Nomor 9 Tahun 2000 Seri B
PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG
NOMOR 21 TAHUN 2000TENTANG
RETRIBUSI PEMAKAIAN KEKAYAAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
WALIKOTA TANGERANG
Menimbang : a. bahwa dengan ditetapkannya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, maka Peraturan Daerah yang mengatur mengenai Pemakaian Kekayaan Daerah perlu disesuaikan;
b. bahwa sehubungan dengan hal tersebut pada huruf a, perlu ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang- undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 76, TLN 3209);
2. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1993 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Tangerang (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 18, TLN Nomor 3518);
3. Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 41, TLN Nomor 3685);
4. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, TLN Nomor 3839);
5. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 72, TLN Nomor 3848);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelak-
7. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54, TLN Nomor 3952);
8. Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1999 tentang Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan dan Bentuk Rancangan Undang-undang, Rancangan Peraturan Pemerintah, dan Rancangan Keputusan Presiden (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 70);
9. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 167/KPTS/1991 tentang Penetapan Harga Pokok Peralatan di Lingkungan Departemen Pekerjaan Umum.
Dengan Persetujuan
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Tangerang
MEMUTUSKAN
Menetapkan : PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG TENTANG RETRIBUSI PEMAKAIAN KEKAYAAN DAERAH.
BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : a. Daerah adalah Kota Tangerang;
b. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kota Tangerang;
c. Walikota adalah Walikota Tangerang;
d. Pejabat yang di tunjuk adalah Pegawai yang diberi tugas tertentu sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku;
e. Pemakaian Kekayaan Daerah adalah Pemakaian Kekayaan Daerah Milik Pemerintah Daerah oleh orang atau badan hukum tidak termasuk pemakaian kekayaan daerah untuk pelayanan umum;
f. Retribusi Daerah yang selanjutnya disebut retribusi adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian ijin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi dan/atau badan hukum;
g. Surat Keterangan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat SKRD adalah Surat Keputusan yang menentukan besarnya jumlah retribusi yang terutang;
h. Kas Daerah adalah Kas Daerah Kota Tangerang.
BAB II
NAMA OBJEK DAN SUBJEK Pasal 2
(1) Dengan nama Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah dipungut Retribusi sebagai pembayaraan atas pemakaian kekayaan daerah;
(2) Objek Retribusi adalah pelayanan pemakaian kekayaan daerah yang meliputi : a. Pemakaian tanah;
b. Pemakaian gedung;
c. Pemakaian kendaraan/alat berat;
d. Pemakaian Rumah Susun;
e. Penggalian Daerah Milik Jalan (Damija).
(3) Subjek Retribusi adalah orang dan atau badan hukum yang memanfaatkan/
memakai kekayaan daerah.
BAB III
GOLONGAN RETRIBUSI Pasal 3
Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah digolongkan sebagai retribusi Jasa Usaha.
BAB IV
CARA MENGUKUR TINGKAT PENGGUNAAN JASA Pasal 4
Tingkat penggunaan jasa diukur berdasarkan jangka waktu pemakaian kekayaan daerah.
BAB V
PRINSIP DAN SASARAN DALAM PENETAPAN STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF
Pasal 5
Prinsip dan sasaran dalam penetapan struktur dan besarnya tarif retribusi didasarkan pada tujuan untuk memperoleh keuntungan yang layak sebagai pengganti biaya pengadaan, perawatan/pemeliharaan, biaya penyusutan dan biaya administrasi.
BAB VI PERIJINAN
Pasal 6
(1) Setiap orang atau badan hukum yang akan memakai/memanfaatkan kekayaan daerah wajib terlebih dahulu memperoleh ijin pemakaian dari Walikota;
(2) Setelah memperoleh ijin pemakaian dari Walikota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini, pemohon terlebih dahulu wajib membayar retribusi;
(3) Ijin sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini berlaku untuk jangka waktu tertentu terhitung sejak tanggal ditetapkan dan dapat diperpanjang berdasarkan permohonan yang bersangkutan.
Pasal 7
(1) Untuk memperoleh ijin sebagaimana dimaksud Pasal 6 Peraturan Daerah ini, pemohon mengajukan secara tertulis kepada Walikota;
(2) Tata cara dan syarat-syarat permohonan ijin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini, diatur kemudian oleh Walikota.
Pasal 8
Ijin sebagaimana dimaksud Pasal 6 Peraturan Daerah ini meliputi : a. Pemakaian tanah;
b. Pemakaian Gedung;
c. Pemakaian atau penggunaan kendaraan/alat-alat berat;
d. Pemakian Rumah Susun;
e. Penggalian Daerah Milik Jalan (Damija).
Pasal 9
(1) Setiap kegiatan penggalian jalan, trotoar, berm dan saluran untuk penanaman instalasi telepon, listrik, air, gas dan lain-lain yang sejenis terlebih dahulu wajib memperoleh ijin dari Walikota atau Pejabat yang ditunjuk;
(2) Pemegang ijin sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini, diwajibkan untuk memperbaiki/mengembalikan keadaan jalan/tempat yang digali kepada keadaan seperti semula;
(3) Perbaikan sebagaimana dimaksud ayat (2) pasal ini, bisa dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah dengan biaya dibebankan kepada pemilik ijin.
Pasal 10
Tata cara dan syarat-syarat penggalian jalan sebagaimana dimaksud pasal 9 ayat (1) Peraturan Daerah ini, diatur kemudian oleh Walikota.
Pasal 11
(1) Apabila terjadi kerusakan jalan, berm, trotoar dan atau utilitas jalan lainnya yang diakibatkan karena adanya penggalian oleh pemegang ijin harus diperbaiki dan dikembalikan seperti keadaan semula dengan biaya sepenuhnya ditanggung oleh pemegang ijin;
(2) Apabila dikemudian hari Pemerintah Daerah memerlukan pergeseran atau penertiban utilitas yang ada di Daerah Milik Jalan (Damija) karena menghambat pembangunan jalan, trotoar, dan saluran, maka pergesaran atau penertibannya menjadi beban pemilik utilitas.
BAB VII
PENOLAKAN DAN PENCABUTAN Pasal 12
(1) Walikota dapat menolak permohonan ijin pemakaian kekayaan daerah karena Pemerintah Daerah akan memanfaatkan/menggunakannya;
(2) Ijin pemakaian kekayaan daerah yang telah diberikan dapat dicabut apabila terdapat penyimpangan dalam pemakaiannya.
BAB VIII
PRINSIP PENETAPAN, STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI
Pasal 13
Prinsip penetapan tarif retribusi pemakaian kekayaan daerah sebagaimana dimaksud pada Pasal 5 Peraturan Daerah ini, adalah untuk mengganti biaya administrasi, pelayanan, perawatan/pemeliharaan.
Pasal 14
(1) Struktur besarnya tarip retribusi pemakaian tanah ditentukan sebagai berikut :
a. terhadap tanah yang harga jualnya di atas Rp. 100.000,- /m2, sebesar Rp. 1.000,-/m2/ Tahun;
b. terhadap tanah yang nilai harga jualnya di bawah Rp. 100.000,-/m2, adalah 50 % dari tarip retribusi pada hurup a ayat (1) pasal ini.
(2) Biaya pengukuran dan pemetaan :
a. untuk keperluan sarana perekonomian/niaga adalah 5 % dari tarip retribusi;
b. untuk keperluan rumah tangga adalah 4 % dari retribusi;
c. untuk keperluan sarana olah raga adalah 3 % dari retribusi;
d. untuk keperluan sarana pendidikan/kesehatan adalah sebesar 3 % dari retribusi;
e. untuk keperluan peribadatan sebesar 1 % dari retribusi.
Pasal 15
Retribusi pemakaian tanah untuk pemasangan/penggantungan alat reklame ditentukan sebagai berikut :
a. Luas s/d 50 M2 sebesar Rp. 4.000,-/M2/tahun b. Luas s/d 100M2 sebesar Rp. 5.000,-/M2/tahun
Pasal 16
Struktur besarnya tarip retribusi pemakaian gedung dan kursi ditentukan sebagai berikut :
a. Gedung Olah raga sebesar ….………... Rp. 350.000,- / Hari.
b. Gedung Pertemuan sebesar ……….………… Rp. 450.000,- / Hari.
c. Ruang Rapat sebesar ………..……….... Rp. 250.000,- / Hari.
d. Kursi sebesar ………. Rp. 400,- / buah / hari.
Pasal 17
(1) Struktur besarnya tarif retribusi pemakaian kendaraan/alat-alat berat sebagai berikut :
a. Kendaraan :
Roda enam ……….. Rp. 250.000,-/Hari
b. Alat-alat berat :
1. Mesin gilas berkapasitas 10 ton sebesar Rp. 90.000,-/hari 2. Mesin gilas berkapasitas 8 ton sebesar Rp. 80.000,-/hari 3. Mesin gilas berkapasitas 6 ton sebesar Rp. 60.000,-/hari 4. Mesin gilas berkapasitas 4 ton sebesar Rp. 50.000,-/hari 5. Mesin gilas berkapasitas 2,5 ton sebesar Rp. 40.000,-/hari 6. Mesin gilas berkapasitas 1 ton sebesar Rp. 15.000,-/hari 7. Mesin gilas tangan sebesar Rp. 20.000,-/hari 8. Mesin pemecah batu sebesar Rp. 60.000,-/hari 9. Alat semprot aspal sebesar Rp. 25.000,-/hari 10. Shovel loader sebesar Rp. 150.000,-/hari 11. T.R. (Tire Roller) sebesar Rp. 150.000,-/hari 12. Road Marking Paint sebesar Rp. 50.000,-/hari 13. AMP (Asphalt Mixing Plant) sebesar Rp 250.000,-/hari 14. Air Compresor sebesar Rp. 50.000,-/hari 15. Beton Molen sebesar Rp. 20.000,-/hari 16. Las listrik sebesar Rp. 20.000,-/hari 17. Rackdriel sebesar Rp. 20.000,-/hari
18. Stamper sebesar Rp. 20.000,-/hari
19. Compactor sebesar Rp. 20.000,-/hari
20. Asphalt finisher sebesar Rp. 150.000,-/hari 21. Push Boat Split Borge sebesar Rp. 294.000,-/hari
22. Push Boat sebesar Rp. 182.000,-/hari
23. Clampshell Standart Boorn sebesar Rp. 500.000,-/hari 24. Backhoe Loader sebesar Rp. 260.000,-/hari 25. Dump Truk Kecil sebesar Rp. 65.000,-/hari 26. Dump Truk Besar sebesar Rp. 75.000,-/hari 27. Tandem Roller sebesar Rp. 50.000,-/hari 28. Generator set sebesar Rp. 20.000,-/hari 29. Theodolite (alat ukur) T2 sebesar Rp. 50.000,-/hari 30. Theodolite (alat ukur) T0 sebesar Rp. 50.000,-/hari
31. Waterpas sebesar Rp. 50.000,-/hari
32. Cordrille sebesar Rp. 80.000,-/hari 33. Zet Hammer Test sebesar Rp. 40.000,-/hari
34. Takel sebesar Rp. 25.000,-/hari
(2) Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini tidak termasuk bahan bakar, pelumas dan bahan bakar lainnya.
Pasal 18
(1) Struktur tarif retribusi pemakaian rumah susun ditentukan sebagai berikut :
a. Type 18 tanpa fasilitas sebesar Rp. 50.000,-/bulan b. Type 21 tanpa fasilitas sebesar Rp. 60.000,-/bulan c. Type 21 dengan fasilitas :
- Lantai Dasar sebesar Rp. 149.000,-/bulan
- Lantai 1 sebesar Rp. 143.000,-/bulan
- Lantai 2 sebesar Rp. 137.000,-/bulan
- Lantai 3 sebesar Rp. 131.000,-/bulan
- Lantai 4 sebesar Rp. 125.000,-/bulan
(2) Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini, tidak termasuk biaya listrik/air.
Pasal 19
Tarif retribusi penggalian Daerah Milik Jalan (Damija) untuk satu kali penggalian adalah 15 % (lima belas persen) dari jumlah biaya fisik berdasarkan harga satuan yang ditetapkan dengan Keputusan Walikota;
Pasal 20
(1) Setiap pemakaian atau penggunaan tanah sebagaimana dimaksud pada pasal 14 dan 15 kurang dari dua belas bulan dianggap satu tahun;
(2) Setiap pemakian atau penggunaan bangunan/gedung/kursi sebagaimana dimaksud pada pasal 16, kendaraan/alat-alat berat sebagaimana dimaksud pasal 17 kurang dari satu hari dianggap satu hari;
(3) Setiap pemakai atau penggunaan Rumah Susun sebagaimana dimaksud pasal pada 18 kurang dari tiga puluh hari dinggap tiga puluh hari.
BAB IX
TATA CARA PEMUNGUTAN Pasal 21
Retribusi dipungut dengan menggunakan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan;
BAB X
SANKSI ADMINISTRASI Pasal 22
Dalam hal wajib retribusi kurang membayar, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2 % (dua persen) setiap bulan dari besarnya retribusi yang terutang yang tidak atau kurang bayar.
BAB XI
TATA CARA PEMBAYARAN Pasal 23
(1) Pembayaran retribusi yang terutang harus dibayar sekaligus ke Kas Daerah;
(2) Hasil pungutan retribusi pemakaian rumah susun sebagaimana dimaksud pada pasal 18 Peraturan Daerah ini, 60 % (enam puluh persen) dipergunakan langsung untuk biaya perawatan dan 40 % (empat puluh persen) disetor ke Kas Daerah;
BAB XII
PENGURANGAN, KERINGANAN DAN PEMBEBASAN RETRIBUSI Pasal 24
(1) Walikota dapat memberikan pengurangan, keringanan dan pembebasan retribusi;
(2) Pemberian pengurangan, keringanan dan pembebasan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini, dengan memperhatikan kemampuan wajib retribusi;
(3) Tata cara pengurangan, keringanan dan pembebasan retribusi diatur lebih lanjut oleh Walikota.
BAB XIII KADALUWARSA
Pasal 25
(1) Penagihan Retribusi, kadaluwarsa setelah melampui jangka waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak saat terutangnya Retribusi, kecuali apabila wajib Retribusi melakukan tindak pidana dibidang Retribusi;
(2) Kadaluwarsa penagihan retribusi sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini tertangguh apabila :
a. Diterbitkan Surat Teguran dan Surat Paksa atau;
b. Ada pengakuan utang Retribusi dari Wajib Retribusi baik langsung maupun tidak langsung.
BAB XIV
TATA CARA PENGHAPUSAN PIUTANG RETRIBUSI YANG KADALUWARSA
Pasal 26
(1) Piutang Retribusi yang tidak mungkin ditagih lagi karena hak untuk melakukan penagihan sudah kadaluwarsa dapat dihapus;
(2) Walikota menetapkan Keputusan penghapusan Piutang Retribusi Daerah yang sudah kadaluwarsa sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini.
BAB XV PENGAWASAN
Pasal 27
Walikota menunjuk pejabat tertentu untuk melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan Daerah ini.
BAB XVI
KETENTUAN PIDANA Pasal 28
(1) Pelanggaran terhadap Pasal 6, 9 dan 11 Peraturan Daerah ini diancam dengan pidana kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan atau denda setinggi-tingginya Rp.2.000.000,- (dua Juta Rupiah);
(2) Tindak pidana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini adalah pelanggaran.
BAB XVII PENYIDIKAN
Pasal 29
(1) Penyidikan terhadap pelanggaran Pasal 28 Peraturan Daerah ini dilaksanakan oleh Penyidik Umum dan/atau Penyidik Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Daerah yang pengangkatannya menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
(2) Wewenang Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini adalah :
a. menerima, mencari, mengumpulkan, dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana dibidang Retribusi Daerah;
b. meneliti, mencari, dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana Retribusi Daerah;
c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang Retribusi Daerah;
d. memeriksa buku-buku, catatan-catatan, dan dokumen-dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang Retribusi Daerah;
e. melakukan pengeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan, dan dokumen-dokumen, serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut;
f. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang Retribusi Daerah;
g. menyuruh berhenti melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang dan atau dokumen yang dibawa sebagaimana dimaksud pada huruf e;
h. memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana Retribusi Daerah;
i. memanggil orang untuk di dengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;
j. menghentikan penyidikan;
k. melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana dibidang Retribusi Daerah menurut hukum yang dapat dipertanggungjawabkan.
(3) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Pasal ini memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Kitab-Undang-undang Hukum Acara Pidana.
BAB XVIII
KETENTUAN PENUTUP Pasal 30
Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang mengenai teknis pelaksanaannya diatur lebih lanjut oleh Walikota.
Pasal 31
Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, dinyatakan tidak berlaku :
1. Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Tangerang Nomor 26 Tahun 1995 tentang Ketentuan Tarif Sewa Atas Tanah Hak Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Tangerang (Lembaran Daerah Nomor 2 Seri B);
2. Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Tangerang Nomor 29 Tahun 1996 tentang Penggunaan Alat-alat Berat Milik Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Tangerang (Lembaran Daerah Nomor 10 Seri B).
Pasal 32
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang dapat mengetahuinya memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Tangerang
Ditetapkan di T a n g e r a n g.
Pada tanggal 20 Nopember 2000.
WALIKOTA TANGERANG
Cap/T t d
Drs. H. MOCHAMAD THAMRIN
Diundangkan di T a n g e r a n g.
Pada Tanggal 28 Nopember 2000.
SEKRETARIS DAERAH KOTA TANGERANG
Cap/ttd
Drs. H. ACHMAD SUDJAI Pembina Tk.I
NIP. 010 047 670
LEMBARAN DAERAH KOTA TANGERANG TAHUN 2000 NOMOR 9 SERI B
C :/Doc.Huk/LD.Besar/LD.Kekayaan.Doc/ Comp.B/00