DINAS PERHUBUNGAN
PROVINSI DAERAH ISTIMEWA
YOGYAKARTA
Jl. Babarsari No.30 Yogyakarta (55821)
LAPORAN KINERJA INSTANSI
PEMERINTAH
Ikhtisar Eksekutif
Capaian kinerja Dinas Perhubungan DIY tahun 2020 dalam mewujudkan sasaran strategis dapat digambarkan sebagai berikut:
Capaian sasaran strategis “Meningkatnya Pelayanan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan”: - Diukur dengan indikator Kinerja Penyediaan Layanan Angkutan Umum dan
Tingkat Pelayanan Jalan.
- Capaian indikator dimaksud didukung oleh kinerja 4 (empat) Program, yakni Program Peningkatan Pelayanan Angkutan, Program Pengembangan Keselamatan Transportasi, Program Pengembangan Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas, dan Program Pengembangan dan Pengelolaan Simpul Transportasi dan Perparkiran.
- Target capaian indikator sasaran tahun 2020 sebesar 45,54%; sampai dengan bulan Desember 2020 terealisir 49,42%. Dengan demikinan capaian ini telah melampaui target. Prosentase realisasi terhadap target (capaian dibagi target dikalikan 100%) mencapai 108,52%.
- Dibandingkan dengan capaian target tahun 2019 sebesar 45,27% terjadi peningkatan sebesar 4,15%
Terhadap capaian kinerja sebagaimana tersebut di atas terdapat beberapa tantangan yang perlu menjadi perhatian bagi Dinas Perhubungan DIY ke depan, sebagai berikut:
1. Pada masa pendemi akibat wabah Covid-19, volume kendaraan di jalan raya mengalami penurunan sebagai akibat menurunnya aktivitas dan kegiatan ekonomi masyarakat. Namun berangsur-angsur aktivitas masyarakat terus meningkat sehingga volume kendaraan juga mengalami peningkatan dan ditambah meningkatnya penggunaan sepeda kayuh sebagai alat transportasi yang memerlukan peningkatan keamanan dan keselamatan.;
2. Peningkatan kualitas angkutan umum yang harus berpedoman pada protocol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19;
3. Pelaksanaan program dan kegiatan di Dinas Perhubungan DIY secara lebih terintegrasi.
Daftar Isi
KATA PENGANTAR ... 2 IKHTISAR EKSEKUTIF ... 3 DAFTAR ISI ... 5 DAFTAR TABEL ... 6 DAFTAR GAMBAR ... 7 BAB I PENDAHULUAN ... 81.1 Cascading Kinerja sebagai Dasar Pembentukan Organisasi Perangkat Daerah ... 8
1.2 Mandat Kinerja, Peta Proses Bisnis dan Struktur Dinas Perhubungan DIY .. 10
1.3 Tugas, Fungsi dan Peta Jabatan ... 11
1.4 Isu-Isu Strategis ... 13
1.5 Dukungan SDM, Sarana-Prasarana dan Anggaran ... 28
1.6 Tindak Lanjut atas Laporan Hasil Evaluasi SAKIP 2020 ... 32
BAB II PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA ... 33
2.1 Tujuan Dan Sasaran ... 33
2.2 Tujuan, Sasaran, Strategi, dan Kebijakan ... 34
2.3 Struktur Program dan Kegiatan 2020 ... 35
2.4 Perjanjian Kinerja Tahun 2020 ... 38
2.5 Instrumen Pendukung Capaian Kinerja ... 39
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA ... 40
3.1 Capaian Kinerja Tahun 2020 ... 40
3.2 Evaluasi dan Analisis Ketercapaian Kinerja Tahun 2020 ... 41
3.3 Realisasi Anggaran ... 50
3.4 Inovasi ... 51
BAB IV PENUTUP ... 53
Daftar Tabel
Tabel I.1 Total Pergerakan Lalu Lintas Angkutan Udara Tahun 2020 di Terminal A Bandara
Adisucipto ... 17
Tabel I.2 Total Pergerakan Lalu Lintas Angkutan Udara Tahun 2020 di Terminal B Bandara Adisucipto ... 18
Tabel I.3 Jumlah Pegawai Menurut Kualifikasi Jabatan, Jenis Kelamin, dan Kompetensi di Dinas Perhubungan DIY ... 29
Tabel I.4 Jumlah Pegawai Menurut Klasifikasi Jabatan, Jenis Kelamin, dan Kompetensi di Balai Pengelolaan Terminal dan Perparkiran ... 30
Tabel I.5 Sarana-Prasarana ... 31
Tabel I.6 Perbandingan Anggaran Tahun 2019 dan 2020 ... 31
Tabel II.1 Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah Pelayanan Perangkat Daerah DIY, 2017-2022 ... 34
Tabel II.2 Tujuan, Sasaran, dan Kebijakan ... 34
Tabel II.3.1 Struktur Program dan Kegiatan terkait Langsung Pencapaian Sasaran Tahun 2020 ... 35
Tabel II.3.2 Struktur Program dan Kegiatan Pendukung Pencapaian Sasaran Tahun 2020 ... 37
Tabel II.4 Perjanjian Kinerja Kepala Dinas Perhubungan DIY Tahun 2020 ... 38
Tabel II.5 Perjanjian Kinerja Perubahan Kepala Dinas Perhubungan DIY Tahun 2020 ... 38
Tabel III.1 Skala Nilai Peringkat Kinerja ... 40
Tabel III.2 apaian Kinerja Tahun 2020 ... 41
Tabel III.3 Sasaran, Indikator, dan Meta Indikator ... 41
Tabel III.4 Rumusan Indikator dan Formulasi Perhitungan ... 43
Tabel III.5 Target dan Realisasi Kinerja Tahun 2020 ... 45
Daftar Gambar
Gambar I.1. Cascading Kinerja ... 9
Gambar I.2. Mandat Kinerja Peta Proses Bisnis dan Struktur Dinas Perhubungan DIY . 10 Gambar I.3. Tugas, Fungsi dan Peta Jabatan pada Organisasi Dinas Perhubungan DIY 11 Gambar I.4 Komposisi Modal Split ... 15
Gambar I.5 Pelayanan Angkutan Umum di Bandara YIA ... 21
Gambar I.6 Sarana Angkutan AKDP menuju Bandara YIA ... 21
Gambar I.7 Perkembangan Pembangunan Jalur Kereta Api Bandara YIA... 22
Gambar I.8 Pola Operasi Jalur Kereta Api Bandara YIA ... 23
Gambar I.9 Hubungan Antara Transportasi dengan Guna Lahan ... 28
BAB I
Pendahuluan
Penyusunan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) merupakan bentuk pertanggung-jawaban setiap instansi Pemerintah/Pemerintah Daerah yang menyusun Perjanjian Kinerja, atas penggunaan anggaran yang bersumber dari APBD dan/atau APBN. Dasar hukum penyusunan meliputi:
1. Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2. Peraturan Menteri PAN dan RB RI Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah
3. Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 94 Tahun 2016 tentang Pedoman Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.
Adapun tujuan penyusunan LKjIP sebagai berikut:
1. Memberikan informasi kinerja yang terukur kepada pemberi mandat atas kinerja yang telah dan seharusnya dicapai,
2. Sebagai upaya perbaikan berkesinambungan untuk meningkatkan kinerja instansi
1.1 Cascading Kinerja sebagai Dasar Pembentukan Organisasi Perangkat Daerah
Selaras dengan paradigma Organisasi Berbasis Kinerja (Performance Based
Organization) yang diterapkan Pemerintah Daerah DIY, setiap Organisasi Perangkat
Daerah (OPD) dibentuk untuk memberikan kontribusi pada pencapaian visi, misi, tujuan dan sasaran pembangunan sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 3 Tahun 2018 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah DIY tahun 2017 – 2022. Dinas Perhubungan DIY dibentuk dengan skema kinerja sebagai berikut:
Bab I berisi :
1. Cascading Kinerja 2. Mandat Kinerja, Proses
Bisnis dan Struktur Organisasi
3. Tugas, Fungsi dan Peta Jabatan
4. Isu-Isu Strategis 5. Dukungan SDM,
Sarana-Prasarana dan Anggaran 6. Tindak Lanjut atas Rekomendasi LHE SAKIP Tahun sebelumnya
Gambar I.1 Cascading Kinerja RENSTRA DINAS Program Pengembangan Pusat Pertumbuhan Indikator Program: Presentase
penyediaan sarana dan prasarana layanan transportasi pada system
jaringan jalan provinsi
1.2 Mandat Kinerja, Peta Proses Bisnis dan Struktur Dinas Perhubungan DIY
Hubungan antara mandat kinerja, peta proses bisnis dan desain struktur organisasi Dinas Perhubungan DIY sebagaimana tersaji dalam gambar berikut:
1.3 Tugas, Fungsi dan Peta Jabatan
Dalam upaya mewujudkan kinerja sebagaimana telah dimandatkan dalam RPJMD, Dinas Perhubungan DIY memiliki tugas dan fungsi yang kemudian menjadi dasar penempatan personil dalam jabatan sebagaimana gambar berikut:
Gambar I.3. Tugas, Fungsi dan Peta Jabatan pada Organisasi Dinas Perhubungan DIY
Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 64 Tahun 2018 Tanggal 3 Oktober 2018 Tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas, Fungsi, dan Tata Kerja Dinas Perhubungan menetapkan bahwa Dinas Perhubungan DIY mempunyai tugas melaksanakan urusan Pemerintah untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud Dinas Perhubungan DIY mempunyai fungsi:
1. penyusunan program kerja Dinas;
2. perumusan kebijakan teknis bidang angkutan, lalu lintas, keselamatan dan teknologi transportasi dan pengendalian operasional;
3. pelaksanaan kebijakan bidang angkutan, lalu lintas, keselamatan dan teknologi transportasi, dan pengendalian operasional;
4. pengembangan dan pengelolaan terminal dan perparkiran;
5. pemantauan, pengevaluasian, dan pelaporan pelaksanaan kebijakan bidang perhubungan; 6. pelaksanaan kegiatan kesekretariatan;
7. pelaksanaan dekonsentrasi dan tugas pembantuan; 8. pelaksanaan evaluasi dan pelaporan tugas Dinas; dan
Sesuai Pelaksanaan tugas fungsi Dinas Perhubungan dibagi habis ke dalam jabatan struktural dan jabatan pelaksana berdasarkan Peraturan Gubernur DIY Nomor 103 dan 104 tahun 2018 tentang Kualifikasi Jabatan Pelaksana dengan komposisi sebagai berikut: Balai Pengelolaan Terminal dan Perparkiran
Jabatan Struktural/ Fungsional
Jabatan Pelaksana
1. Kepala Balai Pengelolaan Terminal dan
Perparkiran
2. Kepala Subbagian Tata Usaha 3. Kepala Seksi Pengelolaan Terminal 4. Kepala Seksi Pengelolaan Perparkiran 5. Kepala Subbagian Umum
1. Verifikator Data Laporan Keuangan 2. Pengelola Barang Milik Negara 3. Penyusun Program Anggaran dan
Pelaporan 4. Pengadministrasi Keuangan 5. Pengelola Akuntansi 6. Pengelola Gaji 7. Bendahara 8. Pranata Kearsipan 9. Pengadministrasi Kepegawaian 10. Teknisi Sarana dan
11. Kepala Seksi Pengelolaan Terminal 1) Pengelola Retribusi Terminal 2) Pengelola Terminal 12. Kepala Seksi Pengelolaan
Perparkiran
1) Pengelola Perparkiran Sesuai Pelaksanaan tugas fungsi Dinas Perhubungan dibagi habis ke dalam jabatan struktural dan jabatan pelaksana berdasarkan Peraturan Gubernur DIY Nomor 103 dan 104 tahun 2018 tentang Kualifikasi Jabatan Pelaksana dengan komposisi sebagai berikut: Dinas Perhubungan DIY
Jabatan Struktural/ Fungsional
Jabatan Pelaksana
1. Kepala Dinas 2. Sekretaris
3. Kepala Subbagian Program 4. Kepala Subbagian Keuangan 5. Kepala Subbagian Umum 6. Kepala Bidang Angkutan 7. Kepala Seksi Angkutan
Dalam Trayek
8. Kepala Seksi Angkutan Tidak Dalam Trayek
9. Kepala Bidang Lalu Lintas 10. Kepala Seksi Manajemen
Lalu Lintas
11. Kepala Seksi Rekayasa lalu Lintas
12. Kepala Bidang Keselamatan dan Teknologi Transportasi 13. Kepala Seksi Keselamatan
Transportasi 14. Kepala Seksi Teknologi
Transportasi
15. Kepala Bidang Pengendalian Operasional
16. Kepala Seksi Pengendalian Operasional Lalu Lintas 17. Kepala Seksi Pengendalian
Operasional Angkutan
1. Seksi Angkutan Dalam Trayek : 1) Pengadministras Umum 2) Pengelola Sarana Angkutan 2. Seksi Angkutan Tidak Dalam
Trayek :
1) Pengelola Sarana Angkutan 3. Seksi Manajemen Lalu Lintas :
1) Pengadministrasi Umum 2) Analis Manajemen Lalu
Lintas
4. Seksi Rekayasa Lalu lintas : 1) Pengelola Rekayasa lalu
Lintas
5. Seksi Keselamatan Transportasi : 1) Pengadministrasi Umum 2) Pengawas Transportasi 6. Seksi Teknologi Transportasi :
1) Analis Pengembangan Sarana dab Prasarana 7. Seksi Pengendalian Operasional
lalu Lintas :
1) Pengadministrasi Umum 2) Pengawas Lalu Lintas Darat 8. Seksi Pengendalian Operasional
Angkutan :
1) Pengawas dan Pembina Angkutan
9. Subbagian Program : 1) Penyusun Program
Anggarandan Pelaporan 2) Pengelola Sistem dan
jaringan 10. Subbagian Keuangan : 1) Bendahara 2) Pengadministrasi Keuangan 3) Pengelola Gaji 4) Pengelola Akuntansi 5) Verifikator Data Laporan
keuangan 11. Subbagian Umum 1) Pengadministrasi umum 2) Pengadministras Persuratan 3) Pranata Kearsipan 4) Pengadministras Kepegawaian 5) Teknisi Sarana dan
Prasarana
6) Pengelola Barang Milik Negara
1.4 Isu-Isu Strategis
Eksistensi sebuah institusi bergantung sejauh mana institusi tersebut mampu menemukenali dan merespon isu strategis dengan berbagai kebijakan dan tindakan yang tepat. Secara umum isu strategis dapat bersumber dari lingkungan eksternal maupun lingkungan internal. Isu-isu strategis yang melingkupi Dinas Perhubungan DIY sebagai bagian dari Perangkat Daerah yang memiliki tujuan ”tersedianya layanan lalu lintas dan angkutan jalan yang aman, selamat, tertib, lancar dan terpadu dengan moda angkutan lain”, antara lain sebagai berikut:
1. Ketimpangan Wilayah.
Pembangunan merupakan sebuah proses yang direncanakan dalam rangka mencapai kondisi yang lebih baik dibandingkan keadaan sebelumnya yang antara lain meminimalkan kesenjangan (gap) antar wilayah dan antar golongan pendapatan. Namun demikian hasil akhir dari pembangunan tersebut sering kali dijumpai adanya ketimpangan antar wilayah. Hal ini dapat dan bahkan seringkali terjadi karena berbagai macam faktor yang antara lain disebabkan perbedaan kandungan sumberdaya alam dan perbedaan kondisi geografi yang terdapat pada masing – masing wilayah. Perbedaan tersebut menyebabkan kemampuan suatu daerah dalam mendorong proses pembangunan juga menjadi berbeda. Sehingga pada setiap daerah biasanya terdapat wilayah maju (development region) dan wilayah terbelakang (underdevelopment region). Terjadinya ketimpangan antar wilayah ini membawa implikasi terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat antar wilayah yang pada gilirannya juga akan memberikan implikasi terhadap formulasi kebijakan pembangunan wilayah yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah.
Berdasarkan data BPS, diketahui bahwa tingkat kesenjangan ekonomi antarkota dan kabupaten di DIY yang ditunjukan dengan nilai indeks wiliamson maupun ratio gini memiliki kecenderungan meningkat dan berada di bawah rata-rata nasional. Pada tahun 2011, Indeks Williamson sebesar 0,48 sedikit turun menjadi 0,47 di tahun 2015. Hal ini mengindikasikan bahwa kemajuan pembangunan antar kabupaten/kota di DIY masih terjadi kesenjangan. Kesenjangan di DIY tergolong kesenjangan ekonomi yang berkategori sedang. Penyebab kesenjangan ekonomi dan sosial di DIY adalah adanya perbedaan distribusi sumber daya di wilayah tersebut. Pembangunan infrastruktur umumnya lebih diutamakan untuk daerah dengan kepadatan penduduk tinggi.
Berbagai macam faktor yang menyebabkan peningkatan ketimpangan wilayah yangantara lain adalah kurang lancarnya mobilitas barang dan jasa. Mobilitas barang dan jasaini meliputi kegiatan perdagangan antar daerah, bila mobillitas tersebut kurang lancar maka kelebihan produksi atau daerah tidak dapat dijual kedaerah lain yang membutuhkan. Implikasinya adalah ketimpangan pembangunan antar wilayah akan cenderung tinggi karena kelebihan suatu daerah tidak dapat dimanfaatkan oleh daerah lain yang membutuhkan, sehingga daerah terbelakang sulit mendorong proses pembangunannya.
Upaya utuk mendorong kelancaran mobilitas barangdan faktor produksi antar daerah Rencana Induk Transportasi Daerah Istimewa Yogyakarta dapat dilakukan melalui penyebaran pembangunan prasarana dan sarana perhubungan keseluruh pelosok wilayah. Prasarana perhubungan yang dimaksudkan disini adalah fasilitas jalan, terminal dan pelabuhan laut guna mendorong proses perdagangan antar daerah. Selain itu pemerintah perlu pula mendorong berkembangnya sarana perhubungan seperti perusahaan angkutan antar daerah dan fasilitas telekomunikasi.
Sehingga berdasarkan fakta dan realitas yang ada, ketimpangan wilayah menjadi isu strategis dalam penyusunan Renstra Dinas Perhubungan DIY. Sasaran urusan perhubungan yaitu meningkatkan layanan publik, terutama pada penataan sistem transportasi dan akses masyarakat di pedesaan melalui strategi penyediaan sarana dan prasarana transportasi yang efektif, efisien, berteknologi tepat, rendah emisi dengan keselamatan tinggi yangdituangkan dalam RPJMD 2012-2017 masih cukup relevan untuk dilanjutkan pada kegiatan pembangunan daerah di lima tahun mendatang.
2. Transportasi Massal.
Transportasi merupakan upaya perpindahan dari suatu tempat ke tempat lain dengan menggunakan alat pengangkut, baik yang digerakan oleh tenaga manusia, hewan (kuda, sapi, kerbau), atau mesin, sehingga berdasarkan pemahaman tersebut dapat disimpulkan bahwa konsep transportasi adalah perjalanan (trip) antara daerah asal (origin) dan daerah tujuan (destination).
Gambar I.4 Komposisi Modal Split
Sumber : Dinas Perhubungan DIY, 2017
Masalah yang muncul dalam transportasi hanya sederhana yaitu terlalu besarnya kebutuhan akan pergerakan dibanding prasarana yang tersedia. cara untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan membangun prasarana sesuai kebutuhan, mengurangi pergerakan dan gabungan dari keduanya. Untuk mengurangi masalah transportasi yang ada di Indonesia yang pertama dilakukan ialah memperbaiki sarana transportasi massal yang ada. Jika pelayanan transportasi massal sudah baik maka orang akan beralih ke transportasi massal dari pada transportasi pribadi, dengan peralihan tersebut maka secara tidak langsung mengurangi pergerakan. Menurunnya pergerakan akan mengurangi kemacetan lalu lintas. Selain itu dapat membangun prasarana sesuai kebutuhan, membangun sesuai kebutuhan tidak berarti membangun lebih banyak jalan untuk moda transportasi, karena jika jalan semakin banyak tidak membuat masalah transportasi berkurang namun membuat semakin banyaknya kendaraan pribadi.
3. Yogyakarta International Airport (YIA)
Pembangunan Yogyakarta International Airport (YIA) di Temon, Kulon Progo dimulai pada tahun 2017 dengan upacara “Babat Alas Nawung Krida” pada hari Jum’at 27 Januari 2017 yang dihadiri Presiden Joko Widodo beserta jajarannya dan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X beserta jajarannya. Pembangunan New Yogyakarta International Airport di Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulonprogo, DIY dibangun di atas lahan seluas 587 hektar yang dibangun 2 tahap. Tahap 1 pembangunan bandara tersebut meliputi terminal dengan luas 130 ribu meter persegi, runway sepanjang 3.250 meter dengan lebar 60 meter, apron berkapasitas 35 pesawat, dengan estimasi mampu menampung 15 juta penumpang per tahunnya
1) Operasionalisasi Bandara YIA
Menurut data statistik, jumlah penumpang di Bandara Adisutjipto terus mengalami peningkatan secara signifikan dari waktu ke waktu. Proyeksi perhitungan layanan bandara di tahun 2035 nanti diperkirakan tidak akan mampu lagi memberi pelayanan jasa transportasi udara. Sementara untuk memperluas lahan, di Bandara Adisutjipto sudah tidak memungkinkan lagi karena sempitnya lokasi bandara, sehingga dibutuhkan pengembangan atau pemindahan.
Data jumlah pergerakan di Bandara Adisutjipto pada tahun 2020 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel I.1 Total Pergerakan Lalu Lintas Angkutan Udara Tahun 2020 pada Bandara Adisutjipto
Sumber : PT Angkasa Pura I Persero, 2020
ARR DEP JUMLAH ARR DEP JUMLAH ARR DEP JUMLAH ARR DEP JUMLAH
1 2.195 2.193 4.388 243.794 265.651 509.445 1.246.307 1.058.963 2.305.270 408.107 962.782 1.370.889 2 2.078 2.078 4.156 253.006 250.502 503.508 1.174.134 838.470 2.012.604 353.065 861.560 1.214.625 3 1.981 1.988 3.969 171.530 218.158 389.688 746.139 735.568 1.481.707 311.931 805.302 1.117.233 4 170 170 340 3.035 4.994 8.029 9.464 19.739 29.203 5.133 11.958 17.091 5 10 8 18 170 161 331 96 - 96 - - -6 23 23 46 473 323 796 2.548 1.756 4.304 64 30 94 7 60 60 120 1.775 1.183 2.958 5.480 5.593 11.073 1.026 2.168 3.194 8 125 125 250 4.500 4.034 8.534 4.500 4.027 8.527 306 86 392 9 92 95 187 3.458 3.330 6.788 12.636 13.353 25.989 577 169 746 10 124 123 247 4.834 4.625 9.459 18.437 21.132 39.569 742 463 1.205 11 160 159 319 5.775 6.134 11.909 22.070 28.145 50.215 721 1.047 1.768 12 155 156 311 4.501 4.427 8.928 16.796 22.013 38.809 829 108 937 TOTAL 7.173 7.178 14.351 696.851 763.522 1.460.373 3.258.607 2.748.759 6.007.366 1.082.501 2.645.673 3.728.174 DOMESTIK
BULAN PESAWAT PENUMPANG BAGASI KARGO
ARR DEP JUMLAH ARR DEP JUMLAH ARR DEP JUMLAH ARR DEP JUMLAH
1 125 125 250 17.520 16.988 34.508 186.747 143.747 330.494 16.129 114.871 131.000 2 110 111 221 12.818 12.705 25.523 131.919 111.638 243.557 14.968 88.421 103.389 3 68 68 136 6.179 6.179 12.358 66.275 53.264 119.539 16.484 49.040 65.524 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 10 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 11 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 TOTAL 303 304 607 36.517 35.872 72.389 384.941 308.649 693.590 47.581 252.332 299.913 INTERNASIONAL
Tabel I.2 Total Pergerakan Lalu Lintas Angkutan Udara Tahun 2020 Pada Bandara Yogyakarta International Airport
Sumber : PT Angkasa Pura I Persero, 2020
Seluruh penerbangan domestik dan internasional dari Bandar Udara (Bandara) Internasional Adiscipto Yogyakarta telah dipindahkan ke Yogyakarta International Airport (YIA) mulai 29 Maret 2020. Bandara Adisutjipto hanya akan melayani pesawat baling-baling dengan rute-rute pendek. Setelah Bandara Adisucipto resmi dialihkan pada 29 Maret
DTG BRK LOK DTG BRK DTG BRK TRS DTG BRK 1 234 235 0 14.875 19.498 0 64.589 119.717 0 0 0 2 145 144 0 11.634 9.341 0 42.750 52.196 0 0 0 3 220 220 0 11.721 24.463 0 43.548 119.723 0 17.302 42.664 4 557 553 0 27.669 45.639 0 123.917 204.410 0 188.329 592.422 5 64 61 0 2.496 1.213 0 14.116 6.519 0 16.086 195.285 6 361 362 0 26.448 22.358 0 121.793 102.917 0 134.312 508.636 7 523 520 0 49.346 37.163 0 216.959 176.124 0 133.494 556.122 8 609 616 0 63.229 55.890 0 289.002 270.294 0 124.332 635.190 9 562 563 2 53.043 46.051 0 248.291 252.894 0 131.197 626.737 10 627 627 0 63.597 51.878 0 290.552 301.856 0 128.671 660.980 11 917 920 6 79.392 81.155 0 375.219 488.474 0 129.561 671.186 12 1.064 1.063 0 105.114 92.346 0 490.009 567.544 0 149.219 822.574 Total 5.883 5.884 8 508.564 486.995 0 0 2.320.745 2.662.668 0 1.152.503 5.311.796 Domestic TRS BLN
PESAWAT PENUMPANG BAGASI (Kg) KARGO(Kg)
DTG BRK LOK DTG BRK DTG BRK TRS DTG BRK 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 1 1 0 0 0 0 0 0 0 21.068 0 6 2 2 0 0 0 0 0 0 0 43.136 0 7 2 2 0 157 62 0 3.129 728 0 0 0 8 5 5 0 285 39 0 5.989 566 0 16.338 435 9 3 3 0 197 9 0 4.687 150 0 0 3.067 10 5 5 0 266 41 0 5.320 506 0 0 4.648 11 4 3 0 0 5 0 0 0 0 21.808 0 12 1 1 0 88 1 0 1.767 20 0 0 655 Total 23 22 0 993 157 0 0 20.892 1.970 0 102.350 8.805 KARGO(Kg) TRS International
2020, Bandara Yogyakarta International Airport saat ini sudah mulai melayani aktivitas penerbangan sejumlah makaspai.
Di sisi lain, untuk menekan penyebaran COVID-19, Bandara Adisutjipto ditutup untuk penerbangan internasional sampai akhir Maret 2020 dan hanya melayani penerbangan khusus seperti penerbangan berpenumpang yang dikecualikan, yaitu penerbangan yang terkait pimpinan lembaga tinggi negara, tamu dan wakil kenegaraan serta perwakilan organisasi internasional. Pihak Angkasa Pura 1 Yogyakarta menyebut pemindahan aktivitas pelayanan dimaksudkan untuk mengoptimalkan peran YIA sebagai pintu masuk kawasan DIY dan Jawa Tengah bagian selatan.
YIA telah melayani 13 rute penerbangan domestik dari Yogyakarta ke Denpasar, Jakarta, Halim Perdanakusuma, Banjarmasin, Palembang, Samarinda, Makassar, Medan, Palangkaraya, Tarakan, Balikpapan, Batam, dan Pontianak serta melayani 18 rute internasional. Saat ini, YIA telah memiliki dua ruang tunggu Kereta Api (KA) Bandara yang terletak di Stasiun Tugu Yogyakarta dan Stasiun Wates. Ruang tunggu tersebut dilengkapi AC, charging station, dan toilet. Khusus di Stasiun Tugu Yogyakarta, tersedia pula fasilitas eksta layer bagasi berbayar yang dioperasikan Angkasa Pura Logistik.
Yogyakarta Internasional Airport memiliki terminal seluas 219.000 m2 yang mampu menampung 20 juta penumpang dan runaway seluas 146.250 m2. Selain itu YIA juga didukung oleh akses kendaraan baik bus mauoun kereta api yang memudahkan para penumpang.
2) Aksesibilitas Bandara YIA
A. Angkutan Umum Berbasis Darat (Angkutan Jalan)
Dalam rangka mendukung operasionalisasi Internasional Yogyakarta dan pengembangan Kawasan Strategis Pariisata Nasional, tim dari Dinas Perhubungan DIY melakukan kunjungan ke simpul dan pool operator yang mendapat penugasan untuk melaksanakan angkutan pendukung KSPN dan BIY. Terdapat update perkembangan jalur terbaru dari angkutan pendukung KSPN ini yaitu SCH – Jombor – BIY, Concat –
Hartono Mall – Gejayan – Colombo – Bunderan UGM – Panti Rapih – Tugu – Pingit – Samsat – Jalan Wates – Park & Ride Gamping – BIY, Inna Garuda – Kantor Pos – Pingit - Jombor – Borobudur, BIY – Ngeplang – Dekso – Kalibawang – Borobudur, BIY – Bedah Menoreh – Goa Kiskendo – samigaluh – Dekso – Mungkid – Borobudur.
Perubahan/penambahan jalur ini merupakan perkembangan dari jalur semula yang hanya mendukung KSPN Borobudur dan sekitarnya, kini bertambah tugas sebagai pendukung BIY terkait dengan mulai beroperasinya bandara ini. Kepada operator yang bersangkutan disarankan untuk segera mengurus legalitas perizinan yang sesuai peruntukan moda angkutan yang dijalankan. Perizinan ini sangat penting, mengingat mulai ada gejolak dari operator di DIY terkait adanya penggunaan kendaraan tanpa legalitas yang sah. Salah satu bukti yang sempat terekam adalah foto angkutan tersebut dengan menggunakan plat KB.
Kerjasama antar daerah dalam rangka operasionalisasi BIY dan pengembangan KSPN juga terus diintensifkan. Salah satunya adalah koordinasi dengan Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah. Koordinasi ini merupakan salah satu tindak lanjut terkati MoU antara Gubernur DIY dengan Gubernur Provinsi Jawa Tengah sebelum berlanjut menjadi Perjanjian Kerja Sama.
Gambar I.5. Pelayanan Angkutan Umum di Bandara YIA
Sumber : Laporan Kinerja Angkutan Tidak Dalam Trayek, 2020
Gambar I.6 Sarana Angkutan AKDP menuju Bandara YIA
.
Sumber : Laporan Kinerja Angkutan Tidak Dalam Trayek, 2020
B. Angkutan Umum Berbasis Rel (Kereta Api)
Pembangunan Jalur Kereta Api Kedundang – Bandara Yogyakarta International Airport untuk aksesibilitas Kawasan Strategis Pariwisata Nasional yang berlokasi di Kabupaten Kulon Progo dengan total nilai investasi sebesar Rp 1,1 Triliyun ditargetkan untuk beroperasi pada tahun 2021.
Pembangunan ini memberikan beberapa manfaat diantaranya memberikan peningkatan PDB bahwa Kereta Bandara YIA telah memberikan nilai manfaat sosial sebesar Rp. 3.5 Triliun dengan Economic IRR sebesar 44.96%.
Penyerapan tenaga kerja diperkirakan akan meningkat dikarenakan selama masa Konstruksi Kereta Bandara YIA diestimasi akan memberdayakan lapangan tenaga kerja secara langsung.
Pembangunan jalur Kereta Api Kedundang ini akan memberikan peningkatan efisiensi waktu tempuh yang signifikan yaitu Penghematan waktu tempuh Bandara YIA menuju Yogyakarta adalah menjadi 30 menit (45 menit KA dan 75 menit menggunakan kendaraan melalui jalan raya).
Gambar I.7 Rencana Pembangunan Jalur Kereta Api Bandara YIA
Gambar I.8 Pola Operasi Jalur Kereta Api Bandara YIA
Sumber : Laporan Kinerja Angkutan Tidak Dalam Trayek, 2020
4. Menyongsong Abad Samudera
Visi Gubernur DIY dalam lima tahun mendatang (2017- 2022) adalah “Menyongsong Abad Samudera Hindia untuk Kemuliaan Martabat Manusia Jogja” yang disampaikan dalam Sidang Paripurna DPRD DIY. Oleh karena itu maka sebagai arah kebijakan pembangunan daerah juga harus menjadi dasar perencanan yaitu memberikan fokus dan perhatian terhadap pembangunan Wilayah Bagian Selatan Yogyakarta.
Tema "Abad Samudera Hindia", secara tegas meneguhkan kembali sumbu imajiner Gunung Merapi - Laut Kidul, yang memiliki makna dan ajaran harmoni kosmos, dalam pegertian bahwa bentang ruang wilayah Yogyakarta mulai dari Puncak Gunung Merapi di Sleman sampai ke Bibir Pantai dan Lidah Air Laut Kidul, merupakan suatu kesatuan bentang ruang ekologis, yang harus diperlakukan secara utuh, ibaratnya sebagai satu sosok tubuh manusia yang memiliki kepala, badan, dan kaki. Dalam konsepsi kosmos seperti itu, maka perlakuan pembangunan di wilayah Sleman dan Kota Yogyakarta harus memiliki "tenggang ekologis" dengan wilayah Bantul, Gunungkidul dan Kulonprogo. Demikian pula sebaliknya, perlakuan pembangunan di wilayah Bantul, Gunungkidul dan Kulonprogo harus memiliki "rujuk ekologis" dengan wilayah Sleman dan Kota Yogyakarta. Untuk itulah, filosofi Hamemayu Hayuning Bawana, yang analog dengan konsep Sustainable
Development, sangat relevan dan sangat diperlukan untuk Hamemayu Hayuning
Ngayogyakarto Hadiningrat.
5. Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi DIY 2009-2029
Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) adalah hasil perencanaan tata ruang yang berisikan azas, tujuan, kebijakan pengembangan, strategi pengembangan, penetapan rencana struktur ruang wilayah, penetapan rencana pola ruang wilayah, pengelolaan dan penetapan kawasan strategis, arahan pemanfaatan ruang, serta pengendalian pemanfaatan ruang wilayah provinsi. Mengacu pada Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 2 Tahun 2010 tentangRencana Tata Ruang WilayahProvinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2009-2029, Rencana Struktur Ruang Wilayahterdiri atas Rencana Pengembangan Sistem Perkotaan dan Sistem Jaringan Prasarana Wilayah yang meliputi jaringan jalan, jaringan jalan kereta api, jaringan prasarana transportasi laut, jaringan prasarana transportasi udara, jaringan telematika, prasaranasumber daya air, jaringan energi, dan prasarana lingkungan.
1. Sistem Pusat Kegiatan
Arahan pengembangan sistem pusat kegiatan dalam sistem pelayanan Wilayah direncanakansebagai berikut :
a) Pusat Kegiatan Nasional (PKN) : Kawasan Perkotaan Yogyakarta (Aglomerasi PerkotaanYogyakarta), meliputi Kota Yogyakarta, Kecamatan Depok, sebagian Kecamatan Ngaglik, sebagian Kecamatan Mlati, sebagian Kecamatan Godean, sebagian Kecamatan Gamping,sebagian Kecamatan Ngemplak, sebagian Kecamatan Kasihan, sebagian Kecamatan Sewon,sebagian Kecamatan Banguntapan;
b) Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) : Kawasan Perkotaan Sleman, dan Kawasan Perkotaan Bantul;
c) Pusat Kegiatan Wilayah Promosi (PKWp) : Kawasan Perkotaan Temon - Wates dan Kawasan Perkotaan Wonosari;
d) Pusat Kegiatan Lokal (PKL) : (a) ibukota Kecamatan Galur; (b) ibukota Kecamatan Nanggulan; (c) ibukota Kecamatan Sentolo; (d) satuan Permukiman Dekso, Kecamatan Kalibawang; (e) ibukota Kecamatan Piyungan; (f) ibukota Kecamatan Kretek, (g) ibukota Kecamatan Imogiri, (h) ibukota Kecamatan Sedayu, (i) ibukota Kecamatan Srandakan, (j) ibukota Kecamatan Sanden; (k) ibukota Kecamatan Prambanan, (l) ibukota
Tempel; (o) ibukota Kecamatan Semin; (p) ibukota Kecamatan Playen; (q) ibukota Kecamatan Panggang: (r) satuan Permukiman Sambipitu, Kecamatan Pathuk; (s) ibukota Kecamatan Karangmojo; (t) ibukota Kecamatan Tepus; dan (u) ibukota Kecamatan Girisubo.
2. Sistem Jaringan Prasarana Wilayah
a) Rencana Pengembangan Jaringan Prasarana Transportasi Udara
Kebijakan pengembangan jaringan prasarana transportasi udara mendukung kebijakannasional mengenai peran bandara Adisutjipto sebagai Pusat Penyebaran Sekunder danpengembangan landasan TNI AU Gading sebagai landasan pendukung (auxilliary field).
b) Arahan pengembangan jaringan prasarana wilayah adalah sebagai berikut 1) Arahan pengembangan Jaringan Jalan direncanakan sebagai
berikut :
i). jalan bebas hambatan : Yogyakarta – Bawen, Yogyakarta - Solo, Yogyakarta – Cilacap;
ii). jalan arteri primer
iii). jalan kolektor primer : ruas jalan Yogyakarta – Semarang, Jalan Lingkar Yogyakarta,Yogyakarta – Surakarta, Yogyakarta – Cilacap; dan ruas jalan Yogyakarta, Wonosari,Ngeposari, Pacucak, Bedoyo, Duwet, Prambanan – Piyungan, Prambanan – Pakem, Pakem – Tempel, Klangon – Tempel, Sedayu – Pandak, Palbapang – Barongan, Sampakan–Singosaren, Ruas jalan Pantai Selatan (PANSELA), jalan Yogyakarta – Kaliurang, jalanYogyakarta – Parangtritis, Yogyakarta – Nanggulan (Kenteng),Sentolo – Nanggulan – Kalibawang, Dekso – Samigaluh, Dekso – Minggir – Jombor, Bantul – Srandakan – Toyan,Wonosari – Semin – Bulu, Wonosari – Nglipar, Semin – Blimbing, Pandanan – Candirejo, Sambipitu – Nglipar – Semin – Nglipar – Gedangsari, Wonosari – Baron – Tepus – Baran – Duwet, Sentolo – Pengasih – Sermo, Kembang – Tegalsari – Temon, Galur – Congot, Sentolo – Galur, Milir – Dayakan – Wates, Prambanan – Piyungan, Prambanan – Pakem – TempelKlangon, Palbapang –
Samas, Sampakan – Singosaren, Sedayu – Pandak, Palbapang – Barongan, Srandakan – Kretek, Yogyakarta – Pulowatu, Yogyakarta – Imogiri – Panggang,Panggang – Parangtritis, Playen – Paliyan – Panggang, Pandean – Playen, Gading – Gledak,Sumur – Tunggul – Sumuluh – Bedoyo.
2) Arahan pengembangan pada sistem jaringan jalan primer ditetapkan terminal penumpangsebagai berikut :
i). terminal tipe A di Kota Yogyakarta;
ii). terminal tipe A di Kabupaten Gunungkidul; iii). terminal tipe B di Kabupaten Sleman;
iv). terminal tipe A di Kabupaten Kulon Progo;dan v). terminal tipe B di Kabupaten Bantul.
3) Arahan pengembangan pada sistem jaringan jalan primer ditetapkan terminal barangsebagai berikut :
i). terminal barang Sedayu di Kabupaten Bantul untuk jangka pendek danSentolo di Kabupaten Kulon Progo untuk jangka panjang;dan
ii). sub terminal barang sebagai hub di Kota Yogyakarta, Kabupaten KulonProgo, Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul.
4) Arahan pengembangan pada jalan arteri/kolektor primer ditetapkan rest area di Tempeldan Kalasan Kabupaten Sleman, Temon Kabupaten Kulon Progo dan Bunder Kabupaten Gunungkidul.
5) Kebijakan pengembangan jaringan jalan kereta api dengan meningkatkan peran kereta api sebagai angkutan regional/wilayah melalui pengembangan poros utamatimur–barat, dan utara-selatan.
6) Arahan pengembangan jaringan prasarana transportasi laut denganmengoptimalkan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Sadeng di Kabupaten Gunungkidul, mengembangkan Pelabuhan Perikanan
Kabupaten Bantul sebagai pelabuhan perikanan dan pendukung wisata pantai.
6. Perubahan Sistem Guna Lahan dan Transportasi
Tata Guna Lahan (land use planning) adalah pengaturan penggunaan lahan. Dalamtata guna lahan dibicarakan bukan saja mengenai penggunaan permukaan bumi, tetapijuga mengenai penggunaan permukaan bumi dilautan. Tata guna lahan merupakan pengaturan pemanfaatan lahan pada lahan di suatu lingkup wilayah (baik tingkat nasional, regional, maupun lokal) untuk kegiatan tertentu.
Biasanya terdapat interaksi langsung antara jenis dan intensitas tata guna lahan denganpenawaran fasilitas-fasilitas transportasi yang tersedia. Salah satu tujuan utamaperencanaan tata guna lahan dan sistem transportasi adalah untuk menjamin adanyakeseimbangan yang efisien antara aktifitas tata guna lahan dengan kemampuan transportasi. Salah satu variabel yang bisa menyatakan bahwa ukuran tingkat kemudahan pencapaian suatu tata guna lahandikatakan tinggi atau rendah adalah jarak dua tata guna lahan (dalam Km) dan pola pengaturan tata guna lahan. Berdasarkan pemahaman tersebut maka Sistem Transportasi akan sangat terkaitdengan dari berbagai aktivitas seperti bekerja, sekolah, olahraga, belanja, dan bertamu yang berlangsung di atas bidang tanah (kantor, pabrik, pertokoan, rumah, dan lain-lain).
Sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhannya, manusia melakukan perjalanan di antaraguna lahan tersebut dengan menggunakan sistim jaringan transportasi sehingga menimbulkan pergerakan orang, kendaraan, dan barang. Pergerakan tersebut mengakibatkan berbagai macam interaksi.
Pembangunan suatu areal lahan memberikan dampak secara langsung terhadap timbulnya lalu-lintas. Perencanaan transportasi dibutuhkan sebagai konsekuensi dari pertumbuhan kondisi lalu-lintas dan perluasan wilayah. Pertumbuhan wilayah perlu direncanakan jika diketahui atau diharapkan bahwa penduduk disuatu tempat akan bertambah dan berkembang pesat dan juga jika tingkat pertumbuhan penduduk meningkat, karena hal ini mengakibatkan meningkatnya jumlah kendaraan dan perumahan. Kemudian kondisi lalulintas perlu ditinjau kembali, apabila kepadatan dan kemacetan di jalan meningkat serta sistem pergerakan dalam suatu wilayah tidak ekonomis lagi, sehingga pada waktunyaperluasan kota perlu dikendalikan, bila diperkirakan sistem transportasi sudah tidakmampu lagi mendukung perluasan kota tersebut.
Gambar diagram I.8 menunjukkan bahwa setiap upaya peningkatan fasilitas transportasi akan berdampak terhadap perubahan tataguna lahan apabila tidak ada upaya pengendalian. Pengendalian mempunyai peran penting agar upaya peningkatan fasilitas transportasi dapat bermanfaat dan berdayaguna seoptimal mungkin terhadap upaya peningkatan fasilitas transportasi dapat bermanfaat dan berdayaguna seoptimal mungkin.
Gambar I.9 Hubungan Antara Transportasi dengan Guna Lahan
(Sumber : Paquette, 1980 dalam Laporan Akhir Rencana Induk Transportasi DIY, 2017)
Aksesibilitas memegang peran penting bagi para pengembang lahan. Namun demikianseringkali dijumpai para pengembang lahan yang menciptakan aksesibilitas ke lokasi yang dikembangkan agar kepentingan investasi dapat terwujud. Pembatasan yang kaku terhadap perubahan tataguna lahan akan sulit dilakukan mengingat sifat manusia dan kotayang dinamis. Untuk ini suatu keseimbangan antara perubahan tataguna lahan dan fasilitas transportasi perlu dilakukan.
1.5 Dukungan SDM, Sarana-Prasarana dan Anggaran
Tabel I.3 Jumlah Pegawai Menurut Kualifikasi Jabatan, Jenis Kelamin dan Kompetensi Di Dinas Perhubungan DIY
No Jabatan Formasi Pegawai yang ada Jenis Kelamin Jml Kualifikasi Jml Kualifikasi Laki Perempuan
1 2 3 4 5 6 7 8
A. Jabatan Struktural
1. Kepala Dinas Perhubungan 1 DIV/S1
2. Sekretaris 1 DIV/S1 1 S2 1 3. Kepala Subbagian Program 1 DIV/S1 1 S2 1
4. Kepala Subbagian Keuangan 1 DIV/S1 1 S1 1 5. Kepala Subbagian Umum 1 DIV/S1 1 S2 1 6. Kepala Bidang Angkutan 1 DIV/S1 1 S2 1
7. Kepala Seksi Angkutan Dalam Trayek 1 DIV/S1 1 S2 1 8. Kepala Seksi Angkutan Tidak Dalam
Trayek
1 DIV/S1 1 S1 1 9. Kepala Bidang Lalu Lintas 1 DIV/S1 1 S2 1
10. Kepala Seksi Manajemen Lalu Lintas 1 DIV/S1 1 S2 1 11. Kepala Seksi Rekayasa Lalu Lintas 1 DIV/S1 1 S2 1
12 Kepala Bidang Keselamatan dan Teknologi Transportasi
1 DIV/S1 1 S2 1 13. Kepala Seksi Keselamatan
Transportasi
1 DIV/S1 1 S2 1
14. Kepala Seksi Teknologi Transportasi 1 DIV/S1 1 DIV 1 15. Kepala Bidang Pengendalian
Operasional
1 DIV/S1 1 S2 1 16. Kepala Seksi Pengendalian
Operasional Lalu Lintas
1 DIV/S1 1 S2 1 17. Kepala Seksi Pengendalian
Operasional Angkutan
1 DIV/S1 1 S2 1 B. Pelaksana
1. Pengelola Sistem Informasi dan Jaringan
1 S1 1 S2 1 2. Penyusun Program Anggaran dan
Pelaporan
3 DIV 2 D!V 2 3. Pengelola Gaji 1 DIII 1 S2 1 4. Pengelola Akuntansi 1 DIII
5. Bendahara 2 S1 2 S1/SLTA 2 6. Pengadministrasi Keuangan 4 DIII 2 SLTA/SLTA 1 1 7. Verifikator Data Laporan Keuangan 1 DIII
8. Pengadministrasi Kepegawaian 2 DIII 1 SLTA 1 9. Pranata Kearsipan 2 DIII 2 SLTA/SLTA 2 10. Pengadministrasi Persuratan 1 DIII
11. Teknisi Sarana dan Prasarana 1 DIII 1 SLTA 1 12. Pengelola Barang Milik Negara 3 DIII 2 DIII/SLTA 2 13. Pengemudi 1 SLTA
14. Pengadministrasi Umum 5 DIII 6 SLTA/SMP/ SD
2 4 15. Pengelola Sarana Angkutan Dalam
Trayek
No Jabatan Formasi Pegawai yang ada Jenis Kelamin Jml Kualifikasi Jml Kualifikasi Laki Perempuan
1 2 3 4 5 6 7 8
16. Pengelola Sarana Angkutan Tidak Dalam Trayek
5 DIII 3 SLTA 3 17. Analis Manajemen Lalu Lintas 5 DIV 3 D4/SLTA 3 18. Pengelola Rekayasa Lalu Lintas 5 DIV 3 DIII/SLTA 3
19. Pengawas Transportasi 5 DIV 1 S1 1 20. Analis Pengembangan Sarana dan
Prasarana
5 DIV 1 S2 1 21. Pengawas Lalu Lintas Darat 5 DIV 3 S1/SLTA 3
22. Pengawas dan Pembina Angkutan 5 DIV 3 S2/S1/SLTA 2 1
Jumlah 85 56 38 18
Sumber: Data Kepegawaian Dinas Perhubungan Desember 2020
Tabel I.4 Jumlah Pegawai Menurut Kualifikasi Jabatan, Jenis Kelamin dan Kompetensi DI Balai Pengelolaan Terminal dan Perparkiran
No Jabatan Formasi Pegawai yang ada Jenis Kelamin Jml Kualifikasi Jml Kualifikasi Laki Peremp
1 2 3 4 5 6 7 8
A. Jabatan Struktural 1.
Kepala Balai Pengelolaan Terminal dan Perparkiran
1 S2,S1 1 S2 1
Kepala Subbagian Tata Usaha 1 S1,DIV 1 S2 1 Kepala Seksi Pengelolaan Terminal 1 S1,DIV 1 S1 1 Kepala Seksi Pengelolaan Perparkiran 1 S1,DIV 1 S2 1
B. Pelaksana 1.
Verifikator Data Laporan Keuangan 1 S1 1 Pengelola Barang Milik Negara 2 DIII 2 S1,SLTA 2
Penyusun Program Anggaran dan Pelaporan
1 S1,DIV S1
Pengelola Akuntansi 1 DIII 1 SLTA 1 Pengelola Gaji 1 DIII 1 SLTA 1
Bendahara 2 S1 2 SLTA 2 Pranata Kearsipan 1 DIII 1 SLTA 1 Pengadministrasi Kepegawaian 1 DIII 2 SLTA 2 Teknisi Sarana dan Prasarana 1 DIII 1 SLTP 1
Pengelola Retribusi Terminal 4 DIII 2 DIII,S1 2 Pengelola Terminal 24 DIII 8 SLTA 8
Pengelola Perparkiran 16 DIII 9 S1,DI,SLTA 6 3 Jumlah 59 34 21 13 Sumber: Data Kepegawaian Dinas Perhubungan Desember 2020
Berdasarkan data pada tabel I.4, tingkat pendidikan SDM Dinas Perhubungan DIY relatif tinggi dan merata antara laki-laki dan perempuan, didominasi oleh jenjang
21 orang (23,3%), S1 sebanyak 12 orang (12,9%), D3 5 orang (5,6%), D4 sebanyak 4 orang (4,4%), D1 1 (1,1%) orang, SLTP 1 orang (1,1%) dan SD 1 orang (1,1%). Komposisi pegawai laki-laki sedikit lebih banyak dibanding pegawai perempuan; bahkan untuk jabatan struktural pun lebih banyak dijabat laki-laki. Hal ini menunjukkan adanya sistem merit dan kesetaraan gender dalam manajemen SDM aparatur.
Masih terdapat kekurangan pegawai sebanyak 55 orang, terdiri dari 52 orang pejabat pelaksana substantif dan 3 pejabat pelaksana administratif.
Tabel I.5 Sarana-Prasarana
No Klasifikasi Jumlah Barang Nilai Aset (Rp)*
1 2 3 4 Aset Tetap Tanah
Peralatan Dan Mesin Gedung Dan Bangunan Jalan, Irigasi Dan Jaringan
38 4.881 8.339 26 90.940.344.771,00 32.775.222.643,75 136.825.390.526,55 10.165.556.986,00 5 6
Aset Tetap Lainnya Aset Tidak Berwujud
83 17
4.260.000,00 2.667.310.758,00
Jumlah 13.384 273.378.085.685,30
*Nilai aset belum memperhitungkan penyusutan di tahun 2020
Sumber: Data Aset Dinas Perhubungan Desember 2020
Kendaraan dinas terdiri dari yakni 1 (satu) unit kendaraan dinas jabatan, 17 (tujuh belas) unit kendaraan operasional, dan 19 (Sembilan belas) unit kendaraan roda dua. Kebutuhan ruangan kantor umum relatif sudah tersedia meliputi ruang rapat, ruang pengelola keuangan, ruang arsip, ruang mushola, ruang baca, ruang gudang, ruang tunggu, ruang laktasi, dan toilet. Adapun perlengkapan kantor berupa meja, kursi, lemari, filling cabinet, pendingin ruangan, alat pemadam kebakaran dan lain-lain sudah tersedia dalam kondisi baik. Rasio personal computer/laptop dibanding jumlah pegawai mendekati 1 : 1. Dengan demikian ketersediaan sarana dan prasarana sudah memadai.
Tabel I.6 Perbandingan Anggaran Tahun 2019 dan 2020
Tahun Belanja Tidak Langsung Belanja Langsung Jumlah
2019 Rp. 7.738.129.446,00 Rp. 30.195.924.170,00 Rp. 37.934.053.616,00
2020 Rp. 9.184.604.979,00 Rp. 35.402.522.066,00 Rp. 44.587.127.045,00
Sumber: DPA Dinas Perhubungan
Dukungan anggaran untuk melaksanakan tugas dan fungsi Dinas Perhubungan DIY berasal dari APBD Daerah Istimewa Yogyakarta. Terlihat pada tabel I.6, untuk tahun 2020 dibanding tahun 2019 terdapat kenaikan anggaran belanja baik anggaran belanja tidak langsung maupun belanja langsung sebesar Rp. 6.653.073.429,00.
1.6 Tindak Lanjut atas Laporan Hasil Evaluasi SAKIP 2020
No Saran/Rekomendasi Tindak lanjut
1. Sehubungan dengan hasil Evaluasi
Implementasi SAKIP Tahun 2020 , kami merekomendasikan kepada Kepala Dinas
Perhubungan DIY beserta seluruh
jajarannya agar:
a. Melakukan upaya untuk
mempertahankan dan terus
meningkatkan pencapaian target kinerja, baik program maupun kegiatan yang telah tercapai, serta melakukan perbaikan dalam rangka mendukung ketercapaian
sasaran Dinas Perhubungan
Daerah Istimewa Yogyakarta yang belum tercapai pada tahun 2020. b. Melakukan manajemen kinerja
dengan baik dan terdokumentasi
mulai dari perencanaan,
pengukuran, pelaporan serta monitoring dan evaluasi guna
mendukung pencapaian nilai
system akuntabilitas kinerja Pemerintah Daerah DIY.
Sehubungan dengan rekomendasi hasil Evaluasi Implementasi SAKIP Tahun 2020, Kepala Dinas Perhubungan DIY beserta seluruh jajarannya telah menindaklanjuti dengan :
a. Melakukan upaya untuk
mempertahankan dan terus meningkatkan kinerja yang telah baik. Hal ini diantaranya melalui pembinaan internal secara lebih intensif.
b. Melakukan manajemen kinerja dengan baik dan terdokumentasi
mulai dari perencanaan,
pengukuran, pelaporan serta monitoring dan evaluasi guna mendukung pencapaian nilai sistem akuntabilitas kinerja Pemerintah Daerah DIY. Hal ini dilakukan melalui intensifikasi rapat internal OPD sehingga
progress kegiatan maupun
perencanaan dapat terpantau setiap bulan dan terlaporkan melalui website sengguh.
BAB 2
Perencanaan dan Perjanjian
Kinerja
Tahun 2020 merupakan tahun pertama penerapan Organisasi Berbasis Kinerja (Performance Based Organization). Melalui Peraturan Daerah Istimewa Daerah
Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2018 tentang Kelembagaan Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta, kelembagaan Pemerintah Daerah DIY didesain paralel (inline) dengan alur (cascading) kinerja visi, misi, tujuan, sasaran, progarm Pemda, dan program OPD yang diamanatkan dalam dokumen RPJMD 2017 – 2022. Renstra Dinas Perhubungan DIY yang merupakan penjabaran operasional RPJMD 2017 - 2022 telah mengakomodir dinamika program/kegiatan selama kurun waktu 2017 – 2022. Renstra ditetapkan dengan Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 20 Tahun 2018 tentang Rencana Strategis Perangkat Daerah Tahun 2017 – 2018 sebagaimana diubah terakhir dengan Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 109 Tahun 2018.
2.1 Tujuan Dan Sasaran
Tujuan merupakan pernyataan tentang hal-hal yang perlu dilakukan menjawab isu strategis daerah dan permasalahan pembagunan daerah. Tujuan di turunkan secara lebih operasional dari masing-masing misi pembangunan daerah dengan memperhatikan visi. Untuk mewujudkan suatu misi, dapat dicapai melalui beberapa tujuan yang diformulasikan secara sepesifik, terukur, dan rasional. Sesuai dengan kaidah perumusan sasran yang harus memenuhi kriteria specific, measurable, achievable, relevant, time bound dan continously improve (SMART-C), maka sasaran harus mempunyai indikator yang terukur dan penetapan sasaran akan lebih mengarahkan pencapaian tujuan secara lebih fokus sehingga pengerahan dan pendayagunaan sumber daya untuk mencapainya dapat lebih efektif dan efisien.
Bab 2 Berisi :
1. Tujuan, Sasaran dan
Indikator Kinerja
OPD
2. Strategi dan Arah Kebijakan 3. Struktur Program dan Kegiatan 2020 4. Perjanjian Kinerja Tahun 2020 5. Instrumen
Pendu-kung Capaian Kiner-ja OPD
Pernyataan tujuan dan sasaran jangka menengah Perangkat Daerah berserta indikator kinerjanya di sajikan dalam Tabel berikut ini.
Adapun sasaran Dinas Perhubungan DIY dalam waktu lima tahun sebagai berikut: Tabel II.1 Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah Pelayanan Perangkat Daerah DIY,
2017-2022
NO. TUJUAN SASARAN INDIKATOR TUJUAN/SASARAN
TARGET TAHUNAN Target akhir Renstra 2018 2019 2020 2021 2022 1 2 3 4 6 7 8 9 10 1. Tersedianya layanan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang aman, selamat, tertib, lancar, dan terpadu dengan moda angkutan lain Meningkatnya pelayanan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Kinerja penyediaan Layanan Angkutan Umum dan Angkutan Jalan 44,29% 44,92% 45,54% 46,17% 49,79% 49,79%
2.2 Tujuan, Sasaran, Strategi, dan Kebijakan
Dalam menjalankan tugas pokok dan fungsi Dinas Perhubungan DIY memiliki strategi dan arah kebijakan kebijakan Perangkat Daerah dalam lima tahun mendatang yang di sajikan dalam tabel berikut:
Tabel II.2 Tujuan, Sasaran, Strategi dan Kebijakan
VISI RPJMD DIY : Terwujudnya Peningkatan Kemualiaan Martabat Manusia Jogja
MISI RPJMD DIY : Meningkatkan Kualitas Hidup, Kehidupan Dan Penghidupan Masyarakat Yang Berkeadilan dan Berkeadapan
TUJUAN SASARAN STRATEGI ARAH KEBIJAKAN Tersedianya layanan Lalu
Lintas dan Angkutan Jalanyang
aman,selamat,tertib,lancar, dan terpadu dengan moda angkutan lain Meningkatnya pelayanan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan 1. Peningkatan Keselamatan Transportasi di jalan provinsi 2. Peningkatan pelayanan angkutan umum 3. Peningkatan
1) Penyediaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana perlengkapan jalan
2) Penyelenggaran edukasi keselamatan lalu lintas
3) Penyediaan sarana dan prasarana angkutan umum
4) Peningkatan cakupan layanan angkutan dalam trayek
VISI RPJMD DIY : Terwujudnya Peningkatan Kemualiaan Martabat Manusia Jogja
MISI RPJMD DIY : Meningkatkan Kualitas Hidup, Kehidupan Dan Penghidupan Masyarakat Yang Berkeadilan dan Berkeadapan
TUJUAN SASARAN STRATEGI ARAH KEBIJAKAN dan rekayasa lalu lintas 4. Pengembangan pengelolaan simpul transportasi dan perparkiran
6) Peningkatan tertib perizinan angkutan
7) Pengembangan penyelenggaraan angkutan barang dan
perkeretaapian
8) Penyediaan dan peningkatan simpang bersinyal
9) Pengendalian operasional lalu lintas dan angkutan
10) Pengelolaan terminal park and ride dan perparkiran
11) Pengembangan terminal park and ride dan perparkiran
2.3 Struktur Program dan Kegiatan 2020
Struktur program dan kegiatan yang berkaitan langsung dengan tercapainya sasaran Dinas Perhubungan DIY tahun 2020 maupun program dan kegiatan pendukung sebagaimana tabel berikut:
Tabel II.3.1. Struktur Program dan Kegiatan terkait Langsung Pencapaian Sasaran Tahun 2020
Sasaran Program/Kegiatan Sebelum
Perubahan (Rp) Setelah Perubahan (Rp) Bertambah/berkur ang (Rp) 1. Meningkatnya pelayanan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan 1. PROGRAM PENINGKATAN PELAYANAN ANGKUTAN 2.260.746.500,00 1.292.134.600,00 -968.611.900,00 Penyelenggaraan Angkutan Orang Tidak Dalam Trayek 380.140.000,00 34.211.600,00 -345.928.400,00 Penyelenggaraan Angkutan Orang Dalam Trayek 1.855.606.500,00 1.256.366.000,00 -599.240.500,00 Penyelenggaraan Angkutan Barang dan Perkeretaapian 25.000.000,00 1.557.000,00 -23.443.000,00 2. PROGRAM PENGEMBANGAN KESELAMATAN TRANSPORTASI 11.617.419.000,00 5.735.572.000,00 -5.881.847.000,00
Sasaran Program/Kegiatan Sebelum Perubahan (Rp) Setelah Perubahan (Rp) Bertambah/berkur ang (Rp) Penyediaan Sarana dan Prasarana Fasilitas Keselamatan Jalan 8.101.874.000,00 4.890.961.000,00 -3.210.913.000,00 Penegakan Hukum Lalu Lintas 604.120.000,00 221.625.000,00 -382.495.000,00 Edukasi Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan 1.688.554.000,00 298.740.000,00 -1.389.814.000,00 Penegakan Hukum Angkutan Jalan 393.246.000,00 324.246.000,00 -69.000.000,00 Pengadaan dan Pemasangan Perlengkapan Jalan (DAK) 829.625.000,00 0 -829.625.000,00 3. PROGRAM PENGEMBANGAN MANAJEMEN DAN REKAYASA LALU LINTAS 3.450.462.650,00 1.089.511.888,00 -2.360.950.762 Penerapan Manajemen Lalu Lintas 878.947.000,00 486.607.000,00 -392.340.000,00 Penerapan Rekayasa Lalu Lintas 2.571.515.650,00 602.904.888,00 -1.968.610.762,00 4.PROGRAM PENGEMBANGAN DAN PENGELOLAAN SIMPUL TRANSPORTASI DAN PERPARKIRAN 3.008.859.000,00 1.099.548.000,00 -1.909.311.000,00 Pengelolaan Terminal, Park and Ride dan
Perparkiran
577.909.000,00 333.249.000,00 -333.249.000,00
Pengembangan Terminal, Park and Ride dan
Perparkiran
2.430.950.000,00 854.888.000,00 -1.576.062.000,00
Tabel II.3.2. Struktur Program dan Kegiatan Pendukung Pencapaian Sasaran Tahun 2020
No. Program/Kegiatan Sebelum
Perubahan (Rp) Setelah Perubahan (Rp) Bertambah/berkurang (Rp) 1 PROGRAM ADMINISTRASI PERKANTORAN 5.928.813.000,00 4.751.376.000,00 -1.177.437.000,00
Penyediaan Jasa, Peralatan, dan Perlengkapan Perkantoran
1.990.865.000,00 1.989.145.000,00 -1.720.000,00
Penyediaan Jasa Pengelola Pelayanan Perkantoran
2.259.735.000,00 2.266.835.000,00 7.100.000,00 Penyediaan Rapat-Rapat,
Koordinasi dan Konsultasi
1.678.213.000,00 495.396.000,00 -1.182.817.000,00 2 PROGRAM PENINGKATAN
SARANA DAN PRASARANA APARATUR
1.588.661.916,00 1.588.661.916,00 -173.730.000,00
Pengadaan Peralatan dan Perlengkapan
148.166.000,00 148.166.000,00 0 Pemeliharaan Rumah dan
Gedung Kantor 601.455.000,00 440.650.000,00 -160.805.000,00 Pengadaan/Rehabilitasi Kendaraan Dinas/Operasional 563.408.916,00 550.508.916,00 -12.900.000,00 Pemeliharaan Peralatan dan Perlengkapan 275.632.000,00 275.607.000,00 -25.000,00 3 PROGRAM PENINGKATAN PENGEMBANGAN SISTEM PELAPORAN CAPAIAN KINERJA DAN PELAPORAN KEUANGAN 472.781.000,00 460.401.000,00 -12.380.000,00 Penyusunan Laporan Kinerja SKPD 10.000.000,00 8.140.000,00 -1.860.000,00 Penyusunan Laporan Keuangan SKPD 63.031.000,00 59.951.000,00 -3.080.000,00 Penyusunan Rencana Program Kegiatan SKPD serta Pengembangan Data dan Informasi
364.750.000,00 364.690.000,00 -60.000,00
Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Program Kegiatan SKPD
35.000.000,00 27.620.000,00 -7.380.000,00
2.4 Perjanjian Kinerja Tahun 2020
Dokumen Perjanjian Kinerja (PK) merupakan dokumen yang berisikan penugasan dari pimpinan instansi yang lebih tinggi kepada pimpinan instansi yang lebih rendah untuk melaksanakan program/kegiatan yang disertai dengan indikator kinerjanya. Adapun Perjanjian Kinerja Kepala Dinas Perhubungan DIY yang merepresentasikan kinerja instansi dengan Bapak Gubernur DIY sebagai berikut:
Tabel II.4 Perjanjian Kinerja Kepala Dinas Perhubungan DIYTahun 2020
Pada tahun 2020, Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta melaksanakan reviu Perjanjian Kinerja Tahun 2020. Reviu dilakukan karena adanya refocusing kegiatan dan realokasi anggaran untuk penangangan pandemi COVID-19 serta telah ditetapkannya Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran Tahun 2020. Perjanjian Kinerja (Reviu) Tahun 2020 pada Dinas Perhubungan DIY adalah sebagai berikut:
Tabel II.5 Perjanjian Kinerja Perubahan Kepala Dinas Perhubungan DIYTahun 2020
Keterangan Tambahan:
No. Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target
Tahunan Triwulan Target 1 . Meningkatkan Pelayanan lalu Lintas dan Angkutan Jalan Kinerja Penyediaan layanan Angkutan Umum dan Tingkat Pelayanan Jalan % 45.54 Triwulan I 45.27 Triwulan II 45.27 Triwulan III 45.27 Triwulan IV 45.54
No. Sasaran Strategis Indikator Kinerja Satuan Target
Tahunan Triwulan Target 1. Meningkatkan
Pelayanan lalu
Lintas dan Angkutan Jalan
Kinerja Penyediaan layanan Angkutan Umum dan Tingkat Pelayanan Jalan % 45.54 Triwulan I 45.27 Triwulan II 45.27 Triwulan III 45.27 Triwulan IV 45.54 *)
1. Indikator kinerja dan target kinerja tidak berubah, tetapi volume anggaran berkurang 45,87% sehubungan adanya refocusing kegiatan dan realokasi anggaran untuk penangangan pandemi COVID-19.
2. Data capaian kinerja tersedia pada triwulan IV. 3. Mengelola anggaran Belanja Tidak Terduga 4. Tidak mengelola anggaran dekonsentrasi.
2.5 Instrumen Pendukung Capaian Kinerja
Instrumen pendukung penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (SAKIP) di lingkungan Pemerintah Daerah DIY adalah aplikasi sengguh.jogjaprov.go.id yang mengintegrasikan perencanaan termasuk Rencana Operasional Pelaksanaan Kegiatan (ROPK), anggaran kas, monitoring dan evaluasi capaian kinerja bulanan, triwulan, semesteran dan tahunan OPD.
Gambar II.1. Sistem Integrasi ROPK, Monitoring dan Evaluasi, E-SAKIP
BAB 3
Akuntabilitas Kinerja
3.1 Capaian Kinerja Tahun 2020
Dinas Perhubungan DIY telah melaksanakan pengukuran kinerja atas kinerja yang diperjanjikan Kepala Dinas Perhubungan DIY dengan Bapak Gubernur DIY tahun 2020. Pengukuran mengacu Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017 tentang Tata Cara Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah dengan skala nilai peringkat kinerja sebagaimana tabel berikut:
Tabel III.1 Skala Nilai Peringkat Kinerja
❖ Sumber: Permendagri Nomor 86 Tahun 2017 No. Interval Nilai Realisasi
Kinerja
Kriteria Penilaian Realisasi
Kinerja Kode
1. 91 ≤ 100 Sangat Baik Hijau Tua
2. 76 ≤ 90 Tinggi Hijau Muda
3. 66 ≤ 75 Sedang Kuning Tua
4. 51 ≤ 65 Rendah Kuning Muda
5. ≤ 50 Sangat Rendah Merah
Bab 3 Berisi : 1. Capaian Kinerja Tahun 2020 2. Evaluasi dan Analisis Capaian Kinerja Sasaran Strategis 3. Realisasi Anggaran 4. Inovasi
Tabel III.2 Capaian Kinerja Tahun 2020 NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR/META INDIKATOR SATUAN Base line 2017 Capaian 2019 TAHUN 2020 TARGET AKHIR RPJMD TARGET REALI SASI PERSEN TASE KRITE RIA/ KODE 1 2 3 4 5 6 7 8 1 Meningkatnya Pelayanan lalu Lintas dan Angkutan Jalan Indikator: Kinerja Penyediaan Layanan Angkutan Umum dan Tingkat Pelayanan Jalan Meta Indikator: Capaian layanan angkutan umum perkotaan dikali 50% ditambah tingkat pelayanan jalan dikali 50%
% 43,67% 45,27% 45,54% 49,42% 108,52 % San gat Baik
49,79%
Dari tabel di atas, terdapat 1 (satu) indikator yang masuk ke dalam 1 (satu) sasaran strategis. Pada tahun 2020, 1 (satu) indikator tersebut telah memenuhi target yang ditetapkan atau tercapai lebih dari 100 persen, dengan angka capaian indikator sebesar 48,57% dari target 45,54%, atau terlampaui sebesar 108,52 persen.
3.2 Evaluasi dan Analisis Ketercapaian Kinerja Tahun 2020
Tolok ukur capaian sasaran adalah berupa Meningkatnya Pelayanan Lalu Lintas
dan Angkutan Jalan, yang diukur berdasarkan indikator kinerja penyediaan layanan
angkutan umum serta kinerja tingkat pelayanan ruas jalan (level of service). Penjelasan hubungan sasaran, indikator dan meta indikator diuraikan pada tabel berikut ini.
Tabel III.3. Sasaran, Indikator dan Meta Indikator
NO Sasaran Indikator Meta Indikator
1 2 3 4
1 Meningkatnya Pelayanan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
Kinerja Penyediaan Layanan Angkutan Umum dan Tingkat Pelayanan Jalan
1. Cakupan wilayah angkutan umum perkotaan dan capaian SPM (Standar Pelayanan Minimal), yang berkontribusi sebesar 50%.
2. Mempertahankan kecepatan lalu lintas di jalan provinsi dan perkotaan pada kawasan prioritas, yang berkontribusi sebesar 50%.
Dalam RPJMD 2017-2022, sektor Perhubungan berperan dalam mendukung mobilitas pergerakan orang dan barang dalam wilayah ataupun antar wilayah. Dukungan tersebut harus difasilitasi dengan adanya ketersediaan layanan angkutan umum yang memadai baik untuk orang dan atau barang. Transportasi tidak hanya mendukung pembangunan di DIY tetapi juga menjadi bagian dalam pembangunan pendidikan, wisata dan budaya.
Arah kebijakan yang dilakukan yaitu meningkatkan kinerja penyediaan layanan angkutan umum dan tingkat pelayanan jalan dari 43,67% di tahun 2017 menjadi 49,79% di tahun 2022. Arah kebijakan tersebut mengindikasikan adanya 2 (dua) variabel tolok ukur, yaitu variabel penyediaan layanan angkutan umum, serta variabel tingkat pelayanan jalan (level of service), dengan pola cara perhitungan, pembobotan dan hasil capaian seperti di bawah ini.
Variabel Bobot Indikator Tahun 2022 Tahun 2020 Target Rata-rata 49,79% Target sebesar
45,54% Capaian sebesar 49,42% % Rata-rata % Rata-rata % Rata-rata Penyediaan Layanan Angkutan Umum
50% Cakupan Wilayah Angkutan Perkotaan 25 Kecamatan (14 kecamatan di Kota Yogyakarta, 9 kecamatan di Sleman dan Bantul, dan 2 Kecamatan menuju lokasi wisata), atau 100% 76,25% 22 Kecamatan, atau 88% 67,75% 25 Kecamatan, atau 100% 75,5%
Capaian Kualitas Standar Pelayanan Minimal (SPM) Angkutan Perkotaan, dengan 6 variabel (keamanan, keselamatan, kenyamanan, keterjangkauan, kesetaraan, dan keteraturan) sesuai Peraturan Menteri Perhubungan No. PM 98 Tahun 2013. 52,5% 47,5% 51% Tingkat Pelayanan (Level of Service) Jalan, berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan No. PM 96 Tahun 2015.
50% Mempertahankan kecepatan lalu lintas rata-rata pada jalan kolektor primer di jalan provinsi.
Mempertahankan angka 30% 23,33% 30% 23,33% 30% 23,33%
Mempertahankan kecepatan lalu lintas rata-rata jalan perkotaan sebesar 20 km/jam di kawasan prioritas (Terban, Seturan, Kranggan, Godean).
Mempertahankan angka 16,675% 16,675% 16,675%
Rata-rata Kinerja Penyediaan Layanan Angkutan Umum dan Tingkat Pelayanan Jalan (rata-rata) 49,42%
Dari data di atas dapat dijelaskan bahwa metodologi perhitungan kinerja urusan perhubungan didasarkan pada variabel-variabel berikut ini.
1. Penyediaan Layanan Angkutan Umum (dengan bobot sebesar 50%) yang terdiri dari indikator-indikator :
a. Cakupan Wilayah Angkutan Perkotaan, dengan target yaitu dapat melayani seluruh kecamatan di wilayah Perkotaan Yogyakarta (25 kecamatan, atau 100% pada tahun 2020), dan dengan target nilai 88% pada tahun 2020.
b. Capaian Kualitas Standar Pelayanan Minimal (SPM) Angkutan Perkotaan, dengan sub indikator yang terdiri atas keamanan, keselamatan, kenyamanan, keterjangkauan, kesetaraan, dan keteraturan, sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan No. PM 98 Tahun 2013, dengan target 52,5% pada tahun 2022, atau 45% pada tahun 2019. Pada tahun 2020 target tersebut telah tercapai 51%
2. Tingkat Pelayanan (Level of Service) Jalan (dengan bobot sebesar 50%) yang terdiri dari indikator-indikator :
a. Mempertahankan kecepatan lalu lintas rata-rata pada jalan kolektor primer di jalan provinsi, dengan nilai 30%. Hasil capaian pada tahun 2020 menghasilkan angka 30%.
b. Mempertahankan kecepatan lalu lintas rata-rata jalan perkotaan sebesar 20 km/jam di kawasan prioritas (Terban, Seturan, Kranggan, Godean), dengan nilai 16,675%. Hasil capaian pada tahun 2020 menghasilkan angka 16,675%.
Tingkat Pelayanan Jalan pada tahun 2020 dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel III.5 Target dan Realisasi Kinerja Tahun 2020
No Indikator Sasaran Capaian 2019 (%) 2020 Target Akhir Renstra (2022) Capaian s/d 2020 terhadap target 2022 (%) Target (%) Realisasi (%) % Realisasi* 1 2 3 4 5 6 7 8 Kinerja Penyediaan Layanan Angkutan Umum dan Tingkat Pelayanan Jalan 45,27 45,54 49,42 108,52 49,79 92,38
Analisis Ketercapaian Kinerja Tahun 2020
Dari tabel dan gambar di atas dapat dilihat bahwa dari target sebesar 45,54 persen, realisasi terjadi pada angka 49,42 persen, sehingga terjadi pelampauan target sebesar 3,88 persen atau terealisasi sebesar 108,52 persen.
Realisasi Tahun 2020 juga mengalami kenaikan sebesar 4,15 persen dari kinerja tahun sebelumnya (Tahun 2019 sebesar 45,27 persen). Sedangkan berdasarkan target akhir Renstra 2022 sebesar 49,79 persen, masih terdapat selisih sebesar 0,37 persen yang harus dicapai hingga akhir RPJMD pada tahun 2022.
Ketercapaian kinerja tahun 2020 disebabkan oleh berbagai faktor, yang meliputi adanya peningkatan kualitas Standar Pelayanan Minimal (SPM) pada angkutan perkotaan, khususnya Angkutan Perkotaan Trans Jogja. Dari aspek cakupan area pelayanan, pada tahun 2020 sudah mencakup seluruh kecamatan dengan total yang ada di Kawasan Perkotaan Yogyakarta.