25
EVALUASI TEBAL PERKERASAN LANDAS PACU BANDAR UDARA INTERNANSIONAL BANYUWANGI
EVALUATION THICKNESS PAVEMENT OFF RUNWAY BANYUWANGI INTERNATIONAL AIRPORT
Muhammad Farhan
1, Luky Surachman
2. Jurusan Teknik Sipil, Universitas Trisakti, Jakarta
*e-mail: [email protected]
ABSTRAK
Banyuwangi sebagai salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Timur dan terletak di ujung paling timur pulau Jawa. Bandar Udara Internasional Banyuwangi memiliki tahapan pengembangan di bagian landas pacu. Penerbangan komersil yang ditangani oleh PT. Angkasa Pura II (persero) membuka Banyuwangi terhadap dunia internasional. Hal ini mengakibatkan adanya penambahan armada pesawat udara dari berbagai maskapai serta pergantian tipe pesawat udara beserta kapasitasnya. Pesawat udara kritis yang dilayani Bandara International Banyuwangi adalah pesawat udara Airbus 320-200 yang memiliki konfigurasi roda dual tandem. Dari hasil Analisa didapatkan kesimpulan tebal lapisan perkerasan landas pacu yang diperoleh secara teoritis, memiliki hasil yang lebih kecil dibandingkan dengan tebal perkerasan secara eksisting. Hal ini membuktikan bahwa Bandar Udara Internasional Banyuwangi masih dapat melayani pesawat udara kritis yaitu Airbus A320-200.
Kata Kunci : Landas Pacu, Bandar Udara Internasional Banyuwangi, ACN-PCN,Pesawat Udara Kritis
ABSTRACT
Banyuwangi as one district in the province of east java and is at the end of most eastern java The international airport banyuwangi having my airstrip at the development stage .Commercial aviation handled by PT. Angkasa Pura II ( persero ) banyuwangi open to the international community .This has resulted in the aircraft from various adding the airline and the aircraft and its type .Aircraft critical international airport is served banyuwangi aircraft airbus A320-200 configuration that has a dual tandem .Of the results of the analysis or conclusions thick layer of pavement of my airstrip obtained theoretically , having results less than with thick pavement in existing .This proved that the international airport banyuwangi can still serve the critical aircraft Airbus A320-200.
Keyword: Runway, Banyuwangi International Airport, ACN-PCN, Critical Aircraft
A.PENDAHULUAN A.1 Latar Belakang
Sebelumnya Bandar Udara Internasional Banyuwangi bernama Bandar Udara Blimbingsari. Yang pertama kali digunakan oleh Bali Internasional Flight Academy (BIFA) untuk keperluan pelatihan lepas landas dan mendarat bagi para calon pilot. Pada tanggal 29 Desember 2010 Bandar Udara Blimbingsari
mulai dibuka untuk penerbangan komersial pada tahun 2011.Kemudians setelah dilaksanakan uji kelayakan terbang menggunakan pesawat udara C208 Grand Caravan pada bandara tersebut. Dan pada tahun 2017 Bandar Udara Blimbingsari berubah nama menjadi Bandar Udara Internasional Banyuwangi.(PT Angkasa Pura II, 2019).
26
Maka sejalan dengan kondisi tersebut landas pacu sangat harus diperhatikan terutama tebal perkerasan landas pacu. karena tebal perkerasan merupakan salah satu komponen pada landas pacu yang harus dievaluasi agar dapat melayani pergerakan pesawat udara sehingga tidak menyebabkan kerusakan yang mengakibatkan terganggunya aktivitas dari Bandar Udara itu sendiri.(PT Angkasa Pura II, 2019)
A.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah berdasarkan latar belakang dari penilitian ini adalah: (a) Apakah tebal perkerasan landas pacu eksisting Bandar Udara Internasional Banyuwangi dapat mendukung beban pesawat udara kritis yang akan mendarat (b) Bagaimana perbandingan tebal perkerasan landas pacu eksisting terhadap tebal perkerasan landas pacu teoritis yang akan diteliti pada penelitan ini terhadap beban pesawat udara kritis
A.3 Tujuan Penilitian
Tujuan penelitian dari penilitian ini adalah (a) Mengevaluasi daya dukung landas pacu Bandar Udara Internasional Banyuwangi apakah dapat melayani pergerakan pesawat udara (b) Mengevaluasi tebal perkerasan landas pacu Bandar Udara International Banyuwangi apakah dapat mendukung pngoperasian pesawat udara kritis yang akan mendarat (c) Untuk mengetahui perbandingan tebal perkerasan landas pacu eksisting terhadap tebal perekerasan landas pacu teoritis terhadap beban pesawat udara kritis.
A.4 Manfaat Penelitian
Dengan dilakukan penulisan tugas akhir ini diharapkan akan diperoleh beberapa manfaat (a) Memberikan informasi mengenai tebal perkerasan landas pacu Bandar Udara Internasional Banyuwangi terhadap pesawat udara kritis yang beroperasi bagi UPBU Banyuwangi (b) Sebagai perbandingan antara tebal perkerasan landas pacu teoritis dan tebal perkerasan landas pacu eksisting.
B. STUDI PUSTAKA
B.1 Konfigurasi Landas Pacu
Konfigurasi landas pacu merupakan bentuk atau tipe dari suatu landas pacu yang bergantung dari kebutuhan suatu bandar udara, kemungkinan arah angin yang doninan bertiup selama setaun, luas area yang ada. Berikut adalah beberapa konfigurasi landas pacu (a) Landas Pacu Tunggal (b) landas Pacu Sejajar
(Parallel) (c) Landas Pacu Bersilangan (d) Landas Pacu V terbuka (e) Landas Pacu Kombinasi.
B.2 Pengertian Perkerasan
Perkerasan ialah struktur yang terdiri dari lapisan dengan kekerasan dan daya dukung yang berbeda-beda supaya beban tersebut dapat dilanjutkan ke arah horizontal maupun kearah vertical dan kemudian ditahan oleh daya dukung tanah dibawahnya. Berikut ini jenis perkerasan yang umum digunakan sebagai landas pacu (a) Perkerasan Lentur (Flexible Pavement) (b) Perkerasan Kaku (Rigid Pavement)
B.3 Faktor-Faktor Yang Menentukan Tebal Perkerasan Landas Pacu
B.3.1 Tanah dasar
Tanah dasar (subgrade) merupakan lapisan yang terdapat di bawah susunan lapisan perkerasan di mana tanah dasar berfungsi untuk menahan beban yang disalurkan oleh lapisan perkerasan yang ada di atasnya. Suatu perkerasan landas pacu diletakkan di atas tanah dasar sehingga tanah dasar sangat berpengaruh dalam proses perencanaan landas pacu.
B.3.2 Lintasan Tahunan (Ekuivalen annual departure)
Data Lintasan tahunan sangat diperlukan untuk melakukan evaluasi tebal perkerasan landas pacu
B.3.3 Beban Pada Roda Pendaratan Beban pada roda pendaratan tergantung pada tipe roda pendaratan.
Ada beberapa tipe konfigurasi roda pendaratan diantaranya single wheel, tandem, dual wheel, dual tandem, dan double dual tandem.
B.3.4 Beban Pesawat Udara yang Beroperasi
Beban pesawat udara juga mempengaruhi tebal perkerasan, jenis beban pesawat udara yang berhubungan dengan pengoperasian pesawat udara yaitu (a) Berat Kosong Operasi (Operating Empty Weight) (b) Muatan (Payload) (c) Berat Bahan Bakar Kosong (Zero Fuel Weight) (d) Berat Ramp Maksimum (Maximum Ramp Weight) (e) Berat Maksimum Lepas Landas (Maximum Take Off Weight) (f) Beban Maksimum Pendaratan (Maximum Landing Weight) (g) Kapasitas Maksimum Tempat Duduk (Maximum
27
Seating Capacity) (h) Volume Maksimum Muatan Barang (Maximum Cargo Volume) (i) Bahan Bakar yang gunakan (Usable Fuel).
B.4 Metode Perhitungan ACN-PCN
Metode Perhitungan ACN (Aircraft Classification Number) – PCN (Pavement Classification Number) adalah metode yang digunakan untuk menunjukkan efektifitas dari suatu pesawat udara terhadap struktur perkerasan landas pacu. Nilai ACN untuk setiap jenis pesawat udara umumnya telah dipublikasikan oleh pabrik pembuatnya. PCN (Pavement Classification Number) atau dikenal sebagai klasifikasi nomor perkerasan merupakan suatu angka yang mencerminkan kapasitas relatif pada perkerasan dalam mendukung suatu beban dari pesawat udara yang beroperasi pada landas pacu.
Nilai ACN yang dimiliki pada pesawat udara tidak boleh lebih dari nilai PCN pada suatu perkerasan landas pacu ketika akan mendarat. Apabila nilai ACN lebih besar dari nilai PCN maka struktur perkerasan landas pacu bisa mengalami kerusakan yang diakibatkan ke tidak mampuan untuk menahan beban pesawat udara.
C. METODE
C.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
Pada penelitian Tugas Akhir ini Bandar Udara yang dijadikan studi kasus merupakan Bandar udara International Banyuwangi yang berlokasi pada desa Blimbingsari kecamatan Blimbingsari, Kabupaten Bayuwangi Provinsi Jawa Timur.
Gambar 1 Detail lokasi Bandara Dari Kota Banyuwangi
C.2 Data Teknis
Data – data teknis yang diperoleh dari PT Angkasa Pura II adalah sebagai berikut (a) Jenis perekerasan landas pacu adalah perekrasan lentur (flexible Pavement) (b) Data setiaptebal lapisan struktur landas pacu eksisting yaitu
lapisan surface 45 cm, lapisan base course 20, lapisan subbase 40 (c) CBR tanah dasar sebesar 6%.
C.3 Data operasional
Data operasional yang didapatkan dari PT angkasa Pura II adalah (a) data lalu lintas udara pada tahun 2013 – 2018
Gambar 2 Grafik Pergerakan pesawat udara pertahun
(c) Data lalu lintas udara pada tahun 2018 dikarenakan tahun 2018 memiliki nilai pergerakan pesawat udara paling tinggi
Tabel 1 Tabel Lalu Lintas Pesawat Udara Tahun 2018
Annual Departure
Jenis Pesawat udara Jumlah
Airbus 320-200 140
ATR 72 600 1136
ATR 72 500 236
BOEING 737 500 1041
BOMBARDIER CRJ 1000 (ER) 707
CESSNA 172 3195
PIPER SIMONEL PA-44 142
EMBRAER 500 8
EMBRAER ERJ 135BJ 8
EMBRAER LEGACY 600 2
C208 2
GLEX 2
HAWKER 900XP 8
HAWKER 25B 2
BAE 146-100 2
BEECH SUPER KING AIR 350 2
GULFSTREAM 2
TOTAL 6635
(d) Pesawat udara kritis ialah pesawat udara yang memiliki nilai cenderung merusak landas pacu karena konfigurasi dari roda pesawat udara atau dari beban pesawat udara tersebut.
Pesawat udara kritis yang dilayani Bandara International Banyuwangi adalah pesawat udara Airbus 320-200 yang memiliki konfigurasi roda dual tandem.
16 Km dari kota
28
D.HASIL STUDI
D.1Menghitung Tebal Perkerasan Landas Pacu
Dari data jumlah lalu lintas pesawat udara yang diperoleh, lalu data tersebut digunakan untuk menghitung tebar perkerasan landas pacu.
Tahap – tahap dalam menentukan landas pacu sebagai berikut: (a) Analisa lalu lintas menntukan pesawat udara rencana dipilih sesuaidengan jenis pesawat terbanyak yang beroperasi di Bandar udara Internasional banyuwangi yaitu ATR 72 600(b) Menentukan beban pesawat udara (W2) dan mendapatkan nilai W2 pesawat udara yang paling besar dimiliki serta nilai W1.
Tabel 2. Tabel nilai W2 dan W1
(c) Menentukan (equivalen annual departure) selanjutnya semua jenis pesawat yang dilayani oleh Bandar Udara Internasioanl Banyuwangi akan di konversikan ke dalam Airbus A320-200 (Dual Wheel) menggunakan table konversi, kemudian barulanh didapatkan nilai R2 dari setiap pesawat yang beroperasi. Selanjutnya nilai R2, W2,dan W1 yang sudah didapatkan akan dihitung log R1 dan R1 menggunakan rumus :
Tabel 3. Equivalen Annual Departu
Pada table 3 ini dijelaskan bahwa hasil perhitungan equivalen annual departure sebesar 803.14. kemudian nilai MTOW pada pesawat Airbus A320-200, nilai equivalen annual departure, dan CBR 6% di gunakan kedalam grafik nomograf flexible pavement cuves-Dual wheel Gear.
Gambar 3. Flexible Pavement Design Curves – Dual Wheel Gear
Didapatkan hasil total tebal perkerasan sebesar 31 in atau 78.74 cm.
D.2 Menghitung Tebal Minimum Base course
Dalam menghitung tebal minimum pada base course nilai MTOW dari pesawat udara Airbus A320-200, nilai dari equivalent annual departure, serta nilai CBR tanah dasar 25% di masukan pada grafik nomograf flexible pavement curves-Dual Wheel Gear.
29 Gambar 4. Flexible Pavement Design Curves – Dual
Wheel Gear
Kemudian didapatkan hasil tebal lapisan sub base sebesar 11 in atau 27.94 cm lalu dihitung tebal minimum base course menggunakan grafik minimum base course thickness requirements. Dengan memasukan nilai tebal total perkerasan 11 in atau 27.94 cm serta nilai dari CBR 6%.
Gambar 5 Grafik minimum base course thickness requirements
Didapatkan tebal dari minimum base course sebesar 9.858 in atau 25.04 cm. Nilai tebal minimum lebih kecil dibandingkan dengan nilai sebelumny amakan di pakai nilai yang terbesar D.3 Menentukan Nilai PCN Landas Pacu
Hasil yang didapat dari hitungan sebelumnya, sebagai berikut : (a) Lapisan permukaan (Surface)= 10 cm (b) Lapisan Base Course= 27.94 cm (c) Lapisan Sub Base= 40.8 cm (d) Total tebal perkerasan efektif (te) = 78.74 cm.
Untuk Menentukan nilai PCN digunakan rumus(d-1) dengan hasil sebagai berikut :
E.KESIMPULAN
(a) Dari hasil perhitungan dan Analisa terhadap landas pacu Bandar Udara Internasional Banyuwangi menggunakan nomograf flexible pavement curve–dual wheel gear dengan pesawat udara kritis adalah Airbus A320-200 diperoleh terbal perkerasan sebagai berikut :
a. PCN : 46.327
b. CBR : 6%
c. Surface : 10 cm d. Base-Course : 27.94 cm e. Sub-Base : 40.8 cm f. Tebal Total : 78.74 cm
(b) Hasil perhitungan analisis sebelumnya kemudian dilakukan perbandingan dengan daya perkerasan lentur (flexible pavement) landas pacu eksisting Banda Udara Internasional Banyuwangi yang didapatkan dari PT Angkasa Pura II. Berikut hasil perbandingan eksisting dengan analisa :
Tabel 4 Tabel Evaluasi Tebal Perkerasan Landas Pacu
Perkerasan Eksisting
Hasil Analisa
PCN 56 46.327
ACN Airbus A320-200 27 27 Total Tebal Perkerasan
(cm)
105 78.74
Lapisan Surface (cm) 45 10 Lapisan Base Course
(cm)
20 27.94
Lapisan SubBase (cm) 40 40.8
Dari tabel perbandingan diatas tebal perkerasan landas pacu Bandar Udara Internasional Banyuwangi dapat disimpulkan bahwa tebal perkerasan eksisting lebih besar dibandingan kan dengan tebal pekerasan hasil Analisa (teoritis). Maka landas pacu eksisting Bandar Udara Internasional Banyuwangi masih dapat melayani pesawat udara kritis yaitu Airbus A320-200.
REFERENSI
Amiwarti, A., Purwanto, H., & Sulaiman, A.
(2020). Evaluasi Kekuatan Perkerasan Sisi Udara (Runway, Taxiway Dan Appron) Bandara Sultan Mahmud Badaruddin Ii Palembang Dengan Metode Perbandingan Acn-Pcn. Jurnal Deformasi, 5(1), 22.
https://doi.org/10.31851/deformasi.v5i1.4 232
Dirjen Perhubungan Udara. (2005). Peraturan Direktur jendral Perhubungan Udara Nomor SKEP/77/VI/2005. Jakarta:
Departemen Perhubungan Udara RI.
Kurniawan. (2018). Studi desain perencanaan perkerasan sisi udara bandar udara tunggul wulung cilacap. 1–10.
Neufret, E. (2002). Data Arsitek Jilid 2 (33rd ed.). Jakarta: Erlangga.
Pavement, T., Of, E., At, R., Barat, J., Airport, I., & District, I. N. (2019). Thickness Pavement Evaluation Of Runway At Jawa Barat International Airport In District Of.
(April), 349–354.