• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN Geologi dan Studi Sedimentologi Daerah Wado dan Sekitarnya

Kabupaten Sumedang, Jawa Barat

Raden Ario Wicaksono/12005043 13

BAB III

GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

3.1 Geomorfologi Daerah Penelitian

Bentukan topografi dan morfologi daerah penelitian dipengaruhi oleh proses eksogen dan proses endogen. Proses eksogen adalah proses-proses yang bersifat destruktif antara lain berupa erosi, pelapukan, dan sebagainya, sedangkan proses endogen adalah proses yang antara lain berupa pengangkatan, pelipatan, pensesaran dan sebagainya. Analisis geomorfologi dilakukan untuk mengetahui proses-proses apa saja yang telah terjadi dan membentuk bentang alam sekarang.

Metode yang digunakan dalam melakukan analisis ini adalah dengan analisis interpretasi peta topografi, citra satelit, pola aliran sungai sehingga didapatkan data kelurusan lereng, kelurusan sungai, pola kontur topografi, pola sungai, bentukan lembah sungai dan tingkat erosi yang terjadi.

Hasil analisis dari metode diatas dapat menentukan satuan geomorfologi yang didasarkan dari klasifikasi Lobeck (1939) sehingga dapat menganalisis proses geomorfik yang telah terjadi.

Sungai-sungai utama di daerah ini tidak jarang yang berbentuk aliran antiseden (sungai yang dapat mengimbangi pengangkatan daerah lapisan batuan yang dilaluinya. Setiap terjadi pengangkatan, air sungai mengikis batuan tersebut) terhadap struktur batuan yang ada (Sungai Ci Manuk terhadap struktur Baribis lokasinya pada bagian atas diluar dari daerah penelitian). Aliran sungai utama berarah dari selatan ke utara. Anak-anak sungai di daerah yang terlipat umumnya bersifat subsekuen terhadap jurus perlipatan (Martodjojo, 1984).

3.1.1 Morfologi Daerah Penelitian

Secara umum daerah penelitian berupa perbukitan memanjang dengan dataran pada

bagian tengah dan bagian atas daerah penelitian. Terdapat perbedaan ketinggian yang tidak

terlalu signifikan dimana pada dataran rendah ketinggian berkisar 237 m hingga 275 m diatas

permukaan laut (mdpl). Sedangkan pada daerah perbukitan perbedaan ketinggian berkisar

antara 300 m hingga 541 m diatas permukaan laut (mdpl).

(2)

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN Geologi dan Studi Sedimentologi Daerah Wado dan Sekitarnya

Kabupaten Sumedang, Jawa Barat

Raden Ario Wicaksono/12005043 14

Bentukan morfologi pada pengamatan di lapangan menunjukan proses geologi yang berperan morfologi adalah struktur geologi berupa sesar dan proses denudasi. Bentuk morfologi perbukitan memanjang disusun oleh breksi, sedangkan morfologi dataran dibentuk oleh litologi batupasir dan batu lempung.

Tata guna lahan daerah penelitian adalah sebagai areal pertanian, perkebunan, pemukiman dan kawasan hutan. Keadaan tata guna lahan di daerah penelitian dari citra satelit (Gambar 3.1) yang diambil melalui Google Earth terlihat adanya perbedaan warna dan pola yang menujukkan adanya perbedaan tata guna lahan berdasarkan morfologinya.

Morfologi dataran dan punggungan sebagian besar digunakan sebagai areal perkebunan dan hutan lindung pada daerah bagian utara. Pada gambar terlihat bahwa warna coklat sampai hijau dan memiliki tekstur yang relatif lebih kasar menunjukkan daerah bukit dan hutan yang mempunyai morfologi dengan relief lebih tinggi, ditafsirkan sebagai litologi yang memiliki tingkat resistensi yang kuat terhadap pelapukan.

Morfologi dengan relief lebih rendah atau landai ditafsirkan sebagai litologi yang

mempunyai resistensi lemah, pada gambar ditandai oleh warna hijau muda dan memiliki

tekstur yang relatif lebih halus yang merupakan areal persawahan. Warna biru dengan pola

berkelok-kelok menunjukkan daerah sungai, pada beberapa lokasi terdapat lembah cukup

terjal karena sungai memotong kontur yang cukup tinggi dan ditempat lainnya sungai-sungai

berbatasan dengan sawah maupun lingkungan pemukiman warga. Sedangkan areal

pemukiman ditandai warna coklah-kehitaman serta membentuk pola kumpulan/kelompok

yang berada di utara dan selatan daerah penelitian memanjang ke arah barat-timur mengikuti

keberadaan litologi batupasir serta sepanjang aliran sungai, hal ini erat kaitannya dengan

keberadaan sumber air berasal dari air tanah maupun sungai.

(3)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(4)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(5)

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN Geologi dan Studi Sedimentologi Daerah Wado dan Sekitarnya

Kabupaten Sumedang, Jawa Barat

Raden Ario Wicaksono/12005043 17

umumnya berupa sesar dan kekar (Thornbury, 1954). Pada daerah penelitian pola aliran trelis di bagaian barat terdiri dari Sungai Ci Budah, Sungai Ci Muja, Sungai Ci Belah dan Sungai Ci Honje. Sedangkan pola aliran dendritik di utara, selatan serta timur daerah penelitian terdiri dari Sungai Ci Bunut, Sungai Ci Bodas, Sungai Ci Aling,Sungai Ci Bogo dan Sungai Ci Nambo.

3.1.3 Analisis Topografi

Analisis Topografi berdasarkan dari Peta Lintasan skala 1:15.000 (Lampiran E-1), didapatkan tiga kriteria kerapatan kontur pada daerah penelitian, yaitu:

a. Kontur berpola rapat

Kontur ini menunjukkan daerah dengan morfologi curam serta ciri litologi yang relatif keras dan masif, menempati sekitar 25% daerah penelitian, tersebar di daerah Sukakersa, Cisurat, Pasir Cipondoh, Pasir Anggaranu, Pasir Nunggal, Pasir Kerud, Pasir Landak, Leuwihideung, Sukamenak, Ranggon, Marongpong dan Cijeruk.

b. Kontur berpola sedang

Kontur ini menunjukkan daerah dengan morfologi sedikit curam serta ciri litologi yang relatif lunak, menempati sekitar 20% daerah penelitian, terdapat di daerah Padajaya, Cipaok, Jatibungur.

c. Kontur berpola jarang

Kontur ini menunjukkan daerah dengan morfologi landai dengan ciri litologi yang relatif lunak, menempati sekitar 55% daerah penelitian. Terdapat di daerah Betok, Nangkod, Maleber, Sundulan, Sawahjambe, dan Citapen.

3.1.4 Satuan Geomorfologi Daerah Penelitian

Dilihat dari kondisi struktur geologi, kemiringan lapisan, serta jenis batuan penyusun

pada daerah penelitian maka dilakukan klasifikasi geomorfologi, klasifikasi ini berdasarkan

pada tipe genetik atau proses dan faktor penyebab bentukan morfologi. Berdasarkan

klasifikasi Lobeck (1939), daerah penelitian dapat dibagi menjadi 6 satuan geomorfologi,

yaitu: satuan lembah homoklin, satuan perbukitan homoklin, satuan perbukitan lipatan,

satuan perbukitan volkanik, satuan perbukitan intrusi, dan satuan dataran aluvial.

(6)

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN Geologi dan Studi Sedimentologi Daerah Wado dan Sekitarnya

Kabupaten Sumedang, Jawa Barat

Raden Ario Wicaksono/12005043 18

3.1.4.1 Satuan Lembah Homoklin

Satuan ini mencakup ± 63% dari luas daerah penelitian dan memiliki ketinggian mulai dari ± 237.5 m hingga mencapai 275 m diatas muka laut, pada peta geomorfologi satuan ini diberi warna hijau (Lampiran E-2). Satuan ini menempati bagian utara, bagian barat dan timur di tengah dari daerah penelitian di sepanjang aliran sungai besar (Sungai Ci Manuk) serta sungai-sungai sedang-kecil seperti Sungai Ci Cacaban, Sungai Ci Aling, Sungai Ci Bogo, Sungai Ci Belah, Sungai Ci Muja, dan Sungai Ci Bodas (Foto 3.1).

Satuan ini ditandai oleh dataran yang landai dan di beberapa tempat dijumpai lereng dengan kemiringan sedikit terjal dan terdapat sungai-sungai dengan lembah berbentuk U (Foto 3.2), dan di beberapa tempat berkelok tajam yang menunjukkan tahapan geomorfik dewasa. Tata guna lahan pada satuan ini adalah sebagai areal perkebunan, persawahan dan tempat pemukiman.

Foto 3.1 Satuan Lembah Homoklin, Foto Diambil dari Selatan Menghadap ke Arah Utara (Daerah Desa Pawenang).

Foto 3.2 Sungai Ci Manuk dengan Lembah Berbentuk U, Foto Diambil dari Utara Menghadap ke Arah Selatan.

B T

B T

(7)

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN Geologi dan Studi Sedimentologi Daerah Wado dan Sekitarnya

Kabupaten Sumedang, Jawa Barat

Raden Ario Wicaksono/12005043 19

3.1.4.2 Satuan Perbukitan Homoklin

Satuan ini mencakup ± 18% dari luas daerah penelitian dan memiliki ketinggian mulai dari ± 250 m hingga mencapai 400 m diatas muka laut, pada peta geomorfologi satuan ini diberi warna cokelat (Lampiran E-2). Satuan ini menempati bagian tengah sampai utara daerah penelitian, ditandai dengan kenampakan berupa kemiringan lapisan batuan yang relatif searah (kemiringan relatif ke arah selatan), memiliki kemiringan lereng sedang-terjal.

Satuan geomorfologi ini tersusun atas litologi breksi dan batupasir serta batulempung.

Secara litologi, satuan ini memiliki ketahanan terhadap erosi yang cukup tinggi dan tampak sebagai morfologi yang berbukit-bukit (Foto 3.3) Proses eksogen pada satuan ini adalah berupa pelapukan, erosi alur, erosi tepi sungai, dan erosi lembar (sheet erosion). Sungai yang mengalir di satuan ini umumnya memiliki tahapan geomorfik muda yang dicirikan oleh lembah sungai yang sempit dan dalam berbentuk V serta erosi ke arah hulu. Tata guna lahan pada satuan ini adalah sebagai areal perkebunan dan perhutanan.

Foto 3.3 Satuan Perbukitan Homoklin, Foto Diambil dari Selatan Menghadap ke Arah Utara (Daerah Desa Wado).

3.1.4.3 Satuan Perbukitan Lipatan

Satuan perbukitan lipatan meliputi ± 12% dari luas daerah penelitian dan memiliki ketinggian mulai dari ± 250 m hingga mencapai 355 m diatas muka laut. Pada peta geomorfologi satuan ini diberi warna jingga/orange (Lampiran E-2). Satuan ini menempati bagian barat daya daerah penelitian berupa perbukitan antiklin ditandai oleh kenampakan perbukitan dengan kemiringan lereng sedang-terjal (Foto 3.4).

B T

(8)

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN Geologi dan Studi Sedimentologi Daerah Wado dan Sekitarnya

Kabupaten Sumedang, Jawa Barat

Raden Ario Wicaksono/12005043 20

Perbukitan ini memiliki ketahanan terhadap erosi cukup tinggi dikontrol oleh struktur geologi berupa sesar dan perlipatan dengan litologi penyusun satuan ini adalah breksi, batupasir dan batulempung.

Sungai yang mengalir di daerah ini memiliki tahapan geomorfik muda yang dicirikan oleh lembah sungai yang sempit dan dalam berbentuk V serta erosi ke arah hulu (Foto 3.5).

Lembah-lembah sungai yang sempit dan dalam tersebut rawan akan bahaya longsor maupun jatuhan batu. Tata guna lahan pada satuan ini adalah sebagai areal pertanian.

Foto 3.4 Satuan Perbukitan Lipatan Terdapat Bukit Pasir Kerud dan Pasir Nunggal, Foto Diambil dari Timur Menghadap ke Arah Barat (Daerah Cijati).

Foto 3.5 Sungai Ci Budah dengan Lembah Berbentuk V, Lembah Curam dan Dalam Mencirikan Tahapan Geomorfik Muda (Foto Diambil dari Timur Menghadap ke Arah Barat).

Pasir Nunggal Pasir Kerud

S U

S U

(9)

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN Geologi dan Studi Sedimentologi Daerah Wado dan Sekitarnya

Kabupaten Sumedang, Jawa Barat

Raden Ario Wicaksono/12005043 21

3.1.4.4 Satuan Perbukitan Volkanik

Satuan perbukitan volkanik menempati + 20% dari luas daerah penelitian terutama dibagian barat, memanjang dari tengah sampai ke arah selatan yaitu dibagian timur daerah Darmaraja (tengah daerah penelitian) dan satuan ini juga didapatkan di daerah Cijeruk (bagian selatan sebelah timur peta). Morfologinya dicirikan oleh punggungan-punggungan (Foto 3.6 dan Foto 3.7) dengan kemiringan sangat terjal. Ketinggian maksimum adalah 500 m. Pada peta geomorfologi satuan ini diberi warna merah muda/pink (Lampiran E-2).

Foto 3.6 Satuan Perbukitan Volkanik di Daerah Pasir Landak, Foto Diambil dari Timur Menghadap ke Arah Barat di Jalan Sumedang-Bantarujeg (Sekitar Daerah Betok).

Foto 3.7 Satuan Perbukitan Volkanik, Foto Diambil dari Timur Menghadap ke Arah Barat (Daerah Ranggon).

Satuan ini disusun oleh breksi piroklastik yang monomik dengan fragmen batuan beku dan lava batuan beku. Proses eksogen yang bekerja pada satuan ini adalah berupa pelapukan, longsoran, dan erosi ke hulu.

Pasir Landak

S U

S U

(10)

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN Geologi dan Studi Sedimentologi Daerah Wado dan Sekitarnya

Kabupaten Sumedang, Jawa Barat

Raden Ario Wicaksono/12005043 22

3.1.4.5 Satuan Bukit Intrusi

Satuan bukit intrusi menempati + 2% dari luas daerah penelitian terutama dibagian tengah, berupa bukit yang berdiri sendiri/tunggal. Morfologinya dicirikan oleh punggungan (Foto 3.8) dengan kemiringan sedang sampai terjal. Ketinggian maksimum adalah 272 m.

Pada peta geomorfologi satuan ini diberi warna merah (Lampiran E-2).

Satuan di daerah ini disusun oleh batuan beku (Foto 3.9) yang terdapat pada sisi tebing Sungai Ci Manuk.

Foto 3.8 Satuan Bukit Intrusi, Foto Diambil dari Barat Menghadap ke Arah Timur (Jalan Raya Sumedang- Bantarujeg).

Foto 3.9 Batuan Beku Yang Terdapat Pada Sisi TebingSungai Ci Manuk.

U S

(11)

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN Geologi dan Studi Sedimentologi Daerah Wado dan Sekitarnya

Kabupaten Sumedang, Jawa Barat

Raden Ario Wicaksono/12005043 23

3.1.4.6 Satuan Aluvial

Satuan aluvial menempati + 5% dari luas daerah penelitian, terletak di bagian tengah dari daerah penelitian sepanjang sungai Ci Manuk berbentuk U (Foto3.10). Satuan ini membentuk morfologi kemiringan lereng hampir datar dan disusun oleh material lepas berukuran pasir- kerakal. Pada peta geomorfologi satuan berwarna abu-abu (Lampiran E-2).

Foto 3.10 Sungai Ci Manuk Berbentuk U Foto Diambil dari Selatan Menghadap ke Arah Utara (Daerah Sekitar Nangewer).

3.2 Lintasan Geologi

Lintasan geologi yang dimaksud merupakan lintasan dimana dilakukan pengamatan geologi detil dan pengukuran penampang stratigrafi yang disintesa dalam kolom pengukuran penampang stratigrafi terinci, serta pada lintasan ini juga dilakukan pengambilan sampel untuk analisis-analisis petrografi dan mikropaleontologi.

3.2.1 Lintasan 1 (Sungai Ci Manuk Hilir-Sungai Ci Bodas)

Jalur Lintasan 1 (Gambar 3.3) ini berada dibagian tengah dari daerah penelitian, berarah dari utara ke selatan dengan menempuh jarak ± 6,18 km. Pengamatan singkapan dimulai dari lokasi Bp-28 hingga berakhir di lokasi Cp-1 yang berada di timur dari lokasi daerah penelitian dengan kemiringan lapisan secara umum ke arah selatan. Ketebalan tiap lapisan batuan dapat dilihat secara lebih rinci pada kolom pengukuran penampang stratigrafi (Lampiran D-1).

B T

(12)

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN Geologi dan Studi Sedimentologi Daerah Wado dan Sekitarnya

Kabupaten Sumedang, Jawa Barat

Raden Ario Wicaksono/12005043 24

Gambar 3.3 Lintasan 1 (Sungai Ci Manuk Hilir-Sungai Ci Bodas).

A

C

B

(13)

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN Geologi dan Studi Sedimentologi Daerah Wado dan Sekitarnya

Kabupaten Sumedang, Jawa Barat

Raden Ario Wicaksono/12005043 25

Poin-poin lokasi Bp-28 sampai Bp-22 merupakan singkapan-singkapan dari satuan batulempung-batupasir. Poin lokasi Bp-27 terdapat pada Sungai Ci Manuk di bagian utara peta, singkapan yang berada di poin ini adalah singkapan perselingan batulempung-batupasir (Foto 3.11). Singkapannya segar terdapat pada tepi sungai dengan tebal 28 m. Pada bagian bawah adalah batulempung, coklat-hitam, getas, tebalnya 60-80 cm. Kemudian membentuk perselingan yang monoton dengan batupasir, abu-abu, ukuran butir pasir sedang, karbonatan, membundar, pemilahan baik, kemas tertutup, kompak, porositas sedang, struktur sedimen laminasi sejajar, graded bedding, ripple dan bioturbasi. tebal batu pasir 8-40 cm. Batupasir yang terdapat di lokasi ini menunjukan adanya pola lapisan yang semakin menipis ke atas (thinning upward sequence). Kedudukan lapisan N90 ° E/20 ° S.

Foto 3.11 Singkapan Perselingan Batulempung-Batupasir Lokasi Bp-27 Sungai Ci Manuk.

Berikutnya adalah lokasi dari poin Bp-26 pada Sungai Ci Manuk letaknya berada di selatan dari poin sebelumnya, singkapan segar terdapat pada tepi sungai berupa singkapan perselingan batulempung-batupasir dengan kedudukan lapisan N110 ° E/12 ° SE. Hasil deskripsi menunjukkan batulempung, bewarna abu-abu gelap, kompak, karbonatan mengandung foraminifera kecil, porositas buruk.

Sedangkan batupasir bewarna coklat terang dengan ukuran butiran sedang, pemilahan

buruk, bentuk butir membundar tanggung-membundar, kemas tertutup setempat terbuka,

porositas baik, kompak, karbonatan, struktur sedimen graded bedding, laminasi sejajar,

ripple dan bioturbasi (Foto 3.12). Bioturbasi terlihat dengan sangat jelas dan berukuran besar.

(14)

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN Geologi dan Studi Sedimentologi Daerah Wado dan Sekitarnya

Kabupaten Sumedang, Jawa Barat

Raden Ario Wicaksono/12005043 26

Foto 3.12 Graded Bedding, Laminasi sejajar dan Bioturbasi pada Perselingan Batupasir-Batu Lempung di Lokasi Bp-26 Sungai Ci Manuk.

Lokasi selanjutnya adalah lokasi poin Bp-22 berada pada tebing sungai tepat di kelokan Sungai Ci Manuk bagian utara yang letaknya sebelah selatan dari poin sebelumnya, singkapan pada daerah ini adalah singkapan perselingan batulempung-batupasir (Foto 3.13) dengan tebal 24 m, kedudukan lapisan N73°E/12°SE dan kondisi singkapannya segar.

Foto 3.13Singkapan Perselingan Batulempung-Batupasir Lokasi Bp-22 Sungai Ci Manuk.

Batupasir, abu-abu, ukuran butir pasir kasar, tidak karbonatan, membundar, pemilahan baik, kemas tertutup, kompak, porositas sedang, struktur sedimen laminasi sejajar, graded bedding, tebalnya 2 m.

Sedangkan batulempung, coklat-hitam, kompak, tidak karbonatan, getas kemas tertutup, porositas buruk, tebalnya 2 m. Jika dibandingkan dengan poin-poin sebelumnya di lokasi ini

Laminasi Sejajar Graded Bedding Bioturbasi

Ripple

(15)

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN Geologi dan Studi Sedimentologi Daerah Wado dan Sekitarnya

Kabupaten Sumedang, Jawa Barat

Raden Ario Wicaksono/12005043 27

batupasir dan batulempung semakin menebal (thickening) serta keduanya memiliki ketebalan yang relatif sama.

Singkapan dari satuan breksi-batupasir dapat diperoleh pada lokasi poin Bp-21 sampai Bp-15. Di sepanjang poin-poin ini terjadi perubahan litologi secara berangsur yang semula merupakan singkapan dari perselingan batulempung-batupasir menjadi perselingan breksi- batupasir. Singkapan perselingan breksi-batupasir lokasi Bp-21 Sungai Ci Manuk (Foto 3.14) merupakan lokasi pertama kali ditemukannya breksi, singkapan terdapat pada dasar sungai sampai sisi tebing dengan kondisi singkapan sangat segar dengan kedudukan lapisan N125 ° E/25 ° SE.

Foto 3.14Singkapan Perselingan Breksi-Batupasir Lokasi Bp-21 Sungai Ci Manuk.

Hasil deskripsi pada singkapan ini adalah breksi, abu-abu, ukuran butir kerikil-bongkah, tidak karbonatan, menyudut, pemilahan buruk, kemas terbuka, kompak, porositas buruk, fragmen berukuran bongkah berupa batuan beku, batupasir, koral (Foto 3.15) matriks pasir kasar-sangat kasar.

Kemudian membentuk perselingan dengan batupasir, abu-abu, ukuran butir pasir halus- sedang, tidak karbonatan, membundar, pemilahan baik, kemas tertutup, kompak, porositas sedang, struktur sedimen laminasi sejajar, graded bedding yang semakin mengkasar ke atas.

Pada lokasi ini juga terdapat sisipan tipis dari batulempung, coklat-hitam, ukuran butir

lempung, tidak karbonatan, getas.

Gambar

Foto 3.1 Satuan Lembah Homoklin, Foto Diambil dari Selatan Menghadap ke Arah Utara (Daerah Desa Pawenang)
Foto 3.3 Satuan Perbukitan Homoklin, Foto Diambil dari Selatan Menghadap ke Arah Utara (Daerah Desa Wado)
Foto 3.4 Satuan Perbukitan Lipatan Terdapat Bukit Pasir Kerud dan Pasir Nunggal, Foto Diambil dari Timur   Menghadap ke Arah Barat (Daerah Cijati)
Foto 3.6 Satuan Perbukitan Volkanik di Daerah Pasir Landak, Foto Diambil dari Timur Menghadap ke Arah Barat di  Jalan Sumedang-Bantarujeg (Sekitar Daerah Betok)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kenampakan kedudukan lapisan batuan yang miring ke arah selatan dari satuan Batulempung karbonatan Rambatan pada LP33 ... Kenampakan kedudukan lapisan batuan miring

Sesar ini juga diperkuat dengan adanya lapisan yang lebih tua berada diatas lapisan yang lebih muda, dalam hal ini satuan batugamping terumbu dan batugamping kalkarenit, sesar ini

delapan satuan batuan berdasarkan penamaan litostratigrafi tidak resmi yang dapat dilihat pada Gambar 3.7 yaitu, dari urutan tua ke muda satuan batugamping, satuan granit,

Berdasarkan hasil pemetaan lapangan dan analisis petrografi yang telah dilakukan, satuan batuan yang dapat di jumpai di daerah penelitian terbagi menjadi 4 satuan tersusun

Stratigrafi daerah penelitian berdasarkan ciri litologi dominan yang diamati di lapangan serta hasil analisis laboratorium dikelompokkan menjadi lima satuan batuan tidak resmi

Geologi Daerah Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah 19 erosi ini juga ditandai dengan beberapa tebing yang terdapat di sungai yang berada di satuan ini.. Dari

13 menjadi penyusun utama dari morfologi yang memiliki nilai elevasi dan kemiringan lereng relatif kecil pada daerah ini karena litologi lunak bersifat kurang stabil dan tidak

Satuan batupasir yang menempati bagian selatan dari daerah penelitian, (a) lokasi Rf 21-1, foto diambil menghadap ke Utara, (b) singkapan Rf 21-1 terlihat memiliki perlapisan,