BAB III ELABORASI TEMA 3.1. Pengertian
Tema yang diangkat dalam perancangan Pondok Pesantren kreatif ini adalah “ECO CREATIVE”. Eco creative adalah bagaimana penyelesaian desain – desain arsitektur dapat menyampaikan pesan – pesan ke khasan baik dari kebudayaan maupun kehidupan sehari – hari.
Dalam kasus ini diperlukan kepekaan seorang perancang / arsitek dalam melihat kebiasaan pengguna sehingga desain dapat tersampaiakan dan dirasakan dengan maksimal. Pengambilan tema ini diambil berdasarkan diagram sebagai berikut:
-
3.2. Penjelasan Tema 3.2.1. Kreatif
Ekonomi kreatif menjadikan sumber daya manusia (SDM) sebagai modal utama dalam sebuah pengembangan yang berawal dari gagasan, ide dan pemikiran. Ke depannya, diharapkan SDM ini mampu menjadikan barang yang bernilai rendah menjadi barang yang bernilai tinggi dan berdaya jual. Profesi yang mengaharuskan seseorang untuk memiliki daya kreativitas tinggi adalah wirausahawan. Maka pengembanga ekonomi kreatif inI secara tidak langsung mengarahkan dan mencoba untuk menciptakan wirausaha–wirausaha (entrepreneur) yang handal dalam berbagai bidang. Daya kreativitas harus dilandasi oleh cara berpikir yang maju, penuh dengan gagasan-gagasan baru yang berbeda dengan yang sudah ada. Ekonomi Kreatif adalah penciptaan nilai tambah yang berbasis ide yang lahir dari kreatifivitas sumber daya manusia (orang kreatif) dan berbasis ilmu pengetahuan,termasuk warisan budaya dan teknologi Definisi lain menyebutkan Ekonomi kreatif pada hakikatnya adalah kegiatan ekonomi yang mengutamakan pada kreativitas berpikir untuk menciptakan sesuatuyang baru dan berbeda yang memiliki nilai dan bersifat komersial. (Sumber: Jurnal Penelitian Ilmiah Intaj (2017) 1 : 77-99 ISSN 2459- 2624).
3.2.2. Ekologi
Arsitektur ekologis merupakan pembangunan berwawasan lingkungan, dimana memanfaatkan potensi alam semaksimal mungkin. Kerusakan lingkungan menjadi masalah yang kian memprihatinkan. Arsitektur menjadi salah satu bidang ilmu yang dijustifikasi ikut memberi andil bagi kerusakan lingkungan.Konsep sustainable architecture menjadi salah satu upaya untuk memperbaiki kerusakan lingkungan. Sustainable architecture ditandai dengan upaya menggali kembali nilai-nilai kearifan lokal. Arsitektur yang demikian dapat hidup bersama- sama, bahkan bersinergi dengan lingkungannya. Kualitas arsitektur biasanya sulit diukur, garis batas antara arsitektur yang bermutu dan yang tidak bermutu. Kualitas arsitektur biasanya hanya memperhatikan bentuk bangunan dan konstruksinya, tetapi mengabaikan yang dirasakan pengguna dan kualitas hidupnya. (Sumber; Jurnal Techno Nusa Mandiri Vol. XIII, No. 1 Maret 2016).
Konsep ekologis merupakan konsep penataan lingkungan dengan memanfaatkan potensi atau sumberdaya alam dan penggunaan teknologi berdasarkan manajemen etis yang ramah lingkungan.
FENOMENA ISU
PENGGUNA LOKASI
POTENSI - Cekatan - Survive - Otodidak - Terampil - People Smart - Kreatif
PESMASALAHAN - Pergaulan Bebas - Kurang minat
terhadap pesantren - Banyak Tenaga Kerja
/ TKI,sehingga anak tidak terawat dengan maksimal
- Angka putus sekolah tinggi
POTENSI - Banyak sumber pangan
dan kerajinan asli / kreatif.
- Isu kota sebagai Kota Santri.
- Kawasan Tropis – pegunungan.
- Dekat dengan Ibukota Negara dan Ibu Kota Provinsi
PESMASALAHAN - Redup simbol Kota
Santri
- Eksistensi sumber pangan kurang maksimal
- Rawan kriminalitas - Kondisi alam
semakin kurang diperhatikan
KREATIF + EKSPRESI + BUDAYA (Lokal & Islami)
ECO CREATIVE
Pola perencanaan dan perancangan Arsitektur Ekologis (Eko-Arsitektur) adalah sebagai berikut:
a. Elemen-elemen arsitektur mampu seoptimal mungkin memberikan perlindungan terhadap sinar panas, angin dan hujan.
b. Intensitas energi yang terkandung dalam material yang digunakan saat pembangunan harus seminimal mungkin, dengan cara-cara:
1. Perhatian pada iklim setempat Substitusi, minimalisasi dan optimasisumber energi yang tidak dapat diperbaharui
2. Penggunaan bahan bangunan yang dapat dibudidayakan dan menghemat energi
3. Pembentukan siklus yang utuh antara penyediaan dan pembuangan bahan bangunan, energi, atau limbah dihindari sejauh mungkin
4. Penggunaan teknologi tepat guna yang manusiawi.
3.2.3. Prinsip Tema dan Kriteria Tema
Prinsip Kreatif LEONARDO DA VINCI:
Prinsip Penerapan kriteria dari Prinsip Pada Perancangan Pesantren Curiosita (rasa ingin tahu
yang mendalam)
Menciptakan santri – santri yang berkarakter kuat, selalu berusaha menggapai target yang telah ditentukkan dengan semangat belajar yang dilandasi dari ilmu pengetahuan agama.
Menciptakan sebuah rancangan bangunan dengan kriteria dan bentuk mengambil dari karakter kawasan, sehingga dapat menjadi daya tarik masyarakat luar untuk mengetahui lebih dalam tentang bangunan yang mereka lihat (Bangunan Pesatren Kreatif).
Dimostrazione (Menguji pengetahuan melalui pengalaman, ketekunan, dan siap belajar dari kesalahan)
Menciptakan lulusan Pendidikan Pesantren yang mampu belajar dengan tekun, selalu melatih dan mengembangkan kemampuan, kemandirian hidup serta melatih kemampuan untuk tidak takut / semangat mengahdapi perkembangan modernisasi yang semakin canggih.
Sensazione (Penajaman indra terus-menerus)
Memberikan berbagai mcam aktivitas baik berupa ilmu pengetahuan umum, pengetahuan tentang keagamaan maupun edukasi ekonomi kreatif yaitu dengan menegambangkan sumber – sumber pangan lokal yang telah cukup banyak mengahasilkan produk – produk unggul. Sehingga kemampuan panca indra Santri dan Satriawati terus terlatih dan berkembang.
Sfumato (Kesediaan untuk menerima hal hal yang tidak pasti)
Menciptakan santri – santri yang tidak hanya mampu untuk menguasi 1 keahlian saja. Selain terntunya didasari dengan pemahanan keagaman dan ilmu pengetahuan umum, para santri juga dibekali dengan kemampuan berwirausaha (menghasilkan produk – preduk sendiri), sehingga apabila telah tuntas belajar di pesantren tidak takut / siap untuk menghadapi kehidupan di masuarakat nanti.
Corporalita (Pemupukan keunggulan, keterampilan dua tangan, kebugaran, dan sikap tubuh yang benar)
Isu permasalahan pengguna yang diangkat yaitu cukup banyaknya angka putus sekolah di Kabupaten cianjur, tingkat kriminalitas terhadap anak juga tinggi serta cukup banyak orang tua yang bekerja menjadi TKI. Sehingga lembaga pesantren ini diharapkan dapat memberikan sikap tumbuh yang benar kepada anak – anak yang mempunyai masalah seperti diatas, untuk bekal mereka di masa depan.
Connessione (Pengakuan dan penghargaan terhadap keterkaitan semua hal)
Sistem pendidikan pada pesantren ini menggabungkan sistem pendidikan keagamaan dan pengetahuan umum serta pendidikan ekonomi kreatif sebagai kriteria utamanya. Para santri diharapkan dapat mengembangkan kembali produk – produk asli kawasan sehingga menghasilkan sebuah inovasi baru. Dan sumbangsih pendidikan keagamaan dalam poin ini adalah melatih para santri untuk bersaing secara sportif dengan produk -produk yang dihasilkan lainnya baik dihasilkan oleh santri se area pesantren maupun produk yang dihasilkan oleh masyarakat luar, sehingga terjalin kerja sama dan saling menguntungkan.
Berfikir Sistemik Menciptakan santri yang memahami sistem kompleks yaitu pelajaran keagamaan, pengetahuan umum dan edukasi ekonomi kreatif dengan menganalisis bagian-bagian sistem tersebut untuk kemudian mengetahui pola hubungan yang terdapat didalam setiap unsur atau elemen penyusun sistem tersebut.
(Sumber: Michael J. Gelb (2001: 49-258))
Prinsip Ekologi:
Prinsip Penerapan kriteria dari Prinsip Pada Perancangan Pesantren Liveability & Hospitality
- Hospitality Material Sustainable & green design
Memberikan fasilitas yang layak bagi para pengguna / santri dan satriawati serta memberikan wadah untuk mengembangkan kreatifitas dan perilaku bersosialisasi. Sehingga dapat menghasilkan nilai – nilai yang berguna baik untuk kehidupannya maupun untuk masyarakat luas.
Uses & Activities Memberikan wadah / aktivitas ruang bagi para santri yang mempunyai kesesuaian minat dan kemampuan yang telah dimiliki.
Berbagai kegiatan yang disediakan dengan cermat akan membantu lokasi untuk menarik keberagamaan latar belakang pengguna.
Access And Linkage Memberikan aksebilitas yang mudah dicapai dan memberikan koneksi / hubungan dengan lingkungan sekitar. Sehingga dapat diterima oleh masyarakat.
(Sumber: Public Places – Urban Space – The Dimensions of urban design)
Solution Grows from Place Memanfaatkan potensi dan sumber daya lingkungan untuk mengatasi setiap persoalan desain. Pemahaman atas masyarakat lokal, terutama aspek sosial-budayanya juga memberikan andil dalam pengambilan keputusan desain. Prinsip ini menekankan pentingnya pemahaman terhadap alam dan masyarakat lokal.
Dengan memahami hal tersebut maka perancangan Pesantren Kreatif ini diharapkanakan menciptakan lingkungan binaan tanpa menimbulkan kerusakan alam maupun ‘kerusakan’ manusia.
Everyone is a Designer melibatkan setiap pihak yang terlibat dalam proses desain. Tidak ada yang bertindak sebagai user atau participant saja atau designer/
arsitek saja. Setiap orang adalah participant-designer. Setiap pengetahuan yang dimiliki oleh siapapun dan sekecil apapun harus dihargai. Jika semua orang bekerjasama untuk memperbaiki lingkungannya, maka sebenarnya mereka memperbaiki diri mereka sendiri.
Make Nature Visible Memberikan fasilitas yang dapat mengolah kembali limbah – limbah yang dihasilkan dari aktivitas di dalam Pesantren menjadi sebuah nilai positif bagi perkembangan alam dan teknologi.
(Sumber; Jurnal RUAS, Volume 10 N0 2, Desember 2012, ISSN 1693-3702)
3.3. Konsep Perancangan 3.3.1. Penjelasan Konsep
Dalam perancangan Pesantren Kreatif ini merujuk pada sebuah konsep bagaimana menciptakan sebuah fasilitas yang dapat mempunyai integrasi dengan lingkungannya baik dari segi kebudayaan, memanfaatkan dan meningkatkan Potensi Sumber Daya yang tersedia, mengatasi permasalahan yang sedang terjadi, sehingga perancangan Pesantren Kreatif ini diharapkan dapat memberikan perubahan baik untuk lingkungan maupun untuk sumber daya manusia khususnya di Kabupaten cianjur dengan cara meningkatkan kualitas kreatifitas dan memberikan pemahaman tentang ekonomi kreatif kepada para generasi penerus dengan landasan cinta terhadap alam dan agama sebagai pedomannya.
Pondok Pesantren merupakan fasilitas pendidikan yang pada hakikatnya menerapkan sistem – sistem / norma- norma tentang agama Islam, sehingga dalam perancangan Pesantren Kreatif ini selain menerapkan Tema dan prinsip Eco Creative, secara teknis akan menerapkan pula kriteria arsitektur islami sehingga akan mempunyai keterkaitan dengan Isu kawasan yang diangkat yaitu mengebalikan simbol kota yang mulai redup yaitu Cianjur Kota Santri.
3.3.2. Pendekatan Perancangan
Arsitektur Organik merupakan sebuah konsep arsitektur yang diilhami dari alam. Terdapat dua pengertian Arsitektur Organik menurut Fleming, Honour & Pevsner. Pertama, Arsitektur Organik menurut mereka adalah sebuah istilah yang diaplikasikan pada bangunan atau bagian dari bangunan yang terorganisir berdasarkan analogi biologi atau yang dapat mengingatkan pada bentuk natural. Misalnya arsitektur yang menggunakan bentuk-bentuk biomorfik. Pengertian kedua, Arsitektur Organik menurutnya adalah sebuah istilah yang digunakan oleh Frank Lloyd Wright, Hugo Haring, dan arsitek lainnya untuk arsitektur yang secara visual dan lingkungan saling harmonis, terintegrasi dengan tapak, dan merefleksikan kepedulian arsitek terhadap proses dan bentuk alam yang diproduksinya. (Rasikha, 2009) Terdapat beberapa konsep dasar Arsitektur Organik menurut Pearson (2002) yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Building as nature
Bangunan Arsitektur Organik bersifat alami, di mana alam menjadi pokok dan inspirasi dari Arsitektur Organik. Bentuk bangunan Arsitektur Organik terinspirasi dari ketidaklurusan organisme biologis.
b. Continuous present
Arsitektur Organik merupakan sebuah desain yang terus berlanjut. Arsitektur Organik tidak
pernah berhenti dan selalu dalam keadaan dinamis namun tetap membawa unsur keaslian dalam sebuah desain.
c. Form follows flow
Keunikan bentuk bangunan Arsitektur Organik juga dikarenakan Arsitektur Organik merupakan arsitektur form follow flow (bentuk mengikuti energi). Bentuk bangunan dengan Arsitektur Organik mengikuti aliran energi dari alam, menyesuaikan alam sekitarnya secara dinamis, bukan melawan alam. Alam dalam hal ini dapat berupa angin, cahaya dan panas matahari, arus air, energi bumi dan lainnya.
d. Of the people
Selain energi dari alam, desain Arsitektur Organik juga dipengaruhi oleh hubungan dengan pemakai bangunan. Desain Arsitektur Organik dipengaruhi oleh aktifitas-aktifitas yang diwadahi pada bangunan, tujuan bangunan, kebutuhan pengguna, kenyamanan penggunanya dan keinginan keinginan penggunanya. Steadman (2008) mengatakan bahwa salah satu ide yang melekat pada Arsitektur Organik adalah pada metode komposisi yang bekerja dari dalam ke luar, yakni dari program kebutuhan penghuni dan harapan mengenai penampilan luar bangunan.
e. Of the hill
Frank Lloyd Wright menyebutkan bahwa suatu bangunan dengan site lebih baik berhubungan secara ‘of the hill’ dibandingkan dengan ‘on the hill’. Of the hill di sini memiliki arti bahwa bangunan merupakan bagian dari site, bukan sekedar bangunan yang ditempatkan di atas sebuah site.
f. Of the materials
Asitektur organik juga dapat diekspresikan melalui material yang digunakan. Menurut Steadman dalam Rasikha (2009) ada kecenderungan penggunaan material tertentu dalam Arsitektur Organik. Material yang dipilih antara lain material alami, materiallokal dan material yang dapat memproduksi bentuk bebas. Tsui dalam Rasikha (2009)menjabarkan beberapa kategori material untuk arsitektur yang perancangannya berbasis alam, yaitu menggunakan material yang dapat memiliki beberapa fungsi sekaligus (sebagai interior dan eksterior), penggunaan material daur ulang dalam konstruksi, dan jika mungkin, gunakan material bangunan yang tidak beracun dandesainnya dapat mengurangi polusi dalam bangunan.
g. Youthful and unexpected
Arsitektur Organik biasanya memiliki karakter yang inkonvensional, profokatif, terlihat muda, menarik dan mengandung keceriaan anak-anak. Tsui dalam Rasikha (2009) mengatakan, unsur-unsur yang dapat ditemukan pada bangunan organik antara lain adalah: perubahan, pergerakan fisik dari komponen-komponen bangunan, kontinuitas struktur dan tampak, ruang
yang terbuka dan beragam, denah dengan grid yang tidak seragam, serta fluktuasi pada level lantai. (Sumber: Arsitektura, Vol. 15, No.2, Oktober 2017: 506-513)
3.3.3. Uraian Konsep Pemintakatan
(Zoning)
Pesantren Kreatif ini dirancang dengan menerapkan 5 zonasi kawasan, yang pertama terdapat area entrance yang akan di desain dengan cukup luas serta akan diterapkan elemen – elemen tumbuhan dan air yang dikombinasikan, sehingga dapat muncul tema Eco Creative pada area entrance dan area entrance dapat menjadi zona penerima yang dapat menjadi daya tarik pertama bagi msyarakat yang melintas di ruas Jl. Lingkar Selatan.
Keterangan:
Zona Penerima Zona Masjid Zona pendidikan Zona Kantor Zona Asrama
Kemudian terdapat zona masjid yang berwarna kuning, zona masjid ditempatkan di area tengah kawasan karena masjid tekankan sebagai pusat berkumpulnya para santri, dan didesain dengan cukup besar. Sehingga semua santri satu sama lain dapat mengeluarkan ekpsresi kreatif mereka tidak hanya di zona pendidikan saja.
Dari zona masjid ini para pengguan dapat mengakses 3 zona sekaligus yaitu zona asrama, zona pendidikan dan zona kantor. Sehingga dapat memudahkan para pengguna dalam mengaksesnya. Pada zona masjid juga pada area landscapenya disediakan fasilitas – fasilitas tempaT duduk yang didesain dengan ekspresi kreatif seperti desain bangku apabila tidak ada orang yang menduduki, maka fungsinya menjadi sebagai hiasan landscape dan terbuat dari bahan – bahan ramah lingkungan yaitu bambu. Kemudian terdapat zona pendidikan yang berwarna hijau, pada zona pendidikan ini mencakut semua ruang yang berhubungan dengan belajar seperti ruang kelas, ruang mengaji, ruang belajar edukasi, GSG, Lab, dan ruang lainnya. Sama seperti zona masjid, zona pendidikan ini juga didesain dengan menerapkan arsitektur islami dan dikombinasikan dengan budaya lokal baik dari segi arsitekturnya maupun pola ruang sirkulasinya, sehingga dapat menghasilkan ekspresi kreatif karena mengkombinasikan antar kedua budaya yang sangat erat hubungannya dengan kehidupan aktivitas di pondok pesantren.
Zona pendidikan berada pada bagian kawasan tengah paling belakang, agar aktivitas yang dilakukan oleh para santri tidak terganggu oleh lalulintas pada area depan kawasan, sehingga dapat menghasilkan suasana pembelajaran yang lebih efektif. Selanjutnya terdapat zona asrama yang berwana merah. Dalam perancangan pesantren kreatif ini zona asrama putri dan asram santri putra ditempatkan terpisah, untuk zona asrama santri putri dan asrama Ustadzah berada pada bagian belakang sebelah kanan sehingga tidak terlewati oleh aktivitas santri putra sementara untuk asrama santri putra berada pada area kawasasan paling belakang sebalah kiri.
Entrance
Untuk menyambut kedatangan para santri dan melihatkan view lokasi bagi masyarakat yang melintas di sekitar lokasi, maka area entrance menerapkan prinsip tema kreatif yaitu “Curiosita” yaitu Menciptakan sebuah rancangan bangunan dengan kriteria dan bentuk mengambil dari karakter kawasan, sehingga dapat menjadi daya tarik masyarakat luar untuk mengetahui lebih dalam tentang bangunan yang mereka lihat (Bangunan Pesatren Kreatif). Menempatkan simbol- simbol eco creative dan ekspresi budaya yaitu terdapat tugu tauco yang menyimbolkan makanan khas Cianjur yang tentunya diterapkan pula proses pembelajaran produksinya di dalam pesntren, terdapat tugu lampu gentur yang di desain sebagai lampu taman juga sebagai karya inovasi khas lokal yang mempunyai kemiripan dengan bentuk – bentuk simbol budaya islam. Serta pada area entrance ini diterapkan tumbuhan bambu kuning, agar mengekspesikan budaya lokal yang pertumbuhan pohon bambu sangat tinggi serta pohon bambu juga digunakan sebagai salah satu bahan baku kegiatan produktif santi untuk mengahasikan produk – produk kreatif dan tentunya mempunyai nilai ekologis.
Sirkulasi
Alur sirkulasi yang terapkan pada kawasan pesantren kreatif ini yaitu terpusat, semua sirkulasi terpusat ke area masjid karena masjid merupakan fasilitas berkumpul untuk semua pengguna. Penerapan prinsip Access And Linkage, yaitu dengan memberikan aksebilitas yang mudah dicapai dan memberikan koneksi / hubungan dengan lingkungan sekitar. Konsep sirkulasi di ruang dalam kawasan tidak dapat dilalui oleh kendaraan, karena hanya akan ada sirkulaasi bagi pejalan kaki saja, sehingga Expresi budaya lokal yang diangkat dengan tema Eco Creative akan sangat terasa ditambah disetiap area dalam ditanami pepohonan yang cukup rindang, sehingga area landscapenya dapat dijadikan sebagai tempat duduk bagi para santri untuk membuat produk – produk kreatif.
Sekuen
Penerapan prinsip “Curiosita (rasa ingin tahu yang mendalam)” Dari mulai masuk area entrance, para pengguna sudah merasakan pengalaman ruang yang sangat erat kaitannya dengan ekspresi budaya lokal, dengan membuat kolam pengarah pada bagian
entrance, sehingga dapat menyeimbangkan dengan budaya Cianjur yaitu dataran tinggi yang terasa sejuk. Kemudian pada bagian entrance juga terdapat lampu – lampu taman khas Cianjur yang dihasilkan dari kreatifitas asli masyarakat lokal.
Sehingga dengan begitu diharapkan dapat menarik perhatian para pengguna untuk belajar bagaimana cara membuat inovasi lampu tersebut. Konsep Sirkulasi dan ruang terbuka / taman pada perancangan Pesantren Kreatif ini mengkombinasikan beberapa material seperti contoh gambar diatas yaitu membuat fasilitas sirkulasi pejalan kaki yang tidudupi oleh tanaman – tanaman pengarah, namun dalam perancangan Pesantren Kreatif ini tiang – tiang penutup jalur pejalan kakii tidak dari bahan beton seperti pada contoh gambar diatas, melainkan dengan menggunakan material alam yaitu tanaman bamu dan benang kasur sebagai penahan tanaman merambatnya.
Vegetasi
Dengan penerapan tema Eco Cretive, perancangan Pesantren Kreatif ini cukup banyak mengkombinasikan berbagai jenis tanaman dan pepohonan yang mempunyai warna bervariasi serta tanaman dapat dibentuk menjadi sebuah bentuk tertentu. Sehingga dapat menghasilkan sebuah ruang yang kreatif dan inovatif yang didasari oleh material – materil ramah lingkungan. Penerapan prinsip “Sensazione (Penajaman indra terus- menerus)”, yaitu memberikan berbagai macam aktivitas baik berupa ilmu pengetahuan umum, pengetahuan tentang keagamaan maupun edukasi ekonomi kreatif yaitu dengan menegambangkan sumber – sumber pangan lokal yang telah cukup banyak mengahasilkan produk – produk unggul. Sehingga kemampuan panca indra Santri dan Satriawati terus terlatih dan berkembang.
Orientasi Matahari
Selain dengan menerapkan tema Eco Creative yang memanfaatan sumber daya alam sekitar sebagai unsur utama yang digunakan, perancangan Pesantren Kreatif ini juga dirancang dengan pendekatan konsep Arsitektur Organik yang memberikan kesinambungan antara tapak dengan lingkungan sekitar. Sehingga perancangan Pesantren Kreatif ini sangat memperhatikan orientasi dari Matahari agar cahaya matahari dapat optimal masuk kedalam ruangan namun tidak berlebihan. Penyelesaian hal tersebut yaitu dengan menerapkan Arsitektur Organik yang sangat memperhatikan kondisi iklim dari segi bentuk dan material yang digunakan. Sebagai contoh penerapan bentuk perancangan Pesantren Kreatif ini dapat dilihat pada contoh gambar dibawah ini.
Sirkulasi Pengguna Pada bagian dalam kawasan dari perancangan Pesantren Kreatif ini tidak dapat dilalui oleh kendaraan bermotor umum / pengguna (santri) namun hanya terdapat akses bagi pejalan kaki saja. Sehigga area dalam kawasan lebih dominan digunakna oleh sirkulasi pagi pengguna pejaan kaki. Desain yang diterapkan pada area sirkulasi ini dnegan mengkombinasikan elemen alam yaitu berupa batu – batuan, tanaman pengarah serta kombinasi material semen, seperti pada contoh gambar dibawah ini, namun tetap menekankan tema konsep perancangan yang
telah ditentukan. Dengan begitu dapat menghasilkan nuansa inovatif di area sirkulasi pejalan kaki, sehingga penerapan Tema Eco Creative akan sangat terasa pada area tersebut.
Aksebilitas
Penerapan prinsip “Access and Linkage” dengan memberikan aksebilitas yang mudah dicapai dan memberikan koneksi / hubungan dengan lingkungan sekitar.
Sehingga dapat diterima oleh masyarakat. Kemudian area lahan terletak dipinggir jalan yang merupakan ruas jalan Kolektor Primer, setiap harinya selalu dilewati oleh segala jenis kendaraan termasuk kendaraan berat lintas provinsi. Oleh sebab itu meskipun lokasi perancangan ini hanya menghadap ke astu ruas jalan, namun dengan kondisi Jl. Lingkar Selatan ini yang berkategori ruas jalan kolektor primer sangat memberi keuntungan bagi lokasi perancangan karena mudah diakses dan pencapaian aksesnya dari luar kota maupun dalam Kota Cianjur juga cukup dekat.
Pencahayaan Perancangan Pesantren Kreatif ini menekankan pendekatan konsep Arsitektur Organik, sehingga selain memperhatikan orientasi matahari, iklim lokasi dan arah angin. Perancangan Pesantren Kreatif ini sangat memperhatikan intensitas cahaya yang digunakan baik dalam area landscape maupun pada ruang dalam bangunan.
BARAT
TIMUR
Seperti yang terlihat pada contoh gambar diatas. Pada konsep perancangan Pesantren Kreatif ini juga sangat memperhatikan bukaan agar cahaya matahari dapat masuk maksimal ke dalam setiap ruang. Dengan menerapkan tema Eco Creative, bukaan tidak hanya sebatas akses masuk bagi cahaya saja, melainkan sebagai desain fasade yang dapat memberikan wawasan inovsi kepada para pengguna. Sehingga pengguna digarapkan dapat terbuka wawasan tentang kreatifitasnya dengan melihat apa yang ada di sekitar mereka (desain peantren kreatif).
Hirarki
Konsep Hirarki pada perancangan Pesantren Kreatif ini mengikuti pemintakatan yang telah dibuat. Entrance dan masjid merupakan area yang mempunyai hirarki paling tinggi, karena area entrance merupakan area pertama yang dilalui baik oleh pengguna maupun oleh para pengunjung dan area entrance merupakan area yang bisa dilihat paling luas oleh masyarakat yang berlalu – lalang di ruas Jl. Lingkar Selatan. Sedangkan untuk masjid merupakan titik pust bagi semua ruang dan mempunyai fungsi sebagai tempat berkumpul bagi semua pengguna. Sehingga kedua area tersebut di desain dengan penerapan eco Creative paling utama baik dari segi massa bangunan, pengolahan landscape dan penggunaan material.
Seperti yang terlihat pada contoh gambar diatas, Masjid di desain dengan fasad yang di dominasi vegetasi agar mempunyai konektivitas dengan lingkungan sekitarnya yang dipenuhi oleh vegetasi. Pada perancangan masjid Pesantren kreatif ini di dominasi dengan penggunaan material alam meskipun pada struktur utamanya masih terdapat penggunaan material parbikasi, namun diberikan finishing yang nampak terlihat seperti material alami. Kemudian untuk area landscape di desain dinamis agar mempunyai keterkaitan dengan bentuk sawah yang jumlahnya cukup banyak di sekitar lokasi.
Kemudian untuk area yang mempunyai hirarki sedang adalah zona pendidikan yang didalamnya terdapat jenis ruang belajar formal, ruang belajar mengaji, lab, ruang edukasi kreatif (tempat sablon, tempat menganyam, tempat pembuatan lampu gentur, temat produksi makanan dari sayur – sayuran), workshop, lapangan, ruang belajar outdoor dan area landscape (fasilitas memanah, taman).
Fasilitas tersebut dikategorikan menjadi zona hirarki sedang karena fasilitasnya hanya dominan diakses oleh para pengguna saja, sedangkan apabila ada pengunjung yang datang harus meminta izin terlebih dahulu ke pihak pengelola pesantren untuk dapat masuk ke area zona hirarki sedang. Pada zona hirarki sedang ini penerapan tema Eco Creative dengan pendekatan arsitektur organik sangat terasa baik dalam pegolahan bentuk bangunan, sistem sirkulasi dan pencahayaan serta dalam penyelesainnya diolah dengan kreatif sehingga dapat membuat yang melihatnya merasakan sebuah ruang berbeda dari ruang lain (diluar area pesantren) namun menggunakan bahan yang sama (sumber daya alam). Dan untuk zona yang tergolong pada kateori hirarki paling rendah yaitu
zona asrama dan area ruang utilitas. Fasilitas tersebut hanya dapat diakses oleh ketentuan penggunanya sendiri, seperti fasilitas asrama putri tidak diperkenankan untuk diakses oleh santri / laki – laki begitupun sebaliknya, dan area utilitas hanya dapat diakses oleh pekerja pengelola saja. Oleh sebab itu, kedua fasilitas ini meskipun asrama merupakan salah satu elemen utama dari sebuah pendidikan pondok pesantren, tetapi tetap berada dalam kategori hirarki paling rendah karena hanya dapat diakses oleh penggunanya tertentu saja. Penerapan Tema Eco Creative pada fasilitas ini tidak terlalu banyak, karena tidak ditujukan untuk kategori penanda kawasan sebuah pesantren, namun tetap menerapkan karakter kreatif agar mempunyai keterakaitan baik dengan massa pesantren lainnya maupun dengan lingkungan sekitar.
Kebisingan
Penerapan prinsip “Sfumato” (Kesediaan untuk menerima hal hal yang tidak pasti), dalam hal ini yaitu kebisingan yang diakibatkan dari luar kawasan cukup tinggi, sehingga harus mencari solusi agar kebisingan tersebut dapat dikurangi dan tidak masuk ke area kawasan Pesantren, minimal potensi kebisingan pada ruang dalam massa tidak terlalu mengganggu aktivitas para penggunanya. Pada konsep Eco Kreatif ini solusi kebisingan untuk perancangan Pesantren Kreatif adalah dengan memunculkan vegetasi yang mempunyai dimensi cukup tinggi dan ditanaman disetiap sisi kawasan, sehingga dapat mengurangi kebisingan dan debu – debu ke dalam kawasan Pesantren Keratif ini. Kemudian menempatkan massa bangunan yang mempunyai tingkat konstentrasi aktivitas tinggi berada di tengah – tengah kawasan seperti asrama, dan ruang pendidikan, sehingga dapat mengurangi intensitas kebisingan yang bersumber dari ruas Jl. Lingkar Selatan, serta pohon – pohon yang ditanam pada area tersebut dikombinasikan jenis pohonnya sehingga dapat memunculkan nilai kreatif dalam peletakan menanam pohon.
Fasilitas Kreatif Penerapan prinsp “Corporalita” Pemupukan keunggulan, keterampilan dua tangan, kebugaran, dan sikap tubuh yang benar. Pesantren ini dirancang dengan kategori Pesantren Kreatif yang diambil berdasarkan fenoma dan isu yang
diangkat. Fasilitas kreatif ini disediakan untuk melatih kreatifitas anak – anak selaku penerus bangsa agar pada saat tuntas menjalani pendidikan selain dibekali ilmu pengetahuan secara umum namun juga dibekali kemampuan untuk berwirausaha dengan menjalankan usaha ekonomi kreatif tentunya semua tersebut dilandasi dengan nilai – nilai pemahaman agama yang kuat karena pada umumnya sebuah pendidikan pesantren mempunyai tujuan untuk meningkatkan pengetahuan orang dalam bidang keagamaan (Islam). Kemudian tujuan dari disediakannya fasilitas kreatif ini untuk anggaran pesantren bagi kebutuhan hidup santri dan santriawati yang berasal dari keluarga tidak mampu, sehingga mereka (santri dan Santriawati) dengan belajar dan memahami edukasi kreatif ini diharakan dapat memperbaiki kualitas ekonomi mereka. Serta tujuan disediakannya fasilitas kreatif ini untuk memberikan pemahaman kepada generasi muda bahwa mereka sebenarnya mempunyai kemampuan untuk menghasilkan sesuatu, tidak hanya diperalat oleh teknolgi saja melainkan harus memanfaatkan keberadaan teknologi untuk menhasilkan keuntungan. Apabila pemahaman tersebut diterapkan maka akan muncul motivasi dari para pengguna (Santri dan Santriawati) untuk mengembangkan produk – produk kreatif yang sekarang eksistensinya mulai meredup dikalahkan oleh produk – produk luar yang hampir semua pemasarannnya memanfaatkan teknologi. Untuk fasilitas yang akan disediakan pada perancangan Pesantren Kreatif ini antara lain:
Gambar – gambar diatas merupakan fasilitas kreatif yang disediakan pada Pesantren Kreatif ini, selain fasilitas pembuatan lampu gentur, teknik pembuatan tauco, menyablon, menganyam dari bambu dan sampah plastik, Pesantren Kreatif
ini juga menyediakan fasilitas lain yang secara fokus mengembangkan kemampuan mereka pada bidang teknologi, yaitu tedapat fasilitas animasi multimdia, teknik penerbitan dan pencetakan data termasuk dalam bidang Fotografi.
Penerapan prinsip desain “Liveability & Hospitality, Hospitality Material Sustainable & green design” dengan memberikan fasilitas yang layak bagi para pengguna / santri dan satriawati serta memberikan wadah untuk mengembangkan kreatifitas dan perilaku bersosialisasi. Sehingga dapat menghasilkan nilai – nilai yang berguna baik untuk kehidupannya maupun untuk masyarakat luas.
Uses & Activities, dengan memberikan wadah / aktivitas ruang bagi para santri yang mempunyai kesesuaian minat dan kemampuan yang telah dimiliki. Berbagai kegiatan yang disediakan dengan cermat akan membantu lokasi untuk menarik keberagamaan latar belakang pengguna.
Drainase Make Nature
Visible, dengan memberikan fasilitas yang dapat mengolah kembali limbah – limbah yang dihasilkan dari aktivitas di dalam Pesantren menjadi sebuah nilai positif bagi perkembangan alam dan teknologi. Seperti limbah dari material – material untuk membuah kerajinan dari bambu, botol bekas, plastik dan pemanfaatan air hujan. Serta yang paling utama yaitu menjadikan air bekas wudhu dapat digunakan kembali untuk kepentingan aktivitas lainnya, seperti menyiram tanaman sehingga air sisa wudhu yang merupakan pengeluaran aktivitas air terbesar di lingkungan pesantren dapat dimanfaatkan kembali.
Aktivitas
Penerapan prinsip “Sensazione (Penajaman indra terus- menerus)” Memberikan berbagai macam aktivitas baik berupa ilmu pengetahuan umum, pengetahuan tentang keagamaan maupun edukasi ekonomi kreatif yaitu dengan menegambangkan sumber – sumber pangan lokal yang telah cukup banyak mengahasilkan produk – produk unggul. Sehingga kemampuan panca indra Santri dan Satriawati terus terlatih dan berkembang. “Sfumato” (Kesediaan untuk menerima hal hal yang tidak pasti). Menciptakan santri – santri yang tidak hanya mampu untuk menguasi 1 keahlian saja. Selain terntunya didasari dengan pemahanan keagaman dan ilmu pengetahuan umum, para santri juga dibekali dengan kemampuan berwirausaha (menghasilkan produk – preduk sendiri), sehingga apabila telah tuntas belajar di pesantren tidak takut / siap untuk menghadapi kehidupan di masuarakat nanti. Uses & Activities, Memberikan wadah / aktivitas ruang bagi para santri yang mempunyai kesesuaian minat dan kemampuan yang telah dimiliki. Berbagai kegiatan yang disediakan dengan cermat akan membantu lokasi untuk menarik keberagamaan latar belakang pengguna. Berfikir Sistemik, Menciptakan santri yang memahami sistem kompleks yaitu pelajaran keagamaan, pengetahuan umum dan edukasi ekonomi kreatif dengan menganalisis bagian-bagian sistem tersebut untuk kemudian mengetahui pola hubungan yang terdapat didalam setiap unsur atau elemen penyusun sistem tersebut. Solution grow from place, Memanfaatkan potensi dan sumber daya lingkungan untuk mengatasi setiap persoalan desain. Pemahaman atas masyarakat lokal, terutama aspek sosial-budayanya juga memberikan andil dalam pengambilan keputusan desain. Prinsip ini menekankan pentingnya pemahaman terhadap alam dan masyarakat lokal. Dengan memahami hal tersebut maka perancangan Pesantren Kreatif ini diharapkanakan menciptakan lingkungan binaan tanpa menimbulkan kerusakan alam maupun ‘kerusakan’
manusia.
Jadwal Aktivitas:
03.00 WIB: Bangun, Mandi persiapan Sholat Tahajud Berjamaah dan mengaji
04.30 WIB: Sholat Subuh Berjamaah 05.00 WIB: Pengajian Al-Quran / ceramah 05.45 WIB: Tutorial Bahasa Arab – Inggris
06.00 WIB: Sarapan Pagi dan Persiapan berangkat Sekolah 06.45 WIB: Sholat Dhuha berjamaah
07.30 WIB: Kegiatan Belajar formal / edukasi kreatif / ekonomi kreatif 15.30 WIB: Sholat Ashar dan Istirahat
17.00 WIB: Makan Sore dan persiapan Sholat Magrib 17.30 WIB: Kegiatan belajar mengajar keagamaan 20.00 WIB: Sholat Isya Berjamaah dan jam belajar 21.00 WIB: Pengajian Umum
22.00 WIB: Istirahat (Tidur)
Utilitas Penerapan Tema Eco Creative pada utilitas yaitu dengan meminimalkan penggunaan penggunaan energi listrik seperti penggunaan pencahayaan buatan di siang hari, penggunaan solar panel merupakan proses memanfaatkan cahaya matahari dan energi listriknya dapat diolah lebih leluasa untuk segala keperluan aktivitas Pesantren, penggunaan pendingin ruangan hanya pada ruangan yang dirasa sangat membutuhkan seperti lab dan penyimpanan barang yang membutuhkan suhu dingin. Untuk ruang lainnya lebih dominan dengan menggunakan bukaan, sehingga udara dari luar dapat masuk secara maksimal kedalam ruangan. Dengan begitu jumlah instalasi – instalasi kabel yang menempel pada dinding lebih sedikit.