SKRIPSI OLEH GERBI ZEFRIANDO NIM I1A216033
Teks penuh
(2) i.
(3) ii.
(4) MOTTO Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang-orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka menyerah. ( Thomas Alva Edison ). Dengan mengucapkan syukur kepada Allah S.W.T skripsi ini saya Persembahkan kepada: Kedua orang tua Ayahanda Nofrian dan Ibunda Susilawati yang tak pernah henti mencurahkan cinta dan kasih sayang serta mendo’akan saya Adik-adik saya Conny Auliya dan Agraa Cahya Teman-teman seperjuangan mahasiswa/i Program studi Pendidikan Bahasa Arab yang senantiasa memberikan motivasi dan do’a. Keluarga besar Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Almamater tercinta Universitas Jambi. iii.
(5) iv.
(6) ABSTRAK Zefriando, Gerbi. 2021. Korelasi Pemerolehan bahasa Terhadap keterampilan berbicara bahasa arab Prespektif Neurolinguistik (Studi Kasus Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab Universitas Jambi), Skripsi, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra, FKIP Universitas Jambi, Pembimbing: (I) Dr. H.M. Iqbal Bafadhal, Lc.,M,A (II) Eva Iryani, S.Pd.I., M.Pd.I. Kata Kunci: Korelasi, Pemerolehan Bahasa Perspektif Neurolinguistik, Keterampilan berbicara Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana korelasi Pemerolehan bahasa terhadap keterampilan berbicara bahasa arab sebagai bagian dari hasil belajar Muhadatsah yang telah mereka ampu mulai muhadatsah satu hingga muhadatsah tiga. Adapun jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian dengan pendekatan Kuantitatif dan menerapkan strategi penellitian studi kasus. Sumber data dalam penelitian ini adalah mahasiswa program studi PBA tahun akademik 2019. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode korelasional .Populasi dari penelitian ini adalah mahasiswa yang seluruhnya terhitung mulai dari angkatan (2016) hingga (2019) berjumlah 135 orang. Dan pengambilan sampel menggunakan rumus Simple Random Sampling dengan jumlah mahasiswa 23 orang, Metode pengumpulan data yang digunakan ialah model Pemeriksaan Komunikasi Hemisfer Kanan (PKHK) yang meliputi daftar pertanyaan yang di kelompokkan dalam beberapa tes. dikembangkan berdasarkan tinjuan aspek kebahasaan komunikasi. hemisfer kanan yang meliputi aspek leksiko-semantik, makrostruktur, dan pragmatik. pengkajian instrumen menggunakan uji validitas dan uji reabilitas. Analisis korelasi antara Pemerolehan Bahasa terhadap keterampilan berbicara bahasa Arab menggunakan uji Korelasi Product Moment.. v.
(7) Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pemerolehan bahasa yang dimiliki mahasiswa berkorelasi dengan keterampilan berbicara bahasa arabnya dengan melihat Kompetensi Kebahasaan leksikosemantik, dan makrostruktur terhadap keterampilan berbicara pragmatik yang mereka miliki. Analisis hasil tes menunjukkan bahwa hasil perhitungan dengan menggunakan rumus Korelasi Product moment adalah 0,8154 yang lebih besar dari r tabel Product moment yaitu 0,432 pada taraf kepercayaan 5% dan 1% . Hal ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara pemerolehan bahasa terhadap keterampilan berbicara bahasa arab perspektif neurolinguistik studi kasus mahasiswa pendidikan bahasa arab unja.. vi.
(8) KATA PENGANTAR Selesainya penelitian yang dilakukan sampai terwujud menjadi skripsi ini tidak akan pernah dapat diraih tanpa rahmat dari Allah Subhanahuwataala. Untuk itu, sudah sepantasnya puji syukur penulis sampai kehadirat Allah Subhanahuwataala, atas segala rahmat-Nya. Begitu pula kepada berbagai pihak yang telah membantu, dalam kesempatan ini penulis sampaikan terima kasih, terutama kepada Bapak Dr. H.M. Iqbal Bafadhal, Lc.,M,A. selaku dosen pembimbing I yang dengan kesabaran, keikhlasan, dan sifat. kebapakannya telah membimbing dan memotivasi penulis. untuk menyelesaikan pendidikan dan penulisan skripsi ini. Semua itu akan penulis kenang sebagai bekal di masa mendatang. Begitu juga Ibu Eva Iryani, S.Pd.I., M.Pd.I. yang dengan ketelitian, kesabaran, dan hatinya yang lembut dalam menasehati penulis tetapi kritis dan cemerlang dalam berpikir telah menggugah penulis untuk tidak menyerah memperbaiki kesalahan atau kekeliruan yang masih muncul dalam penyusunan skripsi ini. Semoga Tuhan tetap memberikan yang terbaik untuk beliau. Bapak Muhammad Sobri, M.Pd., Bapak Neldi Harianto, S. Pd.I., M.Pd., dan Ibu Mar’atun Sholiha, S.Pd.I., M.Pd. I., terima kasih atas saran dan kritikan yang telah diberikan dalam seminar proposal dan ujian sktipsi ini. Semoga ilmu dan kekritisan Bapak- bapak dan Ibu membuat skrisp ini lebih sempurna. Untuk Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Arab PBA FKIP Universitas Jambi yang telah membagi ilmunya, penulis sampaikan rasa terima kasih yang dalam. Semoga semuanya menjadi amal ibadah yang baik. Tidak lupa pula rasa haru dan terima kasih penulis sampaikan kepada Bapak Aditya Rachman, S.S., M.A. sebagai Salah satu Dosen Akedmik yang dengan gurauannya yang hangat tetapi penuh makna telah mengantar penulis untuk menyelesaikan pendidikan. Ini semua tentu berkat kerjasama beliau dengan Ketua dan Sekretaris Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Ketua dan Sekretaris Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra, Wakil Dekan Bidang Akademik, Kerjasama dan Sistem Informasi,. vii.
(9) Serta Dekan FKIP Universitas Jambi yang selalu memberikan kemudahan dan pengarahan kepada mahasiswanya, terutama dalam proses perizinan penelitian dan pengesahan skripsi ini. Secara khusus kepada kedua orang tua tercinta yang tiada hentinya mendoakan dan memberi perhatian untuk kesuksesan, penulis sampaikan terima kasih yang sangat mendalam. Semoga jerih payah beliau mendapat imbalan dari Yang Khalik dan telah memperkuat keyakinan penulis bahwa tanpa beliau penulis tidak akan pernah ada dan tidak akan pernah berhasil.. Jambi, ….,……..2021. Penulis. viii.
(10) DAFTAR ISI ABSTRAK .............................................................................................................. v. KATA PENGANTAR ........................................................................................... vii DAFTAR ISI ........................................................................................................... ix. DAFTAR TABEL ................................................................................................. xiv DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. xv DAFTAR GRAFIK ............................................................................................... xvi BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ........................................................................ 1. 1.2 Rumusan Masalah ................................................................................. 9. 1.3 Tujuan Masalah ..................................................................................... 9. 1.4 Pembatasan Masalah ............................................................................. 9. 1.5 Manfaat Penelitian................................................................................. 9. 1.6 Sistematika penulisan ........................................................................... 10 1.7 Kajian Pustaka ...................................................................................... 11 BAB II KAJIAN TEORITIK 2.1 Hakikat Bahasa ..................................................................................... 13 2.2 Pengertian Pemerolehan Bahasa .......................................................... 17 2.3 Pengertian Neurolinguistik 2.3.1 Neuro-linguistik ......................................................................... 19 2.3.2 Neuron( sel saraf ) ...................................................................... 20 2.4 Teori dan Metodologi Landasan Neurologi Bahasa ............................. 21. ix.
(11) 2.5 Struktur dan Organisasi Otak Manusia ................................................ 22 2.5.1 Cerebrum ( Otak Besar ) ............................................................ 24 2.5.2 Cerebellum ( Otak Kecil ) .......................................................... 26 2.5.3 Brainstaim ( Batang Otak ) ........................................................ 26 2.6 Perbadaan Fungsi Otak Kanan dan Otak Kiri ...................................... 28 2.7 Hemisfer Kiri dan Hemisfer Kanan ..................................................... 30 2.8 Keterampilan Berbicara 2.8.1 Pengertian Keterampilan Berbicara........................................... 32 2.9. Keterampilan Berbicara dalam Kurikulum Bahasa Arab Perguruan Tinggi .............................................................................................................. 34. 2.10 Kerangka Pikir ................................................................................... 39 2.11 Rumusan Hipotesis ............................................................................. 40. BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian .............................................................. 41 3.1.1 Sejarah Singkat Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Jambi........................................................................ 42 3.1.2 Visi dan Misi Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Jambi........................................................................ 42 3.2 Pendedekatan Penelitian ....................................................................... 43 3.2 Variabel Penelitian ............................................................................... 43. x.
(12) 3.3 Populasi Sampel ................................................................................... 43 3.4 Metode Pengumpulan Data .................................................................. 44 3.5 Uji Validitas dan Reliabillitas Instrumen ............................................. 51 3.6 Sistem Penilaian ................................................................................... 52 3.7 Tehnik Analisis data ............................................................................. 61 3.8 Uji Daya Pembeda ................................................................................ 62 3.9 Tingkat Kesukaran ............................................................................... 63 3.10 Uji Hipotesis Statistik......................................................................... 65 BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1. Hasil Pengumpulan Data ...................................................................... 66 4.2. Nilai Tes Mahasiswa pada Pemerolehan Bahasa terhadap Keterampilan Berbicara Bahasa Arab Perspektif Neurolinguistik ....... 94 4.3. Uji Daya Pembeda ................................................................................ 96 4.4. Tingkat Kesukaran ............................................................................... 101 4.5. Uji Hipotesis ......................................................................................... 105. 4.6. Analisis Kesalahan pada Tes Pemerolehan Bahasa ............................. 108 4.6.1 Tes Menjodohkan ...................................................................... 108 4.6.1.1. Memahami Arti Kiasan sebuah kata ......................... 108 4.6.1.2. Memahami asosiasi kata ............................................ 111 4.6.1.3. Pemilihan kata untuk mengungkapkan perasaan ....... 115. xi.
(13) 4.4.2. Tes Pilihan Ganda .................................................................... 116 4.4.2.1. Mengerti tema pokok sebuah cerita ........................... 116 4.4.2.2. Daya Ingat ................................................................. 119 4.4.2.3. Menangkap semua informasi penting ........................ 120 4.4.2.4. Menangkap kata yang berisi emosi ........................... 122 4.4.2.5. Memahami hubungan Implisit (Koherensi) .............. 124 4.4.2.6. Menandakan Perasaan ............................................... 126 4.4.2.7. Menagkap Adjektiva ................................................. 127 4.6.3. Tes Isian Singkat ...................................................................... 131 4.6.3.1. Menyatakan tema pokok sebuah cerita ..................... 131 4.6.3.2. Memberikan urutan yang benar .................................. 133 4.6.3.3. Menyebutkan bagian-bagian yang penting dan konfabulasi ................................................................. 135 4.4.3.4. Menandakan Hubungan Implisit (Koherensi) ............ 138 4.4.3.5. Menandakan Perasaan dan emosi ............................... 141 4.7. Analisis Kesalahan pada Tes Keterampilan Berbicara ........................ 143 4.5.1. Kompetensi Pragmatik Persepsi (reseptif) ............................... 143 4.5.1.1. Memahami konotasi sebuah kata ............................... 144 4.5.1.2. Memahami metafora dan majaz ................................. 146 4.5.1.3. Memahami maksud pembicara ................................... 149 4.5.1.4. Memahami ujaran tidak langsung (inderek)/.............. sindiran ....................................................................... 152 xii.
(14) 4.5.1.5. Memahami sarkasme .................................................. 155 4.5.1.6. Membayangkan motivasi pembicara .......................... 158 4.5.1.7. Menginterpretasi isi emosional .................................. 160 4.5.1.8. Memahami humor dan pesan moral ........................... 163 4.5.2. Kompetensi Pragmatik ekspresi ( produktif ) .......................... 166 4.5.2.1. Memproduksi ujaran sesuai konteks .......................... 166 4.5.2.2. Inhibisi emosional verbal ........................................... 169 4.5.2.3. Inhibisi sosial .............................................................. 171 BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN 5.1. Simpulan............................................................................................... 177 5.1. Implikasi ............................................................................................... 178 5.2. Saran ..................................................................................................... 179 DAFTAR RUJUKAN ............................................................................................. 180 LAMPIRAN. xiii.
(15) DAFTAR TABEL Tabel. Halaman. 1.1 Kisi-kisi instrumen tes pemerolehan bahasa ........................................ 49 1.2 Kisi-kisi instrumen tes keterampilan berbicara .................................... 50 1.3 Pedoman menginterpretasikan koefisien korelasi ................................ 62 1.4 Kriteria daya pembeda.......................................................................... 63 1.5 Kriteria tingkat kesukaran .................................................................... 64 1.6 Hasil nilai mahasiswa pada tes pertama .............................................. 94 1.7 Hasil nilai mahasiswa pada tes kedua ................................................. 95 1.8 Hasil uji signifikansi............................................................................. 107 1.9 Kompetensi persepsi (Reseptif) leksiko-semantik mahasiswa ........... 114 1.10 Kompetensi produksi (Ekspresif) leksiko-semantik mahasiswa ...... 115 1.11 Kompetensi persepsi (Reseptif) Makrostruktur mahasiswa ............. 129 1.12 Kompetensi produksi (Ekspresif) Makrostruktur mahasiswa .......... 142 1.13 Kompetensi persepsi (Reseptif) Pragmatik mahasiswa .................... 165 1.14 Kompetensi produksi (Ekspresif) Pragmatik mahasiswa ................. 174. xiv.
(16) DAFTAR GAMBAR Gambar. Halaman. 1.1 Struktur otak manusia........................................................................... 23 1.2 Struktur dan organisasi otak manusia................................................... 24 1.3 Gambaran umum lokasi penelitian ........................................................ 41 1.4 Tugas III ............................................................................................... 134. xv.
(17) DAFTAR GRAFIK Grafik. Halaman. 1.1 Memahami arti kiasan sebuah kata ...................................................... 109 1.2 Memahami asosiasi kata....................................................................... 112 1.3 Persentase Kompetensi Persepsi Leksiko-semantik ............................. 114 1.4 Pemilihan kata untuk mengungkapkan perasaan ................................. 115 1.5 Memahaima tema pokok cerita ............................................................ 117 1.6 Daya ingat ............................................................................................ 119 1.7 Menangkap semua informasi penting .................................................. 121 1.8 Menangkap kata yang berisi emosi ...................................................... 123 1.9 Memahami hubungan implisit ( koherensi ) ........................................ 124 1.10 Menandakan perasaan ......................................................................... 126 1.11 Menangkap adjektiva ......................................................................... 128 1.12 Persentase Kompetensi Persepsi Makrostruktur Mahasiswa ............. 130 1.13 Menyatakan tema pokok sebuah cerita ............................................. 131 1.14 Memberikan urutan yang benar .......................................................... 133 1.15 Menyebutkan bagian –bagian penting dan konfabulasi ................... 136 1.16 Menandakan hubungan implisit (koherensi) ...................................... 138 1.17 Menandakan perasaan dan emosi ....................................................... 141 1.18 Persentase Kompetensi Produksi Makrostruktur Mahasiswa ............ 143 1.19 Memahami konotasi sebuah kata/ frasa ............................................. 144 1.20 Memahami metafora dan majas ......................................................... 146. xvi.
(18) 1.21 Memahami maksud pembicaraan ...................................................... 150 1.22 Memahami ujaran tidak langsung (inderek) / sindiran....................... 153 1.23 Memahami sarkasme ......................................................................... 155 1.24 Membayangkan motivasi pembicara ................................................. 159 1.25 Menginterpretasi isi emosional ......................................................... 160 1.26 Memahami humor dan pesan moral .................................................. 162 1.27 Persentase Kompetensi Persepsi Pragmatik Mahasiswa .................... 165 1.28 Memproduksi ujaran sesuai konteks .................................................. 166 1.29 Inhibisi emosional verbal ................................................................... 169 1.30 Inhibisi sosial ..................................................................................... 171 1.31 Persentase Kompetensi Produksi Pragmatik Mahasiswa ................... 173 1.32 Persentase Pemerolehan Bahasa Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab UNJA ........................................................................................ 174 1.33 Persentase Keterampilan Barbicara Pragmatik Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab UNJA ......................................................... 175. xvii.
(19) RIWAYAT HIDUP Penulis berasal dari kabupaten batanghari yang bernama Gerbi Zefriando. dilahirkan di Desa Aro pada tanggal 06 april 1997dari ayah yang bernama Nofrian dan ibu yang bernama Susilawati. penulis merupakan anak pertama dari 3 bersaudara. Penulis mengawali pendidikan disekolah dasar di SDN 45 Sridadi pada tahun 2003 dan pindah ke sekolah SDN 11 Tebo pada tahun 2006 dan selesai pada tahun 2009. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan sekolah menengah pertama di SMPN 1 Tebo dan tamat pada tahun 2012. kemudian melanjutkan pendidikan di SMA N 3 Tebo Tengah dan pindah ke SMAN 6 Batanghari pada tahun 2013. dan lulus pada tahun 2015. hingga bisa melanjutkan pendidikan keperguruan tinggi di Universitas Jambi. Penulis mengawali pendidikan diperguruan tinggi pada tahun 2016 mengambil Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jambi melalui jalur UMBPTN. Penulis juga merupakan mahasiswa aktif dalam beberapa organisasi baik itu didalam kampus maupun diluar kampus. Aktivitas selama kuliah juga tidak kalah baiknya. Penulis dipercaya oleh teman-teman menduduki jabatan CO PSDM Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab. Dalam kreativitas dan pengembangan diri , penulis sering terlibat dalam lomba seperti MTQM tingkat Universitas Jambi dan lomba yang diselenggarakan pada hari-hari besar Islam. Dan ada beberapa peringkat kejuaraan yang sempat diraih. Semua ini tidak terlepas dari rasa percaya diri, kegigihan, dan kemauan keras untuk meraih yang terbaik dengan iringan doa dan kepasrahan diri terhadap Sang Khalik.. xviii.
(20) BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah Bahasa adalah satu sistem kognitif manusia (yang diatur oleh rumus-rumus) yang unik yang dapat dimanipulasi oleh manusia untuk menghasilkan (menerbitkan) sejumlah kalimat bahasa linguistik yang tidak terbatas jumlahnya berdasarkan unsur-unsur yang terbatas untuk dipakai oleh manusia sebagai alat berkomunikasi dan mengakumulasi ilmu pengetahuan.1 Bahasa adalah alat verbal yang digunakan untuk berkomunikasi.2 Bahasa adalah suatu sistem simbol lisan yang arbitrer yang dipakai oleh anggota suatu masyarakat bahasa untuk berkomunikasi dan berinteraksi antar sesamanya, berlandaskan pada budaya yang mereka miliki bersama.3 Dari ketiga pendapat diatas dapat dikaitkan dengan Hipotesis Kenuranian Chomsky dalam. 4. Hipotesis Kenuranian (”The innateness. Hypothesis ”) satu hipotesis dalaman yang dibawa lahir, yang diwariskan secara alamiah, yang mengatakan bahwa manusia telah diperlengkapi secara alamiah dengan suatu fakultas yang khusus yang nurani (“innate”) yang memungkinkan manusia melahirkan dan memperoleh bahasa. Hipotesis ini menekankan bahwa setiap manusia melahirkan bahasa dari otaknya. Lieberman: mengatakan setiap masyarakat manusia mempunyai bahasa yang mereka lahirkan sendiri secara evolusi.5 1. 2. 3. 4. 5. Mangantar Simanjuntak, Diktat Linguistik . Bahasa . Pemerolehan Bahasa dan Gramatika Generatif, Program Studi Magister Lunguistik USU , 2008, hal 17, Seperti yang dikutip oleh Nurilam Harianja, Artikel “ Hubungan Bahasa Dengan Otak”, Fakultas Bahasa Dan Seni, Universitas Negeri Medan, hal 1. Abdul Chaer, Pengantar Semantik Bahasa Indonesia, Jakarta : Rineka (2002), hal 30, Seperti yang dikutip oleh Nurilam Harianja Artikel “ Hubungan Bahasa Dengan Otak”, Fakultas Bahasa Dan Seni, Universitas Negeri Medan, hal 1. Soenjono Dardjowidjojo, Psiko-linguistik : Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 2005, hal 16 ,Seperti yang dikutip oleh Nurilam Harianja, Artikel “ Hubungan Bahasa Dengan Otak”, Fakultas Bahasa Dan Seni, Universitas Negeri Medan, hal 1. Mangantar Simanjuntak , Diktat Linguistik . Bahasa . Pemerolehan Bahasa dan GramatikaGeneratif, Program Studi Magister Lunguistik USU , 2008 hal 24, Seperti yang dikutip oleh Nurilam Harianja, Artikel “ Hubungan Bahasa Dengan Otak”, Fakultas Bahasa Dan Seni, Universitas Negeri Medan, hal Nurilam Harianja, Artikel “ Hubungan Bahasa Dengan Otak”, Fakultas Bahasa Dan Seni,Universitas Negeri Medan, hal 1. Ibid., hal. 25.. 1.
(21) 2. Bahasa yang dilahirkan secara evolusi ini ialah bahasa linguistik, yaitu bahasa luaran. Dan bahasa luaran tersebut ( linguistik ) berasal dari bahasa nurani (bahasa dalaman) yang telah dimiliki manusia secara alami. Dan juga sejalan dengan teori competence dan performance. Competence adalah kapasitas kreatif dari pemakai bahasa. Sedangkan performance adalah penggunaan bahasa secara actual yang meliputi mendengarkan, berbicara, berpikir dan menulis. 6 Chomsky beranggapan bahwa pemakai bahasa mengerti struktur bahasanya yang membuat dia dapat mengkreasi kalimat-kalimat baru yang tidak terhitung jumlahnya dan membuat dia mengerti kalimat-kalimat tersebut. Adapun competence adalah pengetahuan yang intuitif yang dipunyai oleh setiap individu mengenai bahasa ibunya (native language) atau dapat dimaksud dengan pemerolehan bahasa pertama (mother language). Kajian tentang pemerolehan bahasa muncul dari pertanyaan-pertanyaan seputar hubungan bahasa dengan menusia, seperti: bagaimana seorang anak masuk dalam dunia bahasa? Bagaimana pengetahuan tentang bahasa muncul pada masa kanak-kanak, dan bagaimana cara berkembangnya? Apa dasar dari proses pemerolehan bahasa? Apa jenis pengetahuan linguistik yang anak-anak munculkan pada masa pertumbuhan?. 7. Pertanyaan-pertanyaan di atas menjadi semacam milequestions dalam teori pemerolehan bahasa, baik mengenai proses pemerolehan bahasa pertama (mother language pada anak, maupun proses pemerolehan bahasa asing (second language acquisition/foreign language acquisition pada siswa non-native di Indonesia terhadap pemerolehan bahasa Arab.. 6. 7. Samsunuwiyati Mar’at, Psikolinguistik Suatu Pengantar, (Bandung: PT. Refika aditama. 2005 ), hal, 18, Seperti yang dikutip oleh Nurilam Harianja, Artikel “ Hubungan Bahasa Dengan Otak”, Fakultas Bahasa Dan Seni, Universitas Negeri Medan, hal 2. Nana Jumhana, “Pemerolehan Bahasa Pada Anak”, Al-Ittijah Jurnal Keilmuan dan Kependidikan Bahasa Arab, Vol 6, No. 2 (Juli – Desember) 2014, hal. 109-128, Seperti yang dikutip Syahid Ahmad Habibi, “ Bahasa Arab Sebagai Bahasa Kedua (Kajian Teoritis Pemerolehan Bahasa Arab Pada Siswa Non- Native )”, Arabiyat: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan Kebahasaaraban ISSN :2356-153X , 12 April 2015..
(22) 3. Tarigan menjelaskan mengenai pemerolehan bahasa dalam teori akulturasi bahwa proses pemerolehan bahasa merupakan salah satu aspek akulturasi serta tingkat pengakulturasian seseorang pada kelompok bahasa tertentu dalam memperoleh bahasa lainnya atau yang dimaksud bahasa kedua atau bahasa asing.8Sedangkan akulturasi dalam proses pemerolehan bahasa ditentukan oleh tingkat atau jarak sosial9 seseorang serta psikisnya10 terhadap kebudayaan bahasa sasaran tersebut. Sebenarnya jikalau ditelaah lebih lanjut bahwa orang Indonesia memperoleh bahasa Arab ditentukan oleh hubungan antara faktor sosial atau psikis dengan kebudayaan bahasa Arab tersebut. Proses pemerolehan bahasa menjadi salah satu diskursus yang menarik untuk didiskusikan. Terutama proses pemerolehan bahasa asing yang tidak pernah berhenti untuk didiskusikan karena selain terkait dengan konsep pemerolehan bahasa pertama pada anak dan pemerolehan bahasa kedua juga memiliki keterkaitan, mulai dari proses pembelajaran bahasa sampai dengan pemerolehan bahasa asing dalam perkembangannya dapat dilihat dalam perspektif neurolinguistik yang mengkaji sistem saraf dalam otak manusia terhadap proses pemerolehan bahasa asing,11 termasuk bahasa Arab sendiri.. 8. Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Pemerolehan Bahasa (Bandung: Angkasa, 2011 Edisi Revisi) Seperti yang dikutip Syahid Ahmad Habibi, “ Bahasa Arab Sebagai Bahasa Kedua (Kajian Teoritis Pemerolehan Bahasa Arab Pada Siswa Non- Native )”, Arabiyat: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan Kebahasaaraban ISSN :2356-153X , 12 April 2015, Hal 87. 9 Ahmad Habibi Syahid, “ Kepribadian Ekstrovert-Introvert dan Pemerolehan Bahasa Kedua Perspektif Psikolinguistik pada Santri Pondok Modern”, Al-Qalam Jurnal Kajian Keislaman, Vol. 31, No. 2 (Juli-Desember) 2014, hal. 399-426, Seperti yang dikutip Ahmad Habibi Syahid, “ Bahasa Arab Sebagai Bahasa Kedua (Kajian Teoritis Pemerolehan Bahasa Arab Pada Siswa Non- Native )”, Arabiyat: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan Kebahasaaraban ISSN :2356153X , 12 April 2015, Hal 87. 10. Ibid.,. 11. Ahmad Habibi Syahid, “ Bahasa Arab Sebagai Bahasa Kedua (Kajian Teoritis Pemerolehan Bahasa Arab Pada Siswa Non- Native )”, Arabiyat: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan Kebahasaaraban ISSN :2356-153X , 12 April 2015, Hal 86..
(23) 4. Neurologi sebagai ilmu yang mengkaji saraf-saraf otak berkaitan dengan linguistik ilmu yang mempelajari tentang pemerolehan bahasa karena pusat bahasa berdomisili di otak manusia. Jadi neurolinguistik sebagai ilmu baru mengkaji struktur bahasa, kelahiran bahasa, pemerolehan bahasa, pengajaran bahasa, kerusakan bahasa dan mekanisme sereberum (struktur otak) yang mendasari bahasa, baik dalam bentuk ujaran maupun kalimat.12 Sebagaimana lazimnya bahasa-bahasa yang lain, bahasa Arab memiliki empat aspek keterampilan berbahasa (mahārah al-lughah) yang dikenal pula dengan istilah funuun al-lughah (seni-seni bahasa). Substansinya, aspek paling mendasar dari bahasa adalah alat komunikasi dan keterampilan adalah bagian paling mendasar ketika menggunakan bahasa. Keempat mahārah tersebut antara lain sebagai berikut: (mahārah al-istima’) keterampilan mendengar/memyimak (mahārah al-kalam) keterampilan berbicara, (mahārah. al-qirā`ah). keterampilan. membaca,. dan. (mahārah. al-kitabah). keterampilan menulis .. Pemerolehan. bahasa. ditinjau. dari. aspek. neurolinguistik. terhadap. keterampilan berbahasa meliputi dua proses berbahasa di otak. Pertama, adalah proses berbahasa produktif (enkode) dan proses berbahasa reseptif (dekode) Kemampuan mendengar dan membaca merupakan kegiatan dekode yang diproses dalam otak. Kegiatan mendengar dan membaca melibatkan hemisfer kiri dan hemisfer kanan, selain itu juga melibatkan lobus parietal, dan lobus temporal. Sedangkan proses enkode merupakan proses berbahasa di dalam otak yang bersifat produktif.. 12. 13. Mangantar Simanjuntak, Mangantar. Teori Linguistik Chomsky dan Teori Linguistik Wernicke. Kearah satu teori bahasa yang lebih sempurna. Jakarta: Radar Jaya Offset. 1990 , hal 21, Seperti yang dikutip oleh Nurilam Harianja, Artikel “ Hubungan Bahasa Dengan Otak”, Fakultas Bahasa Dan Seni, Universitas Negeri Medan, hal 1. Winda Trisnawati | Permasalahan Pemerolehan Bahasa Pada Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Stkip-Mb Di Tinjau Dari Aspek Neurolinguistik E-Issn 2621-0703P-Issn 2528 6250 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 3 No. 2 (2018), hal 183.
(24) 5. Kemampuan berbahasa yang memiliki sifat produktif adalah berbicara dan menulis. Proses berbicara dan menulis di otak melibatkan hemisfer kiri dan hemisfer kanan, serta lobus frontal. 13 Manusia yang normal fungsi otak dan alat bicaranya, tentu dapat berbahasa dengan baik. Namun, mereka yang memiliki kelainan fungsi otak dan alat bicaranya, tentu mempunyai kesulitan dalam berbahasa, baik produktif maupun reseptif. Jadi, kemampuan bahasanya terganggu14. Secara umum bagian otak terbagi menjadi dua yaitu hemisfer kiri dan hemisfer kanan. Kedua bagian ini memiliki fungsi yang berbeda-beda. Fungsi bicara-bahasa dipusatkan pada hemisfer kiri. Hemisfer kiri ini disebut juga hemisfer dominan bagi bahasa. Hemisfer kiri juga berperan untuk fungsi memori yang bersifat verbal. Sebaliknya, hemisfer kanan penting untuk fungsi emosi, lagu isyarat (gesture), baik yang emosional maupun verbal.. Keterampilan berbicara bukanlah merupakan keterampilan yang sederhana yang dapat dikuasai dalam jangka waktu yang singkat. Dengan kata lain, menurut Brown, keterampilan berbicara merupakan keterampilan yang komplek yang berkaitan dengan keterampilan mikro antara lain adalah sebagai berikut: Pertama, keterampilan menghasilkan ujaran-ujaran yang bervariasi; Kedua, menghasilkan fonem-fonem dan varian-varian alophon lisan yang berbeda dalam bahasa. Ketiga, menghasilkan pola tekanan, kata-kata yang mendapat dan yang tidak mendapat tekanan, struktur ritmis dan intonasi; Keempat, menghasilkan bentukbentuk kata dan frase yang diperpendek; Kelima, menggunakan sejumlah kata yang tepat untuk mencapai tujuan-tujuan pragmatis; Keenam, menghasilkan pembicaraan yang fasih dalam berbagai kecepatan yang berbeda; Ketujuh, mengamati bahasa lisan yang dihasilkan. 14. Abdul Chaer, Psikolinguistik: Kajian Teoritik. Jakarta: PT. Rineka Cipta (2003).
(25) 6. Dan. menggunakan. berbagai. strategi. yang. bervariasi,. meliputi. pemberhentian sementara, pengoreksian sendiri, pengulangan untuk kejelasan pesan; Kedelapan, menggunakan kelas kata (kata benda, kata kerja, dan lain-lain), sistem (tenses, agreement, dan jamak/plural, pengurutan kata, pola-pola aturanaturan dan bentuk ellipsis; Kesembilan, menghasilkan pembicaraan yang menggunakan elemen-elemen alami dalam frase, stop, nafas, dan kalimat yang tepat; Kesepuluh, mengekspresikan makna tertentu dengan gramatika yang berbeda.15 Untuk menunjang keefektifan berbicara, terdapat beberapa faktor yang harus diperhatikan. Faktor-faktor tersebut dibagi menjadi dua, yaitu faktor kebahasaan dan faktor non kebahasaan. Faktor-faktor kebahasaan yang mempengaruhi kemampuan berbicara yaitu: (a) ketepatan ucapan, (b) penempatan tekanan, nada, sendi, dan durasi yang sesuai, (c) pilihan kata (diksi), (d) ketepatan sasaran pembicaraan. Sedangkan faktor-faktor non kebahasaan yang menunjang kemampuan berbicara yaitu: (a) sikap yang wajar, tenang, dan tidak kaku, (b)pandangan harus diarahkan kepada lawan bicara, (c) kesediaan menghargai pendapat orang lain, (d) gerak-gerik dan mimik yang tepat, (e) kenyaringan atau volume suara, (f) kelancaran, (g) penalaran, (h) penguasaan topik. Sehingga dapat kita lihat secara fungsional pemerolehan bahasa perspektif neurolinguistik sangat terkait dengan hal yang menunjang keefektifan kemampuan berbicara. Di lihat dari faktor kebahasaan yang mempengaruhi kemampuan berbicara seperti ketepatan ucapan, penempatan tekanan, nada, sendi, dan durasi yang sesuai, pilihan kata (diksi) berhubungan dengan kemampuan fungsional otak hemisfer kanan.. 15. Yuan Martina Dinata, “Pendekatan Berbasis Tugas, Kepribadian Ekstrovert dan Keterampilan Berbicara Bahasa Arab”, Tesis di SPS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2009. h. 22-23, Seperti yang dikutip Ahmad Habibi Syahid, “ Bahasa Arab Sebagai Bahasa Kedua (Kajian Teoritis Pemerolehan Bahasa Arab Pada Siswa Non- Native )”, Arabiyat: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan Kebahasaaraban ISSN :2356-153X , 12 April 2015, hal 95..
(26) 7. Yaitu dalam hal kemampuan menggunakan bahasa dengan baik (intonasi, nada, tekanan, gerakan isyarat tubuh, tangan, dan ekspresi wajah) agar lawan bicara dapat memahami isi pikiran dan perasaan yang ingin dikomunikasikan. Dan dilihat dari faktor non kebahasaan yang menunjang kemampuan berbicara seperti sikap yang wajar, tenang, dan tidak kaku, pandangan harus diarahkan kepada lawan bicara, kesediaan menghargai pendapat orang lain, gerak-gerik dan mimik yang tepat, kenyaringan atau volume suara, kelancaran, penalaran, penguasaan topik berhubungan dengan kemampuan fungsional otak Hemisfer kiri yaitu sebagai pemantau kemampuan tata bahasa seseorang (bercakap-cakap, mengerti pembicaraan orang lain, menamakan benda, mengulang sesuatu, membaca, dan menulis). Dengan uraian yang telah dijelaskan tersebut, terlihat bahwa jelas sekali pemerolehan bahasa menurut perkembangannya perspektif neurolinguistik mengkaji sistem saraf dalam otak memiliki keterkaitan terhadap keefektifan berbicara pada manusia / pelaku bahasa, terlebih keefektifan berbicara dalam bahasa asing seperti bahasa Arab, pemerolehan bahasa asing atau bahasa kedua dapat dikuasai dengan baik apabila pemerolehan bahasa asing atau bahasa kedua tersebut telah dia awali dengan proses pembelajaran yang baik. Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa asing yang diajarkan di Indonesia, mata pelajaran bahasa Arab yang diajarkan disekolah-sekolah, baik SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA. Tidak semua sekolah yang berbasis umum (SD,SMP,SMA) menjadikan bahasa Arab sebagai mata pelajaran, Atau sebagai pelajaran tambahan bagi siswanya. Dan termasuk pada tingkat perguruan tinggi hanya beberapa perguruan tinggi yang menjadikan bahasa arab sebagai salah satu program studi baik itu sastra arab, maupun pendidikan bahasa arab ..
(27) 8. Salah satu perguruan tinggi negeri yang menjadikan bahasa arab menjadi program studi ialah Universitas Jambi (untuk selanjutnya Unja) . Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Unja. ini dinaungi oleh Fakultas Ilmu Budaya,. Berdasarkan hasil observasi awal, dalam pembelajaran bahasa Arab di Prodi Pendidikan Bahasa Arab Unja. terdapat masalah antara pemerolehan bahasa. terhadap keterampilan berbicara mahasiswa yang tidak berjalan seiring. Mereka para mahasiswa yang notabene pelaku pemerolehan bahasa kedua SLA (Second Language Acquisition) terhitung di ruang lingkup akademik angkatan (2016) hingga angkatan (2019) berkisar 82% dari mereka belum mampu berbahasa asing (bahasa Arab) dengan baik atau secara aktif pada aspek keterampilan berbicara, yaitu mereka yang berlatar belakang dari sekolah Non Pesantren. Sehingga apabila disimpulkan terkait Pemerolehan dan penguasaan bahasa mereka sangat minim dikarenakan banyak dari mereka yang bukan dari sekolah yang mengembangkan bahasa seperti halnya di sekolah pesantren pada umumnya terlebih pada (maharah al kalam) keterampilan berbicara yang berguna untuk berkomunikasi secara aktif, dan sebagai tempat Khusus untuk berbicara yaitu pada aspek bahasa Hemisfer Kiri meliputi kemampuan untuk memproses informasi tentang fonologi, tidak cukup memberikan kemampuan lebih terhadap perkembangan berbicara para mahasiswa. Sehingga penting keberadaan Hemisfer Kanan yang memiliki fungsi menganalisis informasi spasial yang sangat banyak dan informasi Non verbal, termasuk sinyal yang sangat kompleks terlibat dalam komunikasi.16 Berdasarkan alasan-alasan tersebut, penulis ingin meneliti lebih lanjut tentang “Korelasi Antara Pemerolehan Bahasa Terhadap Keterampilan Berbicara Bahasa Arab Perspektif Neurolinguistik (Studi Kasus Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab Universitas Jambi).. 16. Jung Jera, “Neuropsikologi klinis”, http://jungjera.Wordpress.Com/tag/neuropsikologiklinis/(diakses12 februari 2020)..
(28) 9. 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: “Adakah “Korelasi Antara Pemerolehan Bahasa Terhadap Keterampilan Berbahasa Arab Perspektif Neurolinguistik (Studi Kasus Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab Unja) ?”. 1.3. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya korelasi antara pemerolehan bahasa terhadap keterampilan berbicara bahasa arab. 1.4. Pembatasan Masalah Dalam penelitian ini, masalah yang akan diteliti dibatasi hanya pada mahasiswa pendidikan bahasa Arab Unja dalam pemerolehan bahasa Arab dan hubungannya dengan keterampilan berbicara.. 1.5. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi: • Dosen Hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan bagi Dosen mengenai gambaran kemampuan mahasiswa kaitannya dalam pemerolehan bahasa dan keterampilan mahasiswa dalam berbicara bahasa Arab. • Mahasiswa Hasil penelitian ini dapat dijadikan tolak ukur siswa dalam menguasai kosakata dan kemampuan berbicara sebagai wujud pemerolehan bahasa yang dia dapati selama menempuh kuliah, sehingga siswa termotivasi untuk memperbaiki prestasi belajarnya..
(29) 10. • Program Studi Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan pemikiran bagi kurikulum Program Studi mengenai pengajaran bahasa Arab di Program studi pendidikan bahasa Arab Universitas Jambi.. 1.6. Sistematika penulisan Untuk mempermudah penulisan ilmiah yang konsisten dan sistematis dari penelitian ini, maka perlu disusun suatu sistematika penulisan sedemikian rupa, sehingga penelitian ini dapat menunjukkan hasil dengan totalitas yang utuh. Dengan demikian dalam menghendaki suatu penelitian dengan mekanisme penulisan yang bersruktur maka. secara garis besar penulis dalam membuat. proposal ini membaginya menjadi tiga bagian, yakni bagian awal, bagian inti, dan bagian akhir. Bagian awal proposal ini berisi halaman judul, halaman pengesahan, kata pengantar dan daftar isi, daftar lampiran dan abstraksi. Bagian inti proposal ini terdiri atas tiga bab yaitu pendahuluan, landasan teori, dan metode penelitian. Bab I berisi pendahuluan yang memuat latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, Pembatasan Penelitian dan sistematika penulisan proposal dan di akhiri dengan Kajian Pustaka. Bab II menyajikan Hakikat dan Pengertian Bahasa dari segala ruang lingkup kajiannya, landasan teori yang memaparkan teori tentang pengertian pemerolehan bahasa, Pemerolehan Bahasa dari sudut pandang Neurolinguistik, hubungan otak dan bahasa, Perbedaan fungsi otak kanan dan otak kiri, Hemisfer kanan dan Hemisfer kiri ,keterampilan berbicara, faktor penunjang kemampuan berbicara, Keterampilan Berbicara bahasa arab dalam kurikulum Bahasa Arab perguruan tunggi, kerangka pikir dan hipotesis. Bab III mengetengahkan metode penelitian yang berisi variabel penelitian, populasi dan sampel, metode pengumpulan data, Pengujian validitas dan reliabilitas data penelitian, sistem penilaian, serta teknik analisis data..
(30) 11. 1.7. Kajian Pustaka Kajian Pustaka adalah suatu tindakan yang diambil oleh peneliti untuk menelusuri berbagai literature hasil penelitian sebelumnya yang relevan atau memiliki keterkaitan dengan fokus permasalahan yang ditelitinya. Adapun Kajian Pustaka sendiri bertujuan agar tidak terjadi plagiasi terhadap karya-karya sebelumya dan mendukung karya peneliti sesudahnya serta sebagai referensi untuk melakukan penelitian. 1. Winda Trisnawati (2018) Pada Jurnalnya , “ Permasalahan Pemerolehan Bahasa Pada Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP-MB di tinjau dari Aspek Neurolinuguistik ” Yang mana Hasil Penelitian tersebut menjelaskan Bahwa Kemampuan pemerolehan bahasa Inggris mahasiswa angkatan I dalam bidang listening dan reading tergolong kurang, Yang secara Neurolinguistik Lobus parietal yang berfungsi menangkap sensori dan menjalankan fungsi-fungsi bahasa, serta lobus temporal yang berfungsi menentukan sikap dan tindakan yang konkret, seperti menilai, memberikan perencanaan, mengatur agenda-agenda, dan kreativitas yang perlu distimulus sehingga proses pemerolehan bahasa asing dapat berjalan baik dan lancar. 2. Handoko dkk, (2016), Kompetensi Makrosutruktur Mahasiswa UNIDHA Dillihat Dari Fungsi Hemisfer Kanan di dalam Jurnalnya, dengan hasil penelitian: Bahwa hasil uji kompetesi kebahasaan ini menunjukkan bahwa gangguan komunikasi berbahasa tidak hanya diakibatkan oleh cedera atau lesi pada otak. Orientasi pembelajaran yang cenderung lebih mengoptimalkan hemisfer kiri membuat hemisfer kanan tidak berkembang. Dalam kompetensi memahami bahasa, ketidakseimbangan hemisfer kiri dan hemisfer kanan ini mengakibatkan proses pemakanaan hanya berfokus pada makna literal dan interpretasi pertama. 3. Danial Hilmi, (2017) Pada Jurnalnya ,’’ Sistem Pembelajaran Al-Qawaid Al- Sharafiyah di Indonesia dalam Perspektif Neurolinguistik. ’’Yang menjelaskan Bahwa di dalam sistem Pembelajaran Al-Qawaid AlSharafiyah membutuhkan sistem yang baik demi tercapainya tujuan kemahiran berbahasa Arab, Pembelajaran Al-Qawaid Al- Sharafiyah di Indonesia dari sudut pandang Nerolinguistik tampak kurang efektif karena belum terbentuknya lingkungan bahasa yang optimal, yang mana sangat penting untuk dapat meningkatkan penggunaan kedua sisi otak dengan baik sehingga tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan..
(31) 12. 4. Handoko (2013) Pada Tesisnya,” Kompetensi Kebahasaan Mahasiswa Sastra Inggris UNAND Padang, Yang mana hasil penelitian ini menjelaskan terdapat Gangguan-gangguan Kemampuan Berbahasa sebagai bagian dari Kompetensi Komunikasi Hemisfer Kanan pada mahasiswa dari keseluruhan hasil uji kompetensi kebahasaan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kompetensi hemisfer kanan dalam proses berbahasa masih cederung diabaikan oleh kebanyakan mahasiswa. Kurangnya kompetensi hemisfer kanan dalam berbahasa mengakibatkan komunikasi mahasiswa, khususnya dalam berbahasa, hanya berfokus pada penyampaian informasi dan mengabaikan aspek kesantunan berbahasa.. Dari hasil beberapa penelitian tersebut, penulis ingin menekankan pada korelalsi antara pemerolehan bahasa yang diwujudkan dalam pemrosesan informasi spasial dan informasi non verbal sebagai telaah fungsional Hemisfer Kanan yang arah penelitiannya berdasarkan Perspektif Neurolinguistik terhadap keterampilan berbicara bahasa Arab studi kasus Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab Universitas Jambi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif..
(32) BAB II KAJIAN TEORITIK. 2.1. Hakikat Bahasa Berawal dari pengertiannya bahasa dapat diartikan sebagai bunyi-bunyi vokal yang digunakan dalam ujaran atau lambang-lambang tulisan dari bunyi-bunyi vokal itu, alat komunikasi yang digunakan dalam lingkungan kelompok manusia tertentu, sopan santun, tingkah laku yang baik.17 Soenjono Dardjowidjo mengatakan bahwasannya bahasa adalah bahasa adalah sistem lambang bunyi ujaran yang arbitrer yang digunakan untuk berkomunikasi oleh masyarakat pemakainya. 18. . System pada definisi disini merujuk pada adanya elemen yang. berhubungan satu sama yang lainnya yang akhirnya membentuk suatu kosisten yang sifatnya hirearkhis. Prof. dr. Ramelan memiliki pengertian yang lain menurutnya bahasa sebagai suatu system symbol-symbol atau lambang-lambang suara yang arbiterer yang besifat manasuka yang digunakan manusia dalam hubungan dan bekerjasama (Language Is A System Of Arbitrary Vocal Symbol By Human Being To Cooperate And Interact).19 Melihat ungkapan dari seorang pakar bahasa Jerman Wilhelm Von Humboldt (abad ke-19) mengemukakan bahwa bahasa merupakan suatu sintesis (gabungan) bunyi sebagai bentuk luarnya pikiran sebagai bentuk dalamnya.. 17. 18. 19. Bahasa (Def.1) (n.d) Dalam KBBI V Daring diakes melalui https://Kbbi.Kemdikbud.go.id/, 31 Januari 2020 Mudjia Rahardjo, “Bahasa itu apa? (Materi Kuliah Sosiolinguistik), Gema Uin Maulana Malik Ibrahin, 25 Februari 2015. System ekspresi (the System of exspresions ) dan system isi bahasa ( the system of contents). http://tarbiyah.uin-suka.ac.id/file_suka/pertemuan keempat.pdf, Seperti yang dikutip Alif Cahya Setiyadi, “ Bahasa Dan Berbahasa Perspektif Psikolinguistik ” Alumni Fakultas Tarbiyatu, Jurusan Pendidikan Bahasa Arab ISID Gontor, hal 168.. 13.
(33) 14. Menurutnya bahasa merupakan suatu kegiatan yang dapat diuraikan menurut seperangkat prinsip yang jumlahnya terbatas dan berdasarkan hal itu bahasa dapat membangkitkan berbagai ujaran (kalimat) yang tidak terbatas jumlahnya.20 Dalam berbagai pengertian tentang bahasa tersebut dapat diuraikan pengertian bahasa menjadi beberapa point yang mengacu pada makna bahasa tersebut. Kesemua definisi di atas berbeda dalam penampilannya saja, kesemuanya memperlihatkan napas yang sama tentang bahasa. Kalau diringkaskan hakikat bahasa itu adalah sebagai berikut. Pertama, pada posisinya bahasa itu sistematik bahasa adalah Sistematik berarti mempunyai atau diatur oleh sistem, yaitu aturan atau pola.Pada setiap bahasa aturan ini bisa terlihat dalam dua hal yaitu: (1) sistem bunyi dan (2) sistem makna. Hanya bunyi-bunyian tertentu itulah yang bisa dipakai, digabunggabungkan dengan bunyi lainnya untuk membentuk satu kata sebagai simbul dari satu acuan atau rujukan (referent),21 dalam artian bahwa bahasa itu bukanlah sejumlah unsure yang terkumpul secara tak beraturan unsure bahasa diatur seperti pola-pola yang berulang sehigga membentuk suatu rangkaian makna. Kedua, bahasa itu manasuka (arbitrer) bahasa itu Arbitrer berarti selected a random and withhout reason, dipilih secara acak tanpa alasan. Ringkasnya, manasuka berarti seenaknya, asal bunyi, tidak ada hubungan logis dengan katakata sebagai simbul (the symbols) dengan yang disibulkannya (the symbolized). Contoh manasuka tersebut terbukti antara bunyi-bunyi (rangkaian bunyibunyi) dengan suatu makna yang terkandung di dalamnya. Mengapa bahan bakar sepeda motor itu kita sebut bensin tidak kecap. Binatang tertentu di Indonesia disebut anjing, di Inggris dog, di Mekah kalbun, di Madridperro Mengapa begitu? Jawabnya: Memang begitulah maunya,memang itulah kosa kata tertentu yang sesuai dengan sifat bendanya. Itulah manasuka.. 20. Kinayati Djojosuroto dalam Filsafat Bahasa., h. 51-52. Seperti yang dikutip Alif Cahya Setiyadi, “ Bahasa Dan Berbahasa Perspektif Psikolinguistik ” Alumni Fakultas Tarbiyatu, Jurusan Pendidikan Bahasa Arab ISID Gontor, hal 169. 21 Sri Utami, Dosen Universitas Kutai Kartanegara , “Bahasa Sebagai Maha Indentitas Manusia”, jurnal Cemerlang Volume II, Nomor 2, Desember 2014.
(34) 15. Tadinya memang begitulah setiap bunyi-bunyi itu manasuka, tapi karena bahasa itu kekayaan sosial maka yang manasuka tadi disetujui pemakainnya oleh masyarakat penutur bahasa. Yang manasuka tadi lalu berurat, berakar, mempribadi dan membatin pada setiap penutur. Bila sudah menjadi kebiasaan (conventional) maka yang manasuka tadi menjadi peraturan yang tetap, menjadi suatu sistem. Semua penutur akan (harus) berbicara sesuai dengan sistem ini, sebab pelanggaran terhadap sistem ini berarti pelanggaran terhadap norma bahasa, berarti menolak sosialisasi dengan orang lain. Dia terputus dari lingkungannya. Dari contoh di atas maka dapatlah dikatakan bahwa: bahasa itu manasuka yaitu bahasa itu sosial konvensional dan bahasa itu arbitrer tapi juga non arbitrer. 22 Ketiga, bahasa itu ucapan/(vocal) yang berarti media bahasa yang terpenting adalah dengan bunyi-bunyi, bagimanapun sempurna dan modernnya media tulisan. Kita bisa berbicara tanpa menulis, tapi kita tidak bisa menulis tanpa berbicara (paling tidak pada diri sendiri). Semua bukti-bukti penyelidikan sejak jaman dulu sampai detik ini terbukti bahwa ujaranlah bahasa yang sesungguhnya.Sistem penulisan hanyalah satu alat untuk menggambarkan arti di atas kertas saja. Tulisan dipakai untuk melestarikan ucapan. Singkatnya sistem tulisan berfungsi sebagai pelestari ujaran bukannya mengatur ujaran. Bahasa disebut sebagai alat pelestari kebudayaan manusia Karena merupakan bagian dari fungsi pelestari ujaran. Keempat, bahasa itu symbol Pertama-tama harus dibedakan antara simbol dengan tanda (symbols and signs). Simbol mengacu kepada sesuatu obyek dan hubungan antara simbol dengan obyek itu bersifat manasuka, sedangkan hubungan tanda dengan acuannya tidak manasuka. Dapat diktakan juga Simbol yaitu sejenis tanda, namun tidak semua tanda adalah simbol. Anggukan kepala bersifat manasuka, jadi ini simbol. Menangis tanda sedih, merah muka tanda malu, pucat tanda ketakutan. Tanda-tanda ini disebabkan suasana emosional jadi bukan manasuka. Ini semua bukan simbol. Simbol bisa dibuat daribahan apa saja.. 22. Ibid. hal,. 3..
(35) 16. Piramid di Mesir terbuat dari batu sebagai lambang keagungan. Simbol bisa juga terbuat dari kain, umpamanya memakai pakaian warna hitam adalah simbol sedih/berkabung. Simbol bisa terbuat dari bunyi seperti ujaran kita, simbol bisa juga berbentuk tulisan dari tinta di atas kertas. Awan tanda akan turun hujan, sedangkan kata hujan diatas kertas ini tidak basah sedikit pun, karena tulisan hujan hanyalah simbol. Kadar simbolnya yang tinggi itulah yang membuat bahasa manusia menjadi alat yang maha berguna bagi kehidupan penuturnya. Bahasa manusia itu adalah simbol dari perasaan keinginan harapan dan sebagainya, pendeknya bahasa itu adalah simbol kehidupan manusia, simbol manusia itu sendiri. Kelima, bahasa itu mengacu pada dirinya Contoh-contoh di atas menunjukkan bahasa mengacu pada obyek di luar dirinya.Selain itu bahasa bisa mengacu atau memantul pada bahasa itu sendiri.Sesuatu bahasa baru disebut bahasa bila ia mampu dipakai untuk menganalisis bahasa itu sendiri. Manusia demikian hebatnya, bisa berbicara tentang bicaranya; jadi ujaran sebagai obyek ujaran. Inilah yang dalam Linguistik disebut metalanguage yaitu bahasa bisa dipakai untuk membicarakan bahasa. Seperti halnya Linguistik, menggunakan bahasa untuk menganalisis bahasa secara ilmiah, jadi termasuk metalanguage. Keenam, bahasa itu manusiawi. Bahasa itu manusiawi dalam pengertian bahwa apa-apa yang sudah dibicarakan di muka (sistem, manasuka, ujaran, simbol) dan komunikasi itu adalah suatu kekayaan yang hanya dimiliki umat manusia. Ringkasnya bahwa manusialah yang berbahasa sedangkan hewan-hewan lain tidak berbahasa. Keistimewaan. bahasa. manusia. akan. semakin. terasa. kalau. kita. membandingkannya dengan komunikasi binatang misalnya. Ahli-ahli biologi membuktikan bahwa sistem komunikasi binatang itu sama sekali tidak mengenal ciri ganda bahasa manusia yaitu system bunyi dan makna (duality feature). Ketujuh, bahasa itu komunikasi bahasa merupakan sarana untuk komunikasi dan bekerjasama. Bahasa merupakan sarana berkomunikasi antar manusia,tanpa bahasa tiada komunikasi dan sebagai sarana komunikasi maka segala yang berkaitan dengan komunikasi tidak lepas dari bahasa..
(36) 17. Kunci terakhir untuk membuka hakekat bahasa adalah Komunikasi Fungsi terpenting dari bahasa adalah alat komunikasi dan interaksi. Bahasa berfungsi sebagai lem perekat dalam menyatupadukan keluarga, masyarakat dan bangsa dalam kegiatan sosialisasi. Tanpa bahasa suatu masyarakat tak dapat terbayangkan. Kata ”komunikasi” mencakup maknamengerti, dan berbicara, mendengar dan membalas tindak. Kesemua tindakan dan peristiwa tutur ini bisa berobyek peristiwa masa silam, hari ini dan esok.. 2.2. Pengertian Pemerolehan Bahasa Istilah Pemerolehan dipakai untuk padanan kata dalam bahasa Inggris yaitu acquisition, yakni proses pemerolehan Bahasa yang dilakukan oleh anak secara natural terhadap bahasa ibunya. Studi tentang pemerolehan bahasa kedua (asing) atau disebut second language acquisition (SLA) / foreign language acquisition (FLA) dapat dipahami sebagai bidang ilmu intradisipliner yang berusaha untuk mengungkap tentang faktor-faktor di luar bahasa terhadap proses pemerolehan bahasa kedua (asing) seperti faktor psikis dan faktor sosial. Faktor-faktor tersebut merupakan disiplin ilmu psikolinguistik, sosiolinguistik, ataupun neurolinguistik yang mempengaruhi proses pemerolehan bahasa kedua (asing).23 Pemerolehan bahasa biasanya dibedakan dari pembelajaran bahasa (language learning). Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang anak mempelajari bahasa kedua (asing), tentunya setelah dia memperoleh kemampuan bahasa pertamanya. Fromkin dan Rodman menjelaskan bahwa ada dua pengertian mengenai pemerolehan bahasa. Pertama, pemerolehan bahasa mempunyai permulaan yang mendadak, tibatiba. Kedua, pemerolehan bahasa memiliki suatu permulaan yang gradual yang muncul dari prestasi-prestasi motorik, sosial, dan kognitif pralinguistik.24. 23. 24. Ahmad Habibi Syahid, Op.Cit.,hal 86 Nana Jumhana, “Pemerolehan Bahasa Pada Anak”, Al-Ittijah Jurnal Keilmuan dan Kependidikan Bahasa Arab, Vol 6, No. 2 (Juli – Desember) 2014, h. 109-128, Seperti yang dikutip Ahmad Habibi Syahid, “ Bahasa Arab Sebagai Bahasa Kedua (Kajian Teoritis Pemerolehan Bahasa Arab Pada Siswa Non- Native )”, Arabiyat: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan Kebahasaaraban ISSN :2356-153X , 12 April 2015, hal 89..
(37) 18. Senada dengan pengertian Fromkin dan Rodman, Yukio25 juga menjelaskan bahwa pada proses pemerolehan bahasa kedua, seorang pembelajar memperoleh bahasa pada saat dia berusaha untuk mempelajari bahasa tersebut. Beberapa penjelasan mengenai pengertian permerolehan bahasa tersebut, cenderung terjadi pada proses pemerolehan bahasa ibu atau bahasa pertama. Namun, pada perkembangannya manusia mengalami fase belajar. Pada fase ini, manusia dihadapkan pada penguasaan bahasa kedua/bahasa asing. Tentunya penguasaan tersebut lebih cenderung melalui proses pembelajaran, akan tetapi dalam studi tentang pembelajar bahasa, terjadi proses pemerolehan bahasa kedua/bahasa asing pada saat dia mempelajarinya. Karena itu, muncullah istilah pemerolehan bahasa kedua atau pemerolehan bahasa asing yang berakar pada teori pemerolehan bahasa pertama. Dan. dibedakan antara proses. pembelajaran bahasa dengan. proses. pemerolehan. Walaupun pada proses pemerolehan bahasa kedua/ bahasa asing dimulai dari proses pembelajaran.26 Istilah tentang second language acquisition atau dikenal dengan istilah pemerolehan bahasa kedua, sangat sulit untuk menemukan pemaknaan yang tepat terutama terhadap pemerolehan bahasa kedua di Indonesia. Belum ada jawaban yang sederhana terkait pertanyaan tentang ‘what is second language acquisition ?’ atau apa itu SLA (pemerolehan bahasa kedua)?27 Studi tentang pemerolehan bahasa kedua sangatlah komplek, karena hal tersebut dihadapkan pada fenomena-fenomena yang muncul kecuali pada poin-poin tertentu manakala hal tersebut dipandang dalam terminologi yang berbeda-beda.. 25. 26 27. Yukio Tono, “The Role of Learner Corpora in SLA Research and Foreign Language Teaching: The Multiple Comparison Approach”, a Dissertation at Lancaster University Department of Applied Linguistics and Modern English Language, February) 2002, hal. 26, Seperti yang dikutip Ahmad Habibi Syahid, “ Bahasa Arab Sebagai Bahasa Kedua (Kajian Teoritis Pemerolehan Bahasa Arab Pada Siswa Non- Native )”, Arabiyat: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan Kebahasaaraban ISSN :2356-153X , 12 April 2015, hal 89. Ahmad Habibi Syahid, Op.Cit.,hal 89. Ibid..
(38) 19. Hal ini senada ketika seseorang yang berbeda memaknai sesuatu hal. Pasti cara pandang dan makna yang keluar akan berbeda. Yukio mengatakan bahwa dalam studinya tentang pembelajar bahasa, perbedaan antara bahasa kedua, ketiga (atau lebih dari 4) sangat sulit. Hal ini disebabkan karena pada bahasa tertentu memiliki paham multilingualisme, dan istilah ‘second’ secara umum digunakan untuk merujuk pada bahasa lainnya selain bahasa ibu.Adapun terkait dengan proses pemerolehan bahasa, jikalau ditelaah lebih lanjut bahwa orang Indonesia memperoleh bahasa Arab ditentukan oleh hubungan antara faktor sosial atau psikis dengan kebudayaan bahasa Arab tersebut. Proses pemerolehan bahasa menjadi salah satu diskursus yang menarik untuk didiskusikan. Terutama proses pemerolehan bahasa asing yang tidak pernah berhenti untuk didiskusikan, karena kajiannya tidak hanya terkait dengan konsep pemerolehan bahasa pertama pada anak saja. Namun dapat dikaji terhadap pemerolehan bahasa kedua juga memiliki keterkaitan, mulai dari proses pembelajaran bahasa sampai dengan pemerolehan bahasa asing dalam perkembangannya dapat dilihat dalam perspektif neurolinguistik yang mengkaji sistem saraf dalam otak manusia terhadap proses pemerolehan bahasa asing,28 termasuk bahasa Arab sendiri.. 2.3. Pengertian Neurolingustik. 2.3.1 Neuro-lingustik Neurolinguistik merupakan cabang ilmu linguistik dalam bidang lingustik makro dan disebut dengan istilah “ makrolinguistik ”. Neurolinguistik berasal dari dua cabang ilmu, yaitu bidang ilmu neurologi dan bidang ilmu linguistik. Neurologi sasaran kajian atau obyek kajiannya adalah anatomi saraf otak manusia ( bidang ilmu kedokteran ), sedangkan linguistik obyek kajiannya adalah bahasa. Secara lafdziyiah tampak hubungan keduannya sangat jauh. 29 28. 29. Ibid, hal 86. Nur Taqwa Amin “Keutamaan Teknik Pendekatan Neurolinguistic Programming Dalam Proses Pembelajaran (Sebuah Konsep Strategi Pembelajaran Bahasa Arab Bagi Mahasiswa Belajar Pemula)”, Nady Al-Adab |Volume 12, Nomor 1, ( Februari 2016), hal 62..
(39) 20. Namun secara maknawiyah dan pragmatis hubungan keduanya sangat erat karena berhubungan dengan pemakaian bahasa. Neurologi sebagai ilmu yang mengkaji saraf-saraf otak berkaitan dengan linguistik ilmu yang mempelajari tentang pemerolehan bahasa karena pusat bahasa berdomisili di otak manusia. Jadi neurolinguistik sebagai ilmu baru mengkaji struktur bahasa, kelahiran bahasa, pemerolehan bahasa, pengajaran bahasa, kerusakan bahasa dan mekanisme sereberum (struktur otak) yang mendasari bahasa, baik dalam bentuk ujaran maupun kalimat.30 Neurologi dan Linguistik bekerja sama dalam bidang pragmatik (interdisipliner), sehingga melahirkan ilmu baru yang bernama “Neurolinguistik “ yaitu ilmu tentang hubungan antara bahasa dan saraf otak.31. 2.3.2 Neuron ( sel saraf ) Neuron disebut juga sebagai sel saraf. Neuron mempunyai fungsi mengirimkan pesan atau implus yang berupa rangsangan atau tanggapan. Jutaan sel saraf ini membentuk suatu system saraf, atau dengan kata lain neuron merupakan sel utama unsur-unsur yang mendasari fungsi system saraf. System saraf ini merupakan bagian yang menyusun system koordinasi. Sistem Koorsinasi ini bertugas menerima rangsangan, mengantarkan rangsangan ke seluruh bagian tubuh, serta memberikan respons terhadap rangsangan tersebut. Pengaturan penerima rangsangan dilakukan oleh alat indra. Pengolah rangsangan dilakukan oleh saraf pusat yang kemudian meneruskan untuk menanggapi rangsangan yang datang dilakukan oleh system saraf dan alat indra. Rangsangan dapat berasal dari luar tubuh, seperti suara, cahaya, bau, dan sebagainya. Rangsangan yang berasal dari dari dalam tubuh seperti, rasa haus, lapar, rasa nyeri atau sakit.. 30. 31. Jenni Rukia Girsang, Gangguan Penggunaan Kalimat Dasar Bahasa Indonesia Pada Penyandang Spektrum Autisme, Skripsi Sarjana, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatra Utara, Medan, 2013, hal 2. Nur Taqwa Amin, Loc.Cit..
(40) 21. Neuron adalah sel yang mempunyai kemampuan menerima implus dan mengantarkan implus, yang jumlahnya triliunan dalam tubuh manusia. Sel-sel nya tidak mengalami pembelahan sel, sehingga jika sudah mati / rusak neuron tidak dapat diganti. Neuron atau sel saraf merupakan satuan anatomis dan fungsional independen dengan ciri morfologis mejemuk.32 Neuron adalah beberapa jenis, antara lain : (1) Neuron Sensorik merupakan sel saraf yang berfungsi untuk mengantarkan implus dari reseptor (alat indra) menuju ke otak atau sumsum tulang belakang. Neuron sensorik disebut juga neuron indra, karena dendrit neuron ini berhubungan dengan alat indra untuk menerima implus. (2) Neuron Motorik, merupakan sel saraf yang berfungsi untuk membawa implus dari otak atau sumsum tulang belakang menuju efektor (otot atau kelenjar dalam tubuh). Neuron ini disebut neuron penggerak karena dendrit neuron motoriknya berhubungan dengan akson lain, (3) Neuron Konektor (interneuron), merupakan neuron berkutub banyak yang memiliki banyak dendrite dan akson. Neuron ini berfungsi untuk meneruskan rangsangan dari neuron sensorik ke neuron motorik. Neuron ini disebut neuron penghubung karena ujung dendrite neuron yang satu berhubungan dengan ujung akson neuron yang lain, (4) Neuron Istirahat, Impuls saraf atau rangsang saraf adalah pesan saraf yang dialirkan sepanjang akson dalam bentuk gelombang listrik. Bila sebuah saraf tidak mengantarkan impuls, maka serabut saraf tersebut dalam keadaan istirahat.33. 2.4. Teori Dan Metodologi Landasan Neurologis Bahasa Faktor yang juga penting dalam penguasaan bahasa adalah faktor neurologis, yang berkenaan dengan Teori Neurofungsional atau lebih dikenal dengan. nama. Lamandella's. Neurofuctional. Theory.. Lamandella. (1979). membedakan dua tipe dasar pemerolehan bahasa: (1) primary language acquisition, dan (2) secondary language acquisition. 32 33. Bocha-fst12,” Jaringan Saraf Otak”, Komputer cerdas. Ibid..
(41) 22. Yang pertama, berlaku pada anak usia 2-5 dalam pemerolehan satu atau lebih bahasa sebagai bahasa pertamanya. Yang kedua, terbagi dua bagian, yaitu: (a) belajar secara formal bahasa asing/bahasa kedua, dan (b) pemerolehan bahasa kedua yang terjadi secara alamiah setelah anak berusia di atas lima tahun. Kedua macam pemerolehan bahasa itu mempunyai sistem neurofungsional yang berbeda, dan masing-masing mempunyai fungsi hirarkis.34. 2.5. Struktur Dan Organisasi Otak Manusia Pertumbuhan manusia menjadi penyelidikan para ahli sejak lama, khususnya tentang penyelidikan oleh para ahli palaeneurologi. Penyelidikan ini sudah berlangsung sekitar 3 juta tahun. Hasil penyelidikan ini setidaknya tampak pada ukuran otak manusia yang membesar dari 400 miligram menjadi 1400 miligram. Meskipun ukuran bukan satu-satunya indikator untuk mengukur perubahan fungsi, paling tidak ukuran itu memungkinkan akan adanya fungsi yang bertambah, Halloway mengemukakan perkembangan otak ini dapat dibagi menjadi empat tahap, yaitu: 35 1) Tahap perkembangan ukuran 2) Adanya perubahan reorganisasi pada otak 3) Munculnya system fiber yang berbeda-beda daerah-daerah tertentu melalui corpus collosum. 4) Munculnya dua hemisfer yang asimitris.. Sistem saraf merupakan pusat keputusan dan komunikasi tubuh. Sistem saraf terdiri dari dua bagian utama: (a) tulang punggung yang terdiri dari sederetan tulang punggung yang bersambung-sambungan (spinal cord) dan (b) otak. Otak terdiri dari dua bagian: (i) batang otak (brain stem) dan (ii) korteks serebral (cerebral cortex). Otak merupakan pusat dari keseluruhan tubuh.. Kasma F. Amin,”Pemerolehan Bahasa Kedua (Bahasa Asing)”, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Sastra UMI, Jurnal Ilmiah Tamaddun, ISSN.0216-809, Vol.8, No.1, Juni 2011, hal 54. 35 Ibid, hal 138. 34.
(42) 23. Selain paling penting, otak juga merupakan organ yang paling rumit. Otak manusia berukuran sekitar 1-1.5kg dengan rata-rata 1330 gram. Ukuran tersebut kurang lebih 2% saja dari ukutan tubuh manusia. Ukuran otak yang sebesar itu membutuhkan 15% dari seluruh Peredaran darah dari jantung 20 % dari sumber daya metabolik manusia.36. Gambar 1.1 Struktur Otak Manusia. Seperti terlihat pada Gambar 1.1 otak dibagi menjadi empat bagian, yaitu: 1) Cerebrum (Otak Besar) 2) Cerebellum (Otak Kecil) 3) Brainstem(Batang Otak) 4) Limbic System (Sistem Limbik). 36. Ibid..
(43) 24. 2.5.1 Cerebrum (Otak Besar) Cerebrum adalah bagian depan yang paling menonjol dari otak depan .Otak besar yang terdiri dari dua belahan, belahan kiri dan kanan. Setiap belahan mengatur dan melayani tubuh yang berlawanan,37 bagian terbesar dari otak manusia yang juga disebut dengan nama Cerebral Cortex, Forebrain atau Otak Depan. Cerebrum merupakan bagian otak yang membedakan manusia dengan binatang. Cerebrum membuat manusia memiliki kemampuan berpikir, analisis, logika, bahasa, kesadaran, perencanaan, memori dan kemampuan visual. Kecerdasan intelektual atau IQ juga ditentukan oleh kualitas bagian ini.. Gambar 1.2. Struktur dan Organisasi Otak Manusia. 37. Otak ,Wikepedia, https: //id.m.wikipedia.org/wiki/otak (diakses 24 Februari 2020)..
(44) 25. Cerebrum terbagi menjadi 4 (empat) bagian yang disebut Lobus. Bagian lobus yang menonjol disebut gyrus dan bagian lekukan yang menyerupai paritdisebut sulcus. Keempat Lobus tersebut masing-masing adalah: Lobus Frontal, Lobus Parietal, Lobus Occipital,dan Lobus Temporal.38. a) Lobus Frontal Merupakan bagian lobus yang ada dipaling depan dari Otak Besar. Lobus ini berhubungan dengan kemampuan membuat alasan, kemampuan gerak, kognisi, perencanaan, penyelesaian masalah, memberi penilaian, kreativitas, kontrol perasaan, kontrol perilaku seksual, dan kemampuan bahasa secara umum.. b) Lobus Parietal berada di tengah, berhubungan dengan proses sensor perasaan seperti tekanan, sentuhan, dan rasa sakit. c) Lobus Temporal berada di bagian bawah berhubungan dengan kemampuan pendengaran, pemaknaan informasi, dan bahasa dalam bentuk suara. d) Lobus Occipital ada di bagian paling belakang, berhubungan dengan rangsangan visual yang memungkinkan manusia mampu melakukan interpretasi terhadap objek yang ditangkap oleh retina mata.. Apabila diuraikan lebih detail, setiap lobus masih bisa dibagi menjadi beberapa area yang punya fungsi masing - masing.Selain dibagi menjadi 4 lobus, cerebrum (otak besar) juga bisa dibagi menjadi dua belahan, yaitu belahan otak kanan dan belahan otak kiri. Kedua belahan itu terhubung oleh kabel-kabel saraf di bagian bawahnya. Secara umum, belahan otak kanan mengontrol sisi kiri tubuh, dan belahan otak kiri mengontrol sisi kanan tubuh. Otak kanan terlibat dalam kreativitas dan kemampuan artistik. Sedangkan otak kiri untuk logika dan berpikir rasional. 38. Tri Budianingsih, Loc.,Cit., hal 138..
(45) 26. 2.5.2 Cerebellum (Otak Kecil) Otak Kecil atau Cerebellum terletak di bagian belakang kepala, dekat dengan ujung leher bagian atas. Cerebellum mengontrol banyak fungsi otomatis otak, diantaranya: mengatur sikap atau posisi tubuh, mengkontrol keseimbangan, koordinasi otot dan gerakan tubuh. Otak Kecil juga menyimpan dan melaksanakan serangkaian gerakan otomatis yang dipelajari seperti gerakan mengendarai mobil, gerakan tangan saat menulis, gerakan mengunci pintu dan sebagainya. Jika terjadi cedera pada otak kecil, dapat mengakibatkan gangguan pada sikap dan koordinasi gerak otot. Gerakan menjadi tidak terkoordinasi, misalnya orang tersebut tidak mampu memasukkan makanan ke dalam mulutnya atau tidak mampu mengancingkan baju.39. 2.5.3 Brainstaim ( Batang Otak ) Batang otak (brainstem) berada di dalam tulang tengkorak atau rongga kepala bagian dasar dan memanjang sampai ke tulang punggung atau sumsum tulang belakang. Bagian otak ini mengatur fungsi dasar manusia termasuk pernapasan, denyut jantung, mengatur suhu tubuh, mengatur proses pencernaan, dan merupakan sumber insting dasar manusia yaitu fight or flight (lawan atau lari) saat datangnya bahaya. Batang otak dijumpai juga pada hewan seperti kadal dan buaya. Oleh karena itu, batang otak sering juga disebut dengan otak reptil. Otak reptil mengatur “perasaan teritorial” sebagai insting primitif. Contohnya kita akan merasa tidak nyaman atau terancam ketika orang yang tidak dikenal terlalu dekat dengan kita. Batang Otak terdiri dari tiga bagian, yaitu:40. a) Mesencephalon atau Otak Tengah (disebut juga Mid Brain) adalah bagian teratas dari batang otak yang menghubungkan Otak Besar dan Otak Kecil. Otak tengah berfungsi dalam hal mengontrol respon penglihatan, 39 40. Tri Budianingsih, Loc.,Cit., hal 139. Tri Budianingsih, Loc.,Cit..
(46) 27. gerakan mata, pembesaran pupil mata, mengatur gerakan tubuh, dan pendengaran. b) Medulla oblongata adalah titik awal saraf tulang belakang dari sebelah kiri badan menuju bagian kanan badan, begitu juga sebaliknya. Medulla mengontrol fungsi otomatis otak, seperti detak jantung, sirkulasi darah, pernafasan, dan pencernaan. c) Pons merupakan stasiun pemancar yang mengirimkan data ke pusat otak bersama dengan formasi reticular. Pons yang menentukan apakah kita terjaga atau tertidur. d) Limbic System (Sistem Limbik) Sistem limbik terletak di bagian tengah otak, membungkus batang otak ibarat kerah baju. Limbik berasal dari bahasa latin yang berarti kerah. Bagian otak ini sama dimiliki juga oleh hewan mamalia sehingga sering disebut dengan otak mamalia. Komponen limbik antara lain hipotalamus, thalamus, amigdala, hipocampus dan korteks limbik. Sistem limbik berfungsi menghasilkan perasaan, mengatur produksi hormon, memelihara homeostasis, rasa haus, rasa lapar, dorongan seks, pusat rasa senang, metabolisme dan juga memori jangka panjang Bagian terpenting dari Limbik Sistem adalah Hipotalamus yang salah satu fungsinya adalah bagian memutuskan mana yang perlu mendapat perhatian dan mana yang tidak. Misalnya lebih memperhatikan anak sendiri dibanding dengan anak orang yang tidak dikenal. Mengapa? Karena kita punya hubungan emosional yang kuat dengan anak sendiri. Begitu juga, ketika. membenci. seseorang,. malah. sering. memperhatikan. atau. mengingatkan.. Hal ini terjadi karena punya hubungan emosional dengan orang yang dibenci.Sistem limbik menyimpan banyak informasi yang tak tersentuh oleh indera. Dialah yang lazim disebut sebagai otak emosi atau tempat bersemayamnya rasa cinta dan kejujuran..
(47) 28. 2.6. Perbadaan Fungsi Otak Kanan dan Otak Kiri Otak besar atau cerebrum yang merupakan bagian terbesar dari otak manusia adalah bagian yang memproses semua kegiatan intelektual, seperti kemampuan. berpikir,. menalarkan,. mengingat,. membayangkan,. serta. merencanakan masa depan.Perbedaan dua fungsi otak sebelah kiri dan kanan akan membentuk sifat, karakteristik dan kemampuan yang berbeda pada seseorang.41 Perbedaan teori fungsi otak kiri dan otak kanan ini telah populer sejak tahun 1960-an, dari hasil penelitian Roger Sperry.42 Otak besar dibagi menjadi belahan kiri dan belahan kanan, atau yang lebih dikenal dengan Otak Kiri dan Otak Kanan. Setiap belahan mempunyai fungsi yang berbeda. Otak kiri berfungsi dalam hal-hal yang berhubungan dengan logika, rasio, kemampuan menulis dan membaca, serta merupakan pusat matematika. Beberapa pakar menyebutkan bahwa otak kiri merupakan pusat Intelligence Quotient (IQ). Sementara itu otak kanan berfungsi dalam perkembangan Emotional Quotient (EQ). Misalnya sosialisasi, komunikasi, interaksi dengan manusia lain serta pengendalian emosi. Pada otak kanan ini pula terletak kemampuan intuitif, kemampuan merasakan, memadukan, dan ekspresi tubuh, seperti menyanyi, menari, melukis dan segala jenis kegiatan kreatif lainnya. Perbedaan teori fungsi otak ini belum terjadi sampai dengan manusia mencapai usia kurang lebih 12 tahun. Setalah menjelang usia tersebut barulah terjadi yang dinamakan lateralisasi. Pada awal mulanya dinyatakan bahwa hemisfir kiri. ditugaskan untuk urusan bahasa dan kanan hal-hal lain. Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa hemisfir kanan pun ikut bertanggung jawab akan penggunaan bahasa. (Dibahas lebih lanjut dalam otak dan bahasa). Belahan otak mana yang lebih baik? Keduanya baik. Setiap belahan otak punya fungsi masing-masing yang penting bagi kelangsungan hidup manusia. Akan tetapi, menurut penelitian, sebagian besar orang di dunia hidup dengan lebih mengandalkan otak kirinya.. 41 42. Tri Budianingsih, Loc.,Cit. “Otak Kanan dan Otak Kiri Beda“,https://hai.grid.id/read/07351227/otak-kiri-dan -otakkanan- beda (akses 14 februari 2020)..
(48) 29. Hal ini disebabkan oleh pendidikan formal (sekolah dan kuliah) lebih banyak mengasah kemampuan otak kiri dan hanya sedikit mengembangkan otak kanan. Orang yang dominan otak kirinya, pandai melakukan analisis dan proses pemikiran logis, tetapi kurang pandai dalam hubungan sosial. Mereka juga cenderung memiliki telinga kanan lebih tajam, kaki dan tangan kanannya juga lebih tajam daripada tangan dan kaki kirinya. Sedangkan orang yang dominan otak kanannya bisa jadi adalah orang yang pandai bergaul, tetapi mengalami kesulitan dalam belajar hal-hal yang teknis. Ada banyak cara untuk mengetahui apakah seseorang dominan otak kanan atau dominan otak kiri. Misalnya dengan melihat perilaku sehari-hari, cara berpakaian, dengan mengisi kuisioner yang dirancang khusus atau dengan peralatan Electroencephalograph yang bisa mengamati bagian otak mana yang paling aktif. Untuk mengetahui bagaimanakah hubungan bahasa dengan otak melalui sudut pandang neurolinguistik, maka di bawah ini akan dibahas pengertian bahasa. Untuk pengertian otak dan strukturnya sudah dibahas sebelumnya. Bahasa adalah alat verbal yang digunakan untuk berkomunikasi. Bahasa adalah suatu sistem simbol lisan yang arbitrer yang dipakai oleh anggota suatu masyarakat bahasa untuk berkomunikasi dan berinteraksi antar sesamanya, berlandaskan pada budaya yang mereka miliki bersama. Pendapat bahasa menurut Brown adalah seperangkat symbol (vokal maupun visual) yang sistematis, manasuka, mengonvensionalkan makna kata yang dirujuk. Dan dipakai untuk berkomunikasi oleh manusia, dalam sebuah komunitas atau budaya wicara, dan dikuasai oleh semua orang dalam cara yang sama. Dari beberapa pendapat di atas, dapat diartikan bahwa bahasa adalah suatu sistem lambang atau simbol yang sistematis yang digunakan oleh suatu komunitas bahasa dan dikuasai oleh semua orang dalam cara yang sama untuk berkomunikasi..
Garis besar
Dokumen terkait
6 Tanda resep diawal penulisan resep (R/) Prescriptio/Ordonatio 7 Nama Obat 8 Kekuatan obat 9 Jumlah obat Signatura 10 Nama pasien 11 Jenis kelamin 12 Umur pasien 13 Barat badan
KONDOMINIUM TAMAN ANGGREK TOWER 7-46 C, JL. MEGA KUNINGAN BARAT IX, KAV. MEGA KUNINGAN BARAT IX, KAV.. M.H THAMRIN KAV. M.H THAMRIN KAV.. SULTAN HASANUDDIN NO. SULTAN HASANUDDIN
Pemberian tepung bunga cengkeh dengan konsentrasi 3 g/ 50 g kacang hijau mampu mengendalikan hama kumbang Callosobruchus maculatus lebih baik dengan waktu awal kematian
Dari hasil observasi yang telah dilaksanakan melalui pengamatan, pembelajaran Bahasa Indonesia pada aspek membaca dengan penggunaan metode ceramah dan media papan
Dari uraian di atas penelitian ini bertujuan untuk membuat dan menerapkan data clustering yang efektif pada weblog untuk mendapatkan pola penjelajahan dari pengguna sehingga
Koefisien regresi variabel prosentase penawaran saham menunjukkan arah positif yang berarti semakin besar variabel ukuran perusahaan maka semakin besar return 7 hari setelah
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pinjaman dana bergulir dari Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Semarang dapat membantu meningkatkan produk, omzet penjualan,
Cobaan utama Cobaan untuk kegemilangan Sejak muda Naigu sudah mengabdi di istana kaisar sampai sekarang Batin Naigu yang tersiksa karena bentuk hidung yang berbeda