Sasaran Kegiatan 1 (SK-1)
Tersusunnya Paket Rekomendasi Kebijakan yang terkait dengan Bidang Pasar Modal dan Lembaga Keuangan
Pagu Anggaran : Rp 1.000.000.000,00
Realisasi Anggaran TW IV : Rp 997.716.010,00 Persentase Realisasi Anggaran TW IV : 99,77%
Nilai Kinerja Sasaran (NKS) TW IV : 100%
Sesuai dengan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 5 tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Asisten Deputi Pasar Modal dan Lembaga Keuangan mempunyai tugas menyiapkan koordinasi dan sinkronisasi perumusan, penetapan, pelaksanaan kebijakan, dan pengendalian pelaksanaan kebijakan Kementerian/Lembaga yang terkait dengan isu di bidang keuangan serta menyiapkan koordinasi dan sinkronisasi perumusan kebijakan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan di bidang pembangunan penguatan keuangan berbasis nasional.
Dalam pelaksanaan tugasnya, Asisten Deputi Pasar Modal dan Lembaga Keuangan menyelenggarakan fungsi:
a. Koordinasi dan sinkronisasi perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan serta pengendalian pelaksanaan kebijakan Kementerian/Lembaga yang terkait dengan isu di bidangk euangan;
b. Koordinasi dan sinkronisasi perumusan kebijakan di bidang pembangunan penguatan keuangan berbasis nasional;
c. Pengendalian pelaksanaan kebijakan di bidang pembangunan penguatan keuangan berbasis nasional;
d. Penyiapan koordinasi dan sinkronisasi perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan Kementerian/ Lembaga yang terkait dengan isu di bidang pasar modal, Lembaga keuangan bukan bank dan perbankan; dan
e. pemantauan, analisis, evaluasi dan pelaporan tentang masalah dan kegiatan di bidang pasar modal, Lembaga keuangan bukan bank dan perbankan
Stabilisasi harga pangan dapat dimonitor melalui koefisien variasi (KV) harga pangan.
Tersusunnya 1 Paket Rekomendasi Kebijakan yang terkait dengan Bidang Pasar Modal dan Lembaga Keuangan yang terdiri dari:
1. Koordinasi terkait Kebijakan Keuangan Syariah 2. Koordinasi terkait Kebijakan Lembaga Keuangan
IKU 1 : Jumlah Paket Rekomendasi Kebijakan yang terkait dengan Bidang Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Latar Belakang
Target Kinerja
NARASI CAPAIAN KINERJA
Pengukuran capaian IKU Paket Rekomendasi Kebijakan yang terkait dengan Bidang Pasar Modal dan Lembaga Keuangan pada Triwulan IV telah mencapai target yang ditetapkan. Sebanyak 1 (satu) paket rekomendasi kebijakan Kebijakan yang terkait dengan Bidang Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, telah dihasilkan dan ditindaklanjuti oleh Kementerian/Lembaga teknis, diantaranya berupa rekomendasi kebijakan sebagai berikut:
1) Penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah Tentang Perusahaan Asuransi Berbentuk Usaha Bersama.
Latar belakang disusunnya Rancangan Peraturan pemerintah (RPP) tentang Perusahaan Perasuransian Berbentuk Usaha Bersama yaitu melaksanakan amanat pasal 6 ayat (3) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian dimana ketentuan lebih lanjut mengenai badan hukum usaha bersama akan diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Kementerian Keuangan telah membentuk Panitia Antar Kementerian dan/atau Antar non Kementerian (PAK) sesuai Keputusan Menteri Keuangan Nomor 568/KMK.010/2018 tangggal 21 Agustus 2018, dimana Asisten Deputi Pasar Modal dan Lembaga Keuangan sebagai anggota. RPP tentang Perusahaan Perasuransian Berbentuk Usaha Bersama telah selesai harmonisasi di Kementerian Hukum dan HAM dan sedang proses permintaan paraf kepada Menteri dan pimpinan lembaga terkait. Melalui surat Menteri Keuangan Nomor S- 743/MK.01/2019 tanggal 14 Oktober 2019 Rancangan Peraturan Pemerintah ini telah diajukan kepada Presiden untuk dapat ditetapkan.
2) Edukasi dan Sosialisasi Pasar Modal
Indeks inklusi keuangan Indonesia pada survey OJK tahun 2016 adalah 67,8% dengan indeks tertinggi di sektor perbankan sebesar 53,6% dan terendah pada sektor pasar modal sebesar 1,3%. Berdasarkan perkembangan indeks literasi dan inklusi tersebut maka Keasdepan Pasar Modal dan Lembaga Keuangan bersinergi dengan stakeholder terkait untuk memperoleh pemahaman dan informasi mendalam mengenai perkembangan pasar modal umum dan pasar modal syariah. Selain itu, guna mendorong literasi di bidang pasar modal maka Keasdepan Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, Kemenko Perekonomian akan berkolaborasi dengan stakeholder terkait di bidang pasar modal untuk merencanakan sosialisasi di beberapa lokasi daerah. Asdep pasar Modal dan Lembaga Keuangan bekerjasama dengan Danareksa dan Bank Rakyat Indonesia serta Pemerintah Kota Surakarta pada tanggal 21 November 2019 telah melaksanakan Sosialisasi Pasar Modal Goes to Office kepada para ASN di lingkungan pemerintahan Kota Surakarta
3) Implementasi Keuangan Inklusif Berbasiskan Syariah
Berdasarkan survei OJK Tahun 2016, tingkat inklusi keuangan syariah di Indonesia baru mencapai 11,06% dan tingkat literasi keuangan syariah mencapai 8,11%. Kegiatan Penyaluran KUR Syariah dan Implementasi Keuangan Inklusif Berbasiskan Syariah Capaian Kinerja
sebagaimana telah dijelaskan dalam Nota Dinas Nomor SNKI/456/D.I.M.EKON.4/10/2019 Tanggal 2 Oktober 2019 dan Nota Dinas Nomor SNKI/635/D.I.M.EKON.4/12/2019 Tanggal 6 Desember 2019 memiliki 2 tujuan, yaitu meningkatkan inklusi keuangan syariah dan melakukan pemberdayaan ekonomi pesantren. Dalam Nota Dinas dimaksud disepakati bahwa akan diselenggarakan 5 kegiatan utama dalam pilotimg tersebut, yaitu edukasi dan literasi keuangan syariah, penyaluran KUR Syariah dan pembiayaan syariah lainnya, pembuatan rekening syariah, program tabungan emas, dan pelatihan dan pemberdayaan UMK di sekitar pondok pesantren terkait halal value chain yang sasarannya meliputi santri, wali santri, pengurus/guru, serta alumni pondok pesantren, masyarakat di sekitar pondok pesantren, dan pelaku usaha di sekitar pondok pesantren. Pada pelaksanaan acara tanggal 17 Desember 2019 di Aula Ma’had Al-Ghadier, Pondok Pesantren KHAS Kempek, Kabupaten Cirebon, kegiatan dilaksanakan bersamaan dengan Launching Pengembangan Ekonomi Syariah dan Pemberdayaan Ekonomi Pesantren kepada 3.300 pesantren di seluruh Indonesia.
Kegiatan Utama dalam pilot project tersebut dilaksanakan sejak Bulan September Tahun 2019 sampai dengan Tahun 2020.
4) Sosialisasi untuk menjadi Penyalur KUR Syariah
Jumlah penyalur KUR sampai dengan 30 November 2019 sebanyak 49 penyalur KUR dan 2 diantaranya merupakan penyalur KUR Syariah yaitu BRI Syariah dan Bank NTB Syariah.
Sosialisasi Penyaluran KUR Syariah sebagaimana dilaporkan dalam Nota Dinas Nomor KUR/554/D.I.M.EKON.4/11/2019 Tanggal 1 November 2019 bertujuan untuk melakukan update perkembangan untuk menjadi penyalur KUR Syariah yang saat ini telah terdapat 1 Bank Umum Syariah (BUS), yaitu BNI Syariah dan 6 Unit Usaha Syariah (UUS) yang terdiri dari UUS BPD Riau Kepri, BPD Jateng, BPD Kalimantan Selatan, BPD Sumsel Babel, dan BPD Nagari yang sedang melakukan proses untuk menjadi Penyalur KUR Syariah. Semua calon penyalur KUR tersebut harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan yaitu mengajukan permohonan rekomendasi sehat dan berkinerja baik kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) regional setempat, melakukan Perjanjian Kerja Sama dengan Penjamin Syariah, mendapat rekomendasi online system SIKP Kementerian Keuangan, dan Perjanjian Kerja Sama Pembiayaan dengan Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM).
1. Koordinasi terkait Kebijakan Keuangan Syariah
Implementasi Keuangan Inklusif Berbasiskan Syariah
Berdasarkan survei OJK Tahun 2016, tingkat inklusi keuangan syariah di Indonesia baru mencapai 11,06% dan tingkat literasi keuangan syariah mencapai 8,11%. Kegiatan Penyaluran KUR Syariah dan Implementasi Keuangan Inklusif Berbasiskan Syariah sebagaimana telah dijelaskan dalam Nota Dinas Nomor SNKI/456/D.I.M.EKON.4/10/2019 Tanggal 2 Oktober 2019 dan Nota Dinas Nomor SNKI/635/D.I.M.EKON.4/12/2019 Tanggal 6 Key Monitoring Indicators (KMI)
Desember 2019 memiliki 2 tujuan, yaitu meningkatkan inklusi keuangan syariah dan melakukan pemberdayaan ekonomi pesantren. Dalam Nota Dinas dimaksud disepakati bahwa akan diselenggarakan 5 kegiatan utama dalam pilotimg tersebut, yaitu edukasi dan literasi keuangan syariah, penyaluran KUR Syariah dan pembiayaan syariah lainnya, pembuatan rekening syariah, program tabungan emas, dan pelatihan dan pemberdayaan UMK di sekitar pondok pesantren terkait halal value chain yang sasarannya meliputi santri, wali santri, pengurus/guru, serta alumni pondok pesantren, masyarakat di sekitar pondok pesantren, dan pelaku usaha di sekitar pondok pesantren. Pada pelaksanaan acara tanggal 17 Desember 2019 di Aula Ma’had Al-Ghadier, Pondok Pesantren KHAS Kempek, Kabupaten Cirebon, kegiatan dilaksanakan bersamaan dengan Launching Pengembangan Ekonomi Syariah dan Pemberdayaan Ekonomi Pesantren kepada 3.300 pesantren di seluruh Indonesia.
Kegiatan Utama dalam pilot project tersebut dilaksanakan sejak Bulan September Tahun 2019 sampai dengan Tahun 2020.
Sosialisasi untuk menjadi Penyalur KUR Syariah
Jumlah penyalur KUR sampai dengan 30 November 2019 sebanyak 49 penyalur KUR dan 2 diantaranya merupakan penyalur KUR Syariah yaitu BRI Syariah dan Bank NTB Syariah.
Sosialisasi Penyaluran KUR Syariah sebagaimana dilaporkan dalam Nota Dinas Nomor KUR/554/D.I.M.EKON.4/11/2019 Tanggal 1 November 2019 bertujuan untuk melakukan update perkembangan untuk menjadi penyalur KUR Syariah yang saat ini telah terdapat 1 Bank Umum Syariah (BUS), yaitu BNI Syariah dan 6 Unit Usaha Syariah (UUS) yang terdiri dari UUS BPD Riau Kepri, BPD Jateng, BPD Kalimantan Selatan, BPD Sumsel Babel, dan BPD Nagari yang sedang melakukan proses untuk menjadi Penyalur KUR Syariah. Semua calon penyalur KUR tersebut harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan yaitu mengajukan permohonan rekomendasi sehat dan berkinerja baik kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) regional setempat, melakukan Perjanjian Kerja Sama dengan Penjamin Syariah, mendapat rekomendasi online system SIKP Kementerian Keuangan, dan Perjanjian Kerja Sama Pembiayaan dengan Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM).
2. Koordinasi terkait Kebijakan Lembaga Keuangan
Penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah Tentang Perusahaan Asuransi Berbentuk Usaha Bersama.
Latar belakang disusunnya Rancangan Peraturan pemerintah (RPP) tentang Perusahaan Perasuransian Berbentuk Usaha Bersama yaitu melaksanakan amanat pasal 6 ayat (3) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian dimana ketentuan lebih lanjut mengenai badan hukum usaha bersama akan diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Kementerian Keuangan telah membentuk Panitia Antar Kementerian dan/atau Antar non Kementerian (PAK) sesuai Keputusan Menteri Keuangan Nomor 568/KMK.010/2018 tangggal 21 Agustus 2018, dimana Asisten Deputi Pasar Modal dan Lembaga Keuangan sebagai anggota. RPP tentang Perusahaan Perasuransian Berbentuk Usaha Bersama telah selesai harmonisasi di Kementerian Hukum dan HAMdan sedang proses permintaan paraf kepada Menteri dan pimpinan lembaga terkait. Melalui surat Menteri Keuangan Nomor S-
743/MK.01/2019 tanggal 14 Oktober 2019 Rancangan Peraturan Pemerintah ini telah diajukan kepada Presiden untuk dapat ditetapkan
Edukasi dan Sosialisasi Pasar Modal
Indeks inklusi keuangan Indonesia pada survey OJK tahun 2016 adalah 67,8% dengan indeks tertinggi di sektor perbankan sebesar 53,6% dan terendah pada sektor pasar modal sebesar 1,3%. Berdasarkan perkembangan indeks literasi dan inklusi tersebut maka Keasdepan Pasar Modal dan Lembaga Keuangan bersinergi dengan stakeholder terkait untuk memperoleh pemahaman dan informasi mendalam mengenai perkembangan pasar modal umum dan pasar modal syariah. Selain itu, guna mendorong literasi di bidang pasar modal maka Keasdepan Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, Kemenko Perekonomian akan berkolaborasi dengan stakeholder terkait di bidang pasar modal untuk merencanakan sosialisasi di beberapa lokasi daerah. Asdep pasar Modal dan Lembaga Keuangan bekerjasama dengan Danareksa dan Bank Rakyat Indonesia serta Pemerintah Kota Surakarta pada tanggal 21 November 2019 telah melaksanakan Sosialisasi Pasar Modal Goes to Office kepada para ASN di lingkungan pemerintahan Kota Surakarta
1. Koordinasi dengan stakeholder terkait permintaan paraf kepada menteri dan pimpinan lembaga terkait Rancangan Peraturan Pemerintah
2. Persiapan kegiatan edukasi dan sosialisasi dengan Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia.
3. Koordinasi dengan Lembaga Keuangan Syariah Monitoring dan Evaluasi Kinerja