• Tidak ada hasil yang ditemukan

MANAJEMEN ZAKAT SEJARAH DAN PERKEMBANGANNYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MANAJEMEN ZAKAT SEJARAH DAN PERKEMBANGANNYA"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

117 Suhendi

Sekolah Tinggi Ekonomi Dan Bisnis Islam (STEBIS) Al-Ulum Terpadu Medan

Jl. Tuasan No. 37 Medan, Sumatera Utara

Abstrak: Zakat merupakan salah satu ibadah kepada Allah SWT setelah manusia dikaruniai keberhasilan dalam bekerja dengan melimpahnya harta benda. Bagi orang muslim, pelunasan zakat semata-mata sebagai cermin kualitas imannya kepada Allah SWT.

Pengelolaan dana zakat dapat dilakukan individu ataupun kelompok. Namun mayoritas ulama sepakat, lebih baik pengelolaan zakat diatur dan dilakukan oleh Pemerintah. Pemerintah juga sudah lama menyadari sudah saatnya dibentuk regulasi zakat. Pada awal Agustus 1999, Menteri Agama membentuk RUU tentang pengelolaan zakat, pada tanggal 23 September 1999 dibentuk Undang-undang No. 38/1999 tentang pengelolaan zakat, yang terdiri dari 10 bab dan 25 Pasal. Dalam pasal ini membahas tentang tujuan dan menajemen pengelolaan zakat, dibentuknya lembaga amil zakat pemerintah, diakuinya lembaga amil zakat non- pemerintah, dapat dibentuknya unit Pengelolaan Zakat di dalam negeri maupun di luar negeri dalam pengumpulan zakat, dapat dijadikan pengurang pajak, serta perlunya pengawasan terhadap kinerja badan amil zakatPengumpulan dana zakat oleh badan dan lembaga amil zakat nasional di Indonesia semakin bervariasi sesuai dengan perkembangan zaman dan teknologi. Selain menggunakan metode sederhana seperti muzaki menyetor langsung ke badan dan lembaga zakat yang ada, masing-masing BAZ dan LAZ mengembangkan cara- cara alternatif lain seperti layanan jemput zakat, online payment, via ATM, maupun via payroll system yang akan semakin memudahkan muzaki dalam memenuhi kewajibannya untuk membayar zakat. Mengenai belum adanya aturan baku mengenai siapa yang dimaksud atau termasuk ke dalam kategori asnaf oleh pemerintah, perlu diadakannya kesepakatan mengenai kategori asnaf oleh seluruh BAZ dan LAZ nasional dengan berkonsultasi dengan dewan syariah nasional sehingga penyaluran dana zakat dapat menjad lebih tertib dan dapat dipertanggungjawabkan.

Proses penyaluran dana zakat yang ada di Indonesia yang dilakukan BAZ dan LAZ Nasional saat ini telah semakin bervariasi. Masing-masing BAZ dan LAZ telah secara kreatif mengembangkan program-program untuk menyalurkan dana zakat. Program-program ini telah disesuaikan dan dikembangkan untuk menjadikan dana zakat yang disalurkan agar menjadi zakat yang produktif sehingga menjadikan mustahik secara positif menjadi sejahterah dalam artian bermanfaat untuk saat ini dan masa yang akan datang.

Potensi zakat di Indonesia merupakan nilai paling besar di seluruh Asia. Tim Penyusun Outlook Zakat Indonesia 2017 telah merangkum perkembangan pertumbuhan zakat dari tahun 2010 hingga sekarang. Pada tahun 2016 total dana ZIS (Zakat, Infak dan Sedekah) yaitu sebesar Rp 164,38 miliar meningkat 155,35 persen dari tahun 2015. Sedangkan pada tahun 2017 diprediksikan bahwa 3 penyaluran dana ZIS (Zakat, Infak, Sedekah) dapat

(2)

mencapai lebih dari Rp 213,69 miliar pada skenario optimisnya menurut Tim Penyusun Outlook Zakat tersebut.

Abstract: Zakat is one of worship to Allah SWT after humans are blessed with success in working with an abundance of property. For Muslims, paying zakat is merely a reflection of the quality of their faith in Allah SWT

Management of zakat funds can be done individually or in groups. However, the majority of scholars agree that it is better for the management of zakat to be regulated and carried out by the government. The government has also long realized that it is time for zakat regulation to be established. In early August 1999, the Minister of Religion drafted a bill on zakat management, on 23 September 1999 Law no. 38/1999 on the management of zakat, which consists of 10 chapters and 25 articles. This article discusses the objectives and management of zakat management, the establishment of a government zakat amil institution, the recognition of non-government zakat institutions, the establishment of a zakat management unit at home and abroad in the collection of zakat, can be used as a tax deduction, as well as the need for supervision of the performance of the zakat agency board

The collection of zakat funds by national zakat agencies and institutions in Indonesia is increasingly varied according to the times and technology. In addition to using simple methods such as muzaki depositing directly to existing zakat agencies and institutions, each BAZ and LAZ developed other alternative ways such as zakat pick-up services, online payments, via ATM, or via the payroll system which will make it easier for muzaki to fulfill their obligations. obligation to pay zakat. Regarding the absence of standard rules regarding who is referred to or included in the asnaf category by the government, it is necessary to hold an agreement on the asnaf category by all national BAZs and LAZs in consultation with the national sharia board so that the distribution of zakat funds can be more orderly and accountable.

The process of distributing zakat funds in Indonesia carried out by BAZ and National LAZ is currently increasingly varied. Each BAZ and LAZ have creatively developed programs to distribute zakat funds. These programs have been adapted and developed to turn the distributed zakat funds into productive zakat so that mustahik positively become prosperous in the sense of being useful for now and in the future.

The potential for zakat in Indonesia is the greatest value in all of Asia. The Development Team for the 2017 Indonesian Zakat Outlook has summarized the development of zakat growth from 2010 to the present. In 2016 the total ZIS funds (Zakat, Infak and Alms) amounted to Rp. 164.38 billion, an increase of 155.35 percent from 2015. Meanwhile, in 2017 it is predicted that 3 distributions of ZIS funds (Zakat, Infak, Alms) can reach more than Rp 213.69 billion in the optimistic scenario according to the Zakat Outlook Compilation Team.

Kata Kunci: Zakat, Manajemen, Mustahik

(3)

Suhendi: Kata Kunci: Manajemen Zakat Sejarah Dan Perkembangannya

A. Pendahuluan

Zakat adalah salah satu sektor penting dalam filantropi Islam. Sebagai rukun Islam ketiga, zakat wajib dibayarkan oleh setiap Muslim yang memenuhi syarat (muzakki) untuk menyucikan hartanya dengan cara menyalurkan zakatnya kepada mustahik (penerima zakat).

Zakat ini tidak hanya berfungsi untuk menolong perekonomian mustahik, tetapi juga dapat menjadi instrumen penyeimbang dalam sektor ekonomi nasional. Dalam jangka panjang, tujuan utama zakat adalah mentransformasi para mustahik menjadi muzakki. Hal ini menunjukkan bahwa zakat sangat berpotensi untuk mengatasi kesenjangan ekonomi dan kemiskinan di suatu negara.

Zakat merupakan salah satu ibadah kepada Allah SWT setelah manusia dikaruniai keberhasilan dalam bekerja dengan melimpahnya harta benda. Bagi orang muslim, pelunasan zakat semata-mata sebagai cermin kualitas imannya kepada Allah SWT. Kepentingan zakat merupakan kewajiban agama seperti halnya shalat dan menunaikan ibadah haji. Islam memandang bahwa harta kekayaan adalah mutlak milik Allah SWT, sedangkan manusia dalam hal ini hanya sebatas pengurusan dan pemanfaatannya saja. Harta adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan setiap pembelanjaannya di akhirat kelak. Dengan demikian setiap muslim yang harta kekayaannya telah mencapai niṣ āb dan ḥ aul (satu tahun kepemilikan) berkewajiban untuk mengeluarkan zakat, baik zakat fitrah maupun zakat maal.

Zakat menurut Undang-Undang No.23 Tahun 2011 pada pasal 1 ayat 2 dijelaskan bahwa zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim atau badan usaha untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya sesuai dengan syariat Islam.

Kedudukan dan kewajiban zakat dalam Islam sangat mendasar. Begitu mendasarnya sehingga perintah zakat dalam Al-Quran sering disertai dengan ancaman yang tegas. Zakat menempati rukun Islam ketiga setelah syahadat dan shalat. Dalam Al-Quran seringkali kata zakat dipakai bersamaan dengan kata shalat, yang menegaskan adanya kaitan komplementer antara ibadah shalat dan zakat. Jika shalat berdimensi vertical-ketuhanan. Maka zakat merupakan ibadah yang berdimensi horizontal-kemanusiaan.

Indonesia merupakan penduduk yang mayoritasnya adalah umat Islam. Banyaknya umat Islam yang berada di Indonesia membuat semakin banyaknya peluang untuk masyarakat maupun pemerintah membuat lembaga atau perusahaan yang berbasis syariah untuk mempermudah umat Islam dalam menjalankan syariat-Nya, salah satunya seperti Lembaga Amil Zakat.

Zakat itu sendiri adalah salah satu rukun Islam yang hukumnya wajib bagi setiap muslim yang merdeka dan memiliki harta kekayaan sampai dengan jumlah tertentu yang telah mencapai nisab. Sebagaimana dinyatakan secara tegas dan jelas dalam Al-Qur’an, As Sunnah, dan konsensus (ijmak) ulama. Secara umum, fungsi zakat meliputi bidang moral, sosial dan ekonomi. Dalam bidang moral, zakat mengikis ketamakan dan keserakahan hati si kaya, sedangkan dalam bidang sosial, zakat berfungsi untuk menghapuskan kemiskinan dari masyarakat. Di bidang ekonomi, zakat mencegah penumpukan kekayaan ditengah sebagian kecil manusia dan merupakan sumbangan wajib kaum muslim untuk perbendaharaan Negara (Nurhayati, 2015).

(4)

Zakat merupakan pokok agama yang penting dan strategis dalam Islam, ia bukan saja berfungsi membentuk kasalehan pribadi tetapi juga membentuk kesalehan sosial. Oleh karena itu zakat sering disebut sebagai ibadah maliyah ijtima’iyah, maksudnya adalah ibadah yang dilaksanakan dengan sesama manusia sehingga zakat harus diaktualisasikan dan diterapkan dalam kehidupan ekonomi 2 umat sebagai rahmat bagi manusia. Pembentukan kepribadian yang memiliki kesalehan pribadi dan sosial ini menjadi salah satu tujuan diturunkannya risalah Islam kepada manusia.

Ajaran Islam secara normatif telah mengatur persoalan zakat dari aspek makna, hikmah tujuan zakat itu sendiri juga dari aspek pengelolaan pemungutan dan penyalurannya.

Demikian juga secara historis sejak zaman Nabi dan pemerintah Islam zakat merupakan persoalan yang urgen untuk diatur. Sejalan dengan perkembangan pemikiran dikalangan umat Islam dan perjuangannya untuk membumikan Islam kedalam kehidupan masyarakat masalah ini kemudian dibakukan dengan lahirnya UU No. 38 tahun 1999 tentang pengelolaan zakat.

Lembaga Amil Zakat kini telah banyak di buka diberbagai wilayah Indonesia, baik Lembaga Amil Zakat yang dikelola oleh pemerintah maupun Lembaga Amil Zakat swasta yang telah diakui oleh pemerintah. Lembaga Amil Zakat dan infak/sedekah bertujuan untuk mempermudah umat Islam yang ingin membayarkan atau menjalankan syariat Islam.

Menjamurnya lembaga-lembaga Amil Zakat, Infak dan Sedekah menandakan bahwa kesadaran masyarakat mengenai kewajiban zakat, kesadaran untuk berinfak dan bersedekah mulai tumbuh.

Lembaga zakat pada dasarnya memiliki dua peran utama, yaitu: (1) memobilisasi zakat dari masyarakat (ummat) dan, (2) melakukan pendistribusian zakat kepada mereka yang berhak menerima.

Kedudukan lembaga zakat dalam lingkungan yang semakin maju dan kompleks sangat penting, karena kelemahan yang dijumpai selama ini adalah tidak adannya manajemen zakat yang baik. Dengan semakin majunya ummat baik dari segi ekonomi, ilmu pengetahuan maupun keyakinan beragama, maka jumlah Muzakki (pembayar zakat) akan bertambah dan juga kuantitas zakat akan meningkat. Untuk mengantisipasi keadaan tersebut perlu dibuat lembaga-lembaga zakat yang dikelola dengan manajemen yang maju. Manajemen zakat pada dasarnya bukan masalah yang sederhana. Manajemen zakat membutuhkan dukungan politik (political will) dari umara (pemerintah). Selain itu manajemen zakat juga membutuhkan dukungan sistem informasi akuntansi dan sistem informasi manajemen yang baik. Tanpa dukungan tersebut pengelolaan zakat tidak akan efektif dan efisien.

Potensi zakat di Indonesia merupakan nilai paling besar di seluruh Asia. Tim Penyusun Outlook Zakat Indonesia 2017 telah merangkum perkembangan pertumbuhan zakat dari tahun 2010 hingga sekarang. Pada tahun 2016 total dana ZIS (Zakat, Infak dan Sedekah) yaitu sebesar Rp 164,38 miliar meningkat 155,35 persen dari tahun 2015. Sedangkan pada tahun 2017 diprediksikan bahwa 3 penyaluran dana ZIS (Zakat, Infak, Sedekah) dapat mencapai lebih dari Rp 213,69 miliar pada skenario optimisnya menurut Tim Penyusun Outlook Zakat tersebut.

Potensi perkembangan ekonomi pada lingkungan zakat yang telah dijelaskan menunjukkan bahwa potensi zakat sangat besar di Indonesia. Perkambangan ini tentu saja sangat menggembirakan, karena ini merupakan cerminan dari meningkatnya kesadaran umat Islam menjalankan syariat Islam. Dengan tumbuhnya perekonomian syariah, berbagai

(5)

transaksi syariah bermunculan baik yang dilakukan oleh lembaga syariah, maupun non- syariah. Tercapainya perkembangan seperti ini, maka perlu dilakukan pengaturan atau standar untuk penulisan, pengukuran, maupun penyajian, sehingga para pengguna keuangan memiliki standar yang sama dalam pencatatan akuntansi.

Pengelolaan dana zakat dapat dilakukan individu ataupun kelompok. Namun mayoritas ulama sepakat, lebih baik pengelolaan zakat diatur dan dilakukan oleh Pemerintah.

Pemerintah juga sudah lama menyadari sudah saatnya dibentuk regulasi zakat. Pada awal Agustus 1999, Menteri Agama membentuk RUU tentang pengelolaan zakat, pada tanggal 23 September 1999 dibentuk Undang-undang No. 38/1999 tentang pengelolaan zakat, yang terdiri dari 10 bab dan 25 Pasal. Dalam pasal ini membahas tentang tujuan dan menajemen pengelolaan zakat, dibentuknya lembaga amil zakat pemerintah, diakuinya lembaga amil zakat non-pemerintah, dapat dibentuknya unit Pengelolaan Zakat di dalam negeri maupun di luar negeri dalam pengumpulan zakat, dapat dijadikan pengurang pajak, serta perlunya pengawasan terhadap kinerja badan amil zakat.

Laporan keuangan organisasi pengelola zakat menjadi salah satu media untuk pertanggungjawaban kepada muzakki yang menyalurkan dana zakat, infak dan sedekah.

Untuk itu agar pelaporan keuangan akuntabel dan transparan maka dibutuhkan standar akuntansi yang mengaturnya. Tujuan laporan keuangan menurut Kasmir (2012: 7) laporan keuangan terdiri dari neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal, laporan catatan atas laporan keuangan, dan laporan arus kas.

Ikatan Akuntansi Indonesia telah mengesahkan pengaturan standar akuntansi zakat, infak dan sedekah yaitu pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 109 (PSAK 109).

Pernyataan ini disusun bertujuan untuk mengatur pengakuan, pengukuran, penyajian dan pengungkapan transaksi zakat dalam meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam pengelolaan zakatnya. Disahkannya Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan tersebut menjadi jawaban atas standarisasi akuntansi syariah untuk zakat, infak dan sedekah.

Dalam Islam, zakat diwajibkan untuk menghindari akumulasi harta kekayaan yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok tertentu. Islam tidak melarang manusia untuk berusaha menjadi kaya, namun menghendaki tegaknya keadilan atas kekayaan yang dimiliki setiap individu. Ketidakadilan menunjukkan adanya kesenjangan antara yang kaya dan miskin. Kondisi ini merupakan suatu ketimpangan yang dapat menyebabkan kemunduran umat, baik secara ekonomis, sosial, maupun spiritual. Dalam hal ini, zakat dinilai sebagai sebuah mekanisme yang akan mampu mewujudkan kondisi kehidupan yang sejahtera secara adil dan merata.

B. Pengertian Zakat

Menurut bahasa (lughat), pengertian zakat berarti tumbuh, berkembang, subur atau bertambah (HR. At-Tirmidzi).

Menurut hukum islam (istilah Syara’), pengertian zakat adalah nama bagi suatu pengambilan tertentu dari harta yang tertentu, menurut sifat-sifat yang tertentu dan untuk diberikan kepada golongan tertentu (Al Mawardi dalam kitab Al Hawiy).

Selain itu, kata infaq dan sedekah sebagian ahli fiqih berpendapat bahwa infaq adalah segala macam bentuk pengeluaran (pembelanjaan), baik untuk kepentingan pribadi,

(6)

keluarga, maupun yang lainnya. Sementara kata sedekah adalah segala bentuk pembelanjaan (infaq) di jalan Allah.

Ada pula sebagian ulama fiqih mengatakan shadaqah wajib dinamakan zakat, sedengkan shadaqah sunnah dinamakan infaq. Sedangkan lainnya mengatakan infaq wajib bernama zakat, sedangkan infaq sunnah bernama shadaqah.

Menurut Yusuf Qardhawi (Qardhawi, 1996: 35), zakat dalam istilah fiqih berarti sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah SWT diserahkan kepada orang-orang yang berhak. Hukum positif di Indonesia yang mengatur mengenai zakat, yaitu Undang- Undang No. 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, mengartikan zakat sebagai harta yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim atau badan usaha untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya sesuai dengan syariat Islam.

Secara terminologis (syara), zakat berarti hak yang wajib dikeluarkan dari harta (Zuhayliy, 2000:83). Sementara menurut Hafidhuddin dalam Beik (Beik, 2009:3), secara terminologis zakat mempunyai arti mengeluarkan sebagian harta dengan persyaratan tertentu untuk diberikan kepada kelompok tertentu (Mustahik) dengan persyaratan tertentu pula. Adapun secara umum, menurut Al Arif (Al Arif, 2010: 4) zakat bisa dirumuskan sebagai bagian dari harta yang wajib diberikan oleh setiap muslim yang memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat itu adalah nishab (jumlah minimum harta kekayaan yang wajib dikeluarkan zakatnya), haul (jangka waktu yang ditentukan bila seorang wajib mengeluarkan zakat), dan kadarnya (ukuran besarnya zakat yang harus dikeluarkan).

Berdasarkan pengertian zakat secara terminologis di atas tersirat adanya kehendak dalam ajaran Islam untuk menciptakan keharmonisan antara orang-orang yang kaya dengan orang-orang yang belum beruntung. Mengeluarkan sebagian harta kemudian diserahkan kepada orang-orang yang tidak mampu adalah unsur terpenting dalam regulasi zakat itu sendiri. di dalam harta orang-orang kaya terdapat hak milik orang- orang miskin. Dengan zakat pula, distribusi kekayaan menjadi lebih merata. Zakat dapat pula dijadikan simbolisasi keharmonisan hubungan horizontal antar sesama manusia, dimana orang yang kaya peduli kepada nasib orang miskin. Dengan kata lain, zakat adalah media untuk mengentaskan kemiskinan dan menghapus penderitaan yang selalu ada dalam pentas sejarah hidup manusia (Faisal, 2011:244).

C. Macam – Macam Zakat

Zakat terbagi menjadi 2 yaitu :zakat maal (harta) diantaranya: Emas, perak, binatang, tumbuh-tumbuhan ( buah-buahan dan biji-bijian) dan barang perniagaan, dan zakat nafs (zakat jiwa) yang disebut juga “zakatut fitrah”.

a) Zakat Mall (harta)

Zakat mall merupakan bagian dari zakat harta kekayaan seseorang yang wajib di keluarkan untuk golongan tertentu, setelah di miliki dalam jangka waktu tertentu, dan jumlah minimal tertentu. Dalam Undang Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang

(7)

Pengelolaan Zakat. Pada pasal 4 ayat 2 menyebutkan bahwa harta yang di kenai zakat mall berupa emas, perak, uang, hasil pertanian dan perusahaan, hasil pertambangan, hasil peternakan, hasil pendapatan dan jasa, serta rikaz.

Kadar zakat dalam ukuran masyarakat Indonesia disepakati setara dengan 2,5 kg.

beras atau makanan pokok yang berlaku di daerah tertentu, juga dapat disetarakan dengan uang. Jika setiap umat Islam mengeluarkan zakat fitrah semua maka zakat fitrah ini berbanding lurus dengan jumlah umat Islam di Indonesia.

b) Zakat Nafs (Fitrah)

Zakat fitrah adalah zakat yang wajib di keluarkan oleh seseorang berkenaan dengan selesainya mengerjakan siyam fardu (puasa wajib) menjelang hari raya Idzul fitri.

Zakat ini di keluarkan sebagai tanda rasa syukur kepada Allah karena telah menyelesaikan ibadah puasa. Zakat fitrah juga di maksudkan untuk membersihkan dosa yang mungkin ada ketika seseorang melakukan puasa ramadan.

D. Tujuan Zakat

Menurut Qardhawi dalam Hasrullah (Hasrullah, 2012:16), tujuan zakat itu sendiri dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu tujuan dari pihak yang memberi zakat (muzakki) antara lain untuk menyucikan dari sifat bakhil, rakus egoistis dan sebagainya; melatih jiwa untuk bersikap terpuji seperti bersyukur atas nikmat Allah; mengobati batin dari sikap berlebihan mencintai harta sehingga dapat diperbudak oleh harta itu sendiri;

menumbuhkan sikap kasih saying kepada sesama; membersihkan nilai harta itu sendiri dari unsur noda dan cacat; dan melatih diri agar menjadi pemurah dan berakhlak baik serta menumbuhkembangkan harta itu sehingga sehingga member keberkahan bagi pemiliknya. Sedangkan bagi penerima (mustahiq) antara lain: memenuhi kebutuhan hidup, terutama kebutuhan primer sehari-hari; menyucikan hati mereka dari rasa dengki dan kebencian 33 yang sering menyelimuti hati mereka melihat orang kaya yang bakhil;

akan muncul dalam jiwa mereka rasa simpatik, hormat, serta rasa tanggung jawab untuk ikut mengamankan dan mendoakan keselamatan harta orang-orang kaya yang pemurah.

Lebih luas lagi, menurut Wahbah dalam Hasrullah (2012: 17), menguraikan tujuan zakat bagi kepentingan masyarakat sebagai berikut:

1. Menggalang jiwa dan semangat saling menunjang dan solidaritas sosial dikalangan masyarakat islam.

2. Merapatkan dan mendekatkan jarak dan kesenjangan sosial ekonomi dalam masyarakat.

3. Menanggulangi pembiayaan yang mungkin timbul akibat berbagai bencana seperti bencana alam dan sebagainya

4. Menutupi biaya – biaya yang timbul akibat terjadinya konflik, persengketaan dan berbagai bentuk kekacauan dalam masyarakat.

5. Menyediakan suatu dana taktis dan khusus untuk penanggulangan biaya hidup bagi para gelandangan, pengangguran dan para tuna sosial lainnya.

(8)

Sebagaimana telah kita ketahui, zakat juga merupakan salah satu sebagian dari ibadah yang memiliki tujuan sebagaimana dikemukakan sebagai berikut:

1. Membantu, mengurangi dan mengangkat kaum fakir miskin dari kesulitan hidup dan penderitaan mereka;

2. Membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh al ghrimin, ibnu sabil dan para mustahiq lainnya;

3. Membina dan merentangkan tali solidaritas (persaudaraan) sesama umat manusia;

4. Mengimbangi idiologi kapitalisme dan komunisme;

5. Menghilangkan sifat bakhil dari pemilik kekayaan dan penguasa modal;

6. Menghindarkan penumpukan kekayaan perorangan yang dikumpulkan diatas penderitaan orang lain;

7. Mencegah semakin dalamnya jurang pemisah antara si kaya dan si miskin;

8. Mengembangkan tanggung jawab perorangan terhadap kepentingan masyarakat;

9. Mendidik kedisiplinan dan loyalitas seorang muslim untuk menjalankan kewajibannya dan menyerahkan hak orang lain.

E. Dasar Hukum Zakat

Zakat sebagai salah satu rukun Islam yang lima memiliki rujukan atau landasan kuat berdasar Al-Quran dan al-Sunnah. Berikut ini adalah diantara dalil-dalil yang memperkuat kedudukannya.

1. Al-Quran

"Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana."

(QS. At Taubah, 9 : 60)

"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah;

Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

(QS. At-Taubah, 9 : 71)

"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui."

(QS. At-Taubah, 9 : 103)

(9)

2. Dalil Sunah

“Dari Abdullah bin Musa ia berkata, Khanzalah bin Abi Sofyan menceritakan kepada kami dari Ikrimah bin Khalid dari Ibnu Umar r.a, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda: Islam didirikan atas lima dasar yaitu:

a. Persaksian bahwa tiada tuhan selain Allah b. Menegakkan shalat

c. Membayar zakat

d. Menjalankan puasa ramadhan dan

e. Melaksanakan ibadah haji bagi yang berkemampuan.

"Dari Ibnu Abbas r.a, bahwa Rasulullah SAW ketika mengutus Muadz ke Yaman beliau berpesan: "Hai Muadz, engkau hendak mendatangi sekelompok kaum dari kalangan Ahli Kitab (di Yaman), maka mula-mula yang harus engkau lakukan adalah:

Ajak mereka untuk bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan aku Muhammad adalah utusan-Nya;

a. Apabila mereka mentaati dan mengikuti engkau, maka beritahu kepada mereka bahwa Allah SWT telah mewajibkan atas mereka shalat lima kali sehari semalam;

b. Setelah itu jika mereka mengikuti perintahmu mendirikan shalat, beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka untuk membayar zakat yang diambil dan dihimpun dari orang-orang kaya diantara mereka lalu diserahkan atau didistribusikan kepada orang-orang miskin mereka;

c. Apabila mereka telah mentaati engkau, maka hendaklah engkau melindungi harta mereka;

d. Hendaklah engkau takut dan berhati-hati terhadap doa orang yang teraniaya, karena tidak ada penghalang antara doa orang yang teraniaya dengan Allah.

F. Harta yang Wajib di Zakati

Pada pasal 4 ayat 2 Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang pengelolaan zakat, harta yang di kenai zakat antara lain :

a. Emas, perak, dan logam mulia b. Uang dan surat berharga lainnya.

c. Perniagaan dan perindustrian

d. Hasil Pertanian, perkebunan, dan kehutanan;

e. Peternakan dan perikanan f. Pertambangan

g. Pendapatan dan jasa;

h. Rikaz.

Didin Hafidhuddin mengemukakan jenis harta yang wajib dizakati sesuai dengan perkembangan perekonomian modern meliputi zakat profesi, zakat perusahaan, zakat surat-surat berharga, perdagangan mata uang, zakat hewan ternak yang diperdagangkan, zakat madu dan produk hewani, zakat investasi property, zakat asuransi syari`ah, zakat usaha tanaman anggrek, usaha burung walet, ikan hias dan lainnya, dan zakat sektor rumah tangga modern.

(10)

1) Zakat Profesi

Fatwa Ulama` pada mu`tamar Internasional pertama di Kuwait pada tangal 30 April 1984, dengan hasil bahwa salah satu kegiatan yang menghasilkan kekuatan bagi manusia berupa pekerjaan yang bermanfaat, baik dilakukan sendiri seperti dokter, arsitek dan lainnya, atau bersama-sama seperti para karyawan, pegawai dan lainnya.

Semua itu menghasilkan gaji atau pendapatan, dan setiap pendapatan harus dizakati.

Pendapatan atau penghasilan yang diperoleh dalam figh dikenal dengan istilah al- maal almustafad, yaitu wajib mengeluarkan zakat begitu penghasilannya diterima, meskipun kepemilikannya belum sampai setahun, dan tidak wajib mengeluarkan zakat lagi pada akhir tahun, hal ini disamakan dengan nisab dan kadar zakat uang yaitu rubu`ul usyri atau 2,5 persen.

Adapun landasan hukumnya yaitu al- Qur`an surat adzDzaariyaat ayat 19 : “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian”. (adzDzaariyaat: 19).

2) Zakat Perusahaan

Zakat perusahaan sebagaimana termaktub dalam UU No 23 Tahun 2011 Tentang Zakat pasal 4 ayat 3 yaitu “Zakat maal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan harta yang dimiliki oleh muzaki perseorangan atau badan usaha”.

Perusahaan adalah termasuk badan usaha, karena memiliki izin usaha termasuk Koperasi. Adapun landasan hukum kewajiban zakat perusahaan adalah nas-nas yang bersifat umum seperti al-Baqarah: 267, dan at-Taubah: 103, juga terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari “…. Dan janganlah disatukan (dikumpulkan) harta yang mulamula terpisah, sebaliknya jangan pula dipisahkan harta yang pada mulanya barsatu, karena takut mengeluarkan zakat”.

Zakat perusahaan dianalogikan dengan zakat perdagangan, yang wajib dizakati adalah harta yang dimiliki atau modal perusahaan ditambah keuntungan, dan pendapat lain mengatakan bahwa yang wajib dizakati adalah keuntungannya saja. Perhitungan nisab dan kadar zakatnya sama dengan zakat perdagangan, yaitu ada haul (satu tahun), nisabnya 85 gram emas dan kadar zakat yang dikeluarkan adalah 2,5 persen.

3) Zakat Surat-Surat Berharga

Termasuk surat-surat berharga adalah Saham dan Obligasi, Saham dan obligasi merupakan harta yang dapat diperjualbelikan, dan pemiliknya mendapat keuntungan, maka saham wajib dizakati senagaimana zakatnya perdagangan. yaitu ada haul (satu tahun), nisabnya 85 gram emas dan kadar zakat yang dikeluarkan adalah 2,5 persen.

G. Penerima Zakat (Mustahiq)

Pada pasal 1 ayat 6 Undang Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang pengelolaan zakat, bahwa Mustahiq adalah orang yang berhak menerima zakat. Mustahiq di sebutkan dalam Al Qur`an surat At-Taubah ayat 60 : “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mu'allaf),

(11)

untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajibkan dari Allah, dan Allah Maha mengetahui,Maha Bijaksana”. (Qs. At-Taubah : 60).

1) Fakir;

Fakir adalah orang yang mempunyai harta dan atau pekerjaan dengan penghasilannya tidak ada separo dari kebutuhan hidup diri dan orang-orang yang wajib dinafkahinya. Adapun kebutuhan hidup adalah sandang, pangan, papan dan lainnya yang sesuai standar kelayakan.

2) Miskin;

Miskin adalah orang yang mempunyai harta dan atau pekerjaan yang hasilnya mampu memenuhi separo atau lebih dari kebutuhan hidup diri dan orang yang wajib dinafkahi. Tidak termasuk fakir atau miskin apabila seseorang yang kehidupannya telah dicukupi oleh anak, orang tua, atau suami, namun seseorang tersebut sebenarnya dalam kondisi fakir atau miskin, hal itu dianggap seperti halnya orang yang bekerja setiap hari dan mendapat penghasilan untuk kebutuhan hidupnya.

3) Amil;

Amil Atau pengumpul zakat adalah mereka yang diangkat oleh pihak yang berwenang yang akan melaksanakan kegiatan urusan zakat, baik dari mengumpulkan memberikan kepada bendahara dan penjaganya, dari pencatat sampai pada penghitung sampai membagi kepada Mustahiqnya. Adapun kepanitiaan zakat atas swakarsa masyarakat, wakil individu dan lembaga zakat yang belum disahkan pemerintah itu tidak termasuk amil sehingga tidak mempunyai kewenangan dan hak seperti amil yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

4) Muallaf;

Muallaf secara bahasa adalah orang yang ditundukan hatinya, sedangkan dalam fiqh bahwa muallaf itu mencakup muallaf muslim dan muallaf non muslim, dan yang berhak mendapat zakat adalah muallaf muslim. Muallaf adalah mereka yang diharapkan kecenderungan dalam hatinya atau keyakinannya makin bertambah akan Islam atau terhalang niat jahatnya terhadap kaum muslimin, dan atau diharapkannya mereka untuk membela dan menolong kaum muslimin dari musuh.

5) Riqab;

Riqab adalah budak mukatab, yaitu budak yang melakukan akad kitabah (cicilan memerdekakan diri) dengan sayyid (pemiliknya) menggunakan akad kitabah yang sah. Budak mukatab diberi zakat sebesar biaya untuk memerdekakannya, mungkin saat ini riqab sudah tidak ada lagi.

6) Gharim;

Gharim adalah orang yang mempunyai utang atau orang yang berhutang. Menurut mazhab Abu Hanifah bahwa gharim adalah orang yang mempunyai hutang dan dia

(12)

tidak mempunyai bagian yang lebih dari hutangnya. Sedangkan menurut Imam Malik, Safi`i dan Ahmad bahwa orang yang mempunyai utang untuk kemaslahatan dirinya sendiri dan untuk kemaslahatan masyarakat.

7) Sabilillah;

Sabilillah berasal dari kata ath-thariq al-mushilah ilallah (jalan yang mengantarkan pada ridha Alah SWT). Dengan arti tersebut bahwa sabilillah mencakup segala bentuk ketaatan kepada Allah. Dilihat dari bentuknya mutlak kata sabilillah dalam surat at- Taubah ayat 60 berarti jihad, seperti halnya pendapat ulama` madzhab safi`i.

Sementara menurut golongan ulama` lain bahwa sabilillah tidak hanya jihad (pasukan perang) saja, tetapi mencakup segala bentuk ibadah maupun kegiatankegiatan sosial.

8) Ibnu Sabil.

Ibnu Sabil adalah seserang yang melakukan perjalanan melewati daerah zakat sementara ia bekalnya tidak cukup dan membutuhkan akan zakat, serta perjalanannya tidak perjalanan maksiat. Menurut jumhur ulama` ibnu sabil adalah kiasan dari musyafir yaitu seseorang yang melintas dari suatu daerah ke daerah lain. As-Sabil berarti ath-thariq/jalan, seseorang yang berjalan di atasnya (ibnu sabil) karena tetapnya dijalan itu.

H. Sejarah Awal Zakat Masuk ke Indonesia

Sejak awal masuknya Islam ke Indonesia, zakat merupakan salah satu sumber dana untuk pengembangan ajaran Islam serta sebagai pendanaan dalam perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan Belanda. Di Sumatra misalnya, Belanda terlibat dalam perang besar berkepanjangan melawan orang-orang Aceh yang fanatisme[1], dan juga di tempat-tempat lain yang penduduknya mayoritas beragama Islam, umumnya mereka kuat dan gigih dalam melawan penjajahan Belanda, karena mereka memiliki sumber dana yang kuat berupa hasil zakat. Tempat yang dijadikan pengelolaan sumber-sumber tersebut adalah masjid, surau atau langgar.

Sebelum datang penjajah di Indonesia, terdapat beberapa Kesultanan yang mencapai kejayaan berkat dukungan dana intern dari umat Islam sendiri. Misalnya, Kesultanan di Aceh, Sumatera Barat, Banten, Mataram, Demak, Goa dan ternate. Kesultanan- kesultanan tersebut tercatat telah berhasil mendayagunakan potensi ekonomi umat dengan memperbaiki kualitas ekonomi rakyat, antara lain dengan mengatur sumber-sumber keuangan Islam seperti pendayagunaan zakat, pemeliharaan harta wakaf, wasiat, infak dan sedekah. Dana yang bersumber dari umat cukup memadai untuk memadai untuk membiayai kepentingan Islam.

I. Sejarah Pengelolaan Zakat di Indonesia

(13)

Zakat sebagai satu bentuk peribadatan yang lebih mengedepankan nilai-nilai sosial di samping pesan-pesan ritual, tampak memiliki akar sejarah yang sangat panjang. Menurut Didin Hafhifuddin (t.t: 1), bisa diduga hampir sepanjang umat manusia itu sendiri (generasi Adam As.) atau paling sedikit mulai generasi beberapa nabi Allah SWT dan sebelum Nabi Muhammad SAW. Apa yang lazim dikenal dengan sebutan lima arkan alIslam (lima rukun Islam) yakni syahadat,shalat,zakat, puasa, dan haji pada dasarnya sudah disyari’atkan sejak zaman Nabi Adam As, Kalaupun terdapat perbedaan antara generasi nabi yang satu dengan yang lainnya, maka ketidaksamaanya lebih terfokus pada hal-hal yang bersifat formal simbolik dan tata caranya yang disesuaikan dengan bahasa umat nabi yang bersangkutan, daripada perbedaan hal-hal yang mendasar substansial.

Menurut Mashudi (Mashudi, t.t: 2), pengelolaan zakat dapat dilakukan oleh individu maupun kelompok. Namun mayoritas ulama berpendapat, lebih baik pengelolaan zakat di Indonesia dilakukan dan diatur oleh pemerintah. Perkembangan pengelolaan zakat di Indonesia, sangat dipengaruhi oleh pemerintah pada masing-masing periode sebagaimana dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Pengelolaan Zakat Masa Kolonial Belanda

Menurut Suratno (Suratno, t.t:3), sejarah pengelolaan zakat di Indonesia dimulai sebagai berikut: Sejak Islam memasuki Indonesia, zakat, infak dan sedekah merupakan sumber-sumber dana untuk pengembangan ajaran Islam dan perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah. Pemerintah Kolonial Belanda khawatir dana tersebut akan digunakan untuk melawan mereka jika masalah zakat tidak diatur.

Pemerintah Belanda mengeluarkan kebijakan Bijblad Nomor 1892 tanggal 4 Agustus 1893 untuk mengawasi pelaksanaan zakat dan fitrah yang dilakukan oleh penghulu atau naib sepanjang tidak terjadi penyelewengan keuangan.

Pada era kolonial Belanda, dapat diartikan bahwa pengelolaan zakat cenderung dihalangi oleh Pemerintah Kolonial karena diduga untuk membiayai perjuangan melawan Pemerintah Belanda (Mashudi: t.t: 2). setelah mengetahui fungsi dan kegunaan zakat yang semacam itu, Pemerintah Hindia Belanda akhirnya melemahkan sumber keuangan dan dana perjuangan rakyat dengan cara melarang semua pegawai pemerintah dan priyayi pribumi mengeluarkan zakat harta mereka (Faisal, 2011: 258).

Namun kemudian, akhirnya pada awal abad XX, diterbitkanlah peraturan yang tercantum dalam Ordonantie Pemerintah Hindia Belanda Nomor 6200 tanggal 28 Februari 1905. Dalam peraturan ini Pemerintah Hindia Belanda tidak akan lagi mencampuri urusan pengelolaan zakat, dan sepenuhnya pengelolaan akat diserahkan kepada umat Islam (Ibid: 259).

b. Pengelolaan Zakat Masa Orde Lama

Setelah kemerdekaan Indonesia, perkembangan zakat menjadi lebih maju.

Meskipun Negara Republik Indonesia tidak berdasarkan pada salah satu falsafah tertentu, namun falsafah negara kita dan UndangUndang Dasar (UUD) 1945 memberikan kemungkinan bagi pejabat-pejabat negara untuk membantu pelaksanaan pengelolaan zakat. Hal tersebut menurut Faisal (Faisal, 2011: 258) dapat dilihat dari:

(14)

Setelah Indonesia memperoleh kemerdekaanya, zakat kembali menjadi perhatian para ekonom dan ahli fiqih bersama pemerintah dalam menyusun ekonomi Indonesia. Hal tersebut dapat kita lihat pada pasal-pasal dalam UUD 1945 yang berkaitan dengan kebebasan menjalankan syariat agama (pasal 29) dan pasal 34 UUD 1945 yang menegaskan fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara negara. Kata-kata fakir miskin yang dipergunakan dalam pasal tersebut jelas menunjukkan kepada mustahiq zakat (golongan yang berhak menerima zakat).

Kemudian tahun 1951 Departemen Negara mengeluarkan Surat Edaran Nomor A/VII/17367 tanggal 8 Desember 1951 tentang Pelaksanaan Zakat Fitrah. Pada tahun 1964, Departemen Agama menyusun rancangan undang-undang tentang pelaksanaan zakat dan rencana peraturan pemerintah pengganti undang-undang tentang pelaksanaan pengumpulan dan pembagian zakat serta pembentukan Baitul Maal, tetapi kedua perangkat peraturan tersebut belum sempat diajukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat maupun Presiden.

c. Pengelolaan Zakat Masa Orde Baru

Kepemimpinan Presiden Soeharto memberikan sedikit angin segar bagi umat Islam dalam konteks penerapanzakat ini. Sesuai anjuran Presiden dalam pidatonya saat memperingati Isra’ Mi’raj di Istana Negara tanggal 22 Oktober 1968 maka dibentuklah Badan Amil Zakat Infaq dan Shadaqah (BAZIS) yang dipelopori oleh Pemerintah Daerah DKI Jaya. Sejak itulah, secara beruntun badan amil zakat terbentuk di berbagai wilayah dan daerah seperti di Kalimantan Timur (1972), Sumatra Barat (1973), Jawa Barat (1974), Aceh (1975), Sumatra Selatan dan Lampung (1975), Kalimantan Selatan (1977), dan Sulawesi Selatan dan Nusa tenggara Barat (1985) (Faisal, 2011: 260).

Pada masa Orde Baru ini pula, pada tahun 1967 Menteri Agama menyiapkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Zakat yang akan diajukan kepada DPR dengan surat Nomor: MA/095/1967 untuk disahkan menjadi undang-undang. RUU tersebut disampaikan juga kepada Menteri Sosial selaku penanggung jawab atas masalah- masalah sosial dan Menteri Keuangan sebagai pihak yang mempunyai kewenangan dan wewenang dalam bidang pemungutan. Namun gagasan tersebut ditolak oleh Menteri Keuangan yang menyatakan bahwa peraturan mengenai zakat tidak perlu diatur oleh undang-undang namun cukup dengan Peraturan Menteri Agama (PMA).

Kemudian pada tahun 1968 dikeluarkanlah Peraturan Menteri Agama Nomor 4 Tahun 1968 tentang Pembentukan Badan Amil Zakat dan Peraturan Menteri Agama Nomor 5 Tahun 1968 tentang Pembentukan Baitul Maal. Kedua PMA ini dianggap berkaitan di mana Baitul Maal sebagai penerima dan penamupung zakat, dan kemudian disetorkan kepada Badan Amil Zakat untuk disalurkan kepada yang berhak.

d. Pengelolaan Zakat Berdasarkan Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat

Pada era reformasi tahun 1998, setelah menyusul runtuhnya kepemimpinan nasional Orde Baru, terjadi kemajuan signifikan di bidang politik dan sosial

(15)

kemasyarakatan. Setahun setelah reformasi tersebut, yakni 1999 terbitlah Undang- Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat. Di era reformasi, pemerintah berupaya untuk menyempurnakan sistem pengelolaan zakat di tanah air agar potensi zakat dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki kondisi sosial ekonomi bangsa yang terpuruk akibat resesi ekonomi dunia dan krisis multi dimensi yang melanda Indonesia .

Untuk itulah pada tahun 1999, pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah menerbitkan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang pengelolaan Zakat, yang kemudian diikuti dengan dikeleluarkannya Keputusan Menteri Agama Nomor 373 Tahun 2003 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 dan Keputusan Direktur Jenderal Bimas Islam dan Urusan Haji Nomor D291 tahun 2000 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Zakat.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 ini, pengelolaan zakat dilakukan oleh badan amil zakat (BAZ) yang dibentuk oleh pemerintah yang terdiri dari masyarakat dan unsur pemerintah untuk tingkat kewilayahan dan lembaga amil zakat (LAZ) yang dibentuk dan dikelola oleh masyarakat yang terhimpun dalam berbagai ORMAS (organisasi masyarakat) Islam, yayasan dan institusi lainnya.

Menurut Fakhruddin (2013: 262), undang-undang inilah yang menjadi landasan legal formal pelaksanaan zakat di Indonesia. Sebagai konsekuensinya, pemerintah (mulai dari pusat sampai daerah) wajib memfasilitasi terbentuknya lembaga pengelola zakat, yakni Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) untuk tingkat pusat, dan Badan Amil Zakat Daerah (BAZDA) untuk tingkat daerah.

Secara garis besar undang-undang zakat di atas memuat aturan tentang pengelolaan dana zakat yang terorganisir dengan baik, transparan dan profesional, serta dilakukan oleh amil resmi yang ditunjuk oleh pemerintah. Secara periodik akan dikeluarkan jurnal, sedangkan pengawasannya akan dilakukan oleh ulama, tokoh masyarakat dan pemerintah. Apabila terjadi kelalaian dan kesalahan dalam pencatatan harta zakat, bisa dikenakan sanksi bahkan dinilai sebagai tindakan pidana. Dengan demikian, pengelolaan harta zakat dimungkinkan terhindar dari bentuk-bentuk penyelewengan yang tidak bertanggungjawab.

Di dalam undang-undang zakat tersebut juga disebutkan jenis harta yang dikenai zakat yang belum pernah ada pada zaman Rasulullah saw., yakni hasil pendapatan dan jasa. Jenis harta ini merupakan harta yang wajib dizakati sebagai sebuah penghasilan yang baru dikenal di zaman modern. Zakat untuk hasil pendapat ini juga dikenal dengan sebutan zakat profesi. Dengan kata lain, undang-undang tersebut merupakan sebuah terobosan baru. Hadirnya undang-undang di atas memberikan spirit baru.

Pengelolaan zakat sudah harus ditangani oleh Negara seperti yang pernah dipraktekkan pada masa awal Islam. Menurut ajaran Islam, zakat sebaiknya dipungut oleh negara, dan pemerintah bertindak sebagai wakil dari golongan fakir miskin untuk memperoleh hak mereka yang ada pada harta orang-orang kaya. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi saw. yang menyatakan bahwa penguasalah yang berwenang mengelola zakat. Baik secara langsung maupun melalui perwakilannya, pemerintah bertugas mengumpulkan dan membagi-bagikan zakat (Fakhruddin, 2013: 263-264).

(16)

e. Pengelolaan Zakat Berdasarkan Undang-Undang No. 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat

Pasal 4 Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat menyatakan pengelolaan zakat berasaskan iman dan takwa, keterbukaan dan kepastian hukum sesuai dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Sementara Pasal 2 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, mengartikan pengelolaan zakat berasaskan:

a. Syariat Islam;

b. Amanah;

c. Kemanfaatan;

d. Keadilan;

e. Kepastian Hukum;

f. Terintegrasi;

g. Akuntabilitas.

Untuk tujuan dari pengelolaan zakat menurut Pasal 3 UndangUndang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat adalah meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan dalam pengelolaan zakat dan meningkatkan manfaat zakat untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan. Pasal tersebut menggantikan ketentuan di dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat di mana tujuan pengelolaan zakat adalah meningkatnya pelayanan bagi masyarakat dalam menunaikan zakat sesuai dengan tuntunan agama, meningkatnya fungsi dan peranan pranata keagamaan dalam upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan keadilan sosial serta meningkatnya hasil guna dan daya guna zakat.

Berdasarkan Pasal 1 Angka 7, 8, 9 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 organisasi pengelolaan zakat dapat dilakukan oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), Lembaga Amil Zakat (LAZ) dan Unit Pengelola Zakat (UPZ). BAZNAS, LAZ dan UPZ mempunyai tugas pokok mengumpulkan, mendistribusikan dan mendayagunakan zakat sesuai dengan ketentuan agama.

J. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan Pengelolaannya

BAZNAS merupakan lembaga yang dibentuk oleh pemerintah dan berwenang melakukan tugas pengelolaan zakat secara nasional dan berkedudukan di ibu kota negara. BAZNAS merupakan lembaga pemerintah nonstruktural yang bersifat mandiri dan bertanggung jawab kepada Presiden melalui Menteri. Badan Amil Zakat Nasional meliputi juga BAZNAS Propinsi dan BAZNAS Kabupaten/Kota.

Tanggung jawab, wewenang dan tata kerja BAZ meliputi:

a. Ketua badan pelaksanaan BAZ bertindak dan bertanggung jawab untuk dan atas nama Badan Amil Zakat baik ke dalam maupun keluar;

b. Dalam melaksanakan tugasnya masing-masing BAZ menerapkan prinsip koordinasi, integrasi dan sinkronisasi di lingkungan masingmasing, serta

(17)

melakukan konsultasi dan memberikan informasi antar BAZ di semua tingkatan;

c. Setiap pimpinan satuan organisasi di lingkungan BAZ bertanggung jawab mengkoordinasikan bawahannya masing-masing dan memberikan bimbingan serta petunjuk bagi pelaksanaan tugas bawahan;

d. Setiap pimpinan satuan organisasi di lingkungan BAZ wajib mengikuti dan mematuhi ketentuan serta bertanggung jawab kepada atasan masing-masing dan menyampaikan berkala tepat pada waktunya;

e. Setiap kepala divisi/bidang/seksi/urusan BAZ menyampaikan laporan kepada kepala BAZ melalui sekretaris, dan sekertaris menampung laporan-laporan tersebut serta menyusun laporanlaporan berkala BAZ;

f. Setiap laporan yang diterima oleh pimpinan BAZ wajib diolah dan digunakan sebagai bahan untuk penyusunan lebih lanjut dan untuk memberikan arahan kepada bawahannya;

g. Dalam melaksanakan tugasnya setiap pimpinan satuan organisasi BAZ dibantu oleh kepala satuan organisasi di bawahnya dan dalam rangka pemberian bimbingan kepada bawahan masing-masing wajib mengadakan rapat berkala;

h. Dalam melaksanakan tugasnya BAZ memberikan laporan tahunan kepada pemerintah sesuai dengan tingkatannya.

Selain tanggung jawab dan wewenangnya, menurut Pasal 7 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat BAZ juga memiliki tugas sebagai berikut:

a. Menyelenggarakan tugas administratif dan teknis pengumpulan, pendistribusian dan pendayagunaan zakat;

b. Mengumpulkan dan mengolah data yang diperlukan untuk penyusunan rencana pengelolaan zakat;

c. Menyelenggarakan bimbingan di bidang pengelolaan, pengumpulan, pendistribusian dan pendayagunaan zakat.

Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, BAZNAS dapat bekerja sama dengan pihak terkait sesuai dengan peraturan perundang-undangan. BAZNAS dapat melaporkan hasil pelaksanaan tugasnya secara tertulis kepada Presiden melalui Menteri dan kepada Dewan Perwakilan RakyatRepublik Indonesia paling sedikit 1 (satu kali) dalam 1 (satu) tahun.

Sebagaimana dicantumkan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat disebutkan Badan Amil Zakat memiliki susunan hierarki yang terdiri dari BAZNAS nasional yang berkedudukan di ibu kota negara, BAZNAS Propinsi yang berkedudukan di ibukota propinsi dan BAZNAS Daerah yang berkedudukan di kabupaten.

K. Lembaga Amil Zakat (LAZ) dan Pengelolaannya

Lembaga Amil Zakat atau LAZ menurut Pasal 1 Angka 8 UndangUndang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat adalah lembaga yang dibentuk masyarakat yang memiliki tugas membantu pengumpulan, pendistribusian dan

(18)

pendayagunaan zakat. LAZ wajib melaporkan pelaksanaan pengumpulan, pendistribusian dan pendayagunaan zakat yang telah diaudit kepada BAZNAS secara berkala.

Dicantumkan dalam Pasal 18 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat syarat-syarat untuk membentuk suatu LAZ yaitu:

a. Pembentukan LAZ wajib mendapat izin dari Menteri atau pejabat yang ditunjuk oleh Menteri;

b. Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya diberikan apabila memenuhi persyaratan paling sedikit:

(1) terdaftar sebagai organisasi kemasyarakatan Islam yang mengelola bidang pendidikan, dakwah dan sosial;

(2) berbentuk lembaga berbadan hukum;

(3) mendapat rekomendasi dari BAZNAS;

(4) memiliki pengawas syariat;

(5) memiliki kemampuan teknis, administratif dan keuangan untuk melaksanakan kegiatannya;

(6) bersifat nirlaba;

(7) memiliki progam untuk mendayagunakan zakat bagi kesejahteraan umat;

dan

(8) bersedia diaudit syariat dan keuangan secara berkala.

L. Maksud dan Tujuan Pengelolaan Zakat

Pada dasarnya zakat selain sebagai wujud ketaatan kepada Allah namun juga sebagai kepedulian sosial. Zakat awalnya hanya didayagunakan untuk kepentingan konsumtif yaitu, untuk memenuhi kebutuhan dasar mustahiq sehingga lembaga amil zakat menyalurkan zakat sesuai dengan kebutuhan mustahiq yang ada didaerahnya. Zakat konsumtif yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan dasar mustahiq seperti kebutuhan konsumsi sehari-hari yaitu, kebutuhan sandang, pangan, dan papan, serta gaji untuk para guru mengaji dan bantuan biaya kesehatan (Rosyidah dan Manzilati, 2012).

Zakat merupakan satu-satunya ibadah yang dalam syariat islam secara eksplisit dinyatakan ada petugasnya. Ada dua model pengelolaan zakat. Pertama, zakat dikelola oleh negara dalam sebuah lembaga atau departemen khusus yang dibentuk oleh pemerintah. Kedua, zakat yang dikelola oleh lembaga non-pemerintah (masyarakat) atau semi pemerintah dengan mengacuh pada aturan yang telah ditentukan oleh negara. Zakat dikelola oleh negara maksudnya, bukan untuk memenuhi keperluan negara, seperti membiayai pembangunan dan biaya-biaya rutinitas lainya. Zakat dikelola oleh negara untuk dikumpulkan dan dibagikan kepada yang berhak menerimanya. Jadi negara hanya sebagai fasilitator, untuk memudahkan dalam pengelolaan zakat tersebut. Karena zakat berhubungan dengan masyarakat, maka pengelolaan zakat, juga membutuhkan konsepkonsep manajemen agar supaya pengelolaan zakat itu bisa efektif dan tepat sasaran (Hasrullah, 2012: 1).

(19)

Menurut Ridwan dalam Rosyidah dan Manzilati (Rosyidah dan Manzilati, 2012), organisasi pengelola zakat apapun bentuk dan posisinya secara umum mempunyai dua fungsi yakni:

a. Sebagai perantara keuangan Amil berperan menghubungkan antara pihak Muzakki dengan Mustahiq. Sebagai perantara keuangan, amil dituntut menerapkan azas trust (kepercayaan). Sebagai layaknya lembaga keuangan yang lain, azas kepercayaan menjadi syarat mutlak yang harus dibangun.

b. Pemberdayaan Fungsi ini, sesungguhnya upaya mewujudkan misi pembentukan amil, yakni sebagaimana muzakki menjadi lebih berkah rezekinya dan ketentraman kehidupannya menjadi terjamin di satu sisi masyarakat Mustahiq tidak selamanya tergantung dengan pemberian bahkan dalam jangka panjang diharapkan dapat berubah menjadi Muzakki baru.

Adapun tujuan dari pengelolaan zakat berdasarkan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat adalah:

1. Untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pelayanan dalam pengelolaan zakat;

2. Meningkatkan manfaat zakat untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan.

Pasal tersebut menggantikan ketentuan di dalam Pasal 5 UndangUndang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat yang menyebutkan bahwa tujuan pengelolaan zakat adalah meningkatnya pelayanan bagi masyarakat dalam menunaikan zakat sesuai dengan tuntunan agama, meningkatnya fungsi dan peranan pranata keagamaan dalam upaya 37 mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan keadilan sosial serta meningkatnya hasil guna dan daya guna zakat.

M. Manajemen Zakat

Manajemen sebagai kata yang diturunkan dari kata to manage mengandung arti mengatur, menata dan mengelola unsur-unsur manajemen. Unsur-unsur manajemen ini diatur dan dikelola dengan tujuan agar roda organisasi berjalan maksimal dan kinerja organisasi dapat tercapai dengan baik dan optimal. Komponen organisasi bisa saling berkoordinasi satu sama lain secara baik dan terintegritas dalam mewujudkan pencapaian tujuan organisasi. Manajemen dipahami sebagai ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan organisasi. Manajemen juga diartikan sebagai fungsi untuk mencapai sesuatu melalui orang lain dan mengawasi usaha-usaha individu untuk mencapai tujuan bersama. Dalam pengertian lain menjelaskan bahwa proses mendapatkan dan mengkoordinasikan berbagai masukan dalam suatu satuan usaha guna menghasilkan suatu keluaran yang relevan dengan lingkungan sistem juga disebut dengan manajemen. Inti pandangan tersebut menekankan bagaimana sebuah organisasi yang dikendalikan seorang manajer dapat mencapai tujuan yang ditetapkan bersama melalui orang lain.

Manajemen merupakan instrument penting bagi seseorang atau sebuah organisasi.

Begitu pula bagi organisasi pengelola zakat, manajemen juga sangat diperlukan. Semua aktifitas pengelolaan zakat didasarkan prinsip-prinsip manajemen akan membantu

(20)

memudahkan organisasi mencapai tujuan dengan baik dan maksimal. Semakin baik dan professional kerja manajemen organisasi zakat, maka peluang tujuan zakat tercapai secara maksimal terbuka.

Dalam sejarah perkembangan zakat telah menjadi instrument yang mampu menggeser status sosial umat dari mustahiq menjadi muzakki dan mampu memberdayakan ekonomi umat tidak lepas dari mekanisme dan prinsip pengelolaan zakat yang dilakukan secara professional, akuntabel dan amanah.

Sebagai dana keagamaan yang mengandung potensi ekonomi, zakat dapat menjadi sumber dana dan asset yang memiliki potensi dalam memberdayakan masyarakat. Potensi zakat sebagai sumber dana asset dapattubuh dan berkembang secara baik dan tepat sasaran apabila dikelola dengan baik dan optimal.

Oleh karena itu, pekerjaan mengelola zakat perlu dijadikan sebuah seni yang berdimensi agama berdimensi humanis. Manajer organisasi zakat perlu mendasarkan pekerjaan manajemennya dalam rangka mewujudkan dan mengharapkan ridha dan karunia Allah swt serta memperbaiki tatanan social ekonomi masyarakat.

Tanpa seni manajemen zakat sebagai modal pengembangan tidak akan memberikan dampak signifikan bagi pemecahan masalah sosial ekonomi. Kesan yang terjadi selama ini, lembaga zakat yang dibentuk tanpa disertai dengan manajemen melahirkan masalah baru.

Implementasi zakat profesi dapat dilakukan dengan baik, efektif dan efisien, jika dilengkapi dengan manajemen. Definisi mengenai manajemen menurut Qodri Azizi adalah suatu proses atau bentuk kerja yang meliputi arahan terhadap suatu kelompok orang menuju tujuan organisasi. Setidaknya ada empat unsur penting dalam manajemen ini yaitu: Pertama, badan atau lembaga. Kedua, proses kerja. Ketiga, orang yang melakukan proses kerja (staff). Keempat, tujuan badan atau lembaga.

Penerapan manajemen dalam lingkup kerja organisasi zakat tidak dapat dilepaskan dari pemahaman karakter dan prinsip manajemen Islami. Pemahaman terhadap prinsip manajemen zakat ini membantu manajemen zakat agar tidak terjebak secara terus menerus pada prinsip tradisional dalam mengelola organisasi.

Fungsi-fungsi manajemen yang lazim dikenal dalam literatur ilmu manajemen cukup banyak. Berikut ini beberapa fungsi manajemen yang dapat diterapkan dalam manajemen zakat.:

1) Perencanaan (Planning)

Perencanaan ditekankan pada kerangka kerja operasional organisasi zakat untuk mencapai tujuan yang telah ditargetkan baik dalam jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Perencanaan-perencanaan merupakan fungsi utama daripada manajemen dari segala bidang dan tingkat manapun. Aspek perencanaan misalnya mencakup SDM yang dibutuhkan dalam pengumpulan zakat, pendekatan dan metode yang digunakan dalam pengumpulan, peralatan, pembukuan, koneksi, lokasi, waktu dan sebagainya.

2) Pengorganisasian ( Organizing)

(21)

Perngorganisasian sebuah organisasi merujuk pada pembagian tugas dan tanggung jawab masing-masing pihak yang terlibat dalam organisasi zakat dengan memanfaatkan sarana dan prasarana yang dimiliki organisasi zakat. Pengorganisasian kelembagaan organisasi zakat memiliki posisi strategis untuk mengoptimalkan pengumpulan dan pendistribusian atau pendayagunaan zakat. Penataan organisasi diperlukan dalam meningkatkan potensi zakat sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi umat. Aspek pengorganisasian mencakup pembagian tugas, pengelolaan SDM, pengelola sarana, pelolaan waktu dan sebagainya.

3) Pengarahan (Actuating)

Pemberian perintah, komunikasi dan koordinasi dalam proses pelaksanaan tugas organisasi. Jaringan kerja (networking) dalam organisasi zakat mesti dipahami dan diterapkan sehingga sistem pelayanan terpadu, terarah dan terintegritas antar organisasi zakat menjadi terbuka. Sistem ini juga membantu muzakki dalam mengakses informasi secara bebas, mengontrol dan mengikuti perkembangan dana zakat yang mereka tunaikan. Demikian halnya dengan database mustahik yang telah mendapat santunan dan pembinaan dari suatu organisasi zakat dapat diakses dan diketahui oleh organisasi zakat lainnya.

4) Pengawasan (Controlling)

Pengawasan memiliki peran penting dalam mengella sebuah organisasi. Penekanan pada pengawasan dalam sebuah organisasi terletak pada sistem operasional, pengawasan standart kerja, target-target dan kerangka kerja organisasi. Selain itu, aspek pengawasan dalam organisasi mencakup pengawasana pembukuan, penggunaan sarana, penggunaan waktu, penggunaan pendekatan, metode dan pendekatan dalam pelaksanaan tugas dan fungsi organisasi. Pengawasan juga mencakup aspek evaluasi kinerja organisasi zakat. Pengawasan memudahkan organisasi zakat mengidentifikasi berbagai peluang, kemudahan dan tantangan yang dianggap sebagai kekuatan yang pendukung dan kelemahan yang menghambat peningkatan kinerja dan pencapaian tujuan organisasi.

N. Perkembangan Zakat di Indonesia

Perzakatan di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat dinamis seiring dengan perkembangan zaman. Hal tersebut dapat dilihat setidaknya dari tiga aspek.

Pertama, Indonesia telah memiliki regulasi mengenai pengelolaan zakat dalam UU No.

23/2011 dan regulasi turunannya yang terangkum dalam PP No. 14/2014 dan Inpres No.

3/2014. Regulasi-regulasi ini menandakan keseriusan pemerintah dalam upaya memajukan perzakatan nasional ke arah pembangunan ekonomi yang lebih merata.

Kedua, adanya peningkatan jumlah ZIS di Indonesia dari tahun ke tahun. Secara umum, hal ini menandakan bahwa populasi Muslim Indonesia semakin sadar untuk berzakat dan menyalurkan zakatnya melalui lembaga amil zakat. Selain itu, peningkatan jumlah data ZIS ini juga menjadi salah satu tanda bahwa semakin banyak pegiat zakat di

(22)

Indonesia. Ketiga, potensi zakat di Indonesia menunjukkan angka yang cukup besar yaitu 3,4 persen dari total PDB Indonesia atau sebesar Rp 217 triliun pada tahun 2010.

Walaupun potensi ini belum didukung dengan realita penghimpunan zakatnya, hal ini dapat dijadikan tanda bahwa perzakatan Indonesia dapat berkembang lebih besar lagi ke depannya, baik dari sisi kuantitas maupun kualitasnya.

P. Kesimpulan

a) Zakat merupakan salah satu ibadah kepada Allah SWT setelah manusia dikaruniai keberhasilan dalam bekerja dengan melimpahnya harta benda. Bagi orang muslim, pelunasan zakat semata-mata sebagai cermin kualitas imannya kepada Allah SWT.

Kepentingan zakat merupakan kewajiban agama seperti halnya shalat dan menunaikan ibadah haji. Islam memandang bahwa harta kekayaan adalah mutlak milik Allah SWT, sedangkan manusia dalam hal ini hanya sebatas pengurusan dan pemanfaatannya saja. Harta adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan setiap pembelanjaannya di akhirat kelak. Dengan demikian setiap muslim yang harta kekayaannya telah mencapai niṣ āb dan ḥ aul (satu tahun kepemilikan) berkewajiban untuk mengeluarkan zakat, baik zakat fitrah maupun zakat maal.

b) Keluarnya UU tentang Zakat ini telah menjadi suatu gebrakan dan terobosan yang cukup baik bagi pengembangan pengelolaan zakat di Indonesia, meskipun pada terdapatnya kekurangan pada Undang-undang tersebut yaitu tidak terdapatnya sanksi bagi warga negara yang tidak melaksanakan pembayaran zakat, dan masih kurangnya insentif bagi warga negara yang membayar zakat, meskipun saat ini zakat telah mampu menjadi salah satu faktor pengurang pajak. Namun dengan lahirnya Undang- undang khusus yang mengatur tentang zakat ini merupakan terobosan berarti dalam pengelolaan zakat di Indonesia, dan hal ini selanjutnya diikuti dengan lahirnya Undang-undang yang khusus mengatur mengenai wakaf. Diharapkan pengelolaan dan pendayagunaan zakat di Indonesia dapat semakin berkembang dan terasa pengaruhnya dalam membantu masalah pengentasan kemiskinan di Indonesia.

c) Sumber dana zakat yang dikumpulkan oleh badan dan lembaga amil zakat saat ini tidak berbeda dengan sumber- sumber zakat yang ada yakni tanam- tanaman dan buah- buahan, hewan ternak, emas dan perak, serta harta perdagangan yang disalurkan dalam bentuk zakat maal, zakat fitrah dan infak, wakaf dan shadaqah tetapi ada tambahan seperti seperti zakat pencarian dan profesi serta zakat saham dan obligasi yang berdasarkan dari pendapat para ulama yang menyatakan bahwa kegiatan - kegiatan tersebut ditetapkan sebagai hasil pencarian sebagai sumber zakat karena terdapatnya illat (penyebab) yang menurut ulama- ulama fiqih sah.

d) Pengumpulan dana zakat oleh badan dan lembaga amil zakat nasional di Indonesia semakin bervariasi sesuai dengan perkembangan zaman dan teknologi. Selain menggunakan metode sederhana seperti muzaki menyetor langsung ke badan dan

(23)

lembaga zakat yang ada, masing-masing BAZ dan LAZ mengembangkan cara-cara alternatif lain seperti layanan jemput zakat, online payment, via ATM, maupun via payroll system yang akan semakin memudahkan muzaki dalam memenuhi kewajibannya untuk membayar zakat.

e) Bentuk pendayagunaan dana zakat di Indonesia saat ini telah semakin berkembang ke arah bentuk pendayagunaan zakat yang produktif. BAZ dan LAZ tidak lagi hanya menyalurkan dana zakat dalam bentuk santunan saja. Selain menyalurkan dana zakat dalam bentuk bantuan ekonomi dan kesehatan, BAZ dan LAS juga menyalurkan dana zakat dalam bentuk bantuan pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dakwah agama, serta pelestarian lingkungan dimana penggunaan dana zakat ini tidak hanya bermanfaat bagi mustahik pada saat itu saja tetapi dapat bermanfaat juga untuk masa yang akan datang sehingga menjadikan kaum muslimin khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya menjadi sejahterah.

f) Proses penyaluran dana zakat yang ada di Indonesia yang dilakukan BAZ dan LAZ Nasional saat ini telah semakin bervariasi. Masing-masing BAZ dan LAZ telah secara kreatif mengembangkan program-program untuk menyalurkan dana zakat.

Program-program ini telah disesuaikan dan dikembangkan untuk menjadikan dana zakat yang disalurkan agar menjadi zakat yang produktif sehingga menjadikan mustahik secara positif menjadi sejahterah dalam artian bermanfaat untuk saat ini dan masa yang akan datang.

g) Secara umum perkembangan pengelolaan dana zakat oleh BAZ dan LAZ nasional telah mengalami perkembangan yang cukup pesat selama 5 tahun terakhir ini. Hal ini dapat dilihat dengan meningkatnya pendapatan serta penggunaan dana zakat terutama penggunaan dana zakat secara produktif untuk menghasilkan masyarakat yang sejahterah yang dikelola oleh lembaga-lembaga zakat nasional. Peningkatan ini membuktikan bahwa masyarakat Indonesia khususnya masyarakat muslim semakin meningkat kesadarannya mengenai kewajiban berzakat serta membuktikan bahwa zakat berperan sangat penting sebagai jaminan sosial untuk kesejahteraan masyarakat di Indonesia.

Q. Saran

Berdasarkan permasalah yang dihadapi dalam pengelolaan dana zakat oleh badan dan lembaga amil zakat nasional ada beberapa hal yang dapat dijadikan masukkan untuk meningkatkan produktifitas pengelolaan dan zakat oleh BAZ dan LAZ Nasional :

a) Mengingat kurangnya sumber daya manusia (amil) dalam hal pemahaman tentang fiqih zakat maka, perlu diperbanyak program – program pelatihan yang dapat membantu meningkatkan pemahaman para amil tentang fiqih zakat.

(24)

b) Mengenai belum adanya aturan baku mengenai siapa yang dimaksud atau termasuk ke dalam kategori asnaf oleh pemerintah, perlu diadakannya kesepakatan mengenai kategori asnaf oleh seluruh BAZ dan LAZ nasional dengan berkonsultasi dengan dewan syariah nasional sehingga penyaluran dana zakat dapat menjad lebih tertib dan dapat dipertanggungjawabkan.

Demikianlah pokok pembahasan ini yang dapat saya paparkan, besar harapan saya ini dapat bermanfaat untuk kalangan banyak. Karena keterbatasan pengetahuan dan referensi, saya selaku penulis menyadari bahwa penulisan ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran dari semua pembaca, agar kedepannya penulisan ini dapat disusun kembali dengan lebih baik dimasa yang akan datang.

Di harapkan kepada para pembaca khususnya dapat memaknai bahwa sebagai mana pentingnya untuk selalu mengeluarkan sebagian harta yang bernilai nisab, agar sebagian harta yang telah di keluarkan menjadi berkah. Sebagai mana printah allah yang telah menerangkan di dalam rukun islam, hal ini berkenaan dengan hubungan sang kholik dan hubungan baik dengan sesama makhluknya khusunya para makhluk Allah yang di berikan akal untuk berpikir yaitu umat manusia yang beragama Islam agar 8 golongan tersebut dapat berkembang, itu hal yang penting dalam agama Islam.

(25)

Pustaka Acuan:

http://repository.uin-suska.ac.id/14988/6/6.%20BAB%20I_201870AKT.pdf http://eprints.ums.ac.id/45839/2/BAB%20I.pdf

http://eprints.ums.ac.id/25505/4/3.BAB_I.pdf

http://eprints.walisongo.ac.id/7498/3/115112016_Bab2.pdf

https://kabsemarang.baznas.org/laman-29-dasar-hukum-dan-syarat-wajib-zakat.html http://eprints.stainkudus.ac.id/1053/5/05%20BAB%20II.pdf

http://wawai.id/pendidikan/makalah/sejarah-perkembangan-zakat/

https://ngada.org/uu23-2011.htm

https://kepri.kemenag.go.id/public/files/180920171118481465474050.pdf

https://www.puskasbaznas.com/images/outlook/OUTLOOK_ZAKAT_2017_PUSKASB AZNAS.pdf

http://etheses.iainkediri.ac.id/39/3/BAB%20II.pdf

Marthon, Said Sa’ad. 2007.Ekonomi Islam; di Tengah Krisis Ekonomi Global.

Jakarta: Zikrul Hakim, terj. Ahmad Ikrom, cet. 3,

Muhammad. 2002.Kebijakan Moneter dan Fiskal dalam Ekonomi Islami. Jakarta:

Salemba Empat,

Nasution, Mustafa E., 2007.et.al. Pengenalan Eksklusif: Ekonomi Islam.

(Jakarta: Kencana, ed. 1, cet. 2,)

Sartono, Agus. 2001.Manajemen Keuangan Konsep dan Aplikasi. Edisi Keempat.

Yogyakarta: BPFE,

Wasilah, Nurhayati, Sri. 2009. Akuntansi Syariah di Indonesia. Salemba Empat : Jakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Keberadaan gunung api yang seringkali di dekat – atau tidak jauh dari – kota-kota dan wilayah perkembangan ekonomi, apabila potensi sumber daya airnya

Berdasarkan hasil analisis penilaian, peserta didik yang sudah mencapai ketuntasan belajar diberi kegiatan pembelajaran pengayaan untuk perluasan dan/atau pendalaman materi

 Materi tentang melafalkan surah Al Fatihah dengan lancar dan benar ( lihat Buku Pendidikan Agama Islam Jilid I NTR Esis Bab I ).. Metode

Optimasi pengangkutan sampah dapat dilakukan dengan perencanaan rute berdasarkan pada keseimbangan kapasitas setiap kendaraan dan timbulan sampah yang dikumpulkan

Selain itu, penelitian Kurniawan (2009) dalam melakukan analisis perhitungan CreditRisk + untuk kredit bisnis mikro pada Bank Rakyat Indonesia menunjukkan hasil

digunakan untuk mengumpan jarak jauh (long passing). Analisis gerak menendang dengan punggung kaki dalah sebagai berikut: posisi badan berada dibelakang bola

Penerapan Akuntansi Zakat pada lembaga amil zakat diseluruh Indonesia ini akan mendorong LAZ DPU DT Cabang Semarang untuk berusaha lebih baik dalam mencatat

Resiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi skunder terhadap diare.. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan peningkatan