM.
3. Meningkatkan kemampuan rancang bangun dan perekayasaan bagi usaha menengah.
Yang dimaksud dengan kemampuan rancang bangun adalah kemampuan untuk mendesain suatu kegiatan usaha. Sedangkan yang dimaksud dengan kemampuan
11
Mulyadi Nitisusantro, Kewirausahaan dan Manajemen Usaha Kecil, (Bandung: Alfabeta, 2010), 271.
perekayasaan (engineering) adalah kemampuan untuk mengubah suatu proses, atau cara pembuatan suatu produk dan/atau jasa.
Sedangkan pengembangan SDM UMKM sebagaimana dimaksud Pasal 19 UU No. 20 Tahun 2008 tentang UMKM, pengembangan dalam bidang sumber daya manusia sebagaimana dimaksud dalam pasal 16 ayat (1) huruf c dilakukan dengan cara:
1. Memasyarakatkan dan memberdayakan kewirausahaan.
2. Meningkan keterampilan teknis dan menejerial.
3. Membentuk dan mengembangkan lembaga pendidikan dan pelatihan untuk melakukan pendidikan, pelatihan, penyuluhan, motivasi dan kreativitas bisnis, dan penciptaan wirausaha baru.
12Bentuk-bentuk kepemilikan bisnis, diantaranya yaitu:
1. Perusahaan Perseorangan
Perusahaan perseoranga seperti yang tercermin dalam namanya, merupakan bentuk perusahaan yang dimiliki dan dikelola oleh satu orang.
2. Persekutuan
Persekutuan adalah kerja sama antara dua orang atau lebih yang bersama-masa yang memiliki perusahaan dengan tujuan menghasilkan laba. Dalam persekutuan, para sekutu saling berbagi asset, kewajiban dan laba sesuai dengan perjanjian persekutuan yang telah ditetapkan sebelumnya (jika ada).
3. Perseroan
Perseroan (comporation) merupakan badan hukum tersendiri yang terpisah dari pemiliknya dan dapat berperan dalam bisnis, membuat kontrak, menggugan dan digugat, dan membayar pajak.
1312
Leonardus Saiman, Kewirausahaan, (Jakarta: Salemba Empat, 2012), 15-16.
13
Thomas W. Zimmerer, Norman M. Scarborough, Doug Wilson, Kewirausahaan dan Manajemen Usaha
Kecil, (Jakarta: Salemba Empat, 2008), 225-239.
C. Koperasi
1. Pengertian Koperasi
Koperasi merupakan salah satu bentuk badan hukum yang sudah lama dikenal di Indonesia. Pelopor pengembangan perkoperasian di Indonesia adalah Bung Hatta, dan sampai saat ini beliau sangat dikenal sebagai bapak koperasi Indonesia.
Koperasi merupakan suatu kumpulan dari orang-orang yang mempunyai tujuan atau kepentingan bersama. Jadi koperasi merupakan bentukan dari sekelompok orang yang memiliki tujuan bersama. Kelompok orang ini yang akan menjadi anggota koperasi yang di dirikannya. Pembentukan koperasi berdasarkan asas kekeluargaan dan gotong royong khususnya untuk membantu para anggotanya yang akan memerlukan bantuan baik berbentuk barang atau pinjaman uang.
2. Sumber Dana Koperasi
Sumber dana merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan koperasi simpan pinjam dalam rangka memenuhi kebutuhan dana para anggotanya. Bagi anggota koperasi yang kelebihan dana diharapkan untuk menyimpan dananya di koperasi dan kemudian oleh pihak koperasi dipinjamkan kembali kepada para anggota yang membutuhkan dana dan jika memungkinkan koperasi juga dapat meminjamkan dananya kepada masyarakat luas.
Setiap anggota koperasi diwajibkan untuk menyetor sejumlah uang sebagai sumbangan pokok anggota, di samping itu, ditetapkan pula sumbangan wajib kepada para anggotanya. Kemudian sumber dana lainnya dapat diperoleh dari berbagai lembaga baik lembaga pemerintah maupun lembaga swasta yang kelebihan dana.
Secara umum sumber dana koperasi adalah : a. Dari para anggota koperasi berupa:
1) Iuran Wajib 2) Iuran Pokok 3) Iuran Sukarela b. Dari luar koperasi:
1) Badan pemerintah 2) Perbankan
3) Lembaga swasta lainnya.
3. Jenis-jenis Koperasi
Salah satu tujuan pendirian koperasi didasarkan kepada kebutuhan dan kepentingan para anggotanya. Masing-masing kelompok masyarakat yang mendirikan koperasi memiliki kepentingan ataupun tujuan yang berbeda. Perbedaan kepentingan ini menyebabkan koperasi dibentuk dalam beberapa jenis sesuai dengan kelompok tersebut.
Jenis-jenis koperasi yang ada dan berkembang adalah:
a. Koperasi produksi b. Koperasi konsumsi c. Koperasi simpan pinjam d. Koperasi serbaguna.
Yang membedakan jenis koperasi tersebut adalah uasaha yang mereka jalankan. Sebagai contoh koperasi produksi diutamakan diberikan kepada para anggotanya dalam rangka berproduksi untuk menghasilkan barang maupun jasa.
Produksi dapat dilakukan dalam berbagai bidang seperti pertanian atau industry atau jasa.
Kemudian koperasi konsumsi, dalam kegiatan usahanya adalah menyediakan kebutuhan akan barang-barang pokok sehari-hari seperti sandang, pangan dan kebutuhan yang berbentuk barang lainnya. Koperasi jenis ini banyak dilakukan oleh karyawan suatu perusahaan dengan menyediakan berbagai kebutuhan bagi para anggotanya.
Sedangkan koperasi simpan pinjam melakukan uasaha penyimpanan dan peminjaman sejumlah uang untuk keperluan para naggotanya. Koperasi jenis ini sering disebut dengan koperasi kredit yang khusus menyediakan dana bagi anggota yang memerlukan dana dengan biaya murah tentunya.
4. Keuntungan Koperasi
Keuntungan koperasi adalah bunga yang dibenbankan kepada peminjam.
Semakin banyak uang yang disalurkan akan memperbesar keuntungan koperasi. Di
samping itu, keuntungan lainnya adalah memperoleh biaya-biaya administrasi yang
dibebankan kepada peminjam. Kemudian keuntungan juga dapat diperoleh dari hasil
investasi lain yang dilakukan di luar kegiatan peminjaman misalnya penempatan uang dalam bidang surat-surat berharga.
Pembagian keuntungan di dalam koperasi simpan pinjam diberikan terutama bagi peminjam yang tidak pernah lalai memenuhi kewajibannya. Keuntungan akan diberikan sesuai dengan dengan jumlah yang dipinjam dalam suatu periode. Semakin besar pinjaman, maka pembagian keuntungannya pun semakin besar pula, demikian sebaliknya.
5. Pendirian Koperasi
Pendirian lembaga koperasi, cukup sederhana, yaitu cukup dengan minimal 20 orang yang membuat kesepakatan dengan akte notaries, kemudian didaftarkan di kanwil Departemen Koperasi setempat untuk mendapat pengesahannya. Dalam susunan organisasi koperasi rapat pengurus mengangkan pengurus dan pengawas.
Sedangkan kegiatan sehari-hari diserahkan kepada pengelola koperasi.
14D. Peningkatan Aset
1. Pengertian Peningkatan Aset
Peningkatan berasal dari kata “tingkat” yang berarti susunan yang berlapis- lapis atau berlenggek-lenggek seperti lenggek rumah, tumpulan pada tangga.
Meningkat artinya menginjak sesuatu untuk naik, menjadi bertambah banyak.
Meningkatkan artinya menaikan atau mempertinggi. Dan peningkatan artinya proses, cara, perbuatan meningkatkan.
15Sedangkan asset adalah produk bernilai yang dikuasai atau dimiliki suatu pihak, baik berupa harta benda (properties), hak atau suatu tuntutan atas suatu aktiva, maupun jasa yang dimiliki.
16Asset merupakan modal, kekayaan atau semua harta yang bergerak maupun tidak bergerak, baik dalam bentuk berwujud maupun tidak berwujud.
1714
Dr. Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), 254-258.
15
Meity Taqdir Qodratullah dkk, Kamus Bahasa Indonesia Untuk Pelajar, (Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2011), 559-560.
16
Edilius, S.E, Drs. Sudarsono, S.H, Kamus Ekonomi Uang dan Bank, (Jakarta: PT RINEKA CIPTA, 1994), 19
17
Prof. Dr. Sri Rejeki Hartono, S.H, Pramita Prananing Tyas, S.H, dan Fahimah, S.Sos, Kamus Hukum
Ekonomi, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2010), 14.
Dalam PSAK No 16 Revisi Tahun 2011 disebutkan bahwa asset merupakan semua kekayaan yang dimiliki oleh seseorang atau perusahaan baik berwujud maupun tidak berwujud yang berharga atau bernilai yang akan mendatangkan manfaat bagi seseorang atau perusahaan tersebut. Manfaat ekonomi masa depan yang terwujud dalam asset adalah potensi dari asset tersebut untuk memberikan sumbangan, baik langsung maupun tidak langsung, arus kas dan setara kas kepada perusahaan.
Dari definisi di atas dapat ditarik karakteristik dari asset, yaitu : a. Asset merupakan manfaat ekonomi yang diperoleh di masa depan.
b. Asset dikuasai oleh perusahaan, dalam artian dikendalikan oleh perusahaan.
c. Asset merupakan hasil dari transaksi atau peristiwa masa lalu.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa peningkatan asset adalah suatu proses atau cara untuk menambah harta kekayaan atau modal yang dimiliki, dikuasai dan dimanfaatkan oleh seseorang atau perusahaan tersebut. Asset ini bisa dimanfaatkan dimasa depan oleh seseorang atau perusahaan yang berpotensi untuk memberikan manfaat kepada seseorang atau perusahaan tersebut.
2. Aset
Manajemen aktiva dan pasiva yang disebut pula dengan Assets and Liability Management (ALMA) sudah dapat dipastikan ada pada setiap bank. Kedua neraca ini, yaitu sisi pasiva yang menggambarkan sumber dana dan sisi aktiva yang menggambarkan penggunaan (alokasi) dan harus dikelola secara efisien, efektif, produktif, dan seoptimal mungkin karena merupakan bisnis utama bagi setiap bank.
Dalam pelaksanaannya, untuk menetapkan suatu kebijakan, ALMA membutuhkan informasi yang cukup dan hasil analisis yang tepat. Informasi yang diperlukan terdiri dari data eksternal dan internal.
ALMA ini berfungsi memberikan rekomendasi pada manajemen bank agar
dapat meminimalkan resiko yang dihadapi dan mengoptimalkan keuntungan serta
tetap berada koridor sesuai ketentuan yang berlaku. Dengan demikian, ALMA yang
kuat dan berkualitas akan memberikan landasan kuat dan jelas dalam menetapkan
strategi bisnis bank. Melalui ALMA ini diharapkan:
a. Adanya penetapan kebijakan bisnis yang jelas, terarah, dan terukur.
b. Adanya arah dan tujuan yang jelas bagi manajemen dalam proses pelaksanaan tugas serta cara dalam menetapkan standar-standar operasioanal bank.
c. Diperolehnya data yang akurat serta menjamin bahwa data tersebut dapat menunjang keputusan ALMA.
d. Berkualitasnya analisis yang dilakukan dalam memberikan berbagai alternative strategi ALMA sebelum manajemen mengambil keputusan.
e. Memudahkan dalam manajemen likuiditas sehingga dana dapat dikelola dengan baik pada suatu tingkat suku bunga tertentu agar senantiasa dapat memenuhi kewajiban dan dapat memanfaatkan setiap peluang yang ada.
18Asset tetap (fixed assets) disebut juga property, plant and Equipment. Asset tetap adalah asset berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dengan dibangun lebih dahulu, yang digunakan dalam operasi perusahaan, tidak dimaksudkan untuk dijual dalam kegiatan normal perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun.
Asset tetap adalah asset berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk disewakan ke pihak lain, atau untuk tujuan administrative dan diharapkan akan digunakan lebih dari satu periode.
Beberapa sifat atau ciri asset tetap adalah, sebagai berikut:
a. Tujuan dari pembeliaanya bakan untuk dijual kembali atau diperjualbelikan sebagai barang dagangan, tetapi untuk dipergunakan dalam kegiatan operasi perusahaan.
b. Mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun.
c. Jumlahnya cukup material.
18
Prof. Dr. H. Veithzal Rivai, S.E., M.M., M.B.A dkk, Comercial Bank Management, (Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, 2012), 131.
Fixed assets atau Aset Tetap bisa dibedakan menjadi :
1. Fixed tangible assets (asset tetap yang mempunyai wujud/bentuk, bisa dilihat, bisa diraba.
Yang termasuk Fixed Tangible Assets misalnya :
a. Tanah (Land) yang di atasnya dibangun gedung kantor, pabrik atau rumah.
tanah bisa dimiliki dalam bentuk hak milik, hak guna bangunan yang mempunyai jangka waktu 20-30 tahun, hak guna usaha dan hak pakai.
b. Gedung (Building) termasuk pagar, lapangan parkir, taman, mesin-mesin (Mechinery), peralatan (Equipment), Funtiture dan Fixtures (meja, kursi), Delivery Equipment/Vehicles (mobil, motor, kapal laut, pesawat terbang).
c. Sumber alam (Natural Resources), seperti pertambangan minyak, batu bara, emas, marmer dan hak pengusahaan hutan (HPH).
2. Fixed Intangible assets (asset tetap yang tidak mempunyai wujud/bentuk, sehingga tidak bisa dilihat dan tidak bisa diraba).
Hak paten, hak cipta, franchise, goodwill, preoperating expenses (biaya-biaya yang dikeluarkan sebelum perusahaan berproduksi secara komersial, termasuk biaya pendirian). Contoh dari franchise misalnya Kentucky Fried Chicken, humberger, Mc. Donald dll. Dalam hal ini pengusaha yang ingin menjual makanan dan minuman tersebut harus menandatangani kontrak dengan pemilik franchise agar bisa menjual makanan/minuman dengan rasa, bentuk, gaya, dekorasi yang khusus untuk jenis makanan tersebut, tentu saja dengan membayar royalty.
19Didalam buku Mudrajad Kuncoro, lebih simple dalam menerangkan asset, diantaranya yaitu :
a. Asset yang terlihat (tangible asset) adalah asset yang paling mudah diidentifikasi dan sering ditemukan pada neraca suatu perusahaan. Yang termasuk ke dalam asset ini diantaranya adalah fasilitas produksi, bahan mentah, sumber daya financial, asset real, dan computer.
19
Sukrisno Agoes, Auditing edisi 4 buku, (Jakarta: Salemba Empat, 2012), 270-271.
b. Asset tak terlihat (intangible asset) merupakan asset yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang atau disentuh. Yang mencakup dalam asset jenis ini misalnya adalah merek, reputasi, moral organisasi, pengetahuan teknis, hak paten, merek dagang, dan akumulasi pengalaman dari suatu perusahaan.
20E. Analisis SWOT 1. Pengertian SWOT
SWOT adalah singkatan dari strengths (kekuatan), weaknesses (kelemahan), opportunities (peluang), dan threats (ancaman), dimana SWOT ini dijadikan suatu model dalam menganalisis suatu organisasi yang berorientasi profit dan non profit dengan tujuan utama untuk mengetahui keadaan organisasi tersebut secara lebih komprehensif.
21Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai factor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats).
Proses pengambilan keputusan strategi selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan strategi, dan kebijakan perusahaan. Dengan demikian, perencanaan strategi (strategic planner) harus menganalisis factor-faktor strategis perusahaan (kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini.
222. Factor-faktor Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman
Factor-faktor Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman, antara lain :
23a. Factor-faktor kekuatan. Yang dimaksud dengan factor-faktor kekuatan yang dimiliki oleh suatu perusahaan termasuk satuan-satuan bisnis di dalamnya adalah antara lain kompetensi khusus yang terdapat dalam organisasi yang berakibat pada kepemilikan keungulan komperatif oleh unit usaha di pasaran. Karena suatu bisnis memiliki sumber keterampilan, produk andalan dan sebagainya yang
20
Mudrajad Kuncoro, Ph.D, Strategi, (Jakarta: Erlangga, 2005), 39
21
Irham Fahmi, Manajemen Strategis, (Bandung : Alfabeta, 2013), 252.
22
Freddy Rangkuti, Analisis SWOT, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1997), 19-20.
23
Sondang Siagian, Manajemen Strategik. (Jakarta : Bumi Aksara, 2011), 172.
membuatnya lebih kuat dari para pesaing dalam memuaskan kebutuhan pasar yang sudah direncanakan akan dilayani oleh satuan usaha yang di lakukan.
b. Factor-faktor kelemahan. Yakni keterbatasan atau kekurangan dalam hal sumber, keterampilan dan kemampuan yang menjadi penghalang serius bagi penampilan kinerja organisasi yang memuaskan. Dalam praktik, berbagai keterbatasan dan kekurangan kemampuan tersebut bisa dilihat pada sarana dan prasarana yang dimiliki atau tidak dimiliki, kemampuan manajerial yang rendah, keterampilan pemasaran yang tidak sesuai dengan tuntutan pasar, produk yang kurang diminati oleh para pengguna atau calon pengguna dan tingkat prolehan yang kurang memadai.
c. Factor-faktor peluang. Definisi sederhana tentang peluang ialah berbagai situasi lingkungan yang menguntungkan bagi suatu satuan bisnis, yang dimaksud dengan berbagai situasi antara lain:
1) Kecenderungan penting yang terjadi di kalangan pengguna produk.
2) Identifikasi suatu segmen pasar yang belum mendapat perhatian.
3) Perubahan dalam kondisi persaingan.
4) Perubahan dalam peraturan perundang-undangan yang membuka berbagai kesempatan baru dalam kegiatan berusaha.
5) Berhubungan dengan para pembeli yang “akrab”.
6) Berhubungan dengan pemasok yang “harmonis”.
d. Factor ancaman. Pengertian ancaman merupakan kebalikan pengertian peluang.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ancaman adalah factor-faktor lingkungan yang tidak menguntungkan suatu satuan bisnis. Jika tidak segera diatasi ancaman akan menjadi “ganjalan” bagi satuan bisnis yang bersangkutan baik untuk masa sekarang maupun di masa depan.
2424