7.2. G. GAMKONORA, Halmahera - Maluku Utara
KETERANGAN UMUM
Nama Lain : Gamkunora, Gammacanore Nama Kawah : Kawah A, B, C, dan D.
Lokasi
a. Geografi b. Administrasi
: :
1º 22’ 30" LU dan 127º 3' 00"
Kab. Halmahera Barat,, Prop. Maluku Utara.
Ketinggian : a. 1635 dml
b. 1600 m dari kota terdekat Kota Terdekat : Ibu (ibu kota kecamatan) Tipe Gunungapi : Strato
Pos Pengamatan : Kampung Gamsungi, Kec. Ibu Kabupaten Halmahera Barat,. Maluku Utara.
Posisi Geografi : 1º 24’ 45,36" LU dan 127º 21' 72" BT
PENDAHULUAN
Pencapaian Puncak
Pendakian ke puncak atau kawah G. Gamkonora dimulai dai kampung Gamsungi, waktu yang dibutuhkan hingga mencapai kawah selama 4 jam. Bagi para pengunjung yang akan tinggal atau bekerja lebih dari satu hari, tempat perkemahan yang baik adalah di Paseba yang lokasinya berada dalam hutan Glagah (Kaso) pada ketinggian +/- 1100 m dml., atau bisa juga berkemah di atas puncak yaitu di dalam kawah paling utara. Pada
musim hujan selalu ada genangan air yang terkumpul didasar kawah atau di celah-celah bebatuan.
SEJARAH ERUPSI
Sejarah erupsi G. Gamkonora adalah sebagai berikut:
TAHUN KEJADIAN
1564/1565 Terjadi letusan di kawah puncak yang menimbulkan hujan abu dan aliran lava. Suara dentuman terdengar hingga jarak kurang lebih 200 km, sedangkan aliran lavanya mencapai laut. Akibat letusan ini
menyebabkan kerusakan pada hutan dan tanah garapan, juga menimbulkan korban manusia.
1673 Tanggal 20 - 21 Mei, terjadi letusan yang banyak mengeluarkan abu, hingga kota Ternate menjadi gelap gulita. Awan abu luar biasa besarnya, hingga pada jarak +/- 350 km abu masih mengendap cukup tebal. Bersamaan dengan letusan ini juga terasa gempa bumi.
Akibat letusan ini menyebabkan pula kerusakan hutan dan tanah garapan serta menimbulkan korban manusia.
1917 Tanggal 18 Oktober terjadi peningkatan kegiatan, kadang-kadang kilat api tampak di samping kepulan berupa tiang asap tebal.
1926 Terjadi peningkatan kegiatan tanggal 1 dan 2 Juni, diduga terjadi letusan eksplosif dari kawah pusat. Beberapa hari kemudian de Kroon melakukan pendakian ke puncak, pada malam hari dilihatnya api pijar di lima buah tempat lapangan solfatara.
1949 Terjadi peningkatan kegiatan, diduga telah terjadi letusan eksplosif dari kawah pusat.
1950 Bulan Oktober terjadi letusan eksplosif. Akibat letusan ini tumbuh-tumbuhan di pinggir kawah sebelah selatan-baratdaya hangus terbakar, abu cukup tebal.
1951 Tanggal 12 April keluar asap hitam dari kawahnya. Kepulan asap ini terlihat dari kampung Gamsungi. Tanggal 2 Mei terdengar 2 kali suara gemuruh dari lobang kawahnya. Tanggal 16 Juli terjadi letusan kecil. Tahun ini pula suhu kawah memperlihatkan suhu yang relatif tinggin yaitu berkisar antara 400-5000 C.
1983 Tanggal 16 dan 17 Pebruari terjadi letusan abu. Keterangan lebih lanjut tidak ada.
1987 Tanggal 13, 24, 25 dan 26 April terjadi letusan abu, tinggi asap sekitar 1000 m, bergerak ke arah selatan. Material letusan dilontarkan dan jatuh kembali di sekitar kawah. Sebagian penduduk pantai mengungsi, setelah petugas Vulkanologi datang untuk melakukan pemeriksaan, baru mereka kembali.
1997 10 Januari terjadi letusan abu setinggi 200 m di atas puncak 2007 Tanggal 1 Juni – 7 Juli
Seismograf di Pos PGA G. Gamkonora merekam 1 kali gempa vulkanik dalam (VA), 7 kali gempa tektonik lokal dan 57 kali gempa tektonik jauh. Pukul 19:05 WIT terekam getaran (tremor) vulkanik tidak menerus dengan amplitude 2 – 4 mm.
Tanggal 8 Juli 2007 (pukul 17:30 WIT)
Terjadi hembusan asap dan abu (letusan freatik) berwarna putih kelabu tebal dengan ketinggian 200 m di atas puncak G. Gamkonora.
8 Juli pukul 19:30 WIT
Status kegiatan G. Gamkonora dinaikan dari AKTIF NORMAL (Level 1) menjadi WASPADA (Level II)
Tanggal 9 Juli
Pukul 06:00–9:30 WIT
Seismograf merekam getaran (tremor) menerus dengan amplitude 6 – 8 mm dan diiringi dengan gempa – gempa letusan dengan amplitude mencapai 30 mm.
Asap hembusan mencapai ketinggian 1000 m di atas puncak G. Gamkonora.
Pukul. 10:00 WIT
Status kegiatan G. Gamkonora dinaikan dari WASPADA (Level II) menjadi SIAGA (Level III).
Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas dalam radius 5 km dari puncak G.
Gamkonora diungsikan ke Kecamatan Ibu Tengah.
Pukul 16:30 WIT,
Hembusan abu semakin tinggi hingga mencapai 4000 m dari puncak G. Gamkonora.
Pukul 16:30 WIT
Status kegiatan G. Gamkonora dinaikan dari SIAGA (Level III) menjadi AWAS (Level IV).
Pemerintah Daerah Setempat dan Pengamat G. Gamkonora telah memutuskan bagi masyarakat yang bermukim di Kawasan Rawan Bencana II dan III atau yang bermukim dalam radius 8 Km dari pusat letusan (Kp. Baru, Kp. Adu, Kp. Nanas, Kp. Ngawet, Kp.
Jere, Kp. Gamsungi, Kp. Bataka, Kp. Talaga, Kp. Tobelos, Kp. Gamkonora dan Kp.
Sarau), untuk menghindari lontaran material pijar dan hujan abu lebat direkomendasikan mengungsi ke arah utara (Kec. Ibu Tengah).
10 Juli (dini hari)
Sinar api teramati pada ketinggian 10-20 m di atas puncak, disertai lontaran material pijar.
Letusan disertai dentuman masih terjadi dengan ketinggian asap 2000-4000 m 11 Juli
Masih terjadi letusan dengan tekanan semakin lemah dan ketinggian asap sekitar 100- 2500 m
12 dan 13 Juli
Masih terjadi letusan-letusan kecil.
Karakter Letusan
Dilihat dari sejarahnya, maka jenis letusan gunungapi ini umumnya bersifat eksplosif, yang mengeluarkan bahan-bahan piroklastik seperti bongkahan batuan, lapilli dan abu vulkanik, serta kadang-kadang mengeluarkan aliran lava.
Periode Letusan
Letusan dan peningkatan kegiatan vulkanik dalam sejarahnya sejak tahun 1564/1565 sampai saat ini telah tercatat sebanyak 11 kali dan semua terjadi di kawah puncak.
Letusan terakhir terjadi pada bulan Juli tahun 2007.
Letusan G. Gamkonora 11 Juli 2007
GEOLOGI
G. Gamkonora berdasarkan bentuk bentang alamnya dibagi kedalam 5 satuan morfologi yaitu; morfologi kawah, morfologi kerucut puncak, morfologi lereng, morfologi kaki dan morfologi dataran (Mulyana, 1995). Di daerah puncak terdapat 3 buah kawah utama, urutan pemunculannya diawali oleh pembentukan kawah 1 yang berdimensi paling besar yang berlokadsi paling utara puncak G. Gamkonora, diikuti oleh pembentukan kawah 2 dan 3 yang berdimensi lebih kecil secara berturut-turut ke arah selatan. Pada kawah 3 aktifitas hembusan solfatara/fumarola masih terus berlangsung sampai sekarang.. Ketiga buah kawah utama yang terdapat di puncak G. Gamkonora itu memperlihatkan bentuk “rift volcano”.
Berdasarkan sumber, jenis dan proses pembentukannya maka batuan penyusun G.
Gamkonora dibagi menjadi: Produk Kawah 1, Produk Kawah 2 dan Produk Kawah 3 (Mulyana, 1995). Komposisi lava-lava G. Gamkonora berkisar antara basaltik andesit sampai andesit. Secara umum lava-lava bertekstur porfiritik, fenokris terdiri dari plagioklas, klinopiroksen, mineral hitam seperti magnetit, kadang-kadang ditemui hornblende. Masssa dasar mikrolit plagioklas, glas vulkanik, mineral hitam dan sedikit piroksen. Ciri-ciri petrografi dari lava-lava G. Gamkonora banyak kemiripan dengan lava-lava gunungapi di busur tunjaman Halmahera yakni bertipe calk alkaline (Irianto dkk., 1993).
Struktur geologi yang berkembang di G. Gamkonora dan sekitarnya adalah berupa kelurusan (kelurusan vulkanik dan topografi), struktur sesar dan kawah serta depresi (Mulyana, 1995). Kesemua struktur lokal ini sangat dipengaruhi oleh struktur regional dan terutama karena adanya pengaruh dari zona depresi Sahu yang terdapat di Pulau Halmahera.
DEFORMASI
Perbandingan hasil survey GPS tahun 2005 dengan survey 2007 menunjukkan terjadinya inflasi (kenaikan muka tanah) pada tubuh G. Gamkonora. Hal ini ditunjukkan dengan arah vektor pergeseran yang menjauhi pusat kawah (Hidayati, 2007). Hal ini dapat dipahami karena pada saat dilakukan survey GPS ini, G. Gamkonora berada pada masa erupsi sehingga tekanan magma pada tubuh gunungapi berada pada tingkat yang cukup tinggi dibanding pada kondisi normal, sehingga tingkat kenaikan muka tanah pada tubuh gunungapi pada saat erupsi ini akan lebih tinggi dibanding kondisi tahun 2005 yang masih berada pada aktivitas normal.
Vektor pergeseran titik pantau survey GPS G. Gamkonora (satuan : cm)
Nama dE dN dH D Arah Vektor
Titik (derajat)
GAM02 -0.94 1.44 1.29 1.71 326
GAM03 -0.38 0.66 0.69 0.76 330
GAM04 -1.28 -0.56 51.34 1.39 246
GAM05 -2.47 4.27 1.72 4.93 329
Besar pergeseran yang terjadi ditentukan dalam nilai vektor pergeseran yang merupakan selisih koordinat titik ukur yang diperoleh dari dua survey yang berturutan.
Rincian vektor pergeseran hasil survey GPS ini tertera pada tabel 2 yang diukur berkisar pada komponen horisontal berkisar antara 0.3 – 4.2 cm sedangkan pada komponen vertikal berkisar antara 0.69-51.34 cm.
GEOKIMIA
Analisa Batuan
Data kimia batuan G. Gamkonora hanya berupa mayor elemen dengan kisaran kandungan SiO2 antara 53,62 - 56,91 % berat. Kandungan K2O berkisar antara 0,99 - 1,65
% berat. Berdasarkan plot K2O terhadap SiO2 menurut klasifikasi Peccerillo dan Taylor (1976) termasuk basaltik andesit seri calk alkaline (Irianto, 1993).
Bila dilihat dari kandungan MgO pada basaltik andesitik G. Gamkonora merupakan basaltik andestik yang rendah kandungan MgOnya. Thomson (1973) mengemukakan bahwa batas kandungan MgO dalam lava-lava G. Gamkonora hanya 4,99 % berat, merupakan kandungan MgO yang biasa dimiliki oleh andesit. Kandungan MgO pada lava- lava G. Gamkonora berkisar antara 2,42 - 4,99% berat, dan Mg number berkisar antara 51,93 -64,44% berat.
Berdasarkan diagram Harker untuk SiO2 VS MgO; SiO2 VS FeO; SiO2 VS CaO menunjukkan hubungan negatif. Penurunan kandungan MgO, FeO dan CaO dengan naiknya kandungan SiO2 menunjukkan unsur tersebut sangat diperlukan dalam pembentukan mineral klinopiroksen dan magnetit dalam fraksinasi kristalisasi magma seri calc alkaline G. Gamkonora. Hal tersebut dibarengi dengan penurunan Al2O3 yang berkisar antara 18,28 - 20,31% berat, maka kandungan Al2O3 tersebut masuk dalam kisaran yang dimiliki andesit Oregon (Gill, 1981). Jadi secara umum dapat dikatakan bahwa lava-lava calc alkaline tersebut dihasilkan oleh fraksinasi kristalisasi mineral klinopiroksen, plagioklas dan magnetit dari magma Gunungapi Gamkonora.
Daftar Conto Batuan G. Gamkonora
No. No.Conto Jenis SiO2 Batuan
1 Gam.01 Komponen magnetis dalam piroklastika flow
54,99 Andesit 2 Gam.02 Komponen bom piroklastika jatuhan 53,93 Andesit
3 Gam.03 Lava pucak 53.62 Andesit
4 Gam.04 Lava puncak 53,81 Andesit
5 Gam.05 Lava puncak 54,33 Andesit
6 Gam.06 Lava puncak 54,45 Andesit
7 Gam.07 Lava puncak 54,64 Andesit
8 Gam.08 Lava puncak 55,94 Andesit
9 Gam.09 Lava puncak 54,96 Andesit
10 Gam.10 Lava puncak 56,46 Andesit
11 Gam.11 Kubah lava 56,91 Andesit
12 Gam.12 Lava puncak 55,45 Andesit
13 Gam.13 Lava puncak 53,77 andesit
Analisa Kimia Mayor Elemen G. Gamkonora
Unsur 01 02 03 04 05 06 07
SiO2 54,99 53,99 53,62 53,81 54,33 54,45 54,64
Al2O3 20,31 19,65 19,89 19,32 18,90 19,51 19,84
Fe2O3 3,55 3,89 5,02 5,14 3,79 4,26 3,39
FeO 4,08 4,74 4,58 3,43 4,79 4,03 4,39
CaO 6,88 7,88 6,84 6,91 7,63 6,99 6,73
MgO 2,63 3,95 4,21 3,49 3,39 3,56 3,38
Na2O 3,67 3,06 3,05 3,03 3,68 3,31 3,64
K2O 1,37 0,99 1,00 1,14 1,16 1,35 1,24
MnO 0,18 0,17 0,17 0,16 0,17 0,18 0,16
TiO2 0,75 0,69 0,74 0,76 0,77 0.77 0.79
P2O5 0,44 0,43 0,31 0,36 0,38 0,44 0,43
H2O 0,15 0,16 0,16 0,82 0,14 0,17 0,18
HD 0,58 0,35 0,31 1,59 0,76 0,80 0,52
Jumlah 99,88 99,92 99,90 99,96 99,89 99,97 99,88
Hasil analisa Conto abu pada letusan tanggal 13 Juli 2007 terlihat pada tabel di bawah, memperlihatkan komposisi SiO2 mencapai 54.28 % berat yang mengindikasikan jenis kandungan magma bersifat andesit-basaltis.
Hasil Analisa Kimia Abu Letusan G. Gamkonora 13 Juli 2007
Unsur Dalam Satuan
% berat
SiO2 54.28
Al2O3 18.51
Fe2O
3
8.07
CaO 6.68
MgO 2.48
Na2O 1.64
K2O 0.75
MnO 0.10
TiO2 0.79
P2O5 0.27
H2O 2.70
HD 3.45
MITIGASI BENCANA GEOLOGI
Sistem pemantauan
Pemantauan aktivitas G. Gamkonora dilakukan secara menerus dari Pos Pengamatan Gunungapi di Desa Gamsungi yang terletak di sebelah barat G. Gamkonora.
Visual
Pengamatan visual dilakukan melalui pengamatan warna, tinggi dan tekanan asap yang keluar dari kawah serta pengamatan cuacanya.
Seismik
Peralatan yang digunakan adalah seismograf jenis Kinemetrik tipe PS-2 yang dioperasikan dengan sistim radio pancar. Secara garis besar unit seismograf ini dibagi menjadi dua bagian yaitu; unit lapangan dan unit penerima (pencatat) di Pos PGA di desa Gamsungi.
Peralatan di lapangan yang digunakan adalah 2 unit seismometer vertikal tipe L4C.
Masing-masing unit lapangan tersebut dipasang di lereng timur (1º 24’ 45,36" LU dan 127º 21' 72" BT), lebih kurang 4 km dari kawah, dan di puncak G. Gamkonora (1º 24’ 45,2" LU dan 127º 30' 21.9" BT). Data seismik di stasiun puncak, juga dikirim ke Pos PGA Gamalama kemudian ditransmisikan Pos “Regional Center” G. Gamalama di Ternate dan selanjutnya dikirim ke Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung melalui satelit (VSAT).
Deformasi
Pemantauan deformasi dilakukan dengan metoda GPS dan EDM. Metoda GPS menggunakan 5 titik benchmark yang tersebar di sebelah utara, selatan, dan barat dari puncak G. Gamkonora dengan titik kontrol menggunakan titik GAM01.
Posisi Koordinat Geodetik Titik Pengukuran Survey GPS
Nama Titik LU BT Ketinggian Lokasi
GAM01 01o24'45.2" 127o30'21.9" 73 m Kp. Gamsungi, Depan Pos PGA. G. Gamkonora GAM02 01o24'47.5" 127o32'09.0" 290 m Kp. Tobelos
GAM03 01o23'59.3" 127o30'51.8" 347 m Kp. Gamsungi GAM04 01o23'01.6" 127o29'54.6" 158 m Kp. Ngawet GAM05 01o21'08.6" 127o31'00.9" 306 m Kp. Baru
Pengukuran deformasi, selain metode GPS, dilakukan juga pengukuran dengan menggunakan metode EDM (Electronic Distance Measurement). Titik referensi dibangun di depan Pos PGA G.Gamkonora. Lokasi reflektor terletak di daerah lereng barat dekat
puncak adalah 01o23’14.7” LU dan 127o31’34.9” BT, pada ketinggian 1151 m dari permukaan laut.
Geokimia
Pemantauan geokimia dilakukan dengan menganalisa conto yang diperoleh dari 4 sumber yaitu 2 sumber mata air panas di Desa Tobelos yang berdekatan, 1 sumber air laut dan 1 sumber air danau kawah sebelah utara Kawah G. Gamkonora.
KAWASAN RAWAN BENCANA
Peta Kawasan Rawan Bencana Gunungapi Gamkonora dapat dibagi kedalam tiga tingkatan (Hadisantono, 2006) yaitu Kawasan Rawan Bencana I, Kawasan Rawan Bencana II, dan Kawasan Rawan Bencana III.
Kawasan Rawan Bencana I
Kawasan Rawan Bencana I adalah kawasan yang berpotensi terlanda lahar dan tidak menutup kemungkinan dapat terkena perluasan awan panas dan aliran lava. Kawasan ini dibedakan menjadi dua yaitu:
a. Kawasan rawan bencana terhadap aliran massa berupa lahar, dan kemungkinan perluasan awan panas atau aliran lava. Kawasan ini terletak di sepanjang sungai/di dekat lembah sungai atau di bagian hilir sungai yang berhulu di daerah puncak.
Kawasan ini diperlihatkan dalam peta berupa daerah berwarna kuning.
b. Kawasan rawan bencana terhadap jatuhan berupa hujan abu tanpa memperhatikan arah tiupan angin dan kemungkinan dapat terkena lontaran batu (pijar). Daerah ini diperlihatkan pada peta dalam bentuk lingkaran putus-putus diarsir berwarna kuning.
Kawasan Rawan Bencana II
Kawasan Rawan Bencana II adalah kawasan yang berpotensi terlanda awan panas, aliran lava, lontaran batu (pijar), hujan abu lebat, lahar dan gas beracun.
Kawasan ini dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Kawasan rawan bencana terhadap aliran massa berupa awan panas, aliran lava, aliran lahar dan gas beracun. Kawasan ini diperlihatkan dalam peta berupa daerah berwarna merah muda.
b. Kawasan rawan bencana terhadap material lontaran dan jatuhan seperti lontaran batu (pijar) dan hujan abu lebat. Kawasan ini diperlihatkan pada peta dalam bentuk lingkaran putus-putus diarsir berwarna merah
Kawasan Rawan Bencana III
Kawasan Rawan Bencana III adalah kawasan yang letaknya dekat dengan sumber bahaya seperti kawah dan daerah sekitar puncak. Kawasan ini sering terlanda awan panas, aliran lava, lontaran.batu (pijar), dan kemungkinan gas beracun.
Kawasannya terdiri atas dua jenis yaitu kawasan yang berpotensi terlanda :
a. Aliran massa seperti awan panas, aliran lava, dan gas racun. Kawasan ini diperlihatkan pada peta berupa daerah berwarna merah tua
b. Lontaran batu (pijar) seperti bom gunungapi, dan hujan abu lebat (jatuhan piroklastik).
Kawasan ini diperlihatkan pada peta berupa lingkaran bergaris putus diarsir berwarna merah. Kawasan rawan bencana III yang berpotensi dilanda lontaran batu (pijar) dan hujan abu lebat terutama adalah daerah puncak dan sekitarnya hingga radius 3.0 km dari pusat erupsi.
Peta Kawasan Rawan Bencana G. Gamkonora
DAFTAR PUSTAKA
Agus Solihin dkk., Laporan Pemasangan Alat Dan Pemeriksaan Kawah G. Dukono Dan G. Gamkonora, P. Halmahera, Maluku Utara, Direktorat Vulkanogi, Tahun 1994 Hadisantono, dkk, 2006, Peta Kawasan Rawan Bencana Gunungapi Gamkonora, Pusat
Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Bandung
Irianto dkk., 1991, Petrokimia Batuan Gunungapi Gamkonora, Direktorat Vulkanologi, Bandung,
Kusumadinata., K, 1979. Data Dasar Gunungapi. Direktorat Vulkanologi, Bandung, hal.
743 – 751.
Mulyana, AR dkk., Pemetaan Geologi Gunungapi Gamkonora, Direktorat Vulkanologi, Kabupaten Maluku Utara, Tahun 1995
Sri Hidayati, Agus Solihin, Ahmad Basuki., 2007, Kegiatan Tanggap Darurat Letusan G.
Gamkonora, Laporan, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Bandung