6
Universitas Kristen Petra
2. LANDASAN TEORI
2.1. Kebiasaan Belanja
Natawidjaja & Moleong (1979, p. 20) menyatakan, “kebiasaan merupakan cara berbuat atau bertindak yang dimiliki seseorang dan diperolehnya melalui proses belajar cara tersebut bersifat tetap, seragam dan otomatis”. Jadi biasanya kebiasaan berjalan atau dilakukan tanpa disadari oleh pemilik kebiasaan itu.
Kebiasaan itu pada umumnya diperoleh melalui latihan. Parea (1987) menyatakan, “kebiasaan terjadi melalui pengulangan”. Kebiasaan menurut Aunurrahman (2009, p.187) adalah, “perilaku yang sudah berulang-ulang dilakukan”. Kesimpulan dari uraian di atas bisa didapat bahwa, kebiasaan adalah suatu tindakan bersifat tetap, seragam, dan otomatis yang dikerjakan berulang- ulang melalui proses belajar seseorang.
Diba (2014) menyatakan bahwa belanja merupakan aktivitas yang menyenangkan bagi kebanyakan orang, sehingga bagi sebagian orang sulit dipisahkan dari belanja. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2015), belanja adalah uang yang dikeluarkan untuk suatu keperluan; ongkos;
biaya. Definisi lain dari belanja adalah uang yang dipakai untuk keperluan sehari- hari atau rutin. Dari uraian-uraian di atas, diketahui bahwa aktivitas kebiasaan belanja adalah pembelian produk maupun jasa di suatu tempat di mana pembeli tetap, berulang, rutin, atau otomatis membeli produk maupun jasa tersebut.
2.2. Jenis Kelamin
Santrock (2003, p. 365) menyatakan bahwa, “jenis kelamin mengacu pada dimensi biologis seorang laki-laki dan perempuan”. Hal serupa dinyatakan oleh Hungu (2007) bahwa jenis kelamin adalah perbedaan antara perempuan dan laki- laki secara biologis sejak lahir. Dinyatakan juga oleh Wardhaugh (2002, p. 313), jenis kelamin merupakan, “perbedaan secara biologis antara laki-laki dan perempuan”. Jenis kelamin didefinisikan oleh Unger & Crowford (1992) sebagai perbedaan genetik secara biologis. Melalui definisi-definisi di atas, diketahui
7
Universitas Kristen Petra
bahwa jenis kelamin adalah perbedaan genetik antara laki-laki dan perempuan secara biologis.
Sadli (2010) mengartikan jenis kelamin sebagai pembagian dua jenis kelamin manusia secara biologis yang ditentukan secara biologis dan bersifat permanen dalam maksud tidak dapat dipertukarkan antara laki-laki dan perempuan. Lebih lanjut dikatakan bahwa jenis kelamin dibawa sejak lahir dan merupakan pemberian Tuhan sebagai seorang laki-laki atau seorang perempuan.
Dari uraian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa arti jenis kelamin adalah perbedaan secara biologis sejak lahir yang terdiri dari perempuan dan laki-laki.
Dimana perempuan dan laki-laki tersebut pemberian Tuhan yang permanen.
2.3. Planned Behavior Theory
Teori ini menyusun model penjelasan yang dapat mengukur bagaimana kebiasaan manusia dibimbing dan memprediksi kebiasaan tertentu yang disengaja.
Dalam planned behavior theory, kebiasaan konsumen memiliki penentu kebiasaan yang utama yang disebut dengan niat untuk melakukan kebiasaan tersebut.
Dengan kata lain, niat berasal dari sikap, norma subjektif, dan kontrol kebiasaan yang dirasakan. Sikap berasal dari opini diri sendiri mengenai kebiasaan. Norma subjektif didasari oleh opini orang lain terhadap kebiasaan. Tekanan sosial pada individu akan menentukan kebiasaan tertentu dari individu tersebut. Harapan dan pola hidup orang-orang sekitar dapat mempengaruhi seseorang dalam melakukan suatu pembelian. Kontrol kebiasaan yang dirasakan berasal dari kemampuan diri yang menuju pada kebiasaan dan kemampuan yang dibutuhkan untuk mengekspresikan kebiasaan serta memungkinkan untuk mengatasi hambatan (Conner & Armitage, 1998, Azjen, 1988). Seseorang yang mempunyai sikap positif untuk hemat berinteraksi dengan orang yang hemat juga, akan memiliki niat untuk mempunyai kebiasaan hemat jika orang tersebut percaya bahwa ada kemungkinan untuk bisa menabung daripada membelanjakan uang yang dimiliki (Redhead, 2011). Melalui penjelasan di atas, bisa didapat bahwa faktor-faktor sosialisasi dengan orangtua, pengaruh teman, dan kontrol diri didapat melalui planned behavior theory, di mana planned behavior theory berasal dari niat yang dipengaruhi oleh sikap, norma subjektif, dan kontrol kebiasaan yang dirasakan
8
Universitas Kristen Petra
seseorang. Faktor-faktor sosialisasi dengan orangtua, pengaruh teman, dan kontrol diri dipengaruhi oleh planned behavior theory (Wang, 2013).
2.3.1. Sosialisasi dengan Orangtua
Ihromi (2004) berpendapat bahwa sosialisasi adalah proses belajar seseorang untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai dan norma- norma agar dapat berpartisipasi dengan masyarakat. Sosialisasi menurut Soekanto (2002) secara khusus berarti suatu proses dimana seseorang belajar mengendalikan diri serta mempelajari tugas-tugas yang ada dalam masyarakat.
Orangtua adalah pria dan wanita yang terikat dalam perkawinan dan siap bertanggung jawab sebagai ayah dan ibu dari anak-anak yang dilahirkannya (Kartono, 1982). Bisa didapat bahwa orangtua merupakan orang yang bertanggung jawab terhadap anaknya. Disamping itu orangtua adalah orang yang melahirkan seseorang dan bertanggung jawab atas orang tersebut sebagai ayah dan ibu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2015), orangtua terbagi menjadi tiga arti, yaitu ayah dan ibu kandung, pria dan wanita yang menjadi ayah dan ibu seseorang berdasarkan adat atau hukum yang berlaku, serta orang yang membiayai anak yang bukan anaknya sendiri atas dasar kemanusiaan. Sosialisasi dengan orangtua merupakan proses memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap oleh pria dan wanita yang bertanggung jawab sebagai ayah dan ibu seorang anak.
Orang tua adalah komponen keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu dan merupakan hasil dari sebuah ikatan perkawinan yang sah yang dapat membentuk sebuah keluarga (Handayani, Miti & Azhar, Marwan & Susri , Adeni, 2011).
Ayah dan Ibu ditambah dengan anak akan membentuk sebuah unit terkecil dalam masyarakat yang disebut dengan keluarga (Soetjiningsih, 1995). Menurut Purwanto (2006), orang tua adalah pendidik sejati, karena kodratnya. Dapat disimpulkan bahwa orangtua adalah pria dan wanita yang menjadi ayah dan ibu berdasarkan hukum dan kelahiran seseorang atau anak pria dan wanita tersebut.
Orangtua juga merupakan seseorang yang bertanggung jawab terhadap anak.
Orangtua perlu mengetahui kapan seorang anak siap untuk masuk dalam beberapa keputusan keuangan (belanja dan menabung), sehingga orangtua bisa
9
Universitas Kristen Petra
memberi pengetahuan mengenai keuangan (Danes, 1994). Orangtua adalah dasar dari pembelajaran keuangan anak melalui observasi, dukungan positif, praktek dan partisipasi, serta instruksi orangtua (Alhabeeb, 1999; Bowen, 1996; Danes, 1994; Lachance & Choquette-Bernier, 2004). Orangtua yang melihat atau mendengarkan suatu informasi (seperti mendengarkan radio mengenai keuangan) secara tidak langsung mengajarkan anak informasi tersebut (Jorgensen, 2007).
Karena itu orangtua perlu membiasakan diri untuk melakukan praktek pada hal- hal yang baik agar anak mendapat pengetahuan yang baik juga. Menurut Sina (2014), orangtua harus mengajari anak untuk menabung dari uang belanja yang diberikan. Orangtua juga harus mengajarkan anak menggunakan uang belanja untuk membeli barang sesuai kebutuhan saja membuat anak mengetahui kebiasaan belanja baik yang harus dilakukan. Sangat penting bagi orangtua untuk mengajarkan masalah keuangan di rumah dengan komunikasi mengenai pengetahuan keuangan mereka, sikap, dan kebiasaan (Jorgensen, 2007).
2.3.2. Pengaruh Teman
Teman dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2015) berarti kawan, sahabat, orang yang bersama-sama bekerja (berbuat, berjalan), atau lawan bercakap-cakap. Sedangkan berteman memiliki arti berkawan, bersahabat, tidak seorang diri, dan ada temannya. Teman dapat diartikan pula sebagai hubungan antara dua orang atau lebih yang memiliki unsur-unsur seperti kecenderungan untuk menginginkan apa yang terbaik bagi satu sama lain, simpati, empati, kejujuran dalam bersikap, dan saling pengertian (Nawawi, Sahnur & Dwiyaksa, 2008). Pengetahuan yang mendalam dan pribadi tentang teman juga digunakan sebagai ukuran keakraban (Selman, 1980; Sullivan, 1953).
Gottman (1983), menemukan beberapa perbedaan penting antara eventual friends (sahabat atau teman) dan nonfriends (bukan teman). Pertama, walaupun sahabat tidak selalu setuju terhadap permainan mana yang akan dimainkan, tapi mereka dapat mengatasi konflik dengan lebih baik daripada yang bukan teman.
Sahabat lebih berhasil dalam mengkomunikasikan sesuatu dan bertukar informasi satu sama lain. Beberapa informasi yang disampaikan sahabat bersifat personal, dan sahabat lebih mampu melibatkan self-disclosure (pengungkapan diri).
10
Universitas Kristen Petra
Menurut Weiss (1998), teman itu datang dan berkumpul bersama karena adanya kesenangan, rasa akan kebersamaan, dan afiliasi emosional. Bisa didapat bahwa teman adalah lawan bercakap yang bersama-sama melakukan suatu aktivitas.
Teman mempengaruhi seorang remaja mungkin karena para remaja lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-teman (Harris, 1995). Tetapi orangtua juga tetap mempengaruhi remaja secara tidak langsung dalam hal pertemanan anak orangtua tersebut (Brown, Mounts, Lamborn & Steinberg, 1993).
Saat seseorang berbelanja dengan teman yang cenderung berbelanja secara kompulsif, membuat seseorang yang tidak kompulsif menjadi belanja secara kompulsif (Black, 2007). Hal ini membuktikan bahwa teman mempengaruhi kebiasaan seseorang menjadi buruk, terutama bila seseorang sering berkumpul dengan teman yang mempunyai kebiasaan-kebiasaan buruk.
2.3.3. Kontrol Diri
Kontrol diri memiliki arti sebagai suatu kecakapan individu dalam kepekaan membaca situasi diri dan lingkungannya. Kemampuan untuk mengontrol dan mengelola faktor-faktor perilaku sesuai dengan situasi dan kondisi untuk menampilkan diri dalam melakukan sosialisasi juga merupakan arti dari kontrol diri menurut Calhoun & Acocela (1990). Calhoun & Acocella (1990) mendefinisikan kontrol diri sebagai pengaturan proses-proses fisik, psikologis, dan perilaku seseorang dengan kata lain serangkaian proses yang membentuk dirinya sendiri. Dari pengertian-pengertian di atas, kontrol diri berarti kemampuan mengontrol atau mengatur proses-proses fisik, psikologis, dan perilaku seseorang untuk membentuk diri sendiri orang tersebut. Dalam proses kontrol diri, seseorang dapat mengatur dan mengendalikan kebiasaan dalam menjalani kehidupan sesuai kemampuan orang tersebut (Diba, 2014).
Indraprasti & Rachmawati (2008) telah mendefinisikan kontrol diri sebagai suatu kemampuan untuk menyusun, membimbing, mengatur dan mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa individu ke arah konsekuensi positif. Averill (1973) berpendapat bahwa kontrol diri merupakan variabel psikologis yang sederhana karena didalamnya tercakup tiga konsep yang berbeda
11
Universitas Kristen Petra
tentang kemampuan mengontrol diri yaitu kemampuan individu untuk memodifikasi perilaku, kemampuan individu dalam mengelola informasi yang tidak diinginkan dengan cara menginterpretasi serta kemampuan individu untuk memilih suatu tindakan berdasarkan suatu yang diyakininya.
Kontrol diri diperlukan untuk membantu individu dalam mengatasi kemampuannya yang terbatas serta dapat berguna untuk mengatasi berbagai hal yang dapat merugikan individu tersebut yang disebabkan oleh kondisi diluar dirinya (Kazdin, 1994). Synder & Gangestad (1986) mengemukakan pendapatnya mengenai konsep kontrol diri secara langsung yakni sebagai kondisi untuk melihat hubungan antara pribadi dengan lingkungan masyarakat dalam mengatur kesan masyarakat yang sesuai dengan isyarat situasional dalam bersikap dan berpendirian yang efektif. Menurut Delisi & Berg (2006), kontrol diri berkaitan dengan tindakan seseorang untuk mengendalikan atau menghambat secara otomatis kebiasaan, dorongan, emosi, atau keinginan dengan tujuan mengarahkan perilakunya. Tanpa kontrol diri, seseorang akan hidup tanpa memperhatikan lingkungannya dan tidak bisa mengendalikan diri sesuai situasi dan kondisi yang ada. Menurut uraian-uraian di atas, kontrol diri adalah kemampuan seseorang mengatur atau mengontrol diri sendiri, sehingga orang tersebut memiliki kebiasaan yang positif. Dengan mengontrol keuangan secara teratur, dapat menimbulkan kebiasaan positif yaitu disiplin, sehingga memiliki kebiasaan belanja yang hemat (D’souza, Carlo & Pillai, 2010).
2.4. Hubungan Antar Konsep
2.4.1. Hubungan antara Jenis Kelamin dengan Kebiasaan Belanja
Menurut Thorne (2003), perempuan dan laki-laki diajarkan secara berbeda oleh orang tua, sehingga jenis kelamin dapat mempengaruhi kebiasaan menabung dan kebiasaan belanja seseorang. Orangtua memiliki perbedaan harapan dalam mengajarkan antara anak perempuan dengan anak laki-laki. Anak perempuan cenderung dibesarkan dan diharapkan untuk terampil dalam mengambil tugas rumah tangga daripada anak lelaki. Karena perbedaan ajaran tersebut, sehingga perbedaan sikap antara perempuan dan laki-laki terhadap uang mungkin terjadi (Brusdal & Berg, 2010).
12
Universitas Kristen Petra
Perempuan cenderung menghabiskan lebih banyak uang untuk pakaian, sedangkan pria menghabiskan lebih banyak uang pada hiburan dan makan di luar (Wang & Xiao, 2009). Diketahui bahwa laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan terhadap kebiasaan masing-masing. Kebiasaan belanja pria menurut Tambunan (2001), yaitu cenderung mudah terpengaruh bujukan penjual, sering tertipu karena tidak sabaran dalam memilih barang, mempunyai perasaan kurang enak bila tidak membeli sesuatu setelah memasuki toko, dan kurang menikmati kegiatan berbelanja, sehingga sering terburu-buru mengambil keputusan membeli.
Sebaliknya, kebiasaan belanja perempuan yaitu cenderung tertarik pada warna dan bentuk, bukan pada hal teknis dan kegunaannya, tidak mudah terbujuk arus bujukan penjual, menyenangi hal-hal yang romatis daripada objektif, dan senang melakukan kegiatan berbelanja walau hanya melihat-lihat tapi tidak membeli.
Terdapat perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam kebiasaan belanja masing-masing, baik positif maupun negatif. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Barkah (2008), diperoleh hasil bahwa perempuan cenderung belanja secara impulsif (negatif) dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini dikarenakan terdapat perbedaan emosi antara perempuan dan laki-laki. Perempuan lebih terbawa oleh perasaan, emosi, maupun suasana hati saat berbelanja, sedangkan laki-laki lebih membatasi diri, sehingga pikiran laki-laki tidak dikuasai oleh emosi, perasaan maupun suasana hati.
2.4.2. Hubungan antara Sosialisasi dengan Orangtua dengan Kebiasaan Belanja
Ni Sari (2013)menyatakan, orang tua dapat mempengaruhi kecenderungan seseorang menjadi shopping addiction atau ketagihan belanja. Orangtua yang memberi pengetahuan keuangan terhadap anak akan membuat anak lebih hemat dan anak cenderung memiliki kebiasaan belanja yang positif. Kehidupan sosial seseorang bisa mempengaruhi kebiasaan seseorang, orangtua tentu saja mempengaruhi kebiasaan belanja seorang anak baik yang positif atau negatif melalui ajaran keuangan yang diberikan.
Daradjat (1977), menyatakan bahwa orang tua adalah pembina pribadi yang utama dalam hidup anak. Sedangkan Goodman (2007) menyatakan, apabila
13
Universitas Kristen Petra
pengalaman seseorang dalam mengelola uang menentukan perilaku keuangan saat dewasa. Membiasakan anak-anak hidup menghambur-hamburkan uang untuk tujuan bersenang-senang dan konsumtif adalah salah satu perbuatan yang salah (Arijanto, 2010). Hal ini membuat anak mempunyai kebiasaan untuk bermewah- mewah dan tidak biasa membeli sesuatu yang berguna saja. Dari pernyataan- pernyataan di atas, bisa diketahui bahwa didikan orangtua dapat mempengaruhi kebiasaan atau perilaku seseorang. Dikatakan pula oleh Liliweri (1991) komunikasi antara orang tua dan anak dianggap sebagai komunikasi yang paling efektif dalam upaya mengubah sikap, pendapat dan perilaku karena sifatnya yang dialogis, berupa percakapan. Bila orangtua dan anak saling bertukar pikiran mengenai kebiasaan belanjanya yang buruk, anak yang awalnya boros bisa menjadi terbiasa untuk mengontrol kebiasaan buruknya. Begitu pula sebaliknya bila orangtua dan anak tidak saling tukar pikiran, anak akan hidup tanpa nasihat orangtua dan membuat anak tersebut mempunyai kebiasaan belanja yang buruk.
Menurut Danes (1993) dan Danes & Dunrud (1993), orangtua yang menekankan pentingnya mendiskusikan masalah keuangan dapat mengajarkan anak mengenai belanja dan tabungan. Dengan melibatkan anak dalam masalah keuangan akan membiasakan anak untuk mengetahui keuangan baik mengenai belanja maupun tabungan.
2.4.3. Hubungan antara Pengaruh Teman dengan Kebiasaan Belanja
Alasan remaja membeli adalah karena tertarik bentuk, warna, atau karena pengaruh teman-teman yang juga memiliki barang atau jasa. Saat berbelanja, remaja biasa terlihat beramai-ramai atau tidak sendirian saat datang ke tempat untuk berbelanja (Astasari & Sahrah, 2009). Remaja cenderung mengikuti teman- teman dalam kebiasaan berbelanja. Penelitian Ratner & Kahn (2002), menunjukkan bahwa terkadang remaja membeli bukan karena kebutuhan tetapi karena pendapat orang lain sangat penting bagi dirinya dan ia ingin tampil menarik seperti teman-temannya. Dalam pernyataan ini bisa diketahui bahwa teman-teman mempengaruhi kebiasaan belanja seseorang.
Bagi remaja, hal yang paling penting adalah pandangan teman-teman terhadap dirinya (Santrock, 2007). Menurut Siregar (2010), jika seseorang
14
Universitas Kristen Petra
memiliki teman yang sering berbelanja dapat menimbulkan rasa ingin meniru dan memiliki apa yang dimiliki juga oleh teman tersebut. Teman membawa peranan penting dalam diri seseorang termasuk kebiasaan belanja orang tersebut. Tetapi tidak semua remaja selalu mengikuti teman-temannya karena seorang remaja mampu mengambil keputusan sesuai keinginannya (Astasari & Sahrah, 2009).
Seorang remaja memang seharusnya bisa membedakan apa yang dibutuhkan dirinya sendiri. Remaja yang belanja bersama teman-temannya akan cenderung mengunjungi lebih banyak tempat dan membeli lebih banyak yang tidak direncanakan (Mowen & Minor, 2002). Kebiasaan belanja seorang teman yang positif akan membuat orang tersebut mempunyai kebiasaan belanja yang positif juga.
2.4.4. Hubungan antara Kontrol Diri dengan Kebiasaan Belanja
Seseorang yang tidak memiliki kontrol diri lebih memprioritaskan konsumsi yang bersifat hedonis daripada fungsional karena memang menginginkan sesuatu yang lebih bersifat luas, misalnya hasrat untuk mendapatkan kemewahan dan kesenangan (Philips, Olson & Baumgartner, 1995;
Kivetz & Simonson, 2002). Proses kerjanya adalah kontrol diri menolak respon yang terbentuk dan menggantinya dengan yang lain. Respon penggantinya terdiri dari penggunaan pemikiran, pengubahan emosi, pengaturan dorongan, dan pengubahan tingkah laku (Baumeister, 2002). Kontrol diri dapat menolak tingkah laku atau kebiasaan seseorang. Dapat disimpulkan bahwa seseorang yang memiliki kontrol diri berarti orang tersebut bisa menahan hasrat misalnya kemewahan serta dapat mengontrol sesuai dengan situasi dan kondisi dalam sosialisasi.
Menurut penelitian Antonides (Fitriana & Koenjoro, 2009) kontrol diri memiliki peranan yang penting dalam proses membeli barang. Kontrol diri dapat mengarahkan dan mengatur seseorang untuk melakukan hal yang positif termasuk dalam membelanjakan sesuatu. Seseorang yang memiliki kontrol diri yang rendah, mempunyai kebiasaan tidak dapat mengalihkan perhatiannnya untuk tidak belanja produk baru (Hirschman, 1992). Adanya kontrol diri menjadikan individu dapat memandu, mengarahkan dan mengatur perilakunya dengan kuat yang pada
15
Universitas Kristen Petra
akhirnya menuju pada konsekuensi positif (Lazarus, 1976). Menurut Diba (2014), seseorang yang tidak dapat mengontrol diri dapat membawa diri pada kebiasaan belanja yang tidak terencana atau kebiasaan belanja yang buruk. Orang yang biasa membeli dengan spontan umumnya merasa bahwa tindakan tersebut adalah wajar.
Kebiasaan belanja yang buruk harus dikontrol seseorang agar mempunyai kebiasaan yang baik (Shohibullana, 2004). Di sini bisa disimpulkan bahwa kebiasaan belanja bisa mencerminkan kontrol diri positif atau negatif seseorang.
2.5. Kerangka Berpikir
Berdasarkan tinjauan landasan teori di atas, maka kerangka pemikiran dalam penelitian ini bisa digambarkan sebagai berikut ini :
Gambar 2.1. Kerangka Berpikir
2.6. Hipotesa
Hipotesa dalam penelitian ini adalah:
1. Jenis kelamin berpengaruh signifikan terhadap kebiasaan belanja dewasa muda Surabaya.
2. Sosialisasi dengan orangtua berpengaruh signifikan terhadap kebiasaan belanja dewasa muda Surabaya.
3. Pengaruh teman berpengaruh signifikan terhadap kebiasaan belanja dewasa muda Surabaya.
4. Kontrol diri berpengaruh signifikan terhadap kebiasaan belanja dewasa muda Surabaya.