DARAH BIRU NENEK TUA
Darah Biru Nenek Tua/Fmstory;
editor, Yovie Kyu.―
Surabaya; Kyu Digital Books, 2016 20 hal. ; 21,59x27,94 cm.
Diterbitkan oleh:
Kyu Digital Books Q-Writing Consulting
Kadumulya No. 35 Cihanjung Kab. Bandung Barat 40559
Telp : +62 857 2356 8011
Email : [email protected]
Penulis : Fmstory
Editor : Yovie Kyu
Cover : Paidil Mursalin
Cetakan pertama, Mei 2016
Hak cipta dilindungi undang-undang
Sumber gambar : Pixabay.com
DARAH BIRU NENEK TUA
Dalam kisah lelaki sederhana
Fmstory
Kyu Digital Books
1
am kotak bermerek Lorus dengan model klasik modern, buatan Jepang circa tahun 1960-an itu berdentang delapan kali. Pukul 19.00 WITA.
Entah sudah berapa lama tertempel di dinding papan yang tak berwarna. Kusam. Tidak nyaman dilihat.
Sebuah ranjang kayu mengisi lebih dari setengah ruangan. Di pojok kanan berdiri sebuah lemari pakaian kecil. Berdebu. Jarang dibersihkan. Tulisan kaligrafi menghias partisi-partisi kamar itu. Namun, bukan menambah keindahan, tapi sebaliknya. Tidak menyedapkan mata.
Di sudut lain, sosok pemuda berumur sembilan belasan tahun sibuk berkemas. Sebuah koper hitam ukuran tanggung sudah penuh dengan pakaian.
Dia sedang memasukkan sebuah berkas dan beberapa buku dalam ranselnya. Di sampingnya sepasang sepatu berwarna putih bertuliskan Ardiles teronggok bisu. Seolah memperhatikan dirinya.
“Udah disiapkan semuanya?” tiba-tiba suara seseorang mengagetkannya.
Hilmiy menoleh. Wanita dengan baju tidur bergambar hello kitty berdiri sambil bersandar ke daun pintu. Matanya agak sipit dengan alis tebal hitam pekat.
Wajahnya putih berbentuk oval. Terawat. Berpadu dengan bibir simetris yang enak dilihat ketika menyungging senyum
“Kakak? Udah Kak. Udah beres semua.”
J
2
“Berkasnya jangan sampai lupa. Baju-baju yang mau dibawa jangan sampai ketinggalan. Handuk dan alat-alat mandi, teruuss ...” belum selesai wanita itu berceloteh, Hilmiy memotongnya.
“Tenang Kak. Udah diperiksa semua kok.”
“Ya sudah. Ayo, makan!”
Hilmiy bergegas bangkit. Menyusul kakaknya yang sudah lebih dulu menuju dapur.
***
Tetes-tetes embun membasuh daun hijau pohon-pohon waru yang tinggi menjulang. Hening seolah menyatu dengan kabut. Hawa dingin menjalar seiring waktu shubuh. Jiwa-jiwa yang mati hatinya tetap mendengkur syahdu di balik selimut. Tak peduli dengan panggilan Rabb-Nya.
Hari ini adalah hari keberangkatan Hilmiy ke kota. Samarinda, itulah nama kota yang akan dituju. Tahun ini dia baru saja lulus SMA dan ingin melanjutkan kuliah. Kakaknya yang bekerja sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) berjanji membantu. Meskipun Hilmiy tak terlalu mengharapkannya. Dia memang memiliki antusias menuntut ilmu. Dan dia yakin bisa membiayai kuliahnya sendiri dengan bekerja.
Setelah sarapan pagi, Hilmiy menge-check barang-barangnya. Takut ada yang tertinggal dan lupa dimasukkan ke dalam ransel maupun koper. Setelah merasa semuanya beres dia duduk di teras rumah menunggu taksi ―perahu.
Yah, di kampungnya memang ada sebuah perahu khusus yang digunakan sebagai alat transportasi. Untuk menelusuri sungai menuju desa sebelah yang menghubungkan ke kota. Dan itu disebut “Taksi.” Bayarannya cukup mahal 50 ribu untuk sekali duduk.
“Udah dapat taksinya?” Hilmiy tesadar dari lamunan mendengar pertanyaan kakaknya.
“Sebentar lagi kak, Jam 7 katanya.”
3
Kakaknya melirik jam tangan di lengan kirinya, “Kurang 10 menit jam 7 nih,” ujar kakaknya. Sementara itu, sebuah perahu sudah merapat ke batang.
1“Nah, itu perahunya sudah ada.” Sembari melayangkan pandangan ke arah sungai. Diikuti Hilmiy.
***
Pukul 07.30 WITA. Setelah berpamitan dengan kakak semata wayangnya yang tak kuasa menahan tangis melepas kepergiannya, Hilmiy pun bertolak. Dia maklum bagaimana perasaan kakaknya. Tentunya akan merasa kesepian. Hidup sendiri. Sudah banyak lamaran yang menyambanginya, namun tak jua luluh.
“Belum ada yang cocok,” begitu katanya.
Sungai kecil itu tampak tenang. Air berwarna kehitaman menandakan sedang surut. Itu adalah akses satu-satunya untuk pergi ke hilir ―Kota. Perahu melintas di atas air dengan kecepatan sama seperti tarikan dua puluh ekor kuda.
Di kanan kiri sungai hanya ada pepohonan yang entah apa namanya. Tumbuh liar. Tak ada yang tahu sudah berapa lama, dan tak ada yang peduli.
Perlu waktu kurang lebih dua jam untuk sampai ke tempat tujuan.
Melewati dua buah kampung dalam enam puluh menit pertama. Kemudian melewati danau. Setelah itu barulah memasuki desa yang dituju. Tak mudah memang untuk merantau ke kota bagi Hilmiy yang berada jauh di pedalaman Kalimantan.
Kira-kira jam sepuluh, Hilmiy pun tiba. Dia langsung naik ke atas menuju tempat penjualan tiket bus yang kebetulan ada di daerah dermaga.
Dia memperhatikan kesekelilingnya. Terlihat warung-warung berjejer menyediakan penganan. Dari kue-kue basah hingga makanan ringan. Kendaraan berlalu lalang. Suara bising mengudara tanpa henti. Para calo berteriak mencari penumpang. Beberapa orang laki-laki tertawa keras tanpa malu di salah satu kursi panjang yang berderet depan kedai kopi. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing.
1 Sebuah rakit terapung yang disertai jamban untuk buang hajat. Ini banyak kita jumpai di tanah ulu, pedalaman kalimantan timur.
4
Desa ini cukup maju. Bangunan rumah beberapa terlihat menggunakan beton. Jalannya pun sudah bagus. Beraspal. Bank serta ATM pun ada. Sangat berbeda jauh dengan tanah kelahirannya yang layak disebut badui.
2Terisolasi.
Dan mungkin tidak ada yang mengetahui keberadaannya.
“Tiket.”
“Berapa?” suara cempreng terdengar dari balik kaca buram.
“Satu,” jawab Hilmiy singkat.
Sebuah tiket menjulur keluar dari lubang kecil loket berwarna hijau itu.
“Harganya?”
“Dua puluh lima ribu.”
Hilmiy mengeluarkan uang pecahan dua puluh ribu dan lima ribu dari dompetnya. Lalu berjalan beberapa meter menuju halte. Menunggu.
Dari tempat duduknya, dia bisa melihat langsung ke arah sungai Mahakam.
Sungai satu-satunya yang menghubungkan desanya dengan dunia luar. Sungai yang baru saja dia lewati beberapa jam lalu. Nampak perahu-perahu hilir mudik tanpa peduli arus deras. Sesekali, tongkang yang penuh dengan muatan batu bara melintas entah menuju kemana.
Tiba-tiba dia merasakan sesuatu di kantong celananya. HP-nya bergetar.
Dengan sigap tangannya menarik keluar benda kecil tersebut. Dia menatap layar. Mencari tahu nama si pemanggil. Tertulis jelas. “Kakak.”
“Assalaamu’alaikum,” suara salam langsung terdengar dari ujung sana.
“wa’alaikum salam,” jawab Hilmiy.
“Sudah sampai?”
“Sudah.”
“Sudah beli tiket?”
“Sudah juga.”
2 Sebutan untuk suku dari pedalaman. Istilah ini dipakai di Arab.
5
“Sekarang di mana?” kakaknya yang memang super kepo memberondonginya dengan pertanyaan.
“Di halte.”
“Jam berapa busnya berangkat?”
“Setengah dua belas.”
“Ya sudah. Nanti kalau dah sampai di Samarinda kabari kakak. Di sana ada teman kakak yang bantu buat daftar ke kampusnya,” ucap kakaknya.
“Iyah.” Hilmiy hanya menjawab singkat. Dia merasa heran ketika tahu kakaknya memiliki teman di Samarinda. “Mungkin teman pondoknya dulu.”
Hilmiy membatin. Dia melihat jam tangannya.
“Lima menit lagi berangkat.” Gumannya.
***
Kursinya berada di nomor urut delapan. Cukup bagus. Di sebelahnya masih belum ada yang menempati. Dia mengitarkan pandangan ke dalam bus. Sedikit demi sedikit tempat-tempat kosong terisi. Seorang ibu paru baya bersama anak perempuan duduk berseberangan dengannya. Lalu seorang lelaki muda dengan tas hitam di punggung mengambil nomor urut di belakang. Kemudian masuk gadis yang terlihat berumur belasan tahun, celingukan mencari nomor tiketnya.
Hilmiy mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Menatap langit yang bersih tanpa awan. Matahari tengah naik sepenggalah. Udara panas berembus di tengah hiruk pikuk keramaian. Suasana bus mulai terasa pengap. Penuh sesak.
“Permisi.” Hilmiy menengok ke asal suara. Dia sedikit terperanjat. Gadis tadi berdiri menghadap ke arahnya sambil memperlihatkan nomor tiket.
Tertera angka 7 ditulis sekenanya menggunakan pulpen dengan tinta merah.
Gadis dengan jilbab merah scarlet tipis itu duduk tanpa sungkan. Terlihat
agak tomboy. Memakai celana jeans ketat berwarna abu-abu. Atasannya baju
putih dengan bintik-bintik rainbow. Sebuah tas jinjing kecil dia letakkan di
6
antara mereka berdua, seolah-olah itu adalah sekat. Batas teritorial yang tak boleh dilewati. Hilmiy sedikit beringsut.
Bus sudah berjalan sepuluh menit meninggalkan terminal. Krasak-kusuk memenuhi tempat yang tidak seberapa luas itu. Hingar bingar suara penumpang bak dengungan lebah. Sedangkan si gadis berkerudung merah. Sibuk dengan android canggih dalam genggamannya sedari bus berangkat. Hilmiy tak acuh.
Dia memperbaiki posisi duduk. Kemudian tidur.
Roda terus berputar di atas aspal panas yang terjemur sengatan bola api di tengah siang. Raungan mesin tua menyalak keras seakan mengatakan “Aku sudah ringkih.” Ah, siapa peduli. Yang penting dia bisa membawa semua orang sampai ke tempat tujuan.
***
Tepat ketika azan ashar berkumandang bus yang sudah berusia uzur itu tiba di terminal sungai Kunjang, Samarinda. Ban berdecit memekakan telinga.
Tukang ojek mencari mangsa. Kegaduhan merebak di dalam bus. Penumpang
berebut ingin keluar lebih dulu.
7
Hilmiy terbangun dari tidur ketika merasa bahunya di tepuk. Gadis itu membangunkannya. Dia mengucek kedua bola matanya. Berusaha menemukan kesadaran.
“Udah sampai, Mas.” Gadis itu memberi tahunya.
“Tee.. terima kasih,” Hilmiy tergagap.
“Saya duluan.” Gadis itu mengambil tasnya dan pergi.
Hilmiy berdiri dari tempat duduknya. Dia baru merasa, ternyata hanya dirinya yang masih di dalam bus.
Gelumat terminal langsung menyambutnya ketika keluar dari dalam benda butut itu. Hilmiy melihat jam tangannya. Pukul 16.00 WITA. Secara tak sengaja, matanya menangkap sebuah papan yang tertempel di sisi kanan loket penjualan tiket. Berjarak sekitar lima belas meter. Sudah agak pudar namum masih bisa dibaca. Bertuliskan “Musholla.” Dia berjalan ke arahya sembari menyeret koper.
Baru beberapa langkah, HP-nya tiba-tiba bergetar. Hilmiy agak kesulitan mengeluarkan si kecil itu dari sakunya.
“Assalaamu’alaikum, Kak,” dia mengucap salam.
“Iya, ini sudah sampai. Mau ke musholla dulu, belum sholat.”
“Iya, kirimkan saja nomornya.”
“Wa’alaikum salam.” Obrolan singkat itu berakhir.
Hilmiy dan kakaknya memang jauh berbeda. Kakaknya periang, perhatian, banyak bicara, dan kepo. Hingga cocok di panggil Ms. Stalker. Sedangkan dia sebaliknya. Dingin, autis, acuh dan seabrek sifat yang tidak enak untuk disebut.
Namun mereka saling memahami dan mengerti.
***
Setelah sholat, Hilmiy duduk di kursi panjang yang berjejer di sebelah kiri loket dengan satu botol minuman dan roti seharga dua ribuan di tangannya.
Perutnya terasa melilit. Lapar. Dia sedang menunggu jemputan dari teman
8
kakaknya. Pendaftaran kuliah di tutup jam enam sore. “Mudah-mudahan tidak terlambat,” rutuknya.
Lima belas menit kemudian HP-nya bergetar. Sebuah pesan masuk.
“Saya sudah di terminal. Kamu di mana?”
“Saya di ruang tunggu. Memakai baju hitam,” Hilmiy membalas SMS itu.
Beberapa menit kemudian seseorang dengan motor Jupiter Z parkir tiddak jauh darinya. Mengenakan Jaket kulit coklat yang sudah agak lusuh dan celana kain agak kebiru-biruan sebagai bawahannya. Terlihat selaras dengan helm KYT yang juga berwarna biru. Dia menghampiri Hilmiy.
“Asalamu’alaikum. Adiknya Shiba?”
Hilmiy yang sedang asyik membaca buku mendongak. Lelaki muda berumur sekitar dua puluh lima tahun berdiri di depannya.
“Wa’alaikum salam, iya. Eeee... siapa?
“Teman kakakmu,” dia mengulurkan tangan. “Salim.”
“Hilmiy.”
“Kita kemana? Langsung ke kampus?”
“Iya. Pendaftarannya masih dibuka. In sya allah.” Hilmiy berharap.
Dua orang itu ikut berbaur dalam bisingnya lalu lintas. Suara knalpot menyalak. Deru mesin tak karuan. Debu berterbangan menghalau pandang.
Hilir mudik kendaraan tak kenal waktu. Setiap individu memiliki kepentingan berbeda. Ada yang demi dunia. Dan ada pula yang berburu pahala.
***
Setelah selesai mengurus adminitrasi perkuliahan, sore menjelang maghrib Hilmiy langsung di antar ke asrama. Sedangkan teman kakakya sudah pamit. Dia hanya bisa mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan tersebut.
Sebenarnya bukan asrama permanen, melainkan sebuah rumah yang di
kontrak selama beberapa tahun. Rumah itu berlantai dua. Di cat warna oranye.
9
Terasnya tak terlalu lebar. Terdiri dari tiga kamar tidur. Satu ruang tamu dan satu ruang santai. Dapur terletak di bagian belakang berdampingan dengan WC.
Hilmiy menempati kamar tengah. Satu kamar berisi empat orang.
Rumah itu tepat berada di pinggir jalan. Languh-langah mobil dan motor tak pernah berhenti. Setiap detik, menit, jam tak pernah sepi. Ada saja melintas.
Hilmiy yang tak terbiasa dengan kegaduhan merasa sedikit terganggu.
Di sebelah kiri kediaman barunya ada penjual gorengan. Namun, dipisahkan oleh gang kecil yang menjorok ke dalam. Di kanannya sebuah rumah yang berukuran hampir sama tampak lengang. Entah ke mana si empunya. Di seberang jalan sebuah panti jompo cukup besar berdiri kokoh. Nampak seperti baru direhabilitasi.
Dua minggu setelahnya, Hilmiy mulai aktif kuliah. Hari-harinya sibuk dengan berbagai tugas. Dia tenggelam dengan seabrek kegiatan kampus.
Hampir-hampir tak ada waktu untuk bersantai ria. Kadang dari matahari terbit hingga terbenam dirinya masih belum pulang ke asrama.
Waktu terus berlalu. Tak terasa dia sudah naik ke semester dua.
Aktivitasnya yang terlalu padat membuat semua terasa belalu begitu cepat. Tak ada masalah apa-apa. Semuanya lancar. Hilmiy memang seorang yang tekun belajar. Namun, semua bisa berubah dalam 24 jam. Tanpa bisa diprediksi.
***
10
Malam itu, Hilmiy pulang telat. Karena kampus akan mengadakan sebuah seminar maka dia pun ikut andil sebagai panitia. Bertugas sebagai sekretaris cukup membuatnya sibuk dengan surat-menyurat.
Pukul 22.30 WITA. Hilmiy melangkah gontai menuju asrama yang tinggal lima puluh meter. Jarak kampus dengan tempat tinggalnya memang tak begitu jauh. Jalanan sepi. Hanya satu dua motor yang melintas. Sambil iseng menendangi kerikil-kerikil kecil yang bertebaran di atas aspal, Hilmiy tiba-tiba mendengar suara bentakan keras.
Matanya mencoba mencari asal suara. Ternyata itu berasal dari panti jompo. Dari kejauhan terlihat seorang wanita memakai baju putih khas perawat.
Berdiri sambil berkacak pinggang. Terdengar nada bicaranya meninggi.
Membentak penuh amarah. Hilmiy tidak bisa melihat siapa sosok yang menjadi korban karena terlindung tubuh si wanita. Dia terus melangkah menuju asrama.
Suara itu memecah keheningan. Mengudara dalam sunyi. Menyumpal telinga siapapun yang berada disekitarnya. Si wanita sedang memarahi seorang nenek tua yang benar-benar renta. Hilmiy hanya melihat kejadian itu sekilas pandang. Badannya yang sudah lelah menagih istirahat. Dia memilih tak peduli.
Sudah satu jam lebih Hilmiy merebahkan diri di atas kasur lepek kusam itu. Tapi belum mampu jua terpejam. Sedangkan teman sekamarnya sudah terbang ke alam mimpi. Peristiwa barusan sungguh mengganggu pikirannya.
Dia teringat kedua orang tuanya yang telah lama pergi. Gelisah tiba-tiba hadir begitu saja.
***
Hari-hari Hilmiy berlalu seperti biasa. Kuliah dan berorganisasi. Hingga tibalah libur semester. Semua penghuni asrama pulang kampung kecuali dia.
Yah, dia tinggal seorang diri. Ada beberapa amanah yang harus ditunaikan.
Kakaknya pun pengertian. Hilmiy berjanji akan pulang pada bulan romadhon.
Pagi itu, cahaya mentari malu-malu keluar. Biru langit membentang
seujung pandang. Lalu lalang kendaraan tak begitu ramai. Hari minggu
11
waktunya rehat. Hilmiy membawa secangkir teh hangat ke teras. Ingin menikmati waktu senggangnya. Sebuah buku telah dia siapkan untuk dibaca.
Dia baru membolak-balikan beberapa halaman buku. Tiba-tiba terdengar sumpah serapah dari arah panti jompo. Hilmiy melihat wanita itu lagi. Wanita yang beberapa waktu lalu marah-marah saat tengah malam. Di depannya seorang nenek tua membungkuk diam.
Wanita itu memegang sebuah piring di tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya memegang sendok. Terlihat dia berusaha menyuapi si nenek. Namun yang mau disuapi sama sekali tidak membuka mulut. Dia geram.
Segelas air putih yang berada di atas meja dia siramkan ke wajah lusuh itu tanpa belas kasihan. Sambil memaki. Hilmiy yang melihat perlakuan itu tak tinggal diam. Dia langsung bangkit dari kursinya.
Wanita itu mau menumpahkan isi piring ke wajah nenek lagi. Tapi sempat dicegah olehh Hilmiy.
“Ada apa ini? Kenapa ada kasar sekali?” Hilmiy berusaha tenang.
“Jangan ikut campur!” wanita itu berkata setengah teriak.
“Bagaimana mungkin saya bisa diam, jika anda seperti ini.” Hilmiy tak mau mengalah. “Saya bisa melaporkan Anda ke polisi.”
Raut wajah wanita itu sedikit pias mendengar ancaman Hilmiy. Dia meletakkan piring di atas meja.
“Anda urus saja dia!” lalu pergi menggeloyor masuk.
Hilmiy mengambil piring yang berisi sarapan pagi itu. Dia duduk di samping nenek. Sekilas memperhatikan sosok yang sudah lansia. Rambutnya sudah beruban. Warna yang dulunya hitam pekat sekarang putih merata, menandakan umur yang sudah tidak muda. Kulit itu mengeriput. Seakan-akan menyampaikan pesan kematian.
“Terima kasih.” Nenek itu berucap lirih. “Tapi kenapa anda membantu
saya? Apakah Anda mengenal saya?”
12
“Saya tidak kenal. Namun saya tidak tahan melihat perlakuan wanita itu kepada nenek. Saya hanya memenuhi kewajiban saya sebagai tetangga dekat.”
Hilmiy berusaha berbicara sepelan mungkin.
“Nenek makan, yah.” Hilmiy berusaha membujuk.
Sosok itu tak mengiyakan juga tak mengangguk setuju. Tapi membuka mulut ketika disuapi.
Sejak hari itu, setiap pagi Hilmiy pergi ke panti jompo untuk menyuapi sang nenek. Dan malamnya dia pun menjenguk. Si wanita ketus itu tak lagi memaki dan menyerapahi. Keadaan terkendali.
Entah ada berapa perawat di panti jompo itu. Namun semua seolah menutup mata atas perlakuan yang tidak wajar terhadap sang nenek. Hilmiy tidak habis pikir.
***
Libur semester akhirnya habis. Kesibukan Hilmiy seperti biasa. Satu minggu berlalu dia belum punya waktu untuk menjenguk sang nenek. Dua minggu berlalu. Sama. Berangkat pagi-pagi sekali, lalu pulang tengah malam, begitu seterusnya. Dia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi.
Hingga hari itu, seorang perawat datang mengetuk pintu asrama.
Kebetulan Hilmiy sudah berada di belakang pintu. Niatnya ingin menjenguk nenek. Sudah sebulan dia belum mampir. Tangannya meraih gagang tepat dengan suara ketukan dari luar.
“Ada apa?” Hilmiy bertanya kepada seorang wanita dengan wajah kuning
langsat yang berdiri di depannya setelah pintu terkuak.
13
“Ada titipan dari nenek.” Dua buah amplop diserahkan kepada Hilmiy. satu berwarna hijau, dan satu lagi berwarna merah muda. Masing-masing amplop bertuliskan Nenek Sa. Dia baru tau bahwa nama nenek adalah Sa. Entah memang sependek itu atau hanya sebuah gelar.
“Buka yang berwarna hijau terlebih dahulu, begitu pesan nenek,” wanita itu berkata datar.
“Eeeem... apa yang terjadi sama nenek? Kok pakai surat-surat segala?”
Hilmiy tampak bingung.
“Nenek sudah pergi,” ujar wanita itu pendek.
“Pergi ke mana?” Hilmiy semakin gusar.
“Bukalah amplop itu,” perintah si wanita.
Hilmiy segera membukanya. Terdapat sebuah surat kecil. Dia membacanya.
Nak, ketika surat ini berada di tanganmu, mungkin aku sudah tiada. Maka tunaikanlah pesanku. Berangkatlah ke Malaysia dan serahkan amplop berwarna merah muda kepada wanita yang ada di dalam poto. Dan berikan juga liontin itu sebagai bukti, bahwa kamu adalah orang yang diberi amanah untuk menyampaikan pesan ini.
Nenek Sa
14
Hilmiy bingung, tidak tahu-menahu. Entah apa yang terjadi kepada nenek Sa. Dia mengorek-ngorek isi amplop. Ada sebuah poto seorang wanita memakai jilbab hijau tosca. Berdesir hati Hilmiy melihatnya. Tak bisa dia gambarkan makhluk hawa itu. Sungguh fisiknya terlihat sempurna. Lalu sebuah liontin.
Sejenak Hilmiy memperhatikannya. Ada tulisan nama Fathiyya.
Dia tanyakan kepada perawat apa yang sebenarnya terjadi, namun wanita yang berpakaian serba putih itu enggan memberi jawaban. Hilmiy berlari ke arah panti, berusaha mencari penjelasan.
“Apaaaa?” Hilmiy tak kuasa menahan shock-nya setelah mendengar kabar tentang nenek Sa.
“Apakah secepat ini?”
Hilmiy melangkah lemas keluar panti. Dia bertekad akan melaksanakan wasiat itu. Nenek Sa meninggal karena serangan jantung. Pihak panti menolak memberi keterangan lebih dari itu.
***
Semua berlalu begitu cepat. Hilmiy yang sudah benar-benar nekat tak peduli dengan nasehat teman-temannya. Dia sudah mengantongi sebuah paspor. Berbekal foto dan liontin, Hilmiy beranjak pergi ke negeri Malaysia.
Meski harus meminjam uang sana sini sebelumnya, dia tidak peduli.
Tidak sulit untuk menyambangi negeri Jiran. Beberapa jam kemudian Hilmiy sudah menginjakkan kaki di Kuala Lumpur. Dan dari situlah nestapa dimulai.
Dia benar-benar ceroboh. Bagaimana mungkin dia akan menemukan wanita di dalam poto itu, sedangkan dia datang tanpa alamat. Tanpa tahu tempat mana yang akan dicari. Tanpa tahu arah mana yang akan dituju. Ini benar-benar sebuah kesalahan.
Hilmiy mengeluarkan poto itu dari dompetnya. Dia tatap lamat-lamat.
Hatinya berguman. “Kemana engkau akan membawaku?”
15
Hilmiy mencoba bertanya kepada setiap orang yang ditemuinya. Sambil memperlihatkan poto si wanita. Namun, sampai matahari terbenam dia pun belum sama sekali mendapat petunjuk satu pun.
Malam merambah perlahan. Bulan menyembul pelan. Semilir angin berembus menelusup jantung kota kuala lumpur. Hilmiy berada di tengah keramaian. Bingung akan merebahkan diri di mana. Yang ada di pikirannya hanyalah mesjid. Bukankah mesjid rumah Allah?
Jadilah kehidupannya seperti pengelana. Berjalan tanpa arah. Tersesat.
Berpindah dari satu mesjid ke mesjid lain, tanpa tujuan pasti. Persediaan uangnya semakin menipis. Bahkan dia harus rela makan sehari sekali demi menghemat pengeluaran. Malam ini dia tak tahu sudah menempati mesjid keberapa.
Tak terasa sudah sebulan lebih Hilmiy di Kuala Lumpur. Dia sudah putus asa. Menyerah. Perjuangannya sama sekali tak membuahkan hasil. Karena tak memiliki cukup uang untuk pulang dia menghubungi kakaknya. Alhasil, dia dimarahi habis-habisan. Tapi, tetap saja dia mendapat kiriman uang. Entah bagaimana cara kakaknya mengirimkan uang itu.
Setelah melakukan proses penukaran uang, lalu membeli tiket. Hilmiy langsung mencari taksi menuju bandara internasional Kuala Lumpur. Namun, di tengah jalan tanpa sengaja matanya melihat sebuah butik pakaian yang lumayan besar. Di reklamenya bertuliskan Fathiyya Collection. Tanpa pikir panjang Hilmiy menyuruh sang sopir memutar balik menuju butik.
Dia masuk kedalam bangunan yang terlihat kalem dari luar, namun begitu menawan ketika sudah berada di dalam. Butik itu menjual pakian-pakaian syar’i yang sangat berkualitas. Bukan hanya itu, sandal dan sepatu pun ada. Jika dilihat dari tempatnya, ini sangat elegan dan berkelas. Tentu harga barang-barangnya tidak murah.
Hilmiy langsung menuju kasir yang dijaga oleh dua orang gadis berjilbab
merah marun seraya menunjukkan foto si wanita.
16
“Permisi, Ada yang bisa kami bantu?” Gadis berwajah khas melayu menyapa lebih dulu.
“Maaf, saya ingin bertanya, apakah kalian mengenal pemilik butik ini?”
Hilmiy lansung bertanya tanpa basa basi.
“Tentu, dia adalah seseorang yang sangat kami hormati, Nona Fhatiyya.”
“Apakah ini orangnya?” Hilmiy menyodorkan sebuah foto.
“Iya, benar.” Gadis itu melihat dengan mimik heran. Lalu memperlihatkan poto itu kepada temannya. “Bagaimana foto ini berada di tangan anda?” gadis yang tadi sibuk dengan komputer bertanya penasaran.
Hilmiy menuturkan perjalanannya. Dari dia kenal dengan Nenek Sa hingga terdampar di Malaysia. Kedua gadis itu terharu.
“Tunggulah sebentar, saya akan berusaha mendapatkan alamat nona untuk anda.” Entah gadis itu pergi kemana. Tapi sepuluh menit kemudian dia datang dengan sepotong kertas kecil yang berisi alamat wanita yang dicarinya.
Ternyata dia tinggal di Johor Bahru.
Hilmiy tak berpikir lama. Baginya ini adalah kesempatan terakhir. Dengan membawa secarik kertas itu, dia pergi ke Johor.
***
Lima jam berlalu. Dan kini dia sudah berdiri di depan pagar sebuah rumah
megah. Mirip kastil sanking mewahnya. Ternyata wanita itu adalah seorang
yang kaya raya. Dan Nenek Sa, siapakah dia? Berbagai pertanyaan memenuhi
kepalanya.
17
Hilmiy menghampiri pos penjaga.
“Permisi, apakah ini kediaman Nona Fathiyya?
“Iya,” jawab lelaki berkumis tebal memakai seragam security. Matanya menatap penuh curiga.
“Bisakah saya bertemu dengannya?
“Anda siapa?
“Sayaaaa...” kalimat Hilmiy menggantung. Dia bingung untuk memperkenalkan dirinya sebagai siapa.
“Cepat pergi!” lelaki itu menghardiknya.
“Saya hanya ingin bertemu dengan Nona Fathiyya sebentar. Ada pesan yang ingin saya sampaikan.”
Lelaki itu bukan malah memberi jalan. Melainkan menyeretnya keluar.
Menjauh dari pintu masuk. Hilmiy berontak. Terjadilah pergumulan di antara keduanya.
Dari kejauhan sebuah Mercedes-Benz SL-Class R231 berwarna hitam mendekat ke arah dua orang yang sedang beradu fisik itu. Sang supir menghentikan mobilnya. Seorang wanita dengan jilbab coklat menjuntai sepantaran pinggul keluar.
“Ada apa ini?” tanya itu menghentikan pergulatan antara keduanya.
“Nona?” security itu bangkit, begitu pun Hilmiy.
‘Pria ini ingin bertemu Nona, tapi saya melarangnya karena saya tidak tahu dia siapa,” jelas si lelaki berkumis. Hilmiy hanya menunduk.
Fathiyya menatapnya dengan ekspresi heran. “Ada perlu apa anda ingin menemui saya?”
Hilmiy mengeluarkan amplop merah muda dari tasnya. Beserta sebuah
liontin dan foto. “Saya hanya menyampaikan amanah dari Nenek Sa.”
18
“Nenek Sa?” dahi wanita itu mengerut. Dia pun kaget dengan benda-benda yang di berikan oleh Hilmiy. Terutama liontin. Kalung yang terbuat dari kristal itu hanya dimiliki oleh dua orang. Dia, dan orang paling berharga dalam hidupnya.
“Ceritakanlah semuanya, tentang siapa anda, dan yang paling penting bagaimana foto dan liontin ini ada di tangan anda,” pinta Fathiyya.
Hilmiy kemudian menceritakan semuanya. Fathiyya merasa trenyuh setelah mendengarnya. Dia kemudian membuka surat. Perlahan.
Satu menit kemudian. Dia terhenyak dengan isi surat itu, Namun tak jua mampu berkata. Hilmiy meminta untuk membacanya juga. Karena dia sudah menjalankan amanah sang nenek. Dan dia pun ikut terkejut.
Fathiyya, jika surat ini sudah berada di tanganmu. Mungkin ibu sudah tiada.
Tapi laksanakan wasiat terakhir ibu. Tidak boleh tidak. Menikahlah dengan orang yang memebawa surat ini.
Ibu yang selalu mencintaimu
Nafisa
19
Waktu seakan berhenti bergulir. Tenggorokan serasa tercekak. Lidah kelu.
Mulut terkunci. Namun takdir tetaplah takdir. Masa tak bisa ditaklukan. Seperti hati yang tak tahu siapa pemiliknya selain tuhan.
20