• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH INDEPEDENSI, KOMITMEN PROFESI, DAN ETIKA PROFESI TERHADAP KINERJA AUDITOR EKSTERNAL (studi kasus pada BPK RI Perwakilan Provinsi Bali)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH INDEPEDENSI, KOMITMEN PROFESI, DAN ETIKA PROFESI TERHADAP KINERJA AUDITOR EKSTERNAL (studi kasus pada BPK RI Perwakilan Provinsi Bali)"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH INDEPEDENSI, KOMITMEN PROFESI, DAN ETIKA PROFESI TERHADAP KINERJA AUDITOR EKSTERNAL

(studi kasus pada BPK RI Perwakilan Provinsi Bali)

1Komang Rachma Aryani

1Nyoman Trisna Herawati,SE,M.Pd,Ak, 2I Ni Kadek Sinarwati, S.E.,M.Si.,Ak

Jurusan Akuntansi Program S1 Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja,Indonesia

e-mail:

[email protected]

[email protected], [email protected]

Abstrak

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh indepedensi, komitmen profesi, dan etika profesi pada kinerja auditor Perwakilan BPK Provinsi Bali.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, karena data yang digunakan berbentuk angka-angka. Sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dan menghasilkan jumlah sebanyak 55 responden. Analisis data yang di gunakan adalah uji instrumen yang terdiri dari uji validitas dan uji reliabilitas. Uji asumsi klasik terdiri dari uji normalitas, uji multikolinieritas, dan uji heterokrdastisitas. Analisis regresi linear berganda bertujuan untuk mencari pengaruh indepedensi(X1), komitmen profesi(X2), dan etika profesi(X3) terhadap kinerja auditor (Y) yang terdiri dari uji koefesien determinasi (R2), uji F, dan uji t.

Hasil penelitian ini dengan menggunakan metode analisis regresi linear berganda menunjukan bahwa variabel indepedensi, komitmen profesi, dan etika profesi berpengaruh positif terhadap kinerja auditor. Hasil uji F (F test) menunjukkan bahwa nilai F hitung sebesar 75,077 dengan p value 0,000 yang lebih kecil dari α = 0,05, ini berarti model yang digunakan pada penelitian ini adalah layak. Hasil ini memberikan makna bahwa ketiga variabel independen mampu memprediksi atau menjelaskan fenomena kinerja auditor Perwakilan BPK Provinsi Bali.

Kata Kunci: Kinerja Auditor, Indepedensi, Komitmen Profesi, dan Etika Profesi

Abstract

This study was aimed at finding out the effect of independency, professional commitment, and professional ethics on performance of auditor BPK RI Bali provincial representative. This study used quantitative approach, since the data used were numbers.

The sample was selected by purposive sampling technique which resulted in 55 respondents. The data were analyzed using instrument testing comprising validity testing and reliability testing. Classical assumption testing consisted of normality testing, multicolinearity testing, and heterocdasticity testing. Multiple regression analysis was used to find out the effect of independency (X1), professional commitment (X2) and professional ethics (X3) on auditor’s performance (Y) comprising determination coefficient (R2), F-test, and t-test.

The results of multiple regression analysis showed that the variables of independency, professional commitment, and professional ethics have positive effect on auditor’s performance. The result of F-test showed that observed F value is 75.077 at p

(2)

value 0.000 or smaller than α = 0.05. This means that the model used in this study is usable. This result implies that the three independent variables can predict or explain the phenomenon of performance of auditor BPK RI Bali provincial representative.

Keywords: Auditor’s Performance, Independency, Professional Commitment, and Professional Ethics.

PENDAHULUAN

Semakin meluasnya kebutuhan jasa profesional akuntan publik sebagai pihak yang dianggap independen, menuntut profesi akuntan publik untuk meningkatkan kinerjanya agar dapat menghasilkan produk audit yang dapat diandalkan bagi pihak yang membutuhkan (Herawaty dan Susanto:2008).

Dalam hal ini BPK RI (Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia) sebagai auditor eksternal sekaligus sebagai pemeriksa keuangan negara dituntut kemampuannya untuk mempertimbangkan profesionalisme dalam pelaksanaan audit.

Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) adalah lembaga tinggi Negara dalam system ketatanegaraan Indonesia yang memiliki wewenang memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan Negara. Menurut UUD 1945, BPK RI merupakan lembaga yang bebas dan mandiri serta dipercaya untuk dapan mewujudkan good corporate & good governance dengan tugas memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan Negara yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Lembaga Negara lainnya, Bank Indonesia, Badan Usaha Milik Daerah, dan Lembaga atas Badan lain yang mengelola keuangan BPK RI.

Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) Perwakilan Provonsi Bali merupakan perwakilan BPK RI yang memiliki kewenangan untuk melakukan control terhadap pengelolaan keuangan Pemerintah di Provinsi Bali. Hal ini merupakan salah satu upaya untuk melakukan pegawasan terhadap pengelolaan keuangan Negara dan audit yang dilakukan dengan maksud untukmengetahui apakah pengelolaannya telah memenuhi aspek ekonomi, efisiensi, dan efektivitas.

Dengan munculnya kasus KKN (korupsi, kolusi, nepotisme), masryarakat

mulai mempertanyakan eksistensi dari BPK yang seharusnya sebagai lembaga independen mampu menjaga komitmennya untuk tidak terlibat dalam KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) dengan segala praktknya seperti penyalahgunaan wewenang, penyuapan, pemberian uang pelicin, pungutan liar, kesalahan prosedur, pemberian imbalan atas dasar kolusi dan nepotisme serta penggunaan uang Negara untuk kepentingan pribadi dan kelompok.

Oleh karenanya dengan tuntutan tersebut auditor BPK RI mulai meningkatkan kinerjanya. Hal ini dapat dilihat auditor yang mampu untuk menemukan dan melaporkan temuan-temuan yang merugikan Negara.

Auditor yang mempunyai

profesionalisme yang tinggi dan didukung oleh komitmen organisasi yang baik akan berdampak pada kinerja auditor yang baik pula dalam melakukan pekerjaannya. Di dalam SPAP (Standar Profesional Akuntan Publik) menyatakan persyaratan profesional yang dituntut dari auditor independen adalah orang yang memiliki pendidikan dan pengalaman berpraktik sebagai auditor independen (IAI KAP, 2001:110.2).

Persyaratan profesionalisme juga diatur dalam peraturan BPK RI No.1 Tahun 2007 tentang SPKN (Standar Pemeriksaan Keuangan Negara).

Pada dasarnya komitmen organisasi merupakan suatu hubungan antara anggota dengan organisasi, misalnya hubungan antara auditor dengan kantor dimana ia bekerja. Hubungan yang baik akan timbul apabila auditor memiliki kesetiaan dan mampu mengidentifikasi dirinya terhadap organisasi. Komitmen organisasi dipengaruhi juga oleh profesionalisme auditor dan juga berdampak pada kinerja auditor. BPK-RI sebagai auditor mempunyai peran yang sangat penting dalam pemeriksaan pengelolaan Keuangan Negara sesuai

(3)

dengan amanat UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Oleh karena itu, fungsi, kontribusi, dan perannya sangat diharapkan oleh masyarakat untuk dapat terciptanya tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). BPK-RI sebagai auditor harus bersikap objektif terhadap semua kegiatan yang diperiksanya dan bertindak secara independen. Untuk dapat bersikap objektif, maka seorang auditor harus dapat bersikap profesional dalam menjalankan pemeriksaannya. Pemeriksaan yang dilakukan oleh auditor BPK-RI meliputi tiga jenis pemeriksaan yaitu pemeriksaan keuangan, pemeriksaan kinerja dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu.

Kasus pelanggaran sikap independensi yang dilakukan akuntan publik Justinus Aditya Sidharta, dimana ia melakukan kesalahan dalam mengaudit laporan keuangan PT. Great River Internasional, Tbk memunculkan suatu paradigma dimana masalah tersebut memang tidak mampu dibaca oleh akuntan publik yang mengaudit laporan keuangan tersebut atau sebenarnya telah terbaca oleh auditor tersebut namun auditor tersebut sengaja memanipulasinya.

Apabila kenyataan akuntan publik ikut memanipulasi laporan keuangan tersebut, maka independensi auditor tersebut patut dipertanyakan kembali (Benny, 2010).

Kasus yang terjadi pada auditor di BUMN dimana komisaris PT Kereta Api mengungkapkan adanya suatu kebohongan atau manipulasi laporan keuangan BUMN tersebut di mana seharusnya perusahaan menerima kerugaian tetapi auditor melaporkan menerima keuntungan. Dari kasus tersebut dapat kita simpulkan, bahwa seorang akuntan publik sudah seharusnya menaati dan memegang secara teguh Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) (Irsan, 2011). Apabila seorang auditor tidak dapat menjalankan tugasnya sesuai dengan etika maka izin yang dimiliki auditor tersebut akan dicabut seperti yang terjadi terhadap Akuntan Publik Justinus Aditya Sidharta yang jelas - jelas telah melakukan pelanggaran terhadap SPAP berkaitan dengan Laporan

Audit atas Laporan Keuangan Konsolidasi dimana hal ini akan merusak nama baik dari akuntan publik tersebut dan kepercayaaan masyarakat terhadap akuntan publik tersebut tentu akan rusak.

Independensi memiliki arti bahwa seorang akuntan publik harus jujur tidak hanya terhadap manajemen dan pemilik perusahaan, tetapi terhadap kreditur dan pihak lain yang dimana mereka meletakkan keyakinan pekerjaan mereka pada akuntan publik (Christiawan, 2002). Bagi akuntan publik keharusan memelihara atau mempertahankan sikap mental yang independen dalam rangka memenuhi tanggungjawab profesionalnya bukanlah satu-satunya hal yang esensial akan tetapi kepercayaan para pemakai laporan keuangan terhadap independensi akuntan publik juga merupakan hal yang sangat penting (Winarna, 2005).

Selain itu menurut Swanger et al.

(2001) persaingan yang terjadi antar kantor akuntan publik telah menyebabkan stagnasi pendapatan audit, dalam upaya untuk mempertahankan pertumbuhan dan profitabilitas, perusahaan audit telah berusaha mencari alternatif sumber pendapatan dengan menawarkan berbagai jenis layanan profesional, ini tentunya dapat mengancam pada objektivitas dan independensi auditor yang telah mengalami kemunduran dari waktu ke waktu. Kinerja akuntan yang baik sangat penting bagi semua profesi yang ada agar tidak melakukan tindakan yang menyimpang dari hukum.

Salah satunya adalah profesi akuntan yang dituntut untuk berperilaku etis dan juga untuk menjadi Informasi Professional, yang tidak hanya bertindak sesuai dengan moral dan nilai-nilai yang berlaku akan tetapi juga menghasilkan “informasi” yang berguna bagi pengambil keputusan. Dalam hal ini akuntan publik harus dapat menunjukkan bahwa jasa audit yang diberikan adalah berkualitas dan dapat dipercaya, karena profesi akuntan publik memiliki peran yang dapat diandalkan, dipercaya, dan memenuhi kebutuhan

(4)

pengguna jasa akuntan publik dalam dunia usaha yang semakin kompetitif.

Akuntan publik akan mengaudit laporan keuangan yang diterbitkan oleh pemisahan untuk menentukan kewajarannya. Laporan keuangan yang telah diaudit ini akan menjadi dasar dalam pengambilan keputusan oleh berbagai pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan seperti, Bapepam, investor, bank, kreditor, pemerintah, karyawan, dan manajemen perusahaan itu sendiri. Informasi-informasi yang dihasilkan oleh akuntan publik akan berguna jika akuntan publik mampu mengendalikan mutu pemeriksaan, bertindak profesional, dan memberikan jasa yang terbaik bagi kliennya.

Oleh karena itu, akuntan publik harus menaati standar profesional, yaitu Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik, dan menghayati serta mengamalkan kode etik profesional dalam setiap penugasan audit atau jasa lainnya.

Dengan demikian, akuntan publik dapat memberikan jasa yang berkualitas, mendapat kepercayaan publik, dan dapat memenuhi komitmen profesionalnya. Agar akuntan publik dapat memenuhi tanggungjawab professional, serta dapat meningkatkan kinerja auditor tesebut agar klien dapat mempercayai dan puas terhadap hasil laporan audit tersebut. Sehingga akuntan publik tersebut bisa bersaing dalam persaingan ketat dalam era globalisasi, selain itu akuntan publik harus melakukan upaya untuk mempertahankan kualitas penugasan audit dengan meningkatkan profesionalisme kompartemen akuntan publik dalam kinerjanya.

Selain independensi dan komitmen profesi faktor yang berpengaruh terhadap kinerja auditor dalam penelitian ini adalah etika profesi. Menurut Ariyanto, dkk. (2010) etika profesi sangatlah dibutuhkan oleh masing-masing profesi untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat, seperti profesi auditor. Menurut Halim (2008:29) etika profesi meliputi suatu standar dari sikap para anggota profesi yang dirancang agar sedapat mungkin terlihat praktis dan realitis, namun tetap idealistis. Setiap auditor harus

mematuhi etika profesi mereka agar tidak menyimpangi aturan dalam menyelesaikan laporan keuangan kliennya.

Penerapan aturan etika sangatlah penting bagi para akuntan publik dalam menjalankan tugasnya karena etika profesi adalah pemikiran kritis dan mendasar tentang sesuatu hal yang berkaitan dengan bidang akuntan publik serta sangat di pengaruhi oleh pendidikan dan keahlian. Dengan keahlian yang diperoleh dari pendididkan belum cukup dikatakan suatu pekerjaan sebagai profesi, tetapi perlu penguasaan teori secara sistematis yang mendasari praktek dan penguasaan teknik intelektual yang merupakan hubungan antara teori dan penerapan dalam praktek. Sehingga dapat di harapkan prilaku moral yang lebih terbatas pada keaksahan pola etika terhadap profesi.

Jika seseorang akuntan publik memahami dan menerapkan etika profesi sebagai pedoman dalam menjalankan tugasnya maka kinerja yang dihasilkan akan lebih baik. Hal ini ditandai jika etika profesi mampu diterapkan oleh akuntan publik akan menimbulkan kepercayaan dan dapat menjaga hubungan yang baik antara akuntan publik dengan klien atau dengan sesama profesinya.

Berdasarkan latar belakang diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Pengaruh Independensi, Komitmen Profesi, dan Etika Profesi terhadap Kinerja Auditor Eksternal (Studi Kasus pada Audit Kinerja BPK RI Perwakilan Provinsi Bali)”

Manfaat dari hasil penelitian ini, yaitu:

Pertama, manfaat teoritis adalah penelitian ini diharapkan memberikan tambahan pengetahuan dan gambaran tentang faktor- faktor yang mempengaruhi kinerja auditor, serta dapat mengetahui hubungan teori auditing yang diperoleh di bangku kuliah dalam kondisi sebenarnya di lapangan.

Kedua, manfaat praktis adalah hasil penelitian ini diharapkan dapat dipakai sebagai gambaran dan bahan pertimbangan, serta masukkan di dalam melakukan analisis untuk meningkatkan kinerja auditor. Selain itu, hasil penelitian diharapkan dapat

(5)

memberikan kontribusi sebagai masukan untuk menambah wawasan tentang hasil penelitian yang berkaitan dengan faktor–

faktor yang mempengaruhi kinerja auditor untuk dijadikan rujukan hasil penelitian berikutnya.

METODE

Penelitian ini termasuk dalam penelitian pendekatan kuantitatif, karena data yang digunakan berbentuk angka-angka. Data yang di gunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer diperoleh dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuisioner) yang telah terstruktur dengan tujuan untuk mengumpulkan informasi dari auditor di kantor Perwakilan BPK Provinsi Bali.

Populasi dalam penelitian ini adalah auditor Kantor Perwakilan BPK Provinsi Bali.

Jumlah auditor yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah 55 orang responden.

Metode penentuan sampel yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah teknik purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono,2009:122). Kriteria penentuan sampel pada penelitian ini adalah auditor yang berstatus PNS, bersertifikasi Diklat Auditor Ahli/ Terampil dan sudah pernah melaksanakan tugas pemeriksaan lebih dari satu kali.

Kuesioner yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab (Sugiyono, 2009:199). Kuesioner dalam penelitian ini dibuat dalam bentuk skala likert.

Setiap pernyataan disediakan 5 (lima) alternatif jawaban, yaitu Setuju (S), dan Sangat Setuju (SS), Kurang Setuju (KS), Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak Setuju (STS)

Variabel merupakan segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2009:58). Variabel independen (bebas) merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat)

(Sugiyono, 2009:59). Variabel independen yang digunakan pada penelitian ini adalah 1) Indepedensi

2) Komitmen Profesi 3) Etika Profesi

Variabel dependen (terikat) merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel independen (Sugiyono, 2009:59). Variabel dependen pada penelitian ini adalah kinerja auditor pada Perwakilan BPK Provinsi Bali.

Analisis data yang di gunakan adalah uji instrumen yaitu alat pengukur kesungguhan responden dalam menjawab kuesioner untuk pengujian apakah instrumen dan data penelitian berupa jawaban responden telah dijawab dengan benar atau tidak yang terdiri dari uji validitas dan uji reliabilitas. Uji asumsi klasik yaitu hasil perhitungan yang dapat diinterpretasikan dengan akurat terdiri dari uji normalitas, uji multikolinieritas, dan uji heterokrdastisitas.

Analisis regresi linear berganda bertujuan untuk mencari pengaruh indepedensi (X1), komitmen profesi (X2), dan etika profesi (X3) terhadap kinerja auditor (Y). Model regresi linear berganda yang digunakan adalah dengan menggunakan rumus (Wirawan, 2002:292):

Y= µ +β0 1X1 + β2X2 + β3X3 Notasi:

Y = Kinerja auditor

β0 = Nilai intersep konstan β1–β3 = Koefisien regresi dari X1, X2,

dan X3

X1 = Indepedensi X2 = Komitmen Profesi X3 = Etika Profesi

µ =Variabel pengganggu

dan melakukan uji koefesien determinasi (R2), uji F, dan uji t.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari hasil pengiriman kuesioner kepada auditor di kantor Perwakilan BPK Provinsi Bali dapat di jelaskan koesioner yang disebar adalah 55 kuesioner, kuesioner tidak kembali adalah 9 kuesioner, kuesioner yang kembali adalah 49 kuesioner, kuesioner yang cacat adalah 3 kuesioner, sehingga

(6)

kuesioner yang di gunakan dalam penelitian ini adalah 46 kuesioner. Analisis data yang digunakan terdiri dari uji instrumen dan uji asumsi klasik. Uji instrumen terdiri dari

Uji Validitas

Pengujian ini dilakukan dengan Korelasi Pearson. Korelasi Pearson digunakan untuk mengetahui ada dan tidaknya hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat yang berskala interval. Apabila nilai koefisien r pearson correlation > 0,30 maka dapat disimpulkan bahwa item tersebut adalah valid. uji validitas data menunjukkan total koefisien korelasi berdasarkan nilai pearson correlation menunjukkan bahwa item instrumen variabel indepedensi nilainya antara 0,847 sampai 0,954. Instrumen variabel komitmen profesi nilai pearson correlation antara 0,802 sampai 0,944.

Instrumen variabel etika profesi nilai pearson correlation antara 0,809 sampai 0,953.

Instrumen variabel kinerja auditor nilai pearson correlation antara 0,802 sampai 0,945. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan seluruh item dalam instrumen penelitian ini valid sehingga dapat digunakan untuk pengolahan data selanjutnya, karena nilai koefisien korelasi diatas 0,30.

Uji Reabilitas

Uji ini menggunakan uji statistik Cronbach’s Alpha, dimana suatu item dikatakan reliabel jika nilai Cronbach’s Alpha lebih besar dari 0,60 (Ghozali, 2006:42).

Tabel 4.5 menyajikan hasil uji reliabilitas dengan Cronbach’s Alpha menunjukkan nilai masing-masing variabel yaitu: variabel indepedensi sebesar 0,982, variabel komitmen profesi sebesar 0,983, variable etika profesi sebesar 0,984, dan variabel kinerja auditor sebesar 0,985. Hasil tersebut menunjukkan bahwa semua instrumen variabel dalam penelitian ini berada pada tingkat yang diterima yaitu diatas 0,60. Ini berarti instrumen yang digunakan adalah reliabel.

Uji Asumsi Klasik

Sebelum analisis model regresi linear berganda digunakan, maka terlebih dahulu dilakukan pengujian asumsi klasik agar hasil perhitungan dapat diinterpretasikan dengan akurat. Uji asumsi klasik yang dilakukan terhadap penelitian meliputi

Uji normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah suatu data berdistribusi normal atau tidak. Penentuan normal atau tidaknya Tabel 1

Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Data

No. Variabel Validitas

(Pearson correlation)

Reliabilitas (Cronbach’s alpha)

1. Indepedensi (X1) 0,847-0,954 0,982

2. Komitmen Profesi (X2) 0,802-0,944 0,983

3. Etika Profesi (X3) 0,809-0,953 0,984

4. Kinerja auditor (Y) 0,802-0,945 0,985

(Sumber : Data Diolah, 2014)

distribusi data dapat dilakukan pengujian dengan menggunakan statistik Kolmogorov- Smirnov Test, yaitu membandingkan distribusi kumulatif relatif observasi dengan

distribusi kumulatif teorinya. Data populasi dikatakan berdistribusi normal jika nilai Asymp. Sig. (2-tailed) lebih besar dari 0,05.

(7)

Tabel 2

Hasil Uji Normalitas Berdasarkan Kolmogorov-Smirnov

(Sumber : Data Diolah, 2014)

Uji mulitikolinieritas

Uji multikolinearitas dimaksudkan untuk membuktikan atau menguji ada/tidaknya hubungan linear

(multikolinearitas) antara variabel bebas (independen) satu dengan variabel bebas yang lain. Hasil uji multikolinearitas ditunjukkan pada Tabel 4.

Tabel 3

Hasil Uji Multikolinearitas

No. Variabel Tolerance VIF

1. Indepedensi (X1) 0,677 1,478

2. Komitmen Profesi (X2) 0,686 1,458

3. Etika Profesi (X3) 0,677 1,477

(Sumber : Data Diolah, 2014)

Tabel 4 menunjukkan bahwa nilai tolerance untuk ketiga variabel bebas lebih besar dari 0,1 sedangkan VIF kurang dari 10.

Hal ini berarti bahwa tidak terdapat gejala multikolinearitas antar variabel independen dalam model regresi sehingga model tersebut layak digunakan untuk memprediksi.

Uji heterokedastisitas

Uji Heterokedastisitas dilakukan untuk mengetahui bahwa pada model regresi terjadi

ketidaksamaan varians. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya heterokedastisitas digunakan model Glejser, yaitu meregresi nilai absolut residual dari model terhadap variabel independen. Model regresi tidak mengandung adanya heterokedastisitas bila probabilitasnya diatas tingkat kepercayaan 5 persen. Hasil uji ditunjukkan pada tabel 5.

Berdasakan Tabel 5 menunjukkan dengan jelas bahwa seluruh variabel independen yang signifikansinya diatas 5 persen (0,05).

Hal ini berarti bahwa model regresi tidak mengandung adanya heterokedastisitas.

Unstandardized Residual N

Normal Parametersa,b Mean

Std. Deviation Most Extreme Absolute Differences Positive Negative Kolmogorov-Smirnov Z

Asymp. Sig. (2-tailed)

46 ,0000000 5,75369166 ,207 ,207 -,117 1,203 ,059

(8)

Tabel 4

Hasil Uji Heterokedastisitas

No. Variabel thitung Sig.

1. Indepedensi (X1) -1,535 0,132

2. Komitmen Profesi (X2) -0,346 0,731

3. Etika Profesi (X3) -2,001 0,059

(Sumber : Data Diolah, 2014)

Pengaruh indepedensi pada kinerja auditor

Dari hasil pengujian yang di tunjukan pada Tabel 2 dibawah uji t menunjukkan bahwa variabel indepedensi berpengaruh positif dan signifikan pada kinerja auditor. Hal ini terlihat dari nilai β = 0,577 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,001 yang berarti dibawah α = 0,05. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian Dodik Ariyanto (2010), Meifa Lauso (2013), dan Kompiang Martina Dinata Putri (2013) yang menyatakan bahwa indepedensi berpengaruh signifikan

pada kinerja auditor.

Independensi memiliki arti bahwa seorang akuntan publik harus jujur tidak hanya terhadap manajemen dan pemilik perusahaan, tetapi terhadap kreditur dan pihak lain yang dimana mereka meletakkan keyakinan pekerjaan mereka pada akuntan publik (Christiawan, 2002). Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa seorang akuntan publik harus jujur tidak hanya terhadap manajemen dan pemilik perusahaan, tetapi terhadap kreditur dan pihak lain yang dimana mereka meletakkan keyakinan pekerjaan mereka pada akuntan public. Hipotesis 1 yang menyatakan indepedensi berpengaruh positif pada kinerja

auditor, diterima.

Tabel 5

Hasil Regresi Linear Berganda

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T Sig.

B

Std.

Error Beta

(Constant) -3,175 5,063 -,627 ,534

Supervisi ,337 ,095 ,296 3,543 ,001

Profesionalisme ,506 ,075 ,565 6,715 ,000

Komunikasi dalam tim 1,196 ,423 ,232 2,829 ,007

R ,857a

R2 ,734

Adjusted R2 ,718

F hitung 44,199

Signifikansi F ,000a

(Sumber : Data Diolah, 2014)

Pengaruh komitmen profesi pada kinerja auditor

Dari hasil pengujian yang di tunjukan pada Tabel 2 diatas uji t menunjukan bahwa variabel komitmen profesi berpengaruh positif

dan signifikan pada kinerja auditor. Hal ini terlihat dari nilai β = 0,558 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000 yang berarti dibawah α = 0,05,.Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian Nurika

(9)

Restuningdiah (2009) yang menyatakan bahwa komitmen profesi berpengaruh positif dan signifikan pada kinerja auditor. Hipotesis 2 yang menyatakan komitmen profesi berpengaruh positif pada kinerja auditor, diterima.

Komitmen profesi auditor meliputi baik secara teknis maupun teoritis di bidang keilmuan dan keterampilan yang ada hubungan dengan tugas pemeriksaan.

Adanya keahlian dan kemampuan dalam melaksanakan pemeriksaan akan dapat mengetahui kekeliruan serta penyimpangan yang merupakan salah satu bagian kompetensi seorang auditor. Komitmen profesi seorang auditor sangat mendukung dalam melaksanakan dan menyelesaikan tugas-tugasnya. Auditor yang memiliki komitmen yang tinggi akan memberikan kontribusi yang dapat dipercaya oleh para pengambil keputusan.

Komitmen merupakan faktor yang berpengaruh positif terhadap kinerja, dipandang sebagai penggerak motivasi seseorang dalam bekerja. Pada bidang pekerjaan yang membutuhkan tingkat keahlian dan independensi tertentu seperti profesi akuntan publik, pada dasarnya diperlukan beberapa jenis komitmen yang kompatibel antara lain komitmen organisasional dan komitmen profesional untuk mendukung kinerja yang setinggi- tingginya.

Pengaruh etika profesi pada kinerja auditor

Dari hasil pengujian yang di tunjukan pada Tabel 1 diatas uji t menunjukkan bahwa variabel etika profesi berpengaruh positif dan signifikan pada kinerja auditor. Hal ini dilihat dari nilai β = 0,449 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,007 yang berarti dibawah α = 0,05. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian. Negari (2009), Meifa Lauso (2013), Hendri Saputro (2011), dan Kompiang Martina Dinata (2013), yang menyatakan bahwa etika profesi berpengaruh signifikan terhadap kinerja auditor. Hipotesis 3 yang menyatakan etika

profesi berpengaruh positif pada kinerja auditor, diterima.

Profesi akuntansi merupakan sebuah profesi yang menyediakan jasa atestasi maupun non atestasi kepada masyarakat dengan dibatasi kode etik yang ada. Etika dibutuhkan untuk bisa menghasilkan kinerja yang baik. Etika yang terjalin diantara anggota tim audit menjadi aktivitas yang sangat fundamental untuk mencapai hasil akhir audit. Para professional diharapkan memiliki kepatutan dalam berperilaku yang lebih tinggi dibandingkan dengan kebanyakan orang pada umumnya. Istilah professional berarti tanggung jawab untuk berperilaku lebih dari sekadar memenuhi tanggung jawab secara individu dan ketentuan dalam peraturan dan hukum di masyarakat. Seorang akuntan publik, sebagain seorang professional, harus menyadari adanya tanggung jawab pada publik, pada klien dan pada sesame rekan praktisi, termasuk perilaku yang terhormat, bahkan jika hal tersebut berarti harus melakukan pengorbanan atas kepentingan pribadi.

Pengaruh indepedensi, komitmen profesi, dan etika profesi pada kinerja auditor

Hasil pengujian yang di tunjukan Tabel 1 diatas juga di hasilkan uji F menunjukan bahwa variabel indepedensi, komitmen profesi, dan etika profsi berpengaruh positif dan signifikan pada kinerja auditor. Hal ini dilihat dari nilai F hitung sebesar 75,077 dengan p value 0,000 yang lebih kecil dari α = 0,05, ini berarti model yang digunakan pada penelitian ini adalah layak. Hasil ini memberikan makna bahwa ketiga variabel independen mampu memprediksi atau menjelaskan fenomena kinerja auditor Perwakilan BPK Provinsi Bali.

Penelitian ini juga menghasilkan nilai adjusted R2 = 0,832 yang mengandung pengertian bahwa 83,2 persen variabel kinerja auditor dapat dijelaskan oleh variabel indepedensi, komitmen profesi, dan etika profesi sedangkan sisanya 16,8 persen dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak masuk ke dalam model penelitian. Dilihat dari

(10)

Tabel 1 diatas, maka dapat diketahui persamaan regresi yang dihasilkan.

Y= -6,840 + 0,577 X1 + 0,558 X2 + 0,449 X3

Hasil pengujian secara parsial masing- masing variabel independen terhadap variabel dependen. Hipotesis 4 yang menyatakan indepedensi, komitmen profesi, dan etika profesi berpengaruh positif pada kinerja auditor, diterima.

Indepedensi memiliki arti bahwa seseorang akuntan publik harus jujur tidak hanya terhadap manajemen dan pemilik perusahaan, tetapi terhadap kreditur dan pihak lain yang dimana mereka meletakkan keyakinan pekerjaan mereka terhadap akuntan publik.

Komitmen Profesi telah menjadi salah satu unsur penting dalam dunia kerja. Salah satu faktor yang bisa mempengaruhi keberhasilan dan kinerja seseorang dalam pekerjaan adalah komitmen, selain profesionalisme dan kompetensi. Alasan yang mendasari diperlakukannya komitmen yang tinggi pada setiap profesi adalah kebutuhan akan kepercayaan publik terhadap kualitas jasa yang diberikan profesi terlepas dari yang dilakukan secara perorangan.

Etika profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejujuran, dan sebagainya) tertentu. Persyaratan utama dari suatu profesi adalah tuntunan kepmilikan keahlian tertentu yang unik. Dari profesi ini juga mendapatkan pembayaran sebagai timbal balik atas pekerjaan yang dilakukannya.

Berdasarkan hasil uji regresi linear berganda pada Tabel 1 diatas dapat dilihat bahwa semua koefisien variabel bebas bernilai positif yaitu X1, X2, X3, sebesar 0, 577, 0,558, 0,449. Hal ini berarti bahwa variabel indepedensi, komitmen profesi, dan etika profesi berpengaruh positif terhadap kinerja auditor.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa variabel-variabel yang berpengaruh positif dan signifikan pada

kinerja auditor Perwakilan BPK Provinsi Bali adalah variabel indepedensi, komitmen profesi, dan etika profesi. Simpulan tersebut dijabarkan sebagai berikut. Indepedensi terbukti berpengaruh positif dan signifikan pada kinerja auditor Perwakilan BPK Provinsi Bali, dilihat dari nilai β = 0,577 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,001 yang berarti dibawah α = 0,05.Hal ini berarti indepedensi yang tepat akan membantu auditor BPK dalam menilai dan mencapai hasil pemeriksaan sesuai standar. Komitmen profesi terbukti berpengaruh positif dan signifikan pada kinerja auditor Perwakilan BPK Provinsi Bali, dilihat dari nilai β = 0,558 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000 yang berarti dibawah α = 0,05. Hal ini berarti komitmen profesi yang tinggi akan membuat auditor BPK dapat dipercaya dan diandalkan untuk melaksanakan pekerjannya, sehingga dapat berjalan dengan lancar dan mendatangkan hasil yang diharapkan. Etika profesi terbukti berpengaruh positif dan signifikan pada kinerja auditor Perwakilan BPK Provinsi Bali, dilihat dari nilai β = 0,449 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,007 yang berarti dibawah α = 0,05. Hal ini berarti etika profesi akan menghasilkan kinerja yang baik dan etika yang terjalin diantara anggota tim audit menjadi aktivitas yang sangat fundamental untuk mencapaik hasil akhir audit.

Saran

Berdasarkan simpulan tersebut di atas maka dapat diajukan saran sebagai berikut.

Indepedensi, komitmen profesi, dan etika profesi sebaiknya dapat dipertahankan dan lebih ditingkatkan kualitas serta kuantitasnya di Perwakilan BPK Provinsi Bali guna meningkatkan kinerja auditor. Peningkatan kinerja auditor di Perwakilan BPK Provinsi Bali ini sangat diperlukan untuk pencapaian tujuan.Keterbatasan dari penelitian ini yaitu penelitian ini hanya mengambil obyek yang terbatas yaitu pada Perwakilan BPK Provinsi Bali. Diharapkan penelitian selanjutnya dapat melakukan penelitian dengan menggunakan variabel yang sama namun pada obyek

(11)

penelitian yang berbeda, misalnya pada Perwakilan BPK di luar Provinsi Bali, sehingga dapat diperbandingkan output yang dihasilkan, yaitu mengenai pengaruh variabel indepedensi, komitmen profesi, dan etika profesi pada kinerja auditor Perwakilan BPK di luar Provinsi Bali dengan auditor Perwakilan BPK Provinsi Bali.

DAFTAR PUSTAKA

Ariyanto, Dodik. 2010. Pengaruh Independensi, Kompetensi, dan Sensitivitas Etika Profesi terhadap Produktivitas Kerja Auditor Eksternal (Studi Kasus pada Auditor Perwakilan BPK RI Provinsi Bali).

Ariyanto, Dodik dan Ardani Mutia Jati. 2010.

Pengaruh Independensi, Kompetensi, dan Sensitivitas Etika Profesi Terhadap Produktivitas Kerja Auditor Eksternal (Studi Kasus Pada Auditor Perwakilan BPK RI Provinsi Bali). Jurnal Akuntansi dan BisnisVolume 5 (2).h:157-168.

Ghozali, Imam. 2006. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS.

Edisi ke-2. Semarang: Universitas Diponogoro.

Halim, Abdul. 2003. Auditing 1. Dasar – dasar Audit Laporan Keuangan. Edisi Ketiga.

Yogyakarta: UPP AMP YKPN.

Herawaty dan Susanto. 2009. Pengaruh Profesionalisme, Pengetahuan Mendeteksi Kekeliruan, dan Etika Profesi terhadap Pertimbangan Tingkat Materialitas Akuntan Publik . Jurnal Akuntansi Dan Keuangan. Vol. 11, No. 1:

13-20.

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). 2001.

Standar Profesional Akuntan Publik.

Jakarta: Salemba Empat.

Ikhsan, Arfan. 2008. Metodologi Penelitian Akuntansi Keperilakuan. Yogyakarta:

Graha Ilmu.

Lauso, Meifa. 2013. Pengaruh Keahlian, Independensi, dan Etika terhadap Kualitas Audit Inspektorat di Provinsi Gorontalo.

Negari, Purnawinati. 2009. Pengaruh Budaya Organisasi, Komunikasi dan Stres Kerja terhadap Kinerja Frontliner pada PT.

Telkomsel Bali. Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Udayana.

Sugiyono. 2009. Metodologi Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta.

Wirawan, Nata. 2002. Cara Mudah Memahami Statistik 2 ( Statistik Inferensia) Untuk Ekonomi dan Bisnis.

Edisi ke-2. Denpasar: Keraras Emas.

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karenananya berdasarkan dua penilaian yang telah dilakukan, fungsi Lasem sebagai pusat pelayanan komersil dan pribadi dalam sektor informal pada tahun 2000

Dalam proses produksi CPO dan kernel akan dihasilkan limbah. Limbah tersebut terdiri dari: 1) Limbah padat yang berupa jajang kosong, serabut, dan cangkang buah kelapa sawit

Hasil peneliitian ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Esni (2005), tentang faktor stres orang tua selama perawatan anak di rumah sakit, didapatkan hasil

Dalam penelitian ini ditemukan empat tema, antara lain pengenalan menyusui sejak dini untuk bayi BBLR, pemberian MPASI dini sebagai alternatif dalam meng- atasi kesulitan

Strategi komunikasi CSR ya, berdasarkan empat tadi, secara praktikal aja, jadi jika ikut kejuaraan itu kan pasti sudah di tahap monitoring, saat melihat atlit yang sudah dilatih

Berdasarkan permasalahan tersebut di atas, maka rumusan masalah pada penelitian in, yang secara spesifik dapat dirumuskan sebagai berikut: (1) Bagaimanakah pemahaman

Istilah lain menyebutkan bahwa pesan adalah apa yang harus sampai dari sumber ke penerima, bila sumber bermaksud mempengaruhi penerima (Jalaluddin Rakhmat, 2000:

17 KARUNIA DWI ASMARA P Nilai budaya politik; Pengertian budaya politik menurut para ahli; Obyek budaya politik menurut para ahli; Budaya demokrasi berkembangnya demokrasi;