Bahasa Arab sudah diajarkan di Indonesia sejak Islam tersebar ke bumi Nusantara ini, yaitu kira-kira abad ke-13 M.. Dahulu, pembelajaran bahasa Arab hanya sekedar untuk mendalami dan memahami pelajaran Islam yang termaktub dalam kitab suci al-Qur’an dan hadits, yang keduanya ditulis dalam bahasa Arab.
Oleh karena itu memahami dan mempelajari bahasa Arab adalah sebuah keniscayaan. Tampaknya, tujuan pembelajaran bahasa Arab pada zaman sekarang sudah banyak mengalami perkembangan.56 Hal ini terbukti dengan pembelajaran bahasa Arab di Indonesia sudah dimulai dari pendidikan anak usia dini atau TK sampai perguruan tinggi. Adanya pembelajaran bahasa Arab disekolah, perguruan tinggi, dan lembaga-lembaga pendidikan Islam lainnya menunjukkan keseriusan untuk memajukan sistem dan mutunya.
Naqah”,Uin Syarif Hidayatullah Jakarta, Al-Maharah Jurnal Pendidikan Bahasa Arab, Vol. 5, No. 1, Juni 2019, hal 65.
56 Enjang Burhanuddin Yusuf, Implentasi Kurikulum Bahasa Arab di Perguruaan Tinggi Agama Islam (PTAI) di Indonesia, http://ftik.iainpurwokerto.ac.id/implementasi-kurikulum-bahasa-arab-di-perguruan-tinggi-agama-islam-ptai-di-indonesia/(diakses 19 Februari 2020).
Dalam buku yang berjudul Pendekatan Metode danTeknik Pembelajaran Bahasa Arab, Fuad Effendy dan Fachruddin Djalal mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran bahasa Arab dibedakan menjadi tiga, yakni:57
1. Tujuan Strategis
Tim Penyusun buku Pedoman Bahasa Arab Departemen Agama merumuskan tujuan strategis pembelajaran bahasa Arab di Indonesia yakni:
• Untuk menunjang pembinaan kebudayaan nasional. Tujuan ini sehubungan dengan perananan bahasa Arab yang cukup berarti dalam kebudayaan nasional.
• Untuk menunjang pembangunan nasional. Hal ini sehubungan dengan tujuan pembangunan nasional yang tidak saja mementingkan aspek materiil tapi juga aspek spiritual, dan bahasa Arab adalah bahasa agama islam yang dipeluk oleh sebagian besar rakyat Indonesia.
2. Tujuan Umum
Tujuan umum adalah tujuan pembelajaran bahasa Arab yang tercantum dalam kurikulum.Tujuan umum ini antara lain:
• Pembelajaran bahasa Arab sebagai tujuan, dimaksudkan untuk membina ahli bahasa Arab, yang meliputi bidang ilmu bahasa (linguistik), bidang pembelajaran bahasa dan bidang sastra.
• Pembelajaran bahasa Arab sebagai alat, dimaksudkan untuk memberikan kepada siswa kemahiran dalam bahasa Arab dalam aspek tertentu sebagai alat untuk keperluan tertentu pula. Misalnya, sebagai alat untuk komunikasi dalam pergaulan sehari-hari, sebagai alat untuk memahami buku-buku berbahasa Arab, sebagai alat pembantu keahlian lain (supplementary), sebagai alat pembantu tehnik (vocational ).
57 Fatwiah Noor, Kurikulum Pembelajaran Bahasa Arab Di Perguruan Tinggi,, ISSN 2580-5053(e), 2580-5045 (p)Available online: http://journal.staincurup.ac.id/index.php/arabiyatuna, STAIN Curup, Arabiyatuna: Jurnal Bahasa Arab , Vol.2, No. 1, 2018
3. Tujuan Khusus (instruksional)
Yang dimaksud tujuan khusus ialah tujuan untuk masing-masing langkah (step) pada setiap pokok bahasan. Tujuan khusus ini hendaknya cukup operasional dan spesifik sehingga dapat dijadikan dasar untuk menetapkan jenis tes yang akan digunakan untuk mengetahui sejauh mana tujuan-tujuan yang diinginkan anak dari aspek fisik bahasa dapat tercapai.
Adapun tujuan akhir dari pembelajaran bahasa Arab ialah agar siswa terampil berbahasa: trampil menyimak, berbicara, membaca dan menulis.58 Gagasan pengembangan kurikulum Pendidikan Bahasa Arab idealnya berbasis visi pengembangan keilmuan dan pembelajaran agar produk kurikulum yang dirumuskan dapat merespon tantangan zaman. Musthafa Abd as-Sami’
Muhammad memandang penting pengembangan kurikulum itu memperhatikan empat hal: prospektif, prosedur, proses, dan progres yang akan diaktualisasikan.
Strategi pengembangan kurikulum bahasa Arab menekankan pengembangan kompetensi komunikasi aktif (active communication), sedapat mungkin ditunjang program CALL (Computer Assisted Learning Language), dengan teknik 4R (Reuducation, Responsibility, Relevance, Rapport) dalam proses pembelajarannya, sehingga pengembangan kurikulum itu dapat memberikan jaminan mutu dalam proses dan produk pembelajarannya.59
Dari uraian yang diutarakan di atas telah dijelaskan bahwa pengembangan kurikulum bahasa Arab menekankan pengembangan Komunikasi aktif yang secara runut menuntut pula akan keterampilan berbicara yang baik pula .
58 Hendri Guntur Tarigan, Pembelajaran Kompetensi Bahasa (Bandung: Angkasa
Bandung,1990), hal 2, Seperti yang dikutip Fatwiah Noor,” Kurikulum Pembelajaran Bahasa Arab di Perguruan Tinggi”, STAIN Curup, Arabiyatuna: Jurnal Bahasa Arab, Vol.2, No.1, 2018, hal 16.
59 Musthafa ‘Abd as-Sami’ Muhammad, “Dhamanat Tathwir Manahij al-Lughah al-‘Arabiyyah:
Ru’yah Mustaqbaliyyah”, dalam Majallah al-Lisan al-Arabi, Edisi 3, 2010, Seperti yang dikutip Abdul Wahab, Muhbib. "Standarisasi Kurikulum Pendidikan Bahasa Arab Di
Lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri" Arabiyat : Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan Kebahasaaraban [Online], Volume 3 Number 1 (30 Juni 2016),hal, 33.
Faktor Penunjang Kemampuan Berbicara ada beberapa faktor yang harus diperhatikan oleh si pembicara untuk menunjang keefektifan berbicara, yaitu faktor kebahasaan dan nonkebahasaan.60 Faktor-faktor kebahasaan yang menunjang keefektifan berbicara, yaitu:
(a) Ketepatan ucapan, seseorang pembicara harus membiasakan diri mengucapkan bunyi-bunyi bahasa yang tepat. Pengucapan bunyi bahasa yang kurang tepat dapat mengalihkan perhatian pendengar.
(b) Penempatan tekanan, nada, dan durasi yang sesuai merupakan daya tarik tersendiri dalam berbicara, bahkan kadang-kadang menjadi faktor penentu.
(c) Pemilihan kata (diksi). Pilihan kata hendaknya tepat, jelas dan bervariasi, jelas maksudnya, mudah dimengerti oleh pendengar menjadi sasaran. Pemilihan kata hendaknya harus disesuaikan dengan pokok pembicaraan dan dengan siapa kita berbicara.
(d) Ketepatan sasaran pembicaraan, hal ini menyangkut pemakaian kalimat efektif, kalimat yang mengenai sasaran, sehingga mampu meninggalkan kesan, menimbulkan pengaruh atau akibat.
Faktor-faktor nonkebahasaan yang menunjang keefektifan berbicara, yaitu:
(a) Sikap yang wajar, tenang, dan tidak kaku. Dari sikap wajar saja sebenarnya pembicara sudah dapat menunjukkan otoritas dan integritas dirinya, sebaiknya dalam latihan sikap ini yang ditanamkan lebih awal, karena sikap ini merupakan modal utama untuk mensukseskan kemampuan berbicara.
(b) Pandangan harus diarahkan pada lawan bicara. Pandangan yang hanya tertuju pada satu arah akan menyebabkan pendengar merasa kurang diperhatikan, supaya pendengar dan pembicara betul-betul terlibat
60 Arsjad, Maidan G dan Mukti, OP.Cit. hal 1, Seperti yang dikutip Duwi Rahayu, Maryatin, Retnowaty, “Kemampuan Berbicara Siswa MTS Hidayatul Mustaqim’’, Jurnal BASATAKA, Universitas Balikpapan, hal, 23.
dalam kegiatan berbicara, pandangan pembicara sangat membantu dan mempengaruhi ,untuk itu harus diperhatikan.
(c) Kesediaan menghargai pendapat orang lain. Seorang pembicara hendaknya memiliki sikap terbuka dalam arti dapat menerima pendapat pihak lain,bersedia menerima kritik, bersedia mengubah pendapatnya kalau ternyata memang keliru.
(d) Gerak-gerik mimik yang tepat. Gerak-gerik mimik yang tepat dapat pula menunjang keefektifan berbicara. Hal-hal penting selain mendapat tekanan, biasanya dibantu dengan gerak tangan atau mimik. Hal ini dapat menghidupkan komunikasi, yang artinya tidak kaku. Tetapi gerak-gerik yang berlebihan akan mengganggu keefektifan berbicara (e) Kenyaringan suara atau volume suara. Tingkat kenyaringan ini tentu
disesuaikan dengan situasi, tempat, jumlah pendengar, dan akustik.
Tetapi juga perlu diperhatikan, kita jangan sampai berteriak dalam berbicara. Kenyaringan suara harus diatur agar dapat didengar oleh semua pendengar dengan jelas.
(f) Kelancaran. Seorang pembicara yang lancar berbicara sangat mempengaruhi pendengar dalam menangkap hal yang dibicarakan.
(g) Relevansi atau penalaran, gagasan demi gagasan haruslah berhubungan dengan logis, hal ini berarti hubungan bagian-bagian dalam kalimat, hubungan hal dengan hal harus logis dan berhubungan dengan pokok pembicaraan.
(h) Penguasaan topik, penguasaan topik yang baik akan menumbuhkan keberanian dan kelancaran dan juga merupakan faktor utama dalam kemampuan berbicara.Dalam pembelajaran bahasa Jepang, pembelajaran berbicara mempunyai beberapa tahapan, yang mana setiap tahapan yang satu dengan yang lain saling berhubungan.
Keterampilan berbicara dapat diperoleh dengan pembiasaan. Pembiasaan itu sendiri wujud pelaksanaannya latihan berulang kali dalam program revisi termasuk di dalamnya strategi dalam pembelajaran tersebut.
Bahasa dinilai sebagai bagian dari kebiasaan atau perilaku bahasa yang diperoleh atau dipelajari sebagai wujud pemerolehan bahasa oleh anak kecil secara bertahap melalui istima’, peniruan (Taqlid
د َ ل َ تَ ق
), pengulangan ( tikrarَ ت
َ ك
رار
)hingga bahasa itu dikuasai dengan baik dan menjadi kebiasaan. Untuk memperoleh kecakapan berbahasa dalam proses pembelajaranDan menjadi kebiasaan sehari-hari dalam lingkungannya tentu memerlukan kompetensi guru bahasa Arab yang mempunyai strategi yang inovatif dalam mengajar.61