1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian
Terdapat beberapa kota di Jawa Barat salah satunya adalah Kota Bandung. Menurut data yang didapat dari Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) Kota Bandung pada tahun 2016, jumlah wirausaha di Kota Bandung mencapai lebih dari 10.000 termasuk perusahaan mikro, kecil, menengah dan besar sesuai dengan izin usaha di kota Bandung (Dandan, 2016).
Berdasarkan data yang didapat dari Kamar Dagang dan Industri Kota Bandung mengatakan bahwa wirausaha di Kota Bandung mencapai sekitar 90.000 atau sebesar 4% (empat persen) dari 2.300.000 penduduk Kota Bandung. Menurut Ketua Kamar Dagang dan Industri Kota Bandung mengatakan bahwa jumlah wirausaha di Kota Bandung meningkat setiap tahunnya, tetapi jumlahnya masih minim secara umum dan perlu dikembangkan lagi. Kota Bandung sebagian besar wirausaha bergerak pada bidang perdagangan, kuliner, industri kecil, jasa dan lain- lain (Deden, 2016).
Di Kota Bandung terdapat banyak usaha yang didirikan oleh keluarga.
Pengusaha toko emas sebagai objek dalam penelitian bisnis keluarga berbasis Family Business Enterprise (FBE) di bidang perhiasan emas yaitu toko emas yang ada di Kota Bandung Jawa Barat Indonesia. Pengusaha emas berpendapat bahwa usahanya menjanjikan dan memberikan prospek yang cerah di masa depan karena dari segi harga yang terus meningkat. Biasanya usaha emas identik sebagai kekayaaan atau harta yang utuh. Dalam penelitian ini bisnis emas yang dimaksud adalah emas dalam bentuk perhiasan seperti anting, gelang, kalung, cincin dan sebagainya. Perhiasan tersebut dahulu kadar emasnya dinyatakan dalam satuan karat tetapi sekarang dinyatakan dengan persen (%).
Pengusaha di bidang toko emas, perhiasan yang mereka miliki sebagai modal bisa dijadikan sebagai sarana investasi yang menjanjikan dalam jangka panjang.
Sehingga ketika membutuhkan dana cair serta dapat menjual emasnya. Hal tersebut memberikan keuntungan bagi yang mempunyai usaha dalam bentuk toko emas.
2 Emas terdapat kemungkinan besar tidak terkena dampak inflasi sehingga menjadi salah satu media investasi yang efektif. Emas mempunyai kekuatan yang signifikan, walaupun tidak sekuat properti. Hampir setiap tahunnya emas mengalami kenaikan harga. Hal tersebut memberikan dampak positif kepada seseorang yang telah berinvestasi emas karena mendapatkan keuntungan yang berasal dari modal awal sekitar 300% (Dipraja, 2011).
Pengembangan investasi di industri kreatif dan perdagangan perhiasan yang dilakukan wirausaha perhiasan toko emas biasanya ikut serta jika ada kegiatan pameran perhiasan. Pameran dengan nama Jakarta International Jewellery Fair 2018 ini didukung oleh Kementerian Perdagangan RI, Kementerian Perindustrian RI, Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia (APEPI). Pameran tersebut telah berlangsung dari 19 – 22 April 2018 di Jakarta Indonesia tepatnya di Assembly Hall Jakarta Convention Center. Pameran yang bertujuan untuk memperkenalkan dan mempromosikan produk dengan setiap desain yang unik dan berbeda serta pameran sebagai sarana untuk meningkatkan pangsa pasar dan angka penjualan bagi pengusaha kecil dan menengah di bidang perhiasan emas. Konsumen akan mendapatkan beberapa produk yang berkualitas dengan harga bersaing tentang perhiasan yang diproduksi melalui teknologi terbaru dan desain terkini. Industri perhiasan bertumbuh dengan pesat, ditandai dengan meningkatnya nilai ekspor logam mulia, batu permata dan perhiasan. Nilai ekspor perhiasan nasional mencapai USD2,6 miliar pada tahun 2017 (Wibawaningsih, 2018).
Saat terjadi kondisi aksi jual emas (perhiasan) secara massal itu akan membuat toko dirugikan bisa juga sampai bangkrut atau gulung tikar. Hal tersebut tentunya akan membuat pemilik usaha khawatir dengan harus mengembalikan uang investasi konsumen. Selain itu, ada juga beberapa oknum yang mengisukan toko tersebut akan bangkrut dan akan membuat konsumen khawatir jika membeli emas di toko tersebut tetapi kenyataannya tidak. Karena salah satunya adalah persaingan bisnis pada bidang usaha yang sama.
Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia (APEPI) mengatakan bahwa penjualan perhiasan emas pada jelang Hari Raya Lebaran terutama pada tiga hari sebelum Hari Raya Lebaran mengalami kenaikan sampai 30%, namun saat ini
3 pada level normal kembali. Pengusaha toko emas biasanya mengalami konsumen yang menjual kembali perhiasannya dengan alasan untuk kebutuhan primer dan menjadikannya sebagai alat investasi tetapi terdapat beberapa konsumen yang tidak menjual perhiasan mereka. Meskipun sempat mengalami kenaikan penjualan, harga jual emas tidak mengalami kenaikan. Penurunan harga perhiasan emas yang terjadi di Indonesia dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang semakin kuat dan harga emas dunia yang mengalami penurunan (Yuwono, 2017) 1.2 Latar Belakang Penelitian
Pada zaman modern ini persaingan bisnis menjadi hal sangat penting untuk kesuksesan suatu bisnis dan mempengaruhi kemajuan bisnis pada peradapan masyarakat di dunia ini. Dengan adanya kemajuan persaingan, maka perencanaan suksesi suatu bisnis harus melakukan strategi bersaing dengan melihat kondisi bisnis yang lainnya. Bisnis keluarga mempunyai kemampuan serta peranan penting dalam mendukung dan memberikan kontribusi perekonomian bagi negara sampai dunia.
Hasil survei dilakukan oleh perusahaan audit asal Amerika Serikat (Price Waterhouse Cooper (PwC), 2016) tentang sektor bisnis keluarga tetap memiliki rencana ambisius dalam pertumbuhan bisnis selama 5 (lima) tahun mendatang, walaupun terdapat perlambatan ekonomi secara global. Berdasarkan survei tersebut, bisnis keluarga di Asia Pasifik merupakan yang paling ambisius, karena 21%
merencanakan pertumbuhan yang pesat dan agresif. Hanya 1 (satu) per 5 (lima) bisnis keluarga yang melaporkan penurunan penjualan dalam waktu 2 (dua) tahun terakhir. Bisnis keluarga terbukti memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap penjualan internasional, terdapat 4 (empat) negara menguasai lebih dari 50%
penjualan international yaitu di negara Cina sebesar 79%, Indonesia sebesar 81%, Singapura 90% dan Amerika sebesar 59%. Bisnis keluarga di negara Indonesia tetap optimis dalam prospek pertumbuhan bisnis di tahun mendatang, rencananya adalah berfokus pada pasar yang sudah ada termasuk bisnis utama dengan melakukan ekspansi ke area baru. Mayoritas dari negara-negara tersebut berpendapat bahwa kekuatan berada dalam pengambilan keputusan, organisasi yang lebih efektif dan kemampuan berwirausaha dari bisnis keluarga itu sendiri (Goenawan, 2016).
Adapun hasil survei (Price Waterhouse Cooper (PwC), 2014) terdapat data untuk negara Indonesia sebagai berikut:
4 Gambar 1.1 Survei Umur Perusahaan Keluarga di Indonesia
Sumber: Situs pwc.com
Berdasarkan gambar 1.1 perusahaan keluarga di negara Indonesia terbanyak pada kisaran umur 20 sampai 49 tahun yaitu sebanyak 53% kemudian berada di bawah umur 20 tahun yaitu sebanyak 30% dan yang telah berumur lebih dari 50 tahun yaitu sebanyak 17%.
Gambar 1.2 Survei Omzet Perusahaan Keluarga di Indonesia Sumber: Situs pwc.com
Berdasarkan gambar 1.2 perusahaan keluarga di negara Indonesia dengan omzet sekitar $5-10m yaitu sebanyak 27% termasuk pada pesentase tertinggi dan sekitar $21-50m yaitu sebanyak 3% termasuk pada persentase terendah. Data tersebut di ambil dari beberapa sektor bisnis keluarga di Indonesia diantaranya manufaktur sebesar 50%, transportasi sebesar 13%, umum sebesar 13%, kontruksi sebesar 7% dan lain-lain sebesar 5% atau kurang.
0 20 40 60 80 100
Di bawah 20 tahun 20 - 50 tahun Di atas 50 tahun
Indonesia Dunia
0 20 40 60 80 100
Indonesia Dunia
5 Gambar 1.3 Survei Jumlah Generasi Perusahaan Keluarga di Indonesia
Sumber: Situs pwc.com
Berdasarkan gambar 1.3 perusahaan keluarga di negara Indonesia yang telah terjadinya transisi generasi perusahaan pada 2 generasi menempati posisi tertinggi yaitu sebanyak 37%, lalu posisi kedua pada 3 generasi yaitu sebanyak 33%, kemudian pada 1 generasi yaitu sebanyak 23% dan tidak ada transisi generasi perusahaan lebih dari 4 generasi yaitu sebanyak 0%.
Gambar 1.4 Survei Jabatan Perusahaan Keluarga di Indonesia Sumber: Situs pwc.com
Berdasarkan gambar 1.4 perusahaan keluarga di negara Indonesia terdapat struktur perusahaan dari setiap posisi jabatan ditempati oleh keluarga itu sendiri dengan jabatan CEO (Chief Executive Officer) sebesar 47% kemudian jabatan direktur keuangan sebesar 23% sama halnya dengan jabatan lainnya sebesar 23% dan jabatan pemilik perusahaan sebesar 7%.
0 20 40 60 80 100
1 Generasi 2 Generasi 3 Generasi 4 Generasi
Indonesia Dunia
0 20 40 60 80 100
CEO Pemilik Direktur Keuangan
Other Board Member
Indonesia Dunia
6 Gambar 1.5 Survei Peran Keluarga Perusahaan Keluarga di Indonesia
Sumber: Situs pwc.com
Berdasarkan gambar 1.5 perusahaan keluarga di negara Indonesia memiliki peran keluarga dalam menjalankan bisnisnya sebagai pemilik dan manajemen yaitu sebesar 87% dan memiliki saja bukan manajemen yaitu sebesar 13%. Jika dilihat dari data tersebut mayoritas peran keluarga menjadi pemilik sekaligus manajemen dalam perusahaan keluarga tersebut.
Gambar 1.6 Survei Komposisi Direksi Perusahaan Keluarga di Indonesia
Sumber: Situs pwc.com
Berdasarkan gambar 1.6 perusahaan keluarga di negara Indonesia terdapat komposisi direksi dengan hak di pegang oleh keluarga yaitu sebesar 52% dan bukan anggota keluarga dengan hak yang di pegang oleh pihak profesional, pihak yang berpengalaman dan lainnya yaitu sebesar 48%.
0 20 40 60 80 100
Pemilik dan manajemen Memiliki saja, bukan manajemen
Indonesia Dunia
0 20 40 60 80 100
Anggota keluarga Bukan anggota keluarga
Indonesia Dunia
7 Gambar 1.7 Survei Umur Pemilik Perusahaan Keluarga di Indonesia
Sumber: Situs pwc.com
Berdasarkan gambar 1.7 perusahaan keluarga di negara Indonesia yang dipegang oleh pemilik atau jabatan tertinggi berada pada kisaran 35-44 tahun yaitu sebanyak 43% kemudian di bawah umur 35 tahun yaitu sebanyak 27% lalu berada pada kisaran 45-54 tahun yaitu sebanyak 23% dan berada pada kisaran 55-64 tahun yaitu sebanyak 3% sama halnya dengan di atas umur 65 tahun.
Data tersebut didapat dari price water house yang berasal dari data sebaran sektor yaitu manufaktur sebesar 50%, transportasi sebesar 13%, umum sebesar 13%, konstruksi sebesar 7% dan lain-lain sebesar 5% atau kurang.
Banyaknya perusahaan keluarga memberikan dampak yang signifikan termasuk perkembangan perekonomian bagi negara Indonesia. Bukan merupakan hal baru dalam dunia bisnis bagi perusahaan keluarga. Karena beberapa dekade terakhir, bisnis keluarga mempunyai dampak yang besar terhadap perekonomian di dunia serta memberikan pengaruh ke arah positif yang signifikan untuk perkembangan perekonomian di Indonesia. Diantaranya pengembangan kewirausahaan karena menambah kekayaan bagi keluarga, menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang- orang yang bekerja di perusahaan keluarga, menambah produk domestik bruto dan terjadinya perubahan pada iklim sosial. Sedikit diantara kita yang kurang menyadari hal tersebut (Laurence dan Mustamu, 2015). Keberadaan perusahaan keluarga masih ada beberapa masyarakat yang masih memandang sebelah mata, seolah-olah tidak memiliki arti yang penting bagi perekonomian negara (Septiani dan Mustamu, 2014).
0 20 40 60 80 100
< 34 tahun 35-44 tahun45-54 tahun55-64 tahun > 65 tahun
Indonesia Dunia
8 Data internal yang diambil dari (The Jakarta Consulting Group, 2014) mengatakan bahwa perusahaan swasta nasional berada di tangan keluarga sebesar 88% dan menyatakan bahwa perusahaan keluarga di negara Indonesia belum semuanya mempersiapkan regenerasi untuk memimpin perusahaan melalui perencanaan suksesi. Dengan hasil 67,8% responden yang sudah mempersiapkan calon generasi penerus melalui perencanaan suksesi sementara 32,2% responden tidak atau belum mempersiapkannya.
Menurut ahli, Robert G. Donnelley dalam bukunya “The Family Business”
mengatakan bahwa suatu organisasi dapat dikatakan perusahaan keluarga jika paling sedikit terdapat keterlibatan minimal dua generasi yang kebijakannya dipengaruhi oleh anggota keluarga dalam bisnis tersebut. Regenerasi yang berasal dari keluarga sendiri memberikan kontribusi lebih untuk memperkuat perusahaan karena mereka mengetahui jerih payah bisnis perusahaan milik keluarganya yang dibangun dari nol.
Sehingga biasanya anggota keluarga akan berkerja sangat royal, melakukan ekstra kerja keras serta memiliki desikasi yang tinggi dibanding generasi yang bukan berasal dari keluarga. Dengan adanya istilah “Blood is thicker than water” yang artinya adalah darah lebih kental daripada air, dengan hal tersebut keluarga memiliki ikatan yang kuat daripada orang lain.
Salah satu cara agar bisnis tetap berjalan adalah perencanaan suksesi efektif untuk menjalankan serta menjaga keberlangsungan perusahaan keluarga. Dengan adanya perencanaan tersebut bertujuan agar keberlangsungan secara terus menerus, maka pasti ada generasi yang melanjutkan bisnis keluarga. Keberhasilan perencanaan suksesi pada generasi berikutnya akan menentukan keberlangsungan perusahaan keluarga dapat bertahan lama dan dalam jangka panjang. Akan tetapi, masih terdapat beberapa perusahaan yang tidak melanjutkan bisnisnya. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi hal tersebut yaitu karena tidak adanya generasi yang berkompeten melanjutkan bisnis keluarganya tersebut. Namun apabila perusahaan keluarga melakukan pergantian pemimpin timbul masalah-masalah yang terjadi di perusahaan keluarga. Oleh karena itu agar dapat meminimalisir terjadinya masalah dan mempertahankan perusahaan keluarga pada generasi selanjutnya, maka dibutuhkan perencanaan suksesi yang efektif.
9 Hasil survei telah dilakukan oleh (Price Waterhouse Cooper (PwC), 2016) menyatakan bahwa pertumbuhan bisnis keluarga diperkirakan stabil namun pertumbuhan dapat terhalang oleh kurangnya perencanaan strategis diluar faktor ekonomi atau faktor eksternal lainnya. Faktanya terdapat permasalahan bisnis keluarga yang dihadapi oleh kurangnya perencanaan suksesi yang menghubungkan antara posisi bisnis saat ini dan posisi bisnis jangka panjang. Akibatnya beberapa bisnis keluarga yang tidak dapat melanjutkan keberhasilan pada kondisi mendatang.
Terdapat banyak kasus tentang hancurnya bisnis keluarga pada generasi berikutnya di negara Indonesia, ada yang mengatakan “generasi pertama akan membangun, generasi kedua yang menikmati dan generasi ketiga yang menghancurkan”. Hal tersebut tentunya membuat khawatir setiap bisnis keluarga. Perbedaan utama pada generasi pertama dan generasi kedua adalah gaya hidup. Beban generasi pertama merasakan jatuh bangunnya bisnis yang sedang dilakukan dan merasakan pahitnya hidup sehingga bertekad kuat untuk merubah nasib agar bisnis menjadi sukses.
Generasi pertama pernah mengalami penderitaan saat membangun bisnis, tentunya akan menimbulkan tingkat loyalitas yang tinggi terhadap bisnisnya. Beban bagi generasi kedua adalah melanjutkan dan menjalankan perjuangan bisnis generasi pertama serta mendidik calon generasi penerus untuk mengembangan perjuangannya, tanggungjawab tersebut harus dilakukan dalam waktu bersamaan.
Faktor-faktor yang mungkin terjadi dalam perencanaan suksesi menjadi tidak efektif ada berbagai macam, diantaranya: tidak adanya persiapan regenerasi untuk memimpin perusahaan keluarga, regenerasi tidak memiliki pengalaman dalam pekerjaannya, tidak adanya niat atau motivasi regenerasi untuk melanjutkan dan memimpin perusahaan dan hilangnya regenerasi secara mendadak yang disebabkan oleh sakit parah, cacat, kematian dan lain sebagainya. Sehingga hal tersebut membuat calon generasi penerus menerima secara mendadak karena selama ini tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan. Faktor seperti pengalaman, kemampuan, bakat dan wawasan harus dipersiapkan oleh calon generasi penerus. Calon generasi penerus harus mendapatkan penjelasan tentang apa, mengapa dan bagaimana goals bisnis keluarga dibuat dan dilakukan agar menjadi sebuah tanggung jawab generasi penerus untuk mencapai goals tersebut.
10 Permasalahan tersebut tentunya dapat di atasi dengan melakukan perencanaan suksesi yang efektif dan mempersiapkan regenerasi dengan indikator maupun proses yang sesuai dengan budaya perusahaan keluarga. Perencanaan suksesi bisnis keluarga bisa menjadi masalah besar jika tidak dipersiapkan. Terdapat beberapa contoh bisnis keluarga yang sukses bukan hanya di generasi kedua tetapi hingga generasi ketiga diantaranya: Bakrie, Sinar Mas, Gudang Garam, Lippo, Salim Group, Ciputra, Djarum dan lain-lain (Koran SINDO, 2017). Sehingga penulis ingin mengetahui perencanaan suksesi seperti apa yang membuat bisnis keluarga dapat bertahan lama dalam jangka panjang.
Dengan demikian, peneliti memiliki keinginan melakukan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor penting yang digunakan generasi pertama dalam perencanaan suksesi terhadap bisnis keluarga berbasis Family Entreprise Business yaitu bisnis keluarga yang segala tugas dan tanggung jawab dipegang oleh anggota keluarga bukan dari pihak luar. Objek pada penelitian ini adalah toko emas di kota Bandung karena banyaknya toko emas di kota Bandung yang telah berdiri sejak dulu dan masih bertahan sampai sekarang. Hal tersebut karena adanya perencanaan suksesi generasi pertama yang efektif. Terdapat banyak kasus tentang hancurnya bisnis keluarga pada generasi berikutnya, ada yang mengatakan “generasi pertama akan membangun, generasi kedua yang menikmati dan generasi ketiga yang menghancurkan”. Sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini dan untuk mengetahui faktor apa saja yang membuat toko emas di kota Bandung bertahan usahanya sampai saat ini melalui perencanaan suksesi generasi pertama dalam pemilihan generasi penerus pada bisnis keluarganya. Penelitian dilakukan dengan penyebaran kuesioner secara acak yang di isi oleh generasi pertama yang mempunyai bisnis keluarga yaitu Toko Emas di Kota Bandung. Hal tersebut dilakukan untuk menganalisis faktor-faktor perencanaan suksesi generasi pertama dalam bisnis keluarga berbasis Family Business Enterprise (FBE). Berdasarkan latar belakang yang telah diketahui tersebut penelitian ini dibuat dengan judul “Analisis Faktor Perencanaan Suksesi Generasi Pertama Berbasis Family Business Enterprise (Studi Kasus pada Toko Emas di Kota Bandung)”
11 1.3 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti mendapatkan identifikasi masalah dalam peneltian ini adalah:
1) Apa saja faktor yang mempengaruhi perencanaan suksesi generasi penerus dalam bisnis keluarga?
2) Apa faktor dominan yang mempengaruhi pemilihan generasi penerus dalam bisnis keluarga?
1.4 Tujuan Penelitian
Adapun penelitian yang akan dicapai melalui penelitian ini adalah:
1) Menentukan faktor-faktor apa saja yang dipertimbangkan oleh generasi pertama dalam perencanaan suksesi di bisnis keluarga.
2) Menentukan faktor-faktor dominan yang menjadi pemilihan generasi penerus dalam perencanaan suksesi di bisnis keluarga.
1.5 Manfaat Penelitian
Adapun beberapa kegunaan penelitian sebagai berikut:
1) Bagi Penulis
Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat dalam menambah wawasan serta pengetahuan secara nyata selain yang penulis dapatkan dari bangku perkuliahan, pengalaman berharga yang berguna karena dapat diterapkan dalam dunia bisnis keluarga dan memberikan pemahaman tentang perencanaan suksesi di perusahaan keluarga. Sehingga ke depannya penulis lebih memahami untuk menjalankan bisnis keluarga.
2) Bagi Perusahaan
Hasil penelitian ini diharapkan akan menjadi salah satu bahan masukan serta saran bagi perusahaan dalam pengimplementasian perencanaan suksesi dan mempertahankan bisnis generasi selanjutnya demi menjaga kelanjutan hidup perusahaan keluarga untuk jangka waktu yang lama.
3) Bagi Pihak Lain
12 Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai tambahan pengetahuan dan jumlah referensi untuk para akademis ataupun pihak-pihak yang tertarik serta memberikan kontribusi dalam acuan untuk beberapa penelitian tentang analisis perencanaan suksesi dalam perusahaan milik keluarga.
1.6 Sistematika Penelitian
Sistematika penulisan ini disusun untuk memberikan gambaran umum tentang penelitian yang dilakukan dengan sistematika sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini membahas tentang latar belakang, obyek studi, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini membahas uraian umum tentang teori-teori yang digunakan dan literatur-literatur yang berkaitan dengan penelitian sebagai acuan perbandingan dalam masalah yang terjadi sehingga akan diperoleh gambaran yang cukup jelas.
BAB III METODE PENELITIAN
Bab ini membahas tentang penelitian, varibel penelitian, operatinal variable, teknik pengumpulan data, teknik sampling dan teknik analisa data.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini membahas secara rinci tentang pembahasan dan analisa-analisa yang dilakukan sehingga gambaran permasalahan yang akan terjadi akan terlihat jelas dan dapat diperoleh alternatif pemecahan masalah yang dihadapi.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini membahas mengenai kesimpulan dari hasil pembahasan yang disertai dengan saran bagi perusahaan yang diteliti.
13 1.7 Waktu dan Periode Penelitian
Peneliti melakukan waktu penelitian dari bulan Agustus sampai Desember 2018 dengan periode penelitian empat bulan.