• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

49

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Sejarah Perbankan Syariah Di Indonesia

Pada zaman Rasullah SAW, dahulu belum terdapat adanya perbankan namun kegiatan ekonomi sudah dijalankan. Saat itu, Islam sudah mengajarkan mengenai prinsip-prinsip serta filosofi dasar yang berkaitan dengan kegiatan perdagangan maupun perekonomian. Seiring berjalan waktu kegiatan ekonomi tersebut, terus berkembang mengikuti perkembangan zaman sampai dengan mulai munculnya Perbankan Syariah. Saat ini, Perbankan Syariah sangatlah berkembang pesat, walaupun sedikit lebih maju perbankan konvensional. Akan tetapi, para ilmuan memperkirakan bahwa nantinya perkembangan perbankan syariah akan jauh lebih maju (pesat) daripada perbankan konvensional (Marimin dkk, 2015: 75-76).

Di Indonesia munculnya perbankan syariah bermula dari didirikannya Bank Muamalat pada tahun 1991, yang saat itu dipelopori oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), Pengusaha Muslim dan Pemerintah. Awalnya, ketertarikan masyarakat pada Bank Muamalat (Perbankan Syariah) sangatlah kurang diminati. Namun akibat adanya krisis moneter yang terjadi tahun 1998, perbankan syariah mulai dilirik karena Bank Muamalat mampu bertahan melewati krisis diatas kegagalan perbankan konvensional yang mengalami likuidasi. Hal tersebut menjadi acuan keberhasilan ekonomi Syariah. Dan sejak saat itu perbankan syariah mulai meningkat/ berkembang, dilihat dari banyak pertambahan perbankan syariah tahun ke tahun (Marimin dkk, 2015: 83).

Tidak hanya Bank Muamalat yang berdiri, kemudian setelah itu beberapa Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) mulai didirikan seperti BPRS Dana Mardhatillah, BPRS Amal Sejahtera, BPRS Hareukat

(2)

dan BPRS Amanah Rabaniah. Ketentuan pemerintahan mengenai dasar hukum perbankan syariah yang dikatakan bahwa kegiatan Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat yaitu memberikan pembiayaan untuk nasabah didasarkan pada prinsip bagi basil sesuai ketentuan yang telah ditetapkan. Ketentuan tersebut tertuang dalam Pasal 6 Huruf m dan Pasal 13 Huruf c Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992, yang kemudian diperkuat dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1992 mengenai Bank berdasarkan Prinsip Bagi Hasil. Untuk memperkuat regulasi mengenai Perbankan di Indonesia, pada tahun 1998 Undang- Undang Nomor 10 tahun 1998 (Utama, 2018: 192-193).

2. Sejarah/ Profil setiap BUS a. Bank Muamalat Indonesia

PT Bank Muamalat Indonesia Tbk atau biasa disebut Bank Muamalat Indonesia (BMI) merupakan bank syariah pertama di Indonesia yang kegiatan usahanya dijalankan berdasarkan prinsip syariah. Bank Muamalat Indonesia (BMI) didirikan atas gagasan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan Pengusaha Muslim yang mendapat dukungan Pemerintah Republik Indonesia. Bank Muamalat Indonesia (BMI) didirikan pada tanggal 1 November 1991 berdasarkan Akta No. 1, yang pada tanggal 21 Maret 1992 akta tersebut telah mendapatkan pengesahan menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. C2.2413.HT.01. Serta pada tanggal 30 Maret 1992 telah didaftarkan pada kantor Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Pada tanggal 1 mei 1992 Bank Muamalat Indonesia (BMI) mulai resmi beroperasi sebagai bank pertama di Indonesia yang menjalankan kegiatannya berdasarkan syariah. Seiring berjalannya waktu kemampuan BMI semakin diakui, selain itu BMI juga terus memperbanyak/ memperluas jaringan kantor cabang di seluruh Indonesia. Tidak hanya itu, BMI juga mendapatkan Izin membuka

(3)

kantor cabang di luar negeri yaitu di Kuala Lumpur Malaysia pada tahun 2009.

Kegiatan usaha yang dilakukan oleh Bank Muamalat Indonesia (BMI) menurut anggaran dasar perusahaan yang berdasarkan akta No. 22 tanggal 11 oktober 2018 yaitu menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan (giro wadiah, tabungan wadiah dan lainnya) maupun bentuk investasi (deposito mudharabah, tabungan mudharabah dan lainnya). Menyalurkan pembiayaan murabahah, istishna, salam, mudharabah, musyarakah, penyewaan barang bergerak atau tidak bergerak dan transaksi pinjam meminjam (qardh). Melakukan pemberian jasa pelayanan seperti wakalah, hawalah, kafalah dan rahn. Membeli, menjual dan/atau menjamin risiko sendiri surat berharga pihak ketiga. Menerima pembayran dari tagihan atas surat berharga dan berbagai macam kegiatan lainnya.

Terdapat berbagai macam produk yang ada pada Bank Muamalat Indonesia (BMI). Produk penghimpunan meliputi Tabungan iB Hijrah, Tabungan iB Hijrah Valas, Tabungan iB Hijrah Haji, Tabungan iB Hijrah Rencana, Tabungan iB Hijrah Prima, Tabungan iB Hijrah Bisnis, TabunganKu iB, Deposito iB Hijrah, Giro iB Hijrah Attijary, Giro iB Hijrah Ultima, Dana Pensiun Muamalat. Produk-produk pembiayaan yang disalurkan BMI meliputi KPR iB Muamalat, iB Muamalat Multiguna, iB Muamalat Koperasi Kaaryawan, iB Muamalat Pensiun, Pembiayaan Autoloan (Via Multifinance), iB Modal Kerja Reguler, iB Modal Kerja Proyek, iB Muamalat Usaha Mikro, iB Rekening Koran Muamalat dan sebagainya.

b. BRI Syariah

Berdirinya PT Bank BRI Syariah Tbk atau BRI Syariah tidak terlepas dari akusisi yang dilakukan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk pada tanggal 19 Desember 2007 terhadap Bank Jasa Arta. Tanggal 16 Oktober 2008 telah mendapatkan izin usaha dari

(4)

Bank Indonesia dan mulai resmi beroperasi sebagai PT Bank BRI Syariah yang kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah Islam yaitu pada tanggal 17 November 2008.

Unit Usaha Syariah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melebur ke dalam PT Bank BRI Syariah pada tanggal 19 Desember 2008. Proses pemisahan sebagian perusahaan (spin off) mulai berlaku efektif tanggal 1 Januari 2009, dengan ditandatangani oleh Sofyan Basir selaku Dirut PT Bank Rakyat Indonesia dan Ventje Rehardjo selaku Dirut PT Bank BRI Syariah.

Adapun kegiatan usaha yang dilaksanakan oleh Bank BRI Syariah berdasarkan anggaran dasar yang terdapat dalam akta No. 27 tanggal 17 Juli 2019 yaitu kegiatan usaha utama meliputi, menghimpun dana dalam bentuk simpanan (giro dan tabungan berdasarkan akad wadiah), menghimpun dana dalam bentuk investasi (deposito dan tabungan berdasarkan akad mudharabah), menyalurkan pembiayaan bagi hasil, menyalurkan pembiayaan jual beli, menyalurkan pembiayaan akad qardh, menyalurkan pembiayaan penyewaan barang, melakukan pemberian jasa pelayanan, membeli surat berharga dan kegiatan utama lainnya. Selain itu, terdapat pula kegiatan usaha penunjang yang mendukung kegiatan utama yaitu meliputi melakukan kegiatan valuta asing berdasarkan prinsip syariah, melakukan kegiatan penyertaan modal kepada BUS/

lembaga keuangan, melakukan kegiatan dalam pasar modal asalkan tidak bertentangan dengan prinsip syariah, bertindak sebagai pendiri pengurus dana pensiun dan kegiatan lainnya.

Produk dan layanan yang diberikan Bank BRI Syariah yaitu sebagai berikut, produk pendanaan meliputi Tabungan Faedah BRIsyariah iB, Tabungan Faedah Haji BRIsyariah iB, Tabungan Faedah Impian BRIsyariah iB, Tabungan BRIsyariah iB, Deposito, Giro Faedah BRIsyariah iB dan lainnya. Produk pembiayaan retail konsumen meliputi, Griya Faedah BRIsyariah iB, KPR Sejahtera

(5)

BRIsyariah iB, Gadai Faedah BRIsyariah iB, Multi Faedah BRIsyariah iB, Purna Faedah BRIsyariah iB dan lainnya. Produk pembiayaan retail kemitraan meliputi, Mitra Faedah BRIsyariah iB (Multifinance), Koperasi Karyawan, BMT, Ritel Faedah BRIsyariah iB, dan Pembiayaan Modal Kerja Revolving. Pada layanana perbankannya terdapat Mitra Faedah BRIsyariah iB Kerjasama institusi/ perusahaan.

c. Bukopin Syariah

Pada tanggal 29 Juli 1990 didirikan PT Bank Swansarindo Internasional di Samarinda Kal-Tim, yang merupakan awal cikal bakal dari PT Bank Syariah Bykopin. PT Bank Swansarindo mendapat izin usaha sebagai Bank Umum dan pemindahan kantor tanggal 1 Mei 1991 berdasarkan Surat Bank Indonesia nomor 24/1/UPBD/PBD2/Smr. Kemudian, Organisasi Muhammadiyah mengakusisi PT Bank Swansarindo Internasional pada tahun 2001- 2002 dan termasuk mengubah nama PT Bank Swansarindo Internasional menjadi PT Bank Persyarikatan Indonesia. Hal tersebut telah mendapat persetujuan dari Bank Indonesia tanggal 24 Januari 2003 dengan nomor 5/4/KEP.DGJ/2003 dan tanggal 31 Januari 2003 dimasukan dalam akta dengan nomor 109.

Awalnya kegiatan usaha PT Bank Persyarikatan Indonesia adalah konvensional. Kemudian pada tahun 2008 kegiatan usaha berubah menjadi bank syariah dan diikuti dengan perubahan nama PT Bank Persyarikatan Indonesia menjadi PT Bank Syariah Bukopin, dengan izin legalitas berdasarkan pada Keputusan Gubernur Bank Indonesia nomor 10/69/KEP.GBI/DpG/2008 tanggal 27 Oktober 2008. PT Bank Syariah Bukopin mulai efektif beroperasi tanggal 9 Desember 2008. Bank Indonesia menyetujui penggabungan Unit Usaha Syariah (UUS) PT Bank Bukopin Tbk ke dalam PT Bank Syariah Bukopin tanggal 30 Juni 2009 berdasarkan

(6)

Surat No. 11/842/DPbS. Dan sampai saat ini, jaringan kantor Bank Syariah Bukopin terus berkembang dan memperluas jangkauan.

Pada Bank Bukopin Syariah terdapat berbagai produk dan layanan yang disediakan sesuai perubahan anggaran dasar dengan akta No 28 tanggal 31 Maret 2008. Produk pendanaan meliputi, Tabungan iB Siaga, Tabungan iB Siaga Haji, Tabungan iB Siaga Rencana, Tabungan Simpel iB, Deposito iB, Giro iB dan lainnya.

Produk pembiayaan meliputi, Pembiayaan iB Jual Beli (murabahah), Pembiayaan iB Bagi Hasil (mudharabah dan musyarakah), Pembiayaan iB Investasi Terikat (mudharabah muqayyadah), Pembiayaan iB Kepemilikan Mobil (KPM), Pembiayaan iB KPR, Pembiayaan iB kepada Koperasi Karyawan/Pegawai dan lainnya.

Untuk produk jasa meliputi, RTGS (Real Time Gross System), Safe Deposit Box iB (SDB iB), Transfer, Kliring, Inkaso, Payment Point, Bank Garansi iB, Kartu ATM Bank Bukopin Syariah dan lainnya.

d. Mandiri Syariah

Awalnya PT Bank Syariah Mandiri didirikan tanggal 15 Juni 1955 dengan nama sebelumnya yaitu PT Bank Industri Nasional (BINA) atau PT National Industrial Banking. Kemudian PT BINA berubah nama menjadi PT Bank Maritim Indonesia berdasarkan akta perubahan anggaran dasar No 12 tanggal 6 April 1967 yang diganti dengan akta perubahan anggaran dasar No 37 tanggal 4 Oktober 1967. Sesuai dengan Akta Berita Acara Rapat No 146 tanggal 10 Agustus 1973 yang dibuat dihadapan Raden Soeratman, nama PT Maritim Indonesia diubah lagi menjadi Bank Susila Bakti.

Tidak hanya smapai disitu perubahan nama terus terjadi kembali. Seperti yang sesuai dengan Akta Pernyataan Keputusan Rapat No 29 tanggal 19 Mei 1999, nama PT Bank Susila Bakti diubah menjadi PT Bank Syariah Sakinah Mandiri. Kemudian nama berubah kembali dari PT Bank Syariah Sakinah Mandiri berubah menjadi PT Bank Syariah Mandiri yang seperti dikenal sekarang,

(7)

perubahan tersebut didasarkan pada Akta Pernyataan Keputusan Rapat No 7 tanggal 7 Juli 1999 yang diubah berturut-turut dengan Akta Berita Acara Rapat No. 6 tanggal 22 Juli 1999 dan Akta Berita Acara No 9 tanggal 23 Juli 1999, serta Akta Pernyataan Keputusan Rapat Perubahan Anggaran Dasar No 23 tanggal 8 September 1999.

Pada tanggal 25 Oktober 1999, PT Bank Syariah Mandiri mendapat izin usaha dari Bank Indonesia atau dapat dikatakan resmi didirikan sesuai surat keputusan Gubernur Bank Indonesia No.

1/24/KEP.GBI/1999 sebagai bank umum yang berdasarkan prinsip syariah dan mulai aktif beroperasi tanggal 1 november 1999.

Secara garis besar produk/ jasa yang diberikan PT Bank Syariah Mandiri ada 3 yaitu produk pendanaan, produk pembiayaan dan produk layanan. Produk pendanaan antara lain, Tabungan Mudharabah, Tabungan Berencana, Tabungan Mabrur, Tabungan Mabrur Junior, Rekening Tabungan Jemaah Haji (RTJH), BSM Giro, BSM Deposito, Mandiri Syariah Priority, Sukuk Negara Retai dan lain sebagainya. Berikutnya produk pembiayaan meliputi, BSM Pembiayaan (mudharabah, musyarakah,murabahah dan istishna), Pembiayaan dengan Skema IMBT (Iajarah Muntahiya Bittamlik), PKPA, BSM Implan, Pembiayaan Griya BSM dan lainnya. Terakhir produk layanan antara lain, Mandiri Syariah Card, Mandiri Syariah ATM, MAndiri Syariah Call 14040, Mandiri Syariah Net Banking, MBP (Multi Bank Payment), Layanan Zakat dan lainnya sebagainya.

e. BCA Syariah

PT Bank BCA Syariah didirikan pada tanggal 2 Maret 2010 dengan Keputusan Gebernur BI No. 12/13/KEP. GBI/DpG/2010 yang dikukuhkan oleh Gubernur Bank Indonesia. PT Bank BCA Syariah resmi beroperasi sebagai Bank Umum Syariah pada tanggal 5 April 2010. PT Bank BCA Syariah (BCAS) adalah hasil konversi pada tahun 2009 dari akusisi BCA terhadap PT Bank Utama

(8)

Internasional Bank (BUIB) yang kegiatannya sebagai bank konvesional.

Berbagai kegiatan usaha yang ada pada PT Bank BCA Syariah berdasarkan anggaran dasar, antara lain yaitu menghimpun dana dalam bentuk simpanan (giro, tabungan dan bentuk lainnya) berdasarkan akad wadiah, menghimpun dana dalam bentuk investasi (deposito, tabungan, dan bentuk lainnya) berdasarkan akad mudharabah, menyalurkan pembiayaan basil (berdasarkan akad mudharabah, musyarakah dan akad lain), menyalurkan pembiayaan jual beli (berdasarkan murabahah, salam, istishna dan akad lain), menyalurkan pembiayaan dengan qard, menyalurkan pembiayaan penyewaan barang bergerak atau tidak bergerak, membeli surat berharga berdasarkan prinsin syariah, menerima pembayaran atas tagihan surat berharga, menyediakan jasa serta layanan berdasarkan prinsip syariah dan kegiatan lainnya.

Adapun produk-produk, jasa dan layanan yang terdapat pada PT Bank BCA Syariah sebagai berikut: produk simpanan antara lain Tahapan iB, Tahapan Rencana iB, Tahapan Mabrur iB, Simpanan Pelajar (simpel) iB, Giro iB, Deposito iB, Rekening Dana Nasabah (RDN). Produk pembiayaan antara lain KPR iB, KKB iB, Emas iB, Pembiayaan Umrah iB, Pembiayaan UMKM, Pembiayaan Modal Kerja iB, Pembiayaan Investasi iB, Pembiayaan Rekening Koran Syariah iB, Pembiayaan Anjak Piutang iB dan Bank Garansi. Jasa dan layanan yang diberikan antara lain Layanan Penerimaan Setoran BPIH, Virtual Account, Kirim Uang (Retail dan RTGS), Kliring (Lokal dan Intercity clearing), Safe Deposit Box (SDB), Layanan Payroll (pembayaran gaji), Referensi Bank dan Inkaso. Serta ada juga perbankan elektronik yang disediakan BCA Syariah.

(9)

B. Pembahasan Hasil Penelitian

1. Data Input dan Output Efisiensi DEA

Perhitungan efisiensi pembiayaan mudharabah dalam penelitian ini menggunakan pendekatan/ metode Data Envelopment Analysis (DEA), dengan menggunakan data yang diolah adalah laporan keuangan tahunan BUS periode 2017-2019, yang diperoleh dari website resmi masing- masing BUS. DEA merupakan metode yang digunakan untuk mengukur atau menilai efisiensi mudharabah BUS di Indonesia dengan melibatkan banyak variabel input dan variabel output yang digabung dan dapat membandingkan antara satu BUS dengan BUS lainnya. Model efisiensi DEA yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Variabel Return to Scale (VRS) yang berorientasi pada input. Untuk perhitungan efisiensi DEA, penelitian ini menggunakan bantuan software DEAF version 2.1. Pada penelitian ini menggunakan 2 variabel input dan 2 variabel output.

Variabel input yang digunakan oleh penulis yaitu DPK mudharabah dan beban yang berkaitan mudharabah. Beban berkaitan mudharabah yang digolongkan tersebut oleh penulis meliputi beban cadangan kerugian penurunan nilai aset produktif, beban umum dan administrasi lainnya, beban fee colecction tabungan giro serta deposito mudharabah dan beban administrasi bank.

Tabel 4.1 Data variabel input (dalam jutaan rupiah)

No BUS 2017 2018 2019

1 Muamalat

a. DPK Mudharabah 42.337.074 39.605.429 33.353.456 b. Beban berktan Mudh 39.648 39.436 50.385

2 BRI Syariah

a. DPK Mudharabah 19.794.105 20.981.477 25.143.309 b. Beban berktan Mudh 13.412 3.138 6.443

3 Mandiri Syariah

a. DPK Mudharabah 66.267.487 75.008.760 83.166.495 b. Beban berktan Mudh 102.348 133.550 116.657

(10)

4 BCA Syariah

a. DPK Mudharabah 4.078.714 4.838.323 4.878.717

b. Beban berktan Mudh 509 4.862 292

5 Bukopin Syariah

a. DPK Mudharabah 4.724.337 3.837.122 4.454.175 b. Beban berktan Mudh 3.208 10.115 13.125

Sumber: Laporan Keuangan Tahunan BUS periode 2017-2019 Data diolah penulis

Variabel output yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari pembiayaan mudharabah dan pendapatan basil mudharabah.

Tabel 4.2 Data variabel output (dalam jutaan rupiah)

No BUS 2017 2018 2019

1 Muamalat

a. Pembiayaan

Mudharabah 703.554 431.872 748.497

b. Pend Basil Mudharabah 84.909 58.197 46.711

2 BRI Syariah

a. Pembiayaan

Mudharabah 840.974 475.300 407.246

b. Pend Basil Mudharabah 141.919 84.102 50.960

3 Mandiri Syariah

a. Pembiayaan

Mudharabah 3.360.363 3.226.605 1.706.416 b. Pend Basil Mudharabah 363.818 330.120 248.319

4 BCA Syariah

a. Pembiayaan

Mudharabah 223.322 236.056 485.784

b. Pend Basil Mudharabah 25.691 24.956 36.583

5 Bukopin Syariah

a. Pembiayaan

Mudharabah 172.790 104.227 88.088

b. Pend Basil Mudharabah 35.637 15.983 10.239

Sumber: Laporan Keuangan Tahunan BUS periode 2017-2019 Data diolah penulis

(11)

Setelah memperoleh data input dan output, kemudian dilakukan perhitungan efisiensi mudharabah dengan mengolah data tersebut menggunakan bantuan software DEAP version 2.1.

2. Efisiensi Implementasi Mudharabah pada BUS dengan metode DEA Berdasarkan perhitungan efisiensi DEA model VRS yang berorientasi pada input dengan persamaan rumus yang digunakan yaitu no 4. Ukuran untuk dapat dikatakan efisien yaitu apabila hasil perhitungan mendekati 1 maka dapat dikatakan efisien, sedangkan jika nilainya kurang mendekati 0 maka dapat dikatakan tidak efisien atau belum. Keterangan ukuran tersebut telah dijelaskan dalam kategori tingkat efisien yang teletak pada tabel 3.4 di bab 3. Berikut hasil tingkat efisiensi mudharabah pada BUS di indonesia, telihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4. 3 Hasil Perhitungan Efisiensi DEA Mudharabah

No BUS Tahun

Tingkat Efisiensi BUS/

Tahun

Efisiensi

BUS Ket BUS/ Tahun Ket BUS

1 Muamalat

2017 0,288

0,268

Tidak Efisien

Tidak Efisien

2018 0,200 Tidak Efisien

2019 0,314 Efisien Rendah

2 BRI

Syariah

2017 1,000

0,765

Efisien Maksimum

Cukup Efisien

2018 1,000 Efisien Maksimum

2019 0,296 Tidak Efisien

3 Mandiri Syariah

2017 1,000

0,784

Efisien Maksimum

Cukup Efisien

2018 0,845 Efisien

2019 0,506 Cukup Efisien

4 BCA

Syariah

2017 1,000

0,950

Efisien Maksimum

Efisien

2018 0,851 Efisien

2019 1,000 Efisien Maksimum

5 Bukopin 2017 1,000 0,954 Efisien Maksimum Efisien

(12)

Syariah 2018 1,000 Efisien Maksimum

2019 0,861 Efisien

Rata-rata Efisiensi 0,744 0,744 Cukup

Efisien

Data diolah penulis

Dari tabel 4.3 hasil perhitungan diatas menunjukkan bahwa nilai efisiensi implementasi mudharabah periode 2017-2019 pada BUS di Indonesia sebesar 0,744 yang berarti cukup efisien, maksudnya BUS di Indonesia masih belum optimal dalam pengelolaan sumber daya mudharabah yang dimilikinya. Dari periode 2017-2019 yang diteliti, ada 2 BUS yang nilai rata-rata efisiensi per 3 tahun dikategorikan efisien atau hampir mendekati efisien maksimum (1.000) yaitu BCA Syariah dan Bukopin Syariah. BCA Syariah nilai rata-rata efisiensi sebesar 0,950, dengan rata-rata efisiensi sebesar itu sudah terlihat jelas dikarenakan ada 2 efisiensi pertahun yang mencapai efisiensi maksimum yaitu tahun 2017 dan 2019. Serta ada 1 efisiensi pertahun yang efisien atau hampir mendekati efisiensi maksimum yaitu tahun 2018. Bukopin Syariah nilai rata-rata efisiensi sebesar 0,954, sama halnya dengan BCA Syariah besaran rata-rata efisiensi tersebut terlihat jelas dikarenakan ada 2 efisiensi pertahun yang mencapai efisiensi maksimum yaitu tahun 2017 dan 2018. Serta ada 1 efisiensi pertahun yang efisien atau hampir mendekati efisiensi maksimum yaitu tahun 2019.

Selain itu, ada 2 BUS yang nilai rata-rata efisiensi per 3 tahun dapat dikatakan cukup efisien yaitu BRI Syariah dan Mandiri Syariah. BRI Syariah nilai rata-rata efisiensi sebesar 0,765, dimana hal tersebut merupakan akibat dari adanya 2 efisiensi pertahun yang mencapai efisiensi maksimum yaitu tahun 2017 dan 2018. Namun, pada tahun 2019 efisiensi pertahunnya hanya sebesar 0,296 yang dikategorikan tidak efisien, sehingga efisiensi tahun 2019 ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap nilai efisiensi rata-rata per 3 tahun. Berikutnya Mandiri

(13)

Syariah nilai rata-rata efisiensi sebesar 0,784, hal tersebut jelas merupakan akibat adanya 3 efisiensi pertahun mempunyai nilai yang beragam diatas 0,500 yaitu efisiensi tahun 2017 mencapai kategori efisiensi maksimum, efisiensi tahun 2018 mencapai kategori efisien dan efisiensi tahun 2019 mencapai kategori cukup efisien.

Sementara itu, 1 BUS yang dikategorikan tidak efisien karena nilai rata-rata efisiensi per 3 tahunnya sebesar 0,268 yaitu Bank Muamalat.

Nilai tersebut tidak efisien disebabkan kontribusi efisiensi pertahunnya ada yang tergolong tidak efisien dan rendah. Dilihat dari efisiensi tahun 2017 sebesar 0,288 dikategorikan tidak efisien, begitu pula tahun 2018 dikategorikan tidak efisien dengan nilai 0,200 dan untuk tahun 2019 sebesar 0,314 yang termasuk dalam kategori rendah.

Berikut efisiensi masing-masing BUS/tahun dilihat dari variabel input dan output:

a. Bank Muamalat Indonesia (BMI) tahun 2017, dengan nilai efisiensi sebesar 0.288

Tabel 4.4 Efisiensi BMI tahun 2017 dilihat dari variabel input dan output

Variabel Original value Radial movement

slack moveme

nt

Projected/

Target value Pembiayaan

Mudharabah 703554.000 0.000 0.000 703554.000

Pendapatan Basil

Mudharabah 84909.000 0.000 0.000 84909.000

DPK

Mudharabah 42337074.000 -30149604.578 0.000 12187469.422 Beban

berkaitan

Mudharabah 39648.000 -28234.628

-

3205.059 8208.313

Data diolah penulis

(14)

Berdasarkan tabel diatas, dalam memperoleh nilai efisiensi maksimum yaitu harus mencapai target value, hal tersebut dapat dilakukan dengan penambahan output atau pengurangan input dari original value. Terlihat pembiayaan mudharabah original valuenya sebesar 703554.000 dan sudah mencapai target value. Begitu pula dengan pendapatan basil mudharabah juga sudah mencapai target value sebesar 84909.000. Namun, DPK mudharabah harus dikurangi (ditekan) sebesar 30149604.578 dari original value 42337074.000 menjadi 12187469.422. Beban berkaitan mudharabah juga harus dikurangi (ditekan) sebesar 31439.687 dari original value 39648.000 menjadi 8208.313.

b. Bank Muamalat Indonesia (BMI) tahun 2018, dengan nilai efisiensi sebesar 0.200

Tabel 4.5 Efisiensi BMI tahun 2018 dilihat dari variabel input dan output

Variabel Original value

Radial movement

slack movement

Projected/

Target value Pembiayaan

Mudharabah 431872.000 0.000 0.000 431872.000 Pendapatan

Basil

Mudharabah 58197.000 0.000 0.000 58197.000

DPK

Mudharabah 39605429.000 -31674569.131 0.000 7930859.869 Beban

berkaitan

Mudharabah 39436.000 -31539.068 -3671.169 4225.763

Data diolah penulis

Berdasarkan tabel diatas, dalam memperoleh nilai efisiensi maksimum yaitu harus mencapai target value, hal tersebut dapat dilakukan dengan penambahan output atau pengurangan input dari original value. Terlihat pembiayaan mudharabah original valuenya

(15)

sebesar 431872.000 dan sudah mencapai target value. Begitu pula dengan pendapatan basil mudharabah juga sudah mencapai target value sebesar 58197.000. Namun, DPK mudharabah harus dikurangi (ditekan) sebesar 31674569.131 dari original value 39605429.000 menjadi 7930859.869. Beban berkaitan mudharabah juga harus dikurangi (ditekan) sebesar 35210.237 dari original value 39436.000 menjadi 4225.763.

c. Bank Muamalat Indonesia (BMI) tahun 2019, dengan nilai efisiensi sebesar 0.314

Tabel 4.6 Efisiensi BMI tahun 2019 dilihat dari variabel input dan output

Variabel Original value

Radial movement

slack movement

Projected/

Target value Pembiayaan

Mudharabah 748497.000 0.000 0.000 748497.000 Pendapatan

Basil

Mudharabah 46711.000 0.000 19778.601 66489.601 DPK

Mudharabah 33353456.000 -22864307.722 0.000 10489148.278 Beban

berkaitan

Mudharabah 50385.000 -34539.693 -6226.223 9619.083

Data diolah penulis

Berdasarkan tabel diatas, dalam memperoleh nilai efisiensi maksimum yaitu harus mencapai target value, hal tersebut dapat dilakukan dengan penambahan output atau pengurangan input dari original value. Terlihat pembiayaan mudharabah original valuenya sebesar 748497.000 dan sudah mencapai target value. Namun, pendapatan basil mudharabah dari original value 46711.000 harus ditambah (ditingkatkan) sebesar 19778.601 sehingga mencapai target value sebesar 66489.601. DPK mudharabah harus dikurangi

(16)

(ditekan) sebesar 22864307.722 dari original value 33353456.000 menjadi 10489148.278. Beban berkaitan mudharabah juga harus dikurangi (ditekan) sebesar 40765.916 dari original value 50385.000 menjadi 9619.083.

d. Bank BRI Syariah tahun 2017, dengan nilai efisiensi sebesar 1.000 Tabel 4.7 Efisiensi BRIS tahun 2017 dilihat dari variabel input dan

output Variabel Original

value

Radial movement

slack movement

Projected/

Target value Pembiayaan

Mudharabah 840974.000 0.000 0.000 840974.000 Pendapatan

Basil

Mudharabah 141919.000 0.000 0.000 141919.000 DPK

Mudharabah 19794105.000 0.000 0.000 19794105.000 Beban

berkaitan

Mudharabah 13412.000 0.000 0.000 13412.000

Data diolah penulis

Berdasarkan tabel diatas, terlihat radial movement dan slack movement bernilai 0.000 yang berarti BRI Syariah tahun 2017 sudah mencapai efisiensi maksimum, sehingga tidak diperlukan adanya penambahan output atau pengurangan input.

(17)

e. Bank BRI Syariah tahun 2018, dengan nilai efisiensi sebesar 1.000 Tabel 4.8 Efisiensi BRIS tahun 2018 dilihat dari variabel input dan

output

Variabel Original value

Radial movement

slack movement

Projected/

Target value Pembiayaan

Mudharabah 475300.000 0.000 0.000 475300.000 Pendapatan

Basil

Mudharabah 84102.000 0.000 0.000 84102.000 DPK

Mudharabah 20981477.000 0.000 0.000 20981477.000 Beban

berkaitan

Mudharabah 3138.000 0.000 0.000 3138.000

Data diolah penulis

Berdasarkan tabel diatas, terlihat radial movement dan slack movement bernilai 0.000 yang berarti BRI Syariah tahun 2018 sudah mencapai efisiensi maksimum, sehingga tidak diperlukan adanya penambahan output atau pengurangan input.

f. Bank BRI Syariah tahun 2019, dengan nilai efisiensi sebesar 0.296 Tabel 4.9 Efisiensi BRIS tahun 2019 dilihat dari variabel input dan

output Variabel Original

value

Radial movement

slack movement

Projected/

Target value Pembiayaan

Mudharabah 407246.000 0.000 117323.262 524569.262 Pendapatan

Basil

Mudharabah 50960.000 0.000 0.000 50960.000

DPK

Mudharabah 25143309.000 -17696554.876 0.000 7446754.124 Beban

berkaitan

Mudharabah 6443.000 -4534.761 0.000 1908.239

Data diolah penulis

(18)

Berdasarkan tabel diatas, dalam memperoleh nilai efisiensi maksimum yaitu harus mencapai target value, hal tersebut dapat dilakukan dengan penambahan output atau pengurangan input dari original value. Terlihat pembiayaan mudharabah original valuenya sebesar 407246.000 harus ditambah (ditingkatkan) sebesar 117323.262 sehingga mencapai target value sebesar 524569.262.

Pendapatan basil mudharabah original valuenya 50960.000 dan sudah mencapai target value. DPK mudharabah harus dikurangi (ditekan) sebesar 17696554.876 dari original value 25143309.000 menjadi 7446754.124. Beban berkaitan mudharabah juga harus dikurangi (ditekan) sebesar 4534.761 dari original value 6443.000 menjadi 1908.239.

g. Bank Syariah Mandiri (BSM) tahun 2017, dengan nilai efisiensi sebesar 1.000

Tabel 4.10 Efisiensi BSM tahun 2017 dilihat dari variabel input dan output

Variabel Original value

Radial movement

slack movement

Projected/

Target value Pembiayaan

Mudharabah 3360363.000 0.000 0.000 3360363.000 Pendapatan

Basil

Mudharabah 363818.000 0.000 0.000 363818.000 DPK

Mudharabah 66267487.000 0.000 0.000 66267487.000 Beban

berkaitan

Mudharabah 102348.000 0.000 0.000 102348.000

Data diolah penulis

Berdasarkan tabel diatas, terlihat radial movement dan slack movement bernilai 0.000 yang berarti Bank Syariah Mandiri tahun

(19)

2017 sudah mencapai efisiensi maksimum, sehingga tidak diperlukan adanya penambahan output atau pengurangan input.

h. Bank Syariah Mandiri (BSM) tahun 2018, dengan nilai efisiensi sebesar 0.845

Tabel 4.11 Efisiensi BSM tahun 2018 dilihat dari variabel input dan output

Variabel Original value

Radial movement

slack movement

Projected/

Target value Pembiayaan

Mudharabah 3226605.000 0.000 0.000 3226605.000 Pendapatan

Basil

Mudharabah 330120.000 0.000 18471.318 348591.318 DPK

Mudharabah 75008760.000 -11597774.456 0.000 63410985.544 Beban

berkaitan

Mudharabah 133550.000 -20649.359 -15301.443 97599.198

Data diolah penulis

Berdasarkan tabel diatas, dalam memperoleh nilai efisiensi maksimum yaitu harus mencapai target value, hal tersebut dapat dilakukan dengan penambahan output atau pengurangan input dari original value. Terlihat pembiayaan mudharabah original valuenya sebesar 3226605.000 dan sudah mencapai target value. Namun, pendapatan basil mudharabah dari original value 330120.000 harus ditambah (ditingkatkan) sebesar 18471.318 sehingga mencapai target value sebesar 348591.318. DPK mudharabah harus dikurangi (ditekan) sebesar 11597774.456 dari original value 75008760.000 menjadi 63410985.544. Beban berkaitan mudharabah juga harus dikurangi (ditekan) sebesar 35950.802 dari original value 133550.000 menjadi 97599.198.

(20)

i. Bank Syariah Mandiri (BSM) tahun 2019, dengan nilai efisiensi sebesar 0.506

Tabel 4.12 Efisiensi BSM tahun 2019 dilihat dari variabel input dan output

Variabel Original value

Radial movement

slack movement

Projected/

Target value Pembiayaan

Mudharabah 1706416.000 0.000 342598.548 2049014.548 Pendapatan

Basil

Mudharabah 248319.000 0.000 0.000 248319.000

DPK

Mudharabah 83166495.000 -41088522.814 0.000 42077972.186 Beban

berkaitan

Mudharabah 116657.000 -57634.554 -2965.863 56056.583

Data diolah penulis

Berdasarkan tabel diatas, dalam memperoleh nilai efisiensi maksimum yaitu harus mencapai target value, hal tersebut dapat dilakukan dengan penambahan output atau pengurangan input dari original value. Terlihat pembiayaan mudharabah original valuenya sebesar 1706416.000 harus ditambah (ditingkatkan) sebesar 342598.548 sehingga mencapai target value sebesar 2049014.548.

Pendapatan basil mudharabah original valuenya 248319.000 dan sudah mencapai target value. DPK mudharabah harus dikurangi (ditekan) sebesar 41088522.814 dari original value 83166495.000 menjadi 42077972.186. Beban berkaitan mudharabah juga harus dikurangi (ditekan) sebesar 60600.417 dari original value 116657.000 menjadi 56056.583.

(21)

j. BCA Syariah tahun 2017, dengan nilai efisiensi sebesar 1.000

Tabel 4.13 Efisiensi BCAS tahun 2017 dilihat dari variabel input dan output

Variabel Original value

Radial movement

slack movement

Projected/

Target value Pembiayaan

Mudharabah 223322.000 0.000 0.000 223322.000 Pendapatan

Basil

Mudharabah 25691.000 0.000 0.000 25691.000 DPK

Mudharabah 4078714.000 0.000 0.000 4078714.000 Beban

berkaitan

Mudharabah 509.000 0.000 0.000 509.000

Data diolah penulis

Berdasarkan tabel diatas, terlihat radial movement dan slack movement bernilai 0.000 yang berarti BCA Syariah tahun 2017 sudah mencapai efisiensi maksimum, sehingga tidak diperlukan adanya penambahan output atau pengurangan input.

k. BCA Syariah tahun 2018, dengan nilai efisiensi sebesar 0.851

Tabel 4.14 Efisiensi BCAS tahun 2018 dilihat dari variabel input dan output

Variabel Original value

Radial movement

slack movement

Projected/

Target value Pembiayaan

Mudharabah 236056.000 0.000 0.000 236056.000 Pendapatan

Basil

Mudharabah 24956.000 0.000 1263.453 26219.453 DPK

Mudharabah 4838323.000 -720794.855 0.000 4117528.145 Beban berkaitan

Mudharabah 4862.000 -724.322 -3639.206 498.472

Data diolah penulis

(22)

Berdasarkan tabel diatas, dalam memperoleh nilai efisiensi maksimum yaitu harus mencapai target value, hal tersebut dapat dilakukan dengan penambahan output atau pengurangan input dari original value. Terlihat pembiayaan mudharabah original valuenya sebesar 236056.000 dan sudah mencapai target value. Namun, pendapatan basil mudharabah dari original value 24956.000 harus ditambah (ditingkatkan) sebesar 1263.453 sehingga mencapai target value sebesar 26219.453. DPK mudharabah harus dikurangi (ditekan) sebesar 720794.855 dari original value 4838323.000 menjadi 4117528.145. Beban berkaitan mudharabah juga harus dikurangi (ditekan) sebesar 4363.528 dari original value 4862.000 menjadi 498.472.

l. BCA Syariah tahun 2019, dengan nilai efisiensi sebesar 1.000

Tabel 4.15 Efisiensi BCAS tahun 2019 dilihat dari variabel input dan output

Variabel Original value

Radial movement

slack movement

Projected/

Target value Pembiayaan

Mudharabah 485784.000 0.000 0.000 485784.000 Pendapatan

Basil

Mudharabah 36583.000 0.000 0.000 36583.000 DPK

Mudharabah 4878717.000 0.000 0.000 4878717.000 Beban

berkaitan

Mudharabah 292.000 0.000 0.000 292.000

Data diolah penulis

Berdasarkan tabel diatas, terlihat radial movement dan slack movement bernilai 0.000 yang berarti BCA Syariah tahun 2019 sudah mencapai efisiensi maksimum, sehingga tidak diperlukan adanya penambahan output atau pengurangan input.

(23)

m. Bank Syariah Bukopin tahun 2017, dengan nilai efisiensi sebesar 1.000

Tabel 4.16 Efisiensi Bukopin Syariah tahun 2017 dilihat dari variabel input dan output

Variabel Original value

Radial movement

slack movement

Projected/

Target value Pembiayaan

Mudharabah 172790.000 0.000 0.000 172790.000 Pendapatan

Basil

Mudharabah 35637.000 0.000 0.000 35637.000 DPK

Mudharabah 4724337.000 0.000 0.000 4724337.000 Beban

berkaitan

Mudharabah 3208.000 0.000 0.000 3208.000

Data diolah penulis

Berdasarkan tabel diatas, terlihat radial movement dan slack movement bernilai 0.000 yang berarti Bank Syariah Bukopin tahun 2017 sudah mencapai efisiensi maksimum, sehingga tidak diperlukan adanya penambahan output atau pengurangan input.

n. Bank Syariah Bukopin tahun 2018, dengan nilai efisiensi sebesar 1.000

Tabel 4.17 Efisiensi Bukopin Syariah tahun 2018 dilihat dari variabel input dan output

Variabel Original value

Radial movement

slack movement

Projected/

Target value Pembiayaan

Mudharabah 104227.000 0.000 0.000 104227.000 Pendapatan

Basil

Mudharabah 15983.000 0.000 0.000 15983.000 DPK

Mudharabah 3837122.000 0.000 0.000 3837122.000

(24)

Beban berkaitan

Mudharabah 10115.000 0.000 0.000 10115.000

Data diolah penulis

Berdasarkan tabel diatas, terlihat radial movement dan slack movement bernilai 0.000 yang berarti Bank Syariah Bukopin tahun 2018 sudah mencapai efisiensi maksimum, sehingga tidak diperlukan adanya penambahan output atau pengurangan input.

o. Bank Syariah Bukopin tahun 2019, dengan nilai efisiensi sebesar 0.861

Tabel 4.18 Efisiensi Bukopin Syariah tahun 2019 dilihat dari variabel input dan output

Variabel Original value

Radial movement

slack movement

Projected/

Target value Pembiayaan

Mudharabah 88088.000 0.000 16139.000 104227.000 Pendapatan Basil

Mudharabah 10239.000 0.000 5744.000 15983.000 DPK

Mudharabah 4454175.000 -617053.000 0.000 3837122.000 Beban berkaitan

Mudharabah 13125.000 -1818.254 -1191.746 10115.000

Data diolah penulis

Berdasarkan tabel diatas, dalam memperoleh nilai efisiensi maksimum yaitu harus mencapai target value, hal tersebut dapat dilakukan dengan penambahan output atau pengurangan input dari original value. Terlihat pembiayaan mudharabah original valuenya sebesar 88088.000 harus ditambah (ditingkatkan) sebesar 16139.000 sehingga mencapai target value sebesar 104227.000. Pendapatan basil mudharabah original valuenya 10239.000 harus ditambah (ditingkatkan) sebesar 5744.000 sehingga mencapai target value

(25)

sebesar 15983.000. DPK mudharabah harus dikurangi (ditekan) sebesar 617053.000 dari original value 4454175.000 menjadi 3837122.000. Beban berkaitan mudharabah juga harus dikurangi (ditekan) sebesar 3010.000 dari original value 13125.000 menjadi 10115.000.

Faktor penyebab belum efisiennya mudharabah pada BUS di Indonesia dapat dilihat dari variabel yang mengukurnya. Dimana untuk pembiayaan mudharabah masih kurang sebesar 13,04% atau BUS harus dapat meningkatkan pembiayaan mudharabah sebesar 13,04% untuk mencapai efisiensi maksimum. Pendapatan basil mudharabah masih kurang sebesar 17,40% atau BUS harus dapat meningkatkan pendapatan basil mudharabah sebesar 17,40% untuk mencapai efisiensi maksimum.

Ini berarti dengan input (DPK mudharabah & beban berkaitan mudharabah) yang ada saat ini, BUS masih belum mampu memaksimalkan outputnya dengan baik.

Sedangkan, untuk DPK mudharabah dan beban berkaitan mudharabah, BUS harus dapat meminimalkan/ menekannya masing- masing sebesar 34,78% untuk mencapai efisiensi maksimum. Hal tersebut menunjukkan BUS belum mampu mengoptimalkan inputnya dengan baik untuk menghasilkan output yang maksimal atau yang ingin dicapai. Jadi, dapat disimpulkan faktor penyebab belum efisiennya mudharabah pada BUS di Indonesia yaitu sebagai berikut:

a. Masih kurangnya pembiayaan mudharabah yang disalurkan sebesar 13,04%

b. Masih kurangnya pendapatan basil mudharabah yang diperoleh sebesar 17,40%

c. Besarnya DPK mudharabah dan beban berkaitan mudharabah masing-masing sebesar 34,78%. Artinya DPK mudharabah dan

(26)

beban berkaitan mudharabah belum dapat dioptimalkan untuk memperoleh hasil yang maksimal oleh sebab itu DPK mudharabah dan beban berkaitan mudharabah harus dapat ditekan atau diminimalkan sebesar 34,78%.

Selanjutnya, dilakukan Uji Statistik dengan bantuan software SPSS untuk mengetahui pengaruh variabel DPK mudharabah dan pendapatan basil mudharabah terhadap tingkat efisiensi mudharabah (DEA).

3. Pengaruh variabel terhadap tingkat efisiensi mudharabah DEA Berdasarkan perhitungan uji statistik menggunakan bantuan SPSS, dengan variabel yang digunakan dalam perhitungan pengaruh ini yaitu variabel independen (X) meliputi DPK mudharabah dan pendapatan basil mudharabah. Variabel dependen (Y) adalah tingkat efisiensi mudharabah (DEA). Berikut hasil pengaruh variabel terhadap tingkat efisiensi mudharabah pada BUS di indonesia, telihat pada tabel di bawah ini.

a. Analisa Statistik Deskriptif

Analisa Statistik Deskriptif adalah analisisa informasi hasil statistik yang telah dioalah dengan mendeskripsikan serta menjelaskan kesimpulan dari hasil statistik tersebut secara khusus (rinci).

Tabel 4.19 Statistik Deskriptif

Variabel Minimum Maximum Mean

N 15 15 15

DPK Mudharabah 3837122 83166495 28831265,33 Pendapatan Basil

Mudharabah 10239 363818 103876,27

Tingkat Efisiensi 0,2 1 0,74407

Sumber: IBM Statistic 26 Data diolah penulis

(27)

Dari Tabel 4.19 diatas, menunjukkan nilai statistik deskriptif yaitu nilai minimum, maximum dan mean dari masing-masing variabel. Pada DPK mudharabah terlihat nilai minimunnya sebesar 3837122, maximum sebesar 83166495 dan mean sebesar 28831265.33. Pendapatan basil mudharabah menunjukkan nilai minimum sebesar 10239, maximum sebesar 363818 dan mean sebesar 103876.27. Dan yang terakhir tingkat efisiensi menunjukkan nilai minimum sebesar 0.200, maximum sebesar 1 dan mean sebesar 0.74407.

b. Uji Asumsi Klasik 1) Uji Normalitas

Uji Normalitas merupakan uji yang digunakan untuk mengetahui apakah variabel berdistribusi normal atau tidak. Pada uji normalitas ini menggunakan normal pp-plot dan kolmogrov simirnov test. Jika menggunakan pp-plot, normalitas dapat dideteksi (diketahui) apabila penyebaran titik (data) berada disekitar garis dan mengikuti arah garis. Sedangkan, jika menggunakan komolgrov simirnov tes dapat dideteksi (diketahui) apabila nilai sig > 0.05 maka dapat dikatakan berdistribusi normal.

(28)

Gambar 4.1 Grafik Normal PP-Plot Data diolah penulis

Berdasarkan gambar 4.1 diatas dapat dilihat bahwa titik (data) berada disekitar garis dan mengikuti arah garis, maka dapat disimpulkan bahwa variabel berdistribusi normal.

Tabel 4.20 Komolgrov Simirnov Test

Unstandardized

Residual Keterangan

N 15 Data Berdistribusi

Normal Asymp. Sig. (2-tailed) ,200c,d

Sumber: IBM Statistic 26 Data diolah penulis

Berdasarkan tabel 4.20 diatas terlihat bahwa nilai signifikansi 0.200 > 0.05, maka itu sudah memenuhi syarat sehingga dapat dikatakan bahwa variabel berdistribusi dengan normal. Jadi, dari

(29)

2 model uji normalitas yang digunakan, dapat disimpulkan keduanya sama menyatakan bahwa variabel dalam penelitian ini berdistribusi dengan normal.

2) Uji Multikolinearitas

merupakan uji yang digunakan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan (korelasi) antar sesama variabel bebas. Uji ini dikatakan terpenuhi atau bebas dari multikolinearitas jika nilai tolerance > 0,10 dan nilai VIF < 10

Tabel 4.21 Multikolinearitas

Sumber: IBM Statistic 26 Data diolah penulis

Berdasarkan tabel 4.21 diatas terlihat bahwa nilai tolerance sebesar 0,247 > 0,10 dan nilai VIF sebesar 4,045 < 10, maka dapat disimpulkan bahwa uji ini telah terpenuhi tidak ada variabel bebas yang berhubungan atau terbebas dari multikolinearitas.

3) Uji Heterokedastisitas

merupakan uji yang digunakan untuk mengetahui kesamaan variance variabel dalam suatu analisa, uji dapat dikatakan terpenuhi apabila variance variabelnya sama, namun jika variance tidak sama maka akan terjadi heterokedastisitas.

Variabel Tolerance VIF

DPK Mudharabah 0,247 4,045

Pendapatan Basil Mudharabah 0,247 4,045

(30)

Gambar 4.2 Scatterplot (Heterokedastisitas)

Data diolah penulis

Berdasarkan gambar 4.2 diatas terlihat bahwa titik data menyebar berjauhan tidak membentuk suatu pola, maka dapat disimpulkam bahwa uji telah terpenuhi artinya terbebas dari heterokedastisitas atau variance variabel dalam uji ini sama.

Untuk menguatkan hasil dari scatterplot penulis juga melakukan uji gletser.

Tabel 4.22 Heterokedastisitas

Variabel Sig Keterangan

DPK Mudharabah 0,229 Tidak Terjadi Heterokedastisitas Pendapatan Basil

Mudharabah 0,487

Tidak Terjadi Heterokedastisitas

Sumber: IBM Statistic 26 Data Diolah penulis

Berdasarkan tabel 4.22 diatas terlihat hasil dari uji glatser yaitu nilai sig DPK mudharabah sebesar 0,229 dan sig pendapatan basil mudharabah sebesar 0,487, dimana nilai sig kedua variabel

(31)

tersebut lebih besar dari (>) 0,05 maka dapat disimpulkan uji telah terbebas dari heterokedastisitas.

4) Uji Autokorelasi

merupakan uji yang digunakan untuk mengetahui apakah ada korelasi antara kesalahan pengganggu periode t dengan kesalahan periode t-1.

Tabel 4.23 Durbin Watson (Autokorelasi)

Nilai Keterangan

Durbin-Watson 1,742 Tidak Terjadi Autokorelasi

Sumber: IBM Statistic 26 Data Penulis

Berdasarkan tabel 4.23 diatas terlihat bahwa nilai durbin watson sebesar 1,742, dengan jumlah data yang digunakan 15 (n) dan menggunkan 2 variabel bebas (k=2) maka akan diperoleh nilai du sebesar 1,5432. Sesuai dengan ketentuan, agar terbebas dari autokorelasi suatu uji harus memenuhi syarat yaitu du < dw <

4-du. Terlihat bahwa nilai dw sebesar 1,742 lebih besar dari (du) 1,5432 dan nilai dw 1,742 lebih kecil dari 2,258 (4-1,742), maka dapat disimpulkan bahwa uji ini telah terpenuhi atau bebas dari autokorelasi.

c. Uji Regresi Linear Berganda

Uji Regresi linear berganda merupakan uji yang dilakukan untuk melihat hubungan/ pengaruh dari beberapa variabel independen terhadap variabel dependen.

(32)

Tabel 4.24 Regresi Linear Berganda

Unstandardized

Coefficients (B) Keterangan

(Constant) 0,878

DPK Mudharabah -2,113E-08 Negatif

Pendapatan Basil

Mudharabah 4,577E-06 Positif

Sumber: IBM Statistic 26 Data diolah penulis

Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan nilai constant (a) sebesar 0.878, nilai DPK mudharabah (b1) sebesar -2,113 dan untuk nilai pendapatan basil mudharbah (b2) sebesar 4,577. Sehingga dengan itu, dapat diperoleh persamaan regresi linear berganda sebagai berikut.

Y = 0.878 – 2,113 X1 + 4,577 X2 + e

Berdasarkan persamaan tersebut dapat dilihat bahwa nilai konstanta tingkat efisiensi (Y) sebesar 0,878, yang berarti jika variabel DPK mudharabah (X1) dan pendapatan basil mudharabah (X2) sama dengan nol (0) maka tingkat efisiensinya sebesar 0,878.

Nilai koefisien DPK mudharabah (X1) sebesar -2,113 artinya apabila terjadi kenaikan DPK mudharabah sebesar satu maka tingkat efisiensi akan menurun sebesar 2,113 atau sebaliknya. Hal itu menyatakan bahwa DPK mudharabah memiliki pengaruh negatif terhadap tingkat efisiensi mudharabah. Pengaruh negatif tersebut dapat dikarenakan oleh tingkat efisiensi yang digunakan adalah berorientasi pada input yang berarti agar input tersebut dapat ditekan atau sama dan DPK mudharabah sendiri merupakan input, yang mana apabila input (pembiayaan mudharabah) dapat ditekan atau sama dan output yang dihasilkan optimal kemungkinan akan berpengaruh pada peningkatan efisiensi.

(33)

Nilai koefisien pendapatan basil mudharabha (X2) sebesar 4,577 yang artinya apabila terjadi kenaikan pendapatan basil mudharabah sebesar satu maka tingkat efisiensi juga kan ikut naik sebesar 4,577 atau sebaliknya. Hal itu menyatakan bahwa pendapatan basil mudharabah memiliki pengaruh positif terhadap tingkat efisiensi mudharabah.

d. Uji Hipotesis

Uji hipotesis merupakan uji yang digunakan untuk mengukur pengaruh (nilai siqnifikansi) variabel independen terhadap variabel dependen. Uji ini dapat dilakukan secara parsial (uji t) dan secara simultan/ bersama-sama (uji f).

1) Uji F/ Simultan

Pengaruh secara simultan ini dapat diketahui dengan melihat besarnya nilai sig < 0.05 dan Fhitung > Ftabel, maka Ha dapat dikatakan diterima yang berarti variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen.

Tabel 4.25 Uji Simultan (F)

F Sig. Hasil Keterangan

Regression 26,319 ,000b Ha Diterima Berpengaruh

Sumber: IBM Statistic 26 Data diolah penulis

Berdasarkan tabel uji F diatas, dapat terlihat bahwa nilai signifikan sebesar .000 lebih kecil dari 0.05 (a) dan diperoleh nilai Fhitung sebesar 26,319 > Ftabel sebesar 3,89 yang berarti secara simultan Ho ditolak dan Ha diterima. Maksudnya DPK mudharabah dan pendapatan basil mudharabah secara simultan

(34)

memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat efisiensi mudharabah (DEA).

2) Uji T/ Parsial

Pengaruh secara parsial ini dapat diketahui dengan melihat besarnya nilai sig < 0.05 dan Thitung > Ttabel, maka Ha dapat dikatakan diterima yang berarti variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen.

Tabel 4.26 Uji Parsial (T)

t Sig. Hasil Keterangan

DPK Mudharabah -7,222 0 H1 Diterima Berpengaruh Negatif Pendapatan Basil

Mudharabah 6,611 0 H2 Diterima Berpengaruh Positif

Sumber: IBM Statistic 26 Data diolah penulis

Berdasarkan tabel uji T diatas, dapat terlihat DPK mudharabah memiliki nilai signifikan sebesar .000 lebih kecil dari 0.05 (a) dan Thitung Sebesar -7,222 > Ttabel sebesar -2,179 yang berarti H1 diterima, maksudnya DPK mudharabah berpengaruh negatif terhadap tingkat efisiensi mudharabah (DEA). Begitupula untuk pendapatan basil mudharabah memiliki nilai signifikan sebesar 0.000 lebih kecil dari 0.05 dan Thitung

Sebesar 6,661 > Ttabel sebesar 2,179 yang berarti H2 diterima, maksudnya pendapatan basil mudharabah berpengaruh positif terhadap tingkat efisiensi mudharabah (DEA).

(35)

e. Uji Koefisien Determinasi

Uji Koefisien Determinasi merupakan uji yang digunakan untuk mengetahui besaran sumbangan atau kontribusi kemampuan dari variabel independen terhadap variabel dependen.

Tabel 4.27 Model Summary

R Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

,902a 0,783 0,149269

Sumber: IBM Statistic 26 Data diolah penulis

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa besarnya nilai R yaitu 0.902 yang menunjukkan hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen sangat kuat. Besarnya nilai Adjusted R Square adalah 0.783, yang memiliki arti bahwa besarnya kontribusi pengaruh variabel independen (DPK mudharabah dan pendapatan basil mudharabah) terhadap dependen (tingkat efisiensi mudharabah) besarnya yaitu 78,3 % dan sisanya sebesar 21,7 % dipengaruhi oleh faktor lainnya. Std Error merupakan nilai yang menunjukkan mengenai tingkat kesalahan regresi, jika tingkat kesalahan regresi (Std. Error) semakin rendah maka persamaan regresi semakin tinggi (baik). Besarnya nilai Std. Error dalam penelitian ini yaitu 0.149269, hail itu sudah menunjukkan bahwa persamaan regresi semakin membaik.

(36)

f. Pembahasan Hasil Statistik

Berikut adalah hasil penelitian dari uji T (parsial) yang telah dilakukan penulis, diantaranya:

1) DPK Mudharabah terhadap tingkat efisiensi mudharabah (DEA) DPK mudharabah adalah simpanan/ dana yang diterima dari nasabah yang mempercayakannya kepada BUS dapat berupa giro, tabungan dan deposito berakad mudharabah. DPK mudharabah dapat menjadi sumber BUS dalam melakukan pembiayaan mudharabah dan memperoleh pendapatan basil mudharabah.

Berdasarkan hasil penelitian, DPK mudharabah berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat efisiensi mudharbah pada BUS di Indonesia. Hal tersebut terlihat dari hasil uji t bahwa nilai signifikansi DPK mudharabah sebesar 0,000 lebih kecil (dibawah)0,05 (a) dan nilai t hitung DPK mudharabah sebesar -7,222 dimana nilai tersebut lebih besar dari t tabel sebesar -2,179. Ini menunjukkan H1 diterima artinya semakin tinggi DPK mudharabah maka akan menurunkan tingkat efisiensi mudharabah. Sebaliknya, semakin rendah DPK mudharabah maka akan menaikan tingkat efisiensi mudharabah.

Pengaruh negatif (berkebalikan) tersebut dikarenakan DPK mudharabah merupakan input dan untuk mengukur efisiensi mudharabah pada penelitian ini menggunakan metode DEA yang berorientasi pada input. Artinya agar DPK mudharabah (input) dapat ditekan atau diminimalkan untuk menghasilkan output yang maksimal, yang hal tersebut akan berpengaruh pada peningkatan efisiensi mudharabah.

Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Karimah dkk (2016) yang berjudul “Kajian Efisiensi Bank Umum Syariah Di Indonesia”, menyatakan bahwa variabel

(37)

simpanan wadiah (DPK akad wadiah)berpengaruh negatif dansignifikan terhadap efisiensi teknis dan skala efisiensi BUS.

2) Pendapatan bagi hasil (basil) mudharabah terhadap tingkat efisiensi mudharabah

Pendapatan bagi hasil mudharabah adalah pemasukan yang diterima dari pembagian keuntungan mudharabah sesuai kesepakatan diantara BUS dengan nasabah. Pendapatan basil mudharabah dari hasil pengelolaan pembiayaan mudharabah yang disalurkan BUS.

Berdasarkan hasil penelitian, pendapatan basil mudharabah berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat efisiensi mudharabah pada BUS di Indonesia. Hal tersebut terlihat dari hasil uji t bahwa nilai signifikansi pendapatan basil mudharabah sebesar 0,000 lebih kecil (dibawah) 0,05 (a) dan nilai t hitung pendapatan basil mudharabah sebesar 6,611 dimana nilai tersebut lebih besar dari t tabel sebesar 2,179. Ini menunjukkan H2 diterima artinya semakin tinggi pendapatan basil mudharabah maka akan meningkatkan tingkat efisiensi mudharabah. Sebaliknya semakin rendah pendapatan basil mudharabah maka akan menurunkan tingkat efisiensi mudharabah.

Pengaruh positif (sejala) tersebut dikarenakan pendapatan basil mudharabah merupakan output, dimana dalam perhitungan efisiensi output mencerminkan kemampuan BUS memperoleh pendapatan basil mudharabah yang maksimal dari pengelolaan inputnya dengan optimal. Jadi, semakin besar (maksima) pendapatan basil mudharabah (output) yang dihasilkan, maka efisiensi mudharabah juga akan meningkat.

Hasil ini sejalan dengan pendapatan lainnya pada penelitian yang dilakukan oleh Parasari (2020) yang berjudul “ Faktor-

(38)

Faktor yang Mempengaruhi Efisiensi serta Pengukurannya”, menyatakan bahwa pendapatan bunga berpengaruh positif terhadap tingkat efisiensi. Sagantha (2017) yang berjudul

“Analisis Efisiensi Perbankan Syariah dengan Metode Data Envelopment Analysis (DEA) dan Nilai Islam”, menyatakan bahwa pendapatan pengelolaan dana dan pendapatan operasionallainnya berpengaruh terhadap tingkat pertumbuhan Bank Syariah.

Referensi

Dokumen terkait

Dari tabel ANOVA diatas diperoleh nilai signifikansi uji F sebesar 0,036, karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka keputusan yang diambil dengan

Jika t hitung lebih besar dari t tabel dan nilai signifikannya lebih kecil dari 0,05 (sig&lt;0,05), maka dapat disimpulkan variabel independen (bebas) memiliki

Karena nilai r hitung yang di dapat (0.131) &lt; nilai r tabel (sig 5%; N 60 = 0.254 ) (p Value &lt; 0,05), maka hipotesis alternatif (Ha) yang menyatakan bahwa: terdapat

mempertinggi usaha mencapai nilai/prestasi pendidikan. 3) Menyelenggarakan pencatatan untuk keperluan peniaian kondite pelajar selama mengikuti pendidikan. 4) Menyelanggarakan

Dari tabel ANOVA diatas diperoleh nilai signifikansi uji F sebesar 0,184, karena nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 maka keputusan yang diambil dengan

Dari tabel ANOVA diatas dapat dilihat nilai signifikansi uji F sebesar 0,000, karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka keputusan yang diambil dengan

Pengaruh Keterlibatan Kerja terhadap Turnover Intention Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa uji hipotesis untuk variabel keterlibatan kerja memperoleh hasil nilai uji t

Dari hasil output diatas, diperoleh nilai signifikansi = 0,000 < 0,05 atau H0 ditolak dan Ha di terima, yang artinya adalah terdapat pengaruh metode pemberian tugas secara signifikan