• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Ordo Odonata termasuk anggota Phylum Arthropoda Classis Insecta dan merupakan salah satu jenis keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia dengan jumlah melimpah (Mapi-ot et al., 2013; Putri et al., 2019). Terdapat sekitar 750 species Ordo Odonata di Indonesia yang terdiri dari Sub Ordo Anisoptera (Dragonfly) dan Zygoptera (Damselfly) (Rohman et al., 2020).

Kelimpahan jumlah species Ordo Odonata ini dikhawatirkan dapat menurun akibat aktifitas manusia yang dapat mengganggu atau bahkan merusak habitatnya.

Menurut Zaman et al., (2018); Herlambang et al., (2016), kerusakan habitat Ordo Odonata berpotensi menghilangkan species Ordo Odonata pada ekosistem akibat aktifitas manusia yang tidak berwawasan lingkungan, misalnya deforestasi dan perubahan tata guna lahan pada lingkungan perairan. Pernyataan tersebut menjadi fakta yang dapat mengancam eksistensi Ordo Odonata dan tentu sangat disayangkan mengingat pentingnya peran Ordo Odonata dalam ekosistem.

Ordo Odonata berperan penting dalam ekosistem akuatik maupun terestrial sebagai penjaga keseimbangan jaring-jaring makanan, yaitu sebagai predator serangga kecil, termasuk serangga hama maupun organisme lain (Setiawan et al., 2019; Simatupang et al., 2019). Penurunan jumlah species Ordo Odonata sebagai hewan predator pada ekosistem secara otomatis akan mengurangi jumlah hewan predator yang ada di atasnya serta menambah jumlah hewan yang dimangsanya, sehingga akan terjadi ketidakseimbangan ekosistem. Novianti et al., (2019), Ordo Odonata juga berperan sebagai bioindikator untuk mengukur kebersihan air dalam suatu perairan. Tercemarnya lingkungan perairan tentu sangat disayangkan mengingat pentingnya peran Ordo Odonata sebagai bioidikator suatu perairan.

Menurut Abdillah (2020), organ olfaktori yang terdapat pada antena Ordo Odonata sangat sensitif terhadap keberadaan senyawa kimia dan juga bakteri di

(2)

sekitarnya. Hal ini mengakibatkan Ordo Odonata sangat selektif dalam memilih lingkungan perairan sebagai habitatnya.

Lingkungan perairan menjadi habitat yang cukup ideal bagi Ordo Odonata karena berkaitan dengan siklus hidupnya, mulai dari telur sampai dewasa (Simbolon, 2019). Ordo Odonata menyukai perairan mengalir (lotik) maupun perairan menggenang (lentik) (Kittel & Engels, 2016). Sungai merupakan salah satu lingkungan perairan yang menjadi habitat bagi Ordo Odonata (Rizal & Hadi, 2015). Sungai merupakan sumber mata air bersih yang harus selalu dijaga (Ratih et al., 2015), akan tetapi sungai sering mengalami perubahan tata guna lahan (Cai et al., 2019). Sensitivitas Ordo Odonata yang cukup tinggi terhadap perubahan lingkungan perairan sungai dikhawatirkan dapat mempengaruhi keberadaan Ordo Odonata pada perairan sungai.

Perubahan yang terjadi pada perairan sungai dapat menyebabkan penurunan keragaman species Ordo Odonata (Wulandari et al., 2019). Peralihan fungsi lahan pada perairan sungai dapat menurunkan kualitas air dan kuantitas air sungai (Muktitama et al, 2018). Air sungai yang keruh dikhawatirkan dapat mengakibatkan terganggunya siklus hidup Ordo Odonata. Julaika et al., (2018), Ordo Odonata tidak akan meletakkan telurnya pada sungai yang airnya tercemar, karena air sungai yang tercemar memiliki tegangan permukaan kecil yang dapat menenggelamkan telur Ordo Odonata. Air sungai yang jernih tentu akan mendukung perkembangbiakan Ordo Odonata. Simbolon (2019), hilangnya Ordo Odonata pada lingkungan perairan sungai mengindikasikan adanya pencemaran pada air sungai. Perubahan species Ordo Odonata pada perairan sungai dapat menjadi langkah awal untuk menandai adanya pencemaran pada perairan sungai, sehingga penelitian Ordo Odonata di perairan sungai perlu dilakukan untuk dapat mengetahui tingkat keanekaragaman jenis Ordo Odonata dengan mengacu pada penelitian-penelitian terdahulu.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Triyanti & Arisandy (2020), di Bukit Cogong, Kabupaten Musi Rawas, Sulawesi Selatan, rendahnya keanekaragaman Ordo Odonata diakibatkan oleh hutan yang memiliki sumber mata air alami di dalamnya dan menjadi habitat bagi Ordo Odonata, telah dialih

(3)

fungsikan menjadi sarana rekreasi. Penelitian serupa dilakukan oleh Firdhausi et al., (2018), di Sungai Arbes, Ambon, Maluku, rendahnya jumlah species dan keanekaragaman Ordo Odonata disebabkan oleh perubahan tata guna lahan di kawasan sungai yang berupa pemukiman dan perkebunan di sekitar sungai.

Penelitian serupa dilakukan oleh Abdillah (2020), pada sungai-sungai di Kecamatan Pasrujambe, Kabupaten Lumajang, pemanfaatan perairan sungai oleh manusia untuk berbagai aktifitas, diantaranya mandi, mencuci pakaian, irigasi pertanian, dan membuang limbah langsung ke badan sungai mengakibatkan penurunan kualitas dan kuantitas air sungai yang sejalan dengan terjadinya pencemaran air sungai. Peralihan fungsi lahan di sekitar sungai juga terjadi pada sungai di Wisata Bumi Perkemahan Bedengan.

Wisata Bumi Perkemahan Bedengan terletak di Dusun Selokerto, Desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur (Putra et al., 2020), yang berada pada ketinggian 900 m di atas permukaan laut pada lereng timur Gunung Kawi dan lereng selatan Gunung Panderman (Ponimin et al., 2020).

Terdapat sungai alami yang mengalir dari sumber mata air Air Terjun Brues, dan menjadi pembatas antar hutan pinus (Diantoro et al., 2020). Sungai alami pada kawasan Wisata Bumi Perkemahan Bedengan ini idealnya dapat menjadi habitat yang mendukung kehidupan Ordo Odonata, akan tetapi pada kenyataannya sungai yang masih alami ini sering dimanfaatkan oleh pengunjung untuk melakukan berbagai kegiatan di sungai, sehingga dikhawatirkan akan menurunkan kualitas dan kuantitas air sungai.

Penurunan kualitas dan kuantitas air sungai di kawasan Wisata Bumi Perkemahan Bedengan dikhawatirkan akan berdampak buruk terhadap keanekaragaman Ordo Odonata. Fauzan et al., (2020), berdasarkan data stastistik Desa Selorejo, jumlah pengunjung Wisata Bumi Perkemahan Bedengan mencapai 200 orang per harinya. Menurut Ashar & Prasetya (2018), pengunjung biasanya melalukan aktifitas camping, outbound training, piknik, atau pun sekedar mandi dan menikmati dinginnya air sungai. Devi et al., (2019) menambahkan, pestisida yang berasal dari perkebunan jeruk di sekitar kawasan Wisata Bumi Perkemahan Bedengan turut mempengaruhi intensitas pencemaran air sungai. Hal tersebut

(4)

tentu dapat memberikan dampak terhadap kelestarian lingkungan yang secara tidak langsung akan mempengaruhi keanekaragaman Ordo Odonata. Menurut Hermawan & Fitriana (2015), keanekaragaman Ordo Odonata akan terus terancam apabila tidak kunjung mendapatkan perhatian, yang tentunya sangat disayangkan karena ketersediaan data dan publikasi Ordo Odonata di Indonesia masih terbatas. Penelitian Ordo Odonata perlu dilakukan di Sub-DAS Bumi Perkemahan Bedengan Desa Selorejo Kecamatan Dau Kabupaten Malang sebagai langkah awal untuk melakukan pendataan keanekaragaman Ordo Odonata yang kemudian dimanfaatkan sebagai sumber belajar.

Sumber belajar berbasis penelitian terbukti efektif dan layak untuk diterapkan (Imtihana et al., 2014). Salah satu penelitian yang dapat digunakan sebagai sumber belajar adalah penelitian tentang Ordo Odonata. Menurut Yani et al., (2020), Ordo Odonata dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar karena keberadaannya di alam cukup melimpah. Selain itu, Ordo Odonata mudah ditemukan akibat perseberan populasinya yang cukup luas (Novianti et al., 2019).

Sehingga, sumber belajar terkait Ordo Odonata dapat memberikan kemudahan dalam proses belajar bagi peserta didik (Yunasiska et al., 2020). Pemanfaatan sumber belajar berbasis penelitian ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Menurut Rachman et al., (2017), kurang optimalnya pembelajaran biologi terhadap fenomena alam disebabkan oleh pengetahuan pendidik yang terbatas dan siswa yang kurang peka terhadap pemanfaatan fenomena alam untuk pembelajaran biologi.

Berdasarkan uraian tersebut, maka perlu dilakukan penelitian mengenai keanekaragaman Ordo Odonata di Sub-DAS Bumi Perkemahan Bedengan dengan judul “Keanekaragaman Jenis Ordo Odonata (Dragonfly dan Damselfly) di Sub-DAS Bumi Perkemahan Bedengan Desa Selorejo Kecamatan Dau Kabupaten Malang sebagai Sumber Belajar Biologi”.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut:

(5)

1. Apa saja jenis-jenis Ordo Odonata (Dragonfly dan Damselfly) yang terdapat di Sub-DAS Bumi Perkemahan Bedengan Desa Selorejo Kecamatan Dau Kabupaten Malang?

2. Bagaimana klasifikasi Ordo Odonata (Dragonfly dan Damselfly) yang terdapat di Sub-DAS Bumi Perkemahan Bedengan Desa Selorejo Kecamatan Dau Kabupaten Malang?

3. Bagaimana keanekaragaman Ordo Odonata (Dragonfly dan Damselfly) yang terdapat di Sub-DAS Bumi Perkemahan Bedengan Desa Selorejo Kecamatan Dau Kabupaten Malang?

4. Bagaimana kondisi parameter fisika dan parameter kimia di Sub-DAS Bumi Perkemahan Bedengan Desa Selorejo Kecamatan Dau Kabupaten Malang?

5. Bagaimana pemanfaatan hasil penelitian keanekaragaman jenis Ordo Odonata (Dragonfly dan Damselfly) yang terdapat di Sub-DAS Bumi Perkemahan Bedengan Desa Selorejo Kecamatan Dau Kabupaten Malang sebagai sumber belajar biologi?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui jenis-jenis Ordo Odonata (Dragonfly dan Damselfly) yang terdapat di Sub-DAS Bumi Perkemahan Bedengan Desa Selorejo Kecamatan Dau Kabupaten Malang

2. Mengetahui klasifikasi Ordo Odonata (Dragonfly dan Damselfly) yang terdapat di Sub-DAS Bumi Perkemahan Bedengan Desa Selorejo Kecamatan Dau Kabupaten Malang

3. Mengetahui keanekaragaman Ordo Odonata (Dragonfly dan Damselfly) yang terdapat di Sub-DAS Bumi Perkemahan Bedengan Desa Selorejo Kecamatan Dau Kabupaten Malang

4. Mengetahui kondisi parameter fisika dan parameter kimia di Sub-DAS Bumi Perkemahan Bedengan Desa Selorejo Kecamatan Dau Kabupaten Malang

(6)

5. Mengetahui pemanfaatan hasil penelitian keanekaragaman jenis Ordo Odonata (Dragonfly dan Damselfly) yang terdapat di Sub-DAS Bumi Perkemahan Bedengan Desa Selorejo Kecamatan Dau Kabupaten Malang sebagai sumber belajar biologi

1.4. Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1.4.1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi dalam penelitian serupa di wilayah yang berbeda dan secara keseluruhan dapat dijadikan sebagai referensi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya tentang keanekaragaman Ordo Odonata.

1.4.2. Manfaat Praktis 1. Bagi Peneliti Lain

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai dasar penelitian bagi peneliti lain mengenai penelitian keanekaragaman Ordo Odonata di lokasi yang berbeda

2. Bagi Guru dan Siswa

Penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh guru sebagai bahan ajar dan diharapkan dapat digunakan oleh siswa sebagai sumber belajar sehingga dapat memotivasi siswa agar mudah dalam mempelajari materi terkait

3. Bagi Pemerintah dan Pengelola Wisata

Penelitian ini diharapkan sebagai laporan kepada Pemerintah Dinas Kehutanan Kota Malang sebagai data keanekaragaman hayati dan memberikan informasi kepada pengelola wisata tentang Ordo Odonata yang berada di kawasan tersebut, sehingga kualitas air sungai dapat dijaga mengingat pentingnya keberadaan Ordo Odonata sebagai bioindikator kualitas perairan

4. Bagi Masyarakat

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat sekitar sungai untuk dapat membantu menjaga kualitas air sungai

(7)

1.5. Batasan Penelitian

Batasan penelitian pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Objek penelitian ini adalah Ordo Odonata Sub Ordo Anisoptera dan Zygoptera pada tiga stasiun di Sub-DAS Bumi Perkemahan Bedengan Desa Selorejo Kecamatan Dau Kabupaten Malang

2. Pengambilan sampel dilakukan di hulu Sub-DAS Bumi Perkemahan Bedengan 3. Penelitian dilakukan saat musim hujan untuk mengetahui keanekaragaman

Ordo Odonata Sub Ordo Anisoptera dan Zygoptera

4. Hasil penelitian akan digunakan sebagai kajian analisis sumber belajar biologi

1.6. Definisi Istilah

Agar dapat menghindari timbulnya makna ganda, maka peneliti perlu memberikan definisi istilah sebagai berikut:

1. Keanekaragaman adalah semua jenis makhluk hidup yang ada di bumi, diantaranya adalah semua jenis tumbuhan, binatang, dan mikroba (Nugroho, 2020).

2. Ordo Odonata berasal dari bahasa Yunani, yang artinya rahang bergigi dimana pada ujung labium (bibir bawah) terdapat tonjolan-tonjolan tajam atau spina yang menyerupai gigi. Ordo Odonata merupakan anggota phylum Arthropoda classis Insecta. Ordo Odonata diklasifikasikan dalam dua sub ordo, yaitu sub ordo Zygoptera dan sub ordo Anisoptera (Lino et al., 2019).

3. Sumber belajar adalah sesuatu yang dirancang maupun yang telah tersedia untuk menyampaikan pesan yang terkandung dalam bahan pembelajaran kepada peserta didik (Hafid, 2011).

Referensi

Dokumen terkait

Indonesia merupakan salah satu negara multikultural terbesar di dunia, yaitu bangsa yang memiliki keanekaragaman budaya yang banyak dan menjadikan budaya

Penelitian di Sub DAS Prambanan Kecamatan Kejajar, selain memasukkan faktor pengaruh tingkat penerapan usahatani konservasi dan kaitannya dengan penerimaan petani,

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Selorejo merupakan sistem pembangkitan energi listrik dengan menggunakan energi primer yang berupa energi terbarukan dari sumber

Luasnya wilayah kecamatan yang ada dan jarak rentang kendali beberapa kecamatan, telah menuntun pemekaran Kecamatan Silih Nara dan Kecamatan Bandar

Secara umum analisis yang dilakukan meliputi: (1) analisis trend perkembangan pemanfaatan ruang di Kawasan Pesisir Kecamatan Tanjungpandan Tahun 2010 – 2019; (2)

Dengan pengembangan bahan ajar buku sub-sub tema bentuk muka bumi dan aktivitas penduduk Indonesia, diharapkan siswa lebih tertarik dalam membaca buku ajar serta dengan mudah

Patahan adalah gerakan pada lapisan bumi yang sangat besar dan berlangsung dalam waktu yang cepat, sehingga menyebabkan lapisan kulit bumi retak atau patahn daerah retakan atau

Untuk mengetahui pemanfaatan pelayanan kesehatan Puskesmas di Kecamatan Pati oleh penduduk digunakan metode skoring yaitu dengan memberikan penilaian atau skor